BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Penelitian
1. Sejarah Singkat Berdirinya Pondok Pesantren Imam Bukhori
Pondok Pesantren Imam Bukhari adalah lembaga pendidikan Islam swasta yang dirintis oleh Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta pada tanggal 6 Juni 1994, dan secara resmi berdiri tanggal 1 Juli 1999. Yayasan Lajnah Istiqomah sebagai penyelenggara telah melakukan perubahan yayasan sesuai undang-undang no 28 tahun 2001 dengan nomor pengesahan C-1659.HT.01.02.TH. 2006. Di samping itu juga sudah mendapatkan rekomendasi dari Departemen Agama Kabupaten Karanganyar nomor. Mk. 34/1.a/384/1999 tanggal 13 April 1999. Serta terdaftar di Kementrian Agama No.Kd.11.13/5/BA.00/1072/2006 tanggal 20 Juli 2006 dengan nomor statistik 512332013007.
Pondok Pesantren Imam Bukhari terletak di desa Selokaton, kecamatan Gondangrejo, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah, di atas areal tanah seluas lebih kurang 3 ha, yang merupakan tanah wakaf dari kaum muslimin. Sebelum resmi menjadi pondok pesantren, kegiatan yang dilaksanakan adalah menyelenggarakan pendidikan anak-anak usia 5-6 tahun (Ibtida’iyah/setingkat SD/MI) dengan program unggulan hafalan al-Qur’an. Berlokasi di rumah-rumah penduduk yang tersebar di Solo, Kartosura dan Gondangrejo. Kemudian mulai 1 Juli 1999 lembaga ini menerima santri lulusan SD/MI yang dikelola dalam program Mutawasithah (setingkat SLTP).
Pada saat itulah secara resmi berdirinya Pondok Pesantren, dengan menggunakan nama “Imam Bukhari” sekaligus menempati tempat barunya berupa tanah wakaf dan bangunan dari kaum muslimin, di jalan Solo-Purwodadi Km. 8 Selokaton, Gondangrejo, Karanganyar.
Sampai tahun ajaran 2016-2017 pondok pesantren Imam Bukhori telah menampung santri lebih kurang 1.504 anak didikyang terdiri dari 781 santri dan 773 santriwati dengan tenaga pengajar sebanyak 138 asatidzah dan ustazat, ditambah 130 santri khidmah serta pegawai sebanyak 101 orang meliputi pegawai dan cleaning service.
Tipologi Pondok pesantren Imam Bukhori mengacu pada pendapat Zuhriy (2011:291) merupakan tipologi pesantren khalafiyah, meskipun dalam kutipan wawancara kepala sekolah menyebutkan bahwa tipologi pesantren Imam Bukhori merupakan pesantren jenis salafi karena mahat atau pandangan kitab beragama yang mengikuti generasi salaf terdahulu. Mulai dari Rosulullah kemudian para sahabat dan ulama-ulama salaf yang ada di pondok. Selain mengajarkan kitab-kitab klasik, pesantren ini juga mengajarkan ilmu-ilmu pengetahuan umum meski hanya mengajarkan bahasa Indonesia, matematika, bahasa Inggris, PKN, IPS dan IPA.Pola kepemimpinan pada pesantren tipe ini kolekti-demokratis yang mana tugas dan wewenang telah dideskripsikan secara jelas sehingga tidak ada pemusatan keputusan pada figur seorang kiai.
Pesantren Imam Bukhori jika dilihat dari kurikulumnya menurut Daulay (2001:33-34), merupakan pesantren yang mengajarkan kitab-kitab klasik. Madrasah di pesantren ini diadakan pendidikan model madarasah, selain memberikan pelajaran agama juga mengajarkan pelajaran umum. Kurikulum madrasah pondok dapat dibagi menjadi dua, pertama kurikulum yang dibuat oleh pondok sendiridan kedua, kurikulum pemerintah dengan memodifikasi materi pelajaran agama. Ketrampilan juga diajarkan dengan berbagai kegiatan ketrampilan.
Pesantren Imam Bukhori juga dilengkapi dengan sekolah umum.Materi pelajaran umum pada sekolah umum yang ada di pesantren seluruhnya berpedoman kepada kurikulum Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, sedangkan materi pelajaran agama disusun oleh pondok sendiri. Di luar kurikulum pendidikan yang diajarkan di sekolah, pada waktu-waktu tertentu yang sudah terjadwal santri akan menerima pendidikan agama melalui membaca kitab-kitab klasik. Pesanatren Imam
Bukhori juga sudah memiliki perguruan tinggi dengan nama Ma’had Ally yang sudah terakreditasi Universitas Islam Madinah. (Hasil wawancara dengan kepala sekolah pada tanggal 13 Juli 2017)
2. Visi, Misi, Tujuan, dan Nilai Pondok Pesantren Imam Bukhori a. Visi
Visi yang hendak dicapai oleh pondok pesantren Imam Bukhori sebagai berikut:
Membentuk generasi Thalibul Ilmi yang bermanhaj Salaf dalam beraqidah, beribadah, berakhlaq, bermu’amalah dan berdakwah.
b. Misi
Misi yang hendak dicapai oleh pondok pesantren Imam Bukhori sebagai berikut:
1) Menyelenggarakan pendidikan dalam bentuk pondok pesantren bermanhaj salaf yang unggul dan amanah.
2) Menerapkan kurikulum berbahasa Arab dengan landasa Al-Qur’an dan Sunnah berdasarkan pemahaman salafush sholih.
3) Menyelenggarakan pembinaan dan tarbiyah secara terpadu selama 24 jam.
c. Tujuan
Tujuan yang hendak dicapai oleh pondok pesantren Imam Bukhori sebagai berikut:
1) Menghasilkan lulusan bermanhaj salaf yang kuat dasar keilmuannya, bersih pemahamannya dari unsur syirik, bid’ah, khurafat, dan penyimpangan- penyimpangan lain, baik dalam bidang aqidah, ibadah, dan akhlak, mu’amalah maupun dakwah, dan terbiasa hidup islami dengan mengamalkan adab-adab serta akhlak islami berdasarkan pemahaman salafush sholih.
2) Menghasilkan lulusan yang peduli dengan lingkungan dan gemar beramar ma’ruf nahi mungkar dengan cara yang hikmah berdasarkan pemahaman salafush sholih.
3) Menghasilkan lulusan yang lancar berbahasa Arab, baik lisan maupun tulisan.
4) Menghasilkan lulusan yang berkompeten untuk melanjutkan pendidikan ke universitas-universitas Islam atau pergutusan-perguruan tinggi Islam baik di Timur Tengah atau Indonesia.
d. Nilai
Nilai yang hendak dicapai oleh pondok pesantren Imam Bukhori sebagai berikut:
1) Mengajak umat untuk kembali kepada Al-Qur’an dan sunnah yang shahih dengan pemahamaan Salafush Sholih, hidup Islami sesuai dengan manhaj ahlu sunnah wal jama’ah.
2) Menghidupkan kebiasaan bersikap ilmiah berdasarkan Al-Qur’an dan Sunnah dengan pemahaman salafush sholih.
3) Menerapkan pendidikan Islam yang bertitik tekan pada Tashfiyyah yang berarti memurnikan ajaran Islam dari segala noda syirik, bid’ah, khurafat, gerakan-gerakan dan pemikiran-pemikiran yang merusak ajaran Islam dan Tarbiyah yang berarti mendidikan kaum muslimin menjadi terbiasa mengamalkan ajaran-ajaran Islam yang sudah dipahami secara benar.
(Dokumen profil pondok pesantren Imam Bukhori, 2013:34-35)
3. Kegiatan Ekstrakurikuler
Berikut ini kegiatan ekstrakurikuler yang ada di pondok pesantren Imam Bukhori:
1) Olah raga
2) Bela diri Thaifan Po khan
3) Komputer (hardware dan software)
4) OSPIM (Organisasi Santri Pondok Imam Bukhari) meliputi a) Buletin Ilmu
b) Mading
c) Lughah (bahasa)
d) Muhadharah (ceramah) e) Maktabah (perpustakaan) f) UKP, dll
5) Ketrampilan dan kewirausahaan a) Menjahit
b) Tata boga c) Bakery d) Elektronika e) Pertanian, dll
4. Kurikulum Sejarah Kebudayaan Islam Di Pondok Pesantren Imam Bukhori Pondok pesantren merupakan tempat belajar santri yang sifatnya bermukim dan dalam pendidikannya mengedepankan ilmu agama adapun ilmu umum sebagai penunjang. Pondok pesantren Imam Bukhori merupakan jenis pondok pesantren salafiyah yang artinya mahat atau pandangan kitab beragama mengikuti generasi salaf yang terdahulu. Kepemimpinan pesantren ini tidak dipegang oleh seorang kyai yang dominan akan tetapi dipimpin oleh seorang kepala sekolah yang presentase pengaruhnya 80%-90%. Kepala sekolah dalam mengambil keputusan biasanya akan berkonsultasi kepada pemimpin tertinggi yang disebut modir atau direktur dalam yayasan.
Keputusan dalam menentukan kurikulum juga tidak hanya ditentukan dari kepala sekolah, akan tetapi ditentukan secara musyawarah bersama yang bisa dikatakan kurikulum dalam pesantren ini tidak paten. Ketika kurikulum tersebut memerlukan pergantian maka secara musyawarah akan diganti kitab-kitab yang ada.
Untuk tingkatan SLTP, kurikulumnya mengadopsi dari kurikulum Arab Saudi, kemudian untuk tingkat SLTA menggunakan kitab ulama-ulama salaf. Hal tersebut sesuai dengan pernyataan Agus Santoso selaku kepala sekolah, menjelaskan bahwa:
Ya, jadi kurikulum kita musyawarahkan bersama kemudian kurikulum kita ya bisa dikatakan kurikulum yang tidak paten kalau memang butuh pergantian ya kita ganti kitab-kitab yang ada. Kemudian kalau yang mutawasit itu banyak kita adopsi dari Saudi, kurikulum Saudi. Kemudian kalau yang di sanawi itu SMA nya, itu ya ini langsung dari kitab-kitab ulama tertama ulama-ulama salaf. Kitab-kitab di situ mulai pelajaran dari tafsir, hadist, kemudian apa namanya akidah, siroh, tarikh, dan seterusnya kita ambil karya dari ulama-ulama yang sudah jadi belajar kitab. (Wawancara tanggal 13 Juli 2017)
Kurikulum pesantren mengadopsi dari Arab Saudi karena Arab Saudi merupakan tempat awal mula berkembangnya Islam, dan banyak ulama-ulama yang tumbuh dari sana. Sehingga dapat dipastikan kemurnian ajarannya. Mengadopsinya kurikulum Arab Saudi ini tentunya sebagai upaya dalam mewujudkan visi, misi, dan tujuan dari pesantren itu sendiri. Ini sesuai dengan pernyataan Zainal Arifin selaku Waka Kurikulum yang menjelaskan bahwa:
Mengadopsi ke sana, sebenarnya kita tidak 100% mengadopsi sana ya. Cuman kita lihat Arab Saudi, ya sebagai awal mula berkembangnya Islam kan memang dari sana. Diutusnya nabi kan dari sana, kemudian juga ketika itu menjadi pedoman dasar berkembangnya Islam, otomatis banyak ilmu-ilmu yang bisa kita ambil dari sana. Selain itu, banyak ulama-ulama yang tumbuh dari sana. Sehingga kemurnian buku-buku yang diterbitkan dari sana itu insyaAllah masih bisa terjaga. Kemudian juga sebagai penunjang ketika anak- anak itu kita harapkan bisa menguasai bahasa Arab, sehingga ketika buku- buku yang mereka pelajari itu juga berbahasa Arab, maka itu akan menjadi alat bantu mereka untuk lebih bisa menguasai bahasa Arab, itu yang kita harapkan.
