commit to user
KEKUATAN DAN ARAH KEMAMPUAN METAKOGNISI, KECERDASAN VERBAL, DAN KECERDASAN INTERPERSONAL HUBUNGANNYA
DENGAN HASIL BELAJAR BIOLOGI SISWA KELAS XI IPA SMA NEGERI 3 SUKOHARJO
SKRIPSI
Oleh :
ISNAINI MARATUS SHOLIHAH NIM K4308043
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SEBELAS MARET
SURAKARTA 2012
commit to user
PERNYATAAN KEASLIAN TULISAN
Saya yang bertanda tangan di bawah ini:
Nama : Isnaini Maratus Sholihah NIM : K4308043
Jurusan/Program Studi : PMIPA/Pendidikan Biologi
menyatakan bahwa skripsi saya berjudul KEKUATAN DAN ARAH KEMAMPUAN METAKOGNISI, KECERDASAN VERBAL, DAN KECERDASAN INTERPERSONAL HUBUNGANNYA DENGAN HASIL BELAJAR BIOLOGI SISWA KELAS XI IPA SMA NEGERI 3 SUKOHARJO -benar merupakan hasil karya saya sendiri. Selain itu, sumber informasi yang dikutip dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam daftar pustaka.
Apabila pada kemudian hari terbukti atau dapat dibuktikan bahwa skripsi ini hasil jiplakan, saya bersedia menerima sanksi atas perbuatan saya.
Surakarta, Mei 2012
Yang membuat pernyataan
Isnaini Maratus Sholihah
commit to user
KEKUATAN DAN ARAH KEMAMPUAN METAKOGNISI, KECERDASAN VERBAL, DAN KECERDASAN INTERPERSONAL HUBUNGANNYA
DENGAN HASIL BELAJAR BIOLOGI SISWA KELAS XI IPA SMA NEGERI 3 SUKOHARJO
Oleh:
ISNAINI MARATUS SHOLIHAH K4308043
SKRIPSI
Ditulis dan diajukan untuk memenuhi syarat mandapatkan gelar
Sarjana Pendidikan Program Pendidikan Biologi, Jurusan Pendidikan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SEBELAS MARET
SURAKARTA 2012
commit to user
commit to user
commit to user
ABSTRAKIsnaini Maratus Sholihah. Kekuatan dan Arah Kemampuan Metakognisi, Kecerdasan Verbal, dan Kecerdasan Interpersonal Hubungannya dengan Hasil Belajar Biologi Siswa Kelas XI IPA SMA N 3 Sukoharjo. Skripsi.
Surakarta: Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan. Universitas Sebelas Maret.
Mei 2012.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kekuatan dan arah antara: 1) kemampuan metakognisi dengan hasil belajar kognitif biologi siswa kelas XI IPA SMA Negeri 3 Sukoharjo tahun pelajaran 2011/2012, 2) kecerdasan verbal dengan hasil belajar kognitif biologi siswa kelas XI IPA SMA Negeri 3 Sukoharjo tahun pelajaran 2011/2012, 3) kecerdasan interpersonal dengan hasil belajar kognitif biologi siswa XI IPA SMA Negeri 3 Sukoharjo tahun pelajaran 2011/2012
Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif korelasional. Populasi adalah seluruh siswa kelas XI IPA SMA Negeri 3 Sukoharjo tahun pelajaran 2011/2012 yang berjumlah 159 siswa. Sampel diambil dengan teknik simple random sampling. Teknik pengumpulan data hasil belajar kognitif menggunakan metode dokumentasi, kecerdasan verbal menggunakan metode tes, sedangkan kemampuan metakognisi dan kecerdasan interpersonal diukur dengan angket.
Teknik analisis yang digunakan adalah analisis regresi linier berganda dengan SPSS 16.
Hasil penelitian menyimpulkan bahwa 1) terdapat hubungan yang positif dan signifikan antara kemampuan metakognisi dengan hasil belajar kognitif biologi siswa kelas XI IPA SMA Negeri 3 Sukoharjo tahun pelajaran 2011/2012, dengan koefisien regresi sebesar 0,238, sumbangan relatif 42,4% dan sumbangan efektif 19,6%, 2) terdapat hubungan yang positif dan signifikan antara kecerdasan verbal dengan hasil belajar kognitif biologi siswa kelas XI IPA SMA Negeri 3 Sukoharjo tahun pelajaran 2011/2012, dengan koefisien regresi sebesar 0,154 sumbangan relatif 32% dan sumbangan efektif 14,8%, 3) terdapat hubungan yang positif dan signifikan antara kecerdasan interpersonal dengan hasil belajar kognitif biologi siswa kelas XI IPA SMA Negeri 3 Sukoharjo tahun pelajaran 2011/2012, dengan koefisien regresi sebesar 0,175, sumbangan relatif 25,6% dan sumbangan efektif 11,8%. Ketiga variabel bebas secara bersama-sama menyumbang 46,2%
terhadap peningkatan ataupun penurunan hasil belajar kognitif biologi, sementara 53,8% lainnya dipengaruhi oleh variabel lain yang tidak masuk dalam penelitian.
Kata kunci : kemampuan metakognisi, kecerdasan verbal, kecerdasan interpersonal, kasil belajar kognitif biologi.
commit to user
ABSTRACTIsnaini Maratus Sholihah. Strength and Direction Between Metacognitive Achievement, Verbal Intellegences, and Interpersonal Intellegences, Correlation with The Cognitive Learning Achievement of Biological Lesson
. Thesis, Surakarta:
Education Faculty. Sebelas Maret University Surakarta, May 2012.
This research is aimed to know the strength and direction between: 1) metacognitive achievement and cognitive learning achievement of biological SMA Negeri 3 Sukoharjo in academic year of 2011/2012, 2) Verbal intellegences and cognitive learning achievement of academic year of 2011/2012, 3) Interpersonal intelligences and cognitive learning Sukoharjo in academic year of 2011/2012.
It is a kuntitatif correlational research. The population was taken all of students XI IPA grade of SMA Negeri 3 Sukoharjo in academic year of 2011/2012. The sample was taken using simple random sampling technique. Test
metacognitive achievement and interpersonal intellegences was measured by using questionnaire. The obtained data was analysed using multiple linier regression analysis with SPSS 16.
The result showed that (1) there is corellation between metacognitive achievement and cognitive learning achievement of biological lesson of XI IPA the regression coefficient is 0,238, the relative contribution is 42,4% and the effective contribution is 19,6%, 2) there is corellation between verbal intellegences and cognitive learning achievement of biological lesson of XI IPA the regression coefficient is 0,154, the relative contribution is 32% and the effective contribution is 14,8%, 3) there is corellation between interpersonal intellegences with cognitive learning achievement of biological lesson of XI IPA 2, with the regression coefficient is 0,175, the relative contribution is 25,6% and the effective contribution is 11,8%. The three aforementioned corellation are considered as significant and positive valuable. They have 46,2% contribution to learning achievement of biological lesson. Each of independent variable that is metacognitive achievement, verbal intellegences and interpersonal intellegences has contribution to dependent variable, that is learning achievement of biological lesson. Student achievement at biological lesson as much as 53,8% is affected by other factor.
Keywords: metacognitive achievment , verbal intellegences, interpersonal intellegences, cognitive learning achievment of biological lesson.
commit to user
MOTTOcommit to user
PERSEMBAHANDengan segala kerendahan hati, karya sederhana ini saya persembahkan kepada:
Allah SWT, yang memberikan hidup dan memegang kematian setiap makhluk, tanpaNya tulisan ini tiada bermakna. Semoga dari awal proses sampai karya ini selesai dapat memberikan amalan bagi kita semua amin...
Rosulullah SAW semoga sholawat dan salam selalu tercurah kepada Beliau nabi Muhammad SAW, keluarga serta sahabat.
Ibu dan Bapak tercinta yang selalu memberikan yang terbaik untuk kami, yang selalu
mengiringi -nasehat yang menyejukkan hati
kami.
Pak puguh dan Pak Bowo terimakasih untuk teladan, nasehat dan bimbinganya.
Terimakasih telah memperkenalkan kepada kami dunia pendidikan yang berbeda.
Mas Latif, dek Khoir, dek Habib, tetap semangat dengan cita-cita kita dek.
Terimakasih untuk setiap keceriaan dan keusilan kalian.
Aprilia Muzayyannah, Vera Irawan, Resty Hermita, Siti Fatimah, Novita Tyas terimakasih untuk setiap senyum dan imajinasi indah dari kekonyolan mimpi-mimpi kita, semoga kelak kita dipertemukan dengan mimpi indah itu kawan.
Fety, Devi, Evi NH, Ratih, Rahma, Shelli, Hariz, Elok, Evi NQ, Anwari. Terimakasih kawan, untuk setiap waktu yang kalian berikan, maaf ya... selama kuliah isna banyak merepotkan,,..love u so much...
Ustadzahku, , Anak-anak NA, terimakasih untuk setiap ilmu, semangat, dan tanggung jawab dalam amanah ini...
