x
BAB II KAJIAN PUSTAKA, KERANGKA PEMIKIRAN DAN HIPOTESIS... 17
2.1 Kajian Pustaka ... ... 17
2.1.1 Pengertian Bank .. ... 17
2.1.2 Klasifikasi Bank .. ... 18
xi
2.1.9 Faktor-Faktor Mobilisasi Dana dan Pertimbangan Deposan Memilih Bank ... ... 34
3.3 Operasionalisasi Variabel ... 64
xii
3.5 Teknik Pengumpulan Data ... 66
3.7. Teknik Analisis Data dan Pengujian Hipotesis ... 67
3.7.1 Teknik Analisis Data ... 67
3.7.2 Pengujian Hipotesis ... 68
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ... 77
4.1 Gambaran Umum Perkembangan Kredit Konsumsi di Indonesia ... 77
4.2 Hasil Penelitian dan Pembahasan ... 79
4.2.1 Analisis Deskriptif ... 79
4.3 Pengujian Model Analisis Jalur ... 90
4.3.1 Pengujian asumsi Klasik ... 90
4.3.2 Pengujian Kesesuaian Model (Over all model fit) ... 96
4.4 Model Penelitian ... ... 98
4.4.1 Evaluasi Asumsi Statistik ... 100
4.4.2 Analisis dan Identifikasi Model ... 105
4.4.3 Pengaruh Tidak Langsung, Pengaruh Langsung, dan Pengaruh Total ... 107
4.5 Pengujian Hipotesis ... ... 109
4.5.1 Pengujian Kebermaknaan (test of significance) ... 109
4.5.2 Pengujian Kesesuaian model (overall model fit) ... 110
xiii
4.6.1 Pengaruh NPL, Dana Pihak Ketiga, dan NIM terhadap Tingkat Suku
Bunga Kredit ... ... 113
4.6.2 Pengaruh NPL, Dana Pihak Ketiga, dan NIM terhadap Tingkat Suku Perkembangan Kredit ... 115
BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI ... 119
5.1 Kesimpulan ... ... 119
5.2 Rekomendasi ... ... 117
DAFTAR PUSTAKA ... ... 120
LAMPIRAN ... ... 122
1
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Penelitian
Industri perbankan memegang peranan penting dalam menunjang kegiatan
perekonomian. Begitu penting perannya sehingga ada anggapan bahwa bank
merupakan "nyawa” untuk menggerakkan roda perekonomian suatu negara. Karena
fungsi bank sangatlah vital, diantaranya dalam hal penciptaan uang, mengedarkan
uang, menyediakan uang untuk menunjang kegiatan usaha, tempat mengamankan
uang, tempat melakukan investasi, dan jasa keuangan lainnya.
Kurun waktu 2003-2007 merupakan tahun yang penuh dinamika bagi industri
perbankan nasional. Ditengah beratnya tantangan yang dihadapi pada tahun 2006,
bank pada umumnya mampu mempertahankan kinerja yang positif. Profitabilitas,
likuiditas dan solvabilitas bank stabil pada tingkat yang memadai. Namun demikian,
fungsi intermediasi masih terkendala akibat perubahan kondisi perekonomian yang
kurang menguntungkan. Kondisi ini mendorong bank lebih berhati-hati dalam
mengelola risiko portofolionya dan cenderung menempatkan dananya pada aktiva
produktif yang berisiko rendah, antara lain Sertifikat Bank Indonesia.
Industri perbankan Indonesia saat ini memasuki tahapan dimana perbankan
intermediasi dan berorientasi pada penciptaan nilai tambah ataupun laba dengan
menerapkan prudential banking atau kehati-hatian.
Kinerja perbankan pada tahun 2007 meningkat secara signifikan sejalan
dengan kondisi perekonomian yang semakin kondusif. Peningkatan kinerja tersebut
terutama tercermin pada penyaluran kredit yang melampaui target, kualitas kredit
yang semakin baik, dan rasio kecukupan modal yang jauh di atas ketentuan minimum.
Perhatian perbankan dalam penyaluran kredit mikro, kecil, dan menengah (MKM)
masih tetap tinggi yang tercermin pada peningkatan pertumbuhan kredit MKM pada
tahun laporan. Sementara dari sisi permodalan, perbankan mampu memenuhi
persyaratan modal minimum yang ditetapkan Bank Indonesia sebesar Rp. 80 miliar.
Sejalan dengan perkembangan positif pada bank umum, perkembangan perbankan
syariah dan Bank Perkreditan Rakyat (BPR) juga menunjukkan kinerja yang terus
meningkat. (LPI Bank Indonesia, 2007)
Pelayanan perbankan kepada masyarakat semakin luas dengan bertambahnya
jumlah kantor bank. Peningkatan pelayanan tersebut diikuti oleh perbaikan kinerja
perbankan Salah satu indikator peningkatan kinerja perbankan adalah pertumbuhan
kredit yang mencapai 25,5%, lebih tinggi dari target yang ditetapkan sebesar 22%.
