4
BAB II
LANDASAN TEORI
2.1 Supply Chain Management
Supply chain management sering kali dianggap sama dengan logistik, padahal kedua hal tersebut berbeda. Seperti yang diterbitkan pada artikel oleh Lummus and Vokurka (1999) yang mengutip peneliti-peneliti yang menggunakan istilah supply chain, termasuk logistik dan menyimpulkan bahwa meskipun logistik merupakan kegiatan yang mencakup aliran produk dari pemasok sampai kepada pelanggan, namun supply chain memiliki konsep yang lebih luas. Supply chain management didefinisikan berbeda-beda oleh para ahli sehingga menimbulkan perdebatan untuk menentukan pengertian supply chain management. Menurut Ganeshan and Harrison (1995) Supply chain management sebagai jaringan fasilitas dan distribusi yang menjalankan fungsi pengadaan bahan, pengubahan bahan mentah menjadi produk setengah jadi dan produk jadi dan pendistribusian produk jadi ini kepada pelanggan. Menurut Lee and Billington (1995) terdiri dari aktivitas integrasi yang terjadi antara jaringan fasilitas yang membuat bahan baku, memproses menjadi barang setengah jadi dan produk jadi yang dikirimkan ke pelanggan melalui system distribusi. Sistem integratif yang ditujukan untuk mengelola aliran distribusi yang berasal dari supplier ke pembeli akhir. Menurut Wisner, Tan, and Leong (2014) supply chain management adalah gagasan untuk mengintegrasikan aktivitas yang berhubungan dengan barang dan jasa yang berada pada supply chain untuk meningkatkan efisiensi operasi, kualitas dan layanan pelanggan disetiap bagian. Agar manajemen rantai pasok ini berhasil, dibutuhkan kerjasama dan pembagian informasi yang baik antara bagian bagian yang ada di perusahaan seperti peramalan permintaan, rencana produksi, perubahan kapasitas, strategi pemasaran baru, pengembangan produk baru, rencana pembelian, tanggal
pengiriman, dan hal lain yang memengaruhi rencana pembelian, produksi, dan distribusi perusahaan.
Berdasarkan beberapa pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa supply chain management adalah pengelolaan kegiatan pembelian barang, pengelolaan bahan baku menjadi barang setengah jadi maupun jadi, dan mengirimkan produk kepada pelanggan melalu sistem distribusi yang saling terintegrasi untuk mendapatkan efektifitas yang baik. SCM dapat dikatakan sebagai sistem yang mengatur alur kegiatan dari bahan baku yang baik hingga pengiriman produk jadi ke pelanggan dengan kerjasama antara bagian operasional dan strategis intra perusahaan dan antar perusahaan dengan tujuan mendapatkan penilaian baik dan kepuasan pelanggan.
Menurut Wisner et al. (2014) ada delapan proses inti untuk melakukan supply chain management yaitu:
1. Perencanaan dan Peramalan
Perencanaan dan peramalan mengoordinasikan aset untuk mengoptimalkan pengiriman barang dan informasi dari pemasok ke pelanggan, menyeimbangkan antara permintaan dan pasokan. Dengan merencanakan rantai pasok, mebuat perusahaan membuat skenario alternatif ketika peramalan sedang dilakukan.
2. Pembelian
Pembelian memiliki peran penting dalam supply chain management, dengan tujuan yaitu mengurangi pengeluaran biaya yang dibutuhkan dan mengurangi waktu kedatangan bahan baku.
3. Manufaktur
Perusahaan manufaktur yang optimal adalah perusahaan yang memiliki waktu siklus pengerjaan yang lebih kecil dari order time dan mengurangi limbah sehingga dapat mengurangi biaya serta menambah kapasitas inventory
4. Transportasi
Salah satu yang dianggap tidak penting dalam sebuah Supply chain management adalah transportasi. Transportasi memiliki karateristik yang sama, semakin cepat sampainya, semakin besar biayanya. Dengan mengatur
transportasi yang seimbang, perusahaan dapat menurunkan biaya tanpa mengorbankan kepuasan pelanggan.
5. Distribusi dan pergudangan
Pergudangan dan distribusi merupakan hal kedua yang sering dilupakan dalam sebuah SCM. Perusahaan harus bisa mengoptimalkan bagaimana mendistribusikan produk jadi yang dekat dengan pelanggan, dan mengontrol isi gudang. Kesalahan utama perusahaan adalah berfikir bahwa gudang penyimpanan tidak memiliki biaya
6. Pemilihan tempat
Dalam membangun jaringan distribusi, perusahaan harus menentukan berapa banyak gudang atau pusat distribusi yang dibutuhkan agar memenuhi kepuasan pelanggan dalam suatu area.