Alanindra Saputra dan Yasir Sidiq, terimakasih sudah membukakan banyak kesempatan berharga buat Isna. Tetap menjadi pribadi yang rendah hati ya...
Teman-teman pendidikan Biologi 2008. Bertemu dengan kalian adalah Anugerah yang luar biasa. Terimakasih untuk ukhuwah yang indah ini.
Almamaterku Universitas Sebelas Maret Surakarta
commit to user
KATA PENGANTARSegala pujian hanya untuk Allah yang maha adil dan bijaksana, sholawat dan salam semoga tercurah kepada junjungan nabi besar Muhammad SAW yang telah membawa umatnya dari kejahiliyahan kejalan yang penuh dengan cahaya ilmu dan tauhid. Alhamduliillah dengan penuh kesabaran, akhirnya penulis dapat Kekuatan dan Arah Kemampuan Metakognisi, Kecerdasan Verbal, dan Kecerdasan Interpersonal Hubungannya dengan Hasil Belajar Biologi Siswa Kelas XI IPA SMA Negeri 3 Sukoharjo
Penulisan skripsi ini ditujukan untuk pemenuhan sebagian syarat mendapatkan gelar Sarjana Pendidikan, Program Pendidikan Biologi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret Surakarta. Penulis menyadari, bahwa dalam penulisan skripsi ini banyak pihak yang telah membantu hingga terselesaikannya karya ini dengan baik, untuk itu penulis haturkan rasa terimakasih sebesar-besarnya kepada:
1. Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret Surakarta.
2. Ketua Jurusan Pendidikan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Sebelas Maret Surakarta.
3. Ketua Program Pendidikan Biologi, Jurusan Pendidikan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Sebelas Maret Surakarta.
4. Puguh Karyanto, S.Si, M.Si, Ph.D., selaku Pembimbing I, yang selalu memberikan motivasi, pengarahan dan bimbingan dalam menyusun skripsi ini.
5. Bowo Sugiharto S.Pd, M.Pd., selaku Pembimbing II, yang selalu memberikan bimbingan, pengarahan dan saran dalam menyusun skripsi ini.
6. Kepala SMA Negeri 3 Sukoharjo, yang telah memberikan kesempatan dan tempat guna pengambilan data dalam penelitian.
7. Wakasek Kurikulum SMA Negeri 3 Sukoharjo, yang telah memberikan ijin penelitian dan membantu saat memberikan dukungan pada saat jalannya penelitian.
commit to user
8. Guru biologi kelas XI IPA SMA Negeri 3 Sukoharjo yang telah membantu dan memberikan dukungan pada saat penelitian.
9. Seluruh siswa kelas XI IPA SMA Negeri 3 Sukoharjo yang telah bersedia untuk berpartisipasi dalam pelaksanaan penelitian ini.
10. Semua pihak yang turut membantu dalam penyusunan skripsi ini yang tidak dapat disebutkan satu persatu.
Semoga Allah membalas semua kebaikan mereka dengan balasan yang lebih baik. Akhirnya hanya kepada Allah, penulis mengharap semoga skripsi ini dengan segala kelebihan dan kekurangannya dapat bermanfaat. Amin
Surakarta, Mei 2012
Isnaini Maratus Sholihah
commit to user
DAFTAR ISIHalaman HALAMAN JUDUL ...
HALAMAN PENGAJUAN ...
HALAMAN PERSETUJUAN ...
HALAMAN PENGESAHAN ...
HALAMAN ABSTRAK ...
HALAMAN ABSTRACT ...
HALAMAN MOTTO ...
HALAMAN PERSEMBAHAN ...
KATA PENGANTAR ...
DAFTAR ISI ...
DAFTAR TABEL ...
DAFTAR GAMBAR ...
DAFTAR LAMPIRAN ...
BAB I PENDAHULUAN...
A. Latar Belakang Masalah ...
B. Rumusan Masalah ...
C. Tujuan Penelitian ...
D. Manfaat Penelitian ...
BAB II KAJIAN PUSTAKA ...
A. Kajian Teori dan Hasil Penelitian yang Relevan ...
1. Kemampuan Metakognisi ...
2. Kecerdasan Verbal dan Kecerdasan Interpersonal ...
a. Kecerdasan Verbal ...
b. Kecerdasan Interpersonal ...
3. Belajar dan Hasil Belajar ...
4. Teori belajar ...
B. Kerangka Berpikir ...
C. Hipotesis ...
i ii iii iv v vi vii viii ix xi xiv
xv xvi
1 1 4 4 5 6 6 6 8 10 10 11 15 17 20
commit to user
BAB III METODOLOGI PENELITIAN ...
A. Tempat dan Waktu Penelitian...
1. Tempat Penelitian ... ....
... ..
2. Waktu Penelitian ...
B. Rancangan Penelitian ...
C. Populasi dan Sampel ...
2. Sampel Penelitian ...
D. Teknik Pengambilan Sampel ...
E. Pengumpulan Data ...
1.Variabel Penelitian ...
2. Metode Pengumpulan Data ...
3. Teknik Penyusunan Instrumen ...
a. Kemampuan Metakognisi...
b. Kecerdasan Verbal
F. Analisis Instrumen ...
1. Uji Validitas Item Angket ...
2. Uji Reliabilitas Angket ...
G. Analisis Data ...
1. Uji Prasyarat Analisis regresi ...
a. Uji Normalitas ...
b. Uji Linearitas dan Keberartian Regresi ...
c. Uji Multikolinearitas ...
d. Uji Homokedastisitas ...
2. Pengujian Hipotesis ...
3. Sumbangan Relatif dan Sumbangan Efektif...
a. Sumbangan Relatif ...
b. Sumbangan Efektif ...
21 21 21 21 22 23 23 23 24 24 24 24 25 25 26 26 27 27 28 28 29 29 30 30 30 30 30 31 31 32 32
commit to user
BAB IV HASIL PENELITIAN ...
A. Deskripsi Data ...
B. Pengujian Prasyarat Analisis ...
C. Pengujian Hipotesis ...
1. Uji Hipotesis Pertama ...
2. Uji Hipotesis Kedua ...
3. Uji Hipotesis Ketiga ...
A. Simpulan ...
B. Implikasi ...
C. Saran ...
DAFTAR PUSTAKA ...
LAMPIRAN ...
33 33 35 38 38 39 40 41 45 45 46 46 47 50
commit to user
DAFTAR TABELHalaman Tabel 1.
Tabel 2.
Tabel 3.
Tabel 4.
Tabel 5.
Tabel 6.
Tabel 7.
Tabel 8.
Skor Penilaian Berdasarkan Skala Likert
Validitas Konstruk MAI (Metakognisi Awareness Inventory) ...
Validitas Konstruk Kecerdasan Verbal ...
Validitas Konstruk Angket Kecerdasan Interpersonal ...
Rangkuman Uji Validitas Hasil Tes Try Out ...
Rangkuman Uji Reliabilitas Hasil Tes Try Out ...
Deskripsi Data ...
Rangkuman Uji Normalitas ...
25 25 26 26 28 29 33 35
commit to user
DAFTAR GAMBARHalaman Gambar 1.
Gambar 2.
Gambar 3.
Gambar 4.
Kerangka Berpikir ...
Jadwal Penelitan ...
Paradigma Penelitian
Scatterplot Uji Homoskedastisitas ...
19 21 22 38
commit to user
DAFTAR LAMPIRANHalaman Lampiran 1.
Lampiran 2.
Lampiran 3.
Lampiran 4.
Lampiran 5.
Lampiran 6.
Lampiran 7.
Hasil Uji Coba Instrument ...
Surat-Surat ...
50 73 107 130 132 139 143
commit to user
BAB I PENDAHULUANA. Latar Belakang Masalah
Belajar dapat didefinisikan sebagai proses di mana tingkah laku ditimbulkan atau diubah melalui latihan dan pengalaman (Whitaker, 1970 dalam Aunurrahman, 2009). Seseorang yang melakukan aktivitas belajar akan memperoleh perubahan dalam dirinya. Dengan perubahan tersebut individu tersebut dikatakan telah belajar, adapun tingkat perubahannya dikenal sebagai hasil belajar (Jumaroh, 2002).
Hasil belajar dibagi menjadi tiga ranah yaitu ranah kognitif, psikomotorik, dan afektif. Ranah kognitif merupakan ranah yang berhubungan dengan pengetahuan dan pemahaman seseorang. Ranah psikomotorik merupakan ranah yang berhubungan dengan kemampuan bertindak dan keterampilan- keterampilan yang dimiliki seseorang. Sedangkan ranah afektif adalah ranah yang berhubungan dengan budi pekerti dan sikap seseorang (Masidjo, 2006). Dari ketiga ranah hasil belajar tersebut, ranah kognitif merupakan ranah yang paling dominan menjadi tolok ukur instan atas keberhasilan siswa dalam proses belajar.
Merujuk pada Bloom dalam Anderson, dkk (2010), ada enam indikator dalam jenjang proses kognitif dari Bloom yang telah disempurnakan oleh Anderson.