Jadi kalau mereka menggunakan buku yang terbitan Indonesia sendiri itu nggak ada apa itu namanya atau di sisi lain tidak menjadi alat bantu untuk mereka lebih bisa menguasai bahasa Arab. Karena sudah terjemahan otomatiskan sudah menggunakan bahasa sendiri. Kalau menggunakan bahasa Arab ini InsyaAllah ada sisi positif yang lebih banyak.(wawancara tanggal 13 Juli 2017)
Kurikulum yang diadopsi dari Arab Saudi dipergunakan untuk pelajaran agama saja termasuk pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam atau yang sering disebut oleh pihak pesantren dengan sirah. Sedangkan untuk pelajaran umum menggunakan kurikulum dari pemerintah yaitu KTSP. Dari pernyataan Zainal Arifin di atas
menjelaskan bahwa meski mengadospi dari Arab Saudi tetapi tidak 100%, tentunya pihak pesantren melalui kurikulum telah mengembangkan kurikulum ini agar sesuai dengan kepribadian santri Indonesia agar tidak seberat yang ada di Arab Saudi itu sendiri. Untuk itu maka disusunlah silabus dan promes setiap awal tahun serta pembagian babnya. Hal tersebut sesuai dengan pernyataan dari Zainal Arifin selaku wakasek kurikulum yang menyatakan bahwa:
Ya, dasar pengembangannya, kita mencoba untuk menyusun silabus yang kita sesuaikan dengan kepribadian anak-anak yang ada di Indonesia. Karena kalau kita kurikulum mengikuti Arab Saudi, di sana kan bahasa Arab menggunakan pedoman Arab. Nah jadi kita sesuaikan dengan kepribadian anak-anak Indonesia kemudian bisa dikatakan agar lebih ringan begitu, ketika nanti akan dipelajari oleh santri-santri kita. Tidak seberat sebagaimana diajarkan dan dipelajari oleh anak-anak Arab itu sendiri. Yang mana kita susun silabus, persiapan setiap awal tahun, kemudian juga untuk planning pembagian bab, maka kita juga membuat promes dalam setiap semester agar persiapan setiap guru itu lebih maksimal. Kemudian bisa tercapai target yang kita inginkan di akhir semester. Mungkin dua pokok itu dari kita mengembangkan buku materi yang dari Arab Saudi untuk pelajaran, sebenarnya untuk semua pelajaran ya terutama untuk pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam atau Siroh nabawiyah, maka itu langkah-langkah yang kita lakukan. (wawancara tanggal 13 Juli 2017)
Kurikulum yang tidak paten dalam pesantren akan mengalami revisi setiap tahunnya. Sehingga kurikulum dalam Sejarah Kebudayaan Islam berkaitan dengan bahan pelajaran yang harus ditempuh oleh santri akan mengalami pengurangan. Hal ini bergantung pada kalender akademik pesantren. Pengurangan tersebut terjadi karena target yang ingin dicapai terlalu berat. Hal ini sesuai dengan pernyataan Zainal Arifin selaku wakasek kurikulum yang menyatakan bahwa:
Revisi itu tetap ada, dan juga nanti kita sesuaikan dengan kaldik ya. Kalau pengurangan kalau memang misalnya di kalender akademik ternyata waktu pembelajaran itu pekannya kurang otomatis kita kurangi juga untuk materi yang harus diajarkan tapi kalau bertambah sepertinya tidak. Karena normalnya itu satu semester sekitar 16 pertemuan. Itu rata-rata seperti itu, kalau bertambah sepertinya tidak tapi kalau berkurang mungkin, dan pengalaman yang terjadi itu pengurangan lebih sering daripada bertambah. Di sisi lain juga
di putra juga selesai target tapi di putri enggak ataupun sebaliknya. Maka kalau memang target yang kita tetapkan dari kurikulum ternyata terlalu berat, dan hasil di evaluasi akhir tahun juga tidak sesuai yang kita inginkan otomatis akan kita kurangi. Apalagi kalau dalam pencetakan buku babnya kita buang atau babnya masih tetap tapi targetnya yang kita kurangi.
Salah satu indikasi tingkat keberhasilan suatu pendidikan adalah guru. Guru sebagai pelaksana dari implementasi kurikulum, guru memiliki peran yang sangat besar dalam menentukan berhasil tidaknya suatu kurikulum. Untuk guru pengampu mata pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam diampu oleh santri pengabdian, santri pengabdian merupakan santri yang sudah lulus dari tingkat SMA kemudian mengabdi di pesantren terlebih dahulu selama satu tahun. Mereka diberi tugas yang berbeda- beda sesuai dengan kemampuannya. Salah satu tugas santri mengabdi adalah mengajar, akan tetapi tidak semua mata pelajaran dapat diajarkan oleh santri pengabdian. Untuk pelajaran umum diajarkan oleh guru senior yang sesuai keahliannya dalam hal ini sesuai dengan ijazah kelulusan sedangkan untuk ilmu agama syar’i akan diajarkan oleh guru yang memiliki ijazah agama syar’i atau pernah bersekolah di pesantren.
Kesiapan tenaga pendidik dalam mengajar Sejarah Kebudayaan Islam pun berbeda antara santri putra dan santri putri. Di pesantren putra, pembelajaran Sejarah Kebudayaan Islam diampu oleh guru senior yang memiliki latar belakang pendidikan syar’i terutama pernah bersekolah di pesantren. Sedangkan untuk pengampu Sejarah Kebudayaan Islam di pesantren putri, dilaksanakan oleh santri pengabdian. Hal ini disebabkan oleh terbatasnya sumber daya manusia, maksudnya adalah jumlah guru senior yang mengajar di santri putri terbatas. Hal ini seperti yang dijelaskan oleh Zainal Arifin selaku wakasek kurikulum, bahwa:
Beda ya kalau di putra sama putri, kalau putri itu memang karena keterbatasan SDM. Keterbatasan SDM, sehingga tenaga yang ada adalah tenaga pengabdian dan merekapun InsyaAllah mereka mumpunilah untuk dan bisa menyampaikan. Adapun di putra itu insyaAllah untuk SDMnya sendiri mencukupi dan tidak menggunakan pengabdian untuk mengajar itu. Kalau di
putra itu bisa dikatakan yang mengajar uztad yang lebih seniorlah, jam-jam terbangnya lebih banyak. Jam ngajarnya lebih banyak ya bahkan beda tipis dengan hanya tentang pengalaman mengajarnya saja. (wawancara tanggal 13 Juli 2017)
Guru yang mengampu pelajaran agama termasuk Sejarah Kebudayaan Islam baik di putra maupun putri bukanlah sesuai dengan bidangnya masing-masing. Jika di pesantren putri, pengajar untuk Sejarah Kebudayaan Islam adalah santri pengabdian.
Sedangkan di pesantren putra yang diampu oleh guru senior dengan kemampuan agamanya yang rata-rata sama sehingga setiap tahun guru yang mengajar Sejarah Kebudayaan Islam bisa berubah mengajar ilmu syar’i yang lain. Semua bergantung pada kesiapan dari guru tersebut. Hal ini terjadi karena kemampuan pengetahuan agama dari guru senior rata-rata sama. Sedangkan spesialisasi mengajar sesuai bidang hanya pada mata pelajaran umum. Hal ini sesuai dengan pernyataan dari Agus Santoso selaku kepala sekolah sebagai berikut:
Itu kita musyawarahkan kemudian disusun sesuai spesialisasi masing-masing dan kalau yang umum itu memang sudah paten, kalau Inggris ya Inggris kalau Indonesia ya Indonesia. Tapi kalau yang syar’i memang kalau Nahwu, Sorof, bahasa Arab memang bisa dikatakan hampir paten gitu tapi yang syar’i masih kita bolak balik. Siroh itu terkadang juga masih bolak balik, masih terserah yang lebih tepat siapa untuk mengajar.(wawancara tanggal 13 Juli 2017)
Rata-rata kemampuan sama, jadi yang banyak ngajar di kita kalau yang mutawasitkan dari ibiyas Yogyakarta kemudian dari SDTI Jember, kemudian alumni-alumni pesantren. Jadi dibolak-balik suruh ngajar apapun yang penting ada basic mengarah ke situ.Sedangkan mereka waktu di pesantren dulu, universitasnya dulu pernah mempelajari seperti itu jadi tinggal kayak mengulang saja.(wawancara tanggal 13 Juli 2017)
Pernyataan tersebut juga menjelaskan bahwa untuk kriteria pengajar pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam yang paling utama adalah penguasaan bahasa Arab dan minimal pernah mengenyam pendidikan di pesantren. Sehingga besar kemungkinan pengajar tersebut sudah terbiasa berkomunikasi menggunakan bahasa Arab. Hal tersebut dilakukan untuk mendukung terwujudnya tujuan dari pesantren yaitu menciptakan lulusan yang mampu berbahasa Arab baik lisan maupun tulisan adalah
dengan sistem pembelajaran yang menggunakan bahasa pengantar bahasa Arab.
Untuk itu jam pelajaran pada pelajaran bahasa Arab tentunya memiliki kuantitas jam yang lebih banyak dari pelajaran yang lain.
