1
A. Latar Belakang
Dalam rangka pembangunan ekonomi suatu negara dibutuhkan dana yang besar. Kebutuhan dana yang besar itu hanya dapat dipenuhi dengan memberdayakan secara maksimal sumber-sumber dana yang tersedia.
1Dana merupakan salah satu sarana penting dalam rangka pembiayaan. Untuk memenuhi kebutuhan dana tersebut, saat ini semakin banyak pelaku ekonomi yang mendirikan suatu lembaga pembiayaan yang bergerak dibidang penyediaan dana ataupun barang yang dipergunakan oleh pihak lain di dalam mengembangkan usahanya.
Sumber dana yang utama dan terpenting adalah lembaga perbankan dan lembaga keungan lain, seperti lembaga pembiayaan. Lembaga-lembaga keuangan tersebut dalam menyalurkan dana dalam bentuk kredit kepada pihak- pihak yang membutuhkan dana tidaklah mudah karena harus memenuhi persyaratan-persyaratan yang ditetapkan oleh lembaga keuangan yang bersangkutan. Salah satu persyaratan terpenting untuk memperoleh fasilitas kredit adalah adanya jaminan dan agunan. Kendala keterbatasan dana seolah menjadi hilang dengan banyaknya bermunculan lembaga pembiayaan yang berlomba-lomba menawarkan kredit dengan bunga rendah serta syarat yang
1Abdul R. Saliman, Hukum Bisnis untuk Perusahaan, Kencana, Jakarta, 2005, hal. 14.
mudah dan praktis. Lembaga pembiayaan adalah badan usaha yang melakukan kegiatan pembiayaan dalam bentuk penyediaan dana atau barang modal.
Salah satu lembaga pembiayaan yang ada di Indonesia adalah perusahaan pembiayaan. Perusahaan pembiayaan adalah badan usaha yang khusus didirikan untuk melakukan sewa guna usaha, anjak piutang, pembiayaan konsumen dan/atau usaha kartu kredit. Salah satu bidang usaha yang termasuk dalam lingkup perusahaan pembiayaan adalah pembiayaan konsumen (consumer finance). Pembiayaan konsumen menurut Pasal 1 angka 7 Peraturan Presiden
Nomor 9 Tahun 2009 tentang Lembaga Pembiayaan adalah kegiatan pembiayaan dalam bentuk dana untuk pengadaan barang berdasarkan kebutuhan konsumen dengan pembayaran secara angsuran.
Lembaga pembiayaan pada umumnya menggunakan tata cara perjanjian
yang mengikutkan adanya jaminan fidusia bagi objek benda jaminan fidusia
dalam pembiayaan konsumen. Prakteknya lembaga pembiayaan menyediakan
barang bergerak yang diminta konsumen (semisal motor atau mesin industri)
kemudian diatasnamakan konsumen sebagai debitur (penerima
kredit/pinjaman). Konsekuensinya debitur menyerahkan kepada kreditur
(pemberi kredit) secara fidusia. Artinya debitur sebagai pemilik atas nama
barang menjadi pemberi fidusia kepada kreditur yang dalam posisi sebagai
penerima fidusia. Praktek sederhana dalam jaminan fidusia adalah debitur/pihak
yang punya barang mengajukan pembiayaan kepada kreditur, lalu kedua belah
sama-sama sepakat mengunakan jaminan fidusia terhadap benda milik debitur
dan dibuatkan akta notaris lalu didaftarkan ke Kantor Pendaftaran Fidusia.
Kreditur sebagai penerima fidusia akan mendapat sertifkat fidusia, dan salinannya diberikan kepada debitur.
Pembebanan fidusia dilakukan dengan menggunakan instrumen yang disebut dengan akta jaminan fidusia yang harus memenuhi syarat-syarat yaitu berupa Akta Notaris dan didaftarkan pada pejabat yang berwenang. Dengan pendaftaran ini, penerima fidusia memiliki hak preferen yaitu hak untuk mengambil pelunasan piutangnya atas hasil eksekusi benda yang menjadi obyek jaminan fidusia. Hak preferen baru diperoleh pada saat didaftarkannya fidusia di Kantor Pendaftaran Fidusia dan hak dimaksud tidak hapus karena adanya kepailitan dan atau likuidasi pemberi fidusia.
