BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Peradaban yang semakin maju menuntut lembaga pendidikan untuk lebih adaptif dalam menciptakan lulusan. Langkah ini dapat dilakukan dengan melakukan pemutakhiran kurikulum yang relevan dengan pembelajaran yang berorientasi pada pengembangan kecakapan berpikir. Pembelajaran yang tidak hanya dimaknai sebagai proses menghafal teori, tetapi lebih pada analisis dan pegaplikasian sebuah pengetahuan. Peserta didik harus dibiasakan dalam proses pemecahan masalah dan kreatif, menemukan ide baru yang dapat diimplementasikan dalam kehidupan (Slavin, 2006:255). Untuk mencapai tahapan tersebut pembelajaran lebih ditekankan pada pola berpikir kritis siswa di sekolah (Greenhill, 2009). Namun tentunya kurikulum berpikir dengan tujuan menumbuhkan kecakapan bagi siswa ini akan menjadi tantangan pendidikan yang signifikan (Zohar, 2013).
Pada revisi kurikulum 2013 tantangan tersebut diwujudkan dengan mengintegrasikan keterampilan berpikir aras tinggi atau dalam istilah asing disebut dengan Higher Order Thinking Skills (HOTS). Yen & Halili (2015) menyatakan bahwa keterampilan berpikir aras tinggi dapat terealisasi dalam dunia pendidikan melalui kurikulum, pengajaran, dan penilaian. Oleh karena itu, keterampilan berpikir aras tinggi telah menjadi tujuan kurikulum secara internasional (Tan & Halili, 2015). Ditegaskan pula oleh Craig (2011) bahwa keterampilan berpikir aras tinggi merupakan pokok masalah pada abad 21 sebab individu akan berhadapan dengan masalah yang kompleks, sehingga untuk menghadapinya siswa harus didik dalam situasi atau tugas yang menuntut pemecahan masalah, bukan hanya sekadar mengingat dan mengulang.
1
Melalui pengintegrasian keterampilan berpikir aras tinggi diharapkan dapat membentuk kemampuan peserta didik dalam hal pengembangan diri dan karier (life and career skill), menggunakan teknologi informasi dan komunikasi (information, media, and technology skill), serta keterampilan berpikir kritis dan berinovasi (Ledward, 2011). Pendapat serupa disampaikan oleh Wang & Wang (2014) bahwa keterampilan berpikir aras tinggi akan membentuk karakter siswa dalam pengembangan karier, tanggung jawab, kreatif, kerja keras, prestasi belajar, menyelesaikan masalah, dan mampu membuat keputusan yang tepat. Keterampilan tersebut didasarkan pada kognitif menganalisis (C4), mengevaluasi (C5), dan mencipta (C5) dengan mengintegrasikan berbagai macam pengetahuan didalamnya (Anderson &
Krathwohl, 2001).
Menurut Susanti et al (2014) faktor utama yang dapat meningkatkan keterampilan berpikir tingkat tinggi siswa ialah buku teks yang digunakan dalam proses pembelajaran. Buku teks dirancang sebagai terjemahan dari ide- ide kebijakan yang terdapat dalam kurikulum (Valverde et al, 2002). Menurut Haggarty dan Pepin (dalam Yang & Sianturi, 2017) jika buku teks berbeda, siswa akan mendapatkan kesempatan belajar yang berbeda juga. Sehingga, buku teks merupakan indikator terbaik untuk mengukur kesempatan belajar yang dialami oleh siswa (Özer, E., & Sezer, 2014).
Selain buku ajar, keberhasilan dari implementasi keterampilan berpikir aras tinggi tentu tidak dapat dilepaskan dari peran pendidik (Saido et al, 2015). Pendidik memiliki andil yang besar untuk mendorong dan mengadopsi keterampilan berpikir aras tinggi dalam proses pembelajaran, sedangkan perancang kurikulum akan menilai sejauh mana tujuan tersebut tercapai (Tajudin & Chinnappan, 2016). Hal ini berkaitan dengan keputusan guru dalam memilih materi dan strategi pembelajaran yang secara tidak langsung dipengaruhi oleh penggunaan buku teks (Pratama, 2019). Dijelaskan Cheng &
Wang (2012) bahwa kemampuan siswa di negara-negara tertentu dipengaruhi oleh latar belakang pendidikan guru dan buku ajar.
