Pendidikan Keluarga Menurut Al-Qur’an Surat At-Tahrim Ayat 6
Rohinah
Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
Email: [email protected]
Abstrak
Keluarga sebagai entitas masyarakat terkecil dalam kehidupan berbangsa dan bernegara sesungguhnya memiliki peran dan fungsi yang tidak bisa diabaikan. Dari kehidupan keluarga itulah manusia hidup dan berkembang secara jasmani dan ruhani. Kehidupan manusia pada masa-masa selanjutnya sangat ditentukan dari kehidupan keluarga yang didapatkan. Oleh karena itu, dalam dunia pendidikan, pendidikan keluarga merupakan fondasi utama sebagai pembentuk moral anak bangsa. Karena sesungguhnya pendidikan moral dalam Islam harus dimulai sejak dini. Dan pendidikan moral juga merupakan asas yang dipertimbangkan bagi pembinaan keluarga yang kokoh dan harmonis. Oleh karena itu, Al-Qur’an sebagai landasan utama pendidikan Islam memberikan isyarat bahwa pendidikan moral inilah yang menjamin terwujudnya keluarga islam yang kuat, yang penuh warna rasa cinta dan menjamin terbentuknya seorang manusia yang sehat tubuh, akal, dan jiwanya.
Kata Kunci: Al-Qur’an, Keluarga, Pendidikan Moral
Abstract
The family as the smallest public entities in the life of the nation actually has a role and a function that can not be ignored.The family as the smallest public entities in the life of the nation actually has a role and a function that can not be ignored. Of family life that humans live and develop physical and spiritual. Human life in the later period is determined from family life gained. Therefore, in education, family education is the main foundation of the nation as a moral forming. Because the real moral education in Islam should start early. And moral education is also a principle to be considered for fostering a strong and harmonious family. Therefore, the Qur’an as the main foundation of Islamic education gives a hint that this is the moral education that guarantees the establishment of Islamic family strong, colorful love and ensure the establishment of a healthy human body, mind, and soul.
Keywords: Al-Qur’an, Family, Moral Education
A. Pendahuluan
Keluarga merupakan fondasi utama dalam rangka pembentukan anak.
Karena sesungguhnya dalam Islam pun menegaskan bahwa anak yang baru terlahir ke dunia membawa fitrah kesucian yang bisa dibentuk oleh kedua orang tuanya untuk menjadi yahudi, nasrani, maupun majusi. Mengingat peran penting keluarga dalam rangka membentuk setiap anak tumbuh menjadi manusia-manusia yang berkualitas tersebut, maka sesungguhnya pendidikan dalam keluarga menjadi elan vital yang tidak bisa diabaikan.
Di era kekinian yang semakin rentan terhadap merosotnya nilai-nilai moral yang diperankan anak-anak di sekitar kita, semakin menyadarkan seluruh elemen masyarakat untuk mengembalikan ruang tanggungjawab yang harus diemban siapa sesungguhnya yang dapat mengentaskan keruntuhan moral anak-anak kita. Banyak tudingan mengarah kepada system pendidikan kita yang minim nilai-nilai agama dan moral, sekolah yang hanya memprioritaskan aspek akademik-kognitif semata, ada pula yang menuding lemahnya kontrol sosial pada masyarakat modern, arus media yang tak mampu dibendung, hingga kebijakan birokrasi yang lemah hukum, sampai pada elit politik yang tak mampu menjadi teladan bangsa.
Sesungguhnya perdebatan kita sudah cukup jauh mengarah kepada semua elemen dari berbagai aspeknya, namun sejatinya kita cenderung mengabaikan aspek terpenting dalam upaya mengentaskan problem kehidupan yang menjadi fondasi utama, yakni keluarga.
Oleh karena itu, pendidikan moral dalam islam harus dimulai sejak dini sekali. Pada dasarnya, ia merupakan asas yang dipertimbangkan bagi pembinaan keluarga yang kokoh dan harmonis. Sesungguhnya pendidikan moral inilah yang menjamin terwujudnya keluarga islam yang kuat, yang penuh warna rasa cinta dan menjamin terbentuknya seorang manusia yang sehat tubuh, akal, dan jiwanya.1
Dengan demikian, pembahasan makalah ini akan memfokuskan pada kajian pendidikan keluarga dalam perspektif al-Qur’an dan Hadist. Karena
1 Syaikh M. Jamaluddin Mahfuzh,Psikologi Anak dan Remaja Muslim, (Pustaka Al- Kautsar), hal. 91
sesungguhnya tidak ada keraguan sedikitpun bahwa dalam kedua sumber ajaran Islam yang otoritatif inilah semua persoalan kehidupan mampu terjawab secara akurat dan komprehensif.
