commit to user TUGAS AKHIR
PENGOLAHAN KUNYIT
UNTUK PEMBUATAN JAMU SERBUK DI PJ. BISMA SEHAT
Desa Nguter Rt 02 Rw 07, Kecamatan Nguter, Kabupaten Sukoharjo 57571, Jawa Tengah
Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Guna Mencapai Gelar Ahli Madya
Agrofarmaka di Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret Surakarta
Disusun Oleh:
FURI PRIMASARI H 3508029
PROGRAM DIPLOMA III AGRIBISNIS AGROFARMAKA FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS SEBELAS MARET SURAKARTA
2011
commit to user
iiPENGESAHAN
PENGOLAHAN KUNYIT
UNTUK PEMBUATAN JAMU SERBUK DI PJ. BISMA SEHAT
Desa Nguter Rt 02 Rw 07, Kecamatan Nguter, Kabupaten Sukoharjo 57571, Jawa Tengah
Yang disiapkan dan disusun oleh : Furi Primasari
H 3508029
Telah dipertahankan di depan Dosen Penguji Pada tanggal : 06 Mei 2011
Dan dinyatakan telah memenuhi syarat.
Menyetujui,
Penguji I Penguji II
Ir. Panut Sahari, MP Ir. Sri Nyoto, M.S
NIP. 194905211980031001 NIP. 195708031985031001
Mengetahui Dekan Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret
Prof. Dr. Ir. Bambang Pujiasmanto, M.S NIP. 195602251986011001
commit to user
iiiKATA PENGANTAR
Alhamdulillah, segala puji bagi Alloh SWT, atas rahmat dan keridhaanNya sehingga dapat menyelesaikan Laporan Tugas Akhir ini. Penulis dalam penyusunan Laporan Tugas Akhir ini masih memiliki keterbatasan. Namun diharapkan semoga laporan ini dapat bermanfaat bagi siapa saja yang memerlukan dan dicatat oleh Alloh SWT sebagai amal dan ilmu yang bermanfaat, Amin. Tidak lupa penulis juga menyampaikan ucapan terima kasih kepada semua pihak yang telah mendukung :
1. Bapak Prof. Dr. Ir. Bambang Pujiasmanto, M.S., selaku Dekan Fakultas Pertanian UNS.
2. Ir. Heru Irianto, MM., selaku Ketua Program DIII Fakultas Pertanian UNS.
3. Ir. Panut Sahari, MP., selaku Pembimbing Akademik Program DIII Agribisnis Minat Agrofarmaka Fakultas Pertanian.
4. Ir. Panut Sahari,MP., dan Ir. Sri Nyoto,MS selaku Dosen Pembimbing/Penguji Magang.
5. Bapak Mulyadi yang telah mengizinkan magang di PJ.Bisma Sehat
6. Bapak Agus dan pihak - pihak lain yang telah membantu dan membimbing selama melaksanakan kegiatan magang di PJ.Bisma sehat
7. Mas Joko yang telah memberikan banyak informasi dan nasehatnya.
8. Ayah dan Ibu tercinta yang telah memberikan cinta dan kasih sayang yang tak terhingga, untuk airmata yang menetes saat khusuk berdoa untuk anaknya ini, serta yang memberikan dukungan moril dan materiil
9. Kakak Fandi yang selalu mendukung dan menyemangati dalam setiap langkahku.
10. Nenek yang selalu mendukungku dalam setiap langkahku.
11. Rizna yang selalu mengingatkan, memberikan motivasi
12. Semua keluargaku yang telah mendukung untuk menyelesaikan kuliah.
13. Sahabat-sahabatku yang selalu mengingatkan, membantu dan memberiku motivasi dalam menyelesaikan laporan ini.
commit to user
iv14. Teman - teman Agribisnis Minat Agrofarmaka Angkatan 2008 yang secara kompak saling mendukung suksesnya studi kita.
15. Teman-teman dari DIII lainnya yang saling memberikan dukungan.
16. Semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu yang banyak membantu dalam penyelesaian tugas akhir ini.
Kami menyadari Laporan Magang ini jauh dari sempurna, oleh karena itu kami mengharapkan kritik dan saran dari pembaca yang bersifat membangun demi terciptanya perbaikan di masa yang akan datang.
Surakarta, April 2011
Penulis
commit to user
vDAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL ... i
HALAMAN PENGESAHAN ... ii
KATA PENGANTAR ... iii
DAFTAR ISI ... v
DAFTAR GAMBAR ... vii
DAFTAR LAMPIRAN ... viii
BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG... 1
B. PERUMUSAN MASALAH... 3
C. . TUJUAN ... 3
1. Tujuan Umum Magang ... 3
2. Tujuan Khusus Magang ... 3
BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. MENGENAL TANAMAN KUNYIT ... 5
B. CARA PEMBUATAN OBAT TRADISIONAL (CPOTB) ... 7
C. PROSES PENGOLAHAN BAHAN BAKU ... 9
D. MANFAAT KUNYIT ...15
BAB III METODOLOGI A. DASAR PENENTUAN LOKASI ... 16
B. JENIS DAN SUMBER DATA ... 16
C. TEKNIK PENGUMPULAN DATA ... 16
D. TEMPAT DAN WAKTU ... 17
E. BAHAN DAN ALAT ... 17
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. KEADAAN UMUM PERUSAHAAN ... 18
1. Sejarah Perusahaan ... 18
2. Maksud dan Tujuan Perusahaan ... 19
3. Produktifitas Perusahaan... 20
commit to user
viB. MANAJEMEN PERUSAHAAN ... 21
1. Struktur Organisasi ... 21
2. Ketenagakerjaan ... 22
3. Kesejahteraan Karyawan ... 23
C. PERSIAPAN PENGOLAHAN BAHAN ... 23
1. Sortasi Awal ... 23
2. Pencucian ... 24
3. Perajangan ... 25
4. Pengeringan ... 25
5. Sortasi Akhir ... 25
D. PERSIAPAN PENGOLAHAN BAHAN ... 25
1. Peramuan Bahan Baku ... 26
2. Penggiling dan Pengayakan ... 26
3. Penyimpanan Awal ... 27
4. Peramuan Bahan Jadi ... 28
5. Pemeriksaan Laboratorium ... 28
6. Pengemasan ... 29
7. Penyimpanan Akhir ... 30
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 1. KESIMPULAN ... 31
2. SARAN ... 32 DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
commit to user
viiDAFTAR GAMBAR
Gambar 4.1 Struktur Organisasi PJ. Bisma Sehat... 21
commit to user
viiiDAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1. Surat Keterangan Magang di PJ. Bisma Sehat
Lampiran 2. Surat Keputusan Badan Pengawasan Obat dan Makanan Republik Indonesia
Lampiran 3. Daftar Produk Jamu di PJ. Bisma Sehat Lampiran 4. Foto - foto
commit to user
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Obat tradisional bukan hal yang baru lagi bagi masyarakat Indonesia salah satu obat tradisional bangsa Indonesia berbentuk jamu, yang telah dikenal sejak jaman nenek moyang. Jamu yang beredar di masyarakat pada saat ini adalah jamu gendong, jamu godogan, dan jamu serbuk.
Industri jamu di Indonesia saat ini semakin berkembang pesat.
Karena masih banyak digunakan oleh masyarakat. Selain itu jamu tradisional tidak memberikan efek samping bagi kesehatan dan merupakan obat warisan nenek moyang sebelum obat-obatan kimia berkembang secara pesat, tetapi masih banyak masyarakat yang menggemari jamu tradisional. Dan apa lagi di jaman sekarang banyak dokter-dokter menggunakan obat herbal sebagai resep pengobatan.
Kunyit (Curcuma domestica VAL.) merupakan salah satu tanaman obat dalam suku Zingiberaceace yang mempunyai potensi cukup tinggi untuk dibudidayakan. Pemakaian kunyit dari waktu ke waktu cenderung meningkat baik di dalam negeri maupun di berbagai negara di dunia.
