• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENERAPAN ISEN-ISEN BATIK PADA PERANCANGAN ENVIRONMENT FILM ANIMASI LOST

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "PENERAPAN ISEN-ISEN BATIK PADA PERANCANGAN ENVIRONMENT FILM ANIMASI LOST"

Copied!
18
0
0

Teks penuh

(1)

PENERAPAN ISEN-ISEN BATIK PADA PERANCANGAN ENVIRONMENT FILM ANIMASI “LOST”

Skripsi Penciptaan

Ditulis sebagai syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Seni (S.Sn.)

Nama : Jessica Clara

NIM : 00000016176

Program Studi : Film

Fakultas : Seni & Desain

UNIVERSITAS MULTIMEDIA NUSANTARA TANGERANG

2019

(2)

ii

LEMBAR PERNYATAAN TIDAK MELAKUKAN PLAGIAT

Saya yang bertanda tangan di bawah ini:

Nama : Jessica clara

NIM : 0000001617

Program Studi : Film

Fakultas : Seni dan Desain

Universitas Multimedia Nusantara Judul Skripsi:

PENERAPAN ISEN-ISEN BATIK PADA PERANCANGAN ENVIRONMENT FILM ANIMASI “LOST”

dengan ini menyatakan bahwa, laporan dan karya Skripsi ini adalah asli dan belum pernah diajukan untuk mendapatkan gelar sarjana, baik di Universitas Multimedia Nusantara maupun di perguruan tinggi lainnya.

Karya tulis ini bukan saduran/ terjemahan, murni gagasan, rumusan dan pelaksanan penelitian/ implementasi saya sendiri, tanpa bantuan pihak lain, kecuali arahan pembimbing akademik dan nara sumber.

Demikian surat Pernyataan Orisinalitas ini saya buat dengan sebenarnya, apabila di kemudian hari terdapat penyimpangan serta ketidakbenaran dalam pernyataan ini, maka saya bersedia menerima sanksi akademik berupa pencabutan

(3)

iii

(4)

iv

(5)

v

PRAKATA

Puji dan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, yang telah memberkati penulis dengan melimpah sehingg penulis dapat menyelesaikan skripsi dengan judul PENERAPAN ISEN-ISEN BATIK PADA PERANCANGAN ENVIRONMENT FILM ANIMASI “LOST” dengan baik hingga batas waktu yang telah ditetapkan.

Penulis menyadari bahwa penyusunan skripsi ini tidak lepas dari bimbingan, bantuan serta dukungan dari berbagi pihak. Oleh karena itu penulis mengucapkan terima kasih kepada:

1. Tuhan yang Maha Esa atas berkat dan kasih-nya yang begitu besar sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan skripsi ini.

2. Muhammad Cahya Mulya Daulay, S.Sn., M.Ds. Selaku dosen pembimbing yang sudah berkenan untuk membimbing serta sudah memberi masukan dalam proses penyusunan skirpsi dan juga karya.

3. Bharoto Yekti, S.Ds., M.A Selaku dosen penguji pada prasidang kedua yang sudah memberi saran dan masukan dalam proses penyusunan skripsi.

4. Fachrul Fadly, S.Ked. Selaku ketua prasidang kedua yang telah memberi masukan untuk penyempurnaan skripsi.

5. Yohanes Merci Widiastomo, S.Sn., M.M. sekalu dosen pembimbing seminar yang telah memberi masukan dalam penyusunan skripsi.

6. Dominika Anggraeni P., S.Sn., M.Anim. Selaku ketua sidang akhir yang telah memberi masukan dan bimbingan terhadap skripsi dan karya 7. Christian Aditya, S.Sn., M.Anim. Selaku dosen penguji yang telah

membantu memberi banyak masukan baik karya maupun skripsi.

8. Keluarga tercinta papa (†), mama, dan adik yang telah selalu memberikan dukungan dan semangat melalui doa.

9. Visi rarasanti dan Aretha nadia selaku teman seperjuangan yang selalu membantu dan mendukung dalam menyelesaikan skripsi.

