• Tidak ada hasil yang ditemukan

PRO POOR GROWTH TINGKAT PROVINSI DI INDONESIA ATIK MAR ATIS SUHARTINI NRP:

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "PRO POOR GROWTH TINGKAT PROVINSI DI INDONESIA ATIK MAR ATIS SUHARTINI NRP:"

Copied!
173
0
0

Teks penuh

(1)

ATIK MAR’ATIS SUHARTINI NRP: 151090274

SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR

BOGOR

2011

(2)
(3)

Dengan ini saya menyatakan bahwa tesis Pro Poor Growth Tingkat Provinsi di Indonesia adalah karya saya dengan arahan dari komisi pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk apapun kepada perguruan tinggi manapun.

Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam daftar pustaka di bagian akhir tesis ini.

Bogor, Juni 2011 Atik Mar’atis Suhartini H151090274

(4)

Halaman ini sengaja dikosongkan

(5)

ATIK MAR’ATIS SUHARTINI: Pro Poor Growth at Province Level in Indonesia. Under supervision of NUNUNG NURYARTONO and LUKYTAWATI ANGGRAENI.

Economic growth should provide benefits to the poor, so they have opportunities to improve their economic condition or called pro poor growth. The purpose of this study: to analyze the growth and distribution effect of poverty reduction by province, to analyze pro poor growth by province, and determine factors that influenced pro poor growth or poverty reduction. The main data which used in this research is annual income percapita data during 2005-2009 from national economic and social surveys at household level. The research methods are descriptive analysis, shapley decomposition of poverty analysis, poverty equivalent growth rate (PEGR) and panel data analysis. Study shows that during 2005-2009, economic growth tends to decline with increasing income inequality, and affects diversity of poverty reduction in province level. The economic growth is not yet pro poor growth at first periode (2005-2006), and pro poor growth at 2007-2009 periode. Econometric analysis with REM (Random Effect Model) determines that agriculture productivity, education (average of school) and population significantly influence poverty reduction (pro poor growth). Higher agriculture productivity and better education are significant in reducing poverty.

In contrast, increasing population means increasing poverty.

The advice can be given as follows: the government, especially local government not only geting high growth in their development, but also pay attention to reduce income inequality. Improving the welfare of the poor can be done by increasing agricultural productivity with revitalization of agriculture. Education or human capital of the poor needs to be increased given the positive impact on poverty alleviation. Finally, controlling the population growth rate needs to be intensified related increasing in basic needs and jobs that must be fulfilled as a consequence population growth.

Keywords: economic growth, inequality, poverty reduction, pro poor growth.

(6)

Halaman ini sengaja dikosongkan

(7)

ATIK MAR’ATIS SUHARTINI: Pro Poor Growth Tingkat Provinsi di Indonesia.

Dibimbing oleh NUNUNG NURYARTONO dan LUKYTAWATI ANGGRAENI.

Upaya pemerintah dalam mengurangi kemiskinan dan ketimpangan pendapatan telah dilakukan sejak Pelita III dan menjadi agenda utama dalam RPJM (Rencana Pembangunan Jangka Menengah) tahun 2005-2009 melalui

‘triple track strategy’ program pembangunan pro growth, pro job dan pro poor.

Hingga tahun 2009, kemiskinan cenderung menurun hingga 14,15 persen, walaupun masih di bawah target RPJM 2005-2009 sebesar 8,2 persen dan target Deklarasi Milenium PBB sekitar 7 persen. Sedangkan indeks gini sebagai ukuran ketimpangan pendapatan, hingga tahun 2009 menunjukkan kecenderungan meningkat menjadi 0,37 yang sebelumnya sebesar 0,36 tahun 2005.

Pertumbuhan ekonomi seharusnya lebih memberikan manfaat kepada penduduk miskin dan memberikan kesempatan untuk memperbaiki keadaan ekonominya, atau pertumbuhan ekonomi yang bersifat pro poor growth. Pro poor growth dengan titik berat pada penduduk miskin, akan memperbaiki kesejahteraannya dan distribusi pendapatan akan lebih merata (equity aspects), dimana aspek ini akan memperkuat dampak pertumbuhan terhadap pengentasan kemiskinan (Kakwani dan Pernia, 2000 dan Grimm, et al., 2007). Suparno (2010) menyimpulkan bahwa pertumbuhan ekonomi belum bersifat pro poor growth pada periode 2002-2005 dan pro poor growth periode 2005-2009. Akan tetapi derajat pro poor growth di tingkat provinsi bisa berbeda satu sama lain.

Berdasarkan uraian tersebut, tujuan dari penelitian ini adalah menganalisis gambaran pertumbuhan ekonomi, distibusi pendapatan dan kemiskinan di tingkat provinsi di Indonesia, menganalisis efek pertumbuhan dan efek distribusi terhadap perubahan kemiskinan di tingkat provinsi di Indonesia, menganalisis derajat Pro poor growth di tingkat provinsi di Indonesia, dan menganalisis faktor-faktor yang memengaruhi Pro poor growth di tingkat provinsi di Indonesia.

Penelitian ini menggunakan data utama berupa data konsumsi rumah tangga hasil Susenas Konsumsi Panel selama tahun 2005-2009, yang bersumber dari Badan Pusat Statistik (BPS). Dinamika pertumbuhan ekonomi, distribusi pedapatan dan kemiskinan dianalisis dengan metode desktiptif melalui nilai rata- rata, standar eviasi dan analisis kuadran. Metode dekomposisi kemiskinan Shapley digunakan untuk menganalisis efek pertumbuhan dan efek distribusi terhadap perubahan kemiskinan. Poverty Equivalent Growth Rate (PEGR) merupakan alat analisis yang digunakan untuk menghitung derajat manfaat pertumbuhan terhadap penduduk miskin. Sedangkan faktor-faktor yang memengaruhi pro poor growth dianalisis dengan menggunakan regresi data panel.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa selama tahun 2005-2009, rata-rata pertumbuhan ekonomi cenderung menurun dengan kecenderungan standar deviasi yang meningkat. Hal ini menunjukkan sebaran pertumbuhan ekonomi yang semakin beragam antar provinsi atau bisa dikatakan semakin timpang. Sebaliknya rata-rata Indeks gini selama tahun 2005-2009 menunjukkan kecenderungan meningkat dengan standar deviasi yang cenderung menurun. Hal ini menunjukkan

(8)

fenomena ketimpangan di tingkat provinsi yang semakin tinggi. Sedangkan rata- rata dan standar deviasi dari persentase dan jumlah penduduk miskin, selama tahun 2005-2009 cenderung menurun. Pertumbuhan ekonomi yang cepat disertai dengan perbaikan distribusi pendapatan, menghasilkan kemiskinan di bawah rata- rata terjadi di provinsi Jambi, Bangka Belitung dan Kalimantan Tengah.

Pada awal periode 2005-2006, baik efek pertumbuhan maupun efek distribusinya berpotensi meningkatkan kemiskinan. Sehingga secara total memiliki net effect meningkatkan kemiskinan. Sedangkan pada akhir periode 2008-2009, baik efek pertumbuhan maupun efek distribusi keduanya berdampak pada pengurangan kemiskinan. Selain itu semakin banyak jumlah provinsi yang memiliki efek pertumbuhan dan efek distribusi menurunkan kemiskinan di akhir periode.

Pada awal periode 2005-2006, pertumbuhan ekonomi bersifat anti pro poor growth yang berarti penduduk miskin tidak merasakan manfaat pertumbuhan. Sebaliknya pada akhir periode 2008-2009, pertumbuhan ekonomi telah bersifat pro poor growth yang berarti penduduk miskin merasakan manfaat pertumbuhan lebih besar daripada penduduk tidak miskin. Demikian juga jumlah provinsi yang semakin banyak di akhir periode dengan pertumbuhan ekonomi yang telah bersifat pro poor growth.

Berdasarkan hasil estimasi regresi data panel, produktivitas sektor pertanian, rata-rata lama sekolah baik total ataupun menurut jenis kelamin laki- laki maupun perempuan, dan jumlah penduduk berpengaruh signifikan terhadap pengurangan jumlah penduduk miskin. Produktifitas sektor pertanian dan rata-rata lama sekolah baik total ataupun menurut jenis kelamin memiliki pengaruh negatif, yang berarti peningkatan produktifitas sektor pertanian dan peningkatan rata-rata lama sekolah akan menurunkan kemiskinan. Sedangkan jumlah penduduk berpengaruh positif terhadap pengurangan jumlah penduduk miskin, yang berarti peningkatan jumlah penduduk akan meningkatkan jumlah penduduk miskin.

Saran yang dapat diberikan diantaranya sebagai berikut: pemerintah khususnya di daerah hendaknya tidak hanya mengejar pertumbuhan yang tinggi dalam pembangunan, akan tetapi juga pemerataan pendapatan dalam rangka pengentasan kemiskinan. Peningkatan kesejahteraan penduduk miskin dalam rangka pengentasan kemiskinan dapat dilakukan dengan meningkatkan produktifitas sektor pertanian melalui revitalisasi pertanian. Pendidikan atau human capital penduduk miskin juga perlu ditingkatkan mengingat pengaruhnya yang signifikan terhadap pengentasan kemiskinan. Selain itu, kontrol terhadap laju pertumbuhan penduduk perlu digalakkan kembali terkait peningkatan kebutuhan dasar dan lapangan pekerjaan yang harus terpenuhi sebagai konsekuensi pertambahan jumlah penduduk.

