• Tidak ada hasil yang ditemukan

UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA"

Copied!
135
0
0

Teks penuh

(1)

HUBUNGAN ANTARA RELIGIUSITAS DAN INTENSI BERJIHAD PADA AHLU SUNNAH WALJAMAAH

DAN PEMUDA ASAL TERNATE

SKRIPSI

Diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana Strata I (SI) Psikologi pada Fakultas Psikologi

Universitas Islam Indonesia Yogyakarta

ISLAM ^V

Disusun Oleh : ROHATI HI HAUL

96 231 095

FAKULTAS PSIKOLOGI

UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA

YOGYAKARTA

2002

(2)

HALAMAN PENGESAHAN

Dipertahankan di depan Panitia Ujian Skripsi

Fakultas Psikologi Universitas Islam Indonesia Diterima Untuk Memenuhi Sebagian

Syarat-syarat Ciuna memperoleh Derajat Sarjana SI Psikologi

Pada Tanggal

c (

Mengesahkan lakulias Psikologi

Umveisilas Ksl;<m Indonesia Dekar

Dr. Stikarti Dewan Penguji:

E

III. Fuad Nashori, S. Psi., M.Si.

2. Amrizal Rustam. Drs., SU.

j .

Irwan Nuryana K, S.Psi

"V———o—vj' —~

FT

(3)

MOTTO

NJangan biarkan sesuatu mengganggu mu,

jangan biarkan sesuatu menakutkan mu semuanya akan beriaiu

dan Allah saja sudah sangat eukup"

(Berfikir positif. Norman.V.P: 38)

Nikmatilah apa yang masih bisa diraih saat ini

Karena semuanya akan berialu dan tidak akan bisa sesuai.

MERAYAPLAH DARI BULli-Bl LI KELINCI

UNTUK MELIHAT MATA SANG PESl LAP

i n

(4)

PERSEMBAHAN"

Karya kecil ini kupersemhahkan imiuk

Dia yang selahi mencintaiku tanpa akhir

Dia yang selalu memberiku tanpa batas

Segala piiji dan syukur atas semua hidup dan keindahan ini.

IV

(5)

RATA PENGANTAR

Bismillaahir Rahmaanir Rahiim

Assalaamu 'alaikum Wr.Wb.

Fuji dan syukur penulis panjatkan atas rahmat yang Allah Swt turunkan,

sehingga penulis dapat menyelasaikan penulisan tugas akhir ini dengan baik.

Selama penulisan tugas akhir ini, penulis banyak mendapat saran, kritik, bantuan

dan dorongan dari berbagai pihak. Untuk itu penulis ingin menyampaikan terima

kasih yang sebesar-besarnya kepada :

1. Ibu Dr. Sukarti, selaku Dekan Fakultas Psikologi, Universitas Islam

Indonesia.

2. Bapak Dr. H. Djamaludin Ancok, selaku Dekan Pertama Fakultas Psikologi

Universitas Islam Indonesia.

3. Ibu R. Rr. Retno komalahadi, Psikolog selaku dosen pembimbing akademik

yang telah banyak memben masukan.

4. Pembimbing 1 Bapak H. Fuad Nashori, S. Psi., Msi yang telah sangat

membantu dalam penulisan mi

5. Pembimbing 11 Bapak Irwan Nuryana, S. Psi yang telah berkenan meluangkan waktunya untuk membimbing penulis dalam penulisan tugas akhir ini.

6. Seluruh staf pengajar dan dosen tetap di Fakultas Psikologi yang telah

memberikan segala ilmu dan pengalamannya.

7. Seluruh karyawan Fakultas Psikologi Uli atas segala kemudahan dan

simpatinya

(6)

8. Seluruh Jamaah Ahlus Sunnah di Degoian maupun di Jakarta khususnya Rim, mba Avin, mas Ibnu, Mas Abu trims atas segala keramahannya selama

penelitian berlangsung

9. Semua teman teman asal Ternate yang ada di Asrama trimakasih atas bantuannya khususnya, yuyun. fira, dsb yang tidak dapat disebutkan satu

persatu.

10. Mama-Baba, Ibu-Baba, peluhmu membuatku terus bernafas dengan cintamu aku bisa tampak, ridhamu membuat kemulianku nyata tapi gambarannku tak

akan pernah menyanggupinya.

11. Ka' Ume, keberuntungan utama dalam hidupku adalah mempunyaimu, sayangku atas segala pengorbanan dan cinta yang tak pernah usai, trims atas

taburan kebahagiaan pada Guntur yang manis. Tanpa dukunganmu skripsi ini

tak pernah akan selesai.

12. Kakak-kakakku, ka' Dula dan yaya ber, yaya Am, ka' Acil dan mba' Tanti, ko Nafis, Ka' Iki dan ka' la serta ka' Udin terima kasih atas pengertian dan motivasi yang terus ada sampai dalam penyelesaian tugas ini.

13. Nda Eyiee. alhamdulillah...tugas mi akhirnya ku selesai kan juga, trimakasih atas segala semangat, perhatian dan bantuan yang tak ternilai dalam proses

penyelesaian tugas ini.

14. Untuk semua ponakanku Tim, la, Yudi, Arm dan adiknya. Mega, Tiara dan De Y keberadaan kalian membuat mama ati selalu bersemangat untuk

menghadapi segala kesulitan termasuk skripsi mi.

v i

(7)

15. Untuk semua keluarga di Tomara, Ternate, Jayapura, Surabaya, Gg Gudel,

Pakem, Jogya, Jakarta, Singkawang, Lubuk Lmggau dan Pekan Baru tenamakasih atas segala do'a dan dukungannya yang terus menerus sampai

skripsi ini terselesaikan.

16. Sahabat- sahabatku, Am, End, Ang, Yan, aku selalu membuang segala keluh kesahku pada kalian trimakasih atas sayang kalian yang tak bersyarat, skripsi

ini akhirnya dapat ku selesaikan sesuai target trimakasih.

17. Untuk teman temanku Sari, Evita, Irma, Hem, Dewi, Elin, Tami, sari miss, mba' Nitsen, Armi. Isnot, Jujuk. Rini. Idha, bu' dokter Win, Didi, mas Kukuh, Usep, Aslam, Agung, Ibeng, Juhri, dan Udm trimakasih atas segala kebaikan dan perhatian dan segala pertanyaan yang membuatku terpaeu untuk eepat

menyeiesaikan skripsi ini.

18. Teman teman seangkatan 96, kakak angkatan 95 serta adik adik angkatan 97, 98, 99, 00, 01 trimakasih atas bantuannya dan motivasinya baik secara langsung maupun tidak langsung dalam proses penyelesaian skripsi ini.

19. Anak-anak G-10 trimakasih atas hari hari indah kita, VILADERICITY (Vivi, Lala, Dede, Riri, Cie, Tie), Teman teman di Wirastn (Ade~ Sri Astuti, Palestina, Tina, Mitha, Encis, Yanti, Ade, Dewi, Yum, Novi, Mala, Arie dan Tut.) Mas Mamat trimakasih telah memenahkan hari hanku dan membantuku dalam segalanya termasuk dalam skripsi ini.

20. Pa" Hans trimakasih atas olah data dan segala bimbingannya, Rental Biru trimakasih atas karamahannya dalam mempnnkan skripsi ku.

Vil

(8)

21. Untuk teman-teman di HMl KOMFAK Psikologi, TI, FFSP dan TP UGM ukhuwah itu tetap ada, trimakasih atas segala semangat dan doa dalam

penyelesaian tugas ini.

22. Semua p.hak yang telah membantu penulis dan tak mungkin untuk disebutkan

satu persatu disim trimakasih banyak....

Tanpa bermaksud untuk mengecilkan arti bantuan yang telah penulis

terima, penulis menyadan bahwa dalam tugas akhir ini masih terdapat kekurangan-kekurangan yang membutuhkan perbaikan. Untuk itu penulis sangat terbuka dengan saran dan kritik bersifat membangun dan para pembaca.

Akhirnya penulis berharap semoga tugas akhir ini bermanfaat... Amiin

Wassalaamu 'alikum Wr.Wb.

vi n

Yogyakarta, Agustus 2002

Penulis

(9)

DAFTAR ISI

Halaman

HALAMAN JUDUL

i

HALAMAN PENGESAHAN

n

HALAMAN MOTTO

in

HALAMAN PERSEMBAHAN

KATA PENGANTAR

v

DAFTAR ISI

IX

DAFTAR TABEL

XHl

DAFTAR LAMPIRAN

XiV

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah B. Tujuan Penelitian C. Keaslian Penelitian D. Manfaat Penelitian BAB1I LANDASAN TEORl

A. Intensi Berjihad

1. Pengertian Intensi Berjihad

J /

2. Aspek-Aspek Intensi Berjihad u

3. Faktor-Faktor yang mempengaruhi Intensi Berjihad 13

B. Religmsitas. ..

16

1. Pengertian Religius ,.

0 16

1X

(10)

2. Dnnensi-Dimensi Religius -,-.

C. Hubungan dengan Religiusitas dengan Intensi Berjihad 26

D. Flipotesis

28

BAB III METODE PENELITIAN ?9

A. Identifikasi Variabel Penelitian

29

B. Definisi Operasional Vanabel Penelitian ^9 C. Subyek dan Metode Pengambilan Sampel Penelitian i0

D. Prosedur Pengumpulan Data

E. Validitas dan Reliabilitas Alat Ukur

J6

F. Metode Analisis Data..

j !

