• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB VI PENILAIAN IMPLEMENTASI PROGRAM CSR

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB VI PENILAIAN IMPLEMENTASI PROGRAM CSR"

Copied!
14
0
0

Teks penuh

(1)

BAB VI

PENILAIAN IMPLEMENTASI PROGRAM CSR

6.1 Karakteristik Responden

Penelitian ini memiliki responden sebanyak 30 orang, jumlah ini didapatkan dari banyaknya aparatur Desa Bantarjati, dari mulai anggota BPD, anggota LPM, Kepala Dusun, Ketua Rukun Warga, hingga Ketua Rukun Tetangga. Mayoritas responden adalah laki-laki yaitu sebanyak 29 orang dan hanya 1 orang perempuan. Mayoritas aparatur desa berjenis kelamin laki-laki, karena Desa Bantarjati masih menganggap sebaiknya yang menjadi pemimpin atau perwakilan warga adalah laki-laki.

Penelitian ini membagi usia responden ke dalam tiga kategori yaitu dewasa awal, dewasa madya, dan usia lanjut. Kategori umur yang telah ditentukan merupakan tahapan perkembangan manusia berdasarkan teori perkembangan Hurlock (1980). Dari hasil pengambilan data di lapang, responden penelitian pada kategori usia dewasa madya yaitu antara 41 sampai 60 tahun yaitu sebanyak 17 orang dari 30 responden. Menyusul kemudiaan responden pada kategori umur dewasa awal yaitu antara 18 sampai 40 tahun sebanyak 33,33 persen dan 10 persen responden berusia lanjut. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Tabel 6.

Tabel 6. Jumlah dan Presentase Responden Berdasarkan Usia, di Desa Bantarjati Tahun 2011

No Usia (tahun) Jumlah

N %

1. Usia Lanjut (>60) 3 10

2. Dewasa Madya (41-60) 17 56,67

3. Dewasa Awal (18-40) 10 33,33

Jumlah 30 30

Tingkat pendidikan reponden penelitian mayoritas tamatan SD, yaitu

sebanyak 36,66 persen dari 30 responden. Menyusul kemudian responden yang

menamatkan pendidikannya hingga SMP sebanyak 33,33 persen. Dari tingkat

(2)

pendidikan tersebut dapat dikatakan bahwa tingkat pendidikan responden tergolong sedang. Hal ini diperkuat dengan data responden yang menamatkan pendidikannya hingga perguruan tinggi hanya 1 orang atau hanya 3,33 persen dari 30 respoden. Jumlah dan persentase tingkat pendidikan responden dapat dilihat pada Tabel 7.

Tabel 7. Jumlah dan Persentase Responden Menurut Tingkat Pendidikan yang Ditamatkan, di Desa Bantarjati Tahun 2011

Jenis pekerjaan masyarakat Desa Bantarjati sangat beragam, akan tetapi pada penelitian ini jenis pekerjaan responden terbagi menjadi 3 yaitu pegawai swasta, buruh, dan pedagang. Responden penelitian tidak ada yang bekerja sebagai pegawai negeri, hal ini di karenakan jumlah pegawai negeri di Desa Bantarjati hingga tahun 2011 hanya 17 orang, dan tidak ada satupun yang menjadi tokoh masyarakat. Data persentase jenis pekerjaan responden dapat dilihat pada Gambar 10.

Gambar 9. Presentase Responden Menurut Jenis Pekerjaan, di Desa Bantarjati Tahun 2011

40%

40%

13%

7%

pegawai swasta buruh 

pedagang

tidak bekerja/pensiunan

No. Tingkat Pendidikan Jumlah

N %

1. Tidak Sekolah 4 13,33

2. Tamat SD 11 36.66

3. Tamat SMP 10 33,33

4. Tamat SMA 4 13,33

5. Tamat Sarjana 1 3,33

Jumlah 30 100

(3)

Berdasarkan Gambar 10, pekerjaan responden penelitian mayoritas pegawai swasta dan buruh, baik sebagai buruh tani, pabrik, ataupun bangunan.

