1 BAB 1 PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Masa orde baru merupakan masa yang kelam bagi masyarakat Indonesia.
Pasalnya banyak permasalahan yang dialami oleh bangsa kita, mulai dari krisis ekonomi sampai kepada sistem demokrasi yang tidak sehat. Sebagian besar masyarakat merasakan betapa sensitifnya pemerintah terhadap masukan dan kritikan yang diutarakan oleh masyarakat. Persoalan ini membuat banyak aktivis resah dan takut untuk menyampaikan aspirasinya kepada negara.
Setelah berakhirnya masa orde baru, masyarakat Indonesia mempunyai hak berpendapat lebih terbuka dan bebas. Hal itu dikarnakan Undang-Undang Nomor 9 tahun 1998 mengenai kebebebasan menyampaiakn aspirasi di depan khalayak umum yang disahkan oleh Presiden Bj. Habibie pada tanggal 26 Oktober 1998. Undang-undang ini memberikan perlindungan hukum bagi masyarakat yang mengutarakan pendatnya secara terbuka. Kegiatan seperti pers serta demonstrasi yang dilakukan oleh masyarakat Indonesia seolah mempunyai perlindungan hukum yang jelas bagi mereka yang melakukannya.
Dalam menyampaikan asprirasi di depan umum, manusia pastinya akan menggunakan bahasa sebagai media untuk menyampaikan maksud dan tujuannya. Senada dengan persoalan itu, Bram & Pasaribu (2020: 106) menjelaskan bahwa penggunaan bahasa terus berkembang untuk mengkonseptualisasikan realitas sosial atau konsepsinya. Penggambaran mengenai kehidupan akan memaksa manusia untuk menjelaskan seluruh persoalannya menggunakan bahasa (alat komunikasi). Bahasa dapat diartikan sebagai perangkat komunikasi masyarakat yang dihasilkan oleh bunyi yang berasal dari alat bicara, selain itu bahasa juga akan terus berkembang untuk lebih mengkonseptualisasikan realitas sosial. Melalui bahasa, orang bisa bertukar pikiran, bertukar cerita bahkan bertukar informasi yang mungkin
dibutuhkan (Budiasih, Andayani, & Rohmadi, 2017; Diningsih, Andayani, &
Rohmadi 2019; Bram & Pasaribu, 2020: 107).
Pada era reformasi seperti ini, kegiatan demonstrasi merupakan kegiatan yang tidak tabu lagi bagi masyarakat Indonesia. Walaupun kegiatan tersebut diperbolehkan, akan tetapi alangkah baiknya jika kita tetap memperhatikan kesantun berbahasa untuk menjaga aktivitas komunikasi yang baik sesuai dengan norma sosial yang berlaku. Menurut Andayani, Rohmadi & Sumarlam (2020) kesantunan berbahasa adalah sebuah sikap serta perilaku seseorang dalam menggunakan bahasanya dengan baik sesuai dengan norma yang ada dalam masyarakat. Ketika norma tersebut dapat diperaktikan dengan perilaku dan bahasa yang baik, maka seseorang itu dapat dikatakan telah memperaktikkan norma tersebut. Bahasa digunakan sebagai instrumen sosial dan budaya yang memungkinkan kita untuk berperilaku sesuai dengan norma sosial (Efendi & Sukamto, 2020:165). Penyampaian isu yang dilakukan secara verbal atau non verbal seharusnya dapat dilakukan dengan spoan dan santun agar dapat menjaga hubungan komunikasi yang baik antara penutur dan mitra tutur.
Acap kali, kegiatan demonstrasi dianggap sebagai kegiatan yang dilakukan dengan menggunakan kalimat atau tuturan yang frontal. Hal tersebut sebenarnya dapat berpotensi terjadinya gesekan kepada mitra tutur yang dituju.
