• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pemanfaatan Sampah Organik Untuk Mendukung Tanaman Obat Keluarga (TOGA) di Desa Beurawe Kecamatan Kuta Alam Kota Banda Aceh

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "Pemanfaatan Sampah Organik Untuk Mendukung Tanaman Obat Keluarga (TOGA) di Desa Beurawe Kecamatan Kuta Alam Kota Banda Aceh"

Copied!
6
0
0

Teks penuh

(1)

Jurnal Pengabdian pada Masyarakat Desember 2022 pISSN 2685-0303

307

Pemanfaatan Sampah Organik Untuk Mendukung Tanaman Obat Keluarga (TOGA) di Desa Beurawe Kecamatan

Kuta Alam Kota Banda Aceh

Rahmayani1, Sri Rosita2, Raudhatun Nuzul Za3 , Almukarramah4, Zainuddin5

1Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Serambi Mekkah email: [email protected]

2Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Serambi Mekkah email: [email protected]

3Program Studi DIV Kebidanan, Fakultas Ilmu Kesehatan, Universitas Ubudiyah Indonesia

email: [email protected]

4Pendidikan Biologi Universitas Serambi Mekkah Email ; [email protected]

5Prodi Akuntansi Universitas Serambi Mekkah Email : [email protected]

Corresponding Author: [email protected]

ABSTRACT

Along with the rapid developments in the globalization era, as well as the demographic and epidemiological transitions of disease, diseases caused by behavior and lifestyle changes related to behavior and socio-culture tend to become more complex. Some household members have a period of vulnerability to communicable and non-communicable diseases, therefore, to prevent these diseases, household members need to be empowered to implement PHBS. The health promotion program is oriented towards the process of empowering the community for Clean and Healthy Behavior (PHBS), to improve, maintain and protect their health through the use of natural ingredients in the household, so a strategy is needed so that people can utilize plants in the household for traditional medicine, therefore it is necessary to establish family medicinal plants (TOGA) or live pharmacies around the house by utilizing organic waste. The method of implementing service activities is carried out with the stages of preparation, coordination, counseling/socialization and demonstration. The results of the service show that the community and cadres in Beurawe Village are very enthusiastic because TOGA can meet the needs of the family's herbal medicines.

Keywords: Family Medicinal Plants, Organic Waste

ABSTRAK

Seiring dengan cepatnya perkembangan dalam era globalisasi, serta adanya transisi demografi dan epidemiologi penyakit, maka penyakit akibat perilaku dan perubahan gaya hidup yang berkaitan dengan perilaku dan sosial budaya cenderung akan semakin kompleks. Beberapa anggota rumah tangga mempunyai masa rawan terkena penyakit menular dan penyakit tidak menular, oleh karena itu

(2)

308

untuk mencegah penyakit tersebut, anggota rumah tangga perlu diberdayakan untuk melaksanakan PHBS. Program promosi kesehatan berorientasi pada proses pemberdayaan masyarakat untuk Berperilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), untuk peningkatan, pemeliharaan dan perlindungan kesehatannya melalui pemanfaatan bahan-bahan alami yang ada di rumah tangga, sehingga dibutuhkan strategi agar masyarakat dapat memanfaatkan tanaman yang ada di rumah tangga untuk pengobatan tradisional, maka dari itu diperlukan pembentukan tanaman obat keluarga (TOGA) atau apotik hidup di sekitar rumah dengan memanfaatkan sampah organic. Metode pelaksanaan kegiatan pengabdian dilakukan dengan tahapan persiapan, koordinasi, penyuluhan/sosialisasi dan demontrasi. Hasil pengabdian menunjukkan bahwa masyarakat dan kader yang ada di Desa Beurawe sangat antusias karena dengan adanya TOGA dapat memenuhi kebutuhan obat- obatan herbal keluarga.

Kata Kunci: Tanaman Obat Keluarga, Sampah Organik

PENDAHULUAN

Pembangunan kesehatan bertujuan untuk meningkatkan kesadaran, kemampuan dan kemauan hidup sehat bagi setiap penduduk agar dapat mewujudkan derajat kesehatan yang setinggi – tingginya. Dalam rencana strategis Kementerian Kesehatan 2015 – 2019 yang menegaskan Program Indonesia Sehat melalui Pendekatan Keluarga (PIS-PK) dalam mendukung Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (GERMAS). Dengan perkataan lain bahwa masyarakat diharapkan mampu berperan sebagai pelaku dalam pembangunan kesehatan dalam rangka menjaga, memelihara dan meningkatkan derajat kesehatannya sendiri, serta berperan aktif dalam mewujudkan kesehatan masyarakat (Kemenkes, 2018).

