• Tidak ada hasil yang ditemukan

TAYANGAN CHEF S TABLE DAN PEMENUHAN KEBUTUHAN INFORMASI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "TAYANGAN CHEF S TABLE DAN PEMENUHAN KEBUTUHAN INFORMASI"

Copied!
137
0
0

Teks penuh

(1)

TAYANGAN CHEF’S TABLE DAN PEMENUHAN KEBUTUHAN INFORMASI

(Studi Korelasional Tentang Pengaruh Tayangan Chef’s Table di NET TV Terhadap Pemenuhan Kebutuhan Informasi bagi

Mahasiswa Tata Boga Universitas Negeri Medan)

SKRIPSI

Fitriani 140904006 Public Relations

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK DEPARTEMEN ILMU KOMUNIKASI

MEDAN 2018

(2)

TAYANGAN CHEF’S TABLE DAN PEMENUHAN KEBUTUHAN INFORMASI

(Studi Korelasional Tentang Pengaruh Tayangan Chef’s Table di NET TV Terhadap Pemenuhan Kebutuhan Informasi bagi

Mahasiswa Tata Boga Universitas Negeri Medan)

SKRIPSI

Diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana Program Strata 1 (S1) pada Departemen Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu

Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara

Fitriani 140904006 Public Relations

DEPARTEMEN ILMU KOMUNIKASI

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

MEDAN 2018

(3)

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK DEPARTEMEN ILMU KOMUNIKASI

HALAMAN PERSETUJUAN Skripsi ini ditujukan untuk mempertahankan:

Nama : Fitriani NIM : 140904006

Judul : Tayangan Chef’s Table dan Pemenuhan Kebutuhan Informasi (Studi Korelasional tentang Pengaruh Tayangan Chef’s Table di NET TV Terhadap Pemenuhan Kebutuhan Informasi bagi Mahasiswa Tata Boga Universitas Negeri Medan)

Dosen Pembimbing Ketua Departemen

Dra. Dayana, M.Si

NIP: 196007281987032002 NIP: 196505241989032001

Dra. Dewi Kurniawati, M.Si., Ph.D

Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik

NIP: 19740930200501100 Dr. Muryanto Amin, M.Si

(4)

HALAMAN PERNYATAAN ORISINALITAS

Skripsi ini adalah karya saya sendiri, semua sumber baik yang dikutip maupun dirujuk telah saya cantumkan sumbernya dengan benar. Jika dikemudian hari saya terbukti melakukan pelanggaran (plagiat) maka saya bersediah diperoses sesuai dengan hukum yang berlaku.

Nama : Fitriani NIM : 140904006 Tanda tangan :

Tanggal :

(5)

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa, karena atas berkat dan RahmatNya. Peneliti dapat menyelesaikan skripsi ini. Penulisan skripsi ini dilakukan dalam rangka memenuhi salah satu syarat untuk mencapai gelar Sarjana Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Sumatera Utara. Adapun judul penelitian peneliti adalah “Tayangan Chef’s Table dan Pemenuhan Kebutuhan Informasi (Studi Korelasional tentang Pengaruh Tayangan Chef’s Table di NET TV Terhadap Pemenuhan Kebutuhan Informasi bagi Mahasiswa Tata Boga Universitas Negeri Medan)”.

Peneliti menyadari bahwa tanpa bantuan dan bimbingan dari berbagai pihak, dari masa perkuliahan sampai pada penyusunan skripsi ini. sangatlah sulit bagi peneliti untuk menyelesaikan skripsi ini. Oleh karena itu, peneliti mengucapkan ribuan terima kasih kepada Ibu peneliti (Rosia), ayah (Basri) dan kakak-kakak peneliti (Masnun, Zalilah, Mahlinda, Nurdalina, Mhd. Taufiq), yang sangat berperan aktif sebagai penyemangat peneliti, memberikan dukungan moril maupun materil, terlebih lagi dalam pengerjaan skripsi ini senantiasa menguatkan peneliti dengan doa-doa dan motivasi yang sangat berharga, semoga Allah swt senantiasa memberikan mereka kebahagian dunia akhirat.

Disamping rampungnya penulisan skripsi ini, peneliti menyadari bahwa tidak hanya mengandalkan diri penelitian sendiri, begitu banyak pihak yang membantu, memberikan dukungan dan motivasi. Oleh karena itu, peneliti mengucapkan terima kasih kepada:

1. Bapak Dr. Muryanto Amin, S,Sos, M.Si., selaku Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Sumatera Utara.

2. Ibu Dra. Dewi Kurniawati, M.Si., Ph.D selaku ketua Departemen Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Sumatera Utara.

3. Ibu Emilia Ramadhani, S.Sos, MA., selaku Sekretaris Departemen Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Sumatera Utara.

(6)

4. Ibu Dra. Dayana, M.Si., selaku dosen pembimbing skripsi peneliti.

Terima kasih banyak kepada beliau yang telah membimbing, mengarahkan dan meluangkan waktu ditengah kesibukannya.

5. Ibu Dra. Fatma Wardy Lubis, M.A selaku dosen pembimbing akademik peneliti.

6. Seluruh dosen dan staf pengajar Departemen Ilmu Komunikasi yang telah banyak membantu, membimbing dan mendidik peneliti.

7. Kak Maya dan kak Yanti, terima kasih atas bantuan dalam pengurusan administrasi.

8. Teman terbaik Arina Putri, Putri Surya Ningsih, Fitriani Ahmad, Rohani Trina Saragih, Laila Rahmi Batubara, Novita Arum, Fitri Ramadhani, Nuari Syiamul Fitri, terima kasih telah memberikan motivasi, semangat, dan bantuannya.

9. Teman-teman terbaik di organisasi Pijar. Saudara seangkatan Lucky, Mhd. Rifai, Nadya Htg, Rere, Reza, Yoga Kasogi. Adik-adik Pijar Anis, Fatin, Cua, Citra, Ainun, Yasmin, Halimah dan adik-adik 2016 dan 2017 yang lainnya. Terima kasih untuk semua hal yang telah kita ukir bersama dan dukungan yang selalu kalian berikan.

10. Nita, Milham, Debby yang selalu memberikan motivasi dan dukungan kepada peneliti.

11. Teman-teman satu dosen pembimbing Khalis, Kansyah, Inung, Rahel yang selalu saling menyemangati.

12. Teman-teman stambuk 2014 Program Studi Ilmu Komunikasi, terima kasih atas pengalaman yang telah kita jalani selama perkuliahan.

13. Kapada Rahmad Fauzul, Sandy, Andry dan teman-teman mahasiswa Tata Boga Universitas Negeri Medan, yang telah membantu proses penelitian peneliti.

14. Semua pihak yang tidak bisa peneliti sebutkan satu per satu, yang telah membantu dan memberikan semangat selama peneliti menyelesaikan penelitian ini.

Peneliti menyadari bahwa tulisan ini jauh dari kata sempurna, untuk itu dengan segala kerendahan hati peneliti berharap kritik dan saran yang dapat

(7)

membangun agar untuk perbaikan skripsi ini serta memperdalam pengetahuan dan pengalaman peneliti. Semoga skripsi ini dapat bermanfaat untuk pengembangan ilmu bagi kita semua.

Medan, 2018

Fitriani

(8)

HALAMAN PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI TUGAS AKHIR UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS

Sebagai civitas akademika Universitas Sumatera Utara, saya yang bertanda tangan di bawah ini :

Nama : Fitriani NIM : 140904006 Departemen : Ilmu Komunikasi

Fakultas : Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas : Universitas Sumatera Utara

Jenis Karya : Skripsi

Demikian pengembangan ilmu pengetahuan, menyetujui untuk memberikan kepada Universitas Sumatera Utara Hak Bebas Royalti Non Ekslusif (Nonekslusive Royalty- Free Right) atas karya ilmiah saya yang berjudul:

“Tayangan Chef’s Table dan Pemenuhan Kebutuhan Informasi(Studi Korelasional tentang Pengaruh Tayangan Chef’s Table di NET TV Terhadap Pemenuhan Kebutuhan Informasi bagi Mahasiswa Tata Boga Universitas Negeri Medan)”

Beserta perangkat yang ada (jika diperlukan). Dengan Hak Bebas Royalti Nonekslusif ini Universitas Sumatera Utara berhak menyimpan, merawat dan mempublikasikan tugas akhir saya tanpa meminta izin dari saya selama tetap mencantumkan nama saya sebagai penulis/ pencipta dan sebagai pemilik Hak Cipta.

Demikian pernyataan ini saya buat dengan sebenarnya.