Dalam kurikulum pesantren ini, guru tidak dituntut untuk membuat RPP. Guru hanya diberikan kewajiban untuk membuat promes saja. Tugas membuat silabus dilakukan oleh pihak kurikulum bagian putra. Sedangkan bagian putri hanya menerima saja hasil silabus tersebut yang kemudian digunakan sebagai pedoman mengajar. Saat pembekalan, santri sepertinya kurang memahami tentang makna kurikulum. Hal ini disimpulkan peneliti saat melakukan wawancara bertanya tentang pemahaman santri tentang kurikulum Sejarah Kebudayaan Islam tetapi dijawab isi materi Sejarah Kebudayaan Islam. Ini sesuai dengan 4 narasumber memberikan jawaban sebagai berikut:
1) Saya di kelas mengajar sejarah dari nabi lahir sampai peperangan-peperangan.
(wawancara tanggal 25 Mei 2017, dengan Farah Nadia pengampu Sejarah Kebudayaan Islam kelas IL)
2) Kalau misalnya targetnya kelas tiga itu dari pelajarannya ceritanya tentang Abu Bakar, Umar, Ustman, sama Ali. (wawancara tanggal 25 Mei 2017, dengan Ainun Nur Khasanah pengampu Sejarah Kebudayaan Islam kelas IX A dan IX B)
3) Ya jadi kita mengajari tentang kalau saya sendiri kan mengampu kelas tiga, nah berarti saya mengajari tentang sejarah sahabat-sahabat nabi. (wawancara tanggal 25 Mei 2017, dengan Nur Azizah pengampu Sejarah Kebudayaan Islam kelas IX C dan IX D)
4) Untuk kelas satu targetnya sama dengan kelas bahasa. Kita mengajari apa tentang dari awal nabi lahir dilahirkan dan terusnkemudian nanti ada peperangan dan semacamnya. Kita juga mengambil pemahaman bukan hanya sekedar buku dari yang disediakan, jadi kita juga merujuk kitab-kitab selain itu. (wawancara tanggal 25 Mei 2017, dengan Atika Sari pengampu Sejarah Kebudayaan Islam kelas VII C dan VII D).
Sebagai penunjang keberhasilan selain dengan banyaknya jam pelajaran bahasa Arab, maka untuk pelajaran agama yang lain seperti Sejarah Kebudayaan Islam dalam pelaksanaannya menggunakan bahasa Arab dengan memperhatikan tingkatan-tingkatannya. Seperti yang dijelaskan oleh Zainul Arifin selaku
wakakurikulum menyatakan bahwa, “Jadi bahasa pengantar itu 25% untuk kelas satu, kelas dua 50%, kelas tiga 75%, idealnya harus seperti itu” (wawancara tanggal 13 Juli 2017).
Seperti yang sudah dijelaskan di atas bahwa beberapa pengajar di santri putri adalah santri pengabdian, untuk itu diperlukan persiapan tersendiri seperti yang dijelaskan oleh Gemini Hariyanti selaku koordinator marhalah mutawasitoh dan IL putri sebagai berikut:
Jadi untuk pengabdian tiap tahun kita berganti. Jadi tenaga pengabdian itu sebelum mereka kami terjunkan sebagai tenaga pendidik, pengajar, itu ada pembekalan. Di samping dulu waktu mereka kelas tiga sanawi itu ada mata pelajaran khusus tadris. Tadris itu tentang apa ya teknik mengajar, jadi taktiknya praktek mengajar itu ada khusus ya. Kalau di fakultas pendidikan itu mikro teaching ya. Ada micro teaching, hla itu di sini itu ada tadris tadi dua sks selama dua semester. Cuman prakteknya, praktek mengajar itu di semester genap tapi ya itu tadi terbatas. Masing-masing calon ustazah itu hanya sekali saja. Masalahnya sekarang juga banyak, calon pengabdiannya banyak dan waktu yang disediakan kan sedikit, jadi semua itu harus memiliki kesempatan praktek mengajar semua. Kelas tiga wajib praktik mengajar di semester dua.
Di murhalah mutawasitoh praktiknya di murhalah mutawasitoh. Jadi masuk- masuk ngajarnya di SMP. Untuk tadrisnya, praktik mengajarnya itu di murhalah mutawasitoh. Kemudian ada pembekalan, jadi ini biasanya setelah anak kelas tiga sanawi itu selesai mengikuti ujian akhir semester genap karena mereka sudah selesai, ada pembekalam khusus untuk mereka. Pembekalan lagi, jadi ada pembekalan dari masing-masing bidang. Ana dari bidang pengajaran jadi saya memberikan pembekalan tentang pengajaran, teknik mengajar dan tentang seluk beluk pembelajaran kelas saya memberikan.
Kemudian nanti dari kesantrian itu terkait dengan keasramaan semuanya karena mereka akan menjadi wali asrama, jadi mereka juga dibekali tentang bagaimana seharusnya menjadi wali asrama biar nanti mereka mewakili tugas dengan baik. Kemudian juga nanti ada bagian dari sarpras kemudian juga ada bagian dari bahasa Arabiyah Bainayah Yadaik tapi itu biasanya khusus yang sudah ditunjuk untuk ngampu pelajaran bahasa Arab. Jadi nanti memang ada pembekalan. Kemudian di akhir nanti juga micro teaching lagi. Micro teaching tapi di depan kami semua ustazah-ustazah senior gitu kami lihat. Kira-kira yang mempunyai kemampuan mengajar yang baik itu siapa-siapa gitu.
Santri yang terpilih untuk mengajar pada bidang-bidangnya nantinya akan dikontrol oleh pihak pengajaran dengan diadakannya supervisi. Ketika santri tersebut
mengajar tidak sesuai dengan apa yang diharapkan oleh pesantren, maka akan segera diganti dengan pengajar yang lain yang sekiranya mampu mengajar. Kegiatan mengabdi di dalam pesantren ini tentunya mempengaruhi nilai kelulusan para santri.
Jika santri tidak menjalankan tugasnya dengan baik maka santri tersebut akan diminta mengulang mengabdi di luar pesantren Imam Bukhori. Selama santri mengabdi ulang, ijazah kelulusan masih berada di pihak pesantren.
Sehingga kegiatan mengabdi ini tidak dapat diremehkan oleh para santri.
Santri berusaha memberikan kemampuan semaksimal mungkin. Selain kemampuan mengajar, pengetahuan Sejarah Kebudayaan Islampun diperdalam sehingga saat mengajar, tidak hanya memberikan materi yang ada di buku pegangan saja tetapi juga mampu memberikan ilmu dari buku yang lain tentunya tetap memperhatikan batasan- batasan agar pembahasan tidak meluas. Santri pengabdian dalam mengajar ternyata memperhatikan bahasa penyampaian agar sesuai dengan pemahaman santri sehingga menurut santri sendiri pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam ini merupakan pelajaran yang seru dan tidak membosankan. Hal ini seperti yang diungkapkan oleh santri sebagai berikut:
1) Pelajaran siroh itu seru, seru banget. Masalahnya kan banyak ceritanya juga nggak ngebosenin aja.terus ustazah Farah orangnya santai banget, jadi yang beliau sampein juga langsung sampai ke kita. Karna kita kan juga masih anak- anak muda gitu ya, apalagi kita juga belum bisa pakai yang bahasa-bahasa berat gitu belum, ya belum sampailah. Jadi menurut ana ustazah Farah pas gitu hlo, karena orangnya santai gitu hlo. (wawancara tanggal 25 Mei 2017, dengan Mutmainah Warham santri kelas IL)
2) Alhamdulillah siroh itu pelajaran yang seru dan mungkin menghibur juga bisa diambil motivasi dari cerita para sahabat para nabi kemudian juga bisa mengenang para pahlawan kita terus bisa lebih menguatkan iman kita juga bahasanya juga mudah apalagi didukung dengan ustazah yang lebih seru.
Ustazah mengajarnya suaranya keras, terus mudah senyum, terus gak marah, gak marahan. Jadi sabar, sabar terus kata-katanya juga lembut alhamdulillah.
Terus jarang juga ustazah lain kayak gitu, terus kalau nerangkan juga detail alhamdulillah. (wawancara tanggal 25 Mei 2017, dengan Imtinan santri kelas IX B)
3) Pelajaran siroh itu pelajaran yang lebih santailah daripada pelajaran yang lain, kan pelajarannya baca jadi kalau selesai baca kita dengerin ustazahnya
jelaskan terus kita mencatat ceritanya gitu jadi santai. Ustazah mengajarnya bagus ya, kan kita cuman pakai ringkasan jadi terlalu ringkas terus ustazahnya nambah-nambah yang berkaitan dengan pelajaran itu juga tapi di luar buku pegangan. (wawancara tanggal 25 Mei 2017, dengan Fitriah santri kelas IX B) 4) Alhamdulillah pelajarannya menyenangkan dan berkesan, soalnya setiap
ustazah punya cara sendiri-sendiri. Dan untuk siroh sendiri ustazahnya itu bisa menggambarkan siroh itu seperti apa jadi kita bisa ngebayangin juga setiap peristiwanya gimana.Alhamdulillah ustazah mengajarnya sudah baik soalnnya temen-temen pada paham. (wawancara tanggal 25 Mei 2017, dengan Tiari santri kelas IX C)
5) Pelajarannya sih seru menurut ana, kan kita bisa tahu cerita tentang perjalanan hidup nabi dan sahabat-sahabatnya seru pokoknya. Menurut ana, ustazah waktu ngajar dari awal udah bagus udah kayak pengalaman mengajar gitu.
(wawancara tanggal 25 Mei 2017, dengan Najma santri kelas VII D)
Pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam sendiri mendapatkan kesan yang positif dari para santri. Berikut petikan wawancara dengan santri tentang kesannya terhadap pelaksanaan Sejarah Kebudayaan Islam:
1) Orangnya kan baik juga nggak pernah marah sih, karna ya ngerti gitu hloh.
Beliau itu ngajar anak-anak yang baru yang nggak ngerti apa-apa terus ya kita kan masih remaja-remaja gitu hlo jadi kek penyampaian pas gitu hloh. Oh iya ya ngerti kok ustazah dan nggak terlalu baku dan terus nggak terlalu tegang jadi kitanya lebih santai aja (wawancara tanggal 25 Mei 2017, dengan Mutmainah Warham santri kelas IL).
2) Alhamdulillah ustazah suaranya keras itu lebih mudah masuk karena lebih jelas terus materinya juga ditambah-tambah dari pelajaran yang lain terus biasanya juga diselingi dengan cerita itu lebih mendukung dan mengurangi kebosanan. Biasanya beliau juga memberikan tugas dan itu untuk supaya kita lebih membaca alhamdulillah pelajarannya jarang ada keluhan kalau siroh (wawancara tanggal 25 Mei 2017, dengan Imtinan santri kelas IX B).
3) Siroh kan pelajaran paling nyantai daripada pelajaran yang lain ya jadi lebih enak. Menyenangkanlah, di sini kan sibuk gitu dan pelajaran siroh itu ditunggu-tunggu jadi pas pelajaran siroh itu kalau ustazah gak dateng agak ngeluh (wawancara tanggal 25 Mei 2017, dengan Fitriah santri kelas IX B).
