BAB I PENDAHULUAN
B. PERUMUSAN MASALAH
2. Tujuan Khusus Magang
B. Perumusan Masalah
Untuk menghasilkan produk jamu yang berkualitas, cara pengolahan sangat berpengaruh. Pertama kali yang perlu diperhatikan adalah apakah bahan segar yang akan digunakan telah memenuhi standar atau belum. Selanjutnya bagaiman proses pengolahan bahan bakul jamu dilakukan sehingga menjadi jamu serbuk yang siap di komsumsi.
Cara pengolahan yang tidak benar dapat mengakibatkan kualitas produk jamu kurang sempurna, baik dari kebersihan, aroma, warna, kemasan maupun khasiatnya. Sedangkan apabila cara pengolahan jamu sudah benar, dapat memperbaiki atau bahkan meningkatkan produk yang dihasilkan, kebersihan lebih terjamin, aroma warna, dan kemasan yang menarik sehingga akan lebih berkhasiat.
Disini penulis hanya mengambil satu permasalahan tentang bagaimana proses pengolahan kunyit sebagai bahan baku jamu serbuk.
C. Tujuan Magang 1. Tujuan Umum
a. Mahasiswa dapat melihat dan memahami secara langsung proses pengolahan kunyit menjadi jamu serbuk
b. Mahasiswa memperoleh pengalaman kerja secara langsung sehingga dapat membandingkan antara teori dengan realisasinya di lapangan serta berkaitan dengan ilmu yang lain.
c. Menjalin hubungan kerjasama antara perguruan tinggi dengan dunia industri atau perusahaan.
d. Memenuhi salah satu persyaratan dalam mencapai gelar Ahli Madya Agrofarmaka di Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret Surakarta.
2. Tujuan Khusus
a. Mengetahui ciri simplisia kunyit yang berkualitas baik
commit to user
b. Mengerti dan memahami proses pengolahan kunyit dari pengolahan bakal jamu sampai menjadi jamu serbuk dan kendala-kendalanya.
c. Mempelajari kondisi umum perusahaan meliputi sejarah perusahaan,lokasi dan struktur organisasi.
commit to user
BAB IITINJAUAN PUSTAKA
A. Mengenal Tanaman Kunyit
Berdasarkan penggolongan dan tata nama tumbuhan, tanaman kunyit termasuk ke dalam klasifikasi sebagai berikut :
• Divisio : Spermatophyta
• Sub-diviso : Angiospermae
• Kelas : Monocotyledoneae
• Ordo : Zingiberales
• Famili : Zungiberaceae
• Genus : Curcuma
• Species : Curcuma domestica Val
Famili Zingiberaceae yang tumbuh di dunia diperkirakan terdapat 47 genera dan 1400 spesies, bagi yang tumbuh di daerah tropika maupun sub tropika. Paling sedikit terdapat 8 jenis temu-temuan yang banyak digunakan sebagai bahan obat-obatan di Indonesia. Termasuk didalamnya temu ireng (Curcuma aerugionosa ROXB.), temulawak (C. Xanthorrhiza ROBX.), temu putih, bengle (Zingiber purpureum ROXB), lempuyang gajah(Z. zerumbet), temu kunci (Boesenbergia pandurata), jahe dan tanaman kunyit (Curcuma domestica Val.) (Kartasapoetra, 1992).
Di berbagai daerah kunyit mempunyai nama yang beragam.
Misalnya kunyir, koneng atau koneng temen(Sunda), kunyit (Aceh), kuning (Gayo), kuning, unik (Batak), kunyit (Melayu), cahang (Dayak), kunyit (Lampung), kunyit, janar (Banjar), kunir, kunir betis, temu kuning (Jawa), konye, temo koneng (Madura), kunyik (Sasak), huni (Bima), alawahu (Gorontalo), uni, kuni (Toraja), kunyi (Makasar), unyi (Bugis), kumino, unine, uninum (Ambon), rame, kandeifu, nikwai, mingguai, jaw (Irian).