Keenam jenjang tersebut adalah kemampuan mengingat, memahami, menerapkan, mensintesis, mengevaluasi, dan mencipta. Ketercapaian keenam indikator tersebut menunjukkan keberhasilan pencapaian hasil belajar seseorang pada ranah kognitif.
Sebagai individu yang berbeda, siswa akan memiliki kemampuan berpikir yang berbeda, sehingga menyebabkan pencapaian jenjang belajar kognitif tiap siswa tidak sama. Oleh karena itu, hasil belajar kognitif yang dicapai siswa sebagai subjek pembelajaran akan berbeda pula.
Merujuk pada Slameto (2003) dan Gagne dalam Dimyati (2002) belajar diterdiri atas tiga komponen utama yang mempengaruhi hasil belajar yaitu kondisi internal, kondisi eksternal dan hasil belajar. Kondisi internal merupakan segala
commit to user
sesuatu yang melekat pada siswa seperti motivasi, minat, bakat, intelegensi, dan lain-lain. Kondisi eksternal merupakan kondisi lingkungan belajar dan proses belajar. Kedua kondisi yang telah disebutkan, berinteraksi membentuk perubahan tingkah laku sebagai hasil belajar siswa. Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa hasil belajar sebagai komponen akhir belajar yang sangat dipengaruhi oleh kondisi internal dan kondisi eksternal. Proporsi masing-masing faktor (internal dan eksternal) dalam belajar adalah 70% dipengaruhi oleh kemampuan siswa (internal) dan 30% dipengaruhi lingkungan eksternal (Clark, 1981 dalam Sudjana, 2005).
Telah diketahui bahwa faktor internal lebih dominan dalam menentukan hasil belajar. Beberapa faktor internal yang mempengaruhi hasil belajar adalah kemampuan metakognisi dan intelegensi (kecerdasan). Kemampuan metakognisi adalah kesadaran berpikir tentang apa yang diketahui dan apa yang tidak diketahui. Dalam konteks pembelajaran, siswa mengetahui bagaimana untuk belajar, mengetahui kemampuan dan modalitas belajar yang dimiliki, dan mengetahui strategi belajar terbaik untuk belajar efektif (Amri, 2010).
Metakognisi memainkan peranan yang penting dalam proses pembelajaran (Flavel,1979). Hal ini didukung dari hasil penelitian Brown (1978), Rahman dan Philips (2006), yang menemukan bahwa kemampuan metakognisi merupakan kemampuan yang berkontribusi cukup tinggi dalam pencapaian hasil belajar siswa. Siswa yang mempunyai kemampuan metakognisi baik dapat menemukan gaya kognitif yang sesuai dengan karakternya dalam menyelesaikan proses belajar. Merujuk pada (Stein dkk, 1968) dalam Slameto (2003) gaya kognitif yang telah ditemukan siswa melalui kemampuan metakognisinya, memiliki pengaruh terhadap hasil belajar siswa dalam mata pelajaran tertentu serta profesi yang telah dipilihnya.
Selain kemampuan metakognisi, faktor internal yang berperan penting dalam hasil belajar adalah faktor intelegensi (kecerdasan). Kecerdasan adalah kemampuan memecahkan masalah dan membuat suatu produk yang bermanfaat bagi kehidupan. Kecerdasan dapat digolongkan dalam delapan jenis. Kedelapan jenis kecerdasan tersebut secara total di kenal dalam teori multiple intelegences.
commit to user
Teori ini mengemukakan bahwa manusia memiliki paling tidak 8 jenis kecerdasan, yaitu kecerdasan verbal-linguistik, logis matematis, visual-spasial, kinestetis, musik, intrapersonal, interpersonal dan kecerdasan naturalis. Dari delapan jenis kecerdasan tersebut masing-masing individu hanya memiliki beberapa jenis kecerdasan yang dapat dikembangkan secara optimal (Gardner, 1983 dalam Rose, 2003).
Berkaitan dengan kecerdasan di atas, pada umumnya, kecerdasan hanya diukur menggunakan tes IQ. Pengukuran dengan menggunakan tes IQ sering mengukur kecerdasan secara semu. Kecerdasan bukanlah suatu kesatuan tunggal yang dapat diukur secara sederhana dengan tes IQ. Berbagai jenis kecerdasan tersebut tidak beroperasi sendiri-sendiri, namun dapat digunakan pada suatu waktu yang bersamaan dan cenderung saling melengkapi satu sama lain saat seseorang memecahkan suatu masalah, begitu pula saat menyelesaikan proses pembelajaran, berbagai jenis kecerdasan tersebut akan saling melengkapi (Gardner dalam Hoerr, 2007).
Dalam kaitannya dengan pembelajaran biologi, siswa dituntut untuk memiliki kemampuan dalam berinteraksi terhadap siswa lain dalam proses pembelajaran. Interaksi antar siswa harus terjalin dengan baik mengingat hasil belajar siswa sangat dipengaruhi oleh proses pembelajaran. Proses pembelajaran tersebut melibatkan interaksi yang baik antara siswa dengan guru, siswa dengan karyawan sekolah serta antar siswa sendiri dalam kelompok belajar ataupun dalam lingkungan sekolah. Selain kemampuan berinteraksi yang disebut sebagai kecerdasan interpersonal, integrasi antara kemampuan metakognisi, kecerdasan verbal, dan kecerdasan interpersonal cukup menunjang proses belajar siswa dalam menentukan cara berpikir mereka untuk memahami konsep-konsep biologi yang terwujud dalam kata ataupun kalimat. Arifin dkk (2008), menemukan bahwa melalui kecerdasan verbal-linguistik, seseorang mampu mengemukakan ide, kemudian melalui kecerdasan interpersonal siswa mampu mengkomunikasikan secara efektif ide yang dimiliki kepada masyarakat, maka kedua kecerdasan tersebut memiliki hubungan cukup erat yang saling melengkapi. Penelitian yang sama oleh Arifin dkk (2004) juga mendapatkan hasil bahwa kecerdasan verbal-
commit to user
linguistik merupakan kecerdasan yang paling mendominasi di kalangan pelajar universitas di Universitas Kebangsaan Malaysia. Hal ini menunjukkan bahwa kecerdasan verbal-linguistik memberikan kontribusi cukup tinggi dalam menentukan keberhasilan belajar siswa.
Dengan diketahuinya jenis kemampuan yang berhubungan dalam proses belajar siswa, maka peningkatan hasil belajar siswa akan lebih mudah diupayakan yaitu dengan mengembangkan kemampuan tersebut. Berdasarkan beberapa referensi tersebut peneliti tertarik untuk menelaah hubungan antara kemampuan metakognisi, kecerdasan verbal dan kecerdasan interpersonal dengan hasil belajar Biologi. Verivikasi atas variabel tersebut dikaji dengan mengemukakan judul penelitia yaitu KEKUATAN DAN ARAH KEMAMPUAN METAKOGNISI,
KECERDASAN VERBAL DAN KECERDASAN INTERPERSONAL
HUBUNGANNYA DENGAN HASIL BELAJAR BIOLOGI SISWA KELAS XI IPA SMA NEGERI 3 SUKOHARJO.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian dalam latar belakang di atas maka dapat dirumuskan beberapa permasalahan yaitu:
1. Adakah hubungan yang positif dan signifikan antara kemampuan metakognisi dengan hasil belajar kognitif biologi siswa kelas XI IPA SMA Negeri 3 Sukoharjo tahun pelajaran 2011/2012?
2. Adakah hubungan yang positif dan signifikan antara kecerdasan verbal dengan hasil belajar kognitif biologi siswa kelas XI IPA SMA Negeri 3 Sukoharjo tahun pelajaran 2011/2012?
3. Adakah hubungan yang positif dan signifikan antara kecerdasan interpersonal dengan hasil belajar kognitif biologi siswa kelas XI IPA SMA Negeri 3 Sukoharjo tahun pelajaran 2011/2012?
C. Tujuan Penelitian
Berdasarkan latar belakang masalah dan perumusan masalah yang telah dipaparkan, peneliti menetapkan beberapa tujuan dalam penelitian ini yaitu untuk mengetahui :
commit to user
1. Kekuatan dan arah hubungan kemampuan metakognisi dengan hasil belajar kognitif biologi siswa kelas XI IPA SMA Negeri 3 Sukoharjo tahun pelajaran 2011/2012.
2. Kekuatan dan arah hubungan kecerdasan verbal dengan hasil belajar kognitif biologi siswa kelas XI IPA SMA Negeri 3 Sukoharjo tahun pelajaran 2011/2012.
3. Kekuatan dan arah hubungan kecerdasan interpersonal dengan hasil belajar kognitif biologi siswa kelas XI IPA SMA Negeri 3 Sukoharjo tahun pelajaran 2011/2012.
D. Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat sebagai berikut:
1. Bagi Siswa
a. Dapat memberi pemahaman kepada siswa sebagai pebelajar akan pentingnya perhatian atas faktor-faktor yang mempengaruhi hasil belajarnya.
b. Siswa dapat mengetahui adanya hubungan kemampuan metakognisi, kecerdasan verbal dan kecerdasan interpersonal terhadap hasil belajar biologi, sehingga siswa dapat meningkatkan kemampuan-kemampuan tersebut guna memaksimalkan hasil belajarnya.