7. Globalisasi
Perusahaan yang memiliki jaringan distribusi yang luas, tidak bisa memikirkan aturan yang hanya berlaku bagi satu negara saja. Perusahaan harus memikirkan distribusi yang ada pada negara lain karena geografis untuk tiap-tiap negara berbeda. Maka ada perbedaan distribusi dan transportasi yang dialami untuk mengantarkan barang atau jasa dengan tepat waktu.
8. Pelayanan Pelanggan
Perusahaan harus membuat sebuah list kepuasan pelanggan yang telah diurutkan dari tinggi ke rendah dan mendesak karyawan untuk memiliki budaya memuaskan pelanggan dengan list tersebut.
2.2 Konsep Pembelian
Kegiatan pembelian adalah kegiatan yang rutin dilakukan oleh bagian procurement dalam perusahaan manufatkur. Dalam arti sempit, pembelian digambarkan sebagia proses membeli, namun dalam arti luas pembelian didefinisikan sebagai proses pembelian yang diawali dengan kebutuhan, mencari, dan memilih supplier, negosiasi harga, dan kesepakatan lainnya, serta menyepakati kepastian pengirimannya. (Anggela, 2011)
Saat ini aktivitas pembelian semakin berkembang baik dalam bidang akademik maupun praktek. Menurut Giunipero and Pearcy (2006) Setidaknya ada tujuh keahlian yang dibutuhkan seseorang untuk dapat melakukan pembelian didalam sebuah perusahaan.
1. Strategic skills seperti keahlian berfikir kritis, riset lokasi supplier, perencanaan teknologi, dan penargetan biaya pemasok
2. Process management skills. Keahlian ini mencangkup keefektifan dalam mengatur waktu, komunikasi secara tertulis, pemecahan masalah dan resolusi konflik
3. Team skills. Keahlian ini mencakup kerjasama team, kepemimipinan, mengatur pelanggan internal dan penjualan
4. Decision making skills. Hal ini mencangkup kemampuan mengambil keputusan, dan computer literacy
5. Behaviour skills. Hal ini mencangkup komunikasi interpersonal, sikap kewirausahaan, dan kreatifitas.
6. Negotiation skills. Keahlian ini mencangkup negosiasi, customer focus, sikap pengaruh dan bujukan, dan mengerti keadaan bisnis.
7. Quantitative skills. Mencangkup empat skill yaitu computational, technical, blueprint reading, dan specification development
Tujuan utama dari pembelian menurut Render and Heizer (2001) adalah : 1. Mengidentifikasi produk yang diperoleh secara eksternal
2. Mengembangkan, mengevaluasi, dan menentukan pemasok, harga dan pengiriman yang terbaik bagi barang atau jasa.
Aktivitas pembelian sebuah bahan baku, sering dipengaruhi oleh keterlibatan pemasok pada tahapan pembuatan desain produk, keputusan pada manajemen rantai pasok, strategi aliansi, outsourcing, dan sistem penilaian kualitas.
(Humphreys, McIvor, & McAleer, 2000) 2.3 Pemilihan Supplier
Para ahli setuju bahwa tidak ada cara yang paling benar dalam melakukan evaluasi dan pemilihan supplier sehingga perusahaan dapat melakukan banyak
pendekatan. Secara keseluruhan, tujuan yang ingin dicapai adalah meminimasi kerugian dan memaksimalkan nilai secara keseluruhan kepada perusahaan.
Pemilihan supplier banyak menggunakan pendekatan terstruktur yang ketat melalui penggunaan survei. Survei pemasok yang efektif harus memiliki karateristik tertentu seperti objektifitas, keandalaan, fleksibilitas dan harus matematis. (Suárez-Bello, 2003) Untuk memastikan survei pemasok memiliki karateristik diatas, direkomendasikan untuk melakukan proses survei seperti gambar 2.1
Identifikasi kriteria evaluasi pemasok utama
Bobot setiap kriteria evaluasi
Identifikasi dan beri bobot pada subkriteria
Tentukan sistem penilaian terhadap kriteria dan
subkriteria
Lakukan pemilihan pemasok
Tinjau hasil perhitungan dan buat keputusan pemilihan
Tinjau kinerja pemasok secara berkala
Langkah 1
Langkah 2
Langkah 3
Langkah 4
Langkah 5
Langkah 6
Langkah 7
Pengembangan survei
Audit dan seleksi pemasok
Peninjauan kinerja terus menerus
Gambar 2. 1 Flowchart pengembangan survei awal supplier
Sumber: Monczka, R. M., Handfield, R. B., Giunipero, L. C., & Patterson, J. L.