4) Alhamdulillah menyenangkan dan berkesan, soalnya setiap ustazah punya cara sendiri-sendiri. Ustazah siroh itu bisa menggambarkan siroh itu seperti apa jadi kita bisa ngebayangin juga setiap peristiwanya gimana (wawancara tanggal 25 Mei 2017, dengan Tiari santri kelas IX C).
5) Kalau siroh kan cerita nabi ya, kan setiap minggu cuman satu kali nah itu kadang-kadang bikin penasaran selanjutnya itu apa karena kadang berhentinya tiap pertemuan itu nanggung. Kita juga baru masuk kelas 1 SMP ya kan masih
mungkin butuh adaptasi gitu jadi ustazahnya juga harus sabar gitu ngajarin kita, misal ustazah nerangin terus ada yang belum paham nah ustazah mau ngulangin dari awal lagi, nggak pernah marah juga. Kalau ustazah pengabdian di sini alhamdulillah baik semua kok (wawancara tanggal 25 Mei 2017, dengan Najma santri kelas VII D).
5. Implementasi Pembelajaran Sejarah Kebudayaan Islam Berdasarkan Kurikulum Pondok Pesantren Imam Bukhori
a. Pelaksanaan Pembelajaran Sejarah Kebudayaan Islam Di Pondok Pesantren Imam Bukhori
Pembelajaran Sejarah Kebudayaan Islam di pesantren Imam Bukhori pada jenjang SMP dilaksanakan dengan dua bahasa pengantar, yaitu bahasa Arab dan bahasa Indonesia. Buku penunjang yang digunakan oleh santri maupun uztad/ustazah adalah buku berbahasa Arab dengan huruf Arab tanpa harakat, dan buku tersebut bermahaj salaf yang tentunya sudah ditentukan oleh pihak pesantren melalui kurikulum. Ustad/ustazah di pesantren mengajar sesuai dengan silabus yang telah dibuat oleh kurikulum. Kemudian ustad/ustazah hanya diwajibkan membuat program semester. Ustad/ustazah dalam hal ini adalah penyebutan untuk guru. Untuk mengetahui pelaksanaan pembelajaran Sejarah Kebudayaan Islam di pesantren Imam Bukhori, peneliti telah melakukan observasi di tiga kelas.
Kelas yang peneliti observasi adalah kelas IX A, VIIC, dan kelas IL (I’dat Lughawi). Peneliti memilih kelas VII untuk melihat bagaimana pelaksanaan untuk kelas VII yang mana santrinya baru saja lulus dari SD. Sedangkan di kelas IX, peneliti ingin melihat bagaimana pelaksanaan ke jenjang yang paling tinggi pada tingkat SMP.
Sedangkan kelas IL merupakan kelas persiapan bahasa yang artinya santri di kelas IL merupakan santri yang berasal dari SMP di luar pesantren Imam Bukhori dan ingin masuk ke SMA di pesantren Imam Bukhori.
Observasi dilakukan pertama kali di kelas IX A pada tanggal 20 Juli 2017 pada jam ke 1 dan 2 dengan jumlah santri 30 orang. Ustazah yang mengajar di kelas ini adalah Ainun Nur Khasanah. Kemudian dilanjutkan di kelas VII C yang mengajar
adalahAtika Sari pada jam ke 7-8 dengan jumlah santri 30 orang. Observasi pada kelas ini berlangsung pada tanggal 20 Juli 2017. Observasi yang ke tiga dilakukan di kelas IL dengan ustazah yang mengajaradalah Farah Nadia pada jam ke 5-6 pada tanggal 22 Juli 2017. Setiap observasi di kelas berlangsunng selama dua jam dengan durasi 40 menit setiap jamnnya. Penelitian dilaksanakan di santri putri karena peraturan dari pesantren bahwa putra dan putri harus terpisah baik kelas maupun pondoknya.
Berdasarkan observasi di kelas VII C, IX A, dan IL, pembelajaran yang berlangsung dari kegiatan pendahuluan, inti dan penutup pelaksanaannya hampir samaantara ketiga kelas tersebut.Kegiatan belajar mengajar dimulai dengan ustazah masuk kelas kemudian mengucapkan salam dilanjutkan dengan membuka kelas dengan berdoa. Selesai berdoa ustazah menanyakan kabar dan menyapa santri dengan bahasa Arab kemudian mengabsensi kehadiran santri. Setelah mengabsensi kehadiran, santri diminta untuk membuka buku Sejarah Kebudayaan Islam dan membuka bab yang akan dipelajari.
Kegiatan belajar mengajar di kelas VII C dimulai dengan ustazah melemparkan pertanyaan, yaitu “siapa ayah Rosulullah?”, “siapa ibunya?”.Pertanyaan tersebut ditanyakan dengan menggunakan bahasa Arab yang kemudian diterjemahkan ke bahasa Indonesia. Kemudian santri menjawab pertanyaan tersebut hanya nama saja. Hal ini dikarenakan pada tingkatan kelas VII bahasa pengantar bahasa Arab baru diberikan sebesar 25%. Setelah tanya jawab, ustazah meminta santri untuk menyimak bacaan yang dibaca oleh ustazah dengan bahasa Arab yang kemudian ditirukan oleh santri setiap kalimat. Setelah menyelesaikan satu paragraf, ustazah akan menjelaskan arti per kata. Kemudian santri akan mencatatnya dan dilanjutkan dengan menjelaskan arti bacaan secara keseluruhan dengan bahasa Indonesia. Saat membacakan bacaan dengan bahasa Arab dan mengartikan perkata, ustazah masih membaca buku pegangan. Tetapi ketika menjelaskan isi bacaan, ustazah tidak melihat buku pegangan.
Pelajaran tidak hanya berlangsung dengan ustazah membacakan kemudian ditirukan oleh santri dan mengartikan perkata. Ustazah selalu melemparkan
pertanyaan kepada santri untuk memastikan santri sudah memahami materi. Santri di kelas ini dapat dikatakan aktif bertanya meskipun bertanya tentang arti kata dari bacaan yang belum mengerti karena terlambat mengikuti. Ustazah dengan sukarela akan mengulangi kembali. Ketika selesai membahas dua subbab, ustazah meminta santri untuk maju ke depan kelas dan menceritakan kembali apa yang sudah dipelajari.
Ustazah juga memberitahukan bahwa yang mau maju untuk menjelaskan kembali akan diberi nilai tambahan. Pada hari itu ada empat santri yang mau maju ke depan kelas dan menceritakan materi yang telah dipelajari.
Ustazah dalam mengajar masih kurang dalam penguasaan kelas, ini dapat dilihat masih ada beberapa santri yang ngobrol, akibatnya santri tersebut tertinggal materi saat mengartikan perkata.Tetapi santri tersebut tidak lantas diam saja tetapi mau bertanya kepada ustazah dan meminta untuk dijelaskan kembali.
Kegiatan pembelajaran di kelas IX A tidak jauh berbeda dengan di kelas VII, pembelajaran berlangsung dengan ustazah membaca materi dan santri menirukan.
Hanya saja di kelas IX ini santri sudah bisa membaca bacaan dengan lancar.
Kemudian dilanjutkan dengan ustazah mengartikan bacaan perkata dan dijelaskan secara keseluruhan menggunakan bahasa Indonesia. Santri di kelas IX ini tidak banyak yang ngobrol dengan temannya. Mereka benar-benar memperhatikan penjelasan ustazah.Saat ada santri yang bosan, ustazah mempersilahkan santri untuk berdiri dibelakang sementara dengan tetap membawa buku agar tidak tertinggal materi.
Ustazah terkadang bertanya kepada santri apakah terlalu cepat dalam menyampaikan materi dan apakah ada santri yang tertinggal dalam menyimak materi.Beberapa santri ada yang mau bertanya materi yang tertinggal. Saat selesai menerangkan dan waktu pelajaran akan berakhir, santripun mengeluh lelah dan meminta berhenti sejenak, beberapa santri ada yang meminta ijin untuk minum air putih (para santri membawa air minum ke kelas). Kemudian ada santri yang meminta kepada ustazah untuk bercerita yang lain (cerita selingan). Ustazahpun menceritakan kisah (dengan bahasa Indonesia) yang lain agar santri bisa lebih rileks karena kisah
yang diceritakan membuat santri tertawa. Kisah yang diceritakan ustazah juga mengandung nilai yang positif sehingga dapat dicontoh oleh santri. Saat selesai bercerita, ustazah menekankan kepada santri tentang hal positif apa yang dapat diambil dari kisah tersebut.
Setelah selesai bercerita, ustazah memberikan pertanyaan kepada santri tentang materi yang telah disampaikan sebelumnya. Santripun menjawab pertanyaan tersebut dengan serentak, baik pertanyaan maupun jawaban menggunakan bahasa Arab (pada tingkatan ini, bahasa pengantar bahasa Arab sudah digunakan sebanyak 75%).
Sebelum jam selesai, ustazah memberikan penugasan kepada santri untuk menjawab soal yang ada di bawah materi yang dipelajari hari itu. Tugas tersebut dikerjakan di buku tulis dan waktu pengumpulannya tidak diberi tahu, ini bertujuan agar para santri mau mengerjakan dan belajar. Pelajaranpun ditutup dengan doa dan salam dari ustazah. Santripun menjawab salam tersebut dan mengucapkan terimakasih serta doa kebaikan untuk ustazah dalam bahasa Arab.
Kegiatan belajar mengajar Sejarah Kebudayaan Islam di kelas IL juga tidak jauh berbeda dengan kelas IX dan VII. Hanya saja, karena di IL dilaksanakan pada jam ke 5 dan 6 maka tidak ada kegiatan berdoa. Bagian pendahuluan diisi dengan salam, menanyakan kabar dan mengabsen. Selesai refleksi, ustazah kemudian menanyakan materi di pertemuan terakhir, akan tetapi hanya ada beberapa santri yang mampu menjawab pertanyaan ustazah. Ustazahpun memberi nasehat agar para santri dihari sebelumnya mempelajari yang lalu agar tidak lupa.