Responden yang bekerja sebagai pegawai swasta sebanyak 12 responden dari 30 responden, begitu pula dengan responden yang bekerja sebagai buruh sebanyak 40 persen. Selanjutnya persentase jenis pekerjaan responden terbesar ketiga adalah responden yang berkerja sebagai pedagang sebanyak 13 persen dari 30 responden.

Sedangkan responden yang tidak bekerja/ pensiunan sebayak 2 orang (7%) dari total responden.

6.2 Penilaian Implementasi PRogram CSR di Desa Bantarjati

Program CSR merupakan salah satu bentuk komunikasi perusahaan kepada masyarakat untuk menjalin hubungan baik antar keduanya. Penelitian ini akan mengukur beberapa indikator yang mendukung pelaksanaan program CSR, yang dinilai oleh sasaran program. Indikator implementasi yang akan dilihat penilaiannya oleh responden adalah jenis kegiatan, frekuensi kegiatan, kemampuan fasilitator, dan manfaat program CSR PT. Indocement Tunggal Prakasa di Desa Bantarjati.

6.2.1 Penilaian Responden terhadap Jenis Kegiatan CSR PT Indocement

Data mengenai penilaian responden terhadap jenis kegiatan CSR yang

dilaksanakan PT Indocement didapatkan dari data kuantitatif dengan

menggunakan kuesioner. Penilaian jenis kegiatan yang dimaksud dalam penelitian

ini adalah pengetahuan responden terhadap ragam dari rangkaian keseluruhan

kegiatan CSR berdasarkan lima pilar pembangunan yang dilaksanakan di Desa

Bantarjati. Pengolahan data kuesioner menggunakan teknik scoring yang dibagi

kedalam tiga kategori, yaitu beragam, kurang beragam, dan tidak beragam. Data

mengenai jumlah dan persentase responden menurut penilaian responden tentang

jenis kegiatan dapat dilihat pada Tabel 8.

(4)

Tabel 8. Jumlah dan Persentase Responden Menurut Penilaian Responden Tentang Jenis Kegiatan Program CSR PT Indocement

No. Jenis Kegiatan (skor) Jumlah

N %

1. Beragam (24-17) 8 26,67

2. Kurang Beragam (16-9) 6 20

3. Tidak Beragam (≤ 8) 16 53,33

Jumlah 30 100

Berdasarkan Tabel 8 diatas, mayoritas responden memiliki penilaian tentang jenis kegiatan yang dilaksanakan oleh PT Indocement di Desa Bantarjati kurang dari 8 kegiatan sebanyak 16 orang responden. Selanjutnya disusul dengan respoden yang menilai jenis kegiatan CSR PT Indocement 17 hingga 24 kegiatan, sebanyak 20 persen responden dan terakhir jumlah terkecil responden dalam menilai jenis kegitan pada 9 hingga 16 kegiatan yaitu sebanyak 20% persen responden. Maka dari itu, dapat disimpulkan bahwa berdasarkan kuesioner, responden penelitian mayoritas menilai tidak banyak jenis kegiatan CSR PT Indocement yang dilaksanakan di Desa Bantarjati. Menurut penuturan beberapa responden, kegiatan yang diadakan Bilik selalu sama setiap tahunnya, dan tidak memiliki tingkat keberagaman kegiatan yang signifikan. Akan tetapi alasan rendahnya pengetahuan ini sebenarnya dikarenakan minimnya pengetahuan responden terhadap pelaksanaan program berdasarkan lima pilar pembangunan, sehingga program terbagi menjadi beberapa jenis kegiatan berdasarkan pilar pembangunan tersebut.