2. Bagi Guru
a. Memberikan umpan balik kepada guru sebagai pembelajar untuk dapat mengetahui beberapa hal terkait dengan faktor yang dapat menentukan hasil belajar peserta didiknya.
b. Memberikan masukan kepada guru pentingnya kemampuan metakognisi, kecerdasan verbal dan kecerdasan interpersonal peserta didik dalam memaksimalkan hasil belajar biologi.
3. Bagi Institusi
Memberikan kontribusi ilmiah pada institusi FKIP UNS terkait dengan pengayaan khasanah keilmuan dan kontribusi ilmiah pada sekolah untuk perbaikan proses belajar mengajar di sekolah menengah.
commit to user
BAB II KAJIAN PUSTAKAA. Kajian Teori dan Hasil Penelitian yang Relevan 1. Kemampuan Metakognisi
Perkembangan kognitif adalah salah satu aspek perkembangan manusia yang berkaitan dengan pengertian (pegetahuan), yaitu semua proses psikologis yang berkaitan dengan begaimana individu mempelajari dan memikirkan lingkunganya (Desmita, 2011). Seiring dengan perkembangan kogitifnya, anak-anak usia sekolah mulai berusaha mengetahui tentang proses berpikirnya sendiri, tentang bagaimana dia belajar dan mengingat situasi- situasi yang dialami setiap hari, mulai menyadari proses-proes kognitifnya dan bagaimana seseorang dapat meningkatkan penilaian kognitif mereka, serta memilih strategi-strategi yang cocok untuk meningkatkan kinerja kognitif mereka. Para ahli psikologi menyebut tipe pengetahuan ini sebagai kemampuan metakognisi (Wellman dalam Desmita, 2011).
Flavell (1976), pencetus istilah metakognisi, secara sederhana knowing about knowing
pengetahuan tentang pengetahuan. Hal yang senada juga dikemukakan oleh Brown, 1987; Jacobs dan Paris, 1987 dalam Scraw dkk, (1994) yang menjelaskan bahwa metakognisi merupakan suatu kemampuan untuk memahami dan mengendalikan aktivitas kognitif seseorang dalam proses belajarnya.
Kemampuan metakognisi terdiri atas dua komponen, yaitu pengetahuan metakognisi (metacognitive knowledge), dan pengalaman atau regulasi metakognisi (metacognitive experiences or regulation) (Flavell dalam Scraw, 1994). Pengetahuan metakognisi merupkan suatu kesadaran tentang apa yang diketahui dan apa yang tidak diketahui. Pengetahuan ini terdiri atas tiga sapek yaitu (1) pengetahuan deklaratif, merupakan pengetahuan tentang kemampuan yang dimiliki oleh diri sendiri, (2) pengetahuan prosedural, merupakan pengetahuan tentang bagaiman mengguanakan berbagai strategi
commit to user
dalam belajar, dan (3) pengetahuan kondisional, merupakan pengetahuan tentang kapan dan mengapa kita menggunakan strategi belajar tertentu.
Sedang regulasi metakognisi merujuk kepada cara untuk meningkatkan kesadaran mengenai proses berpikir dan pembelajaran yang berlaku sehingga bila kesadaran ini terwujud, maka seseorang dapat mengawal pikirannya dengan merancang, mengatur informasi, memonitoring (memantau), memperbaiki, dan menilai atau mengevaluasi apa yang telah dipelajari (Anderson & Krathwohl, 2010)
Definisi yang dikemukakan para ahli tersebut dapat disimpulkan bahwa metakognisi merupakan kesadaran berpikir tentang apa yang diketahui dan apa yang tidak diketahui. Dalam konteks pembelajaran dapat diartikan bahwa kemampuan metakognisi merupakan kesanggupan siswa mengetahui bagaimana untuk belajar, mengetahui tingkat kemampuan dan modalitas belajar yang dimiliki, dan mengetahui strategi belajar terbaik untuk belajar efektif. Metakognisi memiliki dua komponen, yaitu: (1) pengetahuan metakognisi (metacognitive knowledge) dan (2) regulasi metakognisi (metakognitive regulation). Pengetahuan metakognisi berkaitan dengan pengetahuan deklaratif, pengetahuan prosedural, dan pengetahuan kondisional. Sedangkan keterampilan metakognisi berkaitan dengan keterampilan merencanakan, keterampilan memprediksi, keterampilan memonitoring, keterampilan memperbaiki, dan keterampilan mengevaluasi.
Kemampuan metakognisi dipandang sebagai kemampuan yang berhubungan dengan hasil belajar siswa, karena dengan kemampuan metakognisi, siswa dapat mengetahui kekurangan dan kelebihan dalam belajar, kemudian mampu menemukan strategi yang sesuai dengan kemampuan kognitif yang dimilikinya, hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan Rahman dan Phillips (2006) yang menemukan adanya hubungan positif dan signifikan natara kemampuan metakognisi dengan motivasi yang berimplikasi pada hasil belajar. Dengan adanya kemampuan metakognisi, yang tinggi dalam diri siswa maka diharapkan dapat meningkatkan hasil belajarnya.
commit to user
Amri (2010) mengemukakan 3 strategi metakognisi yang dapat dikembangakan untuk meraih kesuksesan belajar siswa antara lain:
a Tahap Proses Sadar Belajar
Pada tahap proses sadar belajar di antaranya meliputi proses untuk menetapkan tujuan belajar, mempertimbangkan sumber belajar yang akan dan dapat diakses (Contoh: menggunakan buku teks, mencari buku sumber di perustakaan, mengakses internet, atau belajar di tempat yang sunyi), menentukan bagaimana kinerja terbaik siswa akan dievaluasi, mempertimbangkan tingkat motivasi belajar, menentukan tingkat kesulitan belajar siswa.
b Tahap Merencanakan Belajar
Tahap merencanakan belajar meliputi proses memperkirakan waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaika tugas belajar, merencanakan waktu belajar dalam bentuk jadwal serta menentukan skala prioritas dalam belajar, mengorganisasika meteri pelajaran, mengambil langkah- langkah yang sesuai untuk belajar dengan menggunakan strategi belajar (outlining, mind mapping, speed reading, dan strategi belajar lainya) c Tahap Monitoring dan Refleksi Belajar
Pada tahap ini meliputi proses merefleksikan proses belajar, memantau proses belajar melalui pertanyaan dan tes diri (self-testing, seperti mengajukan pertanyaan, apakah materi ini bermakna dan bermanfaat bagi saya? Bagaimana pengetahuan pada materi ini dapat saya kuasai?
Mengapa saya mudah/sukar menguasai materi ini?) menjaga konsentrasi dan motivasi tinggi dalam belajar.
2. Kecerdasan Verbal dan Kecerdasan Interpersonal
Kecerdasan menurut Gardner dalam Rose (2003) merupakan kemampuan untuk memecahkan masalah atau menciptakan suatu produk yang bernilai. Sementara Chaplin dalam Slameto (2003) mendifinisikan kecerdasan sebagai kecakapan yang terdiri atas tiga jenis, yaitu kecakapan untuk menghadapi dan menyesuaikan diri ke dalam situasi yang baru dengan cepat dan efektif, kecakapan dalam menggunakan konsep-konsep yang
commit to user
abstrak secara efektif, dan kemampuan memahami hubungan antar sesama dengan cepat. Ada dua sapek kecerdasan yang dikemukakan oleh Gunawan (2003) yaitu kapasitas untuk belajar dari pengalaman dan kemampuan untuk beradaptasi. Kecerdasan memiliki pengaruh besar terhadap proses dan hasil belajar. Dalam situasi yang sama, siswa yang mempunyai tingkat kecerdasan yang tinggi akan lebih berhasil daripada yang mempunyai tingkat kecerdasan rendah (Slameto, 2003)
Pengertian yang dikemukakan para ahli dapat dijelaskan bahwa kecerdasan merupakan suatu kemampuan seseorang dalam beradaptasi terahadap lingkungan dan belajar dari pengalaman untuk memecahkan masalah maupun menghasilkan produk yang bermanfaat bagi kehidupan.
Gardner (1983) dalam Gunawan (2003) membagi jenis kecerdasan menjadi delapan yang disebut multiple intelligences. Multiple intelligences adalah teori kecerdasan yang mengemukakan bahwa manusia memiliki paling tidak 8 jenis kecerdasan, yaitu kecerdasan verbal-linguistik, logis matematis, visual-spasial, kinestetis, musik, intrapersonal, interpersonal, dan kecerdasan naturalis. Kedelapan kecerdasan ini bekerjasama dalam satu jalinan yang unik dan rumit. Setiap manusia memiliki kedelapan kecerdasan ini dengan kadar perkembangan yang berbeda.
