• Tidak ada hasil yang ditemukan

Oleh: NURUL HASANAH NPM: JURUSAN HUKUM EKONOMI SYARI AH FAKULTAS SYARI AH INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN) METRO TAHUN 2020 M/ 2021 M

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "Oleh: NURUL HASANAH NPM: JURUSAN HUKUM EKONOMI SYARI AH FAKULTAS SYARI AH INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN) METRO TAHUN 2020 M/ 2021 M"

Copied!
127
0
0

Teks penuh

(1)

JURUSAN HUKUM EKONOMI SYARI’AH

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN) METRO Timur)

Oleh:

NURUL HASANAH NPM: 1602090126

JURUSAN HUKUM EKONOMI SYARI’AH FAKULTAS SYARI’AH

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN) METRO TAHUN 2020 M/ 2021 M

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN) METRO

(2)

ii

TINJAUAN HUKUM ISLAM TERHADAP PRAKTIK JUAL BELI BORONGAN BARANG TAMBANG BATU BELAH (Studi Kasus di Desa Sukadana Kecamatan Sukadana Kabupaten

Lampung Timur)

Diajukan Untuk Memenuhi Tugas dan Memenuhi Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Hukum (S.H)

Oleh;

NURUL HASANAH NPM: 1602090126

Pembimbing I: Nety Hermawati.,SH.,MA.,MH Pembimbing II: Muhamad Nasrudin. MH

JURUSAN HUKUM EKONOMI SYARI’AH FAKULTAS SYARI’AH

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN) METRO TAHUN 2020 M/ 2021 M

(3)

iii

(4)

iv

(5)

v

(6)

vi ABSTRAK

TINJAUAN HUKUM ISLAM TERHADAP PRAKTIK JUAL BELI BORONGAN BARANG TAMBANG BATU BELAH

(Studi Kasus di Desa Sukadana Kecamatan Sukadana Kabupaten Lampung Timur)

Oleh:

NURUL HASANAH

Desa Sukadana kecamatan Sukadana Kabupaten Lampung Timur merupakan penghasil batu belah, potensi ekonomi batu belah yang terdapat di desa ini sangatlah tinggi, banyak warga yang menggantungkan hidupnya pada akad perekonomian dalam bidang tersebut, dalam hal ini banyak warga yang menggunakan akad jual beli borongan. Transaksi jual beli borongan bisa disebut dengan jual beli jizaf, merupakan transaksi yang dilakukan tanpa ditimbang, ditakar, dan dihitung. Melainkan hanya mentaksir jumlah objek transaksi sesudah melihat dan menyaksikan objek jual beli secara teliti. Sedangkan mekanisme yang digunakan, kedua belah pihak melakukan akad perjanjian penukaran barang, dan objek akadnya berupa batu yang masih berada di dalam tanah, dengan nilai tukar barang berupa uang yang telah ditentukan di awal akad. Banyak masyarakat yang menggunakan akad jual beli borongan ini karena lebih menguntungkan bagi kedua belah pihak, walau terdapat banyak resiko di dalamnya. Sehingga peneliti bertujuan untuk mengetahui bagaimana hukum Islam memandang akad jual beli borongan barang tambang di Desa Sukadana Kecamatan Sukadana Kabupaten Lampung Timur.

Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan Jenis penelitian kualitatif dengan menggunakan penelitian lapangan atau field researd, sumber data dalam penelitian ini ada 2 yaitu sumber data primer dan sumber data sekunder, dengan teknik melakukan observasi, wawancara, dan dokumen-dokumen, dan metode analisis data secara kualitatif deskriptif.

Hasil penelitian transaksi jual beli borongan barang tambang batu belah di Desa Sukadana Kecamatan Sukadana Kabupaten Lampung Timur yang di tinjau berdasarkan hukum Islam, sebagai tolak ukur masyarakat dalam melakukan transaksi yang terhindar dari unsur penipuan. merupakan jual beli fasid (rusak).

Terpenuhinya rukun dan syaratnya namun tidak terpenuhi syarat keabsahanya, yang terdapat pada objek jual beli yang berupa batu masih berada di dalam tanah.

Sehingga belum dapat ditaksirkan secara jelas objek jual beli ini, maka hal mengindikasikan adanya kerugian yang akan dialami, baik pemborong atau pemilik lahan karena terdapt unsut ketidakjelasan (ghara).

Kata kunci: Jual Beli borongan (jiza), Barang Tambang.

(7)

vii

(8)

viii MOTTO

















































Artinya:”Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama suka di antara kamu. Dan janganlah kamu membunuh dirimu; Sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu. (Q.S An-nissa’:29).1

1 Kementerian Agama RI, Al-Qur’an Dan Terjemahnya (Bandung: Fokus Media, 2010),83.

(9)

ix

PERSEMBAHAN

Tiada kata yang pantas selain ucapan rasa syukur kepada Allah SWT dan ucapan Alhamdulillahirabbil „alamiin. Peneliti persembahkan skripsi ini kepada:

1. Kedua orang tuaku, Ayahanda Sarno dan Ibunda Dewi Astuti, atas segala pengorbanan yang tak terbalaskan, doa, kesabaran, keikhlasan, cinta dan kasih sayangnya.

2. Adikku, Umi Kholifaturahma yang selalu memberikan semangat dan doa serta menjadi kebanggaan dalam hidup.

3. Dosen pembimbing ibu Nety Herma Wati.,SH.,MA.,MH dan Bapak Muhamad Nasrudin. MH yang telah banyak memberikan masukan, kritik-saran dan memotivasi, sehingga peneliti dapat menyelesaikan penyusunan skripsi ini.

4. Dosen dan staff Fakultas Syari’ah yang telah mendukung dan memberikan semangat terbaik untuk peneliti.

5. Sahabat Hukum Ekonomi Syariah 2016 yang selalu memberi semangat dan berdiri tegap di sampingku saat suka maupun duka, berbagi nasihat dan keceriaan.

6. Almamater tercinta Institut Agama Islam Negeri Metro.

(10)

x

KATA PENGANTAR

Puji syukur peneliti panjatkan kehadirat Allah SWT, atas taufik hidayah dan inayah-Nya sehingga peneliti dapat menyelesaikan skripsi ini.

Skripsi ini adalah sebagai salah satu bagian dari persyaratan untuk menyelasaikan pendidikan Jurusan Hukum Ekonomi Syariah IAIN Metro guna memperoleh gelar Sarjana Hukum (S.H).

Dalam upaya penyelesaian skripsi ini, peneliti telah menerima banyak masukan, bantuan serta bimbingan dari berbagai pihak. Oleh karenanya peneliti mengucapkan terima kasih kepada:

1. Ibu Prof. Dr. Hj. Enizar, M Ag., sebagai Rektor IAIN Metro.

2. Bapak Husnul Fatarib, Ph.D., sebagai Dekan Fakultas Syari’ah IAIN Metro.

3. Bapak Sainul S.H., M.A., sebagai Ketua Jurusan Hukum Ekonomi Syari’ah IAIN Metro.

4. Ibu Nety Herma Wati.,SH.,MA.,MH sebagai pembimbing I, yang telah memberikan bimbingan yang sangat berharga kepada peneliti.

5. Bapak Muhamad Nasrudin M.H sebagai pembimbing II yang telah memberikan bimbingan yang sangat berharga kepada peneliti.

6. Bapak dan Ibu Dosen/Karyawan IAIN Metro yang telah memberikan ilmu pengetahuan dan sarana dan prasarana selama peneliti menempuh pendidikan.

Kritik dan saran demi perbaikan skripsi ini sangat diharapkan dan akan diterima dengan kelapangan dada. Semoga skripsi ini kiranya

dapat bermanfaat bagi pengembangan ilmu Hukum Ekonomi Syariah.