B. Memahami Makna Keluarga
Dalam islam, keluaga dikenal dengan istilah Usrah, Nasl, ‘ali, dan Nasb.
Keluarga dapat diperoleh melalui keturunan, perkawinan, persusuan dan pemerdekaan.2
Kecenderungan manusia untuk berkeluarga sesungguhnya merupakan naluri yang diwariskan secara genetika agar kelangsungan kehidupan umat manusia dapat terus lestari. Namun syari’at Islam tentu memiliki tata aturan hukum yang mengatur kecenderungan naluri agar tidak dibiarkan berkembang secara liar dan tidak bermartabat dengan jalan pernikahan.
Sehingga pernikahan yang sah menurut syari’at itulah merupakan awal dari pembentukan keluarga yang harmonis.
Keluarga harmonis pada umumnya diartikan sebagai keluarga yang anggota-anggotanya saling memahami dan menjalankan hak dan kewajibannya sesuai dengan fungsi dan kedudukan masing-masing, serta berupaya saling memberi kedamaian, kasih saying, dan berbagi kebahagiaan.3
Dalam al-Qur’an istilah yang digunakan untuk menunjuk keluarga harmonis adalah keluarga sakinah, yaitu keluarga yang dibangun di atas dasar mawaddah dan rahmah. Sebagaimana disebutkan dalam surat ar-Rum /30:21;
ًةَّدَوَم ْمُكَنْيَب َلَعَجَو اَهْيَلإ� �وُنُك ْسَتِل اًج�َوْزأ� ْمُك ِسُفْنأ� ْنِم ْمُكَل َقَلَخ ْنأ� ِهِت َيآ� ْنِمَو
َنو ُرَّكَفَتَي ٍمْوَقِل ٍت َيآل َكِلَذ يِف َّنإ� ًةَمْحَرَو
2 Muhaimin, dkk, 1993, “ Pemikiran Pendidikan Islam , (Bandung : Trigenda Karya), hal.136
3 Lajnah Pentashhihan Mushaf al-Qur’an, Tafsir Al-Qur’an Tematik, Jilid 2, (Jakarta:
Kamil Pustaka, 2014), hal. 3
Artinya : “Dan di antara ayat-ayat-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu merasa nyaman kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu mawadah dan rahmah. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir” [Ar- Rum 21].
Pertama, kata sakinah berasal dari sakana yang berarti ketenangan atau kedamaian. Menurut Ibnu Abbas bahwa semua kata sakinah dalam al-Qur’an mempunyai makna tenteram, damai, tenang (tuma’ninah).
Pendapat ini juga diperkuat oleh argument Ar-Razi yang mengatakan bahwa ketenangan yang dimaksud dalam ayat di atas adalah ketenangan yang bersemayam dalam hati karena struktur kalimatnya menggunakan preposisi ila’ (sakana ilaa..), sementara jika mengacu pada makna tempat (fisik) maka preposisi yang digunakan adalah ‘inda (sakana ‘inda).4
Kedua, mawadah adalah perasaan ingin bersatu atau bersamaa. Imam As-Sayuthi (w. 911 H) dalam Tafsir Dur Mantsur (11/595) dari riwayat Ibn Al-Mundzir dan Ibn Abi Hatim, dari Al-Hasan rahimahullahu tentang firman Allah : “.. dan dijadikan-Nya di antaramu mawadah”, beliau berkata,
“al-jima”. Demikian pula menurut Mujahid dan Ikrimah, sebagaimana dituliskan Imam Ibn Hayan Al-Andalusi (w. 745 H) dalam Tafsir Al-Bahr Al-Muhyith (9/77) dan lainnya.
Dalam jima (persetubuhan) memang secara lahir bisa terwujud kebersamaan, dengan suatu perjanjian yang terkuat yaitu nikah (Qs. an- Nisaa’ 21). Rasulullah shallallahu’alaihi wasalam bersabda:
ِحاَكِّنل� َلْثِم ِنْيَّباَحَتُمْلِل َرَن ْمَل
Artinya: “Tidak ada yang bisa dilihat (lebih indah/lebih baik oleh) orang-orang yang saling mencintai seperti halnya pernikahan”.