Jika bahasa dilontarkan dengan tidak pantas maka bahasa atau tuturan tersebut akan menjadi tidak sopan (Alfia, Rohmadi, & Purwadi, 2014). Demonstran seolah tidak memperhatikan sejauh mana ia harus menggunakan bahasanya dengan bijak, padahal kita sebagai manusia harus dapat berperilaku dengan baik dengan memperhatikan norma sosial yang berlaku. Hal tersebut didukung oleh pernyataan (Carolus, dkk, 2018) bahwa manusia terkadang mengabaikan kesopanan, sehingga dapat menimbulkan dampak ketidaksopanan kepada lawan bicaranya. Padahal mengenai penggunaan kesopanan, manusia dapat mengukur cara komunikasinya sendiri, apakah itu layak atau tidak untuk disampaikan. Teori kesopanan berkaitan dengan teori linguistik dan perilaku
linguistik dapat digunakan oleh manusia untuk menjalankan kehidupan sosialnya (Al-Hindawi & Alkhazaali, 2016:1537).
Perilaku ketidaksopanan dapat dihindari dengan mengedepankan sikap saling menghargai, dengan begitu, kita akan mengetahui batasan mengenai hal yang kita lakukan. Prilaku santun digunakan untuk menjaga hubungan yang positif antara penutur dan mitra tutur. Lakoff (1975:64-65) menjelaskan bahwa kesantunan adalah produk yang dikembangkan oleh masyarakat bertujuan untuk meminimalisir gesekan yang terjadi dalam interaksi personal. Tujuannya agar sikap saling menghargai satu sama lain dapat terjalin secara kooperatif.
Melihat survei Digital Civility Index (DCI) 2020 yang digagas oleh Microsoft, negara Indonesia ditetepkan sebagai urutan ke-29 dari 32 negara.
Indonesia berada di atas negara Meksiko, Rusia, dan Afrika Selatan mengenai kesopanan online. Menurut Voi.id (26/02/2021) ada beberapa risiko yang dijelaskan Microsoft dalam penilaiannya, yaitu hoax dan scam, ujaran kebencian, dan diskriminasi. Dari laporan DCI 2020, Microsoft menemukan bahwa tingkat kesopanan netizen Indonesia justru memburuk dari beberapa tahun belakangan ini. Pasalnya, Indonesia dinilai kurang sopan karena maraknya aktivitas netizen Indonesia yang terpapar hal-hal negatif di Internet.
Bisa dibilang, konten negatif menjadi santapan sehari-hari netizen Indonesia di dunia maya, termasuk media sosial.
Menurut Maros & Rosli (2017) masyarakat harus memperhatikan masalah kesopanan dengan serius untuk menjaga hubungan yang harmonis dan untuk menjaga persahabatan. Bentuk kesopanan dalam berkomunikasi bukanlah bentuk sebagai pembatasan manusia dalam menuangkan gagasannya. Hal ini hanya memberikan ajakan kepada demonstran agar mampu menghargai mitra tutur tanpa mengurangi esensi dari penyampaian isu yang sudah ada. Penulis memfokuskan penelitiannya pada kegiatan demonstrasi Internasional Womens Day tahun 2020 di Jakarta. Kegiatan ini dilakukan oleh mayoritas kaum perempuan. Hal tersebut dilakukan oleh perempuan karena isu yang diperjuangkan mayoritas mengenai isu feminis sehingga para perempuan dapat bergerak secara bersama. Kau (2012:254) menjelaskan bahwa variasi dan gaya
bahasa juga dapat dikaitkan dengan jenis kelamin komunikator. Persoalan itulah yang membuat peneliti tertarik untuk mengamati penggunaan bahasa yang dilakukan oleh perempuan pada saat demonstrasi. Dalam acara tersebut kegiatan demonstrasi dilakukan oleh kaum perempuan, padahal kegiatan semacam ini secara umum biasanya dilakukan dan diikuti oleh kaum laki-laki.