Dibuat di : Medan Pada Tanggal :

Yang Menyatakan

Fitriani

(9)

ABSTRAK

Penelitian ini berjudul “Pengaruh Tayangan Chef’s Table di NET TV terhadap Pemenuhan Kebutuhan Informasi bagi Mahasiswa Tata Boga Universitas Negeri Medan”. Tujuannya adalah mengetahui sejauh mana mahasiswa Tata Boga Fakultas Teknik Universitas Negeri Medan mendeskripsikan tayangan Chef’s Table di NET TV, mengetahui sejauh mana kebutuhan informasi yang diperoleh mahasiswa Tata Boga Fakultas Teknik Universitas Negeri Medan setelah menonton tayangan Chef’s Table di NET TV, mengetahui sejauh mana pengaruh tayangan Chef’s Table di NET TV terhadap pemenuhan kebutuhan informasi bagi mahasiswa Tata Boga Fakultas Teknik Universitas Negeri Medan. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah Komunikasi Massa, Media Massa, Uses and Gratifications, Televisi dan Pemenuhan Kebutuhan Informasi. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini ialah metode korelasional, yaitu metode yang melihat sejauhmana pengaruh antara satu variabel terhadap variabel lainnya. Populasi dalam penelitian ini adalah mahasiswa S1 program studi Tata Boga Fakultas Teknik Universitas Negeri Medan angkatan 2015, 2016 dan 2017 yaitu sebanyak 165. Adapun cara yang digunakan peneliti dalam menentukan sampel adalah menggunakan rumus Slovin dengan presisi 10% , sehingga dapat diambil sampel dari total populasi sejumlah 62 orang. Teknik penarikan sampel yang digunakan adalah Sampel Stratifikasi Proporsional, yaitu teknik menggunakan rumus untuk mendapatkan berapa sampel dari masing-masing angkatan. Kemudian teknik penarikan sampel juga menggunakan Purposive Sampling dan Accidental Sampling. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kepustakaan dan kuesioner. Teknik analisis data menggunakan analisis tabel tunggal, analisis tabel silang dan uji hipotesis melalui rumus koefisien korelasi Rank Order oleh Spearman. Hasil uji korelasi diperoleh hasil rho = 0.703 dan berarti rs > 0 dengan demikian, Ho ditolak dan Ha diterima pada penelitian ini. Untuk melihat tinggi rendahnya korelasi menurut Guilford menunjukan bahwa kedua variabel memiliki hubungan yang cukup berarti, artinya terdapat hubungan yang cukup berarti antara tayangan Chef’s Table di NET TV terhadap pemenuhan kebutuhan informasi bagi mahasiswa Tata Boga Universitas Negeri Medan. Kemudian untuk mencari besar kekuatan prediksi hubungan antara variabel X dan variabel Y dari penelitian ini adalah sebesar 49%, dan 51% terdapat faktor-faktor lain yang tidak bias diukur pada penelitian ini. Dapat disimpulkan bahwa hasil penelitian menunjukan terdapat hubungan antara tayangan Chef’s Table terhadap pemenuhan kebutuhan informasi bagi mahasiswa Tata Boga Fakultas Teknik Universitas Negeri Medan.

Kata kunci:

Tayangan, Chef’s Table, Televisi, Kebutuhan Informasi

(10)

ABSTRACT

The tittle of this research is

"The Influence of Chef's Table Impressions on NET TV against Fulfillment of Information Needs for Catering Students of Medan State University". The goal is to know the extent of the influence Chef's Table impressions on NET TV to meet the needs of information for students Culinary Faculty of Engineering State University of Medan. The theory used in this research is Mass Communication, Mass Media, Uses and Gratifications, Television, Fulfillment of Information Needs. The method used in this research is correlation method, that is method which see how far influence between one variable to other variable.The population in this study are S1 students of Culinary Study Program of Faculty of Engineering, State University of Medan force 2015, 2016 and 2017 that is as much as 165.The way used by researchers in determining the sample is to use Slovin formula with a precision of 10%, so that samples can be taken from the total population of 62 people.The sampling technique used is the Proportional Stratification Sample, that is, the technique uses the formula to get how many samples from each force.Then the sampling technique also uses Purposive Sampling and Accidental Sampling.Data collection techniques used in this study is literature research and questionnaires.Data analysis technique using single table analysis, cross table analysis and hypothesis test through Rank Order correlation coefficient formula by Spearman.To see the strong weak correlation of both variables used Guilford scale. The results showed that there is a relationship between Chef's Table impressions on the fulfillment of information needs of students of Culinary Faculty of Engineering, State University of Medan.

Keywords:

Mass Communication, Television, Information Needs

(11)

DAFTRA ISI

LEMBAR PERSETUJUAN ... ii

LEMBAR PENGESAHAN ... iii

PERNYATAAN ORISINALITAS ... iv

KATA PENGANTAR ... v

HALAMAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH ... viii

ABSTRAK ... ix

ABSTRACT ... x

DAFTAR ISI ... xi

DAFTAR TABEL ... xiii

DAFTAR GAMBAR ... xv

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah ... 1

1.2 Perumusan Masalah ... 6

1.3 Pembatasan Masalah ... 6

1.4 Tujuan Penelitian ... 6

1.5 Manfaat Penelitian ... 7

BAB II URAIAN TEORITIS 2.1 Kerangka Teori ... 8

2.1.1 Komunikasi Massa ... 8

2.1.2 Media Massa ... 17

2.1.3 Teori Uses and Gratifications ... 18

2.1.4 Televisi ... 21

2.1.5 Pemenuhan Kebutuhan Informasi ... 26

2.2 Penelitian Terdahulu ... 27

2.3 Kerangka Konsep ... 29

2.4 Variabel Penelitian ... 29

2.5 Definisi Operasional ... 31

2.6 Hipotesis ... 34

BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Deskripsi Lokasi Penelitian ... 35

3.1.1 Lokasi Penelitian ... 35

3.1.2 Sejarah UNIMED ... 35

3.1.3 Sekilas Tentang NET TV ... 41

3.1.4 Chef’s Table ... 42

3.2 Populasi dan Sampel ... 43

(12)

3.2.1 Populasi ... 43

3.2.2 Sampel ... 43

3.3 Teknik Penarikan Sampel ... 44

3.4 Teknik Pengumpulan Data ... 46

3.5 Teknik Analisis Data ... 47

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Pelaksana Pengumpulan Data ... 49

4.2 Pengolahan Data ... 50

4.3 Analisis Tabel Tunggal ... 51

4.3.1 Karakteristik Responden ... 51

4.3.2 Variabel Bebas ... 54

4.3.3 Variabel Terikat ... 70

4.4 Analisis Tabel Silang ... 80

4.5 Uji Hipotesis ... 84

4.6 Pembahasan ... 87

BAB V PENUTUP 5.1 Simpulan ... 91

5.2 Saran ... 92

DAFTAR REFERENSI ... 93 LAMPIRAN

(13)

DAFTAR TABEL

Nomor Judul Halaman

2.1 Fungsi Komunikasi Massa ... 13

2.2 Variabel Operasional ... 31

3.1 Jumlah Mahasiswa Aktif Program Studi Tata Boga ... 42

3.2 Jumlah Sampel ... 46

4.1 Jenis Kelamin ... 52

4.2 Angkatan ... 53

4.3 Suku ... 53

4.4 Uang Saku ... 54

4.5 Kompetensi: Penguasaan Materi ... 55

4.6 Kompetensi: Keterampilan Membawakan Materi ... 56

4.7 Kompetensi: Kemampuan Platting ... 56

4.8 Kompetensi: Kemampuan Slicing ... 57

4.9 Kompetensi: Kejelasan Suara dan Artikulasi ... 58

4.10 Kompetensi: Penggunaan Bahasa ... 58

4.11 Sikap Pembawa Acara ... 59

4.12 Keperibadian Pembawa Acara ... 60

4. 13 Dinamika Pembawa Acara ... 61

4.14 Daya Tarik: Kesamaan ... 61

4.15 Daya Tarik: Dikenal ... 62

4.16 Daya Tarik: Fisik/ Penampilan ... 63

4.17 Kekuatan/ Power ... 64

4.18 Topik yang Dibawakan ... 64

4.19 Informasi Kuliner Nusantara ... 65

4.20 Informasi Kuliner Internasional ... 66

4.21 Pengemasan pada Tayangan ... 66

4.22 Audio atau Musik ... 67

(14)

4.23 Frekuensi Penayangan Chef’s Table ... 68

4.24 Durasi Penayangan Chef’s Table ... 68

4.25 Frekuensi Mahasiswa Menonton ... 69

4.26 Durasi Menonton Per-menit ... 70

4.27 Kebutuhan Kognitif: Mendapatkan Informasi ... 71

4.28 Kebutuhan Kognitif: Kebutuhan Informasi Terpenuhi .... 71

4.29 Membantu Mengenali Kuliner Nusantara ... 72

4.30 Membantu Mengenali Kuliner Internasional ... 73

4.31 Mengenali Perangkat Masak ... 73

4.32 Mengetahui Manfaat Bahan Masakan ... 74

4.33 Mempengaruhi Teknik Memasak ... 75

4.34 Kemampuan Platting ... 76

4.35 Kemampuan Slicing ... 77

4.36 Keterlibatan Mahasiswa ... 78

4.37 Mendiskusikan ... 78

4.38 Membagikan Kemedia Sosial ... 79

4.39 Menghilangkan Rasa Bosan ... 80

4.40 Mengisi Waktu Luang ... 80

4.41 Kebutuhan Hiburan ... 81

4.42 AnalisiS Tabel Silang Per-1 ... 82

4.43 Analisis Tabel Silang ke-2 ... 83

4.44 Analisis Tabel Silang ke-3 ... 85

4.45 Uji Hipotesis ... 86

(15)

DAFTAR GAMBAR

Nomor Judul Halaman

2.1 Proses Komunikasi Massa ... 16 2.2 Teori Uses and Gratifications ... 22 2.3 Kerangka Konsep ... 30

(16)

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah

Sebagai makhluk sosial manusia senantiasa ingin berhubungan dengan manusia lainnya. Ingin mengetahui lingkungan sekitarnya, bahkan ingin mengetahui apa yang terjadi dalam dirinya. Rasa ingin tahu ini memaksa manusia perlu berkomunikasi (Cangara, 2007: 1).

Komunikasi merupakan elemen terpenting yang sangat dibutuhkan oleh setiap manusia. Tanpa adanya komunikasi, maka setiap individu tidak akan dapat berinteraksi satu sama lain. Dengan adanya komunikasi memungkinkan adanya pertukaran informasi, perasaan, keinginan yang pada akhirnya akan menentukan perkembangan seseorang dan dunia sekitarnya.

Ditengah perkembangan dunia teknologi dan informasi memberikan banyak kemajuan dan perubahan pada setiap bidang kehidupan manusia. Seperti dalam dunia kesehatan, yang mana sudah banyak tersedia peralatan canggih yang dapat digunakan untuk mengobati berbagai macam penyakit. Perubahan yang tidak kalah hebatnya juga terjadi dalam bidang komunikasi. Perkembangan teknologi yang pesat membuat banyak media baru bermunculan. Media tersebut memudahkan masyarakat untuk berkomunikasi serta menyampaikan dan menerima informasi.