BAB IV LAPORAN PENELITIAN

39

A. Persiapan Penelitian

o9

I. Onentasi Kancah

39

2. Penyusunan Alat Ukur

j9

3. Hasil Uji Coba Alat Ukur

42

B. Pelaksanaan Penelitian .,

.43

C. Analisis Data dan Hasil Penelitian

44

D. Pembahasan

50

BAB VKESIMPULAN DAN SARAN

A, Kesimpulan

, 55

B. Saran-saran

55

DAFTAR PUSTAKA

57

(11)

DAFTAR TABEL

Halaman

Tabel 1. Distribusi Penyebaran Aitem Religiusitas I(R-I) 33 Tabel 2. Distribusi Penyebaran Aitem Intensi Berjihad 35

Label 3. Distribusi Penyebaran Aitem Religiusitas I(R-l)

(Sesudah Uji Coba) 49

Tabel 4. Distribusi Penyebaran Aitem Intensi Berjihad

(sesudah uji coba)

Tabel 5. Uji Normalitas Tabel 6. Uji Linearitas Tabel 7. Uji Flomogenitas

Tabel 8. Norma Kategon Skala Religiusitas 1

43

45

..45

.46

.47

Tabel 9.Norma Kategon Skala Religiusitas II 4g

Tabel 10. Norma Kategon' Intensi Berjihad 49

Tabel 11. Rangkuman Hasil Uji-t

XI

(12)

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Kekuasaan rezim Soeharto yang punya kemampuan dan kapasitas rejim

yang begitu kukuh, dan membawa akibat yang sangat besar pada masyarakat akhirnya tumbang. Wajah rejim ini sangat menakutkan, sehingga berbagai kontrol tidak lagi diaktulisasikan secara wajar. Proses kehidupan berbangsa di bawah arus determinasi kekuasaan yang otoriter dan depresif ini hampir pasti telah memanipulasi semangat hidup berbangsa, beragama, cinta kasih, kesetiaan, dan persaudaraan sejati masyarakat dalam sebuah rasa kebangsaan sempit.

Berbagai aksi kekerasan dan kerusuhan di Indonesia baik yang bersifat

sosial maupun keagamaan, telah menggejala dan akhirnya muncul secara polos

sebagai bagian dari trade mark kekuasaan orde baru. Keterlibatan kelompok

pejuang tertentu pada orde ini baik di bidang politik, birokrasi, ekonomi

keagamaan dan kelompok pejuang tertentu ini (sebagiannya) telah berhasil

memprovokasi dan mengadu domba masyarakat. Akibatnya muncullah kerusuhan

yang berbau agama di Situbondo, kerusuhan berdarah dan pembakaran gereja di

Ketapang, Tasikmalaya, kerusuhan antar etnik di Pontianak Kalimantan, aksi

bumi hangus dan kejahatan atas kemanusiaan di Tim Tim. Proses proses ini

kemudian mendapat kematangannya di Maluku dan seluruh wilayahnya, yang

telah berlangsung sampai sekarang dan sulit untuk diramalkan kapan berakhirnya.

(13)

Kerusuhan yang berbau agama ini terutama di Maluku telah mengundang keprihatinan yang dalam akan tragedi kemanusiaan yang terus berlanjut, telah membangkitkan rasa solidaritas yang mendalam di berbagai belahan bumi.

Muncullah berbagai aksi solidaritas untuk mencegah dan mengatasi kejahatan atas kemanusian khususnya di Maluku. Hal ini tentu dilihat sebagai sebuah niat dan kemauan baik yang patut dihargai. Terlebih lagi bila solidaritas ini didasarkan pada prinsip cinta kemanusiaan, menjunjung tinggi peradaban dan prinsip prinsip keagamaan yang sejati untuk menghadirkan suka cita dan damai sejahtera.

Jihad sebagai sebuah gerakan solidaritas kemanusiaan yang bersifat

keagamaan, tentu memiliki garansi yang tepat bagi pejuang tertentu dan aksi solidaritas kemanusiaan secara keseluruhan. Gerakan jihad ini secara luas dalam Islam sendiri adalah suatu seruan kepada agama yang haq. Rasulullah Saw sendiri bersabda, "berjihadlah pada orang orang kafir dengan tanganmu dan lisanmu" (dalam Mahmud 2001), berarti dalam Islam sendiri jihad merupakan suatu keharusan yang mutlak dan lestari, tertentu dan tidak pula terpaku dengan tempat tertentu, tidak sebagaimana kewajiban-kewajiban lain yang terikat pada masa tertentu seperti puasa dan solat serta tidak sebagaimana kewajiban kewajiban lain yang terikat dengan tempat tertentu seperti haji.

Adapun jihad di jalan Allah adalah kewajiban yang mutlak dan tidak terikat dengan batasan waktu dan tempat. Rasulullah bersabda bahwa "shalat sebagai tiang agama atau pilarnya dan jihad sebagai Puncak tertinggi Islam"

(dalam Mahmud, 2001). Shalat dan jihad berperan serta dalam mencegah perbuatan keji dan munkar serta membenkan andil dalam membersihkan

(14)

masyarakat dan para pelaku kekejian dan kemungkaran. Karena konflik antara yang haq dan yang batil, keimanan dan kesyirikan, petunjuk dan kesesatan akan terus berlanjut, selama dimuka bumi ini terdapat kehidupan manusia. Lalu

bagaimana para pembela kebenaran, keimanan dan petunjuk akan menghadapi

para pembela kebathilan, kesyirikan dan kesesatan selama mereka itu tidak menegakkan jihad, padahal mereka sedang berada ditengah perbaikan medan perang yang dikobarkan oleh para pembela kebathilan, kesyirikan dan kesesatan

dengan mengarahkan pasukan yang besar dan berbagai sarana yang mampu

mereka kerahkan.

Oleh karena di setiap masa, musuh-musuh kebenaran, keimanan dan

petunjuk akan semakm beragam dan akan beragam pula persenjataan dan sarana sarana mereka untuk memerangi kaum mukmin. Kaum muslimin di wajibkan untuk berjihad dijalan Allah dengan sebenar benar jihad dan terus menegakkannya hingga hari akhir. Allah SVVT berfirman dam AL hajj ayat 78 " Dan berjihadlah

kamu pada jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya. Dia telah memilih

kamu dan Dia sekali kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan." (dalam YPPTA, 1995), Karena jihad adalah suatu kewajiban maka

setiap muslim harus melakukannya tidak terkecuali. Namun kesadaran untuk

berjihad itupun tiap individu berbeda, entah itu karena dipengaruhi oleh

Imgkungan atau karena dorongan diri sendiri.

Ada sebuah fenomena menarik yang penulis amati ketika terjadi pertikaian

keagamaan di Maluku. Sebagai putra daerah yang lahir, besar, dan mempunyai

orang tua atau saudara di Maluku, khususnya di Ternate, harusnya pemuda yang

(15)

berasal dan Ternate mempunyai kepedulian yang lebih untuk berjihad, Aspek jihad itu tidak hanya mengangkat pedang lalu berperang karena pemuda asal Ternate yang penulis maksudkan adalah sebagian berprofesi sebagai mahasiswa yang punya kewajiban untuk kuliah dan tidak bisa ditinggalkan. Mereka bisa berjihad dengan hati atau dengan sikap prihatin dan doa yang terus menerus karena secara emasional kedekatan itu ada. Jika dibandingkan dengan ummat Islam yang lain, Ahlul sunnah waljamaah yang penulis amati mereka terlihat punya kepedulian yang tinggi entah itu dengan turun langsung ke lapangan (medan peperangan) atau dengan menggalang dana untuk dikirim ke Maluku dan

sekitarnya termasuk Ternate. Malah ada satu realitas yang cukup mencengangkan waktu keadaan Maluku dan sekitarnya lagi panas, di Yogya para pemuda yang berasal dari Ternate dan sekitarnya mengadakan pemilihan ketua dan pengurus perkumpulan IKPJM (Ikatan Keluarga Pemuda Pelajar Mahasiswa Maluku) yang diakhiri dengan pesta dan mabuk-mabukan dan seakan akan tidak terjadi apa apa

di daerah asal.

Berangkat dari fenomena di atas penulis mencoba untuk mengungkap

sebuah fakta, apakah ikatan akidah itu lebih kuat dibanding dengan ikatan

persaudaraan sedarah, sehingga Ahlus Sunnah WalJamaah begitu gencarnya

berkorban untuk saudara seiman mereka di Maluku dibanding putra daerah

sendiri?. Apakah hal ini di pengaruhi oleh tingkat religiusitas mereka yang

tinggi?. Menurut Mahmud (2001) sesungnguhnya jihad adalah aktivitas dakwah

untuk menyeru manusia pada yang al- haq dan mengerahkan segenap potensi

(16)

untuk memerangi musuh-musuh Islam dan hanya berharap keridhaannya.dan

apakah ini yang mendasari mereka (Ahlul sunnah waljamaah)?.

B. Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah ada hubungan antara

religiusitas dengan intensi berjihad pada Ahlu Sunnah VValjamaah dan pemuda

asal Ternate

C. Keaslian Penelitian

Penelitian tentang intensi berjihad beIurn ditemukan peneliti. Hanya ada penelitian pustaka tentang Jihad, fungsi dan peranannya dalam Islam yang dilakukan Sjafi'iy (1984)

D. Manfaat Penelitian

Adapun manfaat yang bisa didapatkan dan penelitian im antara lam :

1. Untuk menguji kebenaran teon nilai religius dalam memahami realitas di masyarakat.

2. Untuk menambah khasanah psikologi khususnya psikologi Islami dan psikologi sosial.

3. Penelitian ini diharapkan memiliki nilai sosial, yaitu dapat membenkan infonnasi kepada masyarakat tentang perbedaan tingkat religiusitas pada Ahlul sunnah waljama'ah dengan pemuda asal Ternate

(17)

4. Penelitian ini juga diharapkan memiliki nilai akademis, yaitu bisa dijadikan landasan bagi peneliti selanjutnya dalam membahas masalah tingkat religiusitas dan intensi berjihad khususnya pada Ahlul sunnah waljama'ah

dan pemuda asal Ternate

5. Diharapkan dari penelitian ini apabila terbukti maka akan membenkan

informasi tentang faktor yang mempengaruhi intensi berjihad dan cara mempermudah orang yang siap untuk berjihad (ke medan perang khususnya)

yaitu orang yang tingkat religiusitasnya tinggi.

