BAB I PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Sekolah Dasar / Madrasah Ibtidaiyah merupakan jenjang pendidikan di tingkat dasar yang memberikan layanan di bidang Pendidikan bagi peserta didik untuk membangun masa depannya. Oleh karena itu Sekolah Dasar / Madrasah Ibtidaiyah selaku lembaga pendidikan perlu menyiapkan penyelenggaraan pendidikan yang berkualitas dan berkarakter sesuai amanat yang tertuang dalam Pasal 31 Undang-Undang Dasar 1945.
Kebijakan demi kebijakan di bidang pendidikan yang diluncurkan oleh pemerintah menjadi bagian dari dinamika pembaharuan dan inovasi pendidikan yang diselaraskan dengan kemajuan bangsa. Salah satu di antaranya adalah kebijakan tentang perubahan kurikulum.
Perubahan kurikulum adalah upaya pemerintah dalam rangka menjawab tantangan global dari keadaan dunia. Untuk itulah pengelolaan pendidikan yang diharapkan dapat memenuhi kebutuhan dan kondisi daerah, harus segera dilaksanakan. Bentuk nyata desentralisasi pengelolaan pendidikan adalah diberikannya kewenangan kepada satuan pendidikan untuk mengambil keputusan berkenaan dengan pengelolaan pendidikan, seperti dalam pengelolaan kurikulum, baik dalam penyusunan maupun pelaksanaannya di satuan pendidikan.
Sebagaimana diketahui bahwa kurikulum merupakan salah satu unsur yang memberikan kontribusi untuk mewujudkan proses berkembangnya kualitas potensi peserta didik tersebut.
Secara khusus untuk dimengerti bahwa kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu.
Tujuan tertentu ini meliputi tujuan pendidikan nasional serta kesesuaian dengan kekhasan, kondisi dan potensi daerah, satuan pendidikan, kompetensi lulusan dan peserta didik.
Secara operasional kurikulum SD / MI ini merupakan salah satu bentuk realisasi kebijakan desentralisasi dengan kebutuhan pengembangan agar kurikulum benar-benar sesuai dengan kebutuhan pengembangan potensi peserta didik di sekolah yang bersangkutan di masa sekarang dan yang akan datang, dengan mempertimbangkan kearifan local dan global serta disesuaikan dengan tuntutan maupun strategi manajemen berbasis sekolah.
Pengembangan Kurikulum pada tahun pelajaran 2019 / 2020 ini merupakan langkah lanjutan Pengembangan Kurikulum KTSP 2006 dan Kurikulum 2013 yang mencakup kompetensi sikap, pengetahuan, dan keterampilan secara terpadu serta mengacu pada kurikulum yang dikembangkan pada tingkat nasional dan daerah. Sejalan dengan kebijakan
tersebut selanjutnya layanan kepada setiap jenjang kelas yang merujuk pada kebijakan pemerintah. Sementara itu yang berkaitan dengan implementasi kurikulum diterapkan sesuai dengan mekanisme dan tata kelola masing-masing kurikulum baik yang versi kurikulum 2006 maupun 2013.
Tim Pengembang Kurikulum mengembangkan Kurikulum dengan melihat beberapa analisis konteks yang berkenaan dengan tantang internal maupun eksternal. Tantangan internal yang berkaitan dengan Tuntutan pendidikan yang mengacu kepada 8 Standar Nasional Pendidikan yang meliputi standar pengelolaan, standar biaya, standar sarana prasarana, standar pendidik dan tenaga kependidikan, standar isi, standar proses, standar penilaian, dan standar kompetensi lulusan. Sedangkan tantang eksternal yang berkaitan dengan Globalisasi: WTO, ASEAN Community, APEC, CAFTA, masalah lingkungan hidup, kemajuan teknologi informasi, konvergensi ilmu dan teknologi, Ekonomi berbasis pengetahuan dan budaya, pengaruh dan imbas teknosains, mutu, investasi dan transformasi pada sektor pendidikan. Atas dasar hal-hal tersebut Tim Pengembang Kurikulum menyusun kurikulum sekolah secara proposional untuk dijadikan pedoman dan arah penyelenggaraan pendidikan secara formal.