Kecerdasan mempunyai pengaruh yang besar terhadap kemajuan belajar seseorang. Seseorang yang mempunyai kecerdasan yang baik umumnya akan lebih mudah belajar dan hasil belajarnya akan cenderung baik (Slameto, 2003). Penelitian mengenai berbagai jenis kecerdasan dengan hasil belajar telah banyak dilakukan. Nugrahani (2010) menemukan adanya hubungan yang positif dan signifikan antara kecerdasan interpersonal siswa terhadap guru dengan motivasi belajar. Hasil penelitian yang sama juga didapatkan oleh Nurwati (2009) dalam penelitiannya didapatkan adanya hubungan tidak langsung dan signifikan antara kecerdasan interpersonal aspek interaksi guru dan siswa dengan prestasi belajar melalui motivasi belajar. Arifin dkk, (2004) dalam penelitanya mendapatkan bahwa kecerdsan verbal-linguistik merupakan kecerdasan yang paling mendominasi dikalangan
commit to user
mahasiswa Universitas Teknologi Malaysia. Dari penelitian ini menunjukkan bahwa semakin tinggi kecerdasan siswa maka makin mudah siwa dalam memahami materi pelajaran sehingga hasil belajar dapat ditingkatkan.
Penelitian ini akan membahas mengenai hubungan kecerdasan dengan hasil belajar biologi. Peneliti membatasi jenis kecerdasan yang dikemukakan oleh Gardner (1983), yaitu kecerdasan verbal dan kecerdasan interpersonal.
Kedua jenis kecerdasan ini diasumsikan berhubungan erat dengan proses belajar biologi yang berdampak pada hasil belajar biologi.
a. Kecerdasan Verbal
Kecerasan verbal merupakan kemampuan yang penting dalam semua aktivitas akademis. Gardner dalam Gunawan (2003) menjelaskan bahwa kecerdasan verbal-linguistik merupakan kemampuan untuk menggunakan kata-kata secara efektif, baik secara lisan maupun tulisan. Kecerdasan ini mencakup kemampuan untuk menguasai struktur bahasa (sintaks), suara (fonologi) dan arti (semantik).
Tes Potensial Akademik digunakan untuk mengetahui tingkat kecerdasan verbal seseorang, tes potensial akedemik yang digunakan merujuk pada tes potensial akademik aspek tes verbal dari Iskandar (2002). Soal-soal tes ini berbentuk pilihan ganda yang memuat empat konsep dasar dalam berbahasa yaitu memahami teks, persamaan kata, lawan kata, dan padanan hubungan (logika).
b. Kecerdasan Interpersonal
Gardner dalam Rose (2003) mendifinisikan kecerdasan interpersonal sebagai kemampuan bekerja secara efektif dengan orang lain, berinteraksi dengan orang lain, dan memperlihatkan empati dan pengertian kepada orang lain. Kecerdasan interpersonal lebih sering disebut sebagai kecerdasan sosial. Dalam lingkungan pembelajaran kecerdasan ini diartikan sebagai kecerdasan dalam berinteraksi terhadap sesama dalam menyelesaikan proses belajarnya, interaksi terjadi antar teman, warga sekolah maupun dengan anggota masyarakat tempat siswa tinggal.
Interaksi ini lebih sering dikenal sebagai interaksi sosial.
commit to user
Interaksi sosial menurut Gerungan (2004), adalah suatu hubungan antara dua atau lebih individu manusia, dimana kelakuan individu yang satu mempengaruhi, mengubah, atau memperbaiki kelakuan individu yang lain, atau sebaliknya. Sedangkan menurut Dirdjosisworo dalam Syani (2002) interaksi sosial diartikan sebagai hubungan sosial timbal balik yang dinamis secara perseorangan, antar kelompok, maupun antar orang dengan kelompok manusia.
Sehubungan dengan definisi interaksi sosial di atas terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi terciptanya suatu interaksi sosial. Menurut Ahmadi (1999), faktor-faktor yang mendasari interaksi sosial meliputi faktor imitasi, sugesti, identifikasi, dan simpati. Selain faktor yang mempengaruhi, ada pula syarat yang harus terpenuhi untuk menciptakan suatu interaksi sosial. Syarat-syarat interaksi sosial yang dikemukakan Syani (2002), meiputi kontak sosial dan komunikasi sosial. Kontak sosial adalah hubungan antara satu orang atau lebih, melalui percakapan dengan saling mengerti tentang maksud dan tujuan masing-masing. Kontak sosial dibedakan menjadi dua, yaitu kontak secara langsung dan tidak langsung.
Hubungan yang terjadi dapat berupa hubungan postif maupun negatif.
Hubungan positif terjadi karena hubungan antara kedua belah pihak terdapat saling pengertian dan saling menguntungkan, sehingga hubungan dapat berlangsung lebih lama. Sedangkan kontak negatif terjadi karena hubungan antara kedua belah pihak tidak melahirkan saling pengertian, mungkin juga merugikan. Sementara komunikasi sosial adalah persamaan pandangan antara orang-orang yang berinteraksi terhadap sesuatu.
3. Belajar dan Hasil Belajar
Dalam seluruh proses pembelajaran disekolah, kegiatan belajar merupakan kegiatan pokok yang dilakukan oleh peserta didik dalam rangka mencapai hasil belajar yang tinggi. Belajar merupakan suatu kegiatan kompleks yang dilakukan individu secara sadar untuk memperoleh suatu kemampuan baru dan perubahan tingkah laku sebagai hasil belajar. Hasil belajar ini diperoleh akibat adanya interaksi antara individu dengan individu,
commit to user
maupun individu dengan lingkunganya (Burton dalam Aunurrahman, 2009;
Gagne dalam Dimyati, 2002; Slameto, 2003). Hasil belajar tidak selalu menghasilkan kemampuan dan perubahan tingkah laku yang mengarah pada tingkah laku yang lebih baik, namun juga dapat mengarah pada kemampuan dan perubahan tingkah laku yang lebih buruk (Purwanto, 1990).
Berbagai pendapat ahli di atas, dapat disimpulkan bahwa belajar merupakan sutau perubahan tingkah laku secara menyeluruh dan relatif mantap yang terjadi sebagai akibat interaksi antara individu dengan individu, maupun individu dengan lingkunganya. Hasil dari belajar adalah adanya suatu perubahan tingkah laku dan tumbuhnya kemampuan yang baru. Perubahan tingkah laku yang baru sebagai hasil belajar tidak selalu mengarah pada perubahan yang baik, namun dapat juga mengarah pada perubahan yang lebih buruk.
Berdasarkan rumusan kurikulum pendidikan nasional Indonesia yang telah ditetapkan dalam Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), pemerintah merujuk klasifikasi hasil belajar dari Benyamin S. Bloom dkk, yang membagi hasil belajar menjadi 3 ranah yaitu ranah kognitif, ranah afektif, dan ranah psikomotoris.
a. Ranah kognitif
Berdasarkan taksonomi Bloom yang telah direvisi Anderson dkk (2010) hasil belajar ranah kognitif terdiri dari enam aspek, yaitu menghafal (C1), memahami (C2), menerapkan (C3), menganalisis (C4), mengevaluasi (C5), dan membuat (C6).
Menghafal (C1), tingkah laku dalam tingkat menghafal ini mencakup ingatan akan hal-hal yang pernah dipelajari dan disimpan dalam ingatan berupa fakta, kaidah dan prinsip serta metode yang diketahui. Memahami (C2), tingkah laku pada tingkat memahami ini mencakup kemampuan untuk menangkap makna dan arti dari bahan yang dipelajari. Menerapkan (C3), tingkah laku pada tingkat menerapkan mencakup kemampuan untuk menerapkan suatu kaidah atau metode bekerja pada suatu kasus atau problem yang konkret dan baru. Menganalisis (C4), tingkah laku pada
commit to user
tingkat menganalisis ini mencakup kemampuan untuk menerima suatu kesatuan ke dalam bagian-bagian, sehingga struktur keseluruhan atau organisasinya dapat dipahami dengan baik. Mengevaluasi (C5), tingkah laku pada tingkat mengevaluasi ini mencakup kemampuan laku pada tingkat evaluasi ini mencakup kemampuan untuk membentuk suatu pendapat mengenai sesuatu atau beberapa hal, bersama dengan pertanggungjawaban pendapat itu, yang berdasarkan suatu kriteria tertentu.
Mengkreasikan (C6), tingkah laku pada tingkat mengkreasi ini seperti menggabungkan beberapa unsur menjadi suatu bentuk kesatuan. Proses kognitif yang tergolong dalam kategori ini ada tiga macam yaitu membuat (generating), merencanakan (planning), dan memproduksi (producing).
b. Ranah Afektif
Merujuk pada Aunurrahman (2009) ranah afektif berkenaan dengan sikap dan nilai. Tipe hasil belajar afektif tampak pada siswa dengan berbagai tingkah laku seperti perhatiannya terhadap pelajaran, disiplin, motivasi belajar, menghargai guru dan teman, kebiasaan belajar, dan hubungan sosial. Kategori ranah afektif sebagai hasil belajar menurut Krathwool dan Blooom meliputi penerimaan, partisipasi, penilaian, organisasi, dan internalisasi nilai.