Dalam perdaganga Internasional, kunyit termasuk salah satu mata dagang komoditas ekspor. Kebutuhan kunyit untuk seluruh dunia diperkirakan sekitar 12.000 ton per tahun, namun baru dipenuhi oleh India 1.260 ton dan sebagian kecil dari RRC. Perdagangan kunyit untuk ekspor umumnya dalam bentuk belahan atau irisan rimpang kering. Negara pengimpor kunyit antara lain adalah Jepang, Hongkong, negara-negara kawasan Eropa dan Amerika.
Indonesia telah memanfaatkan peluang pasar ekspor kunyit, sekalipun jumlahnya selalu naik turun cukup dratis (fluktuasi). Pada tahun 1983 ekspor kunyit Indonesia tercatat sebesar 10.000 kg (US $ 4.707),
commit to user
kemudian tahun 1894 naik menjadi 386. 926 kg (US $ 307.974). Tahun 1985-1986 terjadi penurunan, yakni masing-masing hanya 251.610 kg (US
$ 166.086) dan 129.000 kg (US $ 60.682). Tahun 1987 naik lagi menjadi 398.155 kg (US $ 378.428), tetapi tahun 1988 dan 1989 hanya sebesar 22.600 kg (US $ 23. 679) dan 35.774 kg (US $ 184.225). Tahun 1991 sebesar 162,4 ton (US $ 53.328) dan tahun 1992 hanya 1,7 ton (US $ 2.274).
Komoditas ini memberikan peluang cukup tinggi dalam kapasitas serapnya, baik disektor formal (industri jamu), sektor informal (jamu gendong, pedagang simplisia, petani pembudidaya dan pengepul simplisia maupun ekspor). Kebutuhan kunyit untuk bahan baku obat tradisional lokal maupun ekspor terus meningkat maka perlu adanya pengembangan agrobisnis tanaman obat di Indonesia. Karena kualitas simplisia sangat mempengarui hasil jamu, maka pada budidayanya seharusnya lebih diperhatikan. Pada kenyataannya sering petani membawa hasil tanaman obat untuk di jual kepada pengusaha, tetapi bahan jamu tersebut ditolak karena kualitasnya tidak sesuai dengan apa yang diharapkan dan distandarkan oleh pengusaha.
Kunyit banyak ditemukan dalam ramuan jamu, baik secara tunggal maupun dikombinasi dengan bahan jamu yang lain. Berdasarkan penelitian atau pengalaman (empiris), kunyit dapat menyembuhkan beberapa penyakit diantaranya sakit gatal, kesemutan, gusi bengkak,luka, sesak nafas, sakit perut, bisul, sakit limpa, usus, kudis, encok, sakit kuning, memperbaiki pencernakan dan merangsang gerakan usus serta menghilangkan perut kembung (karminativa), anti diare, obat peluru empedu (kolagoga), koreng (skabida), racun serangga (desinfectan), penenang (sedativa), dan penawar racun (antidota). Rasanya tidak terlalu sulit untuk mendapatkan jamu dan minuman segar yang berasal dari kunyit di warung-warung atau toko-toko jamu.
commit to user
B. Perumusan Masalah
Untuk menghasilkan produk jamu yang berkualitas, cara pengolahan sangat berpengaruh. Pertama kali yang perlu diperhatikan adalah apakah bahan segar yang akan digunakan telah memenuhi standar atau belum. Selanjutnya bagaiman proses pengolahan bahan bakul jamu dilakukan sehingga menjadi jamu serbuk yang siap di komsumsi.
Cara pengolahan yang tidak benar dapat mengakibatkan kualitas produk jamu kurang sempurna, baik dari kebersihan, aroma, warna, kemasan maupun khasiatnya. Sedangkan apabila cara pengolahan jamu sudah benar, dapat memperbaiki atau bahkan meningkatkan produk yang dihasilkan, kebersihan lebih terjamin, aroma warna, dan kemasan yang menarik sehingga akan lebih berkhasiat.
Disini penulis hanya mengambil satu permasalahan tentang bagaimana proses pengolahan kunyit sebagai bahan baku jamu serbuk.
C. Tujuan Magang 1. Tujuan Umum
a. Mahasiswa dapat melihat dan memahami secara langsung proses pengolahan kunyit menjadi jamu serbuk
b. Mahasiswa memperoleh pengalaman kerja secara langsung sehingga dapat membandingkan antara teori dengan realisasinya di lapangan serta berkaitan dengan ilmu yang lain.
c. Menjalin hubungan kerjasama antara perguruan tinggi dengan dunia industri atau perusahaan.
d. Memenuhi salah satu persyaratan dalam mencapai gelar Ahli Madya Agrofarmaka di Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret Surakarta.
2. Tujuan Khusus
a. Mengetahui ciri simplisia kunyit yang berkualitas baik
commit to user
b. Mengerti dan memahami proses pengolahan kunyit dari pengolahan bakal jamu sampai menjadi jamu serbuk dan kendala- kendalanya.
c. Mempelajari kondisi umum perusahaan meliputi sejarah perusahaan,lokasi dan struktur organisasi.
commit to user
BAB IITINJAUAN PUSTAKA
A. Mengenal Tanaman Kunyit
Berdasarkan penggolongan dan tata nama tumbuhan, tanaman kunyit termasuk ke dalam klasifikasi sebagai berikut :
• Divisio : Spermatophyta
• Sub-diviso : Angiospermae
• Kelas : Monocotyledoneae
• Ordo : Zingiberales
• Famili : Zungiberaceae
• Genus : Curcuma
• Species : Curcuma domestica Val
Famili Zingiberaceae yang tumbuh di dunia diperkirakan terdapat 47 genera dan 1400 spesies, bagi yang tumbuh di daerah tropika maupun sub tropika. Paling sedikit terdapat 8 jenis temu-temuan yang banyak digunakan sebagai bahan obat-obatan di Indonesia. Termasuk didalamnya temu ireng (Curcuma aerugionosa ROXB.), temulawak (C. Xanthorrhiza ROBX.), temu putih, bengle (Zingiber purpureum ROXB), lempuyang gajah(Z. zerumbet), temu kunci (Boesenbergia pandurata), jahe dan tanaman kunyit (Curcuma domestica Val.) (Kartasapoetra, 1992).
Di berbagai daerah kunyit mempunyai nama yang beragam.
Misalnya kunyir, koneng atau koneng temen(Sunda), kunyit (Aceh), kuning (Gayo), kuning, unik (Batak), kunyit (Melayu), cahang (Dayak), kunyit (Lampung), kunyit, janar (Banjar), kunir, kunir betis, temu kuning (Jawa), konye, temo koneng (Madura), kunyik (Sasak), huni (Bima), alawahu (Gorontalo), uni, kuni (Toraja), kunyi (Makasar), unyi (Bugis), kumino, unine, uninum (Ambon), rame, kandeifu, nikwai, mingguai, jaw (Irian).
commit to user
Kunyit merupakan tanaman obat berupa semak dan bersifat tahunan (perenial) yang tersebar di seluruh daerah tropis. Tanaman kunyit tumbuh subur dan liar disekitar hutan/bekas kebun. Diperkirakan berasal dari Binar pada ketinggian 1300-1600 m dpl, ada juga yang mengatakan bahwa kunyit berasal dari India. Kata Curcuma berasal dari bahasa Arab Kurkum dan Yunani Karkom. Pada tahun 77-78 SM, Dioscorides menyebut tanaman ini sebagai Cyperus menyerupai jahe, tetapi pahit, kelat, dan sedikit pedas, tetapi tidak beracun. Tanaman ini banyak dibudidayakan di Asia Selatan khususnya di India, Cina Selatan, Taiwan, Indonesia (Jawa), dan Filipina.
Susunan tumbuhan tanaman kunyit terdiri atas akar, rimpang, batang semu, pelepah daun, daun, tangkai bunga dan kuntum bunga.
