• Tidak ada hasil yang ditemukan

MAQASHID AL-SYARI AH DALAM PROGRAM PEMBANGUNAN BERKELANJUTAN (SDGs)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "MAQASHID AL-SYARI AH DALAM PROGRAM PEMBANGUNAN BERKELANJUTAN (SDGs)"

Copied!
194
0
0

Teks penuh

(1)
(2)

MAQASHID AL-SYARI’AH DALAM PROGRAM

PEMBANGUNAN

BERKELANJUTAN (SDGs)

Oneng Nurul Bariyah Lukmanul Hakim

Endang Zakaria

Editor:

Ahmad Fadil

(3)

Maqashid Al-Syari’ah

dalam Program Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) i – v, 187 hlm

Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang

Dilarang memproduksi/memfotocopi seluruh atau sebagian isi buku ini dalam bentuk apapun tanpa izin tertulis dari Penerbit.

Oneng Nurul Bariyah Lukmanul Hakim

Endang Zakaria Editor:

Ahmad Fadil

Desain sampul dan tata letak : UM Jakarta Press

ISBN : 978-623-5523-42-2

Diterbitkan oleh : UM Jakarta Press Anggota IKAPI (053/Banten/2021) Jl. KH. Ahmad Dahlan, Cirendeu, Ciputat Timur

Jakarta Selatan – Indonesia 15419 Telp. : +62 021-7492862, 7401894 e-mail: [email protected]

Cetakan Pertama : Desember 2021

(4)

iii

KATA PENGANTAR

Puji syukur dipanjatkan ke hadirat Allah Subahanahu wa Ta’ala yang telah memberikan rahmat serta karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan buku ini.

Shalawat serta salam senantiasa disampaikan kepada pemimpin ummat yakni Nabi Muhammad saw. yang telah membawa umat manusia dari kebodohan menuju jalan hidup penuh cahaya kebenaran dan bermartabat.

Buku yang hadir ini merupakan hasil penelitian penulis tentang SDGs (Sustainable Development Goals) dikaji melalui pendekatan maqashid al-Syari’ah (tujuan disyari’atkan hukum Islam). Ada 17 Tujuan pembangunan Global yang ada dalam rumusan SDGs.

Dengan selesainya buku ini penulis menyampaikan ucapan terima kasih kepada Lembaga Penelitian dan Pengabdian Universitas Muhammadiyah Jakarta yang telah memberikan kepercayaan dan kesempatan kepada kami dengan memberikan finansial demi terlaksananya penelitian ini. Demikian pula kami haturkan terima kasih kepada semua pihak yang telah berpartisipasi terlaksananya penelitian hingga tersusunnya buku ini.

Hadirnya buku ini diharapkan dapat bermanfaat bagi peningkatan keilmuan terkait dengan nilai-nilai keislaman dalam tujuan pembangunan global sehingga dapat mendukung terwujudnya tujuan pembangunan tersebut. Demikian pula, kehadiran buku ini diharapkan memberikan masukan bagi pernyataan sikap bersama khususnya di kalangan umat Islam dalam menyikapi masalah-masalah global dengan senantiasa berpijak pada nilai-nilai syari’at Islam. Demikian penulis sampaikan, semoga Allah Subhanahu Wata’ala senantiasa memberkati setiap langkah yang kita lakukan. Amin.

Jakarta, Desember 2021 Penulis

(5)

iv

DAFTAR ISI

Kata Pengantar iii

Daftar Isi iv

BAB I PENDAHULUAN 1

BAB II MAQASHID AL-SYARI’AH A. Pengertian Maqashid al-Syari’ah B. Sejarah Maqashid al-Syari’ah C. Sistematika Maqashid al-Syari’ah D. Macam-macam Maqashid al-Syari’ah E. Metode Penetapan Maqashid

12 12 14 15 15 24 BAB III KONSEP SUSTAINABLE DEVELOPMENT

GOALS (SDGs)

A. Latar Belakang dan Pengertian SDGs B. Tujuan atau Goal SDGs

C. Tema SDGs

26 26 28 30 BAB IV MAQASHID SYARI’AH DALAM

PEMBANGUNAN SOSIAL

A. Maqashid Tanpa Kemiskinan (No Poverty) B. Maqashid Tanpa Kelaparan (Zero Hunger) C. Maqashid Hidup sehat dan sejahtera (Good

Health and Well-Being)

D. Maqashid Pendidikan Berkualitas (Quality Education)

E. Kesetaraan Gender (Gender Equality)

36 36 43 50 65 79 BAB V MAQASHID SYARI’AH DALAM

PEMBANGUNAN EKONOMI

A. Maqashid Energi Bersih dan terjangkau (Affordable and Clean Energy) B. Maqashid Pekerjaan layak dan pertumbuhan

ekonomi (decent work and economic growth)

C. Maqashid Industri, inovasi dan infrastruktur (Industry, Innovation and

89 89 97

99

(6)

v Infrastructure)

D. Maqashid Berkurangnya

Kesenjangan (Reduced Inequality)

E. Maqashid Kemitraan untuk mencapai tujuan (Partnerships for the Goals)

102 103

BAB VI MAQASHID SYARI’AH DALAM PEMBANGUNAN LINGKUNGAN

A. Maqashid Air Bersih dan Sanitasi Layak (Clean Water and Sanitation)

B. Maqashid Pembangunan Kota dan Pemukiman yang berkelanjutan (Sustainable Cities and Communities)

C. Maqashid Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab

(Responsible Consumption and Production) D. Penanganan Perubahan Iklim

E. Ekosistem Laut F. Ekosistem Darat

111 111 131

136

149 153 158 BAB

VII

MAQASHID SYARI’AH DALAM PEMBANGUNAN HUKUM DAN TATA KELOLA

A. Maqashid Perdamaian B. Maqashid Keadilan

C. Maqashid Lembaga Peradilan Yang Kuat dan Tangguh

167

167 169 173

Daftar Pustaka 181

(7)

1 BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Persoalan kehidupan sosial yang melanda dunia saat ini diantaranya bencana kemiskinan dan bencan alam. Angka kemiskinan yang semakin meninggi akibat bencana alam dan bencana non alam seperti pandemi covid 19. Bank Dunia dalam laporannya, dikutip CNBC Indonesia, Selasa (9/6/2020) melaporkan bahwa penghasilan per kepala diperkirakan menurun 3,6% di seluruh dunia. Hal ini membuat angka kemiskinan meningkat di tahun ini. Padahal salah satu tujuan dari pembangunan berkelanjutan adalah tanpa kemiskinan (No Poverty) yaitu pengentasan segala bentuk kemiskinan di semua tempat. Demikian pula tujuan selanjutnya yaitu tanpa kelaparan (zero hunger) yaitu mengakhiri kelaparan, mencapai ketahanan pangan dan perbaikan nutrisi, serta menggalakkan pertanian yang berkelanjutan. Kemiskinan adalah persoalan kemanusiaan yang membawa konsekuensi adanya tanggung jawab moral bagi setiap orang untuk memperhatikan kehidupan orang yang hidup dalam kemiskinan (Ishartono & Santoso Tri Raharjo, 162). Dalam konsep ajaran islam, kepedulian terhadap orang miskin sebagai realisasi iman (QS. al-Ma‟un/107:3). Syari‟at Islam juga mengatur berbagai masalah keadilan gender, pelestarian lingkungan dan berbagai aspek lainnya dalam kehidupan manusia.

Namun, pemahaman tentang masalah sosial terkadang dipandang nir nilai spiritual atau tanpa nilai-nilai agama. Untuk

(8)

2

itulah penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tujuan pembangunan berkelanjutan berdasarkan perspektif Islam dengan pendekatan maqashid al-syari‟ah. Mengutip pendapat Maimun (2013) bahwa “pintu ijtihâd senantiasa terbuka dan tidak ada seorang pun yang berhak menutupnya,” tidak lain merupakan refleksi dari dinamika pemikiran hukum Islam yang direlevansikan dengan pergeseran, perubahan, perkembangan dan kebutuhan kehidupan mayarakat modern.

Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau dalam bahasa Inggris dikenal sebagai Sustainable Development Goals disingkat dengan SDGs adalah 17 tujuan dengan 169 capaian yang terukur dan tenggat yang telah ditentukan oleh PBB sebagai agenda dunia pembangunan untuk kemaslahatan manusia dan planet bumi. Tujuan ini dicanangkan bersama oleh negara-negara lintas pemerintahan pada resolusi PBB yang diterbitkan pada 21 Oktober 2015 sebagai ambisi pembangunan bersama hingga tahun 2030. Tujuan ini merupakan kelanjutan atau pengganti dari Tujuan Pembangunan Millenium yang ditandatangani oleh pemimpin-pemimpin dari 189 negara sebagai Deklarasi Milenium di markas besar PBB pada tahun 2000 dan tidak berlaku lagi sejak akhir 2015.

Tampaknya upaya mewujudkan tujuan di atas mengalami masalah dengan munculnya pandemi covid 19 yang melanda dunia sejak tahun 2019. Berbagai persoalan kehidupan sosial budaya semakin berat sehingga menuntut manusia untuk mengambil langkah-langkah strategis guna memberikan solusi.

Kemiskinan dan kelaparan yang melanda sebagian belahan dunia tidak dapat dipisahkan dari peran serta bangsa lainnya.

Begitu pula kerusakan lingkungan yang telah menimbulkan

(9)

3 berbagai bencana menuntut Langkah-langkah serius dari semua umat manusia.