Sesuai tujuan yang telah dicanangkan, pendidik memiliki peran dalam pemilihan buku ajar berbasis keterampilan berpikir aras tinggi. Peran dari buku ajar sendiri tertuang dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 2 Nasional Tahun 2008. Buku tersebut memuat kerangka kerja untuk berpikir tentang apa yang akan diajarkan, kepada siapa, kapan, dan bagaimana (Nicol & Crespo, 2005). Pada komponen isi, buku ajar mampu mendorong siswa untuk mengaplikasikan pengetahuan yang dimiliki dalam bentuk pemikiran yang kritis. Pemikiran yang terbentuk melalui keterampilan menganalisis, mesintesis, pemecahan masalah dan evaluasi (Angelo, 1995).
Permasalahannya muatan keterampilan berpikir aras tinggi dalam buku ajar, khususnya mata pelajaran bahasa Indonesia masih banyak yang belum memenuhi kriteria. Penelitian Febriyani (2020) menunjukkan bahwa komposisi Higher Order Thinking Skills (HOTS) dalam buku teks BI sangat sedikit dibandingkan dengan aspek Lower Order Thinking Skill (LOTS).
Aspek mengingat (C1) adalah komponen terbanyak dengan jumlah 41%.
Dalam penelitiannya, Panggabean et al (2019) juga mengungkapkan bahwa dalam buku Brilian bahasa Indonesia untuk siswa SMA kelas XI belum layak digunakan untuk mengkonstruksi keterampilan berpikir aras tinggi siswa, sebab dari keseluruhan soal hanya 48% yang memenuhi kriteria HOTS.
Selanjutnya, penelitian yang dilakukan Yuniarti (2019) menghasilkan temuan bahwa pertanyaan bacaan dalam buku teks SMP terbitan Kemendikbud didominasi oleh kategori mengingat (C2), buku tersebut juga belum memenuhi proporsi soal yang layak, yakni 30% untuk C1 dan C2, 40%
untuk C3 dan C4, 30% untuk C5 dan C6. Dengan demikian, diperlukan upaya perbaikan kualitas buku ajar yang digunakan. Inderasari et al (2019) meneliti higher order thinking skill dalam buku ajar bahasa Indonesia tingkat SMA/MA penerbit Pusat Perbukuan dan Kurikulum Kementerian Pendidikan
dan Kebudayaan edisi kurikulum 2013. Hasil penelitian Inderasari menunjukkan bahwa soal yang terdapat dalam buku ajar belum memenuhi kriteria untuk mengasah keterampilan berpikir tingkat tinggi siswa. Perlunya perbaikan terhadap kualitas soal dan materi yang berorientasi HOTS juga diungkapkan Huda et al (2021) melalui penelitiannya pada buku bahasa Indonesia SMA terbitan Kemendikbud RI.
Penelitian lain yang juga mengkaji buku teks bahasa Indonesia dari perspektif keterampilan berpikir aras tinggi pernah dilakukan oleh Nurfarida (2021) dengan objek kajian buku bahasa Indonesia SMP kelas VIII terbitan Kemendikbud edisi revisi 2017. Oktaningsih (2020) mengkaji tentang soal latihan dalam buku teks bahasa Indonesia SMP/MTs edisi revisi 2017 berdasarkan perspektif HOTS. Saputro et al (2021) meneliti keterampilan berpikir dalam buku teks bahasa Indonesia kelas X kurikulum 2013 revisi tahun 2014 dan 2017.
Semua penelitian yang telah dipaparkan di atas menunjukkan adanya perhatian dari para peneliti untuk menilai kualitas buku ajar yang selama ini digunakan guru bahasa Indonesia berdasarkan perspektif keterampilan berpikir aras tinggi. Hanya saja, penilaian tersebut masih terbatas pada buku terbitan Kemendikbud. Sementara untuk buku-buku bahasa Indonesia dari berbagai terbitan swasta belum banyak dilakukan. Apabila dikaitkan dengan kondisi saat ini, beberapa sekolah tidak hanya menggunakan buku Kemendikbud tetapi juga merambah pada terbitan swasta. Berdasarkan wawancara dengan beberapa guru bahasa Indonesia di Kota Surakarta diketahui bahwa mereka menggunakan buku terbitan swasta sebagai pegangan utama dan pelengkap penyampaian materi ajar. Adapun buku yang kebanyakan digunakan bersumber dari terbitan Erlangga, Yudhistira, dan Grafindo.
Belum banyaknya jenis penelitian yang membahas mengenai muatan keterampilan berpikir aras tinggi dalam buku terbitan swasta mendorong
peneliti untuk mengangkat masalah tersebut sebagai objek penelitian. Sejauh ini, peneliti telah membaca beberapa penelitian yang membahas tentang muatan keterampilan berpikir aras tinggi dalam buku BI swasta, namun belum ditemukan penelitian yang membahas buku BI yang selama ini digunakan oleh beberapa sekolah di Kota Surakarta. Penelitian tersebut antara lain dilakukan oleh Permatasari (2021) membahas mengenai distribusi pertanyaan berpikir tingkat tinggi pada buku teks bahasa Indonesia untuk SMP/MTs kelas VIII kurikulum 2013 terbitan Erlangga.