Sistem perakaran tanaman kunyit termasuk akar serabut berbentuk benang (fibrosus) yang menempel pada rimpang. Kedalaman rimpang dalam tanah sekitar 16 cm panjang akar kurang lebih 22,50 cm tebal rimpang muda 1,61 cm dan rimpang tua 4 cm. Tiap rumpun tanaman kunyit dapat tumbuh rimpang 7-10 buah, dan anakan antara 11-15 tanaman (Rukmana, 1991).
Rimpang kunyit bercabang-cabang, dan secara keseluruhan membentuk rumpun. Bentuk rimpang sangat bervariasi, umumnya bulat panjang dan kulit rimpang mudah berwarna kuning/muda serta daging kuning. Rimpang tua kulitnya berwarna jingga kecoklatan dan dagingnya jingga terang agak kuning. Rasa rimpang enak dan berbau khas aromatik sedikit agak pahit serta pedas. Rimpang-rimpang kunyit tumbuh dari umbi utama. Umbi utama bentuknya bervariasi antara bulat panjang, pendek dan tebal, lurus atau pun melengkung. Batang tanaman kunyit relatif pendek membentuk batang semu dari pelepah-pelepah daun yang menutup satu sama lain (Hernani, 2002).
Daun tumbuh berjumbai dengan ukuran panjang sekitar 35 cm, lebar 14 cm, berwarna hijau, dan tiap tanaman terdiri atas 9-10 helai daun.
Bunga keluar dari ujung batang semu dengan panjang karangan bunga 10- 15 cm serta berwarna merah. Kuntum bunga tumbuh putih-bergaris hijau
commit to user
dan diujungnya merah jambu, sedangkan yang terletak dibagian bawah berwarna hijau muda (Rukmana, 1991).
Secara keseluruhan tanaman kunyit tumbuh berbentuk terna yang dapat mencapai ketinggian 1 meter, merumpun selebar lebih kurang 24 cm.
Iklim dan ketinggian tempat tanaman kunyit dapat tumbuh didaerah tropika maupun subtropika. Di Indonesia dapat tumbuh sepanjang tahun di daerah-daerah dataran rendah sampai dataran tinggi±2000 m dpl.
Meskipun daya adaptasi tanaman kunyit cukup luas, tetapi kisaran pertumbuhan dan produksi yang optimum adalah pada kondisi iklim suhu udara 19º-30ºC, curah hujan antara 1500-4000 mm pertahun, dan masih dapat tumbuh baik ditempat yang sedikit ternaung (Cheppy, 2002)
B. Cara Pembuatan Obat Tradisional yang Baik (CPOTB)
Obat tradisional merupakan produk yang dibuat dari bahan alam yang jenis dan sifat kandungannya sangat beragam sehingga untuk menjamin mutu obat tradisional diperlukan cara pembuatan yang baik dengan lebih memperhatikan proses produksi dan penanganan bahan baku.
Cara Pembuatan Obat Tradisional yang Baik (CPOTB) meliputi seluruh aspek yang menyangkut pembuatan obat tradisional yang bertujuan untuk menjamin agar produk yang dihasilkan senantiasa memenuhi persyaratan mutu yang telah ditentukan sesuai dengan tujuan penggunaannya. Mutu produk tergantung dari bahan awal, proses produksi dan pengawasan mutu, bangunan, peralatan dan personalia yang menangani (Tondok,1999).
Penerapan CPOTB merupakan persyaratan kelayakan dasar untuk menerapkan sistem jaminan mutu yang diakui dunia internasional. Untuk itu sistem mutu hendaklah dibangun, dimantapkan dan diterapkan sehingga kebijakan yang ditetapkan dan tujuan yang diinginkan dapat dicapai. Dengan demikian penerapan CPOTB merupakan nilai tambah bagi produk obat tradisional Indonesia agar dapat bersaing dengan produk
commit to user
sejenis dari negara lain baik di pasar dalam negeri maupun internasional (Anonim, 2009).
Obat tradisional bukan hal yang baru bagi masyarakat Indonesia.
Sebelum obat-obat kimia berkembang secara modern, nenek moyang kita umumnya menggunakan obat-obatan yang berasal dari tumbuh-tumbuhan untuk mengatasi problem kesehatannya.
Dari tumbuhan obat tersebut dapat dibuat berbagai produk yang sangat bermanfaat dalam menunjang industri obat tradisional, farmasi, makanan dan minuman. Ragam bentuk hasil olahannya, antara lain berupa simplisia.
Simplisia adalah bahan baku alamiah yang digunakan untuk membuat ramuan obat tradisional yang belum mengalami pengolahan pengeringan. Proses pembuatan simplisia pada prinsipnya meliputi tahap- tahap pencucian, pengecilan ukuran dan pengeringan.
Mengingat pentingnya penerapan CPOTB maka pemerintah secara terus menerus memfasilitasi industri obat tradisional baik skala besar maupun kecil untuk dapat menerapkan CPOTB melalui langkah-langkah dan pentahapan yang terprogram. Dengan adanya perkembangan jenis produk obat bahan alam tidak hanya dalam bentuk Obat Tradisional (Jamu), tetapi juga dalam bentuk Obat Herbal Terstandar dan Fitofarmaka, maka Pedoman Cara Pembuatan Obat Tradisional yang Baik ini dapat pula diberlakukan bagi industri yang memproduksi Obat Herbal Terstandar dan Fitofarmaka (Fauziah, 1996).
Jamu adalah sebutan untuk obat tradisional dari Indonesia.
Belakangan populer dengan sebutan herba atau herbal. Jamu dibuat dari bahan-bahan alami, berupa bagian dari tumbuhan seperti rimpang (akar- akaran), daun-daunan dan kulit batang, buah. Ada juga menggunakan bahan dari tubuh hewan, seperti empedu kambing atau tangkur buaya.
Jamu biasanya terasa pahit sehingga perlu ditambah madu sebagai pemanis agar rasanya lebih dapat ditoleransi peminumnya. Di berbagai kota besar terdapat profesi penjual jamu gendong yang berkeliling
commit to user
menjajakan jamu sebagai minuman yang sehat dan menyegarkan. Selain itu jamu juga diproduksi di pabrik-pabrik jamu oleh perusahaan besar seperti Jamu Air Mancur, Nyonya Meneer atau Djamu Djago, dan dijual di berbagai toko obat dalam kemasan sachet. Jamu seperti ini harus dilarutkan dalam air panas terlebih dahulu sebelum diminum. Pada perkembangan selanjutnya jamu juga dijual dalam bentuk tablet, kaplet dan kapsul (Anonim, 2011).
C. Proses Pengolahan Bahan Baku
Adapun proses untuk dijadikan bakal jamu antara lain:
a. Pencucian
Pencucian bertujuan untuk memperoleh simplisia yang bersih dan bebas kotoran yang mungkin terikut saat pemanenan dan pengangkutan. Perlakuan ini akan menurunkan jumlah microba patogen yang menyebabkan pembusukan dan membuat penampakan fisik simplisia lebih menarik.
Pencucian yang benar dilakukan dengan air mengalir sehingga kotoran yang terlepas tidak menempel kembali. Pencucian simplisia dalam jumlah besar dapat dilakukan dalam bak bertingkat yang menerapkan konsep mengalir (Kartasapoetra, 1989).
b. Sortasi
Cara dan tehnik sortasi memerlukan ketelitian dan kecermatan.
Dalam sekala besar sortasi membutuhkan biaya yang besar karena membutuhkan tenaga kerja cukup banyak. Fungsi sortasi adalah untuk memperoleh simplisia seperti yang dikehendaki baik kemurnian dan kebersihannya. Selain itu berperan untuk memilah bahan berdasarkan ukuran panjang, lebar besar atau kecil sehingga diperoleh ukuran yang seragam.
