• Tidak ada hasil yang ditemukan

IR PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA BAB 1 PENDAHULUAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "IR PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA BAB 1 PENDAHULUAN"

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

BAB 1 PENDAHULUAN

Sektor industri manufaktur merupakan sektor yang terus melaju kencang dan memiliki resiliensi tinggi. Dalam beberapa tahun terakhir, sektor ini menjadi tulang punggung pertumbuhan ekonomi di Indonesia. Saat ini Indonesia merupakan basis industri manufaktur terbesar di ASEAN dan peringkat ke-9 di dunia. Sedangkan berdasarkan Industrial Development Report 2020 yang dirilis United Nations Industrial Development Organization (UNIDO), menempatkan Indonesia pada urutan ke-38 dari total 150 negara dalam peringkat Competitive Industrial Performance (CIP) Index tahun 2019. Capaian tersebut naik satu peringkat dibanding tahun 2018 yang berada di posisi ke-39. Kekuatan industri manufaktur Indonesia telah diakui secara internasional. Maka dari itu, sektor ini merupakan salah satu sektor terkuat yang turut menopang perekonomian Indonesia. Perkembangan perusahaan manufaktur di Indonesia berbanding lurus dengan meningkatnya nilai investasi di Indonesia. Hal tersebut dikarenakan sektor ini menjadi penyumbang terbesar nilai investasi. Tingginya nilai investasi tersebut merupakan angin segar bagi perekonomian nasional.

Salah satu faktor yang mempengaruhi investasi adalah nilai perusahaan.

Nilai perusahaan merupakan salah satu faktor terpenting yang berperan besar dalam keputusan investor karena hal tersebut merupakan cerminan dari kinerja perusahaan (Nugroho, 2016). Melalui nilai perusahaan maka dapat tercermin wujud kepercayaan investor atas segala pencapaian yang telah dimiliki oleh perusahaan selama beberapa periode (Pendria & Efni, 2015). Hal ini sejalan dengan pernyataan Suwardika & Mustanda (2017) bahwa rasa percaya diri investor akan meningkat jika nilai perusahaan tinggi. Apabila perusahaan mampu memaksimumkan nilai saat ini (present value) maka kemakmuran pemegang saham dapat ditempuh secara maksimum.

Para investor dapat menggunakan nilai perusahaan sebagai dasar untuk

mengetahui kinerja perusahaan pada masa yang akan datang, dimana nilai

perusahaan berkaitan erat dengan harga saham. Investor akan diuntungkan

(2)

apabila harga saham perusahaan tinggi. Wijaya & Sedana (2015) dalam penelitiannya mengemukakan bahwa harga saham yang tinggi berbanding lurus dengan nilai perusahaan yang tinggi pula.

Nilai perusahaan tidak dapat dicapai tanpa adanya strategi dan upaya yang dilakukan oleh perusahaan. Terdapat banyak faktor yang dapat menunjang nilai perusahaan, menurut Berger dkk. (2016) Chief Executive Officers (CEOs) adalah sosok yang memiliki kekuatan dan sebagai kunci utama dalam menjalankan strategi perusahaan untuk meningkatkan nilai dan performa perusahaan. Tujuan dan kemampuan yang dimiliki oleh seorang CEO merupakan elemen utama dalam menentukan kinerja perusahaan. Setiap tindakan dan keputusan yang dibuat oleh CEO akan memiliki dampak pada strategi, kebijakan, dan kinerja perusahaan di masa mendatang (Kassim dkk. 2013). Hal ini sejalan dengan upper echelons theory yang menyatakan bahwa karkateristik dan latar belakang khusus dari CEO dapat membawa dampak besar bagi perusahaan (Hambrick & Mason, 1984).