Kata kunci: pertumbuhan ekonomi, ketimpangan pendapatan, pengurangan kemiskinan, pro poor growth

(9)

©Hak Cipta milik IPB, Tahun 2011 Hak Cipta dilindungi Undang-Undang

Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan atau menyebutkan sumbernya. Pengutipan hanya untuk kepentingan pendidikan, penelitian, penulisan karya ilmiah, penyusunan laporan, penulisan kritik, atau tinjauan suatu masalah; dan pengutipan tersebut tidak merugikan kepentingan yang wajar IPB.

Dilarang mengumumkan dan memperbanyak sebagian atau seluruh Karya tulis dalam bentuk apa pun tanpa izin IPB

(10)

Halaman ini sengaja dikosongkan

(11)

ATIK MAR’ATIS SUHARTINI

Tesis

Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Magister Sains pada

Program Studi Ilmu Ekonomi

SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR

BOGOR 2011

(12)

Judul Tesis : Pro poor Growth Tingkat Propinsi di Indonesia Nama : Atik Mar’atis Suhartini

NRP : H151090274

Disetujui Komisi Pembimbing

Dr. Ir. R. Nunung Nuryartono, M.Si

Ketua Anggota

Dr. Lukytawati Anggraeni, SP, M.Si

Diketahui

Ketua Program Studi Dekan Sekolah Pascasarjana Ilmu Ekonomi

Dr. Ir. Nunung Nuryartono, M.Si Dr. Ir. Dahrul Syah, M. Sc, Agr.

Tanggal Ujian: 12 MEI 2011 Tanggal Lulus: 12 MEI 2011

(13)

Penguji Luar Komisi pada Ujian Tesis: Dr. Ali Said, MA

(14)
(15)

Segala puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT atas ijin dan ridho-Nya penulis mampu untuk dapat menyelesaikan penyusunan tesis ini. Tema yang dipilih untuk penelitian ini adalah “Pro Poor Growth tingkat Provinsi di Indonesia”, yang pelaksanaannya dimulai pada Bulan Nopember 2010.

Penulis mengucapkan terima kasih kepada Bapak Nunung Nuryartono,Ph.D selaku ketua komisi pembimbing dan Ibu Lukytawati Anggraeni, Ph.D selaku anggota komisi pembimbing atas arahan dan masukan dalam menyusun tesis ini. Ucapan terima kasih juga penulis sampaikan kepada Dr. Ali Said, MA atas kesediaannya menjadi penguji luar komisi, dan Tanti Novianti, M.Si selaku perwakilan Program Studi Ilmu Ekonomi. Penulis juga menyampaikan terima kasih kepada para dosen pengajar dan pengelola Program Studi Ilmu Ekonomi Sekolah Pascasarjana IPB. Terima kasih juga penulis sampaikan kepada Kepala Badan Pusat Statistik dan Ketua Sekolah Tinggi Ilmu Statistik yang telah memberikan kesempatan dan dukungan untuk melanjutkan pendidikan Program Magister pada Program Studi Ilmu Ekonomi di Sekolah Pasca Sarjana IPB.

Secara khusus penulis menyampaikan terima kasih yang tak terkira kepada Eko Puji Santoso (suami), Muhammad Iqbal Wicaksana (anak pertama), Muhammad Akbar (anak kedua) dan seluruh keluarga yang telah memberikan dukungan yang luar biasa, berupa moril dan materiil dari awal perkuliahan hingga penyelesaian tesis ini.

Akhirnya, besar harapan penulis agar tesis ini dapat menghasilkan penelitian yang bermanfaat dan memberikan kontribusi bagi pembangunan di Indonesia khususnya dalam hal poverty reduction, serta bermanfaat bagi dunia pendidikan.

Bogor , Juni 2011 Penulis,

Atik Mar’atis Suhartini

(16)

Halaman ini sengaja dikosongkan

(17)

Achyari dan ibu Marsini. Penulis merupakan putri kedua dari tiga bersaudara.

Penulis juga telah menikah dengan Eko Puji Santoso dan dikaruniai dua orang putra: Muhammad Iqbal Wicaksana dan Muhammad Akbar.

Penulis menamatkan sekolah dasar pada SDN Pagotan II tahun 1990, kemudian melanjutkan ke SMPN 1 Geger dan lulus pada tahun 1993. Pada tahun yang sama diterima di SMAN 1 Geger dan lulus pada tahun 1996, kemudian melanjutkan ke Sekolah Tinggi Ilmu Statistik (STIS) Jakarta dan berhasil menamatkan Program Diploma IV pada tahun 2000.

Setelah lulus dari STIS, penulis bekerja sebagai dosen di Sekolah Tinggi Ilmu Statistik Jakarta hingga sekarang. Pada tahun 2009, setelah menyelesaikan program alih jenjang S1 di Departemen Ilmu Ekonomi FEM, penulis dapat melanjutkan kuliah S2 Magister Ilmu Ekonomi IPB melalui program beasiswa yang diberikan oleh Badan Pusat Statistik. Penulis pernah terlibat dalam Hibah Penelitian Kerjasama Luar Negeri dan Publikasi Internasional.

(18)

xi

DAFTAR ISI

DAFTAR TABEL... xiii

DAFTAR GAMBAR... xiv

DAFTAR LAMPIRAN... xv

I PENDAHULUAN... 1

1.1 Latar Belakang... 1

1.2 Perumusan Masalah... 7

1.3 Tujuan Penelitian... 9

1.4 Manfaat Penelitian... 9

1.5 Ruang Lingkup... 10

II TINJAUAN PUSTAKA... 11

2.1 Pertumbuhan Ekonomi... 11

2.2 Kemiskinan... 13

2.3 Pertumbuhan Ekonomi dan Distribusi Pendapatan... 16

2.4 Pertumbuhan Ekonomi dan Pengentasan Kemiskinan... 17

2.5 Pro Poor Growth... 19

2.6 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pro Poor Growth... 23

2.7 Tinjauan Empiris... 26

2.8 Kerangka Penulisan... 31

2.9 Hipotesis Penelitian... 34

III METODE PENELITIAN... 35

3.1 Jenis dan Sumber Data... 35

3.2 Metode Analisis... 35

3.2.1 Analisis Deskriptif... 36

3.2.2 Dekomposisi Kemiskinan Shapley... 37

3.2.3 Poverty Equivalent Growth Rate (PEGR)... 38

3.2.4 Analisis Regresi Data Panel... 45

(19)

xii

IV DINAMIKA PERTUMBUHAN, DISTRIBUSI PENDAPATAN

DAN KEMISKINAN... 55

4.1 Pertumbuhan Ekonomi... 55

4.2 Distribusi Pendapatan... 58

4.3 Kemiskinan... 61

4.4 Kemiskinan dan Pertumbuhan Ekonomi... 64

4.5 Kemiskinan dan Distribusi Pendapatan... 66

4.6 Kemiskinan, Pertumbuhan Ekonomi dan Distribusi Pendapatan... 69

V PRO POOR GROWTH... 73

5.1 Dekomposisi Kemiskinan... 73

5.2 Poverty Equivalent Growth Rate (PEGR) ... 79

5.3 Dekomposisi Kemiskinan Shapley dan PEGR... 85

VI FAKTOR YANG MEMENGARUHI KEMISKINAN... 89

6.1 Analisis Model Regresi Data Panel... 89

6.2 Faktor yang Memengaruhi Pro Poor Growth dengan Pendekatan Poverty Reduction... 92

6.2.1 Produktifitas Sektor Pertanian... 92

6.2.2 Tingkat Pendidikan... 94

6.2.3 Jumlah Penduduk... 97

6.2.4 Pengeluaran Pemerintah untuk Investasi Publik atau Investasi Pemerintah dan Ketimpangan Pendapatan... 98 VII KESIMPULAN DAN SARAN... 105

7.1 Kesimpulan... 105

7.2 Implikasi Kebijakan... 105

7.3 Saran Penelitian Lebih Lanjut... 106

DAFTAR PUSTAKA... 109

(20)

xiii

DAFTAR TABEL

1. Jumlah Penduduk Miskin di Indonesia dan Persentasenya Tahun 1976-2010...

3 2. Persentase Penduduk Miskin di Indonesia menurut Provinsi Tahun

2008 dan 2009 serta Selisihnya...

6 3. Variabel yang digunakan dalam penelitian dan

keterangannya...

54 4. Ukuran Statistik Deskriptif Indeks Gini di Indonesia tahun 2005-

2009... 59 5. Ukuran Statistik Deskriptif P0 dan Jumlah Penduduk Miskin di

Indonesia tahun 2005-2009... 63 6. Pembagian Provinsi menurut Nilai Rata-rata Persentase Penduduk

Miskin (P0), Rata-rata Indeks Gini dan Rata-rata Pertumbuhan Ekonomi (Growth), Tahun 2005-2009... 70 7. Jumlah Provinsi menurut Efek Pertumbuhan dan Efek Distribusi

dalam Dekomposisi Kemiskinan Shapley Periode 2005-2009... 86 8. Jumlah Provinsi menurut Kriteria Pro Poor Growth Periode 2005-

2009... 87 9. Hasil Regresi Data Panel Faktor yang Memengaruhi Pro Poor

Growth (dengan pendekatan Jumlah Penduduk Miskin) dengan Tiga

Persamaan... 91

(21)

xiv

1. Perkembangan Pertumbuhan PDB Riil Atas Dasar Harga Konstan 2000... 2 2. Perkembangan Nilai Indeks Gini Tahun 2002-2009... 5 3. Pertumbuhan ekonomi dan persentase penduduk miskin tahun 2002-

2009... 5 4. Kurva U Terbalik Kuznets (Inverted U Curve Hypothesis) ... 17 5. Hubungan antara Kemiskinan, Tingkat Pendapatan Agregat dan

Distribusi Pendapatan... 21 6. Perubahan Kemiskinan karena Efek Pertumbuhan dan Efek

Distribusi... 22 7. Kerangka Penulisan... 33 8. Rata-rata Pertumbuhan Ekonomi dan Standar Deviasinya Tahun 2005-

2009... 56 9. Selisih Laju Pertumbuhan Tahun 2005 dan 2009 menurut

Provinsi... 58 10. Selisih Indeks Gini Tahun 2005 dan 2009 menurut Provinsi... 61 11. Efek pertumbuhan, efek distribusi dan net effect pengurangan

kemiskinan periode 2005-2006 hingga 2008- 2009...

