• Tidak ada hasil yang ditemukan

BADAN PUSAT STATISTIK PROVINSI NUSA TENGGARA TIMUR

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BADAN PUSAT STATISTIK PROVINSI NUSA TENGGARA TIMUR"

Copied!
114
0
0

Teks penuh

(1)

STATISTIK PENDIDIKAN

PROVINSI NUSA TENGGARA TIMUR

2018

KATALOG: 4301002.53

BADAN PUSAT STATISTIK

PROVINSI NUSA TENGGARA TIMUR

https://ntt.bps.go.id

(2)

https://ntt.bps.go.id

(3)

STATISTIK PENDIDIKAN

PROVINSI NUSA TENGGARA TIMUR 2018

Nomor ISSN Nomor Katalog Nomor Publikasi Ukuran Buku Jumlah halaman

: 2527-8533 : 4301002.53 : 53520.1908 : 18,2 cm x 25,7 cm : xii + 100 halaman

Naskah:

Bidang Statistik Sosial

Penyunting:

Bidang Statistik Sosial

Gambar Kulit:

Bidang IPDS

Diterbitkan oleh:

©Badan Pusat Statistik Provinsi Nusa Tenggara Timur

Dicetak oleh:

Badan Pusat Statistik Provinsi Nusa Tenggara Timur

“Dilarang mengumumkan, mendistribusikan, mengomunikasikan, dan/atau menggandakan sebagian atau seluruh isi buku ini untuk tujuan komersial tanpa izin tertulis dari Badan Pusat Statistik”

https://ntt.bps.go.id

(4)

STATISTIK PENDIDIKAN

PROVINSI NUSA TENGGARA TIMUR 2018

TIM PENYUSUN

Pengarah:

Maritje Pattiwaellapia, SE, M.Si Koordinator :

Ir. Desmon Sinurat

Penyusun/Pengolah Data:

Novianti Banunu, M.S.E Yovita Kenyo Widyastuti, S ST

https://ntt.bps.go.id

(5)

https://ntt.bps.go.id

(6)

Statistik Perumahan Provinsi Nusa Tenggara Timur 2018 v KATA PENGANTAR

Statistik Pendidikan Provinsi Nusa Tenggara Timur Tahun 2018 merupakan publikasi yang disajikan untuk menjawab kebutuhan data pendidikan berdasarkan indikator yang sering digunakan. Publikasi ini memberikan gambaran capaian pembangunan di bidang pendidikan di Nusa Tenggara Timur.

Data yang menjadi sumber publikasi ini adalah data hasil pengolahan Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) yang diselenggarakan Badan Pusat Statistik (BPS) pada tahun 2018.

Indikator pendidikan yang disajikan dalam publikasi ini adalah Angka Partisipasi Sekolah (APS), Angka Partisipasi Kasar (APK), Angka Partisipasi Murni (APM), Angka Buta Huruf, dan beberapa indikator pendidikan lainnya.

Semoga publikasi ini dapat memberikan kontribusi positif bagi masyarakat dan pihak terkait dibidang pendidikan. Saran yang membangun kami harapkan untuk menghasilkan publikasi yang lebih baik di masa yang akan datang

Kupang, Maret 2019 Kepala,

Maritje Pattiwaellapia, SE, M.Si

https://ntt.bps.go.id

(7)

https://ntt.bps.go.id

(8)

Statistik Perumahan Provinsi Nusa Tenggara Timur 2018 vii

DAFTAR ISI Halaman Judul ... i

Katalog ... ii

Kata Pengantar ... v

Daftar Isi ... vi

Daftar Tabel ... vii

Daftar Gambar ... viii

Daftar Lampiran ... x

BAB I Pendahuluan... ... 1

1.1 Latar Belakang ... 3

1.2 Tujuan Penulisan ... 4

1.3 Sumber Data ... 5

1.4 Sistematika Penulisan ... 5

Bab II Penjelasan Umum... .... 7

2.1 Ruang Lingkup ... 9

2.2 Kerangka Sampel... 9

2.3 Desain Sampel ... 10

2.4 Metode Pengumpulan Data ... 10

2.5 Konsep Definisi... 11

Bab III Pembahasan... ... 17

3.1 Partisipasi Sekolah ... 20

3.2 Tingkat Pendidikan Tertinggi yang Ditamatkan ... 40

3.3 Rata-Rata Lama Sekolah ... 43

3.4 Angka Melek Huruf ... 46

3.5 Pendidikan Anak Umur Dini ... 49

3.6 Akses Teknologi Informasi ... 52

Bab IV Penutup ... 55

Lampiran Tabel... 59

Lampiran Kuesioner ... 77

https://ntt.bps.go.id

(9)

viii Statistik Perumahan Provinsi Nusa Tenggara Timur 2018 DAFTAR TABEL

Tabel 1 Persentase Penduduk NTT Umur 7-24 Tahun Menurut Status Pendidikan, Daerah Tempat Tinggal, dan Jenis Kelamin, 2018 ... 21 Tabel 2 Rasio APM NTT, 2018 ... 37 Tabel 3 Persentase Anak Tidak Bersekolah lagi di NTT

Menurut Daerah Tempat Tinggal dan Jenis Kelamin, 2018 ... 42 Tabel 4 Rata-rata Lama Sekolah Penduduk NTT Menurut

Jenis Kelamin dan Status Ekonomi Rumah Tangga, 2018 ... 46 Tabel 5 Angka Melek Huruf (AMH) Penduduk NTT Menurut

Daerah Tempat Tinggal, Jenis Kelamin, dan Kelompok Umur, 2018 ... 47 Tabel 6 Persentase Penduduk NTT Umur 5-24 Tahun yang

Mengakses Internet Selama 3 Bulan Terakhir Menurut Daerah Tempat Tinggal dan Jenis Kelamin, 2018 ... 53

https://ntt.bps.go.id

(10)

Statistik Perumahan Provinsi Nusa Tenggara Timur 2018 ix DAFTAR GAMBAR

Gambar 1. Angka Partisipasi Sekolah (APS) Penduduk NTT Menurut Kelompok Umur dan Jenis Kelamin, 2018 .. 23 Gambar 2. Angka Partisipasi Sekolah (APS) Penduduk NTT

Menurut Kelompok Umur dan Status Ekonomi Rumah Tangga, 2018 ... 26 Gambar 3. Angka Partisipasi Sekolah (APS) Penduduk NTT

Menurut Kelompok Umur dan Daerah Tempat Tinggal, 2018 ... .. 28 Gambar 4. Angka Partisipasi Sekolah (APS) Penduduk NTT

Umur 19-24 Tahun Menurut Daerah Tempat Tinggal dan Strata Ekonomi Rumah Tangga, 2018 ... 30 Gambar 5. Angka Partisipasi Kasar (APK) Penduduk NTT

Menurut Jenjang Pendidikan dan Jenis Kelamin, 2018 ... 31 Gambar 6. Angka Partisipasi Kasar (APK) Penduduk NTT

Menurut Jenjang Pendidikan dan Daerah Tempat Tinggal, 2018 ... 33 Gambar 7. Angka Partisipasi Kasar (APK) Penduduk NTT

Jenjang Perguruan Tinggi Menurut Daerah Tempat Tinggal dan Jenis Kelamin, 2018... 35 Gambar 8. Angka Partisipasi Murni (APM) Penduduk NTT

Menurut Jenjang Pendidikan dan Jenis Kelamin, 2018 ... 36 Gambar 9. Angka Partisipasi Murni (APM) Penduduk NTT

Menurut Jenjang Pendidikan dan Daerah Tempat Tinggal, 2018 ... 38 Gambar 10. Angka Partisipasi Murni (APM) Penduduk NTT

Jenjang Menengah Atas Menurut Status Ekonomi Rumah Tangga, 2018 ... 39

https://ntt.bps.go.id

(11)

x Statistik Perumahan Provinsi Nusa Tenggara Timur 2018 Gambar 11. Persentase Penduduk NTT Umur 15 Tahun Ke Atas

Menurut Tingkat Pendidikan yang Ditamatkan, 2018 ... 41 Gambar 12. Rata-rata Lama Sekolah Penduduk NTT Umur 15

Tahun Ke Atas Menurut Daerah Tempat Tinggal dan Jenis Kelamin, 2018... 44 Gambar 13. Persentase Penduduk Umur 0-6 Tahun di NTT yang

Sedang Mengikuti PAUD Menurut Daerah Tempat Tinggal dan Jenis Kelamin, 2018 ... 50 Gambar 14. Persentase Penduduk Umur 0-6 Tahun di NTT yang

Sedang Mengikuti PAUD Menurut Status Ekonomi, 2018 ... 51

https://ntt.bps.go.id

(12)

