• Tidak ada hasil yang ditemukan

Makalah Baitul Maal wat Tamwil (BMT)

N/A
N/A
Muhammad Fadlin Tsaqif

Academic year: 2024

Membagikan "Makalah Baitul Maal wat Tamwil (BMT)"

Copied!
16
0
0

Teks penuh

(1)

MAKALAH

BAITUL MAAL WAT TAMWIL (BMT)

Disusun Untuk Memenuhi Tugas Kelompok Mata Kuliah Lembaga Keuangan Syariah

Dosen Pengampu: Ibu Afrik Yunari, M.H., S.Sy

Disusun Oleh:

Adi Wijayanto (212102020003) Nur Indana Zulfa (214102020005) M. Fadlin Tsaqif (212102020014) Ayu Aji Setya Ningrum (212102020017)

PROGRAM STUDI HUKUM EKONOMI SYARIAH FAKULTAS SYARIAH

UNIVERSITAS ISLAM KH ACHMAD SIDDIQ JEMBER

MARET 2023

(2)

KATA PENGANTAR

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh...

Puji syukur kehadirat Allah Subhanahu wa ta'ala atas segala rahmat-nya dan sholawat serta salam tetap kita haturkan kepada junjungan kita nabi besar Muhammad SAW, sehingga makalah ini dapat tersusun dengan baik. Tidak lupa juga mengucapkan banyak terima kasih atas bantuan dari pihak yang telah berkontribusi dengan meluangkan waktu dan memberikan sumbangan baik materi maupun pikirannya.

Harapan kami semoga makalah ini dapat menambah pengetahuan dan pengalaman bagi para pembaca, untuk kedepannya dapat memperbaiki bentuk maupun menambah isi makalah agar menjadi lebih baik lagi. Karya tulis ini dibuat untuk memenuhi tugas kuliah yang membahas tentang “Baitul Maal Wat Tamwil”

Dengan selesainya makalah ini kami mengucapkan terimakasih banyak kepada semua pihak yang telah terlibat didalamnya.

Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh....

Jember, 6 Maret 2023

Penyusun

(3)

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ... 2

DAFTAR ISI ... 3

PENDAHULUAN ... 4

A. Latar Belakang ... 4

B. Rumusan Masalah ... 5

C. Tujuan Masalah ... 5

PEMBAHASAN ... 6

A. Pengertian Baitul Maal Wat Tamwil ... 6

B. Sejarah Berdirinya Baitul Maal Wat Tamwil ... 6

C. Payung Hukum Baitul Maal Wat Tamwil ... 7

D. Prosedur pendirian Baitul Maal Wat Tamwil ... 9

E. Struktur Organisasi Baitul Maal Wat Tamwil ... 9

F. Kegiatan dan Kebijakan Pengembangan Baitul Maal Wat Tamwil ... 11

PENUTUP ... 15

DAFTAR PUSTAKA ... 16

(4)

BAB I

PENDAHULUAN A. Latar Belakang

Sekitar tujuh tahun lamanya, sejak Indonesia mengalami krisis ekonomi dan moneter pada akhir tahun 1997, peranan Baitul Mal Wat Tamwil (BMT) cukup besar dalam membantu kalangan usaha kecil dan menengah. Peranan BMT tersebut sangat penting dalam membangun kembali iklim usaha yang sehat di Indonesia.

Bahkan, ketika terjadi krisis ekonomi dan moneter, BMT sering melakukan observasi dan supervisi ke berbagai lapisan masyarakat untuk menelaah bagi terbukanya peluang kemitraan usaha. Hal tersebut ditujukan untuk membangkitkan kembali sektor riil yang banyak digeluti oleh kalangan usaha kecil dan menengah serta untuk memperbaiki kesejahteraan ekonomi masyarakat secara keseluruhan.

Berdirinya lembaga keuangan syariah sejenis Baitul Mal Wa Tamwil (BMT) di Indonesia merupakan jawaban terhadap tuntunan dan kebutuhan kalangan umat muslim. Kehadiran BMT muncul pada saat umat Islam mengharapkan adanya lembaga keuangan yang menggunakan prinsip-prinsip syariah dan bebas dari unsur riba yang diasumsikan haram.

