TUGAS AKHIR
Diajukan Untuk Memenuhi Tugas Dan Melengkapi Syarat Guna Memperoleh Gelar Ahli Madya Dalam Ilmu Perbankan Syari’ah
Oleh :
MUALIMAH
092503040
PROGRAM D.3 PERBANKAN SYARI’AH FAKULTAS SYARI’AH
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI WALISONGO SEMARANG
2012
ii Dr. Ali Murtadho, M.Ag
Donosari Rt/Rw 04/1 Patebon, Kendal
PERSETUJUAN PEMBIMBING
Lamp : 4 (empat) eks.
Hal : Naskah Tugas Akhir An. Mualimah
Assalamu’alaikum Wr. Wb.
Setelah saya meneliti dan mengadakan perbaikan seperlunya bersama ini saya kirim naskah Tugas Akhir saudara:
Nama : Mualimah NIM : 092503040
Judul :“PROBLEMATIKA KREDIT MACET PEMBIAYAAN MURABAHAH DI BPRS ASAD ALIF CABANG TEMANGGUNG”
Dengan ini saya mohon kiranya Tugas Akhir saudara tersebut dapat segera diujikan.
Wassalamu’alaikum Wr. Wb.
Pembimbing,
Dr. Ali Murtadho, M.Ag.
NIP. 19710830 199803 1 003
iii
iv MOTTO
“dan jika (orang yang berhutang itu) dalam kesukaran, Maka berilah tangguh sampai Dia berkelapangan. dan menyedekahkan (sebagian atau semua utang) itu, lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui.”
v melindungi hamba-Nya.
Ayah dan Ibu (Ali dan Mudawamah) tercinta, serta Adikku (Miftakhul Khoiriyah) yang selalu memberikan do’a, motivasi, dukungan serta kasih sayang dan pengorbanan yang tidak ternilai dan terbalaskan.
Dosen-dosen D3 Perbankan Syariah yang selama ini telah berikhlas hati untuk mendidik serta memberikan ilmu sehingga sedikit banyak kami mengetahui tentang dunia ekonomi, khususnya perbankan syariah. Dan tak ketinggalan pula kepada Bp. Dr. Ali Murtadho, M.Ag., terima kasih atas bimbingannya selama ini dari awal hingga akhir pembuatan TA ini.
Aa’Ugik yang telah memberikan perhatian dan motivasi kepada penulis.
Semua teman-teman D3 Perbankan Syari’ah angkatan 2009 terima kasih atas dukungannya.
Boat sahabat-sahabat q (chie_fux, mak_chik nurul, ma’e ana ) yang slalu setia menemaniku dalam susah maupun senang.
Pengelola D3 Perbankan Syari’ah dan semua pihak yang telah memberikan dukungan dan bantuan yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu, terima kasih sedalam-dalamnya.
Teman kos q mbk Nely, mbk Ulin, mbk Nurul, mbk Zahro, mbk nila, dan lala kharis terima kasih atas suportnya selama ini.
vi DEKLARASI
Dengan penuh kejujuran dan tanggung jawab, penulis menyatakan bahwa Tugas Akhir ini tidak berisi materi yang telah pernah ditulis oleh orang lain atau diterbitkan. Demikian juga Tugas Akhir ini tidak berisi satupun pikira- pikiran orang lain, kecuali informasi yang terdapat dalam referensi yang dijadikan bahan rujukan.
Semarang, 01 Mei 2012
Deklarator,
Mualimah
vii
cabang temanggung, maka akan timbul resiko yang lebih besar pula. Dalam hal ini BPRS harus memiliki strategi untuk menanggulangi resiko pembiayaan tersebut. Sebelum mengetahui strategi penanggulangan pembiayaan bermasalah, maka terlebih dahulu harus mengetahui prosedur pemberian pembiayaan tersebut.
Untuk mengetahui prosedur pemberian pembiayaan dan strategi penanggulangan pembiayaan maka harus digunakan metode pengumpulan data seperti : observasi, interview/wawancara, dan study pustaka.
Sebelum pembiayaan dilakukan, maka perlu adanya perencanaan dalam analisis pembiayaan, agar pembiayaan yang diberikan tidak mengalami kemacetan.
Hal ini dapat dilakukan melalui pengendalian pembiayaan mutlak, yang dilaksanakan untuk mnghindari terjadinya pembiayaan bermasalah dan bagaimana penanganannya. Pembiayaan bermasalah adalah pembiayaan yang tidak lancar yang diberikan oleh debitur yang bersangkutan pada saat jatuh tempo.
Apabila sudah dihasilkan suatu keputusan untuk penyelamatan pembiayaan, maka pihak BPRS Asad Alif akan menggunakan strategi sebagai berikut :
1. Rescheduling (penjadwalan kembali) 2. Reconditioning (persyaratan ulang) 3. Restructuring (penataan ulang)
4. Management Assistancy (bantuan konsultasi) 5. Liquidation (penjualan barang agunan)
viii
KATA PENGANTAR ميخرلا نمحّرلا للها مـــسب Assalamu’alaikum Wr. Wb.
Puji syukur ke hadirat Allah SWT, penguasa alam semesta dan raja manusia karena segala rahmat, taufiq dan hidayah-Nya. Tak lupa kita panjatkan shalawat dan salam kepada Nabi Besar Muhammad SAW, sehingga penulis dapat menyelesaikan penyusunan Tugas Akhir di BPRS Asad Alif Cabang Temanggung. Tugas akhir disusun untuk memenuhi persyaratan kelulusan Prodi Perbankan Syari’ah di fakultas syari’ah IAIN Walisongo Semarang, sebagai penulis pemula tidak akan mudah untuk menulis sebuah tugas akhir yang bermutu tinggi maka dengan kerendahan hati penulis akan menyajikan sebuah karya tulis atau tugas akhir dengan judul
“PROBLEMATIKA KREDIT MACET PEMBIAYAAN MURABAHAH DI BPRS ASAD ALIF CABANG TEMANGGUNG”.
Penulis menyadari sepenuhnya bahwa proses penyusunan laporan ini dapat selesai berkat bantuan dari berbagai pihak, bimbingan dan dorongan serta perhatiannya. Untuk itu pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada:
1. Allah SWT, Rasulullah SAW sebagai inspirasiku.
2. Kedua orang tuaku yang telah memberikan banyak bimbingan dan doa.
3. Bapak Prof. DR. H. Muhibbin, M.Ag., selaku Rektor IAIN Walisongo Semarang
4. Bapak DR. H. Imam Yahya, M.Ag, selaku Dekan Fakultas Syari’ah IAIN Walisongo Semarang
ix Syari’ah.
7. Bapak Muh Fauzi,S.E., M.M., selaku Dosen Wali Studi.
8. Bapak Dr. Ali Murtadho, M.Ag., selaku pembimbing magang dari kampus.
9. Seluruh Dosen Pengajar Program Diploma III Perbankan Syari’ah IAIN Walisongo Semarang.
10. Bapak Asmi Munif, Amd., selaku pimpinan BPRS Asad Alif Sukorejo.
11. Bapak Ari Suryo W, selaku kepala kantor BPRS Asad Alif cabang Temanggung.s
12. Bu Laili Rosidah, mas sutarji dan mas Andi Subhan selaku karyawan BPRS Asad Alif cabang Temanggung .
13. Saudaraku semua di D III Perbankan Syari’ah IAIN Walisongo Semarang angkatan 2009 yang telah memberikan dorongan dan doa.
14. Semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu yang telah membantu dalam penyusunan Tugas Akhir ini.
Penulis percaya bahwa Tugas Akhir ini masih jauh dari sempurna, sehingga penulis akan sangat berterima kasih atas kritik dan saran yang bersifat membangun guna penyempurnaan ini.
Akhirnya penulis berharap semoga Tugas Akhir ini dapat bermanfaat bagi yang membutuhkan.
Wassalamu’alaikum Wr.Wb.