Pencapaian tersebut juga diikuti oleh membaiknya kualitas kredit perbankan yang
tercermin dari menurunnya rasio Non Performing Loan (NPL), baik secara gross
maupun net. Peningkatan penyaluran kredit bersamaan dengan turunnya suku bunga
net interest income. Pertumbuhan kredit lebih tinggi daripada pertumbuhan
penghimpunan dana pihak ketiga (DPK). Pada akhir tahun2007, total kredit perbankan
mencapai Rp. 1.045,7 triliun, dengan pertumbuhan 25,5%. Sementara itu, dana pihak
ketiga mencapai Rp1.510,7 triliun, dengan pertumbuhan 17,4%. Peningkatan kredit
yang signifikan tersebut meningkatkan pangsa kredit dalam aktiva produktif
perbankan dari 53,6% menjadi 57,3% yang tercermin dalam dalam gambar 1.
Gambar 1. Komposisi Aktiva Produktif
Kondisi tersebut mendorong peningkatan loan to deposit ratio (LDR) perbankan
Pencapaian kinerja kredit tersebut meningkatkan peran perbankan dalam pembiayaan
ekonomi.
Berbagai perkembangan positif tersebut juga mengindikasikan bahwa
ketahanan perbankan pada tahun 2007 lebih baik dari tahun sebelumnya sehingga
dapat menjadi modal yang kuat untuk menghadapi tantangan dan peningkatan
intermediasi pada tahun 2008. Indikator profitabilitas perbankan hingga September
2007 secara konsisten menunjukkan trend peningkatan. Pertumbuhan kredit yang
menggembirakan ini menunjukan bahwa fungsi intermediasi perbankan nasional
mulai sesuai dengan yang diharapkan. Ekspansi kredit yang cukup memadai dan
penurunan tingkat suku bunga menjadi faktor utama yang menjadi penunjang
kenaikan tingkat profitabilitas perbankan nasional. Efisiensi perbankan juga
memberikan kontribusi terhadap penguatan profitabilitas perbankan nasional.
Kredit konsumsi menjadi pilihan bank karena karakteristik debiturnya tersebar dan
plafonnya kecil sehingga risikonya lebih terdiversifikasi dan terukur.. Kredit konsumsi
didominasi oleh jenis kredit pemilikan rumah (KPR) dengan porsi sebesar 33,4% atau
9,0% dari total kredit perbankan. Dari segi pertumbuhan, KPR juga memiliki
pertumbuhan tertinggi sebesar 29,6%, disusul kartu kredit sebesar 19,7%. Penyaluran
KPR didominasi oleh kelompok bank swasta devisa dan bank BUMN dengan pangsa
masing-masing sebesar 45,8% dan 40,8%. Untuk kartu kredit dikuasai oleh bank asing
dengan pangsa sebesar 49,7%, disusul bank swasta devisa sebesar 26,5%, dan bank
dikuasai oleh kelomp
m, kualitas kredit konsumsi cukup baik kecual
u kredit meningkat cukup signifikan (65,0%) di
sehingga rasio NPL gross-nya meningkat
NPL gross untuk KPR dan kredit konsumsi lai
ng-masing sebesar 3,0% dan 1,9%. Walaupun
ainnya mengalami sedikit peningkatan dari
stabil pada level yang rendah. Sementara tre
jam sejak tahun 2006 seperti digambarkan pada
menjadi lebih konsu
nsumtif sehingga intensitas debitur menggu
sisi lain, kondisi ekonomi dan daya beli masya
rga BBM belum sepenuhnya pulih. Untuk itu
erbitkan kartu kredit untuk menghindari peni
Gambar 3. NPL Gross Kredit Konsumsi
n kredit lebih tinggi daripada pertumbuhan p
). Pada akhir tahun 2007, total kredit perbanka
. Sementara itu, dana pihak ketiga mencapai t
n kredit yang signifikan tersebut meningkatkan
aktiva produktif perbankan dari 53,6% menjadi 57,3%. Pencapaian kinerja kredit
tersebut meningkatkan peran perbankan dalam pembiayaan ekonomi.
Sumber : Bank Indonesia, 2007
Gambar 4. Perkembangan Kredit dan DPK
Kenaikan kontribusi pendapatan bunga kredit tidak lepas dari peranan kredit
konsumsi yang bersama-sama dengan kredit modal kerja telah menjadi motor
penggerak utama pertumbuhan kredit perbankan. Berdasarkan Statistik Ekonomi
Keuangan Indonesia April 2007 yang diterbitkan Bank Indonesia (BI), rata-rata suku
dibandingkan dengan Januari 2006 yang sebesar 17,08 persen. Kredit konsumsi
merupakan pembiayaan untuk kebutuhan barang-barang konsumsi.
Sumber : Bank Indonesia, 2007
Gambar 5. Kontribusi Kredit Konsumsi Terhadap Pertumbuhan Kredit
Salah satu faktor yang mendorong perkembangan konsumsi adalah kredit
untuk tujuan konsumsi yang juga cenderung meningkat dalam periode yang sama.
Data dari Bank Indonesia menunjukkan bahwa selama periode April 2006 hingga
November 2007, posisi kredit konsumsi Bank Umum mengalami kenaikan sekitar 400
persen (Website Bank Indonesia). Angka ini akan lebih besar lagi apabila besaran
kredit konsumsi dari Bank Perkreditan Rakyat dan perusahaan pembiayaan juga
diikutsertakan. Pada periode 2006-2007, proporsi kredit konsumsi yang disalurkan
kedua setelah kredit modal kerja, dengan proporsi sekitar 30% dari total kredit yang
disalurkan oleh seluruh jenis bank di Indonesia.
