• Tidak ada hasil yang ditemukan

WAT TAMWIL (BMT) AGROMADANI ROKAN HILIR

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "WAT TAMWIL (BMT) AGROMADANI ROKAN HILIR "

Copied!
107
0
0

Teks penuh

(1)

WAT TAMWIL (BMT) AGROMADANI ROKAN HILIR

SKRIPSI

Oleh:

IMAM AL ISLAMI

NIM : 11870311934

PRODI AKUNTANSI S1

FAKULTAS EKONOMI DAN ILMU SOSIAL

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SULTAN SYARIF KASIM RIAU 2022

(2)

WAT TAMWIL (BMT) AGROMADANI ROKAN HILIR

SKRIPSI

Diajukan sebagai salah satu syarat guna memperoleh gelar Sarjana Akuntansi (S.Ak) pada Program Studi Akuntansi S1 Fakultas Ekonomi dan Ilmu Sosial Dari

Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau

Oleh:

IMAM AL ISLAMI

NIM : 11870311934

PRODI AKUNTANSI S1

FAKULTAS EKONOMI DAN ILMU SOSIAL

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SULTAN SYARIF KASIM RIAU 2022

(3)
(4)
(5)
(6)

i

ABSTRAK

ANALISIS PENERAPAN AKUNTANSI MURABAHAH BERDASARKAN PSAK NOMOR. 102 PADA BAITUL MAAL

WAT TAMWIL (BMT) AGROMADANI ROKAN HILIR

Disusun Oleh:

IMAM AL ISLAMI 11870311934

Penelitian ini dilakukan di BMT Agromadani Syariah Rokan Hilir.

Adapun tujuan peneliti yakni untuk mengetahui perlakuan akuntansi murabahah sesuai dengan PSAK nomor 102 yang terdiri dari Pengakuan dan Pengukuran, Penyajian dan Pengungkapan di BMT Agromadani Syariah Rokan Hilir.Metode penelitian digunakan yakni penelitian kualitatif dengan metode deskriptif yakni metode lapangan dimana peneliti terjun langsung untuk menganalisis objek penelitian. Tujuan dari metode ini yakni memberikan gambaran yang jelas dari objek yang telah diteliti yakni proses pengakuan dan pengukuran, penyajian dan pengungkapan transaksi murabahah di BMT Agromadani Syariah Rokan Hilir, melalui proses pengumpulan, penyajian, serta analisis data, dan kemudian dilakukan penarikan kesimpulan untuk hasil yang diinginkan. Data penelitian diperoleh melalui wawancara dan dokumentasi dengan accounting BMT Agromadani Syariah Rokan Hilir. Hasil penelitian menunjukkan bahwa BMT Agromadani perlakuan akuntansi pembiayaan murabahah tentang pengakuan dan pengukuran, penyajian dan pengungkapan di BMT Agromadani Syariah sebagian belum sesuai dengan PSAK nomor 102 diantaranya: BMT tidak mengakui persediaan aset baik itu murabahah dengan pesanan maupun murabahah tanpa pesanan, BMT tidak menerapkan denda sehingga tidak ada pencatatan yang dilakukan, BMT Agromadani Rokan Hilir tidak menyajikan Piutang murabahah sebesar nilai bersih yang dapat direalisasikan, dan pengungkapan laporan keuangan yang disajikan belum lengkap. Pada praktik pembiayaan murabahah, BMT Agromadani juga menggunakan akad wakalah. Pelaksanaan akad wakalah di BMT Agromadani belum sesuai dengan DSN-MUI No. 4 Tahun 2000 karena BMT Agromadani tidak melaksanakan serah terima obyek atau barang yang sudah dibeli oleh nasabah, dan BMT Agromadani tidak melakukan pencatatan dalam akad wakalah.

Kata Kunci: Wakalah, Akuntansi Murabahah, PSAK 102, DSN-MUI No.4 2000

(7)

ii

ABSTRACT

ANALYSIS OF THE APPLICATION OF MURABAHAH ACCOUNTING BASED ON PSAK NUMBER. 102 ON BAITUL

MAAL WAT TAMWIL (BMT) AGROMADANI ROKAN HILIR

By:

IMAM AL ISLAMI 11870311934

This research was conducted at BMT Agromadani Syariah Rokan Hilir.

The purpose of the researcher is to determine the accounting treatment of murabahah in accordance with PSAK number 102 which consists of Recognition and Measurement, Presentation and Disclosure at BMT Agromadani Syariah Rokan Hilir.The research method used is qualitative research with a descriptive method, namely a field method where researchers are directly involved in analyzing research objects. The purpose of this method is to provide a clear picture of the object under study, namely the process of recognition and measurement, presentation and disclosure of murabahah transactions at BMT Agromadani Syariah Rokan Hilir, through the process of collecting, presenting, and analyzing data, and then drawing conclusions for the desired results. The research data was obtained through interviews and documentation with BMT Agromadani Syariah Rokan Hilir accounting. The results showed that BMT Agromadani the accounting treatment of murabahah financing on recognition and measurement, presentation and disclosure in BMT Agromadani Syariah was partly not in accordance with PSAK number 102 including: BMT does not recognize the inventory of assets, be it murabahah with orders or murabahah without orders, BMT does not apply fines so that no recording is carried out, BMT Agromadani Rokan Hilir does not present murabahah receivables of realizable net value, and the disclosure of the financial statements presented is not complete. In the practice of murabahah financing, BMT Agromadani also uses wakalah contracts. The implementation of the wakalah contract at BMT Agromadani is not in accordance with DSN-MUI No. 4 of 2000 because BMT Agromadani does not carry out the handover of objects or goods that have been purchased by customers, and BMT Agromadani does not record in the wakalah contract.

Keywords: Wakalah, Murabahah Accounting, PSAK 102, DSN-MUI No.4 2000

(8)

iii

KATA PENGANTAR

Assalamualaikum Warahmatullah Wabarakatuh,

Syukur Alhamdulillah, segala puji bagi Allah SWT yang senantiasa melimpahkan rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul: “ANALISIS PENERAPAN AKUNTANSI MURABAHAH BERDASARKAN PSAK 102PADA BAITUL MAAL WAT TAMWIL (BMT) AGROMADANI ROKAN HILIR” sebagai salah satu persyaratan menyelesaikan pendidikan Strata 1 (S1) Akuntansi pada Fakultas Ekonomi dan Ilmu Sosial pada Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau.

Penulis sebagai manusia tidak luput dari kesalahan, di dalam skripsi ini pun tidak lepas dari berbagai kekurangan, baik yang menyangkut teknis penyusunan, tata bahasa maupun isinya. Demi tercapainya kesempurnaan skripsi ini, dengan segenap kerendahan hati penulis berharap kritik dan saran dari pembaca yang sifatnya membangun. Penulisan skripsi ini telah banyak mengorbankan beban moril dan materil dari beberapa pihak. Untuk itu, pada kesempatan ini, penulis ingin mengucapkan terima kasih yang tidak terhingga untuk yang tersayang kedua orang tua, Ayahanda Syafri Taib dan Ibunda Azmah Hasan yang telah melahirkan, membesarkan, mendidik tanpa kenal lelah dan selalu mengalir doa untuk penulis.

Karya ini penulis hadiahkan untuk kedua orang tua tercinta, sebagai bentuk bagian dari rasa syukur dan harapan orang tua terhadap penulis. Sehingga

(9)

iv

penulis mampu menempuh dan meraih gelar Sarjana sebagaimana yang telah dicita-citakan. Terimakasih atas segala pengorbanan, kasih sayang dan doa restu yang diberikan dalam mendidik dan membesarkan penulis. Selain itu, penulis juga ingin mengucapkan terimakasih kepada pihak yang juga berperan besar dalam membantu penyusunan skripsi ini, yaitu kepada:

1. Bapak Prof. Dr. Kahirunnas Rajab, M.Ag selaku rektor UIN SUSKA RIAU beserta staf.

2. Ibu Dr. Hj. Mahyarni, SE, MM selaku Dekan Fakultas Ekonomi dan Ilmu Sosial UIN SUSKA RIAU.

3. Bapak Dr. Kamaruddin, S.Sos M.Si selaku Wakil Dekan I Fakultas Ekonomi dan Ilmu Sosial UIN SUSKA RIAU

4. Ibu Faiza Muklis, SE, M. Si, Ak selaku Ketua Jurusan Akuntansi S1 Fakultas Ekonomi dan Ilmu Sosial UIN SUSKA RIAU sekaligus sebagai orang tua kami disaat berada dalam lingkungan kampus dan juga sekaligus sebagai Penasehat Akademis yang telah banyak memberikan ilmu serta arahan dan bimbingan hingga selesainya penulisan skripsi ini.

5. Ibu Harkaneri, SE, MSA, Ak, CA selaku Pembimbing Konsultasi Proposal sekaligus Skripsi yang telah meluangkan waktu dan memberikan arahan serta masukan kepada penulis untuk menyusun dan menyelesaikan skripsi ini.

6. Seluruh Bapak dan Ibu Dosen Fakultas Ekonomi dan Ilmu Sosial UIN SUSKA RIAU yang telah memberikan ilmu yang berharga kepada penulis selama perkuliahan dan penyusunan skripsi ini.

(10)

v

7. Seluruh Staf dan Karyawan Fakultas Ekonomi dan Ilmu Sosial UIN SUSKA RIAU.

8. Segenap pihak Koperasi Syariah Baitul Maal Wat Tamwil (BMT) Agromadani Syariah Rokan Hilir terkhusus kepada Bapak Cumel,A.Md selaku pimpinan BMT Agromadani Syariah Rokan Hilir dan Ibu Julia Winda Sari,S.IP selaku accounting BMT Agromadani Syariah Rokan Hilir yang telah memberikan kesempatan kepada peneliti untuk menjadi objek penelitian dan telah membantu penulis selama melakukan penelitian ini.

