• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV PEMBAHASAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "BAB IV PEMBAHASAN"

Copied!
18
0
0

Teks penuh

(1)

26

BAB IV PEMBAHASAN

4.1. Origin of NATO Economic Interdependence with Russia

Kerjama sama antara NATO dan Rusia sudah terjadi semenjak perang dingin, terutama dengan Pakta Warsawa yang pada saat itu berdagangan dengan NATO melalui Jerman yang terbagi menjadi dua. Saat itu Jerman barat, nama resminya adalah Republik Federal Jerman adalah negara persatuan dari 3 partisi teritori Jerman diokupasi oleh sekutu pasca perang dunia kedua. Sedangkan Jerman timur, nama resminya Republik Demokratis Jerman adalah negara bentukan Uni- Soviet yang merupakan anggota dari Pakta Warsawa. Kedua negara ini merupakan jembatan dan ujung tombak masing-masing kubu selama masa perang dinging.

Kondisi ini menyebabkan terjadinya upaya untuk memperkuat kapasitas militer kedua negara oleh sebab pendukung dari kedua pihak, menjadikan kawasan Jerman tidak hanya sebagai jembatan untuk perdagangan antar dua kubu pengaruh dapat saling bertukar produk dan jasa, namun juga potensi lokasi pertempuran antar kedua negara adidaya pada era tersebut.

Tidak lama setelah keruntuhan Uni-Soviet dan peleburan Pakta Warsawa, salah satu prioritas negara-negara bekas jajahan Rusia, tidak hanya mencari cara bagaimana secara politik mampu menjauhi dari bekas penjajah negara mereka seperti dengan bergabungnya beberapa negara bekas jajahan Uni-Soviet kedalam NATO, yaitu negara-negara yang berbatasan dengan Rusia secara langsung yang sekarang merupakan ancaman dan sebelumnya merupakan titik lemah dari pakta pertahanan ini adalah 3 negera Baltik, yaitu Estonia, Lithuania dan Latvia dan Polandia. Diikuti dengan upaya masing-masing negara agar bisa membangun perekonomian mereka dengan tidak menutup kemungkinan untuk terus melanjutkan proses perdagangan dengan Rusia, dengan maksud untuk tidak harus bergantung secara sosio-politik dan tanpa merelakan kedaulatan mereka kepada Rusia lagi. Namun demi memuaskan permintaan dari Rusia pada saat itu, pasca peleburan Uni-Soviet.

Jumlah pasukan dan tentara dibawah pimpinan NATO yang ditetapkan dalam

(2)

27

negara tersebut dapat dibilang sangat minim dengan jumlah dibawah lima ribu personil terbagi antara 3 negara Baltik dan Polandia.

Gambar 1 : Negara Eropa yang bergantung pada Gas dari Rusia1

Meskipun Uni-Soviet telah terpecah dan member-member NATO terbaru semua memulai proses melepaskan ketergantungan mereka dengan Rusia, tetap saja ada sebagian contoh negara-negara anggota NATO yang memiliki ketergantungan dengan Rusia saat ini. Salah satu dari negara yang bergantung pada Rusia saat ini adalah Jerman, sesuai laporan tahunan konsumpsi energi Jerman. Sekitar 45% total gas alam, 35% total petrolium, serta 25% dari total kebutuhan batu bara industri

1 Buchholz, Kataharina. 2022. “Which European Countries Depend on Russian Gas?” Statista.

Diakses dari https://www.statista.com/chart/26768/dependence-on-russian-gas-by-european- country/ pada tanggal 14 April 2022.

(3)

28

Jerman butuhkan tercukupi dengan membeli dari Rusia. Ketergantungan ini bisa dijelaskan dengan menarik kembali fakta bahwa Jerman sebelum reunifikasi sudah terbiasa melakukan hubungan dagang dengan Rusia, baik oleh Jerman Barat maupun Jerman Timur oleh sebab lokasinya yang strategis antara kedua kubu adidaya selama masa perang dingin.

4.2. NATO-Russia Interdependence at the start of the invasion

Tidak lama setelah NATO mengumumkan mereka memposisikan diri pro- Ukraina setelah Rusia memulai operasi khusus militer mereka, sanksi mulai dikerahkan terhadap Rusia. Salah satu sangksi yang paling terlihat jelas berdampak pada elit politik Rusia adalah pembekuan aset-aset oligarki mereka. Hal ini menyebabkan banyak dari bantuan dan investasi dari Rusia berikan terhadap bisnis, dan proyek yang sedang berjalan di Eropa seperti Nordstream ke-2 harus terhambat dalam menjalankan operasionalnya. Akuisisi aset tersebut dan pembekuannya tidak hanya membuat pemilik modal dan aset tersebut tidak dapat mengambil atau menggunakannya, namun juga menganggu penerimaan hasil dari investasi untuk oligarki Rusia sendir oleh sebab pemberhentian dadakan terhadap sumber pemasukan finansial mereka.