(6)

vi

(7)

vii

ABSTRAKSI

Penelitian ini dilatar belakangi oleh penting nya perancangan environment di dalam sebuah film khususnya animasi. Environment dapat mendukung film secara visual dan bahkan dalam hal cerita. Indonesia memiliki banyak budaya salah satu nya adalah batik. Di dalam batik terdapat sebuah motif yang dibagi lagi menjadi 3 bagian yaitu motif utama, motif pengisi dan isen-isen. Setiap bagian yang ada pada sebuah batik memiliki makna filosofi yang dapat menambah makna dalam sebuah cerita, selain itu keindahan batik yang terkenal pun dapat menambah nilai visual pada film.

Penelitian ini berfokus pada perancangan environment mulai dari penyederhanaan bentuk, hingga penerapapan isen-isen batik pada bentuk bentuk tersebut. Penerapan isen - isen batik pun dipertimbangkan berdasarkan dengan referensi tumbuhan, prinsip design hingga elemen desain. Penerapan isen - isen pada environment ini pada akhirnya akan memberi makna pada film dalam segi teori mise en scene.

Kata kunci: Environment, Batik, Isen-isen, mise en scene

(8)

viii

ABSTRACT

This research is made to show the importance of environment design in a film, specifically an animated movie. Environment supports the film visually and can even contribute to the film’s narrative. Indonesia is a country of many cultures, one of them being batik. In batik, there’s a pattern that’s divided into three more pattern: main pattern, filler pattern, and isen isen. For every part on a batik, there is philosophical meaning behind it that adds to the story. Moreover, the beauty of batik adds to the visual appeal of the film.

This research focuses on designing the film’s environement starting with simplification of shapes to employing isen-isen batik to the shapes. The employment of isen-isen will be considered on plant references, design principles, and elements of design. The use of isen-isen batik in the environment will give the film a deeper meaning mise en scene-wise.

Keywords: Environmet, Batik, Isen-isen,

(9)

ix

DAFTAR ISI

LEMBAR PERNYATAAN TIDAK MELAKUKAN PLAGIAT ... II PRAKATA ...V ABSTRAKSI ... VII ABSTRACT ... VIII DAFTAR ISI ... IX DAFTAR GAMBAR ... XIII DAFTAR TABEL ...XVII DAFTAR LAMPIRAN ... XVIII

BAB I PENDAHULUAN ... 1

1.1. Latar Belakang ... 1

1.2. Rumusan Masalah ... 2

1.3. Batasan Masalah ... 2

1.4. Tujuan Skripsi ... 3

1.5. Manfaat Skripsi ... 3

BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... 4

2.1. Animasi ... 4

2.2. Environment ... 4

2.3. Elemen visual dalam desain ... 5

2.4. Prinsip desain ... 8

(10)

x

1. Unity atau harmoni ... 8

2. Unity dan penempatan garis ... 9

3. Unity dan penempatan bentuk ... 10

4. Pengulangan garis ... 11

5. Pengulangan bentuk ... 12

2.5. Rhythm ... 13

2.6. Variety ... 14

2.8. Hutan ... 16

2.9. Hutan Tropis ... 17

2.9.1. Layer hutan tropis ... 18

1. Emergent layer ... 18

2. Canopy layer ... 18

3. Understory ... 19

4. Shurbs ... 19

5. At ground level ... 19

2.10. Hutan pegunungan ... 19

2.11. Vegetasi tumbuhan di gunung Lawu jalur Jogorogo ... 21

2.12. Mise en scene ... 23

2.13. Batik ... 24

2.13.1. Motif batik ... 24

1. Isen-isen ... 25

a. Isen-isen cecek ... 25

b. Isen-isen galaran lurus ... 26

(11)