(2015). Purchasing and supply chain management. Cengage Learning. Hal 256
2.3.1 Kriteria Supplier
Pemilihan supplier merupakan keputusan yang sulit karena melibatkan pertimbangan yang sama penting dalam proses pembuatan keputusannya. Kriteria
telah banyak menjadi fokus penelitan ilmuan dan praktisi sejak 1960-an. Dickson merupakan yang pertama melakukan penelitian mengenai kriteria secara ekstensif dengan mengidentifikasi, menentukan dan menganalisis kriteria apa saja yang dapat digunakan dalam memilih supplier. Dengan adanya telaah literatur tentang kriteria supplier memudahkan peneliti untuk menentukan kriteria yang tepat untuk digunakan dalam perusahaan. Menurut penelitian Charles A Weber (1991) yang mengumpulkan semua artikel sejak 1966, sebanyak 74 artikel, kriteria harga, kualitas, pengiriman, dan lokasi merupakan kritreria yang paling sering muncul dalam literatur. Menurut penelitian Kannan and Tan (2003) yang meneliti beberapa pabrik manufaktur pada USA dan Europe dan mendapatkan hasil sebagai berikut:
Tabel 2.1 Kriteria Supplier
Kriteria Supplier USA Europe
Kualitas 4.73 (1) 4.45 (1)
Pelayanan 4.62 (2) 4.25 (3)
Ketepatan Pengiriman 4.57 (3) 4.23 (4)
Respon yang cepat 4.44 (4) 4.37 (2)
Penerimaan pesanan yang tidak terduga 4.27 (5) 4.21 (5)
Kuantitas yang tepat 4.15 (6) 3.72 (8)
Harga 4.10 (7) 3.93 (6)
Kemauan untuk mengubah produk sesuai
keinginan 3.88 (8) 3.87 (7)
Skill Komunikasi 3.79 (9) 3.66 (9)
Penawaran pengadaan bahan pada produk baru 3.60 (10) 3.31 (11)
Sertifikasi 3.50 (11) 3.55 (10)
Memberikan informasi yang jelas 3.10 (12) 3.12 (12) Penggunaan Electronic Data Interchange 2.69 (13) 2.61 (13)
Sumber: Kannan and Tan (2003) Attitudes of US and European managers to supplier selection and assessment and implications for business performance Hal 9
Selanjutnya, penelitian yang dilakukan oleh Deshmukh and Chaudhari (2011) dengan mengumpulkan artikel yang ada selama tahun 1991 sampai dengan 2007 menyimpulkan bahwa kriteria harga, kualitas dan pengiriman merupakan kriteria yang dianggap paling penting, sementara fasilitas dan kapasitas produksi, kemampuan teknis, dan posisi keuangan yang dikategorikan sangat penting oleh Dickson (1966) dibahas sebagian besar tidak seperti penelitan Charles A. Weber and Current (1993).
Menurut Kurniawati, Yuliando, and Widodo (2013) menggunakan lima kriteria yaitu biaya, kualitas, ketepatan, layanan, dan hubungan pemasok. Menurut Rukmi, Adianto, and Avianti (2012) kriteria yang digunakan adalah produksi, harga, kestabilan kualitas, pengiriman, dan pelayanan. Menurut Guo, Liu, Zhang, and Yang (2017) ada enam kriteria yang dapat digunakan yaitu: kualitas, biaya, pengiriman, teknologi, pelayanan dan environmental competency. Menurut Merry, Ginting, and Marpaung (2014) kriteria yang dapat digunakan antara lain: kualitas, harga, pengiriman, pelayanan, profil perusahaan, resiko dan kelengkapan dokumen.
Menurut Mahendra (2019) kriteria yang dapat digunakan antara lain: kualitas, harga, pelayanan, pengiriman, dan ketersediaan.
Sejak tahun 1966 para ahli terus menambahkan kriteria yang dianggap penting, beberapa ada yang memperluas kriteria original Dickson, ada yang dengan menggunakan pendekatan philosophy. Namun pada prinsipnya, penentuan kriteria yang digunakan pada pemilihan supplier tergantung pada kondisi aktual perusahaan yang terkait.