74 12. Nilai PEGR dan Growth Nasional Periode 2005-2006 hingga 2008-

2009... 80

(22)

xv

DAFTAR LAMPIRAN

1. Pertumbuhan Ekonomi Menurut Provinsi di Indonesia Tahun 2005-

2009 (persen) ... 116 2. Selisih Pertumbuhan Ekonomi Menurut Provinsi di Indonesia

Tahun 2005-2009 (persen) ... 117 3. Nilai Indeks Gini Menurut Provinsi di Indonesia Tahun 2005-2009..

118 4. Selisih Nilai Indeks Gini Menurut Provinsi di Indonesia Tahun

2005-2009... 119 5. Persentase Penduduk Miskin (P0) Menurut Provinsi di Indonesia

Tahun 2005-2009... 120 6. Selisih Persentase Penduduk Miskin (P0) Menurut Provinsi di

Indonesia Tahun 2005-2009... 121 7. Grafik Kuadran antara Persentase Penduduk Miskin (P0) dan

Pertumbuhan Ekonomi menurut Provinsi di Indonesia Tahun 2005-

2009... 122 8. Grafik Kuadran antara Persentase Penduduk Miskin (P0) dan

Distribusi Pendapatan (Indeks Gini) menurut Provinsi di Indonesia

Tahun 2005-2009... 124 9. Keterangan Kuadran... 127 10. Provinsi menurut Persentase Penduduk Miskin (P0) dan

Pertumbuhan Ekonomi Tahun 2005-2009... 129 11. Provinsi menurut Persentase Penduduk Miskin (P0) dan Indeks

Gini Tahun 2005-2009... 130 12. Nilai Rata-rata Persentase Penduduk Miskin (P0), Pertumbuhan

Ekonomi (Growth) dan Indeks Gini menurut Provinsi Tahun 2005-

2009... 131 13. Nilai Efek Pertumbuhan (Growth Effects) dan Efek Distribusi

(Distribution Effects) berdasarkan Dekomposisi Kemiskinan Shapley menurut Provinsi Periode 2005-2006... 132 14. Nilai Efek Pertumbuhan (Growth Effects) dan Efek Distribusi

(Distribution Effects) berdasarkan Dekomposisi Kemiskinan

Shapley menurut Provinsi Periode 2006-2007... 133 15. Nilai Efek Pertumbuhan (Growth Effects) dan Efek Distribusi

(Distribution Effects) berdasarkan Dekomposisi Kemiskinan

(23)

xvi

(Distribution Effects) berdasarkan Dekomposisi Kemiskinan Shapley menurut Provinsi Periode 2008-2009... 135 17. Nilai Poverty Equivalent Growth Rate (PEGR), Pertumbuhan

Ekonomi Aktual dan Sifat Pertumbuhan menurut Provinsi Periode

2005-2006... 136 18. Nilai Poverty Equivalent Growth Rate (PEGR), Pertumbuhan

Ekonomi Aktual dan Sifat Pertumbuhan menurut Provinsi Periode

2006-2007... 137 19. Nilai Poverty Equivalent Growth Rate (PEGR), Pertumbuhan

Ekonomi Aktual dan Sifat Pertumbuhan menurut Provinsi Periode

2007-2008... 138 20. Nilai Poverty Equivalent Growth Rate (PEGR), Pertumbuhan

Ekonomi Aktual dan Sifat Pertumbuhan menurut Provinsi Periode

2008-2009... 139 21. Output Stata untuk Model pertama dengan variabel Rata-rata Lama

Sekolah Total (RLS) ... 140 22. Output Stata untuk Model kedua dengan variabel Rata-rata Lama

Sekolah Perempuan (RLSP) ... 143 23. Output Stata untuk Model ketiga dengan variabel Rata-rata Lama

Sekolah Laki-laki (RLSL) ... 146

(24)

I. PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Ketimpangan yang besar dalam distribusi pendapatan dan tingkat kemiskinan merupakan dua masalah besar di banyak Negara Sedang Berkembang (NSB), tidak terkecuali Indonesia. Pada awal pemerintahan Orde Baru para pembuat kebijakan dan perencana pembangunan ekonomi di Indonesia percaya bahwa proses pembangunan ekonomi yang pada awalnya hanya terpusat di Jawa dan hanya di sektor-sektor tertentu saja, yaitu sektor yang mempunyai Nilai Tambah (NTB) yang tinggi, pada akhirnya akan menghasilkan apa yang dimaksud dengan trickle down effects. Hasil pembangunan melalui pencapaian pertumbuhan yang tinggi di sektor-sektor tersebut, akan menetes ke sektor-sektor dan wilayah lain di Indonesia (Tambunan, 2009). Proses trikle down effects terjadi ketika manfaat pertumbuhan ekonomi dapat dinikmati oleh semua kelompok penduduk, termasuk penduduk miskin melalui penciptaan lapangan pekerjaan sehingga memperoleh kesempatan untuk memperbaiki kesejahteraannya.

Namun demikian, sejarah menunjukkan bahwa sejak Pelita I tahun 1969 dilaksanakan, efek menetes ke bawah dari proses pembangunan atau trickle down effects tersebut kecil dan proses mengalir ke bawah sangat lambat. Nilai rata-rata laju pertumbuhan ekonomi per tahun mencapai di atas 7 persen sampai krisis tahun 1997, tetapi dengan tingkat ketimpangan yang semakin besar dan bahkan jumlah penduduk miskin yang meningkat setelah krisis (Tambunan, 2009).

Gambar 1. menunjukkan pencapaian pertumbuhan ekonomi yang tinggi hingga tahun 1997, sebelum keadaan perekonomian yang memburuk akibat krisis sehingga pertumbuhan ekonomi mengalami kontraksi sampai -13,13 persen.

Selanjutnya, perekonomian Indonesia kembali membaik dan tumbuh rata-rata sebesar 4,71 persen selama periode 2000-2008.

(25)

Gambar 1. Perkembangan Pertumbuhan PDB Riil Atas Dasar Harga Konstan 2000

Pencapaian pertumbuhan ekonomi yang tinggi selama masa Orde Baru telah memberikan kontribusi yang besar terhadap pengurangan jumlah penduduk miskin. Selama tahun 1976 sampai tahun 1996 tingkat kemiskinan mengalami penurunan yang cukup signifikan, yaitu dari 40 persen menjadi 17 persen. Akan tetapi krisis ekonomi yang melanda Indonesia pada pertengahan Juli tahun 1997, menyebabkan jumlah penduduk miskin kembali mengalami peningkatan. Hal ini mengindikasikan bahwa pencapaian pertumbuhan ekonomi yang tinggi merupakan suatu faktor yang penting bagi penurunan kemiskinan, meskipun bukan satu-satunya penentu (Tambunan, 2009).

(26)

3

Perkembangan persentase penduduk miskin di Indonesia hingga tahun 2009 terlihat pada Tabel 1. berikut.

Tabel 1. Jumlah Penduduk Miskin di Indonesia dan Persentasenya Tahun 1976- 2010

Tahun

Jumlah Penduduk Miskin (juta)

Persentase Penduduk Miskin (%)

Tahun

Jumlah Penduduk Miskin (juta)

Persentase Penduduk Miskin (%)

1976 54,20 40,1 2000 38,70 19,14

1978 47,20 33,30 2001 37,90 18,41

1980 42,30 28,60 2002 38,40 18,20

1981 40,60 26,90 2003 37,30 17,42

1984 35,00 21,60 2004 36,10 16,66

1987 30,00 17,40 2005 35,10 15,97

1990 27,20 15,10 2006 39,30 17,75

1993 25,90 13,70 2007 37,17 16,58

1996 34,01 17,47 2008 34,96 15,42

1998 49,50 24,23 2009 32,53 14,15

1999 47,97 23,43 2010 31,02 13,33

Sumber: BPS, STATISTIK INDONESIA

Peningkatan persentase penduduk miskin yang cukup tajam terjadi pada tahun 1999 karena krisis ekonomi, yaitu sebesar 26 persen. Banyaknya PHK yang terjadi dan menurunnya daya beli masyarakat, menyebabkan meningkatnya jumlah penduduk miskin. Persentase ini masih berada di atas 17 persen hingga tahun 2003, dan secara perlahan mengalami penurunan hingga sebesar 15,97 persen pada tahun 2005. Pada tahun 2006 persentase jumlah penduduk miskin kembali mengalami peningkatan sebesar 17,75 persen, dan penyebab utama peningkatan ini karena peningkatan harga beras sebesar 33 persen (sebagai dampak larangan impor beras) dan kenaikan harga BBM (World Bank, 2006).

Walaupun sempat mendapat goncangan eksternal dengan adanya krisis global tahun 2008, persentase penduduk miskin terus mengalami penurunan hingga pada tahun 2009 mencapai 14,15 persen dan sebesar 13,33 persen pada tahun 2010.