6. Diharapkan juga dari penelitian ini jika terbukti maka akan memberi informasi pada pemuda Ternate dan masyarakat pada umumnya bahwa ikatan satu

akidah itu lebih kuat dibanding saudara sedarah maka cara untuk menjaga hubungan antar keluarga yang penuh kesetiaan dan cinta kasih adalah dengan

meningkatkan religiusitas.

(18)

BAB II

LANDASAN TEORl

A. Intensi Berjihad

1. Pengertian Intensi berjihad

Intensi adalah maksud dan mat untuk melakukan sesuatu (Azwar, 1997).

Menurut Fishbein and Ajzen (Ancok dan Suroso, 1995), intensi adalah probabilitas subyek yang dimiliki seseorang tentang akan dilakukannya sesuatu

perilaku.

Intensi dapat dikatakan sebagai prediktor perilaku, yang merupakan fungsi dari dua detemunan dasar. Detemiinan yang pertama adalah sikap, yang secara lebih khusus lagi adalah sikap seseorang terhadap perilaku yang diniatkan.

Determman kedua adalah norma subyek. Norma subyek milah yang merefleksikan dan mengembangkan kepercayaan bahwa ia seharusnya atau tidak seharusnya melakukan tmdakan yang dimatkannya itu (Fishbein and Ajzen, dalam

Ancok dan Suroso, 1995).

Intensi adalah gerbang terakhir sebelum berpenlaku. Intensi dapat

digolongkan ke dalam komponen konasi sikap (Fishbein and Ajzen, dalam Ancok

dan Suroso, 1995). Tampak juga bahwa intensi tidak serta merta terbentuk. Proses

im dimulai dengan pembentukan komponen kogmtif yang ditandai dengan adanya

kegiatan evaluasi atnbut sesuatu. Evaluasi atas atribut im akan membentuk suatu

kepercayaan atau keyakman seseorang atas pentingnya sesuatu yang dievaluasi,

(19)

Jihad menurut bahasa berasal dari akar kata '" Jahada, Yajhadu jahdu"

yang berarti kesulitan dan beban. "Al-Jahdu" juga bemiakna kesungguhan dan upaya terakhir. Makna kata "Al Jahdu dan Al Jihad" menurut pengertian bahasa

Arab adalah pengerahan segenap kemampuan manusia untuk mendapatkan yang

diinginkan atau menolak yang dibenci (Azzam, 1991).

Namun ada definisi jihad dari empat mazhab yang berbeda di antaranya mazhab Hanafi, Maliki, SyafiTe dan Hambali (Azzam, 1991). Benkut uraian definisi jihad menurut keempat mazhab yang telah disebutkan:

Ibnu Hammam (dalam Azzam, 1991), mengatakan bahwa yang dimaksud dengan jihad adalah mengajak orang kafir ke dalam pelukan dienul haq dan

memeranginya jika mereka menolak. Sedangkan Al Kaasani mengatakan dalam

kitab Al Badaa'I, juz 9/4299 bahwa jihad berarti mengerahkan segenap kemampuan dan tenaga dalam melakukan perimgfisabilillah, baik dengan diri,

harta, maupun lisannya.

Menurut mazhab Maliki sebagaimana di ungkap Al-Adawi (Hawwa, tt)

makna jihad diperuntukan kepada orang orang muslim yang memerangi orang orang kafir yang tidak terikat dalam perjanjian (damai) demi menegakkan ajaran Allah Swt. Jihad juga berarti datangnya orang Islam kepada orang kafir untuk mengajak mereka memeluk agama Dinullah, atau masuknya orang orang Islam

untuk tujuan serupa.

Syafi'ie Al Baajuri mengatakan Jihad adalah peperangan di jalan Allah

(Hawwa, t.t). Selain itu, Ibnu Hajar dalam Fathul Baari, juz 2/6 juga mengatakan

(20)

jika ditinjau dari hukum syara', jihad berarti mengerahkan segenap kemampuan

untuk memerangi orang kafir.

Dalam Mazhab Hambali, Jihad artinya memerangi orang kafir, Jihad juga

berarti perang dalam mengerahkan segenap kemampuan untuk menegakkan

kalimat Allah. (Hawwa, tt).

Dari uraian keempat mazhab di atas dapat disimpulkan bahwa kalimat

Jihad jika disebut maka artinya adalah Perang dan kata fisahilillah yang artinya

adalah Jihad.

Ibnu Rushd (Azzam, 1991) mengatakan jihad pedang adalah memerangi

orang orang musrik atas dasar Dien. Orang yang mendapatkan kelelahan dalam

berkhidmat pada Allah maka mereka benar benar-telah berjihad padaNya. Sebutan berperang melawan orang kafir dengan menggunakan senjata sampai mereka

menenma Islam (untuk membayar jizyah) yang disebut dengan VissahiUllah.

Jihad adalah memerangi sesuatu yang merusak iman dan islam. Dalam

bahasa Arab kata jihad dan mujahadah artinya mcnguras kemampuan dan melawan musuh. Jihad adalah seruan kepada agama yang haq. Jihad dapat dilakukan dengan tangan dan lisan. Sedangkan la/adz jihad dalam Al-Quran dipakai untuk mengidentifikasi beberapa makna, antara lain: Pertama: berjihad melawan orang orang kafir dengan menggunakan argumen (hujjah). Kedua:

berjihad melawan para pendukung kesesatan dengan pedang dan peperangan.

Ketiga: berjihad melawan hawa nafsu. Keempat: berjihad melawan setan dengan

cara tidak menaatinya karena mengharapkan hidayah dan Allah. Kelima: jihad

menghadapi hati untuk mendapatkan hubungan dengan kedekatan (dengan Allah)

(21)

10

Menurut Ar-Ragmb Al-Ashfchani (Mahmud, 2001) Jrhad itu ada tiga

macam, yaitu. 1. Berjihad melawam musuh yang nampak, 2.Berjihad melawan

setan, 3. Berjihad melawan hawa napsu.

Menuru, para Ulama (Mahmud, 200,), jihad f.ssabil.llah itu terbag.

menjadi empat macam ya.tu: .. J.had terhadap j.wa, 2. J.had terhad setan, 3. J.had terhadap pelaku kejaliman dan kemungkaran, 4. Jihad terhadap musuh- musuh Allah dari kalangan orang orang kaf.r.munaf.k dan yang sejenis dengan mereka. Kenyan para ulama mengurarkan satu persa.u dan empa, macam jihad

itu di antaranya:

Pertanw: Jihad terhadap jiwa. J.had terhadap j.wa ini pun terbag. menjadi

empat: 1. Jihad terhadap jiwa dengan memaksanya untuk mempelajan agama dan mengenali al-l,a„, 2. Jihad terhadap j.wa dengan memaksakan untuk mengamalkan yang telah diketahu, dan dipahami, 3. J.had terhadap j.wa dengan

memaksakan untuk mengajarkan ilmu dan amal yang telah d.ketahui dan

d,pelajan kepada orang la.n. 4. Jihad terhadap jiwa untuk bersabar menghadap.

kesulitan mengajarkan ilmu, berdakwah dan melakukan yang d.printahkan dan

meninggalkan yang dilarang.

Kedua. Jihad terhadap setan. Para ulama mengatakan jihad ini terbagi dua,

yaitu: 1. Jihad terhadapnya dengan menolak keragu-raguan dan subhai yang

dihembuskan dalam j,wa manusia, 2. Jihad terhadap setan dengan memnggalkan

segala hal yang menghiasi penyimpangan dan ketentuan Allah serta pelanggaran terhadap penntah dan larangan-Nya. Juga memggalkan hal hal yang men,ad,kan

manusia gemar memperturutkan syahwat.

(22)

11

Ketiga: Jihad pelaku kejaliman dan kemungkaran. Jihad ini terdapat tiga

macam, yaitu: 1. Jihad pada mereka dengan tangan dan kekuatan, 2. Jihad pada mereka dengan lisan dan pena, 3. Jihad pada mereka dengan hati.

Keempat: Jihad terhadap musuh-musuh Allah. Musuh-musuh Allah itu

antara lain: Kaum musrikin, kaum kafirin, dan kaum munafikin. Ada empat macam jihad yang harus dilakukan pada mereka, yaitu: jihad pada mereka dengan hati, lisan, harta, dan jiwa.

Dari berbagai macam pengertian tentang intensi dan jihad di atas maka dapat di simpulkan bahwa intensi berjihad adalah niat seseorang untuk melakukan jihad yang mana mat berjihad tersebut berbentuk keyakinan, sikap, dan perilaku dalam memerangi sesuatu yang bertentangan dengan iman dan Islam.

2. Aspek -Aspek Intensi Berjihad

Menurut Hawwa (tanpa tahun), jihad dibagi menjadi lima, yaitu: Jihad lisani (jihad lisan), Jihad Ta'limi (Jihad pendidikan), Jihad Nafsi (Jihad dengan tangan dan jiwa), Jihad siyasi (Jihad politik) dan Jihad Mali (Jihad dengan harta).

Jihad lisani (jihad lisan) adalah menyampaikan Islam dengan hujjah

(dalil) kepada orang kafir, munafiq dan fasiq. Jihad tersebut ditujukan pada orang

yang menyeleweng, bertentangan dengan apa yang dikatakan mulutnya. Jihad ini bertujuan supaya dakwah Islamiah dapat diketahui oleh seluruh ummat manusia,

sehingga orang orang kafir baik di negeri kafir maupun Islam tidaklah lagi dapat

berdalil bahwa bereka tidak atau belum mendengar da'wah, memberi nasihat dan peringatan dan mengecam atau menolak dengan kata-kata keras. Hal ini dilakukan

(23)

12

u i„mK.,i rtnti ielas bahwa mereka secara terang

bila gagal mencegah dengan lemah lembut dan jelas oanw

terangan mempermainkan nasihat yang dibenkan kepadanya.

jihad «aM,m, (j.had pend.d.kan) adalah: mempelajan Al-Qur'an dan Al Hadits, mempelajan ,,mu fic,h, .Imu akh.ak dan ,lmu tauh.d, mempelajari sejarah

,s,am, mengetahu, pos.s, umma, Islam, mengetahu, s.apa musuh musuh Islam

yang selalu bersekongkol untuk menebarkan fitnah, mempelajan bahasa Arab,

mengkaj, Jslam moderen untuk menyuguhkan Islam sesua, kebutuhan masa dan mendalam, setiap ,lmu yang berguna untuk dapat menjelaskan (Allah, Rasul dan

Islam).