Sortasi dibedakan menjadi dua, yaitu sortasi basah dan sortasi kering. Sortasi basah diterapkan pada simplisia daun rimpang kulit batang dan sebagainya. Kegiatan sortasi basah pada bahan simplisia
commit to user
berukuran kecil dilakukan dengan menggunakan nyiru, untuk memisahkan kotoran-kotoran ringan tersebut, penampi digerakkan keatas, kebawah sambil dilakukan peniupan, serta gerakan berputar.
Sedangkan sortasi kering lebih mudah dilakukan. Keberadaan kotoran- kotoran asing seperti debu, krikil, tanah, rambut, serta bahan lain yang mencemari bahan pada saat pengeringan harus segera di hilangkan karena dapat berpengaruh pada kualitas simplisia (Kartasapoetra, 1989).
Teknik sortasi kering dan basah memiliki kesamaan yaitu memisahkan atau membuang semua bahan asing atau kotoran yang mencemari simplisia yang berkualitas dapat menurunkan mutu. Dengan sortasi diharapkan dapat memperoleh keseragaman mutu dan ukuran simplisia.
c. Pengubahan bentuk
Pengubahan bentuk produk tanaman obat menjadi bentuk- bentuk lain seperti irisan, potongan, dan serutan bertujuan memudahkan kegiatan pengeringan, pengepakan serta pengolahan selanjutnya menjadi bahan baku obat.
Pada umumnya semakin tipis bahan yang dikeringkan akan semakin cepat proses penguapan air berlangsung sehingga dapat mempercepat pengeringan. Namun irisan, yang terlalu tipis juga tidak baik karena senyawa aktif yang terkandung akan mudah menguap dan simplisia juga akan lebih mudah rusak saat di kemas .
d. Pengeringan
Produk tanaman obat sebagai bahan baku industri obat dan kosmetik tradisional biasanya dikonsumsi dalam bentuk kering, sedangkan produk segar digunakan terbatas untuk memenuhi kebutuhan industri minyak atsiri dan dikonsumsi langsung oleh masyarakat.
Pengeringan juga berfungsi sebagai mencegah terjadinya pencemaran serta kontaminasi oleh jamur atau patogen yang dapat menurunkan kualitas atau mengakibatkan keracunan pada saat bahan di konsumsi.
Pengeringan pada dasarnya merupakan upaya untuk menurunkan kadar
commit to user
air bahan sampai pada tingkat yang diinginkan atau kadar air bahan sampai pada tingkat yang diinginkan atau kadar air seimbang dengan atmosfer normal. Pada keadaan ini penurunan mutu bahan oleh kapang, aktivitas enzim, dan serangga dapat diabaikan (Kartasapoetra, 1989).
Kadar air bahan merupakan jumlah air yang yang terikat secara fisik dalam bahan sehingga bahan dapat dinyatakan sebagai suatu material basah atau kering. Jumlah kandungan air pada suatu bahan hasil pertanian akan mempengaruhi daya tahan bahan terhadap serangan mikroba. Dengan demikian, penghilangan kadar air hingga jumlah tertentu berguna untuk memperpanjang daya tahan bahan selama penyimpanan. Cara mengurangi kadar air bahan dapat dilakukan dengan menggunakan metode pengeringan pada suhu tertentu sehingga bahan mencapai berat tetap. Kehilangan berat akibat pengeringan selanjutnya dianggap sebagai kadar bahan asal.
Dalam pengeringan, keseimbangan kadar air menentukan batas akhir dari proses pengeringan. Kelembapan udara serta suhu udara pada simplisia kering biasanya mempengaruhi keseimbangan kadar air. Pada saat kadar air seimbang, penguapan air pada simplisia akan terhenti dan jumlah molekul-molekul air yang akan diuapkan sama dengan jumlah molekul air yang di serap oleh permukaan bahan. Laju pengeringan amat tergantung pada perbedaan antara kadar air simplisia dengan kadar air keseimbangan.
Secara garis besar pengeringan produk tanaman obat dapat dilakukan dengan dua cara:
1. Pengeringan secara alami (natural drying)
Pengeringan secara alami pada dasarnya melibatkan unsur- unsur iklim :
• Pengeringan dengan cahaya matahari (sun drying)
Pengeringan ini memanfaatkan energi panas dari cahaya matahari langsung dan merupakan cara pengeringan yang paling sederhana dan paling umum dan paling umun
commit to user
dilakukan oleh petani atau pengepul simplisia. Cara ini amat praktis serta tidak memerlukan biaya yang besar.
• Pengeringan menggunakan alat berenergi matahari
Pengeringan dengan alat yang memanfaatkan tenaga matahari saat ini juga telah banyak dilakukan. Selain itu memanfaatkan matahari, alat ini juga memanfaatkan suhu, kelembaban udara sekitar, serta sirkulasi udara untuk menunjang proses pengeringan. Besar energi yang dikonversikan dan tingkat suhu yang dicapai merupakan parameter utama yang menentukan efektivitas alat pengering ini.
• Pengeringan bertenaga angin (ventilation drying)
Pengeringan dengan metode ini umumnya dilakukan di dalam ruangan yang memungkinkan terjadinya pergantian udara yang berlangsung secara cepat. Pengeringan cara ini amat sesuai untuk mengeringkan bahan yang mengandung minyak atsiri atau yang ingin dipertahankan warna bahannya terutaman pada produk tanaman obat berupa bunga dan buah- buahan.
Pengeringan dengan teknik ventilation drying dilakaun dengan meletakkan bahan yang akan dikeringakan dengan cara dihambarkan atau digantung pada rak-rak yang ada di dalam alat pengering.
2. Pengeringan buatan (artificial drying)
Berbeda dengan pengeringan alami, pengering buatan tidak tergantung dengan iklim, cuaca dan penyinaran cahaya matahari. Di mana dan kapanpun alat pengering ini dapat berfungsi sesuai dengan kebutuhan dan keinginan.
Alat pengering buatan ini biasanya telah dimodifikasi dan diaplikasi dengan teknologi terapan. Beberapa perusahan jamu, produsen simplisia serta obat tradisional telah banyak memanfaatkan
commit to user
peralatan ini. Pengeringan buatan ini dapat menggunakan berbagai tenaga, seperti energi panas, listrik dan api.
Pengeringan buatan beserta teknologi yang digunakan dalam kegiatan pengeringan ini memiliki kelebihan sebagai berikut :
• Pengeringan tidak tergantung pada keadaan cuaca.
• Kecepatan, ketepatan dan kualitas bahan yang dikeringkan sesuai dengan yang diharapkan.
• Kerusakan bahan dapat ditekan seminimal mungkin.
• Bahan terhindar dari kontaminasi dengan bahan asing.
• Suhu pengeringan dapat diatur sesuai kebutuhan yang diharapkan serta sesuai dengan jenis bahan yang dikeringkan.
(Kartasapoetra, 1989).
e. Pengemasan
Pengemasan hasil tanaman obat yang masih segar ataupun kering telah lama dilakukan. Tujuan utama dari kegiatan pengemasan atau pengepakan adalah sebagai berikut :
1. Mengumpulkan suatu hasil produk tanaman suatu unit sesuai pemanfaatannya.
2. Menyimpan bahan secara aman agar terhindari dari pencemaran atau kotoran.
3. Melindungi hasil produk tanaman selama dalam perjalanan, saat pemasaran maupun penyimpanan.
4. Mempermudah pengangkutan atau pemindahan simplisia dari satu tempat ke tempat lain.
Pengemasan simplisia tergantung pada jenis dan tujuan pengemasannya. Bahan dan kemasan harus sesuai sehingga bahan terhindar dari kerusakan dan sesuai dengan segi pemanfaatannya baik untuk keperluan pengangkutan atau tujuan penyimpanan (Suyitno,1990).
commit to user
Syarat bahan pengemas yang baik adalah sebagai berikut:
1. Mampu melindungi simplisia dari kerusakan mekanis.
2. Tidak mengandung zat kimia yang menyebabkan perubahan isi, rasa, bau, dan kadar air simplisia.
3. Sesuai dengan kebutuhan konsumen, misalnya tidak terlalu berat, praktis, ukuran, dan bentuk menarik.
4. Mampu menyegah penambahan air atau menghindari kelembapan yang pada akhirnya menyebabkan peningkatan kadar air simplisia.
