ANAK DAN TELEVISI
(Studi Tentang Pandangan Anak Terhadap Tayangan Laptop Si Unyil pada Siswa/i SDNegeri Nomor 101949 Pematang Tatal)
SKRIPSI
Fitri Hariani 140904081 Public Realtions
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK DEPARTEMEN ILMU KOMUNIKASI
MEDAN 2018
ANAK DAN TELEVISI
(Studi Tentang Pandangan Anak Terhadap Tayangan Laptop Si Unyil pada Siswa/i SDNegeri Nomor 101949 Pematang Tatal)
SKRIPSI
Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Program Strata 1 (S1) Pada Departemen Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu
Sosial Danilmu Politik Universitas Sumatera Utara
Fitri Hariani 140904081 Public Realtions
DEPARTEMEN ILMU KOMUNIKASI FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN
2018
KATA PENGANTAR Bismillahirrahmanirrahim.
Assalamualaikum wr.wb
Alhamdulillah, puji syukur saya panjatkan kepada Allah SWT atas rahmat dan karunia-Nya sehingga penyusunan skripsi ini dapat berjalan dengan lancar.
Tidak lupa salam serta shalawat kepada junjungan Nabi Muhammad SAW sebagai Nabi yang membawa kita dari alam yang gelap gulita menuju alam yang terang benderang.
Penulis telah melalui banyak hal dalam menyelesaikan skripsi ini, baik suka maupun duka yang tidak terhingga adanya. Akan tetapi dengan izin Allah SWT serta dukungan dari keluarga terutama kedua orang tua saya, Sarnoto dan Karmi, yang telah membimbing dan mendidik, maka penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan tepat waktu. Terimakasih telah menjadi pedoman hidup dan memotivasi penulis selama ini. Terimakasih juga untuk kakak dan abang Eko Purnomo, Dewi Purwati, Nurul Hidayati, Edi Susanto yang selalu mendukung dan membantu saya dalam proses penyelesaian skripsi ini.
Saya menyadari bahwa tanpa bantuan dan bimbingan dari berbagai pihak, dari masa perkuliahan sampai penyusunan skripsi, sangatlah sulit bagi saya untuk menyelesaikan skripsi ini. Oleh karena itu, saya mengucapkan terima kasih kepada:
1. Bapak Dr. Muryanto Amin, S.Sos., M.Si selaku Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara.
2. Ibu Dra. Dewi Kurniawati, M.Si, Ph.D. selaku Ketua Departemen Ilmu Komunikasi FISIP USU.
3. Ibu Emilia Ramadhani, S.Sos, MA. selaku Sekretaris Departemen Ilmu Komunikasi FISIP USU dan dosen Pembimbing Akademik yang selalu bersedia berdiskusi untuk membahas mata kuliah dan persoalan akademik saya.
4. Bapak Dra. Mazdalifah, M.Si, Ph.D selaku dosen pembimbing peneliti. Saya berterimakasih atas bimbingan, waktu, perhatian, kesabaran dan masukan- masukan dari awal hingga akhir pengerjaan skripsi ini. Segala bentuk perhatian dan bimbingan Bapak memberikan saya kemudahaan dalam memperoleh gelar Sarjana Ilmu Komunikasi.
5. Bapak dan Ibu dosen serta pegawai yang ada di lingkungan FISIP USU, khusunya Ilmu Komunikasi, atas pengajaran yang telah diberikan selama saya menjalani masa perkuliahan.
6. Kak Maya dan Kak Yanti yang tanpa lelah selalu bersedia membantu dalam hal administrasi di Departemen Ilmu Komunikasi.
7. Kepala Sekolah SDN No 101949 Pematang Tatal yaitu Ibu Sri Mimi Sukawati, S.Pdatas izin yang telah diberikan sehingga saya dapat melakukan penelitian dengan lancar.
8. Kepada adik – adik di SDN No 101949 Pematang yang saya kasihi yang telah bersedia meluangkan waktunya selama penelitian berlangsung, Aji Putra Wardana, Riki Maulana, M. Rafi Akbar, Alya Rizky, Anggun Parapasha, dan Dian Agustina . Semoga kelak menjadi generasi penerus bangsa yang cemerlang.
9. Generasi Lem Berjamaah: Puput, Rachel, Vanya, Fiska dan Uwik. Terima kasih untuk selalu hadir menghibur dengan omongan yang selalu diluar nalar, berbagi amarah dan kesenangan yang tiada duanya. Terimakasih telah sudi menjadi sahabat-sahabat yang baik di akhir-akhir perkuliahan yang penuh gejolak ini.
10. Sahabat – sahabat salihah Rizki Mardiyah, Pija, Sarah Aulia Hardi, Rizky Chairani dan Tina Aisyah yang terus memotivasi ketika saya mulai merasa pesimis dan hampir menyerah dalam pengerjaan skripsi ini.
Mereka yang selalu mengingatkan saya akan indahnya berada di Jalan Allah, dan telah menemani saya sejak awal masuk kuliah hingga akhir.
11. Terimakasih untuk Rahmad Hidayat, Esa Meliana, Siti Hartien Ikhsani, Inung Wasiati, Syarifa Annisa Andira, Sintya Elviana, Maya Sari, Dara Oktiva, Fathinah Zulfa, yang telah berbaik hati membantu dan saling menyemangati ketika proses penulisan skripsi ini.
12. Kepada para partner Geetha Kost Ony Noviantari, Ardina Viralista, Kak Bella Apriliani Putri, Kak Hazra Ristia dan Dik Titik yang selalu menemani hari – hari saya di kosan yang telah menyemangati saya dalam pengerjaan skrispsi ini.
13. Alumni XII IPS U 2014 terutama Pratiwi Dessy Rinata, Karima Utama Nasution, Citra Utami, Dewinta yang selalu mewarnai hari – hari saya kapanpun dan dimanapun saya berada.
14. Mejacrew dari Meja Kreatif yang telah memberikan pengalaman berharga kepada saya di bidang marketting diakhir masa perkuliahan saya. yang telah begitu baik mensupport saya dalam proses penelitian dan memaklumi saya ketika tidak dapat berkontribusi lebih di Meja Kreatif.
Semoga Meja kReatif menjaid perusahaan yang sukses kedepannya.
15. Keluarga besar Karya Salemba Empat khususnya paguyuban KSE USU yang telah memberikan kehangatan kekeluargaan selama ini, tanpa keluarga ini saya tidak akan mampu menjadi sebaik sekarang.
16. Teman-teman Ilmu Komunikasi 2014.Terima kasih telah memperkenalkan penulis dengan banyak hal. Semoga kita komunikasi 2014 selalu akrab dan sukses di kemudian hari.
Akhir kata, saya berharap semoga Allah SWT berkenan membalas segala kebaikan semua pihak yang telah membantu. Penulis menyadari skripsi ini masih jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu, saran dan kritik yang bersifat membangun sangat diharapkan demi kesempurnaan skripsi ini.
Medan, 07 Agustus 2018
Fitri Hariani
ABSTRAK
Pada penelitian ini, peneliti melakukan penelitian mengenai Pandangan Anak terhadap Tayangan Laptop Si Unyildi SDN Nomor 101949 Pematang Tatal Kecamatan Perbaungan. Tujuan penelitian ini yaitu: 1) Untuk mengetahui pandangan anak terhadap tayangan Laptop Si Unyil. 2) Untuk mengetahui nilai- nilai yang terkandung dalam tayangan Laptop Si Unyil. Teori yang digunakan dalam penelitian ini yaitu: Komunikasi Massa, Televisi, Literasi Media dan Program Televisi. Metodologi penelitian yang digunakan adalah deskriptifkualitatif, dengan teknik pengambilan data menggunakan wawancara mendalam dan observasi. Informan pada penelitian ini terdiri dari 3 siswa dan 3 siswi yang duduk di kelas VI. Hasil penelitian ini menunjukkan anak di SDN Nomor 101949 Pematang Tatal memiliki pandangan terhadap tayangan Laptop Si Unyil sebagai tayangan yang menarik dan menyenangkan yang cocok ditonton anak-anak. Konten dalam tayangan ini menyajikan informasi yang dapat menambah pengetahuan dan wawasan yang tidak didapat di sekolah. Nilai-nilai yang terkandung dalam tayangan Laptop Si Unyil yaitu nilai positif berupa pendidikan, hiburan, keterampilan dan sosial (persahabatan).
Kata Kunci : Pandangan Anak, Literasi Media, Laptop Si Unyil
ABSTRACT
This research was conducted to find out the children’s view about Laptop Si Unyil program in SDN 101949 Pematang Tatal students. The objectives of this study were : 1) to find out students’ view about Laptop Si Unyil program. 2) to find out the values of Laptop Si Unyil program. The theory used were Mass Communication, Television, Media Literacy and Television Program. This research was descriptive qualitative. The data were collected by using in-depth interview and observation. The informants were three male and three female grade six students of SDN 101949 Pematang Tatal. The result of this research found that the students of SDN 101949 Pematang Tatal viewed that Laptop Si Unyil was an interested, fun and pleasing program which suitable to the children.
The content of Laptop Si Unyil program provided informations which could enrich children’s knowledge that they could not get in their school. The values of Laptop Si Unyil program were : Education Value, Entertainment Value, Skill Value and Social Value (friendship).