commit to user
Kunyit merupakan tanaman obat berupa semak dan bersifat tahunan (perenial) yang tersebar di seluruh daerah tropis. Tanaman kunyit tumbuh subur dan liar disekitar hutan/bekas kebun. Diperkirakan berasal dari Binar pada ketinggian 1300-1600 m dpl, ada juga yang mengatakan bahwa kunyit berasal dari India. Kata Curcuma berasal dari bahasa Arab Kurkum dan Yunani Karkom. Pada tahun 77-78 SM, Dioscorides menyebut tanaman ini sebagai Cyperus menyerupai jahe, tetapi pahit, kelat, dan sedikit pedas, tetapi tidak beracun. Tanaman ini banyak dibudidayakan di Asia Selatan khususnya di India, Cina Selatan, Taiwan, Indonesia (Jawa), dan Filipina.
Susunan tumbuhan tanaman kunyit terdiri atas akar, rimpang, batang semu, pelepah daun, daun, tangkai bunga dan kuntum bunga.
Sistem perakaran tanaman kunyit termasuk akar serabut berbentuk benang (fibrosus) yang menempel pada rimpang. Kedalaman rimpang dalam tanah sekitar 16 cm panjang akar kurang lebih 22,50 cm tebal rimpang muda 1,61 cm dan rimpang tua 4 cm. Tiap rumpun tanaman kunyit dapat tumbuh rimpang 7-10 buah, dan anakan antara 11-15 tanaman (Rukmana, 1991).
Rimpang kunyit bercabang-cabang, dan secara keseluruhan membentuk rumpun. Bentuk rimpang sangat bervariasi, umumnya bulat panjang dan kulit rimpang mudah berwarna kuning/muda serta daging kuning. Rimpang tua kulitnya berwarna jingga kecoklatan dan dagingnya jingga terang agak kuning. Rasa rimpang enak dan berbau khas aromatik sedikit agak pahit serta pedas. Rimpang-rimpang kunyit tumbuh dari umbi utama. Umbi utama bentuknya bervariasi antara bulat panjang, pendek dan tebal, lurus atau pun melengkung. Batang tanaman kunyit relatif pendek membentuk batang semu dari pelepah-pelepah daun yang menutup satu sama lain (Hernani, 2002).
Daun tumbuh berjumbai dengan ukuran panjang sekitar 35 cm, lebar 14 cm, berwarna hijau, dan tiap tanaman terdiri atas 9-10 helai daun.
Bunga keluar dari ujung batang semu dengan panjang karangan bunga 10-15 cm serta berwarna merah. Kuntum bunga tumbuh putih-bergaris hijau
commit to user
dan diujungnya merah jambu, sedangkan yang terletak dibagian bawah berwarna hijau muda (Rukmana, 1991).
Secara keseluruhan tanaman kunyit tumbuh berbentuk terna yang dapat mencapai ketinggian 1 meter, merumpun selebar lebih kurang 24 cm.
Iklim dan ketinggian tempat tanaman kunyit dapat tumbuh didaerah tropika maupun subtropika. Di Indonesia dapat tumbuh sepanjang tahun di daerah-daerah dataran rendah sampai dataran tinggi±2000 m dpl.
Meskipun daya adaptasi tanaman kunyit cukup luas, tetapi kisaran pertumbuhan dan produksi yang optimum adalah pada kondisi iklim suhu udara 19º-30ºC, curah hujan antara 1500-4000 mm pertahun, dan masih dapat tumbuh baik ditempat yang sedikit ternaung (Cheppy, 2002)
B. Cara Pembuatan Obat Tradisional yang Baik (CPOTB)
Obat tradisional merupakan produk yang dibuat dari bahan alam yang jenis dan sifat kandungannya sangat beragam sehingga untuk menjamin mutu obat tradisional diperlukan cara pembuatan yang baik dengan lebih memperhatikan proses produksi dan penanganan bahan baku.
Cara Pembuatan Obat Tradisional yang Baik (CPOTB) meliputi seluruh aspek yang menyangkut pembuatan obat tradisional yang bertujuan untuk menjamin agar produk yang dihasilkan senantiasa memenuhi persyaratan mutu yang telah ditentukan sesuai dengan tujuan penggunaannya. Mutu produk tergantung dari bahan awal, proses produksi dan pengawasan mutu, bangunan, peralatan dan personalia yang menangani (Tondok,1999).