Penerimaan, yaitu kemampuan untuk menerima terkait dengan proses belajar dalam bentuk masalah, situasi, atau gejala. Partisipasi, yaitu kemampuan memberikan tanggapan atau respon terhadap masalah, situasi atau gejala. Penilaian berkenaan dengan apresiasi nilai dan kepercayaan terhadap gejala atau stimulus. Hal tersebut mencakup keinginan untuk diterima dan dinilai orang lain. Organisasi yaitu kemampuan untuk meleburkan kemampuan-kemampuan sebelumnya ke dalam pribadi pebelajar. Karakteristik nilai atau internalisasi nilai, yaitu keterpaduan semua sistem nilai yang telah dimiliki seseorang yang tertanam pada diri pebelajar sebagai hal yang secara otomatis membentuk sikap postif pebelajar. Kelima jenjang tersebut merupakan nilai-nilai yang dibidik secara berjenjang pada ranah afektif .
commit to user
c. Ranah PsikomotorikRanah psikomotorik menurut Aunurrahman (2009) berkenaan dengan hasil belajar keterampilan dan kemampuan bertindak. Menurut Simson terdapat 7 indikator ranah psikomotorik yaitu persepsi, kesiapan, gerakan terbimbing, gerakan terbiasa, gerakan kompleks, penyesuaian pola gerakan dan kreativitas.
Pencapaian perubahan yang diharapkan, baik perubahan pada ranah kognitif, afektif ataupun psikomotorik, belajar hendaknya memperhatikan secara sungguh-sungguh beberapa prinsip yang dapat mendukung terwujudnya hasil belajar yang diinginkan. Slameto (2003) menggolongkan faktor-faktor yang mempengaruhi belajar menjadi dua yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal meliputi kondisi psikologis dan kondisi fisik dari peserta didik. Faktor eksternal meliputi keadaan lingkungan keluarga, masyarakat dan sekolah. Dari kedua faktor tersebut menurut Clark (1981) dalam Sudjana (2005) 70% lebih dominan dipengaruhi oleh faktor intenal dan 30% dipengaruhi lingkungan eksternal.
Faktor internal yang dapat mempengaruhi hasil belajar peserta didik terbagi atas kondisi psikologis dan kondisi fisik. Kondisi psikologis ini meliputi keceradasan, bakat, minat dan motif, sementara kondisi fisik meliputi kondisi kesehatan peserta didik. Kecerdasan memiliki pengaruh yang cukup besar terhadap kemajuan belajar, dalam situasi yang sama siswa yang mempunyai tingkat kecerdasan yang tinggi akan lebih berhasil daripada yang mempunyai tingkat kecerdasan lebih rendah. Bakat atau aptitude merupakan kemamapuan untuk belajar (Hilgard dalam Slameto 2003), kemampuan ini baru akan terealisasi menjadi kecakapan yang nyata sesudah belajar atau berlatih. Minat adalah kecenderungan terhadap sesuatu secara terus-menerus yang didikuti dengan rasa senang. Minat memiliki pengaruh yang cukup besar terhadap hasil belajar siswa, kerena tanpa rasa senang terhadap meteri yang dipelajari siswa tidak akan sungguh-sungguh dalam belajar, sehingga hasil belajarnnya juga tidak optimal. Motif erat hubunganya dengan hasil yang akan dicapai. Dalam mencapai suatu tujuan harus ada perbuatan yang didorong oleh
commit to user
berbagai macam motivasi yang ada dalam dirinya, dengan adanya motivasi belajar yang tinggi dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Faktor internal lain yang berpengaruh terhadap hasil belajar adalah faktor fisik berupa kondisi kesehatan. Kondisi kesehatan memiliki pengaruh yang cukup besar terhadap hasil belajar, hal ini dikarenakan apabila kondisi kesehatan kurang baik maka aktivitas belajar akan terganggu sehingga menyebabkan hasil belajar menurun.
Selain faktor internal di atas, telah dijelaskan bahwa faktor eksternal juga berpengaruh terhadap hasil belajar. Faktor eksternal yang berpengaruh terhadap hasil belajar dapat dikelompokkan menjadi tiga faktor, yaitu faktor lingkungan keluraga, masyarakat, dan sekolah. Faktor keluarga meliputi cara orang tua mendidik, relasi antaranggota keluarga, suasana rumah, keadaan ekonomi keluarga, pengertian orang tua, dan latar belakang kebudayaan.
Masyarakat merupakan faktor ekstern yang berpengaruh terhadap hasil belajar siswa. Pengaruh itu terjadi karena keberadaan siswa dalam masyarakat. Faktor sekolah yang mempengaruhi belajar mencakup metode mengajar, dan fasilitas belajar.
4. Teori Belajar
Teori belajar merupakan suatu teori yang mengkaji mengenai proses- proses belajar dan faktor-faktor yang mempengaruhinya. Teori belajar menaruh perhatian pada hubungan antara variabel-variabel yang menentukan hasil belajar, dengan kata lain teori belajar mengungkapkan hubungan antara kegiatan siswa dengan proses-proses psikologis dalam diri siswa (Siregar dan Nara, 2010). Teori belajar dibedakan menjadi empat macam yaitu teori tingkah laku atau behavioristik, teori belajar kognitif, teori humanistik, dan teori konstruktivisme (Siregar dan Nara, 2010). Teori belajar yang relevan dalam penelitian ini adalah teori belajar kognitif dan teori belajar konstruktivisme.
Teori belajar kognitif menekankan belajar sebagai proses internal. Teori belajar kognitif mengartikan belajar sebagai aktivitas yang melibatkan proses berpikir yang kompleks dan proses mental untuk mendapatkan pengetahuan, pengetahuan dibangun dalam diri pebelajar melalui interaksi yang
commit to user
berkesinambungan dengan lingkungan (Suprijono, 2011). Konsep terpenting dalam teori kognitif dalam penelitian ini dikemukakan oleh Piaget. Teori belajar kognitif dari Piaget menerangkan bahwa proses belajar terdiri atas tiga tahapan, yakni asimilasi, akomodasi, dan equilibrasi (penyeimbangan).
Asimilasi adalah proses pengintegrasian informasi baru ke struktur kognitif yang sudah ada. Akomodasi adalah proses penyesuaian struktur kognitif ke dalam situasi yang baru. Equlibrasi adalah penyesuaian kesinambungan antara asimilasi dan akomodasi. Penyeimbangan antara dunia luar dan dunia dalam.
Seseorang dengan kemampuan equilibrasi yang baik akan mampu menata berbagai informasi yang diterimanya dalam urutan yang baik, jernih, dan logis. Kemampuan equilibrasi merupakan kemampuan pengaturan kogitif yang merupakan kemampuan metakognisi yaitu regulasi metakognisi. Dalam equilibrasi siswa mengintegrasikan kemampuan awal dengan kemampuan baru, kemampuan awal yang harus dimiliki dalam pemahaman dan peningkatan hasil belajar biologi haruslah diketahui terlebih dahulu. Penelitian ini memprediksi bahwa kemampuan awal yang dimiliki siswa dalam peningkatan hasil belajar biologi adalah kemampuan metakogisi, kecerdasan verbal, dan kecerdasan interpersonalnya. Ketiga kemampuan tersebut sebagai kemampuan awal akan dapat diintegrasikan dengan konsep biologi yang akan diterima, sehingga siswa dapat menerima konsep tersebut dengan baik, dan memberikan hasil belajar yang baik.
Teori belajar konstruktivistik, mengartikan bahwa belajar merupakan suatu proses pembentukan pengetahuan (Siregar dan Nara, 2010). Pembentukan pengetahuan ini harus dilakukan oleh siswa melalui komunikasi dan interaksi dalam proses belajar, kedua aspek ini dapat terakomodasi melalui pegembangan kecerdasan verbal dan kecerdasan interpersonal. Dalam teori belajar konstruktivisme guru tidak mentransfer pengetahuan yang dimilikinya, melainkan membantu siswa untuk membentuk pengetahuannya sendiri dan dituntut untuk lebih memahami jalan pikiran atau cara pandang siswa dalam belajar. Konstruktivistik mengarahkan perhatiannya pada bagaimana seseorang mengkonstruksi pengetahuan dari pengalamnnya. Kemampuan
commit to user
untuk mengatur pengetahuan dalam mengkonstruksi pengetahuan merupakan bagian dari keterampilan metakognisi siswa (Siregar dan Nara, 2010). Teori belajar kognitif Pieget dan teori belajar konstruktivisme relevan dalam penelitian ini untuk memahami kemampuan awal siswa dalam peningkatan hasil belajar Biologi.
C. KERANGKA BERPIKIR
Keseluruhan proses pembelajar di sekolah, kegiatan belajar merupakan kegiatan yang paling pokok. Ini berarti bahwa berhasil tidaknya pencapaian tujuan pendidikan banyak bergantung kepada bagaimana proses belajar yang dialami oleh siswa sebagai anak didik. Belajar merupakan proses perubahan tingkah laku yang dipengaruhi oleh beberapa faktor yang dikelompokkan menjadi faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal meliputi kecerdasan, bakat, minat, dan motivasi. Sementara faktor eksternal meliputi keadaan lingkungan sekolah, lingkungan keluarga, dan lingkungan masyarakat (Slameto, 2003). Dari kedua faktor tersebut menurut Clark (1981) dalam Sudjana (2005) 70% lebih dominan dipengaruhi oleh faktor intenal dan 30% dipengaruhi lingkungan eksternal.