Indonesia sebagai salah satu negara yang ikut menandatangani kesepakatan tersebut dimana semua sasaran yang ada memang sedang dihadapi Indonesia. Misalnya, angka kemiskinan yang masih tinggi terjadi di berbagai wilayah. Antar wilayah pun terjadi ketimpangan. Hal ini sebagaimana terlihat dalam grafik sebagai berikut:

Data pada grafik di atas menunjukkan masih tingginya angka kemiskinan yang ada di Indonesia. Menurut Biro Pusat Statistik bahwa Persentase penduduk miskin pada Maret 2020 sebesar 9,78 persen, meningkat 0,56 persen poin terhadap September 2019 dan meningkat 0,37 persen poin terhadap Maret 2019 (https://www.bps.go.id/pressrelease/2020/07/15/1744/

persentase-penduduk-miskin-maret-2020-naik-menjadi-9-78- persen.html).

(10)

4

Tingginya angka kemiskinan tentu memiliki pengaruh pada tingkat kesejahteraan serta Kesehatan dan Pendidikan.

Tingginya angka kemiskinan memiliki pengaruh terhadap masalah lain seperti tingkat kesehatan dan pendidikan.

Oleh karena itu, data tentang angka kematian ibu (AKI) masih tinggi walaupun Angka Kematian Ibu (AKI) melahirkan sudah mengalami penurunan yakni 228/100.000 kelahiran hidup.

Secara statistik angka ini masih cukup tinggi. Disisi lain, perempuan sangat rentan terhadap penyakit menular (HIV/AIDS).

Pada bidang pendidikan, masalah yang dihadapi antara lain masih rendahnya pendidikan yang ditempuh oleh masyarakat. Masih banyak anak-anak usia wajb belajar tidak mendapatkan pendidikan. Berbagai faktor menjadi penyebabnya, termasuk masalah rendahnya tingkat ekonomi nasyarakat.

(11)

5 Abad modern dengan pesatnya kemajuan industri, teknologi, dan transportasi menuntut kematangan, kecerdasan emosional dan spiritual dalam mensikapi dan mengevaluasi peradaban agar manusia tidak tercerabut dari akar religiusitasnya. Menghadapi situasi global tersebut Umat Islam, dapat memberikan respons secara positif. pada modernitas karena Islam secara intrinsik memiliki muatan nilai dan ajaran yang mendorong pembaharuan dan kemajuan. Islam sebagai agama universal dan cosmopolitan memiliki karakter yang selalu menjunjung tinggi harkat martabat kemanusiaan serta mewajibkan umatnya memiliki kepedulian sosial sebagai bagian dari system ajaran Islam yang selalu tetap dan abadi.

Relasi antara Islam sebagai agama dengan kehidupan kemasyarakatan dan budaya sangat jelas dalam kajian sosiologi dan antropologi agama. Dalam perspektif ini diyakini, bahwa

(12)

6

agama merupakan refresentasi dari sistem budaya.1 Islam selain bersifat transendental, juga bersifat immanent, dapat memberi daya dan pengaruh pada transformasi sosial, budaya, politik, ekonomi yang positif dan konstruktif.

Akselerasi kemajuan teknologi dan perkembangan informasi yang begitu cepat harus diimbangi dengan interpretasi dan kajian yang aktual dan bertanggungjawab dari doktrin syari‟at Islam yang bersumber dari al-Qur‟an dan Sunnah.

Sebagai sumber ajaran Islam, al-Quran dan Sunnah merupakan landasan dalam menyelesaikan berbagai segala persoalan kehidupan. Akan tetapi, hal itu memerlukan kecerdasan akal untuk menggali dan menkontekstualisasikan secara tepat dengan situasi dan kondisi yang berubah.

Upaya reaktualisasi ajaran Islam, menjadi niscaya karena secara doktrinal Islam bersifat universal dan rahmat bagi seluruh alam. Universalitas ajaran Islam tampak dalam hal etika dan moral yang berhubungan dengan masalah-masalah moral dan kemanusiaan.

Al-Quran sebagai sumber ajaran Islam bersifat doktrin yang mutlak benar, tetapi penafsiran dan pemahaman atasnya tidak bernilai mutlak benar semutlak benarnya doktrin itu sendiri karena penafsiran dilakukan sesuai dengan kemampuan manusia. Penafsiran terhadap al-Qur‟an dan Sunnah melahirkan hukum-hukum Islam (syari‟ah).

Syariah sebagai suatu tatanan dan pranata sosial sering diidentikkan dengan aturan hukum praktis, yang berkarakter universal, dinamis dan fleksibel. Universalitas syariah

1Bassam Tibi, Islam and the Cultural Accommodation of Social Change, (San Farncisco: Westview Press, 1990), h. 10.

(13)

7 merupakan bagian tak terpisahkan dari ciri kesemestaan ajaran Islam yang diekspresikan oleh al-Qur‟an sebagai rahmatan li al‟alamin.2

Namun, karena syariah bersifat praktis, maka sudah dipastikan bahwa pengaruh masyarakat yang menjadi subjek dan sekaligus objek syariah menjadi salah satu variabel yang berpengaruh terhadap ketentuan dan norma syariah yang diyakini sebagai sesuatu yang bersifat divine atau ilahiyat , dan karenanya dianggap sebagai variabel yang independen. Sejak awal keberadaannya, syariah telah menampilkan dirinya sesuai dengan perkembangan dan dinamika masyarakat. Syariah yang dibawa oleh para Nabi mencerminkan keberadaan dari masyarakat yang hidup pada zamannya.3

Keadaan ini berbeda dengan agama (al-din atau al- millah) yang bersifat konstan dan permanen, tidak mengalami perubahan. Atas kenyataan inilah muncul adagium “ al-dinu wahid wa al-syara‟i mukhtalifah”. Al-Qur‟an mengiIlustrasikan keberadaan syariat yang dibawa oleh Nabi Muhammad merupakan syariat yang dalam batas tertentu membenarkan apa yang telah disyariatkan kepada para nabi sebelumnya, sekaligus sebagai syariat yang menyempurnakan syariat sebelumnya.5 Syari‟at Islam sebagai syari‟at yang mampu memberikan jawaban atas berbagai persoalan kehidupan manusia.

2 Hal tersebut sejalan dengan diutusnya Nabi Muhamamd saw. sebagai Rahmat bagi seluruh alam sebagaimana disebutkan dalam al-Qur‟an sura alAnbiya; 107 yang artinya: Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.

3 Setiap Nabi membawa pesan Ilahi kepada setiap umat dengan syari‟at yang berbeda-beda. Namun, dalam hal akidah semua Nabi memiliki ersamaan yaitu mengajarkan tauhid.

5QS. al-Maidah: 48

(14)

8

Upaya penyelesaian berbagai masalah yang dihadapi dalam kehidupan kemanusiaan saat ini bagi umat Islam tentu mengacu pada konsep dasar yang ada dalam ajaran Islam.

Sistem ajaran Islam yang telah digariskan oleh Allah SWT dalam al-Qur‟an dan Sunnah Rasulullah hendaknya menjadi ruh dari tujuan SDGs karena sifat ajaran Islam sebagai rahmatan lil‟ālamīn serta shālih lizzamān wa makān (sesuai dengan waktu dan tempat).

Islam sebagai rahmat bagi kehidupan manusia harus diterjemahkan dalam kehidupan mansuia serta menjadi solusi alternative. Islam yang sesuai bagi manusia di segala waktu dan tempat menjadi dasar pijakan untuk memberikan transformasi sosial serta memberikan advokasi bagi kehidupan mansuia saat ini.

Kajian penelitian yang dilakukan ini merupakan kajian keislaman relevansinya dengan masalah pembangunan global.

Konsep maqashid al-Syari‟ah sangat relevan sebagai alat analisis dalam pengembangan hukum Islam yang bersifat fleksibel dan universal dalam menghadapi berbagai persoalan kehidupan umat Islam khususnya serta umat manusia secara keseluruhan. Oleh kareha itu judul penelitian dirumuskan dengan: Analisis SDGs Perspektif Islam Konsep Maqashid Syariah.

Kajian tentang Maqashid al-syari‟ah secara teoritis telah dirumuskan oleh para peneliti dan ilmuwan awal seperti al- Syathibi dalam kitabnya al-Muwafaqat, al-Juwaini dalam karyanya al-Burhān fī Ushūl al-Fiqh. Sementara itu konsep maqashid al-syari‟ah sangat beririsan dengan konsep mashlahah dimana kajian tentang konsep mashlahah telah dikaji oleh Mushthafā Zayd mengkaji tentang konsep Al-Mashlahah fī

(15)

9 Tasyrī‟ al-Islāmī wa Najm al-Dīn al-Thūfī. Kajian pada aspek historis. Sementara itu, Nawir Yuslam, dalam disertasi yang berjudul Konsep Maslahah Dalam Ushul Fikih Imam Al- Haramain Al-Juwaini sebagaimana terdapat dalam Kitab Al- Burhan fi Ushul al-Fiqh. Kajian yang dilakukan Nawir Yuslam khusus meneliti pemikiran Al-Juwaini tentang Konsep Mashlahah. kajian maqashid syari‟ah terkait SDGs merupakan pengembangan kajian mashlahah dalam konteks masalah kekinian.