Lembaga pembiayaan dalam melakukan perjanjian pembiayaan mencamtumkan kata-kata dijaminkan secara fidusia. Tetapi ironisnya tidak dibuat dalam akta notaris dan tidak didaftarkan di Kantor Pendaftaran Fidusia untuk mendapat sertifikat, akta semacam itu dapat disebut akta jaminan fidusia di bawah tangan. Pasal 11 ayat (1) Undang-Undang Jaminan Fidusia mewajibkan jaminan fidusia untuk didaftarkan yang berbunyi “Benda yang dibebani dengan Jaminan Fidusia wajib didaftarkan”. Hal ini diperkuat dengan dikeluarkannya Peraturan Menteri Keuangan Nomor 130/PMK.010/2012 tentang Pendaftaran Jaminan Fidusia bagi Perusahaan Pembiayaan Konsumen untuk Kendaraan Bermotor dengan Pembebanan Jaminan Fidusia. Dengan mendaftarkan jaminan fidusia maka penerima fidusia akan memiliki sertifikat jaminan fidusia. Dalam judul sertifikat jaminan fidusia dicantumkan kata-kata
“DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA”
yang menjadikan sertifikat ini mempunyai kekuatan eksekutorial yang sama dengan putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum yang tetap.
Jaminan fidusia yang tidak dibuatkan sertifikat jaminan fidusia menimbulkan banyak risiko. Kreditur bisa melakukan hak eksekusinya karena dianggap sepihak dan dapat menimbulkan kesewenang-wenangan dari kreditur.
Situasi ini dapat terjadi jika kreditur dalam eksekusi melakukan pemaksaan dan mengambil barang secara sepihak, padahal diketahui dalam barang tersebut sebagian adalah milik orang lain. Walaupun juga diketahui bahwa sebagian dari barang tersebut adalah milik kreditur yang mau mengeksekusi tetapi tidak didaftarkan dalam dikantor fidusia.
PT. Nusa Surya Ciptadana Finance Cabang Rimbo Bujang (selanjutnya PT.
NSC Finance) merupakan salah satu perusahaan pembiayaan yang melakukan kegiatan usaha dibidang pembiayaan konsumen yang berfokus pada sepeda motor merk Honda. PT. NSC Finance bertindak sebagai kreditur dan konsumen sebagai debiturnya. Dalam perjanjian tersebut terdapat hubungan hukum antara PT. NSC Finance sebagai kreditur, konsumen dan supplier. Hubungan antara kreditur dengan konsumen yaitu hubungan kontraktual yang dibuat dengan kontrak baku, dilaksanakan dengan itikad baik dan tidak dapat dibatalkan sepihak.
2Hubungan hukum antara konsumen dengan PT. NSC Finance lahir dari perjanjian pembiayaan konsumen. Para pihak dalam hal ini sepakat untuk menjadikan motor yang dibeli konsumen sebagai benda objek jaminan. Motor
2 Wawancara dengan Imam Syafi’i, Manajer Pemasaran PT. NSC Finance, tanggal 12 November 2018.
merupakan benda bergerak sehingga pengikatannya dapat dilakukan dengan fidusia.
Pengikatan jaminan fidusia pada PT. NSC Finance dilakukan dengan surat kuasa pengurusan jaminan fidusia. Surat kuasa pengurusan jaminan fidusia tersebut telah dibuat secara baku oleh PT. NSC Finance dan didalamnya terdapat tanda tangan konsumen sebagai persetujuan pengurusan dan pengikatan jaminan fidusia. Namun, berdasarkan penjelasan Manajer Pemasaran surat kuasa pengurusan jaminan fidusia tersebut tidak diurus dan tidak didaftarkan. Hal ini bertentangan dengan Pasal 1 angka 1 Peraturan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor 130/PMK.010/2012 tentang Pendaftaran Jaminan Fidusia Bagi Perusahaan Pembiayaan Konsumen untuk Kendaraan Bermotor dengan Pembebanan Jaminan Fidusia yang berbunyi
“Perusahaan pembiayaan yang melakukan pembiayaan konsumen untuk kendaraan bermotor dengan pembebanan jaminan fidusia wajib medaftarkan jaminan fidusia dimaksud pada Kantor Pendaftaran Fidusia, sesuai undang- undang yang mengatur mengenai jaminan fidusia”.