Ketika pemerintah menetapkan kebijakan tentang pengembangan lembaga keuangan syariah, muncul berbagai pandangan positif terhadap peran aktif lembaga BMT yang telah memberikan prioritas penting bagi perbaikan taraf hidup dan perekonomian masyarakat. Latar belakang berdirinya BMT bersamaan dengan usaha pendirian Bank Syariah di Indonesia, yakni pada tahun 1990-an. BMT semakin berkembang tatkala pemerintah mengeluarkan kebijakan hukum ekonomi UU No. 7/1992 tentang Perbankan dan PP No, 72/1992 tentang Bank Pengkreditan Rakyat Berdasarkan Bagi Hasil.

(5)

B. Rumusan Masalah

1. Apa itu baitul maal wat tamwil ?

2. Bagaimana sejarah berdirinya baitul maal wat tamwil ? 3. Apa payung hukum dari baitul maal wat tamwil ? 4. Bagaimana prosedur pendirian baitul maal wat tamwil ? 5. Bagaimana struktur organisasi baitul maal wat tamwil ?

6. Bagaimana kegiatan baitul maal wat tamwil dan kebijakan pengembangan baitul maal wat tamwil ?

C. Tujuan Masalah

1. Untuk mengetahui apa itu baitul maal wat tamwil

2. Untuk mengetahuisejarah berdirinya baitul maal wat tamwil 3. Untuk mengetahui payung hukum dari baitul maal wat tamwil 4. Untuk mengetahui prosedur pendirian baitul maal wat tamwil 5. Untuk mengetahui struktur pada baitul maal wat tamwil

6. Untuk mengetahui kegiatan dan kebijakan pengembangan baitul maal wat tamwil

(6)

BAB II PEMBAHASAN A. Pengertian Baitul Maal Wat Tamwil

Baitul -Maal wat Tamwil (BMT) atau Balai Usaha Mandiri Terpadu, adalah lembaga keuangan mikro yang dioperasikan dengan prinsip bagi hasil, menumbuh kembangkan bisnis usaha mikro dalam rangka mengangkat derajat dan martabat serta membela kepentingan kaum fakir miskin, ditumbuhkan atas prakarsa dan modal awal dari tokoh-tokoh masyarakat setempat dengan berlandaskan pada sistem ekonomi yang salaam: keselamatan (berintikan keadilan), kedamaian, dan kesejahteraan.1

B. Sejarah Berdirinya Baitul Maal Wat Tamwil

BMT telah lahir di Indonesia pada tahun 1990-an yang kemudian mengalami perkembangan yang sangat cepat. Pada tahun 1992 BMT berkembang dari berdirinya Bank Muamalat Indonesia (BMI), yang mana prakteknya kegiatan operasional BMI ini berlandaskan nilai-nilai syariah, setelah berdirinya BMI munculnya peluang berdirinya bank-bank yang berpinsip syariah, namun operasional BMI tidak menjangkau usaha masyarakat kecil dan menengah. Maka dari itu pada tahun 1995 yaitu melalui gerakan nasional BMT munculnya BMT di berbagai wilayah pedesaan dan kota diharapkan dapat menjadi solusi bagi penyelesaian persoalan kemiskinan dan pembebasan masyarakat miskin dari cengkeraman sistem ribawi yang menyengsarakan melalui pengembangan usaha produktif oleh karena itu BMT harus terus bertumbuh berkembang dengan berbagai upaya yang positif.2

1 Rohadi Abdul Fatah, Produk-Produk Lembaga Keuangan Syariah,Direktorat Jendral Bimbingan Masyarakat Islam Kementrian Agama RI,Tahun 2010,Hal 107.

2 Widiayanto bin Mislan Cokrohadusumarto,Abdul Ghaffar Ismail,Kartiko A. Wibowo,BMT Praktik dan Kasus,Divisi Buku Perguruan Tinggi,P.T RajaGragindo

Persada,Jakarta,Tahun 2016,hal xxiv

(7)