Kajian yang dilakukan mengacu pada Renstra Lembaga penelitian UMJ Tahun 2016-2021 disusun berdasarkan visi UMJ Visi UMJ yaitu “Menjadi Universitas yang Terkemuka, Modern dan Islami Tahun 2025”, sedangkan misinya adalah sebagai berikut :

a. Mewujudkan keunggulan di bidang pendidikan pengajaran, penelitian, pengabdian masyarakat dan Ke-Islaman/

Kemuhammadiyahan.

b. Memanfaatkan teknologi informasi dalam menyelenggarakan pendidikan pengajaran, penelitian, pengabdian masyarakat dan Ke- Islaman/ Kemuhammadiyahan.

c. Menyelenggarakan pendidikan, pengajaran, penelitian dan pengabdian masyarakat, dilandasi oleh etika, nilai dan moral Islami.

Secara umum topik dan peta jalan penelitian selama kurun waktu 2016-2021 meliputi tiga periode. Periode pertama tahun 2016-2018, hasil penelitian difokuskan pada bidang perencanaan dan pengembangan lembaga, termasuk pada penelitian-penelitian yang luarannya teknologi tepat guna.

Periode kedua tahun 2018-2020 hasil penelitian difokuskan pada bidang home industri. Periode ketiga, tahun 2020-2021 hasil

(16)

10

penelitian difokuskan pada orientasi market. Secara detail terlihat dalam Gambar di bawah ini:

Gambar RIP dan Peta Jalan

RIP UMJ tahun 2016-2021 berorientasi pada pengembangan penelitian yang memiliki tema besar “Menuju Masyarakat Indonesia yang Berkemajuan dan Berakhlak Mulia.” penelitian unggulan UMJ tahun 2016-2021 berfokus pada pemecahan berbagai masalah masyarakat Indonesia. Fokus penelitian unggulan meliputi delapan bidang riset yaitu :1.

Pendidikan, Kedokteran dan Kesehatan, Hukum dan Politik, Kewirausahaan dan Kemandirian Ekonomi, Kemandirian Pangan, Teknologi Pangan dan Bahan Alam, Energi dan Konservasi, Rekayasa Teknologi, Masyarakat Madani.

Penelitian yang telah dilakukan memiliki keterkaitan dengan Rencana Induk Pengembangan Penelitian LPPM Universitas Muhammadiyah Jakarta dan bidang unggulan LPPM UMJ yaitu masyarakat madani (ke-9) yang salah satu topiknya yaitu human dan sosial capital.

(17)

11 Penelitian yang dilakukan merupakan lanjutan dari penelitian penulis sebelumnya tentang Analisis Mashlahah Dalam Millenium Development Goals tahun 2012. Selain itu penelitian ini merupakan bagian dari pengembangan bahan ajar dalam Materi Kuliah Fikih Kontemporer. Alur penelitian sebagai berikut:

Penelitian awal penulis tahun 2012 tentang Analisis Millenium Goals focus pada beberapa tujuan dalam MDGs. Hasil penelitian telah diterbitkan dalam jurnal Ijtihad STAIN Salatiga. Penelitian yang akan dilakukan merupakan bagian kelanjutan dari MDGs yang telah diganti dengan SDGs yang lebih lengkap. Untuk itu, penelitian yang akan dilakukan juga sebagai pengembangan bahan ajar pada Mata Kuliah Fikih Kontemporar dimana salah satu sub kajian tentang SDGs. Penelitian selanjutnya adalah Strategi BAZ dan LAZ dalam Pencapaian Tujuan SDGs tentang Kemiskinan.

Analisis Millenium Development Goals tahun 2012 diterbitkan dalam jurnal Ijtihad STAIN Salatiga

SGDs Perspektif Islam Dengan Pendekatan Maqashdi Syariah 2021

Strategi BAZ dan LAZ Dalam Pencapaian Tujuan SDGs Tentang Kemiskinan 2023

(18)

12

BAB II

MAQASHID AL SYARI’AH

A. Pengertian Maqashid al-Syari’ah

Berdasarkan makna asal kata (etimologi), kalimat maqashid al syari‟ah merupakan gabungan dari dua kata yaitu maqashid ( ذصبقي ) dan al-syari‟ah (خعٚششنا ). Berdasarkan kebahasaan, kata maqashid merupakan bentuk jamak (plural) dari kata maqshad yang asal katanya yaitu dari kata qashada (maksud) yang memiliki arti beragam yaitu bermaksud, niat, menghendaki, menuju kepada, mengikuti, memaksa, lurus.4 Dalam arti lain kata qashada yang memiliki beragam derivasi seperti qashada yaqshudu bermakna menuju suatu arah, tujuan, tengah-tengah, adil dan tidak melampaui batas, jalan lurus, tengah-tengah antara berlebih-lebihan dan kekurangan5. Dalam istilah fikih kata al-maqâshid (objectives of shari‟ah, goals of shari‟ah) berarti: makna, tujuan yang dikehendaki syara‟ dalam berbagai hukum syari‟at. Selain itu, al-maqâshid juga bermakna tujuan syari‟ah dan rahasia-rahasianya yang ditetapkan oleh

4 Ahmad Warson Munawwir, Al Munawwir Kamus Arab-Indonesia, (Yogyakart: Unit Pengadaan Bukubuku Ilmiah Keagamaan Ponpes “Al- Munawwir” Krapyak Yogjakarta, 1984), hlm 1208

5 Fairuz Abadi, Al Qamus al Muhith, Beirut; Muassasah al Risalah, 1987, h. 396; Abu al Fadhl Muhammad bin Mukrim bin Mandzur, Lisan al

„Arab, Vol. 3, Beirut; Dar Shadir, 1300 H, h. 355.; Ahmad Imam Mawardi, Fiqh Minoritas Fiqh Aqalliyât dan Evolusi Maqāṣid al- Syarīah Dari Konsep ke Pendekatan, (Yogyakarta: LKiS, 2010), h. 178-179

(19)

13 Syâri‟ (Pembuat syari‟at) bagi setiap hukum syara‟.6 Jadi, maqashid menjadi tujuan disyariatkannya hukum bagi mukallaf.

Kata syari„ah secara harfiyah adalah jalan menuju sumber kehidupan, dan asalnya kata syariah tersebut berarti jalan yang dilalui air untuk diminum atau tangga tempat naik yang bertingkat-tingkat. Syari‟ah juga diartikan shirath al- mustaqim sebagaimana disebut dalam al-Qur‟an Surat. al- Jatsiyah/45 ayat:18

لا َٖيِ لَّا َءاَْٜٚ ٍّ َ

أ ْفِتٍّتَح لاَو اَْٛكِتٍّحاَو ِرْمَا َِٖٔ ٍثَكيِ َشَ َ َعَل َكاََْْ٘كَس ٍُّٓث َنَُْْٜٕكَح

( 18 )

Kemudian Kami jadikan kamu berada di atas suatu syariat (peraturan) dari urusan (agama itu), maka ikutilah syariat itu dan janganlah kamu ikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui.

Syari‟ah dalam hukum syara‟ merupakan hukum taklif yang bersifat praktik (amaliah) sebagaimana ditunjukkan dalam al-Qur‟an surat al-Maidah ayat 48. Menurut Qatadah bahwa syari‟ah berisi perintah melakukan (mar), perintah meninggalkan (nahi), hudud dan berbagai kewajiban karena syari‟ah sebagai jalan menuju kebenaran.7 Dalam arti lain syari‟ah (law of Islam, Divine law) yaitu kumpulan ushul (agama), aqidah, dasar-dasar (agama), aturan-aturan siyasah, kemasyarakatan, ekonomi, dan pidana yang ditetapkan oleh Allah untuk mengatur kehidupan individu dan masyarakat di

6 Quthb Mushtahfa Sânû, Mu‟jam Musthalâh Ushûl al-Fiqh Arabi Inggris (Damaskus: Dâr al-Fikr, 2000) hlm 431

7 Yûsuf Hâmid „Ălim, Al-Maqâshid al-„Ammah lisyarî‟at al-

Islâmiyyah, (Jeddah: al-Dâr al-Ălamiyyah al-Kitâb al-Islâmî, 1994M/1415H), Cet II, hlm 19

(20)

14

muka bumi sesuai yang dikehendakiNya.8 Dari pengertian tersebut dapat kita fahami bahwa syari‟ah memiliki fungsi sebagai pengatur kehidupan manusia dalam menempuh kehidupan di muka bumi ini. Apabila manusia tidak mengikuti syari‟ah, maka kehidupan akan kacau dan tidak teratur.

Syari‟ah merupakan konsep dasar hukum yang bersumber dari Allah dan Rasul-Nya. Adapun maqashid al- syari‟ah atau disebut Qawa‟id kulliyyyah adalah makna-makna dan tujuan besar yang dikehendaki Syâri dalam merealisasikan (tujuan itu) dalam syari‟atNya. Adanya maqashid dapat diketahui melalui istiqra terhadap nash-nash al-Qur‟an dan sunnah. Maqashid kulliyyah ditujukan untuk memelihara masalah-masalah pokok yang lima (al-dharuriyyat al-khams).9 Kelima masalah penting yang harus dipelihara oleh manusia manfaat dan hikmahnya sangat urgen bagi kehidupan manusia.