Beberapa faktor internal yang cukup penting adalah kemampuan metakognisi dan kecerdasan. Kecerdasan mempunyai pengaruh yang besar terhadap kemajuan belajar seseorang. Seseorang yang mempunyai kecerdasan yang baik umumnya akan lebih mudah belajar dan hasil belajarnya akan cenderung baik (Slameto, 2003). Penelitian mengenai kecerdasan dengan hasil belajar telah banyak dilakukan. Laidra (2007) menemukan adanya hubungan yang kuat antara kecerdasan dan prestasi akademik. Hal yang senada juga diperoleh Deary, Strand, Smith, dan Fernandes (2007) yang megemukakan adanya hubungan yang kuat antara kecerdasan dan prestasi akademik. Gardner (1983), membagi jenis kecerdasan menjadi delapan jenis kecerdasan, yaitu kecerdasan verbal-linguistik, logis matematis, visual-spasial, kinestetis, musik, intrapersonal, interpersonal, dan kecerdasan naturalis. Dari delapan jenis kecerdasan tersebut, kecerdasan verbal dan kecerdasan interpersonal merupakan kecerdasan yang cukup menunjang proses pembelajaran biologi, mengingat bahwa pembelajaran
commit to user
biologi di tingkat SMA merupakan suatu pembelajaran yang memuat konsep- konsep kehidupan yang disampaikan dalam kata maupun kalimat yang cukup kompleks. Sebagai ilmu sains proses pembelajaran biologi selalu melibatkan kelompok-kelompok belajar dan interaksi siswa dalam memahami konsep, sehingga kecerdasan interpersonal menjadi bagian penting di dalamnya.
Selain kecerdasan interpersonal dan kecerdasan verbal, kemampuan metakognisi dipandang sebagai kemampuan yang berhubungan dengan hasil belajar siswa, karena dengan kemampuan metakognisi, siswa dapat mengetahui kekurangan dan kelebihan dalam belajar, kemudian mampu menemukan strategi yang sesuai dengan kemampuan kognitif yang dimilikinya hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan Rahman dan Phillips (2006) yang menemukan adanya hubungan positif dan signifikan natara kemampuan metakognisi dengan motivasi yang berimplikasi pada hasil belajar. Dengan adanya kemampuan metakognisi, kecerdasan verbal dan kecerdasan interpersonal yang tinggi dalam diri siswa maka diharapkan dapat meningkatkan hasil belajarnya.
commit to user
Berdasarkan uraian di atas, kerangka berpikir penelitian ini dapat digambarkan sebagai berikut :
Gambar 1. Kerangka Berpikir B
E L A J A R
Faktor Eksternal 30%
dipengaruhi oleh faktor eksternal (Clark dalam sudjana, 2005:39) Faktor Internal, 70%
dipengaruhi oleh faktor internal (Clark dalam sudjana, 2005:39)
Kecerdasan, Dalam situasi yang sama, siswa yang mempunyai tingkat kecerdasan yang tinggi akan lebih berhasil daripada yang mempunyai tingkat kecerdasan rendah (Slameto, 2003:56) Kecerdasan oleh Howard Gardner (1983) dibagi
menjadi delapan jenis kecerdasan yang disebut multiple intelligences.
Kemampuan metakognisi (kesadaran berpikir tentang apa yang diketahui dan tidak diketahui (Flavell, 1976) memiliki kemampuan metakognisi tinggi, memiliki strategi belajar yang tepat, sehingga
meningkatkan motivasi dan hasil belajar (Rahman dan Phillips, 2006)
Pembelajaran biologi memuat konsep- konsep yang terwujud dalam kata dan kalimat Sebagai ilmu sains,
pembelajaran biologi banyak melibatkan interaksi siswa dalam kelompok belajar untuk memahami konsep.
Verbal
Interpersonal
Hasil Belajar Kognitif Biologi
commit to user
D. HIPOTESISBerdasarkan tinjauan pustaka dan kerangka pemikiran yang telah diuraikan di atas, maka hipotesis pada penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Terdapat hubungan yang positif dan signifikan antara kemampuan metakognisi dengan hasil belajar kognitif biologi siswa kelas XI IPA SMA Negeri 3 Sukoharjo tahun pelajaran 2011/2012.
2. Terdapat hubungan yang positif dan signifikan antara kecerdasan verbal dengan hasil belajar kognitif biologi siswa kelas XI IPA SMA Negeri 3 Sukoharjo tahun pelajaran 2011/2012.
3. Terdapat hubungan yang positif dan signifikan antara kecerdasan interpersonal dengan hasil belajar kognitif biologi siswa kelas XI IPA SMA Negeri 3 Sukoharjo tahun pelajaran 2011/2012.
commit to user
BAB IIIMETODOLOGI PENELITIAN
A. Tempat dan Waktu Penelitian 1. Tempat Penelitian
Penelitian telah dilaksanakan di SMA Negeri 3 Sukoharjo pada kelas XI IPA tahun pelajaran 2011/2012 yang beralamat di Jl. Jendral Soedirman 197, Sukoharjo.
2. Waktu Penelitian
Penelitian dilaksanakan pada semester genap tahun pelajaran 2011/2012.
Pelaksanaan penelitian dilaksanakan secara bertahap-tahap sebagai berikut:
a. Tahap persiapan, meliputi permohonan pembimbing, survei sekolah yang bersangkutan, pengajuan judul skripsi, pembuatan proposal, pembuatan instrumen penelitian, dan perijinan penelitian yang dilaksanakan pada bulan Juli sampai Januari 2011
b. Tahap penelitian, meliputi semua kegiatan yang dilaksanakan di tempat penelitian yang meliputi uji coba instrumen, pelaksanaan penelitian, dan pengambilan data yang dilaksanakan bulan Februari sampai Maret 2012.
c. Tahap penyelesaian, meliputi analisis data dan penyusunan laporan yang dilaksanakan bulan Maret 2012 sampai Mei 2012.
No Kegiatan Waktu pelaksanaan
Okt Nov Des Jan Feb Mar Apr Mei 1 Tahap Persiapa
- Pengajuan Judul - Penyusunan proposal - Penyusunan
instrumen - Seminar proposal - Perijinan penelitian 2 Tahap pelaksanaan
- Pengujian instrument - Pengambilan data - Pengolahan data 3 Tahap penyelesaian
- Analisa data - Penyusunan laporan
Gambar 2. Jadwal Penelitan
commit to user
B. Rancangan PenelitianPenelitian bersifat korelasional. Rancangan penelitian disajikan dalam bagan sebagai berikut:
Variabel Bebas (X) Variabel terikat (Y)
Gambar 3. Paradigma Penelitian
Dari Gambar 3, dapat dijelaskan bahwa penelitian ini mencari hubungan antara variabel bebas (X1, X2, dan X3) terhadap variabel terikat (Y). Variabel X diprediksi memiliki hubungan yang positif dan signifikan terhadap variabel Y.
Analisis penelitian menggunakan analisis regresi ganda, yang ditunjukkan dengan persamaan sebagai berikut :
= a + b1X1 + b2X2 + b3X3
Dimana :
= Variabel terikat (Hasil belajar kognitif) X1 = Variabel bebas (kemampuan metakognisi) X2 = Variabel bebas (kecerdasan verbal) X3 = Variabel bebas (kecerdasan interpersonal) a = Intersep
b = Koefisien regresi
Y
X3 X2 X1
Kecerdasan Interpersonal Kecerdasan Verbal Kemampuan Metakognisi
Hasil Belajar Biologi
commit to user
C. Populasi dan Sampel 1. Populasi PenelitianPopulasi penelitian yang ditetapkan adalah siswa kelas XI IPA SMA Negeri 3 SUKOHARJO tahun pelajaran 2011/2012. Populasi penelitian mempunyai karakteristik akademik menengah di antara SMA di Kabupaten Sukoharjo. Populasi berjumlah 159 Siswa yang terbagi dalam 4 kelas di kelas XI IPA.
2. Sampel Penelitian
Penelitian dilakukan dengan mengambil sampel dari populasi, hal ini dilakukan dengan pertimbangan biaya dan waktu penelitian. Jumlah sampel seluruhnya dihitung dengan rumus dari Surakhmad (1994). Apabila ukuran populasi sebanyak kurang lebih 100, maka pengambilan sampel sekurag- kurangnya 50% dari ukuran populasi. Apabila ukuran populasi sama dengan atau lebih dari 1000, ukuran sampel diharapkan sekurang-kurangnya 15% dari ukuran populasi. Maka penentuan jumlah sampel dapat dirumuskan :
S = 15 % + (50% - 15%)
Dimana : S : Jumlah sampel yang diambil n : Jumlah anggota populasi Maka jumlah minimal sampel adalah :
S = 15 % + (50%-15%)
= 15 % + 32,7%
= 47,7%
Jadi jumlah minimal sampel sebesar 47,7% × 159 = 75,8 76
Sampel yang diambil dalam penelitian berjumlah 76 siswa, sesuai dengan jumlah sampel minimal penelitian.