Selain dari pembekuan aset, NATO juga melihat perlunya membantu Ukraina dalam bentuk pemberhentian pengiriman barang elektronik, termasuk komponen vital dalam penyelesaian produk tersebut seperti chip komputer, izin pengunaan software, hingga komponen mikro lainnya. Dampak dari pembekuan ini terlihat terutama dalam dunia industri produksi Rusia yang berperan dalam menjalankan operasional memproduksi barang untuk dagang maupun perlengkapan memperlengkapi prajurit dalam medan pertempuran, komplikasi ini terjadi oleh sebab keterkaitan yang Rusia miliki dengan negara anggota NATO, mana sebagai balasan Rusia semenjak masa perang dingin berani menjadi penyedia gas alam, minyak bumi dan batubara murah bagi negara Eropa yang mau membeli.

Mengetahui bahwa ternyata tidak hanya negara dalam NATO yang bergantung terhadap Rusia, namun juga Rusia bergantung kembali pada NATO, sebuah

(4)

29

pertanyaan patut dikeluarkan tentang mengapa tindakan yang dapat dibilang kontradiktif dengan maksud dari menjadi interdependensi satu sama lain akan mengurangi terjadinya konflik namun bisa dilihat dini bahwa pihak baratlah sebagai pihak pertama yang memutus ketergantungan ekonomi atas satu sama lain.

Untuk menjawab pertanyaan tersebut hal pertama dilihat melihat konsekuensi negatif apa yang mereka harus hadapi dengan memberikan sanksi tersebut.

kemudian keuntungan apa yang pihak barat terutama negara di bawah naungan NATO akan dapatkan dengan berusahaan melepaskan diri dari interdependensi ekonomi dengan Rusia.

Pertama yang perlu dilihat adalah dampak negatif negara anggota NATO hadapi dengan memberlakukan berbagai macam sanksi mereka kerahkan terhadap Rusia.

Melihat dampak negatif pihak barat harus alami dengan sanksi mereka lakukan dan keterlibatan mereka dalam sebuah perang ekonomi.

Kedua adalah melihat sisi sebaliknya, apa hal positif yang mereka dapatkan dengan mengorbankan pemberi hasil tambang dan perminyakaan termurah bagi benua Eropa.

4.3. NATO Responses to support Ukraine

Berbicara tentang Ukraina, hal lain yang dilakukan oleh NATO secara bersamaan dengan menghukum Rusia dengan perang ekonomi mereka adalah pihak barat melibatkan diri secara tidak langsung dalam konflik ini dengan membentuk perang menjadi Proxy War antara Rusia dengan NATO, peran tidak langsung yang mereka ambil berupa dalam 2 bentuk,bantuan sebagai penyedia atau bantuan sebagai pemberi.

Dalam upaya membantu Ukraina, negara tetangganya, mulai dari Lithaunia, Polandia, Hungaria, Moldova dan Romania semua memiliki peran dalam menerima pengungsi dari Ukraina dan tempat untuk memperbaiki kendaraan perang serta menyediakan tempat pelatihan prajuritnya dalam perbatasan NATO. Upaya ini tidak hanya memberikan kesempatan bagi para masyarakat Ukraina, tempat mana orang tersayang masing-masing dapat keluar dari zona konflik dan tidak harus

(5)

30

dilibatkan dalam konflik ini. Terlebih juga memperbolehkan para personil militer Ukraina untuk melatih rekrut dan para relawan tanpa ada ancaman serangan dari pasukan Rusia menuju area pelatihan, serta lokasi perbaikan untuk menjaga kondisi kendaran yang mereka gunakan dalam konflik ini.

Melihat peran vital negara-negara yang berbatasan dengan Ukraina dalam membantu negara itu untuk bertempur dan memastikan Rusia terkunci dalam konflik dengan Ukraina, maka satu hal yang perlu diketahui adalah aksi yang dilakukan oleh negara-negara NATO tidak hanya terletak pada negara yang bersebelahan menyediakan bantuan kemanusiaan serta menyediakan bantuan berdasarkan kepentingan nasional. Salah satunya adalah memungkinan industri dari negara-negara ini berkembang dengan terjadi konflik. Salah satu industri yang tentu akan berkembang saat perang terjadi adalah industri persenjataan dan kendaraan perang. Melihat hal yang terjadi dalam perang ini, perusahaan-perusahaan yang berorientasi pada militer memiliki kenaikan dalam jumlah produksi dan pesanan yang mereka terima oleh negara pihak barat. Lonjakan tersebut terjadi oleh sebab stok persenjataan mereka yang lama, terutama yang berasal dari masa perang dingin diproduksi oleh Uni-Soviet, semuanya dialihkan untuk dapat didonasikan kepada pasukan Ukraina, sebab personil mereka tentu lebih paham cara menggunakan perlengkapan dan persenjataan dibuat oleh Uni-Soviet ketimbang dibuat oleh NATO.