9. Iyung dan Angah saya Nurmalasari dan Didik Gulardi untuk doa, kasih sayang, memberikan semangat, nasehat, motivasi, perhatian yang luar biasa dan dorongan yang selalu diberikan untuk menjadi orang yang lebih baik lagi, dan membanggakan keluarga.

10. Kawan-kawan lokal A Akuntansi angkatan 2018 kawan-kawan seperjuangan sepenanggungan dari semester satu hingga pejuang skripsi yang tidak dapat penulis tuliskan satu persatu.

11. Semua pihak yang telah membantu dalam proses penulisan skripsi ini yang tidak bisa disebutkan satu per satu.

Penulis menyadari bahwa dalam skripsi ini masih terdapat kekurangan dan keterbatasan. Oleh karena itu, kritik dan saran yang bersifat membangun sangat dibutuhkan demi perbaikan dikemudian hari. Semoga hasil penelitian ini dapat memberikan sumbangan pengetahuan dan menjadi suatu karya yang bermanfaaat bagi penulis sendiri, pembaca dan bidang pendidikan pada umumnya. Setiap usaha yang kita lakukan dalam menggapai impian merupakan sebuah benih

(11)

vi

kesuksesan, kunci kesuksesan terdapat dalam diri kita sendiri. Seberapa besar tekad, kemampuan dan kemauan dalam membukanya. Akhirnya kepada Allah SWT saya memohon ampun dan memanjatkan doa sehingga diberi limpahan rahmat dan rezekinya, serta memberikan kemudahan bagi kita semua dalam melaksanakan kebaikan dan amal sholeh. Aamiin. Wassalamualaikum Warahmatullah Wabarakatuh.

Pekanbaru, Oktober 2022 Penulis

Imam Al Islami 11870311934

(12)

vii

DAFTAR ISI

ABSTRAK ... i

ABSTRACT ... ii

KATA PENGANTAR ... iii

DAFTAR ISI ... vii

DAFTAR TABEL... ix

DAFTAR GAMBAR ...x

BAB I ...1

PENDAHULUAN ...1

1.1. Latar Belakang...1

1.2. Rumusan Masalah ...7

1.3. Tujuan Penelitian ...7

1.4. Manfaat Penelitian ...8

1.5. Sistematika Penulisan ...9

BAB II LANDASAN TEORI ...10

2.1 Akuntansi Syariah ...10

2.1.1 Pengertian Akuntansi Syariah ...10

2.1.2 Prinsip Akuntansi Syariah ...12

2.2 Akuntansi Murabahah ...12

2.2.1 Pengertian Murabahah ...12

2.2.2 Sumber Hukum Akad Murabahah ...14

2.2.3 Jenis-Jenis Murabahah ...15

2.2.4 Ketentuan Umum Murabahah ...17

2.2.5 Fatwa Dewan Syariah Nasional No. 04/DSN-MUI/IV/2000 tentang Murabahah ...19

2.2.6 Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) No. 102 tentang Akuntansi Murabahah ...24

2.2.7 Jurnal Akuntansi Murabahah ...32

2.3 Baitu Mal Wat Tamwil (BMT)...39

2.3.1 Definisi Baitul Mal Wat Tamwil (BMT) ...39

2.3.2 Badan Hukum BMT ...40

2.3.3 Landasan, Asas dan Tujuan Baitul Mall Wat Tamwil (BMT) ...40

2.3.4 Prinsip-prinsip Baitul Mall Wat Tamwil (BMT) ...41

(13)

viii

2.4 Wakalah ...42

2.4.1 Pengertian Wakalah ...42

2.4.2 Jenis-Jenis Wakalah ...42

2.4.3 Pendapat yang Melarang Konsep Multi Akad ...43

2.4.4 Murabahah Yang Diwakilkan (Wakalah) ...44

2.5 Penelitian Terdahulu ...46

BAB III METODOLOGI PENELITIAN ...51

3.1 Jenis Penelitian ...51

3.2 Tempat Penelitian ...51

3.3 Waktu Penelitian ...52

3.4 Informan Penelitian ...52

3.5 Jenis dan Sumber Data ...52

3.6 Teknik Pengumpulan Data ...53

3.7 Teknik Analisis Data ...54

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ...57

4.1 Gambaran Umum Perusahaan ...57

4.1.1 Sejarah Berdirinya BMT Agromadani ...57

4.1.2 Visi, Misi dan Tujuan BMT Agromadani ...57

4.1.3 Struktur Organisasi...58

4.1.4 Tugas-Tugas Struktur BMT Agromadani ...60

4.2 Penerapan Akad Wakalah Pada Pembiayaan Murabahah di BMT Agromadani Rokan Hilir ...64

4.3 Perbandingan Kesesuaian antara Perlakuan Akuntansi Murabahah di BMT Agromadani dengan PSAK No 102 ...68

4.3.1 Pengakuan dan Pengukuran ...68

4.3.2 Penyajian ...78

4.3.3 Pengungkapan ...83

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ...91

5.1 Kesimpulan ...91

5.2 Saran ...92

DAFTAR PUSTAKA ...94 Lampiran

(14)

ix

DAFTAR TABEL

Tabel 2.1 Penelitian Terdahulu ... 46

Tabel 4.1 Badan Hukum BMT Agromadani Syariah Rokan Hilir... 58

Tabel 4.2 Anggota BMT Agromadani Syariah Rokan Hilir ... 58

Tabel 4.3 Pengelola BMT Agromadani Syariah Rokan Hilir ... 59

Tabel 4.4 Penerapan Akad Wakalah ... 64

Tabel 4.5 Jurnal Persediaan Aset ... 69

Tabel 4.6 Jurnal Piutang ... 71

Tabel 4.7 Jurnal Pengakuan dan Pengukuran Keuntungan ... 72

Tabel 4.8 Jurnal Pengakuan Potongan Pelunasan ... 74

Tabel 4.9 Jurnal Pengakuan Denda ... 76

Tabel 4.10 Laporan Neraca BMT Agromadani Syariah Rokan Hilir ... 77

Tabel 4.11 Laporan Rugi/Laba BMT Agromadani Syariah Rokan Hilir... 79

Tabel 4.12 Pembahasan Kesesuaian Perlakuan Akuntansi PSAK 102 dengan BMT Agromadani Syariah Rokan Hilir ... 84

(15)

x

DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1 Skema Murabahah dengan Pesanan ... 28 Gambar 2.2 Skema Murabahah Tanpa Pesanan ... 29 Gambar 4.1Struktur Organisasi BMT Agromadani Rokan Hilir Syariah ... 57

(16)

1

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Perkembangan perekonomian saat ini memiliki kompleksitas yang tinggi, sehingga keikutsertaan lembaga keuangan sangat diperlukan. Tujuan dari adanya lembaga keuangan sebagai intermediasi agar perhimpunan usaha dari aspek surplus dana ke aspek defisit usaha berjalan dengan lancar. Adapun keuangan bank dan keuangan bukan bank termasuk dari bagian dari lembaga keuangan. Sumber dana masyarakat dapat dihimpun dalam bentuk simpanan dalam lembaga keuangan bank. Selain itu lembaga ini juga mampu memberikan pinjaman dana kepada masyarakat guna meningkatkan kesejahteraan rakyat. Disisi lain, lembaga keuangan non-bank hanya mampu melayani dana masyarakat hasil dari penjualan surat-surat berharga (Astika, 2018).

Di Indonesia, terdapat dua jenis lembaga keuangan bank yakni bank konvensional dan bank Syariah. Seiring dengan berkembangnya waktu, saat ini bank syariah menjadi fenomenal di kalangan masyarakat. Bank syariah adalah suatu perbankan yang melaksanakan aktivitasnya berpedoman pada hukum syariah islam. Seiring berkembangnya beberapa bank Syariah membuat adanya isu yang berhubungan dengan akuntansi syariah.

Dalam melakukan kegiatan ekonomi yang berkaitan dengan pengakuan, pengukuran, dan pencatatatn transakti serta pengungkapan hak dan kewajiban yang adil, manusia dibantu oleh akuntansi syariah yang Akuntansi syariah yang berpedoman pada nilai-nilai yang terdapat dalam Al-Qur’an dan Al-Hadis

(17)

(Saputra et al., 2021). Produk dari lembaga keuangan yang menerapkan hukum syariah adalah murabahah. Itu adalah proses perdagangan aset dengan adanya laba dari biaya perolehan yang sudah disetujui serta adanya transparansi harga beli dari penjual ke pembeli (IAI, 2016).

Pada dasarnya PSAK No. 59 telah mengatur tentang murabahah kemudian IAI mengeluarkan PSAK No. 102 yang mana hasil dari penyusunan dari Pernyataan Akuntansi Perbankan Syariah Indonesia (PAPSI) Bank Indonesia guna menyempurnakannya dengan aturan yang lebih spesifik dan mulai bisa digunakan secara efektif pada tanggal 1 Januari 2008. Disisi lain, pembuatan PSAK juga berpedoman pada beberapa fatwa akad keuangan syariah yang dikeluarkan oleh Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia (DSN MUI). Didalam pembukuan PSAK No. 102 tercantum dalam ruang lingkup dijelaskan bahwa penerapan PSAK 102 diperuntukkan bagi (Setyowati, 2018):

a. Lembaga keuangan syariah (penjual dan pembeli) yang bertransaksi menggunakan murabahah, dan

b. Beberapa pihak yang bertransaksi langsung dengan lembaga keuangan syariah menggunakan murabahah.