2.4 Metode Pemilihan Supplier
Metode pemilihan supplier secara kuantitatif dikategorikan menjadi tiga bagian: Mathematical programming models, linear weighting models, dan probabilistic/statistic (Charles A Weber, 1991). Model linear weighting models, memiliki karateristik pembobotan tiap kriteria untuk mencapai skor total untuk setiap pemasok dengan menjumlahkan kinerja pada kriteria dengan bobotnya seperti penelitian Bayazit and Karpak (2005) yang menggunakan AHP, penelitian Kwong and Bai (2002) yang mengintegrasikan Fuzzy AHP sebagai system skor pemilihan dan Bhutta Khurrum and Huq (2002) yang membandingkan total cost of owneships dengan AHP. Model matematika mencakup linear programming, mixed integer programming, dan goal programming. Penelitian terdahulu oleh Chaudhry, Forst, and Zydiak (1993) menggunakan linear and mixed binary integer programming dalam memilih supplier dengan selisih harga, Ghodsypour and O’brien (2001) menggunakan mixed integer non-linear programming, dan Dahel (2003) yang menggunakan multi objective mixed integer programming. Sementara pendekatan statistik meliputi analisis cluster dan stochastic economic order
quantity seperti (Mummalaneni, Dubas, & Chao, 1996) menggunakan analisis gabungan untuk mendapatkan preferensi manajer pembelian China dalam pemilihan pemasok, Verma and Pullman (1998) menggunakan analisis pemilihan diskrit untuk memilih supplier, serta Tracey and Tan (2001) menggunakan confirmatory factor analysis and path analysis to examine empirically the relationship supplier.
2.5 Analytical Hierarchy Process
Analytical Hierarchy Process memberikan kerangka kerja untuk mengatasi beberapa situasi kriteria yang melibatkan aspek intuitif, rasional, kualitatif dan kuantitatif. Analytical Hierarchy Process dikembangkan oleh Thomas L Saaty dan diterbitkan dalam buku pada tahun 1980 “The Analytical Hierarchy Process”. AHP memiliki konsep dasar penggunaan matriks pairwise comparison untuk memberikan bobot pada kriteria dan alternatif yang berbeda dengan total skor tertinggi dipilih sebagai yang terbaik (Bhutta & Huq, 2002).
Analytical Hierarchy Process (AHP) dirancang untuk mengatasi permasalahan yang rumit yang dapat diartikan bahwa kriteria dari suatu masalah yang banyak (multikriteria), dan struktur masalah yang belum jelas. AHP dapat memilih yang alternatif yang terbaik yang dievaluasi dengan kriteria yang saling berhubungan. Dalam proses ini, pembuat keputusan melakukan perbandingan berpasangan sederhana yang kemudian digunakan untuk mengembangkan prioritas keseluruhan peringkat alternatif.
Bentuk paling sederhana dalam sebuah hierarki adalah hierarki tiga tingkat/level: tujuan keputusan sebagai tingkat teratas, tingkat kedua diisi dengan kriteria, tingkat ketiga adalah alternatif yang diilustrasikan pada gambar 2.2 tujuan dari struktur ini adalah memungkinkan penilaian yang efektif atas persoalan yang dihadapi. (Saaty & Vargas, 2012)
Gambar 2. 2 Hierarki tiga level
Sumber: Saaty, T. L., & Vargas, L. G. (2012). Models, methods, concepts & applications of the analytic hierarchy process (Vol. 175). Hal 3
Metode AHP melakukan pembobotan kriteria dengan menggunakan derajat kepentingan atau Saaty Scale yang bernilai 1 sampai 9. Berikut merupakan tabel derajat kepentingan yang digunakan:
Tabel 2. 2 Derajat Kepentingan
Derajat Kepentingan
Keterangan
1 Kedua kriteria sama pentingnya
3 Kriteria satu sedikit lebih penting daripada kriteria yang lainnya 5 Kriteria satu lebih penting daripada yang lainnya
7 Satu kriteria jelas lebih mutlak daripada kriteria lainnya 9 Satu kriteria mutlak daripada kriteria lainnya
2,4,6,8 Nilai-nilai antara dua nilai pertimbangan-pertimbangan yang berdekatan
Sumber: Saaty, T. L., & Vargas, L. G. (2012). Models, methods, concepts & applications of the analytic hierarchy process (Vol. 175). Hal 6
Menruut (Munthafa & Mubarok, 2017) sering digunakan sebagai metode pemecahan masalah dibandingkan dengan metode yang lain karena:
1. Struktur yang terhierarki, sebagai konsekuensi dari kriteria yang dipilih, sampai subkiteria yang paling dalam
2. Memperhitungkan validalitas sampai dengan batas toleransi inkonsistensi sebagai kriteria dan alternatif yang dipilih oleh pengambil keptusan