Kredit konsumsi bersifat tidak elastis dan banyak peminatnya. Artinya, jika
dinaikkan suku bunganya pun tidak menyurutkan permintaan. Terbukti, pertumbuhan
kredit konsumsi selama triwulan I-2007 lebih tinggi dibandingkan dengan kredit
modal kerja dan kredit investasi. Berdasarkan data BI, posisi kredit konsumsi
perbankan nasional per akhir Maret 2007 sebesar Rp 231,26 triliun, tumbuh 2,5 persen
dibandingkan dengan akhir tahun 2006 (Laporan Perekonomian Indonesia, 2007).
Dalam periode yang sama, kredit investasi dan modal kerja hanya tumbuh 0,9
persen dan 0,4 persen. Secara keseluruhan, posisi kredit akhir triwulan I-2007 sebesar
Rp 800,37 triliun, tumbuh 1 persen dibandingkan dengan akhir tahun 2006. Menurut
Tony, karena permintaannya tinggi dan tidak sensitif terhadap suku bunga, bank pun
sangat mengandalkan kredit konsumsi. Bank berupaya mendapatkan kesempatan
meraih keuntungan dari kredit konsumsi. Kredit investasi dan modal kerja memang
memerlukan stimulus penurunan suku bunga untuk mendorong permintaan.
Elastisitas permintaan kredit konsumsi disebabkan cukup dominannya
pengaruh faktor non-suku bunga terhadap keputusan konsumen. Faktor-faktor tersebut
antara lain perbaikan daya beli masyarakat, ekspektasi konsumen yang positif
terhadap perbaikan pendapatan, kemampuan konsumen membayar cicilan kredit, dan
promosi yang dilakukan oleh produsen barang-barang tahan lama seperti mobil, motor
Daya beli masyarakat, yang mengalami penurunan akibat kenaikan harga
BBM pada Oktober 2005 lalu, belum sepenuhnya pulih. Meskipun demikian, laju
inflasi yang lebih terkendali, dan ekspektasi konsumen yang masih menunjukkan
optimisme terhadap perbaikan penghasilan selama 6 bulan kedepan, serta tawaran
kredit rumah dan kendaraan bermotor dengan bunga tetap (fixed rate) selama 1-3
tahun pertama mampu mendongkrak kembali pertumbuhan kredit konsumsi dan
penjualan kendaraan bermotor yang sempat mengalami penurunan selama tahun 2006.
Proses pemulihan penjualan kendaraan bermotor dan pertumbuhan kredit konsumsi ini
justru terjadi pada situasi dimana suku bunga kredit konsumsi hanya mengalami
penurunan yang sangat terbatas.
Inelastisitas permintaan kredit konsumsi menguntungkan perbankan. Tingkat
suku bunga konsumsi yang tinggi dan kredit konsumsi yang terus tumbuh seharusnya
mampu meningkatkan pendapatan bank. Data menunjukkan kontribusi pendapatan
bunga kredit terhadap total pendapatan operasional perbankan secara konsisten
mengalami peningkatan selama periode 2002 – 2006. Kenaikan kontribusi pendapatan
bunga kredit tidak lepas dari peranan kredit konsumsi yang bersama-sama dengan
kredit modal kerja telah menjadi motor penggerak utama pertumbuhan kredit
perbankan.
Berdasarkan hasil survey triwulan III-2007 yang dilakukan oleh Bank
Indonesia, permintaan masyarakat terhadap kredit baru menunjukkan peningkatan
sebesar 84,8% lebih rendah dibandingkan dengan triwulan lalu (92,8%).
membaiknya prospek usaha nasabah merupakan faktor utama yang mendorong
meningkatnya permintaan kredit baru dengan pemintaan terbesar berupa kredit modal
kerja diikuti oleh kredit konsumsi dan kredit investasi.
Tingkat suku bunga konsumsi yang tinggi dan kredit konsumsi yang terus
tumbuh seharusnya mampu meningkatkan pendapatan bank. Data menunjukkan
kontribusi pendapatan bunga kredit terhadap total pendapatan operasional perbankan
secara konsisten mengalami peningkatan selama periode 2002 – 2006.
Sumber : Bank Indonesia, 2007
Gambar 6. Pendapatan Operasional Bank Umum
Sebagai landasan dalam penelitian ini, digunakan beberapa penelitian yang
yang mengambil judul pengaruh faktor-faktor yang mempengaruhi nilai bunga yang
diterima perbankan di Indonesia dari segi makro ekonomi. Variabel dependen yang
digunakan dalam penelitian Mukti adalah nilai tingkat bunga deposito sedangkan
variabel independent yang digunakan adalah likuiditas perekonomian, pendapatan
nasional dan pengeluaran pemerintah. Penelitian tersebut menyimpulkan bahwa
likuiditas perekonomian, pendapatan nasional dan pengeluaran pemerintah secara
bersama-sama mempengaruhi nilai tingkat bunga perbankan di Indonesia. Secara
parsial, likuiditas perekonomian berpengaruh secara signifikan terhadap tingkat bunga
di Indonesia. Sedangkan variabel pendapatan nasional dan pengeluaran pemerintah
masing-masing kurang memiliki pengaruh secara nyata terhadap tingkat bunga.