J,had nafs, (,mad dengan tangan dan j,wa), adalah jihad pada orang kafir,

j,had pada orang murtad dan pada para pemberontak yang menentang ls,am, j.had pada para pen.ndas, orang orang kafir dan orang orang yang melanggar sumpah.

Jihad im dilakukan di dalam negen maupun di luar negeri.

Jihad s,yas, (j.had polmk). Mi dan jihad in, adalah melancarkan

pertentangan dengan pemenntah Islam yang dzol.m atau femenntah yang kafir

yang dalam kepemimpmannya mengangka. pegawai yang tidak becus, non

mushm, orang yang tidak melaksanakankan pol.dk Islam, ba.k luar negen

maupun dalam negn. J.ka j.had m, tidak b.sa dilakukan dengan dama, sedangkan pem,mP,n itu mas.h shalat maka j.had s.yas, harus d.terapkan, di antaranya:

bersikap negat.f terhadap mereka dalam kas,h sayang dan pergaulan, terus

melancarkan penentangan terhadap setrap penyelcwengan yang mereka lakukan

dengan hujjah, menasehat, dan membangkang dan membendung kerusakan

dengan permasalahan yang d.hadap,, m.salnya dengan mengamb,. tugas

(24)

13

mengontrol penerangan dan menghentikan keburukan yang dilakukanya, memberi

nasihat pada pegawainya, mengoreksi dan membetulkan.

Jihad mali (jihad harta) merupakan pelengkap dari keempat jihad

sebelumnya, maksudnya jihad ta'limi membutuhkan modal untuk mencetak buku

dan membiayai tenaga pengajar. Jihad Lisani membutuhkan dana untuk biaya transportasi, surat kabar dan sebagainya. Jihad Nafsi memerlukan uang untuk mendapatkan persenjataan, perbekalan dan biaya keluarga yang ditinggalkan.

Jihad Siyasi memerlukan dana untuk membiayai para pejuang dan menyediakan peralatan yang diperlukan. Jihad mali ini menjadi pelengkap bagi jihad yang lain, tanpa jihad ini semuanya tidak akan berjalan lancar tanpa jihad mali atau harta.

Jadi aspek aspek dari berjihad adalah jihad mali, jihad nafsi, jihad siyasi, jihad lisani dan jihad ta,limi seperti yang telah penulis uraikan di atas.

3 Faktor -faktor yang Mempengaruhi Intensi Berjihad

Perilaku terbentuk karena pengaruh berbagai macam hal, baik itu pengaruh yang bersifat internal maupun yang bersifat eksternal. Begitu juga dengan intensi berjihad, Intensi berjihad ini tidak dengan sendirinya timbul tapi ada proses yang sampai pada memutuskan untuk berjihad.

Menurut Mar'at (Walgito, 1994) bahwa perilaku itu terbentuk karena kedua faktor di atas (faktor internal dan faktor eksternal).

a. Faktor Internal.

Faktor internal yang dimaksud adalah faktor faktor yang lkut membentuk perilaku berjihad seseorang yang berasal dari dalam dirinya sendiri, seperti, (1).

(25)

14

Fisiologis. Menurut Kretschmer, Sheldon, Hypocrates dan Sigaud (Sujanto, Lubis dan Hadi, 1980) bentuk dan susunan fisiologis itu mempengaruhi keadaan psikis seseorang. Untuk itu intensi atau niat (berjihad) yang merupakan bagian dari hal psikis yang timbul tentu tidak terlepas dari pengaruh tipe fisik. Jika tipologi seseorang itu somatokmia menurut Sheldon (Sujanto, Lubis dan Hadi, 1980), maka dapat disimpulkan bahwa orang yang mempunyai tipe tersebut intensi berjihadnya tinggi dibanding orang yang mempunyai tipe riserotonia. (2).

Psikologis, faktor psikologis itu terdiri dari kognisi, konasi dan afeksi. Ketiga

faktor ini akan salin bekerja sama dalam memutuskan hal apa yang akan dilakukan dan apa yang tidak perlu dilakukan. Ketiga faktor psikologis di atas terkadang mempunyai keselarasan dalam memutuskan sesuatu tapi kadang juga harus ada salah satu unsur yang lebih utama untuk didahulukan. Berjihad (dalam peperangan) misalnya menurut kognisi adalah suatu perbuatan yang bisa ditunda atau dengan melakukan cara lain, tapi menurut afeksi karena rasa solidaritas yang mendalam maka jihad adalah suatu hal yang mendesak dan penting untuk

dilakukan.

b. Faktor Eksternal.

Faktor eksternal adalah sesuatu yang lkut membentuk penlaku yang berasal dari sesuatu di luar dirinya. Antara lain: (1). Situasi. Situasi atau keadaan sosial politik akan dengan sengaja memaksa seseorang untuk menentukan sikap untuk mengatasi permasalahan yang muncul. Situasi kerusuhan yang terjadi di Maluku misalnya, sebagai pihak yang merasa dirugikan dalam pertikaian itu, tentu akan menentukan suatu sikap, entah itu dengan berjihad nafsi atau berjihad mali

(26)

misalnya. (3). Nilai Hidup. Nilai-nilai hidup ikut mempengaruhi seseorang dalam mengambil sikap yang di wujudkan dalam perilaku, (Azwar, 1995). Salah satu sisi pentmg nilai hidup adalah mla-mlai keagamaan. Jihad sebagai satu bentuk perilaku yang dapat diwujudkan bila di pengaruhi oleh tingkat keberagamaan (Islam), Al-Qur'an sebagai kitab suci yang bagi orang Islam wajib untuk diamalkan sangat banyak meniuai lentang penting dan keharusan seoiang niuslim untuk berjihad, ayat-ayat Al-Qur'an yang menerangkan jihad yaitu di antaranya surah Ash-Shaaf: 4, An-Nissa: 76, An-Nahl: 90 (dalam YPPTA, 1995).

Pentingnya jihad ini ditegaskan lagi oleh Rasulullah SAW "diriwayatkan oleh Abi Said Ra beliau berkata, "Wahai Rasulullah siapakah di antara manusia ini yang paling baik amalannya? Beliau menjawab: orang yang berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwanya (dalam Riswandi,1998)", karena dalam Islam jihad adalah sesuatu yang sangat penting maka jika tingkat keberagamaan (Islam) seseorang itu baik maka keingman untuk berjihad pun tinggi. (4). Norma-norma.

Norma-norma di masyarakat yang sudah terinternalisasi dalam diri dan sudah menjadi suatu nilai akan menjadi aspek penting dalam menentukan sikap. Dalam agama Islam jihad adalah sesutu yang haq untuk dilaksanakan. Dengan adanya internalisasi nilai tersebut pada diri tiap muslim maka akan dirasakan bahwa jihad adalah suatu kewajiban yang harus dilaksanakan.. (4). Hambatan. Jika suatu perilaku terhambat baik disengaja maupun tidak disengaja dan itu sangat mendasar maka orang tersebut berupaya untuk menghalau hambatan tersebut.

Orang muslim akan berjihad pada kaum kafir apabila dihambat untuk benbadah

atau menviarkan Islam ke seluruh dunia.

(27)

16

B. Religiusitas 1. Pengertian Religius

Teori tentang religiusitas beragam macamnya. Kata religion yang berakar dari kata religare yang berarti pengikat, maksudnya adalah suatu kewajiban- kewajiban dan aturan-aturan yang harus dilaksanakan yang semuanya itu berfungsi untuk mengikat dan mengutuhkan diri seseorang atau sekelompok orang dalam hubungan dengan Tuhan atau sesama manusia, serta alam sekitar

(Dnyarkara, 1978).

Agama adalah sama dengan istilah bahasa Ingins "Religion'" atau dalam

istilah sehari hari yaitu religi. Menurut kamus "The HoldIntermediate Dictionary

ofAmerican English" (Razak, 1989), religi adalah kepercayaan dan penyembahan

kepada Tuhan yang maha mengetahui. Dalam kamus Advanced Learner's

Dictionan of Current English (Razak, 1989) dirumuskan bahwa religion atau

agama adalah mempercayai adanya kekuatan kodrat yang maha mengatasi, mengetahui, menguasai, menciptakan dan mengawasi alam semesta dan yang telah menganugrahkan kapada manusia suatu watak rohani, supaya manusia hidup terus menerus setelah mati tubuhnya. Kamus 'An English-Readers Dictionary"

(Razak, 1989) merumuskan bahwa religi adalah kepercayaan kepada Tuhan sebagai pencipta dan pengawas alam semesta dan sistem kepercayaan dan

penyembahan didasarkan atas keyakinan tertentu.

Sudut pandang filsafat pengertian tentang agama dikemukakan oleh

beberapa ahli. Brighman (Hadi, 1986) inengemukakan bahwa agama adalah suatu

pengalaman yang memiliki nilai tertmggi, pengabdian terhadap suatu kekuatan

(28)

17

dan sang pencipta yang dapat menambah dan mcmpertahankan nilai nilai yang berkaitan dengan urusan urusan dan pengabdian, baik melalui upacara upacara yang berbentuk simbol maupun perbuatan yang dilakukan individu.

Menurut Leuba (Thouless, 1995), pada dasarnya agama adalah suatu

hubungan yang praktis dan dirasakan seseorang seperti apa yang diyakininya sebagai wujud yang lebih tinggi dari manusia. Hal ini sependapat dengan Frezer (Hadi. 1986) yang mengatakan bahwa agama sebenarnya adalah suatu perbuatan untuk menyembah kekuatan yang lebih besar di atas kekuatan yang dimiliki oleh manusia, yang mengatur jalanya kehidupan manusia dan alam semesta. Agama sebagai hasil dan suatu peradaban yang paling tinggi selama berabad-abad untuk mendapatkan visi dan Tuhan dan tata cara hidup yang lebih baik (Hadi, 1986).

