• Tidak ada hasil yang ditemukan

1. PENDAHULUAN. 1 Universitas Kristen Petra

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "1. PENDAHULUAN. 1 Universitas Kristen Petra"

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

1. PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Asosiasi pengusaha kafe dan restoran Indonesia Jawa Timur (Apkrindo Jatim) mencatat pertumbuhan sektor usaha kuliner jatim mengalami pertumbuhan hingga lebih dari dua puluh persen sepanjang tahun 2018 (JawaPos, 2019). Berdasarkan Badan Pusat Statistik Jawa Timur (BPS Jatim) tahun 2013 jumlah restoran/rumah makan yang beroprasi di Surabaya terdapat 391, dan pada tahun 2016 terdapat 790, secara keseluruhan Jawa Timur pada tahun 2013 jumlah restoran/rumah makan terdapat 1682, dan pada tahun 2016 terdapat 3007. Berdasarkan data tersebut dapat diketahui bisnis restoran telah mengalami perkembangan yang pesat. Pada tahun 2017 perkembangan restoran dan kafe diSurabaya mengalami perkembangan yang stagnan, Tjahjono Haryono selaku ketua Apkrindo menjelaskan bahwa pengusaha restoran dan kafe harus kreatif, karena Apkrindo telah menyiapkan pengembangan bisnis disektor kuliner sebesar dua puluh persen (Tribunnews, 2019).

Perusahaan harus mampu untuk beradaptasi dan berkembang jika perusahaan ingin bertahan. Bisnis beroperasi dengan pengetahuan dimana kompetitor akan berkompetisi dengan produk yang mampu mengubah persaingan. Kemampuan untuk berubah dan beradaptasi sangatlah diperlukan untuk bertahan (Trott, 2018).

Salah satu cara dimana perusahaan dapat beradaptasi yaitu dengan menyadari pentingnya inovasi dalam perusahaan. Dimana ide dalam berinovasi dapat diterima secara luas oleh masyarakat dan dalam perusahaan, memahami proses berinovasi akan membantu perusahaan untuk menjaga dan mengembangkan perusahaan untuk dapat terus berkompetisi (Rogers, 1995;

Trott, 2018).

Inovasi adalah ide, praktek, atau objek yang dianggap baru oleh seorang individu atau unit adopsi. Tingkat kebaruan tidak hanya melibatkan suatu

(2)

pengetahuan yang baru, inovasi juga dapat berupa mengembangkan sesuatu yang sudah ada menjadi sesuatu yang baru bagi masyarakat (Roger,1995).

Suksesnya suatu inovasi akan memberikan dampak yang baik bagi kondisi keuangan suatu perusahaan. Ada berbagai macam jenis inovasi, yaitu inovasi produk, inovasi proses, inovasi pemasaran, dan inovasi organisasi. Berikut merupakan statistik dari jenis inovasi yang digolongkan berdasarkan jumlah anggota perusahaan yang menggunakan inovasi di wilayah Eropa pada tahun 2012-2014: (Organisation for Economic Co-Operation and Development, 2005).

Gambar 1.1. Statistik Jenis Inovasi yang digunakan pada tahun 2012-2014 Sumber : Eurostat

Berdasarkan grafik diatas kita dapat mengetahui Product Innovation merupakan salah satu inovasi yang paling umum digunakan oleh perusahaan besar di Eropa. Grafik tersebut menyatakan bahwa perusahaan besar memiliki jumlah terbesar untuk menggunakan seluruh jenis inovasi dalam perusahaan tersebut.

Ada berbagai macam jenis inovasi produk, salah satu inovasi produk yang dilakukan dalam perusahaan makanan adalah inovasi menu, dimana

(3)

minuman dalam suatu perusahaan. Dalam melakukan inovasi, perusahaan akan menghadapi beberapa resiko, salah satu contoh dalam inovasi menu terdapat resiko terhadap kondisi finansial, karir, pemerintah dan berbagai macam resiko lainnya. Inovasi juga mampu menciptakan resiko yang tidak pernah dihadapi perusahaan, resiko yang mengganti resiko sebelumnya, dan mampu mengurangi resiko yang diterima oleh perusahaan (Walport, 2014). Inovasi menu direstoran juga memiliki kemungkinan gagal yang cukup tinggi (Ottenbacher & Harrington, 2009). Menurut Booz, Allen, dan Hamilton’s (1982) berdasar analisis pemasaran, hanya 25 persen dari produk baru yang diterima oleh konsumen dan dapat bertahan dalam perusahaan. Dan 75 persen dari produk baru yang ditolak oleh konsumen akan dihapus dari menu setelah beberapa waktu kemudian (Ottenbacher & Harrington, 2009).

Salah satu alasan dimana menu baru tersebut dapat gagal itu berasal dari konsumen yang memiliki berbagai alasan untuk tidak membeli menu baru.

(Cowart, Fox, & Wilson, 2008). Untuk mengatasi penolakan yang dilakukan konsumen perusahaan membutuhkan keterlibatan konsumen berhubung dengan sikap konsumen terhadap menu baru. Sikap adalah evaluasi secara keseluruhan konsumen yang menunjukan seberapa senang atau tidak senangnya konsumen terhadap objek inovasi (Hoyers & Macinnis, 2008).

