1 A. Latar Belakang
Hampir seluruh negara di dunia mengandalkan pemasukan negara dari sektor pajak tidak terkecuali di Indonesia. Postur Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) di tahun 2019 yang dirilis oleh Direktorat Jenderal Pajak mencatat 82,5% berasal dari sektor pajak. Upaya pemerintah meningkatkan pemasukan pajak dengan mengembangkan pengenaan tarif diberbagai jenis transaksi tidak lepas demi tercapainya target yang telah ditetapkan, termasuk pajak penghasilan badan. Pajak penghasilan badan menjadi salah satu perhatian utama perusahaan dan pemerintah. Perusahaan berusaha mengelola kewajiban pajak secara efisien untuk mengurangi biaya pajak badan yang akan timbul namun disisi lain pemerintah memiliki tanggung jawab untuk mengoptimalkan pendapatan negara dari sektor pajak. Sebuah studi menunjukkan bahwa seperempat dari perusahaan yang terdaftar di Amerika Serikat mampu mempertahankan tarif pajak efektif jangka panjang di bawah angka 20 persen (Dyreng et al., 2008).
Besarnya kewajiban pajak yang timbul atas usaha bisnis para wajib pajak mendorong praktik-praktik penghindaran pajak banyak dilakukan.
Dari segi bisnis hal ini wajar dilakukan karena besarnya pengeluaran yang akan timbul, namun hal ini bertentangan jika perspektif otoritas pajak digunakan. Besarnya potensi pemasukan dari wajib pajak tentu mendorong otoritas pajak memaksimalkan potensi pemasukan dari para wajib pajak.
Hal inilah yang menjadi perdebatan hingga saat ini apakah praktik penghindaran pajak ini legal atau illegal jika menggunakan perspektif kedua belah pihak. Praktik penghindaran pajak didefinisikan sebagai segala sesuatu yang dilakukan perusahaan dan berakibat pengurangan terhadap pajak perusahaan (Dyreng et al., 2008). Kessler (2004) tax avoidance dibagi menjadi dua jenis yaitu penghindaran pajak yang diperbolehkan (acceptable tax avoidance) dan penghindaran pajak yang tidak diperbolehkan (unacceptable tax avoidance). Penghindaran pajak
yang diperbolehkan berkarateristik memiliki tujuan yang baik bukan untuk menghindari pajak dan tidak melakukan transaksi palsu sedangkan penghindaran pajak yang tidak diperbolehkan dengan karakteristik tidak memiliki tujuan yang baik, untuk menghindari pajak, dan menciptakan transaksi palsu. Masing-masing negara memiliki pandangan berbeda terhadap acceptable tax avoidance dan unacceptable tax avoidance ini tergantung kebijakan, undang-undang dan kondisi ekonomi yang ada.
Undang-Undang Pajak Penghasilan amandemen ke IV (Undang-Undang nomor 36 tahun 2008) telah menambahkan beberapa ayat pada pasal 18 yang mengidentifikasi beberapa skema penghindaran pajak baru beserta aturan dan konsekuensi hukumnya.
Penelitian pajak terbaru berpendapat bahwa penghindaran pajak yang agresif merupakan hal yang berisiko (Rego dan Wilson, 2012;
Hutchens dan Rego, 2017). Perencanaan pajak yang agresif dikaitkan dengan risiko jatuhnya harga saham (Kim et al., 2016). Penelitian yang menemukan bahwa insentif pengambilan risiko manajer dikaitkan dengan agresivitas pajak yang lebih besar (Rego dan Wilson, 2012). Di sisi lain, literatur koneksi politik mendokumentasikan perusahaan yang terhubung secara politis lebih besar kemungkinannya untuk ditalangi selama masa kesulitan ekonomi di Amerika Serikat dan negara-negara lain menyiratkan bahwa perusahaan yang terhubung dapat terjaga lebih baik dari investasi yang berisiko (Faccio, 2006; Duchin dan Sosyura, 2012). Koneksi politik secara positif terkait dengan pengambilan risiko perusahaan untuk sampel perusahaan internasional (Boubakri et al., 2013). Ada pendapat bahwa koneksi politik berfungsi sebagai mekanisme asuransi terhadap peristiwa ekstrim (Duchin dan Sosyura, 2012). Dengan demikian, perusahaan yang terhubung dapat terlibat lebih banyak merencanaan pajak karena kecenderungan pengambilan risiko yang lebih tinggi yang disebabkan oleh koneksi politik.
