BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah
Pajak bumi dan bangunan merupakan pajak yang dikenakan atas tanah dan bangunan. Yang menjadi objek pajak dalam hal pengenaan pajak bumi dan bangunan adalah setiap orang yang menguasai, memiliki dan atau memperoleh manfaat atas tanah dan bangunan. Selanjutnya Derektorat jenderal pajak menetapkan siapa saja yang menjadi wajib pajak. Setiap orang yang menjadi wawjib pajak harus membayar pajak bumi dan bangunan yang telah ditentukan oleh Derektorat Jenderal Pajak.
Pajak bumi dan bangunan sebagaimana jenis pajak lainnya merupakan salah satu sumber penerimaan Negara yang sangat penting artinya dalam menunjang kelancaran pembangunan nasional berdasarkan Undang – undang No 12 Tahun 1985 sebagaimana telah diubah dengan Undang – undang no 12 Tahun 1994 pasal 2 {ayat 1} tentang Pajak Bumi dan Bangunan yang menjadi objek pajak Bumi dan bangunan adalah Bumi dan/bangunan, sedangkan di dalam pasal 4 {ayat 1} Undang – undang No 12 Tahun 1985 sebagaimana telah di ubah dalam Undang – undang no 12 Tahun 1994 disebutkan bahwa yang menjadi subyek pajak bumi dan bangunan adalah orang atau badan yang secara nyata mempunyai suatu hak atas bumi, dan/atau memperoleh manfaat atas bangunan.
Pajak bumi dan bangunan merupakan jenis pajak yang karakteristiknya tersendiri sehingga penanganannyapun mempunyai kekhususan sebab dalam jumlah wajib pajak yang sangat besar mencakup rakyat yang berpendapatan kecil sampai dengan rakyat yang berpendapatan tinggi, pelaksanaan dalam penagihan dalam wilayah yang sangat luas, sunggu dipengaruhi oleh aspek politik dan aspek sosiologis. Dalam penanganan pajak bumi
dan bangunan dilibatkan aparat keuangan yaitu kantor pelayanan pajak bumi dan bangunan yang berwewenang yang menetapkan besarnya pajak yang harus dibayar bagi masing- masing wajib pajak sekaligus menentukan besarnya target pajak bumi dan bangunan dan pemerintah daerah yang bertugas menagih yang ditangani Dinas Pendapatan Daerah Kabupaten Belu dan dalam penagihannya dibantu oleh aparat pemerintah Desa Kecamatan Malaka Tengah.
Penulis melihat bahwa Desa Kamanasa Kecamatan Malaka Tengah Kabupaten Belu merupakan Desa yang cukup berpotensi, apabila ditinjau dari letaknya yang cukup strategis, maka kegiatan lintas perekonomian Pajak Bumi dan Bangunan masyarakat cukup menanjak, terutama berhubungan dengan pajak bumi dan bangunan pada umumnya.
Masyarakat di Desa Kamanasa mempunyai luas tanah perkebunan, persawahan dan bangunan - bangunan yang cukup besar dan juga terdiri dari orang-orang yang cukup mampu dan mengerti serta sadar pembayar pajak sebab terdiri dari TNI, Pegawai Negeri, Pedagang, Tukang dan Petani maka kalau dinilai tentu pembayaran pajak bumi dan bangunan pasti cukup lancar. Namun dalam kenyataannya pelaksanaan pembayaran Pajak Bumi dan Bangunan di Desa Kamanasa kurang efektif. Untuk mendapatkan gambaran umum tentang tingkat pembayaran pajak bimi dan bangunan dapat dilihat pada tabel sebagai berikut :
Tabel. 1
Realisasi penerimaan pajak bumi dan bangunan Di Desa Kamanasa kecamatan Malaka Tengah
Kabupaten BeluTahun 2008/2009
NO Desa Kamanasa
WP Penetapan Penye- toran
Tung - gakan
% Penye-
toran
% Tungga -kan Dusun
1
Kamanasa 266 7.006.106 4.006.106 3000.000 57,18 42,82
2 Sukabi Wedik
242 6.173.455 5.173.455 1000.000 83,80 16,20 3
Labarai 69 2.706.983 1.706.983 1000.000 6306 36,94 4
Fatisin A 96 2.508.568 1.508.568 1000.000 60,14 39,86 5 Fatisin B 92 2.154.979 2.154.979 Lunas 100 0 6 Sukabi
Hanawa
161 6.211.604 4.211.604 2000.000 67,80 32,20 7 jumlah 926 26.761.695 18.761.695 8.000.000 70,11 29,89
100 % Sumber : Kantor Desa Kamanasa
Data pada tabel tersebut memperlihatkan bahwa secara umum Desa Kamanasa kurang optimal dalam pelaksanaan pembayaran pajak bumi dan bangunan. Oleh karena itu koordinasi kepala Desa menjadi sangat penting dalam pelaksanaan pembayaran Pajak Bumi dan Bangunan. Di sini dapat kita lihat fungsi koordinasi menurut para ahli.
Menurut S . P Siagian (1985 : 110) menyatakan menyatakan bahwa : koordinasi adalah pengaturan tata hubungan dari usaha – usaha bersama untuk memperoleh kesatuan tindakan dalam usaha pencapaian tujuan bersama pulah. Juga merupakan suatu peroses yang mengatur agar pembagian kerja dari orang atau kelompok dapat tersusun menjadi suatu kebulatan yang terintegrasi dengan cara yang seefisien mingkin. Namun dalam kenyataan pelaksanaan pembayaran Pajak Bumi dan Bangunan di desa kamanasa masih kurang optimal, mungkin kerena kurang adanya koordinasi pimpinan dalam hal ini mengatur hubungan kerja sama serta pembagian kerja yang tidak sesuai dengan keahlian tiap – tiap orang.