Media massa merupakan bagian yang tidak terpisahkan dengan komunikasi massa. Tanpa adanya media massa pesan yang akan disampaikan dan diterima khalayak luas tidak akan tersampaikan dengan baik. Dengan demikian media massa dapat dikatakan perpanjangan tangan dan lidah manusia yang sangat berjasa dalam meningkatkan pengembangan struktur sosialnya.

Komunikasi massa adalah suatu bentuk komunikasi yang menggunakan saluran (media) dalam menghubungkan komunikator dan komunikan secara massal, berjumlah banyak, bertempat tinggal yang jauh, sangat heterogen dan menimbulkan efek tertentu (Ardianto, 2004:3).

Pesan komunikasi massa berlangsung satu arah dan tanggapan baliknya lambat (tertunda) dan sangat terbatas. Akan tetapi dengan perkembangan teknologi komunikasi yang begitu cepat, khusunya media massa elektronik seperti

(17)

radio dan televisi, maka umpan balik dari khalayak bisa dilakukan dengan cepat kepada penyiar, melalui program interaktif (Cangara, 2007: 37).

Dalam bahasa latin televisi berasal dari kata tele yang artinya “jarak” dan visi artinya”citra atau gambar”, jadi kata televisi dapat diartikan suatu sistem penyajian gambar dari suatu tempat yang berjarak jauh. Televisi dalam bahasa inggris disebut television. Television terdiri dari kata tele yang artinya “jauh” dan vision yang berarti “penglihatan”. Jadi dapat disimpulkan bahwa televisi merupakan media komunikasi massa yang memiliki perpaduan antara audio dan visual, yang mana masyarakat dapat mendengar melalui audio dan melihat melalui visual (Effendy, 2003:174).

Media saat ini telah menjadi suatu kebutuhan utama bagi kehidupan manusia disetiap lapisan masyarakat. Pesatnya industri pertelevisian tentunya dipengaruhi oleh berbagai kebutuhan masyarakat. Pada umumnya setiap individu memiliki kebutuhan mendasar yang berbeda, berdasarkan pengalamannya.

Seseorang berharap bahwa konsumsi atau penggunaan media tertentu akan memberikan sejumlah pemenuhan informasi bagi kebutuhannya. Hal ini akan membuatnya menonton acara televisi tertentu, membaca artikel tertentu dalam majalah dan lain sebagainya. Dalam beberapa kasus, aktivitas ini dapat menghasilkan suatu pemenuhan kebutuhan, namun pada saat yang bersamaan aktivitas ini juga menciptakan ketergantungan pada media massa tertentu.

Berbagai penggunaan dan pemuasan terhadap media dapat dikelompokan kedalam empat tujuan yaitu, pengetahuan, hiburan, kepentingan sosial dan pelarian. Dari berbagai macam kebutuhan tersebut pada umumnya masyarakat menggunakan media massa untuk memenuhi kebutuhannya akan pengetahuan atau informasi dalam artian untuk mengetahui sesuatu atau memperoleh informasi tentang sesuatu (Morissan, 2015: 26).

Informasi yang didapat melalui televisi atau media apapun merupakan suatu kebutuhan setiap manusia. Melalui media massa informasi akan tersampaikan kepada khalayak luas. Informasi juga dapat diartikan sebagai data yang telah diolah menjadi suatu bentuk yang penting bagi si penerima dan mempunyai nilai yang nyata yang dapat dirasakan dalam keputusan-keputusan yang sekarang atau keputusan yang akan datang.

(18)

Kurangnya tingkat pengetahuan seseorang menjadi pemicu bagi orang tersebut membutuhkan suatu informasi. Dengan menguasai suatu informasi ada kepuasan tersendiri yang akan dirasakan, dan mudahnya berinteraksi dengan siapa saja.

Televisi dengan kemampuannya mengatasi keterbatasan ruang, jarak dan waktu dapat mengirimkan banyak informasi pada massa yang tidak sedikit jumlahnya. Disamping itu, informasi yang disampaikan juga dipertegas dengan adanya gambar, warna yang jelas dan suara sehingga pencapaian tujuan komunikasi semakin besar.

Setiap stasiun televisi senantiasa menyuguhkan tayangan terbaik mereka, mulai yang dikemas khusus sesuai kelompok untuk anak, remaja, dewasa, bimbingan orang tua, maupun semua umur. Sesuai dengan UU nomor 32 tahun 2002 tentang penyiaran, pada pasal 13 ayat (2) tercantum jelas bahwa jasa penyiaran diselenggarakan oleh empat lembaga yakni lembaga penyiaran, publik, lembaga penyiaran swasta, lembaga penyiaran komunitas, dan lembaga penyiaran berlangganan. Dari pengelompokan tersebut maka di Indonesia sendiri perkembangan industri kini telah ada 15 stasiun televisi swasta yang berkala nasional yakni, TVRI, RCTI, GTV, MNCTV, iNews, SCTV, Indosiar, antv, tvOne, MetroTV, Trans7, TransTV, RTV, Kompas TV dan NET TV.

Dilihat dari sejarah perkembangan media massa televisi merupakan jenis media massa yang paling populer. Televisi merupakan media audio visual yang mampu memberikan informasi secara cepat, lebih murah, dan lebih menarik.

Penyatuan gambar dan suara membuat televisi menjadi media massa yang mampu menarik perhatian masyarakat luas. Televisi juga merupakan sumber informasi utama bagi seseorang untuk belajar tentang masyarakat, nilai-nilai budaya dan adat istiadat serta kebiasaan (Purba, 2006:58).

Sejalan dengan perkembangan media massa, televisi di Indonesia juga mengalami perkembangan yang sangat pesat. Hal ini dapat dilihat semakin banyaknya stasiun televisi yang meramaikan perindustrian televisi. Tidak hanya itu, perkembangan televisi juga dilihat dari tayangan yang cukup beragam.

Melihat kebutuhan masyarakat mengenai suatu informasi yang sangat beragam, hal tersebut memicu para industri televisi berusaha memberikan tayangan yang

(19)

terbaik agar dapat memenuhi kebutuhan informasi khalayak. Mengingat keterbatasan setiap stasiun televisi untuk mencakup seluruh kebutuhan dari setiap lapisan masyarakat, maka NET TV sebagai salah satu stasiun televisi di Indonesia, memberikan bermacam program acara sesuai dengan kebutuhan penontonnya.

NET TV yang akrab disapa dengan sebutan televisi masa kini merupakan salah satu alternatif tontonan hiburan layar kaca. Di usia yang baru menginjak lima tahun NET TV mampu memberikan tayangan-tayangan yang berkualitas kepada penontonnya, sampai saat ini NET TV sudah memiliki 43 program yang tayang setiap harinya.

NET TV sendiri resmi mengudara pada tanggal 26 Mei 2013, setelah sebelumnya menjalani siaran percobaan sejak tanggal 18 Mei 2013. NET TV lebih memfokuskan pada acara hiburan yang juga terdapat edukasi didalamnya.

Salah satunya ialah program acara yang menyajikan informasi mengenai kuliner.

Tidak hanya itu, NET TV juga memberikan kemudahan bagi seluruh masyarakat yang ingin menjadi jurnalis, dengan adanya Citizen Journalism (CJ). Hal tersebut juga disambut masyarakat dengan positif, dengan begitu masyarakat sangat mudah untuk mengirimkan informasi ke NET TV. Biasanya informasi yang dikirim oleh masyarakat atau CJ berupa informasi wisata, tempat nongkrong dan lainnya sebagainya.

rating merupakan hal yang penting bagi suatu stasiun televisi, karena dengan rating yang tinggi akan menarik perusahaan-perusahaan untuk beriklan.

Iklan sendiri merupakan hal yang sangat penting bagi setiap stasiun televisi, tanpa ada iklan suatu media mungkin tidak akan dapat berkembang. Sebagai stasiun televisi yang masih belia, mendapatkan rating bukan hal yang mudah bagi NET TV. Tayangan, merupakan salah satu faktor pendukung untuk mendapatkan rating yang tinggi, sinetron salah satu contohnya. Namun bagaimana dengan NET TV yang tidak memproduksi sinetron?. Meskipun rating yang diperoleh NET TV hanya pada angka 3.1%. NET tetap memiliki eksistensi bagi para penonton setianya, misalnya saja penonton Chef’S Table.

Chef’s Table merupakan acara cooking show yang dibawakan oleh chef Chandra yang dikemas dengan tampilan fancy food ditambah reality, dimana chef Chandra akan invite langsung guest (artis dan public figure) untuk hadir di Chef’s

(20)

Table. Tayangan Chef’s Table sendiri di produksi mulai 1 Januari 2014 sampai sekarang, dengan durasi selama 30 menit, dan hanya tayang di hari Sabtu dan Minggu pukul 15.00 Wib.

Tidak hanya menyuguhkan informasi dan edukasi mengenai dunia masak- memasak. Tayangan Chef’s Table juga dikemas semenarik mungkin dengan tampilan audio visual yang sangat modern, agar tidak terlihata kaku oleh khalayak yang menontonnya. Dalam acara ini, chef akan memberikan beberapa resep menu yang dibuatnya. Tidak hanya itu tayangan Chef’s Table juga memberikan informasi terkait manfaat bahan masakan yang digunakan. Tayangan tersebut juga dapat menambah pengetahuan kita bagaimana menata makanan agar terlihat menarik.

Universitas Negeri Medan (UNIMED) merupakan salah satu perguruan tinggi negeri yang ada di Sumatera Utara. UNIMED memiliki tujuh fakultas diantaranya ialah Fakultas Ilmu Pendidikan, Fakultas Bahasa dan Seni, Fakultas Ilmu Sosial, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Fakultas Ilmu Keolahragaan, Fakultas Bisnis dan Fakultas Teknik. Di Fakultas Teknik sendiri memiliki tujuh program studi, salah satunya program studi Tata Boga.