Pencapaian tingkat kemiskinan sebesar 14,15 persen di tahun 2009 ini masih berada di bawah target kemiskinan dalam RPJM 2005-2009, yaitu sebesar 8,2 persen. Selain itu, tingkat kemiskinan tersebut juga masih jauh dari target Deklarasi Milenium PBB yang ditandatangani pada KTT Milenium PBB tahun 2000. Salah satu tujuan dari Deklarasi Milenium PBB (The Millenium Development Goals) tersebut yaitu mengurangi separuh dari proporsi penduduk

(27)

dunia yang berpenghasilan kurang dari satu dolar per hari, yang berarti mengurangi separuh dari jumlah penduduk miskin di dunia pada tahun 2015.

Tingkat kemiskinan sebesar 13,33 persen tahun 2010, berarti harus dikurangi menjadi sekitar 7 persen pada tahun 2015.

Pengentasan kemiskinan yang cepat, berkaitan erat dengan strategi ‘pro poor growth’, yaitu strategi pencapaian pertumbuhan ekonomi yang mendorong peningkatan pendapatan dari masyarakat miskin (Grimm, et al., 2007). Pro poor growth dengan titik berat pada masyarakat miskin, akan memperbaiki kesejahteraan masyarakat miskin dan distribusi pendapatan akan lebih merata (aspek ekuitas atau equity aspects). Aspek ekuitas dari pro-poor growth ini akan memperkuat dampak pertumbuhan terhadap pengentasan kemiskinan (Kakwani dan Pernia, 2000). Berkurangnya ketimpangan pendapatan atau aspek ekuitas secara langsung akan mengurangi kemiskinan, hal ini kemudian akan memberikan dampak meningkatkan kemampuan pertumbuhan ekonomi terhadap pengentasan kemiskinan dan meningkatkan pertumbuhan yang selanjutnya mempercepat pengentasan kemiskinan (Grimm, et al., 2007).

Ketimpangan pendapatan secara nasional berdasarkan ukuran indeks gini menunjukkan adanya kecenderungan untuk meningkat hingga tahun 2009 atau distribusi pendapatan yang semakin tidak merata (Gambar 2). Pencapaian pertumbuhan ekonomi tidak dibarengi dengan penurunan indeks gini, berarti peningkatan pendapatan yang telah dicapai tidak dibarengi dengan pemerataan pendapatan diantara kelompok masyarakat secara baik. Tingkat kemiskinan pada tahun 2009 ternyata masih jauh dari target RPJM tahun 2005-2009 maupun dari The Millenium Development Goals, dan bahkan adanya kecenderungan nilai indeks gini untuk meningkat, menunjukkan kemiskinan maupun ketimpangan pendapatan masih merupakan masalah pembangunan di Indonesia.

(28)

5

Gambar 2. Perkembangan Nilai Indeks gini Tahun 2002-2009

Sejak Pelita III, berbagai upaya telah dilakukan pemerintah untuk mengurangi jumlah penduduk miskin dan ketimpangan pendapatan. Komitmen pemerintah untuk mengentaskan kemiskinan juga tercantum dalam RPJM (Rencana Pembangunan Jangka Menengah) tahun 2005-2009 yang disusun berdasarkan Strategi Nasional Penanggulangan Kemiskinan (SNPK). Keseriusan pemerintah terhadap penanganan permasalahan ketimpangan pendapatan dan kemiskinan di Indonesia melalui pembangunan yang Pro Growth, Pro Job dan Pro Poor, diwujudkan melalui berbagai program pengentasan kemiskinan.

Persentase jumlah penduduk miskin secara nasional menurun hingga mencapai 14,15 persen tahun 2009 dan 13,33 persen tahun 2010, yang sebelumnya sempat mengalami peningkatan tajam hingga sebesar 26 persen tahun 1999 karena krisis ekonomi.

Gambar 3. Pertumbuhan ekonomi dan persentase penduduk miskin tahun 2002- 2009

(29)

Gambar 3. menunjukkan komitmen pemerintah terhadap masalah kemiskinan, dengan penurunan persentase penduduk miskin sejak tahun 2006 hingga mencapai 13,33 persen pada tahun 2010. Tetapi apabila diperhatikan di tingkat provinsi, persentase penduduk miskin di provinsi-provinsi yang ada di daerah Sumatera, Jawa dan Bali secara rata-rata lebih kecil dibandingkan dengan angka persentase penduduk miskin di daerah lainnya (Tabel 2.).

Tabel 2. Persentase Penduduk Miskin di Indonesia menurut Provinsi Tahun 2008 dan 2009 serta Selisihnya

Provinsi Poverty Rate Provinsi Poverty Rate

2008 2009 Selisih 2008 2009 Selisih

NAD 23.6 21.8 -1.78 NTB 23.1 22.78 -0.35

Sumut 12.1 11.51 -0.61 NTT 25.7 23.31 -2.36

Sumbar 10.4 9.54 -0.84 Kalbar 10.8 9.3 -1.49

R i a u 10.2 9.48 -0.74 Kalteng 8.4 7.02 -1.38

J a m b i 9.2 8.77 -0.44 Kalsel 6.2 5.12 -1.09

Sumsel 17.4 16.28 -1.11 Kaltim 8.6 7.73 -0.84

Bengkulu 19.2 18.59 -0.57 Sulut 9.7 9.79 0.08

Lampung 20.9 20.22 -0.67 Sulteng 20.6 18.98 -1.65

Babel 7.9 7.46 -0.49 Sulsel 13.4 12.31 -1.11

Kepri 8.8 8.27 -0.51 Sultra 19.5 18.93 -0.57

DKI Jakarta 3.9 3.62 -0.24 Gorontalo 20.2 25.01 4.80

Jabar 12.6 11.96 -0.61 Sulbar 16.7 15.29 -1.37

Jateng 19.1 17.72 -1.33 Maluku 29.4 28.23 -1.19

DIY 18.1 17.23 -0.83 Malut 11.1 10.36 -0.73

Jatim 18.2 16.68 -1.52 Pabar 33.5 35.71 2.21

Banten 8.3 7.64 -0.62 Papua 35.3 37.53 2.24

B a l i 5.7 5.13 -0.60

Secara umum terjadi penurunan persentase penduduk miskin pada tahun 2009 dibandingkan tahun 2008, baik secara nasional maupun di tingkat provinsi.

Akan tetapi untuk beberapa Provinsi yang berada di bagian timur Indonesia, pada tahun 2009 justru mengalami peningkatan persentase penduduk miskin, yaitu Sulawesi Utara, Gorontalo, Papua dan Papua Barat (Tabel 2.). Hal ini menunjukkan walaupun secara nasional terjadi penurunan persentase penduduk miskin, akan tetapi di tingkat provinsi tidak semuanya mengalami hal yang sama.

Selain persentase penduduk miskin yang sangat beragam antar provinsi, penurunan persentase yang terjadi secara nasional tidak terjadi di semua provinsi.

Sehingga, ‘apakah pertumbuhan ekonomi yang telah dicapai pemerintah dengan triple track strategy yang dikenal pro growth, pro job dan pro poor tersebut

(30)

7

memberikan manfaat terhadap rakyat miskin’ merupakan hal yang menarik untuk diteliti khususnya di tingkat provinsi.

1.2. Perumusan Masalah

Pembangunan ekonomi yang menempatkan manusia sebagai pusat perhatian dan proses pembangunan, selayaknya memberikan manfaat bagi semua pihak, termasuk diantaranya kaum miskin atau yang disebut dengan pro-poor growth (Departemen Sosial RI, 2005). Komitmen pemerintah untuk mengentaskan kemiskinan terlihat dari berbagai program pengentasan kemiskinan dalam RPJM 2005-2009 dan tersusun dalam SNPK. Bahkan dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) Tahun 2010-2014, penekanan pada percepatan pembangunan wilayah (Sumatera, Jawa-Bali, Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara, Maluku dan Papua) dengan tujuan meningkatkan kesejahteraan masyarakat, meningkatkan kualitas sumber daya manusia, serta mengurangi ketimpangan (Bappenas, 2010). Pemerintah memperhatikan kesejahteraan masyarakat tidak hanya di tingkat nasional saja, akan tetapi hingga ke tingkat yang lebih rendah yaitu kepulauan.

Siregar dan Wahyuniarti (2007) dalam penelitiannya tentang Faktor-faktor yang Memengaruhi Pengurangan Kemiskinan menyatakan bahwa Program- Program Pengurangan Kemiskinan sebaiknya lebih fokus pada wilayah pertanian di perdesaan Pulau Jawa dan Sumatera. Hal ini disebabkan persentase penduduk miskin selama tahun 2000 sampai 2009 lebih dari 75 persennya berada di pulau Jawa dan Sumatera. Selain itu, Wicaksana (2007) dalam penelitiannya yang menganalisis ketimpangan kemiskinan antar Provinsi di Indonesia selama tahun 2000 sampai 2004 dengan menggunakan Indeks Entropi Theil, menyimpulkan bahwa ketimpangan kemiskinan antar pulau tertinggi terjadi di Pulau Jawa. Hal ini disebabkan konsentrasi jumlah penduduk miskin terbanyak di Pulau Jawa.

Berdasarkan kedua hasil penelitian tersebut terlihat walaupun pembangunan di Pulau Jawa dan Sumatera relatif lebih cepat daripada lainnya, akan tetapi hingga RPJM tahun 2005-2009 berakhir, masalah kemiskinan dan ketimpangan masih merupakan permasalahan utama yang dihadapi dalam pembangunan, terutama di tingkat provinsi.