Pada dasarnya landasan jual beli yang berpedoman pada murabahah sama dengan jual beli pada umumnya, yakni Alquran, hadis, ijma’, dan qiyas.

Murabahah ini merupakan wujud jual beli yang berlandaskan atas keikhalasn pelakunya (penjual atau pembeli), hal telah dijabarkan dalam Al-Qur’an surah al- Baqarah:

(18)

ُيٰطْيَّشلا َُُطَّبَخَتَي ْيِزَّلا ُمُْْقَي اَوَك َّلَِا َىُْْهُْْقَي َلَ اْٰبِّشلا َىُْْلُكْأَي َيْيِزَّلَا َوًَِّا ا ُْْْٓلاَق ْنًََُِّاِب َكِل ٰر ِِّّۗسَوْلا َيِه َمَّشَحَّ َعْيَبْلا ُ ّٰاللّ َّلَحَاَّ ۘاْٰبِّشلا ُلْثِه ُعْيَبْلا ا

ىَلِا ٍُْٓٗشْهَاَّ َِّۗفَلَس اَه ََٗلَف ىَِٰتًْاَف َِّٖبَّس ْيِّه ٌةَظِعَْْه ٍَٗءۤاَج ْيَوَف ِّۗاْٰبِّشلا َىُّْذِل ٰخ اَِْيِف ْنُُ ۚ ِساٌَّلا ُب ٰحْصَا َكِ ى ٰۤلُّاَف َداَع ْيَهَّ ِّۗ ِ ّٰاللّ

Artinya: “Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan);

dan urusannya (terserah) kepada Allah. Orang yang kembali (mengambil riba), maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya”(QS. al-Baqarah: 2; 275).

Firman diatas menjadi pondasi dalam bertransaksi yang mana Allah memperbolehkan jual beli dan melarang keras riba. Murabahah harus diterapkan dengan ikhlas dan saling suka dalam kehidupan sehari-hari agar setiap kegiatan berjalan dengan baik dalam semua bidang (Burhanuddin, 2021).

Lembaga keuangan syariah bisa dilihat menggunakan pedoman dalam PSAK No.102 apakah sudah menerapkan transaksi murabahah sesuai aturan dan

(19)

prinsip syariah atau belum (Armailis, 2020). Draft akuntansi secara menyeluruh sangat dibutuhkan dalam pembiayaan murabahah guna menghasilkan pengukuran akuntansi yang akurat dan sesuai dengan PSAK NO. 102 sehingga mampu menginformasikan akuntansi sesuai dengan waktu yang telah disepakati serta mendapatkan kualitas yang bisa dibanggakan (Tamaria, 2019). Diketahui bahwa pembiayaan murabahah yang paling banyak disalurkan pada BMT (Baitul Maal Wat Tamwil) (Setyowati, 2018).

Sebagai lembaga yang dibangun dari bantuan dari masyarakat, BMT tidak memiliki batasan baik dari segi ekonomi, sosial, maupun agama. Dalam hal ini, semua keterlibatan masyarakat mampu memberikan peran dalam pembangunan sistem keuangan yang lebih adil dan bisa memberikan kesempatan terhadap semua usaha baik besar maupun kecil (Febrian et al., 2017). Pada awalnya, BMT merupakan lembaga ekonomi rakyat yang memberikan bantuan kepada masyarakat menengah kebawah. Salah satu aktivitas yang ada dalam BMT yakni mengembangkan usaha mikro khususnya dalam hal permodalan. Pembiayaan BMT digunakan untuk melancarkan usaha yang mana modal tersebut berasal dari masyarakat. Selain itu, BMT juga berperan dalam membina dan memberi dana yang berlandaskan prinsip syariah dalam kehidupan ekonomi masyarakat (Setyowati, 2018).

Berdasarkan wawancara penulis kepada pihak BMT AgroMadani, ada beberapa ketidaksesuaian pelaksanaan akad murabahah dengan PSAK 102.

Yang pertama, dari sisi akad. Adanya modifikasi dalam pembiayaan murabahah dalam prakteknya seiring dengan perkembangan zaman. Bukan hanya

(20)

menerapkan perjanjian pendanaan murabahah, namun produk pembiayaan juga menggunakan perjanjian wakalah. Seperti halnya yang dilansir dalam DSN-MUI 10/DSN-MUI/IV/2000, wakalah merupakan pemberian kuasa dan wewenang oleh Ba’i atau penjual kepada Musytari (nasabah) sebagai penerima kuasa untuk membeli barang. Seringkali, barang kebutuhan Ba’i tidak memenuhi kebutuhan Musytari dan juga tidak ada pemesanan barang Musytari kepada supplier. Dalam hal ini, Ba’i memberikan wewenang pada kuasa Musytari dalam membeli barang menggunakan akad wakalah. Praktek murabahah tersebut menyebabkan adanya ketidakjelasan dalam hal kepemilikan barang oleh Baitul Maal Wat Tamwil (BMT). Hal ini dikarekanan, karena adanya penyimpangan dari prinsip murabahah yang mana bank atau lembaga keuangan syariah tetap wajib memberikan barang sesuai apa yang dibutuhkan oleh musytari.

Yang kedua, menurut PSAK No 102 dijelaskan bahwa aset murabahah harus diakui sebagai persediaan sebesar biaya perolehan (paragraf 18). BMT Agromadani tidak mengakui aset dikarenakan akad murabahah yang dilaksanakan oleh BMT Agromadani rata-rata adalah pembiayaan modal usaha (produktif) atau murabahah tanpa pesanan. Dalam pelaksanaan akad murabahah BMT Agromadani juga menggunakan akad wakalah pada akad murabahah, sehingga disetiap pembiayaan selalu mewakilkan kepada nasabah untuk membelikan barang yang diinginkan oleh nasabah. Sedangkan mengenai pencatatan terhadap transaksi yang diberikan kepada nasabah, BMT Agromadani melakukan pencatatan langsung dengan memasukkan nominal uang ke dalam sistem yang mengakui adanya piutang murabahah dari nasabah

(21)

Yang ketiga, dalam PSAK 102 paragraf 29 yang berkaitan dengan pengakuan memberikan keterangan tentang denda yang diberikan kepada pembeli yang tidak menjalankan kewajiban berdasarkan awal akad. Denda tersebut diberikan sebagai dana kebijakan. Akan tetapi, BMT Agromadani tidak memberlakukan sistem denda kepada nasabah dalam kegiatannya namun hanya ada musyawarah secara kekeluargaan guna menemukan jalan keluar.

Yang keempat, dalam Penyajian PSAK 102 Paragraf 33 dan 34 yang berkaitan penyajian piutang murabahah yang disajikan sebesar nilai bersih setelah dikurangi penyisihan kerugian piutang dan margin murabahah tangguhan disajikan sebagai pengurang piutang murabahah. BMT Agromadani Rokan Hilir tidak menyajikan Piutang murabahah sebesar nilai bersih yang dapat direalisasikan, yaitu saldo piutang murabahah dikurangi penyisihan kerugian piutang. Margin murabahah tangguhan disajikan sebagai pengurang piutang murabahah, dimana bisa dilihat di neraca yang disajikan oleh BMT Agromadani Rokan Hilir bahwa piutang murabahah, margin murabahah ditangguhkan dan beban murabahah tidak disajikan secara menyeluruh. BMT hanya mengungkapan dalam akun pembiayaan konsumtif murabahah sebesar Rp.1.780.072.967. Maka penyajian dan pengungkapan yang dilakukan oleh BMT Agromadani Rokan Hilir terkait dengan transaksi pembiayaan murabahah belum sesuai dengan penyajian dan pengungkapan yang diatur dalam PSAK 102 (paragraf 37 dan 38).

Yang kelima, dalam Pengungkapan PSAK 102 paragraf 40 c dijelaskan bahwa pengungkapan yang diperlukan sesuai dengan PSAK 101: penyajian laporan keuangan syariah yang terdiri dari Laporan Posisi Keuangan, Laporan

(22)

Laba/Rugi dan Komprehensif lain, Laporan Arus Kas, Laporan Perubahan Modal (Ekuitas), Laporan Rekonsiliasi Pendapatan dan Bagi Hasil, Laporan Sumber dan Penyaluran Dana Zakat, Laporan Sumber dan Penyaluran Dana Kebajikan dan Catatan Atas Laporan Keuangan. Pihak BMT Agromadani Rokan Hilir hanya mengungkapkan Laporan Laba/Rugi, Laporan Posisi Keuangan, Laporan Perubahan Modal dan Laporan Arus Kas saja.

Dari penjabaran tersebut, peneliti berkeinginan untuk meneliti terkait judul

“ANALISIS PENERAPAN AKUNTANSI MURABAHAH BERDASARKAN PSAK NOMOR 102 PADA BAITUL MAAL WAT TAMWIL (BMT) AGRO MADANI ROKAN HILIR”

1.2. Rumusan Masalah

Masalah yang dirumuskan peneliti sebagai acuan penelitian ini, yakni:

1) Bagaimana penerapan PSAK. 102 atas transaksi murabahah meliputi:

pengakuan dan pengukuran, penyajian dan pengungkapan murabahah pada BMT Agromadani Rokan Hilir?

2) Apakah penerapan perlakuan akuntansi pembiayaan murabahah pada BMT Agromadani Rokan Hilir telah sesuai dengan PSAK. 102?