Disamping fidusia, PT. NSC Finance juga mengikat jaminan dengan surat kuasa menjual kendaraan apabila debitur wanprestasi. Surat kuasa menjual tersebut dicantumkan dalam dokumen perjanjian pembiayaan konsumen pada PT. NSC Finance dan ditandatangani pada saat awal dilakukannya perjanjian.
Dalam masa waktu perjanjian pembiayaan apabila terjadi kredit macet
selama 3 bulan berturut-turut, maka PT. NSC Finance akan mengirimkan surat
somasi 1 kepada debitur. Selang 10 hari berikutnya, apabila debitur belum juga
membayar angsuran maka diberikan somasi 2 dan 10 hari selanjutnya somasi 3.
Apabila setelah somasi 3 debitur belum juga membayar angsuran, maka PT.
NSC akan melakukan eksekusi penarikan motor. Eksekusi dilakukan dengan membawa surat perintah penarikan dan menunjukkan surat kuasa menjual serta akta pembebanan jaminan fidusia di bawah tangan yang pernah di tandatangani oleh debitur.
3Namun berdasarkan Pasal 3 Peraturan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor 130/PMK.010/2012 tentang Pendaftaran Jaminan Fidusia Bagi Perusahaan Pembiayaan Konsumen untuk Kendaraan Bermotor dengan Pembebanan Jaminan Fidusia menyebutkan “Perusahaan pembiayaan dilarang melakukan penarikan benda jaminan fidusia berupa kendaraan bermotor apabila kantor pendaftaran fidusia belum menerbitkan sertifikat jaminan fidusia dan menyerahkannya pada perusahaan pembiayaan”.
Lembaga Pembiayaan dalam keberlangsungannya tidak terlepas dari risiko yang ada, seperti wanprestasi atau cidera janji banyak terjadi. Wanprestasi adalah tidak memenuhi atau lalai melaksanakan kewajiban sebagaimana ditentukan dalam perjanjian yang dibuat antara kreditur dengan debitur.
Eksekusi jaminan fidusia diatur dalam pasal 29 sampai dengan Pasal 34 Undang-Undang Nomor 42 Tahun 1999 tentang Jaminan Fidusia. Secara umum yang dimaksud eksekusi jaminan fidusia adalah penyitaan dan penjualan benda yang menjadi objek jaminan fidusia.
4Apabila pemberi fidusia cidera janji maka
3 Wawancara dengan Imam Syafi’i, Manajer Pemasaran PT. NSC Finance, tanggal 12 November 2018.
4 Salim HS, Perkembangan Hukum Jaminan Di Indonesia, PT. Raja Grafindo, Jakarta, 2004, hal.90
penerima fidusia dapat melakukan eksekusi jaminan fidusia. Ada 3 cara eksekusi jaminan fidusia yaitu:
1. Pelaksanaan titel eksekutorial oleh penerima fidusia
2. Penjualan benda yang menjadi objek jaminan fidusia atas kekuasaan penerima fidusia sendiri melalui pelelangan umum serta mengambil pelunasan piutangnya dari hasil penjualan
3. Penjualan dibawah tangan yang dilakukan berdasarkan kesepakatan pemberi dan penerima fidusia jika dengan demikian dapat diperoleh harga yang tertinggi yang menguntungkan para pihak.
Debitur atau pemberi fidusia apabila cidera janji, eksekusi terhadap benda yang menjadi obyek jaminan fidusia sesuai aturannya dengan pelaksanaan penjualan objek jaminan fidusia tersebut dilakukan setelah lewat waktu 1 (satu) bulan sejak diberitahukan secara tertulis oleh pemberi dan penerima fidusia kepada pihak-pihak yang berkepentingan dan diumumkan sedikitnya dalam 2 (dua) surat kabar yang beredar di daerah yang bersangkutan. Pemberi fidusia wajib menyerahkan benda yang menjadi obyek jaminan fidusia dalam rangka pelaksanaan eksekusi jaminan fidusia.