Statistik Perumahan Provinsi Nusa Tenggara Timur 2018 xi DAFTAR LAMPIRAN

Tabel 1. Angka Partisipasi Sekolah (APS) Penduduk NTT Berumur 7-12 Tahun Menurut Kabupaten/Kota, 2015-2018 ... 61 Tabel 2. Angka Partisipasi Sekolah (APS) Penduduk NTT

Berumur 13-15 Tahun Menurut Kabupaten/Kota, 2015-2018 ... 62 Tabel 2. Angka Partisipasi Sekolah (APS) Penduduk NTT

Berumur 16-18 Tahun Menurut Kabupaten/Kota, 2015-2018 ... 63 Tabel 4. Angka Partisipasi Kasar (APK) Penduduk NTT

SD/sederajat Menurut Kabupaten/Kota, 2015- 2018. ... 64 Tabel 5. Angka Partisipasi Kasar (APK) Penduduk NTT

SMP/sederajat Menurut Kabupaten/Kota, 2015- 2018. ... 65 Tabel 6. Angka Partisipasi Kasar (APK) Penduduk NTT

SM/sederajat Menurut Kabupaten/Kota, 2015- 2018. ... 66 Tabel 7. Angka Partisipasi Kasar (APK) Penduduk NTT

PT/sederajat Menurut Kabupaten/Kota, 2015-2018 67 Tabel 8. Angka Partisipasi Murni (APM) Penduduk NTT

SD/sederajat Menurut Kabupaten/Kota, 2015- 2018. ... 68 Tabel 9. Angka Partisipasi Murni (APM) Penduduk NTT

SMP/sederajat Menurut Kabupaten/Kota, 2015- 2018. ... 69

https://ntt.bps.go.id

(13)

xii Statistik Perumahan Provinsi Nusa Tenggara Timur 2018 Tabel 10. Angka Partisipasi Murni (APM) Penduduk NTT

SMA/sederajat Menurut Kabupaten/Kota, 2015- 2018 ... 70 Tabel 11. Angka Partisipasi Murni (APM) Penduduk NTT

PT/sederajat Menurut Kabupaten/Kota, 2015- 2018 ... 71 Tabel 12. Angka Buta Huruf Penduduk NTT Berumur 15

Tahun ke Atas Menurut Kabupaten/Kota, 2015- 2018 ... 72 Tabel 13. Angka Melek Huruf Penduduk NTT Berumur 15

Tahun ke Atas Menurut Kabupaten/Kota, 2015- 2018 ... 73 Tabel 14. Persentase Penduduk NTT Berumur 7-24 Tahun

Menurut Status Sekolah dan Kabupaten/Kota, 2018 74 Tabel 15. Rata-Rata Lama Sekolah Penduduk NTT Berumur

15 Tahun ke Atas Menurut Jenis Kelamin dan Kabupaten/Kota, 2018 ... 75 Tabel 16. Angka Partisipasi Sekolah PAUD Menurut

Kabupaten/Kota dan Jenis Kelamin, 2018 ...

https://ntt.bps.go.id

76

(14)

https://ntt.bps.go.id

(15)

https://ntt.bps.go.id

(16)

Statistik Perumahan Provinsi Nusa Tenggara Timur 2018 3 BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Kualitas penduduk Indonesia sangat bergantung pada pencapaian pendidikan dan kesehatan sumber daya manusia.

Kebutuhan akan pendidikan merupakan hak dasar setiap individu dan sebagai wadah bagi pengembangan diri setiap orang. Negara menjamin warga negara dalam mendapatkan pendidikan. Undang- Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 Pasal 31 ayat (1) menyebutkan bahwa: setiap warga negara berhak mendapat pendidikan, dan ayat (3) menegaskan bahwa Pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pendidikan nasional yang meningkatkan keimanan dan ketakwaan serta akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa yang diatur dengan undang-undang.

Pemerintah berupaya meningkatkan kualitas hidup sumber daya manusia, sebagai aset yang penting dalam pembangunan nasional. Pembangunan nasional di bidang pendidikan ditujukan bagi peningkatan kualitas hidup manusia melalui kualitas pendidikan dan pelatihan dengan Program Indonesia Pintar. Program-program pendidikan dilakukan untuk memperluas akses penduduk terhadap pendidikan bagi segala umur, meningkatkan sarana dan prasarana pendidikan, memperbaiki kurikulum serta meningkatkan kualitas, kompetensi dan profesionalisme tenaga pendidik.

https://ntt.bps.go.id

(17)

4 Statistik Perumahan Provinsi Nusa Tenggara Timur 2018

Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (TPB) juga menempatkan kualitas pendidikan yang insklusif dan merata serta kesempatan belajar yang merata sebagai salah satu agenda global yang terus diusahakan. Dalam upaya memantau perkembangan pembangunan di bidang pendidikan serta capaian target TPB, dibutuhkan data dan indikator pendidikan yang mampu menggambarkan kondisi dan perkembangan pendidikan secara tepat. Beberapa indikator pendidikan yang dapat menggambarkan perkembangan pembangunan di bidang pendidikan antara lain, Angka Partisipasi Sekolah (APS), Angka Melek Huruf (AMH), rata-rata lama sekolah dsb.

BPS melalui Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) secara berkala setiap tahun mengumpulkan data terkait pendidikan. Data pendidikan yang dikumpulkan melalui Susenas merupakan keterangan perorangan penduduk berumur 5 tahun ke atas, keterangan pendidikan yang dikumpulkan antara lain partisipasi sekolah, jenjang pendidikan, dan kemampuan membaca dan menulis termasuk pula pendidikan pra sekolah.

1.2. Tujuan Penulisan

Penulisan publikasi ini disusun untuk memberikan gambaran mengenai kondisi pendidikan di Nusa Tenggara Timur, melalui data- data di bidang pendidikan antara lain angka partisipasi sekolah, angka melek huruf dan buta huruf, dan rata-rata lama sekolah. Melalui publikasi ini, diharapkan dapat bermanfaat bagi semua pihak dalam melakukan evaluasi pembangunan sekaligus perencanaan lebih lanjut di bidang pendidikan.

https://ntt.bps.go.id

(18)

Statistik Perumahan Provinsi Nusa Tenggara Timur 2018 5 1.3. Sumber Data

Data utama yang dijadikan rujukan dalam penulisan publikasi Statistik Pendidikan Provinsi Nusa Tenggara Timur ini bersumber dari BPS, yaitu dari hasil Susenas tahun 2018 serta beberapa data sektoral terkait pendidikan. Data yang dikumpulkan dalam Susenas mengenai pendidikan meliputi keterangan umum anggota rumah tangga, partisipasi sekolah, kemampuan baca tulis, tingkat pendidikan yang ditamatkan serta kondisi sosial ekonomi masyarakat terkait partisipasi pendidikan anggota rumah tangga.

1.4 Sistematika Penulisan

Penulisan ini dibagi dalam 4 (empat) bab. Bab I merupakan pendahuluan yang menyajikan latar belakang, tujuan penulisan, sumber data dan sistematika penulisan. Bab II penjelasan teknis yang berisi ruang lingkup, kerangka dan desain sampel, metode pengumpulan data dan konsep definisi. Bab III berisi pembahasan mengenai kondisi pendidikan penduduk Nusa Tenggara Timur dilihat dari beberapa indikator pendidikan dan Bab IV penutup.

https://ntt.bps.go.id

(19)

https://ntt.bps.go.id

(20)

https://ntt.bps.go.id

(21)

https://ntt.bps.go.id

(22)

Statistik Perumahan Provinsi Nusa Tenggara Timur 2018 9 BAB II

PENJELASAN UMUM

2.1. Ruang Lingkup

Pelaksanaan Susenas tahun 2018 di Nusa Tenggara Timur mencakup 13.600 rumah tangga yang tersebar di seluruh kabupaten/kota, yang terbagi atas 10.880 rumah tangga dicacah pada Bulan Maret dan 2.720 rumah tangga dicacah pada Bulan September.

Respon rate Susenas Maret 2018 sebesar 99,35 persen atau 10.809 rumah tangga. Jumlah sampel yang sama dinyatakan clean setelah dilakukan pengecekan kelengkapan dan konsistensi data. Dengan jumlah sampel ini, maka estimasi data Susenas Maret 2018 dapat dilakukan hingga level kabupaten/kota.

Seluruh rumah tangga sampel ditanyakan mengenai segala aspek yang berkaitan dengan kondisi demografi, kesehatan, pendidikan, ketenagakerjaan, fertilitas, kondisi perumahan, pengeluaran rumah tangga serta kondisi sosial ekonomi rumah tangga lainnya.