Sedangkan penelitian kali ini berusaha untuk mengukur kekuatan faktor-faktor yang
mempengaruhi nilai tingkat suku bunga kredit yang ditawarkan perbankan di
Indonesia, objek penelitian kali ini adalah Bank Umum di Indonesia, Variabel
dependen yang digunakan dalam penelitian kali ini adalah nilai tingkat suku bunga
kredit konsumsi Bank Umum di Indonesia. Sedangkan variabel independen yang
digunakan adalah indikator perbankan.
Ulasan dan data-data yang ada serta peningkatan yang cukup signifikan akan
kinerja perbankan serta perkembangan kredit khususnya kredit konsumsi yang
akhir-akhir ini begitu pesat pertumbuhannya akhir-akhirnya menjadi dasar pemikiran untuk
dilakukan penelitian mengenai pengaruh Non Performing Loan, Dana Pihak Ketiga
dan Net Interest Margin terhadap tingkat suku bunga kredit pada bank umum dan
Berdasarkan uraian tersebut, maka penelitian ini berjudul "Pengaruh Kinerja
Perbankan Terhadap Tingkat Suku Bunga Kredit Konsumsi Pada Bank Umum
Dan Implikasinya Kepada Perkembangan Kedit Konsumsi (Suatu Penelitian Pada
Periode 2003 - 2007)”.
1.2 Rumusan Masalah
Bertitik tolak dari latar belakang penelitian, dapat dirumuskan masalah
penelitian sebagai berikut :
a. Bagaimana pengaruh non performing loan pada bank umum terhadap tingkat suku
bunga kredit konsumsi ?
b. Bagaimana pengaruh dana pihak ketiga pada bank umum terhadap tingkat suku
bunga kredit konsumsi ?
c. Bagaimana pengaruh net interest margin pada bank umum terhadap tingkat suku
bunga kredit konsumsi ?
d. Bagaimana pengaruh tingkat suku bunga terhadap pertumbuhan kredit konsumsi
pada bak umum ?
1.3 Tujuan Penelitian
Tujuan yang ingin dicapai melalui penelitian ini adalah untuk mengetahui dan
mempelajari :
a. Pengaruh non performing loan pada bank umum terhadap tingkat suku bunga
kredit konsumsi berdasarkan data pada kurun waktu tahun 2003 sampai tahun
b. Bagaimana pengaruh dana pihak ketiga pada bank umum terhadap tingkat suku
bunga kredit konsumsi berdasarkan data pada kurun waktu tahun 2003 sampai
tahun 2007
c. Bagaimana pengaruh net interest margin pada bank umum terhadap tingkat suku
bunga kredit konsumsi berdasarkan data pada kurun waktu tahun 2003 sampai
tahun 2007
d. Bagaimana pengaruh tingkat suku bunga terhadap pertumbuhan kredit konsumsi
pada bak umum berdasarkan data pada kurun waktu tahun 2003 sampai tahun
2007
1.4 Asumsi Penelitian
Model yang diajukan dalam penelitian ini dapat berlaku dengan beberapa
asumsi berikut :
a. Kondisi negara selama tahun pengamatan stabil, tidak ada bencana alam,
kerusuhan, dan stabilitas keamanan terjaga.
b. Faktor-faktor lain yang mempengaruhi tingkat suku bunga di luar informasi
kinerja keuangan seperti peran aktif insider trading, siklus bisnis, makroekonomi,
dan prosfek industri di masa yang akan datang dalam penelitian ini dianggap
konstan.
c. Informasi kinerja keuangan perbankan dianggap mencerminkan semua informasi
1.5. Lokasi dan Sampel Penelitian
Objek penelitian yang akan dilakukan dalam penelitian ini adalah tingkat suku
bunga kredit konsumsi pada bank umum, serta implikasinya terhadap perkembangan
kredit konsumsi pada periode Januari 2003 sampai dengan Desember 2007.
Sedangkan unit analisisnya adalah laporan keuangan yang tercermin dalam prospektus
masing-masing bank umum yang berupa Non Performing Loan (NPL), Dana Pihak
Ketiga, dan Net Interest Margin (NIM).
Jenis data yang akan digunakan di dalam penelitian ini adalah sepenuhnya
berbentuk data kuantitatif dalam artian data yang terdiri dari angka-angka. Selain itu,
keseluruhan data variabel-variabel dalam penelitian ini merupakan data time series
dengan periode pengamatan dari bulan Januari 2003 sampai dengan Desember 2007.
Sumber data yang digunakan sepenuhnya berasal dari data sekunder, yaitu
jenis data yang di peroleh dalam bentuk yang sudah jadi, sudah dikumpulkan dan
diolah oleh pihak lain biasanya dalam bentuk publikasi. Data sekunder diperoleh dari
perpustakaan Bank Indonesia cabang Bandung Jln. Merdeka no 26 Bandung, Badan
Pusat Statistik, internet, buku-buku, literatur, dan jurnal-jurnal penelitian. Penggunaan
data sekunder dalam penelitian ini dikarenakan efektivitas biaya dan penghematan
waktu.
Objek penelitian yang akan dilakukan dalam penelitian ini adalah tingkat suku
bunga kredit konsumsi pada bank umum, serta implikasinya terhadap perkembangan
Sedangkan unit analisisnya adalah laporan keuangan yang tercermin dalam prospektus
masing-masing bank umum yang berupa Non Performing Loan (NPL), Dana Pihak
Ketiga, dan Net Interest Margin (NIM).