Lima pilar pembangunan yang dijadikan landasan pelaksanaan program

CSR Indocement untuk memberdayakan masyarakat ternyata tidak secara utuh

dikenal masyarakat. Pernyataan tersebut diperkuat dari hasil wawancara

menggunakan kuesioner, responden mayoritas mengenal hanya satu program

yaitu pada pilar Sosial Budaya Agama dan olahraga. Responden yang mampu

menjawab hingga tiga program berdasarkan lima pilar hanya satu orang, dari tiga

puluh oraang yang menjadi responden. Tiga pilar yang diketahui responden

tersebut adalah pilar pendidikan, kesehatan, dan sosial.

(5)

6.2.2 Penilaian Responden terhadap Frekuensi Kegiatan CSR PT Indocement

Penilaian mengenai frekuensi kegiatan dapat dilihat dari total rangkaian corporate social responsibility yang dilaksanakan oleh PT Indocement di Desa Bantarjati selama satu tahun. Pengolahan data menggunakan teknik skoring, yang dibagi menjadi tinggi, sedang, dan rendah. Kategori tinggi, jika responden dapat menyebutkan jumlah pelaksanaaan kegiatan lebih dari 8 kali dalam satu tahun, sedangkan kategori sedang jika responden hanya mengetahui kegiatan CSR selama satu tahun 3 hingga 7 kali. Terakhir dikategorikan rendah jika, responden hanya menyebutkan kurang dari 2 kali dalam satu tahun. Data mengenai penilaian respoden pada frekuensi kegiatan dapat dilihat pada Tabel 9.

Tabel 9. Jumlah dan Persentase Responden Menurut Frekuensi Pelaksanaan Program CSR PT Indocement

No. Frekuensi (skor) Jumlah

N %

1. Tinggi (8-12) 15 50

2. Sedang (3-7) 12 40

3. Rendah (≤2) 3 10

Jumlah 30 100

Berdasarkan Tabel 9, dapat dilihat bahwa responden yang memiliki penilaian terhadap frekuensi program CSR tinggi sebanyak 50 persen responden.

Kemudian, responden yang memiliki penilaian terhadap frekuensi sedang

sebanyak 12 orang responden, sedangkan sisanya menilai rendah. Data Tabel 11

menunjukkan bahwa mayoritas responden menialai frekuensi pelaksanaan

program CSR PT Indocement sering dilaksanakan di wilayah desa binaan,

sehingga masyarakat desa binaan khususnya Desa Bantarjati memiliki

pengetahuan tinggi terhadap frekuensi program CSR. Selain itu, responden yang

hanya mengetahui frekuensi program rendah, dikarenakan mereka jarang

berpartisipasi dalam kegiatan CSR PT Indocement, misal seperti pada pertemuan

Bilikom yang diadakan setiap tiga bulan.

(6)

6.2.3 Penilaian Responden terhadap Kemampuan Fasilitator

Kemampuan Fasilitator adalah penilaian responden bagi koordinator desa PT Indocement dalam setiap pelaksanaan kegiatan corporate social responsibility.

Data mengenai penilaian responden mengenai kemampuan fasilitator didapatkan dengan menggunakan kuesioner dan diolah menggunakan teknik skoring. Data yang telah diolah akan dikategorikan menjadi tiga, yaitu tinggi, sedang, dan rendah.

Tabel 10. Jumlah dan Persentase Responden Menurut Kemampuan Fasilitator Program CSR PT Indocement

No. Kemampuan Fasilitator (skor) Jumlah

N %

1. Tinggi (8-9) 18 60

2. Sedang (6-7) 11 36,67

3. Rendah (4-5) 1 3,33

Jumlah 30 100

Berdasarkan Tabel 10, dapat dilihat bahwa responden yang termasuk pada rentang nilai 8 hingga 9 sebanyak 18 orang responden. Selanjutnya, responden yang memiliki rentang nilai 6 hingga 7 sebanyak 11 orang, sedangkan responden yang memiliki total skor di bawah 5 sebanyak 3 orang atau hanya 3, 33 persen.