Program studi Tata Boga Fakultas Teknik UNIMED merupakan akademi yang erat hubungannya dengan dunia masak-memasak. Kebutuhan akan informasi seputar masak-memasak merupakan hal yang penting agar dapat mendukung setiap mahasiswa dalam dunia pendidikan yang sedang dijalaninya. Mahasiswa Tata Boga Fakultas Teknik UNIMED juga memiliki perhatian khusus kepada setiap tayangan yang membahas informasi seputar dunia masak-memasak yang dapat meningkatkan pengetahuannya, juga nantinya dapat dibawa kedalam dunia kerja. Tidak menutup kemungkinan bahwa mahasiswa jurusan Tata Boga juga tertarik pada tayangan Chef’s Table yang memang disajikan untuk membahas seputar informasi tentang dunia masak memasak. Dengan demikian, Tayangan tersebut bisa menambah pengetahuan mahasiswa jurusan Tata Boga tentang dunia kuliner di Indonesia khususnya, dan di dunia global pada umumnya.

Berdasarkan uraian diatas, peneliti tertarik untuk meneliti “Pengaruh Tayangan Chef’s Table di NET TV Terhadap Pemenuhan Kebutuhan Informasi Bagi Mahasiswa Tata Boga Universitas Negeri Medan”.

(21)

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang diuraikan, maka masalah yang akan diteliti dapat dirumuskan sebagai berikut, “Sejauhmana Pengaruh Tayangan Chef’s Table di NET TV Terhadap Pemenuhan Kebutuhan Informasi Bagi Mahasiswa Tata Boga Universitas Negeri Medan”.

1.3 Pembatasan Masalah

Menghindari ruang lingkup penelitian yang terlalu luas sehingga dapat mengaburkan penelitian, maka diperlukan batasan masalah. Adapun batasan masalah dalam penelitian ini adalah:

1. Objek penelitian ini adalah mahasiswa Tata Boga Fakultas Teknik UNIMED Program S-1 angkatan 2015, 2016 dan 2017 yang masih aktif kuliah dan menonton tayangan Chef’s Table di NET TV.

2. Penelitian ini untuk melihat pengaruh tayangan Chef’s Table di NET TV dalam pemenuhan kebutuhan informasi bagi mahasiswa Tata Boga Fakultas Teknik UNIMED.

1.4 Tujuan Penelitian

Adapun tujuan penelitian ini adalah:

1. Mengetahui sejauhmana mahasiswa Tata Boga Fakultas Teknik Universitas Negeri Medan mendeskripsikan tayangan Chef’s Table di NET TV.

2. Mengetahui sejauhmana kebutuhan informasi yang diperoleh mahasiswa Tata Boga Fakultas Teknik Universitas Negeri Medan setelah menonton tayangan Chef’s Table di NET TV.

3. Mengetahui sejauhmana pengaruh tayangan Chef’s Table di NET TV terhadap pemenuhan kebutuhan informasi bagi mahasiswa Tata Boga Fakultas Teknik Universitas Negeri Medan”.

1.5 Manfaat Penelitian

Manfaat yang diharapkan melalui penelitian ini adalah sebagai berikut:

a. Secara Akademis

(22)

Penelitian ini diharapkan dapat memperkaya khasanah penelitian dalam bidang ilmu komunikasi khususnya, dan sebagai sumber referensi terhadap penelitian yang memiliki tema yang sama dikalangan mahasiswa Ilmu Komunikasi

b. Secara Teoritis

Penelitian ini diharapkan dapat menambah pengetahuan dan wawasan peneliti terhadap penelitian komunikasi, khususnya dalam pembahasan komunikasi massa dan juga dapat dijadikan rujukan bagi peneliti selanjutnya.

c. Secara Praktis

Penelitian ini diharapkan dapat menjadi masukan bagi pihak-pihak yang membutuhkan pengetahuan yang berkenaan dengan tema penelitian.

(23)

BAB II

URAIAN TEORITIS 2.1 Kerangka Teori

Teori merupakan perangkat yang vital dalam menentukan arah sebuah pemecahan masalah dalam penelitian. Peneliti akan mampu memahami, memprediksi dan menjelaskan sebuah permasalahan dengan terlebih dahulu memahami teori merupakan serangkaian asumsi, konsep, konstrak, definisi dan proposisi untuk menerangkan suatu fenomena sosial secara sistematis dengan cara menghubungkan antar konsep (Singarimbun, 2008:37).

Teori sebagai salah satu landasan pemikiran yang menunjukkan dari sudut mana peneliti menyoroti masalah yang akan diteliti. Kerangka teori dibuat berdasarkan teori-teori yang sudah ada atau berdasarkan pemikiran logis yang dibangun oleh peneliti sendiri.

Wilbur Schramm mengatakan bahwa teori merupakan suatu perangkat pernyataan yang saling berkaitan, pada abstraksi dengan kadar yang tinggi, dan proposisi bisa dihasilkan dan diuji secara ilmiah, dan pada landasannya dapat dilakukan prediksi mengenai perilaku, dalam (Effendy, 2003:241).

Adapun teori yang relevan untuk penelitian ini adalah Teori Komunikasi Massa, Media Massa, Uses and Gratifications, Televisi, Pemenuhan Kebutuhan Informasi.

2.1.1 Komunikasi Massa

Ruang lingkup ilmu komunikasi tidak bisa terlepas dari bentuk-bentuk komunikasi yang dimiliki. Beberapa bentuk komunikasi terdiri dari, komunikasi antarpribadi, komunikasi antarbudaya, komunikasi organisasi, komunikasi politik dan komunikasi massa. Masing-masing bentuk komunikasi ini memiliki karakteristik dan cara sudut pandang tersendiri dalam melihat dua orang atau bahkan lebih indidividu yang terlibat dalam interaksi.

Komunikasi massamerupakan suatu studi ilmiah tentang media massa beserta pesan yang dihasilkan, pembaca/pendengar/penonton yang akan coba diraih dan efeknya terhadap mereka. Komunikasi massa juga merupakan

(24)

pengembangan dari kata media of mass communication atau media komunikasi massa (Nurudin, 2004:1).

Adapun defenisi komunikasi massa yang paling sederhana dikemukakan oleh Bittner yakni komunikasi massa adalah pesan yang dikomunikasikan melalui media massa pada sejumlah besar orang (mass communication is messages communicated through a mass medium to a large number of people). Gerbner juga mendefinisikan komunikasi massa secara lebih rinci, yaitu “mass communication is the tehnologically and institutionally based production and distribution of the most broadly shared continuous flow of message in industrial societies” (komunikasi massa adalah produksi dan distribusi yang berlandaskan teknologi dan lembaga dari arus pesan yang kontinyu serta paling luas dimiliki orang dalam masyarakat industri).

Definisi komunikasi massa menurut Freidson, dibedakan dari jenis komunikasi lainnya dengan suatu kenyataan bahwa komunikasi massa ditujukan kepada sejumlah populasi yang dari berbagai kelompok, dan tidak hanya satu atau beberapa individu. Komunikasi massa juga memiliki anggapan tersirat akan adanya alat-alat khusus untuk meyampaikan komunikasi agar komunikasi itu mencapai kesemua orang pada waktu yang sama dari berbagai lapisan (Ardianto, 2004: 4).

Dari banyak keragaman dan titik tekan yang dikemukakan oleh para ahli didalam mendefinisikan komunikasi massa terdapat kesamaan yang saling melengkapi. Pada dasarnya, komunikasi massa merupakan komunikasi yang dilakukan dengan media massa sebagai salurannya untuk menyampaikan informasi kepada khalayak luas.

Jadi, komunikasi massa merupakan suatu proses komunikasi dalam menyampaikan pesan memerlukan alat bantu (media) untuk menghubungkan komunikator dan komunikan yang sifatnya luas dan heterogen. Selain itu, pesan yang disampaikan cenderung bersifat terbuka dan umum.

A. Ciri-Ciri Komunikasi Massa

Banyaknya keberagaman tentang pengertian komunikasi massa yang dikemukaan oleh para ahli, kita dapat mengetahui karakteristik atau ciri-ciri dari komunikasi massa. Komunikasi massa dengan komunikasi lainnya tentulah tidak sama. Perbedaan itu meliputi komponen-komponen dan proses berlangsungnya komunikasi, namun untuk melihat agar karakteristik komunikasi massa tampak jelas perlu dibandingkan dengan komunikasi antarpersonal. Adapun ciri-ciri komunikasi massa secara umum, antara lain:

1. Komunikator dalam komunikasi massa bersifat melembaga.

(25)

Komunikator didalam komunikasi massa merupakan kumpulan orang-orang atau gabungan dari berbagai macam unsur dan bekerja sama dalam sebuah lembaga. Lembaga yang dimaksud merupakan sebuah sistem yang melakukan suatu kegiatan mengolah, menyimpan, menuangkan ide, gagasan, simbol. Lambang menjadi pesan dalam membuat keputusan untuk mencapai kesepakatan dan saling pengertian satu sama lain dengan mengolah pesan itu menjadi sumber informasi.

Sistem didalam komunikasi massa biasanya bersifat interpendensi, artinya saling adanya keterkaitan, berinteraksi dan berinterdependensi secara keseluruhan. Lembaga media massa adalah sebuah komunikator dalam komunikasi massa artinya, komunikator bukan orang perorangan seperti wartawan.

2. Komunikan dalam komunikasi massa bersifat heterogen.

Komunikan dalam komunikasi massa bersifat heterogen, artinya penonton, pembaca, atau pengguna memiliki keberagaman pendidikan, umur, jenis kelamin, status sosial ekonomi, jabatan yang beragam dan agama.