Jenis data yang akan digunakan di dalam penelitian ini adalah sepenuhnya
berbentuk data kuantitatif dalam artian data yang terdiri dari angka-angka. Selain itu,
keseluruhan data variabel-variabel dalam penelitian ini merupakan data time series
63
BABIII
OBJEK DAN METODE PENELITIAN
3.1. Objek Penelitian
Dalam penelitian ini, objek yang dianalisis adalah data-data sekunder dari Non
Performing Loans (X1), Dana Pihak Ketiga (X2), Net Interest Margin (X3),
Perkembangan kredit (Y1) dan Tingkat Suku Bunga (Y2) pada bank umum.
Data tersebut penulis dapatkan sebagian besar dari perpustakaan Bank
Indonesia Cabang Bandung Jalan Merdeka no 26 Bandung, badan Pusat Statistik, dan
juga situs internetnya.
Keseluruhan data variabel-variabel dalam penelitian ini merupakan data time
series dengan periode pengamatan dari bulan Januari 2003 sampai dengan Desember
2007.
3.2. Desain dan Metode Penelitian
Desain penelitian menurut Kusnendi (2007:40) adalah rencana, struktur dan
strategi dalam suatu penelitian yang disusun sedemikian rupa sehingga peneliti akan
dapat memperoleh jawaban untuk pertanyaan–pertanyaan penelitiannya.
Desain penelitian yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan
pendekatan deskriptif (descriptive analysis) karena dilakukan untuk memperlihatkan
dan menguraikan keadaan objek penelitian dan dilanjutkan dengan analisis verifikatif
hipotesis, yang dilaksanakan melalui pengumpulan data di lapangan dimana dalam
penelitian ini akan diuji sejauh mana pengaruh dari Non Performing Loans (NPL),
Dana Pihak Ketiga, dan Net Interest Margin (NIM) terhadap tingkat suku bunga kredit
konsumsi pada bank umum, serta implikasinya terhadap perkembangan kredit
konsumsi. Metode penelitian yang digunakan adalah explanatory research atau
penelitian penjelasan karena bersifat penjelasan, yaitu menjelaskan hubungan
kausalitas.
3.3 Operasionalisasi Variabel
Dalam penelitian ini telah ditetapkan sejumlah variabel yang termasuk ke
dalam variabel bebas (eksogen) dan variabel terikat (endogen). Variabel bebas yang
dimaksud dalam penelitian ini adalah variabel Non Performing Loans (NPL), Dana
Pihak Ketiga, dan Net Interest Margin (NIM). Sedangkan yang dimaksud variabel
terikat adalah tingkat suku bunga kredit konsumsi pada bank umum dan
perkembangan kredit konsumsi.
Variabel-variabel dalam penelitian ini seperti telah di jelaskan pada objek
penelitian dijabarkan lebih lanjut ke dalam variabel, indikator, pengukuran dan skala
data, seperti pada Tabel 3.1.
3.4 Jenis dan Sumber Data
Jenis data yang akan digunakan di dalam penelitian ini bersifat kuantitatif.
Selain itu, keseluruhan data variabel dalam penelitian ini merupakan data time series
Sumber data yang digunakan adalah data sekunder, yaitu jenis data yang di peroleh
dalam bentuk yang sudah jadi, sudah dikumpulkan dan diolah oleh pihak lain biasanya
dalam bentuk publikasi. Data sekunder diperoleh dari perpustakaan Bank Indonesia
cabang Bandung Jln. Merdeka no 26 Bandung, Badan Pusat Statistik, internet,
buku-buku, literatur, dan jurnal-jurnal penelitian. Penggunaan data sekunder dalam
penelitian ini dikarenakan efektivitas biaya dan penghematan waktu.
Tabel 3.1
Operasionalisasi Variabel
No Variabel Subvariabel Indikator Satuan Skala 1 Perkembangan Kredit (Y2) Jumlah penyaluran kredit % Rasio 2 Tingkat Suku Bunga (Y1) Tingkat suku bunga kredit bank-bank
3.5 Teknik Pengumpulan Data
Adapun teknik pengumpulan data yang dilakukan oleh penulis adalah metode
dokumentasi. Mengenai metode dokumentasi, Arikunto (1998:236) berpendapat
sebagai berikut :
“Metode dokumentasi yaitu mencari data mengenai hal-hal atau variabel yang berupa catatan, transkrip, buku, surat kabar, majalah, dan lain sebagainya. …. Dalam menggunakan metode ini peneliti memegang checklist untuk variabel yang sudah ditentukan. Apabila terdapat/muncul variabel yang dicari, maka peneliti tinggal membubuhkan tanda check di tempat yang sesuai”
Berdasarkan pendapat tersebut, maka peneliti melakukan pengumpulan data
berupa data sekunder. Data sekunder adalah data yang didapat dari pihak lain yang
telah mengumpulkan terlebih dahulu dari jenis data yang dipergunakan data time
series. Data sekunder yang dibutuhkan dalam penelitian ini adalah :
1. Data Perkembangan kredit bank-bank umum berjangka triwulan (commercial
banks) dari laporan Bank Indonesia, terhitung sejak Bulan Januari 2003 sampai
dengan Desember 2007.