Suparno (2010) dalam penelitiannya tentang Studi Pro poor growth Policy di Indonesia selama periode 2002-2008 menyimpulkan bahwa peningkatan

(31)

ketidakmerataan terjadi di seluruh sektor dan status daerah selama periode 2002- 2005, kemudian mengalami perbaikan selama periode 2005-2008 kecuali sektor pertanian di perkotaan dan perdesaan. Tingkat kemiskinan di perdesaan lebih tinggi dibanding perkotaan, dan mayoritas penduduk miskin bekerja di sektor pertanian. Pada periode 2002-2005, pertumbuhan ekonomi berdasarkan sektor dan status daerah (perdesaan dan perkotaan) belum bersifat pro poor growth. Periode 2005-2008, pertumbuhan ekonomi di perkotaan sudah pro poor growth sedangkan di perdesaan belum bersifat pro poor growth. Hal ini mengindikasikan masih terjadi bias perkotaan dalam pembangunan. Berdasarkan sektor menunjukkan bahwa pertumbuhan sektor pertanian belum mengalami pro poor growth, sedangkan di sektor industri sudah pro poor growth. Walaupun dalam RPJM 2005-2009, pro poor growth telah menjadi agenda penting dalam pengentasan kemiskinan.

Kajian pro poor growth yang dilakukan oleh Suparno (2010), menghitung manfaat pertumbuhan bagi penduduk miskin di tingkat nasional. Sedangkan manfaat pertumbuhan bagi penduduk miskin di tingkat provinsi bisa sangat beragam dan berbeda dengan yang terjadi secara nasional. Sehingga manfaat pencapaian pertumbuhan ekonomi terhadap penduduk miskin di tingkat provinsi melalui kajian pro poor growth merupakan hal yang menarik untuk diteliti, terutama selama periode RPJM tahun 2005-2009 dengan program pembangunan yang pro growth, pro job dan pro poor.

Faktor-faktor yang berpengaruh terhadap pro poor growth diantaranya yaitu peningkatan produktifitas di sektor pertanian, berkurangnya ketimpangan antar daerah, peningkatan kepemilikan aset dasar bagi rakyat miskin, berkurangnya ketimpangan gender, berkurangnya ketimpangan bagi kaum minoritas, komitmen politik untuk kebijakan pro-poor, dan suatu Negara yang kuat (Klasen, 2007). Selain kajian pro poor growth di tingkat provinsi di Indonesia, juga akan diteliti faktor-faktor yang memengaruhi pro poor growth.

Berdasarkan uraian tersebut, maka permasalahan yang ingin dibahas didalam penelitian ini dapat dituliskan sebagai berikut:

1. Bagaimana dinamika pertumbuhan ekonomi, distribusi pendapatan, dan kemiskinan di tingkat provinsi di Indonesia?

(32)

9

2. Bagaimana efek pertumbuhan dan efek distribusi terhadap perubahan kemiskinan di tingkat provinsi di Indonesia?

3. Bagaimana derajat pro poor growth pertumbuhan ekonomi di tingkat provinsi di Indonesia?

4. Faktor-faktor apa saja yang berpengaruh terhadap Pro poor growth di tingkat provinsi di Indonesia?

1.3. Tujuan Penelitian

Berdasarkan permasalahan di atas, maka tujuan penelitian adalah sebagai berikut:

1. Menganalisa dinamika pertumbuhan ekonomi, distibusi pendapatan dan kemiskinan di tingkat provinsi di Indonesia.

2. Menganalisa efek pertumbuhan dan efek distribusi terhadap perubahan kemiskinan di tingkat provinsi di Indonesia.

3. Menganalisa derajat Pro poor growth di tingkat provinsi di Indonesia.

4. Menganalisa faktor-faktor yang memengaruhi Pro poor growth di tingkat provinsi di Indonesia.

1.4 Manfaat Penelitian

Manfaat dari penelitian ini diantaranya adalah sebagai berikut:

1. Ukuran derajat pro poor growth di tingkat provinsi di Indonesia digunakan untuk mengetahui seberapa besar pertumbuhan ekonomi dirasakan oleh penduduk miskin. Berdasarkan ukuran ini dapat diketahui apakah pertumbuhan ekonomi memberikan manfaat bagi penduduk miskin.

2. Faktor-faktor yang memengaruhi pro poor growth dapat digunakan untuk mengetahui faktor apa saja yang dapat mempengaruhi pro poor growth di tingkat provinsi di Indonesia. Sekaligus sebagai salah satu pertimbangan bagi pemerintah dalam pengentasan kemiskinan, sehingga bisa diambil kebijakan yang lebih tepat berdasarkan wilayah dalam pengentasan kemiskinan.

(33)

1.5 Ruang Lingkup dan Keterbatasan Penelitian

Penelitian ini meliputi empat hal. Pertama, memberikan gambaran umum tentang dinamika pertumbuhan ekonomi, distribusi pendapatan dan kemiskinan di tingkat provinsi di Indonesia. Kedua, mendekomposisi perubahan kemiskinan terhadap efek pertumbuhan dan efek distribusi untuk mengetahui apakah perubahan kemiskinan yang ada lebih dipengaruhi oleh pertumbuhan atau distribusi pendapatan. Ketiga, menghitung derajat pro poor growth di tingkat provinsi di Indonesia. Keempat, memberikan gambaran tentang faktor-faktor yang memengaruhi pro poor growth di tingkat provinsi di Indonesia.

Penelitian ini mencakup seluruh provinsi di Indonesia selama periode RPJM 2005-2009. Data yang tidak tersedia tahun 2005 dan 2006 di provinsi baru (Papua Barat dan Sulawesi Barat), didekati dengan data yang tersedia di provinsi induk. Selain itu analisis di tingkat provinsi dilakukan tanpa memisahkan status desa dan kota, serta tidak memisahkan secara sektoral.

Dekomposisi kemiskinan dan penghitungan derajat pro poor growth dihitung untuk empat periode, yaitu 2005-2006, 2006-2007, 2007-2008 dan 2008- 2009. Hal ini dilakukan untuk mengetahui derajat pro poor growth selama pelaksanaan RPJM 2005-2009 yang mengagendakan pembangunan yang pro growth, pro job dan pro poor, sebagai komitmen pemerintah dalam pengentasan kemiskinan dan pengurangan ketimpangan pendapatan.

(34)

11

II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Pertumbuhan Ekonomi

Sebelum tahun 1970-an, pembangunan (development) secara tradisional diartikan sebagai kapasitas dari sebuah perekonomian nasional -yang kondisi ekonomi awalnya kurang lebih bersifat statis dalam kurun waktu yang cukup lama- untuk menciptakan dan mempertahankan kenaikan pendapatan nasional bruto atau GNI (Gross National Income). Indeks ekonomi lainnya yang juga sering digunakan untuk mengukur tingkat kemajuan pembangunan adalah tingkat pertumbuhan pendapatan perkapita (income per capita) atau GNI perkapita (Todaro dan Smith, 2006). Tingkat pertumbuhan ekonomi merupakan unsur yang paling diutamakan sedangkan masalah-masalah lain seperti kemiskinan, diskriminasi, pengangguran, dan ketimpangan distribusi pendapatan, seringkali dinomorduakan (Todaro dan Smith, 2006)

Pemikiran mengenai pertumbuhan ekonomi terus berkembang, dan secara umum terdapat empat aliran pemikiran, yakni teori klasik, teori neo-Keynes, teori neo-Klasik dan teori Modern (Tambunan, 2006). Teori klasik tentang pertumbuhan antara lain Teori Pertumbuhan Adam Smith, Teori Pertumbuhan David Ricardo, Teori Pertumbuhan Thomas Robert Malthus, dan Teori Marx.

Terdapat dua hal penting dari teori-teori klasik ini yang membedakan dengan teori-teori yang muncul sesudahnya, yaitu faktor-faktor produksi utama adalah tenaga kerja, tanah dan modal, serta peran teknologi, sedangkan ilmu pengetahuan serta peningkatan kualitas dari tenaga kerja dan dari input-input produksi lainnya terhadap pertumbuhan output dianggap konstan (teknologi dianggap sebagai suatu koefisien yang tetap atau tidak berubah).

Teori pertumbuhan yang masuk kelompok pemikiran neo-Keynes adalah model pertumbuhan Harrod-Domar. Model pertumbuhan Harrod-Domar menekankan perlunya tabungan untuk kegiatan investasi yang akan mendorong pertumbuhan ekonomi yang direpresentasikan oleh peningkatan pendapatan nasional. Model ini merupakan gabungan dengan modifikasi pada model pertumbuhan dari Domar dan model pertumbuhan dari Harrod, dimana model pertumbuhan Domar memfokuskan pada laju pertumbuhan Investasi, sedangkan

(35)

model pertumbuhan Harrod lebih pada pertumbuhan Y atau GDP (Gross Domestic Product) jangka panjang melalui peningkatan rasio modal-output (Todaro and Smith, 2006).

Pemikiran dari teori neo-klasik didasarkan pada kritik atas kelemahan- kelemahan sebagai penyempurnaan terhadap pandangan teori klasik. Beberapa model neo-klasik diantaranya Model Pertumbuhan A. Lewis, Model Pertumbuhan Paul A. Baran, Teori Ketergantungan Neokolonial, Teori Pertumbuhan WW.

