• Tidak ada hasil yang ditemukan

JIESA: Jurnal Ilmiah Ekonomika STIE AKA, Volume 5 No 1, Mei 2019, Hal 9 24 p-issn:

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "JIESA: Jurnal Ilmiah Ekonomika STIE AKA, Volume 5 No 1, Mei 2019, Hal 9 24 p-issn:"

Copied!
16
0
0

Teks penuh

(1)

p-ISSN: 2087-8281

DEWAN KOMISARIS INDEPENDEN, KEPEMILIKAN PUBLIK DAN KUALITAS AUDIT PENGARUHNYA TERHADAP MANAJEMEN LABA: STUDI PADA PERUSAHAAN MANUFAKTUR SEKTOR ANEKA INDUSTRI YANG TERDAFTAR

DI BEI

Sudarman, Endang Dwi Wahyuningsih, Praditya Dewi Arumsari, Anisa K Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi AKA Semarang

*[email protected]

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk menguji: pengaruh Dewan Komisaris Independen terhadap Manajemen Laba, menguji pengaruh Kepemilikan Publik terhadap Manajemen Laba,dan menguji pengaruh Kantor Akuntan Publik terhadap Manajemen Laba. Populasi dalam penelitian ini perusahaan manufaktor sektor Aneka Industri yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia, dari tahun 2017 sampai 2018 diperoleh 39 data.Penelitian dilakukan secara sampling, dengan teknik purposive sample dan teknik analisis yang digunakan adalah regresi linier berganda. Hasil penelitian yaitu Dewan Komisaris Independen berpengaruh terhadap Manajemen Laba, Kepemilikan Publik berpengaruh positif signifikan terhadap Manajemen Laba, Kualitas Audit tidak berpengaruh terhadap Manajemen Laba.

Kata kunci: komisaris independen; komite audi; kinerja perusahaan

INDEPENDENT BOARD OF COMMISSIONERS, PUBLIC OWNERSHIP AND AUDIT QUALITY THEIR EFFECT ON EARNINGS MANAGEMENT: A STUDY ON

MANUFACTURING COMPANIES IN THE MULTI-INDUSTRIAL SECTOR LISTED ON THE STOCK ECHANGE IN 2017-1018

ABSTRACT

This study aims to examine: the effect of the independent Board of Commissioners on Earnings Management, examine the effect of Public Ownership on Earnings Management, examine the effect of public Accounting Firms on Earnings Management. The population in this study was the various industrial sector manufacturing companies listed on the Indonesia Stock Exchange, from 2017 to 2018 39 data were obtained. The Study was carried out by sampling, with a purposive sample technique and the analysis technique used was multiple linear regression. The results of the study are the independent board of commissioners has an effect on earnings management, public ownership has a significant positive effect on earnings management, Audit Quality has on effect on Earnings Management.

Keywords: independent commissioner; audit committee; company performanc

PENDAHULUAN

Laporan keuangan merupakan hasil akhir dari ringkasan proses akuntansi meliputi transaksi keuangan yang terjadi selama tahun buku yang bersangkutan dan diolah sedemikian rupa sehingga dapat memberikan informasi atas keadaan finansial perusahaan yang dapat bermanfaat bagi pihak-pihak yang berkepentingan ( Yoviaal, 2015) . Menurut Ikatan Akuntan Indonesia(2016) tujuan laporan keuangan adalah memberikan informasi mengenai posisi keuangan, kinerja keuangan, dan arus kas entitas yang bermanfaat bagi sebagian besar kalangan pengguna laporan dalam pembuatan keputusan ekonomi. Oleh karena itu, laporan yang berkualitas yaitu laporan yang terbebas dari rekayasa dan mengungkapkan informasi yang sesuai dengan fakta sebenarnya yang menjadi kepentingan bagi banyak pihak. Laporan keuangan merupakan bentuk pertanggungjawaban manajemen perusahaan kepada pihak-pihak

(2)

p-ISSN: 2087-8281

yang berkepentingan, seperti pemegang saham, investor, kreditor, pemerintah, masyarakat maupun pihak-pihak lainnya.

Manajemen seringkali menyalahgunakan laporan keuangan dengan melakukan perubahan dalam penggunaan metode akuntansi yang digunakan, sehingga income yang ditampilkan dalam laporan keuangan kelihatan smooth. Hal ini sering dikenal dengan istilah manajemen laba (Earnings Management) Menurut Scott (2012) manajemen laba (Earnings Management) merupakan pilihan manajer dalam memilih kebijakan akuntansi, untuk mencapai beberapa tujuan yang spesifik. Manajemen laba (Earnings Management) dapat mempengaruhi motivasi manajer untuk meminimalkan usaha, karena manajer dapat menggunakan manajemen laba untuk kelancaran kompensasi mereka dari waktu ke waktu.

Fenomena perusahaan mengalami manajemen laba antara lain Kasus Garuda Indonesia berdasarkan hasil laporan keuangan Garuda Indonesia untuk tahun buku 2018. Dalam laporan keuangan tersebut, Garuda Indonesia Group membukukan laba bersih sebesar USD809,85 ribu atau setara Rp11,33 miliar (asumsi kurs Rp14.000 per dolar AS). Angka ini melonjak tajam dibanding 2017 yang menderita rugi USD216,5 juta. Namun laporan keuangan tersebut menimbulkan polemik, lantaran dua komisaris Garuda Indonesia yakni Chairal Tanjung dan Dony Oskaria (saat ini sudah tidak menjabat), menganggap laporan keuangan 2018 Garuda Indonesia tidak sesuai dengan Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK). Pasalnya, Garuda Indonesia memasukan keuntungan dari PT Mahata Aero Teknologi yang memiliki utang kepada maskapai Garuda tersebut. PT Mahata Aero Teknologi sendiri memiliki utang terkait pemasangan wifi yang belum dibayarkan. yang menyangkut nama Garuda Indonesia belakangan ini sangat ramai diperbincangkan oleh publik (okezone.com 29 Juni 2019).

Banyaknya fenomena perusahaan yang melakukan manajemen laba (Earnings Management) karena adanya agency conflicts, yang muncul karena terjadinya pemisahan antara pemilik dengan pengelola perusahaan. Dengan pemisahan ini, pemilik perusahaan memberikan kewenangan pada pengelola untuk mengurus jalannya perusahaan seperti mengelola dana dan mengambil keputusan perusahaan lainnya atas nama pemilik. Kewenangan ini, mungkin saja pengelola tidak bertindak yang terbaik untuk kepentingan pemilik, karena adanya perbedaan kepentingan (conflicts of interest) sehingga mengikis kepercayaan investor dalam kualitas pelaporan keuangan dan menghambat kelancaran arus modal di pasar keuangan.

Oleh karena itu, perlu mekanisme pengendalian untuk menyelaraskan perbedaan kepentingan antara manajemen dengan prinsipal yaitu good corporate governance yang salah satu tujuannya adalah untuk mencegah tindakan manajemen laba yang berlebihan.