C. Payung Hukum Baitul Maal Wat Tamwil

Baitul Maal Wat Tanwil (BMT) merupakan lembaga keuangan mikro syari’ah yang secara faktual telah memberikan pengaruh positif terhadap berlangsungnya pembangunan ekonomi di Indonesia. BMT sebagai koperasi syari’ah berada di bawah naungan Dinas Koperasi, konsekuensinya , segala aktivitas keuangan yang terjadi dilindungi oleh kebijakan Undang-undang Koperasi. Namun secara faktual keberadaan UU Koperasi justru belum mampu memberikan dasar hukum yang sesuai dengan praktik BMT yang ada. Oleh karenanya pembentukan aturan hukum yang pasti merupakan hal yang tak bisa ditunda lagi mengingat keberadaan BMT kian tumbuh dan semakin berkembang baik dari aspek jumlah maupun permodalannya. Dengan dibatalkannya UU Koperasi No.17 Tahun 2012 maka perlu bagi BMT memiliki aturan hukum tersendiri sebagai payung hukum bagi aktivitas BMT sebab Koperasi dan BMT (yang disejajarkan dengan Koperasi Syari’ah) berbeda secara operasional dan prinsip. Oleh karenanya pembentukan Undang-Undang Koperasi Syari’ah sebagai dasar Hukum BMT harus segera dilaksanakan. Dalam rangka pembentukan UU Koperasi Syari’ah dalam kerangka Ius Constituendum maka hendaknya perlu diperhatikan 3 nilai dasar , nilai dasar tersebut adalah: pertama Nilai Keadilan yang mendasari secara filosofis terbentuknya suatu aturan hukum ( Filosofiche Geltung ) dimana dasar ini merupakan suatu landasan ideal yang mengandung cita-cita kolektif masyarakat tentang nilai luhur yang terkandung dalam Pancasila dan UUD 1945. Kedua adalah nilai kemanfaatan yang mendasari secara sosiologis ( soziologische geltung) agar hukum memiliki kekuatan berlaku dimasyarakat. Ketika adalah nilai kepastian yang lahir sebagai dasar yuridis suatu aturan hukum( Juridische Geltung), dasar ini terkait dengan persyaratan formal pembentukan suatu peraturan selanjutnya Landasan politis artinya bahwa keberadaan suatu aturan hukum merupakan suatu upaya menuangkan cita-cita kolektif masyarakat Indonesia dalam

(8)

suatu aturan hukum melalui kekuatan politis yang ada dengan kata lain dasar ini memiliki keterkaitannya dengan kekuasaan yang berperan sebagai3 Ada beberapa dasar hukum yang dapat dijadikan landasan hukum untuk BMT yang akan menjadi koperasi seperti :

1. Undang-undang Nomor 17 Tahun 2012 tentang Perkoperasian.

2. Peraturan Pemerintah Nomor 4 Tahun 1994 tentang Persyaratan dan Tata Cara Pengesahan Akte Pendirian dan Perubahan Anggaran Dasar Koperasi.

3. Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 1994 tentang Pembubaran Koperasi oleh Pemerintah.

4. Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 1995 tentang Pelaksanaan Kegiatan Usaha Simpan Pinjam Koperasi.

5. Keputusan Menteri Negara Koperasi dan UKM RI Nomor 104.1/Kep/M.KUKM/X/2002 tentang Petunjuk Pelaksanaan Pembentukan, Pengesahan Akta Pendirian dan Perubahan Anggaran Dasar Koperasi.

6. Peraturan Menteri Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah Republik Indonesia Nomor 16/Per/M.KUKM/IX/2015 Tentang Pelaksanaan Kegiatan Usaha Simpan Pinjam dan Pembiayaan Syariah oleh Koperasi.

7. Peraturan Menteri Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah Republik Indonesia Nomor 14/Per/M.KUKM/IX/2015 Tentang Pedoman Akuntansi Usaha Simpan Pinjam dan Pembiayaan Syariah Oleh Koperasi.

8. Peraturan Menteri Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah Republik Indonesia Nomor 10/Per/M.KUKM/IX/2015 Tentang Kelembagaan Koperasi.

9. Peraturan Menteri Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah Republik Indonesia Nomor 11/Per/M.KUKM/IX/2015 Tentang Petunjuk Pelaksanaan Pemupukan Modal Penyertaan Pada Koperasi.

3 Elfa Murdiana,Jurnal Penelitian,Vol 10 Nomer 2 2016,Jurnal Penelitian,Institut Agama Islam Negeri Pekalongan

(9)

D. Prosedur pendirian Baitul Maal Wat Tamwil

BMT dapat didirikan oleh :

1. Sekurang-kurangnya 20 (dua puluh) orang.

2. Satu pendiri dengan lainnya sebaiknya tidak memiliki hubungan keluarga vertikal dan horizontal satu kali.

3. Sekurang-kurangnya 70 % anggota pendiri bertempat tinggal di sekitar daerah kerja BMT.

4. Pendiri dapat bertambah dalam tahun-tahun kemudian jika disepakati oleh rapat para pendiri.4

E. Struktur Organisasi Baitul Maal Wat Tamwil

Struktur organisasinya meliputi semua BMT memiliki bentuk struktur organisasi yang sama. Musyawarah anggota tahunan, dewan pengurus, dewan pengawas syariah, pembina manajemen, manager, pemasaran, kasir, dan pembukuan. Adapun tugas dari masing-masing struktur yang sudah dijelaskan diatas adalah sebagai berikut:

1. Musyawarah Anggota Tahunan Musyawarah ini dilaksanakan setiap tahun sekali, yang dihadiri oleh semua anggota atau perwakilannya.