2. Data suku bunga kredit bank-bank umum (commercial banks) dari laporan Bank
Indonesia, terhitung sejak Bulan Januari 2003 sampai dengan Desember 2007.
3. Data Non Performing Loans bank-bank umum (commercial banks) dari laporan
Bank Indonesia, terhitung sejak Bulan Januari 2003 sampai dengan Desember
2007.
4. Data Dana Pihak Ketiga bank-bank umum (commercial banks) dari laporan Bank
5. Data Net Interest Margin bank-bank umum (commercial banks) dari laporan Bank
Indonesia, terhitung sejak bulan Januari 2003 sampai dengan Desember 2007.
3.7. Teknik Analisis Data dan Pengujian Hipotesis
3.7.1 Teknik Analisis Data
Sesuai dengan yang ditetapkan dalam penelitian ini, teknik analisis data
dilakukan dengan menggunakan pendekatan statistic seperti yang diuraikan dalam
Tabel 3.2
Tabel 3.2
Tujuan Penelitian dan Teknik Analisis Data
Tujuan penelitian Teknik Analisis Data
Deskripsi tentang Non Performing Loans (NPL), Dana Pihak Ketiga, Net Interest Margin (NIM), tingkat suku bunga kredit konsumsi dan perkembangan kredit konsumsi pada bank umum periode Januari 2003 sampai dengan Desember 2007
Analisa statistik Deskriptif
Menjelaskan Pengaruh Non Performing Loans (NPL), Dana Pihak Ketiga, dan Net Interest Margin (NIM) terhadap tingkat suku bunga kredit konsumsi bank umum periode Januari 2003 sampai dengan Desember 2007
Analisis jalur
Menjelaskan implikasi tingkat suku bunga kredit konsumsi bank umum terhadap perkembangan kredit konsumsi pada bank umum periode Januari 2003 sampai dengan Desember 2007
Analisis statistik deskriptif dilakukan dengan menggunakan tendensi sentral
berupa rata-rata hitung (mean), nilai terbesar dan terkecil maupun ukuran disersi
(dispersion) berupa standar deviasi yang disajikan dalam bentuk tabel. Dalam
pelaksanaannya, analisis statistik deskriptif menggunakan program MS.Excel 2007
Sedangkan untuk mengolah data analisis jalur menggunakan komputasi Analysis of
Moment Structure (AMOS) versi 5.0 dengan bentuk data berupa time series.
3.7.2 Pengujian Hipotesis
Analisis data digunakan penulis adalah analisis jalur (path analysis) yang
diperkenalkan pertama kali oleh Sewall Wright pada tahun 1920. Pada awalnya
analisis jalur dipergunakan untuk ilmu sosiologi dan dikembangkan oleh Karl G
Joreskog dan Dag Sorbom dari departemen Statistik Universitas Uppsala Swedia.
Berdasarkan kerangka pemikiran dan hipotesis penelitian yang telah diajukan
sebelumna, maka hubungan kausal antar variabel penelitian dapat digambarkan secara
Gambar 3.1
Struktur Model penelitian
Keterangan :
X1 = Non Performing Loans
X2 = Dana Pihak Ketiga
X3 = Net Interest Margin
Y1 = Tingkat Suku Bunga
Y2 = Perkembangan Kredit
e1dan e2 = Koefisien jalur variabel residu
Sesuai dengan Gambar 3.1 dan hipotesis yang diajukan sebelumnya maka
dapat dibuat model dalam bentuk persamaan diagram jalur sebagai berikut :
1 41 1 42 2 43 3 1
Untuk menentukan berapa besarnya pengaruh dari suatu variabel terhadap
variabel lainnya dalam analisis jalur diperlukan persyaratan seperti yang dikemukakan
Sitepu (1994:14) sebagai berikut :
1. Hubungan antar variabel harus merupakan hubungan linear dan aditif.
Uji linearitas menggunakan curve fit dan menerapkan prinsip parsimony, yaitu
bilamana seluruh model signifikan yang dilihat dari p-value ≥ 0.05, root means
square error of approximation (RMSEA) ≤ 0.08 dan nilai comparative fit index
(CFI) ≥ 0.90 berarti dapat dikatakan model berbentuk linear.
2. Semua variabel residu tidak mempunyai korelasi satu sama lain (autokorelasi).
Guna memenuhi syarat kedua, dilakukan uji autokorelasi yang dilakukan dengan
menggunakan metode grafik atau PP Plot (Supranto, 2004:98). Bila gambar dalam
PP-Plot menunjukkan pola tertenu dari sebaran nilai residual atas model yang
diuji, berarti model tersebut memiliki gejala autokorelasi. Lebih jauh Supranto
mengatakan, konsekuensi dari mengabaikan adanya gejala autokorelasi diantaraya
adalah :
a. Uji signifikansi menjadi kurang kuat (less powerful)
Menurut Supranto (2004:108-114) ada beberapa cara dalam mengatasi persoalan
autokorelasi, salah satunya dengan mentransformasikan data mentah (raw data)
dengan menggunakan rumus :
t t-1 t t-1 t t-1
(Y - Y ) = (1- ) ρ A ρ + (X - X ) + ( - B ρ ε ρε )
Dimana :
Yt = data variabel endogen setelah transformasi
Xt = data variabel eksogen setelah transformasi
A = intercept
B = koefisien regresi
≥ = kesalahan pengganggu
3. Pola hubungan antar variabel adalah rekursif
4. Skala pengukuran baik pada variabel penyebab maupun pada variabel akibat
sekurang-kurangnya interval
Apabila persyaratan ini dipenuhi, maka koefien jalur bias dihitung dengan
langkah sebagai berikut :
1. Menggambarkan dengan jelas diagram jalur yang mencerminkan proporsi
hipotetik yang diajukan, lengkap dengan persamaan strukturalnya.