Al-Qur’an juga menegaskan hubungan antara mawadah dan keinginan bersama,
4 Lajnah Pentashhihan Mushaf al-Qur’an, Tafsir Al-Qur’an, hal. 4-5
يِنَتْيَل َي ٌةَّدَوَم ُهَنْيَبَو ْمُكَنْيَب ْنُكَت ْمَل ْنأ�َك َّنَلوُقَيَل ِهَّلل� َنِم ٌل ْضَف ْمُكَبا َصأ� ْنِئَلَو اًمي ِظَع �ًزْوَف َزوُفأ�َف ْمُهَعَم ُتْنُك
Artinya: “Dan sungguh jika kamu beroleh karunia (kemenangan) dari Allah, tentulah dia mengatakan seolah-olah belum pernah ada mawadah antara kamu dengan dia: “Wahai, kiranya saya ada bersama-sama mereka, tentu saya mendapat kemenangan yang besar (pula)” [An-Nissa 73].
Lihat pula dalam surat Al-Ma’idah ayat 82-83, tentang doa orang- orang yang memiliki mawadah:
َنيِدِها َّشل� َعَم اَنْبُتْكاَف اَّنَمآ� اَنَّبَر
Artinya: “Ya Tuhan kami, kami telah beriman, maka catatlah kami bersama orang-orang yang menjadi saksi (atas kebenaran Al Qur’an dan kenabian Muhammad shallallahu’alaihi wasalam )”.
Ketiga, al-mahabah (
ةبلمح�
). Ibn Katsir (w. 774 H) dalam Tafsirnya (6/309) tentang ayat, “…dan dijadikan-Nya di antaramu mawadah…”. Beliau berkata,“(yaitu) al-mahabah”. Seperti itu yang dikutip Imam Al-Qurthubi (w. 671 H) dalam Tafsir (14/17), dari perkataan Ibn Abbas radhiyallahu’anhu. Ada yang mengartikan al-mahabah, sebagai perasaan yang membuat buta untuk selain dia dan tuli bagi selain dia. Seperti dalam satu hadits:
ُّم ِصُيَو ىِمْعُي َء ْى َّشل� َكُّبُح
Artinya: ‘Kecintaanmu kepada sesuatu membuat buta dan tuli’.
Keempat, rahmah dalam ayat diatas:
ًةَمْح َرَو ًةَّدَوَم ْمُكَنْيَب َلَعَجَو…
Artinya: “… dan dijadikan-Nya di antaramu mawadah dan rahmah”.
Rahmah adalah kasih sayang dan kelembutan, timbul terutama
karena ada ikatan. Seperti cinta antar orang yang bertalian darah, cinta orang tua terhadap anaknya, atau sebaliknya. Sebagaimana tafsir yang disebutkan Imam As-Sayuthi (w. 911 H) dalam Tafsir Dur Mantsur (11/595), riwayat Ibn Al-Mundzir dan Ibn Abi Hatim, dari Al-Hasan rahimahullau tentang firman Allah: “…dan rahmah”, Al-Hasan berkata, “al-walad (anak)”.
Demikian pula menurut Mujahid dan Ikrimah, sebagaimana dituliskan Imam Ibn Hayan Al-Andalusi (w. 745 H) dalam Tafsir Al-Bahr Al-Muhyith (9/77) dan lainnya.5
Dengan dasar sakinah, mawaddah, dan rahmah, itulah sesungguhnya sebagai pra syarat untuk menjadikan keluarga yang harmonis dan bertanggungjawab terhadap tugas-tugas dan kewajiban yang harus dijalankan sebagai bentuk amanah dalam kehidupan berkeluarga.
Menurut Hery Noer Ali yang dikutip oleh A. Fatah Yasin tanggung jawab keluarga dibagi menjadi tiga bagian:6
1. Keluarga memberikan suasana emosional yang baik bagi anak-anak seperti perasaan senang, aman, sayang dan perlindungan,
2. Mengetahui dasar-dasar pendidikan, terutama berkenaan dengan kewajiban dan tanggung jawab orang tua terhadap pendidikan anak serta tujuan dan isi pendidikan yang diberikan kepadanya,
3. Bekerja sama dengan pusat-pusat pendidikan diluar lingkungan keluarga.
Semua tanggung jawab tersebut bertujuan untuk memelihara dan mengembangkan kemanusiaan anak, memenuhi keinginan Islam terhadap anak, mengerahkan anak agar mempunyai arti bagi orang tuanya.