xi

c. Isen-isen galaran brintik ... 26

d. Isen omah garen ... 27

e. Isen beras mawur ... 27

f. Isen-isen gribigan ... 28

g. Isen-isen grandilan ... 28

h. Isen-isen banji ... 29

BAB III METODOLOGI ... 30

3.1. Gambaran Umum ... 30

3.1.1. Sinopsis ... 30

3.1.2. Posisi Penulis ... 31

3.2. Tahapan Kerja ... 31

3.3. Acuan ... 32

3.3.1. Referensi setting tempat ... 32

3.3.2. Isen-isen ... 43

3.3.3. Referensi environment film ... 44

3.4. Proses Perancangan ... 46

3.4.1. Eksplorasi visual ... 48

1. Penyederhanaan bentuk ... 48

2. Penerapan isen - isen ... 52

BAB IV ANALISIS ... 57

4.1. Analisis Scene 13 Shot 1 ... 58

4.1.1. Analisa Eksplorasi Visual ... 59

(12)

xii

4.2. Mise en scene Scene 13 shot 1 ... 62

BAB V PENUTUP ... 64

5.1. Kesimpulan ... 64

5.2. Saran ... 65 DAFTAR PUSTAKA ... XIV LAMPIRAN A:FORMULIR BIMBINGAN ...XVII LAMPIRAN B: TURNITIN ... XVIII

(13)

xiii

DAFTAR GAMBAR

Gambar 2. 1 Line ... 6

Gambar 2. 2 Unity dan Harmoni ... 9

Gambar 2. 3 Unity dan penempatan garis ... 9

Gambar 2. 4 Unity dan penempatan bentuk ... 10

Gambar 2. 5 Unity dan penempatan bentuk ... 11

Gambar 2. 6 Pengulangan Garis ... 12

Gambar 2. 7 Pengulangan Bentuk ... 12

Gambar 2. 8 Rhythm ... 13

Gambar 2. 9 Variety & Unity ... 14

Gambar 2. 10 Balance & imbalance ... 16

Gambar 2. 11 Layer Hutan Tropis ... 18

Gambar 2. 12 Isen-isen cecek ... 25

Gambar 2. 13 Isen-isen Galaran Lurus ... 26

Gambar 2. 14 Isen-isen Galaran Brintik ... 26

Gambar 2. 15 Isen Omah Garen ... 27

Gambar 2. 16 Isen Beras Mawur... 27

Gambar 2. 17 Isen-isen Gribigan ... 28

Gambar 2. 18 Isen-isen Grandilan ... 28

Gambar 2. 19 Isen-isen Banji ... 29

Gambar 3. 1 Contoh Layer Hutan tropis ... 34

Gambar 3. 2 Gunung Lawu pos Jurang mele ... 35

(14)

xiv

Gambar 3. 3 Bunga Akasia ... 36

Gambar 3. 4 Biji Akasia ... 36

Gambar 3. 5 Bunga Bandotan atau Ageratum conyzoides ... 37

Gambar 3. 6 Bunga Bandotan atau Ageratum conyzoides ... 37

Gambar 3. 7 Bunga edelweiss atau Anaphalis javanica ... 38

Gambar 3. 8 Bunga edelweiss atau Anaphalis javanica ... 38

Gambar 3. 9 Cemara gunung atau Casuarina junghuniana ... 39

Gambar 3. 10 Cemara gunung atau Casuarina junghuniana ... 39

Gambar 3. 11 Rumput minjangan atau Chromolaena odorata ... 40

Gambar 3. 12 Rumput minjangan atau Chromolaena odorata ... 40

Gambar 3. 13 Teki ladang atau Cyperus rotundus ... 41

Gambar 3. 14 Alang alang atau Imperata cylindrical ... 41

Gambar 3. 15 Pohon pinus atau Pinus merkusii ... 42

Gambar 3. 16 Isen-isen cecek pengisi latar ... 43

Gambar 3. 17 Isen-isen cecek pada motif ... 43

Gambar 3. 18 Isen-isen cecek pengisi latar ... 43

Gambar 3. 19 Isen-isen omah gareng ... 44

Gambar 3. 20 Isen-isen omah gareng ... 44

Gambar 3. 21 Simbol celtic pada environment Song of the sea ... 45

Gambar 3. 22 Simbol celtic pada environment batu dan air pada film Song of the sea ... 46

Gambar 3. 23 Penyederhanaan bentuk daun pada bunga akasia berdasarkan referensi tanaman dan juga obeservasi terhadap film Song of the sea ... 49