(11)

xi DAFTAR ISI

HALAMAN SAMPUL ... i

HALAMAN JUDUL ... ii

HALAMAN PERSETUJUAN ... iii

NOTA DINAS ... iv

HALAMAN PENGESAHAN ... v

HALAMAN ABSTRAK ... vi

HALAMAN ORSINILITAS PENELITIAN ... vii

HALAMAN MOTTO ... viii

HALAMAN PERSEMBAHAN ... ix

KATA PENGANTAR ... x

DAFTAR ISI ... xi

DAFTAR TABEL ... xiii

DAFTAR LAMPIRAN ... xiv

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah ... 1

B. Pertanyaan Penelitian ... 8

C. Tujuan dan Manfaat Penelitian ... 8

D. Penelitian Relevan ... 9

BAB II LANDASAN TEORI A. Konsep Jual Beli ... 14

1. Definisi Jual Beli ... 14

2. Dasar Hukum Jual Beli ... 15

3. Rukun dan Syarat Jual Beli ... 17

4. Macam-macam Jual Beli ... 24

B. Jual Beli Borongan (Jizaf) ... 30

1. Definisi Jual Beli Borongan ... 30

2. Dasar Hukum Jual Beli Borongan ... 31

3. Rukun dan Syarat Jual Beli Borongan ... 31

4. Syarat Jual Beli Borongan (Jizaf) ... 32

C. Barang Tambang ... 33

1. Definisi Barang Tambang ... 33

2. Jenis-jenis Barang Tambang ... 34

(12)

xii BAB III METODE PENELITIAN

A. Jenis Penelitian ... 38

B. Sumber Data ... 39

C. Teknik Pengumpulan Data ... 40

D. Teknik Analisa Data ... 42

BAB VI TINJAUAN HUKUM ISLAM TERHADAP JUAL BELI BORONGAN BARANG TMBANG BATU BELAH DI DESA SUKADANA KECAMATAN SUKADANA KABUPATEN LAMPUNG TIMUR A. Gambaran Umum Lokasi Penelitian ... 44

1. Sejarah singkat Desa Sukadana ... 44

2. Kondisi wilayah Desa Sukadana Kecamatan Sukadana ... 45

3. Data penduduk di Desa Sukadana Kecamatan Sukadana ... 46

B. Mekanisme Jual Beli Borongan Barang Tambang Batu Belah di Desa Sukadana Kecamatan Sukadana Kabupaten Lampung Timur ... 47

C. Tinjauan Hukum Islam Tentang Jual Beli Borongan Barang Tmbang Batu Belah di Desa Sukadana Kecamatan Sukadana Kabupaten Lampung Timur ... 55

BAB V PENUTUP A. Kesimpulan ... 68

B. Saran ... 68 DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN-LAMPIRAN DAFTAR RIWAYAT HIDUP

`

(13)

xiii

DAFTAR TABEL

Tabel

1. Penelitian Relevan ... 10

2. Kondisi Wilayah ... 38

3. Daftar Penduduk Desa Sukadana ... 40

4. Daftar Mata Pencaharian Warga Desa Sukadana ... 40

(14)

xiv

DAFTAR LAMPIRAN

1. Surat Bimbingan 2. Outline

3. Alat Pengumpul Data 4. Surat Research

5. Surat Tugas

6. Dokumentasi Surat Izin Usaha

7. Dokumentasi Kuitansi Jual Beli Borongan Batu Belah 8. Formulir Konsultai Bimbingan Skripsi

9. Foto-Foto Penelitian

10. Surat Keterangan Bebas Pustaka 11. Riwayat Hidup

(15)

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah Latar Belakang Masalah

Pada saat ini banyak sekali jenis muamalah yang berkembang dengan pesat, muamalah dilakukan untuk memenuhi kebutuhan hidup masyarakat.

Muamalah yang artinya melakukan interaksi dengan orang lain yang berkaitan dengan benda atau mal. Dalam muamalah hubungan dan pergaulan antara manusia dalam hal harta benda merupakan urusan duniawi. Sehingga semua jenis akad dalam muamalah yang dibuat oleh manusia hukumnya di bolehkan asal tidak melenceng dari ketentuan umum syariat Islam. Dari banyaknya akad dalam muamalah, salah satunya yaitu: Jual beli, merupakan akad yang lazim digunakan oleh masyarakat untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, jual beli secara etimologi yaitu proses tukar-menukar barang dengan barang. Secara terminologi jual beli adalah tukar-menukar barang yang bernilai dengan semacamnya dengan cara yang yang sah menurut syariat Islam.2 Berdasarkan pemaparan di atas maka jual beli adalah tukar-menukar barang dengan barang (harta) atas dasar saling rela untuk mendapatkan barang yang diinginkan dengan cara yang sesua dengan hukum Islam.











Artinya: “Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba”. 3

2 Ahmad Wardi Muslich, Fiqih Muamalat (Jakarta: Amzah, 2017), 173.

3Kementrian Agama RI, Al-Qur’an Dan Terjemahnya, (Bandung: Fokus Media, 2010), 47.

(16)

Tafsir dari ayat di atas dijelaskan bahwa “Allah menghalalkan jual beli, karena jual beli terdapat pertukaran dan pergantian, adanya tambahan harga pada barang tersebut, yang merupakan imbangan (jasa) dari kemanfaatan yang diperoleh dari harga barang tersebut.

Allah mengharamkan riba karena dalam riba tidak terdapat pertukaran dan tambahan pembayaran, bukan karena imbangan (kompensasi), tetpi karena hanya penundaan waktu pembayaran, dalam jual beli terdapat hal-hal yang mengendaki kehalalnya, sedangkan dalam riba terdapat kerusakan yang menghendaki keharamannya.4

Berdasarkan ayat di atas, dapat dipahami bahwa Allah menghalalkan jual beli dan Allah mengharamkan untuk riba. Karena dalam jual beli terdapat hal-hal yang menghendaki kehalalannya, sedangkan dalam riba terdapat hal- hal kerusakan yang menhendaki keharamannya.

Jual beli memiliki rukun dan syarat yang harus terpenuhi yaitu:

adanya kedua belah pihak yang berakad, harus bisa membedakan mana yang berbahaya dan mana yang tidak berbahaya sehingga tidak adanya unsur paksaan dalam jual beli. Sighat akad (ijab dan qabul) di ucapkan oleh orang yang baligh dan berakal, ucapan qabul harus seuai dengan ijab.5 Adanya objek akad harus suci dan dapat di sucikan, dapat dilihat sehingga diketahu banyaknya barang tersebut, tidak dibatasi oleh waktu, dapat diserahkan secara cepat ataupun lambat, terdapat manfaatnya, dan objek barang merupakan milik sah penjual. Adanya nilai tukar barang yang berupa uang, merupakan benda yang diketahui penjual dan pembeli, barang yang suci dan dapat disucikan, terdapat manfaatnya, dan dimiliki sendiri atau yang mewakilkan.6

4 Ash-Shiddieqy, Muhammad Hasbi, Teungku, Tafsir Al-Qur’an Majid An-Nuur,489-490.

5 Enang Hidayat, Fiqih Jual Beli (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2015), 17-18.

6 Hendi Suhendi, Fiqih Muamalah (Yogyakarta: Raja Grafindo Persada, 2015), 71-2.

(17)

Seperti pada Desa Sukadana, Kecamatan Sukadana Kabupaten Lampung Timur, terkenal sebagai penghasil batu belah. Batu belah diperjualbelikan kepada konsumen luar maupun dalam daerah Lampung Timur. Batu belah digunakan sebagai bahan pembangunan rumah, gedung, maupun jalan. Di desa ini terdapat mata pencarian yang sangat unik dan langka, yaitu sebagai pemborong, penggali dan pemecah batu belah.

Dikatakan langka karena tidak semua daerah terdapat mata pencarian seperti yang terdapat di desa tersebut.7

Potensi ekonomi batu belah yang terdapat di desa ini sangatlah tinggi.

Banyak warga yang menggantungkan hidupnya kepada akad perekonomian dalam bidang tersebut. Namun, demikian sering kali terjadi ketimpangan potensi di masyarakat.

Ada warga yang mempunyai lahan yang berpotensi ada batu di dalamnya, tetapi tidak mempunyai potensi pengetahuan dan kemampuan dalam penambangan batu belah tersebut. Sehingga membutuhkan kemampuan dari orang lain serta alat untuk mengangkat atau memecah batu tersebut menjadi pecahan batu belah yang siap diperjualbelikan pada konsumen. Di sisi lain ada orang yang mempunyai potensi pengetahuan dan kemampuan dalam menambang batu belah tersebut, tetapi tidak mempunyai lahan.8

7Observasi yang dilakukan di Desa Sukadana Kecamatan Sukadan pada tanggal 3 November 2019., n.d.

8Wawancara dengan Bapak Kausar, Pemborong Batu Belah di Desa Sukadana Kecamatan Sukadana, pada tanggal 2 Desember 2019 pada pukul 19.00 WIB, n.d.

(18)

Oleh sebab itu dibutuhkan kerja sama antara dua belah pihak yaitu orang yang memiliki lahan dan orang yang memiliki kemampuan untuk menambang batu. Dalam hal ini warga biasanya bekerja sama dengan pemborong. Pemborong merupakan perantara bagi orang yang bersedia bertanggung jawab dalam proses pengangkatan, pemecahan, penjualan, sampai proses penambangan itu selesai.