Key Words : Children’s view, Media Literacy, Laptop Si Unyil
DAFTAR ISI
LEMBAR PERSETUJUAN ... ii
LEMBAR PERNYATAAN ORISINALITAS ... iii
LEMBAR PENGESAHAN ... iv
KATA PENGANTAR ... v
LEMBAR PERSETUJUAN PUBLIKASI ... viii
ABSTRAK ... ix
DAFTAR ISI... x
DAFTAR TABEL ... xii
DAFTAR GAMBAR... xiii
BAB I PENDAHULUAN ... 1
1.1 Konteks Masalah ... 1
1.2 Fokus Masalah ... 7
1.3 Tujuan Penelitian ... 8
1.4 Manfaat Penelitian ... 8
BAB II KAJIAN PUSTAKA ... 9
2.1 Paradigma Kajian... 9
2.2 Kajian Pustaka ... 10
2.2.1 Komunikasi Massa ... 10
2.2.2 Televisi ... 14
2.2.3 Literasi Media ... 18
2.2.4 Program Televisi ... 27
2.3 Model Teoritik ... 32
BAB III METODE PENELITIAN ... 33
3.1 Metode Penelitian ... 33
3.2 Objek Penelitian ... 33
3.3 Subjek Penelitian ... 34
3.4 Kerangka Analisis ... 34
3.5 Teknik Pengumpulan Data ... 35
3.6 Teknik Analisis Data ... 36
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN ... 38
4.1 Hasil Penelitian ... 38
4.1.1 Deskripsi Lokasi Penelitian ... 38
4.1.2 Deskripsi Pelaksanaan Penelitian ... 41
4.1.3 Hasil Temuan di Lapangan ... 56
4.1.3.1 Deskripsi Informan ... 56
4.1.3.2 Pandangan Anak terhadap Tayangan Laptop Si Unyil ... 67
4.1.3.3 Nilai – nilai yang Terkandung dalam Tayangan Laptop Si Unyil ... 85
4.2 Pembahasan ... 95
BAB V SIMPULAN DAN SARAN ... 120
5.1 Simpulan ... 120
5.2 Saran ... 121 DAFTAR REFERENSI
LAMPIRAN - Hasil Wawancara - Dokumentasi Foto
- Surat Izin Keterangan Penelitian - Biodata Peneliti
- Lembar Bimbingan Skripsi
DAFTAR TABEL
Tabel 4.1: Reduksi Data eskripsi Informansecara Demografis ... 64 Tabel 4.2: Reduksi Data Kegiatan Anak Menonton Televisi ... 76 Tabel 4.3: Reduksi Data Pandangan Anak terhadap Tayangan Laptop Si Unyil.. 95 Tabel 4.4: Reduksi Data Nilai-Nilai yang Terkandung dalam Tayangan
Laptop Si Unyil ... 88
DAFTAR GAMBAR
Gambar 2.1: Model Teoritik Penelitian ... 32 Gambar 4.1: Struktur Organisasi SDN Nomor 101949 Pematang Tatal ... 40
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Konteks Masalah
Televisi adalah salah satu bentuk dari komunikasi massa. Tan dan Wright (dalam Liliweri 1991)menyatakanbahwakomunikasi massa merupakan bentuk komunikasi yang menggunakan saluran atau media dalam menghubungkan komunikator dan komunikan secara massal, berjumlah banyak, bertempat tinggal yang jauh (terpencar), sangat heterogen dan menimbulkan efek tertentu (Ardianto,2005:3).
Televisi adalah salah satu media massa yang memiliki kemampuan untuk menghibur penontonnya. Menurut Harold D. Laswell, fungsi komunikasi massa adalah to inform (memberikan informasi), to educate (mendidik), dan to entertain (menghibur). Televisi hadir dengan sejumlah tayangan yang dapat dilihat oleh siapa saja, termasuk anak-anak.
Televisi menyediakanbanyak tayangan untukanak-anak, baik tayangan lokal maupun non-lokal. Beberapa tayangantelevisiuntukanak yang merupakan programnon-lokalyaituDora The Explorer,Little Einsteins, dan Booggie Beebies.
Ketiga tayangan tersebut tidak hanya membuat anak-anak memberikankonsentrasikhususketikamemandang televisi dengan rangkaian kisah dan deretan lagu, tetapi juga mengajak anak-anak berinteraksi. Program Dora melakukan kegiatan interaksi dengan bertanya kepada audiensnya yaitu anak- anak, seperti “Dapatkah kamu membantu menemukan peta?”. Leo dalam Little Einsteinsjuga menyajikan program yang membangun interaksi seperti menanyakan, “Maukah kau membantu kami? Tepuk pahamu lebih keras agar rocket bisa terbang!”.Kegiatan yang membantu anak untukbelajar menghitung juga terdapatpada tayangan Mickey Mouse Clubhouse.Dalam tayangan ini, Mickey kerap mengajak anak-anak menghitung dan belajar penjumlahan sederhana.
Disamping itu, terdapat beberapa tayangan televisi di Indonesia yang baik untuk ditonton oleh anak-anak. Beberapa dari program yang disajikan dalam
tayangan lokal mengandung pesan moral yang berkaitan dengan kondisi lingkungan sekitar rumah, yaitudari kegiatan sekolah, hidup bertetangga, dan bermain dengan teman sebaya.Salah satu program yang dimaksud adalah Adit Sopo Jarwo.
Fenomena banyaknya tayangan yang tidak mendidik merupakan satu persoalan penting yang dihadapi oleh anak – anak Indonesia. Misalnya sinetron.
Pemain sinetron yang dipilih hampir rata-rata berasal dari kalangan remaja atau sebagian masih dalamrentangusiaanak-anak. Jenis peran yang dilakonioleh para artis remaja juga bertentangan dengan norma pergaulan masyarakat dan belum sesuai dengan tingkat perkembangan psikologisnya. Hal ini dapat dilihat dari dialog atau perilaku yang diperankan dalam sebuah sinetron. Mereka melakukan adegan dengan lawan jenis dengan mesraseperti berpelukan, menjalinhubunganpacaran, berpegangan tangan, mencium pipi atau kening dan bergendongan sesuai skenario cerita.
Banyak alur cerita sinetron remaja yang mengambil setting anak sekolah lengkap dengan seragam sekolah, lokasi sekolah, aneka pergaulan di dalam maupun di luar kelas. Beberapa adeganber-settingkan sekolahjikadiamati lebih berfokus pada kisah persahabatan, percintaan dan permusuhan. Hanya sedikit adegan yang menceritakan tentang bagaimana seorang anak termotivasi untuk berprestasi dibidang pendidikan. Mayoritassinetron menggambarkan pelajar dengan baju yang dikeluarkandarirokataucelana, rok diatas lutut, kaus kaki yang melebihi lutut, make up yang berlebihan, dan menampilkan musuh atau rival di sekolah. Tayangan sinetron remaja yang vulgar menampilkan unsur pornografi, sehingga dalam jangka panjang dapat mengotori jiwa dan pikiran anak-anak yang masih dalam tahap perkembangan yang sangatmembutuhkanbimbingan dan keteladanan.
Tayangan yang harus diwaspadai untuk ditonton oleh anak- anaktidakhanyaberjenissinetron.Penelititelahmelakukanpengamatan terhadap tayangan anak danmemperlihatkan bahwa secaraumumtayangan tersebutbersifat menghibur, namunadakalanya terdapat pesan yang berbau kekerasan. Seperti
halnya tayangan animasi SpongebobSquarepants yang memilikialurceritamengenaiSpongebob yang selalu di-bully dengan diremehkandandiintimidasi oleh rekan kerja yang jugamerupakantetangganya, yaitu Squidqward.Tayangan animasiselanjutnyaadalah Tom & Jerry, dengan jelas menampilkan kekerasan antara Tom si Kucing dan Jerry si Tikus yang selalu berkelahi untuk mempertahankan diri masing-masing
Tayangan tersebut di atas tidak dapat dihindari untuk dapat dikonsumsi oleh anak – anak sebagai penonton. Anak – anak memiliki karakteristik sebagai penonton yang mudah meniru apa yang dilhat dan didengar, imajinatif, menganggap apa yang ditampilkan pada tv merupakan kegiatan yang bisa ditiru, seperti superhero yang bisa terbang, cara berbicara dengan teman di sekolah, dan memiliki kecenderungan menyerap segala informasi yang ia lihat, serta belum begitu ahli untuk membedakan mana yang meruapakan kejadian nyata (real) dan mana yang tidak nyata (unreal).
Communication Research Conference Proceeding (2010:264), Neil Postman dalam bukunya "The Disappearance of Childhood" (Lenyapnya Masa Kanak-Kanak), mengemukakan bahwa sejak tahun 1950, televisi di Amerika menyiarkan program-program yang seragam.Anak-anak, sama seperti anggota masyarakat lainnya, menjadi korban gelombang visual yang ditunjukkan televisi.
Neil Postman menyebutkan tiga karakteristik televisi yaitu : (1)pesan media ini dapat sampai kepada pemirsanya tanpa memerlukan bimbingan atau petunjuk, (2) pesan itu sampai tanpa pemikiran, (3) televisi tidak memberikan pemisahan bagi para penonton, artinya siapa saja dapat menyaksikan siaran televisi.Ketiga karakteristik televisi ini dapatmemberikanpengaruhbaikapabila pesan yang disampaikan juga baik dan bermoral. Sebaliknya, akan menjadi bahaya besar ketika televisi menyiarkan program-program yang buruk dan amoral, seperti kekerasan dan kriminalitas.
Perkembangan tayangan televisi yang kurang memihak kepada kepentingan anak mendapatkan angin segar dengan hadirnya tayangan Laptop Si Unyil. Tayangan Laptop Si Unyil adalah salah satu tayangan anak yang hadir dan berani tampiluntukmemunculkan anggapan bahwa tayangan anak-anak bisamenjadisebuah tren. Beberapa program dengan segmentasi anak disajikan dalam bentuk animasi dan musik. Program Laptop Si Unyil dapat menampilkan perkembangan teknologi modern saatini dan tetap menampilkan beberapa kreativitas sederhana dengan cara yang menyenangkan. Tayangan Laptop Si
Unyildengandemikian dapat menjadi alternatif tayangan yang mendidik bagi anak.. Trans7 memberikan rentang waktu khusus yang diisi dengan program anak yang bertemakan pendidikan dan pengetahuan melalui tayangan Laptop Si Unyil.