Memahami konsekuensi ekonomi dari koneksi politik sangat penting bagi pemerintah yang memiliki tujuan meminimalkan atau mengurangi praktik penghindaran pajak. Tren koneksi politik di satu negara
menggunakan sampel lintas negera memberikan bukti bahwa negara dengan tingkat koneksi politik yang tinggi memiliki tingkat penggelapan pajak yang lebih tinggi (Khlif dan Amara, 2017). Koneksi politik dan tingkat korupsi memainkan peran pelengkap dalam meningkatkan praktik penggelapan pajak. Hubungan positif antara koneksi politik dan penghindaran pajak menjadi lebih kuat untuk negara-negara dengan tingkat korupsi yang tinggi. Temuan ini menyiratkan bahwa tingkat koneksi politik yang tinggi disatu negara dapat mempengaruhi perilaku kepatuhan pajak dan efek lebih buruk di negara dengan tingkat korupsi tinggi. Penelitian diperusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia tahun 2007-2013 perusahaan yang terkoneksi politik membayar pajak penghasilan badan lebih rendah dari pada perusahaan yang tidak terkoneksi secara politik (Sudibyo dan Jianfu, 2016). Selain itu studi tersebut membuktikan bahwa perusahaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang mempekerjakan komisaris independen terkoneksi politik menunjukan perilaku penghindaran pajak. Dengan menggunakan dataset perusahan listing di Amerika Serikat menemukan bahwa perusahaan yang terkoneksi secara politik terbukti membayar pajak lebih rendah daripada yang tidak memiliki koneksi politik (Kim dan Zhang, 2016).
Dalam konteks yang sama namun menggunakan proksi lain menemukan bahwa pemberian sanksi berat oleh otoritas kepada wajib pajak yang terbukti melakukan penghindaran pajak secara signifikan dapat dirusak oleh dewan yang terhubung secara politis (Lin et al., 2018).
Perusahaan yang dipimpin oleh CEO partisipan politik dikaitkan dengan tingkat perlindungan pajak perusahaan yang lebih tinggi daripada perusahaan yang dipimpin oleh CEO non partisipan (Francis et al., 2016).
Secara khusus CEO partisipan Partai Republik dikaitkan dengan lebih banyak melakukan penghindaran pajak perusahaan bahkan ketika sumber kekayaan mereka tidak terikat dengan pemegang saham dan ketika tata kelola perusahaan lemah, menunjukkan bahwa keputusan untuk menghindari pajak dapat didorong oleh faktor-faktor tertentu seperti ideologi partai. Penelitian tersebut juga menunjukkan bahwa CEO
Demokrat dikaitkan dengan lebih banyak menghindari pajak perusahaanhanya ketika hasil dari saham tinggi. Hal tersebut menunjukkan bahwa keputusan untuk melindungi pajak lebih didorong oleh insentif ekonomi. Evertsson (2016) menunjukkan bahwa dewan direksi adalah faktor yang berkontribusi lebih banyak untuk mengendalikan penghindaran pajak secara nasional, sedangkan peran CEO kurang relevan menentang praktik ini.
Studi penghindaran pajak menemukan bahwa efek entrenchment pemegang saham pengendali memiliki pengaruh negatif terhadap penghindaran pajak (Masripah et al., 2015). Dewan Komisaris dan efektivitas komite terbukti melemahkan hubungan antara efek entrenchment pemegang saham pengendali dan penghindaran pajak. Peran audit kualitas eksternal tidak terbukti untuk melemahkan hubungan antara efek entrenchment dari pemegang saham pengendali dan penghindaran pajak. Temuan kuat untuk berbagai ukuran koneksi politik dan agresivitas pajak (Kim dan Zhang, 2016). Hasil ini konsisten dengan dugaan perusahaan yang terhubung secara politis lebih agresif karena biaya lebih rendah daripada otoritas pajak. Hubungan politik berpengaruh negatif terhadap pajak agresivitas, terutama dewan komisaris independen sedangkan tata kelola perusahaan tidak berpengaruh pada agresivitas pajak (Pranoto dan Widagdo, 2015). Perusahaan yang terhubung secara politis lebih agresif pajak daripada yang tidak terhubung (Wahab et al., 2017).