Negara seperti Polandia, Slovenia, Republik Ceko, bahkan Romania dan ketiga negara Baltik, semuanya berkontribusi dalam mengirimkan stok perlengkapan dan kendaraan perang yang mereka miliki yakni bekas dari era perang dingin kepada Ukraina. Sementara itu negara seperti Amerika Serikat, Jerman dan Inggris, masing-masing memutuskan untuk mengirimkan bantuan dalam bentuk suntikan dana. Secara singkat negara-negara anggota NATO memprioritaskan upaya apa saja yang mereka dapat lakukan melemahkan Rusia hingga ke titik tidak bisa dapat melanjutkan konflik ini dalam jangka waktu kedepan menjadi bentuk pertahuran pihak barat ambil demi membela Ukraina

(6)

31 4.4. Russian Attempt to Negate NATO Actions

Rusia sebagai negara pusat dari Uni-Soviet tentu menjadi negara yang mendapatkan warisan baik berbentuk ekonomi dan militer. Warisan ini menjadi penting dalam upaya mereka untuk melakukan transisi dari perekonomian berbasis pada sistem sosialisme menjadi kapitalisme. Namun berkat upaya oleh pendahulu mereka dalam mengintegrasikan ekonomi swasta menjadi bagian dalam pemerintah membuat upaya yang dilakukan oleh rezim Putin untuk mengkonsolidasikan kekuasaan mereka agar mendapatkan dukungan sepenuhnya dari para oligarki dan orang-orang paling kaya dan berpengaruh di Rusia dalam invasi yang sedang terjadi. Salah satu hasil dari konsolidasi ini adalah terbentuknya integrasi ekonomi Rusia. Sepenuhnya di bawah kendali mereka yang pro terhadap invasi tersebut, dengan kepemilikan akumulasi cadangan devisa yang terbilang berjumlah cukup besar untuk membiayai sebagian besar kebutuhan operasional operasi khusus militer.

Salah satu hal yang dilakukan oleh Kremlin tidak lama setelah menjalankan operasi militer mereka adalah untuk berupaya mencari cara menstabilkan perekonomian mereka setelah banyaknya saksi dan kecaman dikerahkan oleh pihak barat. Salah satu upaya menstabilkan perekonomian tersebut, adalah dengan menahan investasi dan keuangan dari pihak asing sebagai bentuk pembalasan atas apa yang dilakukan oleh pihak barat. Namun sayangnya pembekuan aset oligarki Rusia ini justru menyebabkan Rusia kehilangan cukup banyak jumlah total keuangan mereka sekitar 30% dari total devisa asing telah ditahan oleh pihak barat termasuk Switzerland.

Metode lain yang digunakan untuk mencegah terjadinya resesi ekonomi Rusia akibat dari sanksi yang dikerahkan oleh pihak barat adalah berupa subsidi pada nilai mata uang Ruble. Hal ini menjadi langkah yang signifikan merespon pemutusan yang terjadi antara bank sentral Rusia dengan pasar saham dan sebagai satu-satunya cara untuk mempertahankan likuiditas dan solvabilitas Ruble itu sendiri.

Rusia kemudian mulai mengimplementasikan kebijakan baru stelah kehilangan sumber pemasukan terbesar mereka. Seperti diketahui negara-negara anggota

(7)

32

NATO sejak dulu merupakan sebagai pelanggan terbesar yang terus membeli hasil tambang dan perminyakan Rusia baik itu Jerman sebagai pembeli gas alam terbesar, maupun Hungaria sebagai pembeli minyak bumi terbesar. Rusia harus mampu mencari pelanggan lain yang dapat membeli dengan harga lebih rendah namun dalam jumlah kuantitas yang mirip dengan pembeli dari Eropa. Langkah kebijakan ini berujung pada Indonesia, China dan India sebagai pasar pengganti pembeli gas alam dan minyak bumi Rusia, meskipun tentu hal ini masih akan merugikan Rusia dalam jangka panjang. Namun Rusia saat ini memerlukan konsumen mengingat hampir setengah dari total pemasukan Rusia diperoleh dari hasil ekspor sumber energi. Hal ini menjadi alasan mengapa Rusia terdesak dalam mencari cara untuk memanipulasi harga minyak bumi dengan meminta bantuan dari negara anggota Organization of Petroleum Exporting Countries (OPEC). Rusia juga memberikan syarat bagi negara barat yang masih ingin membeli energi dari Rusia, untuk melakukannya melalui mata uang Ruble. Kremlin berharap transaksi tersebut dapat memberikan pemasukan devisa ke dalam bank sentral Rusia, sehingga dapat membantu upaya menstabilkan perekonomiannya selama perang ini berlangsung.