Musyawarah ini merupakan kekuasaan tertinggi dalam sistem manajemen BMT dan oleh karenanya berhak memutuskan :

a. Pengesahan atau perubahan anggaran dasar dan anggaran rumah tangga organisasi.

b. Pemilihan, pengangkatan dan sekaligus pemberhentian pengurus dan pengawas, baik pengawas syariah maupun manajemen

c. Penetapan anggaran pendapatan dan belanja BMT selama satu tahun

4 Rohadi Abdul Fatah,Produk-Produk Lembaga Keuangan Syariah, ,Hal 109

(10)

d. Penetapan visi dan misi organisasi

e. Pengesahan laporan pertanggungjawaban pengurus tahun sebelumnya;

f. Pengesahan rencana program kerja tahunan.

2. Dewan Pengurus BMT pada hakekatnya adalah wakil dari anggota dalam melaksanakan hasil keputusan musyawarah tahunan.Oleh karenanya, pengurus harus dapat menjaga amanah yang telah dibebankan kepadanya. Amanah ini nantinya akan dipertanggungjawabkan kepada anggota pada tahun berikutnya.

Masa kerja pengurus sangat tergantung pada kepentingan organisasi.

Artinya BMT dapat menetapkan masa kerjanya 2,3,4 atau 5 tahun.

3. Dewan Pengawas Syariah bertugas mengawasi dan menilai operasionalisasi BMT.

4. Pembina Manajemen bertugas untuk membina jalannya BMT dalam merealisasikan programnya.

5. Manajer bertugas menjalankan amanat musyawarah anggota BMT dan memimpin BMT dalam merealisasikan programnya. Selain itu menurut Rivai tugas manajer dalam sebuah BMT adalah membuat rencana pemasaran, pembiayaan, operasional, dan keuangan secara periodic, membuat kebijakan khusus sesuai dengan kebijakan umum yang digariskan oleh dewan pengurus syariah, memimpin dan mengarahkan kegiatan yang dilakukan oleh stafnya, membuat laporan pembiayaan baru, perkembangan pembiayaan, dana, rugi laba secara periodik kepada dewan pengawas syariah.

6. Pemsaran bertugas untuk mensosialisasikan dan mengelola produkproduk BMT.

7. Kasir bertugas melayani nasabah.

8. Pembukuan bertugas untuk melakukan pembukuan atas asset dan omzet BMT,5

5 http://repo.iain-tulungagung.ac.id/bab2 Diakses Pada 1 Maret,Pukul 09.17

(11)

F. Kegiatan dan Kebijakan Pengembangan Baitul Maal Wat Tamwil

Pada awalnya dana yang ada di BMT yakni berbentuk simpanan pokok khusus (SPK) yang itu merupakan dana pertama plus hasil pengumpulan modal dari para pendiri BMT yang apabila dioperasikan maka dana para pendiri yang terkumpul tersebut diinvestasikan dengan cara digunakan untuk membeli kebutuhan yang diperlukan dalam pengoperasionalan BMT, sehingga selama BMT masih belum menghasilkan keuntungan maka modal akan tetap dibutuhkan untuk menutupi kekurangan dari pengeluaran perbulannya. Bukan hanya dari para pendiri dan anggota lainnya, dana juga dapat dihasilkan dari badan amal zakat, infak dan sedekah kemudian bisa juga dari yayasan, atau pemerintahan daerah dan lain sebagainya.

Dari pengumpulannya tersebut BMT kemudian mengadakan beberapa macam usaha baik itu usaha disektor keuangan maupun non keuangan.

Disektor keuangan bisa meliputi:6

1. Penghimpunan dana zakat, infaq dan sadakah untuk disalurkan ke para mustahiq (penerima dana zakat).

2. Penghimpunan dana BMT dengan mobilisasi dana dan

mengembangkan dalam berbagai bentuk simpanan sebagai berikut:

a. Simpanan biasa b. Simpanan Pendidikan c. Simpanan Haji

d. Simpanan Umrah e. Simpanan Kurban f. Simpanan Idulfitri g. Simpanan Walimah

6 Dinah, Toha, Sandhi . Bank dan Lembaga Keuangan Syari’ah. (Mojokerto; Literasi Nusantara,

2019), hlm. 237.