Pada prakteknya, PT. NSC Finance Cabang Rimbo Bujang melakukan
eksekusi pada objek barang yang dibebani jaminan fidusia yang tidak
didaftarkan. Mengingat jaminan fidusia harus didaftarkan, seharusnya
pelaksanaan eksekusi tersebut tidak dapat dilakukan karena tidak memiliki akta
jaminan fidusia. Dalam hal ini penulis mengambil 1 (satu) contoh kasus di
perusahaan pembiayaan konsumen PT.NSC Finance cabang Rimbo Bujang yang mana objek jaminan fidusia telah dilakukan Eksekusi.
Berdasarkan uraian permasalahan pada latar belakang diatas, maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian yang dituangkan dalam bentuk karya ilmiah skripsi dengan judul “PERLINDUNGAN HUKUM BAGI PARA PIHAK ATAS OBJEK JAMINAN FIDUSIA”
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang masalah diatas, maka yang menjadi rumusan masalah adalah:
1. Bagaimana kepastian hukum bagi para pihak atas objek jaminan fidusia?
2. Bagaimana perlindungan hukum bagi para pihak atas objek jaminan fidusia?
C. Tujuan dan Manfaat Penelitian
1. Tujuan Penelitian
Adapun tujuan yang ingin dicapai dari penelitian ini adalah:
a. Untuk mengetahui kepastian hukum terhadap para pihak atas objek jaminan fidusia
b. Untuk mengetahui perlindungan hukum terhadap para pihak atas objek jaminan fidusia
2. Manfaat Penelitian
Adapun manfaat dari penelitian yang dilakukan dalam rangka penulisan skripsi ini adalah:
a. Secara Teoritis, menjadi bahan acuan dan referensi dalam rangka
pengembangan ilmu pengetahuan, terutama ilmu pengetahuan hukum
yang berkaitan dengan kepastian hukum terhadap pihak dan bentuk perlindungan hukum terhadap para pihak atas objek jaminan fidusia.
b. Secara Praktis, memberi informasi kepada pelaku usaha lembaga pembiayaan dan masyarakat.
D. Kerangka Konseptual
Untuk dapat memahami maksud yang terkandung didalam penulisan skripsi ini, terlebih dahulu penulis akan mengartikan beberapa istilah yang berkaitan dengan judul skripsi ini:
1. Perlindungan Hukum
Perlindungan hukum adalah perlindungan akan harkat dan martabat, serta pengakuan terhadap hak-hak asasi manusia yang dimiliki oleh subyek hukum berdasarkan ketentuan hukum dari kesewenangan atau sebagai kumpulan peraturan atau kaidah yang akan dapat melindungi suatu hal dari hal lainnya.
5Prinsip-prinsip perlindungan hukum di Indonesia landasannya adalah Pancasila sebagai ideology dan falsafah negara yang didasarkan pada konsep Rechstaat dan Rule Of Law. Dimana prinsip perlindungan hukum Indonesia menitik beratkan pada prinsip perlindungan hukum pada harkat dan martabat manusia yang bersumber pada Pancasila. Sedangkan prinsip perlindungan hukum terhadap tindak pemerintah bertumpu dan bersumber dari konsep tentang pengakuan dan perlindungan terhadap hak-hak asasi
5 Philipus M. Hadjon, Perlindungan Hukum Bagi Rakyat Indonesia, Bina Ilmu, Surabaya, 1987, hal. 25
manusia tersebut merupakan konsep yang lahir dari sejarah barat, yang diarahkan kepada pembatasan- pembatasan dan peletakan kewajiban oleh masyarakat dan pemerintah
.62. Para Pihak
Yang dimaksud para pihak didalam skripsi ini adalah:
a. Kreditur, adalah pihak yang mempunyai piutang karena perjanjian atau undang-undang. Dalam hal ini kreditur adalah PT. NSC Finance b. Debitur, adalah pihak yang mempunyai utang karena perjanjian atau
undang-undang. Dalam hal ini debitur adalah masyarakat yang akan melakukan pengajuan kredit sepeda motor ke PT. NSC Finance
3. Objek Jaminan Fidusia
Berdasarkan Pasal 1 ayat (4) UU Fidusia, objek jaminan fidusia adalah benda. Benda adalah segala sesuatu yang dapat dimiliki dan dialihkan, baik yang berwujud maupun yang tidak berwujud, yang terdaftar maupun yang tidak terdaftar, yang bergerak maupun tak bergerak, yang tidak dapat dibebani hak tanggungan atau hipotek.