Rostow, dan Teori Pertumbuhan Solow. Model Pertumbuhan A. Lewis dikenal dengan sebutan suplai tenaga kerja yang tidak terbatas dengan meneliti gejala- gejala di negara berkembang. Suplai tenaga kerja yang terlalu banyak di sektor pertanian menyebabkan produktivitas tenaga kerja di sektor ini rendah, sehingga perpindahan tenaga kerja dari sektor pertanian ke sektor industri tidak sampai menurunkan produksi pertanian (Nafziger, 2007).

Model pertumbuhan Paul A. Baran dikenal sebagai teori pertumbuhan dan stagnasi ekonomi. Baran berpendapat akibat pengaruh Negara Maju, ekonomi Negara Berkembang menjadi buruk. Pendapat ini muncul sebagai penolakan terhadap pemikiran Marxis yang menyatakan bahwa Negara Sedang Berkembang akan maju seperti di Eropa karena hubungannya dengan Negara Maju (Negara Kapitalis), sehingga pemikiran ini sering disebut dengan tesis Neomarxis.

Teori Ketergantungan Neokolonial mempunyai dasar pemikiran yaitu pembangunan ekonomi di Negara Sedang Berkembang sangat tergantung pada Negara Maju, terutama investasi langsung (PMA) di sektor pertambangan dan impor barang-barang industri. Sedangkan menurut Rostow, pembangunan ekonomi di manapun merupakan proses yang bergerak dalam sebuah garis lurus, yakni dari masyarakat terbelakang ke masyarakat maju. Proses pembangunan yang dimaksud oleh Rostow yaitu masyarakat tradisional, pra kondisi untuk lepas landas, lepas landas, menuju kedewasaan dan era konsumsi massal tinggi (Nafziger, 2006).

Model Pertumbuhan Solow merupakan penyempurnaan dari Model Pertumbuhan Harrod-Domar (Tambunan, 2009). Menurut teori ini pertumbuhan ekonomi terjadi tidak saja dipengaruhi oleh peningkatan modal (melalui tabungan dan investasi) tetapi juga dipengaruhi oleh peningkatan kuantitas dan kualitas

(36)

13

tenaga kerja (pertumbuhan jumlah penduduk dan perbaikan pendidikan) dan peningkatan teknologi, dengan asumsi:

1. Diminishing return to scale bila input tenaga kerja dan modal digunakan secara parsial dan constant return to scale bila digunakan secara bersamasama.

2. Perekonomian berada pada keseimbangan jangka panjang (full employment).

(Todaro and Smith, 2006; Mankiw, 2007).

Model-model pertumbuhan yang telah dibahas tersebut, secara umum hanya melihat pada salah satu sumber pertumbuhan saja, yaitu kontribusi dari penambahan jumlah faktor-faktor produksi. Model ini kurang bisa menjelaskan fenomena pertumbuhan ekonomi dewasa ini, dimana sumber pertumbuhan yang terpenting adalah produktivitas yang menunjukkan adanya kemajuan teknologi, dan bukan dari peningkatan jumlah faktor-faktor produksi yang digunakan. Oleh karena itu, muncul pemikiran baru tentang pentingnya pengaruh kemajuan teknologi terhadap pertumbuhan ekonomi yang dikenal dengan model pertumbuhan modern.

Model pertumbuhan modern tidak hanya memasukkan faktor-faktor produksi seperti tenaga kerja dan modal saja sebagai faktor-faktor krusial dalam pertumbuhan ekonomi, akan tetapi juga memasukkan kualitas sumber daya manusia (SDM), kemajuan teknologi, kewirausahaan, bahan baku dan material.

Faktor-faktor krusial lainnya yang berperan penting dalam pertumbuhan ekonomi diantaranya ketersediaan dan kondisi infrastruktur, hukum serta peraturan, stabilitas politik, kebijakan pemerintah, birokrasi dan terms of trade (ToT). Secara umum, dalam model pertumbuhan modern, teknologi dan manusia tidak lagi sebagai faktor eksogen saja, tapi merupakan faktor endogen sebagai faktor produksi yang dinamis.

2.2. Kemiskinan

Kemiskinan seringkali didefinisikan sebagai ketidakcukupan pendapatan dan harta untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan dasar seperti pangan, sandang, perumahan, pendidikan dan kesehatan, yang semuanya berada dalam lingkup dimensi ekonomi. Todaro dan Smith (2006) menuliskan cakupan kemiskinan absolut sebagai persoalan kemiskinan yang lebih penting. Cakupan kemiskinan absolut adalah penduduk yang tidak mampu mendapatkan sumber daya yang

(37)

cukup untuk memenuhi kebutuhan dasar. Penduduk ini hidup di bawah tingkat pendapatan riil minimum tertentu atau di bawah garis kemiskinan. Garis kemiskinan yang digunakan berbeda untuk tiap negara, tetapi yang umum dijadikan standar adalah berdasarkan ketetapan World Bank yaitu pendapatan perkapita sebesar US$ 1 atau US$2 per hari dalam US $ PPP (Purchasing Power Parity), bukan nilai tukar resmi (exchange rate).

Menurut Bellinger (2007) konsep kemiskinan melibatkan multidimensi, multidefinisi dan berbagai alternatif pengukuran. Secara umum, kemiskinan dapat diukur dalam dua dimensi yaitu dimensi income atau kekayaan dan dimensi non- faktor keuangan. Kemiskinan dalam dimensi income atau kekayaan tidak hanya diukur dari rendahnya pendapatan yang diterima karena pendapatan rendah biasanya bersifat sementara, tetapi juga diukur melalui kepemilikan harta kekayaan seperti lahan bagi petani kecil dan melalui akses jasa pelayanan publik.

Sedangkan dari dimensi non-faktor keuangan ditandai dengan adanya keputusasaan atau ketidakberdayaan yang juga dapat menimpa berbagai rumah tangga berpenghasilan rendah.

Kemiskinan merupakan permasalahan umum yang terjadi dalam pembangunan ekonomi, dengan berbagai ukuran kemiskinan yang digunakan sebagai indikator tingkat kemiskinan. World Bank menetapkan kemiskinan berdasarkan pendapatan per orang per hari, dimana penduduk miskin didefinisikan sebagai penduduk yang mempunyai pendapatan kurang dari US$ 1 atau US$ 2 per hari. Sedangkan Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) menetapkan kemiskinan berdasarkan kriteria keluarga pra sejahtera (pra KS) dan keluarga sejahtera I (KS I).

Penghitungan tingkat kemiskinan dihadapkan pada dua hal, yaitu pengidentifikasian penduduk miskin dari total penduduk dan menghitung indeks kemiskinan berdasarkan data yang tersedia (Sen, 1976). Head-count ratio H sebagai ukuran kasar kemiskinan memenuhi dua aksiom yaitu aksiom monotonicity dan aksiom transfer. Aksiom monotonicity yaitu suatu kondisi dimana penurunan pendapatan seseorang yang berada di bawah garis kemiskinan akan meningkatkan ukuran kemiskinan. Aksiom transfer yaitu suatu kondisi

(38)

15

dimana transfer pendapatan dari seseorang yang berada di bawah garis kemiskinan ke seseorang yang lebih kaya akan meningkatkan ukuran kemiskinan.

Badan Pusat Statistik (BPS) mendefinisikan kemiskinan sebagai ketidakmampuan penduduk dalam memenuhi kebutuhan dasar. Penduduk miskin adalah penduduk yang tidak memiliki kemampuan dari sisi ekonomi untuk memenuhi kebutuhan makanan maupun non makanan yang bersifat mendasar.

Nilai garis kemiskinan yang digunakan mengacu pada kebutuhan minimum 2.100 kkal per kapita per hari ditambah dengan kebutuhan minimum non makanan yang merupakan kebutuhan dasar seseorang yang meliputi kebutuhan dasar untuk papan, sandang, sekolah, transportasi, serta kebutuhan rumahtangga dan individu yang mendasar lainnya. Besarnya nilai pengeluaran (dalam rupiah) untuk memenuhi kebutuhan dasar minimum makanan dan non makanan tersebut disebut garis kemiskinan (BPS, 2007).

Indikator kemiskinan yang dihitung oleh BPS selain jumlah dan persentase penduduk miskin, juga digunakan ukuran indeks kedalaman kemiskinan (Poverty Gap Index-P1) dan indeks keparahan kemiskinan (Distributionally Sensitive Index-P2

= 

 −

= q

i

i

z y z P n

1

1 α

α

) yang dirumuskan oleh Foster-Greer-Thorbecke (Foster, et. al., 1984) sebagai berikut:

dimana: α = 0, 1, 2

z = garis kemiskinan yi

bawah garis kemiskinan ( i=1, 2, 3, …, q), y

= rata-rata pengeluaran perkapita sebulan penduduk yang berada di

i

q = banyaknya penduduk yang berada di bawah garis kemiskinan < q

n = jumlah penduduk

Jika α = 0 maka diperoleh Head Count Index (P0); α = 1 adalah Poverty Gap Index (P1); dan α = 2 merupakan ukuran Distributionally Sensitive Index (P2).

Poverty Gap Index (P1) merupakan ukuran rata-rata ketimpangan pengeluaran masing-masing penduduk miskin terhadap batas miskin. Semakin tinggi nilai indeks ini semakin besar rata-rata ketimpangan pengeluaran penduduk miskin terhadap garis kemiskinan. Distributionally Sensitive Index (P2) sampai batas

(39)

tertentu dapat memberikan gambaran mengenai penyebaran pengeluaran diantara penduduk miskin, dan dapat juga digunakan untuk mengetahui intensitas kemiskinan.