(12)

h. Simpanan Akikah i. Simpanan Perumahan

j. Simpanan Kunjungan Wisata k. Simpanan Mudarabah berjangka

3. Penyaluran dana melalui kegiatan pembiayaan terhadap usaha kecil dibawah (mikro) dan kecil (diatas mikro), pembiayaan ini meliputi:

a. Pembiayaan Mudarabah, BMT membiayai usaha anggota secara total dengan mekanisme pembayaran bagi hasil.

b. Pembiayaan Musyarakah BMT membiayai usaha anggota hanya separuhnya saja dengan mekanisme pembayaran bagi hasil.

c. Pembiayaan Murabahah, BMT membantu membiayai nasabahnya untuk membeli suatu barang yang kemudian nasabah tersebut menjual lagi barangnya dengan sebuah keuntungan yang didapatnya sesuai kesepakatan.

d. Pembiayaan Bai’ bi tsaman ajil, BMT membantu membeli barang secara kontan yang diinginkan nasabahnya kemudian nasabah membeli barang yang dibeli BMT secara angsuran dengan margin yang didapat BMT sesuai kesepakatan.

e. Pembiayaan Qardul hasan, BMT membiayai atau meminjamkan uang kepada nasabah tanpa adanya tambahan pengembalian (hutang piutang tanpa adanya bunga).7

Kebijakan pengembangan BMT disini menggunakan beberapa Prinsip 1. Prinsip bagi hasil

2. System jual-beli 3. System non provit 4. Akad bersyariat

7 Miswatun Khasanah Hidayat, BMT sebagai alternatif pembiayaan (Mei 2020),1, https://osf.io/54h2e/download

(13)

5. Produk pembiayaan

Namun BMT ini tidak dapat melakukan transaksi transfer, kliring, dan giro Suhendi (2009) berpendapat bahwa untuk mencapai keberhasilan dalam melakukan kegiatan pembiayaan kepada masyarakat, BMT juga menerapkan prinsip sebagai berikut:

1. Prinsip kehati-hatian (prudential Principle) untuk melaksanakan kegiatan operasionalnya terutama dalam pemberian pembiayaan kepada masyarakat.

2. Prinsip mengenal nasabah (Know Your Customer Principle) prinsip ini lebih menekankan pada aspek karakter nasabah.

3. Prinsip Good Corporate Governance (GCG), prinsip ini secara internal perlu diterapkan karena meliputi transparency,

accountability, independence, dan fairness.8 Cara kerja BMT adalah sebagai berikut :

1. Pendamping atau beberapa pemrakarsa yang mengetahui tentang BMT, menyampaikan dan menjelaskan ide atau gagasan ini kepada rekanrekannya sebagai upaya untuk menarik beberapa orang sebagai pemrakarsa. awal hingga mencapi lebih dari 20 (dua puluh) orang.

2. Dua puluh orang atau lebih tersebut kemudian menyepakati pendirian BMT di desa, kecamatan, pasar, atau mesjid dan bersepakat mengumpulkan modal awal pendirian BMT.

3. Modal awal kemudian ditentukan sesuai dengan kesepakatan bersama (tidak harus sama jumlahnya antara pemrakarsa, hingga mencapai jumlah yang telah ditentukan untuk pendirian sebuah BMT.

4. Pemrakarsa membuat rapat untuk memilih pengurus BMT.

5. Pengurus BMT kemudian merapatkan dan merekrut pengelolajmanajemen BMT dari lingProdak-produk Letnbaga Keuangan Syariah kungan tersebut yang memiliki sifat siddiq, tabligh,

8 Yanuar Dharma Putra, Imron Mawardi, Eliminasi Risiko Operasional BMT Sri Sejahtera Surabaya, Jurnal Ekonomi Syariah Teori dan Terapan, Vol. 6 No. 7 (Juli 2019) 1318.

(14)

amanah, fathonah dan benar-benar menguasai visi, misi, tujuan, dan usaha-usaha BMT, serta memiliki keinginan keras dan dengan sepenuh hati untuk mengembangkan BMT.

6. Pengurus BMT menghubungi PINBUK setempat untuk memberikan pelatihan kepada calon pengelolanjmanajemen BMT tersebut (umumnya 2 minggu pelatihan dan magang).