B. Sejarah Maqashid al-Syari’ah

Menurut Ahmad Raisuni, kata al-maqâshid pertama kali digunakan oleh al-Tirmidzi al-Hakim, ulama abad ke-3H dalam buku-bukunya: al-Shalâh wa Maqâshiduh, al-Hajj wa Asrâruh, al-„Illah, „Ilal al-Syarî„ah, „Ilal al-„Ubûdiyyah dan al-Furuq yang diadopsi oleh Imam al-Qarafi menjadi judul buku karangannya. Selanjutnya, muncul Abu Manshur al-Maturidi (333 H) dengan karyanya Ma‟khad al-Syara‟ disusul Abu Bakar al-Qaffal al-Syasyi (365 H) dengan bukunya Ushûl al-Fiqh dan Mahâsin al-Syarî‟ah. Setelah al-Qaffal muncul Abu Bakr al- Abhari (375 H) dan al-Baqilani (403 H). Selanjutnya, muncul al-

8 Quthb Mushtahfa Sânû, Mu‟jam Musthalâh Ushûl al-Fiqh Arabi Inggris (Damaskus: Dâr al-Fikr, 2000) hlm 249

9 Ibid., hlm 433

(21)

15 Juwaini, al-Ghazali, al-Razi, al-Amidi, Ibn Hajib, al-Baidhawi, al-Asnawi, Ibn Subki, Ibnu „Abdi al-salam, al-Qarafi, al-Thufi, Ibnu Taimiyyah dan Ibn Qayyim. Sementara menurut Hammadi al-„Ubaidi, orang yang pertama kali membahas maqâshid al- syarî‟ah adalah Ibrahim an-Nakha‟i (96 H), seorang tâbi„în ( guru Abu Hanifah). Setelah itu, dtg al-Ghazali, „Izzuddin Abdussalam, Najmuddin al-Thufi dan terakhir Imam al- Syathibi.

C. Sistematika Maqashid al-Syari’ah

Ada beberapa pendapat tentang urutan maqashid antara lain:

1) al-Zarkasyi: hifzh al-nafs, hifzh al-mâl, hifzh al-nasab, hifzh al-dîn dan hifzh al-„aql (al-Zarkasyi, 1993: 612).

2) al-Amidi: hifzh al-din, hifzh al-nafs, hifzh al-nasl, hifzh al-aql dan hifzh al-mal (al-Amidi, 1991: 252).

3) al-Qurafi: hifzh al-nufus, hifzh al-adyan, hifzh al-ansab, hifzh al-„uqul, hifzh al-amwal atau hifzh al-a‟radh (al- Qarafi, t.t: 391).

4) al-Ghazali: hifzh al-din, hifzh al-nafs, hifzh al-„aql, hifzh al-nasl dan hifzh al-mal (al-Ghazali, 1997: 258).

D. Macam-macam Maqashid al-Syari’ah

Al-Syathibi membagi maqashid kepada dua macam, yaitu: Pertama, Maqâshid Ashliyyah dan kedua, Maqâshid Tâbi‟ah10. Selain itu Al-Syathibi membagi maqâshid pada aspek manfaat membagi maqashid menjadi dua yaitu tujuan

10Ibrahim bin Musa bin Muhammad al-Lakhmi al-Qarnâthî Al- Syâthiby, Al-Muwâfaqât fî Ushûl al-Syarî‟ah, Juz I (Ttp: Dâr Ibn „Affân, 1997M/1417H), Cet I, hlm. 476

(22)

16

Allah (qashdu al-Syâri‟) dan tujuan mukallaf (qashdu al- mukallaf)11. Tujuan Allah (qashdu al-Syâri‟) terbagi menjadi empat bagian:

Pertama; qashdu al-Syâr‟i fi wadl‟i al-syarî‟ah (tujuan Allah dalam menetapkan hukum).

Kedua; qashdu al-Syâr‟i fi wadl‟i al-syarî‟ah li al-ifhâm (tujuan Allah dalam menetapkan hukum adalah untuk difahami).

Ketiga; qashdu al- Syâr‟i fi wadl‟i al-syarî‟ah li al-taklîf bi muqtadlâha (tujuan Allah dalam menetapkan hukum adalah untuk ditanggung dengan segala konsekwensinya).

Keempat; qashdu al-Syâr‟i fi dukhûli al-mukallaf tahta ahkâmi al-syarî‟ah (tujuan Allah ketika memasukkan mukallaf pada hukum syarî‟ah). Sementara pendapat lain seperti Thahir ibn „Asyur membaginya kepada tiga yaitu maqâshid „Ammah, Maqâshid Khâshshah dan maqâshid juz‟iyyah.

Qashdu al-Syâri’ fi wadl’i al-syarî’ah

Tujuan Allah dalam menetapkan hukum adalah untuk kemashlahâtan hamba di dunia dan akhirat. Syathibi menjelaskan lebih lanjut bahwa beban-beban hukum sesungguhnya untuk menjaga maqâshid (tujuan) hukum dalam diri makhluk. Maqâshid ini hanya ada tiga yaitu dlarûriyât, hâjiyat, tahsîniyât. Darûriyât harus ada untuk menjaga kemashlahâtan dunia dan akhirat. Jika hal ini tidak ada maka akan terjadi kerusakan di dunia dan akhirat. Kadar kerusakan yang ditimbulkan adalah sejauh mana dlarûriyât tersebut hilang.

Maqâshid al- dlarûriyât ini ada lima yaitu: menjaga Agama, menjaga jiwa, menjaga keturunan, menjaga harta, menjaga akal.

11 Moh. Toriquddin, “Teori Maqâshid Syarî‟ah Perspektif Al-Syatibi”

dalam Jurnal Syariah dan Hukum, Volume 6 Nomor 1, Juni 2014, h. 34

(23)

17 Maqâshid al-hâjiyat adalah untuk menghilangkan kesusahan dari kehidupan mukallaf. Sedangkan Maqâshid tahsîniyât adalah untuk menyempurnakan kedua Maqâshid sebelumnya, yang meliputi kesempurnaan adat kebiasaan, dan akhlak yang mulia.12

Pembebanan (taklif) hukum syari‟at yang memiliki maqashid bagi makhluk terbagi tiga macam, yaitu: Dharuriyyat, hajjiyyat, dan tahsiniyyat.13

1) Dharuriyyat yakni sesuatu yang mesti ada untuk menegakkan kemaslahatan baik agama maupun dunia. Jika tidak ada, maka kemaslahatan dunia tidak berjalan dengan baik. Sedangkan pada aspek agama yaitu tidak terlepas dari siksa Allah di akhirat dan berada dalam kerugian besar.14 Dharuriyyat mencakup masalah-masalah pokok ibadah, adat kebiasaan, dan mu‟amalat. Masalah pokok ibadah mencakup aspek perbuatan yang harus dilakukan untuk memelihara agama seperti beriman, mengucap dua kalimah syahadat, mendirikan, salat, menunaikan zakat, berpuasa di bulan Ramadhan, ibadah haji serta hal-hal wajib lainnya yang harus dikerjakan. Masalah adat kebiasaan mencakup hal-hal yang dapat memelihara jiwa dan akal yakni makan, minum, sandang, papan, dan yang lainnya. Dari aspek dharuriyyat dalam hal mu‟amalat adalah memelihara keturunan dan harta serta memelihara jiwa dan akal.15 2) Hajjiyat yaitu sesuatu yang sangat diperlukan untuk

menghilangkan kesulitan yang dapat mengakibatkan hilangnya sesuatu yang diibutuhkan walaupun tidak sampai

12 Ahmad al-Raisuni, Nadariyât al- Maqāṣid „Inda al-Imâm al- Shâthibi, (Beirut: Muassasah al-Jami‟ah, 1992), h 117

13 Ibid , Juz II, hlm 17

14 Ibid.

15 Ibid , Juz II, hlm 18-19

(24)

18

merusak kemaslahatan umum. Hajjiyat berlaku dalam berbagai aspek ibadah, adat kebiasaan, mu‟amalat, dan jinayat (pidana). Dalam ibadah misalnya diberikan keringanan (rukhshah) untuk menghilangkan kesulitan bagi orang yang sakit dan sedang bepergian (musafir). Demikian pula dalam adat kebiasaan dibolehkan berburu dan menikmati segala sesuatu yang baik dan dihalalkan berbagai hal baik berupa makanan, minuman, pakaian, kendaraan, dan lain-lain. Sementara itu dalam mu‟amalah dibolehkan qiradh, jual beli salam, dan lain-lain. Pada masalah jinayah (pidana) berlaku sumpah atas pembunuhan berdarah (qasamah), dan kewajiban membayar diyat dalam pembunuhan bagi keluarga pembunuh.16

3) Tahsiniyyat yaitu mengambil sesuatu yang terbaik menurut adat kebiasaan, menjauhi hal-hal yang buruk yang tidak diterima akal sehat. Kelompok yang termasuk tahsiniyyat itu termasuk bagian dari akhlak mulia. Dalam ibadah misalnya menghilangkan najis serta melakukan berbagai bentuk bersuci, menutup aurat, memakai yang indah, mendekatkan diri kepada Allah dengan melakukan berbagai ibadah sunnah, dan lain-lain.17 Dalam masalah adat misalnya memelihara etika makan dan minum, menjauhi makanan naijs dan minuman buruk, serta berlebihan. Dalam mu‟amalat misalnya mencegah terjadinya jual beli barang najis, berlebihan dalm konsumsi air, menikah diri sendiri , dan sebagainya. Dalam jinayat dilarang membunuh orang merdeka karena membunuh budak.18 Berdasarkan uraian

16 Ibid , Juz II, hlm 22

17 Ibid

18 Ibid , Juz II, hlm 23

(25)

19 tersebut dapat difahami bahwa seluruh maqashid itu baik yang bersifat dharuriyyat, hajjiyat, maupun tahsiniyyat memiliki pengaruh besar bagi terpeliharanya kehidupan manusia yang memberikan kemudahan terhindar dari kesulitan baik individu maupun masyarakat.