Adapun fungsi keluarga di antaranya; fungsi keagamaan yaitu mengacu pada perintah agama untuk membina keluarga, fungsi biologis yaitu keluarga member kesempatan untuk tumbuh dan berkembang secara sehat dengan cara keluarga menjadi tempat untuk dapat memenuhi kebutuhan primer anggotanya, fungsi ekonomis yaitu masing-masing anggota keluarga
5 https://marlansarjanamuda.wordpress.com/about/tafsiran-surat-ar-rum-ayat-21- tentang-keluarga-sakinah/. Diakses pada tanggal 15 Januari 2015
6 A. Fatah Yasin, Dimensi-dimensi Pendidikan Islam, (Malang: UIN-Malang Press, 2008), hal. 204
dapat mengatur dan menyesuaikan diri antara pemenuhan kebutuhan dengan ketersediaan sumber-sumber keluarga, secara efektif dan efisien, fungsi pendidikan yaitu keluarga harus menjadi lembaga pertama dan utama yang memberikan pendidikan nilai-nilai agama dan budaya, fungsi sosial yaitu keluarga mempunyai tugas untuk mengantarkan anggotanya ke dalam kehidupam masyarakat luas, fungsi komunikasi yaitu keluarga harus menjamin komunikasi berjalan lancar, sehat, dan beradab antar-sesama anggota keluarga, fungsi penyelamatan yaitu keluarga agar senantiasa memperhatikan kualitas generasi berikutnya.7
C. Tafsir Surat At-Tahrim ayat 6
اَهْيَلَع ُةَراَجِحْل�َو ُساَّنل� اَهُدوُقَو �ًر َن ْمُكيِلْهأ�َو ْمُك َسُفْنأ� �وُق �وُنَمآ� َنيِذَّل� اَهُّيأ� َي
َنو ُرَمْؤُي اَم َنوُلَعْفَيَو ْمُهَرَمأ� اَم َهَّلل� َنو ُصْعَي َل ٌد�َد ِش ٌظ َلِغ ٌةَكِئ َلَم
Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS. 66:6)
Lafaz qu adalah fiil amar yang berarti peliharalah atau jagalah. Kata qu diderivasi dari kata waqaa yang berarti memelihara atau menjaga. Menjaga diri sendiri bermakna menjaga jasmani maupun rohaninya agar tumbuh dan berkembang dengan baik.8
Ayat tersebut menunjukkan bahwa pendidikan dan dakwah dimulai dari lingkungan keluarga sebagai pendidik utama dan pertama untuk anak-anak. Oleh karena itu peran keluarga dalam pendidikan anak cukup sentral dan sangat strategis.
Ayat di atas walau secara redaksional tertuju kepada kaum pria (ayah), tetapi itu bukan berarti hanya tertuju kepada mereka. Ayat ini tertuju kepada
7 Lajnah Pentashhihan Mushaf al-Qur’an, Tafsir Al-Qur’an, hal. 5-6
8 Muh.Anis, Tafsir Ayat-Ayat Pendidikan, (Yogyakarta: Mentari Pustaka, 2012), hal. 228
perempuan dan lelaki (ibu dan ayah) sebagaimana ayat-ayat yang serupa (misalnya ayat yang memerintahkan puasa) yang juga tertuju kepada lelaki dan perempuan. Ini berarti kedua orangtua bertanggung jawab terhadap anak-anak dan juga pasangan masing-masing sebagaimana masing-masing bertanggungjawab atas perbuatan dan perilakunya. Ayah atau ibu sendiri tidak cukup untuk menciptakan satu rumah tangga yang diliputi oleh nilai- nilai agama serta dinaungi oleh hubungan yang harmonis.
1. Tafsir Al-Mishbah
Ayat diatas memberi tuntunan kepada kaum beriman bahwa : Hai orang-orang yang beriman, peliharalah diri kamu, antara lain dengan meneladani Nabi dan pelihara juga keluarga kamu yakni istri, anak- anak, dan seluruh yang berada di bawah tanggung jawab kamu dengan mendidik dan membimbing mereka agar kamu semua terhindar dari apineraka yang bahan bakarnya adalah manusia-manusia yang kafir dan juga batu-batuantara lain yang dijadikan berhala-berhala.
Di atasnya yakni yang menangani neraka itu dan bertugas menyiksa penghuni-penghuninya adalah malaikat-malaikat yang kasar-kasar hati dan perlakuannya.