2.2. Kerangka Sampel

Kerangka sampel Susenas adalah Blok Sensus (BS) yang telah terlebih dahulu dilakukan pengelompokkan (stratifikasi) berdasarkan Indeks Kesejahteraan. Indeks kesejahteraan (IK) merupakan indeks komposit tingkat kesejahteraan rumah tangga per BS. Nilai IK untuk setiap BS seluruh Indonesia merupakan dasar dalam membentuk kerangka sampel BS yang baru.

https://ntt.bps.go.id

(23)

10 Statistik Perumahan Provinsi Nusa Tenggara Timur 2018

Indeks kesejahteraan dibagi dalam 10 kategori dengan jumlah BS yang sama untuk setiap kategori (desil), kemudian BS dikelompokkan ke dalam 3 (tiga) kelas tingkat kesejahteraan, yaitu tingkat kesejahteraan rendah (desil 1-3); tingkat kesejahteraan menengah (desil 4-7); dan tingkat kesejahteraan tinggi (desil 8-10).

BPS membagi BS dalam 2 (dua) tipologi daerah, yaitu daerah perkotaan dan perdesaan. Dengan demikian terdapat 6 (enam) kelompok (strata) BS. Berdasarkan stratifikasi IK, dibentuk kerangka sampel baru sebanyak 25 persen dari total populasi BS biasa secara nasional. Metode pemilihan 25 persen BS ini dilakukan secara Probability Proportional to Size (PPS) dengan size jumlah rumah tangga dalam BS hasil Sensus Penduduk (SP2010) di setiap strata.

2.3. Desain Sampel

Pencacahan dilaksanakan bulan Maret, dengan total sampel secara nasional 300.000 rumah tangga dari 30.000 BS. Di Nusa Tenggara Timur mencakup 1.088 BS atau 10.880 rumah tangga. Total sampel nasional untuk bulan September 75.000 rumah tangga, dan untuk Provinsi Nusa Tenggara Timur sebanyak 2.720 rumah tangga.

Pemilihan sampel dilakukan secara sistematik sehingga komposisi BS terpilih per strata sebanding dengan komposisi BS berdasarkan stratifikasi di setiap kabupaten/kota.

2.4. Metode Pengumpulan Data

Pengumpulan data dari rumah tangga terpilih dilakukan dengan cara wawancara langsung antara petugas pencacah dengan responden. Pertanyaan atau keterangan yang menyangkut individu

https://ntt.bps.go.id

(24)

Statistik Perumahan Provinsi Nusa Tenggara Timur 2018 11 dikumpulkan melalui wawancara dengan individu yang bersangkutan.

Sementara pertanyaan atau keterangan menyangkut rumah tangga, dikumpulkan melalui wawancara dengan kepala rumah tangga, suami/istri kepala rumah tangga atau anggota rumah tangga yang mengetahui karakteristik yang ditanyakan.

2.5. Konsep dan Definisi

Untuk menghindari salah pengertian dalam membaca dan memahami data, maka perlu dibuat batasan kerangka berpikir sehingga diperoleh kesamaan persepsi tentang angka yang disajikan.

Beberapa konsep dan definisi yang perlu diperhatikan dalam publikasi ini, yaitu:

Penduduk adalah setiap orang yang menetap di suatu wilayah selama enam bulan atau lebih dan atau yang berdomisili kurang dari enam bulan tetapi bertujuan untuk menetap lebih dari enam bulan.

Rumah Tangga Biasa adalah seseorang atau sekelompok orang yang mendiami atau tinggal bersama di sebagian atau seluruh bangunan fisik/bangunan sensus dan biasanya makan dari satu dapur. Yang dimaksud satu dapur adalah jika pengurusan kebutuhan sehari-hari dikelola menjadi satu.

Kepala Rumah Tangga (KRT) adalah salah seorang dari Anggota Rumah Tangga (ART) yang bertanggung jawab atas pemenuhan kebutuhan sehari-hari di rumah tangga atau orang yang dituakan/dianggap/ditunjuk sebagai KRT.

Anggota Rumah Tangga (ART) adalah semua orang yang biasanya bertempat tinggal di suatu rumah tangga, baik yang pada waktu

https://ntt.bps.go.id

(25)

12 Statistik Perumahan Provinsi Nusa Tenggara Timur 2018

pencacahan berada di rumah tangga tersebut maupun yang sedang bepergian kurang dari 6 bulan dan tidak berniat pindah.

Pendidikan formal adalah jalur pendidikan yang terstruktur dan ber- jenjang yang terdiri atas pendidikan dasar, pendidikan menengah, dan pendidikan tinggi, meliputi SD/MI/sederajat, SMP/MTs/sederajat, SM/MA/sederajat dan PT.

Pendidikan non formal adalah jalur pendidikan di luar pendidikan formal yang dapat dilaksanakan secara terstruktur dan berjenjang.

Meliputi pendidikan kecakapan hidup (kursus), pendidikan anak umur dini (PAUD), pendidikan kepemudaan, pendidikan pemberdayaan perempuan, pendidikan keaksaraan, pendidikan keterampilan dan pelatihan kerja, pendidikan kesetaraan (paket A, paket B, dan paket C) serta pendidikan lainnya yang ditujukan untuk mengembangkan kemampuan peserta didik.

Pendidikan informal adalah jalur pendidikan keluarga dan lingkungan berbentuk kegiatan belajar secara mandiri.

Partisipasi sekolah yaitu menunjukkan keadaan status pendidikan seseorang saat ini. Partisipasi sekolah terbagi menjadi tiga yaitu :

 Tidak/belum pernah sekolah adalah tidak/belum pernah terdaftar dan aktif mengikuti pendidikan di suatu jenjang pendidikan, termasuk mereka yang tamat Taman Kanak-kanak tetapi tidak melanjutkan ke Sekolah Dasar.

 Masih bersekolah adalah apabila terdaftar dan aktif mengikuti proses belajar di suatu jenjang pendidikan formal dan non formal (Paket A, Paket B dan Paket C), baik yang berada di bawah pengawasan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

https://ntt.bps.go.id

(26)

Statistik Perumahan Provinsi Nusa Tenggara Timur 2018 13 (Kemdikbud), Kementerian Agama (Kemenag), Instansi Negeri lain maupun Instansi Swasta.

 Tidak bersekolah lagi adalah pernah terdaftar dan aktif mengikuti pendidikan baik di suatu jenjang pendidikan formal maupun non formal (Paket A/B/C), tetapi pada saat pencacahan tidak lagi terdaftar dan tidak lagi aktif.

Angka Partisipasi Sekolah (APS) adalah proporsi penduduk pada kelompok umur jenjang pendidikan tertentu yang masih bersekolah terhadap penduduk pada kelompok umur tersebut.

Angka Partisipasi Murni (APM) adalah proporsi penduduk padakelompok umur jenjang pendidikan tertentu yang masih bersekolah pada jenjang pendidikan yang sesuai dengan kelompok umurnya terhadap penduduk pada kelompok umur tersebut.

Angka Partisipasi Kasar (APK) adalah proporsi penduduk yang masih bersekolah pada suatu jenjang pendidikan tertentu terhadap jumlah penduduk kelompok umur yang sesuai dengan jenjang pendidikan tersebut.

Pendidikan kesetaraan adalah program pendidikan non formal yang menyelenggarakan pendidikan umum setara SD/MI, SMP/MTs, dan SMA/MA yang mencakup program paket A, paket B, dan paket C.

Pendidikan anak umur dini (PAUD) adalah suatu upaya pembinaan yang ditujukan kepada anak sejak lahir sampai dengan umur enam tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani anak agar memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut.

https://ntt.bps.go.id

(27)

14 Statistik Perumahan Provinsi Nusa Tenggara Timur 2018

Tamat sekolah adalah telah menyelesaikan pelajaran padakelas/tingkat terakhir suatu jenjang pendidikan di sekolah negeri maupun swasta dengan mendapatkan tanda tamat/ijazah. Seorang yang belum mengikuti pelajaran pada kelas tertinggi tetapi jika ia mengikuti ujian dan lulus maka dianggap tamat.

Pendidikan tertinggi yang ditamatkan adalah jenjang pendidikan tertinggi yang ditamatkan oleh seseorang, yang ditandai dengan sertifikat/ijazah.

Jenjang pendidikan tertinggi yang pernah/sedang diduduki adalah jenjang pendidikan tertinggi yang pernah diduduki oleh seseorang yang sudah tidak bersekolah lagi atau yang sedang diduduki oleh seseorang yang masih bersekolah.

Sekolah Dasar (SD) meliputi Sekolah Dasar, Madrasah Ibtidaiyah dan sederajat.

Sekolah Menengah Pertama (SMP) meliputi jenjang pendidikan SMP Umum, Madrasah Tsanawiyah, SMP Kejuruan dan sederajat.

Sekolah Menengah (SM) meliputi jenjang pendidikan Sekolah Menengah Atas (SMA), Sekolah Menegah Kejuruan (SMK), Madrasah Aliyah dan sederajat.

Perguruan Tinggi (PT) meliputi jenjang pendidikan Diploma I, II, III dan IV dan sederajat.