Qashdu al- Syâr’i fi wadl’i al-syarî’ah li altaklîf bi muqtadlâha Qashdu al- Syâr‟i fi wadl‟i al-syarî‟ah li altaklîf bi muqtadlâha (maksud Syâri‟ dalam menentukan syari‟at) adalah untuk dilaksanakan sesuai dengan yang dituntut-Nya. Masalah yang dibahas dalam bagian ini ada 12 masalah, semuanya mengacu kepada dua masalah pokok diantaranya, taklîf yang di luar kemampuan manusia (al-taklîf bimâ lâ yuthaq).

Pembahasan ini tidak akan dibahas lebih jauh karena sebagaimana telah diketahui bersama bahwa tidaklah dianggap taklîf apabila berada di luar batas kemampuan manusia. Dalam hal ini Syathibi mengatakan: “Setiap taklîf yang di luar batas kemampuan manusia, maka secara syar‟i taklîf itu tidak sah meskipun akal membolehkannya”.19

Qashdu al-Syâr’i fi dukhûli al-mukallaf tahta ahkâmi al- syarî’ah

Pembahasan bagian terakhir ini merupakan pembahasan paling panjang mencakup 20 masalah, semuanya mengacu kepada pertanyaan: “Mengapa mukallaf melaksanakan hukum syari‟ah?”. Abdullah Bin Daraz meringkas menjadi dua jawaban pertama dan ke dua. Pertama adalah untuk meletakkan aturan yang bisa mengantarkan manusia pada kebahagian dunia dan

19 Imam Syathibi, al-Muwâfaqât fī Usul al-Syarīah, Juz I, (Beirut: Dar al-Kutûb al-„Ilmiyyah, t.th.), h. 82

(26)

20

akhirat bagi orang yang menjalankannya. Bagian yang kedua seseorang dituntut untuk masuk pada aturan dan mentaatinya bukan mentaati hawa nafsunya. Pada akhir jawabannya Syathibi menambahkan bahwa tujuan Syâ‟ri dari peletakan syariah adalah untuk mengeluarkan mukallaf dari tuntutan dan keinginan hawa nafsunya sehingga ia menjadi seorang hamba yang ikhtiyâran di samping juga sebagai hamba Allah yang idṭirâran.20 Untuk itu, setiap perbuatan yang mengikuti hawa nafsu, maka ia batal dan tidak ada manfa‟atnya. Karena setiap amal harus ada tendensi dan motifasi yang melatar belakanginya. Jika tendensi tersebut tidak berdasarkan hukum syara‟ maka ia adalah berdasarkan hawa nafsu.21

Qashdu al-Syâr‟i terbagi menjadi empat yaitu:

1. Qashdu alSyâr‟i fi wadl‟i al-syarî‟ah adalah untuk untuk kemashlahâtan hamba di dunia dan akhirat.

2. Qashdu al- Syâr‟i fi wadl‟i al-syarî‟ah li al-ifhâm dengan cara memahami bahasa Arab karena al-Qur‟an diturunkan dengan menggunakan bahasa Arab, dan Orang Arab lebih bisa memahami mashlahât ketimbang orang non Arab.

3. Qashdu al- Syâr‟i fi wadl‟i alsyarî‟ah li al-taklîf bi muqtadlâha

Dalam hal ini yang dibahas ada 12 masalah, namun semuanya mengacu kepada dua masalah pokok yaitu: (a) taklîf yang di luar kemampuan manusia (al- taklîf bimâ lâ yutaq). (b) taklîf yang di dalamnya terdapat masyaqqat (kesulitan) (al- taklîf bimâ fīhi masyaqqat).

4. Qashdu al-Syâr‟i fi dukhûli al-mukallaf tahta ahkâmi al- syarî‟ah, pembahasan ini mencakup 20 masalah yang semuanya

20 Imam Syathibi, al-Muwâfaqât, h. 128.

21Ahmad al-Raisuni, Nadariyât al- Maqāṣid…, h.127.

(27)

21 mengacu kepada pertanyaan: “Mengapa mukallaf melaksanakan hukum syari‟ah?”. Menurut Abdullah Bin Daraz ada dua jawaban pertama adalah untuk meletakkan aturan yang bisa mengantarkan manusia pada kebahagian dunia dan akhirat bagi orang yang menjalankannya, dan kedua seseorang dituntut untuk masuk pada aturan dan mentaatinya bukan mentaati hawa nafsunya.

Qashdu al-Mukallaf (Tujuan Mukallaf) membahas beberapa hal seperti urgensi niat, tujuan ibadah terealisasi dalam tasarufât (beberapa perbuatan), beberapa hal tentang ibadah dan adat. Tujuan seseorang dalam melakukan suatu perbuatan menentukan perbuatannya itu benar atau batal termasuk ibadah atau riya‟, fardu atau nâfilah, menjadikan orang tersebut beriman atau kufur seperti sujud kepada Allah atau pada selain Allah. Selanjutnya suatu perbuatan ketika berhubungan dengan suatu tujuan maka ia akan berhubungan juga dengan hukum taklîf, jika suatu perbuatan tidak ada tujuannya maka ia tidak ada hubungannya dengan taklîf seperti orang tidur, orang lalai, dan orang gila.

Masalah kedua dan ketiga adalah tujuan mukallaf dalam beramal harus sesuai dengan tujuan Syâri‟ dalam menetapkan syariah. Ketika syariah tujuannya adalah untuk kemashlahâtan hamba, maka seorang mukallaf dalam perbuatannya dituntut sesuai dengan syariah. Begitu juga tujuan Syâri‟ adalah menjaga darûriyât, hâjiyat,dan tahsîniyât, yang dibebankan kepada hamba. Maka dari itu, manusia dituntut untuk menjalankan ketiganya karena segala perbuatan tergantung kepada niatnya.

Selanjutnya bahwa manusia adalah sebagai khalifah (pengganti) Allah dalam jiwa, keluarga, dan hartanya dan segala apa yang ada pada kekuasaannya, maka ia dituntut untuk menjalankan

(28)

22

posisi Dzat yang digantikan; dengan menjalankan hukum dan tujuan sesuai dengan kehendak-Nya. Masalah yang keempat adalah kesesuaian dan pertentangan antara mukallaf dengan Syari‟, serta hukum dari segala kondisi sebagai berikut:

Pertama, mukallaf sesuai dengan Syari‟ baik dari segi tujuan maupun perbuatan, sehingga perbuatan tersebut tidak dipertanyakan keabsahannya. Kedua, bertentangan dengan Syari‟ baik tujuan maupun perbuatan, sehingga hukumnya batal.

Ketiga, perbuatan sesuai dengan Syari‟, tetapi berbeda dalam hal tujuan. Karenanya dalam hal ini ia berdosa menurut Allah karena jeleknya tujuan, namun tidak berdosa di mata makhluk karena tidak melakukan kerusakan yang menghilangkan kemashlahâtan. Keempat, sama dengan poin ketiga tetapi ia mengetahui persesuaian dalam perbuatan, karenanya masuk kategori riya, nifâq, dan mensiasati hukum Allah. Kondisi yang kelima bertentangan dengan Syâri‟ baik dalam suatu perbuatan maupun tujuannya, sedangkan ia mengetahui pertengahan dalam perbuatan. Orang yang dalam kondisi seperti ini biasanya men- ta‟wil-kan perbuatnnya dan berpegang pada kebaikan tujuannya.

Kondisi keenam; seperti kondisi ke lima hanya saja ia tidak mengetahui pertentangan tersebut. Dalam hal ini ada dua pandangan, yaitu (1) Melihat pada kesesuaian niyat dan tujuan, karena seluruh amal tergantung kepada niyat sedangkan pertentangan terjadi tanpa disengaja dan tidak diketahui; (2) Melihat pertentangan antara Syâri‟ dengan perbuatan, sehingga tujuannya tidak bisa merealisasikan tujuan Syâri‟.

Masalah kelima adalah ada tidaknya pertentangan antara ke-mashlahât-an dan kemafsadât-an pribadi mukallaf dan kemashlahât-an serta ke-mafsadât-an orang lain dengan menjaga ada tidaknya suatu tujuan. Pertentangan-pertentangan antara

(29)

23 kemashlahât-an manusia ini dijelaskan Syathibi sebagai berikut:

pertama mendatangkan maslahah atau menolak mafsadah ketika dimungkinkan terbagai menjadi dua bagian: (1) Jika hal tersebut tidak membahayakan orang lain; (2) Membahayakan orang lain, hal ini terbagi menjadi dua: (a) Orang tersebut bertujuan untuk membahayakan orang lain seperti orang yang memberikan harga murah pada dagangannya untuk mencari penghidupan dan bertujuan untuk membahayakan orang lain; (b) Tidak bertujuan membahayakan orang lain. Hal ini terbagi mejadi dua; (i) Bahaya tersebut bersifat umum seperti mencampur dagangan, menjualnya hâdir (pedagang yang muqim) kepada bâdiy (pembeli pelancong), dan mencegah menjual rumah atau tanah sementara masharakat sangat membutuhkan untuk masjid atau lainnya; (ii) Selanjutnya bahaya bersifat khusus yang terbagi menjadi: (1) Orang tersebut akan mendatangkan bahaya kepada orang lain, yaitu orang yang membela diri dengan menyakiti orang lain atau orang yang mendahului membeli makanan yang jika makanan tersebut habis maka akan membahayakan orang lain. Begitupula sebaliknya, jika ia tidak mendapatkan makanan tersebut maka bahaya akan menerpa dirinya; (2) Tidak menimbulkan bahaya yang hal ini terbagi menjadi tiga bagian:

(a) Jika perbuatan itu mendatangkan mafsadah secara pasti seperti menggali sumur di belakang pintu rumah sehingga orang yang masuk pasti akan tercebur; (b) Apa yang dilakukan akan jarang mendatangkan mafsadah, seperti orang menggali sumur di tempat yang tidak memungkinkan orang terperosok di dalamnya atau menanam makanan yang tidak membahayakan orang yang memakannya; (c) Perbuatan yang sering mendatangkan bahaya, seperti: (a) Menjual senjata pada orang yang berperang atau menjual kurma pada pembuat khamr; (b)

(30)

24

Mendatangkan bahaya tetapi tidak secara mayoritas seperti masalah perdagangan secara tempo.