Yang keras-keras perlakuannya dalam melaksanakan tugas penyiksaan, yang tidak mendurhakai Allah menyangkut apa yang Dia perintahkan kepada mereka sehingga siksa yang mereka jatuhkan – kendati mereka kasar- tidak kurang dan tidak juga berlebih dari apa yang diperintahkan Allah, yakni sesuai dengan dosa dan kesalahan masing-masing penghuni neraka dan mereka juga senantiasa dan diri saat ke saat mengerjakan dengan mudah apa yang diperintahkan Allah kepada mereka.9
2. Tafsir Ibnu Katsir
Mengenai firman Allah subhanahu wa ta’ala,
ْمُكيِلْهأ�َو ْمُك َسُفْنأ� �وُق
�ًر َن
“Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api Neraka”, Mujahid(Sufyan As-Sauri mengatakan, “Apabila datang kepadamu suatu
9 M.Quraish Shihab, Tafsir Al-Misbah, (Jakarta: 2003, Lentera hati), cet-1, hal:326-327
tafsiran dari Mujahid, hal itu sudah cukup bagimu”) mengatakan :
“Bertaqwalah kepada Allah dan berpesanlah kepada keluarga kalian untuk bertaqwa kepada Allah”. Sedangkan Qatadah mengemukakan : “Yakni, hendaklah engkau menyuruh mereka berbuat taat kepada Allah dan mencegah mereka durhaka kepada-Nya. Dan hendaklah engkau menjalankan perintah Allah kepada mereka dan perintahkan mereka untuk menjalankannya, serta membantu mereka dalam menjalankannya. Jika engkau melihat mereka berbuat maksiat kepada Allah, peringatkan dan cegahlah mereka.”
Demikian itu pula yang dikemukakan oleh Adh Dhahhak dan Muqatil bin Hayyan, dimana mereka mengatakan : “Setiap muslim berkewajiban mengajari keluarganya, termasuk kerabat dan budaknya, berbagai hal berkenaan dengan hal-hal yang diwajibkan Allah Ta’ala kepada mereka dan apa yang dilarang-Nya.”
3. Tafsir dari Departemen Agama Pemerintah Indonesia
Dalam ayat ini firman Allah ditujukan kepada orang-orang yang percaya kepada Allah dan rasul-rasul-Nya, yaitu memerintahkan supaya mereka, menjaga dirinya dari api neraka yang bahan bakarnya terdiri dari manusia dan batu, dengan taat dan patuh melaksanakan perintah Allah, dan mengajarkan kepada keluarganya supaya taat dan patuh kepada perintah Allah untuk menyelamatkan mereka dari api neraka.10
4. Asbabun Nuzul
Diriwayatkan bahwa ketika ayat ke 6 ini turun, Umar berkata:
“Wahai Rasulullah, kami sudah menjaga diri kami, dan bagaimana menjaga keluarga kami?” Rasulullah SAW. menjawab: “Larang mereka mengerjakan apa yang kamu dilarang mengerjakannya dan perintahkanlah mereka melakukan apa yang Allah memerintahkan kepadamu melakukannya. Begitulah caranya meluputkan mereka dari api neraka. Neraka itu dijaga oleh malaikat yang kasar dan keras,
10 Departemen Agama, Terjemah/Tafsir al-Qur’anul Karim, (Semarang: CV Wicaksana, 1993), hal. 1006-1007
mereka dikuasakan mengadakan penyiksaan di dalam neraka, tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepadanya.
Beberapa pelajaran yang dapat diambil dari surat at-tahrim ayat 6:
a) Perintah Taqwa Kepada Allah SWT dan berdakwah
Dalam ayat ini firman Allah ditujukan kepada orang-orang yang percaya kepada Allah dan rasul-rasul-Nya, yaitu memerintahkan supaya mereka, menjaga dirinya dari api neraka yang bahan bakarnya terdiri dari manusia dan batu, dengan taat dan patuh melaksanakan perintah Allah, dan mengajarkan kepada keluarganya supaya taat dan patuh kepada perintah Allah untuk menyelamatkan mereka dari api neraka.
Api neraka disediakan bagi para kafir / pendurhaka yang tidak mau taat kepada Allah dan yang selalu berbuat maksiat.
Oleh karena itu kita diwajibkan oleh Allah untuk taat kepada- Nya supaya selamat daripada siksa-Nya. Caranya membina diri kita terlebih dahulu dalam mendalami akidah dan adab islam kemudian setelah kita mampu melaksanakan maka kita wajib mendakwahkan kepada yang lain yaitu orang-orang terdekat kita / keluarga yaitu orang tua, istri, anak, adik, kakak dan karib kerabat sebagaimana dijelaskan dalam surat Asy-Syu’ara ayat 214;
َنيِبَرْقأ ْل� َكَتَري ِشَع ْرِذْنأ�َو
Artinya: Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat.