CEO memiliki tanggung jawab besar terhadap seluruh kegiatan operasional karena ia menduduki posisi tertinggi dalam jajaran eksekutif (Sudana & Aristina, 2017). Menentukan siapa yang akan memimpin perusahaan bukanlah suatu hal yang mudah. Ketika merekrut CEO perusahaan mempertimbangkan banyak hal diantaranya adalah berdasarkan keahlian, pengalaman, dan kemampuan mereka untuk menciptakan nilai bagi pemegang saham (Harymawan dkk. 2019). Merekrut CEO yang berkompeten jauh lebih berpengaruh untuk meningkatkan nilai perusahaan dibandingkan dengan berupaya meningkatkan reputasi perusahaan (Weng & Chen, 2017). Kualitas seorang CEO dapat dinilai melalui berbagai hal dari yang dapat diukur yaitu tingkat pendidikan dan pengalaman kerja, maupun karakteristik yang tidak bisa diukur seperti gaya kepemimpinan dan team-building skills (Bhagat dkk. 2012). Sebelum memilih CEO maka perusahaan harus mempertimbangkan hal-hal tersebut karena CEO memegang peran penting dalam tercapainya keberhasilan perusahaan (Fernández Méndez dkk. 2017; Field dkk.

2013). Seorang CEO yang memiliki keahlian, pengalaman, pengetahuan, dan keterampilan industri yang baik dapat membuat keputusan yang tepat untuk mengatasi permasalahan dan meningkatkan kinerja perusahaan (Hillman &

Dalziel, 2003).

(3)

Sebagai nahkoda utama perusahaan maka seorang CEO secara otomatis memiliki kekuatan dan tanggung jawab besar terhadap perusahaan. Menurut Finkelstein (1992) kekuatan yang dimiliki oleh CEO atau disebut dengan CEO power merupakan sebuah konsep multidimensi dimana CEO dapat dinilai memiliki kekuatan melalui beberapa indikator, yang pertama adalah ownership power yaitu kekuatan CEO sebagai pemilik perusahaan, structural power yaitu kekuatan CEO yang berasal dari struktur jabatan yang diembannya, expert power yaitu kekuatan berdasarkan pengalaman serta durasi waktu menjabat, dan prestige power yaitu kekuatan berdasarkan nama baik yang dimiliki CEO. Kekuatan yang dimiliki oleh seorang CEO dapat mempermudah CEO dalam menyelesaikan permasalahan yang ada di perusahaan (Cannella & Monroe, 1997). Namun di sisi lain kekuatan yang dimiliki CEO juga dapat membuatnya berperilaku oportunis untuk kepentingan pribadinya, hal ini sejalan dengan agency theory yang menyatakan bahwa manajer bisa saja bertindak menyimpang dari keinginan prinsipal.

Betapa pentingnya kekuatan yang dimiliki CEO dapat tercermin dari Elon

Reeve Musk yang merupakan CEO dan founder dari Tesla. Selain Tesla, ia juga

merupakan pendiri, CTO, dan CEO SpaceX, pendiri The Boring Company, dan

Neuralink. Dengan latar belakang pendidikan, pengalaman bisnis, dan juga

jabatannya di berbagai perusahaan lain menjadikan Elon Reeve Musk sebagai

sosok CEO yang memiliki kekuatan besar. Dilansir dari laman forbes.com

(Klebnikov, 2020) saat ini Tesla merupakan perusahaan yang menyandang status

sebagai the world’s most valuable car company mengalahkan posisi toyota

dengan mencatat rekor valuasi tertinggi yaitu $208 miliar. Pada awal tahun 2021,

dilansir dari laman cnbcindonesia.com (Sidik, 2021) saham Tesla meningkat

hingga 690% dan masuk ke dalam jajaran perusahaan terbesar keenam di indeks

S&P 500. Selain sukses dalam memimpin Tesla, Elon Reeve Musk juga berhasil

membawa SpaceX menempati urutan ketiga dalam daftar startup terbesar di dunia

bergelar unicorn. Melansir dari laman kompas.com (Uly, 2020) SpaceX

mendapatkan pendanaan senilai 1,9 miliar dollar AS atau sekitar Rp 27,9 triliun,

dengan adanya tambahan suntikan dana tersebut maka nilai valuasi SpaceX

mencapai 46 miliar dollar AS atau sekitar Rp 676,2 triliun rupiah. Dapat

(4)

dipastikan Elon Reeve Musk adalah salah satu orang yang memiliki andil besar dalam pencapaian tersebut. Gaya kepemimpinan dan ide luar biasa yang dimiliki oleh Elon Reeve Musk berhasil membawa Tesla dan SpaceX menjadi perusahaan bernilai tinggi.