Selanjutnya, Putri (2019) melakukan analisis terhadap muatan soal buku mandiri (Erlangga) bahasa Indonesia kelas VII berdasarkan perspektif higher order thinking skill. Suvina (2021) mengkaji tentang pertanyaan HOTS
dalam buku teks mata pelajaran bahasa Indonesia SMK/MAK kelas X terbitan Erlangga tahun 2016. Edriani (2020) melakukan penelitian terkait soal pendalaman buku teks bahasa Indonesia kelas VIII (Yudhistira) berdasarkan klasifikasi level kognitif. Batubara (2020) meneliti soal pada buku mandiri mata pelajaran bahasa Indonesia kelas VIII berdasarkan klasifikasi level kognitif di SMP Negeri 37 Medan.
Berdasarkan permasalahan yang terjadi dan diperkuat dengan beberapa hasil penelitian sebelumnya maka dapat disimpulkan bahwa ketercapaian pembelajaran keterampilan berpikir aras tinggi di masing-masing sekolah ditentukan oleh pengetahuan guru dan kualitas buku yang digunakan. Dampak yang terjadi jika sejak awal pemilihan buku ajar sudah tidak sesuai dengan pilar-pilar keterampilan berpikir aras tinggi, maka tingkat pencapaian tujuan pembelajarannya pun akan rendah. Penelitian ini mencoba untuk memberikan kontribusi terkait penilaian kelayakan buku ajar bahasa Indonesia terbitan swasta yang beredar di Kota Surakarta ditinjau dari aspek keterampilan berpikir aras tinggi. Hal ini penting untuk dilakukan karena beberapa penelitian terdahulu kebanyakan membahas buku dari terbitan Kemendikbud.
Meski terdapat penelitian yang membahas muatan keterampilan berpikir
tingkat tinggi dalam buku swasta, akan tetapi hasil tersebut belum mampu mewakili keseluruhan jenis buku yang saat ini digunakan guru BI di Kota Surakarta.
Adapun jenis buku yang diteliti cenderung berfokus pada terbitan Erlangga untuk jenjang SMP/MTs kelas VII dan VIII, sedangkan pada jenjang SMA/MA/K berfokus pada kelas X. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa penelitian ini memiliki kebaruan dari jenis buku yang diteliti, yakni Erlangga, Grafindo, dan Yudhistira untuk siswa SMA kelas XI. Belum digarapnya penelitian mengenai ketiga buku tersebut menimbulkan pertanyaan, apakah buku ajar tersebut mampu mendorong keterampilan berpikir aras tinggi siswa sesuai tuntutan pembelajaran abad 21 atau sebaliknya. Oleh karena itu diperlukan analisis mendalam terkait muatan keterampilan berpikir aras tinggi dalam buku ajar terbitan swasta.
Penelitian ini memfokuskan pada dimensi pengetahuan, proses kognitif, serta bentuk pengintegrasian diantara keduanya yang ditampilkan oleh masing-masing buku terbitan swasta. Buku yang menjadi objek analisis adalah buku Bahasa Indonesia untuk Kelas XI terbitan Erlangga yang ditulis oleh Engkos Kosasih, Yudisthira oleh Indah Wukir Setiarini, dan Grafindo oleh Tika Hatikah & Mulyanis. Dari masing-masing buku tersebut tentu memiliki karakteristik yang berbeda-beda dalam menyajikan materi bahasa Indonesia bermuatan keterampilan berpikir aras tinggi. Penelitian ini penting dan menarik untuk ditindaklanjuti sebagai catatan perbaikan kualitas pembelajaran kurikulum 2013 yang mengintegrasikan keterampilan berpikir aras tinggi, khususnya dalam penggunaan buku ajar.
B. Rumusan Masalah
Setelah diketahui kondisi yang terjadi pada praktik pemanfaatan buku ajar, maka penelitian ini memfokuskan pada rumusan masalah berikut.
1. Bagaimanakah dimensi pengetahuan faktual, konseptual, prosedural, dan metakognitif dalam buku ajar bahasa Indonesia untuk siswa kelas XI SMA di Kota Surakarta?
2. Bagaimanakah representasi level kognitif berpikir aras tinggi dalam buku ajar bahasa Indonesia untuk siswa kelas XI SMA di Kota Surakarta?
3. Bagaimanakah pengintegrasian dimensi pengetahuan dengan proses kognitif berpikir aras tinggi dalam buku ajar bahasa Indonesia untuk siswa kelas XI SMA di Kota Surakarta?