(Q.S Asy Syu’ara’: 214).
b) Anjuran menyelamatkan diri dan keluarga dari api neraka
Banyak sekali amalan shalih yang menjadikan seseorang masuk surga dan dijauhkan dari api neraka, misalnya bersedekah, berdakwah, berakhlaq baik, saling tolong menolong dalam kebaikan dan sebagainya. Di antara cara menyelamatkan diri dari api neraka itu ialah mendirikan shalat dan bersabar sebagaimana firman Allah SWT;
اَهْيَلَع ْرِب َط ْص�َو ِة َل َّصل ِب َكَلْهأ� ْرُمأ�َو
Artinya: Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan salat dan bersabarlah kamu mengerjakannya (Q.S Taha: 132).
.c) Pentingnya pendidikan islam sejak dini
Anak adalah aset bagi orang tua dan di tangan orangtualah anak- anak tumbuh dan menemukan jalan-jalannya. Banyak orang tua
“salah asuh” kepada anak sehingga perkembangan fisik yang cepat diera globalisasi ini tidak diiringi dengan perkembangan mental dan spiritual yang benar kepada anak sehingga banyak prilaku kenakalan- kenalakan oleh para remaja, dalam hadits Rasulullah SAW :
“Setiap anak itu dilahirkan dalam keadaan fitrah, maka hanya kedua orang tuanyalah yang akan menjadikannya seorang yahudi atau seorang nasrani atau seorang majusi”. (HR.Bukhari)
D. Kontekstualisasi Ayat dalam Pendidikan Keluarga
Pendidikan keluarga sesungguhnya tidak bisa diabaikan dalam menentukan keberhasilan anak di masa depan. Keluarga tidak hanya berugas mendidik anak-anak, tetapi sekaligus memerankan anak supaya menjadikan diri, menyesuaikan diri, mencontohkan pola dan tingkah laku orang tua dan masyarakat sekitar.11 Oleh karena itu, Zakiyah Daradjat memandang ayah, ibu, dan seluruh anggota keluarga berperan penting dalam proses pembentukan dan pengembangan pribadi.12
Pendidikan keluarga termasuk dalam jalur pendidikan luar sekolah merupakan salah satu upaya mencerdaskan kehidupan bangsa melalui pengalaman seumur hidup. Pendidikan dalam keluarga memberikan keyakinan agama, nilai budaya yang mencakup nilai moral dan aturan- aturan pergaulan serta pandangan, keterampilan, dan sikap hidup yang mendukung kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara kepada anggota keluarga yang bersangkutan.13
Menurut Wahbah Al-Zuhaily, surat at-Tahrim ayat 6 ini maksudnya menyuruh mendidik dan mengajar diri sendiri dan keluarga serta menjadikannya terjaga dari siksa neraka. Ayat ini juga menyuruh untuk selalu menjalankan perintah dan meninggalkan semua larangan. Seorang anak harus dididik dan diperintah untuk taat kepada Allah dan melarang mereka dari berbuat jahat (maksiat), diberi nasehat sehingga tidak melakukan perbuatan yang menyebabkan masuk neraka.14
Dalam surat at-Tahrim ayat 6 ini menurut hemat penulis paling tidak ada dua hal yang menjadi titik point dalam pembahasan ini. Pertama, pendidikan keteladanan. Hal ini sebagaimana dicantumkan dalam redaksi
“quu anfusakum” yang bermakna jagalah dirimu. Sebelum seseorang
11 Nur Ahid, Pendidikan Keluarga dalam Perspektif Islam (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2010), hal. 4.
12 Zakiyah Daradjat, Ilmu Pendidikan Islam (Jakarta: Bina Aksara, 1991), hal.35.
13 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional, Pasal 27.
14 Wahbah ibn Mustafa al-Zuhaily, Tafsir al-Munir fi al-‘Aqidah wa al-Syari’ah wa al-Manhaj (Damsyiq: Dar al-Fikr al-Mu’asir, 1418H), juz 28, hal. 316.
mengajarkan kepada orang lain, maka sesungguhnya harus lebih dulu membelajarkan kepada diri sendiri. Maka unsur keteladanan dalam diri pengajar menjadi hal yang utama dan pertama. Dalam konteks pendidikan keluarga, orang tua merupakan model yang sangat besar pengaruhnya terhadap perkembangan karakter anak-anaknya. Peran orang tua dalam pendidikan keluarga adalah peran tingkah laku, tulada atau teladan sebagaimana pepatah mengatakan “bahasa perbuatan adalah lebih fasih daripada bahasa ucapan” (Lisanul hal afshahu min lisanil maqal). Dengan demikian, pendidikan keteladanan sangat penting dalam pendidikan keluarga.
