PENGEMBANGAN SKALA KONSEP DIRI
LIFE BASE LEARNING MAHASISWA UNIVERSITAS NEGERI MALANG
| Dr. Nur Eva, S.Psi., M.Psi. | Pravissi Shanti, S.Psi., M.Psi
| Prof. Dr. Nur Hidayah, M.Pd | Dr. Lia Yuliati M.Pd. | Aji Bagus Priyambod, M.Psi. | M. Khoirul Anam | M. Iqbal Fakhrul Firdaus
| Dr. Haslina binti Muhammad |
MONOGRAF
MONOGRAF
PENGEMBANGAN SKALA KONSEP DIRI LIFE BASE LEARNING MAHASISWA UNIVERSITAS
NEGERI MALANG
PENULIS
Dr. Nur Eva, S.Psi., M.Psi, Psikolog Pravissi Shanti, S.Psi., M.Psi Prof. Dr. Nur Hidayah, M.Pd
Dr. Lia Yuliati M.Pd Aji Bagus Priyambodo
M. Khoirul Anam M. Iqbal Fakhrul Firdaus Dr. Haslina binti Muhammad
FAKULTAS PENDIDIKAN PSIKOLOGI
2020
PENGEMBANGAN SKALA KONSEP DIRI LIFE BASE LEARNING MAHASISWA UNIVERSITAS NEGERI MALANG
Nur Eva dkk.
© FPPsi UM, 2020
ISBN: 978-623-6589-04-5
Editor : Dr. Tutut Chusniyah, M.Si.
Rancang Sampul : Sri Andayani Setting/Layout : Yuanita
Penerbit:
Fakultas Pendidikan Psikologi (FPPsi) Universitas Negeri Malang (UM) Jl. Semarang No. 5 Malang 65145
Telp./Fax. (0341) 551312 / (0341) 579700
Cetakan Pertama, November 2020
All rights reserved. No part of this publication may be reproduced or transmitted in any form or by any means, electronic or mechanical, without the prior written permission of the publisher.
Hak cipta dilindungi undang-undang. Dilarang memperbanyak sebagian atau seluruh isi buku ini dalam bentuk apapun, baik secara elektronis maupun mekanis, dan dengan cara apapun tanpa izin tertulis dari penerbit.
KATA PENGANTAR
Segala puji bagi Allah SWT yang telah menganugrahkan kesehatan pada masa pandemi Covid-19 ini. Indonesia telah memasuki masa pandemi Covid-19 sejak bulan Maret 2020, upaya untuk tetap sehat dan produktif adalah bagian dari dedikasi seorang civitas akademika.
Termasuk menyelesaikan penelitian PNBP UM 2020 dengan judul PENGEMBANGAN SKALA KONSEP DIRI MAHASISWA UNIVERSITAS NEGERI MALANG SEBAGAI INSTRUMEN EVALUASI KURIKULUM LIFE-BASED LEARNING.
Buku monograf ini diberi judul sesuai dengan judul proposal penelitian ini, namun dimodifikasi menjadi lebih singkat dengan harapan lebih menarik untuk pembaca. Monograf ini akan menuliskan dari awal proses penelitian sampai hasil yang diperoleh. Dengan harapan publikasi penelitian ini lebih mudah diakses dan dipahami oleh pembaca dari berbagai disiplin ilmu, khususnya psikologi.
Universitas Negeri Malang pada tahun 2018 menerapkan kurikulum life-base learning sebagai respon terhadap Revolusi Industri 4.0. Kurikulum life-base learning ini diberi nama Kurikulum 2020. Tujuan Kurikulum 2020 adalah meluluskan mahasiswa yang memiliki kompetensi akademik, profesi, dan/atau vokasi yang bertakwa, berakhlak mulia, cerdas, mandiri, memiliki komitmen kebangsaan, dan mampu berkembang secara profesional.
Mahasiswa dengan kriteria tersebut diharapkan mempunyai konsep diri life-based learning, yaitu mahasiswa yang mempunyai konsep diri sesuai dengan tujuan kurikulum life-base learning. Untuk mengetahui konsep diri mahasiswa Universitas Negeri Malang yang dihasilkan dari Kurikulum life-base learning dibutuhkan skala psikologis yang dapat digunakan untuk mengukur kosep diri mahasiswa Universitas Negeri Malang. Hal ini penting dikembangkan oleh Universitas Negeri Malang sebagai instrument evaluasi kurikulum life- base learning terutama capaian pada dimensi kepribadian mahasiswa.
Penelitian ini dilakukan pada masa pandemi Covid-19. Berbagai hambatan penulis temui termasuk keterbatasan jumlah data yang dianalis. Kritik dan saran penulis tunggu demi perbaikan karya yang akan datang. Tidak lupa penulis sampaikan terima kasih pada semua pihak yang telah berkontribusi terhadap diterbitkannya buku ini. Semoga Allah berkenan menulis sebagai amal jariah yang akan mengalirkan pahala sampai kelak di akhirat, amin.
Malang, 21 Oktober 2020 Penulis Dr. Nur Eva, M.Psi, Psikolog dkk.
DAFTAR ISI
Halaman Judul ……… ………... i
Kata Pengantar ……….... ……… iii
Daftar Isi ………... Daftar Tabel ………... Daftar Gambar ... ……… ... ... v vi BAB I Pendahuluan vii 1.1 Latar Belakang ……… ……… 1
1.2 Rumusan Masalah ……… ……… 2
1.3 Tujuan Penelitian ……… ……… 2
BAB II Kajian Pustaka 2.1 Skala Psikologis ……… ……… 4
2.2 Konsep Diri ……… ……… 6
2.3 Kurikulum Life-base Learning ……… ……… 7
2.4 Skala Konsep Diri Life-base learning ... ……… 7
BAB III Metode Penelitian 3.1 Rancangan Penelitian ... ……… 8
3.2 Subyek Penelitian ... ……… 9
3.3 Proses Pengembangan Skala Life-base Learning ……… 9
BAB IV Hasil Penelitian 4.1. Konseptualisasi ... ……… 10
4.2. Konstruksi ... ……… 11
4.3. Uji coba ... ……… 16
4.4. Analisis aitem ... ... 17
4.5. Revisi instrumen ... ... 33
BAB V Pembahasan ... ... 38
BAB VI Kesimpulan 6.1 Kesimpulan ... ……… 40
6.2 Saran ... ……… 40
Daftar Pustaka ……… ……… 41 Lampiran I
Lampiran II
DAFTAR TABEL
halaman
Tabel 1 Blue print skala konsep diri berbasis life-base learning ... 12
Tabel 2 Aitem skala konsep diri berbasis life-base learning ... 13
Tabel 3 Format respon skala konsep diri berbasis life-base learning ... 16
Tabel 4 Hasil Demografi Responden Penelitian ... 17
Tabel 5 Hasil CFA dengan nilai t-hitung pada aitem ... 18
Tabel 6 Uji Goodness of fit Variabel Dimensi Fisik ... 22
Tabel 7 Uji Goodness of fit Variabel Dimensi Keluarga ... 24
Tabel 8 Uji Goodness of fit Variabel Dimensi Akademik ... 26
Tabel 9 Uji Goodness of fit Variabel Dimensi Kompetensi ... 28
Tabel 10 Uji Goodness of fit Variabel Dimensi Sosial ... 30
Tabel 11 Uji Goodness of fit Variabel Dimensi Afek ... 32
Tabel 12 Hasil CFA dengan program R ... 32
Tabel 13 Blue print setelah uji coba skala konsep diri berbasis life-base learning ... 34
Tabel 14 Aitem terakhir skala konsep diri berbasis life-base learning ... 35
DAFTAR GAMBAR
halaman
Gambar 1 CFA Dimensi Fisik ... 21
Gambar 2 CFA Dimensi Keluarga ... 23
Gambar 3 CFA Dimensi Akademik ... 25
Gambar 4 CFA Dimensi Kompetensi ... 27
Gambar 5 CFA Dimensi Sosial ... 29
Gambar 6 CFA Dimensi Afek ... 31 Gambar 7 Keterhubungan antarenam aspek pada skala konsep diri life-base
learning 33
1 BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Revolusi industry 4.0 (RI 4.0) telah mengubah dunia. Schwab (2016) menjelaskan bahwa “the fourth industrial revolution will affect the very essence of our human experience”.