Salah satu isu yang sedang berkembang dengan cepat akhir-akhir ini adalah isu gender. Menurut Pamungkas, Suwandi, & Rohmadi (2018:110) bahwa permasalahan kesetaraan gender yang dialami oleh laki-laki dan perenpuan menjadi persoalan yang begitu kompleks. Melanjutkan penjelasan tersebut (USAID, 2008:5) mengatakan bahwa tujuan dari kesetaraan gender adalah untuk membuka kesempatan yang sama antara laki-laki dan perempuan dalam menunjukkan kemampuan yang dimiliki pada profesinya secara terbuka.
Kesetaraan gender juga mengaharapkan agar diskriminasi yang terjadi antara laki-laki dan perempuan dapat dihilangkan sehingga bisa mendapatkan hak yang sama.
Banyak asumsi yang muncul, bahwa laki-laki lebih bisa diandalkan dibandingkan perempuan untuk mengakses dunia pekerjaan secara luas.
Persolan itu secara tidak langsung memojokkan perempuan sehingga memberikan pandangan yang negatif mengenai potensi yang dimiliki perempuan. Menurut Giddens (1993:325) bahawa bentuk-bentuk ketidak adilan terhadap perempuan kemudian diarahkan untuk melemahkan perempuan. Sikap ketidakadilan itulah yang pada akhirnya terasa dalam diri kaum perempuan, sehingga ia merasa ada ketidak seimbangan mengenai hak yang dimilikinya. Banyak persoalan yang telah terjadi sejak gerakan perempuan yang muncul pada tahun 1960. Upaya itu dilakukan untuk mengintegrasikan perempuan dengan lebih baik ke dalam ruang publik, tetapi setelah lebih dari 50 tahun, mereka masih tertinggal dari laki-laki dalam posisi kepemimpinan (Walker & Aritz, 2015). Tentu saja ini menjadi sebuah keresahan dalam diri perempuan dan memotivasi mereka untuk memerdekakan dirinya. Perjuangan kaum perempuan akhinya menjadi gelombang persatuan yang besar di Indoensia. Dari banyaknya permasalahan mengenai gender,
perempuan mencoba mengakomodir permasalahan tersebut dalam aksi peringatan Hari Perempuan Internasioanal.
Salah satu momentum besar bagi kaum perempuan untuk menyampaikan segala keluh kesahnya ada pada peringatan Internasional Womens Day.
Banyak perempuan di seluruh dunia, khususnya Indonesia menggunakan hari tersebut sebagai medium perjuangan kaum perempuan. Sejak tahun 1977 Hari Perempuan Internasioanl telah ditetapkan oleh PBB (Perserikatan Bangsa- Bangsa). Pada tanggal 08 Maret Internasonal Womens Day diperingati diseluruh dunia termasuk Indonesia. Hari tersebut tentu saja menjadi sebuah refleksi besar bagi gerakan perempuan.
Saat ini perkembangan teknologi semakin pesat, kreatifitas manusia pun akan lebih terampil dan unik. Banyaknya poster dan spanduk yang digunakan dalam demonstrasi memiliki nilai estetik yang bagus dan artistik. Seorang peneliti bahasa tidak boleh melihat hal tersebut sampai di situ. Masih banyak persolan yang berhubungan dengan ilmu bahasa yang dapat kita manfaatkan sebagai objek kajian. Contohnya adalah kalimat yang disampaikan dalam media poster oleh para demonstran. Bahasa atau kalimat yang digunakan dalam kegiatan demonstrasi terkadang tidak layak untuk ditunjukkan secara umum, karena mengandung kalimat yang terlalu frontal sehingga berpotensi melanggar norma sosial yang berlaku. Hal tersebut disebabkan karena faktor- faktor seperti hirarki dan struktur sosial, nilai dan norma, kepercayaan, usia, dan hubungan pembicara-pendengar sering kali dapat mempengaruhi pilihan kata dalam praktik komunikatif (Efendi & Sukamto, 2020: 166).
