• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA. 2.1 Morfologi dan Taksonomi Jamur Tiram Putih

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB II. TINJAUAN PUSTAKA. 2.1 Morfologi dan Taksonomi Jamur Tiram Putih"

Copied!
11
0
0

Teks penuh

(1)

6

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Morfologi dan Taksonomi Jamur Tiram Putih

Pleurotus ostreatus (jamur tiram putih) adalah sejenis jamur kayu. Jamur tiram sering disebut sebagai jamur kayu karena tumbuh subur di permukaan kayu yang aus. (Puspaningrum dan Suparti, 2017)

Klasifikasi jamur tiram putih menurut Becker (1968) adalah sebagai berikut :

Divisio : Thallophyta Sub divisio : Fungi

Klasis : Basidiomycetes Ordo : Agaricales Familia : Agaricaceae Genus : Pleurotus

Spesies : Pleurotus ostreatus

Pleurotus ostreatus adalah nama ilmiah untuk jamur tiram Pleurotus, yang berarti "bentuk samping atau lokasi menyamping antara tangkai dan tudung"

dalam bahasa Yunani. Karena bentuk atau tubuh buahnya yang menyerupai cangkang tiram, maka diberi nama “tiram” (scallop shell). Di daerah Amerika diikuti dengan Eropa, lebih mengenal jamur ini dengan sebutan oyster mushroom dalam bahasa Inggris, dengan tudungnya yang posisinya tidak tepat atau dalam hal ini sedikit bergeser dari arah tengah yang mana hal ini sama juga dengan jamur lainnya. (Soenanto, 2000).

Jamur tiram dalam bahasa Indonesia, banyak dikenal dengan beberapa nama, yakni antara lain shimeji atau hiratake ketika orang-orang Jepang

(2)

menyebutkannya, jamur abalon (abalone mushroom) di Eropa, jamur tiram (oyster mushroom) di Amerika, dan supa liat di Jawa Barat karena ternyata liat atau

banyak jika memakannya (Suriawiria, 2001).

Bagian tubuh jamur tiram, juga dikenal sebagai jamur mutiara, dan memiliki bagian yakni adalah akar semu (rhizoid), tangkai (stipe), insang (lamella), dan tudung (pileus/cap) (Suriawiria, 2001). Jamur tiram bergelombang dan tudungnya berbentuk seperti cangkang tiram berukuran 5-15 cm (Gunawan, 2007). Batang atau tangkai (stipe) jamur tiram putih sedikit ke tepi tudung, bukan di tengah. Tubuh buah mengumpul di media dan membuat rumpun dengan banyak cabang. Jika dagingnya sudah tua, itu akan menjadi keras. Insang (lamella) berbentuk seperti insang, lunak, rapat, dan berwarna putih, serta terletak di dekat bagian bawah tudung jamur. Spora berwarna putih, berukuran 5,5-8,5 x 1-6,6 mikron, berbentuk lonjong, dan licin, terdapat pada lamela. (Achmad, dkk, 2011).

Jamur mengambil nutrisi dengan metode ekstraseluler (di luar tubuh) di mana molekul organik kecil diserap dari media sekitarnya. Jamur tiram putih mencerna makanan dari luar tubuh mereka dengan mengeluarkan enzim hidrolitik dari miselium mereka ke dalam makanan, yang kemudian memecah molekul kompleks menjadi molekul sederhana yang dapat dicerna oleh jamur tiram putih.

(Fatmawati, 2017)

Jamur adalah tumbuhan yang memiliki inti, spora, dan sel lepas atau bersambung yang menghasilkan hifa, berupa benang bersekat atau tidak bersekat (satu benang). Sel berinti tunggal membentuk hifa jamur. Miselium terbentuk ketika hifa jamur bergabung membentuk jaringan (kumpulan hifa). Miselium jamur bercabang dan menghasilkan bercak-bercak kecil yang disebut sporangium

(3)

pada titik pertemuan, yang akan tumbuh menjadi pinhead (yang berpotensi menjadi tubuh buah jamur) dan akhirnya berkembang (tumbuh) menjadi jamur (dalam bentuk tubuh buah yang utuh). Jamur menembus dinding sel kayu dengan melubanginya di awal pembentukan miselium. Enzim yang memecah selulosa, hemiselulosa, dan lignin yang dihasilkan oleh jamur melalui ujung lateral benang miselium membantu penetrasi (pengeboran) dinding sel kayu. Enzim memecah komponen kayu dengan cara menembus/melubangi dan menggunakannya sebagai sumber makanan jamur. (Djarijah dan Djarijah, 2001).