3) Apakah penerapan akad wakalah pada pembiayaan murabahah pada BMT Agromadani Rokan Hilir sudah sesuai dengan DSN-MUI Nomor 4 tahun 2000?

1.3. Tujuan Penelitian

Dari rumusan masalah diatas, tujuan dari penelitian ini adalah:

(23)

1) Mengetahui penerapan PSAK. 102 atas transaksi murabahah meliputi:

pengakuan dan pengukuran, penyajian dan pengungkapan murabahah pada BMT Agromadani Rokan Hilir?

2) Menganalisis kesesuaian penerapan akuntansi murabahah dengan PSAK No.

102 di Baitul Maal Wat Tamwil (BMT) Agro Madani Rokan Hilir.

3) Mengetahui penerapan akad wakalah pada pembiayaan murabahah sesuai dengan DSN-MUI Nomor 4 tahun 2000 pada BMT Agromadani Rokan Hilir.

1.4. Manfaat Penelitian

Harapan dari temuan dalam studi ini bisa berkontribusi kepada beberapa pihak khususnya dalam hal perekonomian, perbankan dan lain-lain. Selain itu, penelitian ini juga memberikan kebermanfaatan seperti halnya pada:

1) Manfaat Akademi

Studi ini bisa menjadi acuan dan kajian yang mampu memberikan wawasan bagi para pembaca terutama mahasiswa terkait penerapan PSAK No.102 dalam transaksi murabahah serta mengetahui proses sistematis akuntansi murabahah yang diterapkan di Baitul Maal Wat Tamwil (BMT) Agro Madani Rokan Hilir.

2) Manfaat Praktis

Temuan dalam penelitian ini juga bisa dibuat bahan pertimbangan atau saran bagi beberapa pihak yang berwenang daam peningkatan kepemahanan terkait penerapan PSAK No.102 dalam menerapkan murabahan.

3) Manfaat Peneliti

(24)

Studi ini juga bisa digunakan sebagai aktualisasi diri dalam memberikan wawasan dan ilmu pengetahuan terkait dengan penerapan teori yang diperoleh selama belajar khususnya dibidang syariah.

1.5. Sistematika Penulisan

Penelitian ini disusun menggunakan sistematika penulisan sebagai berikut:

BAB I: Pendahuluan

Bab ini menjabarkan asal mula pokok permasalahan, rumusan masalah, tujuan dilakukannya penelitian, manfaat serta rangkaian penulisan.

BAB II: Landasan Teori

Landasan teori berisi kajian dan teori yang melandasi penelitian ini, telaah terkait penelitian terdahulu, serta kerangka pemikiran yang menggambarkan inti dari seluruh penelitian ini.

BAB III: Metode Penelitian

Metode penelitian menjelaskan metodologi yang digunakan dalam penelitian yang terdiri dari jenis penelitian, lokasi penelitian, jenis, dan sumber data, teknik pengumpulan data, serta teknik analisis data.

BAB IV: Hasil dan Pembahasan

Bab ini memaparkan hasil analisis dari penelitian ini serta pembahasan yang lebih dalam beserta implikasinya.

BAB V: Kesimpulan dan Saran

Bab terkahir ini meliputi kesimpulan dari hasil penelitian, serta beberapa masukkan yang diperuntukkan pada penelitian berikutnya.

(25)

10

BAB II

LANDASAN TEORI

2.1 Akuntansi Syariah

2.1.1 Pengertian Akuntansi Syariah

Suatu cara mengidentifikasi, mengukur, dan melaporkan data terkait ekonomi guna menilai dan memutuskan informasi yang jelas dan tegas bagi mereka yang membutuhkan disebut proses akuntansi (Armailis, 2020). Hal ini juga diungkapkan oleh Amrullah (2016) yang mana akuntansi merupakan suatu sistem yang memberikan informasi kepada beberapa pihak yang berhubungan dengan aktivitas ekonomi dan kondisi perusahaan.

Sementara Armailis (2020) menyebutkan bahwa akuntansi Syariah adalah satu set pengetahuan dan teknologi buatan manusia guna menyajikan data keuangan dasar dari kejadian, transaksi atau kegiatan organisasi sehingga mampu menghasilkan data yang relevan dan sesuai dengan prinsip hukum serta moralitas bagi stakeholder. Hal ini juga didukung oleh Amrullah (2016) yang menjelaskan bahwa akuntansi syariah merupakan perkembangan dari akuntansi yang tidak hanya dengan tambal sulam dari akuntansi pada umumnya, namun juga adanya filosofi yang berkembang sesuai dengan pemikiran-pemikiran yang terdapat dalam alqur’an dan teknis akuntansi itu sendiri.

Seiring kemunculan lembaga keuangan syariah yang dididirikan oleh Bank Muamalat Indonesia (BMI) tahun 1991 sampai terciptanya Pernyataan Standar Akuntansi Syariah (PSAKS) terakhir yang dikelurakan oleh Ikatan Akuntansi

(26)

Indonesia (IAI) tahun 2016, akuntansi syariah Indonesia sudah berkembang dengan cepat dengan adanya pengadopsian setiap perubahan di lingkungan bisnis syariah dalam yang terjadi di masyarakat (Hadi, 2018).

Selain itu, tidak sedikit penelitian yang sudah melakukan studi dengan fokus akuntansi syariah terutama dari pengkajian yang menerapkan pemikiran secara deduktif. Seperti halnya Hadi (2018) yang menyebutkan bahwa akuntansi syariah secara epistemologis diperoleh dengan adanya dasar pemikiran fiqih pada syariah.

Adapun dalam menyusun dan menyajikan data keuangan syariah untuk penggunanya memerlukan beberapa konsep seperti yang telah disebutkan oleh (Habibah et al., 2016), sebagai berikut:

1. Adanya penyusunan standar akuntansi syariah guna menjalankan kegiatannya.

2. Adanya laporan keuangan yang disusun guna menyelesaikan masalah akuntansi syariah yang tidak tersusun daam standar akuntansi keuangan syariah.

3. Adanya penyusunan pendapat terkait laporan keuangan berdasarkan prinsip akuntansi syariah yang masih berlaku oleh auditor.

4. Adanya penafsiran data yang diperoleh dalam laporan keuangan oleh penggunanya dan menyajikan sesuai dengan standar akuntansi keuangan syariah.

(27)

2.1.2 Prinsip Akuntansi Syariah

Beberapa petunjuk umum dalam melaksanakan kegiatan akuntansi yang mengandung pedoman dan dasar-dasar umum akutansi disebut prinsip akuntansi.

Dalam hal ini, pengguna harus mengetahui prinsip-prinsip akuntansi dalam kegiatannya seperti yang disebutkan oleh Herman (2015) yakni:

1. Menurut Syariah, asas legitimasi muamarat yakni tujuan, transaksi, tindakan serta keputusan adalah sah.

2. Asas kesatuan spiritual merupakan memisahkan aktivitas berinvestasi dari pihak yang mendanainya.

3. Asas kelangsungan hidup adalah salah satu yang bisa menghasilkan kesan bahwa suatu entitas akan tetap beroperasi untuk jangka waktu yang tidak terbatas.

4. Asas korespondensi adalah hasil yang mencerminkan, di satu sisi, korelasi sebab akibat kedua belah pihak dan, di sisi lain, hasil atau hubungan.

2.2 Akuntansi Murabahah

2.2.1 Pengertian Murabahah

Pembiayaan merupakan penyaluran dana dari rakyat dalam bank syariah.

Hal ini telah diatur dalam Undang-Undang Perbankan Nomor 10 Tahun 1998 ayat 12 bahwa pendanaan berdasarkan hukum syariah yakni meletakan uang atau ganti rugi konvensi yg mampu diperoleh menggunakan konvensi antara bank dan pihak lain yang memerlukan dana. Ketika eksklusif atau bagi hasil merupakan waktu berakhirnya pengembalian uang atau penagihan. Adapun jenis-jenis pembiayaan

(28)

dalam bank syariah yang mana pembiayaan jual beli merupakan salah satunya.

Ketika suatu pihak membeli kemudian menjualnya kembali kepada pihak lain dengan adanya pengajuan permohonan pembelian barang menggunakan laba dengan harga terbuka merupakan pengertian dari jual beli murabahah (Tamaria, 2019). Pembiayaan jual beli terjadi sesuai dengan pembiayaan murabahah, salam dan Istishna. Namun, dalam penelitian ini, peneliti meneliti pembiayaan murabahah.

Pengertian murabahah secara etimologi adalah rabh yang bermakna perolehan, keuntungan atau laba. Hal ini juga didefinisikan oleh Muhammad Ayub yang mana dalam penjualan yang menerapkan murabahah harus terdapat transparansi soal biaya dan kontak (akad). Sementara, dalam fiqih islam, murabahah adalah wujud perdagangan dimana adanya keterbukaan soal harga awal barang, harga yang dikeluarkan dan harga jual barang oleh pihak penjual.

(Tamaria, 2019).

Disisi lain, Ikatan Akuntan Indonesia (IAI, 2016) dalam Pernyataan Standar Akuntansi (PSAK) 102 menjelaskan bahwa murabahah merupakan penjualan barang dengan adanya penambahan laba dalam harga jual yang telah disepakati antara penjual dan pembeli (Habibah et al., 2016). Sementara Undang-Undang No.12 tahun 2008 tentang Perbankan Syariah memiliki pandangan akan murabahan yang berarti penjualan barang berdasarkan bai’ atau jual beli. Dengan kata lain, penjual menjelaskan harga beli yang sesungguhnya kepada pembeli dan pihak pembeli membelinya dengan harga diatas harga jual dengan syarat telah disepakati bersama (Kalsum et al., 2016).