Dapat membaca dan menulis adalah seseorang dapat membaca dan menulis kata-kata/kalimat sederhana dalam huruf latin, huruf arab dan huruf lainnya (huruf jawa, kanji, dll).

https://ntt.bps.go.id

(28)

Statistik Perumahan Provinsi Nusa Tenggara Timur 2018 15 Angka melek huruf adalah proporsi penduduk kelompok umur tertentu yang dapat membaca dan menulis huruf latin atau huruf lainnya.

Angka Putus Sekolah Menurut Jenjang Pendidikan adalah persentase siswa yang pada tahun ajaran sekarang tidak melanjutkan sekolah lagi sebelum lulus dari jenjang pendidikan tertentu, terhadap siswa yang pada tahun ajaran lalu masih bersekolah di jenjang yang sama.

Kuantil Pengeluaran adalah pengelompokan pengeluaran per kapita sebulan ke dalam lima kelompok yang sama besar setelah diurutkan mulai pengeluaran terkecil hingga terbesar.

https://ntt.bps.go.id

(29)

https://ntt.bps.go.id

(30)

https://ntt.bps.go.id

(31)

https://ntt.bps.go.id

(32)

Statistik Perumahan Provinsi Nusa Tenggara Timur 2018 19 BAB III

PEMBAHASAN

Pendidikan merupakan proses panjang berlangsungnya transformasi manusia melalui pengetahuan, ketrampilan, nilai dan sikap. Pembangunan di bidang pendidikan ditujukan sepenuhnya pada peningkatan kapasitas hidup manusia. Pendidikan berkaitan erat dengan berlangsungnya proses pembangunan. Menurut John C. Bock, (1992), pendidikan berperan penting dalam menanamkan ideologi dan nilai-nilai budaya bangsa. Secara ekonomi, pendidikan merupakan jalur dalam melakukan investasi sumber daya manusia, yaitu mempersiapkan tenaga kerja sebagai agen perubahan yang mendorong adanya perbaikan dalam pembangunan di masa mendatang. Pendidikan juga membuka kesempatan besar dalam pemerataan pendapatan dan kesempatan dalam memperoleh penghasilan yang lebih layak.

Pembangunan di bidang pendidikan mencakup banyak aspek mulai dari sarana prasarana, struktur, kurikulum, pengelolahan, peserta didik dan tenaga pendidik, teknologi informasi dan sebagainya, yang seluruhnya membentuk suatu sistem yang salingterkait. Ketersediaan sarana dan prasarana yang cukup, harus pula didukung dengan kesediaan tenaga pengajar yang bersedia menjangkau wilayah terpencil dengan dukungan kurikulum yang berkualitas dan seterusnya. Pembangunan di bidang pendidikan terus berlangsung dari waktu ke waktu dalam menjawab amanat undang-

https://ntt.bps.go.id

(33)

20 Statistik Perumahan Provinsi Nusa Tenggara Timur 2018

undang, yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa secara umum, dan secara khusus membentuk pribadi yang terampil, berbudi pekerti, berkepribadian, memiliki rasa kebangsaan, cinta tanah air dan dapat membangun bangsa.

Potret atas pergerakan pembangunan di bidang pendidikan dapat dilihat melalui indikator-indikator pembangunan yang dihasilkan oleh data Susenas. Indikator pendidikan juga sekaligus mengevaluasi pelaksanaan program pembangunan di bidang pendidikan dan sebagai bahan masukan bagi upaya perbaikan di masa yang akan datang.

Beberapa indikator tersebut antara lain angka partisipasi sekolah, kemampuan baca tulis penduduk, rata-rata lama sekolah, pendidikan anak umur dini, serta tingkat pendidikan yang ditamatkan oleh penduduk.

3.1. Partisipasi Sekolah

Pembangunan di bidang pendidikan tidak lepas dari peran serta penduduk sendiri untuk secara sadar memanfaatkan fasilitas pendidikan yang telah disiapkan pemerintah. Indikator untuk mengukur keterlibatan masyarakat dalam upaya meningkatkan kualitas hidupnya melalui angka partisipasi sekolah. Angka partisipasi sekolah mengukur seberapa banyak kelompok umur sekolah ambil bagian dalam kegiatan bersekolah. Kelompok penduduk sasaran adalah penduduk umur sekolah yakni berumur 7-24 tahun. Kelompok penduduk ini merupakan penerus bangsa yang diharapkan membawa kesejahteraan dan kemajuan bagi bangsa. Kelompok umur sekolah

https://ntt.bps.go.id

(34)

Statistik Perumahan Provinsi Nusa Tenggara Timur 2018 21 seyogyanya mengeyam pendidikan pada bangku sekolah demi meraih masa depan.

Keterlibatan penduduk umur sekolah Nusa Tenggara Timur dalam kegiatan bersekolah tergambar dalam Tabel 1. Data Susenas 2018 menunjukkan bahwa secara rata-rata tiga dari empat penduduk umur sekolah di Nusa Tenggara Timur sementara mengenyam pendidikan di bangku sekolah, baik formal maupun non formal.

Komposisi terbesar adalah pada jenjang Sekolah Dasar (SD). Jika dibandingkan antara penduduk perdesaan dan perkotaan, partisipasi sekolah penduduk Nusa Tenggara Timur yang tinggal di perkotaan sedikit lebih tinggi dibandingkan dengan penduduk perdesaan. Di perkotaan, secara rata-rata, delapan dari sepuluh penduduk umur sekolah sementara bersekolah. Sementara di perdesaan, secara rata- rata hanya tujuh di antara sepuluh penduduk umur sekolah yang sementara bersekolah..

Tabel 1. Persentase Penduduk NTT Umur 7-24 Tahun Menurut Status Pendidikan, Daerah Tempat Tinggal dan Jenis Kelamin, 2018

Karakteristik

Status Pendidikan Tidak/

belum pernah sekolah

Masih Sekolah Tidak

Bersekolah lagi SD/

sederajat

SMP/

sederajat

SMA/

sederajat PT Total

(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8)

NTT 1,23 40,92 16,93 12,56 5,05 75,46 23,30

Perkotaan 0,34 32,23 16,34 18,85 12,96 80,38 19,28

Perdesaan 1,51 43,56 17,11 10,64 2,65 73,97 24,53

Jenis Kelamin

Laki-Laki 1,25 41,38 16,97 12,02 4,48 74,86 23,90

Perempuan 1,22 40,45 16,89 13,11 5,63 76,08 22,70

Sumber: Susenas 2018

https://ntt.bps.go.id

(35)

22 Statistik Perumahan Provinsi Nusa Tenggara Timur 2018

Sementara jika dipilah menurut jenis kelamin, partisipasi sekolah antara penduduk laki-laki dan perempuan di Nusa Tenggara Timur tidak menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan. Kondisi ini paling tidak menggambarkan adanya akses yang sama bagi penduduk umur sekolah untuk mengenyam pendidikan

Tabel 1 juga memberikan informasi mengenai penduduk umur sekolah yang sama sekali belum mengenyam bangku pendidikan ataupun telah meninggalkan bangku sekolah. Secara rata-rata terdapat sekitar 1,23 persen penduduk umur sekolah di Nusa Tenggara Timur yang tidak pernah atau belum bersekolah, dikarenakan tidak ingin sekolah, halangan kondisi fisik/kejiwaan atau keadaan lainnya yang menghalanginya menikmati layanan pendidikan. Di daerah perdesaan, jumlahnya lebih dari empat kali lipat dibandingkan daerah perkotaan. Sementara di satu sisi, sekitar 23 persen penduduk umur sekolah yang sebelumnya pernah mengeyam sekolah, telah meninggalkan bangku sekolah. Penduduk umur sekolah yang sudah tidak bersekolah lagi di daerah perdesaan relatif lebih tinggi dibandingkan penduduk perkotaan. Alasan utama adalah masalah ekonomi, yakni mencari nafkah, ketidakmampuan secara ekonomi serta jangkauan fasilitas sekolah. Alasan lainnya bersifat pribadi seperti malas atau tidak ingin melanjutkan sekolah.

Partisipasi sekolah penduduk umur sekolah lebih rinci dapat ditinjau melalui jenjang pendidikan maupun kelompok umur.

Beberapa ukuran tingkat partisipasi sekolah adalah Angka Partisipasi Sekolah (APS), Angka Partisipasi Kasar (APK) dan Angka Partisipasi Murni (APM). Nilai yang dihasilkan oleh indikator-indikator ini

https://ntt.bps.go.id

(36)

Statistik Perumahan Provinsi Nusa Tenggara Timur 2018 23

74,83 76,90 72,84

94,95 96,21 93,76

98,28 98,47 98,09

Laki-Laki+Perempuan Perempuan Laki-Laki Laki-Laki+Perempuan Perempuan Laki-Laki Laki-Laki+Perempuan Perempuan Laki-Laki

16-18 Tahun13-15 Tahun7-12 Tahun

menunjukkan partisipasi pendidikan penduduk umur sekolah, sekaligus memberikan petunjuk sejauh mana layanan pendidikan yang terbuka dan bermutu dinikmati oleh masyarakat tanpa terkecuali.