Abraham Maslow menyatakan bahwa perilaku anak sebenarnya terbentuk dan berkembang melalui proses komunikasi. Namun, komunikasi tersebut bukan hanya melalui komunikasi antara orang tua dengan anak. Banyak media yang dapat membentuk perilaku anak, salah satunya dari media massa. Lingkungan di luar keluarga akan turut andil dalam pembentukan karakter anak. Anak-anak mudah sekali untuk mengadopsi dan meniru apa saja yang mereka lihat dan mereka dengar,termasuk melalui program Laptop Si Unyil. Program acaratersebutmemberikan beragam pesan yang bersifat informatif, kreatif,danedukatif.Pembentukan perilaku tidak terjadi dengan sendirinya.
Pembentukannya senantiasa berlangsung selain dari interaksi manusia, juga melalui hasil dari buah budaya seperti televisi, radio, dan lainnya (Koswara, 1991:25).
Laptop Si Unyil merupakan salah satu program anak yang sekarang masih populer. Unyil merupakan tokoh anak yang sudah dikenal cukup lama. Si Unyil adalah film seri televisi Indonesia produksi PPFN yang mengudara setiap hari Minggu pagi di stasiun TVRI dimulai pada tanggal 5 April 1981 sampai 1993 yang ditujukan untuk anak-anak. Si Unyil telah menjadi salah satu bagian tak terpisahkan dari budaya populer di Indonesia, dan banyak orang tidak dapat melupakan berbagai unsur seri ini, mulai dari lagu temanya yang dimulai dengan kata-kata "Hom-pim-pah alaiyum gambreng!" sampai tokoh-tokoh seperti Pak Raden dan Pak Ogah. Film ini pernah dicoba diangkat lagi oleh PPFN dengan bantuan Helmy Yahya pada tahun 2001, dengan meninggalkan atribut lama dan memakai atribut baru agar sesuai dengan jamannya, akan tetapi usaha itu gagal (wikipedia.org/).
Program Laptop Si Unyil diangkat kembali dengan nama Laptop Si Unyil yang digawangi oleh Trans7 tahun 2007. Karakter, lagu pembuka, dan cerita tetap dipertahankan, kecuali beberapahaltelah diperbaharui seiring zaman.Laptop Si Unyil ditayangkan setiap hari Senin s/d Jumat pukul 13.00 WIB, dan kemudian
dilanjutkan dengan Buku Harian Si Unyil yang ditayangkan setiap hari Sabtu dan Minggu. Perbedaan karakteristik dari kedua program ini adalah tayangan Laptop Si Unyil lebih menggali mengenai ilmu pengetahuan dan teknologi, serta membahas mengenai permainan yang berkaitan dengan ilmu pengetahuan.
AdapunBuku Harian Si Unyil lebih mengajak anak-anak untuk berwisata serta mengenal permainan yang menjadi ciri khas suatu daerah tertentu, atau yang bersifat menghibur tapi tetap mendidik.
Laptop Si Unyil adalah nama programyang dipilih sesuai dengan perkembangan zaman dan teknologi yang sudah semakin maju.Masih dengan tokoh–tokoh yang sama yaitu Unyil dengan karakternya yang pintar dan baik, Pak Raden yang galak, Pak Ogah yang pemalas, pengganggu dan kocak. Laptop Si Unyil menjadi alternatif yang mendidik khususnya bagi anak-anak. Tayangan ini dapat dijadikan tontonan yang mampu memberikan edukasi kepada anak-anak, sehinggaedukasitidak hanya bisadiperolehmelalui sekolah formal. Melalui program Laptop Si Unyil, hal-hal yang sebenarnya sulit dipahami dapat disampaikan dengan penjelasan yang sederhana, menarik, dan lugas sehingga lebih mudah dipahami,bahkan mengenaisebuahkasusataupertanyaanyang terkadang sulit dijawab oleh orang tua. Program ini menyajikan tayangan yang mencerdaskan dan menghibur untuk anak dan keluarga seperti perkenalan tentang benda, ensiklopedi, permainan daerah, kerajinan tangan dan uji ilmiah, bahkan dapat menjadi pembentukan perilaku anak ( www.trans7.com).
Program Laptop Si Unyil telah mendapat beberapa prestasi sebagai program yang edukatif untuk anak. Program Laptop Si Unyil masuk dalam nominasi sebagai program anak terfavorit dan animasi pada Panasonic Gobel Award tahun 2006. Pada tahun 2017 program Laptop Si Unyil menjadi pemenang dalam kategori program siang terpopuler di acara Indonesian Television Award.
Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) menganugrahi Program Laptop Si Unyil sebagai program edukatif anak terinspiratif. Laptop Si Unyil merupakan tayangan yang mampu menambah ilmu pengetahuan dan membentuk perilaku anak.
Dimana, peran Unyil sebagai pembawa acara menggunakan bahasa yang sopan
serta mudah dimengerti dalam memperkenalkan suatu ilmu baru, sehinggamudahdipahamiolehanak-anak.
Anak – anak merupakan bagian dari khalayak yang memiliki kebebasan untuk mengkonsumsi media khususnya televisi sebagai media audiovisual. Oleh sebab itu, peneliti ingin melihat bagaimana anak-anakmemandang isi tayangan Laptop Si Unyil jika dilihat dari kepentingan anak sebagai siswa yang duduk di sekolah dasar. Mengingat tayangan Laptop Si Unyil merupakan jenis tayangan anak yang menyajikan beragam informasi yang dapat menambah pengetahuan dan wawasan. Diantara ragam informasi yang bersifat positif dalam tayangan Laptop Si Unyil, peneliti ingin melihat kebermanfaan informasi tersebut terhadap anak yang menontonnya. Penggunaan boneka Unyil yang menjadi pembawa acara sekaligus pembeda dengan tayangan anak lainnya menjadi daya tarik tersendiri.
Dengan demikian, peneliti berpendapat bahwa anak – anak yang sedang berada diusia bermain akan akan tertarik untuk menontonnya.
Kemudian, beberapa hal yang disampaikan peneliti diatas mengenai padangan anak terhadap tayangan Latop Si Unyil, kebermanfaatan tayangan tersebut pada anak, serta menarik atau tidakkah tayangan tersebut jika ditonton oleh anak – anak akan peneliti lihat pada anak yang sekolah di SD negeri Nomor 101949 Pematang Tatal.
Peneliti memilih SDN Nomor 101949 Pematang Tatal karena berdasarkan observasi dan prasurvey yang telah dilakukan sebelumnya oleh peneliti menunjukkan bahwa anak-anak yang bersekolah di SDN Nomor 101949 Pematang Tatal memiliki kebiasaan menonton tv setelah pulang sekolah setiap hari. Setelah para siswa/i kembali ke rumah masing-masing,aktivitas yang dilakukan oleh siswa SDN Nomor 101949 Pematang Tatal adalah makan siang sambil menonton televisi. Hal ini sudah sejak lama diamati oleh peneliti karena lokasi tempat tinggal peneliti yang berdekatan dengan beberapa anak yang bersekolah di SDN Nomor 101949 Pematang Tatal. Sehingga peneliti lebih tahu mengenai kebiasaan apa saja yang dilakukan siswa SDN Nomor 101949 Pematang Tatal setelah pulang sekolah.
Peneliti memilih lokasi tersebut karena anak- anak di desa Pematang Tatal masih menjadikan tv sebagai media hiburan utama mereka selain bermain dan gadget masih menjadi benda yang langka yang belum menjadi fokus anak-anak.
Mengingat dewasa ini, tidak sedikit anak – anak yang duduk di bangku sekolah dasar telah mengenal dan memiliki gadget serta menjadikannya sebagai sarana utama untuk bermain.
Ketika dilakukan wawancara sederhana dengan beberapa siswa, tayangan Laptop Si Unyil adalah tayangan pertama yang ditonton oleh mereka setiap hari setelah pulang sekolah. Kemudian ketika ditanya lebih lanjut, kegiatan menonton anak pada siang hari bisa memakan waktu dua hingga tiga jam dalam sehari.Dimana pada waktu tersebut, peneliti melihat bahwa jenis tayangan yang ada pada televisi adalah tayangan – tayangan yang bersifat feature (berita ringan) seperti Laptop Si Unyil.
Berdasarkan paparan diatas, peneliti tertarikuntukmelakukanpenelitiansecaralebihmendalam di desa Pematang Tatal
Kecamatan Perbaungan tepatnya di SD Negeri No 101949 Pematang Tatal sebagai lokasi penelitian karena peneliti ingin melihat pandangan siswa/i di SD Negeri No 101949 Pematang Tatal terhadap program Laptop Si Unyil di Trans7.
1.2 Fokus Masalah
Berdasarkan konteks masalah yang telah diuraikan, maka fokus masalah pada penelitian ini adalah “Bagaimana pandangan anakdi SD Negeri No. 101949 Pematang Tatal terhadap Tayangan Laptop Si Unyil Trans7?”