Herbert Blumer memberikan ciri tentang karakteristik audience/

komunikan sebagai berikut:

a. Audience dalam komunikasi massa sangat heterogen. Artinya, ia mempunyai heterogenitas komposisi atau susunan. Jika ditinjau dari asalnya.

b. Berisi individu-individu yang tidak saling mengenal satu sama lain, tidak saling berinteraksi secara langsung.

c. Mereka tidak mempunyai kepemimpinan atau organisasi formal.

3. Pesannya bersifat umum

Pesan-pesan dalam komunikasi massa tidak ditunjukan kepada satu orang, melainkan kesejumlah orang/ khalayak yang plural. Artinya, pesan- pesan yang dikemukakan tidak bersifat khusus atau disengaja untuk golongan tertentu.

4. Komunikasinya berlangsung satu arah.

Dalam membaca koran, seorang komunikan tentunya menerima informasi dari media yang ia baca, proses komunikan membaca dinamakan komunikasi satu arah, yakni dari media massa ke komunikan tanpa adanya feedback atau umpan balik. Namun, seiring perkembangan dunia teknologi feedback pada komunikasi massa bersifat tertunda atau tidak langsung.

5. Komunikasi massa menimbulkan keserempakan.

Dalam komunikasi massa sifat audience yang heterogen dan pesan yang umum, menciptakan proses penyampaian pesan secara bersamaan tanpa disadari. Artinya, ketika ada ribuan masyarakat Indonesia sedang menonton berita yang sama maka pesan atau informasi mengenai pemberitaan tersebut akan diterima oleh ribuan masyarakat Indonesia yang sedang menonton hal ini yang menimbulkan bahwa komunikasi massa dapat menciptakan keserempakan.

6. Komunikasi massa mengandalkan peralatan teknis.

Komunikasi massa sebagai alat utama dalam menyampaikan pesan kepada khalayak sangat membutuhkan bantuan peralatan teknis. Seperti

(26)

media televisi dalam menyampaikan sebuah informasi kepada khalayak luas tentunya tidak terlepas dari peran peralatan teknis seperti pemancar agar dapat disebarkan kepada masyarakat luas.

7. Komunikasi massa dikontrol oleh gatekeeper

Gatekeeper adalah orang yang berperan dalam penyebaran informasi didalam media massa. Fungsi gatekeeperadalah sebagai orang yang ikut menambah atau mengurangi informasi. Menyederhanakan, mengemas agar semua informasi yang disebarkan lebih mudah dipahami.

Gatekeeper yang dimaksud antara lain reporter, editor film atau surat kabar atau buku, manajer penerbitan, cameramen, sutradara, dan lembaga sensor yang semua mempengaruhi bahan-bahan yang akan dikemas dalam sebuah pesan-pesan dari media massa (Nurudin, 2004: 16).

B. Fungsi Komunikasi Massa

Didalam membahas fungsi komunikasi massa perlu diingat banyaknya pendapat dari para ahli. Hal ini dikarenakan komunikasi massa merupakan komunikasi yang tidak terlepas dari penggunaan media massa. Dengan begitu peran dan fungsi komunikasi tidak akan ditemukan tanpa ada media massa.

Adapun fungsi-fungsi dari komunikasi massa secara umum (Bungin, 2008:78-81). Sebagai berikut:

1. Fungsi Pengawasan

Media massa merupakan sebuah medium dimana dapat digunakan untuk penjawab terhadap aktivitas masyarakat pada umumnya. Fungsi pengawasan ini bisa berupa peringatan dan kontrol sosial maupun kegiatan persuasif.

2. Fungsi Sosial Learning

Fungsi utama dari komunikasi massa melalui media massa dalam memberikan pendidikan sosial kepada seluruh masyarakat. Media massa bertugas untuk memberikan pencerahan-pencerahan kepada masyarakat, dan proses komunikasi yang terjadi diharapkan berlangsung efektif dan efisien dan menyebar secara bersama dimasyarakat secara luas.

3. Fungsi Menyampaikan Informasi

Komunikasi yang mengandalkan media massa, memiliki fungsi utama, yakni menjadi proses penyampaian informasi kepada masyarakat luas.

Dengan begitu informasi dari institusi publik tersampaikan kepada masyarakat secara luas dalam waktu cepat sehingga fungsi informatif tercapai dalam waktu cepat dan singkat.

4. Fungsi Transformasi Budaya

Fungsi informatif adalah fungsi-fungsi yang bersifat statis, namun fungsi- fungsi lain yang lebih dinamis adalah fungsi transformasi budaya.

Komunikasi massa sebagaimana sifat-sifat budaya massa, maka yang terpenting adalah komunikasi massa menjadi proses transformasi budaya yang dilakukan bersama-sama oleh semua komponen komunikasi massa terutama yang didukung oleh media massa.

(27)

5. Hiburan

Fungsi lain komunikasi massa adalah hiburan, bahwa seirama dengan fungsi-fungsi lain, komunikasi massa juga digunakan sebagai medium hiburan yang ada pada media massa juga merupakan bagian dari fungsi komunikasi massa.

Untuk lebih memperjelas fungsi komunikasi massa, Alexis S Tan menyederhanakannya kedalam tabel, sebagai berikut:

Tabel 2.1

Fungsi Komunikasi Massa

(sumber: Nurudin, 2004:63)

C. Unsur-unsur Komunikasi Massa

Komunikasi massa merupakan komunikasi yang mencakup pada khalayak luas dengan menggunakan saluran didalam penyampaian pesan. Dalam komunikasi massa terdapat unsur-unsur yang saling berkaitan satu sama lain.

Unsur-unsur yang dimiliki dalam komunikasi massa, antara lain:

1. Komunikator

Komunikator didalam komunikasi massa adalah pihak yang mengandalkan media massa dengan teknologi modern sehingga dalam menyebarkan informasi dapat dengan cepat ditangkap publik.

Komunikator juga berperan sebagai sumber pemberitaan yang mewakili institusi. Dalam hal ini sesuai dengan karakteristik komunikasi massa bahwa komunikator berasal dari suatu lembaga yang mempunyai tujuan untuk mencari keuntungan (Bungin, 2008:71).

No Tujuan Komunikator Tujuan Komunikan (Menyesuaikan Diri Pada Sistem Pemuas Kebutuhan)

1 Memberikan Informasi

Memberikan ancaman dan peluang, memahami lingkungan, menguji kenyataan, meraih keputusan.

2 Mendidik

Memperoleh pengetahuan dan keterampilan yang berguna memfungsikan dirinya secara efektif dalam masyarakatnya, mempelajari nilai, tingkah laku yang cocok agar diterima masyarakat.

3 Mempersuasi

Memberi keputusan, mengadopsi nilai, tingkah laku dan aturan yang cocok agar diterima di masyarakat.

4

Menyenangkan,

memuaskan kebutuhan informasi

Mengembirakan: mengendorkan urat syaraf;

menghibur, mengalihkan perhatian dari masalah yang dihadapi.

(28)

Komunikator Sebagai pelaku utama dalam proses komunikasi memegang peran penting, terutama dalam mengendalikan jalannya komunikasi. Untuk itu, seorang komunikator harus terampil dalam berkomunikasi dan juga kaya ide serta penuh dengan kreativitas. Ada beberapa syarat yang harus dimiliki seorang komunikator, yaitu:

a. Kepercayaan (Credibility)

Kredibilitas adalah seperangkat persepsi tentang kelebihan- kelebihan yang dimiliki oleh seorang komunikator sehingga diterima atau diikuti oleh khalayak (penerima). Kredibilitas menurut Aritoteles jika seorang komunikator memiliki ethos, pathos, dan logos.

- Ethos, adalah kekuatan yang dimiliki pembicara dari karakter pribadinya, sehingga ucapannya dapat dipercaya.

- Pathos, adalah kekuatan yang dimiliki seorang pembicara dalam mengendalikan emosi pendengarannya.

- Logos, adalah kekuatan yang dimiliki komunikator melalui argumentasinya.

Kredibelitas seorang pembicara atau penulis bisa diperoleh, bila ia memiliki keterampilan berkomunikasi secara lisan atau tertulis (communication skills), pengetahuan yang luas tentang apa yang dibahasnya (knowledge), sikap jujur dan bersahabat (attitude), serta mampu beradaptasi dengan sistem sosial dan budaya (social and cultural system) dimana khalayaknya berada.

b. Daya tarik (Attractiveness)

Daya tarik merupakan salah satu faktor yang harus dimiliki oleh seseorang komunikator. Faktor daya tarik (attractiveness) banyak menentukan berhasil tidaknya komunikasi. Pendengar atau pembaca bisa saja mengikuti pandangan seorang komunikator, karena ia memiliki daya tarik dalam hal, sebagai berikut:

- Faktor kesamaan (similarity), Kesamaan disini maksudnya adalah bahwa orang bisa tertarik pada komunikator karena adanya kesamaan demografis, seperti bahasa, agama, suku, daerah asal, partai atau ideologi.

- Faktor diikenal baik (familiarity), dikenal maksudnya seorang komunikator yang dikenal baik lebih cepat diterima oleh khalayak daripada mereka yang tidak dikenal.

- Faktor disukai (liking), menyukai artinya komunikator yang memiliki kesamaan dan sudah dikenal, pada akhirnya akan disenangi oleh khalayak. Seorang pendengar, penonton, atau pembaca yang menyukai dan menganggap si komunikator sebagai idolanya, akan mudah masuk dalam pengaruh orang yang disenanginya.

