BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
C. PERSIAPAN PENGOLAHAN BAHAN
1. Peramuan Bahan Baku
1. Peramuan Bahan Baku
Setelah simplisia kunyit dan bahan jamu yang lain sudah melalui proses sortasi dan pengecilan ukuran maka bahan siap untuk di ramu menjadi bahan baku jamu serbuk. Ramuan ini adalah ramuan dasar yang digunakan untuk macam jamu, sesuai dengan jenis dan kegunaannya. Proses ramu yang dilakukan dengan cara bahan-bahan yang diperlukan di tuang ke wadah yang sudah dibersihkan, kemudian semua bahan di campur sampai rata. Setelah itu bahan siap digiling.
2. Penggilingan dan Pengayakan
Pengilingan di P.J Bisma Sehat dilakukan 3 tahap yaitu gilingan kasar, gilingan agak halus, dan gilingan halus. P.J Bisma Sehat dengan menggilingan mengunakan 10 mesin dengan 5 mesin gilingan kasar dan 5 mesin gilingan lembut atau halus. Dalam sebulan gilingan kering sekitar 700 - 900 kg dan menghasilkan 500 - 700 kg, dengan melalui proses gilingan kasar ke agak halus,diayak dan selanjutnya di giling menjadi serbuk halus.
Cara penggilingannya yaitu pertama mesin di hidupkan setelah itu bahan ramuan bahan baku dimasukkan sedikit demi sedikit. Setelah hancur hingga berbentuk serbuk kasar kurang lebih membutuhan waktu 30 menit dengan kapasitas mesin untuk menampung bahan baku 300 kg, maka bahan akan keluar dari mesin dan masuk dalam karung panjang yang berfungsi sebagai penampung hasil gilingan, sehingga bahan tidak bertaburan di sekitar ruangan.
Setelah melalui proses penggilingan pertama bahan dari dalam karung panjang yang masih berupa serbuk kasar dikeluarkan dan di tuang dalam wadah (bak) yang sudah dibersihkan. Bahan serbuk hasil gilingan masih dalam keadaan panas maka perlu di diamkan sebentar, agar lebih dingin untuk menuju proses gilingan selanjutnya.
Setelah serbuk kasar agak dingin maka siap untuk di giling lagi menjadi serbuk yang agak halus. Caranya masih seperti pada proses gilingan yang pertama, mesin dihidupkan kemudian bahan dimasukkan
commit to user
dalam mesin selama 20 menit untuk bahan 300 kg dan setelah itu hasilnya akan keluar menjadi serbuk yang agak halus. Hasil penggilingan yang kedua ini perlu didinginkan dulu sebelum dilakukan proses pengayakan.
Pengayakan dilakuakan dengan tujuan agar serbuk jamu benar-benar halus. Setelah selasai penggilingan yang kedua dingin maka siap untuk menjalankan proses selanjutnya yaitu pengayakan. P.J Bisma Sehat menggunakan 3 mesin ayak dengan tipe mesh 120 yang berukuran 1,25 m x 2,5 m. Cara pengayakan mesin dihidupkan kemudian serbuk dituang pada ayakan sambil diaduk-aduk dengan kayu panjang. Hasil ayakan akan jatuh ke bawah dalam bentuk serbuk halus.
Setelah melalui proses ayakan, masih ada proses penggilingan satu kali lagi tujuannya untuk mendapatkan hasil serbuk jamu yang sangat halus, dalam penggilingan ini membutuhkan waktu 45 menit untuk bahan kunyit 300 kg, sehingga lebih mudah larut saat di konsumsi dengan cara diseduh dengan air hangat. Setelah melewati beberapa proses penggilingan dan pengayakan bahan sudah bisa di sebut sebagai serbuk bahan baku.
3. Penyimpanan Awal
Gudang ini bersifat sementara yaitu berfungsi sebagai tempat penampungan sebelum serbuk bahan baku di ramu menjadi jamu serbuk jadi. Serbuk bahan baku yang sudah mengalami beberapa proses di simpan dalam karung plastik yang diberi kode dan tanggal pembuatan.