3. Memperhitungkan daya tahan output analisis sensitivitias pengambilan keputusan.
Pada dasarnya langkah-langkah dalam metode AHP meliputi:
Tujuan
1 2 3 4
A B C
Kriteria
Alternatif
1. Mengidentifikasi kriteria dan alternatif yang diinginkan dan menentukan tingkat kepentingan dari masing masing kriteria. Lalu membuat struktur hirarki seperti gambar 2.2.
2. Menyusun prioritas
Langkah pertama adalah memberikan nilai kepada masing-masing kriteria dengan membuat perbandingan berpasangan. Perbandingannya yaitu memberi nilai perbandingan relatif seperti tabel 2.3.
Langkah kedua membuat matriks perbandingan seperti pada contoh gambar 2.4 matriks perbandingan berpasangan diisi menggunakan bilangan yang mempresentasikan relatif dari suatu elemen terhadap elemen lainnya.
Tabel 2. 3 Matriks Perbandingan Berpasangan
C A1 A2 A3 … An
A1 a11 a12 a13 … a1n
A2 a12 a22 a23 … a2n
A3 a13 a23 a33 … a3n
… … … … … …
An an1 an2 an3 … ann
Sumber:(Rimantho, Rachel, Cahyadi, & Kurniawan, 2016)
3. Melakukan perhitungan nilai matriks normalisasi
Berikut rumus yang digunakan dalam menentukan nilai matriks normalisasi.
𝑎𝑖𝑗 = 𝑤𝑖
𝑤𝑗 , 𝑖, 𝑗 = 1,2, … , 𝑛 (1) 𝑎𝑖𝑗 = 𝑎𝑖𝑗
max 𝑎𝑖𝑗 (2)
𝑎𝑖𝑗 = ∑ 𝑎𝑖 𝑖𝑗 (3)
𝑊𝑖𝑗 =𝑎𝑖𝑗
𝑛 (4)
Keterangan:
Wij = Nilai Pembobotan
aij = Matriks normalisasi baris
4. Menghitung nilai eigenvector
Adapun perhitungan yang dilakukan untuk mendapatkan nilai eigenvector
λ max =∑ 𝑎𝑖𝑗
n (5)
5. Menghitung nilai consistency index dan consistency ratio CI = (λ max − 𝑛)
(n−1) (6)
CR =𝐶𝐼
RI (7)
Keterangan:
λ max = Eigenvector maksimum n = Jumlah matriks
CI = Konsistensi indeks CR = Konsistensi ratio RI = Konsistensi indeks acak
Random konsistensi indeks adalah sebuah indeks yang besarnya berbeda sesuai dengan ordenya. Saaty menentukan indeks acak suatu matriks memiliki ordo n sesuai pada tabel 2.5.
Tabel 2. 4 Nilai Konsistensi Indeks Acak
N 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
Random Consistency Index
0 0 0.52 0.89 1.11 1.25 1.35 1.40 1.45 1.49
Sumber: Saaty, T. L., & Vargas, L. G. (2012). Models, methods, concepts & applications of the analytic hierarchy process (Vol. 175). Hal 9
6. Menguji nilai konsistensi
Saaty menjelaskan bahwa terdapat ketidak konsistenan ketika pengisian bobot kriteria, sehingga Saaty mendefinisikan sebuah consistency ratio untuk memberikan toleransi kriteria matriks yang konsisten. Matriks dianggap konsisten jika CR<0,1 atau inkonsistensi diperbolehkan hanya 10%. (Saaty & Vargas, 2012)
7. Rangking prioritas didasarkan pada nilai bobot (weighted score) tertinggi.
2.6 PROMETHEE
PROMETHEE (Preference Ranking Organization Method for Enrichment Evaluation) merupakan salah satu metode untuk memecahkan masalah multikriteria yang dikembangkan oleh J.P Brans pada tahun 1982. Prinsip PROMETHEE adalah menggunakan prinsip nilai hubungan antar outranking (Brans & De Smet, 2016b).