5. Mampu menahan pengaruh cahaya.
6. Memiliki daya pelindung yang dapat diandalkan dan murah.
Bahan pengemas harus bersifat netral atau tidak menimbulkan reaksi dengan simplisia (inert) sehingga tidak menyebabkan terjadinya penyimpangan atau perubahan warna, rasa, dan bau simplisia serta tidak bersifat racun (toksis).
f. Penyimpanan
Dalam dunia pertanian, penyimpanan merupakan bagian dari proses produksi sebelum hasil tersebut digunakan oleh konsumen.
Untuk itu, dalam pembangunan gudang penyimpanan simplisia perlu diperhatikan hal-hal berikut:
1. Tempat penyimpanan atau gudang harus mempunyai ventilasi udara yang cukup baik.
2. Bebas dari kebocoran.
3. Terpisah dari tempat penyimpanan bahan atau alat-alat lain yang tidak sejenis.
4. Berpenerangan cukup serta dapat mencegah masuknya sinar matahari yang berlebihan.
5. Bersih dan bebas dari sampah dan limbah yang memungkinkan menjadi sarang penyakit.
commit to user
Penyimpanan simplisia dalam gudang harus diatur sedemikian rupa sehingga tidak menyulitkan pemasukan dan pengeluaran bahan yang disimpan. Untuk jenis simplisia yang sama harus diberlakukan prinsip “pertama masuk pertama keluar” atau FIFO (first in first out).
Untuk itu, perlu dilakukan pencatatan tanggal penyimpanan terhadap simplisia. Sedapat mungkin jangan terlalu lama menyimpan simplisia di gudang. Juga harus diperhitungkan jumlah persediaan dan total kebutuhan setiap jenis simplisia agar tidak terjadi kerusakan.
Dalam jangka waktu tertentu perlu diperlakukan pemeriksaan gudang secara rutin, meliputi pengecekan dan pengujian mutu seluruh simplisia yang ada didalam gudang. Dengan cara tersebut dapat diketahui lebih dini simplisia yang masih bermutu dan yang tidak bermutu lagi. Kerusakan akibat penyimpanan dapat berupa kehancuran, berubah warna, rasa dan bau. Simplisia demikian harus segera dikeluarkan untuk selanjutnya dimusnahkan atau dibuang (Yuli, 1992).
D. Manfaat Kunyit
Di daerah Jawa, kunyit banyak digunakan sebagai ramuan jamu karena berkhasiat menyejukkan, membersihkan, mengeringkan, menghilangkan gatal, dan menyembuhkan kesemutan. Manfaat utama tanaman kunyit, yaitu: sebagai bahan obat tradisional, bahan baku industri jamu dan kosmetik, bahan bumbu masak, peternakan dll. Disamping itu rimpang tanaman kunyit itu juga bermanfaat sebagai anti inflamasi, anti oksidan, anti mikroba, pencegah kanker, anti tumor, dan menurunkan kadar lemak darah dan kolesterol, serta sebagai pembersih darah (Mooryati, 1998).
commit to user
BAB IIIMETODOLOGI
A. Dasar Penentuan Lokasi
Penulis memilih P.J Bisma Sehat sebagai tempat magang karena : 1. Berhubungan langsung dengan hasil pertanian sehingga cocok sekali
dengan jurusan Agribisnis minat Agrofarmaka untuk tempat magang.
2. Salah satu perusahaan jamu yang cukup prospektif di Nguter Sukoharjo yang sudah mempunyai ijin dari Badan Pengawasan Obat dan Makanan Rebuplik Indonesia.
B. Jenis dan Sumber Data.
Sumber data yang di peroleh dari data primer dan data sekunder 1. Data Primer
Data yang diperoleh dengan pengamatan langsung pada saat terlibat selama kegiatan pengolahan.
2. Data Sekunder
Data sekunder di peroleh dari kepustakaan yang ada di beberapa perpustakaan universitas.
C. Teknik Pengumpulan Data.
1. Pengamatan dan Bekerja
Di lakukan dengan cara mengamati pada saat terlibat secara langsung pada proses pengolahan jamu di P.J Bisma Sehat
2. Interview
Interview yaitu dengan melakukan tanya jawab dengan pembimbing lapangan serta tenaga kerja P.J Bisma Sehat mengenai hal-hal yang bersangkutan dengan proses pengolahan jamu.
commit to user
3. Studi KepustakaanStudi kepustakaan di lakukan dengan cara mencari data yang ada dalam buku-buku di perpustakaan universitas.
D. Tempat dan Waktu.
Magang ini di laksanakan di P.J Bisma Sehat yang terletak di Nguter RT 02/VII Sukoharjo. Waktu pelaksanaan magang selama 2 minggu sejak tanggal 16 Februari 2011 dan berakhir sampai dengan 3 Maret 2011.
E. Bahan dan Alat
Bahan dan alat yang digunakan antara satu dengan yang lain tidak sama, tergantung pada perlakuan masing-masing.
1. Bahan
Bahan yang digunakan adalah semua tanaman apotek hidup, khususnya kunyit.
2. Alat
Alat yang digunakan antara lain :
• Tampah / ayakan untuk menyeleksi.
• Karung plastik untuk menampung hasil.
• Bak
• Ember
• Mesin penghalus
• Mesin pres
• Mesin packing
• Rak-rak untuk menyimpan produk
commit to user
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Keadaan Umum Perusahaan 1. Sejarah Perusahaan
P.J Bisma Sehat adalah salah satu unit usaha yang bergerak dalam bidang jamu tradisional. Usaha yang masih bersifat industri rumah tangga ini semula di rintis oleh Bapak Mulyadi pada tanggal 13 Desember 1993 yang berlokasi di Nguter RT 02/VII Sukoharjo.
Awalnya Bapak Mulyadi adalah seorang pemilik toko kelontong, salah satu produk yang di jual adalah jamu tradisional yang diambil atau di setori oleh para pengrajin jamu disekitar Nguter Sukoharjo. Karena banyaknya permintaan jamu tradisional pada waktu itu maka beliau berfikir untuk mencoba membuat usaha sendiri tentang pembuatan jamu tradisional dan beliau mendalami usaha pengolahan jamu serbuk dengan cara mencoba racikan jamu sendiri tanpa mengikuti pelatihan-pelatihan, hanya dengan membaca buku- buku dan belajar dari saudaranya.
Untuk mendukung dan memperlancar usaha tersebut bapak Mulyadi bekerja sama dengan para petani simplisia disekitar Sukoharjo, Boyolali dan Wonogiri sebagai penyedia bahan baku jamu dengan berjalannya waktu penyedia bahan baku sekarang sudah sampai di kota-kota lainnya antara lain Solo, Pacitan dan Ambarawa dan para pedagang jamu yang merantau ke luar daerah agar bisa membantu dalam hal pemasaran jamu tradisional tersebut.
Pada mulanya kegiatan peracikan dan pengolahan jamu tradisional tersebut dilakukan oleh Bapak Mulyadi sendiri serta di bantu oleh istrinya dan dua orang pekerja yang membantunya. Modal untuk peracikan dan pengolahan tersebut didapat dari pinjaman bank.
commit to user
Pertama kali produksi jamu tradisional sebanyak 50-100 kg setiap harinya dengan menggunakan mesin penggiling sebanyak 2 buah, dan mesin ayak 1 buah. Karena dengan ketekunan dan keuletan Bapak Mulyadi serta dukungan istri serta keluarga besarnya akhirnya usaha itu berkembang hingga mempunyai mesin produksi 5 buah, mesin pecking 2 buah, mesin ayak 3 buah dan mesin pres 1 buah.