B. RUMUSAN MASALAH
1. Bagaimana tujuan kurikulum (Pembelajaran) di MIN ? 2. Bagaimana isi/materi kurikulum di MIN ?
3. Bagaimana proses pembelajaran di MIN ? 4. Bagaimanakah evaluasi kurikulum di MIN ?
C. TUJUAN PENELITIAN
1. Untuk mengetahui tujuan dari kurikulum yang ada di MIN 2. Mengetahui isi/materi kurikulum MIN
3. Mengetahui proses pelaksanaan kurikulum MIN 4. Mengetahui proses evaluasi kurikulum di MIN
D. MANFAAT PENELITIAN
Manfaat dari kegiatan penelitian yang dilakukan adalah:
1. Mengetahui tujuan kurikulum (pembelajaran) di MIN 2. Mengetahui isi/materi kurikulum (pembelajaran) di MIN
3. Mengetahui proses pembelajaran di MIN
4. Mengetahui evaluasi kurikulum (pembelajaran) di MIN 5. Melatih mahasiswa untuk melakukan penelitian di sekolah.
6. Mengembangkan kemampuan mahasiswa dalam menganalisis penerapan kurikulum di sekolah.
BAB II
LANDASAN TEORI
A. PENGERTIAN KURIKULUM
Secara etimologis, istilah kurikulum (curriculum) berasal dari bahasa Yunani, yaitu curir yang artinya “pelari” dan curere yang berarti “tempat berpacu”, dan pasa awalnya digunakan dalam dunia olahraga. Pada saat itu kurikulum diartikan sebagai jarak yang harus ditempuh oleh seorang pelari mulai dari start sampai finish untuk memperoleh medali/penghargaan. Kemudian pengertian tersebut diterapkan dalam dunia pendidikan menjadi sejumlah mata pelajaran (subject) yang harus ditempuh oleh seorang siswa dari awal sampai akhir program pelajaran untuk memperoleh penghargaan dalam bentuk ijazah.
Said Hamid Hasan mengemukakan bahwa pada saat sekarang istilah kurikulum memiliki empat dimensi pengertian, di mana satu dimensi dengan dimensi lainnya saling berhubungan. Keempat dimensi kurikulum tersebut, yaitu: (1) kurikulum sebagai suatu ide/gagasan; (2) kurikulum sebagai suatu rencana tertulis yang sebenarnya merupakan perwujudan dari kurikulum suatu ide; (3) kurikulum sebagai suatu kegiatan yang sering pula disebut istilah kurikulum sebagai suatu realita atau implementasi kurikulum. Secara teoritis, dimensi kurikulum ini adalah pelaksanaan dari kurikulum sebagai suatu rencana tertulis; (4) kurikulum sebagai suatu hasil yang merupakan konsekuensi sebagai suatu kegiatan.
B. TUJUAN KURIKULUM (PEMBELAJARAN)
Dalam kurikulum atau pembelajaran, tujuan memegang peranan penting, karena tujuan akan mengarahkan semua kegiatan pembelajaran dan memberi warna setiap komponen kurikulum lainnya. Tujuan kurikulum dirumuskan berdasarkan dua hal,yaitu: (1) perkembangan tuntutan, kebutuhan dan kondisi masyarakat, (2) didasari oleh pemikiran dan terarah pada pencapaian nilai-nilai filosofis, terutama falsafah negara. Tujuan pendidikan terbagi dalam beberapa kategori yaitu tujuan pendidikan umum dan khusus, tujuan jangka panjang, menengah dan jangka pendek.
Komponen tujuan berhubungan dengan arah atau hasil yang diharapkan. Dalam skala makro rumusan tujuan kurikulum erat kaitannya dengan filsafat atau sistem nilai yang dianut suatu bangsa. Bahkan, rumusan menggambarkan suatu masayarakat yang dicita-citakan.