Sudut pandang psikologis, diwakili oleh beberapa ahli antara lain, Subandi (1988), mengemukakan bahwa nalun religiuslah yang mendorong

manusia untuk mengadakan kegiatan kegiatan religius.

Di sisi lain Kuypers (Walgito, 1994) mengatakan bahwa pada dasarnya manusia memiliki motif teologis, yaitu motif untuk mengadakan hubungan dengan Tuhan. James (Daradjat, 1991) lebih terperinci dalam mendefinisikan agama sebagai suatu perasaan dan pengalaman yang dialami seseorang secara pribadi sehingga menganggap mereka berhubungan dengan sesuatu yang

dianggap Tuhan.

Secara mendalam Chaplin (1997) mengatakan bahwa religi merupakan

suatu sistem yang kompleks yang terdiri dan kepercayaan, keyakinan yang

tercemnm dalam sikap mereka dan melaksanakan upacara upacara keagamaan

(29)

yang dengan maksud untuk dapat berhubungan dengan Tuhan. Di sisi lain Anshari (1990) mengatakan bahwa agama adalah istilah untuk mengatakan perasaan,

mengakui hak hak Tuhan dengan rasa takut dan hormat.

Agama berkaitan dengan usaha-usaha manusia yang mengukur seberapa

besar makna keberadaan dirinya pada alam semesta (Anshari, 1990). Menurut

Muthahhari (1984), hanya agama saja yang membuat orang beriman yang sebenarnya dan memungkinkanya mengatasi sifat egoisme. Fromm (Mutahhari,

1984) mengatakan bahwa tidak ada seorang pun yang tidak butuh agama.

Rumusan dan definisi yang telah dikemukakan itu maka pengertian religi atau agama adalah suatu sistem kepercayaan pada Tuhan dan suatu sistem penyembahan pada Tuhan. Dalam peristilahan bahasa Arab kata Agama dapat searti dengan Ad-dien apabila berdiri sendiri tapi bila dirangkai dengan Allah atau dengan Al Haq maka akan menjadi Dinullah atau Dinulhaq dan berarti agama yang datang dari Allah atau agama yang Haq. Dalam kamus (Wasito,1995) religi

adalah agama dan religiusitas adalah taat pada agama.

Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa religi adalah suatu bentuk hubungan antara manusia yang suci dan sakral yang memang telah menjadi suatu persepsi dalam diri individu dengan Tuhan yang memiliki kekuatan diatas kekuatan manusia dan telah menciptakan alam semesta beserta isinya. Hal inilah yang telah melahirkan keyakinan kepercayaan dan yang tercermin dalam sikap motivasi tersebut secara keseluruhan diarahkan pada sang pencipta secara

konsisten.

(30)

19

Religiusitas sendiri lebih menunjuk pada aspek yang dihayati individu dan telah menimbulkan suatu ketaatan yang kuat terhadap agama yang dianutnya di mana keadaan individu tersebut menjadikan agama sebagai pedoman dalam

kehidupan sehan-han. Untuk itu penulis merasa lebih tepat untuk menggunakan kata religiusitas dalam penelitian ini. Pertimbangannya adalah definisi religiusitas diartikan sebagai kualitas keberagamaan individu, yaitu seberapa dalam individu

meyakini, memahami, menghayati, mengetahui, dan mengamalkan agama yang

dianutnya.

Keberagamaan kami maksud adalah keberagamaan Islam. Menurut etimologi, Islam berasal dari bahasa Arab, yang terambil dan kata salima akar katanya adalah s-l-m. Dan akar kata itu terbentuk kata salm, silm dan sebagainya yang berarti kedamaian, kesejahteraan, keselamatan, penyerahan (diri), dan

kepatuhan. (DEPAG,1998).

Hal senada disampaikan oleh Razak (1989), bahwa kata Islam berasal dan salimah yang berarti selamat sentosa. Dari asal kata itu terbentuk kata aslama

yang berarti memelihara dalam keadaan selamat sentosa, dan berarti juga menyerahkan diri, tunduk, patuh dan taat. Kata aslama itu menjadi pokok kata Islam, menggunakan segala arti yang terkandung di dalam arti pokoknya, dan oleh sebab itu orang yang melakukan aslam disebut dengan Muslim, yang berarti pula orang itu telah menyatakan dirinya telah taat, menyerahkan diri, dan patuh pada Allah Swt. Dengan melakukan Aslama orang tersebut telah menjamin

keselamatan hidupnya di dunia dan di akhirat.

(31)

20

Islam adalah Agama Allah yang telah diturunkan kepada rasulnya, sejak Nabi Adam sehingga Nabi terakhir Yaitu Muhammad Saw. Beliau diutus dengan membawa agama yng sempurna, untuk seluruh manusia sepanjang masa. Karena itu agama yang diturunkan kepada Nabi Muhammad itulah yang tetap berlaku

hingga sekarang dan untuk masa-masa selanjutnya (Razak,1989).

Anshari (1990) merumuskan Islam sebagai religi yang cukup komperhensif karena pada dasarnya Islam merupakan agama wahyu yang diturunkan Tuhan kepada Rasulnya untuk disampaikan pada segenap ummat

manusia disepanjang masa dan di seluruh persada.

Islam adalah suatu sistem keyakinan dan tata akidah Ilahi yang mengatur

segala perikehidupan manusia dalam berbagai hubungan sesamanya, baik hubungan antar sesama manusia maupun manusia dengan alam lainnya. Pada dasarnya, tujuan dan arahan Islam sebagai religi yang memiliki konsep tauhid (pengesaan Allah) adalah untuk mendapat keridhoan Allah, kebahagiaan di dunia

dan di akhirat dan menjadi rahmat bagi segenap alam.

Pada garis besarnya Islam berisi akidah, syriah dan akhlak yang sumber hukum ajarannya adalah kitab suci, yaitu modifikasi untuk ummat manusia yang bentuk terakhirnya berupa Al-Qur'an dan ditafsirkan oleh sunnah Muhammad.

Hal ini sependapat dengan Gazalba (1978) yang mengatakan bahwa agama Islam adalah suatu kepercayaan pada Allah Swt, yang dinyatakan dalam bentuk peribadatan sehingga membentuk rasa ketakwaan berdasarkan Al-Qur'an dan Al-

Hadits.

(32)

21

Tobroni (Widyana, 1995) mengatakan bahwa pada dasarnya secara universal Islam sebagai religi, memiliki dua peran yaitu directive system, di mana religi berfungsi sebagai supreme morality yang dapat memberikan suatu landasan dan kekuatan etik spiritual pada masyarakat yang menganutnya, dan akan menjadi suatu daya dorong yang kuat bagi terciptanya suatu perubahan ke arah konstruktif dan humanistik bagi masa depan ummat manusia di dunia.

Peran religi disini dapat terlaksana apabila dalam religi tersebut terdapat formulasi-formulasi dari sistem nilai yang memang lengkap, sebagai suatu keseluruhan dari kebermaknaan system yang berlaku bagi kehidupan individu dan

masyarakat secara luas dan menyeluruh.

Pengertian tentang agama Islam menurut Natsir Dkk, (Depag 1989) adalah

agama yang diturunkan Allah dalam Al-Qur'an dan yang tersebut dalam Sunnah yang shahih, berupa petunjuk petunjuk dan larangan-larangan serta perintah untuk kebaikan manusia di dunia dan di akhirat. Secara umum Islam adalah agama Allah (Dienullah) yang diwahyukan pada Rasulnya sejak nabi Adam as sampai pada penghujung nabi, Muhammad SAW (Q.S. 3:19, 83-85, 2:132).

Secara khusus, Islam adalah nama diri dari agama yang dibawah oleh Nabi Muhammad SAW yang merupakan mata rantai terakhir dari rantaian dienullah atau dengan fakta lain Islam secara khusus adalah dienullah yang telah di sempurnakan dan dinyatakan sebagai agama yng di ridhaiNya Allah untuk seluruh ummat manusia sampai akhir jaman nanti ( Q. S. 5: 3).

Menurut Sabiq (Razak, 1989) Islam adalah agama Allah yang di wahyukan kepada nabi Muhammad SAW dan la adalah agama yang berisikan

(33)

22

keimanan dan perbuatan (amal). Dengan kata lain agama mengatur segala aspek kehidupan segala kehidupan manusia oleh karena itu tidaklah mengherankan bila Azwar (1995) menyatakan bahwa agama senng menjadi determman tunggal dan

menentukan dalam menentukan sikap.

Agama Islam (Razak,1989) adalah ajaran yang mengatur hubungan manusia dengan Tuhannya, meliputi kepercayaan dan penyembahan, yang terdapat dalam rukun Islam dan rukun Iman, dan ajaran yang mengatur manusi dengan sesamanya dan hubungannya dengan alam, yaitu ajaran tentang pohtik,

sosial, ekonomi, seni, kebudayaan perkawinan, harta pusaka, Jihad, perang,

damai dan sebagainya.

Agama adalah cproblem of ultimate concern ", masalah yang mengenai kepentingan mutlak setiap orang. Tillich (Depag,1998) mengatakan bahwa setiap orang yang beragama pasti dalam keadaan terlibat dengan agama yng dianutnya.