1 2
Formula untuk menghitung koefisien korelasi menggunakan Pearson’s Cofficient
of Correlation (Product Moment Coefficient)dari Karl Pearson. Rumus Pearson’s
Cofficient of Correlation (Product Moment Coefficient) (Al Rasyid, 2005) :
(
)(
)
3. Menghitung matriks korelasi variabel eksogen
1 2
4. Menghitung matriks invers korelasi variabel eksogen
(
)
1 1
Untuk menentukan koefisien jalur, dapat juga digunakan fungsi regresi, yaitu
mengalikan koefisien regresi dengan standar deviasi variabel eksogen dibagi
dengan standar deviasi variabel endogen. Rumusnya adalah sebagai berikut
(Kusnendi, 2005:9):
Sk = standar deviasi variabel eksogen
Sy = standar deviasi variabel endogen
Bk = koefisien regresi variabel eksogen
6. Menguji kebermaknaan (test of significance) koefisien jalur secara keseluruhan
maupun secara individu.
Guna melakukan pengujian kebermaknaan koefisien jalur atas hipotesis yang
ditetapkan, Tabel 3.3 menguraikan rancangan pengujian hipotesis dengan
Tabel 3.3
Rumusan Hipotesis Penelitian
Pengujian Hipotesis statistik Kriteria uji
Secara
dan Y1 sampel berbeda dengan matriks korelasi populasi
7. Menghitung besarnya pengaruh langsung, pengaruh tidak langsung, serta
pengaruh total variabel eksogen terhadap variabel endogen secara parsial, dengan
rumus :
a. Besarnya pengaruh langsung variabel eksogen terhadap variabel endogen =
u j u j
x x x x x
ρ ρ
b. Besarnya pengaruh tidak langsung variabel eksogen terhadap variabel
endogen =
1 2
u j u j
x x xrx x x x x
c. Besarnya pengaruh total variabel eksogen terhadap endogen adalah
penjumlahan besarnya pengaruh langsung dengan besarnya pengaruh tidak
langsung =
(gabungan) terhadap variabel endogen dengan menggunakan rumus :
(
)
(
)
9. Menghitung besarnya variabel residu, yaitu variabel yang mempengaruhi variabel
endogen di luar variabel eksogen dengan rumus :
(
)
Perlu diketahui, produk akhir dari langkah perhitungan tersebut adalah
memperoleh model penelitian yang sesuai dalam memprediksi perubahan variabel
eksogen terhadap variabel endogen yang diinterpretasikan dalam bentuk persamaan
structural maupun gambar struktur maupun gambar struktur jalur itu sendiri. Dengan
demikian dalam teknik analisis jalur, tidak tertutup kemungkinan persamaan maupun
model akan berubah yang disebabkan oleh adanya salah satu atau lebih variabel
independen yang pengujian hipotesisnya ditolak (Ho diterima). Apabila terjadi hal
trimming. Trimming sebagaimana dikemukakan oleh Heise, Al Rasyid dalam Kusnendi
(2004:12) adalah metode yang digunakan untuk memperbaiki model dengan jalan
mengeluarkan atau mendrop dari model variabel eksogen yang koefisisn jalurnya tidak
signifikan.
Dengan demikian sudah jelas terjadinya trimming berdampak pada perubahan
model. Oleh karenanya dalam penjelasan AMOS, peneliti dapat membandingkan
(mengkomparasi) model mana yang paling fit dengan data, dimana model yang
dinyatakan fit dengan data adalah model yang menunjukkan tingkat keakurasian dalam
memprediksi perubahan dalam variabel-variabel yang diteliti melalui penggunaan nilai
comparative fit index (CFI). CFI merupakan ukuran kesesuaian model berbasis
koparatif degan model null. CFI nilainya berkisar antara 0.0 sampai 1.0. CFI ≥ 0.90
119 BAB V
KESIMPULAN DAN REKOMENDASI
5.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan analisis yang dilakukan dapat diambil
kesimpulan sebagai berikut :
1. Variabel DPK, NPL dan tingkat suku bunga kredit konsumsi sebesar 93%
mempengaruhi variabel perkembangan kredit konsumsi dan sisanya 7%
dipengaruhi oleh variabel lain yang tidak dijelaskan oleh model, seperti faktor
permintaan masyarakat terhadap kredit konsumsi, faktor pendapatan masyarakat,
faktor tingkat suku bunga, nilai tukar mata uang, gejolak di perbankan, seperti
Peraturan Pemerintah serta corporate action, seperti divestasi, pembagian deviden,
merger, dan lain-lain.
2. DPK, NPL dan tingkat suku bunga kredit konsumsi menunjukan :
2.1. DPK berpengaruh positif terhadap tingkat suku bunga kredit konsumsi
karena perkembangan kredit konsumsi didorong adanya permintaan
masyarakat yang tinggi.