Dalam kurikulum pendidikan dasar dan menengah 1975/1976 tujuan pendidikan memiliki klasifikasi, dari mulai tujuan yang sangat umum sampai tujuan khusus yang
bersifat spesifik dan dapat diukur, yang kemudian dinamakan kompetensi. Tujuan pendidikan di klasifikasikan menjadi empat yaitu:
1. Tujuan Pendidikan Nasional (TPN).
2. Tujuan Institusional (TI).
3. Tujuan Kurikuler (TK).
4. Tujuan Instruksional atau Tujuan Pembelajaran (TP).
Tujuan Pendidikan Nasional adalah tujuan yang bersifat paling umum dan merupakan sasaran yang harus dijadikan pedoman oleh setiap usaha pendidikan. Tujuan pendidikan umum dirumuskan dalam bentuk perilaku yang ideal sesuai dengan pandangan hidup dan filsafat suatu bangsa yang dirumuskan oleh pemerintah dalam bentuk Undang-undang. Dalam Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 pasal 3 dinyatakan dengan jelas tujuan pendidikan nasional bersumber dari sistem nilai Pancasila berfungsi mengembangkan kemampuan dan bentuk watak serta peradaban bangsa yang bermatabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik, agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga Negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Tujuan pendidikan nasional merupakan tujuan jangka panjang yang menjadi dasar dari segala tujaun pendidikan nasioanl baik pendidikan formal, informal, maupun pendidikan nonformal.
Tujuan Institusional adalah tujuan yang harus dicapai oleh setiap lembaga pendidikan.
Tujuan institusional merupakan tujuan antara untuk mencapai tujuan umum yang dirumuskan dalam bentuk kompetensi lulusan setiap jenjang pendidikan dasar, menengah, kejuruan, dan jenjang pendiidkan tinggi.
Tujuan Kurikuler adalah tujuan yang harus dicapai oleh setiap bidang studi atau mata pelajaran. Tujuan kurikuler juga pada dasarnya merupakan tujuan anatar untuk mencapai tujuan lembaga pendidikan. Dengan demikian, setiap tujuan kurikuler harus dapat mendukung dan diarahkan untuk mencapai tujuan institusional.
Tujuan Pembelajaran yang merupakan bagian dari tujuan kurikuler, dapat didefinisikan sebagai kemampuan yang harus dimiliki oleh peserta didik setelah mereka mempelajari materi pelajaran tertentu dalam mata pelajaran tertentu dalam satu kali pertemuan. Karena hanya guru yang memahami kondisi lapangan, termasuk memahami karakteristik pesrta didik yang akan melakukan pembelajaran disuatu sekolah atu madrasah, maka menjabarkan tujuan pembelajaran adalah tugas guru.
C. ISI / MATERI KURIKULUM
Isi program kurikulum atau bahan ajar adalah segala sesuatu yang ditawarkan kepada siswa sebagai pelajar dalam kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan. Isi kurikulum meliputi mata-mata pelajaran yang harus dipelajari siswa dan isi program masing-masing pelajaran tersebut. Jenis-jenis mata pelajaran ditentukan atas dasar institusional atau tujuan pendidikan tingkat satuan pendidikan (sekolah, madrasah, pondok pesantren dan lembaga pendidikan lain yang bersangkutan).
Mata pelajaran yang berisi materi-materi pokok dan program yang ditawarkan kepada siswa untuk dipelajari pada hakekatnya adalah isi kurikulum atau adapula yang menyebutnya dengan silabus. Dalam silabus terdapat tujuan kurikuler (standar kompetensi), tujuan pembelajaran (kompetensi dasar), indikator dan materi pokok atau pembelajaran di kelas oleh guru. Penentuan pokok-pokok bahasan atau materi pokok didasarkan atas standar kompetensi dan kompetensi dasar atau indikator.