Model transaksinya adalah pemilik lahan mengizinkan lahannya untuk diambil batunya oleh pemborong, dengan akad bagi hasil. Akad bagi hasil sering disebut akad komisian oleh masyarakat setempat. Bagi hasil yang digunakan yaitu setiap 1 meter kubik batu yang didapat maka pemilik lahan diberi Rp.10.000. Ketentuan lain pemborong harus meratakan tanah kembali setelah selesai proses penambangan. Pola kerja sama ini memakai batasan waktu dalam proses penambangan, misalnya dua tahun. Selain ketentuan ini terkadang ada ketentuan lain yang diajukan oleh pemborong ataupun pemilik lahan yang bertujuan untuk menghindari kerugian bagi kedua belah pihak ataupun salah satu pihak yang berakad, misalnya soal pemanfaatan lahan oleh pemilik selama proses penambangan. Oleh sebab itu lebih banyak warga memilihakad komisian dalam transaksi penambangan batu belah, karena relatif aman.9

Peneliti menemui warga yaitu Bapak Sahliansah (46 tahun) alamat Desa Sukadana Kecamatan Sukadana Pekerjaan Wirasuwasta selaku pemborong dan Bapak Kautsar (25 tahun) alamat Desa Sukadana Kecamatan

9Wawancara dengan Bapak Kausar, Pemborong Batu Belah di Desa Sukadana Kecamatan Sukadana, pada tanggal 2 Desember 2019 pada pukul 19.00 WIB.

(19)

Sukadana Pekerjaan Wirasuwasta selaku pemborong. Bapak Sahliansah menjelaskan bahwa selain akad komisian ada juga akad yang digunakan oleh masyarakat dalam proses penambangan batu, yaitu akad jual beli atau sering disebut akad borongan. Mengapa disebut akad borongan? Karena pemborong melakukan kesepakatan secara lisan dengan pemilik lahan untuk memborong batu yang masih berada di dalam tanah tersebut dengan jumlah nominal yang ditentukandi awal. Jadi, pemborong dalam akad ini taksiran harga berdasarkan luas dan struktur tanah tersebut. Beberapa indikasi yang dijadikan instrumen penaksiran adalah: apakah tanah tersebut memiliki ciri-ciri tanah yang mengandung banyak batu di dalamnya, seperti terdapat batu keriting dan batu- batu kecil yang terdapat di permukaan tanah yang disebut sebagai kembang watu.10

Dalam akad borongan kedua belah pihak melakukan perjanjian, meliputi: batasan waktu dalam proses penambangan batu, pemborong meratakan tanah kembali setelah proses penambangan batu belah selesai, dan apabila lahan tersebut harus melalui lahan orang lain dalam melakukan aktivitas seperti sarana transportasi, maka akad kontrak lahan yang akan dilewati menjadi tanggung jawab pemborong dan tidak melibatkan pemilik lahan. Berikut adalah kasus proses akad penambangan batu belah yang dilakukan oleh Bapak Sahliansah dan Bapak Kautsar selaku pemborong dengan beberapa pihak pemilik lahan:

10Wawancara dengan Bapak Sahliansah, Pemborong Batu Belah di Desa Sukadana Kecamatan Sukadana, Ppda tanggal 1 Desember 2019 pada pukul 16.30 WIB, n.d.

(20)

1. Lahan Bapak Wasim seluas 3000m2 yang dihargai Rp.12.000.000. Dengan ketentuan waktu dua tahun dan meratakan tanah kembali setelah selesai proses penambangan batu tersebut 11

2. Lahan Bapak Tugimin seluas 2500m2 yang dihargai Rp.12.000.000. Dengan ketentuan maksimal 5 tahun proses penambangan dan meratakan tanah kembali setelah selesai proses penambangan batu tersebut.12

Dengan perjanjian seperti di atas terkadang terjadi kerugian, baik yang dialami oleh pemborong maupun pemilik lahan. Kerugian yang dialami pemborong biasanya disebabkan oleh:

1. Meleset atau salah dalam menaksir batu di lokasi tersebut karena ternyata batu hanya terdapat di sebagian lahan tesebut. Volume batu jauh di bawah taksiran.

2. Pengangkatan batu tersebut lebih banyak modal daripada hasil yang didapat, ini bisa terjadi apabila batu tersebut berbentuk benteng atau dinding.

3. Penjualan batu yang lambat kepada konsumen.13

Pemilik lahan terkadang mengalami kerugian yang biasanya disebabkan oleh:

1. Banyaknya batu di dalam tanah tersebut melebihi taksiran harga yang disepakati di awal perjanjian.

2. Terkadang tidak adanya jangka waktu yang disepakati, sehingga pemilik lahan tidak bisa menggarap lahan.

11Wawancara dengan Bapak Sahliansah, Pemborong Batu Belah di Desa Sukadana Kecamatan Sukadana, pada tanggal 10 Desember 2019 pada pukul 19.30 WIB, n.d.

12 Wawancara Dengan Bapak Kautsar, Pemborong Batu Belah Di Desa Sukadana Kecamatan Sukadana Kabupaten Lam-Tim, Pada Tanggal 10 Mei 2020 Pada Pukul 13.30 WIB, n.d.

13Wawancara dengan Bapak Sahliansah, Pemborong Batu Belah di Desa Sukadana Kecamatan Sukadana, pada tanggal 10 Desember 2019 pada pukul 19.30 WIB.

(21)

3. Adanya perjanjian meratakan tanah setelah selesai pengambilan batu.14 Dalam hal ini pernah terjadi sengketa antara pemborong dan pemilik lahanyang disebabkan melesetnya taksiran pemborong. Pernah terjadi di lahan seluas 3000m2 telah disepakati diborong dengan harga Rp.12.000.000 dan dibayarkan di awal sebesar Rp.4.000.000. Setelah batu selesai dinaikkan ke permukaan tanah tesebut ternyata hanya terdapat ¼ dari luas lahan.

Pemborong merasa rugi tetapi pemilik tanah tetap meminta agar kekurangan dari yang sudah dibayar di awal tadi dilunasi pemborong tidak menyanggupi karena batu yang didapat hanya ¼ dari lahan yang ada. Lalu penyelesaiannya dari masalah ini si pemborong dan pemilik lahan sepakat untuk menggunakan jalan kekeluargaan dengan kesepakatan dana Rp.4.000.000. tersebut tidak dikembalikan dan sisanya tidak dilunasi dengan catatan pemborong menghentikan proses pengangkat batu di lahan tersebut.15

Terjadinya sengketa dalam kasus yang peneliti temui mengindikasikan adanya permasalahan dalam akad jual beli borongan tersebut. Hal ini karena pada dasarnya tujuan jual beli adalah untuk tolong- menolong sesama manusia dan mencapai keuntungan yang sebesar- besarnyadengan cara yang wajar16. Akan tetapi potensi kerugian yang dialami kedua belah pihak cukup terbuka lebar.

Beberapa akad berujung sengketa, sehingga harus diakhiri dengan paksa, sebelum jangka waktu yang ditentukan. Berdasarkan hal tersebut peneliti ingin

14Wawancara dengan Bapak Sahliansah, Pemborong Batu Belah di Desa Sukadana Kecamatan Sukadana, pada tanggal 10 Desember 2019 pada pukul 19.30 WIB.

15 Wawancara dengan Bapak Sahliansah, pemborong batu belah di desa Sukadana Kecamatan Sukadana, Pada Tanggal 10 Desember 2019 Pada pukul 19.30 WIB.

16Imam Mustofa, Fiqih Mu’amalah Konteporer (Jakarta: Rajawali Pers, 2016), 22.

(22)

mengkaji lebih lanjut mengenai tinjauan hukum Islam terhadap jenis akad Jual beli borongan yang dilakukan, apakah terdapat unsur ketidak jelasan (gharar) atau tidak, dan apakah sudah sesuai dengan hukum Islam atau tidak sesuai dengan hukum Islam. Oleh sebab itu peneliti bertujuan untuk meneliti permasalahan ini yang berjudul “Tinjauan Hukum Islam terhadap Praktik Jual Beli Borongan Barang Tambang Batu Belah di Desa Sukadana Kecamatan Sukadana Kabupaten Lampung Timur, karena pada dasarnya pandangan mengenai jual beli sudah merangkum baik tatacara, rukun dan syarat berbagai ketentuan dalam jual beli.

B. Pertanyaan Penelitian

Berdasarkan latar belakang masalah yang telah dipaparkan di atas, bagaimana tinjauan hukum Islam terhadap akad jual beli borongan batu belah yang terdapat di Desa Sukadana Kecamatan Sukadana Kabupaten Lampung Timur?

C. Tujuan dan Manfaat Penelitian a. Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk:

Mengetahui bagaimana Hukum Islam memandang akad jual beli borongan batu belah yang dilakukan oleh masyarakat di Desa Sukadana Kecamatan Sukadana Kabupaten Lampung Timur?

Manfaat Penelitian

(23)

b. Manfaat Teoretis

Manfaat teoretis dari penelitian ini dapat mendapat ilmu pengetahuan tentang hukum Islam khususnya dalam akad akad jual beli borongan batu belah.

c. Manfaat Praktis

Manfaat praktis dari penelitian ini dapat memberi manfaat ilmu pengetahuan, serta informasi mengenai praktik jual beli batu belah yang dilakukan sesuai dengan aturan-aturan hukum Islam atau tidak.