Seiring dengan cepatnya perkembangan dalam era globalisasi, serta adanya transisi demografi dan epidemiologi penyakit, maka penyakit akibat perilaku dan perubahan gaya hidup yang berkaitan dengan perilaku dan sosial budaya cenderung akan semakin kompleks. Mengingat dampak dari perilaku terhadap derajat kesehatan cukup besar, maka diperlukan berbagai upaya untuk mengubah perilaku yang tidak sehat menjadi sehat, salah satunya melalui program Promosi Kesehatan. Pemberdayaan masyarakat terus diupayakan melalui pengembangan Usaha Kesehatan Bersumberdaya Masyarakat (UKBM) yang ada di desa yang kegiatannya berupa pegamatan dan pemantauan penyakit serta keadaan kesehatan ibu dan anak, gizi, lingkungan, dan perilaku yang dapat menimbulkan masalah kesehatan masyarakat. Untuk memberdayakan masyarakat dalam memelihara, meningkatkan dan melindungi kesehatannya sehingga masyarakat sadar, mau, dan mampu secara mandiri ikut aktif dalam meningkatkan status kesehatannya. Pemberdayaan masyarakat harus dimulai dari rumah tangga atau keluarga, karena rumah tangga yang sehat merupakan asset atau modal pembangunan di masa depan yang perlu dijaga, ditingkatkan dan dilindungi kesehatannya (Kemenkes, 2018).

Beberapa anggota rumah tangga mempunyai masa rawan terkena penyakit menular dan penyakit tidak menular, oleh karena itu untuk mencegah penyakit tersebut, anggota rumah tangga perlu diberdayakan untuk melaksanakan PHBS. Untuk melaksanakan misi pembangunan kesehatan tersebut diperlukan adanya promosi kesehatan. Program promosi kesehatan berorientasi pada proses pemberdayaan

(3)

Jurnal Pengabdian pada Masyarakat Desember 2022 pISSN 2685-0303

309 masyarakat untuk Berperilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), melalui peningkatan, pemeliharaan dan perlindungan kesehatannya. Sejak dari zaman dulu yang secara turun temurun tanaman obat sering kali dijadikan sebagai bahan alami untuk mengatasi berbagai jenis penyakit dan menjadikan tanaman tersebut sebagai tanaman obat keluarga. Hal tersebut ditunjukan oleh berbagai penemuan salah satunya adalah kitab lontar yang berisi tentang berbagai ilmu pengobatan yang sudah dilakukan oleh orang terdahulu.

Menurut profil kesehatan Indonesia tahun 2019, jumlah rumah sehat secara nasional sebesar 83%, sedangkan jamban yang memenuhi syarat kesehatan sebanyak 87,5% sumber air bersih sebanyak 90,1%, tempat pembuangan sampah sebanyak 43,5%, dan tempat – tempat umum sehat sebanyak 56,6% (Kemenkes, 2020). Cakupan sanitasi dasar di provinsi Aceh tahun 2019 tidak jauh berbeda dengan cakupan nasional. Jumlah rumah sehat di provinsi Aceh sebanyak 63,21%, sumber air bersih sebanyak 87,7, jamban yang memenuhi syarat kesehatan sebanyak 78%, tempat pengelolaan sampah sebanyak 53,1%, tempat – tempat umum sebanyak 83,5%, serta PHBS sebanyak 56,5% (Dinkes Aceh, 2020).

Tanaman Obat Keluarga (TOGA)) pada hakekatnya adalah tanaman berkhasiat yang ditanam di lahan pekarangan dan dikelola oleh keluarga. Jenis tanaman toga ditanam untuk memenuhi keperluan keluarga akan obat-obatan tradisional yang dapat dibuat sendiri. Pada umumnya, tanaman obat lebih banyak tumbuh sebagai tanaman liar. Akan tetapi, kini tanaman obat banyak ditanam di kebun dan di lahan pekarangan.