1.3 Tujuan Penelitian
Sesuai dengan fokus masalah yang telah diuraikan dan agar penelitian ini menjadi lebih terarah secara jelas maka perlu ditetapkan tujuan, adapun tujuan dari penelitian ini adalah:
1. Untuk mengetahui pandangan anak terhadap tayangan Laptop Si Unyil.
2. Untuk mengetahui nilai-nilai yang terkandung dalam tayangan Laptop Si Unyil.
1.4 Manfaat Penelitian
Berdasarkan tujuan penelitian tersebut bahwa penelitian ini diharapkan dapat memberi kontibusi dan manfaat antara lain :
1. Secara akademis, penelitian ini diharapkan mampu menambah dan memperluas khasanah penelitian di bidang komunikasi sebagai referensi tambahan bagi mahasiswa khususnya mahasiswa Ilmu Komunikasi FISIP USU.
2. Secara teoritis, penelitian ini diharapkan dapat menambah pengetahuan dan memperluas wawasan peneliti ilmu komunikasi khususnya dalam hal literasi media.
3. Secara praktis, penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat dan masukan yang positif bagi pihak-pihak terkait dalam penelitian ini.
BAB II KAJIAN PUSTAKA
2.1 Paradigma Kajian
Paradigma merupakan suatu kepercayaan atau prinsip dasar yang ada dalam diri seseorang tentang pandangan dunia dan membentuk cara pandangnya terhadap dunia (Wibowo,2013:36). Paradigma penelitian mengarahkan peneliti dalam memandang suatu masalah dan menjawab masalah dalam penelitian.
Paradigma dalam konteks keilmuan disebut sebagai perspektif, mahzab penelitian, atau teori, model, pemdekatan, kerangka konseptual, strategi intelektual, kerangka pemikiran, serta pandangan dunia (Mulyana,2001:9).
Paradigma dalam penelitian untuk menyadari bahwa suatu pemahaman selalu dibangun oleh keterkaitan antara apa yang menjadi pengamatan dan apa yang menjadi konsepnya. Penggunaan paradigma dapat mengimbangi perubahan fakta sosial yang terus menerus berubah dan mewajibkan peneliti untuk toleran pada perbedaan cara pandang, serta bijakdalam menggunakan pelbagai metode (Ardianto dan Q-Anees, 2007:77), dengan demikian peran paradigma menjadi sangat penting dalam peelitian, karena mempengaruhi teori, dan Analisis.
Paradigma pada bidang ilmu komunikasi sangat beragam, namun yang sering digunakan adalah post-positivisme, interpretif, konstruksi, dan kritis. Teori konstruktivisme adalah pendekatan secara teoritis untuk komunikasi yang di kembangkan tahun 1970-an oleh Jesse Delia dan rekan-rekan sejawatnya. Teori konstruktivisme menyatakan bahwa individu melakukan interpretasi dan bertindak menurut berbagai kategori konseptual yang ada dalam pikirannya.
Menurut teori ini, realitas tidak menunjukkan dirinya dalam bentuknya yang kasar, tetapi harus disaring terlebih dahulu melalui bagaimana cara seseorang melihat sesuatu (Morissan,2014:166). Konstruksi personal diatur atau diorganisasi ke dalam skema interpretif yang akan mengidentifikasi suatu objek dan menempatkan objek itu ke dalam suatukategori. Paradigma konstruktivisme
melihat segala sesuatu lebih dalam kerucut, berbeda dengan positivis yang melihat dari garis besarnya saja. Sumber dan sebab dari suatu kasus akan ditelaah tahap demi tahap dalam bentuk-bentuk pertanyaan yang mengarah kepada jawaban yang paling mutlak dan jelas.
Konstruktivisme pada dasarnya adalah teori dalam memilih strategi.
Prosedur riset konstruktivisme yang dilakukan biasanya adalah dengan meminta subjek untuk memilih berbagai tipe pesan yang berbeda dan mengelompokannya ke dalam berbagai kategori strategi. Penelitian ini merupakan paradigma konstruktivisme untuk melihat bagaimana para masyarakat terkhususnya Ibu rumah tangga dan relawan, sebagai subjek menilai sarana hiburan dongeng sebagai hiburan sehat yang harus dianalisa dari mendongeng seperti isi pesan, tujuan, cara penyampaian, dan efek yang di timbulkan, dan bagaimana hiburan dongeng ini berpengaruh terhadap kebiasaan konsumsifitas media menstream pada umumnya.
2.2 Kajian Pustaka
Setiap penelitian memerlukan kejelasan landasan untuk memecahkan masalahh atau menyoroti masalah tersebut. untuk itu perlu disusun kerangka teori atau kajian pustakan yang memuat pokok-pokok pikiran yang menggambarkan dari sudut mana penelitian disorot (Nawawi, 1991: 39-40). Manurut Wilbur Schramm, teori adalah suatu perangkat yang saling berkaitan, pada abstraksi dengan kadar tinggi, dan daripadanya proposisi dapat dihasilkan yang dapat diuji secara ilmiah, dan pada landasannya dapat dilakukan prediksi mengenai prilaku (Effendy, 2003: 241). Peneliti membutuhkan teori untuk mengetahui bagaimana pandangan anak terhadap tayangan Laptop Si Unyil.
Berdasarkan uraian di atas maka penelitian ini menggunakan beberapa teori yang yang dianggap relevan, antara lain:
2.2.1 Komunikasi Massa
Komunikasi massa adalah komunikasi yang berlangsung dengan menggunakan media yang mampu menjangkau masyarakat luas tanpa terbatas
jarak dan waktu. Merujuk pada pendapat Tan dan Wright dalam liliweri 1991 komunikasi massa merupakan bentuk komunikasi yang menggunakan saluran atau media dalam menghubungkan komunikator dan komunikan secara massal, berjumlah banyak, bertempat tinggal yang jauh (terpencar), sangat heterogen dan menimbulkan efek tertentu (Ardianto, 2004: 3).
Para pakar mengemukakan tentang sejumlah fungsi komunikasi.
Pembahasan komunikasi telah menjadi diskusi yang cukup pentingterutama konsekuensi komunikasi melalui media massa. Dominick (2011) mengemukakan bahwa fungsi komunikasi massa bagi masyarakat meliputi survillance (pengawasan), interpretation (penafsiran), linkage (keterkaitan), transmission of values (penyebaran nilai) dan entertaiment (hiburan) (Ardianto, 2004: 4).
Sementara itu, Karlinah (1999) mengemukakan fungsi komunikasi secara umum sebagai informasi, pendidikan, mempengaruhi, pengembangan mental, memanipulasi lingkungan, meyakinkan, membius, menciptakan rasa kebersatuan, privatisasi dan mengaugrahkan status. Berdasarkan fungsi komunikasi massa yang telah dipaparkan, maka dalam penelitian ini, peneliti haya fokus kepada fungsi komunikasi massa yang dianggap relevan dengan penelitian. yaitu sebagai berikut:
1. Survillance (pengawasan)
Fungsi pengawasan komunikasi massa dibagi dalam bentuk utama:
910 warning of beware survillance (pengawasan peringatan) dan instrumental survillance (pengawasan instrumental).
Pengawasan peringatan terjadi keyka media massa menginformasikan tentang ancaman, baik yang berasal dari alam maupun manusia. Misalnya peringatan meletusnya gunung merapi, tayangan inflasi atau serangan militer.
Sedangkan fungsi pengawasan instrumental adalah penyampaian atau penyebaran informasi yang memiliki kegunaan atau dapat membantu khalayak dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya tentang film yang sedang
dimainkan di bioskop, bagaimana harga-harga saham bursa efek, produk perlengkapan rumah tangga, resep makanan, ide tentang mode dan sebagainya.
2. Interpretation (penafsiran)
Media massa tidak hanya menyajikan fakta dan data, tetapi juga memberikan penafsiran atau opini pada kejadian-kejadian tertentu. Dalam surat kabar, penafsiran dapat dilihat pada halaman tajuk rencana. Namun rubrik artikel yang disajikan mengacu pada latar belakang peristiwa utama yang menjadi berita utama. Radio dan televisi juga memiliki fungsi penafsiran, seperti tayangan Indonesia Lawyers Club di TvOne dan tayangan penafsiran sejenisnya. Tujuan penafsiran media agar khalayak dapat memperluas wawasan dan membahas sebuah topik lebih lanjut dalam komunikasi antarpersonal atau komunikasi kelompok.
3. Transmission Of Values (Penyebaran Nilai)
Fungsi ini juga disebut dengan sosialization (sosialisasi). Sosialisasi mengacu kepada cara, dimana individu mengadopsi prilaku dan nilai kelompok. Media mewakili kahalayak dengan model peran yang diamati dan harapan untuk menirunya. Sebuah penelitian menunjukkan bahwa banyak remaja belajar tentang prilaku berpacaran dari menonton film dan acara televisi.
4. Entertaiment (Hiburan)
Televisi adalah media massa yang mengutamakan sajian hiburan, hampir tiga perempat bentuk siaran televisi setiap hari merupakan tayangan hiburan.Melalui berbagai macam program yang ditayangan televisi,khalayak dapat memperoleh hiburan yang dikehendakinya.
Sementara melalui surat kabar, khalayak dapat memperoleh hiburan dengan rubrik cerpen, komuik TTS (teka-teki silang) dan berita yang mengandung human interest.
Fungsi media massa sebagai fungsi menghibur untuk mengurangi ketegangan pikiran khalayak akibat kegiatan atau pekerjaan yang telah mengahbiskan tenaga dan pikiran.
5. Information (Informasi)
Sebagian informasi didapat bukan dari sekolah, atau tempat bekerja, melainkan dari media (Ardianto &Erdinaya, 2004: 19). Fungsi memberikan informasi ini diartikan bahwa media massa adalah penyebar informasi bagi pembaca, pendengar atau pemirsa. Berbagai informasi dibutuhkan oleh khalayak media massa yang bersangkutan sesuai dengan kepentingan khalayak.