Secara umum, jamur tiram berkembang biak dengan dua cara selama siklus hidupnya: secara aseksual dan seksual. Reproduksi basidiomycota secara aseksual terjadi secara umum melalui jalur spora yang dibuat secara endogen dalam kantung spora atau sporangiumnya, dan spora aseksualnya yang disebut konidiospora terbentuk di konidia, mirip dengan jamur. Dalam reproduksi seksual, dua jenis hifa yang bertindak sebagai gamet jantan dan betina bergabung membentuk zigot, yang akhirnya berkembang menjadi primodia dewasa. Basidiospora, atau spora seksual, ditemukan di kantung basidium jamur tiram putih. (philips, 2006).

Jamur tiram (Pleurotus spp.) merupakan jamur pangan komersial yang memiliki potensi nilai ekonomi dan juga berpotensi sebagai sumber mata pencaharian bagi petani. Selain daripada itu Jamur tiram menawarkan manfaat bagi pemenuhan nutrisi bagi masyarakat yakni meliputi sebagai protein nabati bebas kolesterol yang dapat membantu menghindari tekanan darah tinggi, penyakit jantung, dan penambahan berat badan serta diabetes. (Djuariah, 2007).

Jamur tiram memenuhi standar gizi sebagai makanan yang layak konsumsi, enak dimakan, tidak beracun, dan kandungan gizinya tinggi, menurut

(4)

Badan Kesehatan Dunia (WHO). Jamur tiram, seperti halnya jamur yang dapat dimakan lainnya, memiliki berbagai kegunaan, antara lain sebagai bahan nabati, tambahan dalam bahan olahan, dan racikan obat yang dalam hal ini diharapkan mampu membantu mencegah anemia, meringankan masalah pencernaan, juga mengurangi gizi buruk (Steviani, 2011). Menurut Djarijah (2001), Jamur tiram memiliki kemampuan untuk menetralkan racun dan zat radioaktif, dan manfaat kesehatannya antara lain kemampuan untuk menghentikan lajunya pendarahan, mempercepat proses dalam penyembuhan luka di tubuh, mencegah penyakit diabetes militus, menyempitkan pembuluh darah, menurunkan kadar kolesterol dalam darah, meningkatkan vitalitas ataupun kekuatan, meningkatkan kadar antibiotik, mencegah tumor atau kanker, mencegah kelenjar gondok, mencegah dan mengurangi gejala influenza, juga memperlancar buang air besar. Kandungan retene, yakni substrat yang dapat menekan pertumbuhan tumor, ditemukan pada

jamur tiram hal ini diungkapkan Buswell dan Chang, 1993. Sedangkan menurut Bano dan Rajaratnam (1989), hasil dari jamur tiram yang di ekstrak mempunyai kemampuan untuk menghasilkan inferon, yang merupakan mekanisme dalam mempertahanka diri terhadap virus beserta gangguannya (antivirus) dan juga mampu menurunkan kadar kolesterol didalam tubuh.

Jamur ini (tiram putih) memiliki kadar garam mineral yang lebih tinggi dibandingkan kadar garam mineral daging sapi maupun garam minerla domba.

Jamur ini mengandung sekitar dua kali jumlah garam mineral yang ditemukan di tanaman lain. Kadar protein yang disediakan oleh Jamur ini ditemukan dua kali lebih tinggi dibandingkan yang ditemukan pada kubis, kentang dan asparagus (Genders, 1986).

(5)

Beberapa kandungan gizi yang ditemukan dalam jamur ini (tiram putih) dalam penelitian yang dilakukan oleh Soenanto pada tahun 2000 yakni sebagai berikut.

Tabel 1. Kandungan Gizi Jamur Tiram Segar Per 100 Gram

Kandungan Gram

Protein 13,8

Serat 3,5

Lemak 1,41

Abu 3,6

Karbohidrat 61,7

Kalori 0,41

Kalsium 32,9

Zat Besi 4,1

Fosfor 0,31

Vitamin B1 0,12

Vitamin B2 0,64

Vitamin C 5

Niacin 7,8

Air, keasaman/pH, kelembaban, komposisi bahan baglog, suhu udara, dan ketersediaan pasokan unsur hara adalah beberapa elemen lingkungan yang mempengaruhi pertumbuhan jamur (Yuliani, dkk, 2013).