Semarang, 01 Mei 2012
MUALIMAH NIM. 092503040
x DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL... i
HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING... ii
HALAMAN PENGESAHAN... iii
HALAMAN MOTTO... iv
HALAMAN PERSEMBAHAN... v
HALAMAN DEKLARASI... vi
HALAMAN ABSTRAKSI... vii
KATA PENGANTAR... ix
DAFTAR ISI... xi
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah... 1
1.2 Perumusan Masalah... 4
1.3 Tujuan Penelitian... 4
1.4 Manfaat Penelitian... 5
1.5 Metode Penelitian... 5
1.6 Sistematika Penelitian... 7
BAB II GAMBARAN UMUM PT.BPRS ASAD ALIF 2.1 Sejarah Berdiri Dan Perkembangan... 9
2.2 Visi Dan Misi………... 13
2.3 Kepengurusan Dan Struktur Organisasi………. 14
2.4 Tugas Masing-masing Jabatan... 16
2.5 Pengelolaan Usaha Syari’ah... 23
2.6 Produk-produk……... 25
2.7 Persoalan Yang Dihadapi………... 27
BAB III PEMBAHASAN 3.1 Pengertian, Tujuan, Fungsi Pembiayaan... 28
xi
3.5 Pemeriksaan Kelayakan Pemberian
Pembiayaan………. 45
3.6 Contoh Kasus Pembiayaan Bermasalah di BPRS
Asad Alif Cabang Temanggung……….. 50 3.7 Analisa Penanganan Pembiayaan Bermasalah
Pada Akad Murabahah………. 54
BAB IV PENUTUP
4.1 Kesimpulan... 57 4.2 Saran... 58
4.3 Penutup……… 59
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang
Perkembangan bank syari’ah di Indonesia pada saat ini sedang mengalami perkembangan yang sangat signifikan. Hal tersebut terlihat dengan semakin banyaknya bank-bank umum yang mulai beralih menjadi bank syari’ah dan hampir seluruh bank umum yang ada di Indonesia pada saat ini sudah mempunyai produk bank yang proses pengelolaan dananya berdasarkan prinsip syari’ah. Bank islam atau yang sering disebut dengan bank syariah adalah bank yang beroperasi dengan tidak mengandalkan pada bunga. Bank syariah adalah lembaga keuangan yang operasional dan produknya dikembangkan berdasarkan pada Alqur’an dan Hadis Nabi SAW.1
Pada tanggal 1 Mei 1992 Bank Muamalat Indonesia menjadi bank Islam pertama di Indonesia yang beroperasi sesuai Syari’ah.
Perkembangan perbankan Syari’ah di Indonesia mulai tampak ketika pemerintah menyetujui UU No.10 Tahun 1998 tentang perbankan.
Masyarakat mulai melihat peluang yang baik pada perkembangan bank Syari’ah, sehingga banyak bankir-bankir di Indonesia memanfaatkan peluang bisnis tersebut. Banyak bank-bank umum yang mendirikan Unit Usaha Syari’ah demi peluang bisnis yang menguntungkan.
1 Muhammad, Teknik Perhitungan Bagi Hasil dan Profit Margin Pada Bank Syariah, Yogyakarta : UII Press, 2004
BPR Syariah adalah salah satu jenis bank yang diizinkan beroperasi dengan sistem syariah di Indonesia. Aturan hukum mengenai BPR Syariah mengacu kepada Undang-Undang Nomor 10 tahun 1998 dan Peraturan Bank Indonesia (PBI). Dalam sistem perbankan nasional, BPR Syariah adalah bank yang didirikan untuk melayani Usaha Mikro dan Kecil (UMK). Sektor UMK ini yang menjadikan BPR Syariah berbeda pangsa pasarnya dengan Bank Umum / Bank Umum Syariah. Dalam sistem perbankan syariah, BPR Syariah merupakan salah satu bentuk BPR yang pengelolaannya harus berdasarkan prinsip syariah2.
Peluang bisnis tersebut tentu saja tidak disia-siakan begitu saja oleh BPR SYARI’AH Asad Alif sukorejo. PT. BPR SYARI’AH Asad alif Sukorejo pada awalnya bernama Balai Usaha Mandiri Terpadu (BMT)
“Arga Putra Kencana” yang operasionalnya berdasarkan Sertifikat Operasional Semetara No. 02001/PINBUK JATENG-00011/III/1998 TANGGAL 16 Maret 1998 dan Anggaran Dasar Kelompok Swadaya Masyarakat telah beroperasi sejak tanggal 2 Februari 1996, kemudian diperkuat dengan adanya Akte Notaris “Mustari Sawilin, SH” Nomor 18 tanggal 22 September 1997. Tidak hanya itu, izin usaha dari Bank Indonesia No.31/27/DIR/UBPR/Rahasia tanggal 29 Juli 1998 ditambah dengan persetujuan Menteri Kehakiman No.C2.11481.HT.01.01.TAHUN.
97 tanggal 5 November 19973. Kehadiran BPR SYARI’AH Asad Alif memberikan nuansa tersendiri bagi masyarakat sekitar yang sebagian besar
2 http://www.bi.go.id/NR/rdonlyres/MengenalBPRSyariah.pdf dikutip 9 April 2012, jam 19.15
3 Profil BPRS Asad Alif
3
adalah pedagang, masyarakat yang membutuhkan tambahan modal untuk pengembangan usaha dapat mengambil pembiayaan yang ditawarkan BPR SYARI’AH Asad Alif. Karena kegiatan operasionalnya berdasarkan prinsip Syari’ah tentunya tidak akan mencekik nasabah dengan ketentuan pengembalian modal yang berat.
Untuk memberikan pelayanan kepada nasabah, BPRS Asad Alif mempunyai beberapa produk dan jasa yang siap bersaing dengan produk dan jasa bank lain. Pada BPRS Asad Alif produk pembiayaan ada dua jenis yaitu pembiayaan murabahah dan pembiayaan musyarokah. Akan tetapi untuk kenyataannya di BPRS Asad Alif sering terjadi yang namanya pembiayaan bermasalah yaitu pembiayaan yang didalam pelaksanaannya belum mencapai atau memenuhi target yang diinginkan oleh bank, dimana nasabah mengalami kesulitan dalam menyelesaikan kewajiban- kewajibannya. Pembiayaan bermasalah menggambarkan situasi dimana persetujuan pengembalian pembiayaan mengalami resiko kegagalan dan cenderung mengalami kerugian potensial. Biasanya terjadi pembiayaan macet oleh nasabah yang disebabkan oleh banyak factor baik internal maupun eksternal.
Murabahah adalah transaksi penjualan barang dengan menyatakan harga perolehan dan keuntungan (margin) yang disepakati oleh penjual dan pembeli4. Pembiayaan murabahah merupakan pembiayaan yang banyak digunakan oleh bank-bank Syari'ah karena proses dan prakteknya
4 Sri Nurhayati,et al. Akuntansi Syariah di Indonesia, Jakarta : Salemba Empat, 2009, hlm 160
lebih mudah dibanding dengan pembiayaan yang lainnya. Murabahah juga mempunyai tingkat resiko yang lebih kecil dibandingkan dengan akad pembiayaan lainnya. Tapi bukan berarti pembiayaan murabahah ini tidak mempunyai resiko yang dapat mengakibatkan bank jatuh bangkrut, melainkan resiko pembiayan murabahah ini bisa lebih ditekan dengan langkah-langkah yang tepat tentunya. Akan tetapi pada kenyataannya di BPRS Asad Alif cabang temanggung masih banyak juga pembiayaan murabahah yang macet.
Dari uraian diatas, peneliti tertarik mengambil judul tentang
“PROBLEMATIKA KREDIT MACET PEMBIAYAAN MURABAHAH DI BPRS ASAD ALIF CABANG TEMANGGUNG”.
1.2.Rumusan masalah
Adapun rumusan masalah yang di ambil oleh penulis adalah:
- Bagaimana prosedur pembiayaan murabahah di BPRS Asad Alif ? - Apa faktor yang menyebabkan pembiayaan murabahah bermasalah?
- Bagaimana cara penaganan pembiayaan bermasalah oleh BPRS Asad Alif ?
1.3. Tujuan
1. Untuk mengetahui bagaimana prosedur dan apa saja syarat-syarat yang dibutuhkan dalam mengajukan pembiayaan murabahah di BPRS Asad Alif cabang Temanggung.
2. Untuk mengetahui faktor-faktor apa saja yang menyebabkan pembiayaan murabahah bermasalah
5
3. Untuk mengetahui Bagaimana cara penaganan pembiayaan bermasalah oleh BPRS Asad Alif
1.4. Manfaat
Dengan mengadakan praktek lapangan (Magang) di BPRS Asad Alif cabang temanggung, manfaat yang hendak diambil oleh penulis adalah :
1. Mengenalkan situasi kerja kepada mahasiswa
2. Mengetahui fakta-fakta dan contoh-contoh penerapan strategi pemasaran pada PBRS Asad Alif cabang temanggung.
3. Mengetahui perkembangan operasional dan manajemen bisnis sesuai dengan perkembangan tekhnologi saat ini.
4. Menerapkan ilmu pengetahuan yang di dapat di bangku perkuliahan.
5. Meningkatkan daya kreatifitas dan keahlian mahasiswa.
6. Melatih kepekaan mahasiswa untuk mencari solusi masalah yang dihadap dalam dunia kerja.
1.5. Metodologi Penelitian 1. Jenis Penelitian
Jenis penelitian yang akan penulis gunakan adalah jenis penelitian lapangan (field research), yaitu research yang dilakukan di kancah atau medan terjadinya gejala-gejala.5 Dengan tempat penelitian di BPRS Asad Alif cabang temanggung.