Pengaruh Revolusi Industri 4.0 sangat terasa terutama pada lima dimensi yaitu ekonomi, bisnis, hubungan nasional dan internasional, masyarakat, dan individu. Tentu termasuk dunia pendidikan terkait dengan lima dimensi tersebut. RI 4.0 mengubah cara hidup, bekerja, dan hubungan dengan sesama manusia. Teknologi internet telah mengubah perilaku manusia, sistem produksi, dan konsumsi. Perubahan ini menantang dunia pendidikan untuk menyiapkan Sumber Daya Manusia (SDM) dengan tiga literasi, yaitu literasi teknologi, literasi digital, dan literasi manusia. Dalam rangka menyiapkan SDM pada era RI 4.0, Universitas Negeri Malang mengembangkan kurikulum life-base learning berdasarkan capability development model.
Berdasarkan perspektif ini pengembangan kapabalitas individu dilakukan melampaui kompetensi. Artinya individu yang kapabel adalah individu yang dapat berperilaku secara efektif dalam konteks yang tidak diketahui atau masalah baru (Kamdi & Saryono, 2017).
Kapabilitas menjadi penting dimiliki individu dalam masa RI 4.0. Kurikulum life-based learning ini bertujuan untuk meluluskan mahasiswa yang memiliki kompetensi akademik, profesi, dan/atau vokasi yang bertakwa, berakhlak mulia, cerdas, mandiri, memiliki komitmen kebangsaan, dan mampu berkembang secara professional. Tujuan ini diharapka tercapai pada tahun 2021, ketika mahasiswa angkatan 2018 Universitas Negeri Malang menyelesaikan perkuliahannya selama delapan semester. Untuk mengetahui capaian kurikulum life-base learning, atau kurikulum 2018, dibutuhkan evaluasi kurikulum. Kajian evaluasi kurikulum
2
berbasis outcome, menyebutkan bahwa evaluasi pada personal appraisal adalah hal yang penting dilakukan (Schalock, 2002). Personal appraisal adalah evaluasi berdasarkan kualitas kehidupan individu, baik kualitas fisik dan psikologis. Kualitas psikologis mahasiswa dapat dilihat pada dimensi kepribadian. Dimensi kepribadian mempunyai cakupan yang luas, salah satu bagian dari kepribadian adalah konsep diri yang positif. Konsep diri positif sesuai dengan tujuan kurikulum life-base learning. Konsep diri secara umum didefinisikan sebagai
“keseluruhan pola persepsi diri sebagaimana dirumuskan individu itu sendiri, atau pemahaman dan pemaknaan seseorang yang berkaitan dengan diri” (Mappiare, 2006). Adapun konsep diri life-base learning adalah pola persepsi diri mahasiswa yang memiliki kompetensi akademik, profesi, dan/atau vokasi yang bertakwa, berakhlak mulia, cerdas, mandiri, memiliki komitmen kebangsaan, dan mampu berkembang secara professional. Konsep diri life-base learning sesuai dengan tujuan yang diharapkan kurikulum 2018. Pengukuran konsep diri life-base learning bagi mahasiswa Universitas Negeri Malang dibutuhkan instrument dalam bentuk skala psikologis, yaitu skala konsep diri life-base learning. Skala konsep diri ini menjadi acuan ketercapaian tujuan kurikulum life-base learning. Pengembangan skala konsep diri life-base learning menjadi penting dilakukan karena skala konsep diri yang ada saat ini belum mengukur secara komprehensif tujuan kurikulum life-base learning yang dikembangkan oleh Universitas Negeri Malang.
1.2. Rumusan Masalah
Bagaimanakah mengembangkan skala konsep diri berbasis kurikulum life-base learning untuk mahasiswa Universitas Negeri Malang?
1.3. Tujuan Penelitian
1.3.1. Secara teoritik akan memperkaya kajian evaluasi kurikulum berbasis outcome pada dimensi personal appraisal. Hal ini masih jarang dilakukan pada institusi pendidikan di Indonesia.
3
1.3.2. Secara praktis akan menyempurkan Universitas Negeri Malang sebagai pusat inovasi kurikulum Perguruan Tinggi. Universitas Negeri Malang akan memiliki instrument untuk mengukur kepribadian mahasiswa pada dimensi konsep diri positif. Hal ini berguna untuk mengevaluasi capaian kurikulum life-base learning
4 BAB II
KAJIAN PUSTAKA
2.1. Skala Psikologis
Dalam kajian psikologi, ilmu yang mempelajari perilaku, pengukuran perilaku dibagi menjadi dua, yaitu aspek kognitif dan nonkognitif.
Azwar (2014) berpendapat terdapat beberapa karakteristik skala psikologis, yaitu:
a. Skala psikologi cenderung digunakan untuk mengukur aspek bukan kognitif melainkan aspek afektif.
b. Stimulus skala psikologi berupa pertanyaan atau pernyataan yang tidak langsung mengungkap atribut yang hendak diukur, melainkan mengungkap indikator perilaku dari atribut yang bersangkutan.
c. Jawaban/opsi dalam tiap itemnya lebih bersifat proyektif yaitu mencerminkan kepribadian, sikap, dan kecenderungan perilaku responden.
d. Selalu berisi banyak item berkenaan dengan atribut yang diukur.
e. Respon subyek/responden tidak diklasifikasikan sebagai jawaban “benar” atau
“salah”, semua jawaban dianggap benar sepanjang sesuai keadaan yang sebenarnya, jawaban yang berbeda diinterpretasikan berbeda pula.
Karakteristik skala psikologis di atas tersebut sebagai ciri pengukuran terhadap performansi tipikal (typical performance), yaitu performansi yang menjadi karakter tipikal seseorang dan cenderung dimunculkan secara sadar atau tidak sadar dalam bentuk respon terhadap situasi‐situasi tertentu yang sedang dihadapi. Dalam penerapan psikodiagnostika, skala‐skala performansi tipikal digunakan untuk mengungkapkan aspek‐aspek afektif seperti minat, sikap, dan berbagai variable kepribadian lain, semisal agresivitas, self‐esteem, locus of
5
control, motivasi belajar, kepemimpinan, dan sebagainya. Skala psikologi biasanya juga digunakan untuk mengungkapkan konstrak atau konsep psikologis yang menggambarkan aspek kepribadian individu seperti: tendensi agresifitas, sikap terhadap sesuatu, self esteem, kecemasan, persepsi, dan motivasi, termasuk konsep diri.
Berdasarkan paparan di atas dapat disimpulkan, skala psikologis digunakan untuk mengukur aspek nonkognitif, terutama aspek afektif, termasuk kepribadian individu.
Pembahasan tentang kepribadian mempunyai cakupan yang luas, termasuk konsep diri individu.
Skala Konsep Diri merupakan skala psikologis pada domain afektif. Untuk mengembangkan alat ukur skala psikologis pada domain afektif, sebagaimana menurut McCoach, Gable, Madura (2013) diperlukan beberapa langkah sebagai berikut:
(1) mengembangkan definisi konseptual;
(2) mengembangkan definisi operasional;
(3) memilih teknik pemberian skala;
(4) melakukan review justifikasi butir, yang berkaitan dengan teknik pemberian skala yang telah ditetapkan di atas;
(5) memilih format respons atau ukuran sampel;
(6) penyusunan petunjuk untuk respons;
(7) menyiapkan draft instrumen, (8) menyiapkan instrumen akhir;
(9) pengumpulan data uji coba awal;
(10) analisis data uji coba dengan menggunakan teknik analisis faktor, analisis butir dan reliabilitas;
(11) revisi instrumen;
(12) melakukan uji coba final;
6 (13) menghasilkan instrumen;
(14) melakukan analisis validitas dan reliabilitas tambahan; dan (15) menyiapkan manual instrumen
Adapun Cohen, Swerdlik, dan Struman (2013) menyimpulkan ada lima tahapan pengembangan skala psikologis yaitu (1) koseptualisasi (2) konstruksi (3) uji coba (4) analisis aitem dan (5) revisi. Pada penelitian ini akan menggunakan lima tahapan dalam mengembangkan skala konsep diri life-base learning.
2.2. Konsep Diri
2.2.1. Definisi Konsep Diri
Konsep diri adalah keseluruhan pola persepsi diri sebagaimana dirumuskan individu itu sendiri, atau pemahaman dan pemaknaan seseorang yang berkaitan dengan diri (Mappiare, 2006)
2.2.2. Dimensi Konsep Diri
Dimensi konsep diri dikembangkan dari The Multidimensional Self Concept Scale (Bracken, 1992; Bracken, et al, 2000). Terdapat enam dimensi, yaitu: fisik, keluarga, akademik, kompetensi, sosial, dan afeksi.