Good Corporate Governance (GCG) adalah seperangkat sistem yang mengatur dan mengendalikan perusahaan untuk menciptakan nilai tambah (value added) bagi para pemangku kepentingan (Khoiruddin, 2016).Teori keagenan memberi gambaran bahwa praktik manajemen laba dapat diminimalisir dengan adanya pengawasan dari pihak internal melalui good corporate governance. Manajamen laba dapat diminimalisir melalui suatu mekanisme monitoring untuk menyelaraskan perbedaan kepentingan antara pemilik dengan manajemen dengan cara: (1) Memperbesar kepemilikan saham oleh manajemen, (2) Adanya kepemilikan saham olehinstitusional, (3) Melalui peran pengawasan monitoring oleh komisaris independen, (4) Membentuk komite audit sebagai pengawas perusahaan. Kualitas auditor juga sangat menentukan kredibilitas laporan keuangan. Perusahaan cenderung menggunakan jasa kantor akuntan publik (KAP) yang mempunyai reputasi atau nama baik sehingga akan meningkatkan kredibilitas laporan keuangannya. Kualitas audit biasanya ditunjukkan dengan kantor akuntan

(3)

p-ISSN: 2087-8281

publik yang berafiliasi dengan kantor akuntan publik besar yang berlaku universal yang dikenal dengan Big Four Worldwide Accounting Firm (Big 4).

Penelitian Khoiruddin (2016) hasil penelitiannya menunjukkan bahwa kepemilikan institusional, kepemilikan manajerial, ukuran dewan komisaris dan ukuran komite audit tidak berpengaruh terhadap manajemen laba, Penelitian Husna (2018) hasil penelitiannya komisaris independent, komite audit, kepemilikan manajerial, dan kualitas audit tidak berpengaruh terhadap manajemen laba. Penelitian Cahyaningtyas (2018) Hasil penelitiannya kepemilikan manajerial, kepemilikan institusional, dewan komisaris independen dan kualitas audit tidak berpengaruh terhadap manajemen laba. Penelitian Wardani (2018), hasil penelitiannya kepemilikan institusional, kepemilikan manajerial, komite audit, dan komisaris independen tidak berpengaruh terhadap manajemen laba. kepemilikan institusional, kepemilikan manajerial, komite audit, dan komisaris independen tidak berpengaruh terhadap manajemen laba

Penelitian Handoyo (2016) hasil penelitiannya menunjukan bahwa kepemilikan manajerial, kepemilikan Institusional, Komite Audit terbukti berpengaruh signifikan terhadap manajemen laba.Penelitian Sigit(2016) Hasil penelitiannya Kepemilikan manajerial, kepemilikan Institusional, komite audit, berpengaruh terhadap manajemen laba. Penelitian Husna (2018) Kepemilikan Institusional berpengaruh signifikan terhadap manajemen laba. Penelitian Aminah (2018) hasil penelitiannya kepemilikan manajerial dan Dewan Komisaris memiliki pengaruh yang signifikan terhadap manajemen laba.PenelitianAmijaya (2013) hasil penelitiannya Kualitas Audit berpengaruh positif terhadap manajemen laba.

Hasil penelitian Putra dan Suardana (2016) bahwa Kepemilikan Publik dan Debt to Equity Ratio berpengaruh terhadap praktik prataan laba perusahaan manufaktur di Bursa Efek Indonesia tahun 2010 -2013, sedangkan hasil penelitian Ginantra dan Putra (2015) bahwa profitabilitas, financial Laverage, ukuran perusahaan, kepemilikan public dan Devidend Payout Ratio tidak berpengaruh terhadap perataan laba. Berdasarkan latar belakang dan hasil penelitian terdahulu yang berbeda maka peneliti ingin mengkaji ulang dengan penelitian yang berjudul Analisis Pengaruh Dewan Komisaris Independen, Kepemilikan Publik dan Kualitas Audit terhadap Earning Mangement. Hubungan keagenan merupakan dasar yang digunakan untuk memahami corporate governance. Good Corporate Governance terjadi dilatar belakangi dengan adanya agency theory yang timbul berkaitan dengan prinsip, dan muncul untuk menghindari konflik antara principal dan agentnya. Berdasarkan latar belakang identifikasi masalahnya adalah untuk mengetahui pengaruh Dewan Komisaris Independent, Kepemilikan Publik, dan Kualitas Audit terhadap manajemen laba.

TELAAH PUSTAKA

Dewan Komisaris Independen

Tunggal (2009) menyatakan komisaris independen adalah anggota dewan komisaris yang diangkat berdasarkan keputusan RUPS dari pihak yang tidak terafiliasi dengan pemegang saham utama, anggota direksi dan/atau anggota dewan komisaris lainnya. Agoes (2014) Komisaris dan direktur independen adalah seseorang yang ditunjuk untuk mewakili pemegang saham independen (pemegang saham minoritas) dan pihak yang ditunjuk tidak dalam kapasitas mewakili pihak mana pun dan semata-mata ditunjuk berdasarkan latar belakang pengetahuan, pengalaman, dan keahlian profesional yang dimilikinya untuk sepenuhnya menjalankan tugas demi kepentingan perusahaan.

(4)

p-ISSN: 2087-8281

Komite Nasional Kebijakan Governance (KNKG) (2006) Komisaris Independen adalah anggota dewan komisaris yang tidak berafiliasi dengan manajemen, anggota dewan komisaris lainnya dan pemegang saham pengendali, serta bebas dari hubungan bisnis atau hubungan lainnya yang dapat mempengaruhi kemampuannya untuk bertindak independen atau bertindak semata-mata demi kepentingan perusahaan. Berdasarkan ketiga definisi di atas dari Tunggal (2009), Agoes (2014) serta Komite Nasional Kebijakan Governance (KNKG) (2006) dewan komisaris independen adalah anggota dewan komisaris yang tidak terafiliasi dengan manajemen, pemegang saham , dan anggota dewan komisaris lainnya.

Djuitaningsih (2012) pengukuran proporsi dewan komisaris independen adalah Proporsi dewan komisaris independen diukur dengan rasio atau (%) antara jumlah anggota komisaris independen dibandingkan dengan jumlah total anggota dewan komisaris. Menurut Haniffa (2002) apabila jumlah komisaris independen di suatu perusahaan semakin besar atau dominan, maka dapat memberikan power kepada dewan komisaris untuk meningkatkan kualitas pengungkapan informasi perusahaan. Komposisi dewan komisaris independen yang semakin besar dapat mendorong dewan komisaris untuk bertindak objektif dan mampu melindungi seluruh stakeholders perusahaan. Komisaris independen diperlukan untuk meningkatkan independensi dewan komisaris terhadap kepentingan pemegang saham dan benar-benar menempatkan kepentingan perusahaan diatas kepentingan lainnya.

Kepemilikan Manajerial

Kepemilikan publik adalah tingkat kepemilikan saham perusahaan oleh publik atau masyarakat umum diluar lingkungan perusahaan. Wijayanti (2009), ISSN: 2302-8556 E-Jurnal Akuntansi Universitas Udayana Vol.15.3. Juni(2016): 2188-2215 2198 kepemilikan perusahaan oleh pihak luar mempunyai kekuatan besar dalam perusahaan karena dapat mempengaruhi perusahaan melalui media masa yang semuanya dianggap sebagai suara publik atau masyarakat. Struktur kepemilikan publik dengan proporsi besar dapat menekan pihak manajemen agar menyajikan informasi perusahaan secara tepat waktu.Karena ketepatan waktu pelaporan keuangan dapat mempengaruhi pengambilan keputusan ekonomi (Istiqomah, 2010).