Rusia masih mampu bertahan meskipun setelah melalui berbagai masalah yang bermunculan akibat dari sanksi NATO, Rusia masih mampu bertahan, terlebih lagi operasi militer khusus Rusia masih terus berlanjut. Salah satu penyebab perang terus berlanjut dapat dikatakan berasal dari keunggulan yang Rusia miliki terhadap Ukraina, dari segi luas wilayah ukurannya jauh lebih besar dari negara-negara lain.

Ukuran yang besar inilah menyebabkan berbagai macam keuntungan bagi Rusia pada awal mula konflik ini. Seperti contohnya selain Ukraina, Rusia juga merupakan keranjang gandum dunia yang mampu menjadi pemasok terbesar kebutuhan gandum dunia. Selain itu sebagai negara anggota OPEC, Rusia juga memberikan pengaruh positif dalam menentukan harga pasar terkait minyak bumi dan gas alam.

Dari keunggulan tersebut Rusia tidak hanya mampu menjadi aktor yang dapat memanipulasi harga energi industri bagi banyak negara, namun juga mampu memanfaatkan situasi krisis pangan yang sedang melanda banyak negara akibat dari

(8)

33

kekeringan berkepanjangan yang terjadi. Rusia juga mulai menahan Ukraina untuk mengekspor produk mereka ke negara-negara yang sedang dilanda oleh kekeringan dan masalah kelaparan. Hal ini memperparah krisis yang sedang terjadi hingga sekarang akibat dari metode Rusia yang ingin mendorong pihak barat untuk kembali bernegosiasi dalam satu meja dengan Rusia untuk melepaskan dan melanjutkan proses pengiriman hasil pangan dari Rusia dan Ukraina sebagai keranjang gandum dunia dengan syarat pihak barat harus menghentikan dukungan terhadap Ukraina.

Tentu saja upaya yang dilakukan oleh Rusia ini tidak berhasil karena PBB dan delegasi dari negara-negara yang terdampak berhasil membujuk Rusia untuk melanjutkan ekspor gandum ke negara-negara tersebut. Rusia juga memblokade pengiriman gandum Ukraina yang dikirimkan melalui jalur laut oleh sebab itu Ukraina mulai mendistribusikan ekspor mereka melalui jalur alternatif yaitu melalui darat dan dilanjutkan oleh negara-negara NATO untuk kemudian dikirimkan menuju pelanggan gandum mereka. Rusia juga melakukan hal serupa namun dalam volume yang lebih sedikit. Penyebabnya ialah fakta bahwa semenjak konflik ini dimulai, konsumsi gandum domestik, Rusia mulai meningkat sehingga langkah yang harus diambil untuk menahan ekspor gandum tersebut ternyata tidak begitu menghasilkan hal positif bagi pihak Rusia.

Sementara itu dalam hal minyak bumi dan gas alam, Rusia telah mencoba meyakinkan OPEC untuk bekerja sama dengan mereka terutama dengan Arab Saudi. Tujuannya ialah agar Rusia tidak mengalami kerugian dari hasil penjualan minyak dan gas alam mereka ke China, India dan Indonesia, dengan membujuk Arab Saudi untuk melakukan pengurangan kuota perminyakan yang mereka produksi pada tahun ini. Tindakan ini diikuti oleh beberapa negara anggota OPEC lain yang memiliki hubungan bilateral dengan Rusia, seperti Indonesia. Ekspetasi dari langkah ini adalah untuk memaksa negara-negara anggota NATO yang memiliki tingkat konsumsi energi yang tinggi agar lebih enggan membantu Ukraina dan merubah untuk merubah fokus mereka pada perbaikan dan penstabilan harga minyak bumi dan gas alam.

(9)

34

Namun tentu, tekad pihak barat dan upaya yang telah mereka kerahkan, justru berujung pada munculnya komitmen untuk menjadi lebih mandiri dalam hal konsumi energi. Hal ini terutama bagi mereka yang memiliki ketergantungan signifikan terhadap Rusia seperti Hungaria, Jerman, Romania dan Slovenia.

Selain dari aspek internal Rusia, secara internasional tidak asing bahwa beberapa negara-negara seperti Iran, Syria, Belarus, Serbia, China dan Korea Utara memiliki kepentingan untuk bersekutu dengan Rusia. Negara-negara ini secara konsekuensi mendukung atau mengakui operasi khusus militer yang dikerahkan oleh Rusia.