Kode ini dibuat untuk membedakan ramuan yang satu dengan yang lain sedangkan tanggal pembuatan di tulis untuk menentukan masa kadaluarsa bahan baku. Penyimpanan dengan karung plastik bertujuan untuk mengantisipasi kemungkinan - kemungkinan yang tidak diinginkan, misalnya kerusakan bahan baku kunyit karena air hujan, perlindungan terhadap gangguan tikus atau serangga serta mengantisipasi kerusakan atau kebocoran karung yang menyebabkan bahan - bahan terjatuh atau tercecer.
commit to user
Penyimpanan dalam gudang di P.J Bisma Sehat menggunakan sistem FIFO (First In Frist Out) yaitu bahan yang pertama masuk maka bahan tersebut yang pertama dikeluarkan. Dengan sistem ini bertujuan untuk menghindari kerusakan bahan yang telah disimpan dalam waktu yang lama dan untuk menjaga kualitas produk. Masa kadaluarsa bahan baku serbuk adalah satu minggu. Untuk masa kadaluwarsa simplisianya 1 tahun, sedangkan untuk masa kadaluwarsa hasil ramuan atau jamu yang sudah jadi yaitu 3 tahun. Untuk bahan baku kunyit yang sudah digiling apabila dalam satu minggu bahan baku kunyit tersebut tidak diramu dan dikemas, maka bahan tersebut tidak bisa digunakan. Bahan yang sudah habis masa kadaluwarsanya harus dibakar, sedangkan untuk simplisia kering apabila dalam satu tahun simplisia belum digiling, maka juga akan di musnahkan atau dibakar. Untuk mencegah keracunan jamu karena simplisia yang terkena jamur atau kotoran lain.
4. Peramuan Bahan Jadi
Ramu jamu jadi merupakan inti dari proses lanjutan dari proses ramu bahan baku. Proses ramu jamu jadi adalah proses menambahkan bahan yang diperlukan setiap macam jamu. Ramu jamu jadi dilakukan oleh Bapak Mulyadi sebagai pemilik perusahaan dan Bapak Gimin yang di angkat sebagai tangan kanan dari Bapak Mulyadi, sehingga tidak sembarangan orang bisa meramu jamu, jadi bahan apa saja yang ditambahkan serta komposisinya dalam jamu tersebuat hanya beliau dan Pak Gimin yang tahu. Caranya, bahan yang di perlukan di tambahkan kemudian diaduk sampai rata. Setelah itu, bahan bisa disebut sebagai jamu serbuk jadi yang siap untuk di kemas.
5. Pemeriksaan laboratorium
Jamu Bisma Sehat sebelum berlanjut pada proses berikutnya, pengemasan diambil sampelnya terlebih dahulu untuk diperiksa di laboratorium. Di PJ. Bisma Sehat pemeriksaaan dilakukan setiap 3 bulan sekali. Petugas dari Dinas Kesehatan datang dan mengambil sampel produk, kemudian di bawa ke laboratorium untuk diperiksa.
commit to user
Setelah 3 hari pemeriksaan laboratorium akan dikirim kembali ke PJ.
Bisma Sehat. Pemeriksaan laboratorium yang dilakukan antara lain meliputi homogenitas campuran, kadar air, derajat halus, khasiat, dan kandungan logam beratnya. Selain itu juga memeriksa angka kuman, kandungan bakteri, jamu dan efek sampingnya.
6. Pengemasan
Pengemasan perlu dilakuakn dengan tujuan agar bahan tersimpan secara baik serta terjaga kualitasnya. Dalam pengemasan ada 4 tahapan yaitu kemas dalam, kemasan luar, pres dan packing.
Kemasan di P.J Bisma Sehat ada 2 macam antara lain kemasan kertas, dan kemasan plastik. Cara untuk kemasan kertas dalam yaitu serbuk jamu yang sudah jadi di tuang dalam mesin pengisi yang sudah di atur takaran untuk setiap kemasan adalah 7 gram. Kemasan dengan sendirinya sudah terisi jamu, selanjutnya dilakukan kemasan luar yang terbuat dari kertas juga yang di beri cap P.J Bisma Sehat serta nama, manfaat, komposisi, dan cara membuatannya. Cara pengemasannya yaitu jamu yang sudah di kemas dalam kertas di masukkan dalam kemasan kertas kemudian di lem dan siap menuju proses packing.
Untuk cara kemasan plastik ada 2 macam, yang kemasan plastik pertama serbuk yang sudah jadi di tuang dalam mesin pengisi yang sudah di atur takaran untuk setiap kemasan adalah 7 gram. Kemasan dengan sendirinya sudah terisi jamu dan siap menuju proses packing.