Penerapan CPOTB merupakan persyaratan kelayakan dasar untuk menerapkan sistem jaminan mutu yang diakui dunia internasional. Untuk itu sistem mutu hendaklah dibangun, dimantapkan dan diterapkan sehingga kebijakan yang ditetapkan dan tujuan yang diinginkan dapat dicapai. Dengan demikian penerapan CPOTB merupakan nilai tambah bagi produk obat tradisional Indonesia agar dapat bersaing dengan produk
commit to user
sejenis dari negara lain baik di pasar dalam negeri maupun internasional (Anonim, 2009).
Obat tradisional bukan hal yang baru bagi masyarakat Indonesia.
Sebelum obat-obat kimia berkembang secara modern, nenek moyang kita umumnya menggunakan obat-obatan yang berasal dari tumbuh-tumbuhan untuk mengatasi problem kesehatannya.
Dari tumbuhan obat tersebut dapat dibuat berbagai produk yang sangat bermanfaat dalam menunjang industri obat tradisional, farmasi, makanan dan minuman. Ragam bentuk hasil olahannya, antara lain berupa simplisia.
Simplisia adalah bahan baku alamiah yang digunakan untuk membuat ramuan obat tradisional yang belum mengalami pengolahan pengeringan. Proses pembuatan simplisia pada prinsipnya meliputi tahap- tahap pencucian, pengecilan ukuran dan pengeringan.
Mengingat pentingnya penerapan CPOTB maka pemerintah secara terus menerus memfasilitasi industri obat tradisional baik skala besar maupun kecil untuk dapat menerapkan CPOTB melalui langkah-langkah dan pentahapan yang terprogram. Dengan adanya perkembangan jenis produk obat bahan alam tidak hanya dalam bentuk Obat Tradisional (Jamu), tetapi juga dalam bentuk Obat Herbal Terstandar dan Fitofarmaka, maka Pedoman Cara Pembuatan Obat Tradisional yang Baik ini dapat pula diberlakukan bagi industri yang memproduksi Obat Herbal Terstandar dan Fitofarmaka (Fauziah, 1996).
Jamu adalah sebutan untuk obat tradisional dari Indonesia.
Belakangan populer dengan sebutan herba atau herbal. Jamu dibuat dari bahan-bahan alami, berupa bagian dari tumbuhan seperti rimpang (akar-akaran), daun-daunan dan kulit batang, buah. Ada juga menggunakan bahan dari tubuh hewan, seperti empedu kambing atau tangkur buaya.
Jamu biasanya terasa pahit sehingga perlu ditambah madu sebagai pemanis agar rasanya lebih dapat ditoleransi peminumnya. Di berbagai kota besar terdapat profesi penjual jamu gendong yang berkeliling
commit to user
menjajakan jamu sebagai minuman yang sehat dan menyegarkan. Selain itu jamu juga diproduksi di pabrik-pabrik jamu oleh perusahaan besar seperti Jamu Air Mancur, Nyonya Meneer atau Djamu Djago, dan dijual di berbagai toko obat dalam kemasan sachet. Jamu seperti ini harus dilarutkan dalam air panas terlebih dahulu sebelum diminum. Pada perkembangan selanjutnya jamu juga dijual dalam bentuk tablet, kaplet dan kapsul (Anonim, 2011).
C. Proses Pengolahan Bahan Baku
Adapun proses untuk dijadikan bakal jamu antara lain:
a. Pencucian
Pencucian bertujuan untuk memperoleh simplisia yang bersih dan bebas kotoran yang mungkin terikut saat pemanenan dan pengangkutan. Perlakuan ini akan menurunkan jumlah microba patogen yang menyebabkan pembusukan dan membuat penampakan fisik simplisia lebih menarik.
Pencucian yang benar dilakukan dengan air mengalir sehingga kotoran yang terlepas tidak menempel kembali. Pencucian simplisia dalam jumlah besar dapat dilakukan dalam bak bertingkat yang menerapkan konsep mengalir (Kartasapoetra, 1989).
b. Sortasi
Cara dan tehnik sortasi memerlukan ketelitian dan kecermatan.