Namun penelitian tersebut tidak menemukan bukti yang menunjukkan bahwa perusahaan milik pemerintahan mengurangi pengaruh koneksi politik dalam mempromosikan perilaku agresivitas pajak dikarenakan hubungan politik tidak sama di seluruh negara.
Koneksi politik sering terjadi di negara-negara dengan tingkat korupsi yang tinggi dan di negara-negara yang memberlakukan pembatasan investasi asing serta negara-negara dengan sistem yang kurang transparan.
Koneksi kurang umum di negara-negara dengan peraturan yang menetapkan batas yang lebih ketat pada konflik kepentingan politik.
Hubungan yang berbeda antara pebisnis dan politisi memiliki nilai yang
berbeda. Faccio (2006) menemukan bahwa tidak ada efek yang signifikan di adopsikan untuk pengangkatan politisi sebagai anggota dewan perusahaan. Penelitian Jamei (2017) menyatakan bahwa tidak ada hubungan signifikan yang diamati antara jumlah anggota dewan dan penghindaran pajak. Tidak ada hubungan yang signifikan antara anggota dewan yang tidak bertugas dengan penghindaran pajak. Tidak ada hubungan yang signifikan antara kepemilikan manajerial dan penghindaran pajak.
Penelitian mengenai pentingnya koneksi politik sebagai penentu penghindaran pajak secara struktural tingkat legislatif dan eksekutif di Indonesia masih sedikit. Penelitian ini berfokus pada pengaruh koneksi politik terhadap penghindaran pajak di Indonesia dengan meinvestigasi, mengidentifikasi dan memilih perusahaan secara spesifik yang memiliki koneksi politik. Koneksi politik dan penghindaran pajak telah menarik banyak perhatian karena menjadi sebuah fenomena yang mempertemukan antara pembuat kebijakan, wajib pajak dengan dampak ekonomi yang akan ditimbulkan. Pengisian jajaran pengurus BUMN yang memiliki koneksi politik dengan pemerintah bukanlah hal baru di Indonesia. Koneksi politik semakin tampak jelas pada pemerintahan saat Presiden mengangkat direksi maupun komisaris BUMN yang berasal dari partai politik. Hal ini menunjukkan bahwa koneksi politik merupakan hal umum dan lumrah terjadi dalam struktur organisasi perusahaan BUMN di Indonesia.
Perusahaan yang dimiliki pemerintah dan berkoneksi politik mempunyai tingkat penghindaran pajak yang lebih rendah dibanding perusahaan yang tidak dimiliki pemerintah (Jian et al., 2012). Dari sisi legislatif fenomena pengusaha menjadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) sangat kentara karena 45,5 % atau 262 orang dari 575 anggota DPR masa bakti 2019 – 2024 terindikasi memiliki afiliasi dengan perusahaan sebanyak 1.016 perseroan terbatas di berbagai sektor (Purnomo, 2019).
Tabel 1
Anggota Fraksi DPR 2019-2024 Berlatar Pengusaha
PartaiPolitik Pengusaha Non
Pengusaha Jumlah
PDI-P 57 71 128
Golkar 48 37 85
Gerindra 41 37 78
Nasdem 21 38 59
PKB 26 33 59
Demokrat 23 31 54
PKS 22 28 50
PAN 18 26 44
PPP 6 12 19
Total 262 313 575
Dari sisi pemerintahan atau eksekutif perseorangan yang diangkat mengemban amanah dari kalangan pengusaha juga bukanlah barang baru.
Jajaran kabinet yang dipilih oleh presiden memiliki banyak latar belakang, dari kalangan akademisi, politik, profesional, dan pengusaha. Hadirnya pengusaha diharapkan memberi angin segar bahwa ide, pengalaman dan jaringan yang dimiliki mampu mendongkrak ekonomi nasional. Kuatnya dominasi dari kalangan tertentu diposisi yang dianggap potensial dikhawatirkan dapat menimbulkan konflik kepentingan meskipun secara konstruktif diharapkan mampu memajukan bidang yang dibawahi. Koneksi politik dalam ranah eksekutif dan legislatif secara hukum tidak melanggar aturan namun secara etika sulit memisahkan antara kepentingan pribadi atau golongan dengan kepentingan negara. Fenomena ini lebih terperinci ketika kekuatan politik terkutub menjadi oposisi koalisi. Kader yang berada di koalisi lebih memiliki peran strategis dan diuntungkan dari pada oposisi yang memiliki posisi luar pemerintahan.