7. Pengelola yang telah diberi pelatihan kemudian membuka kantor dan menjalankan BMT, dengan giat menggalakkan simpanan masyarakat dan memberikan pembiayaan pada usaha mikro dan kecil di sekitarnya.

8. Pembiayaan pada usaha mikro dilakukan dengan menerapkan sistem bagi hasil yang disampaikan sesuai dengan akad yang telah disepakati.

9. Hasil bagi hasil ini kemudian digunakan oleh para pengelola untuk membayar honor para pengelola dan membayar kegiatan operasional BMT.

10. Hasil bagi hasil juga digunakan untuk membayar bagi hasil kepada penyimpan dana, diupayakan agar nilai bagi hasil yang diperoleh para penyimpan dana bisa lebih besar dari bunga bank konvensional.9

9 Rohadi Abdul Fatah,Produk-Produk Lembaga Keuangan Syariah ,Hal 111-112.

(15)

BAB III PENUTUP A. Kesimpulan

BMT adalah lembaga keuangan mikro yang didirikan untuk membiayai dan membentuk perkembangan usaha mikro masyarakat berdasarkan prinsip syariah dengan menjaring dana-dana tersebut kemudian didistribusikan kepada orang-orang yang berhak menerimanya sesuai dengan yang telah diatur dalam Alquran kemudian berikan bantuan pendanaan untuk aktivitas perekonomian umat dalam skala kecil. Dasar hukum keberadaan Baitul Maal Wa Tamwil (“BMT”) di Indonesia adalah Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2013 tentang Lembaga Keuangan Mikro. Undang-undang tersebut mengkategorikan BMT sebagai Lembaga Keuangan Mikro (“LKM”) dan mengatur bahwa LKM haruslah berbentuk badan hukum koperasi atau perseroan terbatas.

(16)

DAFTAR PUSTAKA

Dr.H.Rohadi Abdul Fatah,2010,Produk-Produk Lembaga Keuangan Syariah,Jakarta,Direktorat Jendral Bimbingan Masyarakat Islam Kementrian Agama RI

Murdiana Elfa,”Jurnal Penelitian”,Vol 10 Nomer 2 2016,Jurnal Penelitian,Institut Agama Islam Negeri Pekalongan

http://repo.iain-tulungagung.ac.id/bab2 Diakses Pada 1 Maret,Pukul 09.17

N. Dinah, M. Toha, R. Sandhi. 2019. Bank dan Lembaga Keuangan Syariah.

Malang: Literasi Nusantara Abadi.

Miswatun Khasanah Hidayat, BMT sebagai alternatif pembiayaan (Mei 2020),1, https://osf.io/54h2e/download

Yanuar Dharma Putra, Imron Mawardi, Eliminasi Risiko Operasional BMT Sri Sejahtera Surabaya, Jurnal Ekonomi Syariah Teori dan Terapan, Vol. 6 No. 7 (Juli 2019) 1318.

Referensi

Dokumen terkait

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan menganalisa pelaksanaan sistem bagi hasil dalam pembiayaan Mudharobah di BMT ( Baitul Maal wat Tamwil ) berdasarkan prinsip

yang dilakukan Baitul Maal wat Tamwil (BMT) Tumang dan respon. masyarakat Jrakah, Kecamatan Selo,

Tujuan dari penelitian ini adalah ingin mengetahui pelaksanaan perjanjian pembiayaan dengan prinsip Musyarakah pada Baitul Maal Wat Tamwil (BMT) Insan Kamil, penanganan

pembiayaan dengan prinsip Musyarakah pada Baitul Maal Wat Tamwil (BMT) Insan Kamil. Sedangkan analitis, dilakukan terhadap berbagai aspek hukum yang mengatur

Selain Terlepas dari masalah yang dihadapi oleh para nasabah terkait produknya, para nasabah juga memperoleh manfaat adanya Baitul Maal Wat Tamwil (BMT) di Kota Medan, yaitu

Karena karakternya Baitul Maal wa Tamwil (BMT) dapat menjadi lembaga altenatif untuk program pengentasan kemiskinan dan menjadi pilihan sebagai Lembaga Keuangan

Baitul Maal wat Tamwil (BMT) atau Balai Usaha Mandiri Terpadu, adalah lembaga keuangan mikro yang dioperasikan dengan prinsip bagi hasil, menumbuhkembangkan

Service Quality Development Strategy for Customers of Baitul Maal Wat Tamwil BMT Sahara Tulungagung Fatkhur Rohman Albanjari*1, Nugraheni Fitroh Rezqi Syakarna2 1,2Universitas