E. Metode Penetapan Maqashid

Untuk mengetahui maqashid al-syari‟ah dapat dilakukan dengan menggunakan beberapa metoda. Menurut Ibn „Asyur, cara mengetahui maqashid adalah sebagai berikut:22

1. Melakukan istiqra (mengambil beberapa dalil) syari‟ah dalam penerapannya. Dalam hal ini ada du amacam, yaitu:

1) Menganalisis „illat-„illat hukum yang terkandung di dalamnya sehingga dapat difahami maqashid syari‟at itu.

Contoh melihat „illat larangan jual beli muzâbanah23 dengan berdasar pada sabda Rasulullah saw. dimana seorang sahabat pada saat itu bertanya kepada Rasulullah saw. tentang menjual kurma kering dengan yang basah.24

22 Muhammad al-Thâhir bin „Ăsyur, Maqâshid al-Syarî‟ah al- Islâmiyyah (Yordania: Dâr al-Nafâis, 1412H/2001M), Cet II, hlm 190

23 Muzâbanah adalah menjual kurma basah dengan kurma kering dalam bentuk takaran atau menjual kismis dengan anggur dalam bentuk takaran.

24Hadis tentang jual beli Muzâbanah antara lain: dari 'Abdullah bin 'Umar r.a, bahwa Rasulullah saw. melarang jual beli muzabanah. Ia berkata,

"Muzabanah adalah menjual buah-buahan dengan takaran tertentu lalu berkata, 'Jika bertambah (takarannya), maka itu untukku (dikembalikan) dan jika berkurang maka atas tanggunganku (ditambah)'." (HR Bukhari [2172]

dan Muslim [1543]). Riwayat lain dari 'Abdullah bin 'Umar ra, bahwasanya Rasulullah saw. melarang muzabanah, yaitu seseorang menjual buah-buahan hasil kebunnya. Apabila kurma segar ditakar dengan kurma, anggur ditakar dengan kismis, bahan mentah ditakar dengan makanan. Rasulullah saw.

melarang bentuk-bentuk jual beli seperti itu," (HR Bukhari [2205] dan Muslim [2542]). Dari Abu Sa'id al-Khudri r.a, bahwasanya Rasulullah saw.

melarang diri praktek muzabanah dan muhaqalah. Muzaabanah yakni membeli buah dengan kurma yang masih di atas pohon, (HR Bukhari [2186]).

(31)

25 2) Melakukan istiqra (mengambil beberapa dalil) hukum yang memiliki suatu „illat sehingga dapat diketahui dengan yakin bahwa „illat tersebut merupakan maksud yang diekhendaki Syâri‟.Misalnya larangan menjual makanan sebelum diterima, larangan tukar menukar makanan karena riba nasi‟ah, dan lain-lain.

2. Mengkaji dalil-dalil yang jelas dilâlahnya sehingga menimalisir pemahaman berbeda antara maksud ayat dengan lahir penggunaan menurut kaidah bahasa Arab sehingga menghilangkan keraguan. Misal makna ىكٛهع تزك

وبٛصنا dalam surat al-Baqarah ayat 183 artinya Allah

mewajibkan puasa walaupun menurut Ahmad bahwa secara lahir lafazh menunjukkan bahwa al-shiyam tertulis dalam kertas.25

3. Mengkaji sunnah mutawatir maknawi yang dapat diketahui dengan adanya pengamalan sahabat sebagai kesaksiannya yang berasal dari Nabi saw sehingga diperoleh suatu hukum syara‟.26

Dengan demikian upaya mengetahui maqashid syari‟ah tidak terlepas dari nash-nash al-Qur‟an maupun hadis yang dapat dianalisis secara mendalam sehingga maqashidnya dapat diketahui.

BAB III

25 Muhammad al-Thâhir bin „Ăsyur, Maqâshid ..., hlm 193 26 Ibid., hlm 194

(32)

26

KONSEP SUSTAINABLE DEVELOPMENT GOALS (SDGs)

A. Latar Belakang dan Pengertian SDGs

Sustainable Development Goals Sustainable Development atau SDGs) merupakan suatu agenda kesepakatan pembangunan baru yang mendorong perubahan-perubahan yang bergeser ke arah pembangunan berkelanjutan yang berdasarkan hak asasi manusia dan kesetaraan untuk mendorong pembangunan sosial, ekonomi dan lingkungan hidup.

SDGs/TPB diberlakukan dengan prinsip-prinsip universal, integrasi dan inklusif untuk meyakinkan bahwa tidak akan ada seorang pun yang terlewatkan atau “No-one Left Behind”. SDGs terdiri dari 17 Tujuan dan 169 target dalam rangka melanjutkan upaya dan Agenda Millennium Development Goals (MDGs) yang berakhir akhir pada tahun 2015 lalu.27 Jadi SDGs sebagai program kemanusiaan global melanjutkan MDGs

Setelah berakhirnya era Milenium Development Goals (MDGs) pada tahun 2015 yang mempunyai segudang permasalahan dalam pengimpelentasiannya. Persatuan Bangsa Bangsa (PBB) menyelenggarakan konferensi untuk pembentukan rancangan pembangunan berkelanjutan (Sustainable Development Goals), di Brazil, pada Juni 2012, Pertemuan tersebut menghasilkan dokumen the future we want (masa depan yang kita inginkan) yang sangat berperan penting

27SDGs Indonesia, “Apa itu SDGs”. SDGs Indonesia (Online), halaman 1. http://sdgsindonesia.or.id/. Di Akses Pada 19 juni 2020 jam 20.51 WIB)

(33)

27 dalam kemunculan Sustainable Development Goals (SDGs) atau Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (TPB). Inti dari konferensi tersebut adalah diperlukannya agenda pembangunan berkelanjutan baru, yang melanjutkan MDGs yang sudah dilaksanakan, tetapi dengan visi yang lebih luas, holistik dan bersifat universal.28 Hal tersebut sebagai upaya agar pencapaian program yang lebih cepat dan menyeluruh di ebrbagai belahan dunia anggota terutama negara berkembang.

SDGs (Sustainable Development Goals) merupakan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan sebagai kesepakatan pembangunan global. SDGs disahkan 25 September 2015 bertempat di Markas Besar Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), oleh para pemimpin dunia dihadiri oleh 193 kepala negara, termasuk Wakil Presiden Indonesia Jusuf Kalla mewakili pemerintah Indonesia. Tujuan yang ingin dihasilkan dalam pertemuan tersebut adalah memperoleh tujuan bersama yang universal yang mampu memelihara keseimbangan tiga dimensi pembangunan berkelanjutan: lingkungan, sosial dan ekonomi.

Dalam menjaga keseimbangan tiga dimensi pembangunan tersebut, maka SDGs memiliki 5 pondasi utama yaitu manusia, planet, kesejahteraan, perdamaian, dan kemitraan yang ingin mencapai tiga tujuan mulia di tahun 2030 berupa mengakhiri kemiskinan, mencapai kesetaraan dan mengatasi perubahan iklim. Kemiskinan masih menjadi isu penting dan utama, selain dua capaian lainnya.

B. Tujuan atau Goal SDGs

28 Armida Sahsiah A, Arief Anshori Y, dkk, Menyongsong SDGs, (Bandung: UNPAD Perss, 2018), cetakan ke 2, h. 3

(34)

28

Untuk mencapai tiga tujuan mulia yaitu mengakhiri kemiskinan, mencapai kesetaraan dan mengatasi perubahan iklim., disusunlah 17 Tujuan Global berikut.29

1. Tujuan 1 - Tanpa kemiskinan (No Poverty)

Pengentasan segala bentuk kemiskinan di semua tempat (End poverty in all forms everywhere)

2. Tujuan 2 - Tanpa kelaparan (Zero Hunger)

Mengakhiri kelaparan, mencapai ketahanan pangan dan perbaikan nutrisi, serta menggalakkan pertanian yang berkelanjutan (End hunge end hunger, achieve food security and improved nutrition and promote sustainable agriculturer, achieve food security and improved nutrition and promote sustainable agriculture)

3. Tujuan 3 - Kehidupan sehat dan sejahtera (Good Health and Well-Being)

Menggalakkan hidup sehat dan mendukung kesejahteraan untuk semua usia (Ensure healthy lives and promote well-being for all at all age) and promote well-Being

4. Tujuan 4 - Pendidikan berkualitas (Quality Education)

29 Ishartono, santoso Tari R. “Sustaineble Devlopment Goals dan pengentasan kemiskinan”, dalam Social Work Jurnal, Vol. 6, No. 2, h. 161;

Department of Economic and Social AffairsDisability, #Envision2030: 17 goals to transform the world for persons with disabilities https://www.un.org/development/desa/disabilities/envision2030.html) Ahad, 24 okt 2021 pkl 15.41; https://www.sdg2030indonesia.org/page/1- tujuan-sdg, Rabu 15/4/2020 pkl 17.20

(35)

29 Memastikan pendidikan berkualitas yang layak dan inklusif serta mendorong kesempatan belajar seumur hidup bagi semua orang

5. Tujuan 5 - Kesetaraan gender (Gender Equality) Mencapai kesetaraan gender dan memberdayakan semua perempuan.

6. Tujuan 6 - Air bersih dan sanitasi layak (Clean Water And Sanitation)

Menjamin akses atas air dan sanitasi untuk semua.