- Faktor fisik (physic), penampilan fisik atau postur badan, sangat mempengaruhi seorang pendengar, penonton, atau pembaca menerima pesan yang disampaikan oleh komunikator tersebut. jika penampilan dari seorang komunikator menarik maka akan jauh lebih mudah untuk menggugah pendapat dan sikap seseorang. Oleh karena itu, seorang juru penerangan, petugas hubungan masyarakat, pramuniaga,

(29)

disyaratkan memiliki bentuk fisik yang menarik selain keterampilan berkomunikasi.

c. Kekuatan (Power)

Kekuatan ialah kepercayaan diri yang harus dimiliki seorang komunikator jika ia ingin mempengaruhi orang lain. Kekuatan bisa juga diartikan sebagai kekuasaan dimana khalayak dengan mudah menerima suatu pendapat, jika yang menyampaikan orang yang memiliki kekuasaan.

2. Informasi massa

Informasi massa adalah informasi yang diperuntukan kepada masyarakat secara masal, bukan dikonsumsi secara pribadi. Informasi atau pesan bisa berupa simbol maupun kode verbal dan nonverbal. Simbol adalah lambang yang memiliki suatu objek, simbol-simbol yang digunakan selain sudah ada yang diterima menurut konvensi internasional, seperti simbol lalu lintas, alphabet, simbol matematika, juga terdapat simbol-simbol lokal yang hanya bisa dimengerti oleh kelompok-kelompok masyarakat tertentu. kode verbal adalah seperangkat simbol yang telah disusun secara sistematis dan teratur sehingga memiliki arti, dalam pemakaiannya kode verbal menggunakan bahasa. Sedangkan kode nonverbal biasa disebut bahasa isyarat atau bahasa diam (silent language)(Cangara, 2007: 91-103).

3. Media massa

Media massa adalah alat yang digunakan sebagai saluran untuk menyampaikan informasi kepada khalayak luas, dimana khalayak dapat melihat dan memahaminya dimana saja dan kapan saja. Media komunikasi dan informasi yang melakukan penyebaran informasi secara masal dan dapat diakses masyarakat.

4. Gatekeeper

Gatekeeper adalah penyeleksi informasi sebelum sebuah informasi tersebut dipublikasikan kemasyarakat secara luas.

5. Khalayak

Khalayak merupakan massa/masyarakat/publik yang menerima informasi dari media massa.

6. Feedback

Feedback atau umpan balik dalam komunikasi massa umumnya bersifat tertunda, namun seiring dengan perkembangan teknologi kini umpan balik dalam komunikasi yang bersifat tertunda mulai ditinggalkan (Bungin, 2008: 72).

D. Proses Komunikasi Massa

Dalam operasionalnya, proses memerlukan berbagai komponen (elemen) penunjang. Demikian pula dengan komunikasi yang pada hakikatnya merupakan suatu proses, berlangsungnya komunikasi sudah pasti memerlukan berbagai komponen (elemen).

(30)

Wilbur Schramm mengatakan bahwa untuk berlangsungnya suatu kegiatan komunikasi, minimal diperlukan tiga komponen yaitu source, message, destination atau komunikator, pesan, komunikan. Namun demikian, selain ketiga komponen tersebut masih terdapat komponen lainnya yang berfungsi sebagai pelengkap. Artinya, jika komponen tersebut tidak ada maka, tidak akan berpengaruh terhadap komponen lainnya. Dengan demikian, komponen- komponen utama (komunikator-pesan-komunikan) harus ada pada proses komunikasi, baik itu komunikasi antarpersonal (interpersonal), kelompok, maupun komunikasi massa.

Harold D Lasswell mengemukan suatu ungkapan yang sangat terkenal dalam teori dan penelitian komunikasi massa. Ungkapan tersebut merupakan suatu formula dalam menentukan scientific study dari suatu proses komunikasi massa dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan sebagai berikut: who (siapa), sayswhat (berkata apa), in which channel (melalui saluran apa), to whom (kepada siapa) dan with what effect (dengan efek apa) dalam (Ardianto, 2004:33).

Selain komponen-komponen yang telah diuraikan oleh Harold D Lasswell, masih diperlukannya komponen lain sebagai persyaratan yang melengkapi terjadinya suatu proses komunikasi massa.

Beberapa perbandingkan antar formula Lasswell dengan formula lainnya, selanjutnya akan dikemukakan oleh Cloude D Shannon dan Warren weaver dalam bukunya “Theories of Mass Communication” digambarkan sebagai proses linier dan searah. Pesan diumpamakan mengalir dari sumber informasi (information source) melalui beberapa komponen sehingga menuju ke komunikan.

Berikut gambar proses komunikasi massa yang diciptakan Shannon dan Weaver:

Gambar 2.1

Proses Komunikasi Massa

(Sumber: Ardianto, 2004:35)

Sumber Informasi (information

source)

Tujuan (Destination)

Sumber Gangguan (Noice

Source)

Transmitter Penerima (Receiver)

(31)

Gambar diatas menunjukan bahwa sumber informasi menciptakan sebuah pesan untuk dikomunikasikan. Pesan yang terdiri atas lisan, tulisan, gambar, musik dan lain sebagainya, akan diubah kedalam bentuk sinyal oleh pemancar sesuai dengan saluran yang akan digunakan. Pesan dapat diterima atau diteruskan melalui saluran kepada penerima. Saluran adalah media atau alat yang dapat menyalurkan isyarat dari pemancar kepada penerima. Penerima menyusun kembali sinyal tersebut menjadi sebuah pesan sehingga sampai kepada tujuan (destination). Sementar itu dalam perjalanannya, sinyal memiliki potensi untuk terganggu oleh berbagai sumber gangguan (noice source) yang ada disekitarnya, misalnya pada saat yang bersamaan dalam saluran yang sama muncul terlalu banyak sinyal. Hal ini akan mengakibatkan adanya perbedaan antara sinyal yang dikirim dengan sinyal yang diterima. Dengan demikian dapat diartikan bahwa pesan yang dikirimkan oleh sumber, yang kemudian disusun kembali oleh penerima sehingga mencapai tujuan, tidak selalu memiliki makna yang sama.

E. Efek Komunikasi Massa

Komunikasi massa merupakan sejenis kekuatan sosial yang dapat menggerakan proses sosial kearah suatu tujuanyang telah ditetapkan terlebih dahulu. Namun, untuk mengetahui secara tepat dan rinci mengenai kekuatan sosial yang dimiliki oleh komunikasi massa dan hasil yang dapat dicapainya dalam menggerakan proses sosial tidak mudah. Oleh karena itu, efek atau hasil yang dapat dicapai oleh komunikasi yang dilaksanakan melalui berbagai media baik itu lisan, tulisan, visual dan audio visual.

Menurut Steven M. Chaffee efek media massa dapat dilihat dari tiga pendekatan. Pendekatan pertama, adalah efek dari media massa yang berkaitan dengan pesan ataupun media itu sendiri. Pendekatan kedua adalah dengan melihat jenis perubahan yang terjadi pada diri khalayak komunikasi massa yang berupa perubahan sikap, perasaan dan perilaku atau dengan istilah lain dikenal sebagai perubahan sikap, perasaan dan perilaku atau dengan istilah lain dikenal sebagai perubahan kognitif, afektif dan behavioral. Pendekatan ketiga yaitu observasi terhadap khalayak (individu, kelompok, organisasi, masyarakat, atau bangsa) (Ardianto, 2004:48).

(32)

Sedang menurut Keith R Stamm dan John E Bowes membagi efek komunikasi massa menjadi dua bagian yaitu primer dan skunder (Nurudin, 2004:192).

a. Efek Primer

Efek primer meliputi terpaan, perhatian, dan pemahaman. Dalam hal ini media massa hanya memberi terpaan atau dampak, perhatian dan pemahaman mengenai pesan yang disampaikan.

b. Efek skunder

Efek skunder meliputi perubahan tingkat kognitif atau perubahan pengetahuan, sikap dan perilaku. Fokus utama dari efek ini adalah tidak hanya bagaimana media mempengaruhi audience tetapi juga bagimana audience mereaksi pesan-pesan media yang sampai pada dirinya.

Kedua efek tersebut dapat disimpulkan bahwa efek primer merupakan efek yang hanya berupa pemahaman dan perhatian yang didapatkan oleh khalayak namun tidak adanya tindakan nyata yang terjadi setelah adanya pesan yang disampaikan. Sedangkan efek skunder adanya perubahan pengetahuan, sikap dan perilaku, sehingga pesan yang disampaikan memberikan dampak kepada khalayak yang menerimanya. Dengan demikian, apa yang diinginkan komunikator dapat tercapai sesuai dengan apa yang diinginkannya.

2.1.2 Media Massa

Media massa tidak dapat dipisahkan dari kehidupan masyarakat, karena media massa baik cetak maupun elektronik sudah menjadi kebutuhan hidup manusia. Masyarakat memanfaatkan media massa untuk berbagai keperluan seperti untuk mendapatkan informasi terbaru tentang berbagai hal yang terjadi di dunia, untuk mendapatkan beragam hiburan.

Media massa merupakan media informasi yang terkait dengan masyarakat, secara umum, dikelola secara profesional dan bertujuan mencari keuntungan.

Dengan demikian tidak semua media informasi atau komunikasi dapat disebut media massa. Misalnya saja telepon, meskipun dengannya kita bisa berhubungan, namun telepon bukanlah merupakan media massa karena informasinya terkait dengan kepentingan lembaga yang kadang tidak dikelola secara profesional, bahkan tidak bertujuan demi keuntungan.

Media massa pada masyarakat luas dapat dibedakan atas tiga kelompok, yaitu media cetak, media elektronik, dan media online. Pertama, media cetak merupakan media tertua yang ada dimuka bumi, bentuknya sendiri seperti (surat kabar, majalah dan tabloid). Kedua, Media elektronik muncul karena perkembangan teknologi modern yang berhasil memadukan konsep media cetak, yang disebut media elektronik seperti (televisi, radio dan sebagainya). Ketiga,

(33)

Media online merupakan media yang menggunakan internet. Mungkin orang banyak menilai bahwa media online merupakan media elektronik, tetapi para pakar memisahkannya dalam kelompok tersendiri. Alasannya media online menggunakan gabungan proses media cetak dengan menulis informasi yang disalurkan melalui sarana elektronik, tetapi juga berhubungan dengan komunikasi personal yang terkesan perorangan (Mondry, 2008:13).