Kepemilikan publik yang tinggi akan meningkatkan pengelolaan laba yang dilakukan pihak manajemen perusahaan. Semakin tinggi tingkat proporsi kepemilikan perusahaan yang dimiliki publik menunjukkan bahwa tingkat kepercayaan investor terhadap perusahaan tinggi, karena itu manajemen cenderung melakukan perataan laba untuk menunjukkan tingkat laba dan kinerja perusahaan yang baik (Nuraeni, 2010).Kepemilikan publik adalah tingkat kepemilikan saham perusahaan oleh publik atau masyarakat umum diluar lingkungan perusahaan.Struktur kepemilikan publik dengan proporsi besar dapat menekan pihak manajemen agar menyajikan informasi perusahaan secara tepat waktu. Karena ketepatan waktu pelaporan keuangan dapat mempengaruhi pengambilan keputusan ekonomi (Istiqomah, 2010)

Proporsi kepemilikan publik tinggi dalam suatu perusahaan membuat manajemen harus selalu dituntut untuk menunjukkan kredibilitas yang baik dengan cara menampilkan performa laporan keuangan yang sesuai dengan keinginan investor seperti menstabilkan rasio-rasio keuangan yang dapat mempengaruhi keputusan investor. Hal ini dilakukan agar investor mau terus menginvestasikan dana pada perusahaan, karena kondisi tersebut manajemen cenderung melakukan perataan laba agar selalu dapat menampilkan kinerja yang terbaik dalam perusahaan. Kinerja perusahaan yang selalu baik akan mempengaruhi para keputusan investor untuk berinvestasi.

(5)

p-ISSN: 2087-8281 Kualitas Audit

Auditor eksternal adalah auditor yang berdiri sebagai pihak ke-3 diluar perusahaan, dimana auditor eksternal ini bekerja berdasarkan surat perintah kerja. Auditor jenis ini bekerja di bawah Kantor Akuntan Publik dan bekerja secara independen dan objektif terhadap klien atau perusahaan yang akan diaudit. Komite Nasional Kebijakan Governance menyatakan bahwa, auditor eksternal memiliki hubungan kerja dengan komite audit dalam mengadakan pengawasan eksternal audit yang berkualitas, dimana komite audit harus memberikan rekomendasi tentang pengangkatan dan/atau penggantian auditor eksternal (Amartiwi, 2012).

1) Meninjau surat pengangkatan auditor eksternal.

2) Meninjau biaya untuk eksternal audit.

3) Meninjau lingkup dan perencanaan audit eksternal.

4) Meninjau laporan audit eksternal.

5) Meninjau management letters audit eksternal.

6) Memonitor kinerja auditor eksternal.

7) Memastikan, bahwa auditor eksternal bekerja sesuai dengan standar profesional yang bersangkutan, khususnya dalam hubungan dengan independensi.

Faktor-faktor yang mempengaruhi kualitas auditor eksternal menurut (Koroy, 2008) adalah : 1. Karakteristik terjadinya kecurangan

Ketidakmampuan auditor dalam pendektesian kecurangan ini ada hubungan dengan keahliannya dibentuk oleh pengalaman yang relevan dengankecurangan. Kecurangan itu sendiri frekuensi terjadinya jarang dan tidaksemua auditor pernah mengalami kasus terjadinya kecurangan, sehingga pengalaman auditor berkaitan dengan kecurangan tidak banyak. Pengalaman saja tidak cukup dalam mendeteksi kecurangan kecuali jika pengalaman itu diperoleh dari industri yang sama atau melalui penugasan yang melibatkan kekeliruan atau kecurangan yang material.

2. Standar pengauditan

Dalam pendeteksian kecurangan yang menjadi masalah bukanlah ketiadaan standar pengauditan yang memberikan pedoman bagi upaya pendeteksian kecurangan, tetapi kurang memadainya standar tersebut memberikan arah yang kurang tepat. Hal ini terlihat dari uraian perkembangan standar pengauditan di depan yang menunjukkan usaha untuk terus menerus memperbaiki standar mengatur pendeteksian kecurangan. Perbaikan ini terutama timbul dari kenyataan bahwa tanggung jawab pendeteksian kecurangan pada praktek belum cukup efektif dilaksanakan.

3. Lingkungan kerja audit

Tekanan-tekanan dalam lingkungan pekerjaan KAP (Kantor Akuntan Publik) kemungkinan berdampak buruk bagi kualitas audit. Tekanan-tekanan lingkungan pekerjaan itu dapat dibagi menjadi atas beberapa hal yaitu:

a. Tekanan kompetisi atas audit fee

Kompetisi yang semakin tajam di antara kantor akuntan publik untuk memperebutkan klien memang tidak terhindarkan lagi dalam bisnis jasa akuntansi. Namun hal ini mempunyai implikasi yang perlu menjadi perhatian oleh pihak profesi akuntan publik yaitu kompetisi yang semakin tajam akan mengakibatkan penekanan untuk penurunan audit fee, sehingga KAP mengurangi pekerjaan audit untuk mempertahankan margin labanya dan mengarah pada perubahan baik atas kejadian kecurangan maupun pendeteksian kecurangan.

(6)

p-ISSN: 2087-8281 b. Tekanan waktu

Tekanan waktu adalah ciri lingkungan yang biasa dihadapi auditor. Adanya tenggang waktu penyelesaian audit membuat auditor mempunyai masa sibuk yang menuntut agar dapat bekerja cepat. Para peneliti dan praktisi banyak berpendapat bahwa tekanan ini dapat memperburuk kualitas pekerjaan audit.

c. Relasi hubungan auditor-auditee.

Kedekatan hubungan ini mempunyai implikasi atas independensi dan objektivitas auditor.

Kedekatan ini juga memperkuat kepercayaan dan komunikasi sehingga komunikasi sensitif akan diperlakukan bijaksana dan tindakan tepat dapat dilakukan dengan cara diplomatis namun efektif.

d. Metode dan prosedur audit

Metode dan prosedur audit yang tradisional tidaklah selalu dapat memberikan keyakinan yang seharusnya diberikan dalam upaya pendeteksian kecurangan. Komisi ini menyarankan agar auditor menaruh perhatian atas efektifitas teknik pengauditan konvensional dan perlunya pengembangan teknik baru.

Penelitihan Terdahulu

Penelitian Aminah (2018), dengan hasil penelitian bahwa kepemilikan manajerial dan Dewan Komisaris memiliki pengaruh yang signifikan terhadap manajemen laba.Hasil penelitian Putra dan Suardana (2016) bahwa Kepemilikan Publik dan Debt to Equity Ratio berpengaruh terhadap praktik perataan laba perusahaan manufaktur di Bursa Efek Indonesia tahun 2010 - 2013. PenelitianAmijaya (2013), dengan hasil penelitian bahwakualitas Audit berpengaruh positif terhadap manajemen laba.

Kerangka Pemikiran

MOTODE

Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kuantitatif. Menurut Azwar (2008) penelitian deskriptif adalah suatu penelitian yang bertujuan untuk menggambarkan secara sistematik, akurat, dan karakteristik mengenai populasi atau mengenai bidang tertentu.