D. Penelitian Relevan

Peneliti sudah melakukan penelusuran terhadap penelitian terdahulu dalam topik jual beli batu belah. Di antara penelitian tersebut adalah:

1. Penelitian yang dilakukan oleh Muhammad Mun’im, Jurusan Muamalah, Fakultas Syari’ah, Institut Agama Islam Negeri Sunan Kalijaga, Yogyakarta yang berjudul “Tinjauan Hukum Islam terhadap Akad Penambangan Batu di Desa Serut Kecamatan Gedang Sari Kabupaten Gunung Kidul”. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bentuk akad eksplolitasi lahan penambangan batu di Desa Serut, apakah menggunakan akad sewa (ijarah) atau jual beli (bai’) dan bagaimana pandangan hukum Islam terhadap akad yang digunakan tersebut. Penelitian Muhammad Mun’im menyebut bahwa akad penambangan batu di Desa Serut dapat dikategorikan sebagai bentuk akad jual beli bukan sewa-menyewa, karena objek akadnya dalam akad tersebut menjadi milik penambang batu sepenuhnya. Namun pelaksanaan akad jual beli yang dilakukan oleh

(24)

sebagian masyarakat di Desa Serut ini tidak sesuai dengan hukum Islam.

Hal tersebut karena, pertama takaran atau timbangan yang menjadi ukuran objek akad hanya didasarkan dengan perkiraan dan jangka waktu tertentu sehingga mengandung unsur spekulasi. Kedua, sighat yang digunakan dalam akad tersebut tidak jelas. Akad yang demikian dalam pandangan hukum Islam tidak diperbolehkan (haram).17

2. Penelitian yang dilakukan Sidiq Aziz Nurul Arifin, Jurusan Muamalah, Fakultas Syariah, Institut Agama Islam Negeri Walisongo, Semarang. Yang berjudul “Analisis Hukum Islam terhadap Akad Penambangan Batu Studi Kasus di Desa Bojong Kabupaten Tegal”. Penelitian ini mengkaji bagaimana bentuk akad penambangan batu di Desa Bojong Kabupaten Tegal. Penelitian Sidiq Aziz Nurul Arifin memberi kesimpulan bahwa akad penambangan batu di Desa Bojong ini merupakan akad sewa menyewa dengan diakhiri dengan kepemilikan (Ijarah Muntahiyah Bit-Tamlik).

Namun mengenai takaran atau timbangan objek tidak ada kejelasan, karena hanya didasarkan pada ukuran lokasi penambangan. Sedangkan untuk kedalamannya sendiri tidak ditentukan secara pasti, sehingga ada unsur gharar di dalamnya. Adanya unsur ghrar terhadap akad menjadikan akad tersebut menjadi rusak. Akad demikian menurut pandangan hukum Islam tidak diperbolehkan atau tidak sah untuk dilakukan.18

17Muhammad Mun’im, Tinjauan Hukum Islam Terhadap Akad Penambangan Batu Di Desa Serut Kecamatan Gedang Sari Kabupaten Gunung Kidul, (Yogyakarta UIN Sunan Kali Jaga), 2004, n.d., 63.

18Sidiq Aziz Nurul Arifin, Analisis Hukum Islam Terhadap Terhadap Akad Penambangan Batu Study Kasus Di Desa Bojong Kabupaten Tegal (Semarang: Institut Agama Islam Negri Walisongo, 2012), 66.

(25)

3. Penelitian yang selanjutnya M. Siro Juddin Jurusan Hukum Bisnis Syariah, Fakultas Syariah, Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang yang berjudul “Praktik Jual Beli Batu Kebun dengan Sistem Tebasan Dusun Ngerambut Padang Asri Jati Rejo Mojokerto (Perspektif Kompilasi Hukum Ekonomi Syariah)”. Penelitian ini mengkaji dua permasalahan.

Pertama, bagaimana praktik jual beli batu kebun dengan sistem tebasan.

Kedua, bagaimana tinjauan Kompilasi Hukum Ekonomi Syariah (KHES) terhadap praktik jual beli batu kebun dengan sistem tebasan pada masyarakat Dusun Ngerambut Desa Padang Asri Kecamatan Jatirejo Mojokerto. Hasil penelitian menunjukkan bahwa praktik jual beli batu kebun dengan sistem tebasan oleh masyarakat Dusun Ngerambut, Desa Padang Asri, Kecamatan Jati Rejo, Mojokerto dilakukan secara lisan tanpa adanya kesepakatan mengenai kadar dan ukuran batu, serta tanpa kepastian mengenai jangka waktu penambangan. Penetapan harga jual hanya dilakukan berdasarkan taksiran luas lahan, dan penambangan dapat terus dilakukan hingga kandungan batu pada lahan tersebut telah habis.

Berdasarkan tinjauan KHES, jual beli batu dengan sistem tebasan tersebut dapat digolongkan sebagai jual beli yang tidak sah (batal) karena tidak memenuhi syarat-syarat objek jual beli sebagaimana diatur dalam pasal 76 dan pasal 77 KHES.19

Berdasarkan penelitian dari Muhammad Mun’im, M Siro Juddin, dan Sidiq Aziz Nurul Arifin yang telah dipaparkan di atas terdapat

19M Siro Juddin, Praktik Jual Beli Batu Kebun Dengan Sistem Tebasan Dusun Ngerambut Padang Asri Jati Rejo Mojokerto (Perspektif Kompilasi Hukum Ekonomi Syariah), (Malang UIN Maulana Malik Ibrahim Malang 2015) . 82.

(26)

perbedaan dan kesamaan dengan penelitian yang akan dilakukan peneliti.

Perbedaan dan persamaan tersebut akan dijelaskan pada tabel di bawah ini:

Tabel 1.1 Penelitian Relevan

No Aspek Muhammad Mun’im

Sidiq Aziz Nurul Arifin

M Siro

Juddin Nurul Hasanah 1. Judul Tinjauan

Hukum Islam terhadap Akad Penambangan Batu di Desa Serut

Kecamatan Gedang Sari Kabupaten Gunung Kidul

Analisi Hukum Islam terhadap Akad

Penambangan Batu (Studi kasusdi Desa Bojong

Kabupaten Tegal)

Praktik Jual Beli Batu Kebun dengan Sistem tebasan Dusun

Ngerambut, Padang Asri Jati Rejo, Mojokerto.

(Perspektif Komplikasi Hukum Ekonomi Syariah)

Tinjauan

Hukum Islam terhadap Praktik Jual Beli Barang Tambang Batu Belah. Di desa Sukadana Kec.

Sukadana. Kab.

Lampung Timur

2. Rumusan masalah

Apakah bentuk akad eksplolitasi lahan

penambangan batu di Desa

Serut dan

bagaimana pandangan Hukum Islam terhadap akad yang digunan tersebut.

Apakah bentuk akad

penambangan batu di Desa Bojong

Kabupaten Tegal.

Bagaimana Praktik Jual beli batu kebun dengan sistem tebasan dan bagaimana tinjauan KHES terhadap praktik jual beli tersebut.

Bagaimana hukum Islam Memandang akad jual beli borongan batu belah yang terdapat di Desa Sukadana

Kecamatan Sukadana Kabupaten Lampung Timur.

3. Lokas/te mpat

Desa Serut, Kecamatan Gedang Sari, Kabupaten Gunung Kidul

Desa Bojong, Kabupaten Tegal

Dusun Ngerambut, Desa Padang Asri,

kecamatan Jati Rejo,

kabupaten Mojokerto.

Desa Sukadana, Kecamatan Sukadana, Kabupaten Lampung Timur.

4. Waktu 2004 2012 2015 2020

(27)

5. Teori Akad jual beli

dan sewa

menyewa

Akadjual beli dan sewa menyewa

Akad jual beli dan Gharar

Akad jual beli

6. Jenis penelitian

Penelitian lapangan (fieled research)

Penelitian lapangan (fieled research)

Hukum Empiris

Penelitian

lapangan (fieled research)

(28)

BAB II

LANDASAN TEORI

A. KONSEP JUAL BELI 1. Definisi Jual Beli

Jual beli berasal dari Bahasa arab al-Bai’u.1yang artinya “menjual, mengganti, dan menukar (sesuatu dengan sesuatu yang lain)”. Namun al- Bai’u terkadang juga diartikan sebagai pengertian lawannya, yaitu kata Syiro’ (beli) . dengan demikian, kata al-Bai’u berarti kata “jual” dan sekaligus berati kata “beli”.2Jual beli menurut etimologi adalah pertukaran barang dengan barang (barter). Jual beli merupakan istilah yang dapat digunakan untuk menyebut dari dua sisi transaksi yang terjadi sekaligus, yaitu menjual dan membeli.3

Adapun jual beli secara terminologi, para ulama berbeda pendapat dalam mendefinisikannya, di antaranya adalah menurut Imam Hanafi jual beli adalah pertukaran harta (benda) dengan harta menggunakan cara tertentu (yang diperbolehkan).4

Definisi lain yang dikemukakan oleh Mazhab Malikiyah, Syafi’iyah, dan Hanabilah. Jual beli adalah saling menukar harta dengan harta dalam bentuk pemindahan milik dan pemilik. Dalam hal ini mereka melakukan penekanan pada kata milik dan pemilikan, karena ada juga

1Ahmad Wardi Muslich, Fiqih Muamalat,( Jakarta: Amzah, 2017),173.