(29)

Pembiayaan murabahah merupakan pembiayaan transaksi yang mana adanya keterbukaan harga beli dari pihak penjual kepada pihak pembeli serta keuntungan yang ia peroleh, sehingga pembeli bisa mengetahuinya dengan jelas.

Dalam Islam, jual beli juga selalu disangkut-pautkan dengan nilai kemoralan seperti pedagang harus berkata jujur terkait ciri-ciri barangnya kepada pembeli (Amrullah, 2016).

2.2.2 Sumber Hukum Akad Murabahah A. Al Quran

“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil (tidak benar), kecuali dalam perdagangan yang berlaku atas dasar suka sama suka di antara kamu. Dan janganlah kamu membunuh dirimu. Sungguh, Allah Maha Penyayang kepadamu”. (QS. An Nisa:29)

“Orang-orang yang memakan riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan setan karena gila. Yang demikian itu karena mereka berkata bahwa jual beli sama dengan riba. Padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Barangsiapa mendapat peringatan dari Tuhannya, lalu dia berhenti, maka apa yang telah diperolehnya dahulu menjadi miliknya dan urusannya (terserah) kepada Allah. Barangsiapa mengulangi, maka mereka itu penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya”. (QS.

Al Baqarah:275)

(30)

“Wahai orang-orang yang beriman! Apabila kamu melakukan utang piutang untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya”… (QS. Al Baqarah:282)

B. Hadist

Dari Abu Sa'id Al-Khudri bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Sesungguhnya jual beli itu harus dilakukan suka sama suka." (HR. al-Baihaqi dan Ibnu Majah, dan dinilai shahih oleh Ibnu Hibban).

“Nabi bersabda, 'Ada tiga hal yang mengandung berkah: jual beli tidak secara tangguh, muqaradhah (mudharabah), dan mencampur gandum dengan jewawut untuk keperluan rumah tangga, bukan untuk dijual. '” (HR. Ibnu Majah dan shuhaib).

2.2.3 Jenis-Jenis Murabahah

Nurhayati dkk. , (2015), ada dua jenis murabahah, yakni:

1) Murabahah dengan pesanan (Murabahah to the purchase order). Dalam Murabahah ini, pedagang membeli barang setelah menerima pesanan dari pembeli. Adapun dua bagian dari murabahah berdasarkan pesanan, seperti:

a. Bersifat mengikat ketika adanya keharusan membeli barang yang sudah dipesankan.

b. Bersifat tidak mengikat ketika tidak adanya keterikatan antara nasabah dan barang yang dipesan jadi nasabah bisa menerima atau mengembalikannya.

(31)

Gambar 2.1 : Skema Murabahah dengan Pesanan Sumber: Akuntansi Syariah Di Indonesia, 2016 Keterangan:

(1) Adanya kegiatan murabahan.

(2) Adanya pemesanan dan pembelian barang supplier/produsen oleh penjual.

(3) Adanya penyerahan barang kepada pembeli.

(4) Adanya transaksi jual beli antara pedangan dan pembeli (5) Adanya kegiatan pembayaran dari pembeli.

2) Murabahah tanpa pesanan. Dalam hal ini, tidak adanya keterikatan antara barang yang dipesankan dengan lembaga keuangan penyedia barang.

Dengan kata lain, tidak ada pengaruh dari barang yang dipesan atau dibeli oleh penyedia barang dengan bank atau lembaga keuangan syariah lainnya.

Keterangan:

(1) Adanya kegiatan murabahan.

(2) Adanya penyerahan barang kepada pembeli.

(3) Adanya kegiatan pembayaran dari pembeli.

Gambar 1.2 Skema Murabahah Tanpa Pesanan Sumber : Akuntansi Syariah Di Indonesia, 2016

(32)

Sementara (Karim, 2004) dalam (Kalsum et al., 2016) membedakan pembiayaan murabahah menjadi tiga bagian sesuai dengan peruntukannya, antara lain:

1) Murabahah Modal Kerja (MMK), bertujuan untuk membeli produk-produk yang bisa menjadi modal usaha. Dalam hal ini murabahah penerapan murabahah memerlukan perhatian penuh khusunya ketika ada barang yang memiliki banyak jenis yang akan diperdagangkan sehingga menyebabkan kekhawatiran dalam memberikan harga pokok setiap barang.

2) Murabahah Investasi (MI), merupakan pendanaan jangka menengan atau Panjang dengan maksud membeli barang modal yang dibutuhkan untuk rehabilitasi, perluasan, dan pembuatan proyek baru.

3) Murabahah Konsumsi (MK), merupakan pendanaan individu yang non- bisnis seperti pendanaan kepemilikan mobil, rumah dan lain-lain. Pendanaan konsumsi biasanya diperuntukan untuk pendapatan barang yang tahan lama dengan menggunakan jaminan seperti tanah dan bangunan tempat tinggal.

2.2.4 Ketentuan Umum Murabahah

Pada umumnya, murabahah mempunya beberapa ketentuan seperti yang disebutkan oleh Syafi’i Antonio dalam Kalsum et al. (2016), antara lain:

1) Jaminan

Ketentuan ini tidaklah perkara yang harus terpenuhi dalam perdagangan murabahah dan juga murabahah KPP. Namun, adanya jaminan agar terjaganya kepercayaan dari pembeli supaya mereka tidak mempermainkan

(33)

barang yang sudah dipesan. Dalam hal ini, barang pesanan merupakan jaminan yang bisa digunakan sampai diterimanya pembayaran akan suatu barang tersebut.

2) Utang

Pada dasarnya, tidak ada hubunganya antara utang pemesan yang sudah diselesaikan dalam perdagangan murabahah dengan transaksi lainnya yang berkaitan dengan pihak lain terkait barang yang sudah dipesan. Dalam hal ini, pemesan bisa menggunakan barangnya sendiri atau menjualnya kembali kepada pihak lain. Apabila terdapat penjualan barang kembali sebelum pemesan menyelesaikan angsurannya, maka ia tidak berkewajiban membayar sisa angsurannya. Apabila dalam penjualan barang tersebut terdapat kerugian, maka pemesan tetap berkewajiban menyelesaian angsurannya sesuai dengan perjanjian awal. Hal ini disebabkan akad murabahah yang terpisah dari pihak pertama dan kedua serta pihak kedua dan ketiga.

3) Penundaan Pembayaran oleh Debitor yang Mampu

Adanya pelarangan bagi nasabah yang mampu secara ekonomis untuk melakukan penundaan dalam menyelesaikan hutang murabahah. Apabila terjadi penundaan, maka adanya pengambiilan tindakan secara hukum oleh pembeli dan meminta uang tersebut dikembalikan.

4) Bangkrut

Jika suatu penyelesaian utang pemesan dianggap tidak berhasil karena tidak bisa memenuhinya maka dianggap bangkrut. Tidak hanya itu, jika terdapat

(34)

unsur kelalaian, maka harus ditagih sampai pemesan mengembalikan dan melunasi hutangnya.

2.2.5 Fatwa Dewan Syariah Nasional No. 04/DSN-MUI/IV/2000 tentang Murabahah

Dalam fatwa No: 04/DSN-MUI/IV/2000 tentang murabahah, Dewan Syari’ah Nasional menjelaskan bahwa terdapat enam ketentuan umum murabahah, seperti:

a. Ketentuan umum murabahah untuk lembaga keuangan syariah.

1) Terdapat kegiatan akad murabahah tanpa riba antara lembaga keuangan dan nasabah.

2) Produk yang diperdagangkan tidak bertentangan dengan syariah Islam.

3) Adanya pendanaan sebagaian ataupun keseluruhan harga beli akan suatu barang oleh lembaga keuangan yang sudah disepakati bersama.

4) Pembelian barang harus menggunakan nama lembaga keuangan dan sudah sah serta tidak mengandung unsur riba.

5) Beberapa hal yang berkaitan dengan membeli barang harus dijabarkan serinci dan sedetail mungkin oleh lembaga keuangan kepada nasabah.

6) Adanya keterbukaan atau transparansi harga beli dan harga jual oleh lembaga keuangan dengan nasabah.

7) Pembayaran harga barang harus sudah disepakati oleh nasabah dengan jangka waktu yang sudah ditentukan.

8) Adanya perjanjian khusus antara lembaga keuangan dengan nasabah guna mencegah kerusakan akad perdagangan.

(35)

9) Adanya penggunaan perjanjian perdagangan murabahah ketika pembelian barang dari pihak ketiga diwakilkan oleh nasabah sampai barang tersebut menjadi milik bank.

b. Ketentuan Murabahah untuk nasabah

1) Adanya pengajuan permohonan dan janji akan membeli suatu barang/asset oleh nasabah pada lembaga keuangan.

2) Jika permohonan tersebut sudah diterima, maka lembaga keuangan harus membelikan barang yang sudah dipesan secara legal pada pedagang.

3) Kemudian adanya penawaran barang yang dilakukan oleh lembaga keuangan pada nasabah dan jika sudah disepakatai, nasabah akan membelinya sesuai dengan perjanjian dan membuat kontrak jual beli.

4) Saat melakukan perjanjian dan penandatanganan kontrak diawal, nasabah diperbolehkan membayar uang muka barang tersebut.

5) Adanya pembayaran biaya rill bank yang harus dilakukan oleh nasabah jika ia tidak jadi mengambil barang yang sudah dipesan tersebut.