Tak sedikit masyarakat memanfaatkannya sebagai tanaman toga. Memanfaatkan jenis tanaman toga merupakan upaya pencegahan terhadap penyakit. Selain itu, jenis tanaman toga juga dapat dijadikan usaha promotif atau meningkatkan kesehatan, hingga upaya kuratif sebagai penyembuh penyakit.

Gampong Beurawe merupakan satu desa yang berada di Kecamatan Kuta Alam, yang terbagi atas 5 lorong atau dusun. Berdasarkan hasil observasi yang telah kami lakukan ada beberapa hal yang menjadi permasalahan di Desa Beurawe, diantaranya adalah minimnya pemanfaatan tanaman sekitar untuk dijadikan sebagai obat-obatan, seperti kencur, jahe dan lain-lain. Masih banyaknya pekarangan yang kosong di Desa tersebut sehingga bisa dimanfaatkan sebagai lahan penanaman obat keluarga atau apotek hidup.

Salah satu cara untuk mengatasi masalah kesehatan adalah dengan melakukan atau mengkampanyekan pola hidup sehat, maupun olahraga kepada masyarakatnya.

Selain itu berdasarkan pernyataan (Qamariah, Handayani, & Novaryatiin, 2019) bahwa pemerintah desa bisa melakukan kampanye penyediaan tanaman yang berfungsi sebagai obat herbal di pekarang masyarakat, sehingga bisa membantu dalam mengatasi permasalahan kesehatan di desa tersebut.

Penyediaan tanaman yang berfungsi sebagai obat-obatan ini juga bisa mengatasi permasalahan minimnya infrastruktur penunjang seperti apotik, rumah sakit terdekat dan lain-lain. Selain itu hal ini juga bisa sebagai salah satu alternative dalam mengatasi lemahnya daya beli masayarakat dan melambungnya harga obat-obatan modern yang memaksa masyarakat dan pemerintah mencari upaya mengatasi keadaan ini dengan cara kembali ke alam (Nurjanah, Nurazizah, Septiana, & Shalikhah, 2019). Cara ini merupakan salah satu cara yang paling efisien dalam mengatasi permasalahan kesehatan di lingkungan masyarakat.

(4)

310

Salah satu tujuan kegiatan ini adalah untuk meningkatkan pengetahuan dan pemahaman serta pemanfaatan masyarakat Desa Beurawe dalam pengelolaan tanaman disekitar. Sehingga tanaman yang banyak tumbuh tersebut mempunyai manfaat bagi masyarakat desa sebagai bahan atau obat keluarga. Selain itu manfaat adanya kegiatan ini adalah meningkatkan daya saing masyarakat dalam hal pemberdayaan, sehingga masyarakat Desa Beurawe bisa lebih mandiri terutama dalam hal obat pendamping keluarga, karena bisa memanfaatkan tanaman disekitar dan apotek hidup yang telah dibuat.

METODE PELAKSANAAN

Metode pengabdian kepada masyarakat dilakukan dengan memberikan edukasi, penyuluhan dan informasi serta demonstrasi kepada masyarakat desa Beurawe dan pada kegiatan ini juga diberikan demonstrasi tentang pengolahan sampah organik menjadi pupuk dan sampah-sampah yang bisa didaur ulang menjadi barang-barang bisa dipakai lagi. Kegiatan ini dilaksanakan pada tanggal 15 November 2021.

Sosialisasi dan penyuluhan manfaat tanaman obat keluarga, kegiatan ini dilakukan karena merupakan salah satu komponen yang paling penting dalam pelaksanaan pengabdian masyarakat. Adapun sasaran dari kegaitan sosialisasi adalah masyarakat Desa Beurawe kecamatan Kuta Alam, khususnya ibu-ibu PKK. Maksud dan tujuan dari kegaitan sosialisasi ini adalah untuk memberikan pemahaman dan pengetahuan bagi masyarakat dalam memanfaatkan tanaman yang ada. Selain itu sosialisasi ini juga memberi pengetahuan bagi masyarakat terutama dalam hal kandungan dan manfaat tanaman terhadap jenis penyakit.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Pelaksanaan pengabdian merupakan salah satu bentuk tri dharma perguruan tinggi yang dilakukan oleh dosen dan mahasiswa. Dengan adanya kegiatan ini akan banyak sekali manfaatnya bagi masyarakat maupun mahasiswa, terutama dalam hal transfer pengetahuan maupun sharing mengenai kehidupan sehari-hari dalam bermasyarakat. Selain itu mahasiswa juga bisa melakukan implementasi teori yang didapatkan dari bangku perkuliahan kepada masyarakat.