Rasa saling memperhatikan dan menghargai adalah alasan terjadinya kesantunan berbahasa. Menurut Keshtiari1a & Kuhlmann (2016) bahwa ekspektasi, konvensi, dan aturan yang harus dipatuhi oleh masing-masing pembicara adalah keistimewaan bagi setiap masyarakat tertentu dengan konteks budaya. Artinya, walaupun demonstran memiliki payung hukum yang jelas, tetapi kekebasan tersebut harus dibatasi oleh norma-norma sosial yang berlaku, meskipun tak ditulis secara admisntratif. Perilaku kesantunan dalam berbahasa perlu dijadikan sebuah tindakan yang dapat dicontoh sebagai
kegiatan yang teladan. Sebuah tindakkan kesantunan berbahasa sekarang ini mengalami kemunduran (degradasi). Hal itu harus diperhatikan bagi pengamat bahasa sehingga dapat meminimalisir penggunaan tidaksantunan berbahasa (Hari, Prayitno, & Ngalim, 2019).
Kejadian ini harus menjadi perhatian secara seksama, agar kita mampu memberikan contoh penggunaan bahasa yang santun diruang-ruang publik secara terbuka. Untuk memecahkan persoalan ini, peneliti menggunakan pendekatan ilmu pragmatik dengan fokus kesantunan berbahasa. Menurut Yule (2014:5) ada berbagai manfaat yang dapat dirasakan ketika mempelajari ilmu pragmatik, khususnya mempelajari bahasa melalui maksud dari apa yang dibicarakan ketika situasi tutur berlangsung. Ilmu pragmatik akan melihat sesuatu dari pelbagi sudut pandang yang berbeda, dibantu dengan pelibatan konteks situasi tutur yang ada sehingga dapat mencari makna dari maksud tuturan tersebut. Makna diartikan oleh pemikiran yang subjekif sehingga maksud penutur kepada lawan tutur biasanya akan cenderung berbeda jika lawan tuturnya gagal dalam memaknai maksud tuturan (Horn & Ward, 2006:550).
Kalimat pada poster demonstrasi Internasioanl Womens Day 2020 akan dibedah menggunakan teori kesantunan berbahasa. Hal itu dilakukan guna mengetahui sejauh mana kalimat dalam poster tersebut tergolong ke dalam kalimat yang sopan atau tidak. Lecch (2015:170) mengemukakan bahwa sebuah kegiatan sopan santun dapat digambarkan sebagai sebuah usaha untuk meminimalisir ketidaksantunan ketika proses komunikasi berlangsung.
Kesopanan dapat secara sederhana didefinisikan sebagai kerangka norma komunikatif berkode yang mewujudkan konvensionalitas sosial, dan ketidaksopanan sebagai prilaku transgressional. Dalam hal ini masyarakat harus memperhatikan masalah kesopanan dengan serius untuk menjaga hubungan yang harmonis (Baider, Cislaru, & Claudel, 2020; Maros & Rosli, 2017).
Penelitian mengenai kesantunan dan pelanggaran berbahasa telah banyak dilakukan. Salah satunya adalah penelitain yang dilakukan oleh Yanmei Han
dengan judul Situated impoliteness revisited: Blunt anti-epidemic slogans and conflicting comments during the coronavirus outbreak in China. Penelitian tersebut diterbitkan pada tahun 2021, ia melakukan penelitian mengenai ketidaksantunan berbahasa. Penelitian ini bertujuan untuk mengatahui sejauhmana penggunaan ketidaksantunan berbahasa dapat diterima dalam lingkungan sosial masyarakat. Dalam makalah ini, slogan‑slogan yang diungkapkan secara blak‑blakan digunakan dalam kampanye kesehatan di negara China untuk melawan virus corona diamati dengan cermat. Slogan- slogan ini dirasa sangat efektif dalam membuat masyarakat mematuhi langkah‑langkah pencegahan kesehatan yang disarankan oleh pemerintah.
Selogan tersebut dinamakan “Yinghe” atau slogan “hardcore” oleh orang‑orang China. Berisi bahasa kasar dan tabu, mereka menyampaikan ancaman kematian dan penyakit, hinaan atau penilaian negatif, dan tuntutan kasar. Terlepas dari sifatnya yang tidak sopan, slogan‑slogan “hardcore” telah menerima penilaian yang jauh lebih positif daripada penilaian negatif.