Dan kemasan plastik yang kedua di isi dengan cara manual dengan menggunakan sendok makan dengan takaran untuk setiap kemasan 250 gram, 500 gram dan 1000 gram. Proses kemasan ini menggunakan mesin pres. Cara pengepresannya adalah alat pres di hidupkan kemudian ujung dari plastik kemasan di jepitkan dalam mesin pres.
Fungsi pengepresan adalah agar kemasan plastik tertutup rapat sehingga bahan tidak tumpah. Setelah itu menuju proses packing.
Packing merupakan kegiatan paling akhir dari pengemasan.
Urutan kegiatannya adalah 10 sampel jamu dimasukkan dalam kantong
commit to user
plastik kecil yang di sablon P.J Bisma Sehat kemudian dari 40 plastik tadi di masukkan dalam 1 plastik besar dan ditambahkan etiket di dalamnya.
Setelah proses pecking selesai jamu serbuk siap di pasarkan tetapi tidak semua langsung dipasarkan ada sebagian digunakan sebagai cadangan atau stok. Cadangan ini simpan dalam rak – rak yang diletakkan dalam ruangan tersendiri untuk menunggu pemasaran selanjutnya. Daerah pemasaran jamu P.J Bisma Sehat yaitu wilayah kabupaten Wonogiri, Karanganyar, Sukoharjo, dan provinsi Jawa Barat, Jawa Timur, Sulawesi, Kalimantan, Gorontalo, Nusa Tenggara Timur.
7. Penyimpanan Akhir
Produk P.J Bisma Sehat yang telah dikemas kemudian disimpan pada ruang terpisah yang tergantung dari jenis bahan yang disimpan.
Pada saat penyimpanan ruang yang digunakan harus ruangan yang bersih dan terbebas dari serangga, binatang pengerat, cukup penerangan, terjamin peredaran udaranya dan suhu harus sesuai sebelum dilakukan pemasaran.
commit to user
31
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
Dari pelaksanaan kegiatan magang di P.J Bisma Sehat Nguter maka penulis dapat menarik kesimpulan antar lain:
1. P.J Bisma Sehat adalah salah satu unit usaha yang bergerak dalam bidang jamu tradisional.
2. P.J Bisma Sehat dalam pendirian perusahaan ini bermaksud untuk :
“Mengembangkan usaha dari pengalaman yang di dukung dengan mengadakan kerja sama dengan beberapa perusahaan jamu tradisional di sekitar Nguter dan membantu masyarakat dalam bidang kesehatan dengan menyediakan sarana pengobatan yang efek sampingnya rendah serta harganya terjangkau”.
3. Tujuan berdirinya P.J Bisma Sehat adalah :
a. Mendapatkan keuntungan dan menambah penghasilan.
b. Memenuhi permintaan jamu tradisional dari penjual jamu gendong.
c. Membuka lapangan pekerjaan dan mengurangi pengangguran.
4. P.J Bisma Sehat merupakan salah satu industri pembuatan jamu yang cukup berkembang di Nguter, Sukoharjo dengan memproduksi kurang lebih 50 macam jamu.
5. Ciri-ciri simplisia untuk jamu serbuk antara lain : Warna kuning cerah, kadar kering antara 90-95 %, tebal kerina ± 3 cm, diameter ± 7 cm, aroma sedap khas kunyit.
6. Persiapan pengolahan bahan jamu di P.J Bisma Sehat masih dibagi menjadi beberapa tahapan, antara lain: sortasi awal, pencucian, perajang, pengeringan, dan sortasi akhir.
commit to user
32
7. Proses pengolahan bahan jamu antara lain : meramu bahan baku, menggilingan, pengayakan, penyimpanan, meramu bahan jadi, dan mengemasan.
B. Saran
Adapun saran yang dapat penulis berikan kepada P.J Bisma Sehat antara lain :
1. Meningkatkan hasil produk, dengan menjaga mutu dan kualitas jamu.
2. Kebutuhan yang besar dan kelangkaan bahan dapat menjadi perangsang petani tanaman obat untuk mengembangkan budidayanya.
3. Untuk meningkatkan kapasitas produksi, sebaiknya menggunakan semua media yang saat ini berkembang seperti media cetak (majalah, surat kabar), media elektronik (radio, tv, internet) ataupun media – media lain yang mendukung.
4. Untuk meningkatkan mutu, PJ Bisma Sehat dapat meningkatkan obat herbal berstandar.
5. Mengingat semakin banyaknya jenis produk jamu dipasaran,sebaiknya produk jamu di PJ Bisma Sehat lebih diperbanyak lagi