• Tidak ada hasil yang ditemukan

Implikasi Berlakunya Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 40 Tahun 1999 Terhadap Kebebasan Pers di Kantor Badan Penerbit Kedaulatan Rakyat Semarang.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Implikasi Berlakunya Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 40 Tahun 1999 Terhadap Kebebasan Pers di Kantor Badan Penerbit Kedaulatan Rakyat Semarang."

Copied!
2
0
0

Teks penuh

(1)

SARI

Arthurs Genmarch. 2008. Implilwsi Berlakunya Undang-Undang Republik Indonesia

Nomor 40 Tahun 1999 Terhadap Kebebasan Pers di Kantor Badan Penerbit Kedaulatan Rakyat

Semarang. Fakultas Hukum. Universitas Negeri Semarang. Drs. Soegito, SH. MH. Ubaidillah

Kamal, S.Pd. 60 h.

Kata kunci : Pers Kedaulatan Rakyat, dan Implikasi

Tujuan utama pembentukan undang-undang pers untuk memberikan jaminan hukum

kepada pers nasional agar menjalankan fungsinya dengan sebaik-baiknya dan dapat melaksanakan

tugas kewajibannya serta menggunakan hak-haknya. Dalam perkembangannya, kehidupan pers

sangat rentan terhadap perubahan. Hal ini dapat dilihat dari dinamika pengaturaimya yang sangat

tergantung pada keadaan atau konstelasi politik yang berkembang.

Tugas, fungsi, hak dan kewajiban pers yang semakin meluas, salah satunya yaitu pers

bertugas dan berkewajiban memperjuangkan terwujudnya tata intemasional baru di bidang

informasi dan komunikasi atas dasar kepentingan nasional dan percaya kepada kekuatan diri

sendiri dalam menjalin keijasama regional, antar regional dan intemasional, khususnya di bidang

pers, maka pemermtah memandang perlu untuk mengadakan pembahan atas Undang-undang

Nomor 11 Tahim 1966 sebagaimana telah diubah dengan Undang-undang Nomor 4 Tahun 1967

menjadi Undang-undang Republik Indonesia Nomor 21 Tahun 1982, yang temyata tidak memadai

dalam meningkatkan kehidupan pers yang lebih demokratis, terkait dengan itu periu diganti

sehingga ditetapkanlah Undang-undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers.

Permasalahan yang dikaji dalam penelitian ini adalah: (1). Apakah implikasi bedakunya

Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tetang Pers terhadap kebebasan pers khususnya pada

Harian Kedaulatan Rakyat di Kota Semarang ? (2). Hambatan-hambatan apa saja yang terjadi

berhubungan adanya implikasi beriakunya Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tetang Pers

terhadap kebebasan pers khususnya pada Harian Kedaulatan Rakyat di Kota Semarang? (3).

Upaya-upaya untuk mengatasi hambatan-hambatan tersebut?. Penelitian ini bertujuan: (1) Untuk

mengetahui implikasi berlakunya Undang-undang RI No. 40 Tahun 1999 terdapat kehidupan pers

pada Surat Kabar Harian Kedaulatan Rakyat Semarang. (2). Untuk mengetahui

hambatan-hambatan apa saja yang terjadi berhubungan adanya implikasi berlakunya Undang-Undang Nomor

40 Tahun 1999 tetang Pers terhadap kebebasan pers khususnya pada Harian Kedaulatan Rakyat di

Kota Semaraiig. (3). Untuk mengetahui upaya mengatasi hambatan tersebut.

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode Kualitatif yaitu prosedur

penelitian yang menggunakan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dan orang-orang

dan perilaku yang diamati. Penelitian mi berlokasi di Kantor Badan Penerbit Kedaulatan Rakyat

(2)

Semarang. Sumber Data diperoleh dari: (1). Pengumpulan data, (2). Wawancara, (3).

Dokumentasi.

Sedangkan objekdfitas dan keabsahan data yang digunakan adalah teknik triangulasi yaitu

pemeriksaan keabsahan-data dengan caca membandingkan data-data yang diperoleh dari penelitian

yang selanjutnya dianalisis secara interaktif mulai dari pengumpulan data, reduksi data, penyajian

data hingga penarikan kesimpulan.