3.1.1 Angka Partisipasi Sekolah (APS)

Angka Partisipasi Sekolah (APS) merupakan ukuran partisipasi sekolah penduduk menurut kelompok umur tertentu. APS menggambarkan daya serap sistem pendidikan terhadap penduduk umur sekolah, yakni seberapa banyak penduduk umur sekolah yang telah mengakses fasilitas pendidikan, tanpa memandang jenjang pendidikan yang diduduki. Fokus perhitungan APS adalah pada kelompok umur tertentu, yang mengacu pada ketentuan penerimaan peserta didik yang ditetapkan. Adapun kelompok umur tersebut

Gambar 1. Angka Partisipasi Sekolah (APS) Penduduk NTT Menurut Kelompok Umur dan Jenis Kelamin, 2018

Sumber: Susenas 2018

https://ntt.bps.go.id

(37)

24 Statistik Perumahan Provinsi Nusa Tenggara Timur 2018

adalah 7-12 tahun, 13-15 tahun, 16-18 tahun, termasuk kelompok 19- 24 tahun dan kelompok pendidikan umur dini. Nilai APS yang semakin tinggi menunjukkan semakin banyak penduduk umur sekolah yang bersekolah di suatu wilayah.

Gambar 1 menunjukkan potret partisipasi sekolah pada kelompok umur sekolah di Nusa Tenggara Timur pada tahun 2018.

Penduduk umur sekolah yang mengakses pendidikan dibedakan atas kelompok umur dan jenis kelamin. Hampir seluruh penduduk Nusa Tenggara Timur (98,28 persen) pada kelompok umur 7-12 tahun memiliki akses kepada fasilitas sekolah dan berpartisipasi dalam kegiatan bersekolah, atau dapat dikatakan bahwa tidak sampai dua persen penduduk dalam kelompok umur ini yang tidak atau belum pernah mengenyam pendidikan. Data Susenas juga menunjukkan bahwa akses partisipasi sekolah baik untuk penduduk perempuan maupun laki-laki dalam kelompok umur ini setara. Pada kelompok umur 13-15 tahun, partisipasi sekolah penduduk Nusa Tenggara Timur terlihat relatif lebih rendah jika dibanding kelompok umur yang lebih muda. Data Susenas, sebagaimana pada Gambar 1, menunjukkan bahwa dalam seratus orang penduduk umur 13-15 tahun, 95 orang di antaranya sementara bersekolah pada jenjang pendidikan manapun (sekolah dasar ataupun menengah). Hal ini berarti bahwa masih ada paling tidak lima orang diantara 100 orang penduduk 13-15 tahun yang tidak lagi bersekolah ataupun tidak pernah bersekolah.

Berdasarkan jenis kelamin, partisipasi sekolah perempuan pada kelompok umur ini relatif sedikit lebih tinggi dibandingkan penduduk laki-laki.

https://ntt.bps.go.id

(38)

Statistik Perumahan Provinsi Nusa Tenggara Timur 2018 25 Pada kelompok umur yang lebih tinggi, partisipasi sekolah penduduk Nusa Tenggara Timur menunjukkan kecendrungan penurunan. Jika pada kelompok umur 7-12 tahun dan 13-15 tahun partisipasi sekolah berada di atas 90 persen, maka pada kelompok penduduk 16-18 tahun hanya sekitar 75 persen dari total penduduk berumur 16-18 persen. Hal ini berarti hanya ada tiga dari empat orang penduduk berumur 16-18 tahun yang sementara bersekolah. Menurut jenis kelamin, terlihat adanya pola yang sama dengan partisipasi sekolah umur yang lebih muda. Partisipasi penduduk perempuan cendrung lebih tinggi dibandingkan penduduk laki-laki pada kelompok umur 16-18 tahun.

Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau SDGs menargetkan bahwa seluruh penduduk umur sekolah dapat menuntaskan pendidikan dasar dan menengah pada tahun 2030. Menjawab target ini dibutuhkan usaha nyata dan berdampak bagi peningkatan partisipasi sekolah anak-anak Nusa Tenggara Timur baik laki-laki maupun perempuan, di perkotaan dan perdesaan. Daya yang besar dan berdampak masih diperlukan jika melihat potret partisipasi pendidikan pada kelompok penduduk usia remaja, khususnya pada umur 16-18 tahun di Nusa Tenggara Timur. Masih ada satu di antara empat orang yang telah meninggalkan bangku sekolah pada kelompok umur ini. Upaya bersama diarahkan untuk memperkecil berbagai hambatan dalam mengakses fasilitas pendidikan. Program wajib belajar yang selama ini terbukti efektif dalam meningkatkan partisipasi sekolah terutama pada pendidikan dasar dan menengah, menjadi

https://ntt.bps.go.id

(39)

26 Statistik Perumahan Provinsi Nusa Tenggara Timur 2018

tanggung jawab bersama masyarakat dan keluarga dalam menjamin keberlanjutannya.

Upaya lainnya adalah memperluas akses bagi masyarakat di perdesaan dalam kegiatan bersekolah terutama pendidikan menengah. Gambar 2 menunjukkan adanya ketimpangan akses partisipasi pendidikan bagi penduduk perdesaan dan perkotaan terutama pada kelompok umur 16-18 tahun. Pada kelompok umur yang lebih muda, terlihat adanya daya serap anak didik yang merata bagi penduduk perkotaan maupun perdesaan. Tingkat partisipasi sekolah yang relatif rendah pada kelompok umur sekolah di atas 15

Gambar 2. Angka Partisipasi Sekolah (APS) Penduduk NTT Menurut Kelompok Umur dan Daerah Tempat Tinggal, 2018

Sumber: Susenas 2018 tahun seringkali dihubungkan dengan kesempatan penduduk umur sekolah dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Tidak dapat dipungkiri bahwa kondisi ekonomi rumah tangga turut mempengaruhi keberlanjutan sekolah anak umur sekolah. Dalam kondisi ekonomi

74,83 70,30

86,78 94,95 94,28 97,51

98,28 98,17 98,72

Perkotaan+Perdesaan Perdesaan Perkotaan Perkotaan+Perdesaan Perdesaan Perkotaan Perkotaan+Perdesaan Perdesaan Perkotaan

16-18 Tahun13-15 Tahun7-12 Tahun

https://ntt.bps.go.id

(40)

Statistik Perumahan Provinsi Nusa Tenggara Timur 2018 27 terbatas, rumah tangga tentu saja akan mengutamakan kebutuhan makanan daripada kebutuhan lainnnya, termasuk pendidikan. Dalam upaya pemenuhan kebutuhan hidup, anak umur sekolah pun seringkali dilibatkan dalam pekerjaan untuk membantu mencari nafkah, sehingga memaksa anak umur sekolah untuk meninggalkan bangku sekolah.

Pemerataan pendidikan pada kelompok umur 16-18 tahun ini juga terkait keberadaan sekolah yang dapat dijangkau oleh siswa.

Menilik infrastuktur pendidikan di Nusa Tenggara Timur, khususnya keberadaan sekolah menengah pertama dan sekolah menengah atas, data, Potensi Desa (Podes) BPS 2018 mencatatkan bahwa keberadaan fasilitas pendidikan di suatu desa/kelurahan menjangkau beberapa desa/kelurahan sekaligus. Keberadaan fasilitas sekolah menengah pertama atau yang setara di Nusa Tenggara Timur terdapat di 1.589 dari 3.353 desa/kelurahan atau mencakup 47 persen desa/kelurahan.

Sementara itu, 832 desa/kelurahan tercatat memiliki fasilitas sekolah menengah atas atau yang sederajat. Berarti bahwa satu fasilitas sekolah menengah atas di Nusa Tenggara Timur menjangkau paling tidak empat desa/kelurahan. Bagi anak umur sekolah yang tinggal di daerah perkotaan, jangkauan antar desa mungkin bukan menjadi masalah yang berarti, namun bagi anak umur sekolah yang tinggal di perdesaan, jarak tempuh dan fasilitas tranportasi yang terbatas menjadi kendala dalam menjangkau fasilitas pendidikan.