Terjadinya variasi dalam pencapaian hasil pembayaran pajak bumi dan bangunan, hal ini di duga karena aparat pemerintah Desa kurang melakukan fungsi koordinasi secara baik dan terarah disamping itu masalah lain seperti kurang pahamnya masyarakat terhadap arti dari pada Pajak Bumi dan Bangunan dalam pembiayaan pembangunan, kurangnya bukti nyata dari pajak yang dibayarkan dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat,
kurang giatnya aparat dalam melakukan penagihan dan sikap apatis dari masyarakat itu sendiri dalam membayar pajak, selain dari itu kadang kala wajib pajak sulit dijangkau karena tidak lagi berdomisili di di Desa Kamanasa Kecamatan Malaka Tengah Kabupaten Belu Berdasarkan pada fenomena berkaitan Pajak Bumi dan bangunan tesebut, menurut saya kurang optimalnya penerimaan disebabkan oleh banyak faktor antara lain (1) Kemampuan sumber daya manusia; (2) Sarana dan prasarana; (3) Kepemimpinan;
(4)Koordinasi; (5) Kondisi tempat tinggal; (6) Kondisi sosial ekonomi.
Usaha yang perlu dilakukan dalam mengatasi masalah tersebut diatas adalah fungsi koordinasi kepala Desa. Berkaitan dengan penerimaan Pajak Bumi dan Bangunan yang diperoleh oleh daerah, sebagaimana banyak terlihat masih banyak kekuranga-kekurangan yang ada di dalamnya terutama masih rendahnya partisipasi masyarakat dalam pembayaran Pajak Bumi dan Bangunan yang menjadi kewajibannya. Sejalan dengan hal tersebut pemerintah sering melakukan suatu teknik pemberian motivasi pada pemerintah bawahannya seperti Camat, kepala lurah dan desa dengan memberikan penghargaan bagi mereka yang berhasil memenuhi target pencapaian Pajak Bumi dan bangunan dalam tahun pajak berjalan. Namun berkaitan dengan hal tersebut, banyak kejanggalan yang ditemukan di lapangan dan sudah menjadi rahasian umum sering kali kepala desa/lurah melunasi sendiri Pajak Bumi dan Bangunan dari uang kas desa untuk menutupi kekurangan pembayaran pajak Bumi dan bangunan sebelum masa akhir pembayaran pajak. Kondisi demikian menunjukkan bahwa masih rendah partisipasi masyarakat dalam Pembayaran Pajak Bumi dan bangunan. Koordinasi kepala Desa yang sangat berperan dalam melihat berbagai hambatan yang terjadi dalam suatu usaha, dan sekaligus mencari jalan keluar
berupa tindakan perbaikan, dengan demikian suatu tujuan telah direncanakan akan dapat dilaksanakan dengan baik dan berhasil.
Penulis melihat pajak bumi dan bangunan sebagai salah satu sumber penerimaan pemerintah yang cukup diandalkan. Namaun dalam kenyataanya pembayaran Pajak Bumi dan bangunan masih saja ada tunggakan. Di sini penulis menduga mungkin masih kurangnnya kunjungan pimpinan baik formal maupun informal seperti mengadakan rapat di luar jam dinas di rumah warga, serta kurang adanya penyebar luasan surat edaran kepada para wajib pajak tentang tanggal jatuh tempo penagihan pembayaran Pajak Bumi dan Bangunan atau kurang adanya rapat koordinasi oleh Dispenda Kabupaten dan Kecamatan.
Demi meningkatkan kegiatan pelaksanaan pembangunan diwilaya kecamatan Malak Tengah, sangat dibutukan pelaksanaan koordinasi Pimpinan maka penulis merasa terdorong untuk mengangkat topik penelitian dengan judul Fungsi Koordinasi Kepala Desa dalam Pelaksanaan Pembayaran Pajak Bumi dan Bangunan di Desa Kamanasa Kecamatan Malaka Tengah Kabupaten Belu,
B. Rumusan Masalah.
Bertitik tolak dari uraian pada latar belakang masalah di atas, maka permasalahan dalam penelitian ini adalah : Bagaimanakah fungsi koordinasi Kepala Desa dalam menangani Pajak Bumi dan Bangunan di Desa Kamanasa Kecamatan Malaka Tengah Kabupaten Belu?
C. Tujuan dan Kegunaan . 1. Tujuan
Adapun tujuan yang ingin dipakai dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
a. Untuk menggambarkan fungsi koordinasi Kepala Desa dalam pelaksanaan pembayaran pajak bumi dan bangunan di Desa Kamanasa Kecamatan Malaka Tengah.
b. Untuk menggambarkan faktor – faktor pembayaran yang mempengaruhi pajak bumi dan bangunan di Desa Kamanasa Kecamatan Malaka Tengah Kabupaten Belu.
2 Kegunaan
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberi sumbangan pemikiran ilmiah terhadap :
a. Kepala Desa Kamanasa dalam menghadapi pemecahan masalah, terutama kendala-kendala yang menghambat sehingga dapat diambil tindakan perbaikan agar pembayaran pajak bumi dan bangunan dapat lebih ditingkatkan.
b. Sebagai bahan informasi bagi peneliti berikutnya yang ingin menelaah penelitian selanjutnya.