Dalam sekala besar sortasi membutuhkan biaya yang besar karena membutuhkan tenaga kerja cukup banyak. Fungsi sortasi adalah untuk memperoleh simplisia seperti yang dikehendaki baik kemurnian dan kebersihannya. Selain itu berperan untuk memilah bahan berdasarkan ukuran panjang, lebar besar atau kecil sehingga diperoleh ukuran yang seragam.
Sortasi dibedakan menjadi dua, yaitu sortasi basah dan sortasi kering. Sortasi basah diterapkan pada simplisia daun rimpang kulit batang dan sebagainya. Kegiatan sortasi basah pada bahan simplisia
commit to user
berukuran kecil dilakukan dengan menggunakan nyiru, untuk memisahkan kotoran-kotoran ringan tersebut, penampi digerakkan keatas, kebawah sambil dilakukan peniupan, serta gerakan berputar.
Sedangkan sortasi kering lebih mudah dilakukan. Keberadaan kotoran-kotoran asing seperti debu, krikil, tanah, rambut, serta bahan lain yang mencemari bahan pada saat pengeringan harus segera di hilangkan karena dapat berpengaruh pada kualitas simplisia (Kartasapoetra, 1989).
Teknik sortasi kering dan basah memiliki kesamaan yaitu memisahkan atau membuang semua bahan asing atau kotoran yang mencemari simplisia yang berkualitas dapat menurunkan mutu. Dengan sortasi diharapkan dapat memperoleh keseragaman mutu dan ukuran simplisia.
c. Pengubahan bentuk
Pengubahan bentuk produk tanaman obat menjadi bentuk-bentuk lain seperti irisan, potongan, dan serutan bertujuan memudahkan kegiatan pengeringan, pengepakan serta pengolahan selanjutnya menjadi bahan baku obat.
Pada umumnya semakin tipis bahan yang dikeringkan akan semakin cepat proses penguapan air berlangsung sehingga dapat mempercepat pengeringan. Namun irisan, yang terlalu tipis juga tidak baik karena senyawa aktif yang terkandung akan mudah menguap dan simplisia juga akan lebih mudah rusak saat di kemas .
d. Pengeringan
Produk tanaman obat sebagai bahan baku industri obat dan kosmetik tradisional biasanya dikonsumsi dalam bentuk kering, sedangkan produk segar digunakan terbatas untuk memenuhi kebutuhan industri minyak atsiri dan dikonsumsi langsung oleh masyarakat.
Pengeringan juga berfungsi sebagai mencegah terjadinya pencemaran serta kontaminasi oleh jamur atau patogen yang dapat menurunkan kualitas atau mengakibatkan keracunan pada saat bahan di konsumsi.
Pengeringan pada dasarnya merupakan upaya untuk menurunkan kadar
commit to user
air bahan sampai pada tingkat yang diinginkan atau kadar air bahan sampai pada tingkat yang diinginkan atau kadar air seimbang dengan atmosfer normal. Pada keadaan ini penurunan mutu bahan oleh kapang, aktivitas enzim, dan serangga dapat diabaikan (Kartasapoetra, 1989).
Kadar air bahan merupakan jumlah air yang yang terikat secara fisik dalam bahan sehingga bahan dapat dinyatakan sebagai suatu material basah atau kering. Jumlah kandungan air pada suatu bahan hasil pertanian akan mempengaruhi daya tahan bahan terhadap serangan mikroba. Dengan demikian, penghilangan kadar air hingga jumlah tertentu berguna untuk memperpanjang daya tahan bahan selama penyimpanan. Cara mengurangi kadar air bahan dapat dilakukan dengan menggunakan metode pengeringan pada suhu tertentu sehingga bahan mencapai berat tetap. Kehilangan berat akibat pengeringan selanjutnya dianggap sebagai kadar bahan asal.
Dalam pengeringan, keseimbangan kadar air menentukan batas akhir dari proses pengeringan. Kelembapan udara serta suhu udara pada simplisia kering biasanya mempengaruhi keseimbangan kadar air. Pada saat kadar air seimbang, penguapan air pada simplisia akan terhenti dan jumlah molekul-molekul air yang akan diuapkan sama dengan jumlah molekul air yang di serap oleh permukaan bahan. Laju pengeringan amat tergantung pada perbedaan antara kadar air simplisia dengan kadar air keseimbangan.