Sikap konsumen terhadap makanan terbagi atas beberapa faktor pengaruh yang diambil dalam penelitian yang dilakukan Hongphisansivat (1993) dan diadopsi oleh Ling, Pysarchik, & Choo (2004). Faktor-faktor tersebut berupa opinion leadership, advertising influence, health concerns, price influence, product loyalty, promotional impact,taste concerns, shopping convenience, shopping preference, food seeking, dan social influence.

Surabaya merupakan salah satu tempat bagi pecinta kuliner dimana makanan Surabaya memiliki ciri khas yang berbeda-beda. Masyarakat Surabaya juga memiliki sikap yang berbeda-beda terhadap makanan, bahkan setiap makanan yang dimasak oleh masyarakat Surabaya mencerminkan karakter dari masyaraknya sendiri yang memiliki cita rasa yang tidak tanggung-tanggung dimana hal itu menjadikan karakteristik masyarakat

(4)

Surabaya yang berani untuk berusaha memunculkan dan meningkatkan rasa dari masakan khas daerahnya masing-masing (Jatimi, 2013)

Dalam suatu perusahaan departemen pemasaran perlu mencari tau sikap dan cara pandang konsumen terhadap munculnya menu baru, bagaimana perusahaan dapat membangun rasa tertarik konsumen terhadap menu baru.

Sedangkan persepsi dan tanggapan terhadap peluncuran produk baru telah dipelajari secara luas dalam hal perilaku konsumen yang diperkenalkan oleh Bass melalui model diffusion of innovation (Bass, 1969).

Satu alasan mengapa begitu banyak perusahaan berfokus dalam diffusion of innovation, yaitu untuk mengadopsi suatu ide baru. Diffusion adalah proses dimana suatu inovasi disampaikan melalui sumber tertentu dari waktu ke waktu dalam sistem sosial. Inovasi tersebut dikomunikasikan dimana peserta atau konsumen membuat dan membagikan informasi kepada satu dengan yang lain mengenai inovasi tersebut (Rogers, 1995). Diffusion of innovation, merupakan proses sosial yang terjadi diantara orang-orang yang terlibat untuk mempelajari atau memahami inovasi berdasarkan bukti baru (Dearing & Cox, 2018).

Tidak semua konsumen mengadopsi suatu inovasi pada waktu yang sama, akan tetapi konsumen mengadopsi inovasi dengan waktu yang berbeda-beda.

(Rogers, 1995). Penelitian ini menggunakan kategorisasi yang telah dibuat oleh Rogers (1995), dimana konsumen dibagi berdasar waktu adopsi inovasi yang berbeda dan kemudian dibagi menjadi beberapa kategori yaitu, Innovators, Early Adopters, Early Majority, Late Majority, dan Laggards.

Innovators (2,5% dari populasi yang mengadopsi) merupakan konsumen yang memiliki semangat yang paling tinggi dibanding konsumen lain dalam hal mencoba sesuatu yang baru. Early Adopters (13,5%) adalah konsumen yang berperan dalam dunia sosial dimana pendapat dari early adopter akan sangat mempengaruhi niat beli atau tidak konsumen lain. Early Majority (34%) merupakan konsumen yang baru mencoba/membeli setelah cukup lama objek inovasi dikeluarkan. Late Majority (34%) adalah konsumen yang akan mencoba objek inovasi setelah mayoritas masyarakat telah menerima objek

(5)

tidak memiliki kebutuhan perlu dilakukannya suatu inovasi terhadap objek dan tetap memilih untuk mengikuti cara tradisional yang konsumen lakukan (Rogers, 1995).

Dalam penelitian ini konsumen akan dibagikan menjadi dua kategori berbeda yaitu Konsumen Innovators yang terdiri atas kategori konsumen Innovators, Early Adopters dimana kedua kategori tersebut diakui sebagai kategori konsumen yang sangat mempengaruhi sosial (Ling, Pysarchik, &

Choo, 2004) dan konsumen Non-Innovators yang terdiri atas kategori konsumen Early Majority, Late Majority, dan Laggards dimana ketiga kategori tersebut memiliki dampak yang kecil atau tidak memberi dampak pada sosial (Ling, Thorndike Pysarchik, & Jung Choo, 2004).

Innovators dan Non-Innovators memiliki beberapa perbedaan yang telah ditemukan oleh beberapa peneliti sebelumnya. Dalam penelitian dengan judul Adopters of new food product in India, Innovators & Non-Innovators tidak memiliki perbedaan signifikan mengenai biaya yang dikeluarkan dan mengenai nutrisi atau kesehatan pada makanan. Innovators dan Non- Innovators lebih memiliki minat beli baru pada saat ada promosi yang diberikan, dan Innovators memiliki sikap yang lebih signifikan dibanding Non- Innovator dalam hal mencari informasi mengenai makanan, dalam hal beropini, dan cenderung membeli berbagai macam variasi produk yang berbeda (Ling, Pysarchik, & Choo, 2004). Dalam penelitian dengan judul The effect of consumer innovativeness on Mobile App Download: Focusing on comparison of innovators and noninnovators terdapat perbedaan dalam hal kesediaan untuk membayar, waktu keputusan untuk membeli, dan pengetahuan mengenai produk baru (Lee & Son, 2017).