2Koko Khoerudin, Hariman Surya Siregar, Fiqih Muamalah Teori Dan Implementasi (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2019), 112.

3Imam Mustofa, Fiqih Mu’amalah Konteporer, (Jakarta: Rajawali Pers, 2016), 21.

4Mardani, Hukum Ekonomi Syariah Di Indonesia (Bandung: PT Refika Aditama, 2011), 168.

(29)

tukar-menukar harta yang sifatnya tidak harus dimiliki seperti sewa- menyewa (ijarah).5

Dari pemaparan di atas, dapat disimpulkan bahwa jual beli adalah pertukaran harta dengan harta (benda) atas dasar saling rela, atau memindahkan hak kepemilikan kepada orang lain dengan mendapatkan ganti yang sesuai, dengan tujuan untuk mendapatkan keuntungan dengan cara yang sesuai dengan syar’i.

2. Dasar Hukum Jual Beli

Jual beli merupakan akad muamalah yang dibolehkan berdasarkan dasar hukum yang sudah jelas. Baik dari Al-Qur’an, As-Sunah, Ijma’ para ulama.6 Bahkan jual beli bukan sekadar muamalah, akan tetapi menjadi salah satu media untuk tolong-menolong sesame manusia.7

a. Dasar dalam Al-Qur’an

Firman Allah dalam surat An-Nissa ayat 29:

















































Artinya:”Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama

5Nasrun Haroen, Fiqih Muamalah (Jakarta: Gaya Media Pratama, 2007), 112.

6Ahmad Wardi Muslich, Fiqih Muamalat, 177.

7Imam Mustofa, Fiqih Mu’amalah Konteporer, 22.

(30)

suka di antara kamu. Dan janganlah kamu membunuh dirimu;

Sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu”.8

Tafsiran dari ayat di atas adalah “dilarang untuk orang-orang mukmin menjadi tamak (rakus) dengan hak orang lain, dan mengambil dengan melalui jalan yang salah. Karena itu janganlah kamu mengambil harta saudara-saudaramu (orang atau pihak lain) dan janganlah kamu bersengketa yang disebabkan oleh harta, yang diperoleh melalui jalan yang curang. Maka berniagalah kamu untuk mendapatkan keuntungan dengan jalan yang sesuai dengan hukum Islam, perniagaan harus dijalankan oleh para pihak atas dasar suka sama suka. Tidak boleh dilakukan dengan paksaan, penipuan, kedzaliman, menguntungkan salah satu pihak dan merugiakan pihak lain.9

Dalam ayat tersebut dijelaskan bahwa Allah melarang umatnya untuk mengambil harta orang lain, dengan melalui jalan yang tidak diperbolehkan, karena itu merupakan perbuatan yang batil. Sehingga Allah memerintahkan kepada umatnya berniaga untuk mendapatkan keuntungan dengan jalan yang sesuai dengan syariat Islam.

b. Dasar dalam As-Sunnah

Adapun dalil dari As-Sunnah yaitu:

ِﻊْﻴَـﺑ ْﻦَﻋَو ٍةﺎَﺼَﳊا ٍﻊْﻴَـﺑ ْﻦَﻋ َﻢﱠﻠَﺳَو ِﻪْﻴَﻠَﻋ ِﷲا ُلْﻮُﺳَر ُلﺎَﻗ َةَﺮْـﻳَﺮُﻫ ِﰊَأ ْﻦَﻋ ِرَﺮَﻐﻟا ) ﻢﻠﺴﳌا ﻩاور

١٠

(

Dari Hurairah RA. Rasulullah SAW mencegah dari jual beli melempar kerikil dan jual beli Gharar (H.R Muslim).11

8Kementrian Agama RI, Al-Qur’an Dan Terjemahnya, (Bandung: Fokus Media, 2010), 83.

9 Ash-Shiddieqy, Muhammad Hasbi, Teungku, Tafsir Al-Qur’an Majid An-Nuur (Semarang: Pustaka Rizqi Putra, 2000), 835-836

10 Al-Hafid Ibn Hajar Al-Asqolaani, Bulughul Mahrom, (Surabaya: Darul Ulum, 773h), 335.

11 Abdul Baqi, Muhamad Fuad Terjemah Al-Lu’lu’uwalmarjan (kumpulan Hadots Sahih Bughori Muslim, (Semarang: PT. Pustaka Riski Putra, 2012), 156-157.

(31)

Menurut Imam Asy Syatibi jual beli hukumnya bisa menjadi wajib dan bisa juga menjadi haram seperti ketika terjadi ikhtiar ialah menimbun barang untuk persediaan sampai harga melonjak naik. Apabila praktik semacam ini terjadi, maka pemerintah boleh menegaskan kepada pedagang untuk menjualnya dengan harga yang sesuai dengan harga di pasar, dan pedagang harus menuruti permintaan pemerintah, karena praktik semacam ini dapat merugikan masyarakat.12

Berdasarkan penjelasan diatas, pekerjaan yang paling baik adalah jual beli dengan cara yang sesuai dengan ketentuan hukum Islam, maka jual beli dikatakan sah atau boleh. Namun jual beli bisa juga dikatakan haram atau tidak boleh, ketika tidak sesuai dengan ketentuan hukum Islam.

c. Dasar dalam ijma’

Ulama dari berbagai kalangan mazhab sepakat akan disyariatkannya dan dihalalkannya jual beli. Jual beli sebagai mu’amalah menggunakan sistem barter sudah ada dari zaman dahulu.13 Islam datang memberi batasan dan aturan agar dalam pelaksanaan transaksi tidak terjadi kezaliman atau tindakan yang dapat merugikan salah satu pihak.

Sehingga memudahkan untuk dilakukannya transaksi jual beli dengan aman, yang sesuai dengan hukum Islam.

4. Rukun dan Syarat Jual Beli

Transaksi akad jual beli dikatakan sah apabila memenuhi beberapa aspek, yang terdapat dalam rukun dan syarat jual beli.14

12 Shobirin, Jual Beli dalam Pandangan Islam, Jurnal Bisnis dan Menejemen Islam, BISNIS, Vol.3, No. 2, Desember 2015, 244.

13Imam Mustofa, Fiqih Mu’amalah Konteporer, 25.

14Rachmad Syafe’i, Fiqih Muamalah (Bandung: Pustaka Setia, 2001), 75–76.

(32)

Arkan adalah bentuk jamak dari rukun. Rukun berarti sesuatu yang paling kuat, sedangkan arkan berarti hal-hal yang harus ada untuk terwujudnya satu akad dari sisi luar.15 Sedangkan syarat jual beli menurut ulama ahli fiqih adalah komitmen yang dijalin antara salah satu dari beberapa pihak yang mengadakan transaksi dengan lainnya untuk mengambil manfaat dari barang tersebut.16

Jumhur ulama menetapkan empat rukun dan syarat dalam jual beli, yaitu:

1. Para pihak yang bertransaksi (penjual dan pembeli)

Penjual adalah pihak yang memiliki objek barang yang akan diperjualbelikan. Sedangkan pembeli merupakan pihak yang ingin memperoleh barang yang diharapkan, dengan membayar sejumlah uang tertentu kepada penjual.17

 Syarat bagi kedua belah pihak yang melakukan transaksi 1) Mumayyiz

Dalam al-Quran surat an-Nissa Ayat 5, Allah SWT berfirman:



































Artinya: “Dan janganlah kamu berikan hartamu itu kepada orang yang bodoh (belum sempurna akalnya) harta (mereka yang

15Koko Khoerudin,Hariman Surya Siregar, Fiqih Muamalah Teori Dan Implementasi, 122.

16Saleh Al-Fauzan, Fiqih Sehari-Hari (Jakarta: Gema Insani, 2006), 373.

17Ismail, Perbankan Syariah (Jakarta: Kencana, 2011), 136–37.

(33)

ada dalam kekuasaanmu) yang dijadikan Allah sebagai pokok kehidupan”.18

Tafsir ayat diatas menjelaskan bahwa : Allah melarang umat Islam yang menjadi wali dari anak-anak yatim dan wali orang safih (tidak dapat mengelola harta dengan semestinya) yang belum mampu mengurus hartanya seperti anak nakal, terganggu jiwanya, lanjut usia dan lain sebagainya. Untuk menyerhakan kembali harta yang mereka miliki, jika tidak mendatangkan kemaslahatan.