2. Sumber Data
Data Primer, adalah data yang diperoleh langsung dari subjek
penelitian yang mengenakan alat pengukuran atau alat pengambilan data langsung pada subjek sebagai sumber informasi yang dicari.5 Dalam hal ini data yang diambil langsung dari BPRS Asad Alif cabang temanggung.
Data Sekunder, adalah data yang diperoleh lewat pihak lain. Data
sekunder biasanya berwujud data dokumentasi atau data laporan yang telah ada.6
3. Metode Pengumpulan Data a. Metode Dokumentasi
Adalah mencari data tentang hal-hal yang berkaitan dalam pembahasan dalam penelitian ini, yang berupa arsip-arsip dan pedoman umum kegiatan operasional BPRS Asad Alif cabang temanggung.
b. Observasi
Metode observasi adalah pengamatan terhadap suatu objek dengan menggunakan indera, baik langsung maupun tidak langsung (dengan alat bantu).7 Observasi yang dilakukan penulis dengan mengamati secara langsung prosedur pembiayaan yang ada di BPRS Asad Alif cabang temanggung.
5 Husain Umar, Research Methods in Finance and Banking, Jakarta: PT. Gramedia Pustaka utama, 2000, hlm. 83
6 Ibid, hlm. 83 7 Ibid , hlm. 116
7
c. Wawancara
Wawancara adalah metode pengumpulan data dengan cara tanya jawab sepihak antara pewawancara dengan koresponden.8 Di sini penulis mewawancarai beberapa karyawan BPRS Asad Alif mengenai dari prosedur pengajuan pembiayaan,sampai strategi penanganan pembiayaan yang bermasalah.
4. Metode Analisis Data
Dalam penelitian ini Penulis menggunakan metode deskriptif analisis, yaitu suatu metode penelitian bertujuan untuk memberikan gambaran umum tentang subjek penelitian berdasarkan data dan variabel yang diperoleh dari kelompok subjek yang diteliti.9 Metode ini menggambarkan secara objektif mengenai strategi penanggulangan pembiayaan bermasalah pada akad murabahah di BPRS Asad Alif .
1.6. Sistematika Penulisan BAB I. PENDAHULUAN
Pada bagian ini, dipaparkan tentang latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, metode penelitian dan sistematika penelitian.
BAB II. GAMBARAN UMUM BPRS ASAD ALIF CABANG TEMANGGUNG
8 Saifuddin Anwar, Metode Penelitian, Yogyakarta: PT. Pustaka Pelajar 2001, hlm. 125 9 Ibid, hlm. 126
Dalam bab ini dipaparkan tentang sejarah berdirinya BPRS Asad Alif, visi misi dan tujuan BPRS Asad Alif cabang temanggung, struktur organisasi dan jobs description masing-masing bidang serta produk-produk BPRS Asad Alif cabang temanggung.
BAB III. KREDIT MACET PEMBIAYAAN MURABAHAH DI BPRS ASAD ALIF CABANG TEMANGGUNG
Dalam bab ini membahas pengertian, tujuan, dan fungsi pembiayaan, pembiayaan bermasalah, faktor-faktor penyebab pembiayaan bermasalah, dan penanganannya.
BAB IV. PENUTUP
Bab ini terdiri dari kesimpulan, saran, dan penutup.
9 BAB II
KONDISI UMUM PT. BPR SYARI’AH ASAD ALIF SUKOREJO KENDAL
2.1. Sejarah dan perkembangan PT. BPR Syari’ah Asad Alif Sukorejo Kendal
Pada tanggal 1 Mei 1992 Bank Muamalat Indonesia menjadi bank Islam pertama di Indonesia yang beroperasi sesuai Syari’ah.
Perkembangan perbankan Syari’ah di Indonesia mulai tampak ketika pemerintah menyetujui UU No.10 Tahun 1998 tentang perbankan.
Masyarakat mulai melihat peluang yang baik pada perkembangan bank Syari’ah, sehingga banyak bankir-bankir di Indonesia memanfaatkan peluang bisnis tersebut. Banyak bank-bank umum yang mendirikan Unit Usaha Syari’ah demi peluang bisnis yang menguntungkan1.
Peluang bisnis tersebut tentu saja tidak disia-siakan begitu saja oleh BPR SYARI’AH Asad Alif Sukorejo. PT. BPR SYARI’AH Asad alif Sukorejo pada awalnya bernama Balai Usaha Mandiri Terpadu (BMT)
“Arga Putra Kencana” yang operasionalnya berdasarkan Sertifikat Operasional Semetara No. 02001/PINBUK JATENG-00011/III/1998 TANGGAL 16 Maret 1998 dan Anggaran Dasar Kelompok Swadaya Masyarakat telah beroperasi sejak tanggal 2 Februari 1996, kemudian diperkuat dengan adanya Akte Notaris “Mustari Sawilin, SH” Nomor 18 tanggal 22 September 1997. Tidak hanya itu, izin usaha dari Bank
1http://www.muamalatbank.com/index.php/home/about/profile, dikutip 9 April 2012, Jam 19.15
Indonesia No.31/27/DIR/UBPR/Rahasia tanggal 29 Juli 1998 ditambah
dengan persetujuan menteri kehakiman
No.C2.11481.HT.01.01.TAHUN.97 tanggal 5 November 19972.
Atas dasar surat keputusan dari berbagai lembaga tersebut , lembaga keuangan yang sebelumnya bernama Kelompok Usaha Terpadu “BMT Arga Surya Barokah” berubah menjadi “PT. BPR Syari’ah Asad Alif”
dengan H. Suhardjo, Hermawan Mardiyanto, dan Sri Mardikaningsih sebagai pemegang saham terbesar.
Dalam perjalananya PT. BPR Syari’ah Asad Alif mengalami banyak perubahan yang berkaitan dengan kepengurusan dan inovasi produk berdasarkan prinsip Syari’ah yang diikuti perubahan yang lainnya.
Diantara perubahan yang berkaitan dengan kepemimpinan yaitu mengenai pengangkatan Sugeng Supriyadi, SE sebagai Direktur Utama yang diangkat berdasarkan pada Berita Acara Notaris “Mohammad Hafidh, SH”
No. 3 tanggal 3 Juli 2002, sekaligus menggantikan S. Prakosa dan Desvita Nur Ismawati dari jabatan sebelumnya. Sebagai bukti nyata telah lahirnya Lembaga Keuangan Syari’ah di Sukorejo, PT. BPR SYARI’AH Asad Alif telah membuka kantor pusat di jalan sudagaran No 20 Sukorejo Kendal.
Berikut data singkat dari PT. BPR SYARI’AH Asad Alif Sukorejo awal berdiri3:
1. Data Perusahaan :
Nama perusahaan : PT. BPR SYARI’AH Asad Alif
2 Profil BPRS Asad Alif 3 Ibid
11
Alamat : Jl. Sudagaran No.20 Sukorejo Kendal No.Telp : (0294) 451593
No. Fax : (0294) 451819 No. NPWP : 1.830.715.7.503 No. TDP : 11181800098 Akte Pendirian : 22 September 1997
No. / tgl Izin Prinsip : No. S-767/MK 17/1997, 15 September 1997
No. / tgl Izin Usaha : No. 31/27/DIR/UBPR/Rahasia, 29 Juli 1998
Persetujuan menteri kehakiman No.
C2.11481.HT.01.01.TH.97,Tanggal 5 November 1997.