Data yang dikumpulkan semata-mata bersifat deskriptif sehingga tidak bermaksud untuk mencari penjelasan, menguji hipotesis, membuat prediksi atau pun mencari implikasi. Menurut Azwar (2008) Pendekatan Kuantitatif adalah suatu penelitian yang menekankan analisisnya pada data angka yang diolah dengan metode statistika tertentu. Dengan kata lain, penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif jika data yang digunakan bersifat angka.

Desain penelitian ini yang akan lakukan adalah penelitian asosiatif yaitu penelitian yang bertujuan untuk mengetahui hubungan antar dua variabel atau lebih. Objek penelitian adalah manajemen laba perusahaan pada tahun 2017-2018. Pemilihan sampel yang digunakan

Dewan Komisaris Independent Kepemilikan Publik (X2)

Kualitas Audit (X3)

Manajemen Laba

(Y) H

H H

(7)

p-ISSN: 2087-8281

dalam penelitian adalah purposive sampling. Purposive sampling adalah teknik penentuan sampel dengan pertimbangan tertentu, dimana umumnya disesuaikan dengan tujuan atau masalah penelitian.Sampel dalam penelitian ini adalah perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia dengan kriteria sebagai berikut:

1) Perusahaan manufaktur sektor Aneka Industriyang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) tahun 2017-2018.

2) Perusahaan manufaktur sektor Aneka Industri yang menerbitkan laporan keuangan dan laporan tahunan untuk periode yang berakhir 31 Desember selama periode 2017-2018.

Penelitian ini menggunakan data sekunder. Data sekunder adalah data penelitian yang diperoleh secara tidak langsung, melalui media perantara. Data sekunder tersebut berupa laporan tahunan perusahaan manufaktur sektorAneka Industri yang telah listing di BEI pada tahun 2017-2018 yang diperoleh dari situs BEI yaitu www.idx.co.id, 2018. Variabel dependen adalah faktor- faktor yang diobservasi dan diukur untuk menentukan adanya pengaruh dari variabel bebas.

Dalam penelitian ini, variabel dependen berupa manajemen laba diproksi dengan discretionary accrual, dimana discretionary accrual didefinisikan sebagai penyesuaian akuntansi terhadap arus kas perusahaan menurut pilihan manajer. Sedangkan Non-Discretionary Accrual, didefinisikan penyesuaian akuntansi terhadap arus kas perusahaan diatur oleh badan penetapan standar akuntansi (Jones, 1991).Pengukuran manajemen laba menggunakan Discretionary Accrual (DA).Penggunaan DA sebagai proksi Manajemen Laba dihitung dengan menggunakan Modified Jones Model (Dechow et. al, 1995), Alasan penggunaan model Modified Jones karena model ini merupakan model yang paling baik dalam mendeteksi manajemen laba dibandingkan dengan model yang lain serta memberikan hasil yang paling akurat. Karena dalam model ini terdapat unsur pendapatan dan piutang, dimana ada indikasi bahwa perubahan pendapatan akan dipengaruhi oleh perubahan piutang. Sehingga setelah dikurangi nilai piutang maka dapat menunjukkan bahwa pendapatan yang diterima adalah pendapatan bersih.

HASIL

Analisis Statistik Deskriptif

Populasi dalam penelitian ini pada table 2 adalah 18 perusahaan manufaktor sektor Aneka Industri yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode tahun 2017 – 2018 yg mempublikasikan laporan keuangan dalam setiap periode pengamatan terdapat 18 perusahaan. Periode selama 3 tahun penelitian diperoleh 54 perusahaan, setelah uji normalitas data, hasil uji data tidak berdistribusi normal, kemudian dilakukan beberapa kali outlier dengan membuang 15 perusahaan, sehingga diperoleh sebanyak 39 perusahaan sebagai sampel. Berikut kriteria sampel perusahaan manufaktor sektor Aneka Industri

Analisis deskriptif yang digunakan dalam penelitian ini pada tabel 3 untuk mengetahui karateristik sampel, meliputi mean, standar deviasi nilai maksimum dan nilai minimum.

Berdasarkan hasil uji statistics deskriptif diperoleh 39 data observasi yg berasal dari perusahaan yang listing di Bursa Efek Indonesia. Sampel yang berjumlah 39 perusahaan tersebut memiliki data yg lengkap untuk kepentingan penelitian .

(8)

p-ISSN: 2087-8281

Tabel 1.

Hasil Analisis Statistik Deskriptif

DKI KP KAP DA

N Valid 39 39 39 39

Missing 0 0 0 0

Mean 48.6315 31.5295 .31 -.3985

Std. Deviation 31.5374

9

19.1110 4

.468 .37397

Minimum 20.00 8.78 0 -1.19

Maximum 150.00 70.60 1 .87

Variabel Dewan Komisaris Independen (DKI) Nilai terendah sebesar 20 yakni perusahaan Multi Strada Arah Sarana Tbk (MASA). Sedangkan nilai tertinggi sebesar 150 yakni perusahaan Kabelindo Murni Tbk (KBLM), sedangkan nilai rata-rata Dewan Komisaris Independen (DKI) 48,63 dengan nilai standar deviasi sebesar 31,54. Variabel Kepemilikan Publik (KP) Nilai terendah sebesar 8.78 yakni perusahaan Panasia Indo Resources Tbk / dh Panasia Indosyntexx Tbk (HDTX). Sedangkan nilai tertinggi sebesar 70.60 yakni perusahaan Nusantara Inti Corpora Tbk (UNIT), sedangkan nilai rata-rata Kepemilikan Publik (KP) 31,53 dengan nilai standar deviasi sebesar 19,11. Variabel Kualitas Audit (KAP – Kantor Akuntan Publik) merupakan variable dummy, angka 1 menunjukan KAP tersebut berafiliasi dengan KAP Big4, sedangkan angka 0 menunjukan KAP tersebut tidak berafiliasi dengan KAP Big4.

Variabel Manajemen Laba Nilai terendah sebesar -1,19 yakni perusahaan Panasia Indo Resources Tbk / dh Panasia Indosyntexx Tbk (HDTX). Sedangkan nilai tertinggi sebesar 0,87 yakni perusahaan Nusantara Inti Corpora Tbk (UNIT), sedangkan nilai rata-rata Manajemen Laba -0,39 dengan nilai standar deviasi sebesar 0,37.

Uji Normalitas Data

Sebelum dilakukan uji asumsi klasik, dilakukan uji normalitas data dengan hasil uji normalitas yaitu nilai Asymp. Sig. (2-tailed) harus lebih besar dari 0,05. Uji normalitas digunakan untuk menguji model regresi, variable independen dan variable dependen memiliki distribusi data normal. Sebelum melakukan uji statistic, langkah awal yang harus dilakukan adalah screening terhadap data yg akan diolah. Salah satu asumsi penggunaaan statistic parametik adalah asumsi multi variat normality (bahwa setiap variable dan semua kombinasi linier dari variable berdistribusi normal). Jika asumsi ini dipenuhi, maka nilai residual dari analisis akan berdistribusi normal dan independen ada dua model uji normalitas yaitu uji statistic Kolmogorov-Smirnov dan grafik, untuk penelitian ini digunakan uji normalitas Kolmogorov- Smirnov. Berikut ini adalah hasil pengujian dengan menggunakan IBM SPSS v.19.