Bahkan negara anggota CSTO, karena ikatan mereka miliki dengan Rusia sebagai pemimpin de facto dalam organisasi tersebut harus “mendukung” operasi spesial militer tersebut.

Jelas jika kita melihat negara-negara yang mendukung Rusia dalam konflik ini, maka terlihat hanya China dan negara anggota CSTO yang memiliki relevansi dalam memberikan pengaruh besar legitimasi secara diplomatis, namun juga melihat kembali apa yang menjadi kepentingan negara sekutu terhadap Rusia maka tentu apa yang ditawarkan oleh Rusia mampu mendorong mereka untuk bersedia membantu berjalannya operasi spesial militer ini.

Hal penting yang perlu diketahui adalah terdapat kesamaan dari beberapa negara yang mendukung Rusia tersebut dibandingkan negara-negara yang mendukung Ukraina. Melihat negara berada dipihak barat yang menjadi kontributor utama dan pihak yang memilih untuk membela Ukraina, dapat dilihat kesamaan mereka dalam bentuk pemerintahan demokratis atau pada umumnya bersifat liberal, sedangkan melihat negara yang membela Rusia sebagian besar pada esensinya memiliki pemerintahan otoriter atau umumnya memiliki sifat konservatif, maka bisa dikatakan kemiripan negara pendukung dengan negara yang didukung juga memiliki peran mengapa ada saja negara yang ingin mendukung upaya Rusia dalam menginvasi Ukraina dalam operasi khusus militer mereka kerahkan pada februari awal tahun ini.

(10)

35

4.5. Changes since the start of Russian Invasion of Ukraine

Semenjak bermula perang tersebut, banyak perubahan yang terjadi tidak hanya dari kebijakan oleh NATO namun juga cara mereka membendung Rusia. Salah satunya termasuk memperlengkapi baik negara Baltik, Romania dan Polandia dan melalui proksi 5 negara tersebut. Mereka akan secara terus menerus mengirimkan bantuan kepada Ukraina, baik itu berupa kiriman dari Amerika Serikat, menyediakan tempat pelatihan maupun memperkuat militer negara sendiri untuk memberikan efek deteren terhadap Rusia. Melalui adanya transisi perubahan kebijakan ini, dapat dikatakan upaya mempersenjatai dan melengkapi pasukan Ukraina merupakan perpanjangan kebijakan oleh pihak barat. Asumsi bahwa dengan tindakan ini, Ukraina akan mampu memastikan Rusia terkunci dalam konflik ini dan menjadi lemah dan rentan terhadap sanksi yang diberikan oleh pihak barat.

Selain dari mempersenjatai Ukraina, pihak barat juga memutuskan sudah saatnya terjadi pemutusan baik secara formil maupun tidak formil dalam hubungan bisnis antara pihak barat dengan Rusia. Hal ini dilakukan setelah melihat sanksi tidak begitu cukup dalam melemahkan mata uang maupun jumlah pemasukan Rusia dapatkan melalui perdagangannya menjual gas alam dan minyak bumi. Salah satu bentuk penghapusan yang terjadi dan dilakukan oleh negara anggota NATO adalah Amerika Serikat dengan otoritas dari Belgium untuk memutuskan akses bagi bank sentral Rusia menggunakan Society for Worldwide Interbank Financial Telecommunications (SWIFT) dalam pasar saham global.

(11)

36

Gambar 2 : Perusahaan yang telah memberhentikan operasi dalam Rusia2 Terlihat tidak hanya aksi dari negara yang menghilangkan Rusia dari mengakses pasar global selayaknya negara Eropa lain, namun juga pemutusan jalinan kerja sama terbuka sejatinya oleh perusahan dari negara-negara pihak barat. Terutama perusahan dalam bidang informatika dan penjual produk barang jadi, oleh sebab implikasi negatif yang akan terjadi jika mereka tetap memiliki kaitan dengan Rusia.

Karena implikasi tersebut perusahaan-perusahaan besar seperti Mersk dalam bidang pengiriman barang atau logistik, Mcdonald sebagai perwakilan dalam bidang konsumsi dan Microsoft sebagai wakil perusahaan dibidang informatika adalah contoh perusahaan-perusahaan yang keluar dari Rusia dan kalaupun tidak memberhentikan operasi, mereka memutuskan untuk membuat cabang mereka dalam Rusia harus beroperasi tanpa dukungan dari pusat oleh sebab pemutusan asosiasi perusahaan tersebut dengan Rusia.

Terlihat dari dorongan yang terjadi pasca perusahaan tersebut keluar dan ekonomi Rusia yang secara menyeluruh menjadi terisolasi. Sehingga terjadi situasi Brain

2 Yale School of Management. 2022. “Over 1000 Companies Have Curtailed Operations in Russia, But Some Remain”. Diakses dari https://som.yale.edu/story/2022/over-1000-companies-have- curtailed-operations-russia-some-remain pada tanggal 23 November 2022.