2. Kepengurusan :4 1) Dewan komisaris
a. Komisaris utama : H. Suhardjo
b. Komisaris : Hj. Sri Mardikaningsih c. Komisaris : Ir. Harmawan Mardiyanto 2) Dewan Pengawas Syari’ah
a. Ketua : Drs. KH Asnawi Usman b. Anggota : KH. A. Sudiyono c. Anggota : K. Mas’as
3) Direksi
4 Profil BPRS Aasad Alif
Direktur utama : Sugeng Supriyadi, SE
Perkembangan dan pengembangan usaha terus dilakukan dari beberapa tahun terakhir, berdasarkan surat penegasan dari Bank Indonesia No. 8/45/DPbs/PIA/Sm tanggal 6 Juli 2006 perihal pembukaan kantor kas dan sesuai dengan rencana kerja tahunan (RKT) tahun 2006, BPR SYARI’AH Asad Alif Sukorejo berhasil membuka 4 (empat) kantor kas baru yang berada di 4 (empat) tempat berbeda, yaitu5 :
1. Kantor Kas Boja
Beralamat di jalan beringin komplek pasar Boja No. 2, Kendal
Telp. (0294) 571091 2. Kantor Kas Dr Cipto
Beralamat di jalan Dr Cipto No.152, Semarang Telp. (0294) 3512158
3. Kantor Kas Ngadirejo
Beralamat di jalan Raya Ngadirejo Km 05 Temanggung Telp. (0293) 591157
4. Kantor Kas Ungaran
Beralamat di jalan Semarang-Bawen Km 25 Bergas, Semarang
Telp. (024) 692209
5 Brosur BPRS Asad Alif
13
Keempat kantor tersebut dibuka sebagai sarana untuk lebih mengenalkan keberadaan BPR SYARI’AH Asad Alif kepada masyarakat luas, khususnya masyarakat di Semarang. Keempat kantor kas memiliki fungsi yang sama yaitu menghimpun dana dari masyarakat dan menyalurkannya kembali kepada masyarakat dalam bentuk pembiayaan.
Namun segala bentuk kewenangan dalam bentuk kewenangan dalam pengambilan keputusan masih terpusat pada BPR SYARI’AH Asad Alif Sukorejo sebagai kantor pusat.
2.2. Visi dan Misi BPRS Asad Alif
Adapun visi, tujuan dan misi dari BPR SYARI’AH Asad Alif adalah sebagai berikut6 :
1. Visi BPR Syariah Asad Alif
Menjadi BPR Syariah yang terus berkembang sehingga dapat mensejahterakan masyarakat, karyawan danpemilik.
2. BPR Syariah bertujuan
Tujuan dari PT BPRS Asad Alif Adalah membangun usaha perbankan yang berkelanjutan agar dapat meningkatkan kesejahteraan bagi pemiliknya karyawan dan lingkungannya
3. Misi BPR Syariah Asad Alif
a. Menjadi mitra usaha masyarakat dengan memberikan pelayanan terbaik.
6 Profil BPRS Asad Alif S
b. BPRSyariah Asad Alif ingin menjadi mitra bagi masyarakat / nasabah untuk perkembangan usaha kedua belah pihak dengan memberikan pelayanan terbaik dalam segala hal.
2.3.Kepengurusan dan Struktur organisasi perusahaan
Agar memudahkan mencapai tujuan yang telah direncanakan dalam perusahaan maka perlu disusun suatu struktur organisasi perusahaan.
Struktur organisasi adalah suatu bagian yang menunjukkan suatu aktivitas dan batas-batas saluran kekuasaan, tanggung jawab, dan wewenang masing-masing bagian yang ada dalam organisasi. Dengan melihat struktur organisasi maka masing-masing bagian dalam melaksanakan tugasnya dapat mengetahui tanggung jawab dan wewenang yang diberikan.
Setelah berjalan kurang lebih dua puluh tahun dari sejak didirikan telah ada perubahan kepengurusan dari kepengurusan awal dan kepengurusan sekarang di BPR SYARI’AH Asad Alif, bagan struktur organisasi masa kepemimipinan sekarang dapat dilihat pada lembar terpisah7.
Adapun struktur organisasi kepengurusan saat ini adalah : 1. Dewan komisaris : H.Sidik Dewantoro,SE
Hj Sri Mardikaningsih Ir Harmawan Mardiyanto
7 Ibid
15
2. Dewan pengawas syari’ah : Drs KH Asnawi Usman KH A. Sudiono
K. Mas'as 3. Direksi :
Direktur : Moh Asmi Munif, Amd
Kepala kantor pusat : puudji NurDjiyanto Satuan Pengawas Intern : Tommy Hidayat Manager operasional : Like setyowati, SE Manager Marketing : Siti Zakiyah, SE Teller : Sukristiyatun, SE Customer Service : Purwati
Account Officer : Fahrudin
Administrasi pembiayaan : Hestarida A, SPt
Marketing : Agus Susanto
IT : Yustiar Sulcantiva I, SH, SKom
4. Cabang Temanggung
Kepala cabang : Ari Suryo W Teller : laili rosidah, SH Account Officer : Sutarji
Marketing : Andi Subhan, Amd
2.4 Tugas masing-masing jabatan :8 1. Dewan komisaris
Tugas dan tanggung jawab :
a) Melakukan pengawasan dan memberikan pengarahan kepada direksi dalam menjalankan perseroan.
b) Menyelenggaran rapat umum luar biasa pemegang saham/rapat anggota luar biasa dalam hal pembebasan tugas dan kewajiban Direksi.
c) Mempertimbangkan dan memutuskan permohonan penyaluran dana yang jumlahnya melebihi jumlah maksimum yang dapat diputuskan oleh Direksi.
d) Memberikan penilaian atas neraca dan laporan keuangan berkala semesteran dan tahunan yang disampaikan oleh Direksi.
e) Menandatangani surat-surat saham yang telah diberi nomor urut sesuai dengan wewenang yang telah diberikan dalam anggaran dasar.
2. Direksi
Fungsi utama :
a) Memimpin usaha bank sesuai dengan tujuan dan kebijakan umum yang telah ditentukan.
b) Merencanakan, mengkoordinasikan, dan mengendalikan seluruh aktifitas bank meliputi penghimpunan dan penyaluran dana serta
8 ibid
17
kegiatan-kegiatan yang secara langsung berhubungan dengan aktivitas utama bank.
c) Melindungi dan menjaga asset dan kekayaan perusahaan yang berada dalam tanggung jawabnya.
d) Membina hubungan dengan pemegang saham, nasabah, dan calon nasabah serta pihak lain yang dilayani dalam rangka mengembangkan layanan yang baik.
e) Membina hubungan kerjasama internal dengan seluruh jajaran manajemen dan eksternal dengan organisasi masyarakat, badan usaha, serta sesame LKS untuk meningkatkan kemampuan usaha.
3. Dewan Pengawas Syari’ah (DPS)9 Tugas :
Dewan pengawas Syari’ah mempunyai tugas menetapkan kebijaksanaan tentang Syari’ah, menjalankan pengawasan, pengendalian, dan pembinaan terhadap produk-produk perbankan agar sesuai Syari’ah islam.
Fungsi :
a) Menyusun tata cara kerja pengawasan dan pengelolaan bank sesuai Syari’ah Islam.
b) Melakukan pengawasan atas kepengurusan bank sesuai Syari’ah Islam.
9 ibid
c) Menggariskan kebijakan anggaran dan keuangan bank sesuai Syari’ah islam.
d) Membantu dan mendorong usaha pembinaan dan pengembangan bank sesuai Syari’ah Islam.
e) Bila perlu dapat meminta dokumen dan penjelasan langsung dari satuan kerja bank Syari’ah serta ikut dalam pembahasan komite pembiayaan.
4. Satuan Pengawas Intern (SPI)10 Tugas :
Satuan pengawas intern mempunyai tugas melaksanakan pengawasan intern atas kegiatan-kegiatan bank.
Fungsi :
a) Melakukan pengawasan atas pelaksanaan anggaran pendapatan dan belanja bank.
b) Mengawasi dan memberikan penilaian terhadap kegiatan operasional bank secara berkala.
c) Melakukan audit atas administrasi keuangan dan pengelolaan penggunaan dana seluruh kekayaan milik bank.
d) Melakukan evaluasi atas pelayanan yang diberikan nasabah.
e) Mengadakan pengecekan ulang atas agunan dan lain-lain, jaminan yang diterima oleh bank.
10 ibid
19
f) Memberikan saran dan perimbangan tentang langkah-langkah dan atau tindakan yang perlu diambil oleh Direksi.
5. Manager Marketing11 Tugas :
a) Menyusun rencana bisnis, strategi pemasaran dan rencana tindakan berdasarkan target yang harus dicapai.
b) Menyusun rencana kerja dan strategi restrukturisasi berdasarkan target yang ditetapkan.
c) Membina hubungan dengan nasabah/ calon nasabah yang terdapat pada wilayah kerja bank.
d) Memadu pelaksanaan aktivitas pemasaran produk-produk dan pencairan nasabah baru yang potensial untuk seluruh produk.
e) Mereview analisa pemberian fasilitas kredit secara komprehensif dan menyampaikan kepada direksi untuk mendapatkan persetujuan sesuai jenjang kewenangannya.
f) Menyerahkan, memantau, dan melaporkan pelaksanaan kegiatan restrukturisasi dan recovery.
