KUMPULAN ABSTRAK JURNAL
KOLEKSI E-DEPOSIT PERPUSTAKAAN
NASIONAL
TEMA AGAMA 2020
Penyusun: Maria Nurmalasari
Penyunting: Arsi Suparni
KEKERASAN DALAM RUMAH TANGGA DALAM PERSPEKTIF ISLAM
Nur Rofiah
ABSTRAK
Kata kekerasan dalam istilah KDRT seringkali dipahami masyarakat umum terbatas pada kekerasan fisik. Padahal bentuk kekerasan dalam KDRT itu bermacam- macam diantaranya adalah: fisik, seksual, psikologis, dan/ atau penelantaran rumah tangga termasuk ancaman untuk melakukan perbuatan, pemaksaan, atau perampasan kemerdekaan secara melawan hukum dalam lingkup rumah tangga.
KDRT kerap tidak terdeteksi oleh tetangga dekat apalagi negara karena terjadinya di ruang tertutup. Hal ini menyebabkan jumlah korban KDRT yang sesungguhnya sulit didapatkan. Tulisan ini berusaha untuk memaparkan KDRT dalam perspektif Islam. Artikel ini menunjukkan bahwa KDRT muncul akibat relasi yang tidak setara antara pelaku dan korban dalam sebuah rumah tangga. Budaya patriarki juga turut andil sebagai pemicu kekerasan dalam rumah tangga. Salah satu strategi untuk menghindari KDRT adalah dengan membangun keluarga sakinah dalam perspektif kesetaraan.
Kata kunci: Islam, rumah tangga, perempuan, KDRT
PERAN INSTITUSI KEAGAMAAN DI MALUKU DALAM UPAYA PEMBERANTASAN KORUPSI
Henky H Hetharia, Samuel J Mailoa
ABSTRAK
Suatu anomali yang terjadi dalam kehidupan masyarakat Maluku ialah adanya realitas bahwa para pelaku Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) adalah orang-orang yang beragama, baik Islam maupun Kristen. Ironisnya, para pelaku Tipikor ini adalah orang-orang yang taat dan rajin dalam beragama seperti orang Maluku umumnya. Perbuatan Tipikor tidak hanya melanggar hukum, tetapi juga melanggar nilai-nilai moral, spiritual dan religius. Artikel ini membahas mengenai bagaimana peran, fungsi dan tanggung jawab penguatan nilai-nilai moral institusi keagamaan di Maluku dalam upaya pemberantasan perbuatan Tipikor. Temuan dalam penelitian ini memperlihatkan peran, fungsi dan tanggung jawab institusi agama di Maluku sangat lemah dalam pencegahan dan pemberantasan Tipikor di kalangan warga binaan, dan oknum jaksa, polisi, pengacara, hakim, dan wartawan yang berkaitan dalam penanganan kasus Tipikor.
Kata kunci: korupsi, institusi keagamaan, Maluku
Nama Jurnal: Wawasan: Jurnal Ilmiah Agama dan Sosial Budaya Volume: Vol. 2 No. 1 (2017)
Doi: https://doi.org/10.15575/jw.v2i1.921
Link pdf: https://journal.uinsgd.ac.id/index.php/jw/article/view/921/932
HERMENEUTIKA MAQASIDI IMAM AL-SHATIBI
Adang Saputra
ABSTRAK
Al-Syatibi merupakan salah satu ulama yang memiliki gagasan inovatif tentang hermeneutika Al-Qur’an. Ia menawarkan sebuah “pembacaan berbasis maqasid”
terhadap syariat. Secara gasir besar, rumusan hermeneutikanya terdiri dari tiga prinsip: (1) menekankan kearaban (‘arabi) sebagai titik pijak dalam proses pemaknaan terhadap syariat, (2) menekankan pembacaan berbasis maqasid melalui penelaahan secara sirkular-relasional terhadap teks pengarang-pembaca dan berbagai indikator yang menyertai, dan (3) menyadari peran situasi di sekitar pembaca dalam proses pemaknaan, sehingga tidak ada kebenaran tunggal-objektif dalam interpretasi.