6) Apabila masih terdapat kerugian dikarenakan uang muka lebih sedikit dari uang yang sueharusnya, maka bank berhak meminta nasabah untuk membayar kerugiannya.

7) Adapun beberapa alternatif apabila nasabah memakai uang muka dengan sistem kontrak urbun, seperti:

a. Adapun pembayaran sisa harga harus dilakukan oleh nasabah apabila ia membeli barang tersebut.

(36)

b. Apabila terjadi pembatalan pembelian yang dilakukan oleh nasabah, maka bank berhak menerima uang muka sebesar kerugian sebab nasabah membatalkannya dan jika uang muka belum memenuhi kerugian, maka bank berhak meminta nasabah untuk melunasinya.

c. Jaminan dalam murabahah

1) Adanya keharusan jaminan dalam murabahah supaya nasabah tidak main- main dengan barang pesanannya.

2) Penyediaan jaminan dari nasabah yang bisa dijadikan jaminan oleh pihak bank.

d. Hutang dalam Murabahah

1) Dalam menyelesaikan hutang oleh pihak nasabah yang menerapkan murabahah tidak berhubungan dengan transaksi lain yang sedang dijalankan nasabah dengan pihak ketiga. Apabila adanya penjualan kembali barang yang dilakukan oleh nasabah yang menghasilkan kerugian maupun keuntungan, maka ia tetap memiliki kewajiban untuk melunasi hutangnya kepada bank.

2) Apabila terjadi penjualan kembali barang sebelum berkahirnya masa angsuran, maka nasabah tidak berkewajiban untuk membayar sisa angsurannya.

3) Apablia terjadi kerugiaan saat menjual kembali barang tersebut, maka hutang tetap harus dilunasi oleh nasabah sesuai dengan perjanjian diawal.

Dalam hal ini, nasabah tidak diperbolehkan untuk menunda dalam membayar angsuran atau meminta keringanan akan hutang tersebut.

(37)

e. Penundaan pembayaran dalam murabahah

1) Tidak adanya pembenaran bagi nasabah yang memeiliki wewenang untuk menunda dalam melunasi hutangnya.

2) Apabila pelunasan tersebut ditunda oleh nasabah secara sengaja, maka Badan Arbitrasi Syari’ah bisa menyelesaikannya setelah tidak tercapainya kesepakatan melalui musyawarah.

f. Bangkrut dalam murabahah

1) Apabila penyellesaian hutang yang dilakukan oleh nasabah dinyatakan gagal, maka pihak bank harus melakukan penundaan dalam menagihhutang sampai nasabah memiliki kesanggupan untuk membayarnya kembali berdasarkan kesepakatan.

2 Syarat dan Rukun Murabahah

Hal yang harus dipenuhi supaya perbuatan bisa dikatakan legal secara hokum islam disebut rukun. Selain itu, rukun juga tidak bisa dipisahkan dengan perbuatan atau lembaga karena keabsahan suatu perbuatan bisa disentukan dengan adanya rukun. Widodo (2010) dalam Armailis (2020) menjelaskan bahwa terdapat beberapa rukun yang harus ada dalam murabahah, seperti:

1) Penjual (Bai’i)

Dalam penelitian ini, lembaga keuangan syariah seperti bank, BPRS, BMT atau KJKS merupakan penjual.

2) Pembeli (musytari)

Nasabah atau pembeli juga harus ada baik pembeli awal atau pembeli akhir yang harus memenuhi syarat sesuai dengan jukum yakni sudah baligh.

(38)

3) Barang yang menjadi objek jual beli (mabi’)

Adanya produk atau barang yang diperdagangkan harus jelas dari ciri- cirinya sampai jumlah dan jenisnya. Disisi lain, barang yang diperdagangkan adalah barang yang halal dan diperbolehkan oleh syariah.

Dengan kata lain, telah ada hak kepemilikan dari penjual akan barang murabahah dan bank atau BMT harus memiliki barang tersebut sebelum diperdagangkan ke pembeli.

4) Harga barang (tsuman)

Adanya kejelasan akan harga barang yang harus diungkapkan serta cara membayarnya. Apabila pembayaran dilakukan secara tangguhan, maka harus disepakati berapa lama waktu pembayaranya.

5) Kontrak/akad (singhat/ijab qabul)

Dalam hal ini pembuatan kontrak bisa dengan cara tulis tangan atau secara notarial. Perjanjian notarial lebih kuat daripada perjanjian dibawah tangan karena tidak membutuhkan bukti lagi.

Sementara itu, Nurhayati dan Wasilah (2015:179) menyebutkan ada beberapa syarat murabahah, yakni:

1) Pihak yang berakad:

a. Terdapat pihak yang menjual dan yang membeli.

b. Perjanjian suatu perdagangan yang dilakukan oleh anak belum baligh tidak sah tanpa didampingi walinya.

c. Pembeli harus memahami hokum perdagangan.

2) Barang / Objek:

(39)

a. Adanya kebermanfaat yang bisa diambil dari barang yang diperdagangkan

b. Penjual harus memiliki hak dan keaslian barang tersebut.

c. Adanya wujud nyata dari barang yang diperdagangkan.

d. Kualitas dan kuantitas barang harus jelas.

e. Spesifikasi barang harus sesuai dengan yang sudah disepakati.

f. Secara fisik, barang harus ada di penjual.

2.2.6 Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) No. 102 tentang Akuntansi Murabahah

Tujuan

1. Maksud dari pernyataan ini yakni untuk memberikan aturan dalam mengakui, mengukur, menyajikan, dan mengungkapkan transaksi murabahah.

Ruang Lingkup

2. Adanya penerapap pernyataan untuk:

(a) lembaga yang menerapkan transaksi murabahan baik sebagai penjual maupun pembeli; dan

(b) nasabah yang menggunakan transaksi murabahah dengan lembaga keuangan syariah atau koperasi syariah.

3. Beberapa lembaga keuangan tersebut, seperti:

(a) bank syariah seperti yang disebutkan di peraturan perundang- undangan yang berlaku;

(40)

(b) lembaga keuangan syariah bukan bank seperti asuransi, lembaga pembiayaan, dan lainnya; dan

(c) lembaga keuangan lain yang mendapatkan izin dari peraturan perundang-undangan yang berlaku untuk menggunakan transaksi murabahah.

4. Tidak adanya cakupan perlakuan akuntansi dalam pernyataan ini atas obligasi syariah (sukuk) yang menerapkan akad murabahah.

5. Pengertian terkait murabahah Karakteristik

6. Murabahah bisa diterapkan menggunakan sistem pesanan dan tanpa pesanan yang mana ketika menggunakan murabahah pesanan, penjual membeli barang ketika sudah ada pembeli yang melakukan pemesanan.

7. Adapun sifat dari murabahah pesanan yakni mengikat atau tidak mengikat pembeli untuk mengambil barangnya. Dalam hal ini, tidak ada pembatalan barang pemesanan ketika menerapkan murabahah mengikat.

8. Pemesan bisa membayar secara tunai ataupun Tangguh ketika diterapkan murabahah.

9. Adanya penawaran harga yang tidak sama dengan sebelum akad murabahah dulakukan. Akan tetapi jika akad sudah terjadi, maka harga tidak boleh berubah.

(41)

10. Harga dalam murabahah yang sudah disetujui menggunakan harga jual namun tetap harus ada transparansi harga beli. Apabila ada potongan harga beli yang didapat penjual maka itu hak pembeli.

11. Potongan yang berhubungan dengan pembelian barang, antara lain, meliputi:

(a) potongan yang diberikan oleh suplier karena membeli barang;

(b) potongan biaya asuransi dari perusahaan asuransi karena membeli barang;

(c) potongan yang didapatkan karena membeli barang.

12. Potongan yang diterima setelah akad disetujui maka harus diikuti. Jika dalam akad tidak menyebutkan adanya aturan yang mengatur tentang potongan, maka potongan tersebut hak penjual.

13. Adanya penyediaan agunan atas hutang murabahah yang diminta penjual dari pemmbeli dalam wujud barang atau asset yang sudah dibeli.

14. Nasabah bisa dimintai uang muka oleh penjual sebagai bukti persetujuan pembelian sebelum akad. Apabila akad murabahah dibatalkan, maka pembeli bisa meminta uang muka kembali dan penjual menanggung kerugiannya.

15. Apabila hutang murabahah tidak dilunasi, maka nasabah bisa dikenai denda sesuai dengan yang sudah disepakati. Dasar dari pendendaan tersebut yakni pendekatan ta’zir yang bisa mendisiplinkan pembeli

(42)

akan kewajibannya. Denda tersebut nantinya akan digunakan sebagai dana kebajikan.

16. Adanya pemberian potongan oleh penjual saat pembeli melunasi hutangnya ketika pembeli melunasinya tidak melebihi waktu yang disepakati atau lebih cepat dari waktu yang sudah disetujui.

17. Potongan pembayaran juga boleh diberikan penjual ketika pembeli melunasi hutangnya dengan menyicil tepat waktu, tidak memiliki kemampuan membayar atau pembeli mengajukan potongan dengan alasan yang masuk akal.

Pengakuan dan Pengukuran Murabahah Akuntansi untuk penjual

18. Adanya pengakuan asset murabahah sebagai persediaan sejumlah dana yang didapatkan.

19. Dalam memperoleh asset murabahah, ada beberapa pengukuran yang bisa dilakukan seperti:

a) apabila menggunakan sifat murbahah yang mengikat maka ada penialaian sejumlah biaya yang didapatkan, dan apabila nilai ase menurut karena kecacatan barang sebelum diberikan ke nasabah, maka nilai barang tersebut juga menurun.

b) Apabila menggunakan murabahah yang tidak mengikat maka ada penilaian sesuai dengan dana yang didapatkan atau murni dari yang direalisasikan. Namun, apabula realisasi dari nilai bersih yand diperoleh lebih rendah, maka akan mengalami kerugian.