Dengan demikian media massa sangat erat hubungannya dengan kehidupan manusia, tanpa adanya media massa sulit bagi masyarakat untuk mendapatkan sumber berita, hiburan, untuk memenuhi kebutuhan akan informasinya. Dengan adanya media massa seluruh masyarakat akan lebih mudah untuk mengakses seluruh informasi dimanapun dan kapanpun tanpa ada batasan waktu. Namun, dalam proses penyampaian informasi melalui media tidak menutup kemungkinan akan terjadi gangguan, yang mengakibatkan salahnya memaknai pesan yang disampaikan.

2.1.3 Teori Uses and Gratifications

Teori uses and gratifications dikenalkan pada tahun 1974 oleh Herbert Blumer dan Elihu Katz dalam bukunya The Uses of Mass Communications.

Blumer dan Katz mengatakan bahwa teori uses and gratifications dimana pengguna media memainkan peran aktif untuk memilih dan menggunakan media tersebut. Dengan kata lain, pengguna media itu adalah pihak yang aktif dalam proses komunikasi. Pengguna media akan berusaha untuk mencari sumber media yang paling baik di dalam usaha memenuhi kebutuhannya. Dapat diartikan bahwa teori uses and gratifications mengasumsikan bahwa pengguna mempunyai pilihan alternatif untuk memuaskan kebutuhannya.

Dalam teori uses and gratifications lebih ditekankan bahwa audience aktif untuk memilih mana media yang harus dipilih untuk memuaskan kebutuhannya.

Teori ini lebih menekankan pada pendekatan manusiawi didalam melihat media.

Artinya, manusia punya otonomi, wewenang untuk memperlakukan media (Nurudin, 2004:181).

Model ini digambarkan sebagai a dramatic break with effects tradition of the past, yaitu suatu loncatan dramatis dari model jarum hipodermik. Model ini tidak tertarik pada apa yang dilakukan media terhadap khalayaknya tetapi lebih tertarik pada apa yang dilakukan khalayak terhadap media. Katz mengatakan bahwa penelitiannya diarahkan kepada jawaban pertanyaan. “apa yang dilakukan media untuk khalayak? (what do the media do to people?)” (Rakhmat, 2004:65).

Model uses and gratifications menunjukan bahwa yang menjadi permasalahan utama bukanlah bagaimana media mengubah sikap dan perilaku khalayak, tetapi bagaimana media memenuhi kebutuhan pribadi dan sosial khalayak. Khalayak dianggap secara aktif dengan sengaja menggunakan media untuk memenuhi kebutuhannya dan mencapai tujuan. Studi dalam bidang ini memusatkan perhatian pada pengguna (uses) isi media untuk mendapatkan

(34)

kepuasan (gratifications) atas pemenuhan kebutuhan seseorang. Dengan demikian disebutlah istilah uses and gratifications (penggunaan dan pemenuhan kebutuhan). Sebagian besar perilaku khalayak akan dijelaskan melalui berbagai kebutuhan (needs) dan kepentingan individu (Ardianto, 2004:71).

Inti teori uses and gratifications adalah khalayak pada dasarnya menggunakan media massa berdasarkan pada motif-motif tertentu. media dianggap memenuhi motif khalayak. Jika motif ini terpenuhi maka kebutuhan khalayak akan terpenuhi. Pada akhirnya, media yang mampu memenuhi kebutuhan khalayak disebut media efektif (Kriyantono, 2009:206).

Model Uses and Gratifications

Anteseden Motif Penggunaan Media Efek Variabel individu Personal/kognitif Hubungan kepuasan Variabel lingkungan Diversi Macam isi Pengetahuan

Personal identity Hubungan dengan isi

Sumber: (Kriyantono, 2009:208)

Antesedan meliputi variabel individual yang terdiri dari data demografis serta variabel lingkungan seperti organisasi, sistem sosial dan struktur sosial.

Daftar motif memang tidak terbatas, tetapi oprasionalisasi Blumer lebih praktis untuk dijadikan petunjuk penelitian. Blumer menyebutkan tiga orientasi: orientasi kognitif (kebutuhan bukan informasi, surveillance atau eksplorasi realitas), diversi (kebutuhan akan pelepasan dari tekanan dan kebutuhan akan hiburan), identitas personal (yakni menggunakan isi media untuk memperkuat/ menonjolkan suatu yang penting dalam kehidupan atau situasi khalayak sendiri) (Rakhmat, 2004:66).

Salah satu macam riset uses and gratifications yang saat ini berkembang adalah yang dibuat oleh Philip Palmgreen. Kebanyakan riset uses and gratifications memfokuskan pada motif sebagai variabel independen yang mempengaruhi penggunaan media. Palmgreen juga menggunakan dasar yang sama yaitu orang menggunakan media didorong oleh motif-motif tertentu, namun konsep yang diteliti oleh Palmgreen ini tidak berhenti disitu dengan menanyakan apakah motif-motif audience itu telah dapat dipenuhi oleh media (Kriyantono, 2009: 208).

Adapun motif-motif yang mempengaruhi audience menggunakan media, menurut McQuail, Blumer dan Brown dalam (Severin, 2005:256) adalah:

a. Pengalihan

Pelarian dari rutinitas dan masalah, pelepasan emosi. Melalui media massa, orang bisa melarikan diri dari kejenuhan sehari-hari. Misalnya

(35)

dengan menonton pertunjukan opera, kisah misteri atau menikmati musik pop, menonton tips memasak. Dan hasilnya bisa berupa stimulus, relaksasi, atau pembebasan emosi.

b. Hubungan Personal

Manfaat sosial informasi dalam percakapan, pengganti media untuk kepentingan pertemanan. Ini merupakan proses seumur hidup yang banyak dibantu oleh media massa.

c. Pengawasan/ Surveillance

Media memberikan informasi tentang apa yang terjadi. Informasi mengenai hal-hal yang mungkin mempengaruhi seseorang atau akan membantu seseorang melakukan atau memutuskan sesuatu.

Beberapa asumsi dasar dari teori uses and gratifications yang dijelaskan oleh Katz, Blumer & Gurevitch (Ardianto, 2004:71)

1. Khalyak dianggap aktif, artinya khalayak bagian penting dari penggunaan media massa diasumsikan mempunyai tujuan.

2. Dalam proses komunikasi massa, inisiatif untuk mengaitkan pemuasan kebutuhan dengan pemilihan media terletak pada khalayak.

3. Media massa harus bersaing dengan sumber-sumber lain untuk memuaskan kebutuhannya. Kebutuhan yang dipenuhi media lebih luas.

Bagaimana kebutuhan ini terpenuhi melalui konsumsi media amat bergantung kepada perilaku khalayak yang bersangkutan.

4. Tujuan pemilih media massa disimpulkan dari data yang diberikan anggota khalayak. Artinya, orang dianggap cukup mengerti untuk melaporkan kepentingan dan motif pada situasi-situasi tertentu.

5. Penilaian tentang arti kultural dari media massa harus ditangguhkan sebelum diteliti lebih dahulu orientasi khalayak.

Media massa sebagai suatu alat yang digunakan individu-individu untuk berhubungan atau memutuskan hubungan. Kemudian para peneliti tersebut menggolongkan kebutuhan media berdasarkan fungsi-fungsi sosial dan psikologis media massa kedalam lima kategori yaitu:

a. Cognitive needs (kebutuhan kognitif), adalah kebutuhan ynag berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan informasi, pengetahuan dan pemahaman mengenai lingkungan. Kebutuhan ini didasarkan pada hasrat untuk memahami dan menguasai lingkungan, juga memuaskan rasa penasaran dan dorongan untuk penyelidikan.

b. Affective needs (kebutuhan afektif), adalah kebutuhan yang berkaitan dengan peneguhan pengalaman-pengalaman yang estetis, menyenangkan dan emosional.

c. Personal integrative needs (kebutuhan pribadi secara integratif), adalah kebutuhan yang berkaitan dengan peneguhan kredibelitas, kepercayaan, stabilitas dan status individual. Hal-hal tersebut diperoleh dari hasrat akan harga diri.

d. Social integrative needs (kebutuhan sosial secara integratif), adalah kebutuhan yang berkaitan dengan peneguhan kontak dengan keluarga, teman dan dunia. Hal-hal tersebut didasarkan untuk berafilasi.

(36)

e. Escapist needs (kebutuhan pelepasan), adalah kebutuhan yang berkaitan dengan hasrat ingin melarikan diri dari kenyataan, melepaskan emosi, ketegangan dan kebutuhan akan informasi (Severin, 2011: 357).

Teori uses and gratifications beroperasi dalam beberapa cara yang bisa dilihat dalam gambar dibawah ini

Gambar: 2.2

Teori Uses and Gratifications

Sumber: (Nurudin, 2004:183)

2.1.4 Televisi

Televisi adalah suatu media telekomunikasi yang digunakan untuk menyampaikan suatu informasi kepada khalayak. Dari banyaknya media komunikasi yang ada, televisi bisa dikatakan media yang sangat berpengaruh pada

Lingkungan Sosial:

1. Ciri-ciri demografi s 2. Afiliasi

kelompok 3. Ciri-ciri

keperibadi

Penggunaan Media Massa:

1. Jenis-jenis media SK, majalah, radio, Tv dan film 2. Isi media 3. Terpaan

media 4. Konteks

sosial dan terpaan media

Pemuasan Media (fungsi):

1. Pengamata n

lingkungan 2. Diversi/

hiburan 3. Identitas personal 4. Hubungan

sosial Sumber pemuas

kebutuhan yang berhubungan dengan non media:

1. Keluarga, teman-teman 2. Komunikasi

interpersonal 3. Hobi 4. Tidur Kebutuhan

Khalayak

1. Kognitif 2. Afektif 3. Integrati

f personal 4. Integrati

f sosial 5. Pelepasa

n ketegang an/

melarika n diri dari kenyataa n

(37)

kehidupan manusia. Dapat dilihat dengan banyaknya masyarakat yang memiliki televisi di rumahnya.