Selain itu jenis jamu serbuk yang di produksi juga semakin beranekaragam sekitar 50 macam. Yang semula dipasarkan di pasar- pasar dan di jual ke luar kota dengan cara dititipkan oleh para pedangang jamu yang merantau keluar kota bahkan sampai keluar pulau jawa.
Tetapi Bapak Mulyadi tidak puas begitu saja dengan usahanya beliau masih terus berjuang agar usahanya terus berkembang antara lain dengan cara mengikuti seminar-seminar usaha kecil dan penyuluhan tentang COPTB (Cara Pembuatan Obat Tradisional yang baik) yang diadakan oleh Balai POM. Dengan sifat ulet, telaten dan berani maka usaha yang awalnya kecil berubah menjadi usaha yang bisa diharapkan. Dengan sifat tersebut dan dukungan dari keluarga, Bapak Mulyadi mampu mengembangkan usahanya sampai sekarang ini.
2. Maksud dan Tujuan Perusahaan
Setiap perusahaan dalam pendiriannya tentu memiliki maksud dan tujuan yang hendak di capai. P.J Bisma Sehat dalam pendiriannya memiliki maksud yaitu : “Mengembangkan usaha dari pengalaman yang di dukung dengan mengadakan kerja sama dengan beberapa perusahaan jamu tradisional di sekitar Nguter dan membantu masyarakat dalam bidang kesehatan dengan menyediakan sarana pengobatan yang efek sampingnya rendah serta harganya terjangkau”.
Sedangkan tujuan berdirinya P.J Bisma Sehat adalah : a. Mendapatkan keuntungan dan menambah penghasilan.
b. Memenuhi permintaan jamu tradisional dari penjual jamu gendong.
commit to user
c. Membuka lapangan pekerjaan dan mengurangi pengangguran.
3. Produktifitas Perusahaan
P.J Bisma Sehat memproduksi 50 macam produk jamu tetapi tidak semua jenis produk di produksi dalam waktu yang bersamaan, melainkan di sesuaikan dengan pesanan dan kondisi pasar.
P.J Bisma Sehat tidak hanya memproduksi jamu serbuk saja tetapi juga memperoduksi jamu godokan.
a. Jamu serbuk
Jamu serbuk berupa butiran serbuk halus hasil gilingan dari simplisia yang di ayak dan di ramu yang komposisinya berbeda disesuaikan dengan fungsi atau manfaat jamu tersebut, yang di konsumsi dengan cara di seduh dengan air hangat.
b. Jamu godokan
Jamu godokan berupa rempah – rempah atau empon – empon yang masih utuh bentuknya (tidak di giling) dan sudah di ramu dan di kemas dengan plastik, yang di konsumsi dengan cara di godok (di rebus) terlebih dahulu.
commit to user
B. Manajemen Perusahaan 1. Struktur Organisasi
Adapun struktur organisasi yang ada di P.J Bisma Sehat yaitu sebagai berikut:
Gambar 4.1 Struktur Organisasi P.J Bisma Sehat
Keterangan garis :
a. : sejajar b. : membawahi
PIMPINAN Mulyadi
SEKRETARIS Wiwik
BENDAHARA Wiwik
PENGAWAS Agus dan Gimin
PEMASARAN Priyanto
Karyawan Tetap Karyawan Borongan
commit to user
2. Ketenagakerjaan
a. P.J Bisma Sehat mempunyai karyawan sebanyak 25 orang karyawan yang sudah mempunyai tanggung jawab masing-masing dan untuk karyawan borongan 4 orang. Dalam P.J Bisma Sehat tidak ada pembagian tugas secara khusus.
Di bawah ini merupakan karyawan berdasarkan bagian tugasnya, sebagai berikut :
• Sortir : 3 orang
• Gudang : 2 orang
• Produksi : 4 orang
• Ayak : 2 orang
• Pengemasan : 3 orang
• Pres : 2 orang
• Packing : 2 orang
• Pengawas : 2 orang
• Pemasaran : 3 orang
• Sopir : 2 orang
b. Semua karyawan memiliki jam kerja yang sama yaitu 9,5 jam perhari, dengan jumlah hari kerja dalam seminggu 7 hari yaitu dari hari senin sampai minggu, sedangkan untuk libur tiap tanggal 1 (awal bulan). Mulai bekerja dari jam 07.00 – 16.30 WIB dan waktu istirahat selama 60 menit yaitu dari jam 12.00 – 13.00 WIB.
c. Penerimaan tenaga kerja di P.J Bisma Sehat apabila membutuhkan karyawan dan lulusan tidak menjadi jaminan asalkan pelamar pekerja mempunyai kemampuan dan ketrampilan di bidang jamu tradisional. Dan yang menjadi karyawan di P.J Bisma Sehat adalah orang sekitar Sukoharjo dan Wonogiri.
d. Sistem gaji di PJ. Bisma Sehat memberikan gaji pada setiap karyawan berdasarkan kedudukan, prestasi (lemburan), lama
commit to user
karyawan tersebut bekerja. Sistem pembayaran upah atau gaji karyawan diberikan setiap bulannya (gaji bulanan).
3. Kesejahteraan karyawan
Para karyawan mendapatkan penginapan gratis (mess) selain itu terdapat pula THR (Tunjangan Hari Raya ). Jaminan sosial yang ada berupa jaminan pengobatan jika menderita sakit atau mengalami kecelakaan.
C. Persiapan Pengolahan Bahan
Untuk menjadi sebuah jamu serbuk, kunyit harus di proses melalui beberapa tahapan. Tetapi tidak semua proses pembuatan dilakukan oleh karyawan, contohnya pada proses peramuan produk jamu tertentu dilakukan oleh pimpinan perusahaan yaitu Bapak Mulyadi, hal ini dilakukan untuk menjaga kerahasiaan ramuan masing-masing jamu. Bapak Mulyadi memperoleh ilmu meracik jamu dari salah satu keluarganya yang sudah dulu berwirausaha dalam pengrajin jamu kemudian Bapak Mulyadi tidak hanya itu saja memperoleh ilmu, beliau juga banyak menambah pengetahuannya dengan membaca beberapa buku tentang jamu tradisional di Indonesia untuk selanjutnya diterapkan dalam bidang usahanya sebagai salah satu pengrajin jamu tradisional di Nguter, Sukoharjo.
Dari 50 macam jamu yang dibuat hampir semua menggunakan bahan kunyit, hanya komposisi yang berbeda, disesuaikan menurut fungsi atau manfaat dari jamu itu sendiri.
Persiapan bakal jamu perlu dilakukan dengan tujuan agar mempelajari proses pengolahan selanjutnya selain itu juga menjaga kualitas bahan simplisia yang akan digunakan dalam proses produksi.
Dalam persiapan bakal jamu di P.J Bisma Sehat masih dibagi menjadi beberapa tahapan, antara lain:
1. Sortasi Awal
Sortasi awal dilakukan sebelum kunyit dicuci yaitu dengan memisahkan kunyit menurut ukuran dan mutu, hal ini biasanya
commit to user
dilakukan oleh petani penyedia simplisia. Sortasi pada bahan segar dilakukan untuk memisahkan rimpang dari kotoran berupa tanah, sisa tanaman, dan gulma. Cara sortasi yaitu kunyit diayak menggunakan ayakan dari bambu seperti tampah tetapi dengan lubang lebih besar, agar pasir atau tanah yang masih tercampur pada simplisia kunyit bisa jatuh. Setelah selesai, timbang jumlah bahan hasil penyortiran dan tempatkan dalam wadah plastik untuk pencucian. Dalam satu hari bisa mendapatkan hasil sortiran 50-100 kg per hari.
Adapun standart mutu kunyit yang baik yang biasanya diterima oleh P.J Bisma Sehat adalah dengan ciri-ciri sebagai berikut :
a. Warna kuning cerah b. Kadar kering antara 8-10 % c. Tebal kering ± 0,8-1 mm d. Diameter ± 1,5 cm e. Aroma sedap khas kunyit
Apabila simplisia kunyit atau bahan lain tidak memenuhi standart mutu seperti yang telah ditentukan oleh P.J Bisma Sehat maka bahan tersebut dikembalikan pada pengepul simplisia dengan pertimbangan tukar dengan simplisia yang baru.