(43)

20. Potongan saat membeli asset murabahah digunakan ketika:

a) Penurunan harga asset yang didapatkan sebelum akad murabahah terjadi;

b) Apabila sudah menerapkan akad murabahah, maka potongan menjadi liabilitas kepada pembeli;

c) Apabila akad murabahah sudah dilakukan, maka ada tambahan keuntungan yang menjadi hak penjual; atau

d) Apabila akad murabahah terjadi namun tidak dicantumkan dalam perjanjian maka ada pendapatan operasi lain.

21. Adanya eliminisai pengembalian ketika kewajiban pembeli pada penjual dilakukan saat pembeli membayar sejumlah potongan yang sudah terjadi pengurangan dengan harga saat mengembalikan atau memindahkan sebagai dana kebajikan ketika pembeli tidak menyanggupi kewajibannya.

22. Adanya pengakuan hutang murabahah sejumlah dana perolehan asset beserta keuntungan yang sudah disetujui. Dalam hal ini, hutang murabahah dianggap sejumlah nilai neto yang sudah direalisasi seperti saldo piutang yang dikurangi dengan kerugian.

23. Pengakuan laba murabahah terjadi:

a) Ketika adanya pemberian barang dan sudah dibayar secara tunai atau ketika dibayar secara tangguh tidak melebihi waktu yang sudah ditentukan.

(44)

b) Selama akad masih berlaku guna menggunakan keuntungan tersebut untuk melakukan transaksi lebih dari waktu yang ditentukan.

Adapun beberapa metode yang bisa dipakai berdasarkan risiko dan pembayaran murabahahnya, seperti:

i. Saat asset murabahah diserahkan, maka adanya pengakuan akan keuntungan. Metode ini digunakan ketika penagihan kas dari hutang murabahah yang ditagih relative lebih kecil.

ii. Adanya pengakuan laba secara proporsional ketika adanya penagihan sebesar kas dari hutang murabahah. Metode ini digunakan untuk risiko hutang murabahah yang mana ketika tidak ada penagihan maupun ada penagihan relative besar.

iii. Adanya pengakuan laba saat bank/penjual berhasil menagih hutang murabahah. Metode ini digunakan ketika hutang yang ditagih berisiko besar. Pada kenyataanya, metode ini jarang digunakan karena tidak ada kepastian yang memadai akan penagihan kasnya.

24. Dalam pengakuan laba secara proporsional terjadi ketika penagihan hutang berhasil dengan mengalihkan presentasi hutang dibandingkan margin dan biaya perolehan aset murabahah.

25. Berikut contoh menghitung laba menggunakan proporsional ketika harga beli barang (pokok) Rp800,00 dan laba Rp200,00; serta dibayar secara tangguh selama tiga tahun maka terjadi sebagai berikut:

(45)

Tahun Angsuran (Rp)

Pokok (Rp)

Keuntungan (Rp)

20X1 500 400 100

20X2 300 240 60

20X3 200 160 40

26. Saat pembeli melakukan pelunasan hutang murabahah secara tepat waktu, maka penjual memberikan potongan pelunasan sebagai pengurang laba murabahah.

27. Potongan hutang murabahah dapat diberikan saat nasabah melakukan pelunasan seperti adanya pengurangan hutang atau setelah pelunasan terjadi seperti penjual membayar potongan pelunasan kepada pembeli.

28. Adanya pengakuan potongan murabahah yang biyar secara mengangsur ketika nasabah membayar tepat waktu (dianggap sebagai pengurangan keuntungan) atau adanya penurunan kemampuan nasabah saat melakukan pembayaran (dianggap sebagai beban).

29. Apabila pembeli lupa membayar berdasarkan perjanjian, maka akan diberikan sanksi dan sanksi tersebut digunakan sebagai dana kebajikan.

30. Uang muka bisa diakui dan diukur ketika uang tersebut dijadikan uang muka pembelian sejumlah yang diterima, dijadikan sebagai pembayaran hutang apabila nasabah jadi membeli barang tersebut, dan dikembalikan ketika nasabah tidak jadi membeli barang tersebut.

(46)

Akuntansi untuk Pembeli Akhir

31. Adanya pengakuan hutang dari transaksi murabahah yang ditangguhkan sebagai harga yang wajib dilunasi sejumlah harga beli yang telah disetujui.

32. Adanya pengakuan asset yand didapatkan sejumlah biaya perolehan secara tunai. Adapun harga beli biasanya berselisih dengan biaya perolehan yang mana biasanya dianggap sebagai beban murabahah tangguhan.

33. Adanya amortisasi secara proporsional untuk beban murabahah yang ditangguhkan dengan porsi hutang murabahah.

34. Penerimaan potongan setelah akad murabahah terkait pembelian merupakan potongan pelunansan dan hutang murabahah yang menjadikan beban murabahah tangguhan menurun.

35. Kerugian merupakan pemberian denda akibat nasabah lalai dalam menjalankan kewajiban sesuai dengan akad.

36. Adanya pembatalan terkait potongan biaya awal dikarenakan pembeli terakhir mengabaikan aset sehingga menyebabkan kerugian.

Penyajian Transaksi Murabahah

37. Penyajian hutang murabahah sejumlah nilai neto mampu dilaksanakan ketika jumlah saldo hutang dikurangi dengan penyisihan kerugian.

38. Hutang murabahah dapat berkurang dengan adanya penyajian margin murabahah yang ditangguhkan.

(47)

39. Hutang murabahah bisa berkurang dengan menyajikan beban murabahah yang ditangguhkan.

Pengungkapan Transaksi Murabahah

40. Dalam transaksi murabahah ada beberapa hal yang perlu disampaikan oleh penjual tetapi hanya sebagian yakni:

a) Harga beli barang murabahah;

b) Pesanan yang sesuai dengan perjanjian dalam murabahah sebagai kewajiban atau bukan; dan

c) Hal-hal yang perlu diungkapkan sesuai PSAK 101: Penyajian Laporan Keuangan Syari’ah.

41. Adapun hal-hal yang perlu disampaikan oleh nasabah dalam melakukan transaksi murabahah, sebatas pada:

a) Harga total barang yang didapatkan dari transaksi murabahah;

b) Waktu murabahah yang ditangguhkan.

c) Hal-hal yang perlu disampaikan sesuai PSAK 101: Penyajian Laporan Keuangan Syariah.

2.2.7 Jurnal Akuntansi Murabahah

Lembaga keuangan syariah dalam ruang lingkup PSAK ini menerapkan transaksi murabahah baik untuk penjual maupun pembelli atau peihak lain yang bersangkutan dengan entitas-entitas.

(48)

Akuntansi Untuk Penjual

1. Pengakuan asset murabahah sebagai persediaan sejumlah harga beli dilakukan saat perolehan barang tersebut.

Dr. Aset Murabahah xxx

Cr. Kas xxx

2. Asset murabahah diukur setelah perolehan sejumlah harga beli ketika menggunakan murabahah pesanan mengikat. Hal ini terjadi ketika aset tersebut cacat atau tidak sempurna, maka akan menurun dan dianggap menjadi tanggungan serta nilai aset tersebut menurun. Apabila terjadi penurunan dalam murabahah pesanan mengikat, jurnal:

Dr. Beban Penurunan Nilai xxx

Cr. Aset Murabahah xxx

Sementara apabila menggunakan murabahah tanpa pesanan atau tidak mengikat, maka penilaian aset sesuai dengan harga beli atau nilai bersihnya. Apabila perealisasian nilai bersih lebih rendah dari harga beli, maka terjadi kerugian, sehingga jurnal yang digunakan seperti:

Dr. Kerugian Penurunan Nilai xxx

Cr. Aset Murabahah xxx

3. Jika potongan saat membeli aset murabahah diberikan, maka jurnal akutansi yang digunakan sebagai berikut:

a. Apabila potongan diberikan sebelum akad maka akan mengurangi harga beli aset murabahah, jurnal:

(49)

Dr. Aset Murabahah xxx

Cr. Kas xxx

b. Apabila potongann diberikan setelah akad dan disetujui maka menjadi hak dan kewajiban nasabah, jurnal:

Dr. Kas xxx

Cr. Utang xxx

c. Apabila potongan diberikan setelah akad dan disetujui maka menjadi hak penjual sebagai tambahan pendapatan, jurnal:

Dr. Kas xxx

Cr. Pendapatan Murābahah xxx

d. Apabila potongan diberikan setelah perjanjian dan tidak dicantumkan dalam perjanjian, maka potongan tersebut digunakan sebagai pendapatan operasional lain oleh pihak penjual, jurnal:

Dr. Kas xxx

Cr. Pendapatan Operasional Lain xxx

4. Pengembalian potongan yang menjadi tanggung jawab penjual kepada pembeli akan tereliminasi saat:

a. Nasabah melakukan pembayaran, maka jurnal:

Dr. Utang xxx

Cr. Kas xxx

b. pemindahan dana kebajikan ketika nasabah sudah tidak bisa dihubungi oleh penjual, maka jurnal:

Dr. Utang xxx

(50)

Cr. Kas xxx Dan

Dr. Dana Kebajikan-Kas xxx

Cr. Dana Kebajikan-Potongan Pembelia xxx 5. Pengakuan Keuntungan murabahah:

a. pengakuan keuntungan murabahah bisa terjadi ketika adanya pembayaran penjualan secara tunai ataupun Tangguh dengan cara mengangsur tanpa melebihi waktu yang sudah ditentukan, jurnal::

Dr. Kas xxx

Dr. Piutang Murabahah xxx

Cr. Aset Murabahah xxx

Cr. Pendapatan Margin Murabahah xxx

b. Akan tetapi, apabila pembayaran sampai melebihi waktu yang sudah disepakati, maka:

1). Jika risiko saat menagih kecil, maka laba bisa dianggap saat menyerahkan aset murabahah, sehingga pencatatan dilakukan dengan cara yang sama pada poin a.