Saat pelajaran, ustazah memberikan tips dalam menghafalkan nama-nama anak Rosulullah karena nama tersebut dalam bahasa Arab, maka ustazahpun menuliskan nama tersebut di papan tulis agar santri mudah mencatatnya. Saat pelajaran kurang 15 menit, banyak santri yang mengantuk. Ustazahpun meminta untuk para santri yang mengantuk wudhlu terlebih dahulu. Santri yang ijin untuk wudhlu sekitar 10 orang, sedangkan santri yang tetap berada di kelas diberi kesempatan oleh ustazah untuk bertanya tentang materi yang belum dipahami. Ada satu santri yang bertanya kepada ustazah secara tersendiri dengan maju ke meja ustazah. Sedangkan beberapa santri
yang sudah paham materi, mereka sibuk membaca Al-Qur’an.S aat santri kembali setelah wudhlu, pelajaran kembali dimulai dengan ustazah memberikan tugas untuk pertemuan selanjutnya yaitu menjawab soal yang terdapat di buku tulis. Kemudian pelajaran ditutup dengan doa dan salam serta ucapan terimakasih dari santri berupa doa dalam bahasa Arab.
Pelaksanaan pembelajaran di atas sesuai dengan hasil wawancara dengan ustazah dan santri di kelas. Pembelajarannya pun masih seperti zaman dahulu, tidak ada teknologi dan kegiatannya 99% menggunakan metode ceramah dan tidak menggunakan teknologi terkini seperti laptop dan LCD untuk menanyangkan video maupun gambar. Media yang digunakan mengajar hanya papan tulis untuk menggambar bagan atau menulis kata dalam bahasa Arab saja. Seperti hasil observasi peneliti dan hasil wawancara berikut:
1) Saya menggunakan papan tulis jika santri tidak memahami alur cerita yang saya jelaskan (wawancara tanggal 25 Mei 2017, dengan Ainun Nur Khasanah pengampu Sejarah Kebudayaan Islam kelas IX A dan IX B).
2) Ya saya sendiri menggunakan cara itu kalau misalkan saya sudah menyampaikan sudah menceritakan tapi anak-anak itu kurang bisa memahami jadi menulis di papan kalau memang kurang bisa memahami cerita (wawancara tanggal 25 Mei 2017, dengan Atika Sari pengampu Sejarah Kebudayaan Islam kelas VII C dan VII D).
Penerapan model pembelajaran permainan hanya beberapa pengajar saja yang melakukan, itupun tidak selalu dilaksanakan. Misalnya saja Ainun Nur Khasanah pengajar kelas IX A dan IX B yang kemudian oleh Imtinan dan Fitriah santri dari kelas IX B membenarkannya dengan menjelaskan bermain seperti lomba cerdas cermat, ada pertanyaan untuk berebut ada jugapertanyaan yang ditujukan ke kelompok tertentu. Hal ini sesuai dengan hasil wawancara berikut:
1) Kalau saya pakai itu mbak, games. Jadi dikelompok-kelompokkan terus kita buat pertanyaan yang isinya tentang sejarah itu (wawancara tanggal 25 Mei 2017, dengan Ainun Nur Khasanah pengampu Sejarah Kebudayaan Islam kelas IX A dan IX B).
2) Dengan main. Jadi permainan terus dalam permainan itu dimasukkan pertanyaan-pertanyaan tentang para sahabat, para sahabiyah, cerita-cerita juga
terus kalau yang menang ntar dikasih hadiah (wawancara tanggal 25 Mei 2017, dengan Imtinan santri kelas IX B).
3) Ya pernah ya, tebak-tebakan main gitu. Jadi ini kan acara ke satu misalnya terus setiap kelompok ditanyai satu-satu misalnya ditanya tentang istri nabi terus jawab nanti pertanyaan ke dua rebutan. Terus yang ketiga nanti kan tentang khalifah, setiap khalifah diangkat menjadi khalifah kan harus ceramah nah nanti tiap kelompok itu terus suruh maju buat ceramah. Tapi baca ceramah khalifah itu sih (wawancara tanggal 25 Mei 2017, dengan Fitriah santri kelas IX B).
Pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam merupakan pelajaran yang dapat diambil nilai positifnya atau nilai karakter yang dapat dicontoh. Hal ini oleh ke empat ustazah ternyata sudah diterapkan, ini sesuai dengan hasil wawancara keempat ustazah meskipun hanya tiga santri yang membenarkannya, pernyataannya sebagai berikut:
1) Jika masih ada sisa waktu disetiap pertemuan, terkadang saya menyampaikan apa yang bisa dicontoh dari kisah tersebut. (wawancara tanggal 25 Mei 2017, dengan Farah Nadia pengajar Sejarah Kebudayaan Islam kelas IL)
2) Biasanya saya menyisipkan nilai apa yang bisa diambil adalah saat melalui cerita selingan ketika mereka lelah saat pelajaran, bisa dikatakan intermesolah.
(wawancara tanggal 25 Mei 2017, dengan Ainun Nur Khasanah pengampu Sejarah Kebudayaan Islam kelas IX A dan IX B)
3) Oh ya terutama saya juga menyisipkan di akhir pelajaran apa yang bisa kita ambil dari pelajaran itu (wawancara tanggal 25 Mei 2017, dengan Nur Azizah pengampu Sejarah Kebudayaan Islam kelas IX C dan IX D)
4) Ya, ketika Nabi Muhammad SAW itu sifatnya seperti apa dia berlemah lembut dalam sosialisasi juga saya sempet panjang lebar dipembahasan seperti itu agar mereka juga lebih memahami secara luas seperti apa, mereka juga bisa menerapkan bersama teman-temannya. Kalau misalkan ada sifat-sifat nabi yang seperti itu atau sifat Abu Bakar atau siapa sahabat yang lain, saya berusaha coba tanamkan dan jelaskan ke mereka gitu. (wawancara tanggal 25 Mei 2017, dengan Atika Sari pengampu Sejarah Kebudayaan Islam kelas VII C dan VII D)
5) Pernah sih kayak misal pas materi kekhalifahan Ali, pada masa kekhalifahan Ali antar sahabat itu saling perang, dan ustazah itu slalu bilang jangan ejek sahabat nabi. Nah kan orang yang nggak tahu kan pasti bertanya ini antar sahabat kok saling perang gitukan nah ustazah itu slalu bilang jangan mengejek sahabat nabi supaya tidak penafsiran yang keliru tentang Islam kok saling perang dan lebih condong ke salah satu sahabat sehingga mengejek sahabat lain yang menjadi lawan. (wawancara tanggal 25 Mei 2017, dengan Fitriah santri kelas IX B)
6) Sering, misalnya pada materi kekhalifahan Ali selesai terus pas mau ke materi kekhalifahan Usman ustazah tanya dulu nilai positif apa yang dapat kita contoh dari kekhalifahan Ali, diambil kesimpulan. Menarik kesimpulannya bersama- sama, jadi ustazah dulu terus nanti kita nambah-nambahin. (wawancara tanggal 25 Mei 2017, dengan Tiari santri kelas IX C)
7) Ya biasanya ustazah kalau habis ngajar setiap babnya kadang di bukunya udah ada nilai-nilai yang dapat diambil. Tapi ustazah tetep njelasin ke kita gitu.
(wawancara tanggal 25 Mei 2017, dengan Najma santri kelas VII D)
Selain nilai yang dapat dicontoh oleh santri, santri juga mendapatkan manfaat atau hikmah dari belajar Sejarah Kebudayaan Islam. Berikut hasil wawancara dengan santri tentang hikmah yang dapat dipetik dari Sejarah Kebudayaan Islam:
1) Ya pasti. Makin banyak pengetahuannya kan pasti ya, karena kalau buat ana sendiri ana suka banget yang namanya siroh itu kan perjalanan cerita tentang nabi dan itu tu bikin penasaran gitu gimana nantinya, gimana nantinya dan semakin lama itu semakin ada aja yang bikin kita itu tertarik dan pengen tahu lagi gitu aja dan itu nambah pengetahuan banget. Jadi kisah nabi itu kan masuk disemua pelajaran kan, di hadist ada, tauhid juga ada, jadi pengetahuan kita jadi makin luas. (wawancara tanggal 25 Mei 2017, dengan Mutmainah Warham santri kelas IL)
2) Alhamdulillah lebih menyukai dan lebih fansnya itu sama para sahabat gitu jadi suka. Terus kita termotivasi kalau kita memang harus berani menyebarkan Islam. Terus juga ya tadi hikmahnya lebih menguatkan iman, ternyata Islam itu gini Alhamdulillah lebih kuat dari yang lain. Pokoknya banyak termotivasi lah.
(wawancara tanggal 25 Mei 2017, dengan Imtinan santri kelas IX B)
3) Ya mengetahuilah kalau Islam dulu pernah jaya gitu, sekarangkan Islam nggak sejaya dulu. Jadi bisa mengingat pahlawan muslim yang dulu dan bisa mengembalikan Islam seperti dulu lagi. (wawancara tanggal 25 Mei 2017, dengan Fitriah santri kelas IX B)
4) Kan kalau kata pepatah kalau tak kenal maka tak sayangkan, nah makanya kalau kita sayang rosulullah kita harus mengenal sejarahnya juga. Tapi jangan siroh nabinya aja, siroh setelahnya juga para sahabat biar bisa mengikuti dan mencontohnya.(wawancara tanggal 25 Mei 2017, dengan Tiari santri kelas IX C)
5) Kita jadi tambah kan pengetahuan tentang kehidupan nabi gitu sama sahabat- sahabatnya, ya tambah pengetahuan gitu.(wawancara tanggal 25 Mei 2017, dengan Najma santri kelas VII D
b. Evaluasi Pembelajaran Sejarah Kebudayaan Islam Di Pondok Pesantren Imam Bukhori
Evaluasi dan pelaksanaan pembelajaran dapat dijadikan pedoman bagi pesantren dalam merevisi kurikulum. Jika evaluasi santri buruk maka oleh kurikulum akan menurunkan target dari pelajaran itu sendiri tetapi dengan pertimbangan keberhasilan pembelajaran apakah sudah memenuhi target atau belum. Evaluasi untuk pelajaran sejarah kebudayan Islam dilakukan minimal empat kali ulangan harian ataupun tugas. Kemudian akan ada ulangan tengah semester dan ulangan akhir semester.
Jika mengikuti kurikulum Arab Saudi secara murni, evaluasi akan diadakan dua kali saja dalam tiap semester, yaitu ulangan tengah semester dan ulangan akhir semester. Program ini merupakan evaluasi dalam sistem Sistem Kredit Semester (SKS). Jika sistem SKS secara murni diterapkan, maka santri ketika tidak lulus dalam nilai akhir diharuskan mengulangi kembali pelajaran tersebut di tahun ajaran baru.
Akan tetapi dalam pesantren, sistem evaluasi disesuaikan dengan kondisi santri.
Maksudnya adalah kurikulum menetapkan adanya ulangan harian sebagai penunjang nilai akhir. Nilai ulangan harian juga bisa didapat dari tugas pekerjaan rumah.