Kondisi pertumbuhan Jamur tiram tumbuh secara alami terjadi di hutan yang dinaungi oleh pepohonan berdaun lebar dan populasi tanaman berkayu.

Jamur tiram tidak membutuhkan banyak matahari yang bersinar untuk pertumbuhannhya, tetapi mereka membutuhkan kelembaban ruangan yang optimal 80-90 persen, yang harus dijaga secara teratur dengan menyemprotkan air, Suhu ideal untuk pertumbuhan miselium adalah 25-30°C, sedangkan suhu ideal untuk pertumbuhan tubuh buah adalah 18-20°C. Miselium jamur tumbuh subur di lingkungan yang minim cahay atau minim penerangan dengan pH asam yakni sekitar 5.5-6,5. Namun, miselium tidak akan berkembang di lingkungan atau pada substrat yang terlalu asam (pH rendah) atau terlalu basa (pH tinggi).

(6)

Tubuh buah jamur, di sisi lain, pertumbuhannya tidak akan terjadi secara optimal jika di lingkungan tersebut kondisinya yang lumayan terang dengan keasaman pHyang agak netral yakni berkisar 6,8-7,0 (Sa’adah, dkk, 2016).

2.2 Bahan Media Tanam Jamur Tiram Putih (Pleurotus ostreatus)

Penentu utama dalam kehidupan jamur adalah substrat atau media. Bahan lapuk atau terdegradasi ideal untuk jamur. Pertumbuhan miselium dan perkembangan tubuh buah akan dibantu oleh bahan organik yang kaya akan selulosa dan lignin (Steviani, 2011).

Secara umum media tanam yang digunakan dalam proses pembuatan baglog untuk pertumbuhan dan sebagai media jamur tiram melangsungkan hidup antara lain 80% serbuk gergaji, 18% dedak padi, yang berfungsi sebagai sumber karbohidrat esensial untuk pertumbuhan miselium, kapur ((kalsium karbonat) (2%).), yang berfungsi sebagai sumber mineral kalsium dan media pengatur pH, dan air dengan rendemen 400 gram/perlakuan (tergantung penambahan tiap perlakuan sampai mencapai retribusi/ kadar 60%), dalam artian jumlah air yang diberikan per-baglog bisa mencapai 30-40 ml (Sa’adah, dkk, 2016). Berbeda dengan tanaman yang memiliki standar kebutuhan air yakni 200-400 ml/hari/tanaman (Dewi, dkk, 2017)

Kebutuhan zat unsur hara yang dibutuhkan oleh triam putih diantaranya adalah 0,80% Nitrogen, 24,3% Hemiselulosa, 33,1%Selulosa, 5,8% Lignin, 0,06%, Fosfor, 6,64% Kalsium dan 73,8% air (Yuliani, dkk, 2013). Jamur tiram akan terus berkembang dan berproduksi selama memiliki sumber nutrisi untuk pertumbuhan.

Menurut temuan Sumiati et al (2016), peningkatan dalam menghsailkan jamur tiram dapat dilakukan dengan memidifikasi bahan dasar utama baglog.

(7)

2.3 Limbah Organik

Sampah/limbah adalah bahan yang merupakan sisa atau buangan akibat perbuatan dari masyarakat disekeliling atau merupakan proses alam yang sedikit mempunyai nilai ekonomis dan menimbulkan dampak negatif terhadap lingkungan jika tidak dilakukan tidak lanjut dalam pengolahan(Djaja, 2008).

Dalam artian hal ini memerlukan atau membutuhkan modal yang cukup besar dalam mengelolanya atau membersihkannya sehingga hal ini dapat berdampak negatif disisi ekonomi dan jika dibiarkan dapat mencemari kelestarian lingkungan yang akan berdampak negaatif bagi lingkungan (Hariadi et al. 2013). Limbah tanaman, di sisi lain, dapat memberikan pemmasukan bagi orang yang mau menangani dan memanfaatkannya, berbeda dengan limbah organik, limbah organik harus dilakukan pengelolaan atau daur ulang atau dapat juga dikembalikan lagi ke tanah untuk menjaga produktivitas tanah. Batang pisang misalnya, bisa dimanfaatkan sebagai media tanam jamur tiram putih, sehingga bisa mendatangkan pendapatan bagi masyarakat (Umrah, dkk, 2021)