7. Tujuan 7 – Energi bersih dan terjangkau (Affordable And Clean Energy)

Memastikan akses pada energi yang terjangkau, bisa diandalkan, berkelanjutan dan modern untuk semua.

8. Tujuan 8 - Pekerjaan layak dan pertumbuhan ekonomi (decent work and economic growth)

Mempromosikan pertumbuhan ekonomi berkelanjutan dan inklusif, lapangan pekerjaan dan pekerjaan yang layak untuk semua.

9. Tujuan 9 - Industri, inovasi dan infrastruktur (Industry, Innovation And Infrastructure)

Membangun infrastruktur kuat, mempromosikan industrialisasi berkelanjutan dan mendorong inovasi.

10. Tujuan 10 - Berkurangnya kesenjangan (Reduced Inequality)

Mengurangi kesenjangan di dalam dan di antara negara-negara.

11. Tujuan 11 - Kota dan komunitas

berkelanjutan (Sustainable Cities and Communities) Membuat perkotaan menjadi inklusif, aman, kuat, dan berkelanjutan.

(36)

30

12. Tujuan 12 - Konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab (Responsible Consumption and Production) Memastikan pola konsumsi dan produksi yang berkelanjutan

13. Tujuan 13 - Penanganan perubahan iklim (Climate Action)

Mengambil langkah penting untuk melawan perubahan iklim dan dampaknya.

14. Tujuan 14 - Ekosistem laut (Life Below Water)

Pelindungan dan penggunaan samudera, laut dan sumber daya kelautan secara berkelanjutan

15. Tujuan 15 - Ekosistem daratan (Life on Land)

Mengelola hutan secara berkelanjutan, melawan perubahan lahan menjadi gurun, menghentikan dan merehabilitasi kerusakan lahan, menghentikan kepunahan keanekaragaman hayati.

16. Tujuan 16 - Perdamaian, keadilan dan kelembagaan yang tangguh (Peace, Justice and Strong Institutions Mendorong masyarakat adil, damai, dan inklusif 17. Tujuan 17 - Kemitraan untuk mencapai tujuan

(Partnerships for the Goals)

Menghidupkan kembali kemitraan global demi pembangunan berkelanjutan

C. Tema SDGs

Tema SDGs “Mengubah Dunia Kita: Agenda 2030 untuk Pembangunan Berkelanjutan”, SDGs yang berisi 17 Tujuan dan 169 Target merupakan rencana aksi global untuk 15 tahun ke depan (berlaku sejak 2016 hingga 2030), guna mengakhiri kemiskinan, mengurangi kesenjangan dan melindungi

(37)

31 lingkungan. SDGs berlaku bagi seluruh negara (universal), sehingga seluruh negara tanpa kecuali negara maju memiliki kewajiban moral untuk mencapai Tujuan dan Target SDGs.

Pilar-pilar Sustainable Development Goals (SDGs) Pilar- pilar SDGs terbagi menjadi 4 pilar diantaranya: pilar pembangunan sosial, pilar pembangunana ekonomi, pilar pembangunan lingkungan, dan pilar pembangunan hukum dan tata kelola.

Pilar-pilar Sustainable Development Goals (SDGs)30 1) Pilar pembangunan sosial

Pembangunan sosial SDGs adalah terciptanya pemenuhan hak dasar manusia yang berkualitas secara adil dan setara untuk meningkatkan kesejahteraan bagi masyarakat. Adapun tonggak pendukung terlaksananya pilar pembangunan sosial yaitu:

a) Tanpa Kemiskinan. Tidak ada kemiskinan dalam bentuk apapun di seluruh penjuru dunia. Dengan pertimbangan bahwasannya kemiskinan merupakan masalah terbesar untuk Indonesia bahkan seluruh dunia menjadi masalah terbesar, maka dari itu SDGs di pioritaskan untuk mengakhiri kemiskinan dalam bentuk apapun.

b) Tanpa kelaparan Tidak ada lagi kelaparan, mencapai ketahanan pangan, perbaikan nutrisi, serta mendorong

30 Ishartono, santoso Tari R. “Sustainable Development Goals dan pengentasan kemiskinan”, dalam Social Work Jurnal, Vol. 6, No. 2, h. 164- 167; SDGs Indonesia (Online), halaman 1. http://sdgsindonesia.or.id/.

DiAkses Pada 19 juni 2020 jam 23.51 WIB; SDGs Indonesia, “pilar-pilar SDGs”. SDGs Indonesia (Online), halaman 1. http://sdgsindonesia.or.id/. Di Akses Pada 19 juni 2020 jam 23.51 WIB; https://sdgs.bappenas.go.id/wp- content/uploads/2020/10/Metadata-Pilar-Sosial-Edisi-II.pdf

(38)

32

budidaya pertanian yang berkelanjutan. Kelaparan bisa diartikan sebagai suatu kondisi seseorang yang tidak mampu dalam memenuhi konsumsi pangan, faktor penyebab terjadinya kelaparan dikarenakan kemiskinan, kesenjangan sosial yang sangat tinggi, ketidakstabilannya sistem pemerintah, dan lain lain.

c) Kehidupan sehat dan sejahtra Menjamin kehidupan yang sehat serta mendorong kesejahteraan hidup untuk seluruh masyarakat disegala umur. Dengan memberikan proram gizi masyarakat, sistem kesehatan nasional, akses kesehatan yang terjangkau, dan reproduksi keluarga berencana (KB) sanitasi dan air bersih.

d) Pendidikan Berkualitas Menjamin pemerataan pendidikan yang berkualitas dan meningkatkan kesempatan belajar untuk semua orang, menjamin pendidikan yang inklusif dan berkeadilan serta mendorong kesempatan belajar seumur hidup bagi semua orang.

e) Kesetaraan Gender Mencapai kesetaraan gender dan memberdayakan kaum ibu dan perempuan.

2) Pilar pembangunan ekonomi

Pembangunan ekonomi SDGs adalah terciptanya pertumbuhan ekonomoi berkualitas melalui keberlanjutan peluang kerja dan usaha, invasi, indrustri inklusif, infrastruktur memadai, energy bersih yang terjangkau dan didukung dengan kemitraan. Adapun penopang terlaksananya pilar pembangunan ekonomi yaitu:

a) Energi Bersih dan Terjangkau

Menjamin akses terhadap sumber energi yang terjangkau, terpercaya, berkelanjutan dan modern untuk semua orang.

(39)

33 b) Pekerjaan Layak dan Petumbuhan Ekonomi

Mendukung perkembangan ekonomi yang berkelanjutan dan inklusif, lapangan kerja yang penuh dan produktif, serta pekerjaan yang layak untuk semua orang.

c) Indrustri Inovasi dan insfrastruktur

Membangun infrastruktur yang berkualitas, mendorong peningkatan industri yang inklusif dan berkelanjutan serta mendorong inovasi.

d) Berkurangnya Kesenjangan

Mengurangi ketidaksetaraan baik di dalam sebuah negara maupun di antara negara-negara di dunia.

e) Kemitraan Untuk Mencapai Tujuan implementasi dan menghidupkan kembali kemitraan global untuk pembangunan yang berkelanjutan

3) Pilar pembangunan lingkungan Pembangunanan lingkungan SDGs adalah terciptanya sumber daya alam dan lingkungan yang berkelanjutan sebagai penyanggah sumber kehidupan.

Adapun penompang terlaksananya pilar pembangunan lingkungan yaitu:

a) Air Bersih dan Sanitasi Layak

Menjamin ketersediaan air bersih dan sanitasi yang berkelanjutan untuk semua orang

b) Kota dan Pemukiman yang Berkelanjutan

Membangun kota-kota serta pemukiman yang inklusif, berkualitas, aman, berketahanan dan bekelanjutan.

c) Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab Menjamin keberlangsungan konsumsi dan pola produksi d) Penanganan Perubahan Iklim Bertindak cepat untuk

memerangi perubahan iklim dan dampaknya.

(40)

34

e) Ekosistem Laut

Melestarikan dan menjaga keberlangsungan laut dan kehidupan sumber daya laut untuk perkembangan pembangunan yang berkelanjutan.

e) Ekosistem Darat

Melindungi mengembalikan dan meningkatkan keberlangsungan pemakaian ekosistem darat, mengelola hutan secara berkelanjutan, mengurangi tanah tandus serta tukar guling tanah, memerangi penggurunan, menghentikan dan memulihkan degradasi tanah, serta menghentikan kerugian keanekaragaman hayati.

4) Pilar pembangunan hukum dan tata kelola

Pembangunan hukum dan tatakelola SDGs adalah teciptanya kepastian hukum, dan tata kelola yang efektif, efisien, transparan akuntabel dan partisipatif untuk menciptakan stablitas keamanan dan mencapai Negara berdasarkan hukum.