Tujuan utama dari PROMETHEE adalah untuk mempermudah proses pengambilan keputusan dengan cara mengelompokkan tipe keputusan menjadi 6 fungsi kriteria yang dapat mewakili semua jenis keputusan untuk menyelesaikan kasus-kasus umum dan melakukan kuantifikasi derajat preferensi dengan menggunakan maksimum dua parameter yang memiliki karateristik ekonomi yang signifikan (Harsono et al., 2009)
PROMETHEE memiliki dua fase, pertama menilai hubungan outranking berdasarkan pertimbangan dominasi masing masing kriteria. Kedua mengeksploitasi nilai leaving flow dan entering flow pada grafik nilai outranking yaitu urutan parsial untuk PROMETHEE I dan urutan lengkap pada PROMETHEE II (Nofriansyah & Defit, 2017). Data dasar untuk evaluasi dengan metode PROMETHEE disajikan sebagai berikut dimana f menunjukkan alternatif dan a menunjukkan kriteria yang digunakan:
Tabel 2.5 Data dasar analisis PROMETHEE
f1(.) f2(.) … fj(.) … fk(.) a1
fj(ai) a2
… ai
… an
Sumber : Wibowo, Permanasari, and Hidayah (2015)
2.6.1 Nilai Hubungan Outranking Dalam Promethee 1. Dominasi Kriteria
Nilai 𝑓 merupakan nilai nyata dari suatu kriteria dan tujuan berupa prosedur optimasi:𝑓: 𝐾 → 𝑅. Untuk setiap alternatif 𝑎 ∈ 𝐾, 𝑓(𝑎) merupakam evaluasi dari alterantif tersebut untuk suatu kriteria. Pada alternatif dibandingkan 𝑎, 𝑏 ∈ 𝐾 harus dapat ditentukan perbandingan referensinya.
Intensitas (P) dan preferensi alternatif 𝑎 terhadap alternatif 𝑏 sdemikian rupa sehingga:
a. P (𝑎, 𝑏) = 0 berarti tidak ada beda antara 𝑎 dan 𝑏 atau tidak prefernsi dari 𝑎 lebih baik dari 𝑏.
b. P (𝑎, 𝑏) ~ 0 berarti lemah preferensi dari 𝑎 lebih baik dari 𝑏.
c. P (𝑎, 𝑏) ~ 1 berarti kuat preferensi dari 𝑎 lebih baik dari 𝑏.
d. P (𝑎, 𝑏) = 1 berarti mutlak preferensi 𝑎 lebih baik dari 𝑏.
Dalam metode ini, fungsi preferensi seringkali menghasilkan nilai fungsi yang berbeda antara dua evaluasi, sehingga:
P(𝑎, 𝑏) = P(𝑓(𝑎) − 𝑓(𝑏)) (8) Untuk semua kriteria, suatu alternatif akan dipertimbangkan memiliki nilai kriteria yang lebih biak ditentukan oleh nilai 𝑓 dan akumulasi dari nilai ini menentukan nilai preferensi atas masng-masing alteratif yang akan dipilih.
2. Rekomendasi fungsi preferensi untuk keperluan aplikasi
PROMETHEE memiliki enam bentuk fungsi preferensi kriteria. Hal ini tidak mutlak, tetapi bentuk ini cukup baik untuk beberapa kasus. Untuk memberikan gambaran yang lebih baik terhadap area yang tidak sama, digunakan funsi seleisih antara nilai kriteria dan alternatif 𝐻(𝑑) dimana hal ini mempunyai hubungan langsung pada funsi preferensi P. Adapun 6 tipe kriterai tersebut sebagai berikut:
a. Kriteria biasa
𝐻(𝑑) = {0 𝑗𝑖𝑘𝑎 𝑑 = 0
1 𝑗𝑖𝑘𝑎 𝑑 ≠ 0 (9) Pada preferensi ini tidak ada beda antara a dan b jika dan hanya jika 𝑓(𝑎) = 𝑓(𝑏). Apabila nilai kriteria pada masing-masing alternatif memiliki nilai berbeda, pembuat keputusan membuat preferensi