Dalam kegiatan ini beberapa hal yang dilakukan adalah:

a. Pengelolaan sampah menjadi barang – barang yang memiliki manfaat, seperti botol air kemasan dicat warna – warni kemudian disusun menjadi gapura tanaman toga Gampong Beurawe yang dibentuk dengan besi. Botol sirup/ kecap juga dicat warna – warni dijadikan pembatas antara tanaman yang satu dengan tanaman yang lain.

Kemudian kulit luar buah kelapa juga dijadikan pembatas tanaman, galon air bekas, gelas plastic, dan batok kelapa, dijadikan sebagai pot tanaman. Disetiap tanaman toga diberi label nama tanaman dan manfaatnya dari kardus bekas yang ditempeli kertas yang sudah di print dan diberi pegangan dari bambu.

b. Membuat tanaman obat keluarga. Berdasarkan hasil pendataan yang kami lakukan dilokasi ada beberapa tanaman yang bisa dijadikan sebagai tanaman obat keluarga, ditapilkan dalam Tabel 1.

(5)

Jurnal Pengabdian pada Masyarakat Desember 2022 pISSN 2685-0303

311 Tabel 1. Tanaman yang bisa dijadikan sebagai tanaman obat keluarga

No Jenis Tanaman Manfaat

1 Temulawak Mengatasi masalah system pencernaan 2 Jahe Mengatasi masalah system pencernaan

terutama mengurangi mual

3 Kencur Menurunkan kolestrol dalam darah, meningkatkan nafsu makan dan lain-lain 4 Jeruk Nipis Memerangi infeksi, merejamkan kulit dan

menurunkan gula darah

5 Pepaya Melancarakan pencernaan, menjaga kesehatan jantung, mencegah kanker dan lain-lain 6 Daun Jambu Batu Mengatasi diare, mengontrol diabetes,

mengurangi gejala sakit gigi dan gusi dan lain- lain

7 Daun Pepaya Obat demam berdarah, menjaga kesehatan hati, redakan nyeri menstruasi dan lain-lain

8 Daun Kelor Untuk mencegah stunting dan menambah gizi pada balita

Pada tahap sosialisasi ini lebih banyak difokuskan kepada jenis tanaman, mapun manfaat tanaman yang bisa dijadikan sebagai obat pendamping keluarga atau obat keluarga. Terutama mengenai tanaman yang mudah didapatkan oleh masyarakat karena banyak dijumpai di sekitar halaman atau kebun masyarakat Desa Beurawe.

Pelaksanaan kegiatan sosialisasi ini diikuti masyarakat Desa Beurawe terutama ibu-ibu PKK, dimana masyarakat tersebut mengikuti kegiatan dengan sangat antusias, hal ini dapat dilihat dari jumlah peserta yang hadir pada kegiatan sosialisasi dan penyuluhan.

Mengingat untuk kegiatan pengabdian ini memang lebih difokuskan kepada ibu-ibu serta generasi muda dari Desa tersebut.

Gambar 1. Kebun Tanaman Obat Keluarga dan Gerbang dari Botol Bekas

(6)

312

KESIMPULAN

Berdasarkan hasil pelaksanaan pengabdian yang telah dilakukan, maka kegiatan ini sangat bermanfaat bagi masyarakat Desa Beurawe maupun pemerintah desa. Adapun manfaat yang bisa didapat oleh masayarakat maupun pemerintah adalah meningkatkan pengetahuan masyarakat terutama ibu-ibu PKK dalam pemanfaatan tanaman sekitar sebagai obat pendamping keluarga. Selain itu Desa Beurawe juga merupakan salah satu desa yang baru pertama kali mendapatkan sosialisasi maupun penyuluhan mengenai pemanfaatan tanaman obat keluarga. Sehingga hal ini bisa dirasakan manfaatnya oleh masayarakat Desa tersebut.