Berilah mereka rezeki (memenuhi segala kebutuhan hidup seperti makan, minum, biaya pendidikan dan lain-lainl) dalam kehidupan sehari-hari dari hasil pengolahan harta- harta tersebut. Ucapkan kepada mereka kata-kata yang lembut dengan sikap mendidik, perlakukanlah seperti anak sendiri seperti apa yang diharapkan mereka.19

Dalam ayat di atas dijelaskan bahwa tidak sah jual beli atau ijab kabulnya orang yang belum bisa membedakan mana yang tidak berbahaya dan mana yang berbahaya.

2) Pihak yang berakad harus lebih dari satu pihak.20 Tidak mungkin akad hanya dilakukan oleh satu pihak, di mana dia menjadi orang yang menyerahkan dan yang menerima.

3) Tidak dalam keadaan terpaksa ketika melakukan akad, Karena adanya kerelaan kedua belah pihak merupakan salah satu rukun jual beli.21 Sehingganya jual beli harus didasari rasa saling suka.

4) Sighat (Lafal Ijab dan Qobul)

18Kementrian Agama RI, Al-Qur’an Dan Terjemahnya, 77.

19 Ash-Shiddieqy, Muhammad Hasbi, Teungku, Tafsir Al-Qur’an Majid An-Nuur,784- 786.

20Imam Mustofa, Fiqih Mu’amalah Konteporer, 26.

21Enang Hidayat, Fiqih Jual Beli, 18.

(34)

Sighat akad adalah bentuk ungkapan dari ijab qabul apabila akadnya akad iltizam yang dilakukan oleh dua pihak, atau ijab saja apabila akadnya akad iltizam yang dilakukan oleh satu pihak.22

Ulama Hanafiyah membedakan mana ijab dan mana qabul teragantung kepada siapa yang lebih dahulu menyatakan. Jadi penjual atau pembeli bisa menjadi ijab ataupun qabul, tergantung siapa yang terlebih dahulu menyatakan.

Sedangkan menurut jumhur ulama, selain Hanafiyah, penentuan ijab dan qabul adalah dilihat dari siapa yang memiliki dan siapa yang akan memiliki. Dalam konteks jual beli, yang memiliki barang adalah penjual, sedangkan yang akan memilikinya adalah pembeli. Dengan demikian, pernyataan yang dikeluarkan oleh penjual adalah ijab, meskipun datangnya belakangan, sedangkan pernyataan yang dikeluarkan oleh pembeli adalah qabul, meskipun dinyatakan pertama kali.23

 Syarat sah ijab qabul

Ulama fiqih telah sepakat bahwa syarat ijab dan qobul diantaranya sebagai berikut:

1) Orang yang melangsungkan akad harus baligh dan berakal.

2) Qabul harus sesuai dengan ijab. Misalnya, penjual mengatakan:

“Saya jual buku ini seharga Rp. 15.000,-“.lalu pembeli menjawab:

“Saya beli dengan harga Rp. 15.000.-“. Apabila antara ijab dengan qabul tidak sesuai, maka jual beli tidak sah.

22Ahmad Wardi Muslich, Fiqih Muamalat, 181.

23Ahmad Wardi Muslich, 180–81.

(35)

3) Ijab dan qabul itu dilakukan dalam satu majelis. Maksudnya, penjual dan pembeli hadir dan membicarakan topik yang sama didalam satu tempat.24

2. Barang yang diperjualbelikan

Barang yang diperjualbelikan atau objek akad jual beli adalah barang yang dijual (mabi’).25

 Syarat barang yang diperjualbelikan

1) Suci atau disucikan, maka tidak sah memperjualbelikan barang yang najis, seperti babi, anjing dan lain-lain.26

2) Tidak dibatasi oleh waktu, seperti perkataan “Ku jual motor ini kepada tuan selama satu tahun”, maka jual beli tersebut tidak sah, sebab jual beli adalah salah satu sebab pemilikan secara penuh yang tidak dibatasi apa pun kecuali ketentuan syara’i.

3) Dapat diserahkan secara cepat maupun lambat, tidak sah menjual barang yang sudah lari dan tidak dapat ditangkap kembali lagi, barang-barang yang sudah hilang atau barang yang sulit diperoleh kembali karena samar, seperti seekor ikan jatuh ke kolam, maka tidak diketahui dengan pasti ikan tersebut di karenakan terdapat ikan yang lain di dalam kolam tersebut.27

24Nasrun Haroen, Fiqih Muamalah, 116.

25Ismail, Perbankan Syariah, 137.

26Hendi Suhendi, Fiqih Muamalah, 72.

27Koko Khoerudin, Hariman Surya Siregar, Fiqih Muamalah Teori Dan Implementasi, 128.

(36)

4) Terdapat manfaat menurut syara’, maka tidak diperbolehkan jual beli sesuatu apapun yang tidak boleh diambil manfaatnya menurut syara’, seperti menjual babi, kala, cecak, dan yang lainnya.

5) Adanya barang atau tidak adanya barang di tempat, namun penjual bersedia untuk mengadakan barang tersebut. Contohnya, barang tersebut berada di gudang atau berada di pabrik. namun yang terpenting, pada saat diperlukan barang itu sudah ada dan dapat dihadirkan di tempat yang sudah dijanjikan bersama.28

6) Barang yang menjadi objek transaksi jual beli merupakan milik sah sang penjual, yang artinya tidak ada sangkutannya dengan kepemilikan orang lain.29

7) Objek tersebut diketahui (dapat dilihat). Maksudnya dapat diketahui banyaknya, beratanya, takarannya, jenisnya, atau ukuran-ukuran yang lainnya.30

3. Nilai tukar barang

Nilai tukar pengganti barang yaitu berupa uang atau harga yang di mana setiap transaksi jual beli harus disebutkan dengan jelas harga jual yang disepakati antara penjual dan pembeli.31

 Syarat nilai tukar barang/uang a. Suci (Tidak boleh barang najis).

28M. Ali Hasan, Berbagai Macam Transaksi Dalam Islam (Fiqih Muamalah) (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2003), 123.

29Imam Mustofa, Fiqih Mu’amalah Konteporer, 28.

30Koko Khoerudin, Hariman Surya Siregar, Fiqih Muamalah Teori Dan Implementasi, 129.

31Ismail, Perbankan Syariah, 137.

(37)

b. Bisa diserahterimakan/dipindahkan.

c. Ada manfaatnya.

d. Dimiliki sendiri atau yang mewakilinya.

e. Diketahui oleh penjual dan pembeli.

Adapun dalam akad jual beli terdapat keabsahan akad yang harus terpenuhi, yaitu:

1. Barang yang menjadi objek jual beli dan harganya harus diketahui (nyata).

2. Jual beli tidak boleh bersifat sementara (muaqqat), karena jual beli adalah akad tukar menukar untuk berpindah hak kepemilikan untuk selamanya.

3. Merupakan jual beli yang terdapat manfaatnya, dengan demikian maka tidak sah jual beli dirham dengan dirham yang sama.

4. Tidak adanya syarat yang dapat merusak transaksi, seperti syarat menguntungkan salah satu pihak.32 Syarat merusak yaitu syarat yang tidak ada dalam ketentuan syariat dan tidak diperbolehkan secara adat kebiasaan.

Penjelasan diatas merupak rukun dan syarat yang harus terpenuhi dalam akad jual beli, agar akad jual beli yang dilakukan menjadi sah dan diperbolehkan menurut agama Islam.

32Imam Mustofa, Fiqih Mu’amalah Konteporer,32

(38)

5. Macam-macam Jual Beli

Jual beli dapat ditinjau dari beberapa aspek, dari segi hukumnya jual beli akan dikatakan sah atau diperbolehkan apabila jual beli sesuai dengan syariat Islam, memenuhi rukun dan syarat yang ditentukan. bukan milik orang lain, tidak tergantung pada hak khiyar lagi. Jual beli ini dikatakan sebagai jual beli sahih atau yang diperbolehkan.33

Adapun jual beli yang tidak sah yaitu jual beli yang tidak terpenuhi rukun dan syaratnya. Jumhur ulama membedakan jual beli yang tidak sah itu menjadi dua, yaitu jual beli batil dan jual beli fasid.

a) Jual beli yang rusak (fasid) adalah jual beli yang dilegalkan dari segi hakikatnya tetapi tidak legal dari sisi sifatnya. Artinya, jual beli ini dilakukan oleh orang yang layak pada barang yang layak, tetapi mengandung sifat yang tidak diinginkan oleh syariah, seperti menjual barang yang tidak jelas. Ketidakjelasannya dapat menciptakan sengketa, seperti menjual satu rumah yang tidak tertentu dari beberapa rumah yang ada.34 Berikut ini beberapa contoh kasus jual beli fasid, yaitu:

1) Jual beli al-Gharar

Al-Gharar adalah “ketidakpastian”, menurut Ibn Rush, al-Gharar adalah kurangnya penjelasan tentang keadaan barang, kuantitas

33Nasrun Haroen, Fiqih Muamalah, 121.