Pengkategorian rentang nilai tersebut mengartikan bahwa responden yang menilai kemampuan fasilitator pada nilai 8 hingga 9, memiliki pandangan bahwa kemampuan fasilitator program CSR PT Indocement Tinggi, sedangkan kategori selanjutnya sedang, dan terakhir kategori rendah. Sehingga disimpulkan, mayoritas responden penelitian menilai fasilitator program CSR PT Indocement memiliki kemampuan yang tinggi. Hal ini dikarenakan fasilitator PT Indocement dekat dengan masyarakat, mampu mengenali permasalahan yang ada di desa, dan mampu berkomunikasi dengan baik dalam rapat penyusunan program atau saat pengawasan.

Fasilitator yang menjadi penghubung antara CSR PT Indocement dengan

warga desa binaan disebut Kordes (Kordinator Desa), yang bertugas di wilayah

(7)

desa binaan. Menurut penuturan beberapa responden, Kordes program CSR Indocement, telah melaksanakan tugasnya dengan baik. Hal ini ditunjukkan dengan hadirnya Kordes di desa setiap hari, sebagai upaya untuk mendekatkan diri dengan masyarakat dan mencari potensi desa yang dapat dikembangkan.

Kordes juga dinilai mampu menanggapi keluhan warga mengenai kegiatan perusahaan yang dirasa merugikan. Selain itu, menurut beberapa responden juga menyatakan bahwa kinerja Kordes selama 3 tahun ini sudah membantu menjembatani masyarakat dengan petinggi perusahaan, sehingga pelaksanaan program dapat berjalan sesuai dengan keinginan masyarakat, walaupun tidak terlaksana dengan cepat.

6.2.3 Penilaian Responden terhadap Manfaat Program CSR PT Indocement

Manfaat program yang dimaksud pada penelitian ini adalah sejauhmana responden menganggap bahwa program CSR PT Indocement berguna bagi masyarakat Desa Bantarjati. Penilaian manfaat program akan dikategorikan menjadi tiga, yaitu bermanfaat, kurang bermanfaat, dan tidak bermanfaat.

Pembagian responden dalam tiga kategori diperoleh dari pengolahan data meggunakan teknik skoring, sehingga menghasilkan total skor yang dapat di ketegorikan.

Tabel 11. Jumlah dan Persentase Responden Menurut Manfaat Program CSR PT Indocement

No. Manfaat Program (skor)

Jumlah

N %

1. Bermanfaat (9-8) 14 46,67

2. Kurang Bermanfaat (7-6) 12 40

3. Tidak Bermanfaat (≤ 5) 4 13,33

Jumlah 30 100

Berdasarakan Tabel 11, didapat hasil sebagai berikut: responden yang

menganggap program CSR PT Indocement bermanfaat sebanyak 14 orang,

(8)

sedangkan responden yang mengaggap program CSR kurang bermanfaat sebanyak 12 orang, dan respoden yang menganggap program CSR yang dijalankan Indocement tidak bermanfaat sebanyak 4 orang dari 30 orang responden.

Mayoritas responden menilai program CSR yang dilaksanankan oleh PT Indocement bermanfaat, karena telah dilaksanakan dari awal pendirian perusahaan. Pelaksanaan program CSR Indocement atau Bilik Indocement selalu meningkat dari tahun ke tahun dari sisi kemanfaatanya. Menurut beberapa responden, perusahaan lebih banyak memberikan program bilik dalam bentuk hibah sehingga masyarakat mampu merasakan manfaat nyata dari program bilik.

program yang dimaksud seperti pemberian bantuan dana pembangunan jalan aspal bagi desa, pembangunan mesjid, dan program yang diberikan dalam bentuk tunai.

Pernyataan tersebut diperkuat dari hasil wawancara dengan salah satu tokoh masyarakat:

“...banyak banget neng bantuannya kalo diliat dari awal bantuan perusahaan, saya aja neng sampe kaya mimpi bisa ngerasain jalanan desa yang sekarang udah diaspal. Sebagian besar itu bantuan dari Indocement neng...” (MHP, 45 tahun)

Selaras dengan hal tersebut, hasil wawancara dengan salah satu responden memperkuat pernyataan sebelumnya:

“....neng kalo mau ngitungin bantuan yang dikasih Indocement lewat bilik mah banyak, tapi menurut saya sendiri yang udah dirasain sama masyarakat bantarjati itu ya bantuan pembangunan jalan, mesjid, majelis, terus sama ada perekrutan karyawan. Itu anak saya jadi karyawan indocement sekarang...”(MHS, 72 tahun)

Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa program bilik yang dilaksanakan PT Indocement, telah memberikan manfaat bagi Desa Bantarjati.