(15)

xv

Gambar 3. 24 Penyederhanaan bentuk bunga akasia berdasarkan referensi

tanaman dan juga obeservasi terhadap film Song of the sea ... 49 Gambar 3. 25 Penyederhanaan bentuk batang pohon pinus berdasarkan referensi

tanaman dan juga obeservasi terhadap film Song of the sea ... 50 Gambar 3. 26 Penyederhanaan ranting pada ranting pinus berdasarkan referensi

tanaman dan juga obeservasi terhadap film Song of the sea ... 50 Gambar 3. 27 Penyederhanaan daun tanaman teki ladang berdasarkan referensi

tanaman dan juga obeservasi terhadap film Song of the sea ... 51 Gambar 3. 28 Penyederhanaan bentuk tanaman Alang alang berdasarkan referensi

tanaman dan juga obeservasi terhadap film Song of the sea ... 51 Gambar 3. 29 Penerapan isen - isen cecek dan omah gareng pada bentuk bunga

tanaman akasia ... 52 Gambar 3. 30 Penerapan isen - isen cecek dan omah gareng pada bentuk daun

tanaman akasia ... 53 Gambar 3. 31 Penerapan isen - isen cecek dan omah gareng pada bentuk batang

pohon pinus ... 54 Gambar 3. 32 Penerapan isen - isen cecek dan omah gareng pada bentuk batang

pohon pinus ... 54 Gambar 3. 33 Penerapan isen - isen cecek dan omah gareng pada ranting pohon

pinus berdasarkan ... 55 Gambar 3. 34 Penerapan isen - isen cecek dan omah gareng pada daun teki ladang

berdasarkan ... 55

(16)

xvi

Gambar 3. 35 Penerapan isen - isen cecek dan omah gareng pada alang alang berdasarkan ... 56

Gambar 4. 1 Hasil Penerapan isen - isen batik pada environment ... 57 Gambar 4. 2 Hasil bentuk tanaman yang sudah melalui proses penyederhanaan . 59 Gambar 4. 3 Hasil penerapan penerapan isen - isen cecek dan juga omah gareng

pada environment untuk mengisi ruang kosong ... 61 Gambar 4. 4 Mise en scene pada Scene 13 shot 1 ... 62

(17)

xvii

DAFTAR TABEL

Table 2. 1 Vegetasi tumbuhan di gunung lawu jalur Jogorogo... 22

Table 3. 1 Bagan Skema Perancangan ... 32 Table 3. 2 Vegetasi tumbuhan jalur pendakian Jogorogo pos Jurang mele ... 36

(18)

xviii

DAFTAR LAMPIRAN

LAMPIRAN A: JUDUL LAMPIRAN ... XIV LAMPIRAN B: JUDUL LAMPIRAN ... XVIII

Referensi

Dokumen terkait

suatu zat yang diduga memiliki aktivitas sebagai antibakteri terhadap suatu bakteri. tertentu (Jawetz et al

Kesimpulan yang dapat diambil dari penelitian ini yaitu Pada model jaringan pertama , flow control Stall / Go , Ack / Nack dan DyML tidak menyebabkan jaringan

Berdasarkan pembandingan tabel hasil pengujian akurasi yang menggunakan algoritma Smith-Waterman dengan bantuan proses tambahan pre-processing antara pengubahan struktur kata

Ukuran objektif tidak memperlihatkan bahwa anak yang terkena gangguan ini memperlihatkan aktifitas fisik yang lebih banyak, jika dibandingkan dengan

Prostaglandin dalam lambung merupakan sitoprotektor, akibat sintesisnya yang berkurang karena hambatan aspirin maka ketahanan mukosa (faktor defensif) lambung

bahwa berdasarkan hasil kaji i~lang dinyatakan bal-wva Standar Nasiot~al 11-~donesia (SNI) yany sudah tidak layak, tidak diperlukan, dan tidak sesuai dengan

Jakarta: Pusat Penerbitan Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI, pp: 501-8.. Mode of dieting and dyspepsia: a

Perbedaan tingkat konservatisme pada Bank Umum Syariah dan Bank Umum Konvensional dinilai wajar karena prinsip konservatisme akuntansi pada dasarnya merupakan suatu