Selain itu juga dilaksanakan sosialisasi tentang pemanfaatan sampah organik dan sampah yang dapat didaur ulang menjadi barang berharga seperti pagar dari botol-botol berkas. Dan kegiatan yang dilakukan pada pelaksanaan pengabdian ini adalah observasi, sosialisasi dan penyuluhan manfaat tanaman obat keluarga, serta pembuatan kebun tanaman obat keluarga. Untuk kegiatan pertama, observasi dilakukan guna mendapatkan keinginan masyarakat terutama dalam hal pemanfaatan tanaman obat keluarga serta mendata jenis tanaman yang bisa dijadikan sebgai obat-obatan di Desa Beurawe. Kedua, pelaksanan sosialisasi dan penyuluhan manfaat tanaman obat keluarga kegiatan ini dilakukan guna meningkatkan pengetahuan maupun pengalaman ibu-ibu PKK dalam memanfaatkan tanaman sebagai bahan obat-obatan. Ketiga, pembuatan kebun dilakukan guna menanam tanaman yang mempunyai manfaat buat kesehatan tertutama tanaman yang belum ada di Desa Beurawe. Dengan adanya kegiatan ini masyarakat Desa Beurawe bisa mengetahui manfaat tanaman yang bisa dijadikan sebgai obat-obatan pendamping keluarga maupun lebih mandiri dari segi kesehatan. Berdasarkan kegiatan yang telah dilakukan maka dapat diberikan rekomendasi, salah satunya adalah meningkatkan pemahaman masyarakat akan pentingnya tanaman sekitar untuk dijadikan sebagai obat pendamping keluarga.

Ucapan Terima Kasih

Terima kasih kami sampaikan kepada Kepala Desa Beurawe, para tokoh masyarakat, Kader dan Ibu PKK serta Masyarakat Desa Beurawe yang sangat antusias mengikuti rangkaian kegiatan pengabdian masyarakat yang kami laksanakan dan telah memberikan waktu luang untuk mendengarkan sosialisasi dan pelatihan yang kami berikan.

REFERENSI

Nurjanah, S. rahayu, Nurazizah, N. N., Septiana, F., & Shalikhah, N. D. (2019).

Peningkatan Kesehatan Masyarakat melalui Pemberdayaan Wanita dalam Pemanfaatan Lahan Pekarangan dengan Tanaman Obat Keluarga (TOGA) di Dusun Semawung. Community Empowernment, 4(1), 20–25.

https://doi.org/10.33084/pengabdianmu.v2i2.63

Qamariah, N., Handayani, R., & Novaryatiin, S. (2019). Peningkatan Pengetahuan dan Keterampilan Ibu Rumah Tangga Dalam Pengolahan Tanaman Obat Keluarga (TOGA) Sebagai Ramuan Obat Tradisional. Jurnal Ilmiah Pengabdian Kepada Masyarakat, 4(1), 50–54

Trisnaningsih, U., Wahyuni, S., & Nur, S. (2019). Pemanfaatan Lahan Pekarangan Dengan Tanaman Obat Keluarga. JPPM (Jurnal Pengabdian Dan Pemberdayaan Masyarakat), 3(2). https://doi.org/10.30595/jppm.v3i2.4554.

Referensi

Dokumen terkait

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui waktu optimal dan jalur lintasan kritis dari proses perakitan UAV dengan pendekatan product work breakdown structure (PWBS)

2) Pelaksanaan, untuk meningkatkan pengetahuan ibu rumah tangga tentang khasiat TOGA secara ilmiah dan tata cara menanam TOGA serta meningkatkan ketrampilan dalam mengolah

Stoner, Manajemen adalah suatu proses perencanaan, pengorganisasian, kepemimpinan, dan pengendalian upaya dari anggota organisasi serta penggunaan sumua sumber daya

Selanjutnya dalam rangka menindak lanjuti memorandum of understanding ( MOU ) antara IKIP Veteran Semarang dengan pondok pesantren yang ada di jawa Tengah maka

Pada variasi ini, apabila kondisi bernilai benar maka Statement-1 yang dikerjakan dan apabila kondisi bernilai salah maka Statement-2 yang dikerjakan (tidak pernah

Terkait dengan variabel daya tanggap dalam mempengaruhi kepuasan pelanggan pada Hotel Le Grandeur Balikpapan maka hendaknya dengan memperhatikan pelayanan dengan karyawan