Penelitian regresi linier berganda diwajibkan data harus memenuhi salah satu syarat yaitu data harus berdistribusi normal (Sujarweni,2016 ) berdasarkan table 4.4 di atas, probabilitas nilai uji Kolmogorov-Smirnov adalah 0,982 artinya signifikan lebih besar dari 0,05 secara statistic berarti data berdistribusi normal. Setelah data berdistribusi normal kemudian dilakukan uji asumsi klasik yang terdiri dari 3 uji yaitu Uji Autokorelasi, Uji Multikolinearitas, dan Uji Heteroskedastisitas.

Uji Autokorelasi

Uji Autokorelasi pada table 5 dalam satu model bertujuan untuk mengetahui ada tidaknya korelasi antara variable pengganggu pada periode tertentu dengan vairiabel periode sebelumnya (Sujarweni 2016) karena data time series (data runtut waktu) autokorelasi

(9)

p-ISSN: 2087-8281

terjadi,sedangkan untuk data yg sampelnya crossection jarang terjadi karena variable pengganggu satu berbeda dengan yang lain.

Mendeteksi autokorelasi dengan menggunakan nilai Durbin Watson di bandingkan dengan table Durbin Watson (dl dan du). Jika hasil statistic Durbin Watson lebih dari 2 maka harus memenuhi kriteria 2 < d < 4-dU, jika hasil statistic Durbin Watson kurang dari 2, maka harus memenuhi kriteria dL< d < 2, maka dikatakan tidak ada autokorelasi positif maupun negatif (Sujarweni, 2016).

Tabel 2.

Hasil Uji Autokorelasi Model Summaryb

Model Durbin-Watson

1 1.690a

a. Predictors: (Constant), KAP, KP, DKI b. Dependent Variable: DA

Tabel 2, nilai dw (d) sebesar 1,690 nilai ini dibandingkan dengan nilai tabel DW dengan menggunakan nilai signifikansi 5%, jumlah sampel (n) : 39 dan jumlah variable independen (k): 3, hasilnya adalah dL = 1.3283 dan dU = 1.6575. Maka jika hasil statistic dw kurang dari 2 maka harus mempunyai kriteria : dL < dw < 2, hasilnya adalah 1,3283 < 1,690 < 2 maka dikatakan hasil uji Dorbin Watson telah menemui kriteria yang artinya model tidak terjadi autokorelasi.

Uji Multikolinearitas

Menurut Ghozali (2016) uji ini bertujuan menguji apakah pada model regresi ditemukan adanya korelasi antar variabel independen.Pada model regresi yang baik seharusnya antar variabel independen tidak terjadi kolerasi. Untuk mendeteksi ada tidaknya multikoliniearitas dalam model regresi dapat dilihat dari tolerance value atau variance inflation factor (VIF). Kedua ukuran ini menunjukkan setiap variabel independen manakah yang dijelaskan oleh variable independen lainnya.Tolerance mengukur variabilitas variabel independen yang terpilih yang tidak dijelaskan oleh variabel independen lainnya. Nilai cutoff yang umum dipakai adalah : 1) Jika nilai tolerance > 10 atau > 0,1 dan nilai VIF < 10, maka dapat disimpulkan bahwa

tidak ada multikolinearitas antar variable independen dalam model regresi.

2) Jika nilai tolerance < 10 atau < 0,1 dan nilai VIF > 10, maka dapat disimpulkan bahwa ada multikolinearitas antar variabel independen dalam model regresi.

Uji multikolinearitas pada table 6 diperlukan untuk mengetahui ada tidaknya variable independen yang memiliki kemiripan antar variable independen dalam suatu model. Kemiripan antar variabel independen akan mengakibatkan korelasi yang sangat kuat.

Tabel 3.

Hasil Uji Multikolinearitas Coefficientsa

Model

Collinearity Statistics Tolerance VIF

1 DKI .822 1.216

KP .844 1.185

KAP .922 1.085

a. Dependent Variable: DA

(10)

p-ISSN: 2087-8281

Tabel 3, nilai tolerance dari output di atas adalah > 10 persen atau > 0,1 Dewan Komisaris Independen (DKI) sebesar 0,822 dan VIF sebesar 1.216,Kepemilikan Publik (KP) nilai tolerance 0,844 dan VIF sebesar 1,185 sedangkan Kantor Akuntan Publik (KAP) nilai tolerance sebesar 0,922 dan VIF sebesar 1,085. Hal tersebut menunjukkan bahwa nilai tolerance Dewan Komisaris Independen (DKI), Kepemilikan Publik (KP) dan Kantor Akuntan Publik (KAP) di atas atau lebih besar dari 0,1 dan VIF dari Variabel Dewan Komisaris Independen (DKI), Kepemilikan Publik (KP) dan Kantor Akuntan Publik (KAP) < 10 persen atau > 0,1 maka dapat disimpulkan bahwa tidak ada multikolinearitas antar variable independen dalam model regresi.

Uji Heteroskedastisitas

Uji heteroskedastisitas pada table 7 bertujuan untuk menguji apakah model regresi terjadi ketidaksamaan variance dan residu antar satu pengamatan dengan pengamatan yang lain.

Dalam penelitian ini uji heteroskedastisitas dilakukan dengan uji Glejser.Uji Glejser mengusulkan untuk meregres nilai absolut residual terhadap variabel bebas (Sujarweni, 2016).

Dimana jika nilai koefisien korelasi semua prediktor terhadap residual adalah > 0,05 dapat disimpulkan bahwa model regresi tidak terjadi heteroskedastisitas. Hasil output SPSS di atas menunjukkan bahwa koefisien parameter untuk variabel independen Dewan Komitsaris Independen (DKI) sebesar 0,705 (lebih besar dari 0,05), Kepemilikan Publik (KP) sebesar 0.347 (lebih besar dari 0,05) dan Kantor Audit Publik sebesar 0,149 (lebih besar dari 0,05), maka dapat dikatakan model regresi tidak terdapatheteroskedastisitas.

Analisis Regresi Linier Berganda

Regresi bertujuan pada tabel 8 untuk menguji pengaruh antara variabel satu dengan variabel lain (Sujarweni, 2016).Variabel yang dipengaruhi disebut variabel tergantung / terikat atau dependen, sedangkan variabel yang mempengaruhi disebut variabel bebas atau variabel independen. Persamaan regresi linier berganda yang dibaca adalah nilai dalam kolom B, baris pertama menunjukkan konstanta (a) dan baris selanjutnya menunjukkan koefisien variabel independent Berikut ini adalah hasil pengujian dengan menggunakan IBM SPSS Statistics Version 19 edition for windows 10

DA = -0,592 + 0,001 DKI + 0,007 KP – 0,201 KAP + e

Dalam persamaan regresi di atas, konstanta adalah sebesar – 0,592 hal ini berarti jika tidak ada perubahan variabel Dewan Komisaris Independen (DKI), Kepemilikan Publik (KP) dan Kantor Akuntan Publik (KAP) maka Discretionary Accrual (DA) tetap sebesar -0,592.