2.2.3. Faktor yang Mempengaruhi Konsep Diri
Faktor yang mempengaruhi konsep diri adalah orang tua, teman, pendidikan, dan masyarakat (Calhoun dan Accocela, 1990). Faktor pendidikan mencakup kurikulum yang digunakan dalam menyelenggarakan pendidikan.
7 2.3. Kurikulum Life-base Learning
Dakir (2004) menjelaskan bahwa kurikulum adalah semua program yang dijalankan untuk menunjang proses pembelajaran. Program yang dituangkan tidak terpancang dari segi administrasi saja tetapi menyangkut keseluruhan yang digunakan untuk proses pembelajaran.
Kurikulum life-base learning adalah kurikulum dengan pendekatan kapabilitas untuk mengembangkan seluruh kekuatan dan karakter yang dimiliki individu (Kamdi & Saryono, 2017).
2.3.1. Evaluasi Kurikulum
McNeil (2014) berpendapat bahwa evaluasi kurikulum adalah upaya menjawab dua pertanyaan: (1) Apakah kesempatan belajar, program, pelajaran dan kegiatan yang direncanakan bila dikembangkan dan disusun sungguh-sungguh menghasilkan hasil yang dikehendaki?. (2) Bagaimana capaian kurikulum dapat secara terbaik diperbaiki.? Evaluasi kurikulum dengan menggunaka skala konsep diri dalam rangka mengetahui hasil yang dikehendaki dan capaian terbaik dari kurikulum life-base learning.
2.3.2. Dimensi Evaluasi Kurikulum
Schalock (2002) menjelaskan bahwa evaluasi kurikulum mempunyai empat dimensi, yaitu penilaian kinerja, penilaian konsumen, penilaian fungsional, dan penilaian kepribadian.
Penelitian pengembangan skala konsep diri berkaitan dengan penilaian kepribadian.
2.4. Skala Konsep Diri Life-base Learning
Skala konsep diri yang dirancang berdasarkan kurikulum life-base learning yang bertujuan untuk menilai kepribadian mahasiswa sebagai tolak ukur efektivitas capaian kurikulum life-base learning.
8
8 BAB III
METODE PENELITIAN
3.1. Rancangan Penelitian
Skala Konsep Diri merupakan skala psikologis pada domain afektif. Untuk mengembangkan alat ukur skala psikologis pada domain afektif, sebagaimana menurut McCoach, Gable, Madura (2013) diperlukan beberapa langkah sebagai berikut:
(1) mengembangkan definisi konseptual;
(2) mengembangkan definisi operasional;
(3) memilih teknik pemberian skala;
(4) melakukan review justifikasi butir, yang berkaitan dengan teknik pemberian skala yang telah ditetapkan di atas;
(5) memilih format respons atau ukuran sampel;
(6) penyusunan petunjuk untuk respons;
(7) menyiapkan draft instrumen, (8) menyiapkan instrumen akhir;
(9) pengumpulan data uji coba awal;
(10) analisis data uji coba dengan menggunakan teknik analisis faktor, analisis butir dan reliabilitas;
(11) revisi instrumen;
(12) melakukan uji coba final;
(13) menghasilkan instrumen;
(14) melakukan analisis validitas dan reliabilitas tambahan;
(15) menyiapkan manual instrumen.
Adapun Cohen, Swerdlik, dan Struman (2013) menyimpulkan ada lima tahapan pengembangan skala psikologis yaitu (1) koseptualisasi (2) konstruksi (3) uji coba (4) analisis aitem dan (5) revisi.
9 3.2. Subyek Penelitian
Populasi penelitian ini adalah mahasiswa yang berusia 18-27 tahun yang masuk dalam kategori remaja akhir sampai dewasa madya di Universitas Negeri Malang (UM) dan 707 orang yang diperoleh dengan teknik purposive.
3.3. Proses Pengembangan Skala Konsep Diri Life-base Learning
Proses pengembangan skala konsep diri life-base learning berdasarkan pendapat Cohen, Swerdlik, dan Struman (2013) yang menyimpulkan ada lima tahapan pengembangan skala psikologis yaitu (1) koseptualisasi (2) konstruksi (3) uji coba (4) analisis aitem dan (5) revisi.
10 BAB IV
HASIL PENELITIAN
4.1. Koseptualisasi
Konseptulaisasi meliputi (1) mengembangkan definisi konseptual; (2) mengembangkan definisi operasional;
4.1.1. Definisi konseptual
Keseluruhan pola persepsi diri sebagaimana dirumuskan individu itu sendiri, atau pemahaman dan pemaknaan seseorang yang berkaitan dengan diri terkait dengan kompetensi akademik, profesi, dan/atau vokasi yang bertakwa, berakhlak mulia, cerdas, mandiri, memiliki komitmen kebangsaan, dan mampu berkembang secara professional berdasarkan tujuan kurikulum life base learning Universitas Negeri Malang.
4.1.2. Definisi operasional
Keseluruhan pola persepsi diri mahasiswa yang memiliki kompetensi akademik, profesi, dan/atau vokasi yang bertakwa, berakhlak mulia, cerdas, mandiri, memiliki komitmen kebangsaan, dan mampu berkembang secara professional berdasarkan tujuan kurikulum life base learning Universitas Negeri Malang. Terdapat enam dimensi konsep diri life base learning yaitu fisik, keluarga, akademik, sosial, kompetensi, dan afek. Skala konsep diri life base learning yang berbasis metode Likert. Semakin tinggi skor menunjukkan konsep diri yang semakin positif.
11 4.2. Konstruksi
Konstruksi meliputi (1) memilih teknik pemberian skala; (2) melakukan review justifikasi butir, yang berkaitan dengan teknik pemberian skala yang telah ditetapkan di atas; (3) memilih format respons atau ukuran sampel; (4) penyusunan petunjuk untuk respons;
4.2.1. Teknik pemberian skala
Skala konsep diri berbasis life-base learning akan diberikan secara daring (online) 4.2.2. Review justifikasi butir
Skala konsep diri awalnya berjumlah 72 aitem, terdiri dari 61 aitem favorable dan 11 aitem unfavorable. Proses confirmatory factor analisis memberikan hasil kurang sesuai dengan model maka 11 aitem unfavorable tidak dikutsertakan sehingga yang dianalisis hanya 61 aitem favorable. Validasi konstruk dilakukan oleh dua ahli bidang psikologi pendidikan dari Universitas Airlangga Surabaya dan Universitas Diponegoro Semarang. Hasil validasi konstruk menunjukkan bahwa konstruk skala konsep diri berbasis life-base learning sesuai dengan konstruk yang disusun, namun beberapa aitem perlu direvisi.
12
Tabel 1. Blue print skala konsep diri berbasis life-base learning
No Dimensi Indikator Aitem
Favorable
Aitem Unfavorable
1 Fisik Tampilan fisik 1,3,4 2
Keterampilan Fisik 5,6,8 7
Kesehatan 9,11,12 10
2 Keluarga Penerimaan dari keluarga 13,16 14,15 Dukungan dari keluarga 17,19,20 18 Relasi dengan keluarga 21,22,23 24 3 Akademik Mampu menyelesaikan tugas
kuliah
25,26,28 27 Bangga dengan kemampuan
akademis
29,32 30,31 Memiliki hubungan yang baik
dengan lingkungan akademis
33,34,35 36 4 Kompetensi Kepemimpinan 37,38,39,40
Kerjasama 41,42,43,44
Inovatif 45,46,47,48
5 Sosial Teman sebaya 49,50,51,52
Lawan Jenis 53,54,55,56
Orang Lain 57,58,59,60
6 Afek Emosi positif 61,62,63,64
Sikap Positif 65,66,67,68
Nilai 69,70,71,72
Total 72 61 11
13
Tabel 2. Aitem skala konsep diri berbasis life-base learning No Dimensi Indikator Aitem
1 Fisik Tampilan fisik Saya bersyukur dengan kondisi tubuh saya Saya ingin mempunyai badan yang lebih tinggi.
Saya puas dengan berat badan saya saat ini.
Saya merawat tubuh saya dengan baik Keterampilan
Fisik
Saya memiliki tulisan tangan yang rapi.
Saya mampu melakukan aktivitas olahraga dengan baik.
Saya sering jatuh ketika berjalan Saya mampu berjalan dengan cepat Kesehatan Saya jarang sakit.