Kondisi ini terlihat jelas pada partisipasi sekolah anak antar status ekonomi rumah tangga seperti pada Gambar 3. Status ekonomi rumah tangga dibedakan atas 5 kelompok atau kuantil, yaitu kuantil 1

https://ntt.bps.go.id

(41)

28 Statistik Perumahan Provinsi Nusa Tenggara Timur 2018

86,73 82,25 73,80 67,89 63,97

97,72 95,77 95,20 93,59 93,52

99,41 98,50

99,13 97,82 97,11

Kuantil 5 Kuantil 4 Kuantil 3 Kuantil 2 Kuantil 1 Kuantil 5 Kuantil 4 Kuantil 3 Kuantil 2 Kuantil 1 Kuantil 5 Kuantil 4 Kuantil 3 Kuantil 2 Kuantil 1

16-18 tahun13-15 tahun7-12 tahun

sampai kuantil 5. kelompok rumah tangga dengan status ekonomi rendah diwakili oleh kuantil 1 dan kuantil 2, kelompok rumah tangga berstatus ekonomi menengah diwakili oleh kuantil 3 dan kuantil 4, dan kelompok rumah tangga dengan status ekonomi tinggi pada kuantil 5.

Gambar 3 menunjukkan adanya pengaruh status ekonomi rumah tangga terhadap partisipasi sekolah anak di Nusa Tenggara Timur.

Gambar 3. Angka Partisipasi Sekolah (APS) Menurut Kelompok Umur dan Status Ekonomi Rumah Tangga, 2018

Sumber: Susenas 2018

Partisipasi sekolah anak berumur 7-12 tahun menunjukkan hampir tidak ada perbedaan akses pendidikan antar status ekonomi rumah tangga. Baik anak yang berasal dari rumah tangga berstatus

https://ntt.bps.go.id

(42)

Statistik Perumahan Provinsi Nusa Tenggara Timur 2018 29 ekonomi rendah maupun tinggi hampir semuanya telah mengenyam pendidikan. Pada kelompok umur penduduk 13-15 tahun, terlihat adanya perbedaan partisipasi pendidikan antar strata ekonomi rumah tangga, walaupun relatif tidak besar. Hanya sekitar 94 persen anak yang berasal dari rumah tangga berpenghasilan rendah yang mampu mengecap pendidikan, sementara pada penduduk yang berasal dari rumah tangga dengan pendapatantinggi, akses pendidikannya hampir mencapai 98 persen.

Pada kelompok umur anak yang lebih tingg, ketimpangan partisipasi sekolah terlihat makin jelas. Persentase anak yang bersekolah semakin meningkat sejalan dengan strata ekonomi rumah tangga. Rumah tangga dengan pendapatan terendah hanya mampu mengantarkan, secara rata-rata enam dari sepuluh anak-anaknya yang berumur 16-18 tahun untuk bersekolah, sementara sisanya memilih tidak bersekolah. Pada rumah tangga berpendapatan menengah, anak umur 16-18 tahun yang bersekolah lebih tinggi, yaitu sebesar 74 persen. Sementara pada rumah tangga yang berpendapatan tinggi, akses bersekolah sudah hampir mencakup 87 persen atau delapan sampai sembilan dari sepuluh anaknya dapat bersekolah.

Kesenjangan partisipasi pendidikan makin terlihat jelas pada kelompok umur yang lebih tinggi, yaitu 19-24 tahun, baik antar tempat tinggal maupun status ekonomi rumah tangga, sebagaimana ditunjukkan pada Gambar 4. Anak yang tinggal di perdesaan yang bersekolah pada umur 19-24 tahun tidak sampai 20 persen.

Sementara di daerah perkotaan mencapai dua kali lipat lebih besar dibandingkan daerah perdesaan atau sebesar 49,36 persen. Partisipasi

https://ntt.bps.go.id

(43)

30 Statistik Perumahan Provinsi Nusa Tenggara Timur 2018

48,78 27,62

22,55 19,29 17,54

49,36 19,28

28,11 27,66 27,89

Kuantil 5 Kuantil 4 Kuantil 3 Kuantil 2 Kuantil 1 Perkotaan Perdesaan Laki-Laki Perempuan NTT

Status ekonomi

Daerah Tempat TinggalJenis Kelamin

pendidikan pada kelompok umur 19-24 tahun umumnya adalah pendidikan tinggi baik diploma, program sarjana, magister dan doktor atau program profesi dan spesialis. Berdasarkan status ekonomi, rumah tangga berpendapatan tinggi mampu mengantarkan 49 persen anak-anaknya (19-24 tahun) untuk mengenyam pendidikan, sementara bagi rumah tangga berpendapatan rendah, cakupan angka partisipasi sekolah untuk anaknya yang berusia 19-24 tahun hanya sekitar 18 persen. Ditinjau dari jenis kelamin, secara umum penduduk laki-laki yang mengakses pendidikan tidak jauh berbeda dibandingkan perempuan. Dari total penduduk laki-laki berumur 19-24 tahun di Nusa Tenggara Timur, 28,11 persen di antaranya sedang bersekolah, sementara penduduk perempuan sebanyak 27,66 persen.

Gambar 4. Angka Partisipasi Sekolah (APS) Penduduk NTT 19-24 Tahun Menurut Daerah Tempat Tinggal dan Jenis Kelamin, 2018

Sumber: Susenas 2018

https://ntt.bps.go.id

(44)

Statistik Perumahan Provinsi Nusa Tenggara Timur 2018 31

77,81 81,52 74,23

88,51 89,38 87,68

116,58 114,42

118,71

Laki-Laki+Perempuan Perempuan Laki-Laki Laki-Laki+Perempuan

Perempuan Laki-Laki Laki-Laki+Perempuan

Perempuan Laki-Laki

SMSMPSD

3.1.2 Angka Partisipasi Kasar (APK)

Indikator lain dalam mengukur partisipasi sekolah penduduk adalah Angka Partisipasi Kasar (APK). APK menggambarkan proporsi anak sekolah pada suatu jenjang tertentu berapapun umurnya, terhadap jumlah penduduk kelompok umur tertentu. Jika APS menitikberatkan partisipasi sekolah pada kelompok umur sekolah, maka APK merujuk tingkat partisipasi penduduk secara umum pada suatu tingkat pendidikan atau jenjang. Oleh karenanya, ukuran daya serap penduduk umur sekolah pada masing-masing jenjang pendidikan dapat dipotret dengan jelas melalui APK.

Gambar 5. Angka Partisipasi Kasar (APK) Penduduk NTT Menurut Jenjang Pendidikan dan Jenis Kelamin, 2018

Sumber: Susenas 2018

Sumber: Susenas 2018

APK Nusa Tenggara Timur terdapat pada gambar 5. Partisipasi penduduk Nusa Tenggara Timur pada jenjang SD atau sederajat adalah

https://ntt.bps.go.id

(45)

32 Statistik Perumahan Provinsi Nusa Tenggara Timur 2018

tertinggi dibandingkan jenjang pendidikan lainnya. Secara rata-rata, partisipasi penduduk pada jenjang pendidikan SD/sederajat mencapai 116, 58 persen. Nilai APK pada jenjang SD/sederajat di Nusa Tenggara Timur lebih dari 100 persen ini merujuk pada serapan jenjang SD/sederajat yang mencakup siswa di luar kelompok umur yang disyaratkan, yakni kurang dari 7 tahun atau melebihi 12 tahun. Jenjang pendidikan SD/sederajat memungkinkan untuk menerima siswa yang belum genap 7 tahun, atau masuk sekolah pada umur di atas 7 tahun, termasuk siswa yang mengulang kelas.

Serapan jenjang pendidikan di Nusa Tenggara Timur menunjukkan pola yang sama dengan partisipasi sekolah penduduk.

Nilai APK semakin berkurang seiring dengan meningkatnya jenjang pendidikan. Daya serap jenjang pendidikan menengah lebih rendah dibandingkan dengan jenjang pendidikan dasar. APK penduduk Nusa Tenggara Timur pada jenjang SMP/sederajat hanya sebesar 89 persen, sementara pada jenjang SMA/sederajat menjadi sebesar 78 persen.

Membandingkan APK perdesaan dan perkotaan di Nusa Tenggara Timur sebagaimana yang ditunjukkan oleh Gambar 6, terlihat adanya perbedaan yang nyata pada jenjang SMA/sederajat.

Pencapaian pendidikan menengah atas bagi penduduk perkotaan telah menjangkau hampir seluruh penduduk, atau dapat dikatakan bahwa seluruh penduduk usia sekolah di daerah perkotaan telah mengakses fasilitas pendidikan menengah atas. Akan tetapi, kondisi yang berbeda terjadi di daerah perdesaan, daya serap janjang SMA/sederajat baru mencapai 70 persen.

https://ntt.bps.go.id

(46)

Statistik Perumahan Provinsi Nusa Tenggara Timur 2018 33 Gambar 6. Angka Partisipasi Kasar (APK) Penduduk NTT Menurut

Jenjang Pendidikan dan Daerah Tempat Tinggal, 2018

Sumber: Susenas 2018

Pada jenjang pendidikan SD/sederajat, APK penduduk perdesaan terlihat lebih tinggi dibandingkan penduduk perkotaan.