Dari persamaan regresi linier berganda, maka dapat dianalisis sebagai berikut:

1) Y adalah variabel dependen yaitu Manajemen Laba

2) Angka sebesar -0,592 menunjukan bahwa apabila tingkat Dewan Komisaris Independen (X1), Kepemilikan Publik (X2) dan Kantor Akuntan Publik (X3) jika nol menyebabkan nilai Discretionary Accrual (DA) sebesar -0,592.

3) Variabel tingkat Dewan Komisaris Independen (X1) mempunyai nilai koefesien regresi itu sebesar 0,001 berarti bahwa setiap peningkatan rasio Dewan Komisaris Independen (X1) sebesar 1 satuan akan mengakibatkan Manajemen Labanaik sebesar 0,001 dengan asumsi variabel independen lainnya dianggap nol (konstan).

4) Variabel tingkat Kepemilikan Publik (X2) mempunyai nilai koefesien regresi sebesar 0,007 berarti bahwa setiap peningkatan rasio Kepemilikan Publik (X2) sebesar 1 satuan akan mengakibatkan Manajemen Laba naik sebesar 0,007 dengan asumsi variabel independen lainnya dianggap nol (konstan).

5) Variabel tingkat Kantor Akuntan Publik (X3) mempunyai nilai koefesien regresi itu sebesar – 0,201berarti bahwa setiap peningkatan rasio Kantor Akuntan Publik (X3) sebesar 1 satuan

(11)

p-ISSN: 2087-8281

akan mengakibatkan Manajemen Laba turun sebesar 0,201dengan asumsi variabel independen lainnya dianggap nol (konstan).

Uji Hipotesis secara Parsial (Uji t)

Uji ini digunakan untuk menentukan apakah ada pengaruh keterikatan antara X1 dengan Y, X2

dengan Y dan X3 denagn Y, yang dapat dilihat dari besarnya thitung terhadap ttable dengan uji 1 sisi (karena hasil dari uji regresi coefficient positif semua).

Kriteria uji hipotesis secara parsial (uji t) adalah sebagai berikut:

Cara 1: Jika p < 0,05 maka H0 ditolak dan Haditerima.

Cara 2: Jika thitung< ttabel maka H0 diterima, Ha ditolak.

Jika thitung > ttabel maka H0 ditolak, Ha diterima.

Berikut ini adalah hasil pengujian dengan menggunakan IBM SPSS Statistics Version 19 edition for windows 10:

Hasil Pengujian Hipotesis secara parsial (Uji t) terlihat dari Dewan Komisaris Independen (DKI) sebesar 0,488, Kepemilikan Publik (KP) sebesar 2,013 dan Kantor Akuntan Publik (KAP) sebesar -1,453.

Hipotesis 1 menyatakan bahwa tingkat Dewan Komisaris Independen (DKI) berpengaruh secara parsial terhadap Manajemen Laba.

Cara 1: Jika p > 0,05 diperoleh nilai probabilitas kesalahan sebesar 0,629 dan di atas 0,05 maka variabel Dewan Komisaris Independen (DKI) tidak signifikan.

Cara 2: Hasil perhitungan pada regresi berganda diperoleh nilai t hitung sebesar 0,488. Hasil t

table [df = n-k ;one taied (pengujian 1 arah) atau 0,05] sehingga df = 39-3 ; 0,05) = 1,68830.

.Jika thitung< ttabel maka H0 diterima, Ha ditolak.

Jika thitung>ttabe lmaka H0 ditolak, Ha diterima.

Maka 0,488< 1,68830. dengan demikian t hitung tidak berada di daerah penerimaan H0 dan Ha

ditolak.

Berikut ini diberikan gambaran mengenai daerah penolakan H0 dan daerah penerimaan H0: Artinya ada pengaruh antara Dewan Komisaris Independen (DKI) terhadap Manajemen Laba yaitu berpengaruh negative. Pernyataan H1diterima, variabel Dewan Komisaris Independen (DKI) secara parsial berpengaruh negatif terhadap Manajemen Laba Hipotesis 2 menyatakan bahwa Kepemilikan Publik (KP) berpengaruh secara parsial terhadap Manajemen Laba.

Cara 1: Jika p > 0,05 diperoleh nilai probabilitas kesalahan sebesar 0,049 dan dibawah 0,05.

Maka variabel Kepemilikan Publik (KP)signifikan.

Cara2: Hasil perhitungan pada regresi berganda diperoleh nilai t hitung sebesar 2,013. Hasil ttabel ([df = n-k ;one taied (pengujian 1 arah) atau 0,05] sehingga df= 39-3 ; 0,05)= 1,68830.

Jika thitung< ttabel maka H0 ditolak, Ha diterima.

Jika thitung>ttabe lmaka H0 ditolak, Ha diterima.

Maka 2,013 < 1,68830. Dengan demikian t hitung tidak berada di daerah H0 diterima dan Ha

diterima.Berikut ini diberikan gambaran mengenai daerah penolakan H0 dan daerah penerimaan H0: artinya.ada pengaruh antara Kepemilikan Publik (KP) terhadap Manajemen Laba pengaruh positive. Maka Pernyataan H2 diterima, variabel Kepemilikan Publik (KP) secara parsial berpengaruh positif terhadap Manajemen Laba.

(12)

p-ISSN: 2087-8281

Hipotesis 3 menyatakan bahwa tingkat Kantor Akuntan Publik (KAP) berpengaruh secara parsial terhadap Manajemen Laba Cara 1: Jika p < 0,05 diperoleh nilai probabilitas kesalahan sebesar 0,155 di atas 0,05. Maka variabel Kantor Akuntan Publik (KAP) tidak signifikan.

Cara 2: Hasil perhitungan pada regresi berganda diperoleh nilai t hitung sebesar -1,453. Hasil ttabel [df = n-k ;one taied (pengujian 1 arah) atau 0,05] sehingga df = 39-3 ; 0,05) = 1,68830.

Jika thitung< ttabel maka H0 diterima, Ha ditolak.

Jika thitung>ttabe lmaka H0 ditolak, Ha diterima.

Maka -1,453 < -1,68830. Dengan demikian thitung berada di daerah H0 diterima dan Ha ditolak.

Berikut ini diberikan gambaran mengenai daerah penolakan H0 dan daerah penerimaan H0 : Koefisien determinasi (R2)

Uji ini digunakan untuk melihat pengaruh secara simultan atau secara bersama-sama X1, X2 dan X3 terhadap Y. Kriteria Koefisien determinasi (R2) adalah sebagai berikut:

1. Apabila variabel independen (X) jumlahnya lebih dari 2 untuk membaca koefisien determinasi menggunakan nilai Adjusted R square.

2. Apabila variabel independen (X) kurang dari atau sama dengan 2 maka untuk membaca koefisien determinasi menggunakan nilai R square.(Sujarweni, 2016).

Karena variabel independen (X) berjumlah 3 maka untuk membaca koefisien determinasi menggunakan nilai Adjusted R square. Berikut ini pada tabel 10 adalah hasil pengujian dengan menggunakan IBM SPSS Statistics Version 19 edition for windows 10: Hasil analisis regresi linier berganda terlihat dari Adjusted R square sebesar 0,063 yang menunjukkan bahwa 6,3%

Manajemen Laba dipengaruhi oleh Dewan Komisaris Independen (DKI), Kepemilikan Publik (KP) dan Kantor Akuntan Publik (KAP) sisanya 93,7% Manajemen Laba dipengaruhi oleh variabel lain yang belum diteliti dalam penelitian ini.

