• Tidak ada hasil yang ditemukan

PERLINDUNGAN ANAK

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "PERLINDUNGAN ANAK "

Copied!
56
0
0

Teks penuh

(1)

NASKAH AKADEMIK

RANCANGAN PERATURAN DAERAH

PEMERINTAH DAERAH PROVINSI JAWA BARAT TENTANG

PERLINDUNGAN ANAK

Oleh:

Dr. Niken Savitri, S.H., MCL.

A Dwi Rachmanto, S.H., M.Hum.

Pemerintah Daerah Provinsi Jawa Barat

Dinas Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak Dan Keluarga Berencana

Bandung, November 2018

(2)

••• i •••

DAFTAR ISI

Isi Halaman

Daftar Isi i

BAB I PENDAHULUAN 1

A. Latar Belakang ... 1

B. Identifikasi Masalah ... 4

C. Tujuan Dan Kegunaan ... 4

D. Metode Penelitian ... 5

BAB II KAJIAN TEORITIS DAN EMPIRIS 7 A. Kajian Teoritis ... 7

B. Kajian Prinsip Penyusunan Norma ... 11

C. Kajian Empiris ... 13

BAB III EVALUASI DAN ANALISIS PERUNDANGAN TERKAIT 19 BAB IV LANDASAN FILOSOFIS, YURIDIS DAN SOSIOLOGIS 25 A. Landasan Filosofis ... 25

B. Landasan Yuridis ... 27

C. Landasan Sosiologis ... 30

BAB V JANGKAUAN, ARAH PERATURAN DAN RUANG LINGKUP MATERI MUATAN PERATURAN DAERAH 34 A. Jangkauan Peraturan Daerah Provinsi Jawa Barat Tentang Perlindungan Anak ... 34

B. Arah Peraturan Daerah Provinsi Jawa Barat Tentang Perlindungan Anak ... 38

C. Ruang Lingkup Peraturan Daerah Provinsi Jawa Barat Tentang Perlindungan Anak ... 39

(3)

••• ii •••

BAB VI PENUTUP 42

A. Kesimpulan ... 42

B. Saran ... 45

Daftar Pustaka ... 46

Curriculum Vitae Penyusun Naskah Akademik ... 49

(4)

Naskah Akademik Peraturan Daerah Provinsi Jawa Barat Tentang Perlindungan Anak

••• 1 •••

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Undang-Undang Perlindungan Anak No. 23 Tahun 2002 dalam pertimbangannya menyatakan bahwa anak adalah amanah dari karunia Tuhan Yang Maha Esa, yang dalam dirinya melekat harkat dan martabat sebagai manusia seutuhnya. Pasal 1 angka 1 Undang-Undang tersebut menyatakan bahwa yang dimaksud dengan anak adalah seseorang yang belum berusia 18 tahun, termasuk anak yang masih dalam kandungan. Bila melihat kategori tersebut dapat disimpulkan bahwa anak adalah manusia yang belum dewasa dan berumur di bawah 18 tahun sehingga memiliki kerentanan secara fisik dan psikis sehingga membutuhkan pengawasan dan perlindungan dari manusia dewasa. Pasal 20 Undang-Undang tersebut juga menguraikan siapa saja yang memliki kewajiban dan tanggung jawab terhadap penyelenggaraan perlindungan anak, yaitu: Megara, pemerintah, masyarakat, keluarga dan orangtua.

Kerentanan yang dimiliki anak yang disebutkan di atas menyebabkan anak mempunyai ketergantungan yang sangat tinggi terhadap seluruh penyelenggara perlindungan anak. Seluruh penyelenggara perlindungan anak mempunyai tugas dan fungsi masing-masing yang satu sama lainnya saling terikat dibawah pengertian perlindungan sebagai wadahnya. Bentuk perlindungan anak dalam suatu negara antara lain dengan memberikan hak anak secara khusus dan perlindungan yang terkait dan tercakup dalam pemenuhan serta penghargaan hak asasi manusia terhadap anak yang bersifat khusus pula.