Kriteria yang dapat membantu pada perencanaan kurikulum dalam menetukan isi metri ajar atau isi kurikulum antara lain:
1. Isi kurikulum harus sesuai, tepat dan bermakna bagi perkembangan siswa.
2. Isi kurikulum harus mencerminkan kenyataan social.
3. Isi kurikulum harus mengandung pengetahuan ilmiah yang tahan uji.
4. Isi kurikulum dapat menunjang tercapainya tujuan pendidikan.
Materi ajar pada hakekatnya adalah isi kurikulum yang dikembangkan dan disusun dengan prinsip-prinsip sebagai berikut:
1. Materi kurikulum berupa bahan pelajaran terdiri dari bahan kajian atau topik- topik pelajaran yang dapat dikaji oleh siswa dalam proses pembelajaran.
2. Mengacu pada pencapaian tujuan setiap satuan pelajaran.
3. Diarahkan untuk mencapai tujuan pendidikan nasional
Hilda Taba dalam Soleh Hidayat mengemukakan kriteria untuk memilih isi materi kurikulum yaitu;
1. Materi harus sahih dan signifikan, artinya menggambarkan pengetahuan mutakhir.
2. Relevan dengan kenyataan sosial dan kultur agar anak lebih memahaminya.
3. Materi harus seimbang antarav keluasan dan kedalaman.
4. Materi harus mencangkup berbagai ragam tujuan.
5. Sesuai dengan kemampuan dan pengalaman peserta didik.
6. Materi harus sesuai kebutuhan dan minat peserta didik
Pengembangan materi kurikulum harus berdasarkan prinsip-prinsip sebagai berikut:
1. Mengandung bahan kajian yang dapat dipelajari siswa dalam pembelajaran.
2. Berorientasi pada tujuan, sesuai dengan hierarki tujuan pendidikan.
Materi pembelajaran disusun secara logis dan sistematis, dalam bentuk:
1. Teori: seperangkat struktur atau konsep, definisi, atau preposisi yang saling berhubungan, yang menyajikan pendapat sistematik tentang gejala dengan menspesifikasi hubungan antara variabel-variabel dengan maksud menjelaskan dan meramalkan gejala tersebut.
2. Konsep: suatu abstrak yang dibentuk oleh organisasi dari kekhusukan- kekhusukan, merupakan definisi singkat dari sekelompok fakta atau gejala.
3. Generalisasi: kesimpulan umum berdasarkan hal-hal yan g khusus, bersumber dari analisi, pendapat atau pembuktian hdalam penelitian.
4. Prinsip: yaitu ide utama, pola skema yang ada dalam materi yang mengembangkan hubungan antara bebrapa konsep .
5. Prosedur: yaitu seri langkah-langkah yang berurutan dalam materi pelajaran yang harus dilakukan peserta didik.
6. Fakta: sejumlah informasi khusu dalam materi yang dianggap penting, terdiri darin terminologi, orang dan tempat serta kejadian.
7. Istilah: kata-kata perbendaharaan yang baru dan khusus yang diperkenalkan dalam materi.
8. Contoh atau ilustrasi: yaitu hal atau tindakan atau proses yang bertujuan untuk memperjelas suatu uraian atau pendapat.
9. Definisi: penjelasan tentang makna atau pengertian tentang suatu hal atau kata dalam garis besarnya.
10. Preposisi: cara yang di gunakan untuk menyampaikan materi pelajaran dalam upaya mencapai tujuan kurikulum.
D. PROSES PEMBELAJARAN
Proses pelaksanaan kurikulum harus menunjukan adanya kegiatan pembelajaran, yaitu upaya guru untuk pembelajaran peserta didik, baik disekolah melalui pembelajaran atap
muka, maupun diluar sekolah melalaui kegiatan terstruktur dan mandiri. Dalam konteks inilah, guru dituntut untuk menggunakan berbagai strategi pembelajaran, metode mengajar, media mengajar, media pembelajaran dan sumber-sumber belajar. Pemilihan strategi pembelajaran harus disesuaikan dengan tujuan kurikulum (SK atau KD), karakteristik materi pembelajaran, dan tingkat perkembangan peserta didik.