2.4 Pisang

Pisang adalah tanaman berdaun besar dan termasuk dalam famili Musaceae. Suhu panas nan-tropis yang ideal dan kondisi tanah yang kaya humus di Indonesia memungkinkan tanaman pisang tumbuh subur. Hampir seluruh negara Indonesia kini dikhususkan untuk produksi pisang. Jawa Barat (Sukabumi, Cianjur, Bogor, Purwakarta, Serang), Jawa Tengah (Demak, Pati, Bayumas, Sidorejo, Kesugihan, Kutosari, Pringsurat, Pemalang), Jawa Timur (Banyuwangi, Malang), Sumatera Utara (Padangsidempuan, Natal, Samosir, Tarutung), Sumatera Barat (Sungag, Baso, Pasaman), Sumatera Selatan (Tebing Tinggi,

(8)

Ogan Komerig Ilir, Ogan Komering Ulu, Baturaja), Lampung (Kayu Agung, Metro), Kalimantan, Sulawesi, Maluku, Bali, Dan Nusa Tenggara Barat merupakan sentra produksi pisang di Indonesia (Sutowo, dkk 2016).

Gambar 1. Batang dan penampang melintang batang pisang

Pertumbuhan dan perkembangan batang pisang awal dimulai dari pertumbuhan pelepah-pelepah yang kemudian tumbuh memutari/mengelilingi poros lunak sehingga disebutkanlah bahwa pisang tidak memiliki batang sejati.

Menurut Yustina (2015), batang semu tersusun dari struktur daun pisang yang menjadi kumpulan pelepah dan membentuk suatu struktur silindris. Daun ini terbentuk dari dalam jaringan meristemseperti yang terdapat dalam bonggol (rhizom). Pada awalnya helaian (lamina) berbentuk gulungan kemudian daun- daun selanjutnya terbentuk ke arah sebaliknya yakni luar, sehingga daun dengan posisi terluar merupakan daun yang dibentuk lebih awal dan sekaligus merupakan

(9)

daun yang lebih tua. Sehingga dapat disimpulkan bahwa Semakin tua daun maka semakin sempit atau semakin kecil ukuran helaiannya. Sedangkan untuk daun- daun muda yang muncul pada tahap berikutnya ukurannya akan jauh lebih besar dibandingkan dengan laminanya. Sehinggaperkembangan pelepah dapat dilihat daun yang paling awa atau yang lebih dulu muncul membentuk limgkaran dan selanjutnya membentuk batang semu. Namun, dorongan-dorongan yang berasal dari dalam yang dilakukan oleh pelepah-pelepah yang tumbuh, kemudian menjadikan pelepah bagian terluar menjadi tidak melingkar secara penuh.

Sehingga ketika dibuka satu persatu pelepah-pelpepah batang tersebut membuktikan bahwa batang semu nampak melengkung secara tidak sempurna (Transversal).

Pisang tidak memiliki konsep musim panen dan dapat matang kapan saja.

Pohon pisang biasanya ditebang setelah berbuah dan dikumpulkan. Pohon pisang juga ditipiskan dengan cara ditebang.

Tabel 2. Kandungan Nutrisi Batang Pisang (Nurwahijab, 2016)

Komponen Nilai Nutrisi (%)

Bahan kering (BK) Abu

Protein kasar (PK) Serat kasar (SK) Lemak kasar (LK)

Bahan ekstrak tanpa nitrogen (BETN) Hemiselulosa

Selulosa Lignin

Serat detergen netral (NDF) Serat detergen asam (ADF)

8,62 24,31

4,81 27,73

2,75 40,61 20,34 24,64 9,92 40.5-64,2 35,6-45,5

Pelepah batang pisang tersusun atas selulosa, hemiselulosa, lignin, dan abu. Monosakarida mendominasi kandungan hemiselulosa pada pelepah batang pisang. Dengan nilai 71,76 persen, glukosa merupakan monomer utama dalam