Sumber: Purnomo,2019
Tidak berbeda jauh dengan sistem pemerintahan pusat, pemerintahan di daerah terjadi hal yang sama. Sistem politik di Indonesia pascareformasi menerapkan sistem desentralisasi kekuasaan. Daerah diberikan hak otonomi untuk mengatur dan menentukan arah kebijakan yang dianggap sesuai dengan daerahnya. Gubernur, bupati dan walikota beserta DPRD dipilih langsung oleh masyarakat menyerupai pemilihan umum tingkat pusat. Sistem politik di Indonesia mengenal dua jalur untuk pencalonan kepala daerah yaitu jalur partai politik dan jalur independen.
Jalur politik lebih dominan dibanding jalur independen karena jalur independen membutuhkan syarat yang lebih sulit sehingga kader partai atau pun pihak yang terafiliasi dengan kepala daerah cenderung menerima manfaat yang lebih besar dari kebijakan pemerintah daerah. Dengan sistem politik pemilihan umum lima tahunan ini maka perlu ekspolorasi lebih lanjut terkait tahun elektoral yang diduga memiliki peran menguatkan atau memperlemah koneksi politik terhadap penghindaran pajak.
Data Panama Papers dan Paradise Papers menunjukkan betapa besarnya potensi penghindaran pajak yang terjadi bahkan Forum Indonesia Untuk Transparansi Anggaran (FITRA) mengklaim jika angka penghindaran pajak di Indonesia mencapai Rp. 110 triliun per tahun (Himawan, 2017). Dari sisi korporasi dalam negeri saat ini yang menjadi fokus isu terkini adalah dugaan kasus penghindaran pajak yang dilakukan oleh PT. Adaro Energy Tbk. Adaro Energy Tbk adalah Perusahaan Indonesia yang merupakan produsen batu bara terbesar di belahan bumi selatan dan keempat terbesar di dunia. Seperti diketahui CEO PT. Adaro Energy Tbk yang masih kerabat salah satu menteri di Indonesia memiliki kira-kira seperenam saham dari Adaro senilai lebih dari $ 1 miliar (Global Witness, 2019). Dugaan penghindaran pajak ini muncul ketika Global Witness, lembaga nirlaba internasional bidang lingkungan hidup meluncurkan laporan investigasi terkait perusahaan tambang batu bara di Indonesia. PT Adaro Energy (Tbk), perusahaan tambang batu bara besar di Indonesia yang mendapat prediket golden taxpayer dari DirjenPajak.
Global Witness menduga Adaro justru melarikan keuntungan dalam jumlah
besar kejejaring perusahaan luar negeri (offshore network) dan kurang membayar pajak. Analisa utama Global Witness, jika komisi menjual batu bara Indonesia milik Adaro kena pajak di Indonesia pada tingkat rata-rata tahunan yang lebih tinggi dari Singapura maka Indonesia bisa mendapat hingga US$125 juta tambahan pajak Adaro antara 2009-2017 kurang bayar pajak hampir US$14 juta per tahun (Global Witness, 2019).
Penelitian ini mencoba untuk melengkapi penelitian dengan mengeksplorasi efek langsung dari koneksi politik terhadap penghindaran pajak di tingkat negara dan daerah dengan berfokus keperusahaan- perusahaan yang diduga memiliki koneksi politik dan menggunakan tahun elektoral sebagai variabel moderasi. Peneliti di sini mengarah pada Indonesia, negara dengan kelembagaan lemah (Leuz dan Gee, 2006;
Sudibyo dan Jianfu, 2016). Korupsi merupakan masalah serius di Indonesia serta negara-negara Asia lainnya. Menurut Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) tahun 2020 indeks korupsi Indonesia menempati posisi 85 dari 180 negara (kpk.com, 2020). Meskipun berhadapan dengan masalah korupsi pertumbuhan ekonomi Indonesia sangat tinggi. Dana Moneter Internasional (IMF) tahun 2019 menempatkan Indonesia di peringkat ke 7 dari 10 negara dengan pertumbuhan ekonomi terbesar di dunia ditunjukkan dengan Produk Domestik Bruto (PDB) mencapai US$ 3,55 triliun (cncb indonesia.com, 2020).