Benda bergerak berwujud contohnya: Kendaraan bermotor seperti mobil, bus, truck, sepeda motor, mesin-mesin pabrik yang tidak melekat pada tanah/bangunan pabrik, alat-alat inventaris kantor, perhiasan, persediaan barang atau inventory, stock barang, stock barang dagangan dengan daftar mutasi barang.
6 Ibid, hal 38
Sedangkan barang bergerak tidak berwujud, contohnya: wesel, sertifikat deposito, saham, obligasi, konosemen, piutang yang diperoleh pada saat jaminan diberikan atau yang diperoleh kemudian, deposito berjangka, benda yang menjadi objek jaminan baik benda bergerak berwujud atau benda bergerak tidak berwujud atau hasil dari benda tidak bergerak yang tidak dapat dibebani hak tanggungan, klaim asuransi dalam hal benda yang menjadi objek jaminan fidusia diasuransikan, benda tidak bergerak khususnya bangunan yang tidak dapat dibebani hak tanggungan yaitu hak milik satuan rumah susun di atas tanah hak pakai atas tanah negara dan bangunan rumah yang dibangun diatas tanah orang lain, benda-benda termasuk piutang yang telah ada pada saat jaminan diberikan maupun piutang yang diperoleh kemudian hari.
74. Fidusia
Fidusia adalah pengalihan hak kepemilikan suatu benda atas dasar kepercayaan dengan ketentuan bahwa benda yang hak kepemilikannya dialihkan tersebut tetap dalam penguasaan pemilik benda
E. Landasan Teoritis
1. Teori Perjanjian
Pasal 1313 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (selanjutnya KUHperdata) menyatakan “Perjanjian adalah suatu perbuatan dengan mana satu orang atau lebih sebaliknya”
7 Sutarno, Aspek-Aspek Hukum Perkreditan Pada Bank, CV. Alfabeta, Bandung, 2005, hal 212
Selanjutnya menurut Abdulkadir Muhammad sebagaimana dikutip oleh P.N.H Simanjuntak bahwa perjanjian adalah suatu persetujuan dengan mana dua orang atau lebih saling mengikatkan diri untuk melaksanakan suatu hal mengenai harta kekayaan”.
8Salah satu teori yang berkaitan dengan penelitian ini adalah teori perjanjian.
Hal ini dikarenakan debitur yang bersangkutan dalam mendapatkan bantuan pembiayaan melakukan perjanjian kredit dengan pihak yang memberikan dana yaitu perusahaan pembiayaan. Perjanjian adalah suatu peristiwa dimana seorang berjanji kepada seorang lain atau dimana dua orang itu saling berjanji melaksanakan suatu hal.
9Dalam perjanjian ada 3 teori yang telah dirumuskan oleh para ahli, yaitu sebagai berikut:
a. Teori Kehendak (Wilstheorie)
Menurut teori kehendak, faktor yang menentukan adanya perjanjian adalah kehendak. Meskipun demikian terdapat hubungan yang tidak terpisahkan antara kehendak dan pernyataan. Oleh karena itu suatu kehendak harus dinyatakan. Namun apabila terjadi ketidaksesuaian antara kehendak dan pernyataan, maka tidak membentuk suatu perjanjian.
Kelemahan dari teori ini adalah akan sulit apabila terdapat ketidaksesuaian antara kehendak dan pernyataan.