Tanggung jawab :
a) Bertanggung jawab terhadap pembinaan hubungan baik dengan nasabah dengan profesional dengan tujuan mengembangkan bisnis yang saling menguntungkan.
11 ibid
b) Bertanggungjawab terhadap tercapainya target kualitas asset, profitabilitas, dan ekspansi yang ditetapkan.
c) Bertanggung jawab terhadap proses mutu analisa awal pemberian fasilitas.
6. Manager Operasional12 Fungsi :
Mengkoordinasi, memonitoring, dan memfasilitasi kegiatan operasional secara efisien dan efektif sesuai dengan system dan prosedur yang berlaku.
Tanggung jawab :
a) Menjamin terpeliharanya kelancaran dan ketertibank kegiatan untuk menunjang efektifitas pelayanan kepada nasabah.
b) Melaksanakan kegiatan operasional berdasarkan pada ketetapan berbagai tujuan, sasaran, kebijakan, aturan dan standar.
c) Mengendalikan keamanan dan kelancaran pelaksanaan kegiatan operasional bank serta pelaporan secara efektif dan efisien.
d) Mengatur sumber daya dan kegiatan operasional melalui perencanaan, pengorganisasian, pengarahan dan pengawasan.
e) Menyusun rencana tabungan dan merencanakan pembinaan dengan para nasabah.
7. Kepala Kantor Kas
Tugas dan tanggung jawab :
12 ibid
21
a) Menjabarkan kebijakan umum yang telah dibuat Direksi dan telah disetujui Dewan Komisaris.
b) Menyusun dan menghasilkan rencana kerja dan anggaran, proyeksi finance dan non finance disampaikann kepada Direksi untuk mendapatkan persetujuan Dewan Komisaris.
c) Mengkoordinasi, memonitoring, dan memfasilitasi kegiatan operasional secara efisien dan efektif sesuai dengan system dan prosedur yang berlaku.
d) Menjamin terpeliharanya kelancaran dan ketertiban kegiatan untuk menunjang efektivitas pelayanan kepada nasabah di kantor kas dan atau kantor cabang.
e) Melaksanakan dan atau memantau kegiatan operasional bank sesuai dengan ketetapan dalam SOP di kantor kas dan di kantor cabang.
8. Marketing
Tugas dan fungsi utama dari bagian marketing adalah melakukan upaya penghimpunan dana serta penyaluran dana dari dan kepada masyarakat. Dan masing-masing tugas tersebut dilaksanakan oleh sub bagian/ unit kerja yang masing-masing menjalankan fungsi dan tugasnya secara terpisah namun saling menunjang13.
13 ibid
Bagian funding :
a) Melakukan promosi produk produk pendanaan bank baik dalam bentuk tabungan, deosito ataupun dana zis.
b) Bertanggung jawab dalam penyediaan dana likuiditas bank, serta pemenuhan kewajiban penyediaan modal disetor bank.
c) Melakukan sosialisasi aktif ke segala lapisan masyarakat sehingga dapat terhimpun dana segera dari masyarakat.
d) Menghimpun dana dari beberapa instansi/bank lain, baik itu dalam bentuk deposito ataupun pembiayaan diterima.
e) Membina dan menjaga kerja sama serta silaturrahmi yang baik dengan nasabah.
Bagian lending :
a. Bertanggung jawab dalam upaya menyalurkan dana bank dalam bentuk pembiayaan yang diberikan kepada masyarakat yang dinilai produktif.
b. Mencari nasabah potensial yang layak diberikan fasilitas pembiayaan.
c. Melakukkan analisa untuk menentukan layak tidaknya pengajuan pembiayaan dari masyarakat.
d. Bertanggung jawab atas kelancaran pengembalian dana yang telah disalurkan.
e. Melakukan penagihan, pengawasan, dan pembinaan terhadap nasabah yang telah memperoleh fasilitas pembiayaan dari bank.
23
9. Administrasi pembiayaan
a) Memeriksa dan mengurus kelengkapan dokumen-dokumen yang terlait dengan pembiayaan yang akan atau telah diberikan seperti dokumen, agunan dan data lainnya.
b) Menyiapkan surat-surat perjanjian dan surat pengikatan agunan yang terkait dengan pengajuan pembiayaan nasabah.
c) Engawasi dan bertanggung jawab atas pengarsipan semua dokumen pembiayaan nasabah, khususnya berkas jaminan pembiayaan nasabah.
d) Menghitung, mencatat, dan melakukan pembayaran atas asuransi, jasa, proses pengikatan atau pemblokiran jaminan nasabah kepada pihak lain.
2.5 Pengelolaan Usaha Syari’ah
PT. BPR SYARI’AH Asad Alif beroperasi sebagai lembaga keuangan Syari’ah yang melakukan usaha perbankan, menghimpun, dan menyalurkan dana kepada masyarakat. Kegiatan ini adalah pengelolaan inti dari jenis usaha perbankan seperti BPR SYARI’AH Asad Alif.
Maksud dan tujuan PT. BPR SYARI’AH Asad Alif melakukan kegiatan tersebut adalah :
a) Sebagai lembaga intermediasi antara masyarakat yang kelebihan dana dengan masyarakat yang kekurangan dana.
b) Membangun perekonomian masyarakat ekonomi menengah kebawah mulai dari tingkat pedesaan, kecamatan, merambah ke perkotaan.
c) Sebagai mitra bisnis masyarakat yang memberikan pembiayaan atas usaha yang dilakukan masyarakat berdasarkan prinsip Syari’ah.
d) Melalui pembiayaan PT. BPR SYARI’AH Asad Alif memberi peluang dan kesempatan kepada masyarakat untuk meningkatkan taraf hidup mereka.
e) Memperkenalkan jenis usaha perbankan yang berprinsip Syari’ah, mengutamakan kehalalan transaksi atas usaha yang dilakukan kepada masyarakat.
Sasaran pembiayaan meliputi beberapa bidang usaha yang memiliki potensi dan yang memiliki prospek bagus, meliputi :
a) Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) b) Pertanian dan peternakan
c) Home Industry
d) Usaha jasa dan jenis usaha lain
2.6 Produk-produk PT. BPR SYARI’AH Asad Alif 1. Pendanaan
A. Tabungan
25
Tabungan adalah bentuk penghimpunan dana pihak ketiga yang dananya dapat diambil sewaktu-waktu. Adapun jenis tabungan yang ada di BPR SYARI’AH Asad Alif adalah :
1. Tabungan dengan prinsip wadiah, meliputi :14
a) Tabungan haji
Adalah tabungan yang dikhususkan bagi nasabah dalam rangka memenuhi keinginannya menunaikan kewajiban ibadah haji.
b) Tabungan kurban
Adalah simpanan dari pihak ketiga yang dikhususkan bagi nasabah dalam rangka memenuhi keinginannya menunaikan ibadah kurban yang penarikannya mendekati hari raya Idul Qurban.
2. Tabungan dengan prinsip mudharabah15 a) Tabungan Ummat
Adalah simpanan masyarakat di BPR SYARI’AH Asad Alif yang penarikannya dapat dilakukan kapan pun tanpa ada jangka waktu tertentu.
b) Tabungan Idul Fitri
Adalah simpanan pihak ketiga di BPR SYARI’AH Asad Alif yang penarikannya dilakukan pada saat Idul Fitri atau
14 Brosur BPRS Asad Alif
15 ibid
pada saat kondisi-kondisi tertentu sesuai dengan perjanjian antara pihak bank dan nasabah..
c) Tabungan Remaja Muslim (TARMUS)
Adalah simpanan dengan bagi hasil yang menguntungkan yang diperuntukkan bagi remaja muslim agar gemar menabung.
B. Deposito mudharabah
Adalah investasi melalui simpanan pihak ketiga (perorangan maupun badan hukum) di BPR SYARI’AH Asad Alif yang penarikannya hanya apat dilakukan dalam jangka waktu tertentu menurut perjanjian antara pihak ketiga dengan bank, dengan mendapatkan imbalan bagi hasil.