2. Pencucian
Pencucian dilakukan dengan menggunakan bak yang terisi air bersih. Amati air bilasannya dan jika masih terlihat kotor lakukan pembilasan sampai bersih. Setelah pencucian selesai, tiriskan dalam wadah yang belubang-lubang agar sisa air cucian yang tertinggal dapat dipisahkan, setelah itu tempatkan dalam wadah plastik/ember. Pencucian ini dilakukan untuk menghilangkan tanah dan cemaran lainnya yang melekat pada bahan simplisia. Cemaran - cemaran yang ada pada bahan baku bisa berupa cemaran fisik (misal : tanah, kerikil), cemaran kimia (misal: pestisida), dan cemaran biologi (misal: jamur, ulat).
commit to user
3. Perajangan
Pengecilan dilakukan untuk mempermudah proses selanjutnya.
Simplisia kunyit yang dikirim oleh pengepul ukurannya masih beragam atau bermacam-macam ada yang sudah berbentuk kepingan kecil-kecil dan ada yang masih berukuran besar-besar, tetapi juga tegantung dari jenis masing-masing bahan. Proses pengecilan ukuran disini sudah menggunakan mesin perajang dengan tebal 3 - 6 mm. Dalam satu hari bisa mendapatkan hasil rajangan 500 - 700 kg.
4. Pengeringan
Pengeringan dilakukan dengan cahaya matahari,dan apabila cuaca tidak menentu dibantu dengan api. Suhu yang digunakan pengeringan di P.J Bisma Sehat 50 - 60ºC.
Pengeringan adalah proses pengurangan kadar air sampai batas yang terbaik sekitar 8 – 10 %, pada kadar air tersebut, kemungkinan bahan cukup aman terhadap pencemaran, baik yang disebabkan oleh jamur ataupun insektisida. Pada waktu penjemuran, dijaga agar bahan jangan sampai menumpuk. Sedangkan untuk alas penjemuran digunakan anyaman bambu. Tetapi penjemuran langsung dengan matahari seringkali menyebabkan bahan mudah tercemar dan keadaan cuaca yang tidak menentu akan menyebabkan pembusukan.
5. Sortasi Akhir
Sortasi kering pada bahan yang telah dikeringkan dengan cara memisahkan bahan-bahan dari benda-benda asing seperti kerikil, tanah atau kotoran-kotoran lain. Timbang jumlah rimpang hasil penyortiran ini di masukkan dalam wadah untuk proses selanjutnya.
D. Proses Pengolahan Bahan
Adapun tahapan dalam pengolahan simplisia untuk menjadi jamu serbuk, antara lain:
commit to user
1. Peramuan Bahan Baku
Setelah simplisia kunyit dan bahan jamu yang lain sudah melalui proses sortasi dan pengecilan ukuran maka bahan siap untuk di ramu menjadi bahan baku jamu serbuk. Ramuan ini adalah ramuan dasar yang digunakan untuk macam jamu, sesuai dengan jenis dan kegunaannya. Proses ramu yang dilakukan dengan cara bahan-bahan yang diperlukan di tuang ke wadah yang sudah dibersihkan, kemudian semua bahan di campur sampai rata. Setelah itu bahan siap digiling.
2. Penggilingan dan Pengayakan
Pengilingan di P.J Bisma Sehat dilakukan 3 tahap yaitu gilingan kasar, gilingan agak halus, dan gilingan halus. P.J Bisma Sehat dengan menggilingan mengunakan 10 mesin dengan 5 mesin gilingan kasar dan 5 mesin gilingan lembut atau halus. Dalam sebulan gilingan kering sekitar 700 - 900 kg dan menghasilkan 500 - 700 kg, dengan melalui proses gilingan kasar ke agak halus,diayak dan selanjutnya di giling menjadi serbuk halus.
Cara penggilingannya yaitu pertama mesin di hidupkan setelah itu bahan ramuan bahan baku dimasukkan sedikit demi sedikit. Setelah hancur hingga berbentuk serbuk kasar kurang lebih membutuhan waktu 30 menit dengan kapasitas mesin untuk menampung bahan baku 300 kg, maka bahan akan keluar dari mesin dan masuk dalam karung panjang yang berfungsi sebagai penampung hasil gilingan, sehingga bahan tidak bertaburan di sekitar ruangan.
Setelah melalui proses penggilingan pertama bahan dari dalam karung panjang yang masih berupa serbuk kasar dikeluarkan dan di tuang dalam wadah (bak) yang sudah dibersihkan. Bahan serbuk hasil gilingan masih dalam keadaan panas maka perlu di diamkan sebentar, agar lebih dingin untuk menuju proses gilingan selanjutnya.
Setelah serbuk kasar agak dingin maka siap untuk di giling lagi menjadi serbuk yang agak halus. Caranya masih seperti pada proses gilingan yang pertama, mesin dihidupkan kemudian bahan dimasukkan
commit to user
dalam mesin selama 20 menit untuk bahan 300 kg dan setelah itu hasilnya akan keluar menjadi serbuk yang agak halus. Hasil penggilingan yang kedua ini perlu didinginkan dulu sebelum dilakukan proses pengayakan.
Pengayakan dilakuakan dengan tujuan agar serbuk jamu benar- benar halus. Setelah selasai penggilingan yang kedua dingin maka siap untuk menjalankan proses selanjutnya yaitu pengayakan. P.J Bisma Sehat menggunakan 3 mesin ayak dengan tipe mesh 120 yang berukuran 1,25 m x 2,5 m. Cara pengayakan mesin dihidupkan kemudian serbuk dituang pada ayakan sambil diaduk-aduk dengan kayu panjang. Hasil ayakan akan jatuh ke bawah dalam bentuk serbuk halus.
Setelah melalui proses ayakan, masih ada proses penggilingan satu kali lagi tujuannya untuk mendapatkan hasil serbuk jamu yang sangat halus, dalam penggilingan ini membutuhkan waktu 45 menit untuk bahan kunyit 300 kg, sehingga lebih mudah larut saat di konsumsi dengan cara diseduh dengan air hangat. Setelah melewati beberapa proses penggilingan dan pengayakan bahan sudah bisa di sebut sebagai serbuk bahan baku.
3. Penyimpanan Awal
Gudang ini bersifat sementara yaitu berfungsi sebagai tempat penampungan sebelum serbuk bahan baku di ramu menjadi jamu serbuk jadi. Serbuk bahan baku yang sudah mengalami beberapa proses di simpan dalam karung plastik yang diberi kode dan tanggal pembuatan.
Kode ini dibuat untuk membedakan ramuan yang satu dengan yang lain sedangkan tanggal pembuatan di tulis untuk menentukan masa kadaluarsa bahan baku. Penyimpanan dengan karung plastik bertujuan untuk mengantisipasi kemungkinan - kemungkinan yang tidak diinginkan, misalnya kerusakan bahan baku kunyit karena air hujan, perlindungan terhadap gangguan tikus atau serangga serta mengantisipasi kerusakan atau kebocoran karung yang menyebabkan bahan - bahan terjatuh atau tercecer.
commit to user
Penyimpanan dalam gudang di P.J Bisma Sehat menggunakan sistem FIFO (First In Frist Out) yaitu bahan yang pertama masuk maka bahan tersebut yang pertama dikeluarkan. Dengan sistem ini bertujuan untuk menghindari kerusakan bahan yang telah disimpan dalam waktu yang lama dan untuk menjaga kualitas produk. Masa kadaluarsa bahan baku serbuk adalah satu minggu. Untuk masa kadaluwarsa simplisianya 1 tahun, sedangkan untuk masa kadaluwarsa hasil ramuan atau jamu yang sudah jadi yaitu 3 tahun. Untuk bahan baku kunyit yang sudah digiling apabila dalam satu minggu bahan baku kunyit tersebut tidak diramu dan dikemas, maka bahan tersebut tidak bisa digunakan. Bahan yang sudah habis masa kadaluwarsanya harus dibakar, sedangkan untuk simplisia kering apabila dalam satu tahun simplisia belum digiling, maka juga akan di musnahkan atau dibakar. Untuk mencegah keracunan jamu karena simplisia yang terkena jamur atau kotoran lain.