8 P.N.H Simanjuntak, Pokok-pokok Hukum Perdata, Djambatan, Jakarta, 2005, hal. 332.
9 Subekti, Hukum Perjanjian, Intermasa, Jakarta, 2005, hal. 1.
b. Teori Pernyataan (Ferklaringstheorie)
Menurut teori pernyataan, pembentukan kehendak terjadi dalam ranah kejiwaan seseorang. Sehingga pihak lawan tidak mungkin mengetahui apa yang sebenarnya terdapat dibenak seseorang. Dengan demikian suatu kehendak yang tidak dapat dikenali oleh pihak lain tidak mungkin menjadi dasar terbentuknya suatu perjanjian. Agar suatu kehendak menjadi perjanjian, maka kehendak tersebut haru dinyatakan. Sehingga yang menjadi dasar terikatnya seseorang terhadap suatu perjanjian adalah apa yang dinyatakan oleh orang tersebut. Lebih lanjut dalam hal ini, jika terdapat ketidaksesuaian antara kehendak dan pernyataan, maka hal ini tidak akan menghalangi terbentuknya perjanjian. Teori pernyataan lahir sebagai jawaban terhadap kelemahan teori kehendak. Namun teori ini juga memiliki kelemahan, karena teori pernyataan tidak memperhatikan kehendak seseorang.
c. Teori Kepercayaan (Ventrouwenstheorie)
Teori kepercayaan berusaha untuk mengatasi kelemahan dari teori
pernyataan. Oleh karena itu teori ini juga dapat dikatakan sebagai teori
pernyataan yang diperlunak. Menurut teori ini, tidak semua pernyataan
melahirkan perjanjian, suatu pernyataan akan melahirkan perjanjian apabila
pernyataan tersebut menurut kebiasaan yang berlaku didalam masyarakat
menimbulkan kepercayaan bahwa yang dinyatakan memang benar
dikehendaki atau dengan kata lain hanya pernyataan yang disampaikan
sesuai dengan keadaan tertentu (normal) yang menimbulkan perjanjian,
lebih lanjut menurut teori ini terbentuknya perjanjian tergantung pada kepercayaan atau pengharapan yang muncul dari pihak lawan sebagai akibat dari pernyataan yang diungkapkan.
2. Teori Perlindungan Hukum
Teori perlindungan hukum merupakan perkembangan dari konsep pengakuan dan perlindungan terhadap hak-hak asasi manusia (HAM) yang berkembang pada abad ke 19. Adapun arah dari konsep tentang pengakuan dan perlindungan terhadap HAM adalah adanya pembatasan dan peletakan kewajiban kepada masyarakat dan pemerintah.
Menurut Satjipto Raharjo, perlindungan hukum adalah upaya untuk mengorganisasikan berbagai kepentingan dalam masyarakat supaya tidak terjadi tubrukan antar-kepentingan dan dapat menikmati semua hak-hak yang diberikan oleh hukum
.10Teori perlindungan hukum dari Satjipto Raharjo ini terinspirasi oleh pendapat Fitzgerald tentang tujuan hukum, yaitu untuk mengintegrasikan dan mengkoordinasikan berbagai kepentingan dalam masyarakat dengan cara mengatur perlindungan dan pembatasan terhadap berbagai kepentingan tersebut.
Perlindungan hukum terbagi dua, yaitu perlindungan hukum preventif dan represif. Perlindungan hukum preventif yaitu perlindungan hukum yang bertujuan untuk mencegah terjadinya sengketa, yang mengarahkan tindakan pemerintah bersikap hati-hati dalam pengambilan keputusan berdasarkan diskresi, sedangkan
10 Satjipto Raharjo, Ilmu Hukum, Bandung: PT. Citra Aditya Bakti, 2000, hal. 53
pelindungan hukum represif yaitu perlindungan hukum yang bertujuan bertujuan untuk menyelesaikan sengketa.
3. Teori Penyelesaian Sengketa
Sengketa adalah suatu situasi dimana ada pihak yang merasa dirugikan oleh pihak lain, yang kemudian pihak tersebut menyampaikan ketidakpuasan ini kepada pihak kedua. Jika situasi menunjukkan perbedaan pendapat, maka terjadi lah apa yang dinamakan dengan sengketa. Dalam konteks hukum khususnya hukum kontrak, yang dimaksud dengan sengketa adalah perselisihan yang terjadi antara para pihak karena adanya pelanggaran terhadap kesepakatan yang telah dituangkan dalam suatu kontrak, baik sebagian maupun keseluruhan.