C. Tujuan Penelitian
Secara umum penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan pemahaman tentang kualitas buku ajar bahasa Indonesia bermuatan keterampilan berpikir aras tinggi (HOTS) untuk siswa kelas XI sekolah menengah atas (SMA) di Kota Surakarta. Secara khusus, penelitian ini bertujuan memperoleh informasi sebagai berikut.
1. Mendeskripsikan dan menjelaskan dimensi pengetahuan faktual, konseptual, prosedural, dan metakognitif dalam buku ajar bahasa Indonesia untuk siswa kelas XI SMA di Kota Surakarta
2. Mendeskripsikan dan menjelaskan representasi level kognitif berpikir aras tinggi dalam buku ajar bahasa Indonesia untuk siswa kelas XI SMA di Kota Surakarta
3. Mendeskripsikan dan menjelaskan pengintegrasian dimensi pengetahuan dengan proses kognitif dalam buku ajar bahasa Indonesia untuk siswa kelas XI SMA di Kota Surakarta.
D. Manfaat Penelitian
Hasil dan analisis dari penelitian ini diharapkan dapat mendatangkan manfaat teoretis maupun praktis. Berikut beberapa manfaat teoretis dan praktis setelah dilakukannya penelitian ini.
1. Manfaat Teoretis
Bagi pendidik dan praktisi pendidikan, penelitian ini dapat memperkaya cakrawala pengetahuan terhadap analisis buku ajar bahasa Indonesia, khususnya pada tingkat sekolah menengah atas. Pembahasan hasil penelitian ini dapat merepresentasikan kelayakan buku ajar bahasa Indonesia berbasis keterampilan berpikir aras tinggi untuk siswa SMA.
Guru dan praktisi pendidikan akan mendapatkan pemahaman mengenai buku ajar keterampilan berpikir aras tinggi dari segi pengetahuan dan proses kognitif. Selain itu, penelitian ini juga bermanfaat untuk pengembangan keilmuan analisis isi.
2. Manfaat Praktis
Selain manfaat teoretis, penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat praktis bagi berbagai pihak, baik guru, siswa, sekolah, maupun peneliti lain. Berikut manfaat penelitian secara praktis.
a. Guru
Bagi guru, hasil penelitian ini dapat menjadi referensi guru dalam memilih buku ajar bahasa Indonesia bermuatan keterampilan berpikir aras tinggi yang tepat. Guru juga akan lebih selektif dalam mengajarkan materi bermuatan keterampilan berpikir aras tinggi pada siswa. Hal ini didasarkan pada kompetensi dasar sesuai revisi kurikulum 2013.
b. Siswa
Bagi siswa, hasil penelitian ini akan mendukung ketercapaian materi bahasa Indonesia berbasis keterampilan berpikira aras tinggi dalam kurikulum 2013. Tidak hanya itu, hadirnya buku ajar yang layak dari segi komponen isi antara dimensi pengetahuan dan aspek kognitif dapat mendukung siswa mencapai keterampilan yang seharusnya diperoleh. Proses pemahaman materi juga akan tersampaikan secara sistematis.
c. Sekolah
Penelitian ini diharapkan dapat menjadi dasar pertimbangan sekolah untuk menyeleksi buku ajar yang selama ini digunakan guru. Buku tersebut layak digunakan sesuai dengan revisi kurikulum 2013 atau sebaliknya. Dengan demikian pembelajaran akan tercapai secara maksimal. Strategi ini dapat menunjukkan kesiapan sekolah dalam mencetak siswa unggul dan berprestasi.
d. Penulis Buku Ajar
Penelitian ini diharapkan dapat menjadi evaluasi bagi penyusunan buku ajar selanjutnya. Berbagai kelemahan yang terdapat dalam muatan soal diharapkan mampu memotivasi penulis untuk memberikan bentuk soal yang lebih variatif dengan disertai penalaran kasus dan fenomena. Selain itu, juga dapat diperkaya dengan tugas yang menuntut pengaplikasian sebuah pengetahuan secara kontekstual.
e. Peneliti lain
Bagi peneliti yang lain, hasil penelitian ini dapat dijadikan pijakan dalam meneliti analisis buku ajar maupun pengembangan buku ajar berbasis keterampilan berpikir aras tinggi. Kelemahan-kelemahan yang terdapat di dalam buku ajar yang saat ini digunakan dapat dijadikan pertimbangan dalam penyusunan instrumen buku teks berbasis keterampilan berpikir aras tinggi mata pelajaran bahasa Indonesia selanjutnya. Dengan demikian, penelitian ini pada akhirnya dapat menjadi pelengkap dari penelitian sebelumnya mengenai muatan keterampilan berpikir aras tinggi dalam pembelajaran.