Saya mudah terserang flu Saya menjaga kebersihan diri
Saya mengkonsumsi makanan yang bergizi 2 Keluarga Penerimaan
dari keluarga
Keluarga saya menyayangi saya
Saya sering dibandingkan dengan saudara saya Bagi orang tua, saya hanyalah beban
Keluarga memahami saya Dukungan dari
keluarga
Saya melibatkan orang tua dalam mengambil keputusan yang penting
Saya tergantung kepada orang tua Orang tua memahami kegiatan saya Orang tua mendukung saya untuk mandiri Relasi dengan
keluarga
Saya dekat dengan saudara-saudara saya Saya menyayangi kedua orang tua saya Keluarga saya adalah keluarga yang harmonis
14
Saya merasa kurang diperhatikan saat berada di rumah 3 Akademik Mampu
menyelesaikan tugas kuliah
Saya menyelesaikan tugas-tugas kuliah dengan baik Saya memperoleh nilai yang sesuai harapan pada setiap matakuliah
Saya ingin menyerah menghadapi tugas-tugas kuliah Saya mampu mempresentasikan tugas dengan lancar di depan kelas
Bangga dengan kemampuan akademis
Saya bangga dengan pencapaian yang saya peroleh dalam kuliah
Saya merasa tidak dapat diandalkan dalam hal akademik
Dalam hal akademik, tidak ada yang dapat dibanggakan pada diri saya
Saya puas dengan IPK yang saya peroleh.
Memiliki hubungan yang baik dengan lingkungan akademis
Dosen menganggap saya sebagai mahasiswa yang baik secara akademis
Teman-teman sering meminta bantuan saya dalam menyelesaikan tugas-tugas kuliah
Dosen sering meminta bantuan saya dalam kegiatan- kegiatan akademik program
studi/jurusan/fakultas/universitas
Saya malu meminta bantuan teman-teman ketika kesulitan mengerjakan tugas perkuliahan
4 Kompetensi Kepemimpinan Saya mampu memotivasi kelompok saya
Saya mampu mengarahkan pembagian kerja dalam kelompok saya
Saya mampu memimpin diskusi dalam kelompok Saya mampu membantu memecahkan masalah dalam kelompok
Kerjasama Saya dapat bekerja dalam tim Saya menghargai pekerjaan teman
Saya menerima pembagian tugas dalam tim
Saya mematuhi kesepakatan yang telah ditetapkan
15
Inovatif Saya menggunakan cara baru dalam memecahkan masalah
Saya memiliki ide-ide baru untuk menyelesaikan masalah
Saya memberi nilai tambah terhadap produk tertentu Saya mengembangkan teknologi atau konsep baru 5 Sosial Teman sebaya Teman-teman menghargai pendapat saya
Teman seangkatan dalam perkuliahan memperhatikan keberadaan saya
Teman-teman mendengarkan apa yang saya sampaikan Saya mempunyai banyak teman
Lawan Jenis Saya merasa setara dengan lawan jenis Saya cukup menarik bagi lawan jenis Saya ingin menikah suatu saat nanti Saya memiliki teman dari lawan jenis
Orang Lain Saya merasa senang saat mendapat saran dari dosen Saya mendapat pelayanan yang baik dari tenaga administrasi kampus
Saya berdiskusi dengan kakak tingkat di jurusan Saya berpartisipasi dalam kegiatan kemasyarakatan di sekitar tempat tinggal
6 Afek Emosi positif Saya adalah orang yang ceria Saya adalah orang yang bahagia Saya adalah orang yang menyenangkan Saya adalah orang yang tenang
Sikap Positif Saya adalah orang yang ramah Saya adalah orang yang optimis Saya adalah orang yang beruntung
Saya bersyukur dengan apa yang saya peroleh Nilai Saya adalah orang yang jujur
Saya adalah pribadi yang disiplin
16
Saya mampu membuat keputusan sendiri Saya berperilaku sopan
4.2.3. Memilih format respons atau ukuran sampel
Respon skala likert adalah bersifat kontimum dari rendah ke tinggi untuk aitem favorable dengan lima pilihan jawaban, yaitu tidak pernah, jarang, kadang-kadang, sering dan sangat sering.
Tabel 3. Format respon skala konsep diri berbasis life-base learning
Tidak pernah 1
Jarang 2
Kadang-kadang 3
Sering 4
Sangat sering 5
4.2.4. Penyusunan petunjuk untuk respons
Petunjuk untuk respon skala konsep diri berbasis life-base learning adalah isilah pernyataan berikut sesuai dengan keadaan Anda dengan memilih angka yang tersedia di bawah pernyataan yang ada. Angka 1 berarti tidak pernah, angka 2 berarti jarang, angka 3 berarti kadang- kadang,angka 4 berarti sering dan angka 5 berarti sangat sering. Ingatlah bahwa tidak ada jawaban yang dianggap benar atau salah, yang paling tepat adalah sesuai dengan kondisi Anda sebenarnya.
4.3. Uji Coba
Uji coba meliputi: pengumpulan data uji coba awal dan analisis data uji coba dengan menggunakan teknik analisis faktor, analisis butir dan reliabilitas.
17
Uji coba menggunakan 707 mahasiswa dari delapan fakultas yang berada di Universitas Negeri Malang. Uji coba menggunakan google form yang disebarkan via media sosial.
Tabel 4. Hasil Demografi Responden Penelitian
Angkatan ∑ %
2018 285 40,25
2019 423 59,75
Jenis Kelamin ∑ %
Perempuan 495 69,92
Laki-laki 213
Usia ∑ %
18 29 4,1
19 276 38,99
20 280 39,55
21 94 13,28
22 13 1,83
23 8 1,13
24 3 0,42
25 1 0,14
26 2 0,28
27 2 0,28
Fakultas ∑ %
Fakultas MIPA
91 12,85
FIP 131 18,5
FE 62 8,76
FT 97 13,7
Sastra 148 20,9
FIK 63 8.90
FPPsi. 71 10,03
FIS 45 6,36
4.4. Analisis Aitem
Analisis aitem dengan menggunakan teknik analisis faktor, analisis butir, reliabilitas dan unidimensionalitas. Analisis faktor yang digunakan adalah confirmatori factor analysis (CFA).
Hasil CFA dilakukan dengan program lisrel dan program R.
18
Tabel 5. Hasil CFA dengan nilai t-hitung pada aitem
No Dimensi Indikator Aitem Nilai t-
hitung 1 Fisik Tampilan fisik Saya bersyukur dengan kondisi tubuh saya 10.91
Saya ingin mempunyai badan yang lebih tinggi.
-1.26 Saya puas dengan berat badan saya saat ini. 3.65 Saya merawat tubuh saya dengan baik 16.81 Keterampilan
Fisik
Saya memiliki tulisan tangan yang rapi. 5.33 Saya mampu melakukan aktivitas olahraga
dengan baik.