2 Pembiayaan16
a. Pembiayaan murabahah, merupakan akad jual beli barang pada harga asal dengan tambahan margin yang disepakati antara pihak bank dan nasabah. Bank bertindak sebagai penjual dan nasabah sebagai pembeli.
b. Pembiayaan musyarokah, merupakan akad kerja sama antara dua pihak atau lebih untuk usaha tertentu dengan masing-masing menyertakan dana dan mengelola usaha dengan keuntungan dan risiko ditanggung oleh kedua belah pihak.
16 ibid
27
2.7 Persoalan yang Dihadapi
Sebagai lembaga keuangan yang operasionalisasinya berdasarkan prinsip Syari’ah, PT. BPR Syari’ah Asad Alif seiring dengan perkembangannya juga mengalami banyak hambatan dan permasalahan.
Kendala yang dihadapi oleh BPRS Asad Alif adalah pada bagian produk pembiayaan, semakin banyak nasabah yang mengajukan pembiayaan di BPRS Asad Alif maka semakin banyak pula permasalahan yang dihadapi.
Karna semakin sulitnya pihak bank dalam pemantauan usaha nasabah dengan jumlah SDM yang sedikit. Banyaknya jasa keuangan tempat BPRS Asad Alif cabang temanggung menambah semakin ketatnya persaingan di daerah tersebut. Ditambah lagi masyarakat yang masih awam tentang produk-produk syariah yang belum begitu dikenal oleh masyarakat sekitar.17
17 Hasil wawancara dengan Bpk Andi Subhan bagian marketing BPRS Asad Alif cabang temanggung pada tanggal 19 April 2012
28 1. Pengertian pembiayaan
Istilah pembiayaan berasal dari kata I believe, I trust, yaitu saya percaya atau saya menaruh kepercayaan. Kata pembiayaan artinya kepercayaan (trust) yang berarti bank menaruh kepercayaan kepada seseorang untuk melaksanakan amanah yang diberikan oleh bank selaku shahibul maal1. Dana tersebut harus digunakan dengan benar, adil dan harus disertai dengan ikatan dan syarat-syarat yang jelas serta saling menguntungkan bagi kedua belah pihak, sebagai mana dalam firman Allah surat An-Nisa ayat 29 yang berbunyi :
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang Berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu. dan janganlah kamu membunuh dirimu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu.
2. Tujuan pembiayaan
1 H.viethzal Rivai dan H. Arvian Arifin, Islamic Banking Sebuah Teori Konsep dan Aplikasi, Jakarta : Bumi Aksara, cet. Ke-1, 2010, hlm. 698
29
Secara umum, pembiayaan dibagi menjadi dua yaitu pembiayaan tingkat makro dan pembiayaan tingkat mikro2. Pembiayaan tingkat makro bertujuan untuk :
a. Peningkatan ekonomi umat, artinya masyarakat yang tidak dapat akses secara ekonomi, dengan adanya pembiayaan mereka dapat melakukan akses ekonomi. Dengan demikian dapat meningkatkan taraf ekonominya.
b. Tersedianya dana bagi peningkatan usaha artinya untuk pengembangan usaha membutuhkan dana tambahan. Dana tambahan ini dapat diperoleh melalui aktifitas pembiayaan. Pihak yang surplus dana menyalurkan kepada pihak minus dana sehingga dapat tergulirkan.
c. Meningkatkan produktivitas artinya adanya pembiayaan memberikan peluang bagi masyarakat usaha agar mampu meningkatkan daya produksinya. Sebab upaya produksi tidak dapat jalan tanpa adanya dana.
d. Membuka lapangan kerja baru artinya dengan dibukanya sector-sektor usaha melalui penambahan dana pembiayaan, maka sector usaha tersebut akan menyerap tenaga kerja. Hal ini berarti menambah atau membuka lapangan kerja baru.
e. Terjadi distribusi pendapatan artinya masyarakat usaha produktif mampu melakukan aktifitas kerja berarti mereka akan memperoleh pendapatan dari hasil usahanya. Penghasilan merupakan bagian dari
2 Ibid, hlm. 681
pendapatan masyarakat. Jika ini terjadi maka akan terdistribusi pendapatan.
Adapun secara mikro, pembiayaan diberikan dalam rangka untuk :3 a. Upaya mengoptimalkan laba artinya setiap usaha yang dibuka
memiliki tujuan tertinggi yaitu menghasilkan laba usaha. Setiap pengusaha menginginkan mampu mencapai laba maksimal. Untuk dapat menghasilkan laba maksimal maka mereka perlu dukungan dana yang cukup.
b. Upaya meminimalkan resiko artinya usaha yang dilakukan agar mampu mampu menghasilkan laba maksimal, maka pengusaha harus mampu meminimalkan resiko yang mungkin timbul. Risiko kekurangan modal usaha dapat diperoleh melalui tindakan pembiayaan.
c. Pendayagunaan sumber ekonomi artinya sumber daya ekonomi dapat dikembangkan dengan melakukan mixing antara sumber daya alam dengan sumber daya manusia serta sumber daya modal. Jika sumber daya alam dan sumber daya manusianya ada dan sumber daya modal tidak ada, maka dipastikan diperlukan pembiayaan. Dengan demikian, pembiayaan pada dasarnya dapat meningkatkan daya guna sumber-sumber daya ekonomi.
d. Penyaluran kelebihan dana artinya dalam kehidupan masyarakat ini ada pihak yang memiliki kelebihan sementara ada pihak yang
3 Ibid, hlm. 682
31
kekurangan. Dalam kaitanya dengan masalah dana maka mekanisme pembiayaan dapat menjadi jembatan dalam penyeimbangan dan penyaluran kelebihan dana dari pihak yang kelebihan (surplus) kapada pihak yang kekurangan (minus) dana.
Dari uraian diatas maka pembiayaan merupakan sumber pendapatan bagi bank islam sehingga tujuan pembiayaan bank islam adalah untuk memenuhi kepentingan stakeholder yakni :
a. Pemilik
Melalui sumber pendapatan diatas, para pemilik mengharapkan akan memperoleh penghasilan atas dana yang ditanamkan pada bank tersebut.
b. Karyawan
Para pegawai mengharapkan dapat memperoleh kesejahteraan dari bank yang dikelolanya.
c. Masyarakat 1) Pemilik dana
Sebagaimana pemilik, mereka mengharapkan dari dana yang diinvestasikan akan diperoleh bagi hasil.
2) Debitur yang bersangkutan
Para debitur, dengan penyediaan dana baginya mereka terbantu guna menjalankan usahanya (sector produktif) atau terbantu untuk pengadaan barang yang diinginkan (pembiayaan konsumtif).
3) Masyarakat umumnya-konsumen
Mereka dapat memperoleh barang-barang yang dibutuhkannya.
d. Pemerintah
Akibat penyediaan pembiayaan pemerintah terbantu dalam pembiayaan pembangunan Negara, disamping itu akan diperoleh pajak (berupa pajak penghasilan atas keuntungan yang diperoleh bank dan juga perusahaan-perusahaan).
e. Bank
Bagi bank yang bersangkutan hasil dari penyaluran pembiayaan diharapkan bank dapat meneruskan dan mengembangkan usahanya agar tetap bertahan dan meluas jaringan usahanya, sehingga semakin banyak masyarakat yang dapat dilayaninya.
3. Fungsi pembiayaan4
Pembiayaan secara umum memiliki fungsi untuk : a) Meningkatkan daya guna uang
Para nasabah menyimpan uangnya di bank dalam bentuk giro, tabungan, dan deposito. Uang tersebut dalam persentase tertentu ditingkatkan kegunaannya oleh bank guna satu usaha peningkatan produktivitas. Para pengusaha menikmati pembiayaan dari bank untuk memperluas / memperbesar usahanya baik untuk peningkatan produksi, perdagangan, maupun untuk usaha-usaha rehabilitasi
4 H. Vaithzal R dan Andria P.V., Islamic Financial Management, Jakarta : PT.Raja Grafido Persada, cet.ke-1, 2008, hlm. 7
33
ataupun memenuhi usaha baru. Secara mendasar melalui pembiayaan terdapat suatu usaha peningkatan produktivitas secara menyeluruh.
Dengan demikian dana yang mengendap di bank tidaklah idle (diam) dan disalurkan untuk usaha-usaha yang bermanfaat, baik kemanfaatan bagi pengusaha maupun kemanfataan bagi masyarakat.
b) Meningkatkan daya guna barang
1. Produsen dengan bantuan pembiayaan bank dapat menubah bahan mentah menjadi bahan jadi sehingga utility dari bahan tersebut meningkat, misalnya peningkatan utility kelapa menjadi kopra dan selanjutnya menjadi minyak kelapa / goring, peningkatan utility dari padi menjadi beras, benang menjadi tekstil, dan sebagainya.
