6 BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Kajian Teori 1. Peran Politik
Peran atau role adalah sesuatu yang diharapkan dimiliki oleh individu yang mempunyai kedudukan lebih tinggi dalam kehidupan masyarakat. Setiap orang memiliki berbagai macam peranan yang berasal dari pola pergaulan hidupnya. Kesempatan-kesempatan yang diberikan oleh masyarakat menentukan apa yang diperbuat bagi masyarakat. Menurut Soekanto (1982: 33) peran merupakan pola perilaku yang terkait dengan status, apabila seseorang melaksanakan kewajiban sesuai dengan kedudukan maka dianggap telah menjalankan peran. Peranan sangat penting karena peranan itu mengatur perilaku seseorang. Peranan menyebabkan seseorang berada pada batas-batas tertentu. Menurut Levinson dalam Soekanto (1982: 243-244) menyebutkan bahwa peranan mencakup tiga hal:
a. Meliputi norma-norma yang dihubungkan dengan posisi atau tempat seseorang dalam masyarakat.
b. Suatu konsep tentang apa yang dapat dilakukan oleh individu dalam masyarakat sebagai organisasi.
c. Perilaku individu yang penting bagi struktur social masyarakat.
Suhardono dalam Patoni (2007: 40) menjelaskan bahwa peran awalnya dipinjam dari kalangan yang memiliki hubungan erat dengan drama dan teater yang hidup subur pada zaman Yunani Kuno. Dalam hal ini peran berarti karakter yang disandang atau dibawakan oleh seorang actor dalam sebuah pentas dengan lakon tertentu. Adapun beberapa dimensi peran sebagai berikut (Horopoetri dan Santosa, 2003: 33) :
a. Peran sebagai suatu kebijakan, yang berarti peran merupakan suatu kebijaksanaan yang tepat dan baik untuk dilaksanakan.
b. Peran sebagai strategi, peran merupakan strategi untuk mendapatkan dukungan dari masyarakat atau public supports.
c. Peran sebagai alat komunikasi, peran digunakan sebagai alat untuk mendapatkan masukan berupa informasi dalam proses pengambilan keputusan.
d. Peran sebagai alat penyelesaian sengketa, peran digunakan sebagai cara untuk mengurangi atau meredam konflik melalui usaha pencapaian konsesus dari pendapat-pendapat yang ada.
e. Peran sebagai terapi, yang dilakukan sebagai upaya masalah-masalah psikologis masyarakat seperti halnya perasaan ketidakberdayaan, tidak percaya diri dan perasaan bahwa diri mereka bukan komponen penting dalam masyarakat.
Berdasarkan pendapat para ahli, dapat disimpulkan bahwa peran merupakan suatu kedudukan masyarakat dalam menjalankan kewajibannya.
Peranan menunjukkan pada fungsi, penyesuaian diri dan sebagai suatu proses.
Setiap peranan bertujuan supaya antar individu yang melaksanakan peranan terdapat hubungan yang diatur oleh nilai-nilai sosial yang diterima dan ditaati kedua belah pihak.
Definsi politik secara umum menurut Miriam Budiharjo (1999: 8):
Politik adalah bermacam-macam kegiatan dalam satu sistem politik (negara) yang menyangkut proses menentukan tujuan-tujuan dari sistem itu dan melaksanakan tujuan-tujuan itu, untuk mencapai tujuan tersebut diperlukan kebijakan-kebijakan umum publik menyangkut pengetahuan dan pembagian sumber-sumber yang ada.
Menurut Easton dalam Varma (1990: 132-136) teori politik terdiri dari tiga unsur, antara lain:
a. Keterangan tentang fakta-fakta deskriptif.
b. Teori murni atau teori sebab akibat yang berusaha mencari hubungan yang dianggap ada antara fakta-fakta.
c. Teori nilai yang menentukan keterangan-keterangan prefensi yang saling berhubungan.
Kata politik berarti hal-hal yang berhubungan dengan pemerintahan, lembaga-lembaga, dan proses politik, preesure group, tata pemerintahan, dan hubungan-hubungan internasional (Lembaga Pengkajian Kebudayaan
Nasional, 1997: 868). Politik adalah segala sesuatu yang ada relasinya dengan pemerintahan dan pengaturan serta penguasaan oleh negara dengan cara memerintah suatu teritorium tertentu (Kartono, 1989: 5).
Pusat perhatian politik tidak terlepas dari kekuasaan. Kekuasaan merupakan kemampuan seseorang atau suatu kelompok untuk mempengaruhi tingkah laku orang atau kelompok lain sesuai dengan keinginan dari pelaku.
Politik memegang peranan yang sangat penting dalam menjalankan kekuasaan, karena politik meliputi perjuangan memperoleh kekuasaan, teknis menjalankan kekuasaan serta penanganan terhadap masalah-masalah pelaksanaan dan kontrol kekuasaan. Menurut Noer (1965: 56) ilmu politik memusatkan perhatian pada masalah kekuasaan dalam kehidupan bersama atau masyarakat.
Jadi perjuangan kekuasaan ini dilakukan untuk mensejahterakan masyarakat dan mengikuti kepentingan masyarakat luas.
Politik selalu menyangkut tujuan-tujuan dari seluruh masyarakat dan bukan tujuan pribadi seseorang. Memang politik selalu berkaitan dengan kegiatan kelompok seperti partai politik. Peranan masyarakat dalam politik bisa secara individu ataupun disalurkan melalui organisasi politik. Seperti Haji Samanhudi melalui Sarekat Islam, KH. Ahmad Dahlan melalui Muhammadiyah, dan Ki Hajar Dewantara melalui Taman Siswa (Alfian dan Mukmin, 1985: 274-275). Adanya pengaruh dari luar juga membawa dampak yang baik bagi Indonesia, belajar dari politik negara lain membawa semangat juang bangsa Indonesia untuk melawan penindasan yang ada. Tokoh-tokoh dalam perumusan dasar negara seperti Dr. KRT Radjiman Wedyodiningrat, Prof. Mr. Dr. Soepomo, Mr. Muhammad Yamin, Ir. Soekarno dan tokoh lain dalam sidang sudah memegang teguh bahwa dasar negara harus mengandung falsafah Indonesia yang mampu menyatukan semua daerah di Indonesia (Alfian dan Mukmin, 1985: 278). Artinya tokoh-tokoh itu sudah mempunyai paham politik dari dunia yang sudah dipikirkan dengan sangat baik.
Tokoh-tokoh yang mempunyai peran politik pasti akan mempengaruhi kebijakan yang ada. Kebijakan mempunyai arti cara bertindak yang dipilih sesuai dengan permasalahan yang ada atau mengambil keputusan dalam
permasalahan. Kebijakan merupakan kepandaian, kemahiran, kebijaksanaan dalam rangkaian konsep dan asas yang menjadi garis besar serta dasar rencana dalam suatu pelaksanaan suatu pekerjaan dan cara bertindak dalam rangka mencapai sasaran yang tepat (Pusat Bahasa Depdiknas, 2005: 149). Kebijakan adalah prinsip-prinsip yang mengatur tindakan untuk mencapai sasaran yang dituju dari awal (Suharto, 2010: 7). Menurut Budiardjo (2008: 20) kebijakan atau policy merupakan keputusan yang diambil oleh perseorangan atau kesepakatan kelompok untuk memilih dan menemukan cara terhadap tujuan yang telah disepakati. Kebijakan dianggap sebagai pemecahan masalah dalam suatu tujuan yang sudah ada dari awal dan dalam dunia politik kebijakan adalah hal yang pasti ada dan dapat dilakukan maupun tidak dilakukan.
Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa peran politik adalah fungsi seseorang dalam suatu sistem politik yang menyangkut proses menentukan dan melaksanakan tujuan dari sistem politik. Proses menentukan dan melaksanakan tujuan menyangkut perilaku penting yang dilakukan bagi kepentingan orang banyak. Seseorang yang mempunyai peran dalam politik memiliki kebijakan sebagai bentuk respon terhadap sistem politik yang ada dengan menyesuaikan pada lingkungan sosial, ekonomi, dan kebudayaan.
2. Perjuangan tokoh
Perjuangan berasal dari kata juang yang berarti mempertahankan hidupnya, diartikan pula sebagai usaha untuk mencapai suatu maksud, sehingga perjuangan mengandung unsur, usaha dan tujuan. Usaha ini dimaksudkan sebagai cara dan ikhtiar yang digunakan dalam proses untuk mencari yang diinginkanya, sedangkan tujuan merupakan sasaran akhir setiap usaha yang dilaksanakan, baik oleh individu maupun kelompok (Wojowasito, 1972: 285).
Perjuangan dalam arti luas merupakan moral maupun material agar mencapai kehidupan yang lebih baik (Sukarna, 1984: 18). Perjuangan adalah substansi dari suatu kegiatan yang mengandung unsur-unsur seperti keberanian, kepahlawanan, kebenaran, dan keikhlasan (Darmohiharjo, 1983: 12).
Perjuangan terbagi menjadi dua wujud, yaitu perjuangan fisik dan perjuangan non fisik (Weber, 1985: 45). Perjuangan fisik adalah suatu bentuk
usaha, ikhtiar perlawanan untuk mencapai suatu tujuan dengan menggunakan benda, baik berupa senjata maupun benda-benda tumpul, dan senjata api.
Perjuangan non fisik adalah suatu usaha atau ikhtiar dari perlawanan dalam tujuan yang diinginkan tanpa menggunakan benda sebagai senjata. Perjuangan non fisik lebih mengarah pada perjuangan yang diplomasi.
Perjuangan adalah suatu hubungan sosial apabila salah satu pihak secara sengaja berorientasi pada pelaksanaan keinginannya terhadap perlawanan pihak-pihak lain (Weber, 1985: 66). Perjuangan terjadi karena adanya kepentingan yang berbeda antara beberapa pihak dalam kesatuan sosial.
Sukarno (1984: 47) berpendapat bahwa berhasilnya perjuangan fisik maupun non fisik dipengaruhi oleh:
a. Menarik tidaknya tujuan atau cita-cita yang ingin dicapai.
b. Adanya rasa optimis bahwa mampu untuk mencapai tujuan yang dicita- citakannya.
c. Adanya kekuatan yang ada didalam individu maupun dalam kelompok masa.
Keberhasilan perjuangan dipengaruhi oleh faktor intern yang berasal dari diri individu sebagai motivasi untuk melakukan perjuangan, sedangkan faktor ekstern berasal dari luar individu maupun kelompok yang mendukung perjuangan.
Duverger (2003: 287-293) membagi perjuangan menjadi dua bentuk, yaitu perjuangan terbuka dan perjuangan diam-diam. Perjuangan terbuka adanya konflik yang terlihat jelas, sedangkan perjuangan diam-diam dilakukan secara sembunyi dan ditutup-tutupi. Perjuangan terbuka dapat dilihat oleh semua orang, namun tetap ada yang ditutup-tutupi. Perjuangan diam-diam dilakukan di bawah tameng atau sembunyi-sembunyi dan sulit dilihat oleh masyarakat awam.
Perjuangan Ki Bagus Hadikusumo lebih condong ke arah perjuangan yang bersifat diam-diam, karena tujuan-tujuannya disembunyikan di balik tujuan non politik. Perjuangan Ki Bagus Hadikusumo dilatarbelakangi oleh pendidikannya sebagai seorang santri.
Geertz (2017: 5) menyatakan bahwa trikotomi masyarakat di Jawa ada abangan, santri dan priyayi. Tiga tipe masyarakat Jawa tersebut mempengaruhi pemikiran politik. Santri adalah salah satu tipe masyarakat yang penting, karena santri lebih menekankan pada aspek Islam. Santri ini tidak hanya melakukan hal-hal keagamaan saja, santri ikut aktif dalam organisasi sosial, kedermawanan, dan juga politik Islam. Santri memiliki jangkauan yang luas di Jawa, dan menentang kolonial (Emerson, 1976: 22).
Indikator kebudayaan santri menurut Emerson (1976: 81-98) adalah dalam bidang politik, santri lebih terbuka daripada abangan. Ketika santri berperan dalam revolusi dan ikut serta dalam peperangan, abangan hanya menjadi simbol dalam perang tersebut, karena abangan hanya memberikan arahan tanpa ikut didalamnya. Para santri bergabung menjadi barisan hizbullah menjadi tentara perang masyumi untuk melawan penjajah agar Indonesia merdeka. Tidak adanya campur tangan kolonial adalah salah satu poin yang membuat santri lebih unggul daripada abangan yang dikendalikan oleh priyayi dan priyayi diarahkan ke pemerintahan Barat yang mempunyai konotasi negatif (Emerson,
Santri merupakan para penuntut ilmu agama. Pergulatan politik di Indonesia tidak lepas dari gerakan Islam atau yang dikenal dengan sebutan santri. Menurut dunia Barat, Islam tidak pernah mengalami sekularisasi atau sekularisme (Mulkhan, 2009: 232). Sekularisme menempatkan pemisahan pemikiran antara agama dan politik, hal inilah yang dianggap menyimpang dan konspirasi kekuatan anti Islam. Santri diidentikan dengan Islam, sejak dulu Islam dan politik saling berkaitan. Peran politik santri muncul pada masa kolonial Belanda, melalui Muhammadiyah dan Nahdatul Ulama (NU) lahir sebagai gerakan terbesar. Kedua gerakan Islam ini pada awal berdirinya menyatakan bahwa tidak akan ikut campur pada dunia politik, namun nyatanya Muhammadiyah dan Nahdatul Ulama (NU) ini sejak lahir sudah bergelut dengan politik sampai sekarang. Muhammadiyah bukanlah sebuah partai politik, akan tetapi sejak kelahirannya gerakan Islam ini memiliki posisi yang sangat penting dalam dinamika politik Nasional. Keduanya bergabung dengan
Masyumi (Partai Majelis Syuro Muslimin Indonesia) pada tahun 1945. Pada tahun 1951 Nahdatul Ulama menyatakan keluar dari Masyumi. Hal ini memberikan bukti bahwa santri memiliki peran cukup penting dalam dunia perpolitikan. Kaum santri menganggap bahwa dengan terjunnya ke dunia politik merupakan pemenuhan ajaran dan pengabdian pada Tuhan atau sabilillah (Mulkhan, 2009: 233).
Berdasarkan pengertian tentang perjuangan, maka dapat diambil kesimpulan bahwa perjuangan adalah suatu usaha yang dilaksanakan oleh individu atau kelompok dengan didukung oleh berbagai faktor internal maupun faktor eksternal dan Ki Bagus Hadikusumo adalah tokoh yang ikut serta dalam perjuangan dengan didukung latar belakangnya yaitu Santri.
3. Historiografi Sejarah Indonesia Baru
Historiografi merupakan perwujudan dari hal-hal yang sudah terjadi seperti dendam, kebencian, egoism atau kecintaan berlebihan, walaupun sebenarnya sejarah sendiri sebagai peristiwa yang memiliki dimensi beragam dan merupakan kontruksi yang tidak akan pernah selesai serta bersifat subjektif (Purwanto dan Adam, 2013: 15).
Sejarah merupakan rekontruksi masa lalu yang sudah terjadi. Sejarah juga merupakan suatu ilmu yang mempelajari peristiwa dalam kehidupan manusia pada masa lampau. Sejarah dalam pandangan Ali (2005: 12 ) adalah:
a. sejumlah perubahan, kejadian, dan peristiwa-peristiwa dalam kenyataan sekitar kita.
b. cerita tentang perubahan itu.
c. ilmu yang bertugas menyelidiki tentang perubahan.
Sejarah bukan sekedar melahirkan cerita dari suatu kejadian masa lampau tetapi pemahaman masa lampau yang di dalamnya mengandung berbagai dinamika yang berisi problematika pelajaran bagi manusia berikutnya.
Sejarah sebagai cabang ilmu yang mengkaji secara sistematis keseluruhan perkembangan proses perubahan dan dinamika kehidupan masyarakat dengan segala aspek kehidupannya yang terjadi dimasa lampau (Kuntowijoyo, 1995:
18). Berdasarkan berbagai pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa sejarah
adalah ilmu yang mempelajari kejadian-kejadian atau peristiwa pada masa lalu manusia serta merekontruksi apa yang terjadi pada masa lalu.
Sejarah sebagai peristiwa yang dianggap penting dan hanya terjadi sekali, dapat digunakan untuk masa sekarang dan masa depan. Sejarah selalu berkaitan dengan perubahan yang terjadi di sekitar. Dalam penulisan sejarah harus berlandasarkan pada ilmu-ilmu social dan yang paling penting dalam sejarah adalah perkembangan pengetahuan manusia dan peranan bangsanya.
Jika dalam sejarah tidak ada peran manusia dan bangsanya, maka sejarah tidak akan pernah ada. Apa yang ditulis sejarawan sangat mempengaruhi masyarakat, karena sejarawah yang menyaring tradisi suatu negara.
Selama ini ada pendapat bahwa historiografi Indonesia tidak mampu memberikan pencerahan terhadap masyarakat, karena kritik yang dilakukannya tidak bersifat kritis terhadap historiografi lain, dan adanya keterbatasan metodologis yang dialami oleh sejarawan Indonesia. Sejarah harus dilihat sebagai sebuah proses secara holistic (Purwanto dan Adam, 2013: 12). Artinya, sejarah harus diluruskan secara keseluruhan dengan pengetahuan tentang subjektivitas, intersubjektivitas, dan adanya pemihakan selalu menjadi bagian dari historiografi, jadi penulisan harus sesuai dengan fakta yang ada tidak mengingkari realitas yang ada. Historiografi selalu berkaitan dengan kehidupan masyarakat sebagai kesatuan politik, jadi historiografi belum berkembang apabila masyarakatnya belum hidup dalam kesatuan politik (Priyadi, 2015: 20).
Kesatuan politik ini mempengaruhi historiografi karena akan membuat masyarakat melihat masa lampau yang memicu adanya kesadaran terhadap sejarah.
Historiografi sejarah Indonesia baru lebih menekankan pada tokoh- tokoh yang mempunyai peran dalam negara Indonesia ( ). Seorang sejarawan dalam menulis sejarah salah satu tokoh yang penting dalam suatu negara harus bersifat objektif, tidak hanya memandang tokoh tersebut dalam satu sisi. Situasi dan kondisi yang sedang terjadi biasanya mempengaruhi emosional penulis, oleh karena itu subjektivitas sangat tinggi. Masalah politik tidak dapat dihindari dalam sejarah, ketika sejarawan menulis mengenai tokoh yang disukainya maka
akan diagung-agungkan walaupun tokoh yang ditulisnya melakukan salah, akan tetapi akan di jatuhkan jika sejarawan tidak menyukainya. Sejarawan harus meninjau kembali apa yang diyakininya, tidak dapat berlaku semata-mata dan selalu membela tokohnya. Seperti Soekarno yang dianggap sebagai satu- satunya pelopor lahirnya Pancasila (Kasenda, 2014: 37-46). Historiografi sejarah Indonesia ditulis untuk generasi penerus bangsa, sehingga dalam penulisan harus sesuai dengan fakta yang ada dan tidak bersifat subjektivitas.
Penulisannya harus jelas cakupannya, makna dan fungsi dari metode, teori, dan metodologinya. Jadi sejarah tidak sekedar pengkajian tentang perubahan konteks waktu, melainkan sejarah merupakan pengkajian tentang informasi atau pengetahuan yang dihasilkan oleh sejarawan.
B. Penelitian yang Relevan
1. Penelitian yang dilakukkan oleh Qisthi Faradina Ilma Mahanani (2017) yang berjudul Pemikiran Ki Bagoes Hadikoesoemo Tentang Negara dan Islam (1945-1953). Skripsi.
Penelitian tersebut berisi tentang Ki Bagoes Hadikusumo dari kalangan Islam yang berperan dalam penentuan dasar negara. Ki Bagoes Hadikoesoemo mempunyai pemikiran mengenai Islam sebagai dasar negara dikarenakan pemikirannya yang anti kolonialisme dan pemikiran orang Barat menyimpang dari Al-Quran dan Sunah. Ideologi Islam dianggap sempurna untuk membangun Indonesia sehingga pemikirannya dalam Piagam Jakarta mengusulkan tujuh klausal yaitu “Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syariat-syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya” walaupun tidak terealisasikan karena banyak dorongan yang menginginkan Indonesia berdasarkan Pancasila.
Relevansi penelitian tersebut dengan penelitian yang akan dilaksanakan yaitu mengenai pemikiran Ki Bagus Hadikusumo dalam masalah kenegaraan yang identik dengan pemikiran Islam. Perbedaan penelitian tersebut dengan penelitian yang akan dilaksanakan ini adalah pada perannya di dalam sidang Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) dan Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI). Peneliti melihat bahwa
peran Ki Bagus Hadikusumo dalam BPUPKI dan PPKI masih bersifat umum, karena pidato-pidato yang disampaikan oleh Ki Bagus Hadikusumo dalam sidangnya tidak ada. Perbedaan yang lainnya yaitu kurun waktu yang diambil peneliti tahun 1922-1953.
2. Penelitian yang dilakukkan oleh Adha Abdul Malik (2018) yang berjudul Peran Ki Bagus Hadikusumo dalam Perumusan Dasar Negara Republik Indonesia (Kajian pemikiran politik tokoh Muhammadiyah dalam merumuskan dasar negara Indonesia). Skripsi.
Penelitian tersebut berisi tentang peranan dan pemikiran Ki Bagus Hadikusumo dalam merumuskan dasar negara Indonesia. Dasar negara yang ditetapkan pada tanggal 18 Agustus 1945 bukan hanya usulan dari golongan nasionalis kebangsaan saja, akan tetapi ada dari tokoh Muhammadiyah pula yaitu Ki Bagus Hadikusumo. Ki Bagus Hadikusumo menyuarakan pemikirannya mengenai dasar negara Islam. Usulan Ki Bagus Hadikusumo terdiri dari lima kandungan yang dalam setiap usulannya menggunakan ajaran agama Islam. Pemikiran Ki Bagus Hadikusumo mengenai dasar negara Islam dilandasi oleh beberapa hal yaitu agama Islam adalah agama yang mengajarkan persaudaraan yang kokoh, mementingkan ekonomi, mengatur pertahanan negara, membantu membangun pemerintahan yang adil dan menegakan keadilan, tidak bertentangan dengan kebangsaan, serta membentuk potensi kebangsaan lahir batin serta semangat kemerdekaan.
Relevansi penelitian tersebut dengan penelitian yang akan dilaksanakan yaitu mengenai peran dan pemikiran Ki Bagus Hadikusumo dalam perumusan dasar negara. Peran Ki Bagus Hadikusumo dalam perumusan dasar negara menggunakan landasan agama Islam. Perbedaan penelitian tersebut dengan penelitian yang akan dilaksanakan ini adalah tidak adanya biografi Ki Bagus Hadikusumo, serta peran Ki Bagus Hadikusumo dalam Muhammadiyah.
3. Penelitian yang dilakukan oleh Suciyani (2017) yang berjudul Diskursus Tokoh Islam dalam Perumusan Pancasila sebagai Ideologi Negara. Skripsi.
Penelitian tersebut berisi tentang diskursus para tokoh Islam dalam perumusan Pancasila, seperti ide dan konsep serta korelasinya dengan
kekuasaan dan politik saat itu. Keterlibatan tokoh Islam dalam perumusan Pancasila merupakan dampak dari kekuasaan. Diskursus tokoh Islam dalam perumusan Pancasila sebagai Ideologi negara dilandasi dengan nilai-nilai persatuan, kemaslahatan umat Islam dan kemaslahatan seluruh rakyat Indonesia, dan politik mengenai negara berdasarkan Islam adalah hal nomer dua yang diperjuangkan tokoh Islam.
Relevansi penelitian tersebut dengan penelitian yang akan dilaksanakan yaitu mengenai tokoh Islam dalam perumusan Pancasila. Pemikiran-pemikiran tokoh Islam, salah satunya yaitu pemikiran Islam Ki Bagus Hadikusumo serta diskursus Ki Bagus Hadikusumo dalam perumusan dasar negara Indonesia.
4. Penelitian yang dilakukan oleh Muhamad Hisyam (Jurnal Masyarakat dan Budaya Volume 13, Nomor 2, Tahun 2011, 1-27) yang berjudul Ki Bagus Hadikusumo dan Problem Relasi Agama-Negara. Jurnal.
Penelitian tersebut berisi tentang perdebatan antara golongan Islam dan golongan Kebangsaan mengenai agama dan negara. Ki Bagus Hadikusumo adalah salah satu golongan Islam yang terlibat dalam perjuangan melawan golongan Kebangsaan. Ki Bagus Hadikusumo menyalurkan pendapatnya dalam sidang kenegaraan yaitu Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) dan Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI). Ki Bagus Hadikusumo dan pemimpin Islam lainnya menginginkan Islam masuk dalam negara dengan demokrasi. Aspirasi memasukan Islam ke dalam negara Indonesia dengan cara demokrasi gagal, akan tetapi berhasil dalam mendorong negara Indonesia tidak menjadi negara sekuler.
Relevansi penelitian tersebut dengan penelitian yang akan dilaksanakan yaitu mengenai konsep agama dan negara bagi Ki Bagus Hadikusumo. Ki Bagus Hadikusumo dalam sidang-sidang BPUPKI dan PPKI menyampaikan pendapatnya yang mewakili golongan Islam. Perbedaan penelitian tersebut dengan penelitian yang akan dilaksanakan ini adalah pembahasan mengenai BPUPKI dan PPKI masih bersifat umum, serta tidak adanya latarbelakang Ki
Bagus Hadikusumo dalam Muhammadiyah yang mempengaruhi pemikiran nasionalis Islamnya.
5. Penelitian yang dilakukan oleh Mujar Ibnu Syarif (Jurnal Cita Hukum Volume 4, Nomor 1, Tahun 2016, 15-32) yang berjudul Spirit Piagam Jakarta dalam Undang-Undang Dasar 1945. Jurnal.
Penelitian tersebut berisi tentang sidang BPUPKI yang terbagi menjadi dua golongan yaitu golongan Islam dan golongan Nasionalis. Sidang BPUPKI menghasilkan Piagam Jakarta yang kemudian dijadikan pembukaan UUD 1945.
Piagam Jakarta dalam alinea keempat berisi “Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya” yang kemudia dalam pembukaan UUD 1945 diganti menjadi “Ketuhanan Yang Maha Esa”.
Golongan Islam dan golongan Nasionalis saling kompromi, sehingga keinginan golongan Nasionalis yang semula menginginkan Indonesia merdeka berdasarkan Pancasila dan golongan Islam yang menghendaki negara Indonesia berdasarkan Islam terakomodasi.
Relevansi penelitian tersebut dengan penelitian yang akan dilaksanakan yaitu mengenai klausal tujuh kata yang diperdebatkan dalam sidang BPUPKI oleh golongan Islam dengan golongan Nasionalis. . Perbedaan penelitian tersebut dengan penelitian yang akan dilaksanakan ini adalah tidak membahas Piagam Jakarta pasca lahirnya Dekrit Presiden 5 Juli 1959.
6. Penelitian yang dilakukan oleh Tutin Aryanti (Jurnal Procedia-Social and Behavioral Sciences Volume 184, Tahun 2015, 126-134) yang berjudul Branding the Islamic Village: Modesty and Identity in Yogyakarta Kauman Village, Indonesia. Jurnal.
Penelitian tersebut berisi tentang desa Kauman Yogyakarta yang mempertahankan dirinya sebagai desa Islam. Kauman Yogyakarta menjadi sejarah karena gerakan Islam pertama di Indonesia lahir, yaitu Muhammadiyah pada tahun 1912, serta gerakan wanita ‘Aisyiyah pada tahun 1922. Penelitian ini menekankan pada ideologi gender Islam dalam mempertahankan branding Kauman sebagai desa Islam, dan bagaimana wanita dilibatkan sebagai anggota organisasi Islam.
Relevansi penelitian tersebut dengan penelitian yang akan dilaksanakan yaitu mengenai Muhammadiyah yang dilahirkan di desa Kauman Yogyakarta, serta perkembangan Muhammadiyah di Kauman Yogyakarta.
7. Peneltian yang dilakukan oleh Maman A. Majid Binfas, Somariah Fitriani, dan Sintha Wahjusaputri (Jurnal Islamic Science Development Volume 13, Nomor 1, Tahun 2018, 174-193) yang berjudul Muhammadiyah-Nahdlatul Ulama (NU): Monumental Cultural Creativity Heritage Of The World Religion. Jurnal.
Penelitian tersebut berisi tentang Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama (NU) yang merupakan organisasi sosial keagamaan dan sudah dikenal.
Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama dianggap sebagai gerakan sosial keagamaan, namun keduanya memiliki kreativitas masing-masing yang bersifat al-thaqafat dalam gerakan yang dilakukannya. Al-thaqafat menjadi elemen bagian daripada hasil budidaya yang dipahami sebagai pola kebiasaan yang menjadi kreativitas manusia, termasuk membentuk suatu organisasi keagamaan. Muhammadiyah adalah hasil dari sebuah al-thaqafat kreativitas keagamaan yang diciptakan oleh para pendirinya dan diupayakan menjadi warisan monumental dunia.
Relevansi penelitian tersebut dengan penelitian yang akan dilaksanakan yaitu mengenai Muhammadiyah secara khusus, karena dalam penelitian ini membahas tentang lahirnya Muhammadiyah dan perkembangannya. Perbedaan penelitian tersebut dengan penelitian yang akan dilaksanakan ini adalah penelitian menitikberatkan pada Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama, sementara penelitian yang akan dilaksanakan membahas Muhammadiyah dan peran Ki Bagus Hadikusumo di dalamnya.
C. Kerangka Berfikir
Kerangka berfikir dalam penelitian ini dapat digambarkan sebagai berikut:
Bagan 2.1 kerangka berfikir Keterangan:
Pergerakan nasional merupakan salah satu momentum bersejarah bagi bangsa Indonesia. Pergerakan nasional diawali dengan organisasi-organisasi modern yang membawa perubahan bagi Indonesia. Organisasi-organisasi pada masa pergerakan nasional memunculkan banyak tokoh yang ikut serta dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia, salah satunya yaitu Ki Bagus Hadikusumo yang berasal dari Muhammadiyah. Ki Bagus Hadikusumo adalah
Situasi politik Indonesia tahun
1908-1953
Perjuangan tokoh
Ki Bagus Hadikusumo
Perjuangan Muhammadiyah
Perjuangan Politik
Pendidikan Latarbelakang
keluarga
Sejarah Indonesia Baru
seorang nasionalis Islam. Perjuangan Ki Bagus Hadikusumo dalam pergerakan nasional hingga akhir hayatnya dipengaruhi oleh latar belakang keluarganya dan pendidikan pesantren, sehingga Ki Bagus Hadikusumo dalam perjuangan politiknya mengikuti pemikiran santri. Perjuangannya dalam Muhamamdiyah dan politik dapat dikaitkan dengan mata kuliah Sejarah Indonesia Baru.