Kondisi ini disebabkan karena penduduk perdesaan yang mengakses pendidikan dasar di luar ketentuan umur yang ditetapkan relatif lebih besar dibandingkan penduduk perkotaan. Di daerah perdesaan, fenomena ini lebih banyak disumbangkan oleh besarnya jumlah penduduk yang lebih lambat memasuki jenjang SD/sederajat, dan mengulang kelas. Sementara di perkotaan Nusa Tenggara Timur, umumnya siswa hanya lebih cepat didaftarkan bersekolah SD/sederajat sebelum mencapai 7 tahun. Kondisi-kondisi diatas akan terakumulasi pada jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Bagi penduduk di daerah perkotaan, umur masuk sekolah yang lebih awal pada jenjang SD akan berlanjut pada jenjang pendidikan menengah.

Sementara bagi penduduk di perdesaan, keengganan untuk

69,80 98,97 86,59

95,81 117,64 112,12

Perdesaan Perkotaan Perdesaan Perkotaan Perdesaan Perkotaan

SMSMPSD

https://ntt.bps.go.id

(47)

34 Statistik Perumahan Provinsi Nusa Tenggara Timur 2018

melanjutkan pendidikan cendrung lebih besar dibandingkan dengan kelompok penduduk yang masuk jenjang menengah tidak sesuai umur.

Oleh karenannya pada jenjang yang lebih tinggi, seperti ditunjukkan Gambar 6, APK penduduk perdesaan cendrung semakin tertinggal dibandingkan APK penduduk perkotaan.

Ketimpangan pencapaian pendidikan antara penduduk perkotaan dan perdesaan semakin terlihat jelas pada jenjang pendidikan tinggi, sebagaimana ditunjukkan oleh Gambar 7. Di daerah perkotaan, daya tampung jenjang pendidikan tinggi mencapai hampir 52 persen, sementara bagi penduduk perdesaan hanya berkisar 14 persen. Secara rata-rata jenjang pendidikan tinggi di Nusa Tenggara Timur mampu menampung 25 persen penduduk untuk bersekolah.

Perbedaan penyerapan anak umur sekolah menengah dan tinggi oleh lembaga pendidikan ditenggarai oleh berbagai faktor utamanya adalah biaya pendidikan. Biaya pendidikan semakin tinggi pada jenjang pendidikan yang semakin tinggi. Upaya untuk menekan biaya pendidikan sekaligus menyelenggarakan pendidikan yang berkualitas perlu terus ditingkatkan demi meratanya pendidikan menengah dan tinggi bagi seluruh lapisan masyarakat.

Apabila dipilah berdasarkan jenis kelamin, daya serap jenjang pendidikan tinggi bagi penduduk laki-laki maupun perempuan tidak terlihat adanya perbedaan yang signifikan. Kondisi ini menegaskan bahwa layanan pendidikan terbuka tanpa membedakan laki-laki dan perempuan.Data Susenas juga mengindikasikan telah terkikisnya pandangan yang pernah ada bahwa pendidikan hanya berlaku untuk laki-laki

https://ntt.bps.go.id

(48)

Statistik Perumahan Provinsi Nusa Tenggara Timur 2018 35

14,39

51,74 25,07

27,26 22,95

Perdesaan Perkotaan NTT Perempuan Laki-Laki

Gambar 7. Angka Partisipasi Kasar (APK) Penduduk NTT Jenjang Perguruan Tinggi Menurut Daerah Tempat Tinggal dan Jenis Kelamin, 2018

Sumber: Susenas 2018

3.1.3 Angka Partisipasi Murni (APM)

Selain indikator APS dan APK, partisipasi sekolah juga dapat ditinjau melalui Angka Partisipasi Murni (APM). Berbeda dari APK yang mengukur daya serap jenjang pendidikan tanpa memperhitungkan batasan umur anak sekolah, APM mengukur ketepatan umur penduduk dalam jenjang pendidikan tertentu. Pola yang ditunjukkan oleh nilai APM tidak jauh berbeda seperti yang ditunjukkan oleh nilai APK, yakni pada jenjang SD/sederajat nilainya lebih tinggi, kemudian semakin menurun seiring dengan meningkatnya jenjang pendidikan.

Gambar 8 menunjukkan APM penduduk Nusa Tenggara Timur tahun 2018. APM pada jenjang SD/sederajat sudah mencapai 96,12 persen pada tahun 2018, berarti hampir semua anak pada jenjang pendidikan dasar telah mendapatkan pendidikan sesuai dengan umur yang dianjurkan. Kondisi ini mengambarkan daya tampung simtem

https://ntt.bps.go.id

(49)

36 Statistik Perumahan Provinsi Nusa Tenggara Timur 2018 16,69

18,48 14,94

53,67 57,85 49,65

68,14 70,62 65,79

96,12 95,87 96,37

Laki-Laki+Perempuan Perempuan Laki-Laki Laki-Laki+Perempuan Perempuan Laki-Laki Laki-Laki+Perempuan Perempuan Laki-Laki Laki-Laki+Perempuan Perempuan Laki-Laki

PTSMASMPSD

pendidikan, khususnya pendidikan dasar di Nusa Tenggara Timur cukup tinggi.Paling tidak 95 persen anak usia sekolah, baik laki-laki dan perempuan telah bersekolah tepat umur pada jenjang SD/sederajat.

Pada jenjang pendidikan menengah pertama, serapan jenjang pendidikan semakin rendah. Data Susenas mencatatkan hanya 68 dari 100 penduduk usia SMP/sederajat yang bersekolah tepat umur, sisanya adalah anak usia sekolah SMP/sederajat yang sementara sekolah tidak tepat umur ataupun mereka yang telah memutuskan untuk meninggalkan bangku sekolah. Pada jenjang pendidikan menengah atas, angka partisipasi sekolah murni menjadi semakin lebih kecil, tercatatkan hanya 54 dari 100 penduduk usia sekolah yang bersekolah tepat umur pada jenjang pendidikan menengah atas.

Gambar 8. Angka Partisipasi Murni (APM) Penduduk NTT Menurut Jenjang Pendidikan dan Jenis Kelamin, 2018

Sumber: Susenas 2018

https://ntt.bps.go.id

(50)

Statistik Perumahan Provinsi Nusa Tenggara Timur 2018 37 Apabila dilihat partisipasi pendidikan perempuan dan laki-laki, penduduk perempuan usia sekolah di Nusa Tenggara Timur cendrung lebih banyak bersekolah tepat umur dibandingkan penduduk laki-laki.

Perbandingan capaian partisipasi pendidikan yang setara antara penduduk perempuan dan laki-laki merupakan salah satu target dalam agenda Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Ukuran yang digunakan untuk melihat capaian kesetaraan gender dalam aspek pendidikan adalah rasio APM. Rasio APM merupakan persentase APM perempuan terhadap APM laki-laki. Nilai rasio APM sebesar 100 persen menunjukkan tercapainya kesetaraan gender dalam aspek pendidikan.

Tabel 2. Rasio APM Nusa Tenggara Timur, 2018

Karakteristik Rasio APM

SD SMP SM PT

(1) (3) (4) (5) (6)

Nusa Tenggara Timur 99,48 107,34 116,52 123,69

Perkotaan 95,37 97,40 99,75 106,06

Perdesaan 100,43 110,16 127,10 152,37

Sumber: Susenas 2018

Tabel 2 menunjukkan bahwa rasio APM SD di Nusa Tenggara Timur belum mencapai 100 persen dan terjadi di daerah perkotaan.

Hal ini berarti bahwa penduduk laki-laki yang bersekolah tepat waktu di jenjang pendidikan SD/sederajat lebih besar dibandingkan dengan penduduk perempuan. Hal yang sama juga terjadi pada jenjang pendidikan SMP/sederajat dan SM/sederajat. Kondisi yang berbeda ditemui di daerah perdesaan. Penduduk perempuan perdesaan yang bersekolah tepat waktu pada seluruh jenjang pendidikan lebih besar

https://ntt.bps.go.id

(51)

38 Statistik Perumahan Provinsi Nusa Tenggara Timur 2018 16,69

9,32

35,06 53,67 48,82

66,49 68,14 67,7

69,81

96,12 96,92 92,77

Perkotaan+Perdesaan Perdesaan Perkotaan Perkotaan+Perdesaan Perdesaan Perkotaan Perkotaan+Perdesaan Perdesaan Perkotaan Perkotaan+Perdesaan Perdesaan Perkotaan

PTSMSMPSD

dibandingkan penduduk laki-laki. Fakta ini dipengaruhi antara lain oleh kecendrungan penduduk laki-laki di perdesaan yang memilih untuk membantu mencari nafkah dan meninggalkan bangku sekolah.