PEMBAHASAN

Pengaruh Dewan Komisaris Independen (DKI) Terhadap Manajemen Laba

Tidak ada pengaruh antara Dewan Komisaris Independen (DKI) terhadap Manajemen Laba.

Pernyataan H1 ditolak, variabel Dewan Komisaris Independen (DKI) secara parsial tidak berpengaruh terhadap Manajemen Laba. Ditunjukan dari hasil Sig 0,629 lebih besar dari 0,05 dan t hitung sebesar 0,488 t tabel sebesar 1,68830 artinya t hitung berada didaerah H0

diterima.menurut Haniffa (2002) apabila jumlah komisaris independen yg semakin besar dapat mendorong dewan komisaris untuk bertindak obyektif dan mampu melindungi seluruh stakeholders komisaris independen di perlukan untuk meningkatkan independensi dewan komisaris terhadap kepentingan pemegang saham dan benar-benar menempatkan kepentingan perusahaan di atas kepentingan lainnya

PengaruhKepemilik Publik (KP) Terhadap Manajemen Laba

Ada pengaruh antara Kepemilikan Publik (KP) terhadap Manajemen Labapengaruh 2,013.

Maka Pernyataan H2 diterima, variabel Kepemilikan Publik (KP) secara parsial berpengaruh positif terhadap Manajemen Laba dan signifikansi 0,049 hasilt hitung sebesar 2,013 dan t tabel sebesar 1,68830 artinya t hitung berada didaerah H2 diterima.Hal ini berarti investor harus melihat jumlah saham perusahaan yang dimiliki public. Semakin tinggi kepemilikan public dalam suatu perusahaan, semakin sulit perusahaan melakukan tindakan manajemen laba Hal ini sesuai dengan penelitian Herni dan Yulius (2008),Suhartanto (2013),Weryadni (2013) yang menjelaskan bahwa Kepemilikan Publi (KP) berpengaruh positif terhadap Manajemen Laba.Pemilikan public salah satu factor yg mampu mempengaruhi jalannya perusahaan,

(13)

p-ISSN: 2087-8281

merupakan bagian dari mekanisme pengendalian yang dapat dilakukan untuk dapat mengurangi manajemen laba.

Pengaruh Kantor Akuntan Publik (KAP)TerhadapManajemen Laba

Artinya tidak ada pengaruh antara Kantor Akuntan Publik (KAP) terhadap Manajemen Laba, yaitu sebesar 0,155. Pernyataan H3 ditolak, variabel Kantor Akuntan Publik (KAP) secara parsial tidak berpengaruh dan tidak signifikan terhadapManajemen Laba,hasil dari variable Kantor Akuntan Publik (KAP) sebesar 0,155 yang berarti hasil tersebut lebih besar dari 0,05 dan t hitung sebesar -1,453 t tabel sebesar 1,68830 artinya t hitung berada didaerah H0 diterima.

Hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian Triantoro(2016), yang menyatakan bahwa Kantor Akuntan Publik (KAP) tidak berpengaruh, Analisa regresi Variabel Kantor Akuntan Publik bernilai -1,453 dan bertanda negatif. Hal ini menunjukkan bahwa KAP tidak mempunyai hubungan yang searah dengan Manajemen Laba. Pengujian parsial antara variabel KAP dengan variabel Manajemen Laba menunjukkan nilai tidak signifikansi yakni 0,155 yang lebih besar dari 0,05 maka H0 diterima dan H1 ditolak.

Kantor Akuntan Publik yang beraviliasi dengan Big4 mempunyai standar pemeriksaan yang lebih tinggi disbandingkan dengan KAP yang tidak berafiliasi dengan KAP Big4 obyek penelitian perusahaan manufaktur sector Aneka Industri yang menjadi sampel peelitian ini sebagaian besar tidak dipreksa oleh KAP yang berafiliasi dengan Big4. Kualitas audit yang diproxykan dengan KAP tidak berpengaruh terhadap manajemen laba meskipun tidak di audit oleh KAp yang berafiliasi dengan KAP Big4 bisa disebabkan karena unsur-unsur terkait pengendalian interen perusahaan dan satuan pengendalian interen cukup kuat sehingga manajemen tidak mudah melaksanakan manajemen laba.

SIMPULAN

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang telah dilakukan mengenai pengaruh Dewan Komisaris Independen, Kepemilikan Publik, Kualitas Audit terhadap Manajemen Laba, dapat disimpulkan sebagai berikut, Dewan Komisaris Independen tidak berpengaruh terhadap Manajemen Laba. Dewan Komisaris Independen (DKI). Kepemilikan Publik berpengaruh positif signifikan terhadap ManajemenLaba. Kualitas Audit tidak berpengaruh terhadap Manajemen Laba.

DAFTAR PUSTAKA

Assih dan Gudono. (2000). Hubungan Tindakan Perataan Laba dengan Reaksi Pasar atas Pengumuman Informasi Laba Perusahaan yang Terdaftar Di Bursa Efek Jakarta.

Simposium Nasional Akuntansi II

Agoes. (2014). Etika Bisnis dan Profesi. Jakarta: Salemba Empat

Aminah. (2018). Pengaruhan Current Ratio, Debit to Equity Raio, Total Assets Turnover dan Return On Equity terhadap Nilai Perusahaan, e-Proceeding of Management : Vol.5, No.1 Maret 2018

Amri. (2011). Komisaris Independen dan Good Corporate Governance.

http://gustiphd.blogspot.com/komisaris-independen-dan-gcg.html.

Arens. (2010). Auditing and Assurance Services: An Integrated Approach Thirteenth Edition.

New Jersey: Pearson Prentice Hall.

Azwar. (2008). Reliabilitas dan Validitas. Yogyakarta: Pustaka Pelajar

(14)

p-ISSN: 2087-8281

Cahyaningtyas. (2018). Pengaruh Komite Audit, Ukuran Perusahaan, Pemilikan Manajerial, Kepemilikan Institusional, Perencanaan Pajak, Dewan Komisaris Independen dan Kualitas Audit terhadap Manajemen Labaeprints.ums.ac.id

Dendi. (2017). Pengaruh profitabilitas, leverage, ukuran perusahaan, kepemilikan institusional dan kepemilikan manajerial terhadap manajemen laba.JRKA Volume 3 Isue 1.

Fischer; Rosenzweig. (1995). Attitude of Students andAccountingPractitioners Concerning the Ethical Acceptability of Earnings Management. Journal of Business Ethics. Vol.

14. p. 433–444.

Ginantra., Putra. (2015). Pengaruh Profitalitas, Leverage, Ukuran Perusahaan, Kepemilikan Publik,Devidend Payout Rasio dan Net Profit Margin pada Perataan Lab, E-Jurnal Akuntansi Universitas Udayana 10.2 : 602-617

Gibson. (2003). Struktur Organisasi dan Manajemen. Jakarta:Erlangga

Ghozali. (2006). Aplikasi Analisis Multivariate dengan Program SPSS (Edisi Ke 4).