Kekuatan yang dimiliki CEO memang sangat penting dalam meningkatkan nilai perusahaan, namun terdapat faktor lain yang dapat berpengaruh terhadap kekuatan yang dimiliki CEO sehingga berdampak pada nilai perusahaan. Faktor internal merupakan faktor yang tidak dapat dipungkiri sangat berpengaruh dalam kinerja perusahaan. Keterlibatan keluarga dalam perusahaan adalah salah satu faktor internal yang dapat mempengaruhi kinerja perusahaan, banyak penelitian yang telah membahas hal tersebut (Heino dkk. 2020). Perusahaan keluarga dinilai sebagai suatu jenis perusahaan yang unik (Peng & Luo, 2000). Hubungan antara kinerja perusahaan dan keterlibatan keluarga merupakan hal yang masih abu-abu dan memiliki beragam sudut pandang (Harymawan dkk, 2019). Masih banyak juga yang mempertanyakan apakah perusahaan keluarga memiliki nilai lebih dibandingkan dengan perusahaan lainnya (Villalonga dan Amit, 2006).

Perusahaan yang secara aktif dikendalikan oleh keluarga cenderung memiliki kinerja dan nilai valuasi yang lebih baik (Maury 2006). Perusahaan keluarga cenderung memiliki nilai lebih tinggi dibandingkan dengan perusahaan lainnya (Anderson dan Reeb, 2003). Nilai perusahaan merupakan hasil dari kinerja keseluruhan perusahaan yang berasal dari ketepatan dalam memilih strategi, produktivitas perusahaan, dan faktor-faktor lainnya. Keterlibatan keluarga dalam sebuah perusahaan dapat memberikan dampak positif pada strategi jangka panjang, menciptakan lingkungan yang positif, serta menyediakan sumber daya yang unik dan berkompeten (Sirmon dan Hitt, 2003). Para karyawan yang bekerja di perusahaan keluarga cenderung lebih produktif dan merasa nyaman dengan lingkungan kerja sehingga hal tersebut membawa pengaruh positif secara ekonomis bagi perusahaan (Christensen-Selem dkk. 2021).

Namun, di sisi lain terdapat temuan yang menyatakan bahwa perusahaan

keluarga memiliki nilai Tobin's Q lebih rendah dibanding perusahaan lainnya

(Holderness dan Sheehan, 1988). Rendahnya performa perusahaan dapat

disebabkan beberapa faktor, salah satunya adalah kinerja CEO yang menurun

(5)

akibat adanya keterlibatan keluarga dalam perusahaan tersebut yang menyebabkan CEO merasa keahlian yang dimilikinya menjadi terbatas dan hal ini juga menimbulkan perselisihan antara pihak keluarga dan pihak manajer (Martin dkk. 2016). Keberadaan keluarga dalam perusahaan tidak hanya mempengaruhi kondisi internal namun juga dapat memberikan pengaruh di lingkup eksternal.

Penguasaan sebuah keluarga dapat mengakibatkan publik memiliki pandangan negatif mengingat konsentrasi kepemilikan dan keterlibatan mereka yang tinggi.

Hal tersebut dapat menyebabkan kepercayaan stakeholders terhadap perusahaan menurun dan akan merusak reputasi perusahaan (Martin dkk. 2016). Secara lebih lanjut, keadaan tersebut akan memberikan dampak negatif pada nilai perusahaan.

Karakteristik unik yang dimiliki oleh perusahaan keluarga dan juga banyaknya persepsi mengenai pengaruh kekuatan CEO terhadap perusahaan membuat peneliti tertarik untuk melakukan penelitian mengenai “Pengaruh CEO Power terhadap Nilai Perusahaan dengan Keterlibatan Keluarga sebagai Variabel Moderasi”. Sebelumnya, telah ada beberapa penelitian mengenai pengaruh CEO power terhadap nilai perusahaan. Penelitian ini mengacu pada penelitian sebelumnya yang telah dilakukan oleh Sheikh (2018) dan Chiu dkk.

(2021). Pada penelitian yang dilakukan oleh Sheikh (2018) ditemukan bahwa CEO power memberikan pengaruh positif signifikan terhadap nilai perusahaan yang beroperasi di pasar dengan persaingan yang tinggi. Sedangkan Chiu dkk.