(10)

bahan baku utama ini. Xilosa 11,20 persen, arabinosa 7,34 persen, galaktosa 2,02%, manosa 0,58 persen, dan asam galakturonat 7,09 persen juga ada dalam monomer utama ini. Monosakarida ini mengubah total 97,90 persen hemiselulosa (Setianingsih dkk, 2016). Tumbuhan juga membutuhkan mineral seperti Fe, Na, Mg, dan lain-lain agar dapat hidup. Menurut Hasrida (2011), batang pisang memiliki nilai gizi bahan kering 8,63 persen, abu 24,31 persen, protein kasar 4,81 persen, serat kasar 27,73 persen, dan lemak kasar 2,75 persen. Bahan Ekstraksi Tanpa Nitrogen (BETN) mengandung 40,61 persen hemiselulosa, 20,34 persen selulosa, 26,64 persen selulosa, dan 9,92 persen lignin. Hal ini sejalan dengan penegasan Astuti dan Kuswytasari (2013) bahwa selulosa, hemiselulosa, dan lignin berperan penting dalam pertumbuhan miselium jamur. Karena jamur mendapatkan makanannya dengan menguraikan komponen ini menjadi gula sederhana, yang digunakan untuk pertumbuhan miselium dan pembentukan tubuh buah jamur (Redaksi Agromedia, 2010)

2.5 Molase

Molase, berbeda dengan campuran serbuk gergaji dan dedak, mengandung bentuk karbohidrat yang lebih sederhana, menurut Ikhsan dan Iriani (2017).

Sehingga karbohidrat dalam molase dapat dimanfaatkan lebih cepat untuk perkembangan jamur tiram putih. Karbohidrat merupakan sumber energi utama bagi pertumbuhan dan perkembangan jamur tiram putih.

Molase merupakan bahan alternatif yang dapat dimanfaatkan sebagai suplemen budidaya jamur tiram putih. Molase menyediakan glukosa, fruktosa, nitrogen, kalsium, magnesium, kalium, dan zat besi, yang semuanya dapat membantu jamur tiram putih memenuhi kebutuhan nutrisinya.

(11)

Menurut Mahrus (2014), pemberian molase pada jamur tiram mempengaruhi penampilan miselium, panjang penyebaran miselium, penampilan tubuh buah, dan jumlah tubuh buah pada jamur tiram putih. Hal ini karena tetes tebu (molase) mengandung unsur hara sebagau sumber untuk dalam pertumbuhan dan perkembanagan jamur, dan penyerapan zat unsur hara berupa gula yang terdapat dalam kandungan tetes tebu (molase) dimulai dengan pemecahan unsur gula, yang dimana proses ini dibantu oleh enzim yang bertindak sebagai pemecah selulosa yang kemudian dikeluarkan oleh jamur melalui ujung lateral dari bagian miselium/ benang miselium, dan sehingga kemudian dalam proses ini diubah menjadi energi yang dimanfaatkan dalam untuk proses respirasi maupun proses pembelahan-pembelahan sel melalui mitosis, menyebabkan sel-sel benang miselium bertambah ukurannya menjadi panjang. Sehingga ketersediaan hara ini dapat mempercepat perkembangan miselium. Lebih lanjut Susiana (2010) menyatakan bahwa penambahan gula dalam berbagai persentase berpengaruh terhadap pertumbuhan miselium jamur tiram merah dan ada hubungan antara penambahan gula dengan pertumbuhan miselium jamur tiram merah.

Referensi

Dokumen terkait

Studi Pertumbuhan dan Produksi jamur tiram putih (Pleorotus ostreatus) Pada Media Tumbuh Gergaji Kayu Sengon Dan Bagas Tebu.. Hale,

Molase mengandung glukosa, fruktosa, nitrogen, kalsium, magnesium, potasium dan besi yang dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan nutrisi pada jamur tiram

Unsur hara makro adalah unsur hara yang dibutuhkan tanaman dalam jumlah yang banyak, apabila kurang, pertumbuhan tanaman dan produksi akan berkurang.. Mineral yang termasuk

Tandan kosong kelapa sawit (TKKS) dapat dimanfaatkan sebagai kompos yang memiliki kandungan unsur hara yang terbilang lengkap karena mengandung unsur hara makro

Media tumbuh jamur tiram yang umum digunakan adalah serbuk gergajii yang banyak mengandung serat organik (selulosa dan lignin) namun masih ada beberapa bahan yang dapat

Biofertilizer adalah zat yang mengandung mikroorganisme hidup dan bila diterapkan pada benih permukaan tanaman atau tanah, dapat berkolonisasi di. rizosfer dan

Pemupukan bertujuan untuk menambahkan unsur hara dalam tanah. Karna apabila tanah kekurangan unsur hara maka akan mempengaruhi pertumbuhan tanaman nilam dikarenakan

Menurut Albert (2001), bahan pengisi yang ditambahkan ke dalam pembuatan sosis terdiri dari tepung-tepungan yang memiliki kandungan pati yang tinggi, tetapi kandungan