34AZ-Zuhaili Wahbah, Fiqih Islam Wa Adillatuhu, Jilid 5 (Jakarta: Gema Insani, 2007), 123.

(39)

dan harga.35 Bai’ al-Gharar adalah sesuatu yang ingin disembunyikan oleh sebelah pihak dan hanya menimbulkan rasa ketidakadilan serta kerugian kepada pihak lain.

2) Jual beli ‘Urban

Yakni jual beli dengan cara memberikan panjaran atau uang muka sebagai bagian dari harga.36 jika senang maka ia membelinya, jika tidak senang maka uang itu menjadi hak milik penjual.

3) Jual beli al-Inah

Yakni jual beli rekayasa untuk menghindari piutang riba.37 Misalnya, seorang menjual barang dengan harga tempo, kemudian ia membelinya kembali dengan harga kontan yang lebih murah.

4) Jual beli Ihtikar

Yakni kegiatan sesorang menimbun barang makanan untuk dijual pada masa sulit dengan harga yang tinggi.38 Mencari keuntungan dengan menjual barang yang modalnya sedikit dengan cara menimbun, dan akan dijual ketika harga barang naik.

5) Jual beli orang kota dengan orang desa

Yakni orang kota yang sudah tahu harga pasaran menjual barangnya pada orang desa yang baru datang dan belum mengetahui harga pasaran.

35M. Nur Rianto, Pengantar Ekonomi Syariah Teori Dan Praktik (Bandung: Pustaka Setia, 2015), 159.

36’Abdullah Zaki Alkaf, Fiqih Empat Mazhab (Bandung: Hasyimi, 2017), 226.

37’Abdullah Zaki Alkaf, Fiqih Empat Mazhab, 226.

38’Abdullah Zaki Alkaf, Fiqih Empat Mazhab, 227.

(40)

6) Jual beli Najasy

Yakni jual beli yang bersifat pura-pura untuk mendapatkan keuntungan yang tinggi.39 di mana si pembeli menaikan harga barang, bukan untuk membelinya, tetapi untuk menipu pembeli lainnya agar membeli dengan harga yang tinggi.

b) Jual beli yang batil adalah jual beli yang tidak terpenuhi salah satu atau seluruh rukun dan syaratnya. Atau jual beli itu pada dasarnya tidak disyariatkan, seperti jual beli yang dilakukan anak-anak, orang gila atau barang yang dijual itu barang-barang yang diharamkan oleh syara’, seprti bangkai, darah, babi, anjing, dan khamer.40 Beberapa contoh kasus jual beli batil, yaitu:

1) Jual beli al-Ma’dum

Jual beli atas barang yang tidak ada atau tidak kelihatan.41 Yakni objek barang tidak terlihat oleh mata.

2) Jual beli al-Ma’juz al-tsalim

Jual beli barang yang tidak mungkin dapat diserahkan.42 Yakni objek barang tidak dapat di serahkan karena sebab tertentu.

Misalnya jual beli burung yang terbang di udara.

39Koko Khoerudin, Hariman Surya Siregar, Fiqih Muamalah Teori Dan Implementasi, 131.

40Nasrun Haroen, Fiqih Muamalah, 121–22.

41Ghufron A. Mas’adi, Fiqih Muamalah Kontekstual, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2002), 131–132.

42Ghufron A. Mas’adi, Fiqih Muamalah Kontekstual, 131–32.

(41)

3) Jual Beli Barang Najis

Jumhur ulama sepakat bahwa jual beli bangkai (binatang yang mati dengan cara tidak disembelih) itu tidak sah hukumnya.43 Namun, kulit bangakai yang sudah disamak maka hukumnya boleh kecuali kulit babi dan anjing.44 Minuman yang menyebabkan seseorang mabuk seperti khamer.45 Begitu juga jual beli anjing,46 babi,47 dan darah.48 Dikarenakan syarat sahnya jual beli itu harus suci sedangkan ketiga objek tersebut hukumya najis.

4) Jual beli al-Majhul

Jual beli di mana mabi’ atau tsamannya tidak dinyatakan secara jelas.49 Sehingga jual beli ini dapat menimbulkan persengketaan.

5) Jual beli Subrah

Jual beli barang yang ditumpuk.50 yang mana bagian luar terlihat lebih baik dari bagian dalamnya.

6) Jual beli al-Mu’allaq ‘ala Syarth

Jual beli yang tergantung pada syarat tertentu, atau tergantung pada masa yang akan datang.51 Misalnya perkataan penjual: “aku menjual rumahku kepadamu seharga X Rupiah jika Fulan menjual rumahnya kepadaku”.

43Enang Hidayat, Fiqih Jual Beli, 147.

44Enang Hidayat, 154–55.

45Enang Hidayat, 159.

46Enang Hidayat, 172.

47Enang Hidayat, 180.

48Enang Hidayat, 189.

49Ghufron A. Mas’adi, Fiqih Muamalah Kontekstual, 137.

50Ghufron A. Mas’adi, 136.

51Ghufron A. Mas’adi, 136.

(42)

Ditinjau berdasarkan objek barangnya terbagi menjadi empat macam,yaitu:

a. Bai’ al-Muqayadhah atau bai’ al-‘ain bil-‘ain, yakni jual beli barang dengan barang yang lazim atau barter, seperti menjual hewan dengan gandum.

b. Bai’ al-Mutlaq atau bai’ al-‘ain bil-dain, yakni jual beli barang dengan barang lain secara tangguh atau menjual barang dengan tsaman secara mutlaq, seperti Dirham, Rupiah atau Dolar.

c. Bai’ al-Sharf atau bai al-dain bil-dain, yakni menjual belikan tsaman (alat pembayaran) dengan tsaman lainnya, seperti Dinar, Dirham, Dolar atau alat-alat pembayaran lainnya yang berlaku secara umum.

d. Bai’ al-Salam atau bai’ al-dain bil-‘ain. Dalam hal ini barang yang di akadkan bukan berfungsi sebagai mabi’ melainkan berupa dain (tanggungan) sedangkan uang yang dibayarkan sebagai tsaman, bisa jadi berupa ‘ain dan bisa jadi berupa dain namun harus diserahkan sebelum keduanya berpisah. Oleh karena itu tsaman dalam akad salam berlaku sebagai ‘ain.52 Ditinjau dari harga jual (tsaman) yang dikenakan pada pembeli, jual beli dibagi menjadi empat, yaitu:

52Ghufron A. Mas’adi, Fiqih Muamalah Kontekstual, 141.

(43)

a. Bai’ Murabahah, yaitu jual beli dengan menarik keuntungan tertentu dari harga beli barang semula, dimana pihak pembeli mengetahui besar keuntungan yang diambil oleh pihak penjual.

b. Bai’ tauliyah, yaitu jual beli dengan tidak menarik keuntungan tertentu dari harga beli barang semula, di mana pihak pembeli mengetahui besar modal pembelian barang tersebut.

c. Bai’ al-wadi’ah, yaitu jual beli dengan harga jual lebih rendah dari harga beli barang semula, dimana pihak pembeli mengetahui besar modal pembelian barang tersebut.

d. Bai’ al-Musawamah, yaitu jual beli dengan harga jual sesuai dengan kesepakatan kedua belah pihak, dimana pihak penjual biasanya menyembunyikan besar modal pembelian barang tersebut.53

Ditinjau berdasarkan penyerahan nilai tukar pengganti barangnya jual beli terbagi menjadi empat, yaitu:

a. Bai’ al-Munjiz al-Tsaman, yaitu jual beli yang di dalamnya disyaratkan pembayaran secara tunai. Jual beli ini disebut pula dengan bai’al-naqd.

b. Bai’ Muajjalal-Tsaman, yaitu jual beli yang dilakukan dengan pembayaran secara kredit.

c. Bai’ Muajjal al-Mutsam, yaitu jual beli yang serupa dengan bai’

al-salam.

53Putra Kalbuadi, Jual Beli Online Dengan Menggunakan Sistem Dropshipping Menurut Sudut Pandang Akad Jual Beli Islam (Studi Kasus PadaForum KASKUS) (Jakarta: UIN Syarif Hidayatullah, 2015), 21.

(44)

d. Bai’ Muajjal al-Iwadhain, yaitu jual beli utang dengan utang. Hal ini dilarang oleh syara’.54

Berdasarkan pemaparan diatas, merupaka macam-macam jual beli yang ditinjau dari beberapa segi. baik dari segi hukumnya, objek barangnya, harga jualnya, dan penyerahan nilai tukarnya.