(12)

37

Drain oleh sebab banyak penduduk Rusia yang harus pindah agar mereka dapat mempertahankan pekerjaan maupun jabatan mereka. Hal ini berdampak pada migrasi massal yang merupakan salah satu bentuk upaya pihak barat melemahkan perekonomian Rusia. Membuat sanksi dari mereka untuk dapat lebih efektif dengan mengurangi jumlah total populasi yang memiliki pekerjaan spesialis maupun buruh yang berkontribusi pada total pemasukan keuangan Rusia terima, dan dari proses mengisolasi dan mendorong perpindahan penduduk mengikuti perusahaan pihak barat yang pergi menjadi perpanjangan rencana NATO melemahkan Rusia tanpa harus melibatkan diri mereka dalam konflik Rusia-Ukraina tanpa harus terlibat secara langsung secara militer.

Perubahan terakhir adalah masuknya Finlandia dan Swedia, kedua negara yang pada umumnya relatif netral baik terhadap pihak barat maupun terhadap Rusia.

Begitu juga konsiderasi dari Moldova dan Georgia untuk mendekatkan relasi mereka dengan pihak barat juga dapat dilihat sebagai sesuatu yang sangat menguntungkan pihak barat. Oleh sebab keempat negara ini pada sebelumnya dikenal sebagai pihak netral dalam beberapa dekade akhir ini, oleh sebab itu dengan proses bergabungnya Finlandia serta Swedia dan transisi kepentingan Moldova dan Georgia meruapakan momen penting dalam upaya NATO untuk membendung potensi Rusia mengancam negara anggotanya.

4.6. NATO on Overcoming Economic Interdependences

Upaya NATO dalam mengatasi masalah interdependensi ekonomi mereka dengan Rusia tentu tidaklah mudah. Seperti yang diketahui, Rusia memiliki sekutu yang membantu mereka dalam masa perang serta memiliki keunggulan secara materi dan wilayah dibandingkan dengan Ukraina. Berikut adalah perbandingan konsekuensi yang harus dihadapi oleh NATO dan keuntungan yang mereka dapatkan setelah mampu mengatasi permasalahan Interdependensi Ekonomi yang negara-negara anggotanya hadapi :

Pertama, adalah melihat dari sisi kerugian. Secara umum tentu tidak semua negara anggota NATO berhasil dalam melepaskan ketergantungan yang mereka miliki

(13)

38

terhadap Rusia sebagai sumber energi serta mitra dagang mereka. Oleh sebab itu salah satu hal yang mereka harus korbankan adalah pasokan energi yang murah tersebut. Konsekuensi berikutnya ialah bahwa mereka harus mencari alternatif selain Rusia. Selain itu memutuskan operasi bisnis dan koneksi dengan sentral bank Rusia juga membuktikan bahwa pihak barat harus mengorbankan pendapatan yang mereka bisa peroleh melalui perdagangan dengan Rusia, sehingga mereka harus mencari mitra dagang alternatif.

Negara-negara NATO sendiri tidak hanya harus mencari alternatif dengan segala hal yang mereka korbankan demi mendukung Ukraina, namun juga harus menerima konsekuensi dari kehilangan pemasok energi terbesar bagi kawasan mereka, sehingga tidak hanya Eropa saat ini harus menghadapi musim dingin dengan pemadaman bergilir demi menghemat energi.

Tetapi meskipun banyak pihak yang harus mengorbankan prospek ekonomi yang mereka bisa dapatkan jika mereka masih melanjutkan proses perdagangan dan masih mengandalkan Rusia sebagai sumber energi mereka, semua hal itu dilakukan demi memberikan dampak yang dapat menjerakan Rusia dari invasi mereka terhadap Ukraina. Dapat dilihat dampak tersebut telah membuahkan hasil semenjak 11 bulan telah berlalu.

Kedua, melihat dari sisi keuntungan yang pihak NATO dapatkan dari segala upaya dan pengorbanan yang mereka telah kerahkan, berikut adalah hasil dari upaya mereka, termasuk antara lain :

(14)

39

Gambar 3 : Menunjukan penurunan signifikan GDP Russia sejak awal perang3 1] Kondisi perekonomian Rusia, hingga saat ini masih mengalami situasi defisit dalam cadangan devisa asing milik para oligarki untuk tidak hanya mempertahankan operasi khusus militer ini, namun juga untuk mempertahankan operasional masing-masing bisnis mereka. Ditambah dengan kerugian yang disebabkan oleh sanksi yang telah melemahkan perekonomian negara mereka.