Hal senada disampaikan oleh Rasjidi (Depag, 1998) bahwa manusia yang beragama itu aneh. la mengikatkan dirinya pada Tuhan, tapi bersamaan dengan itu ia merasa bebas, karena dengan itu ia bebas menjalankan segala sesuatu sesuai keyakinannya.Ia tunduk pada keyakinan adanya Tuhan yang maha kuasa, tetapi bersamaan dengan itu ia merasa terangkat dengan menundukkan dirinya itu, karena merasa mendapat keselamatan. Keselamatanlah yang menjadi tujuan akhir kehidupan manusia dan keselamatan itu akan diproleh melalui keyakinan agama

yang di peluk. Itulah fungsi agama

Menurut Hendropuspito (1990), fungsi agama bagi manusia meliputi

beberapa hal yaitu:

(34)

a. Fungsi edukatif. Manusia mempercayakan fungsi edukatif pada agama yang mencakup tugas mengajar dan membimbing. Keberhasilan pendidikan terletak pada pendayagunaan nilai-nilai rohani yang merupakan pokok kepercayaan agama, nilai yang diserap antara lain, makna dan tujuan hidup, hati nurani dan rasa tanggung jawab.

b. Fungsi penyelamatan. Agama dan segala ajaran memberikan jaminan pada

manusia keselamatan di dunia dan di akhirat.

c. Fungsi pengawasan sosial. Agama ikut bertanggung jawab terhadap norma - nonna sosial sehingga menyeleksi kaidah-kaidah yang ada, mengukuhkan yang baik dan menolak kaidah buruk agar selanjutnya ditinggalkan dan dianggap sebagai larangan, agama juga memberikan sangsi yang harus dijatuhkan pada orang yang melanggar larangan dan mengadakan pengawasan yang ketat atas pelaksanaannya.

d. Fungsi memupuk persaudaraan. Persamaan keyakinan merupakan salah satu persamaan yang bisa memupuk rasa persaudaraan yang kuat, manusia dalam persaudaraan bukan hanya melibatkan sebagian dari dirinya saja, melainkan keseluruhan pribadi juga dilibatkan dalam suatu keintiman yang terdalam dengan suatu yang tertinggi yang dipercaya bersama.

e. Fungsi trasformasi. Agama mampu melakukan perubahan terhadap bentuk kehidupan masyarakat lama kedalam kehidupan masyarakat baru.

2. Dimensi-Dimensi Religiusitas.

Dister (Subandi, 1988) mengatakan religi atau agama bukanlah sesuatu yang tunggal, tapi merupakan suatu sistem yang terdiri dari beberapa aspek.

(35)

Robinson dan Shaver (Subandi, 1988) mengatakan bahwa agama memiliki tiga unsur yaitu, unsur tata keyakinan, unsur tata peribadatan dan unsur tata norma perilaku.

Pembagian aspek-aspek atau dimensi-dimensi religiusitas, yakni tentang bagaimana agama dihayati dan dipraktekkan oleh penganutnya, nampaknya yang paling terperinci adalah yang dikemukakan oleh Glock dan Stark (dalam Ancok

dan Suroso, 1995). Pembagian aspek atau dimensi inilah yang akan penulis pakai dalam penelitian. Ada lima dimensi religiusitas yaitu dimensi Idiologis, dimensi ritualistik, dimensi ekspenensial, dimensi intelektual dan dimensi

konsekuensional.

a. Dimensi akidah (idiologis). Dimensi ini mengungkap pada seberapa tingkat keyakinan seseorang terhadap kebenaran agamanya, terutama ajaran ajaran agama yang bersifat fundamental atau dogmatis, yaitu keyakinannya terhadap rukun iman (iman kepada Allah, malaikat, nabi, kitab, hari pembalasan (surga neraka), serta qadha dan qadhar dan sebagainya.) inti dari dimensi ini adalah

tauhid.

b. Dimensi ibadah (ritual). Berhubungan dengan sejauh mana tingkat kepatuhan seseorang dalam mengerjakan kegiatan kegiatan ritual sebagaimana yang drperintahkan oleh agamanya. Dalam kebenslaman isi dimensi ini menyangkut pelaksanaan solat, puasa, zakat, ibadah haji, pembacaan Al Quran, berdoa,dan sebagainya.

c. Dimensi Ihsan/eksperiensial (penghayatan). Dimensi ini menunjuk pada seberapa tingkat seseorang mengalami perasaan-perasaan dan pengalaman-

(36)

2S

pengalaman religius. Dalam keberislaman berhubungan dengan seberapa jauh seseorang merasa dekat dan dilihat oleh Allah, perasaan dicintai oleh Allah, perasaan doa doanya sering terkabul, perasaan tentram dan bahagia karena menuhankan Allah, perasaan bertawakkal pada Allah, bergetar hatinya mendengar ayat ayat Allah, perasaan bersyukur pada Allah dan yang lain sebagainya dalam kehidupan sehari hari.

d. Dimensi amal/konsekuensional (pengamalan). Dimensi ini berkaitan dengan keharusan pemeluk agama untuk merealisasikan ajaran ajaran agama yang dianutnya dalam kehidupan sehari hari dengan bukti sikap dan tindakannya

berdasar pada etika dan spiritualitas agama. Dalam keberislaman dimensi ini

meliputi perilaku suka menolong, berdenna, menegakkan kebenaran dan keadilan, berlaku jujur, memaafkan, menjaga amanah, menjaga lingkungan, tidak mencun, tidak berjudi, tidak menipu, mematuhi norma norma Islam

dalam berperilaku seksual, berjuang untuk hidup sukses sesuai ukuran Islam, dan sebagainya.

e. Dimensi Intelektual (pengetahuan). Dimensi ini menunjuk pada seberapa tingkat pengetahuan dan pemahaman seseorang terhadap ajaran agamanya, sebagaimana termuat dalam kitab sucinya. Dalam keberislaman dimensi ini menyangkut pengetahuan tentang ini Al-Quran, pokok ajaran yang harus diimani dan dilaksanakan, hukum Islam, sejarah Islam dan sebagainya.

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa aspek-aspek religiusitas ada

lima yaitu: aspek akidah (ideologi), aspek ibadah (ritual), aspek ihsan

(penghayatan), aspek amal (pengamalan) dan aspek ilmu (pengetahuan).

(37)

C. Hubungan Antara Religiusitas Dengan Intensi Berjihad

Nilai hidup yang telah terinternalisasi dalam diri individu akan menjadi pedoman dalam mengambil sikap yang sampai pada penuangan dalam bentuk perilaku. Nilai religius yang melekat pada diri individu akan memberi warna pada cara pandang terhadap segala permasalahan yang dihadapi. Muthahhari (1984) menyatakan bahwa tanpa memiliki keyakinan-keyakinan, ideal-ideal, dan keimanan, manusia tidak dapat menjalani kehidupan dengan baik atau mencapai sesuatu yang bermanfaat bagi kemanusiaan dan peradaban. Pembentukan perilaku dan sikap sangat dipengaruhi oleh nilai yang dianut seseorang (Widyana,1995)

Dalam Islam jihad merupakan suatu seruan yang haq atau wajib.

Seseorang yang mempunyai nilai religiusitas diharapkan punya perilaku dan sikap

yang positif terhadap jihad. Maksunya nilai religiusitas yang ada pada dirinya

akan diikuti sikap positif terhadap jihad. Salah satu sistem nilai yang dapat

memberikan kontribusi bagi pembentukan sikap dan perilaku seseorang adalah agama (Azwar. 1995). Untuk itu diharapkan jihad yang merupakan suatu seruan agama yang haq tentu akan dilaksanakan oleh orang -orang yang punya religiusitas yang tinggi.

Keyakinan seseorang akan agamanya merupakan faktor penting yang menentukan apakah seseorang akan melaksanakan ajaran agamanya atau tidak.

Jika seseorang percaya dan yakin terhadap apa yang dilakukannya akan memberi

dampak positifbuatnya maka perbuatan tersebut akan dilakukannya. Begitu pula

sebaRknya. Untuk itu intensi Berjihad sebagai suatu keharusan dalam Islam tentu

(38)

27

akan menjadi suatu kewajiban bagi tiap individu yang mengaku beragama Islam,

dan dia akan melaksanakannya.

Ritus-ritus dalam Agama Islam mengandung simbol-simbol tentang keharusan untuk berjihad. Ketentuan kewajiban untuk berpuasa misalnya. Dalam jihad, berpuasa termasuk dalam jenis jihad jiwa, yaitu jihad untuk melawan hawa nafsu, nafsu untuk makan dan lain sebagainya. Ini menandakan bahwa semakin tinggi religiusitas semakin tinggi pula kemampuannya untuk melawan nafsu yang akan merusak ibadahnya.

Ingatan dan perasaan dekat dengan Allah, sebagai pusat dari seluruh makna keberadaan seorang muslim, merupakan suatu modal utama untuk menyatukan seluruh perilakunya senantiasa hanyalah untuk mempertuhankan Allah. Artinya jihad sebagai suatu seruan yang nantinya akan membawa individu tersebut merelakan jiwa dan raganya hanya untuk Allah.

Tingkat pengetahuan seseorang tentang ajaran agamanya, dapat meningkatkan kecenderungan seseorang untuk melakukan perintahNya. Apabila seseorang mempunyai pengetahuan tentang ajaran agamanya (Islam), dengan mengetahui jihad sebagai suatu seruan yang haq, maka seharusnya dia melaksanakannya dengan kerelaan dan pemahaman yang penuh terhadap ajaran

agamanya.

(39)

E. Hipotesis

Berdasarkan pada uraian diatas maka peneliti membangun hipotesis penelitian sebagai berikut: ada hubungan positif antara Religiusitas dengan Intensi berjihad. Semakin tinggi Religiusitas seseorang semakin tinggi Intensi berjihadnya dan begitu pula sebaliknya semakin rendah religiusitas seseorang semakin rendah intensi berjihadnya.

(40)

BAB III

METODE PENELITIAN

A. Identifikasi Variabel Penelitian

1. Variabel Tergantung : Intensi berjihad 2. Variabel Bebas : Religiusitas

B. Definisi Operasional Variabel Penelitian

Defenisi operasional dari variabel-variabel penelitian bertujuan untuk menghindari timbulnya kesalahpahaman dan juga untuk membatasi ruang lingkup dari penelitian yang dilakukan.

1. Religiusitas sendiri lebih menunjuk pada aspek yang dihayati individu dan telah menimbulkan suatu ketaatan yang kuat terhadap agama yang dianutnya di mana keadaan individu tersebut menjadikan agama sebagai pedoman dalam kehidupan sehari hari. Untuk itu penulis merasa lebih tepat untuk menggunakan kata religiusitas dalam penelitian ini, dengan pertimbangan dari definisi religiusitas yang diartikan sebagai kualitas keberagamaan individu, yaitu seberapa dalam individu meyakini, memahami, menghayati, mengetahui, dan mengamalkan agama yang dianutnya.