2.3 Pertumbuhan Ekonomi dan Distribusi Pendapatan

Distribusi pendapatan merupakan porsi pendapatan yang diterima oleh setiap individu atau rumah tangga dalam suatu wilayah. Pendapatan yang diterima setiap individu atau rumah tangga tersebut tergantung pada tingkat produktivitas dan peranannya dalam perekonomian. Ukuran yang sering digunakan untuk mengukur distribusi pendapatan adalah distribusi ukuran pendapatan, kurva Lorenz, dan Gini ratio. Ketimpangan pendapatan terjadi apabila sebagian besar penduduk memperoleh pendapatan yang rendah dan pendapatan yang besar hanya dinikmati oleh sebagian kecil penduduk. Semakin besar perbedaan pendapatan yang diterima masing-masing kelompok menunjukkan semakin besarnya ketimpangan.

Adanya ketimpangan yang tinggi antara kelompok kaya dan miskin menurut Todaro dan Smith (2006) akan menimbulkan setidaknya dua dampak negatif yaitu:

1. Terjadinya inefisiensi ekonomi. Hal ini sebagian dikarenakan adanya ketimpangan yang tinggi menyebabkan semakin banyak penduduk yang kesulitan mengakses kredit terutama penduduk miskin, sedangkan penduduk kaya cenderung lebih konsumtif untuk barang mewah atau investasi ke luar negeri.

2. Melemahkan stabilitas dan solidaritas sosial.

Kuznets (1955) membuat hipotesis hubungan antara pertumbuhan ekonomi dan ketidakmerataan pendapatan membentuk kurva U-terbalik (inverted- U curve). Hipotesa Kuznets bersandar pada asumsi bahwa terdapat dua sektor ekonomi dalam suatu negara, yaitu sektor pertanian tradisional di perdesaan dengan pendapatan perkapita dan ketidakmerataan pendapatan yang rendah dan sektor modern (sektor industri dan jasa) di perkotaan dengan pendapatan perkapita dan ketidakmerataan pendapatan yang tinggi.

(40)

17

Sumber: Todaro dan Smith (2006)

Gambar 4. Kurva U Terbalik Kuznets (Inverted U Curve Hypothesis)

Kuznets menekankan adanya perubahan struktural dalam pembangunan ekonomi, dimana dalam prosesnya sektor industri dan jasa cenderung berkembang dan terjadi pergeseran dari sektor tradisional ke sektor modern. Selama masa transisi tersebut, produktifitas dan upah tenaga kerja di sektor modern lebih tinggi daripada sektor tradisional, sehingga pendapatan perkapita yang diterima juga lebih tinggi, akibatnya ketidakmerataan pendapatan antara kedua sektor tersebut meningkat. Sehingga pada awal pembangunan, pendapatan perkapita dan kesenjangan pendapatan yang masih rendah, selanjutnya kesenjangan pendapatan meningkat sejalan dengan meningkatnya pendapatan perkapita. Setelah melampaui titik kulminasi akan terjadi perbaikan pada distribusi pendapatan.

2.4 Pertumbuhan Ekonomi dan Pengentasan Kemiskinan

Pertumbuhan ekonomi yang tinggi dan berkelanjutan merupakan kondisi utama atau suatu prasyarat keharusan bagi kelangsungan pembangunan ekonomi dan peningkatan kesejahteraan (Tambunan, 2009). Pertumbuhan ekonomi dan pengurangan kemiskinan dalam hal ini peningkatan kesejahteraannya, merupakan hal yang saling berkaitan. Keterkaitan antara pertumbuhan ekonomi dan pengurangan kemiskinan menurut Todaro dan Smith (2006) dapat diidentifikasi sebagai berikut. Pertama, pendapat yang menuliskan bahwa pertumbuhan yang cepat akan berakibat buruk pada kaum miskin, karena mereka akan tergilas dan terpinggirkan oleh perubahan struktural pertumbuhan modern. Akan tetapi

(41)

menurut Warr (2000) pertumbuhan yang cepat akan bermanfaat bagi semua pihak, termasuk penduduk miskin. Kedua, kalangan pembuat kebijakan yang berpendapat bahwa pengeluaran publik yang digunakan untuk menanggulangi kemiskinan akan mengurangi dana yang dapat digunakan untuk mempercepat pertumbuhan. Ketiga, pendapat yang menyatakan bahwa kebijakan untuk mengurangi kemiskinan tidak harus memperlambat laju pertumbuhan, dengan alasan sebagai berikut:

1. Kemiskinan akan membuat kaum miskin tidak mempunyai akses sumber modal, tidak mampu menyekolahkan anaknya, tidak punya peluang berinvestasi dan mempunyai banyak anak sebagai investasi di masa tua.

Berbagai faktor ini akan menyebabkan pertumbuhan perkapita lebih kecil.

2. Data empiris menunjukkan kaum kaya di negara miskin tidak mau menabung dan berinvestasi di negara mereka sendiri, walaupun sumber kekayaan mereka berasal dari negara mereka sendiri.

3. Kaum miskin memiliki standar hidup seperti kesehatan, gizi dan pendidikan yang rendah sehingga menurunkan tingkat produktivitas. Strategi yang ditujukan untuk meningkatkan pendapatan dan standar hidup golongan miskin, selain akan memperbaiki kesejahteraan mereka juga meningkatkan produktivitas dan pendapatan keseluruhan.

4. Peningkatan pendapatan kaum miskin akan mendorong kenaikan permintaan produk lokal, memperbesar kesempatan kerja lokal dan menumbuhkan investasi lokal.

5. Penurunan kemiskinan secara masal akan menciptakan stabilitas sosial dan memperluas partisipasi publik dalam proses pertumbuhan.

Dengan demikian, pertumbuhan ekonomi yang cepat dan pengurangan kemiskinan bukanlah hal yang saling bertentangan, tetapi harus dilaksanakan secara simultan.

Siregar dan Wahyuniarti (2007) dalam penelitiannya tentang dampak pertumbuhan ekonomi terhadap penurunan jumlah penduduk miskin menyimpulkan bahwa pertumbuhan ekonomi berpengaruh secara signifikan dalam mengurangi kemiskinan, namun magnitude dari pengaruh tersebut relatif tidak besar. Secara umum ditemukan bahwa kemiskinan tidak dapat dipecahkan hanya

(42)

19

dengan mengharapkan proses trickle down effect dari pencapaian pertumbuhan ekonomi yang tinggi. Akan tetapi pertumbuhan ekonomi merupakan syarat keharusan untuk mengurangi kemiskinan.

Dollar dan Kraay (2002) menyatakan bahwa secara rata-rata, pendapatan kelompok termiskin dalam masyarakat akan meningkat secara proporsional dengan peningkatan pendapatan rata-rata. Peningkatan pendapatan rata-rata berarti peningkatan pendapatan dari kelompok termiskin, yang selanjutnya mengubah kondisi perekonomian kelompok termiskin dan mengurangi kemiskinan. World Bank (2006) dalam ikhtisarnya menuliskan empat butir penting dalam pengentasan kemiskinan di Indonesia yaitu (i) mengurangi kemiskinan dari segi pendapatan melalui pertumbuhan, (ii) memperkuat kemampuan sumber daya manusia, dan (iii) mengurangi tingkat kerentanan dan risiko di antara rumah tangga miskin, dan juga (iv) memperkuat kerangka kelembagaan untuk melakukannya dan membuat kebijakan publik lebih memihak masyarakat miskin.

2.5 Pro poor growth

Konsep Pro poor growth dijelaskan secara implisit oleh World Bank pada tahun 1990 dalam laporannya dengan ‘broadbased growth’. Kemudian istilah pro poor growth baru dijelaskan secara eksplisit dalam bahan kajian World Bank pada tahun 1993. Sejak saat itu isu pro poor growth telah menarik perhatian secara luas berbagai kalangan. Pro poor growth merupakan hubungan timbal-balik antara tiga unsur: pertumbuhan, kemiskinan, dan ketidakmerataan. Tingkat kemiskinan tidak hanya dipengaruhi oleh pertumbuhan ekonomi tetapi juga dipengaruhi oleh level dan perubahan ketidakmerataan distribusi pendapatan.

Menurut World Bank (2008) terdapat empat metode pengukuran pro poor growth meliputi:

1. Pro poor growth Index (PPGI) dikemukakan oleh Kakwani and Pernia pada tahun 2000.

2. Poverty Bias of Growth (PBG) dikemukakan oleh Kakwani pada tahun 2000.

3. Poverty Growth Curve (PGC) dikemukakan oleh Son pada tahun 2003.

4. Poverty Equivalent Growth Rate (PEGR) dikemukakan oleh Kakwani, et. al.

pada tahun 2004.

(43)

Ravallion (2004) mendefinisikan pro poor growth sebagai peningkatan PDB yang menurunkan kemiskinan. Menurut definisi ini, pertumbuhan yang diikuti dengan penurunan kemiskinan termasuk pro poor growth, meskipun tidak terjadi perbaikan distribusi pendapatan. Sedangkan badan-badan internasional seperti PBB, Organization for Economic Cooperation and Development (OECD), UNDP, dan World Bank lebih sering menggunakan definisi pro poor growth sebagai pertumbuhan ekonomi yang lebih menguntungkan penduduk miskin dan memberikan kesempatan pada kelompok penduduk miskin untuk memperbaiki situasi ekonomi seperti dikemukakan Kakwani, et al. (2004).