3 Bloomberg. 2002. “Putin’s war to wipe out 15 years of progress for Russian economy” Al Jazeera. Diakses dari https://www.aljazeera.com/economy/2022/3/24/putins-war-to-wipe-out- 15-years-of-progress-for-russian-economy pada tanggal 22 November 2022.

(15)

40

Gambar 4 : Status Medan Perang Ukraina Desember 20224

2] Kemajuan dalam resistensi yang Ukraina telah berikan dalam upaya mereka untuk merebut kembali wilayah yang telah diambil alih oleh Rusia, semenjak pasukan Rusia mengundurkan diri dari Kiev. Ukraina juga telah mampu mengerahkan serangan balik dan menguasai kembali setengah dari teritori mereka yang diambil alih sejak awal perang ini dimulai.

Gambar 5 : Jumlah Masyarakat Rusia yang telah bermigrasi keluar sejak 20145 3] Brain Drain yang secara terus-menerus terjadi terhadap populasi Rusia.

Kebanyakan dari mereka yang migrasi menuju negara tetangga merupakan masyarakat dengan gelar dan spesialitas dalam industri vital. Gelombang perpindahan penduduk ini sudah bermula semenjak konflik itu pecah namun semakin diperburuk dengan situasi ini hingga menjadi krisis tersendiri semenjak diumumkannya mobilisasi parsial oleh Kremlin untuk menggantikan personil yang telah gugur di Ukraina.

4 Barros, George, Kateryna Stepanenko, Thomas Bergeron. 2022. “Russia’s Invasion of Ukraine”

Institute for the Study of War & Critical Threats. Diakses dari

https://storymaps.arcgis.com/stories/36a7f6a6f5a9448496de641cf64bd375 pada tanggal 12 November 2022.

5 Radio Free Europe. 2019. “How Many Russians Are Leaving Russia?” Radio Liberty. Diakses dari https://www.rferl.org/a/29717077.html pada tanggal 22 November 2022.

(16)

41

Ketiga, memastikan mengapa hasil tersebut dapat terjadi kemudian berdampak pada perekonomian dan kapabilitas Rusia untuk melanjutkan perang ini. Oleh sebab itu perlu juga dilihat kejadian apa saja yang telah terjadi yang memungkinkan konsekuensi negatif untuk pada akhirnya mulai dapat dirasakan oleh Rusia, salah satunya antara lain :

Gambar 6 : Perbandingan kehilangan Rusia dan Ukraina alami dalam perang ini6 Kapasitas pasukan Rusia yang sesungguhnya akhirnya menjadi terungkap dan dapat dilihat oleh pihak barat, menunjunkan kapabilitas pasukan pada umumnya bukanlah hal yang negara-negara lain takut untuk perlihatkan, namun dengan melihat performa buruk yang telah ditunjukan oleh para personil angkatan bersenjata dari Rusia dalam pertempuran mereka melawan Ukraina yang sebelumnya memiliki notabene pasukan bersenjata yang lemah namun berkat bantuan dari pihak barat serta akumulasi pengalaman bertempur melawan pasukan pemberontak mereka

6 Mazurok, Anastasiya. 2022. “Dynamics of Russia’s Losses In The War” Transparency

International. Diakses dari https://ti-ukraine.org/en/news/dynamics-of-russia-s-losses-in-the-war- interactive-infographics/ pada tanggal 23 November 2022.

(17)

42

miliki dalam area Donetsk & Luhansk membuat mereka mampu menyaingi kapabilitas pasukan militer Rusia.

Menyebabkan reputasi serta persepsi bahwa Rusia sebagai salah satu selain dari China sebagai negara yang dapat menyaingi pihak barat terutama militer yang dimiliki oleh Amerika Serikat menjadi terbukti salah, hingga menyebabkan berkurangnya kepercayaan para negara netral dalam mempercayakan teknologi militer, kapabilitas ekonomi serta apakah pantas mereka meneruskan hubungan bilateral dengan Rusia jika telah terbukti imej tersebut telah dibantahkan dengan berlangsungnya konflik ini.

Salah satu penyebab dari isu ini dapat terjadi disebabkan oleh karena adanya permasalahan dalam logistik bagi pasukan Rusia, hal ini diperparah dengan tidak adanya suku cadang bagi kendaraan dan perlengkapan perang bagi para prajurit dan personil mereka, kekurangan dan ketidak-lengkapan ini terjadi oleh sebab interdependensi Rusia dengan pihak barat sebagai pemasok utama suku cadang dan perkakas untuk membuat barang yang dibutuhkan oleh militer Rusia saat ini.