Sengketa dapat terjadi pada siapa saja dan dimana saja. Sengketa dapat terjadi antara individu dengan individu, antara individu dengan kelompok, antara kelompok dengan kelompok, antara perusahaan dengan perusahaan, antara perusahaan dengan negara, antara negara satu dengan yang lainnya, dan sebagainya. Dengan kata lain, sengketa dapat bersifat publik maupun bersifat keperdataan dan dapat terjadi baik dalam lingkup lokal, nasional maupun internasional.
11Salah satu untuk menyelesaikan sengketa adalah melalui Litigasi yakni proses penyelesaian sengketa yang dilaksanakan melalui pengadilan atau yang sering disebut dengan istilah “litigasi”, yaitu suatu penyelesaian
11 Irma Devita Purnamasari, Hukum Jaminan Perbankan, Kaifa, Bandung, 2014, hal 233
sengketa yang dilaksanakan dengan proses beracara di pengadilan di mana kewenangan untuk mengatur dan memutuskannya dilaksanakan oleh hakim.
Litigasi merupakan proses penyelesaian sengketa di pengadilan, di mana semua pihak yang bersengketa saling berhadapan satu sama lain untuk mempertahankan hak-haknya di muka pengadilan. Hasil akhir dari suatu penyelesaian sengketa melalui litigasi adalah putusan yang menyatakan win-lose solution.
Prosedur dalam jalur litigasi ini sifatnya lebih formal dan teknis, menghasilkan kesepakatan yang bersifat menang kalah, cenderung menimbulkan masalah baru, lambat dalam penyelesaiannya, membutuhkan biaya yang mahal, tidak responsif dan menimbulkan permusuhan diantara para pihak yang bersengketa.
F. Metode Penelitian
1. Lokasi Penelitian
Penelitian dilakukan di Kecamatan Rimbo Bujang Kabupaten Tebo 2. Spesifikasi Penelitian
Penelitian ini dilakukan dalam bentuk deskriptif analitis, yaitu prosedur atau pemecahan masalah penelitian ini dengan memaparkan keadaan obyek yang diteliti sebagaimana dengan adanya fakta yang aktual.
3. Tipe Penelitian
Dalam melakukan penelitian ini penulis menggunakan tipe penelitian secara
yuridis empiris. Menurut Bahder Johan Nasution yuridis empiris adalah:
Penelitian ilmu hukum yang berupaya mengamati fakta-fakta hukum yang berlaku ditengah-tengah masyarakat, dimana hal ini mengharuskan pengetahuan untuk dapat diamati dan dibuktikan secara terbuka. Titik tolak pengamatan ini terletak pada kenyataan atau fakta-fakta sosial yang ada dan hidup di tengah-tengah masyarakat sebagai budaya hidup masyarakat.
124. Populasi dan Sampel a. Populasi
Populasi adalah seluruh obyek, seluruh individu, seluruh gejala atau seluruh kejadian termasuk waktu, tempat, gejala-gejala, pola sikap, tingkah laku dan sebagainya yang mempunyai ciri atau karakter yang sama dan merupakan unit satuan yang diteliti.
Adapun populasi dalam penelitian ini adalah konsumen/debitur PT NSC Finance Tahun 2020 berjumlah 57 orang
b. Sampel
Teknik penarikan sampel menggunakan purposive sampling, dengan pertimbangan bahwa hanya yang memenuhi kriteria tertentu sesuai tujuan penelitian yang dijadikan sebagai sampel penelitian. Berdasarkan teknik penarikan sampel tersebut, maka penulis memilih yang dijadikan sebagai sampel penelitian adalah 1 contoh kasus konsumen/debitur yang telah dilakukan Eksekusi objek jaminan fidusia.
5. Sumber Data
a. Data Primer, diperoleh dengan melakukan penelitian lapangan (field research) melalui wawancara dengan responden yang telah ditentukan.
12 Bahder Johan Nasution, Metode Penelitian Ilmu Hukum, Cet. Kesatu, CV. Mandar Maju, Bandung, 2008, hal. 123.