2). Apabila risiko relatif besar saat melakukan penggelolaan dan penagihan, maka laba termasuk proporsional, jurnal:

Dr. Piutang Murabahah xxx

Cr. Aset Murabahah xxx

Cr. Margin Murabahah Tangguhan xxx

(51)

Akun kontra dari hutang murbahaha bisa dianggap sebagai Margin Murabahah Tangguhan Pada saat penerimaan angsuran:

Dr. Kas xxx

Cr. Piutang Murabahah xxx

Dr. Margin Murabahah Tambahan xxx

Cr. Pendapatan Margin Murabahah xxx

3). Pengakuan laba dianggap berhasil ketika seluruh hutang bisa ditagih. Hal ini digunakan ketika risiko hutang cukup besar. Adapun metode ini dicatat menggunakan poin (2) hanya saja pembuatan jurnal pengakuan setelah hutang semua lunas.

6. Hutang dianggap sejumlah harga beli beserta keuntungan yang telah disepakati ketika akad murabahah. Dalam hal ini, laporan keuangan menilai hutang murabahah sama seperti nilai bersih dengan akuntansi seperti pada umumnya, yakni saldo hutand minus kerugian, sehingga jurnal bagi yang tidak tertagih menjadi :

Dr. Beban Piutang Tak Tertagih xxx

Cr. Penyisihan Piutang Tak Tertagih xxx

7. Potongan dianggap sebagai pengurang keuntungan murabahah ketika nasabah mampu melunasi hutangnya tepat waktu atau bahkan sebelum waktu yang ditentukan.

a. Potongan dianggap sebagai pengurang keuntungan murabahab ketika diberikan saat pelunasan, maka jurnal:

(52)

Dr. Kas xxx

Dr. Margin Murabahah Tangguhan xxx

Cr. Piutang Murabahah xxx

Cr. Pendapatan Margin Murabahah xxx

(Besarnya Pendapatan Margin Murabahah sama seperti Saldo Margin Murabahah Tangguhan-Potongan)

b. Apabula setelah pelunasan diberikan potongan seperti penjual menerima pelunasan dari nasabah kemudian dibayarkan kembali ke nasabah, maka jurnal:

Pada saat penerimaan piutang dari pembeli

Dr. Kas xxx

Dr. Margin Murabahah Tangguhan xxx

Cr. Piutang Murabahah xxx

Cr. Pendapatan Margin Murabahah xxx

(Besarnya Pendapatan Margin Murabahah seperti saldo Margin Murabahah Tangguhan)

Pada saat pengembalian Kepada Pembeli

Dr. Pendapatan Margin Murabahah xxx

Cr. Kas xxx

(Besarnya Nilai Pendapatan Margin Murabahah seperti potongan pelunasan)

(53)

8. Pemberian denda ditujukan kepada nasabah yang lalai dalam melaksanakan kewajibannya dan denda tersebut akan dialihkan menjadi dana kebajikan.

Dr. Dana Kebajikan-Kas xxx

Cr. Dana Kebajikan-Denda xxx 9. Pengakuan dan pengukuran penerimaan uang muka adalah:

a. Pengakuan uang muka sebagai uang yang digunakan untuk membeli barang sejumlah yang diterima;

b. Uang muka dianggap sebagai pembayaran hutang ketika nasabah jadi membeli barang tersebut.

c. apabila nasabah membatalkan untuk membeli barang, maka adanya pengembalian uang muka kepada nasabah dengan memperhitungkan dana yang sudah digunakan oleh penjual selama pemeasanan.

Berikut beberapa jurnall terkait menerima uang muka:

a. Pembeli membayar uang muka

Dr. Kas xxx

Cr. Utang Lain-Uang Muka Murabahah xxx b. Apabila terjadi pelaksanaan murabahah

Dr. Utang Lain-Uang Muka Murabahah xxx

Cr. Piutang Murabahah xxx

(54)

Oleh karena itu margin ditentukan berdasarkan nilai hutang (harga jual dikurangi uang muka).

2.3 Baitu Mal Wat Tamwil (BMT)

2.3.1 Definisi Baitul Mal Wat Tamwil (BMT)

Dalam bahasa Indonesia, Baitul Maal Wat Tamwil (BMT) yang mana gabungan dari Baitul Mall dan Baitul Tamwil juga sering dikenal dengan balai usaha terpadu. Baitul Mall dalam etimologi memiliki makna rumah uang, sementara Baitul Tamwil berarti rumah pembiayaan. Adapun menghimpun dana dan menyalurkannya ke setiap anggota dengan adanya bagi hasil sesuai dengan syariah merupakah salah satu kegiatan inti dari lembaga ini (Amin, 2019).

BMT atau Balai Usaha Mandiri Terpadu merupakan lembaga keuangan besar yang dijalankan menggunakan prinsip bagi hasil, meningkatkan usaha mikro guna meingkatkan kemartabatan dan mendukung kebutuhan kaum menengah kebawah. Adapun landasan-landasan sistem ekonomi yang digunakan untuk menumbukan usaha tersebut yakni keselamatan (meliputi keadilan), kedamaian, dan kesejahteraan (Pambudi, 2020). Berdasarkan namanya, BMT terbentuk dengan kedua fungsi utamanya, yakni:

1. Baitul Tamwil (rumah pengembangan harta), yang mana terdapat aktifitas untuk membangun usaha yang berguna dan investasi guna mendorong kualitas ekonomi pengusaha makro dan kecil agar menjadi lebih baik seperti mengajak untuk menabung dan menunjang pendanaan kegiatan ekonomi.

(55)

2. Baitul mal (rumah harta), yang mana adanya kegiatan penerimaan dana titipan seperti zakat, infaq, dan sedekah serta menyalurkannya dengan maksimal sesuai dengan syariah dan amanahnya.

2.3.2 Badan Hukum BMT

Pendirian Badan hukum BMT biasanya dalam perkumpulan KSM (kelompok Swadaya Masyarakat) atau Koperasi. Dalam mendapatkan legalitas badan hokum sebagai langkah awal pendirian, kelompok tersebut harus memiliki sertifikat ijin operasional dari PINBUK (Pusat Inkubasi Bank Usaha Kecil). Disisi lain, pengakuan dari Bank Indonesia (BI) harus diperoleh oleh PINBUK sebagai Lembaga Pengembang Swadaya Masyarakat (LPSM) yang menunjang semua program serta proyek Hubungan Bank dengan Kelompok Swadaya Masyarakat yang dijalankan oleh Bank Indonesia (PHBK-BI) (Amin, 2019).

Pendirian BMT juga bisa dilakukan berpedoman pada hukum koperasi seperti koperasi serba usaha, koperasi unit desa, maupun koperasi lainnya.

Lembaga BMT ini mengarah pada Undang-Undang Perkoperasian Nomor 25 Tahun 1992 khusunya dalam Keputusan Menteri Negara Koperasi dan UKM RI Nomor 91/Kep/M.UK.M/IX/2004 tentang Petunjuk Pelaksanaan Kegiatan Usaha Koperasi Jasa Keuangan Syariah (KJKS) (Amin, 2019).

2.3.3 Landasan, Asas dan Tujuan Baitul Mall Wat Tamwil (BMT)

Landasan umum lembaga koperasi yakni Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945 yang telah diatur dalam UU perkoperasian nomor 25 tahun 1992.

Selain itu, lembaga koperasi juga berlandaskan asas kekeluargaan yang mana

Referensi

Dokumen terkait

lembaga keuangan mikro, yang beroperasi dengan prinsip-prinsip syariah. dalam hal ini harus menyiapkan dirinya agar mampu

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kedudukan hokum Koperasi Jasa Keuangan Syariah (KJKS) dalam peraturan peundang-undangan lembaga keuangan, untuk mengetahui

Lembaga keuangan syariah adalah lembaga yang dalam aktifitasnya, baik penghimpunan dana maupun dalam rangka penyaluran dananya memberikan dan mengenakan imbalan atau dasar

Pembayaran uang muka ini dapat diberlakukan dalam akad pembiayaan murabahah antara sebuah Lembaga Keuangan Syariah (LKS) dengan nasabahnya. Ketentuan tersebut dapat

Karena karakternya Baitul Maal wa Tamwil (BMT) dapat menjadi lembaga altenatif untuk program pengentasan kemiskinan dan menjadi pilihan sebagai Lembaga Keuangan

1) Mengintrodusir dan Pembina masyarakat dan pelaku usaha dalam mengembangkan jasa-jasa dan produk- produk lembaga keuangan syariah untuk menduduki kegiatan usaha

Dalam mengeluarkan produk pembiyaan murabahah tentunya Koperasi Jasa Keuangan Syariah mempunyai resiko yang dihadapi dalam melakukan akad atau perjanjian dengan nasabah.

PSAK Nomor 59 berisi standar Akuntansi Perbankan Syariah secara global, PSAK ini memuat perlakuan akuntansi untuk transaksi Mudharabah, Musyarakah, Murabahah, Salam, Istishna, Ijarah,