Koneksi politik merupakan sumber daya yang dimiliki perusahaan untuk memperoleh perlakuan khusus seperti kemudahan memperoleh pinjaman modal, risiko diperiksa otoritas pajak rendah sehingga perusahaan semakin agresif dalam melakukan tax planning yang berdampak pada buramnya transparansi laporan keuangan. Transparansi laporan keuangan adalah salah satu perangkat penting bagi investor dalam mengambil keputusan sehingga jika informasi yang diperoleh dari laporan keuangan rancu maka investor enggan berinvestasi. Sebagai gantinya kehadiran pemerintah dapat menggantikan keberadaan investor ini melalui lobi dan koneksi politik yang ada. Perusahaan yang terkoneksi politik dengan pemerintah terbukti memiliki tingkat penghindaran pajak yang signifikan
tinggi dibanding perusahaan yang tidak memiliki koneksi politik (Francis et al., 2012; Kim dan Zhang, 2013; Leuz dan Gee, 2013). Penelitian yang dilakukan Adhikari (2006), Hardianti (2014), Utari dan Supadmi (2017) menyimpulkan koneksi politik berpengaruh signifikan terhadap tax avoidance. Sedangkan penelitian yang dilakukan Nugroho (2011) dan Fatharani (2012) menyimpulkan koneksi politik tidak berpengaruh signifikan terhadap tax avoidance.
Penelitian ini memberikan bukti empiris tentang perilaku penghindaran pajak dari perusahaan yang terdaftar di Indonesia Bursa Efek periode 2013-2019. Tujuan dari penelitian peneliti adalah untuk menguji efek perilaku penghindaran pajak dari perusahaan yang terhubung secara politis dengan menggunakan tahun elektoral sebagai variabel moderasi.
Menteri BUMN Indonesia berpendapat bahwa posisi dewan direksi atau komisaris di BUMN untuk politisi adalah sah-sah saja (cnbcindonesia.com, 2020). Ini didukung oleh beberapa literatur pada koneksi politik di Indonesia (Fisman, 2001;Leuz dan Gee, 2006).
B. Kebaruan Penelitian
Penelitian ini memiliki beberapa perbedaan dengan penelitian- penelitian sebelumnya. Pertama, penelitian ini tidak hanya menganalisis pengaruh koneksi politik terhadap penghindaran pajak, tetapi juga mempertimbangkan pengaruh tahun elektoral terhadap praktik penghindaran pajak yang dilakukan oleh perusahaan.Tahun elektoral merupakan sebuah momentum penentu arah kekuatan politik guna memperoleh akses manfaat pada kebijakan-kebijakan strategis pemerintah sehingga perusahaan yang terafiliasi dengan politik lebih cenderung memberikan panggung agar politisi tersebut dapat memperoleh suara lebih saat pemilihan umum dilaksanakan.
Kedua, sebagian besar studi sebelumnya, fokus pengukuran agresivitas pajak menggunakan Tarif Pajak Efektif (ETR), GAAP ETR, dan Cash ETR. Agresivitas pajak dalam penelitian ini diukur menggunakan Abnormal Book-Tax Differences (ABTD) yang diperoleh dari nilai residu
dari regresi model estimasi Book-Tax Differences (Tang dan Firth, 2012).
ABTD dianggap lebih akurat mengukur penghindaran pajak karena memiliki informasi yang mampu mengungkap perbedaan nilai buku antara laba akuntansi dan laba fiskal yang dikelola oleh manajemen perusahaan.
Dapat disimpulkan bahwa semakin besar perbedaan yang muncul antara laba akuntansi dan laba fiscal karena pengelolaan pembukuan perusahaan oleh manajemen, maka semakin tinggi nilai ABTD. Nilai ini menunjukkan bahwa perusahaan lebih agresif dalam melakukan tindakan penghindaran pajak.
Ketiga, penelitian ini memiliki fokus penelitian yang lebih spesifik dalam menentukan objek penelitian. Peneliti berfokus pada perusahaan- perusahaan yang memiliki karakteristik dan indikasi bahwa perusahaan tertentu memiliki afiliasi dengan politisi yang dapat dilihat melalui nama perusahaan, susunan pengurus dan ditunjuknya para elit partai politik untuk mengisi jabatan tertentu di pemerintah. Perusahaan yang berbentuk grup cenderung memiliki karakteristik identitas dengan memilih nama-nama perusahaan yang merujuk pendiri perusahaan atau tokoh-tokoh yang dianggap penting maupun merujuk suatu tempat yang merupakan asal perusahaan. Susunan pengurus yang dalam hal ini berfokus pada dewan komisaris karena dewan komisaris menempati posisi tertinggi di perusahaan dan memiliki kewenangan untuk mengawasi jalannya perusahaan. Banyaknya ketua partai politik maupun kader partai politik yang menempati posisi strategis di pemerintahan yang latar belakang sebenarnya merupakan seorang pengusaha dapat dilihat sebagai sebuah koneksi politik yang menguntungkan perusahaan. Berdasarkan fenomena praktis dan empiris tersebut maka peneliti termotivasi untuk menganalisa hubungan antara koneksi politik terhadap penghindaran pajak di Indonesia disaat pemilihan umum diselenggarakan. Peneliti yakin koneksi politik akan bermanfaat dalam mendapatkan lebih banyak informasi tentang peraturan, kebijakan pajak dan berbagai sumber daya dari pemerintah yang menguntungkan perusahaan.
C. Rumusan Masalah
Besarnya potensi dan ketergantungan APBN terhadap pendapatan dari sektor pajak menimbulkan kerancuan dari dua perpektif yaitu antara wajib pajak dengan otoritas. Kebijakan perpajakan yang diterapkan di Indonensia berdasar pendapat para ahli dan peneliti bahwa penghindaran pajak berada di zona abu-abu antara diperbolehkan atau tidak cenderung menjadi perdebatan hingga saat ini. Praktik penghindaran pajak diduga semakin kuat dilakukan oleh perusahaan-perusahaan yang terkoneksi secara politik dengan penguasa yang dalam hal ini legislatif dan pemerintah karena posisinya yang strategis antara bisnis dengan terkoneksinya otoritas secara langsung. Panama Papers dan Paradise Papers menjadi titik acuan data perusahaan yang terindikasi melakukan penghindaran pajak yang diperkuat koneksi politik beberapa kalangan pengusaha kepemerintah dan DPR tingkat pusat maupun daerah.
Sejalan dengan Leuz dan Gee (2006) dan Faccio (2006) tentang koneksi politik, Kim dan Zhang (2016) menghubungkan koneksi politik perusahaan terhadap tindakan penghindaran pajak dengan hasil penelitian kurang lebih sama. Perusahaan yang memiliki koneksi politik akan memiliki akses mudah untuk memperoleh pinjaman modal, mendapat perlindungan dari pemerintah, risiko pemeriksaaan pajak rendah sehingga membuat perusahaan semakin agresif melakukan tax planning yang dampaknya pada keburaman transparansi keuangan. Dengan koneksi politik berbagai macam hak istimewa dapat diperoleh perusahaan bahkan saat krisis keuangan terjadi, perusahaan akan mudah mendapat dana talangan dari pemerintah (bailout). Tahun elektoral merupakan variabel moderasi yang diduga memiliki peran memperkuat atau justru memperlemah hubungan variabel independen dan variabel dependen.
Berdasarkan latar belakang di atas timbullah pertanyaan peneliti apakah perusahaan yang terkoneksi secara politik berpengaruh negatif terhadap penghindaran pajak dan apakah tahun elektoral memperkuat pengaruh negatif koneksi politik terhadap penghindaran pajak?
D. Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk membuktikan secara empiris bahwa perusahaan yang terkoneksi secara politik berpengaruh negatif terhadap penghindaran pajak dan variabel moderasi tahun elektoral memperkuat pengaruh negatif koneksi politik terhadap penghindaran pajak.
E. Manfaat Penelitian
Dengan dilakukannya penelitian pengaruh koneksi politik terhadap penghindaran pajak di Indonesia maka diharapkan bermanfaat untuk:
1. Untuk kalangan praktisi agar dapat memperhatikan pengaruh koneksi politik terhadap penghindaran pajak dengan memaksimalkan kinerja keuangan dan meminimalkan kewajiban pajak tanpa melanggar hukum.
2. Bagi pemerintah agar penelitian ini nantinya dapat menjadi perhatian dan masukan atas kebijakan pajak yang telah disusun.
3. Kalangan akademisi agar penelitian ini menjadi perhatian atas fenomena pengaruh koneksi politik terhadap penghindaran pajak dengan menguji menggunakan proksi dan variabel moderasi lain.
4. Investor memiliki kepentingan dominan atas kebijakan pajak sebuah perusahaan agar nantinya penelitian ini mampu menggambarkan bagaimana relevansi pengelolaan perusahaan guna memanajemen laba terutama perusahaan dengan karakteristik memiliki koneksi politik