7.38 Saya sering jatuh ketika berjalan -2.56 Saya mampu berjalan dengan cepat 5.84
Kesehatan Saya jarang sakit. 3.29
Saya mudah terserang flu -0.84
Saya menjaga kebersihan diri 16.13 Saya mengkonsumsi makanan yang bergizi 16.21 2 Keluarga Penerimaan dari
keluarga
Keluarga saya menyayangi saya 18.59 Saya sering dibandingkan dengan saudara saya -2.45 Bagi orang tua, saya hanyalah beban -11.41
Keluarga memahami saya 17.78
Dukungan dari keluarga
Saya melibatkan orang tua dalam mengambil keputusan yang penting
12.67 Saya tergantung kepada orang tua -3.55 Orang tua memahami kegiatan saya 17.09 Orang tua mendukung saya untuk mandiri 12.84 Relasi dengan
keluarga
Saya dekat dengan saudara-saudara saya 11.58 Saya menyayangi kedua orang tua saya 12.91 Keluarga saya adalah keluarga yang harmonis 14.35 Saya merasa kurang diperhatikan saat berada di
rumah
-8.91 3 Akademik Mampu
menyelesaikan tugas kuliah
Saya menyelesaikan tugas-tugas kuliah dengan baik
16.84 Saya memperoleh nilai yang sesuai harapan
pada setiap matakuliah
17.95 Saya ingin menyerah menghadapi tugas-tugas
kuliah
-4.69 Saya mampu mempresentasikan tugas dengan
lancar di depan kelas
14.67 Bangga dengan
kemampuan akademis
Saya bangga dengan pencapaian yang saya peroleh dalam kuliah
19.97 Saya merasa tidak dapat diandalkan dalam hal
akademik
-4.40
19
Dalam hal akademik, tidak ada yang dapat dibanggakan pada diri saya
-4.81 Saya puas dengan IPK yang saya peroleh. 14.51 Memiliki
hubungan yang baik dengan lingkungan akademis
Dosen menganggap saya sebagai mahasiswa yang baik secara akademis
13.54 Teman-teman sering meminta bantuan saya
dalam menyelesaikan tugas-tugas kuliah
9.62 Dosen sering meminta bantuan saya dalam
kegiatan-kegiatan akademik program studi/jurusan/fakultas/universitas
-0.32
Saya malu meminta bantuan teman-teman ketika kesulitan mengerjakan tugas perkuliahan
-3.08 4 Kompetensi Kepemimpinan Saya mampu memotivasi kelompok saya 21.45
Saya mampu mengarahkan pembagian kerja dalam kelompok saya
22.57 Saya mampu memimpin diskusi dalam
kelompok
21.59 Saya mampu membantu memecahkan masalah
dalam kelompok
23.77 Kerjasama Saya dapat bekerja dalam tim 18.03 Saya menghargai pekerjaan teman 10.66 Saya menerima pembagian tugas dalam tim 11.59 Saya mematuhi kesepakatan yang telah
ditetapkan
12.30 Inovatif Saya menggunakan cara baru dalam
memecahkan masalah
14.98 Saya memiliki ide-ide baru untuk
menyelesaikan masalah
17.08 Saya memberi nilai tambah terhadap produk
tertentu
12.40 Saya mengembangkan teknologi atau konsep
baru
4.13 5 Sosial Teman sebaya Teman-teman menghargai pendapat saya 19.75
Teman seangkatan dalam perkuliahan memperhatikan keberadaan saya
21.14 Teman-teman mendengarkan apa yang saya
sampaikan
24.21 Saya mempunyai banyak teman 13.76 Lawan Jenis Saya merasa setara dengan lawan jenis 9.66
Saya cukup menarik bagi lawan jenis 5.47 Saya ingin menikah suatu saat nanti 7.18 Saya memiliki teman dari lawan jenis 10.11 Orang Lain Saya merasa senang saat mendapat saran dari
dosen
11.57 Saya mendapat pelayanan yang baik dari
tenaga administrasi kampus
9.80 Saya berdiskusi dengan kakak tingkat di
jurusan
7.29 Saya berpartisipasi dalam kegiatan
kemasyarakatan di sekitar tempat tinggal
3.77 6 Afek Emosi positif Saya adalah orang yang ceria 17.35
20
Saya adalah orang yang bahagia 19.41 Saya adalah orang yang menyenangkan 19.64 Saya adalah orang yang tenang 12.64 Sikap Positif Saya adalah orang yang ramah 16.70 Saya adalah orang yang optimis 17.63 Saya adalah orang yang beruntung 15.97 Saya bersyukur dengan apa yang saya peroleh 14.57
Nilai Saya adalah orang yang jujur 14.63
Saya adalah pribadi yang disiplin 14.41 Saya mampu membuat keputusan sendiri 12.23
Saya berperilaku sopan 16.19
Analisis Confirmatory Factor Analysis (CFA) dilakukan dua kali, dengan Lisrel dan R program. Program Lisrel digunakan untuk melihat validitas dan kesatuan aitem dalam satu dimensi, sedangkan program R digunakan melihat satu kesatuan seluruh dimensi dan loading faktor.
21 4.4.1 Dimensi Fisik
Gambar 1. CFA Dimensi Fisik Sumber: Pengolahan data LISREL 8.80
22
Tabel 6. Uji Goodness of fit Variabel Dimensi Fisik
No. Kriteria Cut off value Hasil Uji Keterangan 1 Chi square diharapkan nilainya kecil 192.7 Bad fit
2 P-value ≥ 0.05 0.000 Bad fit
3 RMSEA ≤ 0.08 0.060 Good fit
4 GFI ≥ 0.90 0.96 Good fit
5 NFI ≥ 0.90 0.83 Good fit (marginal)
6 NNFI ≥ 0.90 0.85 Good fit (marginal)
7 PNFI 0.60 – 0.90 0.68 Good fit
8 CFI ≥ 0.90 0.88 Good fit (marginal)
9 IFI ≥ 0.90 0.88 Good fit (marginal)
10 RFI ≥ 0.90 0.80 Good fit (marginal)
11 AGFI ≥ 0.90 0.94 Good fit
Terdapat 4 indikator goodness of fit yang sudah tergolong GOOD FIT, dan 5 yang good fit (marginal)
23 4.4.2 Dimensi Keluarga
Gambar 2. CFA Dimensi Keluarga Sumber: Pengolahan data LISREL 8.80
24
Tabel 7. Uji Goodness of fit Variabel Dimensi Keluarga
No. Kriteria Cut off value Hasil Uji Keterangan 1 Chi square diharapkan nilainya kecil 281.8 Bad fit
2 P-value ≥ 0.05 0.000 Bad fit
3 RMSEA ≤ 0.08 0.077 Good fit
4 GFI ≥ 0.90 0.94 Good fit
5 NFI ≥ 0.90 0.91 Good fit
6 NNFI ≥ 0.90 0.91 Good fit
7 PNFI 0.60 – 0.90 0.74 Good fit
8 CFI ≥ 0.90 0.92 Good fit
9 IFI ≥ 0.90 0.93 Good fit
10 RFI ≥ 0.90 0.89 Good fit (marginal)
11 AGFI ≥ 0.90 0.91 Good fit
Terdapat 8 indikator GOOD FIT, dan 1 yang good fit (marginal)
25 4.4.3. Dimensi Akademik
Gambar 3. CFA Dimensi Akademik Sumber: Pengolahan data LISREL 8.80
26
Tabel 8. Uji Goodness of fit Variabel Dimensi Akademik
No. Kriteria Cut off value Hasil Uji Keterangan 1 Chi square diharapkan nilainya kecil 382.73 Bad fit
2 P-value ≥ 0.05 0.000 Bad fit
3 RMSEA ≤ 0.08 0.093 Bad fit
4 GFI ≥ 0.90 0.92 Good fit
5 NFI ≥ 0.90 0.83 Good fit (marginal)
6 NNFI ≥ 0.90 0.82 Good fit (marginal)
7 PNFI 0.60 – 0.90 0.68 Good fit
8 CFI ≥ 0.90 0.85 Good fit (marginal)
9 IFI ≥ 0.90 0.85 Good fit (marginal)
10 RFI ≥ 0.90 0.79 Bad fit
11 AGFI ≥ 0.90 0.88 Good fit (marginal)
Terdapat 2 indikator tergolong GOOD FIT, dan 5 yang good fit (marginal)
27 4.4.4. Dimensi Kompetensi
Gambar 4. CFA Dimensi Kompetensi Sumber: Pengolahan data LISREL 8.80
28
Tabel 9. Uji Goodness of fit Variabel Dimensi Kompetensi
No. Kriteria Cut off value Hasil Uji Keterangan 1 Chi square diharapkan nilainya kecil 1251.78 Bad fit
2 P-value ≥ 0.05 0.000 Bad fit
3 RMSEA ≤ 0.08 0.018 Bad fit
4 GFI ≥ 0.90 0.77 Bad fit
5 NFI ≥ 0.90 0.82 Good fit (marginal)
6 NNFI ≥ 0.90 0.79 Bad fit
7 PNFI 0.60 – 0.90 0.67 Good fit
8 CFI ≥ 0.90 0.83 Good fit (marginal)
9 IFI ≥ 0.90 0.83 Good fit (marginal)
10 RFI ≥ 0.90 0.78 bad fit
11 AGFI ≥ 0.90 0.67 Bad fit
Terdapat 1 indikator tergolong GOOD FIT, dan 3 yang good fit (marginal)
29 4.4.5 Dimensi Sosial
Gambar 5. CFA Dimensi Sosial Sumber: Pengolahan data LISREL 8.80
30
Tabel 10. Uji Goodness of fit Variabel Dimensi Sosial
No. Kriteria Cut off value Hasil Uji Keterangan 1 Chi square diharapkan nilainya kecil 325.12 Bad fit
2 P-value ≥ 0.05 0.000 Bad fit
3 RMSEA ≤ 0.08 0.084 Good fit (marginal)
4 GFI ≥ 0.90 0.93 Good fit
5 NFI ≥ 0.90 0.90 Good fit
6 NNFI ≥ 0.90 0.89 Good fit (marginal)
7 PNFI 0.60 – 0.90 0.73 Good fit
8 CFI ≥ 0.90 0.91 Good fit
9 IFI ≥ 0.90 0.91 Good fit
10 RFI ≥ 0.90 0.87 Good fit (marginal)
11 AGFI ≥ 0.90 0.90 Good fit
Terdapat 6 indikator tergolong GOOD FIT, dan 3 yang good fit (marginal)
31 4.4.6. Dimensi Afek
Gambar 6. CFA Dimensi Afek Sumber: Pengolahan data LISREL 8.80
32
Tabel 11. Uji Goodness of fit Variabel Dimensi Afek
No. Kriteria Cut off value Hasil Uji Keterangan 1 Chi square diharapkan nilainya kecil 711.51 Bad fit
2 P-value ≥ 0.05 0.000 Bad fit
3 RMSEA ≤ 0.08 0.013 Bad fit
4 GFI ≥ 0.90 0.86 Good fit (marginal)
5 NFI ≥ 0.90 0.90 Good fit
6 NNFI ≥ 0.90 0.88 Good fit (marginal)
7 PNFI 0.60 – 0.90 0.73 Good fit
8 CFI ≥ 0.90 0.90 Good fit
9 IFI ≥ 0.90 0.90 Good fit
10 RFI ≥ 0.90 0.87 Good fit (marginal)
11 AGFI ≥ 0.90 0.79 Bad fit
Terdapat 4 indikator GOOD FIT, dan 3 yang good fit (marginal)
untuk melihat apakah skala konsep diri life-base learning terdiri dari enam dimensi atau enam aspek dapat diketahui dari hasil analisis R program. Analisis R program menunjukkan bahwa antar dimensi berhubungan, atau lebih lazim disebut aspek. Jadi skala kosep diri based on life- base learning mempunyai enam aspek yang saling berhubungan.