Gambar 9. Angka Partisipasi Murni (APM) Penduduk NTT Menurut Jenjang Pendidikan dan Daerah Tempat Tinggal, 2018

Sumber: Susenas 2018 Perbedaan partisipasi sekolah murni antar perkotaan dan perdesaan terdapat pada Gambar 9. Pemerataan partisipasi sekolah yang ditunjukkan melalui nilai APM menunjukkan pola yang sama dengan indikator APK. Pada jenjang pendidikan dasar, tergambar daya serapan pendidikan dasar sudah merata baik bagi anak di perkotaan maupun perdesaan. Demikian pula pada jenjang pendidikan SMP/sederajat, tidak ada perbedaan yang signifikan daya serap jenjang pendidikan menengah baik di perkotaan maupun di perdesaan. Perbedaan daya serap baru terlihat jelas pada jenjang pendidikan SMA/sederajat. Data menunjukkan bahwa sekitar 66 dari

https://ntt.bps.go.id

(52)

Statistik Perumahan Provinsi Nusa Tenggara Timur 2018 39

68,72 62,32 52,48 42,68 39,07

Kuantil 5 Kuantil 4 Kuantil 3 Kuantil 2 Kuantil 1

100 anak umur SMA sudah bersekolah di jenjang pendidikan SMA/sederajat, sementara di perdesaan hanya sekitar 49 dari 100 anak umur SMA yang dapat tertampung pada jenjang pendidikan SMA/sederajat. Perbedaan capaian daya serap semakin terlihat jelas pada jenjang pendidikan tinggi. Di daerah perdesaan Nusa Tenggara Timur, tidak sampai 10 persen penduduk berusia 19-24 tahun tertampung dalam jenjang pendidikan tinggi, namun di daerah perkotaan sudah hampir mencapai 17 persen.

Gambar10. Angka Partisipasi Murni (APM) Penduduk NTT Jenjang Menengah Atas Menurut Status Ekonomi Rumah Tangga, 2018

Sumber: Susenas 2018

Kondisi kesenjangan pendidikan menengah atas juga terlihat dengan jelas ketika dibandingkan antar strata ekonomi rumah tangga, seperti pada Gambar 10. Pada rumah tangga berpendapatan terendah, hanya tiga sampai empat anak dari sepuluh anak umur sekolah SMA yang dapat mengenyam pendidikan SMA/sederajat tepat

https://ntt.bps.go.id

(53)

40 Statistik Perumahan Provinsi Nusa Tenggara Timur 2018

umur. Sementara sisanya, atau 6-7 orang di antaranya sementara bersekolah pada jenjang lain atau telah meninggalkan bangku sekolah.

Pada kelompok rumah tangga dengan kondisi pendapatan yang lebih baik, mampu mengantarkan lebih banyak anak ke jenjang pendidikan SMA/sederajat secara tepat umur. Anak dari kelompok rumah tangga berpendapatan tinggi yang bersekolah tepat umur di SMA/sederajat mencapai hampir 70 persen atau paling tidak hanya ada tiga di antara sepuluh yang tidak bersekolah SMA/sederajat tepat umur.

3.2. Tingkat Pendidikan Tertinggi yang Ditamatkan

Salah satu indikator yang digunakan untuk mengetahui tingkatan kualitas pendidikan penduduk adalah melalui tingkat pendidikan tertinggi yang ditamatkan. Capaian jenjang pendidikan tertentu marupakan batasan dalam perolehan pendidikan dan juga sebagai bahan analisis pasar kerja. Tingkat pendidikan tertinggi oleh penduduk adalah jenjang pendidikan tertinggi yang ditamatkan oleh seseorang, yang ditandai dengan sertifikat atau ijazah. Pendidikan yang ditamatkan merupakan salah satu ukuran kualitas sumber daya manusia. Semakin tinggi ijazah yang dimiliki sebagian besar penduduk pada suatu wilayah, dapat dikatakan bahwa semakin tinggi taraf intelektualitas masyarakat pada wilayah tersebut. Meskipun jenjang pendidikan formal bukanlah satu-satunya cara kita untuk memperoleh pendidikan.

Capaian tingkat pendidikan yang ditamatkan penduduk Nusa Tenggara Timur terdapat pada Gambar 11. Penduduk Nusa Tenggara Timur didominasi oleh penduduk berpendidikan SD/sederajat. Satu dari tiga penduduk 15 tahun ke atas di Nusa Tenggara Timur hanya

https://ntt.bps.go.id

(54)

Statistik Perumahan Provinsi Nusa Tenggara Timur 2018 41

26,89 30,30 16,38

18,04 8,39

Tidak Punya Ijazah SD sederajat SMP sederajat SMA sederajat Diploma/Sarjana sederajat

mampu menamatkan pendidikan SD/sederajat. Jumlahnya hampir berimbang dengan komposisi penduduk yang tidak memiliki ijazah.

Data Susenas menunjukkan bahwa sekitar 26-27 dari 100 penduduk umur 15 tahun ke atas tidak memiliki ijazah, karena tidak pernah mengenyam pendidikan atau karena tidak menyelesaikan pendidikan SD/sederajat. Hal ini tentunya menjadi pokok permasalahan bersama.

Kelompok penduduk ini sudah dapat dipastikan tidak dapat terserap pada pasar tenaga kerja yang menuntut adanya capaian tingkat pendidikan tertentu. Pendidikan informal dan non formal perlu digalakkan dalam menjaring 26,89 persen penduduk umur 15 tahun ke atas ini.

Gambar 11. Persentase Penduduk NTT Umur 15 Tahun ke Atas Menurut Tingkat Pendidikan yang Ditamatkan, 2018

Sumber: Susenas 2018

Kondisi pencapaian pendidikan tinggi di Nusa Tenggara Timur juga masih menunjukkan kondisi yang baik. Data Susenas mencatatkan capaian pendidikan tinggi penduduk Nusa Tenggara Timur tidak lebih dari 9 persen dari total penduduk berumur 15 tahun ke atas. Poin perhatian pemerintah dan masyarakat Nusa Tenggara Timur

https://ntt.bps.go.id

(55)

42 Statistik Perumahan Provinsi Nusa Tenggara Timur 2018

mengarah pada upaya untuk memastikan bahwa anak usia sekolah dasar dan menengah dapat menyelesaikan jenjang pendidikannya dengan tuntas. Berbagai hambatan bagi anak usia sekolah untuk berhenti sekolah sedapat mungkin diperkecil. Sebaliknya peningkatan kesadaran bersekolah agar terus dilakukan dalam tingkatan keluarga, pengawasan dari masyarakat serta akses fasilitas dari pemerintah.

Pilihan rumah tangga atau anak sendiri untuk tidak melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi oleh karena berbagai sebab perlu mendapat perhatian bersama baik pemerintah, masyarakat dan keluarga bagi kemajuan pencapaian pendidikan di Nusa Tenggara Timur. Di sisi lain, penguatan peran sistem pendidikan non formal serta pengayaan bentuk pelatihan ketrampilan menjadi alternatif lainnya dalam upaya bersama meningkatkan kualitas pendidikan serta kapasitas penduduk Nusa Tenggara Timur. Seluruh upaya ini merupakan tanggungjawab bersama pemerintah, masyarakat serta keluarga atau orang tua, sesuai dengan amanat undang-undang terkait penyelenggaraan pendidikan.

Tabel 3. Persentase Anak Tidak Sekolah Lagi di NTT Menurut Daerah Tempat Tinggal dan Jenis Kelamin, Tahun 2018

Sumber: Susenas 2018 Karakteristik

Kelompok Umur

7-12 Tahun 13-15 Tahun 16-18 Tahun

(1) (2) (3)

Nusa Tenggara Timur 1.72 5.05 25.17

Perkotaan 1.28 2.49 13.22

Perdesaan 1.83 5.72 29.70

Jenis Kelamin

Laki-Laki 1.91 6.24 27.16

Perempuan 1.53 3.79 23.10

https://ntt.bps.go.id

Referensi

Dokumen terkait

Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui kelayakan buku teks pelajaran Kimia SMA/MA Kelas XI yang paling banyak digunakan di Kota Bandung pada materi

[r]

Usulan Teknis dinyatakan memenuhi syarat (lulus) apabila mendapat nilai minimal 70 (tujuh puluh), peserta yang dinyatakan lulus akan dilanjutkan pada proses penilaian penawaran

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi keputusan pembelian konsumen pada minimarket di Semarang, maka dapat

(4) UPT Rumah Sakit Umum Daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dipimpin oleh seorang Direktur yang merupakan pejabat fungsional dokter atau dokter gigi yang diberi tugas

Paduan Co yang digunakan adalah CoCrMo dengan kelebihan memiliki sifat biokompatibilitas yang baik, ketahanan terhadap korosi, sifat mekanik seperti kekerasan,

Media kultur yang digunakan dalam penelitian ini berupa kombinasi limbah organik antara ampas tahu, bekatul dan kotoran ayam yang telah difermentasi menggunakan EM-4

Fakta-fakta yang disintesis ialah: gelar yang disandang citralekha , besaran pasak-pasak yang diterima citralekha , letak penyebutan citralekha di dalam prasasti,