Ada beberapa strategi pembelajaran yang dapat digunakan guru dalam menyampaikan isi kurikulum, antara lain;
1. Strategi eksposetori klasikal, yaitu guru lebih banyak manjelaskan materi yang sebelumnya telah diolah sendiri, sementara siswa lebih banyak menerima materi yang telah jadi.
2. Strategi pembelajaran heuristik (discovery dan inquiry).
3. Strategi pembelajaran kelompok kecil, yaitu kerja kelompok dan diskusi kelompok.
4. Strategi pembelajaran individual.
Disamping strategi ada juga metode mengajar. Metode adalah cara yang digunakan guru untuk menyampaikan isi kurikulum atau materi pembelajaran sesuai dengan tujuan kurikulum. Sekalipun yang menggunakan metode mengajar itu adalah guru, tetapi tetap harus berorientasi dan menekankan pada aktivitas belajar peserta didik secara optimal. Untuk memilih mana metode yang akan digunakan, guru dapat melihat dari beberapa pendekatan, yaitu pendekatan yang berpusat pada mata pelajaran, pendekatan yang berpusat pada peserta didik, danpendekatan yang berorientasi pada kehidupan masyarakat. Meskipun demikian, tidak ada satu metodepun yang dianggap paling ampuh, guru harus dapat multimetode secara bervariasi.
Di dalam kegiatan pembelajaran, guru harus dapat menggunakan multimedia, baik media visual, media audio, maupun media audio-visual. Media visual adalah media yang hanya dapat dilihat. Media ini ada yang dapat diproyeksikan ada juga yang tidak dapat diproyeksikan. Media audio adalah media yang mengandung pesan dalam bentuk auditif (hanya dapat didengar), seperti program kaset suara dan program radio. Media audio-visual adalah media yang dapat dilihat dan dapat disengar, seperti program video, televisi, dan program slide suara (sound slide).
E. EVALUASI KURIKULUM
Evaluasi merupakan komponen untuk melihat evektivitas pencapaian tujuan. Dalam konteks kurikulum, evaluasi dapat berfungsi untuk mengetahui apakah tujuan yang
ditetapkan telah tercapai attau belum dan digunakan sebagai umpan balik dalam perbaikan strategi yang ditetapkan. Dengan evaluasi dapat diperoleh informasi yang akurat tentang perlaksanaan pembelajaran, keberhasilan siswa, guru, dan proses pembelajaran.
Setiap kegiatan akan memberikan umpan balik, demikian juga dalam pencapaian tujuan belajar dan proses pelaksanaan pembelajaran. Umpan balik tersebut digunnakan untuk mengadakan berbagai usaha penyempurnaan bagi penetuntuan dan perumusan tujuan pembelajaran, penentuan urutan bahan ajar, strategi, metode, dan media pembelajaran.
Berdasarkan hasil evaluasi dapat dibuat keputusan kurikulum itu sendiri, pembelajaran, kesulitan, dan upaya bimbingan yang diperlukan.
1. Evaluasi Hasil Pembelajaran
Untuk menilai keberhasilan penguasaan siswa atau tujuan – tujuan khusus yang telah ditentukan diadakan suatu evaluasi. Evaluasi ini disebut juga evaluasi hasil pembelajaran.
Dalam evaluasi ini disusun butir – butir soal untuk mengukur pencapaian setiap tujuan yang khusus atau indikator yang telah ditentukan. Menurut lingkup luas bahan dan jarak waktu belajar dibedakan atau evaluasi formatif dan sumatif.
Evaluasi formatif ditujukan untuk menilai penguasaan siswa terhadap tujuan – tujaun pembelajaran dalam jangka waktu yang relatif pendek. Tujuan utama dari evaluasi formaif sebenarnya lebih besar ditujukan untuk menilai proses pembelajaran. Evaluasi sumatif ditujukan untuk menilai penguasaan siswa terhadap tujuan – tujuan/kompetensi yang lebih luas, sebagai hasil usaha belajar dalam jangkan waktu yang cukup lama, satu semester, satu tahun/selama jenjang pendidikan. Evaluasi sumatif mempunyai fungsi yang lebih luas daripada evaluasi formatif.