Tabel 12. Hasil CFA dengan program R
Indikator Pengukuran Hasil Pengukuran Keterangan Comparative Fit Index (CFI) 0,751 Cukup Fit RMSEA 0.054 Mendekati Fit
Loading Factor 0,240 – 1.677 Sebagian besar bagus
Dimensi 6 aspek & saling berhubungan Merupakan aspek yang diskor dengan cara menjumlahkan seluruh aitem
Aitem 61 aitem Dirapikan menjadi 36
Reliabilitas 0, 924 Sangat memuaskan
33
Gambar 7. Keterhubungan antarenam aspek pada skala konsep diri life-base learning Sebagai konsekuensi dari adanya hubungan antar aspek dalam skala konsep diri life- base learning menunjukkan bahwa skor skala konsep life-base learning merupakan skor total dari seluruh aspek, bukan dari masing-masing aspek.
4.5 Revisi instrumen
Revisi dilakukan dengan memilih aitem dengan loading faktor yang tinggi dan masing-masing indikator berisi dua aitem. Total seluruh aitem ada 36 butir. Pada tahapan revisi ini akan diperoleh aitem dengan kualitas yang lebih baik dibandingkan dan lebih efisien sehingga memungkinkan skala yang dihasilkan lebih efektif.
34
Tabel 13. Blue print setelah uji coba skala konsep diri berbasis life-base learning
No Dimensi Indikator Aitem
Favorable
1 Fisik Tampilan fisik 1, 2
Keterampilan Fisik 3,4
Kesehatan 5,6
2 Keluarga Penerimaan dari keluarga 7,8 Dukungan dari keluarga 9,10 Relasi dengan keluarga 11,12 3 Akademik Mampu menyelesaikan
tugas kuliah
13,14 Bangga dengan
kemampuan akademis
15,16 Memiliki hubungan yang
baik dengan lingkungan akademis
17,18
4 Kompetensi Kepemimpinan 19,20
Kerjasama 21,22
Inovatif 23,24
5 Sosial Teman sebaya 25,26
Lawan Jenis 27,28
Orang Lain 29,30
6 Afek Emosi positif 31,32
Sikap Positif 33,34
Nilai 35,36
Total 36
35
Tabel 14. Aitem terakhir skala konsep diri berbasis life-base learning No Dimensi Indikator Aitem
1 Fisik Tampilan fisik Saya bersyukur dengan kondisi tubuh saya Saya merawat tubuh saya dengan baik Keterampilan
Fisik
Saya mampu melakukan aktivitas olahraga dengan baik.
Saya mampu berjalan dengan cepat Kesehatan Saya menjaga kebersihan diri
Saya mengkonsumsi makanan yang bergizi 2 Keluarga Penerimaan
dari keluarga
Keluarga saya menyayangi saya Keluarga memahami saya Dukungan dari
keluarga
Orang tua memahami kegiatan saya Orang tua mendukung saya untuk mandiri Relasi dengan
keluarga
Saya menyayangi kedua orang tua saya Keluarga saya adalah keluarga yang harmonis 3 Akademik Mampu
menyelesaikan tugas kuliah
Saya menyelesaikan tugas-tugas kuliah dengan baik Saya memperoleh nilai yang sesuai harapan pada setiap matakuliah
Bangga dengan kemampuan akademis
Saya bangga dengan pencapaian yang saya peroleh dalam kuliah
Saya puas dengan IPK yang saya peroleh.
Memiliki hubungan yang baik dengan lingkungan akademis
Dosen menganggap saya sebagai mahasiswa yang baik secara akademis
Teman-teman sering meminta bantuan saya dalam menyelesaikan tugas-tugas kuliah
4 Kompetensi Kepemimpinan Saya mampu mengarahkan pembagian kerja dalam kelompok saya
Saya mampu membantu memecahkan masalah dalam kelompok
Kerjasama Saya dapat bekerja dalam tim
Saya mematuhi kesepakatan yang telah ditetapkan Inovatif Saya menggunakan cara baru dalam memecahkan
masalah
Saya memiliki ide-ide baru untuk menyelesaikan masalah
36
5 Sosial Teman sebaya Teman seangkatan dalam perkuliahan memperhatikan keberadaan saya
Teman-teman mendengarkan apa yang saya sampaikan Lawan Jenis Saya merasa setara dengan lawan jenis
Saya memiliki teman dari lawan jenis
Orang Lain Saya merasa senang saat mendapat saran dari dosen Saya mendapat pelayanan yang baik dari tenaga administrasi kampus
6 Afek Emosi positif Saya adalah orang yang bahagia Saya adalah orang yang menyenangkan Sikap Positif Saya adalah orang yang ramah
Saya adalah orang yang optimis Nilai Saya adalah orang yang jujur
Saya berperilaku sopan
37 BAB V
PEMBAHASAN
Pengembangan skala psikologis secara umum tidak dapat dilakukan dengan sekali uji coba, upaya untuk mengembangkan skala psikologis yang terstandar adalah proses yang panjang dan dinamis. Pada proses awal pengembanga skala konsep diri berbasis life-base learning ini mendapatkan hasil yang cukup baik. Proses pengembangan skala konsep diri berbasis life- base learning telah dilakukan secara kualitatif dan kuantitatif.
Cohen, Swerdlik, dan Struman, (2013) menjelaskan bahwa secara umum, pengembangan skala psikologis meliputi lima langkah (yaitu (1) koseptualisasi (2) konstruksi (3) uji coba (4) analisis aitem dan (5) revisi. Lima tahap ini telah dilakukan dalam pengembangan skala konsep diri life-base learning. Ini baru tahapan pertama perlu bukti yang menunjang untuk menjelaskan bahwa skala konsep diri life-base learning memenuhi standar skala psikologis yang baik.
Skala konsep diri merupakan skala psikologis yang bersifat nonkognitif, atau lebih tepatnya skala afektif. Skala ini menurut McCoach, Gable, Madura (2013) meliputi beberapa langkah sebagai berikut: (1) mengembangkan definisi konseptual; (2) mengembangkan definisi operasional; (3) memilih teknik pemberian skala; (4) melakukan review justifikasi butir, yang berkaitan dengan teknik pemberian skala yang telah ditetapkan di atas; (5) memilih format respons atau ukuran sampel; (6) penyusunan petunjuk untuk respons; (7) menyiapkan draft instrumen, (8) menyiapkan instrumen akhir; (9) pengumpulan data uji coba awal; (10) analisis data uji coba dengan menggunakan teknik analisis faktor, analisis butir dan reliabilitas; (11) revisi instrumen; (12) melakukan uji coba final; (13) menghasilkan instrumen; (14) melakukan analisis validitas dan reliabilitas tambahan; dan (15) menyiapkan manual instrumen.
38
Secara kualitatif, dilakukan dengan tujuan mendapatkan konstruk yang berkualitas untuk skala konsep diri berbasis life-base learning. Proses secara kualitatif telah dilakukan dengan mengkaji teori konsep diri dan instrumen konsep diri (Braken, 1992 & Bracken, et al, 2000). Kegiatan ini didampingi oleh ahli psikometri. Selanjutnya ditetapkan definisi konseptual dan operasional, menulis aitem, uji validasi konstruk, dan uji bahasa dari skala konsep diri berbasis life-base learning ini. Pada tahapan ini diperoleh aitem berjumlah 72 butir dengan rincian 61 aitem favorable dan 11 aitem unfavorable.