(6)

Gambar 1.2. Innovators in Low-Middle Income Countries(as % manufacturing firms)

Sumber : UNESCO, 2017, Paper No. 37

Berdasarkan grafik diatas yang menyebutkan rata-rata Innovators yang berperan dalam berbagai macam jenis inovasi dinegara masing-masing. Pada grafik tersebut dapat diketahui Indonesia (IDN) memiliki rata-rata kurang dari 25% dan berada dalam golongan Low-Middle Income Countries.

Penelitian ini dilakukan untuk menemukan sikap masyarakat Surabaya yang termasuk dalam kategori Innovator dan Non-Innovator serta perbedaan karakteristik sikap dari kedua kategori terhadap makanan di Indonesia.

Melihat fenomena diatas, dalam penelitian ini peneliti mengambil masyarakat Surabaya untuk melihat sikap masyarakat Surabaya terhadap makanan di Indonesia dimana munculnya restoran-restoran baru yang memiliki berbagai macam makanan baru diproduksi dan mengkategorikan sikap masyarakat Surabaya menjadi dua jenis kategori, yaitu Innovator dan Non-Innovator berdasar sikap masyarakat Surabaya terhadap makanan.

(7)

1.2. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang diatas, maka masalah penelitian dapat ditentukan sebagai berikut :

1. Bagaimana karakterisik sikap masyaratakat Surabaya terhadap makanan?

2. Bagaimana karakteristik sikap masyarakat Surabaya Innovator terhadap makanan?

3. Bagaimana karakteristik sikap masyarakat Surabaya Non-Innovator terhadap makanan?

4. Apakah ada perbedaan karakteristik sikap masyarakat Surabaya Innovator dan Non-Innovator terhadap makanan?

1.3. Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah diatas, maka dapat diketahui tujuan dari penelitian sebagai berikut :

1. Untuk mengetahui karakteristik sikap masyarakat Surabaya terhadap makanan

2. Untuk mengetahui karakteristik sikap masyarakat Surabaya Innovator terhadap makanan?

3.Untuk mengetahui karakteristik sikap masyarakat Surabaya Non- Innovator terhadap makanan?

4.Untuk mengetahui apakah ada sikap masyarakat Surabaya Innovator dan Non-Innovator terhadap makanan?

1.4. Manfaat Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah diatas, maka dapat diketahui manfaat dari penelitian sebagai berikut :

1. Manfaat Akademis

Diharapkan penelitian ini dapat dapat menjadi kontribusi ilmiah dalam kajian mengenai sikap masyarakat Surabaya terhadap terhadap makanan dalam bisnis Food and Beverage dan menjadi referensi bagi peneliti selanjutnya yang memiliki topik serupa dengan penelitian ini.

2.Manfaat Praktis

(8)

Diharapkan penelitian ini dapat memberikan informasi kepada pihak perusahaan mengenai target masyarakat Surabaya yang perlu ditemukan oleh perusahaan untuk mengetahui sikap masyarakat Surabaya terhadap makanan sehingga pihak perusahaan mampu membuat strategi yang tepat dalam pemasaran kepada seluruh masyarakat Surabaya.

Gambar

Gambar 1.1. Statistik Jenis Inovasi yang digunakan pada tahun 2012-2014  Sumber : Eurostat
Gambar 1.2. Innovators in Low-Middle Income Countries(as % manufacturing  firms)

Referensi

Dokumen terkait

Sakeco sebagai salah satu bentuk penyampaian puisi rakyat Sumbawa dapat dijadikan sebagai sumber materi pembelajaran sastra, khususnya mengungkapkan gagasan dalam

Hasil kajian menunjukkan bahawa apabila paras siri POT boleh disuaikan oleh taburan Pareto dengan proses Poisson, model POT didapati dapat menghasilkan anggaran nilai hujung

Pada tahun 1959 diambil alih Pemerintah Republik Indonesia dan pengelolaannya diserahkan kepada Perusahaan Perkebunan Negara (PPN), Kejadian serupa mengenai aksi

Perempuan memiliki volume paru-paru yang lebih kecil dibandingkan dengan laki-laki sehingga ventilasi maksimalnya lebih sedikit.Perbedaan hormonal antara pria dan

Metode ini berbeda dari metode peleburan, dalam hal sumber unsur penentu tidak perlu pada air kristal asam sitrat, akan tetapi boleh juga air ditambahkan ke dalam bukan

Verifikasi hasil perhitungan dilakukan dengan membandingkan hasil perhitungan Excel dengan hasil perhitungan manual dengan metode yang ada pada buku teks untuk desain

Fenomena ini sering disebut sebagai efek Urban Heat Island (UHI). Makalah ini mencoba mengkaji Fenomena UHI Pada Beberapa Kota Besar Di Indonesia Sebagai Salah Satu

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT atas segala limpahan rahmat, karunia dan kasih sayang-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan Karya Tulis