B. JUAL BELI BORONGAN (JIZAF) 1. Definisi Jual Beli Borongan (Jizaf)

Dalam al-Mu’jam al-Wasith, jizaf berasal dari kata kerja jazafa-jazaafa yang berarti menjual sesuatu tanpa diketahui takaran dan timbangannya. Jual beli borongan dalam Islam disebut al-jizafu, yang berarti menjual barang yang dapat ditakar, ditimbang, dan dihitung.

Melainkan secara dikira-kirakan tanpa ditakar, ditimbang, dan dihitung lagi.55

Berdasarkan pemaparan diatas jual beli borongan merupakan jual beli yang dilaukan dengan cara ditaksir jumlah objek transaksi setelah melihat dan menyaksikan objek jual beli secara cermat.

54 Enang Hidayat, Fiqih Jual Beli, 49–50.

55 Yasin Fitriani, Tinjauan Fiqih Muamalah Terhadap Praktik Jual Beli Buah Kelapa Sawit dengan sistem Jizaf pada Kelompok Tani Tunas Bumi di Desa Petapahan Jaya Kecamatan Tapung Kabupaten Kampar (Riau; UIN Sultan Syarif Kasym, 2019).57

(45)

2. Dasar Hukum `

َﻋ ِﻦ ْﺑا ُﻋ ِﻦ َﻤ َﺮ َر َﻲ ِﺿ ُﷲا ْـﻨ ُﻬ َﻋ َﻤ َﻗ ﺎ َلﺎ ُﻛ ﱠﻨ : َﻧ ﺎ َِﱰ ْﺸ ﱠﻄﻟا ى َﻌ َمﺎ

َﻦ ِﻣ

ﱡﺮﻟا ْﻛ َﺒ ِنﺎ

َﺰ ًﻓا ِﺟ َـﻓ ﺎ َـﻨ َﻬ َر َنﺎ ُﺳ ْﻮ ُل َو ِﷲا َﺳ ﱠﻠ َﻢ َا ْن َﻧ ِﺒ ْـﻴ َﻌ ُﻪ ْﻦِﻣ ُﻪُﻠُﻘْـﻨَـﻧ ﱠﱴَﺣ

ِﻪِﻧﺎَﻜَﻣ ٥٦

Artinya: Dari Abdullah bin Umar, dia berkata, “dahulu kami (para sahabat) membeli makanan secara taksiran, maka Rasulullah saw. melarang kami menjual lagi sampai kami memindahkannya dari tempat belinya “. (H.R Muslim).57

Menurut Al-Hafizh Ibnu Hajar dala kitab Fathul Bari’, bahwa hadis diatas menunjukan bahwa jual beli makanan dengan sistem taksiran hukumnya boleh.58

Dalam hadis diatas mengindikasikan ketetapan Rosulullah saw terhadap akad jual beli borongan (jizaf) yang dilakukan para sahabat.

Rosulullah saw tidak melarang, hanya menghimbau bahwa dalam akad tersebut terdapat prosesi serah terima, untuk memindahkan objek jual beli.

3. Rukun Jual Beli Borongan (Jizaf)

Rukun jual beli borongan (jizaf) tidak ada bedanya dengan jual beli pada umumnya, jual beli dikatakan sah apabila terpenuhinya rukun dan syaratnya, adapun rukun jual beli jizaf menurut jumhur ulama ada empat, yaitu:

56 Abi Abdillah Muhammad ibn Ismail ibn Ibrahim ibn al-mughirah ibn Bardizbah al- Hajaj, Al-Bukhari al-Ja’fiyyi, Sahih Bukhari, Juz II (Berikut: Dar al-fikr, 1401 H/ 1981 M), h. 170

57 Zainudin Hamidy, dkk, Terjemahan Hadist Shahih Bukhari, (Jakarta, Widjaya, 1937),271

58Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqolani, Fathul Bari’ jilid 18, (Jakarta, Pustaka Azzam, 2011), 325.

(46)

a) Adanya penjual b) Adanya pembeli c) Adanya ijab dan qabul d) Adanya objek barang,59

Rukun jual beli borongan (jizaf) ini sama halnya dengan jual beli lainnya, adanya kedua belah pihak yang berakad (penjual dan pembeli) yang cakap hukum sehingga dapat melakukan ijab qabul dengan benar sehingga tercapainya sebuah kesepakatan dan terdapat objek barang dalam jual beli.

4. Syarat Jual Beli Borongan (Jizaf)

Adapun syarat jual beli borongan (jizaf) yang harus terpenuhi, diantaranya yaitu:

a) Objek/barangnya harus terlihat oleh mata ketika melakukan akad atau sebelumnya. Ulama Hanafiyyah, Syafiiyyah dan Hanabilah setuju dengan syarat ini.

b) Kedua belah pihak (penjual dan pembeli) sama-sama tidak mengetahui jumlah takaran objek jual beli tersebut, Jika salah satu mengetahuinya maka tidak sah.

c) Melakukan jual beli dengan cara keseluruhan bukan persatuan.

d) Objek dapat ditaksir oleh orang yang ahli dalam penaksiran objek tersebut.

59 Hendi suhendi, Fiqih Muamalah.70

(47)

e) Jumlah objek barangnya jangan terlau banyak sehingga sulit untu perkirakan dan jangan terlau sedikit sehingga mudah untuk dihitung.

f) Lokasi untuk meletakkan objek harus rata. untuk menaksir objek barang tersebut, agar terhindar dari hak khiyar.

g) Dilarang mencampurkan jual beli barang yang tidak diketahu takarannya, dengan barang yang sudah jelas takarannya dalam satu akad perjnajian.60

Pemaparan di atas menjelaskan

beberapa syarat-syarat dalam jual beli borongan

(jizaf), syarat-syarat ini harus terpenuhi agar tercapainya suatu kesepakatan yang sesuai dengan ketentuan syariat Islam.

C. BARANG TAMBANG 1. Definisi Barang Tambang

Dalam undang-undang RI Nomor 4 Tahun 2009 yang di maksud dengan barang tambang atau bahan galian adalah unsur kimia mineral- mineral, bijih dan segala macam batuan termasuk batu-batu mulia yang merupakan endapan-endapan alam.61

Barang tambang merupakan sumber daya alam yang besal dari dalam perut bumi, sifatnya tidak dapat diperbarui sebab proses pembentukannya membutuhkan waktu yang sangat lama, sehingga

60 Yasin Fitriani, Tinjauan Fiqih Muamalah Terhadap Praktik Jual Beli Buah Kelapa Sawit dengan sistem Jizaf pada Kelompok Tani Tunas Bumi di Desa Petapahan Jaya Kecamatan Tapung Kabupaten Kampar.58

61 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 4 Tahun 2009 Tentang Pertambangan Mineral dan Batu Bara, Bagian No.2.

Gambar

Tabel 1.1 Penelitian Relevan
Tabel 4.1: Kondisi Wilayah Desa Sukadana Kecamatan  Sukadana  No  Klimatologi  Keterangan  1
Tabel 4.4: Penduduk Sukadana Kecamatan Sukadana  Dusun  Sukadana  Dusun Sabah  Dusun  Kuripan  Dusun Asam Kamal  Dusun  Kayu Tabu  1.956  901  1454  926  1495

Referensi

Dokumen terkait

TINJAUAN HUKUM ISLAM TERHADAP PRAKTIK MAKELAR DALAM JUAL- BELI BATU BATA (STUDI KASUS DI DESA BAJANG BALONG PONOROGO)... Ag LAYYIN

Kondisi ini terjadi dalam proses negosiasi harga yang ditetapkan dalam transaksi jual beli uang rusak/lusuh apabila pembeli uang rusak memberikan harga terlalu rendah

Adapun yang menjadi sumber data primer yaitu pamong desa, tokoh agama, tokoh masyarakatdi desa sumberejo yang paham tentang masalah dan masyarakat yang melakukan

Jual beli tanah ladang yang terjadi di desa Indraloka 1 kecamatan Way Kenanga kabupaten Tulang Bawang Barat yang dilakukan bapak Soleh selaku pembeli dan bapak

Hal ini disebabkan karena permasalahan yang terjadi tentang ekonomi yang berkaitan dengan penetapan harga beli jagung dan penyebab adanya perbedaan penetapan harga beli

Berdasarkan permasalahan yang telah peneliti uraikan tersebut di atas, maka yang menjadi pertanyaan penelitian adalah Bagaimanakah Upah di Peternakan Babi Bagi

Hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa: (1) Jual beli yang dilakukan mumayyiz di desa Tanggul Angin di tinjau dari perspekif Hukum Ekonomi Syariah belum

Dalam hal ini, penulis menemukan skripsi karya Fatonah yang berjudul Praktik Jual Beli di Kantin Kejujuran di Pondok Pesantren Ath-Thohiriyyah Karangsalam Kidul Kecamatan