Selanjutnya untuk analisis empiris dilakukan dengan analisis faktor dengan confirmatory factor analysis (CFA). Hair, et al (2010) menjelaskan bahwa analisis Faktor Konfirmatori merupakan salah satu metode analisis multivariat yang dapat digunakan untuk mengkonfirmasikan apakah model pengukuran yang dibangun sesuai dengan yang dihipotesiskan. Dalam analisis faktor konfirmatori, terdapat varabel laten dan variabel indikator. Variabel laten adalah variabel yang tidak dapat dibentuk dan dibangun secara langsung sedangkan variabel indikator adalah variabel yang dapat diamati dan diukur secara langsung.
Analisis CFA menunjukkan bahwa skala konsep diri berbasis life-base learning mempunyai model yang cukup fit, masing-masing dimensi saling berkorelasi, dan memiliki loading faktor yang cukup tinggi. Sebagai skala psikologis yang baru dikembangkan, hasil analisis CFA yang cukup baik mengindikasikan bahwa skala konsep diri berbasis life-base learning mempunyai kelayakan untuk digunakan bagi mahasiswa Universitas Negeri Malang.
Periantalo (2015) menjelaskan bahwa skala psikologis yang baik memiliki kriteria valid, reliabel, terstandardisasi, efisien, dan bermanfaat. Skala konsep diri berbasis life-base learning memiliki validitas yang cukup baik dari berbukti confirmatory factor analysis, seperti loading faktor dan indikator kesesuaian model. Untuk mendapatkan bukti empiris terkait
39
dengan validitas selain analisis faktor akan dilakukan pada penelitian selanjutnya, seperti, skor skala konsep diri ini akan berkorelasi dengan prestasi akademik, skor skala konsep diri ini diharapkan akan mampu membedakan mahasiswa Universitas Negeri Malang dengan perguruan tinggi yang lain, dan sebagainya.
Skala konsep diri ini juga mempunyai reliabilitas yang memadai. Hal ini menunjukan skala konsep diri memenuhi syarat yang layak untuk digunakan oleh mahasiswa Universitas Negeri Malang. Efektivitas skala konsep diri berbasis life-base learning belum dapat dilaporkan karena belum dilakukan pengambilan data untuk dikorelasikan dengan prestasi akademik dan karakter kepribadian yang diharapkan dari kurikulum life-base learning. Adapun manfaat dari pengembangan skala konsep diri berbasis life-base learning akan membantu Universitas Negeri Malang untuk melakukan evaluasi efektifitas kurikulum untuk membentuk kepribadian mahasiswa.
40 BAB VI
PENUTUP
6.1. Simpulan
Skala psikologis yang baik memiliki kriteria valid, reliabel, terstandardisasi, efisien, dan bermanfaat. Skala konsep diri berbasis life-base learning memiliki validitas yang cukup baik, dari hasil confirmatory factor analysis, seperti loading faktor dan indikator kesesuaian model. Untuk mendapatkan bukti empiris terkait dengan validitas selain analisis faktor akan dilakukan pada penelitian selanjutnya, seperti, skor skala konsep diri ini akan berkorelasi dengan prestasi akademik, skor skala konsep diri ini diharapkan akan mampu membedakan mahasiswa Universitas Negeri Malang dengan perguruan tinggi yang lain, dan sebagainya.
Skala konsep diri ini juga mempunyai reliabilitas yang memadai. Hal ini menunjukan skala konsep diri memenuhi syarat yang layak untuk digunakan oleh mahasiswa Universitas Negeri Malang. Hasil revisi terakhir skala konsep diri life-base learning mempunyai 36 aitem dengan enam aspek yang saling berkorelasi.
6.2. Saran
Pengembangan skala psikologis membutuhkan waktu dan energi yang berkelanjutan, sehingga penelitian ini masih membutuhkan uji coba ulang dan menganalisis data kembali terhadap revisi skala yang sudah dilakukan agar tercipta skala konsep diri life-base learning sesuai standart.
41
DAFTAR PUSTAKA
Azwar, S. (2014). Penyusunan Skala Psikologis. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Bracken, B.A. (1992). Multidimensional Self Concept Scale. Austin, TX: PRO-ED Bracken, B.A., Bunch, S., Keith, T.Z., and Keith, P.B. (2000). Child and adolescent
multidimensional self‐concept: A five‐instrument factor analysis. Psychology in the School, 37, 483-493. Diakses 10 April 2019 dari https://doi.org/10.1002/1520- 6807(200011)37:6<483::AID-PITS1>3.0.CO;2-R
Cohen, R. J., Swerdlik, M.E., & Sturman, E.D. (2013). Psychological testing and
assessment: Introduction to test and measurement. New York: McGraw-Hill Education Hair, Jr. J.F., Black, W.C., Babin, B.J., & Anderson, R.E. (2010). Multivariate data analysis
(7th ed). United States: Pearson
Kamdi, W. & Saryono, Dj. (2017). Amanah Inovasi Pendidikan Tinggi dalam Kurikulum Transdisipliner dan Belajar Berbasis Kehidupan. Malang: Universitas Negeri Malang Mapiare, A. (2006). Pengantar Konseling dan Psikoterapi. Jakarta: Raja Grafindo Persada McNeil, J.D. (2014). Contemporary curriculum in thought and action (8th Ed). USA: John Wiley & Sons.
McCoach, D. B., Gable, R.K., Madura, J.P. (2013). Instrument Development in the Affective Domain School and Corporate Applications (3rd Ed). London: Springer
Periantalo, J. (2015). Penyusunan Skala Psikologi: Asyik, mudah, & bermanfaat. Yogyakarta:
Pustaka Pelajar
Schwab, K. (2016). The fourth industrial revolution. Switzerlsnd: World Economic Forum.
