Lembaga Keuangan Syariah
Kelompok 2
1. Adi Wijayanto (212102020003) 2. Nur Indana Zulfa
(214102020005)
3. M. Fadlin Tsaqif (212102020014) 4. Ayu Aji Setya Ningrum
(212102020017)
● Baitul -Maal wat Tamwil (BMT) atau Balai Usaha Mandiri Terpadu, adalah lembaga keuangan mikro yang dioperasikan dengan prinsip bagi hasil, yang mengembangkan bisnis usaha mikro dalam rangka mengangkat derajat dan
martabat serta membela kepentingan kaum fakir miskin, dengan modal awal dari tokoh-tokoh masyarakat setempat dengan berlandaskan pada system ekonomi yang salam (Keselamatan, Kedamaian, Kesejahteraan)
Pengertian Baitul Maal Wat Tamwil
Sejarah Berdirinya Baitul Wat Tamwil
1990
BMT telah lahir di indonesia pada tahun 1990 dan mengalmai perkembangan yang sangat cepat1995
Pada tahun ini berkembang melalui gerakan nasional BMT, dan mulai menyebar di berbagai wilayah perdesaan dan kota, serta memiliki tujuan untuk menjadi solusi bagi penyelesaian persoalan kemiskinan dari cengkraman sistem ribawi, dengan cara pengembangan usaha produktif, oleh sebab itu BMT terusberkembang dengan berbagai upaya yang positif.
1992
BMT berkembang dari berdirinya Bank Muamalat Indonesia (BMI) yang kegiatan operasionalnya menggunakan prinsip syariah, namun BMI ini tidak menjangkau usaha masyarakat kecil dan menengah
Payung Hukum BMT
Undang-undang Nomor 17 Tahun 2012 tentang Perkoperasian.
Peraturan Pemerintah Nomor 4 Tahun 1994 tentang Persyaratan dan Tata Cara Pengesahan Akte Pendirian dan Perubahan
Anggaran Dasar Koperasi.
Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 1994 tentang Pembubaran Koperasi oleh Pemerintah.
Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 1995 tentang Pelaksanaan Kegiatan Usaha Simpan Pinjam Koperasi.
Keputusan Menteri Negara Koperasi dan UKM RI Nomor 104.1/Kep/M.KUKM/X/2002 tentang Petunjuk Pelaksanaan Pembentukan, Pengesahan Akta Pendirian dan Perubahan Anggaran Dasar Koperasi.
07
08
09
Peraturan Menteri Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah Republik Indonesia Nomor 14/Per/M.KUKM/IX/2015 Tentang Pedoman Akuntansi Usaha Simpan Pinjam dan Pembiayaan Syariah Oleh Koperasi.
Peraturan Menteri Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah Republik Indonesia Nomor 10/Per/M.KUKM/IX/2015 Tentang Kelembagaan Koperasi.
Peraturan Menteri Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah Republik Indonesia Nomor 11/Per/M.KUKM/IX/2015 Tentang Petunjuk Pelaksanaan Pemupukan Modal Penyertaan Pada Koperasi.
Peraturan Menteri Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah Republik Indonesia Nomor 16/Per/M.KUKM/IX/2015 Tentang Pelaksanaan Kegiatan Usaha Simpan Pinjam dan Pembiayaan Syariah oleh Koperasi
Prosedur pendirian BMT
01 02 03
Sekurang-kurangnya 20 (dua puluh) orang.
04
Satu pendiri dengan lainnya sebaiknya tidak memiliki hubungan keluarga vertikal dan horizontal satu kali.
Sekurang-kurangnya 70 % anggota pendiri bertempat tinggal di sekitar daerah kerja BMT.
Pendiri dapat bertambah dalam tahun- tahun kemudian jika disepakati oleh rapat para pendiri.
Struktur Organisasi BMT
3
Pembina Manajeme
n
1
Musyawara h anggota
tahunan
4
Manager
2
Dewan pengurus
dan pengawas
Syariah
5
Pemasara n
6 7
Kasir Pembukua n
Kegiatan usaha BMT
Penghimpunan dana Zakat, infaq dan Sedekah untuk disalurkan ke para mustahiq (penerima dana zakat)
Penghimpunan dana BMT dengan mobilisasi dana dan mengembangkan dalam berbagai bentuk simpanan
Penyaluran dana melalui kegiatan pembiayaan usaha mikro
Kebijakan Pengembangan BMT
System Non- Provit Prinsip
bagi hasil
Akad Bersyara
t System
Jual-beli
Produk Pembiayaa
n
Menurut Suhendi untuk mencapai
keberhasilan BMT juga menerapkan prinsip sebagai berikut:
Prinsip kehati-hatian (prudential Principle) untuk melaksanakan kegiatan operasionalnya terutama dalam pemberian pembiayaan kepada masyarakat.
Prinsip mengenal nasabah (Know Your Customer Principle) prinsip ini lebih menekankan pada aspek karakter nasabah.
Prinsip Good Corporate Governance (GCG), prinsip ini secara internal perlu diterapkan karena meliputi transparency, accountability, independence, dan fairness