Kritik terhadap slogan‑slogan yang blak‑blakan ini kemudian berangsur‑angsur meningkat setelah kemunculannya yang pertama.
Faktor‑faktor yang masuk akal yang berkontribusi terhadap perubahan penilaian dianalisis. Pertentangan penilaian publik mengenai ketidaksantunan slogan‑slogan tersebut mungkin terkait dengan perbedaan posisi publik dalam ruang dan waktu. Studi ini menunjukkan bahwa ketidaksopanan adalah praktik yang terletak tidak hanya dalam wacana, genre, dan institusi, tetapi juga dalam sosial, budaya, dan konteks politik. Penelitian ini menunjukkan bahwa tidak semua bahasa yang digunakan dengan kasar akan berdampak negatif, penggunaan bahasa dengan kasar jika ditempatkan pada kondisi yang sesuai akan mendapatkan respon yang baik (dapat diterima). Konteks menjadi acuan untuk penutur dalam menentukan bahasa yang digunakan, apakah bahasa itu harus diungkapkan dengan santun atau menggunakannya dengan bahasa yang frontal. Bahasa dianggap sebagai sesuatu yang dinamis, maka dari itu kita harus pandai-pandai menyesuaikan bahasa dengan konteks situasi tutur.
Yaqin & Shanmuganathan (2018) melakukan sebuah penelitian dengan judul The Non-Observance of Grice’s Maxims in Sasak. Penelitian ini menyelidiki bagaimana orang Sasak di Lombok Indonesia berinteraksi satu sama lain dalam interaksi yang terjadi secara alami. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penutur bahasa Sasak dialek Nggeto-Nggete tidak memperhatikan kaidah-kaidah dan prinsip-prinsip kesopanan Grice saat berkomunikasi satu sama lain. Dua puluh peserta dipilih secara acak dari satu populasi di Sukamulia Timur, tempat penutur bahasa Sasak. Berdasarkan data yang dikumpulkan dari pengaturan informal domestik seperti yang dilakukan di toko dan rumah, dan antara keluarga dan lingkungan. Persoalan tersebut diteliti untuk mengetahui sejauh mana strategi kesopanan yang digunakan.
Penelitian tersebut tentu memiliki persamaan dengan penelitian ini dalam mengukur kesantunan berbahasa dan pelanggaran kesantunan bersabahsa yang digunakan oleh seseorang. Selain itu metode yang digunakan juga memiliki kesamaan, dengan menggunakan metode kualitatif sedangkan perbedaannya terlihat pada teori yang digunakan dalam penelitian tersebut. Jika penelitian ini mengguakan teori Grice, maka penelitian tersebut menggunakan teori yang dikemukakan oleh Leech. Selain itu objek pada penelitannya juga tentu berbeda, dalam penelitaian tersebut penulis menggunakan objek kalimat dalam poster demonstran Internasional Womens Day sedangkan penelitian ini menggunakan bahasa Sasak dialek Neggeto-Nggete.
Penelitian yang dilakukan oleh Kurniasih, Rahmansyah, & Kurnia (2019) dengan judul Politeness Strategy To Prevent And Resolve Cyber-Conflicts Among Indonesian Internet User: A Cyberpragmatics. Penelitian yang digagas oleh Kurniasih, Rahmansyah, & Kurnia (2019) menjelaskan polemik yang terjadi di dunia cyber Indonesia. Persoalan yang memicu terjadinya masalah adalah penggunaan bahasa yang dilakukan dalam jejaring internet. Penelitaian ini bertujuan untuk melihat persoalan komunikasi pada dunia cyber yang dipaparkan di atas. Penelitian ini menggunakan model yang berbasis lingustik untuk meminimalisir atau menyelesaikan persoalan komunikasi yang terjadi di internet. Secara umum penelitian ini memperlihatkan bahwa pelanggaran
kesopanan dapat menimbulkan persoalan antarpengguna internet dan kesopanan berbahasa dianggap menjadi solsui yang baik dalam mengatasi persoalan yang ada dalam komunikasi berbasis internet.