Secara garis besar pengeringan produk tanaman obat dapat dilakukan dengan dua cara:
1. Pengeringan secara alami (natural drying)
Pengeringan secara alami pada dasarnya melibatkan unsur-unsur iklim :
• Pengeringan dengan cahaya matahari (sun drying)
Pengeringan ini memanfaatkan energi panas dari cahaya matahari langsung dan merupakan cara pengeringan yang paling sederhana dan paling umum dan paling umun
commit to user
dilakukan oleh petani atau pengepul simplisia. Cara ini amat praktis serta tidak memerlukan biaya yang besar.
• Pengeringan menggunakan alat berenergi matahari
Pengeringan dengan alat yang memanfaatkan tenaga matahari saat ini juga telah banyak dilakukan. Selain itu memanfaatkan matahari, alat ini juga memanfaatkan suhu, kelembaban udara sekitar, serta sirkulasi udara untuk menunjang proses pengeringan. Besar energi yang dikonversikan dan tingkat suhu yang dicapai merupakan parameter utama yang menentukan efektivitas alat pengering ini.
• Pengeringan bertenaga angin (ventilation drying)
Pengeringan dengan metode ini umumnya dilakukan di dalam ruangan yang memungkinkan terjadinya pergantian udara yang berlangsung secara cepat. Pengeringan cara ini amat sesuai untuk mengeringkan bahan yang mengandung minyak atsiri atau yang ingin dipertahankan warna bahannya terutaman pada produk tanaman obat berupa bunga dan buah-buahan.
Pengeringan dengan teknik ventilation drying dilakaun dengan meletakkan bahan yang akan dikeringakan dengan cara dihambarkan atau digantung pada rak-rak yang ada di dalam alat pengering.
2. Pengeringan buatan (artificial drying)
Berbeda dengan pengeringan alami, pengering buatan tidak tergantung dengan iklim, cuaca dan penyinaran cahaya matahari. Di mana dan kapanpun alat pengering ini dapat berfungsi sesuai dengan kebutuhan dan keinginan.
Alat pengering buatan ini biasanya telah dimodifikasi dan diaplikasi dengan teknologi terapan. Beberapa perusahan jamu, produsen simplisia serta obat tradisional telah banyak memanfaatkan
commit to user
peralatan ini. Pengeringan buatan ini dapat menggunakan berbagai tenaga, seperti energi panas, listrik dan api.
Pengeringan buatan beserta teknologi yang digunakan dalam kegiatan pengeringan ini memiliki kelebihan sebagai berikut :
• Pengeringan tidak tergantung pada keadaan cuaca.
• Kecepatan, ketepatan dan kualitas bahan yang dikeringkan sesuai dengan yang diharapkan.
• Kerusakan bahan dapat ditekan seminimal mungkin.
• Bahan terhindar dari kontaminasi dengan bahan asing.
• Suhu pengeringan dapat diatur sesuai kebutuhan yang diharapkan serta sesuai dengan jenis bahan yang dikeringkan.
(Kartasapoetra, 1989).
e. Pengemasan
Pengemasan hasil tanaman obat yang masih segar ataupun kering telah lama dilakukan. Tujuan utama dari kegiatan pengemasan atau pengepakan adalah sebagai berikut :
1. Mengumpulkan suatu hasil produk tanaman suatu unit sesuai pemanfaatannya.
2. Menyimpan bahan secara aman agar terhindari dari pencemaran atau kotoran.
3. Melindungi hasil produk tanaman selama dalam perjalanan, saat pemasaran maupun penyimpanan.
4. Mempermudah pengangkutan atau pemindahan simplisia dari satu tempat ke tempat lain.
Pengemasan simplisia tergantung pada jenis dan tujuan pengemasannya. Bahan dan kemasan harus sesuai sehingga bahan terhindar dari kerusakan dan sesuai dengan segi pemanfaatannya baik untuk keperluan pengangkutan atau tujuan penyimpanan (Suyitno,1990).
commit to user
Syarat bahan pengemas yang baik adalah sebagai berikut:
1. Mampu melindungi simplisia dari kerusakan mekanis.
2. Tidak mengandung zat kimia yang menyebabkan perubahan isi, rasa, bau, dan kadar air simplisia.
3. Sesuai dengan kebutuhan konsumen, misalnya tidak terlalu berat, praktis, ukuran, dan bentuk menarik.
4. Mampu menyegah penambahan air atau menghindari kelembapan yang pada akhirnya menyebabkan peningkatan kadar air simplisia.