Hal ini dilakukan dengan pertimbangan bahwa santri bisa jadi sedang sakit saat ujian, maka tidak bisa belajar maupun mengerjakan ujian dengan maksimal. Sehingga jika evaluasi hanya mengandalkan UTS dan UAS maka akan menurunkan prestasi santri. Hasil pembelajaran tidak bisa ditentukan hanya dua kali tes. Hal ini sesuai dengan pernyataan Zainal Arifin selaku waka kurikulum sebagai berikut:
Untuk evaluasi kita ada harian. Pokoknya di silabus sendiri juga kita buat evaluasi akhir setiap pembelajaran setiap pertemuan. Jadi untuk mengetahui daya serap mereka ya berapa persen kemudian mungkin juga ada PR (pekerjaan rumah) ya, tugas ketika mereka pulang ke asrama kemudian kita lakukan ujian itu dalam satu semester minimal empat kali. Jadi bisa dikatakan nanti setelah sekian bab itu di promes mereka tulis oleh setiap pengampu Jadiuntuk mengevaluasi santri dalam memahami pelajaran siroh dalam satu semester itu empat kali InsyaAllah itu sudah mencukupi dan kita tidak ada UTS. Tidak ada UTS adanya dari nilai harian karena itu bisa lihat lebih efektif
agar mereka itu selalu mengulang-ulang pelajaran itu karena kalau diadakan UTS sekali saja itu kita tidak tahu kondisi santri itu. Mungkin santri di pondok itu beda dengan anak yang sekolah seperti di luar yang pulang ke rumah dalam pengawasan orang tua kalau di sini kan di dalam, kita tidak tahu kondisi mereka baik secara psikis ataupun secara fisik. Mungkin saja ketika ujian UTS mereka ada masalah atau pas ujian UTS mereka sakit tapi memaksakan untuk masuk ke kelas, otomatis nanti nggak maksimal dalam menjawab pertanyaan sehingga bis turun nilainya. Tapi kalau kita lakukan ulangan harian minimal empat kali dalam satu semester, kemungkinan saling bisa menutupi nilainya seperti itu (wawancara tanggal 13 Juli 2017).
Sedangkan cara ustazah dalam mengevaluasi pemahaman santri dilakukan tes secara tertulis yang pelaksanaannya setiap pengajar berbeda-beda. Hal ini sesuai dengan wawancara sebagai berikut:
1) Biasanya kalau misalkan ujian jadi sehari itu kita ambil dua materi, dua judul dan kita melakukan ujian setelah empat materi. Jadi mungkin dua minggu sekali kita melakukan ujian (wawancara tanggal 25 Mei 2017, dengan Nur Azizah pengampu Sejarah Kebudayaan Islam kelas IX C dan IX D).
2) Kalau saya bukan per judul tapi persatu tahunan. Persatu tahun jadi misal hijriyah, setelah selesai tahun ke satu baru ulangan kayak gitu. Jadi nilai mereka dari ulangan-ulangan atau kalau enggak biasanya dari tugas mereka (wawancara tanggal 25 Mei 2017, dengan Ainun Nur Khasanah pengampu Sejarah Kebudayaan Islam kelas IX A dan IX B).
3) Saya sesuai silabus, misalnya di silabus selesai 3 bab baru tes ya saya juga begitu. Jadi kalau 4 bab atau 5 bab baru tes saya juga akan melakukannya seperti itu (wawancara tanggal 25 Mei 2017, dengan Farah Nadia pengampu Sejarah Kebudayaan Islam kelas IL).
4) Terkait tes saya melihat bagaimana santri, misal ada santri yang kelihatannya kurang mengerti gitu kan, kadang nanti saya panggil dulu santrinya gitu. Atau mungkin terkadang alhamdulillah kalau memeliki kesadaran datang ke saya sendiri untuk menanyakan materi gitukan. Nah nanti kalau seperti itu baru ntar kita kasih perhatian lebih penjelasan lebih ke anak tersebut. Terus nanti saya lebih mengetahui pemahaman mereka itu evaluasinya lewat ulangan-ulangan, ujian-ujian dan penugasan secara tertulis juga (wawancara tanggal 25 Mei 2017, dengan Atika Sari pengampu Sejarah Kebudayaan Islam kelas VII C dan D).
5) Kalau itu biasanya ada ulangan harian, jadi dilakukan mungkin setelah lima bab selesai mungkin ada ulangan (wawancara tanggal 25 Mei 2017, dengan Imtinan santri kelas IX B).
6) Ada latihan, jadi kalau misal materi kekhalifahan usman selesai nah nanti di buku ada latihannya secara mandiri terus dikumpulkan dikoreksi sendiri sama ustazah (wawancara tanggal 25 Mei 2017, dengan Fitriah santri kelas IX B).
7) Sebelum pelajaran dimulai disuruh murojah, mengulang pelajaran pertemuan sebelumnya dengan ditanya terus menjawab tanpa melihat buku, kadang juga diakhir pelajaran ulangan jadi kan ketahuan yang nilainya kecil berarti belum paham. Terus kadang-kadang aja tapi nggak setiap pertemuan dikasih pertanyaan diakhir jam pelajaran. Biasanya setiap selesai satu bab gitu (wawancara tanggal 25 Mei 2017, dengan Tiari santri kelas IX C).
8) Ya dengan dikasih pertanyaan, terus kadang ustazah juga nanya ada yang mau tanya enggak. Kan setiap anak beda-beda, ada yang udah paham waktu dijelasin sekali tapi ada juga anak yang harus diulang-ulang terus baru paham.
Terus ustazah itu lebih seringnya nunjuk satu-satu buat menjawab pertanyaan yang ada di buku (wawancara tanggal 25 Mei 2017, dengan Najma santri kelas VII D).
Pelaksanaan pembelajaran yang berlangsung dengan dua bahasa telah membuat guru menjadi aktif untuk mengontrol pemahaman santri bukan hanya dari evaluasi tes tetapi juga dengan melemparkan pertanyaan kepada santri.Hal ini sesuai dengan observasi yang dilakukan peneliti.
6. Hambatan Yang Muncul Dalam Implementasi Pembelajaran Sejarah Kebudayaan Islam Berdasarkan Kurikulum Pondok Pesantren Imam Bukhori a. Hambatan Yang Muncul Dalam Kurikulum Sejarah Kebudayaan Islam Di
Pondok Pesantren Imam Bukhori
Hambatan yang terjadi dalam kurikulum sendiri yang paling berarti adalah kemampuan guru pengajar terutama di santri putri. Di santri putri yang mengajar adalah santri pengabdian yang hanya mendapatkan pelatihan sebentar. Selain itu, setiap tahun pengajarnya harus berganti karena masa pengabdian hanya satu tahun dengan demikian tentunya pengalaman mengajarpun minim. Sedangkan di santri putra yang mengajar merupakan guru senior yang setiap tahunnya mengajar sehingga kemampuan mengajarnya sudah tinggi. Hal ini senada dengan pernyataan dari Zainal Arifin selaku waka kurikulum sebagai berikut:
Ya, kendala yang paling berarti itu kalau guru atau SDMnya itu orang baru dan apa namannya pengalaman mengajarnya juga minim. Otomatis ya dia untuk beradaptasi dengan lingkungan pondok kemudian dengan santri, kemudian dengan pelajarannya itu sendiri kan lama butuh waktu. Sehingga masalah waktu adaptasi itu sendiri santri sisi lain banyak dirugikan karena gurunya sendiri mengajar tidak maksimal. Gurunya mengajar ya sebisa dia, semampu dia dengan penglaman yang minimal seperti itu. Coba kalau di putri banyak sekali itu mengalami seperti itu. Karena setiap tahun anak baru lagi makanya kita dilakukan usaha untuk pengembangan metode mengajar setiap tahun kita adakan upgrading untuk yang putri terutama uztad-uztad yang baru, uztadzah baru. Itu yang paling kita targetkan agar mereka bisa memahami bagaimana sih menghadapi pelajaran-pelajaran itu bagaiamana mereka bisa mencapai target dalam mengajarkan pelajaran-pelajaran tersebut. (wawancara tanggal 13 Juli 2017)
Tidak hanya kemampuan mengajar, kemampuan santri pengabdian dalam membuat administrasipun minim. Santri sering juga mengalami kesulitan dalam menyusun promes. Sedangkan untuk penyusunan administrasi sendiri sudah ada pelatihannya bersamaan dengan pelatihan yang lain dan kemungkinan santri saat diadakan pelatihan kebingungan sehingga kurang memahami dengan baik. Hal ini sesuai dengan hasil wawancara sebagai berikut:
Mungkin kesulitannya kalau tiba-tiba ada acara mendadak, nanti misalkan ada libur mendadak ada tanggal merah atau ada acara yang lain jadi kita kan agak menggeser promes kita nah jadi kita mengambil waktu di luar jam biar kita bisa mengisi kekosongan hari libur itu. (wawancara dengan Nur Azizah selaku santri pengajar, padatanggal 13 Juli 2017 )
Senada dengan pernyataan Zainal Arifin terkait dengan kalender akademik sebagai berikut:
Kalau pengurangan kalau memang misalnya di kalender akademik ternyata waktu pembelajaran itu pekannya kurang otomatis kita kurangi juga untuk materi yang harus diajarkan tapi kalau bertambah sepertinya tidak. Karena normalnya itu satu semester sekitar 16 pertemuan. (wawancara tanggal 13 Juli 2017)
Hambatan lain yang terjadi adalah terkait sumber belajar. Santri yang mengajar adalah merasa kesulitan ketika buku yang digunakan untuk mengajar berbeda dengan
buku yang dipelajari saat sekolah dan terkadang ada beberapa riwayat yang berbeda sehingga santri ketika mengajar sedikit kebingungan. Ini sesuai dengan hasil wawancara dengan santri pengajar sebagai berikut:
1) Masalah yang muncul biasanya ketika buku yang kita pakai mengajar itu berbeda dengan buku yang kita pelajari semasa kita SMA gitu, kan terkadang ceritanya itu memang sama tapi terkadang ada buku yang beda.(wawancara tanggal 25 Mei 2017, dengan Ainun Nur Khasanah pengampu Sejarah Kebudayaan Islam kelas IX A dan IX B)
2) Ya kendala yang saya hadapi kitabnya antara kitab yang untuk mengajar dan kitab yang saya pelajari dulu ada perbedaannya. Ada beberapa riwayat yang berbeda. (wawancara tanggal 25 Mei 2017, dengan Atika Sari pengampu Sejarah Kebudayaan Islam kelas VII C dan D)
b. Hambatan Yang Muncul Dalam Pelaksanaan Pembelajaran Sejarah Kebudayaan Islam Di Pondok Pesantren Imam Bukhori
Saat melakukan observasi di tiga kelas yang berbeda, peneliti melihat bahwa pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam berlangsung hanya dengan bercerita dan menterjemahkan. Sehingga beberapa santri mengantuk dan kelelahan. Saat pembelajaran berlangsung tidak ada media elektronik yang digunakan karena peraturan dari pihak pesantren sendiri tidak memperbolehkan santri membawa media elektronik secara individu. Kendala tersebut dirasakan oleh Najma santri kelas VII D yang mengungkapkan bahwa kendala dalam pelaksanaan pembelajaran adalah mengantuk (wawancara tanggal 25 Mei 2017).