Kedua, pendidikan agama. Pendidikan agama merupakan pendidikan untuk pertumbuhan total seorang anak didik. Menurut Nur kholis Madjid pendidikan agama tidak benar jika dibatasi hanya kepada pengertian yang bersifat konvensional sebagaimana hanya sekedar menjalankan ritual- ritual keagamaan semata, melainkan dengan beragama sesungguhnya mengantarkan manusia kepada penyempurnaan berbagai keluhuran budi.15
Oleh karena itu, pendidikan agama dalam keluarga tentunya sangat melibatkan peran orang tua serta keseluruhan anggota rumah tangga dalam usaha menciptakan suasana keagamaan yang baik dan benar dalam keluarga.
Pendidikan agama sesungguhnya berkisar antara dua dimensi hidup: penanaman rasa taqwa kepada Allah (dimensi ke-Tuhanan) dan pengembangan rasa kemanusiaan kepada sesame (dimensi kemanusiaan).
Di antara nilai-nilai yang sangat mendasar dalam pendidikan keagamaan adalah:
1. Iman, yaitu sikap bathin yang penuh kepercayaan kepada tuhan. Jadi tidak cukup hanya percaya kepada adanya TUhan, melainkan harus meningkat menjadi sikap mempercayai kepada adanya Tuhan dan menaruh kepercayaan kepada-Nya.
15 Nurcholis Madjid, Masyarakat Religius Membumikan Nilai-Nilai Islam dalam Kehidupan, (Jakarta: Paramadina, 2010), hal. 92
2. Islam, sebagai kelanjutan adanaya iman, maka sikap pasrah kepada Nya dengan meyakini bahwa apa pun yang dating dari Tuhan tentu mengandung hikmah kebaikan, yang kita yang dloif ini tidak mungkin mengetahui seluruh wujudnya.
3. Ihsan, yaitu kesadaran sedalam-dalamnya bahwa Allah senantiasa hadir atau berada bersama kita di manapun kita berada.
4. Taqwa, yaitu sikap sadar penuh bahwa Allah selalu mengawasi kita, kemudian kita berusaha berbuat hanya sesuatu yang diridlai Allah, dengan menjauhi atau menjaga diri dari sesuatu yang tidak di ridlaiNya. Dan dengan takwa inilah yang akan mendasari budi pekerti luhur atau akhlakul karimah.
5. Ikhlash, yaitu sikap murni dalam tingkah laku dan perbuatan, semata- mata demi memperoleh ridla atau perkenan Allah, dan bebas dari pamrih lahir dan batin, tertutup maupun terbuka.
6. Tawakkal, yaitu sikap senantiasa bersandar kepada Allah, dengan penuh harapan kepada Nya dan penuh keyakinan bahwa Dia akan menolong kita dalam mencari dan menemukan jalan terbaik.
7. Syukur, yaitu sikap penuh rasa terimakasih dan penghargaan, dalam hal ini atas segala nikmat dan karunia yang tidak terbilang banyaknya, yang dianugerahkan Allah kepada kita.
8. Shabar, yaitu sikpa tabah menghadapi segala kepahitan hidup, besar dan kecil, lahir dan batin, fisiologis dan psikologis, karena semua keyakinan yang tak tergoyahkan bahwa semua berasal dari Nya dan akan kembali pada Nya.16
9. Sementara nilai-nilai pendidikan agama yang mencakup pada dimensi kemanusiaan, di antaranya nilai-nilai akhlak berikut ini patut dikembangkan oleh orang tua untuk diajarkan dan ditanamkan kepada anak-anaknya;
10. Silaturrahim, yaitu pertalian rasa cinta kasih antara sesama manusia, khususnya antara saudara, kerabat, handai taulan, tetangga, dst.
16 Ibid.,hal. 97
11. Persaudaraan (ukhuwah), yaitu semangat persaudaraan, terlebih lagi hubungan persaudaraan sesama orang beriman sebagaimana yang diajarkan dalam al-Qur’an (surat al-Hujurat; 10-12).
12. Persamaan (al-musawah), yaitu pandangan bahwa sesama manusia, tanpa memandang jenis kelamin, kebangsaan ataupun kesukuannya, dan lain- lain adalah sama dalam harkat dan martabatnya. Yang membedakan hanyalah pada tingkat ketakwaannya (surat al-Hujurat;13).
13. Adil (al-‘adl), yaitu wawasan yang seimbang dalam memandang, menilai dan menyikapi sesuatu atau seseorang, dst.
14. Baik sangka (husnuzzan), yaitu sikpa penuh baik sangka kepada sesama manusia, berdasarkan ajaran agama bahwa manusia itu pada asal dan hakekat aslinya adalah baik, karena sesungguhnya manusia dilahirkan secara fithrah.