Adapun penopang terlaksananya pilar pembangunan hukum dan tata kelola ialah Perdamaian Keadilan Kelembagaan yang tangguh adalah Meningkatkan perdamaian termasuk masyarakat untuk pembangunan berkelanjutan, menyediakan akses untuk keadilan bagi semua orang termasuk lembaga dan bertanggung jawab untuk seluruh kalangan, serta membangun institusi yang efektif, akuntabel, dan inklusif di seluruh tingkatan Konsep yang dibawa SDGs dalam merealisasikan Agenda SDGs dengan 5 prinsip mendasar yang

(41)

35 menyeimbangkan dimensi ekonomi, sosial, lingkungan, dan hukum yaitu :31

1) People (manusia) SDGs hadir untuk memastikan bahwa semua manusia terbebas dari kemiskinan, kelaparan, memiliki kedudukan yang setara dan mendapatkan hak untuk hidup secara bermartabat. People (manusia) SDGs hadir untuk memastikan bahwa semua manusia terbebas dari kemiskinan, kelaparan, memiliki kedudukan yang setara dan mendapatkan hak untuk hidup secara bermartabat.

2) Planet (bumi) SDGs berupaya untuk melindungi bumi dari dampak buruk akibat kegiatan manusia, seperti perubahan lingkungan dan penggunaan sumber daya alam yang tak bertanggung jawab, sehingga dapat memenuhi kebutuhan masa depan

3) Prosperity (kemakmuran) SDGs hadir untuk memastikan semua umat manusia memiliki kehidupan yang sejahtera, berkecukupan dan dapat hidup secara harmonis berdampingan dengan alam.

4) Peace (perdamaian), dan Tidak ada pembangunan berkelanjutan tanpa perdamaian dan keamanan sosial, dan sebaliknya, tidak ada perdamaian dan keamanan sosial tanpa pembangunan berkelanjutan

5) Partnership (kerjasama). keberhasilan pembangunan berkelanjutan hanya dapat dicapai melalaui kerja sama global yang erat dengan asas solidaritas yang tinggi. Kelima prinsip dasar ini dikenal dengan istilah 5P dan menaungi 17 Tujuan dan 169 sasaran yang tidak dapat dipisahkan, saling terhubung, dan terintegrasi satu sama lain guna mencapai kehidupan manusia yang lebih baik.

31 Melia Riskia F, Perkembangan pelaksanaan Sustainable Development Goals di Indonesai, (Jakarta: Infid, 2018), h. 5

(42)

36

BAB IV

MAQASHID SYARI’AH

DALAM PEMBANGUNAN SOSIAL

A. Maqashid Tanpa Kemiskinan (No Poverty) 1. Konsep Miskin Dalam Islam

Tujuan utama dalam pembangunan global atau Sustainable Development Goals (SDGs) yaitu menghilangkan kemiskinan di seluruh penjuru dunia. Tujuan tersebut menghendaki adanya kesejahteraan yang dicapai oleh seluruh penduduk bumi di manapun berada.

Pengentasan kemiskinan dalam syariat Islam merupakan bagian dari kewajiban muslim yang harus dilakukan. Hal itu tertuang dalam bebeberapa ayat Alquran. Bahkan seorang muslim yang tidak memberikan belas kasihan kepada kaum dhu‟afa (orang miskin) digelari “pendusta agama” (QS.107:3).

Yang demikian menunjukkan betapa Allah subhanahu wata‟ala menghendaki lenyapnya kemiskinan dari kehidupan manusia.

Allah menghendaki manusia untuk memiliki kemampuan sehingga dapat mencukup kebutuhan hidupnya.

Dalam Al-quran istilah miskin disebutkan secara berulang dengan berbagai bentuk yaitu: miskin (bentuk tunggal), al-masâkîn (bentuk jamak); al-maskanah (bentuk mashdar).

Lafazh al-miskîn sebagai isim ma‟rifat) dan miskîn (isim nakirah) disebut dalam 11 tempat yaitu surat al-Baqarah ayat 184, al-Isrâ ayat 26, al-Qalam ayat 24, al-Hâqqah ayat 34, 40, surat al-Fajr ayat 18, al-Mâ‟ûn ayat 3, al-Mujâdalah:4, al-

(43)

37 Insân:8, dan surat al-Balad.32 Makna yang terkandung ayat-ayat tersebut menunjukkan pada kondisi orang yang kekurangan makanan sebagaimana ditunjukkan dengan kalimat “memberi makan”. Berdasarkan petunjuk tersebut bahwa makan merupakan kebutuhan utama manusia. Jika seseorang merasa kesulitan untuk mendapatkan makanan maka ia termasuk orang miskin yang harus mendapatkan bantuan.

Pada beberapa ayat lainnya, kata “miskin” diungkapkan dengan lafaz al-maskanah yang terdapat dalam surat al- Baqarah/02 ayat 61 dan surat Ali Imran/03 ayat 112. 33 Lafaz al- masâkîn terdapat dalam 12 tempat yaitu QS. al-Baqarah ayat 83, 177, 215, surat al-Nisa ayat 8 dan 36, surat al-Mâidah ayat 89 dan 95, surat al-Anfâl ayat 41, surat al-Taubah ayat 60, surat al- Kahfi ayat 79, surat al-Nûr ayat 22 dan surat al-Hasyr ayat 7.34 Secara umum kata al-masâkin berhubungan dengan perintah untuk menyantuni orang-orang miskin. Namun, dalam surat al- Kahfi ayat 79 gambaran orang miskin sebagai sosok yang memiliki kekayaan. Hal ini dapat dilihat dari ayat tersebut yang berbunyi sebagai berikut:

ٍّصلا أٍّ َ اََٛتًِخ َ أ

أ ْن َ أ َّتدَر َ

أَو ِرْطَ ْ

لْا ِفِ َنٜ َُْْٕكَح َينَِاَصَِٕل ْجََٗكََو ُثًَِ٘ى اًت ْطَم ٍثًَِ٘ىَش ٍّ ُكُ ُذُخ ْ

أَي ٌٍٍِّْٔ َُٓٚءاَرَو َن َكََو

{ 79 }

32Muhammad bin Umar bin Sâlim Bâzimûl, Ahkâm al-Faqr wa al- Miskîn, hlm 8

33Ibid

34Ibid., hlm 9

(44)

38

“Adapun bahtera itu adalah kepunyaan orang-orang miskin yang bekerja di laut, dan aku bertujuan merusakkan bahtera itu, karena di hadapan mereka ada seorang raja yang merampas tiap- tiap bahtera.”

Dalam ayat di atas Nabi Khidir menyampaikan kepada Nabi Musa bahwa dia nmelindungi kapal milik anak yatim dari perilaku seorang raja biadab bernama Hudad yang selalu melakukan perampasan terhadap setiap kapal yang lewat. Nabi Khidir ingin mengembalikan harta anak yatim yang miskin itu35. Kisah di atas menggambarkan orang miskin yang memiliki kekayaan, tetapi tidak dibawah kekuasaannya dan dia hidup dalam kekurangan.

Kelompok miskin merupakan kelompok lemah sehingga syari‟at islam menyuruh umatnya agar membantu mereka untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Kelompok miskin sebagai salah satu dari kelompok yang berhak mendapatkan harta zakat (mustahik zakat), adanya zakat diharapkan dapat memenuhi kebutuhan hidup mereka. Zakat yang diberikan tidak hanya sekedar menutupi rasa lapar, tetapi zakat diharapkan dapat mendorong mereka untuk bangkit dari kemiskinan sehingga mereka menjadi insan mandiri.

Upaya membangkitkan orang-orang miskin sebagai langkah menghilangkan sifat miskin agar mereka memiliki iman yang kuat serta mampu meningkatkan pendidikan bagi anak- anak mereka. Dengan Pendidikan yang tinggi diharapkan mereka menjadi orang-orang yang terampil sehingga

35Abû al-Fidâ Ismâîl bin „Umar Ibn Katsîr, Tafsîr al-Qur‟an al-„Azhîm Juz V ( Ttp: Dâr Thayyibahm 1420H/1999M), hlm 184

Gambar

Gambar RIP dan Peta Jalan

Referensi

Dokumen terkait

Apakah semua program pelaksanaan pembangunan desa telah didasarkan atas prinsip visi strategis, partisipatif, efisien dan efektif, akuntabel, transparan,.. responsif, taat

Jumlah site yang dibutuhkan dalam perencanaan jaringan LTE-Unlicensed di wilayah Jakarta Pusat sebesar 36 site dengan planning by capacity menggunakan metode

Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 1144/MENKES/PER/VIII/2010 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Kesehatan Pasal 619,

Membedaka n fungsi sosial, struktur teks, dan unsur kebahasaan beberapa teks naratif lisan dan tulis dengan memberi dan meminta informasi terkait legenda rakyat,

• Jumlah individu untuk setiap jenis ikan karang yang ditemukan di masing-masing stasiun transek permanen di Natuna dengan menggunakan me- tode UVC menunjukkan bahwa

Dari hasil analisis framing di dalam penelitian ini, dapat disarankan kepada pemerintah untuk menjalin relasi dengan media dan menggunakan media untuk berkomunikasi kepada

Pada trial 1 direncanakan air dari reservoir Ngagel 1 masuk ke ground reservoir kemudian akan dipompakan dengan 4 pompa eksisting menuju tower tank dan selanjutnya

perilaku tugas dan perilaku hubungan. Berdasarkan simpulan penelitian, maka penulis ingin mengemukakan beberapa saran sebagai berikut: 1) Kepala sekolah khususnya di