Penelitian Kurniasih, Rahmansyah, & Kurnia (2019) memiliki relevansi terhadap penelitian tersebut. Adapun perbedaan dalam penelitian ini, terletak pada metode dan objek penelitan yang dilakukan. Penelitian ini merupakan penelitian campuran antara kualitatif dan kuantitatif, sedangkan peneliti tersebut menggunakan metode kualitatif deskriptif. Selain itu perbedaan yang mencolok terletrak pada objek penelitannya. Jika penelitian ini menggunakan objek komentar pada akun sosial instagram, penelitian tersebut menggunakan kalimat dalam poster Internasional Womens Day.
Selanjutnya penelitian yang dilakukan oleh Musika, Agustina, & Syahrul (2019) dengan judul Verval Violence Performed By Supporters Group Of Gubernatorial Candidattes In The Political Discoures Of Jakrta Election juga membahas mengenai kesantunan dan pelanggaran kesantunan berbahasa yang dilakukan secara verbal. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan kekerasan verbal yang dilakukan oleh kelompok pendukung calon Gubernur dalam wacana Pilkada DKI Jakarta 2017 di akun media sosial serta implikasinya terhadap kesantunan berbahasa. Hasil penelitian ini didominasi oleh penggunaan sarkasme (majas), dipadukan dengan tuturan ekspresif. Pada penelitian ini pelanggaran kesantunan berbahasa didominasi oleh kekerasan verbal. Kekerasan secara verbal tersebut berpotensi mengancam wajah penerima. Oleh karena itu, berdasarkan data penelitian ini, tingkat kesantunan kelompok terpilih ini masuk dalam kategori 'kurang ajar' (tidak sopan).
Hasil penelitian tersebut sangatlah beragam, karena tidak hanya menganalisis menggunakan teori keantunan saja. Selain itu, penelitian tersebut menggunakan teori tindak tutur ekspresif dan majas sarkasme untuk mengetahahui fungsi bahasa melalui tuturan yang digunakan, sehingga penelitian tersebut memiliki temuan yang beragam. Penelitian tersebut memliki persamaan dengan penelitian ini. Persamaannya adalah kedua penelitian ini menggunakan teori kesantunan berbahasa dan fungsi tindak tutur. Selain itu,
ada juga perbedaan yang dapat diketahui. Penelitian ini menggunakan objek kalimat dalam poster demonstran, sedangkan penelitian tersebut menggunakan komentar pada media sosial instagram yang dilakukan oleh kedua belah pihak tim sukses Pilkada DKI Jakarta 2017.
Rahayu, Ahyudanaria, & Pratomoadmojo (2016) mengagas penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Procedia - Social and Behavioral Sciences berjudul Land use development and its impact on airport access road.
Penelitian tersebut mengambil titik awal dari pentingnya menggunakan kesopanan secara tepat ke dalam pengajaran bahasa asing sehingga dapat mendidik siswanya agar mampu mempertahankan interaksi yang efektif dengan penutur aslinya. Dengan tujuan ini, diperlakuan kesopanan komunikatif dalam pengajaran SFL.
Penelitian tersebut menetapkan bagaimana kepekaan terhadap pengetahuan sosiokultural SFL diperlukan dalam setiap aktivitas komunikasi, di mana kesopanan harus dimasukkan sebagai fenomena yang terkait dengan isinya. Oleh karena itu ditekankan dalam penelitian tersebut bahwa pengetahuan sosial budaya ini harus dikembangkan melalui praktik di dalam kelas. Dengan alasan kesopanan, menggunakan interkulturalitas nyata, sekaligus meningkatkan kompetensi komunikatif dalam bahasa Spanyol sebagai bahasa asing. Artikel tersebut lebih mendekati kesopanan dari sudut pandang mengajar, menunjukkan kesulitan mengajar di kelas dan pentingnya penanganan dengan materi otentik dalam isi sosiokultural SFL.