15. Rendah hati (tawadlu’), yaitu sikap yang tumbuh karena keinsafan bahwa segala kemuliaan hanya milik Allah.
16. Tepat janji (al-wafa’), yaitu sikap selalu menepati janji bila membuat perjainjian.
17. Lapang dada (insyirah), yaitu sikap penuh kesediaan menghargai orang lain dengan pendapat-pendapat dan pandangan-pandangannya.17
E. Simpulan
Keluarga merupakan pendidikan pertama dan utama bagi anak. Peran orang tua sangat besar dalam memberikan perhatian, pemeliharaan, dan pendidikan agama bagi anak-anak. Fungsi keluarga di antaranya; fungsi keagamaan yaitu mengacu pada perintah agama untuk membina keluarga, fungsi biologis yaitu keluarga member kesempatan untuk tumbuh dan berkembang secara sehat dengan cara keluarga menjadi tempat untuk dapat memenuhi kebutuhan primer anggotanya, fungsi ekonomis yaitu masing- masing anggota keluarga dapat mengatur dan menyesuaikan diri antara pemenuhan kebutuhan dengan ketersediaan sumber-sumber keluarga, secara efektif dan efisien, fungsi pendidikan yaitu keluarga harus menjadi
17 Ibid. hal. 100-101
lembaga pertama dan utama yang memberikan pendidikan nilai-nilai agama dan budaya, fungsi sosial yaitu keluarga mempunyai tugas untuk mengantarkan anggotanya ke dalam kehidupam masyarakat luas, fungsi komunikasi yaitu keluarga harus menjamin komunikasi berjalan lancar, sehat, dan beradab antar-sesama anggota keluarga, fungsi penyelamatan yaitu keluarga agar senantiasa memperhatikan kualitas generasi berikutnya.
Surat at-Tahrim ayat 6 ini maksudnya menyuruh mendidik dan mengajar diri sendiri dan keluarga serta menjadikannya terjaga dari siksa neraka. Ayat ini juga menyuruh untuk selalu menjalankan perintah dan meninggalkan semua larangan. Seorang anak harus dididik dan diperintah untuk taat kepada Allah dan melarang mereka dari berbuat jahat (maksiat), diberi nasehat sehingga tidak melakukan perbuatan yang menyebabkan masuk neraka.
Dalam surat at-Tahrim ayat 6 ini paling tidak ada dua hal yang menjadi titik point dalam pembahasan ini. Pertama, pendidikan keteladanan.
Hal ini sebagaimana dicantumkan dalam redaksi “quu anfusakum” yang bermakna jagalah dirimu. Kedua, pendidikan agama. Pendidikan agama merupakan pendidikan untuk pertumbuhan total seorang anak didik.
pendidikan agama dalam keluarga tentunya sangat melibatkan peran orang tua serta keseluruhan anggota rumah tangga dalam usaha menciptakan suasana keagamaan yang baik dan benar dalam keluarga.
Daftar Pustaka
Ahid, Nur, Pendidikan Keluarga dalam Perspektif Islam, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2010
al-Zuhaily, Wahbah ibn Mustafa, Tafsir al-Munir fi al-‘Aqidah wa al-Syari’ah wa al-Manhaj Damsyiq: Dar al-Fikr al-Mu’asir, 1418H, juz 28,
Anis, Muh., Tafsir Ayat-Ayat Pendidikan, Yogyakarta: Mentari Pustaka, 2012 Daradjat, Zakiyah, Ilmu Pendidikan Islam, Jakarta: Bina Aksara, 1991
Departemen Agama, Terjemah/Tafsir al-Qur’anul Karim, Semarang: CV Wicaksana, 1993
Lajnah Pentashhihan Mushaf al-Qur’an, Tafsir Al-Qur’an Tematik, Jilid 2, Jakarta: Kamil Pustaka, 2014
Madjid, Nurcholis, Masyarakat Religius Membumikan Nilai-Nilai Islam dalam Kehidupan, Jakarta: Paramadina, 2010
Mahfuzh, Syaikh M. Jamaluddin, Psikologi Anak dan Remaja Muslim, Pustaka Al-Kautsar
Muhaimin, dkk, 1993, “ Pemikiran Pendidikan Islam , Bandung : Trigenda Karya
Shihab, M.Quraish, Tafsir Al-Misbah, Jakarta: 2003, Lentera hati, cet-1 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem
Pendidikan Nasional, Pasal 27.
Yasin A. Fatah, Dimensi-Dimensi Pendidikan Islam, Malang: UIN-Malang Press, 2008