Akan tetapi, jika ditinjau dari konsep pelaksanaan CSR program lima pilar yang digunakan oleh Indocement, masyarakat belum merasakan manfaat secara penuh.

program CSR dapat dikatakan belum memberikan manfaat untuk meningkatkan

pembangunan desa dari segi peningkatan kapasitas sumberdaya manusia. Menurut

(9)

beberapa responden, kegiatan lima pilar belum banyak menyentuh warga, karena peserta kegiatan belum merata bagi seluruh masyarakat desa.

Indikator penilaian terhadap implementasi program CSR yaitu jenis kegiatan, frekuensi kegiatan, kemampuan fasilitator, dan manfaat program dapat menunjukkan ketertarikan warga masyarakat terhadap program. Dari keempat indikator mayoritas responden cenderung menilai jenis kegiatan tidak beragam, artinya responden tidak memperhatikan secara utuh kegiatan apa yang akan dan sedang dilaksanakan secara rinci, walaupun telah diinformasikan melalui kegiatan Bilikom. Selanjutnya, dalam menilai ketiga indikator lainnya responden mayoritas cenderung menilai lebih tinggi, artinya ketertarikan responden terhadap program terlihat dari hal yang mudah diingat dan dirasakan langsung oleh diri individu responden.

6.3 Hubungan Penilaian Implementasi Program CSR dengan PRoses Pencitraan

6.3.1 Hubungan Antara Jenis Kegiatan dengan Proses Pencitraan

Program CSR PT Indocement terlaksana dalam beberapa kegiatan yang terbagi menjadi ke dalam program lima pilar yaitu pilar pendidikan, pilar ekonomi, pilar kesehatan, pilar sosial, budaya, dan olahraga, serta pilar keamanan.

Pada setiap pilar memiliki kegiatan yan dilaksanakan secara merata di 12 desa binaan. Maka dari itu, jenis kegiatan yang dimaksud dalam penelitian ini adalah pengetahuan responden terhadap ragam dari rangkaian keseluruhan kegiatan berdasarkan lima pilar pembangunan yang dilaksanakan di Desa Bantarjati.

Secara umum responden yang memiliki pengetahuan akan jenis kegiatan beragam

hanya 8 orang, selanjutnya yang berpendapat bahwa jenis kegiatan kurang

beragam sebanyak 6 orang, dan 16 orang lainnya berpendapat bahwa progam CSR

tidak beragam. Persentase responden berdasarkan pengetahuan mengenai jenis

kegiatan CSR PT Indocement dapat dilihat pada Tabel 8. Pengujian statistik

dilakukan untuk membuktikan hipotesis penelitian sebagai berikut:

(10)

H

0

: Semakin beragam jenis kegiatan, maka tidak akan meningkatkan PRoses pencitraan responden pada PRogram CSR PT Indocement

H

1

: Semakin beragam jenis kegiatan, maka akan meningkatkan PRoses pencitraan responden pada PRogram CSR PT Indocement

Analisis Uji Korelasi Rank Spearman digunakan untuk melihat hubungan apakah semakin beragam jenis kegiatan maka akan meningkatkan proses pencitraan responden pada program CSR PT Indocement. Hasil Uji Korelasi Rank Spearman diperoleh nilai Asymp. Sig. (2-tailed) hitung sebesar 0,115 > α (0,10) sehingga H

0

diterima dan H

1

ditolak. Sehingga antara jenis kegiatan dengan proses pencitraan tidak memiliki hubungan nyata. Jadi, semakin beragam jenis kegiatan pada program CSR, tidak meningkatkan proses pencitraan pada diri responden. Hasil Tabulasi Silang antara jenis kegiatan dengan proses pencitraan terhadap PRogram CSR PT Indocement Tunggal Prakasa, Tbk dapat dilihat pada Tabel 12.