Dalam penelitian ini akan diungkap dengan skala religiusitas yang berdasarkan rumusan Glock dan Stark, (dalam Ancok dan Suroso, 1995), yaitu dimensi-dimensi: akidah (ideologi), ibadah (ntual), Ihsan (penghayatan), amal (pengamalan) dan ilmu (pengetahuan).

29

(41)

Religiusitas diketahui dari skor yang diperoleh subyek setelah mengisi skala religiusitas. Semakin tinggi skor yang diperoleh semakin tinggi religi usitasnya.

2. Intensi berjihad adalah suatu niat keyakinan yang diwujudkan dalam perilaku sebagai seorang muslim yaitu memerangi segala sesuatu yang merusak iman dan Islam dengan segala kemampuan yang dimiliki baik itu dengan fisik maupun dengan jiwannya.

Intensi berjihad pada penelitian ini berdasarkan komponen yang dirangkumkan dari Al-Qufan dan Al-Hadits oleh Hawwa (t t) ada lima komponen atau jenis jihad sebagai indikator perilaku yang mencakup jihad lisani, jihad pendidikan, jihad harta, jihad jiwa dan tangan dan jihad politik.

Intensi berjihad diketahui dari skor yang diperoleh berdasarkan skala intensi berjihad. Semakin tinggi skornya semakin tinggi intensi berjihadnya.

C. Subyek dan Metode Pengambilan Sampel Penelitian

Subyek dalam penelitian ini ada dua kelompok yaitu: kelompok Ahlu sunnah Wal-Jamaah dan kelompok pemuda asal Ternate. adalah memiliki ciri-

ciri:

Untuk Ahlul Sunnah Wal-Jamaah sebagai berikut:

1. Telah menyatakan bergabung dengan Ahlul Sunnah Wal-Jamaah lebih satu tahun, dengan pertimbangan jika seseorang itu sudah dalam waktu yang lama bergabung dengan suatu kelompok maka nilai-nilai yang ada pada kelompok itu telah diinternalisasi dalam diri pnbadi.

(42)

31

2. Pembagian jenis kelamin antara laki laki dan perempuan sama, maksudnya punya kesempatan yang sama.

3. Berusia 18 - 26 tahun

Untuk pemuda asal Ternate ciri ciri sebagai berikut:

1. Telah berada di Yogya kurang lebih satu tahun.

2. Tidak ada perbedaan jenis kelamin, maksudnya keduanya mendapat kesempatan yang sama.

3. Berusia 18 - 26 tahun

Adapun metode pengambilan sampel penelitian yang digunakan adalah purposive sampling. Dasar digunakannya metode ini adalah karena pencuplikan

sampel dilakukan dengan memperhatikan ciri atau sifat yang sesuai dengan

kondisi subyek yang telah diketahui sebelumnya, yaitu masing masing kelompok telah ada pada tempatnya kurang lebih satu tahun, dan tidak ada pembedaan jenis

kelamin.

D. Prosedur Pengumpulan Data 1. Alasan Penggunaan Skala

Untuk memperoleh data yang diperlukan, dalam penelitian ini digunakan metode skala; artinya digunakan skala-skala psikologi untuk mengungkap atribut- atribut psikologis yang dijadikan variabel dalam penelitian ini. Adapun alasan digunakannya skala sebagai alat pengumpul data penelitian menurut Azwar

(1997), adalah:

(43)

a. Data yang diungkap berupa konstrak atau konsep psikologis yang

menggambarkan aspek kepribadian individu.

b. Pertanyaan sebagai stimulus pada skala tertuju pada indikator perilaku guna memancing subyek untuk merefleksikan keadaan diri subyek yang tidak disadarinya. Pertanyaan digunakan untuk mengumpulkan sebanyak mungkin

indikasi dari aspek kepribadian yang lebih abstrak pada variabel penelitian.

c. Skala memungkinkan subyek tidak menyadari arah jawaban yang dikehendaki dan kesimpulan apa yang sesungguhnya diungkap oleh

pertanyaan-pertanyaan dalam skala.

d. Skala hanya diperuntukan untuk mengungkap suatu atribut tunggal.

e. Skala psikologi dapat dipertanggungjawabkan, karena hasil ukurnya teruji

dan segi reliabilitas dan validitasnya.

Adapun alat ukur yang digunakan dalam penelitian ini adalah : (1) Skala Religiusitas untuk mengungkap tingkat religiusitas. (2) Skala Intensi berjihad

untuk mengungkap intensi berjihad, 2. Skala Religiusitas.

Skala religiusitas yang di gunakan dalam penelitian ini merupakan skala yang di susun oleh Adnani (2001). yang meliputi dimensi keyakinan, dimensi ritual, dimensi pengalaman, dimensi penghayatan dan dimensi ilmu. Skala im di

bagi menjadi dua, yaitu skala R-l dan skala R-2.

a.SkalaR-1

Skala R-l dibuat untuk mengukur dimensi keyakinan, dimensi ritual,

dimensi penghayatan dan dimensi pengamalan. Skala R-2 dibuat untuk mengukur

(44)

34

1. Aspek keyakinan. dari 18 aitem yang diuji cobakan, didapatkan koefisien korelasi aitem total yang berkisar antara 0,3139 s.d 0,6216. Setelah dipilah dari aitem-aitem yang memenuhi syarat validitas, maka aitem yang digunakan dalam penelitian ini berjumlah 10 aitem yang terdiri atas 5 aitem favourable

dan 5 aitem unfavorable.

2. Aspek praktek agama, dari 18 aitem yang diujicobakan didapatkan koefisien korelasi aitem total yang berkisar antara 0,3511 s.d 0,5382. Setelah dipilah dari aitem-aitem yang memenuhi syarat validitas, maka aitem yang digunakan dalam penelitian ini berjumlah 13 aitem yang terdiri atas 5 aitem favorable

dan 8 aitem unfavorable.

3. Aspek pengalaman, dari 18 aitem yang diuji cobakan, didapatkan koefisien korelasi aitem total yang berkisar antara 0,3193 s.d 0,4924. Setelah dipilah dari aitem-aitem yang memenuhi syarat validitas, maka aitem yang digunakan dalam penelitian ini berjumlah 14 aitem yang terdiri atas 7 aitem favorable

dan 7 aitem unfavorable.

4. Aspek pengamalan, dari 18 aitem yang diujicobakan, didapatkan koefisien korelasi aitem total yang berkisar antara 0,3056 s.d 0,5422. Setelah dipilah dari aitem-aitem yang memenuhi syarat validitas, maka aitem yang digunakan dalam penelitian ini berjumlah 9 aitem yang terdiri atas 7 aitem favorable dan

2 aitem unfavorable.

(45)

35

b. Skala R-2

Skala R-2 terdiri dari 10 aitem pertanyaan untuk mengukur aspek

pengetahuan.

Skala ini disusun oleh Andriyani (2001). Skala ini merupakan aspek

pengetahuan yang terdiri dari 30 aitem yang diujicobakan dengan koefisien korelasi aitem total yang berkisar antara 0,3062 s.d 0,4663. Setelah dipilah dari

aitem-aitem yang memenuhi syarat validitas, maka aitem yang digunakan dalam

penelitian ini berjumlah 10 aitem.

3. Skala Intensi berjihad.

Skala intensi berjihad yang digunakan dalam penelitian ini merupakan

skala yang disusun sendiri oleh peneliti, yang meliputi aspek-aspek yang telah disebutkan oleh Hawwa. Yaitu aspek lisani, jihad ta,limi, jihad nafsi, jihad siyasi dan jihad mali. Berikut tampilan distribusi penyebaran aitem pada tiap aspek-

aspeknya

TABEL II

DISTRIBUSI PENYEBARAN AITEM INTENSI BERJIHAD

ASPEK

i LISANI TA'LIMI NAFSI

i SIYASI

MALI

TOTAL"

AITEM

FAVORABEL UNFAVORABEL

!2,17,20 8.

j 1, 11, 13,28,24.43 ; 3,9.18,35 4.16,19,29,40,41 i 5,12,25 .44,45

i 7,17,22,32,36,42,3 i 6.21,26,30.38

I 9 I

15,27,34,37,46 10,23,3_3_

TOTAL

12

8

Skala ini disusun oleh peneliti. Oleh karena itu peneliti berniat untuk melakukan Try Out atau uji coba terlebih dahulu untuk mengetahui validitas dan

(46)

36

reliabilitasnya. Untuk aitem dalam skala Intensi berjihad ini ada dua macam yaitu aitem favorabel dan unfavorabel. Dengan penilaian sebagai berikut: bila aitem favorabel subyek men jawab sangat setuju (SS) maka akan diben nilai 4, jika subyek menjawab setuju (S) akan medapat nilai 3, untuk menjawab netral (N) subyek akan mendapat nilai 2, dan untuk menjawab tidak setuju (TS) subyek mendapat nilai 1, sedangkan subyek yang menjawab sangat tidak setuju (STS) subyek akan mendapat nilai 0. Untuk aitem yang unfavorabel pemberian nilai

dilakukan sebaliknya.

E. Validitas dan Reliabilitas alat ukur

Sebelum digunakan kedalam penelitian yang sesungguhnya maka alat ukur yang digunakan perlu untuk diuji validitas dan reliabilitas. Hal ini seperti dikatakan oleh Azwar (1995) bahwa alat ukur yang valid dan reliabel tercermin pada koefisien validitas dan koefisien reliabilitas, sehingga akan menghasilkan suatu informasi yang dapat dipertanggungjawabkan dan kesimpulan yang diperoleh tidak akan keliru serta tidak akan memberikan gambaran yang jauh

berbeda dengan keadaan yang sebenarnya.