mutlak untuk alternatif yang memiliki nilai lebih baik. Fungsi H(d) untuk preferensi disajikan pada gambar 2.3
Gambar 2. 3 Kriteria biasa
Sumber: Nofriansyah, D., & Defit, S. (2017). Multi Criteria Decision Making (MCDM) pada Sistem Pendukung Keputusan: Deepublish. Hal 109
b. Kriteria Quasi
𝐻(𝑑) = { 0 𝑗𝑖𝑘𝑎 − 𝑞 ≤ 𝑑 ≤ 𝑞
1 𝑗𝑖𝑘𝑎 < −𝑞 𝑎𝑡𝑎𝑢 𝑑 > 𝑞 (10) Kriteria menjelaskan dua alternatif memiliki preferensi yang sama penting selama selisih atau nilai 𝐻(𝑑) dari masing-masing alternatif untuk kriteria tertentu tidak melebihi nilai 𝑞, dan apabila selisih hasil evaluasi untuk masing-masing alternatif melebihi nilai 𝑞 maka terjadi preferensi mutlak. Fungsi H(d) untuk preferensi disajikan pada gambar 2.4
Gambar 2. 4 Kriteria Quasi
c. Kriteria dengan preferensi linear 𝐻(𝑑) = {
𝑑
𝑝 𝑗𝑖𝑘𝑎 − 𝑝 ≤ 𝑑 ≤ 𝑞
1 𝑗𝑖𝑘𝑎 < −𝑝 𝑎𝑡𝑎𝑢 𝑑 > 𝑝 (11)
Kriteria ini dapat menjelaskan bahwa selama ini selisih memiliki nilai yang lebih rendah dari 𝑝, preferensi dari pembuat keputusan meningkat secara linear dengan nilai 𝑑, jika nilai 𝑑 lebih besar dibandingkan dengan nilai 𝑝, maka terjadi preferensi mutlak.
Gambar 2. 5 Kriteria dengan preferensi linear
Sumber: Nofriansyah, D., & Defit, S. (2017). Multi Criteria Decision Making (MCDM) pada Sistem Pendukung Keputusan: Deepublish. Hal 111
d. Kriteria Level 𝐻(𝑑) = {
0 𝑗𝑖𝑘𝑎 𝑑 ≤ 𝑞 0,5 𝑗𝑖𝑘𝑎 𝑞 < |𝑑| ≤ 𝑝
1 𝑗𝑖𝑘𝑎 𝑝 < |𝑑|
(12)
Dalam kasus ini, kecendrungan tidak berbeda 𝑞 dan kecendrungan preferensi 𝑝 ditentukan secara bersama-sama. Jika 𝑑 berada diantara nilai 𝑞 dan 𝑝, hal ini berarti situasi preferensi yang lemah. Fungsi ini disajikan dalam gambar 2.6
Gambar 2. 6 Kriteria level
Sumber: Nofriansyah, D., & Defit, S. (2017). Multi Criteria Decision Making (MCDM) pada Sistem Pendukung Keputusan: Deepublish. Hal 112
e. Kriteria linear dan area yang tidak berbeda
𝐻(𝑑) = {
0 𝑗𝑖𝑘𝑎 |𝑑| ≤ 𝑞 (|𝑑| − 𝑞)
𝑝 − 𝑞
⁄ 𝑗𝑖𝑘𝑎 𝑞 < |𝑑| ≤ 𝑝 1 𝑗𝑖𝑘𝑎 |𝑑| > 𝑝
(13)
Pada kriteria ini, pengambil keputusan mempertimbangkan peningkatan preferensi secara linear dari tidak berbeda hingga preferensi mutlak dalam area antara dua kecenderungan 𝑞 dan 𝑝.
Dua parameter tersebut telah ditentukan.
Gambar 2. 7 kriteria linear dan area yang tidak berbeda
Sumber: Nofriansyah, D., & Defit, S. (2017). Multi Criteria Decision Making (MCDM) pada Sistem Pendukung Keputusan: Deepublish. Hal 113
f. Kriteria Gausian
𝐻(𝑑) = 1 − exp (−𝑑2
2𝜎2) (14)
Fungsi ini digunakan apabila ditentukan nilai 𝜎, dimana dapat dibuat berdasarkan distribusi normal dalam statistik.
Gambar 2. 8 Kriteria Gaussian
Sumber: Nofriansyah, D., & Defit, S. (2017). Multi Criteria Decision Making (MCDM) pada Sistem Pendukung Keputusan: Deepublish. Hal 114
3. Indeks preferensi multikriteria
Tujuan pembuat keputusan adalah menetapkan fungsi preferensi 𝑃𝑖 dan 𝜋𝑖, untuk semua kriteria 𝑓𝑖(𝐼 = 1,2, … 𝐾) dari masalah optimasi multikriteria.