Tabel 12. Hubungan Jenis Kegiatan dengan Proses Pencitraan terhadap Program CSR PT Indocement Tunggal PRakasa, Tbk

Jenis Kegiatan Pencitraan

Total Buruk (%) Kurang Baik (%) Baik (%)

Tidak Beragam 13.3 60 26,7 100

Kurang Beragam 0 64,3 35,7 100

Beragam 0 0 100 100

Berdasarkan Tabel 12, responden yang menilai jenis kegiatan tidak beragam, memiliki kecenderungan mengalami proses pencitraan sedang.

Responden yang menilai jenis kegiatan CSR kurang beragam mengalami proses

pencitraan sedang lebih besar sebanyak 64,3 persen, dibandingkan dengan kurang

baik dan baik pada proses pencitraan. Berdasarkan hal tersebut responden yang

menilai bahwa jenis kegitan CSR beragam cenderung lebih banyak responden

mengalami proses pencitraan baik utuh sebanyak 100 persen. Maka dari itu,

penilaian tentang tingkat kebergaman jenis kegiatan tidak berhubungan dengan

proses pencitraan yang dialami oleh diri responden.

(11)

6.3.2 Hubungan Antara Frekuensi Kegiatan dengan PRoses Pencitraan Frekuensi Kegiatan adalah total rangkaian corporate social responsibility yang dilaksanakan oleh PT Indocement di Desa Bantarjati selama satu tahun.

Secara umum responden yang memandang frekuensi kegiatan tinggi sebanyak 15 orang, sedangkan yang menganggap frekuensi kegiatan sedang sebanyak 12 orang, dan rendah tiga orang. Persentase responden pada frekuensi kegiatan CSR PT Indocement pada Tabel 9. Pengujian statistik dilakukan untuk membuktikan hipotesis penelitian sebagai berikut:

H

0

: Semakin tinggi frekuensi program, maka tidak akan meningkatkan proses pencitraan responden pada program CSR PT Indocement H

1

: Semakin tinggi frekuensi program, maka akan meningkatkan proses

pencitraan responden pada program CSR PT Indocement

Analisis Uji Korelasi Rank Spearman digunakan untuk melihat hubungan apakah semakin tinggi frekuensi program maka akan meningkatkan proses pencitraan responden pada program CSR PT Indocement. Hasil Uji Korelasi Rank Spearman diperoleh nilai Asymp. Sig. (2-tailed) hitung sebesar 0,863 > α (0,10) sehingga H

0

diterima dan H

1

ditolak. Sehingga, tidak ada hubungan nyata antara frekuensi program dengan proses pencitraan. Jadi, semakin tinggi frekuensi kegiatan pada program CSR, tidak meningkatkan proses pencitraan pada diri responden. Maka dari itu frekuensi pelaksanaan program CSR tinggi, sedang ataupun rendah tetap akan mengalami proses pencitraan terhadap program CSR PT Indocement. Hasil tabulasi silang antara frekuensi program dengan proses pencitraan, dapat dilihat pada Tabel 13.

Tabel 13. Hubungan Frekuensi Kegiatan dengan PRoses Pencitraan terhadap PRogram CSR PT Indocement Tunggal PRakasa, Tbk

Frekuensi Pencitraan

Total Buruk (%) Kurang Baik(%) Baik (%)

Sedang 0 83,3 16,7 100

Tinggi 8,3 54,2 37,5 100

(12)

Berdasarkan Tabel 13, responden yang mengalami proses pencitraan kurang baik memiliki penilaian sedang terhadap frekuensi kegiatan CSR PT Indocement penuh. Responden yang mengalami proses pencitraan kurang baik memiliki kecenderungan untuk menilai frekuensi kegiatan tinggi lebih besar dibandingkan dengan responden yang mengalami proses pencitraan buruk dan baik. Berdasarkan hal tersebut, responden yang mengalami proses pencitraan kurang baik cenderung menilai frekuensi kegiatan lebih tinggi. Sedangkan responden yang mengalami proses pencitraan buruk dan baik perlu di informasikan kegiatan yang akan dan sedang terlaksana di desa dalam satu tahun.