Hasil penelitian dan pembahasan memuijukan bahwa: (1). Kebebasan pers menurut

Pemimpin Umum Redaktur Surat Kabar Harian Kedaulatan Rakyat (KR) Semarang lebih

ditekankan pada kebebasan untuk memperoleh informasi. Namun demikian dalam memperoleh

mfonnasi tersebut, pers tetap harus berpegang pada prinsip tanggung jawab sosial sebagai bagian

dari proses demokratisasi dan mengenai penilaian terhadap perubahan penerbitan pers setelah

berlakunya Undang-undang Nomor 40 tahun 1999. Pers meropakan pilar keempat (thefourth

estate) demokrasi setelah pilar-pilar legislatif, eksekutif dan yudikatif. Pemberitaan pers tidak

dapat dikontrol oleh alat kekuasaan maupun para pemilik modal. Kebebasan pemberitaan media

pers juga terjadi pada saat ini, lain halnya dengam situasi pada waktu sebelum keluarnya

Undang-Undang Nomor 40 Tahun. 1999, kondisi pers tidak bebas bergerak tidak dapat melakukan kritik

pada pemerintah yang berkuasa. (2). Secara garis besar pemberitaan pers telah mencerminkan

proses demokratisasi, pemberitaan pers tidak lagi dikontrol oleh pemerintah, keberpihakan pers

didasarkan pada kebenaran dengan mendasarkan pada nilai-nilai moral dan etika serta hukum,

pembedtaan diusahakan berimbang, teijadi pertumbuhan dan perkembangan kebebasan pers secara

wajar. Masyarakat dapat memperoleh informasi secara benar, pemberitaan menciptakan rasa aman,

sejahtera dan damai. Namun demikian terdapat beberapa kelemahan, yaitu masih tendapatnya

hambatan yang masih dalam taraf wajar, kurangnya sosialisasi Undang undang Nomor 40 Tahun

1999 tentang Pers, serta masih perlu dibenahinya profesionalisme insan pers dan aparat penegak

hukum yang berkualitas untuk mendukung penerapan hukum pers dalam masyarakat. (3). Upaya

yang dilakukan adalah mengikuti dan menjalani isi dari peraturan yang berlaku menurut

Undang-Undang NO. 4.0 Tahun 1999 tentang kebebasan pers, dengan demikian akan tercipta adanya keseimbangan hak dan kewajiban dari negara dan rakyatnya. Negara berhak untuk menuntut setiap

warga negara untuk melaksanakan kewajiban mereka kepada negara, namun rakyatpun berhak

untuk menuntut agar negara juga menghonnati hak-hak mereka yang dijamin oleh hukum seperti

halnya kebebasan pers.

Berdasarkan hasil penelitian di atas, dapat disimpulkan bahwa Implikasi Undang-undang

Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers pada penerbitan Surat Kabar Harian Kedaulatan Rakyat (KR)

Semarang telah sesuai dengan prinsip kebebasan pers yang bertanggung jawab. Hal ini tercermin

dan hasil jawaban rcsponden yang menyatakan bahwa selama mi kebebasan pers dapat tumbuh

dan berkembang dengan baik sesuai prinsip-prinsip kebebasan pers sebagaimana tertuang dalam

Undang-undang Nomor 40 Tahun 1999.

Referensi

Dokumen terkait

Fransiska Delima Silitonga : Analisis Kekuatan Surat Perjanjian Perdamaian Dibawah Tangan Dalam Kasus Penyelesaian Sengketa Pers Berdasarkan Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999,

DALAM PENYELESAIAN DELIK PERS BERDASARKAN UU NOMOR 40 TAHUN 1999.. Disusun

Oleh karena itu hukum (Undang- undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers) seharusnya mampu menjalankan fungsi tersebut dengan cara menyediakan suatu garis kebijaksanaan atau

Diharapkan pada masa yang akan datang, pemaknaan dan pelaksanaan kemerdekaan dan kebebasan pers dilakukan secara utuh sebagaimana amanat Undang-undang, dimana

40 Tahun 1999 tentang Pers memang sengaja menempatkan Dewan Pers untuk melaksanakan fungsi publik yang strategis, yaitu menjauhkan pers dari intervensi dan intimidasi

1) Bentuk perlindungan hukum bagi wartawan dalam menjalankan profesi yaitu adanya Undang-Undang No. 40 Tahun 1999 tentang Pers dan Kode Etik Jurnalistik Wartawan

40 Tahun 1999 tentang Pers pasal 4 ayat (1) juga disebutkan, “Kemerdekaan pers dijamin sebagai hak asasi warganegara.” Ayat tersebut diperkuat dengan pasal 4 ayat (3)

Sebagaimana dalam pasal 13 a Undang-undang No 40 Tahun 1999 tentang pers disebutkan bahwa perusahaan pers dilarang memuat iklan yang berakibat merendahkan martabat suatu agama dan atau