1000-n 1000-100
1000- 159 1000-100
commit to user
D. Teknik pengambilan sampel
Teknik pengambilan sampel yang digunakan pada penelitian ini adalah simple random sampling dengan bantuan tabel random. Simple random sampling ialah pengambilan sampel dari anggota populasi secara acak, setiap anggota populasi memliliki kesempatan yang sama untuk dijadikan sampel. (Riduwan 2004)
E. Pengumpulan Data 1. Variabel Penelitian
Pada penelitian ini terdapat tiga variabel bebas dan satu variabel terikat. Variabel-variabel tersebut adalah sebagai berikut:
a. Variabel Bebas
Variabel bebas dalam penelitian ini adalah kemampuan metakognisi, kecerdasan verbal dan kecerdasan interpersonal.
b. Variabel Terikat
Variabel terikat adalah variabel yang kehadirannya dipengaruhi oleh variabel yang lain. Variabel terikat dalam penelitian ini adalah Hasil belajar kognitif biologi.
2. Metode Pengumpulan Data
Data penelitian diambil dengan beberapa cara yaitu : a. Teknik Tes
Teknik tes digunakan untuk mengambil data kecerdasan verbal. Tes berbentuk tes objektif yaitu berbentuk pilihan ganda yang merujuk pada tes potensial akademik aspek kemampuan verbal dari Iskandar (2002).
b. Teknik Dokumentasi
Teknik dokumentasi ditujukan untuk memperoleh data primer dari tempat penelitian, dan data yang relevan dengan penelitian (Riduwan, 2004). Dalam penelitian ini data yang dikumpulkan dengan teknik dokumentasi adalah data nilai kognitif Biologi siswa semester gasal dan semester genap kelas XI IPA tahun pelajaran2011/2012.
c. Teknik Angket
commit to user
Teknik angket digunakan untuk mengambil data kemampuan metakognisi dan kecerdasan interpersonal siswa. Angket kemampuan metakognisi menggunakan angket yang telah dikembangkan oleh Scraw dkk (1994). Angket kecerdasan interpersonal menggunakan angket tertutup yang berpedoaman pada skala Likert , dalam pengisian angket ini responden diminta untuk memilih satu jawaban yang sesuai dengan karakteristik dirinya dengan cara memberi tanda silang (x) atau tanda
Tabel 1. Skor Penilaian Berdasarkan Skala Likert Skor untuk aspek yang dinilai Nilai
(+) (-)
SS Sangat Setuju S Setuju
N Netral TS Tidak Setuju
STS Sangat Tidak Setuju
5 4 3 2 1
1 2 3 4 5 3. Teknik Penyusunan Instrumen
a. Kemampuan metakognisi
Kemapuan metakognisi merupakan kesadaran berfikir tentang apa yang diketahui dan apa yang tidak diketahui. Kemampuan metakognisi dapat diukur menggunakan angket yang telah dikembangkan oleh Scraw dkk (1994) dengan perbaikan melalui validitas tim ahli oleh Dr. Baskoro Adi Prayitno. M,Pd. Validitas konstruk kemampuan metakognisi dapat dilihat pada Tabel 2.
Tabel 2. Validitas Konstruk MAI (Metakognisi Awareness Inventory)
Variabel Komponen Indikator
Kemampuan metakognisi
Pengetahuan metakognisi
Pengetahuan Deklaratif Pengetahuan Prosedural Pengetahuan Kondisional Regulasi
Metakognisi
Perencanaan
Manajemen Informasi Monitoring
Revisi Evaluasi
Instrumen uji coba untuk mengukur kemampuan metakognisi dapat dilihat pada Lampiran 1 dan instrument penelitian pada Lampiran 3.
commit to user
b. Kecerdasan VerbalKecerdasan verbal merupakan kemampuan seseorang untuk berfikir logis terhadap rangkaian kata-kata yang tersedia. Kecerdasan verbal dapat diukur menggunakan tes kemampuan verbal yang telah dikembangkan oleh Yul Iskandar (2002) dengan perbaikan melalui validitas tim ahli oleh Dra. Sumarwati, M.Pd. Validitas konstruk tes kecerdasan verbal dapat dilihat pada Tabel 3.
Tabel 3. Validitas Konstruk Kecerdasan Verbal
Divinisi operasional Indikator
Kecerdasan verbal merupakan kecerdasan untuk berfikir logis dalam memecahkan suatu permasalahan dalam suatu deret kata atau kalimat (Gardner, 1983)
1. Membaca Teks
2. Analogi (Hubungan antar kata) 3. Lawan kata
4. Persamaan Kata
Instrumen uji coba untuk mengukur kecerdasan verbal dapat dilihat pada Lampiran 1 dan instrument penelitian pada Lampiran 3.
c. Kecerdasan Interpersonal
Kecerdasan interpersonal merupakan kecerdasan dalam berinteraksi terhadap sesamanya. Kecerdasan interpersonal dapat diukur menggunakan angket melalui pengembangan Aspek dan indikator . Validitas angket dilakukan oleh tim ahli dari Psikologi Dra. Sri Wiyanti,M.Si. Validitas konstruk dapat dilihat pada Tabel 4.
Tabel 4. Validitas Konstruk Angket Kecerdasan Interpersonal
Konsep dasar Aspek Indikator
Kecerdasan interpersonal merupakan
kemampuan dalam berinteraksi dengan sesama.
1. Hubungan siswa dengan guru
1.1 Sikap siswa terhadap guru yang mengajar didalam kelas
1.2 Komunikasi siswa dengan guru
1.3 Sikap siswa terhadap guru di luar kelas
2. Hubungan Siswa dengan siswa
2.1 Sikap siswa dalam kelompok belajar.
2.2 Sikap sosial siswa terhadap teman lain.
commit to user
Konsep dasar Aspek Indikator
3. Hubungan siswa dengan karyawan
3.1 Sikap siswa terhadap staf administrasi sekolah 3.2 Sikap siswa terhadap
petugas laboratorium 3.3 Sikap siswa terhadap
petugas perpustakaan 3.4 Sikap siswa terhadap
karyawan sekolah secara umum
4. Hubungan siswa dengan
masyarakat
4.1 Keikutsertaan siswa dalam organisasi kemasyarakatan
4.2 Partisipasi siswa dalam kegiatan sosial
4.3 Komunikasi siswa terhadap masyarakat sekitar.
5. Partisipasi siswa dalam
pembelajaran
5.1 Sikap siswa terhadap pembelajaran di kelas 5.2 Sikap siswa terhadap
pemberian tugas dan ujian
Instrumen uji coba untuk mengukur kecerdasan interpersonal dapat dilihat pada Lampiran 1 dan instrument penelitian pada Lampiran 3.
d. Hasil belajar
Data hasil belajar diperoleh dari dokumentasi berupa nilai kognitif mata pelajaran Biologi kelas XI IPA SMA Negeri 3 Sukoharjo semester gasal dan semester genap tahun pelajaran 2011/2012.
F. Analisis Instrumen
Instrumen diujicobakan terlebih dahulu untuk menguji validitas dan reliabilitas item pada angket. Hasil uji validitas dan reliabilitas disajikan sebagai berikut :
1. Uji Validitas Item Angket
Validitas butir soal dan butir angket dihitung dengan menggunakan rumus angka kasar koefisien Product moment dari Karl Pearson sebagai berikut:
commit to user
Rxy =} }{
{ N x
2x
2N y
2y
2y
x xy N
Keterangan :
Rxy : koefisien korelasi antara x dan y
n : cacah subyek yang dikenai tes (instrumen) X : skor untuk butir ke-i
Y : skor total (dari subyek uji coba)
Jika harga ruv < r tabel, maka korelasi tidak signifikan sehingga item pertanyaan dikatakan tidak valid. Dan sebaliknya, jika ruv > r tabel maka item petanyaan dinyatakan valid (Winarsunu, 2002).
Hasil try out untuk validitas item angket kemampuan metakognisi dan kecerdasan interpersonal serta validitas item soal kecerdasan verbal disajikan dalam Tabel 5 dan selengkapnya pada Lampiran 2.
Tabel 5. Rangkuman Uji Validitas Hasil Tes Try Out
Penilaian Jumlah
Butir
Keputusan Uji Validitas Valid Invalid
Kemampuan Metakognisi 52 49 3
Kecerdasan Verbal 40 34 6
Kecerdasan Interpersonal 50 46 4
2. Uji Reliabilitas Angket
Reliabel artinya dapat dipercaya. Suatu tes dikatakan mempunyai taraf reliabilitas yang tinggi jika tes tersebut dapat memberikan hasil yang tetap apabila diteskan berulang-ulang. Untuk menghitung tingkat reliabilitas tes Kecerdasan verbal, diguanakan rumus Kuder Richason (KR-20) sebagai berikut:
2 2
11 1 S
pq S
n r n
Sedangkan untuk menghitung tingkat reliabilitas item angket, dalam penelitian ini digunakan rumus Alpha dari Cronbach, yaitu: