1 BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
China saat ini masuk kedalam salah satu negara besar didunia bersaing dengan Jepang dan Amerika Serikat. Sebelum terbentuk dan terkenal dengan nama Republik Rakyat Tiongkok (RRT), China hanya mengelola sektor minyak dan gas miliknya sendiri untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri dan tidak terlalu aktif bekerjasama dengan pihak asing. Pada tahun 1949 China tidak memiliki sumber daya minyak yang memadai.1 Sebelum menjadi negara importir energi terbesar, China sempat mengalami krisis energi pada tahun 1987.2 Pada tahun tersebut, China mengalami stagnansi pada pasokan energinya, laju produksi batu bara tidak mampu mengikuti kecepatan laju ekonomi China, sehingga memberikan dampak yang cukup parah pada industri di kota-kota besar. Hal ini juga berdampak pada pasokan listrik. Kemudian dengan adanya pertumbuhan pada kendaraan menyebabkan China mengalami kelangkaan minyak. Dengan demikian, China berada pada situasi dimana tidak dapat meningkatkan pasokan energi, atau secara substansial mengurangi intensitas penggunaan energi akan memiliki konsekuensi ekonomi yang merugikan bagi bangsa.3
Kemudian pemerintah China mulai bersifat terbuka dengan melakukan kerjasama dengan pihak asing dan membuka diri terhadap modal asing yang ingin berinvestasi dalam sektor energi. Perubahan sifat tersebut tidak lepas dari kebijakan yang di usung oleh Deng Xiaoping pada masa pemerintahannya. Kebijakan yang di usung bernama Gaige kaifang berarti reformasi dan keterbukaan.4 Dibawah
1 Primadiana Yunita, Pemilihan Kazakhstan Sebagai Mitra Kerjasama China Dalam Sektor Energi Minyak Tahun 2003-2010, Jurnal Ilmiah Transformasi, vol, 2, no, 2,hlm, 101.
2 Mark D. Levine, dkk, 1992, China’s Energy System: Historical Evolution, Current Issues, and Prospects, Annu. Rev. Energy Envirom, vol, 17, hlm, 420.
3 Ibid.,
4 Damelis Pratiwi.S, 2014, Perbandingan Gaya Kepemimpinan Deng Xiaoping dengan Xi Jinping Dalam Membentuk Format Ekonomi dan Politik di China, Skripsi: Universitas Sumatera Utara, hlm, 65.
2
kepemimpinan Deng Xiaoping, China mulai membuka diri terhadap pihak asing, kebijakan Deng Xiaoping membawa efek jangka panjang peningkatan pertumbuhan ekonomi negara. Akibat dari pertumbuhan ekonomi dan perkembangan industrialisasinya yang sedang berkembang pesat dan disebut sebagai revolusi industri kedua bagi China, membuat China membutuhkan energi yang lebih besar dari sebelumnya, karena terdapat peningkatan permintaan atas konsumsi energi dari kota-kota industri dan komersial. Sehingga China membutuhkan pasokan minyak dari negara lain. Isu energi menjadi salah satu faktor dalam kebijakan Zhoubian Zhengce pada pertengahan 1990-an karena defisit energi yang tak terkendali mulai mengganggu upaya China untuk mempertahankan pertumbuhan ekonomi.
Pada mulanya China memasok pasokan energi dari negara-negara di Timur Tengah sama seperti negara-negara lainnya. China telah berdiplomasi dalam bidang energi ke kawasan Timur Tengah yang meroket sejak tahun 1990-an. Diplomasi energi utama yang mereka lakukan adalah diversifikasi pemasok energi dan jalur impor. hubungan Tiongkok-Saudi dikatakan bahwa hubungan diplomatik antara keduanya resmi terbentuk pada Juli 1990. Perjanjian perdagangan dan investasi telah meningkat sebagian besar sejak 1999 ketika Jiang Zemin mengumumkan kemitraan strategis antara China dan Arab Saudi. Pada tahun 2005 Arab Saudi menjadi sumber minyak terbesar China untuk pertama kalinya. Menurut mantan duta besar China untuk Arab Saudi, Song Wei, hubungan antara China dan Arab Saudi berfokus pada kerjasama energi. Kemudian untuk memenuhi permintaan minyaknya yang terus meningkat, China secara aktif mencari pasokan energi baru jangka panjang dan berusaha memperluas hubungannya dengan negara-negara penghasil minyak dan gas utama di Timur Tengah dan Afrika Utara.5 Dengan sumber energi gabungan minyak dan gas terbesar kedua setelah Arab Saudi, Iran muncul sebagai salah satu pemasok energi utama ke China. dalam hal ini, China berpartisispasi dalam eksplorasi usaha patungan dan pengembangan ladang minyak
5 Mahdi Salami Zavareh; Mehrdad Fallahi Barzoki, 2007, China’s Energy Security: I.R. Iran and Saudi Arabia’s Role in China’s Energy Diplomacy, Iran. Econ. Rev., vol, 22, no, 3, hlm, 713.
3
dan gas baru di Iran dengan tujuan China dapat mengunci pasar energi Iran. Namun kawasan Timur Tengah dirasa kurang kondusif bagi China. China merasa bahwa penyaluran minyak impor dari Timur Tengah yang melewati selat malaka dinilai tidak aman. Seperti yang dikatakan oleh Presiden China, Presiden Hu Jintao yang menyatakan bahwa sebanyak 80% minyak China melewati selat malaka, tetapi terdapat banyak pihak yang berusaha menguasai dan mengendalikan selat tersebut.6
China melakukan diversifikasi suplai energi agar tidak terlalu bergantung pada kawasan Timur Tengah karena ketidakstabilan kawasan tersebut.7 Untuk memenuhi pasokan energi yang sebelumnya didominasi dari Timur Tengah, China kemudian mulai melirik kawasan Asia Tengah. China memilih Asia Tengah sebagai importir dalam bidang energi karena lokasinya yang berbatasan langsung dengan China.8 Asia Tengah merupakan kawasan baru dengan sumber energi minyak yang melimpah. Kawasan ini memiliki daya tarik tersendiri bagi para negara di dunia.
Pada abad ke 19 Asia Tengah telah menjadi rebutan bagi para negara-negara besar yang menyadari besarnya potensi alam yang di miliki kawasan tersebut, hal ini juga dipengaruhi oleh letak Asia Tengah yang strategis karena berbatasan langsung dengan Rusia, Tiongkok, dan dekat dengan wilayah Asia Selatan, Timur Tengah, dan Eropa. Kawasan ini memiliki sumber daya energi yang luas seperti minyak dan gas khususnya di wilayah Kazakhstan, Turkmenistan, dan sedikit di Uzbekistan.
Runtuhnya Uni soviet memberikan kesempatan bagi kawasan ini untuk dapat membuka diri dengan memberikan izin masuk bagi para perusahaan internasional.9 Hal ini bertepatan dengan kebijakan China yang sudah mulai mengurangi ketergantungan Impor minyak dari kawasan Timur Tengah.
Untuk memasuki negara-negara Asia Tengah, China memberikan dukungan politik kepada Asia Tengah. China juga membentuk Shanghai Cooperation
6 Didang Alexander, 2018, Upaya Tiongkok Dalam Memenuhi Kebutuhan Energi, Jurnal Analisis Hubungan Internasional, vol, 7, no, 1,hlm, 22-23.
7 Meita Fitriani, 2012, Persaingan Amerika Serikat dan China di Asia Tengah: Perspektif Keamanan Energi (1997-2007), Tesis: Universitas Indonesia, hlm, 118.
8 Ibid.,
9 Nofita Andes Nurdiana, 2019, Peran Politik dan Keamanan Rusia di Kawasan Asia Tengah, Jurnal Ilmu Hubungan Internasional, vol, 7, no, 1, hlm, 158.
4
Organization, yang merupakan organisasi untuk mengatasi masalah pengelolaan perbatasan bagi para anggotanya yang terdiri dari Asia Tengah, China, dan Rusia, menjadi organisasi pertama bagi para negara di kawasan Asia Tengah pasca runtuhnya Uni Soviet. Tujuan utama dari organisasi ini adalah untuk memerangi terorisme, ekstrimisme, dan separatisme. Dengan demikian, tuntutan utama China ditetapkan sebagai dasar untuk kerjasama antara negara-negara di kawasan itu, dan pada saat yang sama sebuah platform diciptakan untuk pengembangan kerjasama politik, keamanan, dan berpotensi pada kerjasama ekonomi.10 Seiring berjalannya waktu, SCO telah menjadi platform terpenting untuk dialog kerjasama dan rivalitas antara Rusia dan China mengenai isu-isu Asia Tengah.
Agar kerjasama antara China dengan negara-negara Asia Tengah dapat berjalan dengan baik, China dan negara-negara Asia Tengah kemudian membentuk hubungan kerjasama yang didasarkan pada Bilateral Investment Treaty. Dalam BIT yang dibentuk oleh China dan negara-negara Asia Tengah tersebut menjelaskan terkait perjanjian penanaman modal investasi dengan dasar kesetaraan dan saling menguntungkan untuk merangsang inisiatif bisnis para investor dan akan meningkatkan kemakmuran ekonomi dikedua negara.11
Asia Tengah merupakan bagian penting dari diplomasi energi China saat ini. Hal ini disebabkan oleh kedekatan kedua kawasan, dimana Asia Tengah berbatasan langsung dengan bagian barat China. Dengan kedekatan ini, China menganggap bahwa pasokan dari kawasan Asia Tengah dapat menggunakan jaringan pipa, sehingga mampu mengurangi ketergantungan China pada rute yang rawan akan gangguan. China memulai kerjasamanya dengan negara-negara di Asia Tengah sejak tahun 1997.12 Dimana pada tahun tersebut China dengan Kazakhstan melakukan penandatanganan perjanjian pembelian saham. Kemudian kerjasama antara China dengan negara-negara di kawasan Asia Tengah mulai berkembang
10 Aleksandra Jarosiewicz; Krzysztof Strachota, 2013, China Vs. Central Asia The Achievements of the Past Two Decades, Poland: Osrodek Studiow Wschodnich im. Marka Karpia, hlm, 14.
11 Agrement Between the Government of the Peoples Repiblic of China adn the Government of the Republic of Uzbekistan on the Promotion and Protection of Investment
12 Primadiana Yunita, op. cit, hlm, 105
5
pesat sejak tahun 2009, karena pada tahun tersebut beberapa proyek infrastruktur pipa energi Central Asia-China Gas Pipeline (CACGP) mulai beroperasi, sehingga pasokan yang dikirim dari negara-negara di Asia Tengah khususnya Turkmenistan, Uzbekistan, dan Kazakhstan mengalami peningkatan yang cukup stabil. Kerjasama tersebut berjalan hingga saat ini. kerjasama yang terjalin diatas tahun 2013 hingga saat ini berada dibawah naungan New Silk Road Economic Belt yang merupakan perluasan kerjasama pembangunan pipa energi dari negara-negara Asia Tengah ke China.
China juga melakukan pembangunan cadangan minyak dan melakukan investasi oleh dua perusahaan energi terbesar milik China yaitu China National Offshore Oil Corporation (CNOOC) dan China National Petroleum Company (CNPC). Dua perusahaan tersebut telah masuk ke beberapa negara di kawasan Asia Tengah. China juga mengusung pembangunan New Silk Road dan telah bekerja sama dengan negara di Asia Tengah seperti Turkmenistan, Uzbekistan, dan Kazakhstan.13 Kerjasama ini nantinya akan dilakukan dengan penambahan pembangunan dan stabilitas operasi dari jalur pipa minyak dan gas di jalur China- Central Asia.
Berdasarkan penjabaran diatas penelitian ini akan membahas berbagai upaya negara China dalam memenuhi kebutuhan energi melalui pengeksplorasian di kawasan Asia Tengah. Penelitian ini nantinya akan menjabarkan berbagai upaya yang dilakukan China untuk memenuhi kebutuhan energinya dengan tujuan mengeksplorasi kawasan Asia Tengah. dimana didalamnya akan menerangkan secara rinci mulai dari awal proses pendekatan China ke negara-negara di kawasan Asia Tengah, kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah China terkait energi, hubungan kerjasama yang dibangun oleh China dengan negara-negara di kawasan Asia Tengah, hingga perluasan kerjasama China dengan negara di kawasan Asia Tengah khususnya dalam bidang energi dalam kebijakan besar yang dikeluarkan oleh Presiden Xi Jinping.
13 Ibid.,
6 1.2 Rumusan Masalah
Melalui penjelasan yang telah dijabarkan pada bagian latar belakang, diketahui bahwa China sedang melakukan pemenuhan kebutuhan energinya di negara-negara Asia Tengah. untuk mewujudkan hal tersebut, China melakukan berbagai upaya dimana tahap awalnya ialah melakukan pendekatan dengan membentuk berbagai kerjasama-kerjasama bilateral. Melihat dari berbagai kebijakan dan cara China dalam memenuhi kebutuhan energinya dari negara-negara Asia Tengah maka rumusan masalah dari penelitian ini adalah “Bagaimana upaya China dalam memenuhi kebutuhan energinya di negara-negara Asia Tengah?”
1.3 Tujuan dan Manfaat Penelitian 1.3.1 Tujuan Penelitian
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk melihat upaya yang dilakukan China dalam pemenuhan energi nya di negara-negara Asia Tengah sehingga mampu melakukan berbagai kerjasama bilateral yang dibentuk oleh China dan beberapa negara kawasan Asia Tengah terkait energi.
1.3.2 Manfaat Penelitian
Dengan adanya penelitian ini diharapkan mampu memberikan pengetahuan serta kajian dalam Hubungan Internasional dengan fokus penelitian untuk meneliti upaya China dalam pemenuhan kebutuhan energinya di negara-negara Asia Tengah. dimana nantinya dalam penelitian ini akan memberikan pengetahuan terkait upaya-upaya China berupa pendekatan, kebijakan, serta kerjasama-kerjasama yang dilakukan china dengan negara-negara di kawasan Asia Tengah demi memenuhi kebutuhan energinya. Penelitian ini diharapkan mampu menambah wacana dan wawasan pembaca tentang konsep keamanan energi dan diplomasi energi yang digunakan untuk menjabarkan penjelesan penelitian ini.
7 1.4 Penelitian Terdahulu
Penelitian pertama adalah jurnal dari Nofita Andes Nurdiana yang berjudul Peran Politik dan Keamanan Rusia di Kawasan Asia Tengah. Jurnal ini membahas tentang kepentingan yang dimiliki Rusia di Asia Tengah, dimana Rusia ingin mempertahankan posisinya dan memperluas pengaruhnya di kawasan tersebut agar dapat mengontrol politik di kawasan Asia Tengah. Rusia membutuhkan kawasan Asia Tengah agar dapat berperan aktif untuk menciptakan keteraturan dan keamanan di kawasan dengan melakukan kerjasama dalam bidang politik, ekonomi dan keamanan dengan neara-negara anggota. Rusia memiliki kedekatan secara geografis dengan Asia tengah, sehingga apabila kawasan Asia Tengah mengalami ketidakstabilan maka akan mengancam kepentingan nasional Rusia. Ada kepentingan yang ingin dicapai oleh Rusia di kawasan Asia Tengah yaitu kepentingan sumber daya alam, politik, ekonomi, dan keamanan. Hal inilah yang kemudian menyebabkan Rusia memiliki peran aktif di kawasan tersebut.
Untuk memenuhi berbagai kepentingannya, Rusia kemudian membentuk berbagai organisasi regional diantaranya CIS. CIS merupakan organisasi yang dibentuk untuk menstabilkan keadaan ekonomi dan politik dengan membentuk kerjasama bilateral maupun multilateral. Kesepakatan CIS kemudian dimanfaatkan Rusia untuk mempengaruhi negara-negara Asia Tengah dalam mewujudkan integrasi Eurasia.14
Rusia juga membentuk kerjasama dalam bidang ekonomi yaitu The Eurasian Economic Union (EAEU), dengan organisasi ini membuat Rusia berperan aktif dalam membantu perekonomian negara-negara di kawasan tersebut.15 Rusia berusaha untuk menstabilkan keadaan ekonomi kawasan tersebut dengan cara memberikan bantuan, melakukan investasi dalam pembangunan infrastruktur dan mengajak para anggotanya untuk membahas berbagai masalah yang dihadapi dalam berbagai pertemuan bilateral maupun multilateral. Negara-negara di kawasan Asia Tengah masih termasuk dalam kategori negara berkembang. Negara-negara tersebut masih sangat bergantung pada Rusia dalam berbagai bidang baik politik,
14 Nofita Andes Nurdiana, 2019, op. cit, hlm, 159.
15 Ibid.
8
ekonomi, dan keamanan. Rusia masuk ke wilayah ini untuk menjaga kawasan agar tetap stabil dari berbagai masalah baik dari dalam maupun dari luar kawasan.
Penelitian ini memiliki kesamaan dengan penelitian yang dilakukan penulis, yaitu sama-sama membahas tentang kebutuhan negara lain di kawasan Asia Tengah.
Jurnal ini berbeda dengan penelitian yang dilakukan penulis karena, dalam jurnal ini yang memiliki peran dalam Asia Tengah adalah Rusia, dimana Rusia untuk membangun kepentingannya ia membentuk organisas regional seperti CIS dan EAEU, sedangkan penelitian yang dilakukan penulis adalah melihat peran China dalam memenuhi kebutuhan energi negaranya di negara-negara Asia Tengah dengan organisasi regional yang dibentuk adalah SCO dan kerjasama New Silk Road.
Penelitian kedua adalah jurnal dari Primadiana Yunita dengan judul Pemilihan Kazakhstan Sebagai Mitra Kerjasama China Dalam Sektor Energi Minyak Tahun 2003-2010. Dalam jurnal ini membahas tentang kerjasama yang dilakukan oleh China dan Kazakhstan dalam sektor energi. Dijelaskan bahwa China memilih Kazakhstan sebagai mitra kerjasama telah didasarkan pada pertimbangan untung rugi atas alternatif yang tersedia dalam kebijakan-kebijakan yang telah dibuat. China dan Kazakhstan secara geografis memiliki kedekatan dan merupakan negara tetangga. China memiliki kedekatan dengan Asia Tengah karena beberapa faktor seperti letak geografis, ekonomi, politik, dan keamanan.16 Kazakhstan menerima bekerjasama dengan China karena bagi negara nya maupun bagi negara- negara lain di kawasan Asia Tengah, China merupakan negara dengan potensi pasar yang besar. Dan negara-negara di kawasan Asia Tengah bagi China adalah penghubung komunikasi darat ke Eropa dan Asia Barat.
China memilih Kazakhstan, karena Kazakstan dianggap sebagai pilihan terbaik bagi China untuk dapat mengurangi ketergantungan terhadap satu wilayah tertentu dan untuk menghindari adanya eksplorasi di Laut China Selatan yang memiliki masalah sengketa demi menjaga kestabilan di kawasan tersebut yang nantinya dikhawatirkan justru akan mengganggu arus lalu lintas internasional.
16 Primadiana Yunita, op. cit, hlm, 111.
9
karena memiliki kedekatan geografis yang kemudian memungkinkan untuk menjalin kerjasama secara intensif membuat Kazakhstan memiliki potensi ekonomi yang cukup tinggi bagi China, ditambah lagi Kazakhstan memiliki sumber daya alam yang melimpah dan pangsa pasar yang besar, salah satunya adalah sumber daya migas yang dimiliki Kazakhstan diperkirakan dapat menghasilkan produksi sebanyak 4 juta barel minyak per harinya.17 Apabila dilihat dari segi ekonomi, China dan Kazakhstan menjalin kerjasama yang saling menguntungkan. Bagi China, Kazakhstan menarik karena memiliki berbagai sumber daya seperti migas atau logam, dan komoditas lainnya yang sangat penting bagi China. Kemudian, Kazakhstan merasa bahwa industri China, konsumen dan produk-produk pertanian serta pasar menjadi daya tarik bagi Kazakhstan untuk membentuk kerjasama dengan China. Kemudian yang menjadi pembeda antara penelitian ini dengan penelitian yang dilakukan penulis adalah, penulis berfokus pada kerjasama dalam bidang energi yang dilakukan oleh China dan negara-negara di kawasan Asia Tengah, tidak hanya berfokus pada satu negara saja melainkan beberapa negara yang ada di Asia Tengah.
Penelitian ketiga adalah jurnal dari Ayu Suhartini, Dian Permata Pratiwi, Jorshy Amanda Sudarno, Shybill Natalia de Queljoe, dan Syahrir Roni Geyashra dengan judul Eksistensi Jepang dan Tiongkok dalam Geopolitik Energi di Asia Tengah. Jurnal ini berisi tentang persaingan antara Jepang dan Tiongkok dalam memenuhi kepentingannya di kawasan Asia Tengah. Jepang dan Asia Tengah memiliki kedekatan yang terbilang sudah cukup lama, dan kehaarmonisan keduanya dapat dilihat melalui tiga fase. Fase pertama, dilihat pada pasca Perang Dunia II, dimana pada saat itu sejumlah tawanan perang Jepang di bawa ke beberapa negara negara di Asia Tengah seperti Uzbekistan dan Kazakhstan, yang kemudian para tawanan tersebut terlibat dalam proses rekontruksi. Fase kedua, terjadi pada tahun 1997, Jepang membangun hubungan diplomatik dengan negara- negara di kawasan Asia Tengah, kemudian kebijakan-kebijakan yang dibentuk didukung dengan memberikan bantuan dana melalui sitem Official Development
17 Ibid., hlm, 113.
10
Assistance (ODA). Fase ketiga adalah lanjutan dari deklarasi Jepang pada tahun 2004 mengenai pengajuan keseriusan langkah-langkah diplomatik untuk Asia Tengah, dalam fase ini terdapat tiga tingkatan interaksi yang dilakukan oleh Jepang terhadap Asia Tengah yaitu: hubungan diplomatik maupun politik; perdagangan dan investasi; serta beberapa bantuan.18
Dalam memenuhi kepentingannya di kawasan Asia Tengah Jepang juga memiliki pesaing diantaranya adalah Tiongkok. Karena Tiongkok juga mengambil andil dalam kawasan Asia tengah, meskipun kepentingan Tiongkok lebih besar ke arah keamanan, tetapi tetap tidak dipungkiri bahwa sumber energi juga menjadi tujuan utamanya. Kedua negara ini bersaing secara langsung melalui ide kerjasama serta saling unjuk untuk menunjukkan langkah kerjasama mana yang terbaik.
Dalam perang ide tersebut kemudian Jepang mengemukakan ide kerjasama bernama Arc Central Freedom and Prosperity Initiative (AFPI). AFPI di harapkan Jepang dapat meningkatkan kerjasama nya dengan Asia Tengah dan dapat menandingi ide Tiongkok yaitu inisiatif One Belt One Road (OBOR). AFPI dibentuk untuk membimbing kebijakan Tokyo menuju Asia Tengah, Asia Tenggara, Timur, Tengah, Eropa Tengah, ASEAN, dan kawasan Eurasia. Tetapi, nyatanya OBOR milik Tiongkok lebih berhasil dalam membangun kerjasama jangka panjang dengan negara mitra di Asia Tengah, Timur Tengah, Afrika, Eropa, dan Amerika Latin. Tiongkok memberikan negara-negara mitra tersebut miliaran dolar dalam investasi langsung di berbagai sektor diantaranya minyak, gas, konstruksi, industrialisasi, telekomunikasi dan konektivitas, perbankan, transportasi, kereta api, industri teknologi tinggi, transfer teknologi, serta barang dan jasa konsumen.19 Dengan begitu Tiongkok dan investasi besar-besarannya sungguh tidak tertandingi. Hasil penelitian ini berfokus pada kepentingan dan kerjasama Jepang di kawasan Asia Tengah, hal inilah yang menjadi pembeda antara penelitian ini dengan penelitian yang dilakukan penulis, karena penulis berfokus pada kerjasama energi yang dilakukan China di negara-negara Asia Tengah.
18 Ayu Suhartini; dkk, op. cit, hlm, 123.
19 Ibid., hlm, 124.
11
Penelitian keempat adalah jurnal dari Ajeng Puspita Ayu yang berjudul Strategi China Dalam Mengamankan Suplai Energi di Kawasan Afrika Tahun 2000-2010.20 Fokus penelitian pada jurnal ini adalah ekspansi China terhadap Kawasan Afrika untuk memenuhi suplai energi China. Dikatakan bahwa China telah memulai melakukan ekspansi ke berbagai negara-negara penghasil minyak untuk dijadikan sebagai pemasok untuk kebutuhan minyak China. Pada awalnya China memasok minyak dari wilayah Timur Tengah, namun karena terdapat ketidak konsistenan dalam kondisi politik Timur Tengah, maka China merubah kebijakannya. Kebijakan baru tersebut berupa tindakan divesifikasi impor energi dari wilayah lain seperti dari Asia dan Afrika. Dalam kasus ini, China melakukan diversifikasi utamanya ke wilayah Afrika dengan mengimpor minyak bumi dari negara-negara yang memiliki sumber daya energi besar seperti Sudan, Anola, Nigeria, dan Gabon. Cara yang dilakukan oleh China untuk melakukan diversifikasi dan mempertahankan Afrika sebagai pemasok energinya yaitu dengan memberikan bantuan mulai dari pinjaman bebas bunga, bantuan kemanusiaan darurat, proyek penuh, bantuan pembangunan berbagai infrastruktur, pembebasan hutang, melakukan pembentukan Dana Pembangunan China-Afrika (CADF), Forum Kerjasama Afrika-China (FOCAC), dan Bank Ekspr-Impor China (China Exim Bank). China juga melakukan pendekatan dengan memberikan investasi asing langsung (foreign direct investment/FDI). Investasi dilakukan oleh perusahaan- perusahaan China dalam bentuk FDI akuisisi dan join venture ke berbagai perusahaan milik Afrika khususnya di negara-negara yang memiliki sumber daya energi melimpah.
Melalui CADF, China memberikan bantuan sebesar US$ 5 miliar untuk membantu bisnis yang akan melakukan investai di Afrika. Kemudian, selama tahun 2003 hingga 2004 China meningkatkan FDI sebesar 327% sehingga saat ini terdapat lebih dari 900 perusahaan China yang beroperasi di benua Afrika. FDI terus mengalami peningkatan hingga tahun 2005 sebanyak empat kali lipat. Pada tahun 2010, FDI China telah mencapai 68,81 milyar dolar. FDI juga dilakukan
20 Ajeng Pusita Ayu, 2019, Strategi China Dalam Mengamankan Suplai Energi di Kawasan Afrika Tahun 2000-2010, Global & Policy, vol 7, no 1.
12
dalam bentuk join venture, China yang diwakili oleh perusahaan minyak nasionalnya (NOC) membentuk joint venture dengan berbagai perusahaan nasional Afrika, hal ini terbukti dari joint venture yang terlah dibentuk oleh perusahaan- perusahaan China seperti Korporasi Minyak Bumi Nasioanl China (CNPC), Korporasi Minyak Lepas Pantai Nasional China (CNOOC) dan Sinopec dengan Sudapet (Sudan), Sonangol (Angola, Sonatrach (Aljazair), dan Nigerian National Petroleum Corporation (Nigeria). Dalam kerjasama ini, China memberikan pinjaman modal, dan memegang kontrol terhadap perusahaan-perusahaan nasional untuk mengeksplolari keunggulan kompetitif China dengan membuka pasar di luar negeri untuk mengunci pasokan energi China. Pinjaman yang diberikan oleh China, akan dikembalikan oleh Afrika dalam bentuk produk energi yang diakses oleh perusahaan energi minyak China dengan harga yang telah ditentukan. Ketika China mengeluarkan dana untuk membantu pembangunan infrastruktur Afrika, maka pihak Afrika akan memberikan ijin kepada China untuk memulai produksi energi, yang nantinya hasil pengolahan tersebut akan dijual kepada China melalui kontrak pembelian jangka panjang dengan harga yang telah ditetapkan. Dalam jurnal ini dikatakan bahwa strategi yang dilakukan oleh China dalam pengamanan energinya di Afrika terbilang berhasil, karena China berhasil merealisasikan kepentigan nasionalnya akan kebutuhan pasokan energi dengan menggunakan kebijakan luar negeri berupa pencarian energi di pasar internasional dan mempertahankan pasokan-pasokan enrgi tersebut demi menjamin ketersediaan keamanan energi nasionalnya. Yang menjadi pembeda penulisan jurnal ini dengan penelitian yang dilakukan penulis sudah sangat jelas terletak pada kawasan yang menjadi fokus penelitian. Dalam jurnal ini peneliti fokus kepada upaya China dalam memenuhi kebutuhan energi di Kawasan Afrika, dan fokus penelitian penulis adalah upaya China dalam pemenuhan kebutuhan energi di negara-negara Asia Tengah.
Penelitian kelima adalah jurnal dari Indriana Kartini dengan judul Kebijakan Jalur Sutra Baru Cina dan Implikasinya Bagi Amerika Serikat.
Jurnal ini berfokus pada kebijakan baru China dalam membentuk kebijakan Jalur Sutra Baru China, kemudian melihat bagaimana implikasi dari Amerika Serikat terhadap kebijakan tersebut. China membentuk kebijakan baru ini atas dua faktor,
13
yaitu faktor domestik dan faktor internasional. Faktor domestik diberlakukannya kebijakan baru ini untuk mempersempit terciptanya kesenjangan pembangunan antara wilayah pesisir yang kaya dengan wilayah daratan yang miskin, serta untuk menjaga stabilitas dalam negeri maupun luar negeri. Salah satu kawasan yang menjadi target China dalam melakukan promosi adalah Asia Tengah dengan memperioritaskan pembangunan ekonomi dan menjaga stabilitas politik. Kawasan Asia Tengah menjadi target utama karena beberapa negaranya seperti Kazakhstan, Kyrgystan dan Tajikistan berbatasan langsung dengan Provinsi Xinjiang yang sering mengalami gejolak politik dan termasuk dalam provinsi termiskin di China.
Salah satu cara untuk meningkatkan perekonomian di wilayah ini, pemerintah China melakukan kegiatan ekspor produk-produk dari Xinjiang ke negara-negara di kawasan Asia Tengah, maka pembentukan “Sabuk Ekonomi Jalur Sutra” akan membentuk kerjasama jangka panjang dalam pusat ekspor di Asia Tengah, sehingga diharapkan dapat meningkatkan pembangunan ekonomi di wilayah tersebut. Sebagai bagian dari pembangunan ekonomi tersebut, pemerintah China mengumumkan untuk membangun kereta cepat dari Lanzhou ke Urumqi, ibukota Xinjiang. China mengharapkan bahwa kereta cepat tersebut nantinya dapat menjangkau wilayah Kyrgyzstan, Tajikistan, Uzbekistan, Turkmenistan, Iran, Turki, serta Bulgaria.21 Pada kawasan Asia Tengah, China juga membangun infrastruktur termasuk didalamnya pembangunan kota-kota perbatasan, demi menciptakan stabilitas diwilayah yang lebih luas baik secara ekonomi maupun politik. Faktor domestik lainnya yang mendorong kebijakan baru ini adalah keamanan energi, yang kemudian dilakukan China adalah meningkatkan kegiatan impornya ke negara-negara di Asia Tengah khususnya Kazakhstan dan Turkmenistan.
Faktor internasional dari pembentukan kebijakan baru ini yaitu munculnya kebijakan “privot to Asia” yang diberlakukan oleh pemerintahan Obama untuk membendung kekuatan China di Asia yang akhirnya berpengaruh pada proses pembuatan kebijakan luar negeri China. Untuk merespon kebijakan Washington
21 Indriana Kartini, 2015, Kebijakan Jalur Sutra Baru Cina dan Implikasinya Bagi Amerika Serikat, jurnal Kajian Wilayah, vol, 6, no, 2, hlm, 137.
14
tersebut, China mengeluarkan kebijakan Jalur Sutra Baru untuk mengimbangi kekuatan AS di Asia Pasifik. Bagi para pejabat Washington, kebijakan China ini dianggap sebagai sebuah ancaman dan juga peluang. Bagi mereka yang menganggap kebijakan baru China sebagai peluang memberikan tanggapan positif dan melihat bahwa dari kebijakan baru China ini, Washington akan mendapatkan keuntungan ekonomi. Namun bagi mereka yang menganggap kebijakan baru China sebagai ancaman, mereka akan melobi beberapa negara khususnya Australia dan Korea Selatan untuk melakukan pembatalan kerjasama dengan China.22 Persamaan penelitian dalam jurnal ini dengan penelitian penulis adalah sama sama membahas tentang kebijakan Jalur Sutra Baru yang diusung China, yang menjadi pembeda dalam penelitian ini adalah penelitian ini berfokus pada kebijakan baru yang dikeluarkan China seutuhnya, dalam penelitian penulis nantinya berfokus pada bagaimana kebijakan China mampu memenuhi kebutuhan energi negara, karena penulis ingin melihat kebijakan-kebijakan apa saja yang dikeluarkan China untuk mengunci kebutuhan energinya di negara-negara Asia Tengah.
Penelitian Keenam berasal dari SREBefing paper yang berjudul “Russia’s Energy Diplomacy” karya John Lough.23 Jurnal ini membahas terkait diplomasi energi Rusia dalam memenuhi kebutuhan energi negaranya. Dalam kebijakan luar negeri Rusia, energi menjadi sumber penting dalam proyeksi kekuatan politik negaranya. Tanpa kemampuannya untuk memasok dan memproduksi energi, Rusia tidak akan memiliki status seperti saat ini, salah satu nya adalah menjadi anggota G8. Rusia memiliki cadangan gas alam terbesar di dunia, cadangan batu bara terbesar kedua dan cadangan minyak terbesar ketujuh. Jurnal ini menjelaskan bagaimana kebijakan luar negeri terkait energi Rusia meningkat. Sejak berkuasa, Vladimir Putin menunjukkan keahlian yang cukup besar dalam mengintegerasikan kebijakan luar negeri dan kebijakan energi untuk meningkatkan keuntungan Rusia baik sebagai pemegang sumber daya hidrokarbon dan sebagai produsen yang sangat penting. Putin berusaha untuk membangun Rusia menjadi mitra negosiasi yang sulit
22 Ibid., hlm, 145.
23 John Lough, 2011, Russia’s Energy Diplomacy, SREBefing Paper, diakses pada www.chathamhouse.org › 19352_0511bp_lough (26/11/21, 20:55 WIB).
15
bagi Eropa. Pemahaman Rusia tentang tumpang tindih antara energi dan kebijakan luar negeri tercermin dalam Strategi Energi 2003, yang mencatat bahwa sumber daya energi yang signifikan dan kompleks bahkan bahan bakar energi Rusia yang kuat adalah instrumen untuk melakukan kebijakan domestik dan luar negeri dan bahwa peran negara di pasar energi global sangat menentukan pengaruh geopolitikya.
Para pemimpin Rusia juga melihat bahwa Rusia dapat menggunakan pengaruh energinya untuk memperkuat posisinya di Commonwealth of Independent States (CIS) dan menjalin hubungan baru dengan UE dan Amerika Serikat. Dialog energi yang dilakukan dengan UE (2000) dan Amerika Serikat (2003) tidak banyak membuahkan hasil, tetapi Rusia telah menemukan bahwa kerjasama energi sangat menarik bagi sejumlah pemerintah Eropa dan dapat digunakan untuk mempengaruhi hubungan Rusia dengan UE. Jurnal ini menjelaskan bahwa Rusia memberikan pengaruh yang cukup besar berdasarkan berbagai kebijakan yang dirancang untuk mengeksploitasi nilai sumber daya energinya dan industri energinya. Rusia telah mengkonsolidasikan posisi negaranya di dunia internasional agar dapat mengembangkan hubungan yang kuat dengan negara-negara Eropa yang memiliki pengaruh besar seperti Prancis, Jerman dan Italia dengan menggunakan perannya sebagai pemasok utama ke pasar energi asing. Dapat dilihat bahwa dalam diplomasi energi Rusia, para pemimpin negara tersebut berusaha untuk menumpang tindihkan antara energi dengan kebijakan luar negeri. Dimana dalam kebijakannya, Russia memanfaatkan energi yang mereka miliki untuk melakukan pendekatan ke negara-negara berpengaruh, Rusia menggunakan hubungan energi untuk mempengaruhi negara-negara di sekitarnya. Dalam hal tersebut, Rusia memanfaatkan sistem pipa minyak dan gas bersama yang diwarisi dari Uni Soviet untuk melakukan pendekatan dengan negara-negara di sepanjang Laut Kaspia.
Rusia juga melakukan pendekatan ke beberapa negara seperti Rumania. Dikatakan bahwa Rusia memainkan permainan diplomatik yang sangat efektif dengan Rumania, dimana Rusia berhasil membujuk perusahaan gas Rumania Transgaz untuk menandatangani perjanjian awal untuk mempelajari kelayakan Rumania
16
bergabung dengan proyek milik Rusia yaitu proyek South Stream yang merupakan proyek pembangunan pipa energi.
Diplomasi energi Rusia seringkali efektif karena kegigihannya dan fakta bahwa perdana menteri dan presiden terlibat secara pribadi. Para pemimpin Rusia telah berhasil menyatukan elemen-elemen kebijakan energi dengan kebijakan dan kepentingan lainnya. hal tersebut yang kemudian membuat kekuasaan di Rusia dapat beroperasi secara efektif. Namun dalam penerapan diplomasi energinya, Rusia terlalu berfokus pada CIS dan menaruh pengaruh energi yang jauh lebih kuat di sana daripada di tempat lain. Rusia menganut model kapitalisme negara sehingga menerapkan kontrol monopoli infrastruktur dan perlakuan sewenang-wenang terhadap pemain-pemain kecil yang kemudian berdampak pada kemunculan dinamika yang merusak kepercayaan, sehingga hal tersebut juga berpengaruh pada usaha pendekatan Rusia untuk berurusan dengan Barat.
Terdapat persamaan dalam penelitian ini dengan penelitian yang penulis lakukan. Persamaan nya terletak pada upaya pemenuhan diplomasi energi yaitu dengan cara berusaha untuk melakukan pendekatan dengan beberapa negara agar dapat melakukan pembangunan pipa energi. Sedangkan yang menjadi pembeda adalah, dalam jurnal ini menjelaskan bahwa diplomasi energi yang dilakukan oleh Rusia lebih berfokus pada negara-negara besar dan memonopoli negara-negara kecil, sedangkan negara yang penulis angkat yaitu China lebih berfokus pada negara yang terbelakang dan mengutamakan hubungan kerjasama yang damai dalam pemenuhan kebutuhan energinya.
Penelitian ketujuh berupa jurnal yang berjudul “China’s Energy Security:
I.R. Iran and Saudi Arabia’s Role in China’s Energy Diplomacy” karya Mahdi Salami Zavareh dan Mehrdad Fallahi Barzoki.24 Jurnal ini menjelaskan ketertarikan dan ketergantungan China terhadap Timur Tengah yang telah meroket sejak tahun 1990-an. China memiliki kepentingan geopoitik, ekonomi, energi, dan keamanan di kawasan Timur Tengah yang terus berkembang. Ketergantungan China terhadap
24 Mahdi Salami Zavareh; Mehrdad Fallahi Barzoki, 2007, China’s Energy Security: I.R. Iran and Saudi Arabia’s Role in China’s Energy Diplomacy, Iran. Econ. Rev., vol, 22, no, 3.
17
energi, terutama minyak mentah terus meningkat. Sehingga think-tank China selalu mencari cara untuk mengatasi ketidakseimbangan dalam rencana keamanan energi mereka. Diplomasi energi utama yang mereka lakukan adalah diversifikasi pemasok energi dan jalur impor. Meskipun China berencana untuk mengurangi ketergantungannya pada Timur Tengah, namun Republik Islam Iran dan Arab Saudi dengan sumber daya mereka yang besar adalah aktor penting yang paling proaktif.
Jurnal ini menjelaskan secara mendalam hubungan Tiongkok-Saudi dengan Tiongkok-Iran. Dalam penjelasan terkait hubungan Tiongkok-Saudi dikatakan bahwa hubungan diplomatik antara keduanya esmi terbentuk pada Juli 1990.
Perjanjian perdagangan dan investasi telah meningkat sebagian besar sejak 1999 ketika Jiang Zemin mengumumkan kemitraan strategis antara China dan Arab Saudi. Pada tahun 2005 Arab Saudi menjadi sumber minyak terbesar China untuk pertama kalinya. Menurut mantan duta besar China untuk Arab Saudi, Song Wei, hubungan antara China dan Arab Saudi berfokus pada kerjasama energi. Kemudian dalam bidang geo ekonomi, Presiden Xi mengumumkan strategi One Belt, One Road dengan menunjukkan harapan perusahaan-perusahaan China akan disambut oleh pasar Timur Tengah, termasuk dalam sektor minyak. Dengan strategi baru ini dapat dikatakan bahwa diplomasi utama China untuk keamanan energinya adalah mendiversifikasikan pemasok minyaknya dan rute untuk membawa energi. Evolusi ini semakin jelas dengan terbentuknya investasi dan paket perdagangan China- Saudi senilai 65 miliar dolar yang ditandatangani selama pertemuan di Beijing antara Raja Salman dan Presiden Xi Jinping.
Hubungan antara Tiongkok-Iran dimulai dengan hubungan diplomatik pada Agustus 1971 dimana China menyatakan dukunganya untuk perjuangan Iran dalam mempertahankan sumber daya nasionalnya. Kemudian pada tahun 1990-an untuk memenuhi permintaan minyaknya, China secara aktif mencari pasokan energi baru jangka panjang dan berusaha memperluas hubungannya dengan negara-negara penghasil minyak dan gas utama di Timur Tengah dan Afrika Utara. Dengan sumber energi gabungan minyak dan gas terbesr kedua setelah Arab Saudi, Iran muncul sebagai salah satu pemasok energi utama ke China. dalam hal ini, China
18
berpartisispasi dalam eksplorasi usaha patungan dan pengembangan ladang minyak dan gas baru di Iran dengan tujuan China dapat mengunci pasar energi Iran.
Hingga saat ini, China telah melakukan banyak cara untuk memastikan keamanan energinya, mulai dari investasi besar pada eksplorasi sumber daya baru dan perbaikan infrastruktur energi untuk meningkatkan efisiensi pemanfaatan energi. China juga telah membangun sistem cadangan minyak strategis yang sangat besar. Pembahasan dalam jurnal ini memiliki kesamaan dengan penelitian yang penulis lakukan. Persamaan tersebut terlihat jelas karena dalam penilitian ini dengan penulis sama-sama membahas keamanan dan diplomasi energi China, dimana diplomasi energi yang dilakukan oleh China berfokus pada unsur kerjasama energi dengan menerapkan sistem investasi dan perbaikan maupun pembangunan infrastruktur terhadap negara tujuan eksplorasi energi. Kemudian yang menjadi pembeda antara jurnal ini dengan penelitian yang penulis lakukan adalah negara tujuan China dalam pemenuhan kebutuhan energinya, dimana penulis berfokus pada negara-negara di kawasan Asia Tengah.
Tabel 1. Penelitian Terdahulu
NO JUDUL/PENULIS METODE HASIL PENELITIAN
1 Peran Politik dan Keamanan Rusia di Kawasan Asia Tengah oleh Nofita Andes Nurdiana
Metodologi yang digunakan adalah metode deskriptif eksplanatif. Teori yang digunakan adalah Regional Security Complex untuk menjelaskan keamanan regional Rusia dan kawasan Asia Tengah.
Untuk memenuhi berbagai kepentingannya, Rusia kemudian membentuk berbagai organisasi regional diantaranya CIS. CIS merupakan organisasi yang dibentuk untuk menstabilkan keadaan ekonomi dan politik dengan membentuk kerjasama bilateral maupun multilateral.
Kesepakatan CIS kemudian dimanfaatkan Rusia untuk mempengaruhi negara-negara Asia Tengah dalam mewujudkan
19
integrasi Eurasia. Rusia juga membentuk kerjasama dalam bidang ekonomi yaitu The Eurasian Economic Union (EAEU), dengan organisasi ini membuat Rusia berperan aktif dalam membantu perekonomian negara-negara di kawasan tersebut. Rusia berusaha untuk menstabilkan keadaan ekonomi kawasan tersebut dengan cara memberikan bantuan, melakukan investasi dalam pembangunan infrastruktur dan mengajak para anggotanya untuk membahas berbagai masalah yang dihadapi dalam berbagai pertemuan bilateral maupun multilateral.
Rusia masuk ke wilayah ini untuk menjaga kawasan agar tetap stabil dari berbagai masalah baik dari dalam maupun dari luar kawasan.
2 Pemilihan Kazakhstan
Sebagai Mitra Kerjasama China Dalam Sektor Energi Minyak Tahun 2003-2010,
Konsep yang digunakan adalah konsep Managed Multi- Dependence, penggunakan konsep untuk menggambarkan hubungan kerjasama bilateral maupun multilateral antara China dan Kazakhstan yang akan menciptakan kedamaian
China memilih Kazakhstan, karena Kazakstan dianggap sebagai pilihan terbaik bagi China untuk dapat mengurangi ketergantungan terhadap satu wilayah tertentu dan untuk menghindari adanya eksplorasi di Laut China Selatan yang
20 oleh Primadiana
Yunita
dan keamanan di kedua kawasan.
memiliki masalah sengketa demi menjaga kestabilan di kawasan tersebut yang nantinya dikhawatirkan justru akan mengganggu arus lalu lintas internasional. karena memiliki kedekatan geografis yang kemudian memungkinkan untuk menjalin kerjasama secara intensif membuat Kazakhstan memiliki potensi ekonomi yang cukup tinggi bagi China, ditambah lagi Kazakhstan memiliki sumber daya alam yang melimpah dan pangsa pasar yang besar. Apabila dilihat dari segi ekonomi, China dan Kazakhstan menjalin kerjasama yang saling menguntungkan. Bagi China, Kazakhstan menarik karena memiliki berbagai sumber daya seperti migas atau logam, dan komoditas lainnya yang sangat penting bagi China. Kemudian, Kazakhstan merasa bahwa industri China, konsumen dan produk-produk pertanian serta pasar menjadi daya tarik bagi Kazakhstan untuk membentuk kerjasama dengan China.
21 3 Eksistensi Jepang
dan Tiongkok dalam Geopolitik Energi di Asia Tengah, oleh Ayu Suhartini, Dian Permata Pratiwi, Jorshy Amanda Sudarno, Shybill Natalia de Queljoe, dan Syahrir Roni Geyashra
Teori yang digunakan adalah Teori Sistem Dunia yang digunakan untuk menjelaskan hegemoni negara dengan memanfaatkan keadaan geopolitik primer, seperti yang dilakukan oleh Jepang dan China yang saling berlomba untuk melakukan hegemoni di Asia Tengah dengan geopolitik primer.
Dalam memenuhi
kepentingannya di kawasan Asia Tengah Jepang juga memiliki pesaing diantaranya adalah Tiongkok. Karena Tiongkok juga mengambil andil dalam kawasan Asia tengah, meskipun kepentingan Tiongkok lebih besar ke arah keamanan, tetapi tetap tidak dipungkiri bahwa sumber energi juga menjadi tujuan utamanya. Kedua negara ini bersaing secara langsung melalui ide kerjasama serta saling unjuk untuk menunjukkan langkah kerjasama mana yang terbaik. Dalam perang ide tersebut kemudian Jepang mengemukakan ide kerjasama bernama Arc Central Freedom and Prosperity Initiative (AFPI).
AFPI di harapkan Jepang dapat meningkatkan kerjasama nya dengan Asia Tengah dan dapat menandingi ide Tiongkok yaitu inisiatif One Belt One Road (OBOR). AFPI dibentuk untuk membimbing kebijakan Tokyo menuju Asia Tengah, Asia Tenggara, Timur, Tengah, Eropa Tengah, ASEAN, dan kawasan
22
Eurasia. Tetapi, nyatanya OBOR milik Tiongkok lebih berhasil dalam membangun kerjasama jangka panjang dengan negara mitra di Asia Tengah, Timur Tengah, Afrika, Eropa, dan Amerika Latin. Tiongkok memberikan negara-negara mitra tersebut miliaran dolar dalam investasi langsung di berbagai sektor diantaranya minyak, gas, konstruksi, industrialisasi, telekomunikasi dan konektivitas, perbankan, transportasi, kereta api, industri teknologi tinggi, transfer teknologi, serta barang dan jasa konsumen. Dengan begitu Tiongkok dan investasi besar-besarannya sungguh tidak tertandingi.
4 Strategi China Dalam
Mengamankan Suplai Energi di Kawasan Afrika Tahun 2000-2010, oleh Ajeng Puspita Ayu
Teori yang digunakan adalah teori kepentingan energi, teori ini digunakan dengan menggambarkan kebijakan- kebiakan yang di keluarkan China untuk mengeksplorasi kekayaan energi di Afrika
China memberikan pinjaman modal, dan memegang kontrol terhadap perusahaan-perusahaan nasional untuk mengeksplolari keunggulan kompetitif China dengan membuka pasar di luar negeri untuk mengunci pasokan energi China. Pinjaman yang diberikan oleh China, akan dikembalikan oleh Afrika dalam bentuk produk energi yang
23
diakses oleh perusahaan energi minyak China dengan harga yang telah ditentukan. Ketika China mengeluarkan dana untuk membantu pembangunan infrastruktur Afrika, maka pihak Afrika akan memberikan ijin kepada China untuk memulai produksi energi, yang nantinya hasil pengolahan tersebut akan dijual kepada China melalui ontrak pembelian jangka panjang dengan harga yang telah ditetapkan. Dalam jurnal ini dikatakan bahwa strategi yang dilakukan oleh China dalam pengamanan energinya di Afrika terbilang berhasil, karena China berhasil merealisasikan kepentigan nasionalnya akan kebutuhan pasokan energi dengan menggunakan kebijakan luar negeri berupa pencarian energi di pasar internasional dan mempertahankan pasokan- pasokan enrgi tersebut demi menjamin ketersediaan keamanan energi nasionalnya.
5 Kebijakan Jalur Sutra Baru Cina dan Implikasinya
Konsep yang digunakan konsep Geopolitik dan Geoekonomi.
Digunakan untuk
China membentuk kebijakan baru ini atas dua faktor, yaitu faktor domestik dan faktor
24 Bagi Amerika
Serikat, oleh Indriana Kartini
menggambarkan keadaan China yang membentuk kerjasama dari geopolitik demi mencapai keamanan menuju
geoekonomi dengan
membentuk kerjasama demi meningkatkan ekonomi negaranya.
internasional. Faktor domestik diberlakukannya kebijakan baru ini untuk mempersempit terciptanya kesenjangan pembangunan antara wilayah pesisir yang kaya dengan wilayah daratan yang miskin, serta untuk menjaga stabilitas dalam negeri maupun luar negeri. Faktor internasional dari pembentukan kebijakan baru ini yaitu munculnya kebijakan “privot to Asia” yang diberlakukan oleh pemerintahan Obama untuk membendung kekuatan China di Asia yang akhirnya berpengaruh pada proses pembuatan kebijakan luar negeri China.
Untuk merespon kebijakan Washington tersebut, China mengeluarkan kebijakan Jalur Sutra Baru untuk mengimbangi kekuatan AS di Asia Pasifik.
6 Russia’s Energy Diplomacy
Konsep yang di gunakan adalah konsep Diplomasi Eenergi yang digunakan untuk menjabarkan diplomasi energi Rusia
Jurnal ini menjelaskan bahwa Rusia memberikan pengaruh yang cukup besar berdasarkan berbagai kebijakan yang dirancang untuk mengeksploitasi nilai sumber daya energinya dan industri energinya. Rusia telah mengkonsolidasikan posisi
25
negaranya di dunia internasional agar dapat mengembangkan hubungan yang kuat dengan negara-negara Eropa yang memiliki pengaruh besar seperti Prancis, Jerman dan Italia dengan menggunakan perannya sebagai pemasok utama ke pasar energi asing. Dapat dilihat bahwa dalam diplomasi energi Rusia, para pemimpin negara tersebut berusaha untuk menumpang tindihkan antara energi dengan kebijakan luar negeri. Dimana dalam kebijakannya, Russia memanfaatkan energi yang mereka miliki untuk melakukan pendekatan ke negara-negara
berpengaruh, Rusia
menggunakan hubungan energi untuk mempengaruhi negara- negara di sekitarnya.
Diplomasi energi Rusia seringkali efektif karena kegigihannya dan fakta bahwa perdana menteri dan presiden terlibat secara pribadi. Para pemimpin Rusia telah berhasil menyatukan elemen-elemen kebijakan energi dengan kebijakan dan kepentingan
26
lainnya. hal tersebut yang kemudian membuat kekuasaan di Rusia dapat beroperasi secara efektif.
7 China’s Energy Security: I.R. Iran and Saudi Arabia’s Role in China’s Energy Diplomacy
Konsep yang di gunakan adalah konsep Diplomasi Eenergi yang digunakan untuk menjabarkan diplomasi energi China
Jurnal ini menjelaskan secara mendalam hubungan Tiongkok- Saudi dengan Tiongkok-Iran.
Dalam penjelasan terkait hubungan Tiongkok-Saudi dikatakan bahwa hubungan diplomatik antara keduanya esmi terbentuk pada Juli 1990.
Perjanjian perdagangan dan investasi telah meningkat sebagian besar sejak 1999 ketika Jiang Zemin mengumumkan kemitraan strategis antara China dan Arab Saudi. Pada tahun 2005 Arab Saudi menjadi sumber minyak terbesar China untuk pertama kalinya. Menurut mantan duta besar China untuk Arab Saudi, Song Wei, hubungan antara China dan Arab Saudi berfokus pada kerjasama energi.
Hubungan antara Tiongkok-Iran dimulai dengan hubungan diplomatik pada Agustus 1971 dimana China menyatakan dukunganya untuk perjuangan Iran dalam mempertahankan
27
sumber daya nasionalnya.
Kemudian pada tahun 1990-an untuk memenuhi permintaan minyaknya, China secara aktif mencari pasokan energi baru jangka panjang dan berusaha memperluas hubungannya dengan negara-negara penghasil minyak dan gas utama di Timur Tengah dan Afrika Utara.
1.5 Kerangka Teori atau Konsep 1.5.1 Konsep Keamanan Energi
Keamanan energi merupakan topik yang sering di perbincangkan dalam agenda kebijakan pemerintah di berbagai negara. Permasalahan terkait keamanan energi telah muncul sejak awal abad ke-20 terkait dengan pasokan minyak untuk memenuhi kebutuhan pasukan perang. Namun dalam hal akademis, perdebatan terkait isu keamanan energi baru muncul pada tahun 1970-an, diakibatkan oleh adanya pemotongan pasokan minyak yang dilakukan oleh OPEC dengan harga minyak yang meningkat tajam sehingga memicu krisis ekonomi. Dalam perjalanannya menjadi sebuah konsep keamanan energi, telah ditandai dengan kemunculan berbagai laporan kebijakan di Inggris yang mulai menrapkan kebijakan keamanan energi, seperti Wicks Report (2009), National Security Strategy (2010), Energy Secuity Energy of the Department of Energy dan Climate Change (2012).25 Kebijakan-kebijakan tersebut mengangkat isu terkait gangguan pasokan minyak dan gas sebagai “risiko prioritas” bagi pemerintah Inggris dengan meletakkan
25 Arshie Ramadhanie, 2017, Evolusi Konsep Keamanan Energi, Jurnal Politik Internasional, vol 19, no 2, hlm 99.
28
gangguan pasokan energi berupa hidrokarbon setara dengan isu terorisme, ciber crime, dan kejahatan terorganisasi.
China juga menjadi salah satu negara yang mengalami kekhawatiran mengenai pasokan energi seiring dengan peningkatan prmintaan energi dan ketergantungan impor minyak dan gas, sehingga menjadikan keamanan energi sebagai salah satu tujuan utama dalam kebijakan nasionalnya. Hal ini dapat terlihat pada berdirinya National Energy Administration pada tahun 2008.26 Untuk merealisasikan nya sebagai sebuah kebijakan maupun konsep, keamanan energi membutuhkan perencanaan jangka panjang dan tindakan jangka pendek, hal ini mengakibatkan munculnya berbagai perspektif dan logika yang berbeda terkait keamanan energi.
Salah satu ilmuwan yang membahas tentang kemanan energi ialah Mason Willrich. Ilmuwan tersebut mengungkapkan masalah konsep keamanan energi dalam bukunya yang berjudul “Energi dan Politik Dunia” yang terbit pada tahun 1975. Mason Willrich menyatakan bahwa keamanan energi merupakan isu yang sangat penting dalam politik energi internasional, dimana energi merupakan hal yang sangat penting bagi negara maju maupun negara berkembang.27 Mason Willrich meyakini isu energi merupakan salah satu faktor meningkatnya saling ketergantungan ekonomi pasca perang dunia. peran energi khusunya minyak dianggap sebagai perangsang pertumbuhan ekonomi dan juga dapat memelihara ancaman ekonomi dalam bidang manufaktur. Dalam pandangan Mason Willrich aktor utama dalam sistem politik dunia adalah negara-bangsa. Peran-peran yang di mainkan oleh organisasi internasional juga tergantung pada kebijakan domestik dan kemampuan pemerintah dari negara-negara anggota organisasi tersebut. Hingga otonomi yang dimiliki oleh perusahaan multinasional juga bergantung pada kebijakan pemerintahnya. Oleh karena itu, analisis terhadap ketahanan energi harus mengambil langkah pada ketahanan energi nasional pada titik awalnya.
26 Ibid.,
27 Yu Jianhua; Dai Yichen, 2012, Energy Politics and Security Concepts from Multidimensional Pespektif, Journal of Middle Eastern and Islamic Studies, vol 6, no 4, hlm 92.
29
Pada tahun 1975, Swedia Bo Heineback juga berpendapat terkait minyak dan keamanan yang di utarakan dalam sebuah laporan khusus. Heineback menyatakan bahwa minyak merupakan sumber daya yang sangat penting bagi keamanan ekonomi dan militer bagi suatu negara. Apabila negara mengalami kekurangan minyak, maka hal tersebut menjadi ancaman yang serius bagi keamanan domestik dan internasional. meskipun krisis minyak telah berakhir, namun permasalahan dalam bidang energi masih dianggap serius.28 Sebagian besar negara bergantung pada impor energi demi memenuhi kebutuhan energi dan menjaga stabilitas serta keamanan ekonomi, sosial, dan militer mereka.
Kedepannya, masalah perminyakan akan menjadi prioritas utama dalam kebijakan luar negeri dan pertahanan masing-masing negara. maka dari itu, dalam setiap pengambilan keputusan terkait keamanan nasional dan keamanan strategis masih banyak hal yang harus di pertimbangkan salah satunya adalah, memperhitungkan potensi pasokan energi dalam negeri, dan lokasi sumber pasokan energi asing serta akses ke pasokan juga harus dipertimbangkan.
Dalam kajian politik energi dan ketahanan energi di dunia akademis internasional kontemporer, banyak ahli yang berfokus pada perspektif geopolitik, melihat geopolitik sebagai alat teoritis dan digunakan untuk menganalisa politik energi serta ketahanan energi untuk mencoba membentuk geopolitik energi.
Geopolitik muncul sebagai instrumen dalam keamanan energi dikarenakan adanya isu terkait kelangkaan dan ketidak merataan distribusi energi. Geopolitik dan keamanan energi slaing berkesinambungan karena ekonomi minyak saat ini bersifat global, maka untuk mencapai keseimbangan antar wilayah, teori geostrategis khusus dibutuhkan, yaitu geostrategis energi. Teori geo-strategis didasarkan pada distribusi sumber daya minyak yang tidak merata. Kerjasama, konflik, persaingan, bahkan perang antar negara dan wilayah yang berbeda dalam masalah produksi dan konsumsi energi akan terjadi secara alami. Oleh karena itu, geopolitik menjadi salah satu landasan teori penting bagi pemerintah dan perusahaan minyak besar untuk mengembangkan kebijakan energinya.
28 Ibid.,
30
Melvin A. Conant sarjana yang berasal dari Amerika membuat studi sistematis mengenai masalah energi dari perspektif geopolitik pada tahap awal.
Pada tahun 1978, dia bekerja sama dengan Fren Gold untuk melakukan analisis situasi energi dunia dan dampak politiknya, kemudian mereka menerbitkan “The Geopolitics of Energy” yang kemudian dianggap sebagai literatur fundamental tentang studi geopolitik energi.29 Kedua cendikiawan tersebut menunjukkan bahwa akses ke energi maupun bahan mentah adalah perioritas utama dalam hubungan politik internasional. kemampuan untuk memperoleh komoditas penting ini tidak lagi tunduk pada perlindungan militer, tetapi bergantung pada faktor geografis dan pengambilan keputusan politik pemerintah berdasarkan kondisi politik yang berbeda. Negara yang memiliki kendali atas sumber daya akan mengendalikan mereka yang bergantung pada sumber daya, yang akan mengarah pada transformasi mendalam dalam hubungan internasional.
Pada saat yang sama, pentingnya faktor geografis juga akan bervariasi karena evolusi sistem internasional itu sendiri. Perubahan lingkungan internasional seperti munculnya akntor-aktor internasonal baru dan desentralisasi serta saling ketergantungan kekuasaan, akan membawa perubahan geopolitik dan cara sebuah negara memperoleh energi. Selain letak geografis dari sumber daya energi, eksplorasi energi, pengembangan, transportasi, pemurnian, pasar, dan penelitian teknologi terkait, pertumbuhan ekonomi, kebutuhan sumber daya dan keberlanjutan sistem ekonomi tertentu, serta faktor lainnya yang berkaitan dengan pasokan energi.
Dan permintaan juga dipelajari dalam geopoplitik energi. Pasca Perang Dunia II, gambaran umum terkait geopolitik energi dunia berubah. Dimana, pengembangan sumber daya minyak bumi di pusatkan di Timur Tengah. transportasi dan pemurnian minyak dan pasar konsumen dikendalikan oleh negara-negara industri non-OPEC. Industri minyak internasional didominasi oleh perusahaan minyak multinasional Amerika Serikat, Inggris dan negara-negara barat lainnya.
Conant dan cendikiawan lain menunjukkan bahwa setelah krisis minyak yang terjadi pada tahun tujuh puluhan, elemen baru dari situasi minyak
29 Ibid., hlm, 94.
31
internasional adalah “eksploitasi minyak terkonsentrasi di sejumlah kecil negara kurang berkembang. Kebutuhan mendesak akan minyak negara-negara industri dan kurangnya alternatif yang tersedia menimbulkan kepercayaan diri bagi negara- negara yang kurang berkembang tadi. Lokasi distribusi minyak bumi dan penguasaannya telah menjadi alat bagi negara-negara kurang berkembang untuk melakukan reformasi atau penggantian sistem ekonomi dan politik internasional yang didominasi oleh Amerika Serikat dan sekutunya. Conant dan Gold juga mempelajari kebijakan negara-negara penghasil dan konsumen energi sserta prospek pengembangan berbagai bentuk energi diseluruh dunia. dan mereka memberikan rekomendasi kebijakan energi yang digunakan Amerika Serikat dalam memenuhi serta menangani ancaman jangka pendek dan panjang dalam memasok energi sebagai negara yang menjadi konsumen energi terbesar.
Ketidakseimbangan geografis distribusi, produksi dan konsumsi sumber daya minyak dan gas dunia mengakibatkan adanya pemisahan antara faktor ekonomi minyak, yaitu pemisahan sumber daya dan konsumsi, modal dan permintaan, ilmu pengetahuan, teknologi dan pembangunan, yang mengarah pada peningkatan strategis persaingan minyak dan perubahan dampak pola geopolitik energi dunia. Pada akhir tahun 1980-an, situasi politik energi dunia memasuki era ketika OPEC berhadapan dengan negara-negara non OPEC. Wilayah di sekitar Laut Kaspia menjadi sumber pasokan minyak dan gas baru bagi dunia pasca Perang Dingin, sementara eksplorasi minyak dan gas juga menjadi lebih aktif di wilayah Maghreb di Afrika Utara dan wilayah Guinea di Afrika Barat. Munculnya sumber daya minyak yang lebih luas menandakan bahwa sumber daya minyak yang lebih besar telah terbentuk dengan Timur Tengah sebagai intiya.
John V. Mitchell, Peter Beck dan Michael Grubb dari Royal Institute of international Affairs, menjelaskan tentang perkembangan dan tren baru geopolitik energi pasca Perang Dingin dalam bukunya “The New Geopolitics of Energy” yang diterbitkan pada tahun 1996.30 Dalam buku tersebut mereka percaya bahwa terdapat pembaruan dalam konsep geopolitik energi dengan beberapa alasan sebagai berikut.
30 Ibid., hlm, 97.
32
Pertama, peran minyak dalam bauran energi dari pangsa Timur Tengah di pasar minyak dunia telah menurun. Pasar minyak menjadi semakin terbuka, kompetitif dan transparan. Kedua, berakhinya Perang Dingin telah mengurangi kebebasan eksplorasi energi oleh Amerika Serikat di Timur Tengah dan di wilayah lain di dunia. akibatnya, sekarang AS menunjukkan kekuatan militernya di Timur Tengah untuk melindungi pasokan minyak di kawasan itu. Ketiga, sumber daya minyak dan gas Rusia dan negara-negara bekas Soviet lainnya terintegerasi ke dalam sistem dunia, yang akan mengarah pada transformasi perdagangan energi internasional.
keempat, seiring dengan perkembangan teknologi dan sektor ketenagalistrikan, kepentingan gas bumi semakin meningkat. Kelima, Asia akan menjadi ancaman utama bagi geopolitik energi baru. Keenam, banyak negara maju yang khawatir dalam penggunaan energi nuklir. Ketujuh, proses politik untuk meredakan masalah pemanasan global telah dimulai. Kedelapan, pasokan energi maupun investasi masih beresiko tersendat di Timur Tengah. dengan alasan-alasan tersebut kemudian terbentuklah geopolitik energi baru. Hal ini menekankan pada liberasi dan prinsip non-interferensi pasar, dan pada pergeseran pusat geopolitik energi dunia ke Asia.
Mason Willrich menggambarkan keamanan energi dengan konteks aktor yang terlibat yaitu negara importir dan negara eksportir. Bagi negara yang melakukan ekspor energi, keamanan energi dianggap sebagai jaminan pada akses pasar dan keamanan permintaan. Untuk menjamin keamanan energinya, pihak pengekspor dapat melakukan berbagai strategi agar negara importir energi dapat bergantung pada energi yang diproduksi oleh negara eksportir. Kemudian bagi negara importir, keamanan energi merupakan jaminan akan pasokan energi yang memadai demi keberlangsungan perekonomian nasional dengan menggunakan tindakan yang dapat diterima secara politik.
Untuk menjamin keamanan energi bagi pihak pengimpor, terdapat tiga tingkatan atau strategi yang di asung oleh Mason Willrich, yaitu:31
31 Ibid., hlm 107-108.
33
Pertama, negara pengimpor dapat melakukan tindakan stan-by rationing plans dan stockpiling. Rationing plans merupakan tindakan penghematan penggunaan energi apabila terjadi masalah suplai energi. Stockpiling merupakan penimbunan cadangan energi untuk digunakan dalam keadaan darurat sehingga masalah ketersediaan energi dalam jangka pendek dapat teratasi. Tahapan pertama ini dilakukan untuk mengurangi kerugian apabila terdapat masalah gangguan pada pasokan energi.
Kedua, negara importir dapat meningkatkan interdependensi atau keterganungan terhadap negara eksportir. Hal ini dapat dilakukan dengan cara investasi jangka panjang (long-term investment) dan program bantuan pembangunan (development assistance). Dengan meningkatnya ketergantungan negara pengekspor kepada negara pengimpr membantu memperkuat jaminan suplai negara pengimpor, karena negara pengekspor akan mempertimbangkan setiap tindakan yang diambil pada pensuplaian energi ke negara pengimpor. Ketiga, untuk terhindar dari ketergantungan terhadap suplai energi asing, maka suatu negara dapat meningkatkan suplai energi domestikya, namun hal ini hanya dapat dilakukan oleh egara yang memiliki sumber daya energi yang melimpah.
Konsep keamanan energi akan membantu penelitian ini untuk menggambarkan bagaimana China sebagai pihak pengimpor energi menjaga keamanan suplai energinya dari kawasan Asia Tengah. Dengan melakukan beberapa tindakan menurut Mason Willrich seperti melibatkan diri terhadap pembangunan di kawasan Asia Tengah, memberikan invesatasi, dan membentuk kerjasama jangka panjang agar kawasan Asia Tengah memiliki interdependensi pada pihak China.
1.5.2 Konsep Diplomasi Energi
Energi merupakan sumber tenaga, landasan bagi kelangsungan hidup dan perkembangan umat manusia, sebagai mesin pertumbuhan ekonomi bagi masyarakat industri mdern, dan sumber daya strategis yang tak tergantikan untuk politik internasional dan permainan diplomatik, yang tidak akan diragukan lagi untuk menkonsolidasikan posisi internasional modernnya dalam ekonomi politik. Diplomasi energi, sebagai penunjang
34
diplomasi ekonomi, akan menjadi center of gravity dan tema yang mendasar dalam diplomasi kontemporer. Penting bagi ketahanan energi nasional maupun strategi global nasional untuk mengejar kepentingan ekonomi dan politik dalam alokasi sumber daya energi global melalui diplomasi energi dan memberikan jaminan yang kuat bagi perkembangan ekonomi negara dan status internasional. Diplomasi energi termasuk kedalam bidang diplomatik yang berkembang, bertujuan untuk menyediakan keamanan energi. Energi masuk kedalam ranah diplomasi dan kebijakan luar negeri diakibatkan oleh meningkatnya dampak kebutuhan energi terhadap keamanan dan ekonomi nasional.
Diplomasi energi merupakan salah satu bidang dalam hubungan internasional yang kompleks, berkaitan erat dengan prinsip, kebijakan luar negeri, dan keamanan nasional secara keseluruhan. Dimana ketiga konsep tersebut, keamanan nasional, politik luar negeri, dan keamanan energi terstruktur secara ontologis. Keamanan nasional merupakan konsep yang paling umum, kebijakan luar negeri berada pada satu tingkat lebih rendah yang mencakup aspek resiko keamanan nasioal internasional, dan skala yang terletak paling bawah adalah diplomasi energi.
Diplomasi energi secara khusus berfokus pada hubungan energi eksternal.32 Perubahan situasi menjadikan serangkaian faktor yang mengharuskan keamanan energi dan diplomasi energi diangkat kedalam agenda keamanan nasional.
Konsumen modern hingga ekonomi kontemporer secara bertahap tumbuh menjadi sangat bergantung pada energi. Maka dari itu ekonomi dan energi adalah satu kesatuan dan merupakan konsep yang tidak dapat dipisahkan. Pada saat ini, perusahaan minyak dan gas menjadi beberapa organisasi yang paling berpengaruh di arena bisnis global.
Diplomasi energi mengarah kepada kegiatan diplomatik yang dirancang untuk meningkatkan akses ke sumber daya dan pasar energi. Sitem ini akan mempengaruhi kebijakan, resolusi dan perilaku pemerintah dan faktor internasional melalui kegiatan diplomatik, negosiasi, lobi, advokasi, dan metode lainnya yang dilakukan secara damai.33 Kebijakan luar negeri dan diplomasi energi secara konseptual memiliki hubungan yang selaras. Dimana kebijakan luar negeri
32 Ana Bovan; dkk, 2020, Negotiating Energy Diplomacy and its Relationship with Foreign Policy and National Security, Internatonal Journal of Energy Economics and Policy, vol 10, no 2, hlm, 1.
33 Ibid., hlm 2.