2.2. NPL berpengaruh positif terhadap perkembangan kredit konsumsi. sebuah
bank yang memiliki NPL sangat kecil tidak serta-merta berarti hampir
seluruh kredit bank tersebut adalah kredit lancar, yang menunjukkan betapa
yang sangat kecil dapat saja dicapai bank yang hanya sedikit menyalurkan
kreditnya.
2.3. Tingkat suku bunga kredit konsumsi berpengaruh negatif terhadap
perkembangan kredit konsumsi, laju inflasi yang lebih terkendali, dan
ekspektasi konsumen yang masih menunjukkan optimisme terhadap
perbaikan penghasilan selama 6 bulan kedepan menjadi faktor penentu
tingginya minat masyarakat terhadap kredit konsumsi.
3. NIM berpengaruh negatif terhadap tingkat suku bunga kredit konsumsi karena
semakin meningkatnya ekspansi kredit konsumsi. Semakin besar kredit yang
diberikan tentunya diikuti oleh kualitas kredit yang baik, akan meningkatkan
pendapatan kredit
5.2 Rekomendasi
Untuk peneliti yang akan meneliti lebih lanjut penulis menyarankan untuk
lebih jauh menganilisis mengenai pengaruh-pengaruh yang lebih mengarah kepada
unsur-unsur utama dalam bentukan bunga perbankan, baik dari segi mikro maupun
makro kemudian menyeleksi, menganalisis, menguji informasi, aspek maupun asumsi
mengingat faktor ciri khas dari suatu perbankan terdapat faktor-faktor makro,
sehingga mungkin saja menjadi suatu hal yang dapat menyebabkan adanya perbedaan
dari yang ada di teori. Selain itu, disarankan menggunakan periode penelitian yang
Dalam penelitian ini hanya variabel yang berkaitan dengan laporan keuangan
yang diteliti pengaruhnya, maka untuk penelitian selanjutnya dapat dilakukan dengan
memperhatikan faktor-faktor lain yang mungkin berpengaruh tetapi tidak dimasukkan
ke dalam penelitian ini, misalnya faktor permintaan masyarakat terhadap kredit
konsumsi, faktor pendapatan masyarakat, faktor tingkat suku bunga, nilai tukar mata
uang, gejolak di perbankan, seperti Peraturan Pemerintah serta corporate action,
seperti divestasi, pembagian deviden, merger, dan lain-lain yang dapat
122
Brigham dan Houston. (2006). Dasar-dasar Managemen Keuangan, Edisi sepuluh. Salemba empat. Jakarta.
Badan Pusat Statistik.(2007). Statistik Indonesia Tahun 2007. Jakarta.
Bank Indonesia. (2007). Laporan Bulanan Perkembangan Moneter, Sistem Pembayaran, dan Perbankan Vol.10, No.1, Juli 2007. Jakarta.
Bank Indonesia. (2006). Laporan Pengawasan Perbankan. Jakarta.
Bank Indonesia. (2006). Perekonomian Indonesia. Jakarta.
Bank Indonesia. (2007). Tinjauan Kebijakan Moneter, Ekonomi Moneter dan Perbankan. Jakarta.
Boediono, (1991). Tingkat Bunga dan Faktor-Faktor Penentunya. Jurnal Ekonomi dan
Bisnis Indonesia. No.1 Tahun VI, 18 - 26. Jakarta.
Coleman, Alan B, Donald G Simonson, George H Hempel, Bnak Manageent : Text and Cases, $th edition, Jhon Wiley&Sons Inc, 1994.
Gumilar, Aten., Bandi Soebandi. (1996).Manajemen Bank, Cetakan Pertama, CV Abadi Luhur, Bandung.
Insukindro. (1995). Ekonomi Uang dan Bank. Teori dan Pengalaman di Indonesia. – Yogyakarta: BPFE.
Luh Gede Meydianawathi (2007), Analisis Perilaku Penawaran Kredit Perbankan kepada Sektor UMKM di Indonesia, Fakultas Ekonmi, Universitas Udayana, Bali.
---. (2007). Analisis Jalur dengan AMOS. Magister Manajemen. Sekolah Pascasarjana Universitas Pendidikan Indonesia. Bandung.
M. Manullang. (1989). Ekonomi Moneter.Yogyakarta: Ghalia Indonesia.
Mukti Andriani. (1999). Faktor-faktor yang Mempengaruhi Nilai Bunga yang
Diterima Perbankan di Indonesia. Skripsi Sajana Tidak Diterbitkan, UPN
Veteran Jawa Timur
Muliaman D.Hadad dkk. (2004). Model Estimasi Permintaan dan Penawaran Kredit
Konsumsi Rumah Tangga di Indonesia. Direktorat Penelitian dan Pengaturan
Perbankan. Bank Indonesia. Jakarta. (www.bi.go.id)
Mulyadi. (2001). Akuntansi Manajemen. Edisi ketiga. Salemba Empat. Jakarta.
Nopirin. (1990). Pengantar Ilmu Eknomi Makro & Mikro.Yogyakarta: BPFE.
Rose, Peter S. (1995). Commercial Bank Management. 3rd edition. Texas A&M university.USA.
Sukirno, Sadono. (2003). Pengantar Teori Makroekonomi. Edisi Kedua. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.
Teguh, Pudjomulyo, (1996). Aplikasi Akuntasi Manajemen dalam Praktek Perbankan. BPFEE. Yogyakarta.