Khalayak media massa berlangganan surat kabar, majalah, mendengarkan radio siaran atau menonton televisi karena mereka ingin mendapatkan informasi tentang peristiwa yang terjadi di muka bumi, gagasan atau pikiran orang lain, apa yang dilakukan, diucapkan atau dilihat orang lain.
6. To Educate (Pendidikan)
Media massa merupakan sarana pendidikan bagi khalayaknya (mass education) (Ardianto & Erdinaya, 2004). Media massa banyak menyajikan hal-hal yang sifatnya mendidik antara lain pengajaran nilai, etika serta aturan-aturan yang berlaku kepada pemirsa atau pembaca melalui drama, cerita, diskusi dan artikel. Contohnya dalam televisi swasta yang menampilkan program acara tentang dunia hewan atau wisata yang dipandu oleh seorang presenter dan narasumber. Sehingga khalayaknya dapat mengetahi berbagai hal yang tidak didapatkan melalui sekolah atau lingkungan sekitar.
Semua situasi ini, nilai-nilai yang harus dianut masyarakat tidak diungkapkan secara langsung, tetapi divisualisasikan dengan contoh- contoh bagaimana mendidik anak-anak yang sedang dalam masa pertumbuhan, apa makanan yang layak, bagaimana cara membudidayakan
ikan, merawat tumbuhan stroberi hingga berbuah, perkembangan teknologi dan sebagainya.
7. To Influence (Memengaruhi)
Fungsi memengaruhi dari media massa secara implisit terdapat pada tajuk/editorial, feature, iklan, artikel, dan sebagainya. Khalayak dapat terpengaruh oleh iklan-iklan yang ditayangkan televisi ataupun surat kabar. Contohnya keluarga petani yang hidup di desa mempunyai kebiasaan mencuci rambut dengan menggunakan endaman air sapu merang yang telah dibakar. Namun setelah keluarga petani tersebut memiliki pesawat televisi dan menonton tayangan iklan sampo yang dibintangi oleh model yang sesuai dengan konten iklan membuat kebiasaan yang berlangsung sejak lama mengalami perubahan. Dari mencuci rambut dengan dengan memakai air rendaman sapu merang yang dibakar diganti dengan sampo yang ada dalam iklan televisi.
8. Proses Pengembangan Mental
Untuk mengembangkan wawasan, kita membutuhkan berkomunikasi dengan orang lain. dengan berkomunikasi, manusia akan bertambah pengetahuannya dan berkembang intelektualitasnya. Hal tresebut diperoleh dari pengalaman pribadinya dan orang lain. pengalaman dapat membantu manusia untukmemahami betapa besar ketergantungan manusia kepada komunikasi, karena komunikasi dapat membantu manusia dalam perkembangan mentalnya.
Komunikasi sangat esensial untuk pertumbuhan kepribadian manusia.
Komunikasi amat erat kaitannya dengan prilaku dan pengalaman kesadaran manusia.
2.2.2 Televisi
Televisi berasal dari dua kata yaitu tele (bahasa Yunani) yang berani jauh, dan visi atau videre (bahasa Latin) yang berarti pengelihatan. Dengan demikian televisi dengan bahasa Inggrisnya television diartikan dengan melihat jauh.
Melihat jauh di sini diartikan dengan gambar dan suara yang diproduksi di suatu tempat (studio televisi) dapat dilihat dari tempat "lain" melalui sebuah perangkat penerima (televisi set) (Wahyudi, 1985: 49).
Everet M. Roger, dalam bukunya Diffusion of Innovation menyatakan bahwa teknologi dirancang untuk “instrumental action” (gerak peralatan) guna mengurangi ketidak pastian dalam hubungan sebab akibat, termasuk di dalamnya untuk mencapai tujuan yang diinginkan. Dalam bukunya yang lain (Communication Technology: The new media in society), Roger menulis bahwa tekhnologi biasanya memiliki dua aspek, yaitu aspek perangkat keras dan aspek perangkat lunak. Aspek perangkat keras bersifat objek materi, sedangkan aspek perangkat lunak adalah dasar informasi untuk perangkat keras.
Menurut J.B Wahyudi, pada dasarnya perkembangan teknologi tidak dapat lepas dari proses berfikir ilmiah manusia itu sendiri. Maka perkembangan teknologi abad 20 bukanlah monopoli perorangan atau ahli saja, tetapi merupakan karya dari banyak ahli yang berkesinambungan.
Dalam teknologi informasi, media saluran televisi menempati posisi terdepan dalam hal popularitas dan pengaruh. Kemampuan media massa televisi memadukan informasi dalam bentuk audio dan visual membuatnya begitu dipuja.
Kemampuan itu pula yang membuat daya tembusnya dalam pikiran pemirsa, bisa begitu dalam yang pada akhirnya meninggalkan bekas mendalam. Fungsi televisi hampir sama dengan fungsi media massa lainnya (surat kabar dan radio siaran), yakni sebagai alat informasi, mendidik, menghibur dan membujuk. Fungsi menghibur lebih dominan pada media televisi.
Televisi merupakan salah satu media komunikasi massa yang bisa dilihat dan didengar. Tayangan televisi mudah diingat audiens. Siapa saja bisa menikmati televisi tanpa ada batas jenis kelamin, usia, maupun status sosial ekonominya.
Cakupan tayangan televisi jauh lebih luas dibandingkan dengan media lain termasuk pada kehidupan anak-anak. Milton Chen (1996) seorang pakar anak- anak dan televisi mengatakan bahwa tidak ada hal lain dalam kebudayaan ini yang mampu menandingi kemapuan tv dalam menyentuh anak-anak (Ardianto
dkk.,2005). Televisi merupakan salah satu media yang dapat membawa pengaruh bagi anak-anak secara langsung maupun tidak langsung.
Televisi masih merupakan sarana paling diminati masyarakat sebagai sumber informasi. Data yang dikeluarkan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) pada tahun 2006 menunjukkan bahwa masyarakat indonesia belum menjadikan kegiatan membaca sebagai sumber utama mendapatkan informasi. Masyarakat lebih memilih menonton televisi (85,9%) dan/atau mendnegarkan radio (40,3%) daripada membaca koran (23,5%) (Meliyana, 2016).
Ketatnya kompetisi memperebutkan audiens, memaksa para pekerja bisnis siaran harus bekerja ekstra keras. Akibat positifnya, tayangan di televisi pun menjadi sangat beragam, mulai dari program acara berita, film, sinetron, talk show, kuis bahkan gosip pun dikemas menjadi suatu program hiburan.
Keberhasilan suatu program dalam penyampaian pesan kepada penontonnya juga mencerminkan keberhasilan dari sejumlah pekerja di belakang layar tersebut.
Kemampuan para pekerja dalam pekerjaan mereka sangatlah tergantung pada kelengkapan dari unsur-unsur adaptasi teknologi dan seni. Kombinasi keduanya berpeluang menghasilkan program yang berkualitas dan mampu bersaing dengan teknologi media dan seni lainnya. Bahkan program acara dapat dipusatkan untuk anak-anak. Namun, program anak bukan hanya film kartun yang bersifat menghibur. Akan tetapi banyak program anak yang menampilkan unsur pendidikan dengan tampilan yang menarik. Untuk memperoleh pengetahuan, anak-anak tidak hanya terpatok di lingkungan sekolah. Dora the explorer, Dunia Handmade, Dunia Binatang, Si Bolang (Bocah Petualang), Laptop si Unyil dan lain sebagainya merupakan beberapa dari banyaknya program acara anak yang diproduksi di stasiun televisi.
Televisi mempunyai fungsi sebagai alat informatif, persuasif, motivatif, yang mudah dan dapat dipahami bahkan televisi digunakan sebagai media edukasi untuk pembinaan generasi muda dalam rangka nation and character building (Ardianto, 2004:136) melalui program-program acara yang diproduksi dari banyaknya saluran televisi. Salah satunya yakni program acara Laptop Si Unyil Trans7.
Sebagaimana hasil penelitian-penelitian yang dilakukan oleh mahasiswa Fakultas Ilmu Komunikasi UNPAD, yang menyatakan pada umumnya tujuan utama khalayak menonton televisi adalah untuk memperoleh hiburan, selanjutnya untuk memperoleh informasi (Ardianto, 2004: 128).
Menurut Ardianto (2004: 129) Media massa televisi memiliki karakteristik yang membedakannya dengan media massa lainnya yaitu:
a. Audiovisual, kelebihan dari televisi adalah media yang dapat didengar dan dilihat. Dengan ini khalayak dapat memperoleh gambaran yang lengkap tentang suatu peristiwa yang lengkap yang disiarkan serta mempunyai keyakinan akan kebenaran peristiwa. Terlebih lagi jika kualitas rekamannya baik, serta moment pengambilannya yang tepat, membuat pemirsa seolah-olah melihat langsung peristiwa tersebut.
b. Berpikir dalam gambar, ada dua tahap yang dilakukan dalam proses berpikir dengan gambar.Pertama adalah visualisasi, yakni menerjemahkan kata-kata yang mengandung gagasan yang menjadi gambar secara individual. Dalam proses visualisasi pengarah acara harus berusaha menunjukkan objek-objek tertentu menjadi gambar yang jelas dan menyajikannya sedemikian rupa sehingga mengandung suatu makna. Objek tersebut bisa manusia benda, kegiatan dan sebagainya.