1. Uji validitas .

Validitas dari suatu alat ukur berhubungan dangan sejauh mana ketepatan

dan kecermatan suatu alat ukur dalam melakukan fungsi ukurnya. Suatu alat ukur

yang terdiri dari butir-butir aitem mencakup keseluruhan aspek atau indikator

perilaku yang hendak diukur. Suatu alat ukur dapat dikatakan memiliki validitas

yang tinggi bila alat ukur tersebut dapat menjalankan fungsi ukurnya atau

(47)

memberikan hasil pengukuran yang sesuai dengan tujuan dari pengukuran tersebut (Azwar, 1995).

Perhitungan validitas penggunaan bantuan komputer seri program statistik (SPS), program kesahihan butir. perhitungan korelasi antara butir-butir dengan kompositnya menggunakan korelasi moment tangkar dari karl pearson. Edisi Sutrisno Hadi dan Yuni Pamardiningsih versi IBM/IN © 2000

2 . Uji Reliabilitas .

Reliabilitas adalah indeks yang menunjukkan sejauh mana suatu alat ukur

dapat dipercaya. Di sisi lain perhitungan reliabilitas hanya dapat dilakukan pada butir- butir aitem yang selalu memiliki validitas (Ancok , 1989) . Untuk menguji reliabilitas butir- butir aitem skala adalah dengan formulasi dari alpha Cronbach

(Azwar. 1997).

Perhitungan untuk pengujian reliabilitas dilakukan dengan menggunakan bantuan komputer sen program statistik (SPS), pragram uji-keandalan teknik alpha Cronbach. Edisi Sutnsno Hadi dan Yuni Pamardiningsih versi IBM/IN ©

2000

F. Metode Analisis Data

Metode analisis data dalam penelitian im adalah menggunakan metode

kuantitatif dengan teknik analisis statistik. Alasan yang mendasan adalah bahwa

statistik dapat mewujudkan suatu kesimpulan penelitian dengan menghitungkan

faktor kesahihan. Selain itu ada pertimbangan lain adalah bahwa teknik statistik

(48)

38

bekerja dengan angka-angka, bersifat objektif dan universal, dalam arti bahwa teknik ini dapat digunakan hampir dalam semua bidang penelitian (Hadi, 1995).

Berdasarkan hipotesis yang mengatakan bahwa ada hubungan positif

antara religiusutas dengan intensi berjihad, yaitu semakin tinggi religiusitas

seseorang semakin tinggi intensi berjihadnya. Begitu juga sebaliknya. Semakin

rendah religiusitas seseoran semakin rendah pula intensi berjihadnya. Teknik

statistik yang digunakan adalah yaitu korelasi product moment dari Pearson.

(49)

BAB IV

LAPORAN PENELITIAN

A. Persiapan Penelitian

1. Orientasi Kancah

Persiapan awal yang dilakukan sebelum penelitian adalah mengajukan pennohonan ijin penelitian secara formal kepada pihak Fakultas Psikologi U1I.

Kemudian kemudian ijin penelitian tersebut diteruskan pada pihak Ahlus Sunnah WalJamaah di Degolan, namun karena Ahlus Sunnah W'alJamaah yang ada di Degolan hanya merupakan cabang maka ijin penelitian tersebut peneliti teruskan pada tingkat pusat yang ada di Jakarta melalui email. Setelah diproses beberapa hari Kemudian pihak Ahlus Sunnah WalJamaah menyetujuinya. Peneliti mengambil data penelitian pada Ahlu Sunnah W'alJamaah di Jalan Kaliurang KM 15 Degolan, Jalan Pandega Ring Road Utara Sleman Yogya sedangkan untuk Pemuda asal Ternate yang ada di Yogyakarta dilakukan di Asrama Ternate di daerah Bausasran, Pamor Jalan Kaliurang KM 6, dan di Jalan W. Monginsidi penelitian dilakukan tidak melalui proses formal.

2. Penyusunan Alat Ukur

Alat ukur yang digunakan untuk mengumpulkan data penelitian ini berupa Skala Religiusitas dan Skala Intensi Berjihad.

a) Skala Religiusitas

Skala Religiusitas yang digunakan dalam penelitian im menggunakan Skala Religiusitas dari Andriyani (2001). Jadi peneliti tidak menyusun maupun

(50)

40

melakukan modifikasi karena skala ini relatif bagus dan telah teruji. Skala Religiusitas dalam penelitian ini disajikan dalam dua bentuk, yang dinamakan skala R-l dan skala R-II. Slala R-l terdiri dari 46 aitem yang terbagi dalam 24 aitem favourable dan 22 aitem unfavourable. Skala R-II terdiri dari 10 aitem pertanyaan. Aitem-aitem dalam skala Religiusitas ini telah teruji validitas dan reliabilitasnya..

Penilaian terhadap validitas dan reliabilitas aitem didasarkan pada kriteria bahwa aitem dinyatakan valid atau dapat terpakai jika memiliki rxy > 0,3. Hasil penelitian Adriani (2001) menunjukkan bahwa Perhitungan statistik terhadap 46 aitem pada skala R-I yang valid menunjukkan koefisien korelasi aitem total berkisar antara 0,3056 s.d 0,6212. Uji reliabilitas dengan tekhnik Alpha ( ronbach menunjukkan koefisien alpha sebesar 0,8848, Untuk skala R-II yang terdiri dari 10 pertanyaan dengan koofisien korelasi berkisar antara 0,3062 s.d 0,4663. Hasil ini menunjukkan bahwa skala Religiusitas telah memenuhi syarat untuk digunakan sebagai alat ukur. Karena sampel penelitian berbeda maka peneliti masih bermaksud melakukan try out untuk menguji reliabilitas dan vaiiaitasnya

kembali.

b) Skala Intensi Berjihad

Skala Intensi Berjihad disusun oleh peneliti berdasarkan komponen yang dirangkumkan dan Al-qur'an dan Al-Hadits oleh Hawwa (t t). yang dalam hal ini dijadikan acuan bagi peneliti. Skala Intensi Berjihad dalam penelitian im disajikan dalam 46 aitem, yang terbagi dalam 29 aitem favourable dan 17 aitem

(51)

41

unfavourable. Selanjutnya Intensi Berjihad ini akan diujicobakan pada sampel

penelitian.

3. Hasil Uji Coba Alat Ukur

Uji coba terhadap skala Intensi Berjihad dilakukan pada Ahlu Sunnah Wal-Jamaah sebanyak 15 orang dan Pemuda asal Ternate sebanyak 23 orang.

Skala Religiusitas diujicobakan pada Ahlu Sunnah WalJamaah sebanvak 30

orang dan Pemuda asal Ternate sebanyak 21 orang. Jumlah tersebut dianggap cuk

up untuk sebuah uji coba alat ukur.

Pengambilan data untuk uji coba alat ukur dilakukan pada tanggal 22 Juni s.d 16 Juli 2002. Pengambilan data ini dilakukan dengan cara mendatangi subyek anggota sampel penelitian di tempat tmggalnya meliputi daerah sekitar Degolan Jl Kaliurang, daerah Pamor Jl Kaliurang, Jl W. Monginsidi, Daerah Sosrowijaan,

dan Bausasran.

Data yang terkumpul kemudian diskor. Skor mentah tersebut kemudian

dianalisis dengan teknik statistik dengan menggunakan fasilitas komputer

program SPS-2000 (Seri Program Statistik-2000) edisi Sutrisno Hadi dan Yuni Pamardiningsih, guna mengetahui validitas dan reliabilitas skala dan aitem-aitem di dalamnya.

a) Skala Religiusitas

Penilaian terhadap validitas dan reliabilitas aitem didasarkan pada kriteria

bahwa aitem dinyatakan valid atau dapat terpakai jika memiliki rxy > 0,3. Hasil

analisis aitem pada Skala R-I menunjukkan bahwa dari 46 aitem yang disajikan

ternyata 45 aitem sahih dan 1 aitem gugur. Aitem-aitem yang gugur yaitu nomor

Gambar

Tabel 1. Distribusi Penyebaran Aitem Religiusitas I(R-I) 33 Tabel 2. Distribusi Penyebaran Aitem Intensi Berjihad 35
TABEL II
TABEL V Uji normalitas 45 VARIABEL Dimensi Keyakinan KAI KUADRAT 10, 002 6,804 167143 p I KETERANGAN !ii0^350&#34;1Normal~~|Norma!jiNormaljDimensi Praktik0.657Dimensi Pengamalan0,064
TABEL VII Uji homogenitas [ Sumber 1 Y ! 1.055 -4 : i XI j X2 | X3 T X4 i X5 1! AlxA2ji 1,0611,3901,005! 1.37411.289! LP _ ^ ! 0,424 | 0,416 0,121 ! 0,494 ! 0,130 [0,183
+4

Referensi

Dokumen terkait

[r]

Salah satu bukti bahwa perairan merupakan faktor produksi dapat dilihat dari tinggi rendahnya balas jasa baik yang berupa sewa atau bagi hasil yang sesuai dengan permintaan

Diagram arus data level 2 proses mining memperlihatkan adanya 2 kelompok proses 1, yaitu kelompok proses input yang terdiri dari input data kasus, input data atribut,

Kendaraan bermotor adalah setiap kendaraan yang digerakkan oleh peralatan teknik yang ada pada kendaraan tersebut, biasanya digunakan untuk angkutan orang atau

Pemupukan dengan pupuk tunggal NPK yang dikombinasikan dengan berbagai tingkatan dosis pupuk majemuk Magnesium plus dapat meningkatkan tinggi tanaman, diameter batang,

Berdasarkan konteks pada data di atas dapat disimpulkan bahwa implikatur percakapan dari tuturan Penjual yang melanggar maksim kualitas adalah Penjual ingin membodohi dan meledek

Hasil penelitian menunjukkan (1) bahwa orang tua yang bekerja sebagai anggota TNI di lingkungan Asrama Militer Yonif 411/Pandawa Salatiga dalam membentuk

Pendapat ini diperkuat oleh Iman (2002) yang menyatakan bahwa olahraga memecahkan timbunan trigliserida dan melepaskan asam lemak dan gliserol ke dalam aliran darah.. Asam