Kata kunci: hermeneutika, pembacaan maqasidi, Imam al-Shatibi
Nama Jurnal: Wawasan: Jurnal Ilmiah Agama dan Sosial Budaya Volume: Vol. 2 No. 1 (2017)
Doi: https://doi.org/10.15575/jw.v2i1.894
Link pdf: https://journal.uinsgd.ac.id/index.php/jw/article/view/894/934
TAFSIR KONTEMPORER:
Metodologi, Paradigma dan Standar Validitasnya
Eni Zulaiha
ABSTRAK
Tafsir feminis adalah sebuah genre tersendiri yang muncul di era kontemporer ketika isu gender menjadi isu global. Paradigma tafsir ini berangkat dari asumsi, bahwa prinsip dasar Al-Qur’an dalam relasi laki-laki dan perempuan adalah keadilan (al-'adalah), kesetaraan (al-musawah), al-ma'ruf (kepantasan), syura (musyawarah). Sehingga produk-produk penafsiran klasik yang bertentangan dengan prinsip-prinsip tersebut akan dinilai tidak tepat, terutama ketika diterapkan untuk konteks kekininian, sebab situasi dan kondisinya jelas berbeda sama sekali dengan zaman dulu. Model analisis yang dipakai dalam paradigma tafsir feminis adalah analisis gender, yang secara tegas membedakan antara kodrat sebagai sesuatu yang tidak bisa berubah, dengan gender sebagai konstruksi sosial yang bisa berubah. Wajar jika kemudian pendekatan hermeneutik dengan metode tafsir tematik akhirya menjadi pilihan dalam mengkaji ayat-ayat tentang relasi gender.
Sebab dengan metodologi seperti itu, diharapkan produk tafsir akan lebih intersubyektif dan kritis melihat problem relasi gender.
Kata kunci: tafsir feminis, tafsir tematik, analisis gender, Al-Qur’an
Nama Jurnal: Wawasan: Jurnal Ilmiah Agama dan Sosial Budaya Volume: Vol. 2 No. 1 (2017)
Doi: https://doi.org/10.15575/jw.v2i1.780
Link pdf: https://journal.uinsgd.ac.id/index.php/jw/article/view/780/937
MENGGAGAS EPISTEMOLOGI TAFSIR AL-QUR’AN YANG HOLISTIK
Andi Rosa
ABSTRAK
Karakter utama tafsir tematik yang dapat menjawab suatu permasalahan secara tuntas, masih jarang diwujudkan dalam sebuah karya tafsir. Itulah problem utama penelitian ini, yaitu bagaimana mewujudkan epistemologi tafsir tematik yang holistik, sehingga ia dapat dijadikan sebagai acuan dalam mengungkap solusi tuntas dalam suatu karya tafsir tematik. Berdasarkan analisis terhadap epistemologi tafsir tematik yang dikemukakan oleh para peneliti tafsir tematik, diperoleh sebuah tawaran epistemologi tafsir tematik, yang dinamakan epistemologi tafsir tematik holistik. Dengan hal ini kerja penafsiran yang dilakukan menghasilkan keseimbangan dalam mendialogkan teks Al-Qur’an dengan enam macam konteks terkait, yaitu: konteks pewahyuan, konteks linguistik Al-Qur’an, konteks struktur ayat yang dibahas, konteks sosiokultural masa Nabi Saw., konteks saintifik/
keilmuan modern, konteks kekinian dan kedisinian/ pembacaan. Tafsir tema holistik merupakan tafsir yang didasarkan pada relasi klasifikasi tafsir tersebut, yakni: tafsir Al-Qur'an berbasis problem realitas, sesuai dengan kosa kata terkait dari teks Al-Qur'an, tidak bertentangan dengan konsepsi Al-Qur'an yang disepakati mayoritas ulama (Tafsir Al-Qur'an), menggunakan paradigma keilmuan modern yang didasarkan pada tiga aspek filsafat ilmu (ontologi-epistemologi-aksiologi) terkait tema yang dibahas, serta tidak bertentangan dengan makan inti Al-Qur'an.