Semarang:Badan Penerbit Universitas Diponegoro

Handoyo. (2016). Pengaruh Spesialisasi Auditor, Pengungkapan Corporate Social Responsibility, dan Sistemic Risk terhadap Earning Response Coefficient, Fakultas Ekonomi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Husna. (2018). Pengaruh Corporate Governance, Ukuran Perusahaan, dan Leverageterhadap Manajemen laba pada Perusahaan (Food and Beverage yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) Tahun 2016.

Handayani. (2009). Pengaruh ukuran perusahaan terhadap manajemen laba.J urnal Bisnis Dan Akuntansi Vol.11 No.1

Haniffa. (2002). Social Reporting Disclosure-An Islamic Perspective. Indonesian Management & Accounting Research 1 (2), pp.128-146

Healy dan Wallen. (1999). Tinjauan Literatur Manajemen Laba dan Implikasinya terhadap Standart Pengaturan, Akuntansi Cakrawala Hal 12.

Ikatan Akuntansi Indonesia. (2016). Standar Akuntansi Keuangan, PSAK No. 1 : Penyajian Laporan keuangan. Jakarta : Salemba Empat

Iturriaga dan Sanz. (2001). Ownership Structure, Corporate Value And Firm Investment: A Simultaneous Equations Analysis Of Spanish Companies. Journal Of Management And Governance Vol. 5 No. 2 Pp. 179-204.

Jao, Robert. (2011). Corporate Governance, Ukuran Perusahaan dan Leverage Terhadap Manajemen Laba Perusahaan Manufaktur Indonesia. Jurnal akuntansi & Auditing Vol. 8, No. 1.

Jensen & Meckling. (1976). Theory Of the Firm:Managerial Behavior, agency costs and ownership structure.

(15)

p-ISSN: 2087-8281

Jones. (1991). Earnings Management During Import Relief Investigations. Journal Of Accounting Research, Vol 29, No.2 1991, p.193 –228

Juitaningsih. (2012). Pengaruh Manajemen Laba dan Mekanisme Corporate Governance terhadap Corporate Social Responsibility Disclosure. Media Riset Akuntansi, Vol.

2 No. 2 Agustus 2012.

Khoiruddin. (2016). Pengaruh Good Corporate GovernanceTerhadap Manajemen Laba Pada Perusahaan yang Masuk Dalam JII (Jakarta Islamic Index). Jurnal Analisis Manajemen, 5(3).

Komite Nasional Kebijakan Governance (KNKG). (2006). Pedoman Umum Good Corporate Governance Indonesia. Jakarta.

Koroy. (2008). Pendeteksian Kecurangan (Fraud) Laporan Keuangan oleh Auditor Eksternal, Jurnal Akuntansi dan Keuangan, Vol.10, No.1, pp.22-33.

Machfoedz. (1994). Pengaruh Rasio Keuangan Terhadap Perubahan Laba, Jurnal Riset Akuntansi Indonesia.

Mikha Pasorong. (2012). Evaluasi Penerapan Prinsip-prinsipGood Corporate GovernanceTerhadap Prosedur Pemberian Kredit Pada Lembaga Perbankan (Studi Empiris Pada PT. Bank Central Asia (Persero) Tbk). Skripsi: Jurusan Akuntansi. Fakultas Ekonomi. Universitas Hasanuddin.

Organization of Economic Co-Operation and Development (OECD). (1999).OECD principle of Corporate Governance. Perancis : OECD Publication.

Panggabean. (2011). Pengaruh Corporate Governance terhadap Praktek Manajemen Laba pada Perusahaan Go Public di Indonesia (Studi Kasus Pada Perusahaan Publik Di Bursa Efek Indonesia Tahun 2007-2009). Skripsi UNDIP.

Phitaloka. (2009). Pengaruh Faktor-Faktor Intern Perusahaan Terhadap Kebijakan Utang dengan Pendekatan Pecking Order Theory. Skripsi: Universitas Lampung.

Priharta. (2018). Pengaruh CGPI, kualitas audit, ukuran perusahaan dan laverage terhadap manajemen laba.Journal of Applied Business and Economics Vol. 4 No. 4

Putra; Suardana. (2016). Pengaruh Varian Nilai Saham Kepemilikan Publik dan Debt to Eqwity Ratio Pada Praktik Perataan Laba, E-Jurnal Akuntansi Universitas Udayana, Vol.

15.3, Juni 2016: 2188-2215.

Pujiningsih. (2011). Pengaruh Struktur Kepemilikan, Ukuran Perusahaan, Praktik Corporate Governance dan Kompensasi Bonus Terhadap Manajemen Laba (Studi Empiris Pada Perusahaan Manufaktur Yang Terdaftar di BEI Tahun 2007- 2009). Skripsi Universitas Diponegoro Semarang.

Ross et. Al. (2002). Corporate Finance, 5th, Mc Graw-Hill.

Scott. (2012). Financial Accounting Theory 6th edition. Toronto: Pearson Education Canada.

(16)

p-ISSN: 2087-8281

Setiawati dan Na’im. (2000). Manajemen Laba. Jurnal Ekonomi dan Bisnis Indonesia.

Vol.15.No. 4

Tunggal. (2009). Akuntansi Manajemen, Jakarta: Harvindo

Wardani dan Isabel. (2018). Pengaruh Srategi Bisnis dan Karakteristik Perusahaan terhadap Manajemen Laba,JRAK, Volume 13, No 2 Agustus 2017

Yoviaal. (2015). Pengaruh Good Corporate Governance Terhadap Earnings Management, Jurnal Ilmiah Mahasiswa Universitas Surabaya Vol.4 No.1.

Referensi

Dokumen terkait

Hasil penelitian mereka menunjukkan bahwa profitabilitas, likuiditas, kepemilikan publik dan reputasi kantor akuntan publik (KAP) berpengaruh signifikan terhadap ketepatan

Kantor Akuntan Publik (KAP), penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukkan bagi Kantor Akuntan Publik (KAP) untuk lebih meningkatkan komitmen akuntan publik

- Memberikan wewenang dan kuasa kepada Dewan Komisaris Perseroan, untuk menunjuk Akuntan Publik dan/atau Kantor Akuntan Publik, dengan kriteria Independen dan terdaftar di

Sistem pengujian nilai dielektrik pada pengujian isolasi listrik ini dapat kita baca, berawal dari sumber tegangan 12 volt DC, kemudian mensuply unit pengontrol

Surat Lamaran Magang dan Proposal yang berisi maksud dan tujuan magang serta waktu yang diinginkan untuk magang maksimal 2 (dua) bulan sebelum program magang dimulai..

Hasil wawancara dengan satu bidan meliputi pelaksanaan program ASI Eksklusif, didapatkan informasi penyuluhan tentang program ASI Eksklusif di lakukan

Penjelasan Tahap III dalam proses presentasi penyusunan dokumen perencanaan di Provinsi Sumbar Tahun 2015 nantinya, jika Provinsi Sumatera Barat masuk ke Tahap III, akan

penunjukannya dan menunjuk Akuntan Publik dan/atau Kantor Akuntan Publik pengganti dalam hal Akuntan Publik dan/atau Kantor Akuntan Publik yang telah ditunjuk tersebut karena