Televisi mengalami perkembangan yang sangat signifikan, terutama melalui pertumbuhan televisi kabel. Transmisi program televisi kabel menjangkau seluruh pelosok negeri dengan bantuan satelit dan diterima langsung pada layar televisi di rumah dengan menggunakan wire atau microwave (wireless cables) yang membuka tambahan saluran televisi bagi pemirsa. Televisi tambah marak lagi setelah dikembangkannya Direct Broadcset Satellite (DBS) (Ardianto, 2004:

125).

A. Perkembangan Televisi

Penemuan televisi melalui berbagai eksperimen yang dilakukan oleh para ilmuan akhir abad 19 dengan dasar penelitian yang dilakukan oleh James Clark Maxwell dan Heinrich Hertz, serta penemuan Marconi, pada tahun 1890 Paul Nipkow dan William Jenkins melalui eksperimennya menemukan metode pengiriman gambar melalui kabel.

Televisi sebagai pesawat transmisi dimulai pada tahun 1925 dengan menggunakan metode mekanikal dari Jenkins. Pada tahun 1928 General Electronic Company mulai menyelenggarakan acara siaran televisi secara regular.

Pada tahun 1939 Presiden Fanklin D. Rooservelt tampil dilayar televisi.

Sedangkan siaran televisi komersial di Amerika dimulai pada 1 September 1940 (Ardianto, 2004:126).

Televisi pertama di Indonesia dibawa dari Uni Sovietsaat Pameran Perayaan 200 tahun Kota Yogyakarta (Pekan Raja 200 Tahoen Kota Djogjakarta). Pada tanggal 25 Juli 1961, Menteri Penerangan Republik Indonesia, R. Maladi, menandatangani perjanjian (SK Menpen) untuk membuat sebuah komite untuk persiapan pembentukan stasiun televisi di Indonesia. Komite ini didirikan sebagai bagian dari persiapan untuk Asian Games keempat.

Pada tanggal 24 Agustus 1962 di Jakarta, panitia persiapan pembangunan Televisi di Indonesia melalui seksi Televisi bagian Biro Radio Republik Indonesia yang bekerjasama dengan tim dari televisi Organizing Committe Asian Games IV akhirnya berhasil menyelenggarakan siaran pertamanya pada acara upacara pembukaan Asian Games IV bagi warga Jakarta di Gelora Bung karno. Momen inilah yang dinyatakan sebagai hari lahirnya stasiun Televisi Republik Indonesia (TVRI) pertama kali.

(38)

Pada tanggal 16 Agustus 1967 Indonesia untuk Pertama kalinya baru meluncurkan Satelit Komunikasi Satelit Domestik (SKSD) dengan satelit Palapa A1 untuk kelancaran siaran televisi TVRI dan komunikasi yang dibantu oleh negara-negara lain. Inilah satelit pertama yang dimiliki Indonesia.

Sejak saat itu TVRI menjadi tonggak pertelevisian nasional Indonesia dan berperan sentral dalam setiap kegiatan komunikasi dan politik. Keberadaan TVRI pada saat itu dalam perkembangan telah menjadi alat strategi pemerintah dalam memegang manopoli penyiaran di Indonesia, yang pada gilirannya telah menjadi corong pemerintah dan bahkan menjadi alat legitimasi kekuasaan (http://e-journal- uajy.ac.id/eprint/2933).

TVRI yang berada di bawah Departemen Penerangan, kini siarannya sudah dapat menjangkau hampir seluruh rakyat Indonesia. Namun sejak 1989 sampai sekarang TVRI mendapatkan saingan televisi swasta yaitu RCTI, GTV, MNCTV, iNews, SCTV, Indosiar, antv, tvOne, MetroTV, Trans7, TransTV, RTV, Kompas TV dan NET.

Fungsi televisi sama dengan fungsi media massa lainnya, yakni memberikan informasi, mendidik, menghibur dan membujuk. Tetapi fungsi menghibur lebih mendominasi pada media televisi sebagaimana hasil penelitian- penelitian yang dilakukan oleh mahasiswa Fakultas Ilmu Komunikasi UNPAD, yang menyatakan bahwa, pada umumnya tujuan utama khalayak menonton televisi adalah untuk memperoleh hiburan. Selanjutnya untuk memperoleh informasi (Ardianto, 2004: 128).

B. Karakteristik Televisi

Sebagai media komunikasi massa, televisi memiliki empat ciri pokok yang akan di jelaskan secara rinci dibawah (Sumadiria, 2008: 128-130).

a. Bersifat tidak langsung

Televisi bersifat tidak langsung yang maksudnya harus melewati media teknis.Televisi adalah suatu jenis dan bentuk media massa yang paling canggih dilihat dari sisi teknologi yang digunakan, dan paling mahal dilihat dari segi investasi yang ditanamkan. Televisi sangat bergantung pada kekuatan peralatan elektronik yang sangat rumit.

Inilah yang disebut media teknis.

b. Bersifat satu arah

(39)

Bersifat satu arah maksudnya, tidak ada interaksi antara peserta-peserta komunikasi. Siaran televisi bersifat satu arah sebagai pemirsa hanya bisa menerima berbagai program acara yang sudah dipersiapkan oleh pihak pengelolah televisi. Secara prinsip umpan balik (feedback) pemirsa televisi tetap bersifat tertunda (delayed).

c. Bersifat terbuka

Televisi ditujukan kepada masyarakat secara terbuka ke berbagai tempat yang dapat dijangkau oleh daya pancar siarannya. Artinya, ketika siaran televisi mengudara, tidak ada lagi apa yang disebut pembatas letak geografis, usia biologis, dan bahkan tingkatan akademis khalayak. Siapapun dapat mengakses siaran televisi.

d. Publik tersebar

Khalayak televisi tidak berada di suatu wilayah, tetapi tersebar diberbagai wilayah dalam lingkup lokal, regional, nasional, dan bahkan internasional.

e. Bersifat selintas

Pesan-pesan televisi hanya dapat dilihat dan didengar secara sepintas.

Siarannya tidak dapat dilihat dan didengar ulang oleh pemirsa kecuali dalam hal-hal khusus seperti pada adegan ulang atau dengan alat khusus untuk merekam. Namun, dengan perkembangan teknologi sekarang ini, ada beberapa tayangan televisi bisa diputar ulang di youtube, yang merupakan media online.

C. Faktor-faktor yang Perlu diperhatikan

Agar pesan dapat diterima oleh khalayak dengan baik, ada beberapa faktor yang perlu diperhatikan, seperti dibawah ini (Ardianto, 2004:131).

a. Pemirsa

Setiap bentuk komunikasi yang menggunakan media apapun, komunikator akan menyesuaikan pesan dengan latar belakang komunikannya. Namun, untuk komunikasi melalui media elektronik, khususnya televisi faktor pemirsa perlu mendapatkan perhatian. Dalam hal ini komunikator harus memahami kebiasaan dan minat pemirsa baik yang termaksud kategori anak-anak, remaja dan dewasa. Atau kebiasaan wanita bekerja dengan wanita yang bekerja sebagai ibu rumah tangga yang lebih banyak menghabiskan waktu di rumah. Hal ini perlu, karena berkaitan dengan materi pesan dan jam penayangan.

b. Waktu

Setelah mengetahui minat dan kebiasaan tiap kategori pemirsa, langkah selanjutnya adalah menyesuaikan waktu penayangan dengan minat dan kebiasaan pemirsa. Faktor waktu menjadi bahan pertimbangan agar setiap acara ditayangkan secara proporsional dan dapat diterima oleh khalayak sasaran atau khalayak yang dituju.

c. Durasi

Durasi berkaitan dengan waktu, yaitu jumlah menit dalam setiap penayangan acara. Durasi acara akan disesuaikan dengan jenis acara dan tuntutan skrip atau naskah, yang paling penting bahwa dengan

Gambar

Gambar 2.3   Kerangka Konsep
Tabel 2.2  Variabel Operasional
Tabel 3.2  Jumlah sampel
Tabel 4.1  Jenis Kelamin
+7

Referensi

Dokumen terkait

Penelitian ini mempunyai keterbatasan-keterbatasan yaitu (1) sampel yang digunakan menjadi 46 dari 105 perusahaan yang seharusnya bisa dianalisis, hal ini diakibatkan karena

Perkembangan bunga terdiri atas enam tahapan dari bunga kuncup hingga bunga layu, dengan rentang waktu selama 14 hari dan stigma sudah mulai reseptif sebelum

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan karunia-Nya sehingga laporan tugas akhir dengan judul “ANALISIS PENGENDALIAN KUALITAS

Estimation terminated at iteration number 7 because parameter estimates changed by less.

Vlasnik novootvorenog hotela će zbog konkurencije morati imati bolju ponudu te će njegovi proizvodi i usluge morati imati dodatne konkurentske prednosti, te će se potruditi

Data hasil pengamatan aktivitas guru pada siklus II yang dominan adalah aktivitas guru dalam memotivasi siswa untuk terlibat aktif dalam pemecahan masalah yang

Tujuan penelitian ini adalah untuk memperoleh data mengenai manfaat hasil belajar membuat minuman non alkohol sebagai kesiapan menjadi bartender pada tahap persiapan

Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui aras intensitas cahaya yang berpengaruh positif terhadap profil cita rasa kopi Robusta, selain itu juga untuk mengetahui kadar