Kata kunci: tafsir tematik, Al-Qur’an, teks, Islam kontemporer
DIALOG ANTROPOLOGIS ANTARAGAMA DENGAN SPIRITUALITAS PASSING OVER
Stephanus Turibius Rahmat
ABSTRAK
Artikel ini merupakan kajian teoritis yang bertujuan untuk mendeskripsikan masalah dialog antaragama dan merumuskan bentuk dialog antaragama dalam rangka menciptakan toleransi, harmoni, rasa aman, dan perdamaian dalam kehidupan beragama. Bentuk-bentuk dialog antaraagama dapat dirumuskan ke dalam dua bentuk dialog antaragama, yaitu dialog teologis-spiritual dan dialog sosial kemanusiaan. Secara teologis-spiritual, semua agama memiliki pesan universal dan semangat passing over (melintas batas agama-agama) dalam menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan. Secara antropologis, kehadiran setiap agama bertujuan untuk membawa pencerahan dan kegairahan hidup bagi masyarakat penganutnya. Dapat disimpulkan bahwa dialog antropologis dengan spiritualitas passing over merupakan salah satu bentuk interaksi dalam dialog anataragama, atau komunikasi positif dan konstruktif yang berorientasi pada terciptanya rasa aman dan perdamaian dalam kehidupan beragama, berdasarkan spiritualitas passing over, dimana semua agama memiliki semangat awal kehadiran yakni agama berperan untuk menerangi (iluminatif), kenabian (profetis), membebaskan (liberatif), dan mengubah (transformatif).
Kata kunci: toleransi, spiritualitas, passing over
Nama Jurnal: Wawasan: Jurnal Ilmiah Agama dan Sosial Budaya Volume: Vol. 2 No. 2 (2017)
Doi: https://doi.org/10.15575/jw.v2i2.1704
Link pdf: https://journal.uinsgd.ac.id/index.php/jw/article/view/1704/1378
KONTROVERSI HADIS SEBAGAI SUMBER HUKUM ISLAM
Wahyudin Darmalaksana, Lamlam Pahala, Endang Soetari
ABSTRAK
Posisi hadis sebagai sumber hukum Islam telah menimbulkan perdebatan panjang yang problematis antara pengingkar dan pembelanya. Problematika seputar posisi hadis tersebut menyangkut hadis dalam kategori ahad versus mutawatir. Penelitian ini bertujuan melakukan analisis terhadap posisi hadis sebagai sumber hukum Islam. Pembahasan penelitian ini memaparkan argumentasi seputar hadis sebagai sumber hukum Islam di antara pengingkar dan pembelanya. Kalangan pengingkar hadis lebih mengambil ijtihad ketimbang memosisikan hadis ahad sebagai sumber hukum Islam. Sedangkan kalangan pembela hadis tetap meneguhkan hadis sebagai sumber hukum Islam meskipun hadis tersebut merupakan hadis ahad dengan mengembangkan metode penelitian hadis yang sistematis. Penelitian ini menyimpulkan bahwa problematika seputar posisi hadis sebagai sumber hukum Islam telah melahirkan dinamika positif bagi pengembangan metodologi penelitian hadis.
Kata kunci: hukum Islam, hadis, hadis ahad, ijtihad, sunah
JILBAB SEBAGAI IDENTITAS ORGANISASI ISLAM DI PERGURUAN TINGGI
Qowim Musthofa
ABSTRAK
Artikel ini ditulis berdasarkan penelitian tentang jilbab pada mahasiswa KAMMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia), IMM (Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah) dan KMNU (Keluarga Mahasiswa Nahdlatul Ulama) di Universitas Gajah Mada Yogyakarta. Kajian ini menggunakan metode kualitatif dengan melakukan wawancara mendalam. Adapun pendekatannya adalah psikologis-fenomenologis. Pokok argumentasi dari kajian ini, jilbab digunakan tidak hanya persoalan teologis dan komitmen terhadap organisasi, namun juga karena adanya proses pencarian yang dipengaruhi oleh aspek-aspek psikologis.
Dari kajian ini ditemukan bahwa jilbab merupakan proses pencarian jati diri, dan persoalan eksistensi-identitas yang dipengaruhi oleh perkembangan intelektual, pengalaman yang terakumulasi dan dipengaruhi oleh psiko-sosial dari masing- masing individu.