Kakwani dan Pernia (2000), dan Son (2003) menuliskan pro-poor growth tidak hanya memperhitungkan pengurangan tingkat kemiskinan namun distribusi pendapatan yang lebih merata. Pada prinsipnya pengurangan kemiskinan bergantung pada dua faktor yaitu pertumbuhan dan distribusi pendapatan antara penduduk miskin (kelas bawah) dan kaya (kelas atas). Grimm, et. al. (2007) menuliskan tentang strategi ‘pro poor growth’ yaitu strategi pencapaian pertumbuhan ekonomi yang mendorong peningkatan pendapatan dari masyarakat miskin

Bourguignon (2004) menjelaskan hubungan pertumbuhan dan kemiskinan dalam bentuk hubungan segitiga pertumbuhan, ketidakmerataan dan kemiskinan.

Pengentasan kemiskinan dapat dilakukan dengan melakukan perubahan pada distribusi pendapatan atau dapat juga dengan meningkatkan level pendapatan (mendorong pertumbuhan). Kelompok dengan pendapatan rendah akan mendapatkan tambahan pendapatan melalui redistribusi pendapatan, sehingga bisa memenuhi kebutuhan dasarnya dan dapat terbebas dari kemiskinan. Sedangkan dengan meningkatkan tingkat pendapatan, pertumbuhan ekonomi harus cukup tinggi sehingga secara rata-rata pendapatan masyarakat naik. Kenaikan pendapatan ini akan meningkatkan taraf hidup dan mengentaskan dari kemiskinan.

Gambar 5. merupakan penjelasan grafis dari efek pertumbuhan dan efek distribusi terhadap distribusi pendapatan dan kemiskinan. Efek pertumbuhan adalah efek perubahan secara proporsional pada seluruh level pendapatan sehingga secara relatif distribusi pendapatan tidak berubah. Sedangkan efek

(44)

21

distribusi adalah efek dari perubahan dalam distribusi pendapatan relatif yang independen terhadap rata-ratanya.

Sumber: Bourguignon (2004)

Gambar 5. Hubungan antara Kemiskinan, Tingkat Pendapatan Agregat dan Distribusi Pendapatan

Gambar 6. menunjukkan perubahan tingkat kemiskinan, dimana sumbu x menunjukkan kepadatan distribusi pendapatan yaitu jumlah individu pada tiap level pendapatan dalam skala logaritma. Sumbu y menunjukkan share penduduk pada level pendapatan tertentu terhadap seluruh jumlah penduduk. Misalkan pada distribusi awal jumlah penduduk miskin adalah area di bawah kurva sebelah kiri garis kemiskinan dan diasumsikan pendapatan perkapita penduduk mengikuti distribusi log Normal.

Peningkatan pada pendapatan seluruh lapisan masyarakat dengan distribusi tetap, berarti distribusi pendapatan bergeser ke kanan dan bentuk kurva tetap, sehingga penduduk yang masuk kategori miskin menjadi sebesar daerah yang diarsir gelap dan daerah terang. Efek pertumbuhan menyebabkan jumlah penduduk miskin akan berkurang sebesar daerah yang diarsir lebih terang, sehingga jumlah orang miskin sekarang sebesar daerah yang diarsir gelap dan daerah terang. Perubahan menjadi distribusi yang lebih merata dengan tingkat pendapatan tetap, berarti distribusi pendapatan semakin menyempit, menyebabkan penduduk yang masuk kategori miskin semakin sedikit (daerah terang). Efek

Kemiskinan Absolut dan Pengentasan

Kemiskinan

Distribusi dan Perubahan Distribusi

Tingkat Pendapatan dan Pertumbuhan

Agregat Strategi Pembangunan

(45)

distribusi menyebabkan jumlah penduduk miskin berkurang sebesar daerah yang diarsir gelap, sehingga jumlah orang miskin sekarang sebesar daerah terang.

Sumber: Bourguignon (2004)

Gambar 6. Perubahan Kemiskinan karena Efek Pertumbuhan dan Efek Distribusi Peningkatan pendapatan dan perbaikan distribusi pendapatan masyarakat secara bersama-sama akan menggeser distribusi pendapatan ke kanan dan mempersempit ketimpangan antar individu. Hal ini akan mengurangi kemiskinan sebesar daerah diarsir gelap ditambah dengan daerah diarsir lebih terang, sehingga semakin efektif dalam mengentaskan kemiskinan. Pada kondisi ini maka jumlah orang miskin akan sebesar daerah terang.

Hubungan pertumbuhan dan kemiskinan, Kakwani dan Son (2006) berpendapat bahwa pertumbuhan akan mempengaruhi tingkat kemiskinan tidak hanya melalui pertumbuhan itu sendiri, tetapi juga melalui cara pendistribusian manfaat pertumbuhan diantara penduduk. Kombinasi antara pertumbuhan dan redistribusi pendapatan dalam porsi yang tepat diperlukan untuk membuat pertumbuhan dapat bermanfaat bagi penduduk miskin sehingga proses pengurangan kemiskinan menjadi optimal.

(46)

23

2.6 Faktor-faktor yang memengaruhi Pro poor growth

Isu tentang pro poor growth yang semula didefinisikan sebagai pertumbuhan ekonomi yang diikuti dengan pengurangan penduduk miskin oleh World Bank, selanjutnya oleh para peneliti seperti Ravallion dan Chen (2001), Son (2003), Kakwani dan Son (2006) mendefinisikan pro poor growth sebagai suatu kondisi dimana pertumbuhan ekonomi akan memberikan manfaat yang lebih ke penduduk miskin. Penduduk miskin mempunyai kesempatan untuk merubah kondisi perekonomiannya, sehingga bisa keluar dari kondisi miskin. Isu pro poor growth erat kaitannya dengan pengentasan kemiskinan, dan faktor yang berpengaruh terhadap pengentasan kemiskinan akan memengaruhi juga pro poor growth.

Produktifitas sektor pertanian

Bekerja di sektor pertanian akan memberikan peluang untuk menjadi miskin, sehingga investasi di sektor pertanian merupakan prioritas utama dalam pengentasan kemiskinan. Luas lahan yang dimiliki bukanlah sebagai faktor utama yang harus dipenuhi, akan tetapi lebih ke kualitas lahan dan produktifitas sektor pertanian (Geda, et al, 2005). Menurut Klasen (2007) produktifitas di sektor tanaman pangan sebagai faktor penting yang berpengaruh terhadap pro poor growth, khususnya negara yang sebagian besar penduduk miskin berada di wilayah perdesaan. Meskipun investasi memegang peranan penting dalam menggerakkan pro poor growth, namun demikian upaya peningkatan produktifitas di sektor pertanian menjadi lebih penting sebagai instrumen dalam menggerakkan pro poor growth.

Siregar dan Wahyuniarti (2007) dalam penelitiannya tentang Dampak Pertumbuhan Ekonomi terhadap Penurunan Jumlah Penduduk Miskin menunjukkan bahwa share sektor pertanian terhadap PDB berpengaruh terhadap penurunan jumlah penduduk miskin. Suparno (2010) menyimpulkan bahwa peningkatan PDRB sektoral khususnya pertanian merupakan faktor yang berpengaruh terhadap jumlah penduduk miskin.

(47)

Pengeluaran Pemerintah untuk Investasi Publik

Fan (2004) membuktikan bahwa pengeluaran pembangunan untuk infrastruktur dan jasa di daerah pedesaan akan berpengaruh terhadap pertumbuhan di sektor pertanian yang menjadi sektor terbesar terjadinya kemiskinan di Negara berkembang. Selain itu pengeluaran pembangunan untuk teknologi dan modal manusia juga merupakan faktor yang berpengaruh dalam pengentasan kemiskinan di Negara Berkembang, khususnya negara-negara di Afrika. Pengeluaran pembangunan baik untuk infrastruktur, jasa, teknologi dan modal manusia terangkum sebagai pengeluaran investasi publik. Suparno (2010) juga menemukan bahwa ternyata pengeluaran APBD sebagai proksi pengeluaran pemerintah untuk sektor publik berpengaruh terhadap penurunan jumlah penduduk miskin.

Pengeluaran pemerintah dapat memberikan pengaruh langsung dan tidak langsung terhadap kemiskinan (Fan, et al., 1999). Dampak langsung pengeluaran pemerintah adalah manfaat yang diterima penduduk miskin dari berbagai program peningkatan pendapatan dan kesejahteraan pekerja, serta skema bantuan dengan target penduduk miskin. Dampak tidak langsung berasal dari investasi pemerintah dalam infrastruktur, riset, pelayanan kesehatan dan pendidikan bagi penduduk, yang secara simultan akan meningkatkan pertumbuhan ekonomi di seluruh sektor dan berdampak pada penciptaan lapangan kerja yang lebih luas dan peningkatan pendapatan terutama penduduk miskin serta lebih terjangkaunya harga kebutuhan pokok. Iradian (2005) juga menyatakan bahwa selain ketimpangan pendapatan, pengeluaran pemerintah juga memiliki pengaruh terhadap penurunan kemiskinan.

Pendidikan bagi Kaum perempuan

Tingkat pendidikan kaum perempuan, khususnya bagi perempuan yang berperan sebagai kepala rumah tangga memberikan pengaruh yang besar terhadap upaya pengurangan kemiskinan (Geda, et al., 2005). Penelitian yang menunjukkan hubungan negatif antara pendidikan kaum perempuan dengan fertilitas, dengan pendidikan yang semakin tinggi maka fertilitas akan semakin rendah yang akan berdampak pada ukuran rumah tangga, dimana ukuran rumah tangga merupakan faktor penting yang berpengaruh terhadap kemiskinan. Hal ini terkait dengan dependency ratio. Berkurangnya ketimpangan gender akan mempengaruhi pro

Referensi

Dokumen terkait