Dalam upaya mengatasi isu ini pihak Rusia menjadi terpaksa untuk menciptakan suku cadang mereka sendiri dan kembali ke metode produksi masa Uni-Soviet dimana semua proses produksi terkait dengan militer dilakukan secara domestik, namun oleh sebab integrasi teknologi barat dalam militer Rusia yang telah terjadi semenjak kejatuhan Uni-Soviet, situasi suku cadang menjadi dilema bagi para perusahaan dibidang militer miliki Rusia oleh sebab kontradiksi produksi domestik dengan skematik yang memerlukan bagian berasal dari pihak barat.

Tidak hanya kehilangan akses menuju penyedia suku cadang dan perkakas serta material utama yang berperan dalam melanjutkan kapabilitas Rusia dalam konflik ini. Termasuk dari kehilangan yang Rusia harus hadapi tentu termasuk dari personil mereka yang terlatih dalam konflik tersebut, beda dengan Ukraina yang semenjak konflik ini bermulai telah menggerakan mobilisasi total yang merekrut pasukan bersenjata tanpa memandang bulu, Rusia oleh sebab kebijakan mereka melihat

(18)

43

konflik ini sebagai operasi khusus militer menyebabkan mereka tidak dapat mengerahkan sepenuhnya pasukan militer terhadap Ukraina.

Sehingga menyebabkan komplikasi saat mobilisasi parsial dikerahkan dan banyak personil angkatan bersenjata yang dimajukan kedalam medan perang bukanlah paskan yang memiliki kemampuan sama seperti dengan personil yang telah terlatih Rusia sebelumnya miliki. Tidak cukup melihat dari apa yang telah menjadi buah dari upaya pihak negara anggota NATO kerahkan untuk melemahkan Rusia secara ekonomis dan apa yang telah terjadi dalam Rusia sehingga menyebabkan mereka terkunci dalam berkonflik dengan Ukraina, namun juga melihat apa yang NATO dapatkan dari situasi yang telah terjadi ini.

Menjawab pertanyaan Skripsi ini tentang bagaimana NATO dapat melepaskan diri dari jebakan interdepedensi dengan negara yang agresif dan menangani Economic Interdependency para negara-negara anggotanya miliki dengan Rusia itu sendiri.

Sesuai dengan jawaban diatas, tidak hanya kebijakan yang dapat memungkinkan mereka untuk dapat perlahan menanggalkan ketergantungannya pada bahan bakar energi murah dari Rusia. Tetapi juga perlahan menemukan alternatif sebagai penggantinya Rusia. Sebaliknya juga peran dari negara penerima sanksi dan pengucilan juga dapat memiliki dampak mempercepat atau tidaknya proses pelepasan integrasi ekonomi antara masing-masing pihak, dan melihat Rusia memilih jalur lebih isolasi demi memprioritaskan memenangkan konflik ini, hal tersebut juga membuat pihak barat semakin yakin dalam meninggalkan komitmen untuk bermitra dengan Rusia serta memudahkan proses transisi tersebut terjadi, secara singkat faktor internal dalam bentuk keinginan untuk mengatasi dengan metode apapun serta faktor eksternal dalam bentuk pengaruh dari aktor lain yang terlibat adalah cara negara-negara anggota NATO mengatasi Economic Interdependence mereka dengan Rusia ditengah konflik antara Ukraina dengan Rusia.

Referensi

Dokumen terkait

Hal tersebut sesuai dengan teori yang diungkapkan oleh Priyanto, (2012) bahwa salah satu faktor yang dapat mempengaruhi kepuasan pasien dalam pemberian asuhan

Hal berbeda ditunjukkan oleh ritel modern, ritel modern biasanya beroperasi dari pagi sampai malam hari (jam 07.00 WIB sampai dengan 23.00 WIB), dan pelayanan

(1) Paling lambat dalam jangka waktu 2 (dua) tahun setelah menerima pertimbangan persetujuan atas rencana pendirian SPK sebagaimana dimaksud dalam Pasal 26 ayat

3.2 Profil karakter morfo-agronomis padi yang diamati 12 3.3 Analisis ragam karakter kuantitatif pada 93 aksesi padi warna lokal 16 3.4 Keragaman karakter kualitatif pada 93

Konsep yang digunakan dalam memberikan pelayanan prima harus disesuaikan dengan karakteristik nasabah, karena pelayanan yang diberikan akan menunjukkan atau dapat

Berdasarkan landasan masalah yang di atas, yaitu tentang perbandingan tari topeng tradisional Bongsan Talchum yang berasal dari Korea dan tari topeng tradisional Sidakarya yang

Kualitas pelayanan Samsat Bandar Lampung terutama di Samsat Keliling dapat dinilai dari kenyamanan para Wajib Pajak dalam membayar pajak kendaraannya baik itu interaksi petugas

Prestasi akademis yang dimaksus adalah prestasi akademis yang telah dicapai oleh karyawan selama mengikuti jenjang pendidikan pada masa Sekolah Dasar sampai pendidikan