4. Peramuan Bahan Jadi
Ramu jamu jadi merupakan inti dari proses lanjutan dari proses ramu bahan baku. Proses ramu jamu jadi adalah proses menambahkan bahan yang diperlukan setiap macam jamu. Ramu jamu jadi dilakukan oleh Bapak Mulyadi sebagai pemilik perusahaan dan Bapak Gimin yang di angkat sebagai tangan kanan dari Bapak Mulyadi, sehingga tidak sembarangan orang bisa meramu jamu, jadi bahan apa saja yang ditambahkan serta komposisinya dalam jamu tersebuat hanya beliau dan Pak Gimin yang tahu. Caranya, bahan yang di perlukan di tambahkan kemudian diaduk sampai rata. Setelah itu, bahan bisa disebut sebagai jamu serbuk jadi yang siap untuk di kemas.
5. Pemeriksaan laboratorium
Jamu Bisma Sehat sebelum berlanjut pada proses berikutnya, pengemasan diambil sampelnya terlebih dahulu untuk diperiksa di laboratorium. Di PJ. Bisma Sehat pemeriksaaan dilakukan setiap 3 bulan sekali. Petugas dari Dinas Kesehatan datang dan mengambil sampel produk, kemudian di bawa ke laboratorium untuk diperiksa.
commit to user
Setelah 3 hari pemeriksaan laboratorium akan dikirim kembali ke PJ.
Bisma Sehat. Pemeriksaan laboratorium yang dilakukan antara lain meliputi homogenitas campuran, kadar air, derajat halus, khasiat, dan kandungan logam beratnya. Selain itu juga memeriksa angka kuman, kandungan bakteri, jamu dan efek sampingnya.
6. Pengemasan
Pengemasan perlu dilakuakn dengan tujuan agar bahan tersimpan secara baik serta terjaga kualitasnya. Dalam pengemasan ada 4 tahapan yaitu kemas dalam, kemasan luar, pres dan packing.
Kemasan di P.J Bisma Sehat ada 2 macam antara lain kemasan kertas, dan kemasan plastik. Cara untuk kemasan kertas dalam yaitu serbuk jamu yang sudah jadi di tuang dalam mesin pengisi yang sudah di atur takaran untuk setiap kemasan adalah 7 gram. Kemasan dengan sendirinya sudah terisi jamu, selanjutnya dilakukan kemasan luar yang terbuat dari kertas juga yang di beri cap P.J Bisma Sehat serta nama, manfaat, komposisi, dan cara membuatannya. Cara pengemasannya yaitu jamu yang sudah di kemas dalam kertas di masukkan dalam kemasan kertas kemudian di lem dan siap menuju proses packing.
Untuk cara kemasan plastik ada 2 macam, yang kemasan plastik pertama serbuk yang sudah jadi di tuang dalam mesin pengisi yang sudah di atur takaran untuk setiap kemasan adalah 7 gram. Kemasan dengan sendirinya sudah terisi jamu dan siap menuju proses packing.
Dan kemasan plastik yang kedua di isi dengan cara manual dengan menggunakan sendok makan dengan takaran untuk setiap kemasan 250 gram, 500 gram dan 1000 gram. Proses kemasan ini menggunakan mesin pres. Cara pengepresannya adalah alat pres di hidupkan kemudian ujung dari plastik kemasan di jepitkan dalam mesin pres.
Fungsi pengepresan adalah agar kemasan plastik tertutup rapat sehingga bahan tidak tumpah. Setelah itu menuju proses packing.
Packing merupakan kegiatan paling akhir dari pengemasan.
Urutan kegiatannya adalah 10 sampel jamu dimasukkan dalam kantong
commit to user
plastik kecil yang di sablon P.J Bisma Sehat kemudian dari 40 plastik tadi di masukkan dalam 1 plastik besar dan ditambahkan etiket di dalamnya.
Setelah proses pecking selesai jamu serbuk siap di pasarkan tetapi tidak semua langsung dipasarkan ada sebagian digunakan sebagai cadangan atau stok. Cadangan ini simpan dalam rak – rak yang diletakkan dalam ruangan tersendiri untuk menunggu pemasaran selanjutnya. Daerah pemasaran jamu P.J Bisma Sehat yaitu wilayah kabupaten Wonogiri, Karanganyar, Sukoharjo, dan provinsi Jawa Barat, Jawa Timur, Sulawesi, Kalimantan, Gorontalo, Nusa Tenggara Timur.
7. Penyimpanan Akhir
Produk P.J Bisma Sehat yang telah dikemas kemudian disimpan pada ruang terpisah yang tergantung dari jenis bahan yang disimpan.
Pada saat penyimpanan ruang yang digunakan harus ruangan yang bersih dan terbebas dari serangga, binatang pengerat, cukup penerangan, terjamin peredaran udaranya dan suhu harus sesuai sebelum dilakukan pemasaran.
commit to user
31
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
Dari pelaksanaan kegiatan magang di P.J Bisma Sehat Nguter maka penulis dapat menarik kesimpulan antar lain:
1. P.J Bisma Sehat adalah salah satu unit usaha yang bergerak dalam bidang jamu tradisional.
2. P.J Bisma Sehat dalam pendirian perusahaan ini bermaksud untuk :
“Mengembangkan usaha dari pengalaman yang di dukung dengan mengadakan kerja sama dengan beberapa perusahaan jamu tradisional di sekitar Nguter dan membantu masyarakat dalam bidang kesehatan dengan menyediakan sarana pengobatan yang efek sampingnya rendah serta harganya terjangkau”.
3. Tujuan berdirinya P.J Bisma Sehat adalah :
a. Mendapatkan keuntungan dan menambah penghasilan.
b. Memenuhi permintaan jamu tradisional dari penjual jamu gendong.
c. Membuka lapangan pekerjaan dan mengurangi pengangguran.
4. P.J Bisma Sehat merupakan salah satu industri pembuatan jamu yang cukup berkembang di Nguter, Sukoharjo dengan memproduksi kurang lebih 50 macam jamu.
5. Ciri-ciri simplisia untuk jamu serbuk antara lain : Warna kuning cerah, kadar kering antara 90-95 %, tebal kerina ± 3 cm, diameter ± 7 cm, aroma sedap khas kunyit.
6. Persiapan pengolahan bahan jamu di P.J Bisma Sehat masih dibagi menjadi beberapa tahapan, antara lain: sortasi awal, pencucian, perajang, pengeringan, dan sortasi akhir.
commit to user
32
7. Proses pengolahan bahan jamu antara lain : meramu bahan baku, menggilingan, pengayakan, penyimpanan, meramu bahan jadi, dan mengemasan.
B. Saran
Adapun saran yang dapat penulis berikan kepada P.J Bisma Sehat antara lain :
1. Meningkatkan hasil produk, dengan menjaga mutu dan kualitas jamu.
2. Kebutuhan yang besar dan kelangkaan bahan dapat menjadi perangsang petani tanaman obat untuk mengembangkan budidayanya.
3. Untuk meningkatkan kapasitas produksi, sebaiknya menggunakan semua media yang saat ini berkembang seperti media cetak (majalah, surat kabar), media elektronik (radio, tv, internet) ataupun media – media lain yang mendukung.
4. Untuk meningkatkan mutu, PJ Bisma Sehat dapat meningkatkan obat herbal berstandar.
5. Mengingat semakin banyaknya jenis produk jamu dipasaran,sebaiknya produk jamu di PJ Bisma Sehat lebih diperbanyak lagi