Bobot 𝜋𝑖 merupakan ukuran relatif untuk kepentingan 𝑓𝑖, jika semua kriteria memiliki kepentingan yang sama dalam pengambilan keputusan maka semua nilai bobot adalah sama.
Indeks preferensi multikriteria ditentukan berdasarkan rata-rata bobot dari fungsi preferensi yaitu sebagai berikut:
𝜑(𝑎, 𝑏) = ∑𝑛𝑖=1𝜋𝑃𝑖(𝑎, 𝑏); ∀𝑎, 𝑏 ∈ 𝐴 (15) Keterangan:
𝜑 = indeks preferensi 𝜋 = bobot
𝑃 = intensitas atau fungsi preferensi
𝜑(𝑎, 𝑏) merupakan intensitas preferensi pembuat keputusan yang menyatakan bahwa alterative a lebih baik daripada alternatif b dengan pertimbangan secara bersamaan dari seluruh kriteria. Hal ini dapat disajikan dengan nilai antara 0 dan 1 dengan ketentuan sebagai berikut:
1. 𝜑(𝑎, 𝑏) = 0 menunjukkan preferensi yang lemah untuk alternatif a lebih dari alternatif b berdasarkan semua kriteria
2. 𝜑(𝑎, 𝑏) = 1 menunjukkan preferensi yang kuat untuk alternatif a lebih dari alternatif b berdasarkan semua kriteria.
4. Perangkingan PROMETHEE
Perhitungan arah preferensi dipertimbangkan berdasarkan nilai indeks:
a. Leaving flow
∅+(𝑎) = 1
𝑛−1∑ 𝜑(𝑎, 𝑥)𝑥 ∈ 𝐴 (16)
b. Entering flow
∅−(𝑎) = 1
𝑛−1∑ 𝜑(𝑥, 𝑎)𝑥 ∈ 𝐴 (17)
c. Net flow
∅(𝑎) = ∅+(𝑎) − ∅−(𝑎) (18)
Keterangan:
1. 𝜑(𝑎, 𝑥) menunjukkan preferensi bahwa alternatif a lebih baik dari alternatif x.
2. 𝜑(𝑥, 𝑎) menunjukkan perferensi bahwa alternatif x lebih baik dari alternatif a.
3. ∅+(𝑎) Leaving flow digunakan untuk menentukan urutan prioritas pada Promethee yang menggunakan urutan parsial.
4. ∅−(𝑎) Entering flow digunakan untuk memntukan urutan prioritas pada Promethee yang menggunakan urutan parsial.
5. ∅(𝑎) Net flow digunakan untuk menghasilkan akhir penentuan urutan dalam menyelesaikan masalah sehingga menghasilkan urutan lengkap.
2.7 Literature Review
Pengoptimalan supply chain management menjadi pusat perhatian bagi peneliti untuk bertahan dalam situasi industry yang kompetitif dan berkembang dengan cepat. Salah satu cara yang dapat dilakukan dengan melakukan pemilihan supplier yang sesuai dengan tujuan perusahaan. Beberapa penelitian terdahulu telah melakukan pemilihan supplier dengan menggunkan metode Analytical Hierarchy Process dan PROMETHEE. Dari beberapa penelitian memiliki perbedaan kriteria-
kriteria yang digunakan. Pada penelitian Harsono et al. (2009) yang meneliti supplier sayur pada supermarket Superhero di Bandung menggunakan kriteria harga, kualitas, pengiriman dan pelayanan. Penelitian A. Chamid, Surarso, and Farikhin (2015) menggunakan AHP dan PROMETHEE untuk merangking supplier obat dengan empat kriteria yaitu kelengkapan obat, harga, waktu pengiriman, pembayaran atau jangka waktu kredit. Penelitian Nugroho (2017) menggunakan kedua metode untuk melakukan pemilihan supplier rumput laut dengan kriteria kualitas, pengiriman, presentasi kinerja sebelumnya, garansi dan kebijakan klaim, harga, kemampuan teknis, dan system komunikasi. Penelitian Wulandari (2017) yang memilih supplier bahan baku partikel menggunakan kriteria kualitas, pengiriman, kinerja terdahulu, system komunikasi, operation control, attitudes, dan lokasi. Penelitian terhadap supplier bahan bangunan yang dipublikasikan oleh Ahadian, Rizal, and Tuhuteru (2020) menyatakan bahwa kriteria yang paling penting adalah harga, layanan, ketepatana jumlah, ketepatan pengiriman, dan terakhir adalah kualitas.