2. Evaluasi Pelaksanaan Pembelajaran
Komponen yang dievaluasi dalam pembelajaran bukan hanya hasil belajar tetapi keseluruhan pelaksanaan pembelajaran yang meliputi evaluasi komponen tujuan pembelajaran, materi pelajaran, strategi atau metode pembelajaran serta komponen pembelajaran itu sendiri. Stufflebeam dkk. Mengggunakan model CIPP. Model evaluasi ini paling banyak diikuti oleh para Evaluator, karena model evaluais ini lebih komprehensif jika dibandingkan dengan evaluasi lainnya.
Model CIPP orientasi pada suatu keputuasan (a decision oriented evaluation approuch structured). Tujuannya adalah untuk membantu administrator( kepala sekolah dan guru) di dalam membuat keputusan. Berikut ini akan dibahas komponen atau dimensi model CIPP yang meliputi : context, input, process, product.
a. Evaluasi Konteks
Tujuan evaluasi konteks yang pertama adalah untuk mengetahui kekuatan dan kelemahan yang dimiliki evaluan. Dan mengetahui kekuatan dan kelemahan ini, evaluator akan dapat memberikan arah perbaikan yang diperlukan. Suharsimi dan Cepi Safrudin menjelaskan bahwa, evaluasi konteks adalah upaya menggambarkan dan merinci lingkungan kebutuhan yang tidak terpenuhi, populasi dan sample yang dilayani, dan tujuan proyek
b. Evaluasi Masukan
Tahap kedua dari model CIPP adalah evaluasi input, atau evaluasi masukan. Evalausi masukan membantu mengatur keputusan, menentukan sumber – sumber yang ada, alternatif yang diambil, apa rencana dan strategi untuk mencapai tujuan, dan bagaimana prosedur kerja untuk mencapainya. Komponen evaluasi masukan meliputi : 1. Sumber daya manusia, 2.
Sarana dan peralatan pendukung, 3. Dana atau anggaran, dan 4. Berbagai prosedur dan aturan yang diperlukan. Menurut Stufflebeam, bahwa pertanyaan yang berkenaan dengan masukan mengarah pada pemecahan masalah yang mendorong diselenggarakannnya program yang bersangkutan.
c. Evaluasi Proses
Evaluasi proses digunakan untuk mendeteksi rancangan prosedur selama tahap implementasi, menyediakan informasi untuk keputusan program dan sebagai rekaman yang telah terjadi. Evaluais proses meliputi koleksi data penilaian yang telah ditentukan dalam praktik pelaksanaan program.
d. Evaluasi hasil
Dari evalausi proses diharapkan dapat membantu pimpinan proyek atau guru untuk membuat keputusan yang berkenaan dengan kelanjutan, akhir, dan modifikasi program.
Sementara itu farida yusuf menjelaskan, bahwa evaluasi produk untuk membantu keputusan selanjutnya, baik mengenai hasil yang telah dicapai maupun apa yang dilakukan setelah program itu berjalan.
Dari pendapat diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa, evaluasi produk merupakan penilaian yang dilakuakan guna untuk melihat ketercapain atau keberhasilan suatu program dalam mencapai tujuan yang telah ditentukan sebelumnya. Pada tahap evaluasi inilah seorang evaluator dapat menentukan atau memebrikan rekomendasi kepada yang dievaluasi, apakah suatu program dapat dilanjutkan, dikembangkan, modifikasi, atau bahkan dihentikan.