2. Produsen dengan bantuan pembiayaan dapat memindahkan barang dari suatu tempat yang kegunaanya kurang ke tempat yang lebih bermanfaat. Seluruh barang-barang yang dipindahkan / dikirim dari suatu daerah ke daerah lain yang kemanfaatan barang itu lebih terasa, pada dasarnya meningkatkan utility barang itu. Pemindahan barang-barang tersebut tidaklah dapat diatasi oleh keuangan para distributor saja dan oleh karenanya mereka memerlukan bantuan permodalan dari bank berupa pembiayaan.
c) Meningkatkan peredaran uang
Pembiayaan yang disalurkan melalui rekening-rekening Koran pengusaha menciptakan pertambahan peredaran uang giral dan sejenisnya seperti cek, bilyet giro, wesel, promes, dan sebagainya.
Melalui pembiayaan, peredaran uang kartal maupun giral akan lebih berkembang karena pembiayaan menciptakan suatu kegairahan berusaha sehingga kegunaan uang akan bertambah baik secara kualitatif apalagi secara kuantitatif.
Hal ini selaras dengan pengertian bank selaku money creator.
Penciptaan uang itu selain dengan cara substitusi, penukaran uang kartal yang disimpan di giro dengan uang giral, maka ada juga exchange of claim, yaitu bank memberikan pembiayaan dalam bentuk uang giral. Disamping itu dengan cara transformasi yaitu bank membeli surat-surat berharga dan membayarnya dengan uang giral.
d) Meningkatkan kegairahan berusaha
Setiap manusia adalah mahluk yang selalu melakukan kegiatan ekonomi yaitu berusaha untuk memenuhi kebutuhannya. Kegiatan usaha sesuai dengan dinamikanya akan selalu meningkat, akan tetapi peningkatan usaha tidaklah selalu diimbangi dengan peningkatan kemampuannya yang berhubungan dengan manusia lain yang mempunyai kemampuan. Karena itu maka pengusaha akan selalu berhubungan bank untuk memperoleh bantuan permodalan guna peningkatan usahanya.
35
Bantuan pembiayaan yang diterima pengusaha dari bank inilah yang kemudian digunakan untuk memperbesar volume usaha dan produktivitasnya. Ditinjau dari hokum permintaan dan penawaran maka terhadap segala macam dan ragamnya usaha, permintaan akan terus bertambah bilamana masyarakat telah memulai melakukan penawaran. Timbullah kemudian efek kumulatif oleh semakin besarnya permintaan sehingga secara berantai kemudian menimbulkan kegairahan yang meluas dikalangan masyarakat untuk sedemikian rupa meningkatkan produktivitas. Secara otomatis kemudian timbul pula kesan bahwa setiap usaha untuk peningkatan produktivitas, masyarakat tidak perlu khawatir kekurangan modal, karena masalahnya dapat diatasi oleh bank dengan pembiayaannya.
e) Stabilitas ekonomi
Dalam ekonomi yang kurang sehat, langkah-langkah stabilitas pada dasarnya diarahkan pada usaha-usaha untuk :
1. Pengendalian inflasi 2. Peningkatan ekspor 3. Rehabilitaasi prasarana
4. Pemenuhan kebutuhan-kebutuhan pokok rakyat
Untuk menekan arus inflasi dan terlebih lagi untuk usaha pembangunan ekonomi maka pembiayaan bank memegang peranan yang penting.
f) Sebagai jembatan untuk meningkatkan pendapatan nasional
Para pengusaha yang memperoleh pembiayaan tentu saja berusaha untuk meningkatkan usahanya. Peningkatan usaha berarti peningkatan profit. Bila keuntungan ini secara kumulatif dikembangkan lagi dalam arti kata dikembalikan lagi didalam struktur permodalan, maka peningkatan akan berlangsung terus menerus. Dengan earnings (pendapatan) yang terus meningkat berarti pajak perusahaan pun akan terus bertambah. Di lain pihak pembiayaan yang disalurkan untuk merangsang pertambahan kegiatan ekspor akan menghasilkan pertambahan devisa Negara. Di samping itu dengan semakin efektifnya kegiatan swasembada kebutuhan-kebutuhan pokok, berarti akan dihemat devisa keuangan Negara, akan dapat diarahkan pada usaha-usaha kesejahteraan ataupun ke sector-sektor lain yang lebih berguna.
Apabila rata-rata pengusaha, pemilik tanah, pemilik modal, dan buruh / karyawan mengalami peningkatan pendapatan, maka pendapatan Negara via pajak akan bertambah, penghasilan devisa bertambah dan penggunaan devisa untuk urusan konsumsi berkurang, sehingga secara langsung / tidak, melalui pembiayaan, pendapatan nasional akan bertambah.
3.2. Pengertian dan Prosedur pengajuan pembiayaan murabahah 1 Pengertian Murabahah
Murabahah adalah transaksi penjualan barang dengan menyatakan harga perolehan dan keuntungan (margin) yang disepakati oleh penjual
37
dan pembeli. Karena dalam definisinya disebut adanya “keuntungan yang disepakati”, maka karakteristik murabahah adalah si penjual harus member tahu pembeli tentang harga pembelian barang dan menyatakan jumlah keuntungan yang ditambahkan pada biaya terebut5.
Landasan syariah : a. Al-Qur’an:
Q.S : Al Baqarah : 275
Orang-orang yang Makan (mengambil) riba. Tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), Sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, Padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), Maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. orang yang kembali (mengambil riba),
5 Sri Nurhayati dan Wasilah, Akuntansi Syariah di Indonesia, Jakarta : Salemba Empat, 2009, hlm.160
Maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya.
b. Al-Hadits :6
ًلاو ًيلع للها ىلص للها لىسر نأ ًىع للها ًضر يردخلا ديعس ًبأ هع لاق ملسو :
ضارت هع عيبلا اموإ ,
( هبا ًححصو ًجام هباو ًقهيبلا ياور
نابح )
Dari Abu Sa’id Al-Khudri bahwa Rasulullah SAW bersabda,
“sesungguhnya jual beli itu harus dilakukan suka sama suka.”
(HR. al-Baihaqi dan Ibnu majah, dan dinilai shahih oleh Ibnu Hibban )
لاق ملسو ًلاو ًيلع للها ىلص ًبىلا نأ :
ةك ربلا ههيف ثلاث :
ىلإ عيبلا
ةضراقملاو ،لجأ ,
عيبلل لا تيبلل ريعشلاب ربلا طلخو (
هع ًجام هبا ياور
بيهص )
“Nabi bersabda, „ada tiga hal yang mengandung berkah : jual beli tidak scara tunai, muqaradhah (mudharabah), dan mencampur gandum dengan jewawut untuk keperluan rumah tangga, bukan untuk dijual.” (HR. Ibnu Majah dari Shuhaib).
2 Prosedur Pengajuan Pembiayaan
Syarat-syarat pengajuan pembiayaan murabahah di BPRS Asad Alif :
1 Syarat-syarat umum :
6 DSN MUI, Himpunan Fatwa Dewan Syariah Nasional, Ciputat : cet. Ke-4, 2006, hlm.
22
39
1 Pas photo 3x4 = 1 (satu) lembar
2 Foto copy Kartu Tanda Penduduk (KTP) pemohon
3 Foto copy KTP suami atau istri
4 Foto copy Kartu Keluarga (KK) dan atau surat nikah
5 Foto copy Buku Tabungan dan atau Mutasi Tabungan
6 Foto copy Agunan dan atau Jaminan
a. Untuk Agunan Tanah dan atau Rumah
1. Foto copy SHM, Leter C/D
2. Foto copy SPPT Terakhir dan Lunas PBB
b. Untuk Agunan Kendaraan Bermotor dan atau Mobil
1. Foto copy BPKB dan STNK
2. Faktur Pembelian dari Dealer dan atau Kwitansi Pembelian
2 Syarat-syarat tambahan untuk yang berbadan hukum :
1. Foto copy SIUP, TDP, NPWP, dan AD/ART
2. Surat Persetujuan dari Komisaris dan atau Pemilik
Prosedur dalam pemberian pembiayaan :7 1. Pengajuan berkas-berkas
Dalam hal ini pemohon pembiayaan mengajukan permohonan pembiayaan yang dilampiri dengan berkas- berkas yang dibutuhkan.