Kedua adalah penggambaran, yakni kegiatan merangkai kegiatan- kegiatan individual sedemikian rupa, sehingga kontuinitasnya mengandung makna tertentu. Misalnya siaran pendidikan untuk materi biologi tentang proses metamorfosis kupu-kupu, telur berubah menjadi ulat dan ulat berubah menjadi kepompong, selanjutnya kepompong berubah menjadi kupu-kupu. Dalam proses penggambaran ada gerakan- gerakan kamera tertentu yang dapat menghasilkan gambar sangat besar (big close-up), dekat (Close shot) dan lain-lain.
c. Pengoperasian lebih kompleks, pengoperasian siaran televisi jauh lebih kompleks dan banyak melibatkan orang jika dibandingkan dengan radio. Dalam satu siaran berita, dapat melibatkan lebih kurang 10 orang pekerja, yang terdiri dari produser, pengarah acara, pembawa acara,
pengarah teknik, pengarah studio, pemandu gambar, dua atau tiga juru kamera, juru video, juru audio, juru rias, juru suara, dan lain-lain.
pelatan yang digunakan juga lebih banyak dan untuk mengoperasikannya lebih rumit dan harus dilakukan oleh orang-orang terampil dan terlatih.
2.2.3 Literasi Media
Devito mendefinisikan literasi media sebagai sebuah bentuk pemberdayaan (Empowerment), karena bisa membantu kita untuk menggunakan media dengan lebih cerdas: kita bisa memahami, menganalisis dan mengevaluasi pesan-pesan yang akan disampaikan oleh media; dan kita bisa menciptakan pesan- pesan yang akan disampaiakan oleh kita sendiri (Rahardjo, 2012:6).
Disamping itu Alan Rubin mendefinisikan literasi media/melek media sebagai pemahaman sumber dan teknologi dari komunikasi, kode yang digunakan, pesan yang diproduksi dan pemilihan, penafsiran, serta dampak dari pesan tersebut (Tamburaka, 2013:8).National Leadreship Confrence on Media mendefinisikan literasi media sebagai “The ability to acces, analyze, evaluate, and communicate massage in a wide variety of forms of literacy” (Potter, 2004: 25)
Menurut Hoobs, ia melihat pada apa yang terjadi dengan pesan yang disampaikan media massa, dan dalam pandangannya, pesan-pesan yang disampaikan media massa seperti berikut (Iriantara,2009: 22):
1. Pesan-Pesan yang dikonstruksi.
2. Pesan-pesan media mempresentasikan dunia.
3. Pesan-pesan media memiliki tujuan dan konteks ekonomi politik.
4. Individu membuat makna terhadap pesan media melalui penafsiran.
Perihal tersebut menggambarkan mengenai bagaimana media merangkai pemberitaan yang akan dikonsumsi oleh masyarakat sehingga literasi media berfungsi sebagai penyaring akan hal-hal yang dianggap merugikan.
Sejumlah isu yang mengemukakan dalam literasi media ada yang muncul ke permukaan. Menurut Burn dan Durran, yang pertama bahwa literasi media adalah sesuatu yang bersifat kultural, dimana masyarakat harus dilibatkan secara aktif. Kedua, literasi media menyangkut tentang berfikir kritis. Ketiga, literasi media bersifat kreatif (Nur dan Junaedi,2013:51).
Ada beberapa faktor yang menghambat seperti yang dipaparkan oleh Buckingham dan Domaile (Iriantara,2009:34), bahwa di 52 negara menunjukan penghambat pengembangan literasi media ini adalah:
1. Konservatisme sistem pendidikan.
2. Terus berlanjutnya resistensi terhadap budaya pop yang bernilai penting untuk dipelajari.
3. Potensi ancaman dalam bentuk-bentuk pemikiran kritis yang melekat (inherent) pada pendidikan media.
Secara umum, literasi media memiliki tiga tujuan pokok, yakni perbaikan dan peningkatan kehidupan individu-individu, pengajaran (literasi media perlu dimasukkan dalam kurikulum pendidikan), dan literasi media sebagai aktivisme dan gerakan sosial (Raharjo,2012:14), sedangkan Masterman mengatakan bahwa tujuan literasi media yaitu untuk menghasilkan masyarakat yang well-informed dapat menilai diri mereka berdasarkan bukti-bukti yang ada. Tujuan literasi media juga di paparkan oleh The National Leadership Confrence yang mengatakan bahwa tujuan mendasar dari literasi media adalah otonomi kritikal dalam berhubungan dengan semua media yang meliputi tanggung jawab sosial, apresiasi dan ekspektasi estetika, advokasi sosialharga diri, dan kompetisi pengguna.
Masterman berpendapat bahwa tujuan dari literasi media adalah untuk menjadikan warga masyarakat menjadi well-informed yang dapat membuatpenilaian mereka sendiri berdasarkan bukti-bukti yang tersedia, bukan hanya sekedar dari kabar burung yang didengar. Pendidikan media tidak berusaha mendesakkan gagasan tentang program-program televisi, surat kabar, film, atau media sosial yang baik atau buruk.
Potter menekankan bahwa literasi media dibangun dari personal locus, struktur pengetahuan, dan skill. Personal locus merupakan tujuan dan kendali kita akan informasi. Ketika kita menyadari akan informasi yang kita butuhkan, maka kesadaran kita akan menuntun untuk melakukan proses pemilihan informasi secara lebih cepat, pun sebaliknya. Struktur pengetahuan merupakan seperangkat informasi yang terorganisasi dalam pikiran kita. Dalam literasi media, kita membutuhkan struktur informasi yang kuat akan efek media, isi media, industri media, dunia nyata, dan diri kita sendiri. Sementara skill adalah alat yang kita gunakan untuk meningkatkan kemampuan literasi media kita.
Menurut Potter, terdapat 7 keterampilan (skill) yang dibutuhkan untuk meraih kesadaran kritis bermedia melalui literasi media. Ketujuh keterampilan atau kecakapan tersebut adalah analisis, evaluasi, pengelompokan, induksi, deduksi, sintesis, dan abstracting. Kemampuan analisis menuntut kita untuk mengurai pesan yang kita terima ke dalam elemen-elemen yang berarti. Evaluasi adalah membuat penilaian atas makna elemen-elemen tersebut. Pengelompokan (grouping) adalah menentukan elemen-elemen yang memiliki kemiripan dan elemen-elemen yang berbeda untuk dikelompokkan ke dalam kategori-kategori yang berbeda. Induksi adalah mengambil kesimpulan atas pengelompokan di atas kemudian melakukan generalisasi atas pola-pola elemen tersebut ke dalam pesan yang lebih besar. Deduksi menggunakan prinsip-prinsip umum untuk menjelaskan sesuatu yang spesifik. Sintesis adalah mengumpulkan elemen- elemen tersebut menjadi satu struktur baru. Terakhir, abstract-ing adalah menciptakan deskripsi yang singkat, jelas, dan akurat untuk menggambarkan esensi pesan secara lebih singkat dari pesan aslinya. Selain sistem yang bergerak dibalik sebuah media, khalayak juga mesti memahami bagaimana hubungan antara media dengan pihak- pihak yang bekerja di dalamnya dan bagaimana hubungannya dengan media itu sendiri. Rosenbaum, Beentjes, dan Konig membuat mapping dimana literasi media bergerak dalam hubungan antara produser, media, dan user.
1. Elemen – Elemen Literasi Media
Literasi media ada dengan tujuan agar orang-orang dapat kritis menilai media yang ada. Karena di tengah keberagaman informasi yang sangat kompleks dapat
memungkinkan seseorang tidak mampu memilih dan memilah informasi apa saja yang dibutuhkan. Ilmuan media, Art Silverblatt (2001) mengidentifikasikan tujuh elemen dasar melek media. Kita akan menambahkan satu elemen lagi ke dalam daftar ini. Melek media meliputi karakteristik berikut ini:
a. Keterampilan berpikir kritis memungkinkan anggota khalayak untuk mengembangkan penelitian yang independen terhadap isi media.
b. Pemahaman terhadap proses komunikasi massa.
c. Kesadaran akan dampak media terhadap individu dan masyarakat.
d. Strategi untuk menganalisisdan mendiskusikan pesan-pesan media.
e. Sebuah kesadaran akan isi media sebagai suatu teks yang menyediakan wawasan bagi budaya dan kehidupan kita.
f. Kemampuan untuk menikmati, memahami, dan menghargai isi media.
g. Pengembangan keterampilan produksi yang efektif dan bertanggung jawab.
h. Pemahaman akan kewajiban etik dan moral para praktisi media. ( Baran J, 2008: 35)
Berikut penjelasan mengenai delapan elemen dalam literasi media:
Pertama, Keterampilan berpikir kritis memungkinkan anggota khalayak untuk mengembangkan penelitian yang independen terhadap isimedia. Berpikir kritis terhadap isi media yang kita serap adalah esensi dasar melek media.
Mengapa kita menonton apa yang kita tonton, membaca apa yang kita baca, mendengar apa yang kita dengar? Jika kita tidak dapat menjawab pertanyaan ini, kita tidak bertanggung jawab terhadap diri kita sendiri dan pilihan kita. Dengan demikian, kita tidak memiliki tanggung jawab terhadap hasil semua pilihan tersebut.
Kedua, Pemahaman terhadap proses komunikasi massa. Jika kita mengetahui komponen-komponen proses komunikasidan keterkaitan komponen- komponen tersebut, kita dapat membentuk suatu ekspektasi bagaimana media akan memberikan pelayanan kepada kita. Bagaimanakah berbagai industri media beroprasi? Apakah kewajiban industri media kepada kita? Apakah kewajiban
industri media kepada khalayak? Bagaimanakah media membatasi dan mengembangkan pesan-pesannya? Bentuk umpan balik seperti apakah yang paling efektif dan umpannya?