Diakses 10 April 2019 dari https://luminariaz.files.wordpress.com/2017/11/the-fourth- industrial-revolution-2016-21.pdf
Schalock, R.L. (2002). Outcome-Based Evaluation (2nd Ed). London: Kluwer Academic Publishers
LAMPIRAN I
HASIL CONFIRMATORY FACTOR ANALYSIS DENGAN R PROGRAM
PUTARAN 1
> model <- '
+ Fisik=~ X1+X3+X4+X5+X6+X8+X10+X11+X12 + Keluarga=~X13+X16+X17+X19+X20+X21+X22+X23 + Akademik=~X25+X26+X28+X29+X32+X33+X34+X35
+ Kompetensi=~X37+X38+X39+X40+X41+X42+X43+X44+X45+X46+X47+X48 + Sosial=~X49+X50+X51+X52+X53+X54+X55+X56+X57+X58+X59+X60 + Afek=~X61+X62+X63+X64+X65+X66+X67+X68+X69+X70+X71+X72 + '
>
> out <- cfa(model, data=Data)
> #out <- cfa(model, data=Data, std.lv = TRUE)
> summary(out, fit.measures = TRUE)
lavaan 0.6-7 ended normally after 97 iterations
Estimator ML Optimization method NLMINB Number of free parameters 137
Used Total Number of observations 707 709 Model Test User Model:
Test statistic 5155.452 Degrees of freedom 1754 P-value (Chi-square) 0.000 Model Test Baseline Model:
Test statistic 15413.979 Degrees of freedom 1830 P-value 0.000 User Model versus Baseline Model:
Comparative Fit Index (CFI) 0.750 Tucker-Lewis Index (TLI) 0.739 Loglikelihood and Information Criteria:
Loglikelihood user model (H0) -48666.451 Loglikelihood unrestricted model (H1) NA Akaike (AIC) 97606.901 Bayesian (BIC) 98231.762
Sample-size adjusted Bayesian (BIC) 97796.756 Root Mean Square Error of Approximation:
RMSEA 0.052 90 Percent confidence interval - lower 0.051 90 Percent confidence interval - upper 0.054 P-value RMSEA <= 0.05 0.009 Standardized Root Mean Square Residual:
SRMR 0.058 Parameter Estimates:
Standard errors Standard Information Expected Information saturated (h1) model Structured
Latent Variables:
Estimate Std.Err z-value P(>|z|) Fisik =~
X1 1.000 X3 0.433 0.119 3.630 0.000 X4 1.380 0.127 10.831 0.000 X5 0.603 0.114 5.290 0.000 X6 0.825 0.123 6.718 0.000 X8 0.547 0.093 5.860 0.000 X10 -0.127 0.126 -1.007 0.314 X11 1.200 0.112 10.742 0.000 X12 1.304 0.120 10.841 0.000 Keluarga =~
X13 1.000 X16 1.339 0.092 14.631 0.000 X17 0.973 0.087 11.229 0.000 X19 1.230 0.086 14.375 0.000 X20 0.832 0.071 11.775 0.000 X21 0.932 0.084 11.033 0.000 X22 0.476 0.039 12.153 0.000 X23 1.033 0.083 12.515 0.000 Akademik =~
X25 1.000 X26 0.994 0.069 14.429 0.000 X28 1.211 0.088 13.821 0.000 X29 1.315 0.086 15.283 0.000 X32 1.020 0.086 11.897 0.000 X33 0.966 0.080 12.043 0.000 X34 0.866 0.088 9.887 0.000 X35 -0.157 0.120 -1.308 0.191 Kompetensi =~
X37 1.000 X38 0.994 0.053 18.604 0.000 X39 1.042 0.058 17.838 0.000 X40 0.963 0.050 19.301 0.000 X41 0.803 0.049 16.536 0.000 X42 0.391 0.035 11.141 0.000 X43 0.465 0.039 11.812 0.000 X44 0.457 0.037 12.530 0.000 X45 0.684 0.050 13.719 0.000 X46 0.791 0.051 15.481 0.000 X47 0.630 0.052 12.060 0.000 X48 0.281 0.063 4.456 0.000 Sosial =~
X49 1.000 X50 1.257 0.077 16.369 0.000 X51 1.186 0.068 17.327 0.000 X52 1.071 0.083 12.886 0.000 X53 0.738 0.076 9.718 0.000 X54 0.505 0.076 6.661 0.000 X55 0.498 0.065 7.654 0.000 X56 0.696 0.068 10.299 0.000 X57 0.629 0.053 11.833 0.000 X58 0.673 0.068 9.973 0.000 X59 0.631 0.085 7.443 0.000 X60 0.417 0.086 4.830 0.000 Afek =~
X61 1.000 X62 1.090 0.075 14.510 0.000 X63 1.080 0.074 14.580 0.000 X64 0.837 0.078 10.760 0.000 X65 0.928 0.071 13.154 0.000 X66 1.097 0.079 13.947 0.000 X67 0.954 0.073 13.024 0.000 X68 0.725 0.057 12.775 0.000 X69 0.769 0.062 12.428 0.000 X70 0.932 0.074 12.583 0.000 X71 0.750 0.066 11.319 0.000 X72 0.768 0.057 13.404 0.000
Covariances:
Estimate Std.Err z-value P(>|z|) Fisik ~~
Keluarga 0.102 0.013 7.859 0.000 Akademik 0.097 0.012 7.897 0.000 Kompetensi 0.121 0.016 7.637 0.000 Sosial 0.101 0.013 7.607 0.000 Afek 0.140 0.017 8.436 0.000 Keluarga ~~
Akademik 0.072 0.011 6.446 0.000 Kompetensi 0.082 0.015 5.603 0.000
Sosial 0.115 0.014 8.409 0.000 Afek 0.152 0.016 9.400 0.000 Akademik ~~
Kompetensi 0.196 0.018 10.734 0.000 Sosial 0.144 0.015 9.926 0.000 Afek 0.148 0.016 9.525 0.000 Kompetensi ~~
Sosial 0.232 0.021 11.053 0.000 Afek 0.232 0.022 10.376 0.000 Sosial ~~
Afek 0.193 0.019 10.206 0.000
Variances:
Estimate Std.Err z-value P(>|z|) .X1 0.463 0.027 17.016 0.000 .X3 1.132 0.061 18.666 0.000 .X4 0.415 0.028 14.964 0.000 .X5 0.937 0.051 18.484 0.000 .X6 0.956 0.052 18.218 0.000 .X8 0.599 0.033 18.393 0.000 .X10 1.352 0.072 18.792 0.000 .X11 0.333 0.022 15.187 0.000 .X12 0.369 0.025 14.938 0.000 .X13 0.240 0.016 14.862 0.000 .X16 0.590 0.037 15.932 0.000 .X17 0.729 0.041 17.584 0.000 .X19 0.533 0.033 16.122 0.000 .X20 0.466 0.027 17.409 0.000 .X21 0.702 0.040 17.642 0.000 .X22 0.139 0.008 17.273 0.000 .X23 0.600 0.035 17.130 0.000 .X25 0.244 0.015 15.757 0.000 .X26 0.277 0.017 16.161 0.000 .X28 0.486 0.029 16.575 0.000 .X29 0.376 0.024 15.385 0.000 .X32 0.570 0.033 17.458 0.000 .X33 0.492 0.028 17.406 0.000 .X34 0.687 0.038 18.002 0.000 .X35 1.677 0.089 18.791 0.000 .X37 0.382 0.023 16.568 0.000 .X38 0.339 0.021 16.315 0.000 .X39 0.444 0.027 16.721 0.000 .X40 0.268 0.017 15.849 0.000 .X41 0.351 0.020 17.237 0.000 .X42 0.258 0.014 18.299 0.000 .X43 0.314 0.017 18.219 0.000 .X44 0.261 0.014 18.122 0.000 .X45 0.455 0.025 17.930 0.000 .X46 0.424 0.024 17.547 0.000 .X47 0.547 0.030 18.187 0.000
.X48 0.997 0.053 18.735 0.000 .X49 0.310 0.019 16.319 0.000 .X50 0.397 0.025 15.733 0.000 .X51 0.260 0.018 14.614 0.000 .X52 0.709 0.040 17.566 0.000 .X53 0.733 0.040 18.235 0.000 .X54 0.826 0.044 18.567 0.000 .X55 0.587 0.032 18.481 0.000 .X56 0.562 0.031 18.145 0.000 .X57 0.315 0.018 17.844 0.000 .X58 0.571 0.031 18.197 0.000 .X59 1.007 0.054 18.501 0.000 .X60 1.124 0.060 18.684 0.000 .X61 0.495 0.028 17.464 0.000 .X62 0.423 0.025 16.939 0.000 .X63 0.405 0.024 16.893 0.000 .X64 0.749 0.041 18.184 0.000 .X65 0.469 0.027 17.588 0.000 .X66 0.514 0.030 17.254 0.000 .X67 0.516 0.029 17.634 0.000 .X68 0.320 0.018 17.716 0.000 .X69 0.398 0.022 17.819 0.000 .X70 0.559 0.031 17.774 0.000 .X71 0.516 0.029 18.081 0.000 .X72 0.298 0.017 17.493 0.000 Fisik 0.156 0.025 6.309 0.000 Keluarga 0.230 0.024 9.715 0.000 Akademik 0.197 0.021 9.272 0.000 Kompetensi 0.407 0.038 10.630 0.000 Sosial 0.259 0.027 9.572 0.000 Afek 0.290 0.034 8.515 0.000
PUTARAN 2
eliminate item 10, 35
> model <- '
+ Fisik=~ X1+X3+X4+X5+X6+X8+X11+X12
+ Keluarga=~X13+X16+X17+X19+X20+X21+X22+X23 + Akademik=~X25+X26+X28+X29+X32+X33+X34
+ Kompetensi=~X37+X38+X39+X40+X41+X42+X43+X44+X45+X46+X47+X48 + Sosial=~X49+X50+X51+X52+X53+X54+X55+X56+X57+X58+X59+X60 + Afek=~X61+X62+X63+X64+X65+X66+X67+X68+X69+X70+X71+X72 + '
>
> out <- cfa(model, data=Data)
> #out <- cfa(model, data=Data, std.lv = TRUE)
> summary(out, fit.measures = TRUE)
lavaan 0.6-7 ended normally after 96 iterations
Estimator ML Optimization method NLMINB Number of free parameters 133
Used Total Number of observations 707 709 Model Test User Model:
Test statistic 5004.621 Degrees of freedom 1637 P-value (Chi-square) 0.000 Model Test Baseline Model:
Test statistic 15260.424 Degrees of freedom 1711 P-value 0.000 User Model versus Baseline Model:
Comparative Fit Index (CFI) 0.751 Tucker-Lewis Index (TLI) 0.740 Loglikelihood and Information Criteria:
Loglikelihood user model (H0) -46370.168 Loglikelihood unrestricted model (H1) -43867.858 Akaike (AIC) 93006.337 Bayesian (BIC) 93612.954