Gagasan dalam penelitian tersebut menegaskan bahwa penggunaan kesopanan harus diajarkan melalui lembaga formal, sehingga siswa dapat memiliki moral dan karakter yang baik dalam berkomunikasi. Prospek dalam penelitian tersebut sangatlah edukatif. Jika penanaman kesantunan dapat dijalankan dengan baik di dalam kelas atau sekolah maka konsep ini harus dirawat dengan komprehensif. Pendidik harus memperhatikan kepada siswanya, bahwa praktik kesantunan juga harus bisa diterapkan kedalam kehidupan sosial secara umum. Dengan begitu sesama manusia akan menjaga hubungannya dengan baik melalui cara komunikasi yang sopan dan santun.
Penelitian yang dilakukan oleh Theunissen (2019) dengan judul Extending public relationship-building through the theory of politeness dipublikasikan dalam jurnal Public Relations Review pada tahun 2019 ini menghasilkan sebuah temuan mengenai betapa pentingnya merawat hubungan yang baik mengguanakan paraktik kesantunan bebahasa. Makalah ini bertujuan untuk memperluas pemahaman kita tentang pekerjaan hubungan masyarakat dengan membahas teori kesopanan dan penerapannya pada hubungan masyarakat. Ini mengusulkan bahwa, bertentangan dengan persepsi populer tentang praktisi pekerjaan hubungan masyarakat yang terlalu percaya diri sehingga terkadang sombong, bahkan kurang ajar. Praktisi yang efektif menggunakan pendekatan lebih lembut atau lebih sopan dalam mengembangkan dan memelihara hubungan.
Pada prinsipnya, kesopanan berusaha untuk menyeimbangkan harga diri dengan menggunakan berbagai strategi dan artikel tersebut mencoba untuk menjelaskan teori kesopanan untuk pekerjaan hubungan masyarakat. Ini menyimpulkan bahwa pemahaman tentang dasar-dasar teori dan strategi kesopanan memungkinkan praktisi untuk lebih efektif dalam membangun hubungan di seluruh komunitas sehingga dapat menghindari potensi kegagalan pragmatis.
Hasil penelitian tersebut menyadarkan kita bahwa perlunya peraktik kesantunan untuk diterapkan. Dari peraktik kesantunan tersebut, kita dapat menjaga hubungan yang baik dengan masyarakat secara luas. Penelitian tersebut memiliki kesamaan dengan penelitian yang dilakukan oleh peneliti.
Pada persoalan ini peneliti menggunakan prinsip kesantunan untuk mengukur penggunaan bahasa pada psoter yang digunakan para demonstran Internasonal Womens Day 2020. Peneliti menyakini, bahwa penggunaan kesopanan dalam berkomunikasi sangatlah diperlukan, karena kegiatan tersebut merupakan kegiatan yang dilakukan secara umum, maka sudah seharusnya dapat mematuhi etika dan norma yang berlaku.
Sekait pemaparan di atas, peneliti akan mengkaji kalimat yang ada dalam poster demonstran Internasioanl Womens Day tahun 2020 menggunakan
pendekatan pragmatik, dengan teori ksantunan berbahasa agar mengetahui sejauh mana para demonstran mematuhi prinsip kesantunan. Sedangkan data penelitian dihimpun dan dianalisis untuk mengetahui sejauh mana tingkat kesantunan dan pelanggaran kesantunan berbahasa yang digunakan oleh para demonstran. Dengan begitu, peneliti dapat mengetahui kesantunan dan pelanggaran kesantunana berbahasa yang digunakan oleh pesera aksi Internasional Womens Day. Walaupun kebebasan pendapat telah dijamin dalam undang-undang, tetapi alangkah baiknya kita dapat memperhatikan norma sosial yang berlaku sehingga komunikasi yang dilakukan antara penutur dan lawan tutur dapat berjalan dengan harmonis.