Ketiga, Kesadaran akan dampak media terhadap individu dan masyarakat. Tulisan dan mesin cetak menolong dalam mengubah dunia dan manusia di dalamnya. Media massa juga melakukan hal yang sama. Jika kita mengabaikan dampak media dalam hidupkita , kita mengalami resiko terjebak dan terbawa arus perubahan. Bukannya mengendalikan dan mengarahkan perubahan tersebut.
Keempat, Strategi untuk menganalisis dan mendiskusikan pesan- pesan media. Untuk menyerap media massa dengan penuh pemikiran, kita membutuhkan fondasi yang dapat menjadi dasar pemikiran dan refleksi kita. Jika kita membentuk suatu makna, kita harus memiliki alat yang dengan alat tersebut kita menciptakan makna. (Sebagai contohmemahami maksud dan makna video seperti sudut pengambilan gambar dan pencahayaan atau strategi dibalik penempatan foto di halaman surat kabar). Kalau tidak, makna itu diciptakan bagi kita: interpretasi media akhirnya akan terletak pada para pencipta media, bukan pada kita.
Kelima, Sebuah kesadaran akan isi media sebagai suatu teks yang menyediakan wawasan bagi budaya dan kehidupan kita. Bagaimana kitamengetahui budaya dan masyarakatnya, sikap, nilai-nilai, keprihatinan, dan mitos-mitosnya? Kita mengetahui melalui komunikasi. Untuk budaya modren seperti budaya kita, pesan media terus mendominasi komunikasi tersebut, membentuk pemahaman dan wawasan kita terhadap budaya kita.
Keenam, Kemampuan untuk menikmati memahami, dan menghargai isi media. Melek media bukan berarti hidup dalam keluhan, tidak menyukai apapun yang ada dalam media, atau selalu curiga akan dampak yang membahayakan dan adanya degradasi budaya kita.
Ketujuh, Pengembangan keterampilan produksi yang efektif dan bertanggung jawab. Kemampuan baca tulis tradisional mengasumsikan bahwa
orang yang dapat membaca berarti dapat menulis. Elemen melek media ini mungkin sekilas tidak terlalu penting. Lagipula jika anda memilih berkarir di industri media, anda akan mendapatkan sekolah dan pelatihan ditempat anda hendak bekerja. Namun hampir semua profesi mengunakan bentuk media sebagai media yang digunakan dalam penyebaran informasi, presentasi, atau hubungan baik dengan klien.
Kedelapan, Pemahaman akan kewajiban etis dan moral para praktisi media. Untuk membuat penilaian yang informatif terhadap kinerja media. Kita juga harus memahami tekanan persaingan yang dialamai para praktisi media ketika melakukan pekerjaan mereka. Kita harus memahami aturan resmi dan tidak resmi dalam oprasionalisasi media. Dengan kata lain, kita harus mengetahui, masing-masing pertanyaan kekerasan yang ada di dalam layar televisi.
Berdasarkan definisi dan elemen utama literasi media tersebut kita dapat mengklasifikasikan beragam tipe literasi media. Pertama, berdasarkan media yang dituju, literasi media terdiri dari: literasi, literasi media (dalam arti sempit), dan literasi media baru. Kedua, berdasarkan tingkat kecakapan yang berusaha dimunculkan literasi media dapat dibedakan ke dalam tingkat awal, menengah, dan lanjut. Tingkat awal di dalam literasi media biasanya berupa pengenalan media, terutama efek positif dan negatif yang potensial diberikan oleh media.
Literasi media tingkat menengah bertujuan menumbuhkan kecakapan dalam memahami pesan. Kemudian literasi media melahirkan output kecakapan memahami media yang lengkap sampai produksi pesan, struktur pengetahuan terhadap media yang relatif lengkap, dan pemahaman kritispada level aksi, misalnya memberi masukan dan kritik pada organisasi dan menggalang aksi untuk mengritik media. Literasi media berdasarkan lokasi kegiatan dilakukannya paling tidak muncul di tiga tempat, yaitu: di rumah/tempat tinggal, sekolah, dan di kelompok-kelompok masyarakat.
2. Karakteristik Literasi Media
Potter mencatat sembilan karakteristik dari literasi media, atau deskripsi tentang apa yang dibutuhkan seseorang untuk berpikir dan bertindak agar dinilai melek media (Raharjo, 2012:18).
a. Kecakapan dan Informasi merupakan hal yang penting.
b. Literasi media adalah seperangkat perspektif di mana kita mengekspos diri terhadap media dan mengartikan makna dari pesan-pesan yang ditemukan.
c. Literasi media harus dikembangkan. No one is born media literate.
d. Literasi media harus bersifat multi dimensi.
e. Literasi media tidak dibatasi pada suatu medium.
f. Orang yang melek media dapat memahami bahwa maksud dari literasi media yaitu kemampuan mengendalikan pesan-pesan yang menerpanya dan menciptakan makna.
g. Literasi media harus dikaitkan dengan nilai-nilai.
h. Orang yang melek media meningkat terpaan mindfull-nya.
i. Orang yang melek media maupun memahami bahwa literasi media adalah sebuah kontinum, bukan kategori.
Kecakapan dalam berkomunikasi dalam menerjemahkan informasi merupakan kemampuan penting yang dimaksud kemampuan untuk menganalisis mengevaluasi, membuat sintesis, dan ekspresi persuasif. Sisi yang lain menjelaskan, jika memiliki kecakapan-kecakapan namun tidak merepresentasikan diri ke dalam pesan-pesan media atau pengalaman dunia nyata, maka struktur- struktur pengetahuan kita menjadi sangat terbatas dan tidak seimbang. Industri media, isi media, efek media, dan informasi tentang media merupakan kawasan utama dari pengetahuan.
Perspektif dibangun dari struktur-struktur pengetahuan. Struktur pengetahuan akan membentuk landasan untuk bisa melihat fenomena media yang multi aspek:
organisasi, isi, dan efeknya terhadap individu dan institusi. Semakin banyak struktur pengetahuan yang dimiliki, maka akan semakin banyak fenomena media akan dapat dilihat. Semakin berkembang struktur pengetahuan, maka akan
semakin banyak konteks yang dimiliki untuk membantu memahami apa yang dilihat, dan hal tersebut dapat memperluas perspektif dalam melihat media.
Literasi media merupakan sesuatu yang harus dikembangkan dan tidak dapat muncul secara langsung dan hal tersebut mempersyaratkan usaha dari setiap individu. Pengembangan adalah proses jangka panjang yang tidak pernah berhenti, yakni tidak seorangpun akan mencapai tahapan literasi yang lengkap.
Kecakapan akan dapat selalu dikembangkan dalam tingkatan yang lebih tinggi.
Jika kecakapan tidak diperbaiki secara berkelanjutan, maka kecakapan yang dimiliki akan menurun (atrophy). Selain itu, struktur- struktur pengetahuan tidak akan pernah berakhir, karena media dan dunia nyata secara konstan mengalami perubahan.
Berikutnya yaitu informasi dalam struktur-struktur pengetahuan tidak dapat dibatasi pada elemen-elemen kognitif saja, tapi juga berisi elemen- elemen emosional, moral dn estetika. Struktur-struktur pengetahuan yang kuat akan berisi informasi dari empat ranah tersebut. Jika salah satu tipe informasi hilang, maka struktur pengetahuan menjadi kurang tereleborasi.
Informasi dalam struktur pengetahuan tidak terbatas pada unsur kognitif saja tetapi juga harus mengandung unsur-unsur emosional, estetika, dan moral.
Empat jenis elemen bekerja sama dimana kombinasi dari masing-masing ketiga jenis elemen lainnya membantu mememberikan konteks untuk jenis yang struktur pengetahuan yang kuat berisi informasi dari keempat elemen tersebut. Jika ada salah satu jenis informasi yang hilang, maka struktur pengetahuan itu akan menjadi kurang rinci dari yang seharusnya. Sebagai contoh, orang-orang yang memiliki struktur pengetahuan tanpa informasi emosional, akan tetap dapat melakukan analisis dan mengutip banyak fakta tentang sejarah genre film ketika mereka menonton film bahkan memahami sudut pandang produsernya. Namun jika tidak dapat merasakan reaksi emosionalnya, mereka hanya melakukan sesuatu yang bersifat akademis saja serta kering.Gagasan lama mengenai literasi media hanya dibatasi pada kegiatan membaca dan lambang-lambang komunikasi yang diakui saja. Literasi media adalah hal yang luas, yakni mengkonstruksikan makna dari pengalaman dan konteks ekonomi, budaya, politik dan lain sebagainya.
Menjadi melek media merupakan kemampuan melakukan kontrol terhadap terpaan media dan mengkonstruksi makna dari pesan-pesan yang disampaikan oleh media. Ketika orang-orang melakukannya, maka mereka mengendalikan dengan menentukan apa yang penting dalam hidup mereka dan menata harapan untuk memperoleh pengalaman dari hal-hal yang penting. Jika seseorang tidak melakukannya, maka pesan-pesan media akan melimpah ke dalam kondisi yang kurang menguntungkan.
Setiap media memiliki karakteristik yang berbeda, misalnya dalam menggunakan simbol-simbol, cara memandang khalayak, motivasi mereka dalam melakukan bisnis, dan estetika yang mereka gunakan. Semakin seseorang mengetahui perbedaan-perbedaan ini, mereka akan semakin dapat menghargai persamaan dan semakin mereka dapat memahami bahwa pesan memiliki sifat yang sensitif terhadap medium yang digunakan.