Hambatan lain dalam pelaksanaan pembelajaran dialami oleh Mutmainah Warham santri kelas IL. Hambatan yang dirasakan adalah ustazah yang mengajar terkadang sibuk karena menjabat sebagai UKP atau Unit Kesehatan Pondok yang bertugas menangani santri yang sakit. Sedangkan pelaksanaan pembelajaran dilakukan saat sore hari karena jadwal pagi untuk Sejarah Kebudayaan Islam digunakan untuk pelajaran bahasa Arab sehingga jika ustazah sedang mengurusi santri yang sakit maka jam pelajaran pun ditiadakan. Hal ini senada dengan pernyataan dari Mutmainah Warham santri kelas IL berikut ini:
Tadinya kan siroh di pelajaran pagi kan ya pelajaran sehari-hari kita tapi diganti sama ada pelajaran bahasa Arab jadi siroh itu jadi sore. Jadi setiap sore gitu kan. Setiap sore hari Rabu sama hari Senin insyaAllah dan itu tu setiap pelajaran siorh pasti ujan. Oh ya kan kadang kita uja-ujanan gitu apalagi baru bangun tidur gitu biasanya kan karena sore. Terus kadang agak susah karna kadang ustazahnya agak sibuk juga ustazahnya ukp kan jadi kalau ada yang sakit gitu mesti nganterin ke rumah sakit gitu paling kita nggak masuk.
(wawancara tanggal 25 Mei 2017)
Terkait hambatan lain dalam pelaksanaan pembelajaran yang dirasakan santri adalah ketika banyaknya ulangan sehingga malam sebelumnya mereka belum mempersiapkan materi yang telah mereka pelajari sebelumnya sehingga santripun tidak mampu menjawab pertanyaan dari ustazah. (wawancara tanggal 25 Mei 2017, dengan Tiari santri kelas IX C). Hambatan lain yang sering dialami dalam mempelajari sejarah adalah kesulitan dalam mengingat tahun seperti yang dikeluhkan oleh Fitriah santri kelas IX B “Kendalanya itu biasanya susah mengingat tahun setiap peristiwa” (wawancara tanggal 25 Mei 2017).
c. Hambatan Yang Muncul Dalam Evaluasi Pembelajaran Sejarah Kebudayaan Islam Di Pondok Pesantren Imam Bukhori
Hambatan yang muncul terkait dengan evaluasi adalah terjadinya kesalah pahaman antara santri putra dan santri putri saat ujian serentak tepatnya saat ujian akhir semester kemarin. Ini terjadi karena kebijakan-kebijakan berada di pondok putra. Soal evaluasi dibuat oleh pihak putra. Kemudian ketika bagian putri mengejar target sesuai silabus dan sudah mempelajarinya tetapi ternyata ketika ujian, soal yang diujikan hanya setengah dari target saja. Hal ini sesuai dengan hasil wawancara dengan Mutmainah Warham santri IL sebagai berikut:
Kalau itukan kita belajar terus kan, belajar terus udah sampai jauh gitu, kita selama belajar gitu menjalani ulangan harian juga, paling satu bab misalkan tahun satu hijrah itu kita satu bab ulangan, itu ulangan harian, itu kita belajar jauh tapi kan emang karena ngikutin ikhwannya, jadi keputusan sananya juga ustad-ustadnya juga yang buat soal jadi di sini kita cuman ngikut, jadi ada miss comunication juga kan ikhwan sama putrinya. Kita udah belajar jauh ternyata cuman setengah gitu hloh yang dipake. Kalau waktu semester satu kan kita
kepake satu buku gitu, tapi yang semester ini cuman setengah buku, padahal kita udah belajar sampai satu buku. (wawancara tanggal 25 Mei 2017)
7. Solusi Yang Dilakukan Oleh Guru Dalam Menanggulangi Hambatan-Hambatan Yang Muncul Dalam Implementasi Pembelajaran Sejarah Kebudayaan Islam Berdasarkan Kurikulum Pondok Pesantren Imam Bukhori
a. Solusi Yang Dilakukan Saat Ada Kendala Dalam Kurikulum Sejarah Kebudayaan Islam Di Pondok Pesantren Imam Bukhori
Solusi yang dilakukan oleh pihak pesantren dalam meningkatkan kemampuan guru adalah dengan memperbaruhi kembali kemampuan pengajar dengan cara memberikan pelatihan kembali. Hal ini sesuai dengan pernyataan dari Zainal arifin selaku waka kurikulum berikut ini:
Siroh dan juga pelajaran yang lain kita terus menggali kendala atau permasalahan baik di putri maupun di putra kemudian kita musyawarahkan dengan kepala sekolah kemudian kita juga komunikasi dan koordinasi dengan wakil pengajaran yang ada di putri. Ya kemudian hasilnya kita cari solusi apa yang terbaik. Kemudian misal diantaranya itu tekait dengan metode mengajar ya kita upgrade lagi para gurnya kemudian kita bantu juga untuk penyusunan- penyusunan hal-hal yang menjadi penunjanglah mereka itu lebih mudah dalam mengajar. Kita buatkan kalau misal mereka memang minim sekali pengalaman mengajarnya ya kita buat ringkasan-ringkasan, tahapan-tahapan apa yang harus mereka sampaikan kepada santri agar memang sesuai target yang diinginkan.
Kalau kendala-kendala yang terkait dengan buku, buku ini misal dilihatnya terlalu sulit kemudian gurunya terasa kelelahan mengajar yang lainnya ya kita carikan yang mampu, SDM yang lebih mumpuni. Karena jangan sampai santripun nggak paham dari apa yang diajarkan oleh gurunya terus nanti ada kerugian, sisi negatif dari santrinya itu sendiri mungkin seperti itu. (wawancara tanggal 13 Juli 2017)
Senada dengan pernyataan di atas, Agus Santoso selaku kepala sekolah membenarkan bahwa yang paling utama dalam membenahi kurikulum adalah memperbaiki kualitas guru baik dari segi mengajar maupun kemampuan dalam mempersiapkan administrasi seperti yang disampaikan dalam kutipan berikut ini:
Kalau kendala di kurikulum itu memang apa namanya kita tetap harus mengupgrade ya guru-guru yangg ada pertama, karena suksesnya pendidikan
itu ada tiga yang pertama bagusnya tenaga pendidik, kemudian yang kedua bagusnya kurikulum, dan yang ketiga bagusnya santri yaitu siswa. Jadi kalau ketiga ini bisa kita dapat bisa maksimal hasilnya tentu akan maksimal dan kemudian ketika kita berbicara tentang tenaga pendidik berarti kan memang kita sangat memahami bahwasanya pendidik kita pun sebenarnya kemampuannya itu sebagian belum optimal nah jadi mesti diupgrade terus.
Upgrade tentang masalah teknik mengajar yang paling penting, kemudian tentang toriqoh ngajarnya, kemudian upgrade tentang kedisiplinannya, upgrade tentang kepeduliannya terhadap siswanya di sini dan yang kita inginkan semua guru di sini tidak hanya berperan mengajar saja tapi di luar kelas mereka juga harus punya peran jadi tidak hanya sekedar mendidik tapi juga mentarbiyah dia sebagai murobi yang paling penting disitu. Kalau bisa dikatakan pelanggaran santri itu jarang sekali kita dapatkan di kelas tapi hampir semua itu di luar kelas. Misal ada santri yang keluar tanpa ijin dan seterusnya kalau secara umum di dalam kelas itu tidak.Tapi kalau di dalem kelas itu ya santri tidur misalnya atau ngantuk atau datang terlambat kurang lebih seperti itu. Jadi guru harus diupgrade terus terutama tentang masalah administrasi karena memang diantara sedikit kelemahan kalau alumni-alumni pesantren kemudian alumni universitas Islam ya kayak dari Uni Emirat ya memang terkadang mengisi administrasi mereka kurang, jadi kita ajari seperti membuat promes, silabus atau apa mereka awam masalah itu maka kita ajari walaupun promes silabusnya ala pesantren bukan ala lembaga umum yang lain.
Solusi yang dilakukan dalam menangani hambatan perbedaan pandangan suatu buku adalah dengan cara bertanya dengan ustad (pengajar putra) yang lebih senior dan lebih berpengalaman dalam mengajar serta menrujuk pada buku yang lebih valid lagi.
b. Solusi Yang Dilakukan Saat Ada Kendala Dalam Pelaksanaan Pembelajaran Sejarah Kebudayaan Islam Di Pondok Pesantren Imam Bukhori
Berdasarkan observasi yang dilakukan, saat santri mulai jenuh dan mengantuk ustazah akan memberi jeda untuk istirahat sebentar meski hanya di tempat duduk.
Kegiatan merefresh yang dilakukan oleh ustazah di kelas IX A adalah dengan memberikan cerita yang masih bertemakan ke Islaman. Cerita tersebut mengandung nilai-nilai positif yang dapat dicontoh dan juga dapat menyegarkan santri karena ada cerita yang lucu. Sedangkan untuk di kelas VII D meski dilaksanakan di jam terakhir, mereka tidak terlihat kelelahan dan mengantuk karena ustazah memberikan kesempatan kepada santri untuk menceritakan kembali apa yang telah dipelajari. Saat
ini terjadi santri sedikit gaduh untuk saling mendesak teman yang akan bercerita di depan kelas. Solusi di kelas IL sendiri saat santri mengantuk adalah dengan meminta santri wudhlu agar segar kembali.
Tindakan yang dilakukan oleh ustazah agar santri tidak lupa dengan tahun peristiwa adalah dengan menanyakan kembali materi yang telah dijelaskan sebelum membuka materi yang baru.
c. Solusi Yang Dilakukan Saat Ada Kendala Evaluasi Pembelajaran Sejarah Kebudayaan Islam Di Pondok Pesantren Imam Bukhori
Kesalah pahaman yang terjadi antara pihak pengajar putra maupun putri saat ujian akhir semester terkait dengan soal evaluasi biasanya disampaikan kepada pihak pengajaran putri yang nanti akan disampaikan pada rapat umum. Kritik ini nanti yang akan dijadikan bahan evaluasi oleh pihak kurikulum dalam menentukan target belajar Sejarah Kebudayaan Islam.