B. Rumusan Masalah
1. Bagaimanakah wujud tindak tutur kesantunan berbahasa dalam poster Internasional Womens Day 2020 di Jakarta?
2. Bagaimanakah wujud pelanggaran tindak tutur kesantunan berbahasa dalam poster Internasional Womens Day 2020 di Jakarta?
3. Bagaimanakah pemanfaatan bahan ajar kajian tindak tutur kesantunan dan pelanggaran kesantunan berbahasa pada poster Internasional Womens Day 2020 di Jakarta dalam pembelajaran pragmatik di perguruan tinggi?
C. Tujuan Penelitian
1. Mendeskripsikan dan menjelaskan wujud tindak tutur kesantunan berbahasa dalam poster Internasional Womens Day 2020 di Jakarta
2. Mendeskripsikan dan menjelaskan wujud pelanggaran tindak tutur kesantunan berbahasa dalam poster Internasional Womens Day 2020 di Jakarta
3. Mendeskripsikan dan menjelaskan pemanfaatan bahan ajar kajian tindak tutur kesantunan dan pelanggaran kesantunan berbahasa pada poster Internasional Womens Day 2020 di Jakarta dalam pembelajaran pragmatik di perguruan tinggi
D. Manfaat Penelitian
Adapun berbagai manfaat yang terdapat dalam penelitian ini. Manfaat tersebut dijelaskan pada bagian dibawah.
1. Manfaat Teoretis
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan pemahaman dan menambah wawasan keilmuan dibidang linguistik, khususnya dalam penelitian pragmatik mengenai kesantunan berbahasa, pelanggaran kesantunan berbahasa, dan fungsi tindak tutur yang terdapat dalam tulisan pada poster demonstrasi Internasional Womens Day tahun 2020 di Jakarta.
Melalui penelitian ini, pembaca dapat melihat kesantunan berbahasa, pelanggaran kesantunan berbahasa, dan fungsi tindak tutur pada poster demonstrasi Internasional Womens Day. Kemudian dengan pemahaman tersebut masyarakat dapat menanggapi dan mengambil sikap secara tepat terhadap permasalahan-permasalahan yang sedang dibahas.
2. Manfaat Praktis
Berikut ini adalah manfaat parktis yang ada dalam penelitian.
a. Bagi Dosen
Penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai bahan ajar dalam mata kuliah pragmatik di perguruan tinggi, khusunya pada materi kesantunan berbahasa.
b. Bagi Mahasiswa
Bagi mahasiswa, penelitian ini mampu memberikan gambaran mengenai materi kesantunan dan pelanggaran kesantunan berbahasa yang terkandung dalam mata kuliah pragmatik. Selain itu, mahasiswa juga dapat melihat fungsi tindak tutur yang digunakan dalam poster Internasioanl Women’s Day.
c. Bagi Masyarakat Luas
Penelitian ini memberikan gambaran mengenai implementasi kajian pragmatik dalam poster demonstrasi Internasional Womens Day tahun 2020 di Jakarta, khususnya dalam ilmu pragmatik, mengenai kesantunan berbahasa, dan pelanggaran kesantunan berbahasa. Tak hanya itu, penelitian ini juga dapat menjelaskan maksud dan tujuan dari tuturan yang ada di dalam poster Internasional Womens Day 2020 di Jakarta.
d. Bagi Peneliti
Penelitian ini dapat menjadi sumber acuan dan referensi bagi peneliti lain sehingga penelitian mengenai kajian pragmatik khususnya pada kesantunan berbahasa dan pelanggaran kesantunan berbahasa dapat berkembang dengan dinamis. Selain itu, penelitian ini juga diharapkan dapat menjadi kajian relevan dalam penelitian lanjutan mengenai kesantunan berbahasa, dan pelanggaran kesantunan berbahasa dalam poster Internasional Womens Day 2020 di Jakarta.