5. Mampu menahan pengaruh cahaya.
6. Memiliki daya pelindung yang dapat diandalkan dan murah.
Bahan pengemas harus bersifat netral atau tidak menimbulkan reaksi dengan simplisia (inert) sehingga tidak menyebabkan terjadinya penyimpangan atau perubahan warna, rasa, dan bau simplisia serta tidak bersifat racun (toksis).
f. Penyimpanan
Dalam dunia pertanian, penyimpanan merupakan bagian dari proses produksi sebelum hasil tersebut digunakan oleh konsumen.
Untuk itu, dalam pembangunan gudang penyimpanan simplisia perlu diperhatikan hal-hal berikut:
1. Tempat penyimpanan atau gudang harus mempunyai ventilasi udara yang cukup baik.
2. Bebas dari kebocoran.
3. Terpisah dari tempat penyimpanan bahan atau alat-alat lain yang tidak sejenis.
4. Berpenerangan cukup serta dapat mencegah masuknya sinar matahari yang berlebihan.
5. Bersih dan bebas dari sampah dan limbah yang memungkinkan menjadi sarang penyakit.
commit to user
Penyimpanan simplisia dalam gudang harus diatur sedemikian rupa sehingga tidak menyulitkan pemasukan dan pengeluaran bahan yang disimpan. Untuk jenis simplisia yang sama harus diberlakukan prinsip “pertama masuk pertama keluar” atau FIFO (first in first out).
Untuk itu, perlu dilakukan pencatatan tanggal penyimpanan terhadap simplisia. Sedapat mungkin jangan terlalu lama menyimpan simplisia di gudang. Juga harus diperhitungkan jumlah persediaan dan total kebutuhan setiap jenis simplisia agar tidak terjadi kerusakan.
Dalam jangka waktu tertentu perlu diperlakukan pemeriksaan gudang secara rutin, meliputi pengecekan dan pengujian mutu seluruh simplisia yang ada didalam gudang. Dengan cara tersebut dapat diketahui lebih dini simplisia yang masih bermutu dan yang tidak bermutu lagi. Kerusakan akibat penyimpanan dapat berupa kehancuran, berubah warna, rasa dan bau. Simplisia demikian harus segera dikeluarkan untuk selanjutnya dimusnahkan atau dibuang (Yuli, 1992).
D. Manfaat Kunyit
Di daerah Jawa, kunyit banyak digunakan sebagai ramuan jamu karena berkhasiat menyejukkan, membersihkan, mengeringkan, menghilangkan gatal, dan menyembuhkan kesemutan. Manfaat utama tanaman kunyit, yaitu: sebagai bahan obat tradisional, bahan baku industri jamu dan kosmetik, bahan bumbu masak, peternakan dll. Disamping itu rimpang tanaman kunyit itu juga bermanfaat sebagai anti inflamasi, anti oksidan, anti mikroba, pencegah kanker, anti tumor, dan menurunkan kadar lemak darah dan kolesterol, serta sebagai pembersih darah (Mooryati, 1998).
commit to user
BAB IIIMETODOLOGI
A. Dasar Penentuan Lokasi
Penulis memilih P.J Bisma Sehat sebagai tempat magang karena : 1. Berhubungan langsung dengan hasil pertanian sehingga cocok sekali
dengan jurusan Agribisnis minat Agrofarmaka untuk tempat magang.
2. Salah satu perusahaan jamu yang cukup prospektif di Nguter Sukoharjo yang sudah mempunyai ijin dari Badan Pengawasan Obat dan Makanan Rebuplik Indonesia.
B. Jenis dan Sumber Data.
Sumber data yang di peroleh dari data primer dan data sekunder 1. Data Primer
Data yang diperoleh dengan pengamatan langsung pada saat terlibat selama kegiatan pengolahan.