B. Pembahasan
1. Kurikulum Sejarah Kebudayaan Islam Di Pondok Pesantren Imam Bukhori Pondok pesantren adalah jenis lembaga pendidikan tertua di Indonesia yang bernafaskan agama, yaitu agama Islam. Pondok pesantren memiliki ciri khusus yang membedakan dengan lembaga pendidikan Islam yang lain, yaitu adanya pembelajaran kitab kuning. Pada awal mulanya pesantren merupakan tempat belajar agama saja termasuk mempelajari kitab kuning yang siswanya bermukim di sekitar pesantren. Hal ini dikarenakan siswa yang belajar berasal dari wilayah yang jauh. Untuk itu mereka akan bermukim di rumah-rumah sekitar yang disebut pondok. Pada akhir abad ke XIX dan awal abad XX pesantren mulai bercampur dengan madrasah. Model sistem pendidikan pondok pesantren dan kombinasi ini mulai berkembang di wilayah Timur Tengah pada abad yang sama dan pengaruhnya sampai ke Indonesia melalui alumni- alumni yang belajar ke sana (Saifuddin, 2015:225). Hal ini tentunya menambah keanekaragaman jenis pondok pesantren.
Jenis-jenis pesantren seiring dengan perkembangan zaman telah mengalami perkembangan. Berdasarkan jenis-jenis pesantren yang telah dipaparkan dalam bab dua oleh penulis, dapat dianalisis bahwa pondok pesantren Imam Bukhori merupakan jenis pondok pesantren dengan tipe komprehensif. Menurut Ghazali (2001:14), tipe komprehensif adalah pesantren yang sistem pendidikan dan pengajarannya merupakan percampuran antara tradisional dan modern. Pendidikan diterapkan dengan pengajaran kitab kuning dengan metode sorogan, bandongan, dan wetonan yang biasanya diajarkan pada malam hari sesudah salat magrib dan sesuadah sholat subuh. Proses poembelajaran sistem klasikal dilaksanakan pada pagi sampai siang hari seperti di madrsah/sekolah pada umumnya.
Pondok pesantren Imam Bukhori memenuhi syarat dikatakan sebagai pondok pesantren tipe komprehensif karena pesantren ini masih memegang teguh pengkajian kitab-kitab klasik atau kitab kuning tetapi tidak menjadikan kitab klasik sebagai pedoman kelulusan santri. Pengkajian kitab klasik inilah yang mencirikan pesantren sebagai pesantren salafi atau salafiyah. Salafi atau salafiyah ternyata memiliki pengertiann yang berbeda di dalam masyarakat Islam. Salafiyah diartikan sebagai pesantren tradisional yang mengkaji kita-kitab syafi’iyah dalam bidang usul fikih dan fikih, kitab-kitab Asy’ariyah dan Maturidiyah dalam bidang tauhid dan kitab-kitab Al- Gazali dalam bidang filsafat dan tasawuf. Mayoritas pesantren ini didirikan oleh Nahdlatul Ulama. Pesantren salafi dimaknai sebagai pesantren yang secara konsisten mengikuti ajaran ulama generasi sahabat, tabi’in, tabi’at tabi’in yang memiliki kecenderungan pada penafsiran teks secara normatif (literal) dan kurang mengapresiasi budaya setempat (Arifin, 2015:354).
Hasil wawancara juga menunjukkan bahwa kurikulum yang digunakan mengadopsi dari Timur Tengah dengan berpedoman pada ulama-ulama salaf.
Pesantren ini juga mengabaikan kebudayaan yang ada di Indonesia misalnya perayaan maulud Nabi atau kelahiran Nabi di pesantren tidak melakukan perayaan tersebut.
Sehingga ketika ada perayaan hari besar Islam yang dirayakan dengan tradisi
setempat, pesntren Imam Bukhori tidak ikut merayakan perayaan tersebut. Akan tetapi, kepemimpinan dalam pondok pesantren Imam Bukhori sudah tidak lagi bergantung pada kemampuan kiai. Hidup dan matinya pesantren tidak bergantung pada kyai.Kepemimpinan pesantren dipegang oleh kepala sekolah yang dipilih sesuai kemampuan.Kepemimpinan kepala sekolah juga tidak mutlak. Dalam mengambil keputusan, kepala sekolah akan musyawarah terlebih dahulu dengan modir dan jajaran yang lain.
Ciri tersebut tentunya mencirikan pesantren khalafiyah yang mana pola kepemimpanannya kolektif-demokratis sehingga tugas dan wewenang sudah terdeskripsi secara jelas yang dapat dilihat dalam lampiran struktur organisasi. Hal ini berdampak pada tidak adanya pemusatan pada figur kiai dalam mengambil keputusan.
Sistem yang digunakan adalah sistem klasikal, dan evaluasi yang digunakan telah memiliki standar yang jelas dan modern.
Meski disebut sebagai pesantren komprehensif, pesantren Imam Bukhori ini dalam melaksanakan pelajaran umum menggunakan kurikulum yang ditetapkan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan yaitu KTSP. Sedangkan pada pelajaran agama, tidak dikenal pengertian kurikulum dalam pengertian umum pendidikan formal tetapi kurikulum dalam pelajaran agama disebut juga sebagai manhaj. Manhaj diartikan sebagai arah pembelajaran tertentu. Manhaj dalam pondok pesantren salafiyah ini tidak dalam bentuk jabaran silabus, tetapi berupa funun kitab-kitab yang diajarkan pada para santri. Kitab ini harus dipelajari sampai tuntas, sebelum dapat naik jenjang ke kitab lain yang lebih tinggi kesulitannya. Dengan demikian, masa tamat program pembelajaran tidak diukur dengan satuan waktu tetapi diukur berdasarkan ketuntasan menguasai kitab yang sudah ditetapkan. (Saifuddin, 2015:221)
Kurikulum Sejarah Kebudayaan Islam yang diterapkan di pondok pesantren Imam Bukhori dapat dikatergorikan sebagai manhaj. Manhaj ini ditulis secara tertulis yang kemudian oleh pondok pesantren dimaknai sebagai silabus model pondok
pesantren Imam Bukhori. Silabus model pondok pesantren Imam Bukhori ini berisikan sub bab dalam setiap pertemuan lengkap dengan indikator, metode mengajar, halaman dalam kitab, serta contoh soal untuk evaluasi disetiap akhir pertemuan. Sehingga sub bab yang ada dalam silabus ini berisikan materi yang ada dalam kitab yang digunakan untuk mengajar dan target yang harus diselesaikan oleh pengajar maupun santri.Fungsi silabus ini sendiri juga untuk membatasi materi agar tidak meluas. (silabus terlampir)
Manhaj atau silabus model pondok pesantren Imam Bukhori ini disusun juga berdasarkan kondisi santri. Sehingga tidak semua kitab klasik dibebankan kepada santri dan menjadi tolak ukur kenaikan kelas. Untuk kenaikan kelas maupun kelulusan santri, tidak berdasarkan pada kemampuan penguasaan kitab saja. Pelaksanaan pembelajaran juga dibatasi oleh waktu bukan penguasaan kitab. Pada pondok pesantren Imam Bukhori diterapkan kalender akademik dan untuk mengatur pembagian materi disusunlah program semester.
Program semester disusun oleh guru-guru yang mengajar sesuai materi yang diajarkan. Guru dalam pesantren disebut sebagai ustazah. Ustazah akan membuat program semester yang nanti disahkan bagian pengajaran putri. Dalam membuat program semester, ustazah ini menggunakan pedoman manhaj yang telah disusun oleh pihak kurikulum yang dijabat oleh ustad pondok putra. Manhaj ini merupakan sub bagian dari kurikulum.Sebagai lembaga pendidikan Islam, kurikulum disusun berdasarkan ciri-ciri kurikulum pendidikan Islam itu sendiri. Kurikulum Sejarah Kebudayaan Islam sudah memenuhi karakteristiknya sebagai kurikulum pendidikan Islam, hal ini sesuai dengan karakteristik kurikulum pendidikan Islam menurut al- Shaibani yang dikutip oleh Shulhan dan Soim (2013:45-46) sebagai berikut:
1) Kurikukulum pendidikan Islam harus mewujudkan tujuan pendidikannya dan materi pelajarannya. Untuk pelajaran agama dan akhlak harus diambil dari Al- Qur’an dan al-Hadist serta contoh-contoh suri teladan dari tokoh-tokoh
terdahulu yang baik. Saat pelaksanaan pembelajaran, ustazah menggunakan Al-Qur’an dan al-Hadist sebagai sumber belajar lain selain buku pegangan guru. Selain itu, ustazah juga memberikan contoh suri teladan yang baik dengan menceritakan sebuah kisah yang dapat diambil hikmahnya. Kisah dalam materipun juga ditekankan hikmah yang dapat diambil oleh santri.
2) Kurikukulum pendidikan Islam sangat memperhatikan pengembangan menyeluruh tentang aspek pribadi siswa, yaitu dari segi intelektual, psikologis, sosial, dan spiritual. Kurikulum memperhatikan betul kondisi intelektual santrinya hal ini dapat dilihat dari pelaksanaan pembelajaran Sejarah Kebudayaan Islam. Dalam menerapkan bahasa Arab sebagai bahasa pengantar, porsi penggunaan bahasanya berbeda setiap jenjang tingkatannya. Materi yang disampaikanpun juga memperhatikan tingkatan santri. Penyampaian materi pun masih menggunakan bahasa Indonesia serta komunikasi dengan sesama santri masih diperbolehkan menggunakan bahasa Indonesia.
3) Kurikulum pendidikan Islam memperhatikan keseimbangan antara pribadi dengan masyarakat, dunia dan akhirat, jasmani dan rohani. Keseimbangan itu tentunya bersifat relatif karena tidak dapat diukur secara obyeketif.
4) Kurikulum pendidikan Islam juga memperhatikan seni halus, yaitu seni ukir, pahat, lukis, tulis indah, dan sejenisnya. Selain itu juga memperhatikan jasmani, latihan militer, latihan ketrampilan dan bahasa asing. Sekalipun ini semua diberikan perseorangan tetapi secara efektif berdasarkan minat, bakat, dan kebutuhan. Untuk itu pondok pesantren juga memfasilitasi para santri dengan kegiatan ekstra kurikuler yang dapat diikuti santri sesuai dengan minat dan bakatnya.
5) Kurikulum pendidikan Islam juga memperhatikan perbedaan-perbedaan kebudayaan di tengah masyarakat, baik itu kaitannya dengan kebutuhan dan masalah-masalah yang dihadapi masyarakat, keluwesan serta menerima perkembangan dan perubahan. Kurikulum pendidikan Islam juga memiliki