6.3.3 Hubungan Antara Kemampuan Fasilitator dengan Proses Pencitraan Kemampuan Fasilitator adalah penilaian responden koordinator desa PT Indocement dalam setiap pelaksanaan kegiatan corporate social responsibility.

Mayoritas responden yang meniliai kemampuan fasilitator CSR dengan kategori tinggi sebanyak 18 orang, sedang 11 orang, dan rendah 1 orang. Persentase responden dalam menilai kemampuan fasilitator, dapat dilihat pada Tabel 10.

Pengujian statistik dilakukan untuk membuktikan hipotesis penelitian sebagai berikut:

H

0

: Semakin tinggi kemampuan fasilitator, maka tidak akan meningkatkan proses pencitraan responden pada program CSR PT Indocement

H

1

: Semakin tinggi kemampuan fasilitator, maka akan meningkatkan proses pencitraan responden pada program CSR PT Indocement

Analisis Uji Korelasi Rank Spearman digunakan untuk melihat hubungan

apakah semakin tinggi kemampuan fasilitator maka akan meningkatkan proses

pencitraan responden pada program CSR PT Indocement. Hasil Uji Korelasi Rank

Spearman diperoleh nilai Asymp. Sig. (2-tailed) hitung sebesar 0,045 > α (0,10)

sehingga H

0

ditolak dan H

1

diterima. Sehingga, terdapat hubungan nyata antara

kemampuan fasilitator dengan proses pencitraan. Jadi, semakin tinggi kemampuan

fasilitator pada program CSR, meningkatkan proses pencitraan pada diri

responden.

(13)

Tabel 14. Hubungan Kemampuan Fasilitator dengan Proses Pencitraan terhadap Program CSR PT Indocement Tunggal PRakasa, Tbk

Kemampuan Fasilitator

Pencitraan

Total Buruk (%) Kurang Baik (%) Baik (%)

Rendah 0 100 0 100

Sedang 9,1 72,7 18,2 100

Tinggi 5,6 50 44,4 100

Berdasarkan Tabel 14 responden yang memiliki penilaian kemampuan fasilitator tinggi memiliki kecenderungan mengalami proses pencitraan penuh terhadap program CSR PT Indocement. Responden yang menilai kemampuan fasilitator rendah cenderung mengalami proses pencitraan kurang baik lebih tinggi dibanding responden yang buruk dan baik pada proses pencitraan. Sedangkan responden yang menilai kemampuan fasilitator sedang mengalami proses pencitraan kurang baik, dibandingkan dengan buruk dan baik. Maka dari itu, responden yang menilai kemampuan fasilitator tinggi akan mengalami proses pencitraan lurang baik maupun baik dengan kompisisi yang hampir sama.

Sehingga terdapat hubungan antara penilaian responden pada kemampuan fasilitator dengan proses pencitraan responden.

6.3.4 Hubungan Antara Manfaat Program dengan Proses Pencitraan

Manfaat program yang dmaksud dalam penelitian ini adalah sejauhmana

responden menganggap bahwa program CSR PT Indocement berguna bagi

masyarakat Desa Bantarjati. Mayoritas responden menggap bahwa program CSR

bermanfaat bagi masyarakat sebanyak 14 orang, selanjutnya yang menganggap

program kurang bermanfaat sebanyak 12 orang, derta yang menganggap program

tidak bermanfaat sebanyak 4 orang. Presentase responden menurut manfaat

program bagi Desa Bantarjati dapat dilihat pada Tabel 11. Pengujian statistik

dilakukan untuk membuktikan hipotesis penelitian sebagai berikut:

(14)

H

0

: Semakin tinggi manfaat program CSR, maka tidak akan meningkatkan proses pencitraan responden pada program CSR PT Indocement

H

1

: Semakin tinggi manfaat program, maka akan meningkatkan proses pencitraan responden pada program CSR PT Indocement

Analisis Uji Korelasi Rank Spearman digunakan untuk melihat hubungan apakah semakin tinggi manfaat PRogram maka akan meningkatkan proses pencitraan responden pada program CSR PT Indocement. Hasil Uji Korelasi Rank Spearman diperoleh nilai Asymp. Sig. (2-tailed) hitung sebesar 0,082 > α (0,10) sehingga H

0

ditolak dan H

1

diterima. Sehingga, terdapat hubungan nyata antara manfaat program dengan proses pencitraan pada diri responden. Jadi, semakin tinggi manfaat program CSR, meningkatkan proses pencitraan pada diri responden. Hasil tabulasi silang antara penilaian manfaat program dengan proses pencitraan, dapat dilihat pada pada Tabel 15.

Tabel 15. Hubungan manfaat Program dengan Proses Pencitraan terhadap Program CSR PT Indocement Tunggal PRakasa, Tbk

Manfaat Program Pencitraan

Total Buruk (%) Kurang Baik (%) Baik (%)

Tidak Bermanfaat 25 75 0 100

Kurang Bermanfaat 8,3 58,3 33,3 100

Bermanfaat 0 57,1 42,9 100

Berdasarkan Tabel 15. Responden yang menilai bahwa program CSR PT

Indocement bermanfaat penuh bagi desa, mengalami proses pencitraan penuh

terhadap program CSR PT Indocement. Responden yang menilai program CSR

tidak bermanfaat mengalami proses pencitraanKurang baik lebih besar dibanding

buruk dan baik. Berdasarkan hal tersebut, responden yang memiliki penilaian

bahwa program CSR kurang bermanfaat cenderung mengalami proses pencitraan

kurang baik lebih banyak sebanyak 58,3 persen. Sehingga responden yang secara

utuh menilai bahwa program CSR bermanfaat bagi seluruh masyarakat desa, akan

cenderung mengalami proses pencitraan baik.

Referensi

Dokumen terkait

‫د‪ .‬التحقيق المكتبي‬ ‫الدراسة السابقة مهمة جدا للقيام بتنفيذىا من قبل الباحثة قبل إجراء البحوث‪.‬‬ ‫ويهدف ىذا إىل حتديد موقف

(3) Angsuran pembayaran pajak sebagaimana dimaksud pada ayat (2) harus dilakukan secara teratur dan berturut-turut dengan dikenakan bunga sebesar 2 % ( dua persen)

- Belanja Bahan Produk/Material Keperluan Kegiatan 1 kegiatan x 150.000.000,00 = 150.000.000,00 Belanja Bahan Produk/Material Keperluan Kegiatan di Kelurahan Mabar Hilir

Néhány globális jelentőségű környezeti megállapodás – a vegyianyag-egyezmények, bizonyos természeti erőforrások hasznosításáról szóló

Peluang terambil kartu angka 10 dari seperangkat kartu bridge. Solusi: i) 1/13 INDIKATOR: Menghitung peluang masing-masing titik  sampel pada ruang sampel suatu percobaan.

ERNN/LMA merupakan salah satu algoritma yang stabil dan sangat baik dalam pengenalan pola seperti ditunjukan dalam penelitian yang dilakukan oleh Tanoto, dkk., (2010) dan

Dari hasil penelitian yang dilakukan penulis selama ini dapat disimpulkan bahwa penulis melihat adanya unsur kesamaan antara kedua jenis transaksi ini yang mana

Namun, jika menurut Upstone (2009) gerakan politik itu mengacu pada nasionalisme yang dibutuhkan sebagai ruang mutlak terhadap “ nation ”, yaitu nation-state sebagai