2. Penyelidikan berkas pinjaman
Tujuan dari penyelidikan berkas pinjaman adalah untuk mengetahui apakah berkas yang diajukan sudah lengkap sesuai persyaratan dan sudah benar. Apabila persyaratan tersebut belum lengkap, maka nasabah diminta untuk segera melengkapinya.
3. Wawancara I
Bertujuan untuk mengetahui keinginan dan kebutuhan nasabah yang sebenarnya.
4. On The Spot
Merupakan kegiatan pemeriksaan ke lapangan dengan meninjau berbagai objek yang dijadikan usaha atau jaminan.
5. Wawancara ke II
7 Hasil wawancara dengan Bpk sutarji (bagian occount officer BPRS Asad Alif cabang temanggung) pada tanggal 19 April 2012
41
Merupakan kegiatan perbaikan berkas, jika mungkin ada kekurangan-kekurangan setelah dilakukan on the spot.
6. Keputusan pembiayaan
Menentukan apakah pembiayaan akan diberikan atau ditolak, jika diterima maka dipersiapkan administrasinya, keputusan pembiayaan akan mencakup antara lain : jumlah uang yang diterima, jangka waktu pembiayaan, dan biaya- biaya yang harus dibayar.
7. Penandatanganan akad pembiayaan
Sebelum pembiayaan dicairkan, maka calon nasabah harus menandatangani akad pembiayaan, surat perjanjian dan persyaratan yang dianggap perlu.
8. Realisasi pembiayaan
Realisasi pembiayaan diberikan setelah penandatanganan surat-surat yang diperlukan.
Rukun murabahah : - pelaku - objek jual beli - ijab dan qobul
3.3. Pengertian pembiayaan bermasalah
Pembiayaan bermasalah adalah suatu keadaan dimana nasabah sudah tidak sanggup membayar sebagian atau seluruh kewajibannya kepada
bank seperti yang telah diperjanjikan8. Pembiayaan bermasalah menggambarkan situasi dimana persetujuan pembiayaan mengalami resiko kegagalan dan cenderung menuju kerugian potensial.
Atau Pembiayaan bermasalah yaitu pembiayaan / kredit yang : 1. Di dalam pelaksanaannya belum mencapai / memenuhi target yang
diinginkan oleh pihak Koperasi Syariah.
2. Memiliki kemungkinan timbulnya resiko dikemudian hari bagi Koperasi Syariah dalam arti luas.
3. Mengalami kesulitan di dalam penyelesaian kewajiban baik dalam bentuk pembayaran kembali pokoknya dan atau pembayaran keuntungan
3.4. Faktor-faktor Pembiayaan Bermasalah
1. Faktor internal (bank)
a. Kelemahan bank dalam analisis pembiayaan
- Analisa pembiayaan tidak berdasarkan data akurat atau kualitas data
- Rendah informasi, pembiayaan tidak lengkap atau kuantitas data rendah
- Analisis tidak cermat
b. Kelemahan bank dalam dokumen pembiayaan
8 H. Malayu S.P. Hasibuan, Dasar-Dasar Perbankan, Jakarta : Bumi Aksara,hlm. 115
43
- Data mengenai pembiayaan nasabah tidak didokumentasi dengan baik
- Pengawasan atas fisik dokumen tidak dilaksanakan sesuai dengan ketentuan
c. Kecerobohan petugas bank
- Bank tidak mempunyai kebijakan pembiayaan yang sehat
- Petugas atau pejabat bank terlalu menggampangkan masalah
- Bank tidak mampu menyaring risiko bisnis
- Menetapkan standar risiko yang terlalu rendah
d. Kelemahan bidang agunan
- Jaminan tidak dipantau atau diawasi secara baik
- Nilai agunan tidak sesuai
- Pengikatan agunan lemah
e. Kelemahan sumber daya manusia
- Terbatasnya tenaga ahli dibidang penyelamatan dan penyelesaian pembiayaan
- Pendidikan dan pengalaman pejabat pembiayaan sangat terbatas
- Kurangnya tenaga ahli hokum untuk mendukung pelaksanaan penyelesaian dan penyelamatan pembiayaan
2. Faktor internal (nasabah)9
a. Kelemahan karakter nasabah
- Nasabah tidak mau atau memang beritikad tidak baik
- Nasabah menghilang
b. Kecerobohan nasabah
- Penyimpangan penggunaan pembiayaan
- Perusahaan dikelola oleh keluarga yang tidak profesional
c. Kelemahan kemampuan nasabah
- Tidak mampu mengembalikan pembiayaan karena terganggunya kelancaran usaha
- Kemampuan manajemen yang kurang
- Kemampuan pemasaran yang kurang memadai
- Pengetahun, pengalaman, informasi terbatas atau kurang memadai
3 Faktor eksternal10
9 Hasil wawancara dengan Bpk Sutarji (bagian pembiayaan BPRS Asad Alif cabang temanggung) pada tanggal 19 April 2012
10 Ibid
45
Pembiayaan yang macet bisa terjadi karena di luar dari pihak bank maupun nasabah. Faktor eksternal ini misalnya : karena terjadinya krisis moneter, kerusuhan massal atau tawuran, terjadinya bencana alam seperti gempa bumi, banjir, kebakaran dan lain-lain. Kondisi ekonomi nasional juga bisa berdampak terhadap perputaran perekonomian, seperti naiknya harga BBM yang berimbas kepada berhentinya kegiatan usaha, sehingga keadaan perekonomian menjadi lesu karena menurunnya daya beli masyarakat atau konsumen. Kejadian-kejadian tersebut secara langsung berpengaruh terhadap kemampuan nasabah dalam melakukan kewajibannya membayar angsuran pada bank, kemampuan membayarnya akan berkurang atau tidak mampu sama sekali dan pembiayaan akan menjadi macet.
3.5. Pemeriksaan Kelayakan Pemberian Pembiayaan
Prinsip pemberian pembiayaan yang disebut dengan 6 C, yaitu :11 1. Character
Character adalah keadaan watak/sifat dari customer, baik dalam kehidupan pribadi maupun dalam lingkungan usaha. Kegunaan dari penilaian terhadap karakter ini adalah untuk mengetahui sampai sejauh mana itikad/kemauan customer untuk memenuhi kewajibannya sesuai perjanjian yang telah ditetapkan.
2. Capital
11 Op. cit. hlm. 348
Capital adalah jumlah dana atau modal sendiri yang dimiliki oleh calon mudharib. Makin besar modal sendiri dalam perusahaan, tentu semakin tinggi kesungguhan calon mudharib menjalankan usahanya dan bank akan merasa lebih yakin memberikan pembiayaan. Penilaian modal sendiri adalah penting, mengingat pembiayaan bank hanya sebagai tambahan pembiayaan dan bukan untuk membiayai seluruh modal yang diperlukan.
3. Capacity
Capacity adalah kemampuan yang dimiliki calon mudharib dalam menjalankan usahanya guna memperoleh laba yang diharapkan.
Kegunaan dari penilaian ini adalah untuk mengetahui/mengukur sampai sejauh mana calon mudharib mampu mengembalikan atau melunasi utang-utangnya secara tepat waktu, dari hasil usaha yang diperolehnya.
4. Collateral
Collateral adalah barang yang diserahkan mudharib sebagai agunan terhadap pembiayaan yang diterimanya. Collateral harus dinilai oleh bank untuk mengetahui sejauh mana resiko kewajiban financial mudharib kepada bank.
5. condition of economy
condition of economy adalah situasi dan kondisi politik, sosial, ekonomi, dan budaya yang mempengaruhi keadaan perekonomian yang
47
kemungkinan pada suatu saat mempengaruhi kelancaran perusahaan calon mudharib.
6. Constraints
Constraints adalah batasan dan hambatan yang tidak memungkinkan suatu bisnis untuk dilaksanakan pada tempat tertentu, missal : pendirian suatu usaha pompa bensin yang disekitarnya banyak bengkel-bengkel las atau pembakaran batu bara.
Pendekatan analisis pembiayaan melalui : 1. Pendekatan jaminan
Artinya bank dalam memberikan pembiayaan selalu memperhatikan kualitas dan kuantitas jaminan yang dimiliki oleh peminjam.
2. Pendekatan karakter
Artinya bank mencermati secara sungguh-sungguh terkait dengan karakter nasabah.
3. Pendekatan kemampuan pelunasan
Artinya bank menganalisis kemampuan nasabah untuk jumlah pembiayaan yang telah diambil.
7. Pendekatan dengan study kelayakan
Artinya bank memperhatikan kelayakan usaha yang dijalankan oleh nasabah peminjam.
8. Pendekatan fungsi-fungsi bank