(2021) menemukan bahwa CEO power memiliki peran penting terhadap kinerja dan nilai perusahaan. Pembeda dengan penelitian sebelumnya yaitu penelitian ini menggunakan keterlibatan keluarga sebagai variabel moderasi dengan mengacu pada penelitian yang dilakukan oleh (Lee & Chu, 2017) yang menemukan bahwa pengaruh entrepreneurial orientation (EO) memiliki dampak positif terhadap nilai perusahaan ketika terdapat kepemilikan keluarga dan peran kontrol keluarga yang aktif pada sebuah perusahaan.

Penelitian ini akan menggunakan perusahaan manufaktur yang terdaftar di

Bursa Efek Indonesia (BEI) tahun 2017-2019. Perusahaan manufaktur dipilih

karena sektor industri tersebut merupakan sektor terbesar di Indonesia. Selain itu,

terdapat banyak CEO yang memiliki power berada pada industri tersebut. Periode

2017-2019 dipilih karena pada periode tersebut terjadi volume investasi masuk

(6)

yang tinggi. Melansir dari kominfo.go.id pada awal tahun 2019, realisasi investasi yang masuk ke Indonesia jauh melampaui perkiraan. Sebagian besar investasi yang masuk tersebut dialokasikan untuk industri manufaktur. Selain itu, informasi pada periode tahun tersebut merupakan informasi terbaru sehingga dapat menggambarkan keadaan terkini.

Terdapat beberapa perbedaan antara penelitian ini dengan penelitian- penelitian yang telah dilakukan sebelumnya. Pertama, penelitian ini memodifikasi penelitian yang dilakukan oleh Sheikh (2018) dan Chiu dkk. (2021). Pada penelitian Sheikh (2018) product market competition digunakan sebagai variabel yang memoderasi pengaruh CEO power dengan firm value. Sedangkan pada penelitian Chiu dkk. (2021) CEO power digunakan untuk memoderasi pengaruh knowledge capital dengan firm value. Penelitian ini menguji pengaruh CEO power sebagai variabel independen terhadap nilai perusahaan. Kedua, penelitian ini menambahkan keterlibatan keluarga sebagai variabel moderasi dengan mengacu pada penelitian (Lee & Chu, 2017) dimana peran keluarga digunakan untuk memoderasi pengaruh entrepreneurial orientation (EO) terhadap nilai perusahaan.

Berdasarkan penelitian Amedu & Dulewicz (2018) ditemukan bahwa CEO personal power memiliki hubungan signifikan positif terhadap nilai perusahaan. Hal yang sama ditemukan pada penelitian Dowel dkk. (2011) bahwa CEO power memiliki pengaruh positif pada nilai perusahaan. Namun, hal yang berbeda ditemukan oleh (Bebchuk dkk. 2011) yaitu CEO power memiliki hubungan negatif terhadap nilai perusahaan. Pada beberapa penelitian sebelumnya yang dilakukan Sheikh (2018) dan Chiu dkk. (2021) ditemukan bahwa CEO power hanya berpengaruh ketika terdapat variabel lain atau keadaan tertentu yang berperan memperkuat peran CEO tersebut. Sedangkan (Gupta dkk. 2018) dan Noval (2015) menemukan bahwa tidak ada korelasi antara CEO power dengan kinerja perusahaan.

Penelitian mengenai pengaruh keterlibatan keluarga terhadap nilai

perusahaan juga menghasilkan berbagai temuan. Tan dkk. (2021) menemukan

bahwa keterlibatan keluarga memberikan pengaruh positif terhadap pengendalian

dan kinerja inovasi perusahaan. Hal yang sama juga ditemukan oleh Sirmon dan

(7)

Hitt (2003) dimana keterlibatan keluarga menciptakan lingkungan yang positif, dan membawa sumber daya yang andal dan unik, mendorong inovasi perusahaan sehingga dapat meningkatkan nilai perusahaan. Namun, beberapa penelitian juga menyajikan hasil yang berbeda mengenai pengaruh keterlibatan keluarga terhadap perusahaan (De Massis dkk. 2014). Keterlibatan keluarga menyebabkan perusahaan cenderung menghindari risiko, hal ini dapat merugikan perusahaan jika tindakan tersebut justru membuat perusahaan sulit berkembang (Schulze dkk.