Kata kunci: Islam, jilbab, mahasiswa, organisasi
Nama Jurnal: Wawasan: Jurnal Ilmiah Agama dan Sosial Budaya Volume: Vol. 2 No. 2 (2017)
Doi: https://doi.org/10.15575/jw.v2i2.1680
Link pdf:https://journal.uinsgd.ac.id/index.php/jw/article/view/1680/1366
KONSEP DAN PENERAPAN TAKWIL MUHAMMAD QURAISH SHIHAB DALAM TAFSIR AL-MISHBAH
Dedi Junaedi
ABSTRAK
Permasalahan takwil dalam metode penafsiran Al-Qur’an masih dianggap kontroversial. Terlihat misalnya, dari sikap sebagian ulama yang masih mempermasalahkan metode takwil sebagai metode memahami Al-Qur’an.
Karenanya, sebagian ahli tafsir cenderung tidak membahas masalah takwil ini ketika memahami Al-Qur’an Ketika membahas ayat yang membutuhkan takwil mereka pun cukup mengucapkan Allahu a’lamu bi muradihi (hanya Allah yang lebih mengetahui artinya). Namun, sebagian ahli tafsir lain tidak setuju dengan pandangan tersebut dan berani menggunakan takwil. Salah satunya adalah ahli tafsir kontemporer Indonesia, Muhammad Quraish Shihab. Salah satu karyanya, Tafsir al-Mishbah, bisa disebut sebagai tafsir yang berusaha menempatkan Al- Qur’an sebagai petunjuk utama yang ditujukan pada masyarakat Muslim Indonesia saat ini. Melalui karya tafsirnya, Shihab menggunakan berbagai prinsip dan metode untuk mencapai pemahaman yang tepat dan sesuai dengan teks Al-Qur’an. Melalui metode tahlili (analitis) yang mendalam, Shihab menunjukan sebuah cara memahami Al-Qur’an yang dilandasi oleh dasar-dasar keilmuan yang matang dan mumpuni. Ia lebih banyak menggunakan pendekatan al-ra’yu (ijtihad) tanpa mengesampingkan sumber naqli (riwayat) dan pendapat ulama dahulu.
Kata kunci: tasir al-Mishbah, Muhammad Quraish Shihab, takwil
KITAB SUCI DAN HOAX:
Pandangan Al-Qur’an dalam Menyikapi Berita Bohong
Luthfi Maulana
ABSTRAK
Mewabahnya fenomena hoax atau berita bohong di media akhir-akhir ini sangat memprihatinkan. Salah satu dampaknya adalah berakibat pada perpecahan di kalangan umat Islam. Padahal akar dari munculnya hoax bersumber dari pengaruh perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi secara global. Manusia dimanjakan dengan berbagai fasilitas yang canggih. Fasilitas inilah yang membuat manusia mendapatkan kebebasan dalam mengeluarkan pendapat. Sebuah bentuk kebebasan yang melahirkan komunikasi tanpa batas. Melalui media, seseorang bebas mengeluarkan pendapat di ruang publik. Siapapun menjadi bebas dalam mengeksplorasi kepentingan masing-masing, terlebih dalam mewujudkan sebuah kepentingan kelompok tertentu, tanpa melihat dampaknya, kelompok tersebut memproduksi dan mensirkulasikan berita hoax itu di masyarakat. Kajian ini memfokuskan pada pandangan Al-Qur’an tentang fenomena berita bohong atau hoax. Melalui metode deskriptif, kajian ini menegaskan bahwa Al-Qur’an sebagai pedoman umat Islam perlu didialogkan kembali dengan masyarakat Islam masa kini. Melalui Al-Qur’an, kita bisa melihat bagaimana sikap menghadapi berita bohong sehingga bisa menghindarkan diri darinya.
Kata kunci: hoax, berita bohong, Al-Quran, Islam
Nama Jurnal: Wawasan: Jurnal Ilmiah Agama dan Sosial Budaya Volume: Vol. 2 No. 2 (2017)
Doi: https://doi.org/10.15575/jw.v2i2.1678
Link pdf: https://journal.uinsgd.ac.id/index.php/jw/article/view/1678/1381