Masterman berpendapat bahwa pendidikan literasi media tidak berusaha untuk memaksakan nilai-nilai budaya tertentu. Dia melanjutkan, ini tidak berusaha untuk memaksakan ide-ide tentang apa yang merupakan baik atau buruk dalam televisi, surat kabar, atau film. Pendapat itu mengandung nilai tertentu, walau para pendidik literasi media tidak dapat mendefinisikan mana pesan buruk dan baik, mereka menyiratkan bahwa mengakses media tanpa berpikir adalah sesuatu yang tidak baik, dan bahwa menafsirkan pesan secara aktif adalah sesuatu yang masalahnya bukan pada apakah literasi media sarat nilai atau tidak. Isunya difokuskan pada identifikasi apa nilai-nilai tersebut dan siapa yang mengontrolnya (indonesia-medialiteracy.net). Seseorang yang memiliki perspektif yang luas pada fenomena media, memiliki potensi tinggi untuk bertindak dengan cara seperti orang yang memiliki literasi media yang tinggi. Kumpulan struktur pengetahuan tidak dengan sendirinya menunjukkan tingkat literasi media. Orang tersebut harus secara aktif dan penuh kesadaran menggunakan informasi dalam struktur pengetahuannya selama dia terpaparpesan media. Dengan demikian, orang-orang yang lebih tinggi tingkat literasi medianya menghabiskan lebih sedikit waktu untuk memproses pesan secara mereka lebih sadar terhadap paparan media dan secara sadar membuat keputusan tentang penyaringan psan, dan membangun
pemaknaan. Ini bukan berarti bahwa orang-orang yang memiliki tingkat literasi media yang tinggi tidak menghabiskan banyak waktu dalam pengolahan otomatis.
Mereka tetap melakukannya. Namun demikian, pada saat mereka berada dalam kondisi otomatis, mereka sedang diatur oleh media.
Literasi media lebih tepat dipandang sebagai sebuah kontinum seperti informasi yang ditunjukkan dalam termometer, bukan bersifat kategorikal. dimana ada derajat yang tinggi dan derajat yang rendah. Kita semua menempati dalam beberapa posisi pada literasi media yang bersifat Tidak ada gunanya mengatakan bahwa seseorang tidak memiliki literasi media sama sekali, dan tidak ada titik di ujung yang tinggi dimana kita dapat mengatakan bahwa seseorang memiliki tingkat literasi media yang sempurna.
Dari penjelasan mengenai keterampilan berpikir kritis mengenai literasi media yang dapat dilihat pada khalayak, berbeda dengan literasi media yang dimiliki oleh anak – anak yang merupakan bagian dari khalayak yang turut mengkosumsi media. Anak – anak memiliki cara tersendiri dalam menilai, memilih, membandingkan dan mengkritisi media yang dikonsumsinya. Anak – anak adalah manusia yang berada pada usia 0 – 12 tahun yang masih berfikir secara sederhana dan menafsirkan apa yang ia lihat sebagai suatu fenomena yang benar terjadi. Namun demikian, bukan berarti anak sama sekali tidak memiliki kemampuan dalam menilai dan memilih apa yang ia lihat. Terdapat kemungkinan bahwa anak dengan rentang usia 0-9 tahun dianggap belum mempunyai keterampilan yang cukup dalam bermedia. Namun, pada anak yang berusia 9-12 tahun sudah mulai terlihat memiliki keterampilan bermedia walau masih tergolong sederhana.
Penonton anak yang berusia 9-12 tahun dianggap telah mampu memilih, menilai dan menentukan tayangan seperti apa yang ia suka untuk ditonton. Anak – anak telah mampu menentukan apakah ia harus menonton animasi atau film pendek, dan dan ia berhak memilih jenis tayangan seperti apa yang ia butuhkan, apakah tayangan yang berisi informasi atau hiburan.
2.2.4 Program Televisi
Kata “program” berasal dari bahasa inggris programme atau program yang berarti acara atau rencana. Undang-Undang Penyiaran Indonesia tidak menggunakan kata program untuk acar tetapi menggunakan istilah siaran yang didefinisikan sebagai pesan atau rangkaian pesan yang disajikan dalam berbagai bentuk. Namun kata program lebih sering digunakan di dunia penyiaran daripada kata siaran.
Program adalah segala hal yang ditampilkan stasiun penyiaran untuk memenuhi kebutuhan audiensnya (Morissan, 2008:210). Dengan kata lain, program adalah ragam acara yang ditayangkan oleh media penyiaran untuk menyampaikan pesan kepada audiensnya. Pesan yang dimaksud dapat berupa informasi ataupun hiburan yang dapat dinikmati sesuai kebutuhan audiens.
Stasiun Televisi setiap harinya menyajikan berbagai jenis program yang sangat beragam. Pada dasarnya apa saja dapat dijadikan program selama isi dari program tersebut tidak bertentangan dengan kesusilaan, hukum dan peraturan yang berlaku (Morissan, 2008:217). Morisan membagi jenis program sebagai berikut:
1. Berita Keras (Hard news)
Berita keras (hard news) adalah segala informasi penting dan menarik yang harus segera disajikan oleh media penyiaran karena sifatnya harus segera ditayangkan agar dapat diketahui khalayak audien secepatnya. Dalam hal ini berita keras dapat dibagi ke dalam beberapa bentuk berita yaitu:
Straight News berarti berita “langsung” (Straight News). Maksudnya suatu berita yang singkat (tidak detail) dengan hanya menyajikan informasi terpenting saja yang mencangkup 5W+1H (who, what, where, when, why, dan how) terhadap suatu peristiwa yang diberitakan. Berita jenis ini sangat terkait waktu (deadline) karena informasi nya sangat cepat basi jika terlambat disampaikan kepada audiens.
Feature merupakan program berita yang menampilkan berita - berita ringan seperti informasi mengenai tempat makan yang enak atau tempat liburan yang menarik semacam ini disebut feature. Dengan demikian. Feature adalah berita ringan (soft news) namun menarik. Pengertian “menarik” disini adalah informasi yang lucu, unik, aneh, menimbulkan kekaguman, dan sebagainya. Tidak terlalu terikat dengan waktu penayangan, namun karena durasinya singkat (kurang dari lima menit) dan ia menjadi bagian dari program berita, maka feature masuk ke dalam kategori hard news. Jika feature terkait dengan peristiwa penting atau terkait dengan waktu harus segera disiarkan dalam suatu program berita disebut dengan news feature.
Laptop Si Unyil adalah program televisis yang menyajikan konten yang bersifat menarik. informasi dikemas dalam secara unik dan lucu dengan menggunakan tokoh boneka sebagai pembawa acaranya. Latar belakang tempat isi program juga beragam, mulai dari tempat wisata, pabrik, rumah masyarkat dan lingkungan yang dipenuhi dengan anak-anak yang sedang bermain. Tetap memberikan informasi namun dengan cara penyampaian yang tidak monoton.
Selain itu pula, informasi yang disajikan merupakan informasi yang bersifat umum dan menambah wawasan bagi audiensnya. Pengetahuan lokal seperti permainan tardisional yang berasal dari beberapa daerah di Indonesia yang dibuat dengan kreatifitas, informasi mengenai pembuatan produk tertentu yang pada umumnya beredar di masyarakat. Seperti pembuatan tahu dan tempe, pengolahan beragam makanan berbahan dasar buah-buahan dan pembuatan mesin elektronik.
Karena menyajikan beragam informasi tersebut, maka program Laptop Si Unyil tidak terikat dengan waktu penayangan.
Infotaiment, berita yang menyajikan informasi mengenai kehidupan orang- orang yang dikenal masyarakat (celebrity), dan arena sebagian besar dari mereka bekerja pada industri hiburan, seperti pemain film/sinetron, penyanyi, dan sebagainya. Infotainment adalah salah satu bentuk berita keras karena memuat informasi yang harus segera ditayangkan. Program berita reguler terkadang menampilkan berita mengenai kehidupan selebritis yang biasanya disajikan pada segmen akhir suatu program berita.
2. Berita Lunak (Soft News)
Berita lunak (soft news) adalah segala informasi yang penting dan menarik yang disampaikan secara mendalam namun tidak bersifat segera ditayangkan.
Program yang masuk ke dalam kategori berita lunak adalah:
Current Affair Program yang menyajikan informasi terkait dengan suatu berita penting yang muncul sebelumnya namun dibuat secara lengkap dan mendalam, cukup terikat dengan waktu. Batasannya adalah bahwa selama isu yang dibahas masih mendapat perhatian khalayak maka current affair dapat disajikan. Misalnya, program yang menyajikan cerita mengenai kehidupan masyarakat setelah ditimpa bencana alam dahsyat, seperti gempa bumi atau tsunami.
Magazine, diberi nama magazine karena topik atau tema yang disajikan mirip dengan topik-topik atau tema yang terdapat dalam suatu majalah. Magazine adalah program yang menampilkan informasi ringan namun mendalam, dengan kata lain magazine adalah feature dengan durasi lebih panjang, ditayangkan pada program tersendiri yang terpisah dari program berita.
Dokumenter adalah program informasi yang bertujuan untuk pembelajaran dan pendidikan namun disajikan dengan menarik. Misalnya, menceritakan mengenai suatu tempat, kehidupan atau sejarah seorang tokoh, kehidupan atau sejarah suatu masyarakat (misalnya suku terasing) atau kehidupan hewan di padang rumput dan sebagainya. Suatu program dokumenter adakalanya dibuat seperti membuat sebuah film sehingga sering disebut dengan film dokumenter.
Talk Show Program talk show atau perbincangan adalah program yang menampilkan satu atau beberapa orang untuk membahas suatu topik tertentu dipandu seorang pembawa acara (host). Mereka yang diundang adalah orang- orang yang berpengalaman langsung dengan peristiwa atau topik yang diperbincangkan atau mereka seorang ahli dalam masalah yang tengah dibahas.