2001). Penelitian yang dilakukan oleh Srivastava & Bhatia (2020) menemukan bahwa keterlibatan anggota keluarga dalam manajemen tidak memberikan dampak pada nilai perusahaan.

Berdasarkan dengan penjelasan latar belakang yang ada, maka tujuan dari penelitian ini yaitu untuk memperoleh bukti empiris mengenai pengaruh CEO power terhadap nilai perusahaan. Selain itu, penelitian ini juga bertujuan untuk memperoleh bukti empiris mengenai peran moderasi keterlibatan keluarga pada pengaruh CEO power terhadap nilai perusahaan.

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat dan kontribusi sebagai referensi literatur kepada peneliti selanjutnya untuk mengembangkan teori agensi dan teori lainnya yang terkait dengan penelitian investasi penelitian dan pengembangan. Selain itu penelitian ini juga diharapkan dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan manajemen dalam melakukan pemilihan CEO yang akan memimpin perusahaan. Di sisi lain, manajemen juga harus memperhatikan faktor lain yang dapat menjadi pendukung maupun penghambat dari CEO power.

Manajemen dapat memperhatikan anggota keluarga yang ditunjuk untuk berkontribusi dalam dewan direksi, karena perannya dapat membawa pengaruh bagi perusahaan

Terdapat 4 bagian penting pada penelitian ini. Bagian pertama membahas

secara singkat menjelaskan fenomena kekuatan CEO dan penjelasan relevan yang

menjadi motivasi penelitian ini. Bagian kedua adalah tinjauan pustaka yang

menjelaskan tentang teori yang berkaitan dengan penelitian ini, yaitu agency

theory dan upper echelons theory. Bagian ketiga adalah metode penelitian

menjelaskan bahwa peneliti menggunakan metode kuantitatif, berisi definisi

operasional, pengukuran variabel penelitian, dan teknik analisis yang digunakan.

(8)

Bagian keempat adalah hasil dan pembahasan yang menjelaskan gambaran umum

variabel penelitian serta hasil pengujian data penelitian. Bagian terakhir berisi

kesimpulan dari hasil penelitian yang telah dibahas pada bab sebelumnya. Bagian

ini juga menjelaskan keterbatasan yang dialami peneliti dalam mengerjakan

penelitian ini serta saran untuk manajemen dan pengembangan penelitian

selanjutnya.

Referensi

Dokumen terkait

Peraturan Daerah ini dimaksudkan untuk menyesuaikan be­ sarnya harga pekerjaan bangunan dengan keadaaan dewasa ini dan mengatur dengan pasti besarnya uang pengganti biaya pembuatan

Pada hasil penelitian tentang penerapan tindak tutur yang terdapat dalam proses jual beli di pasar tradisional Surakarta sesuai dengan teori tindak tutur yang dikemukakan

Begitu juga jika kita meletakan layanan server atau kita menyewa quota hosting di server luar negeri (gambar tanda 3 diatas) maka kekurangan utamanya adalah jika ada request ke

Dalam kegiatan bisnis, pengetahuan tentang segmentasi bisnis, pengetahuan tentang segmentasi pasar dapat digunakan sebagai informasi untuk memilih pasar, mencari peluang

Data belanja daerah, pendapatan asli daerah, dana bagi hasil dan dana alokasi umum yang digunakan dalam penelitian ini adalah data realisasi anggaran dari Laporan Keuangan

Hasil penelitian ini yaitu ada hubungan yang positif dan signifikan antara: (1) kemampuan verbal dengan prestasi belajar ilmu kimia jika kemampuan penalaran peserta

Berdasarkan uraian di atas maka peneliti merasa perlu untuk mengetahui apakah neck pain yang dialami pekerja tahap menjahit (penjahit) diakibatkan oleh sikap kerja yang kurang

Akuntabiltas dalam tata kelola kota menyatakan pemerintah setempat dapat melakukan pertanggung jawaban dari setiap tindakan yang dilakukan melalui kebijakan, program