2. Data Sekunder
Data sekunder di peroleh dari kepustakaan yang ada di beberapa perpustakaan universitas.
C. Teknik Pengumpulan Data.
1. Pengamatan dan Bekerja
Di lakukan dengan cara mengamati pada saat terlibat secara langsung pada proses pengolahan jamu di P.J Bisma Sehat
2. Interview
Interview yaitu dengan melakukan tanya jawab dengan pembimbing lapangan serta tenaga kerja P.J Bisma Sehat mengenai hal-hal yang bersangkutan dengan proses pengolahan jamu.
commit to user
3. Studi KepustakaanStudi kepustakaan di lakukan dengan cara mencari data yang ada dalam buku-buku di perpustakaan universitas.
D. Tempat dan Waktu.
Magang ini di laksanakan di P.J Bisma Sehat yang terletak di Nguter RT 02/VII Sukoharjo. Waktu pelaksanaan magang selama 2 minggu sejak tanggal 16 Februari 2011 dan berakhir sampai dengan 3 Maret 2011.
E. Bahan dan Alat
Bahan dan alat yang digunakan antara satu dengan yang lain tidak sama, tergantung pada perlakuan masing-masing.
1. Bahan
Bahan yang digunakan adalah semua tanaman apotek hidup, khususnya kunyit.
2. Alat
Alat yang digunakan antara lain :
• Tampah / ayakan untuk menyeleksi.
• Karung plastik untuk menampung hasil.
• Bak
• Ember
• Mesin penghalus
• Mesin pres
• Mesin packing
• Rak-rak untuk menyimpan produk
commit to user
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Keadaan Umum Perusahaan 1. Sejarah Perusahaan
P.J Bisma Sehat adalah salah satu unit usaha yang bergerak dalam bidang jamu tradisional. Usaha yang masih bersifat industri rumah tangga ini semula di rintis oleh Bapak Mulyadi pada tanggal 13 Desember 1993 yang berlokasi di Nguter RT 02/VII Sukoharjo.
Awalnya Bapak Mulyadi adalah seorang pemilik toko kelontong, salah satu produk yang di jual adalah jamu tradisional yang diambil atau di setori oleh para pengrajin jamu disekitar Nguter Sukoharjo. Karena banyaknya permintaan jamu tradisional pada waktu itu maka beliau berfikir untuk mencoba membuat usaha sendiri tentang pembuatan jamu tradisional dan beliau mendalami usaha pengolahan jamu serbuk dengan cara mencoba racikan jamu sendiri tanpa mengikuti pelatihan-pelatihan, hanya dengan membaca buku-buku dan belajar dari saudaranya.
Untuk mendukung dan memperlancar usaha tersebut bapak Mulyadi bekerja sama dengan para petani simplisia disekitar Sukoharjo, Boyolali dan Wonogiri sebagai penyedia bahan baku jamu dengan berjalannya waktu penyedia bahan baku sekarang sudah sampai di kota-kota lainnya antara lain Solo, Pacitan dan Ambarawa dan para pedagang jamu yang merantau ke luar daerah agar bisa membantu dalam hal pemasaran jamu tradisional tersebut.
Pada mulanya kegiatan peracikan dan pengolahan jamu tradisional tersebut dilakukan oleh Bapak Mulyadi sendiri serta di bantu oleh istrinya dan dua orang pekerja yang membantunya. Modal untuk peracikan dan pengolahan tersebut didapat dari pinjaman bank.
commit to user
Pertama kali produksi jamu tradisional sebanyak 50-100 kg setiap harinya dengan menggunakan mesin penggiling sebanyak 2 buah, dan mesin ayak 1 buah. Karena dengan ketekunan dan keuletan Bapak Mulyadi serta dukungan istri serta keluarga besarnya akhirnya
Pertama kali produksi jamu tradisional sebanyak 50-100 kg setiap harinya dengan menggunakan mesin penggiling sebanyak 2 buah, dan mesin ayak 1 buah. Karena dengan ketekunan dan keuletan Bapak Mulyadi serta dukungan istri serta keluarga besarnya akhirnya