BAB III
METODE PENELITIAN
A. JENIS PENELITIAN
Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif deskriptif, yaitu data yanng dikumpulkan berbentuk kata-kata, gambar bukan angka-angka. Menurut (Lexy J. Moleong), penelitian kualitatif adalah prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif barupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan prilaku yang diamati. Sementara itu penelitian deskriptif adalah suatu bentuk penelitian yang ditujukan untuk mendiskripsikan atau menggambarkan fenomena-fenomena yang ada baik fenomena ilmiah maupun rekayasa manusia.
B. TEKNIK PENGUMPULAN DATA 1. Wawancara (Interview)
Wawancara adalah pertemuan dua orang untuk bertukar informasi dan ide melalui Tanya jawab, sehingga dapat dikonstruksikan makna dalam topik tertentu. Teknik ini digunakan untuk mendapatkan data tentang komponen kurikulum mulai dari tujuan pembelajaran hingga evaluasi pembelajaran di MIN. Dalam hal ini, peneliti melakukan wawancara langsung dengan kepala sekolah.
2. Dokumentasi
Dokumen adalah kumpulan data yang berbentuk nyata dan diperoleh berdasarkan sistem pengelolaan data yang disebut dengan proses dokumentasi. Teknik ini digunakan untuk mendapatkan data-data atau dokumen-dokumen yang dapat dipertanggungjawabkan atas kebenarannya mengenai gambaran umum MIN.
C. WAKTU DAN TEMPAT PENELITIAN 1. Waktu Penelitian
Penelitian yang kami lakukan selama 4 kali pertemuan terhitung dari mulai 15 Februari 2021- 18 Februari 2021 yang diawali dengan persiapan pengajuan permohonan surat izin observasi dari Fakultas Tarbiyah dan Keguruan ke MIN. Kami melakukan Observasi, wawancara serta mencari dokumen atau arsip yang mendukung penelitian.
2. Tempat Penelitian
Kami melakukan penelitian di MI NU 15 Jambearum Patebon-Kendal tahun pelajaran 2013/2014. Peneliti mengambil lokasi atau tempat ini dengan pertimbangan tugas penelitian Manajemen Kurikulum PAI Dasar.
BAB V PENUTUP A. KESIMPULAN
Kurikulum berfungsi sangat peting dalam suatu pendidikan, kurikulum di gunakan acuan suatu lembaga Sekolah/Madarasah untuk melaksanakan pembelajaran. Selain itu, kurikulum juga berfungsi untu menentukan arah suatu pendidikan, kurikulum dirancang sebisa mungkin untuk memperbaiki kualitas pendidikan. Dengan adanya kurikulum madrasah akan lebih mudah dalam melaksanakan proses pembalajaran, proses pembalajaran yang jelas akan membuat peserta didik memahamai ilmu yang disampaikan oleh Guru. Oleh karena itu, adanya kurikulum sangat berpengaruh terhadap kualitas hasil pembelajaran peserta didik.
B. PENUTUP
Demikianlah laporan ini kami buat, sebagai penulis kami menyadari bahwa dalam penyusunan laporan ini masih banyak kekurangan dan kesalahan. Kami mohon maaf yang sebesar-besarnya. Oleh karena itu kami mohon kritik dan saran dari pembaca. Semoga laporan ini bermanfaat bagi pembaca dan pada khususnya pemakalah sendiri.
DAFTAR PUSTAKA
Arifin, Zainal. 2012. Komponen dan Organisasi kurikulum. Bandung: PT REMAJA ROSDAKARYA.
Hidayat, Sholeh. 2013. Pengembangan Kurikulum Baru. Bandung: PT REMAJA ROSDAKARYA.
Moleong, Lexy J. 2002. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Sugiyono. 2013.. Metode Penelitian Pendidikan: Pendekatan Kuantitatf, Kualitatif, dan R&D. Bandung: Alfabeta.
Tim Pengembang MKDP Kurikulum dan Pembelajaran. 2011. Kurikulum & Pembelajaran.
Jakarta: PT RAJAGRAFINDO PERSADA.
http://www.duniapelajar.com/2014/07/16/pengertian-dokumentasi-menurut-para-ahli