Indonesia meratifikasi instrumen internasional Konvensi Hak Anak (KHA) sejak tahun 1990 melalui Keppres No. 36 Tahun 1990. Dalam KHA hak-hak anak

(5)

Naskah Akademik Peraturan Daerah Provinsi Jawa Barat Tentang Perlindungan Anak

••• 2 •••

dikelompokkan menjadi 4 (empat) hak dasar. Pertama, hak untuk bertahan hidup (survival right). Kedua adalah hak untuk tumbuh dan berkembang (development right). Ketiga adalah hak atas perlindungan (protection right) dan terakhir adalah hak untuk berpartisipasi (participation right). Dengan melakukan ratifikasi terhadap KHA tersebut, maka Indonesia menyepakati bahwa seluruh hak anak adalah hak asasi manusia dari seorang anak yang setara. Indonesia juga akan melakukan segala upaya untuk memastikan seluruh hak tersebut dihormati, dilindungi dan dipenuhi.

Indonesia merealisasikan hal tersebut dengan mengembangkan suatu kerangka kerja hukum yang relatif progresif untuk memajukan hak-hak anak. Kerangka kerja hukum tersebut terdapat pada Undang-Undang Perlindungan Anak No.23 Tahun 2002, utamanya adalah realisasi legislatif atas ratifikasi KHA tersebut.

Sejak pemberlakuan pertama kalinya pada tahun 2002, Undang-Undang No.

23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak sudah 2 kali mengalami perubahan.

Perubahan pertama disahkan melalui Undang-Undang No. 35 Tahun 2014 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak.

Undang-Undang No. 35 tahun 2014 ini lahir dengan latar belakang adanya tumpang tindih antar peraturan perUndang-Undangan sektoral terkait definisi anak dan maraknya kasus kejahatan seksual pada anak serta belum terakomodirnya perlindungan hukum terhadap anak penyandang disabilitas. Perubahan kedua Undang-Undang Perlindungan Anak menjadi Undang-Undang No. 17 Tahun 2016 disusun untuk mempertegas perlunya pemberatan sanksi pidana dan denda bagi pelaku kejahatan terhadap anak terutama kejahatan seksual dengan tujuan memberikan efek jera dan mendorong terwujudnya langkah-langkah konkrit dalam memulihkan kembali kondisi fisik, psikis, dan sosial anak.

Perubahan-perubahan yang dituangkan dalam Undang-Undang Perlindungan Anak merupakan ketentuan dasar yang harus didukung oleh Peraturan Daerah (Peraturan Daerah) sebagai instrumen pertama yang mengatur implementasi

(6)

Naskah Akademik Peraturan Daerah Provinsi Jawa Barat Tentang Perlindungan Anak

••• 3 •••

kewenangan daerah. Adanya Peraturan Daerah Perlindungan Anak menjadi sangat penting dalam mewujudkan tujuan otonomi daerah yang berkesinambungan dengan tujuan nasional dalam konteks perlindungan anak terutama karena Indonesia termasuk salah satu negara yang meratifikasi Konvensi Hak Anak. Pada tahun 2006, Jawa Barat telah memberlakukan Peraturan Daerah Provinsi Jawa Barat No. 5 tahun 2006 tentang Perlindungan Anak yang mengatur tentang upaya perlindungan anak.

Munculnya Peraturan Daerah tersebut merupakan langkah awal Jawa Barat untuk meneguhkan komitmen Jawa Barat dalam rangka mengedepankan upaya perlindungan anak. Peraturan Daerah (Peraturan Daerah) yang mengatur tentang Perlindungan Anak merupakan panduan yang sangat dibutuhkan untuk menjaga agar program kabupaten/kota layak anak dapat terus diimplementasikan secara berkesinambungan karena Peraturan Daerah menjadi koridor yang menjaga arah kebijakan daerah agar tidak bergeser dari rencana pembangunan nasional yang diturunkan dari Undang-Undang. Adanya Peraturan Daerah menjadi jaminan agar kelangsungan upaya perlindungan anak dapat terus berjalan tanpa terkena dampak pergantian kepala daerah.

Selain dengan kemudian diberlakukannya Undang-Undang yang mengubah, melengkapi dan menyempurnakan Undang-Undang Perlindungan Anak No. 23 tahun 2002, di jajaran organisasi pemerintahan provinsi Jawa Barat telah terjadi adanya perubahan baik yang bersifat internal di lembaga pemerintahan maupun eksternal di tingkat masyarakat dimana hal tersebut menuntut adanya penyesuaian dari aturan yang sebelumnya telah tertuang dalam Peraturan Daerah No. 5 tahun 2006.

Perubahan-perubahan administratif maupun struktural mengenai tatalaksana peraturan kelembagaan di level pemerintahan mengharuskan dilakukannya perubahan atas Peraturan Daerah tersebut. Selain itu, berubahnya perilaku sosial kemasyarakatan sebagai dampak dari dinamika sosial menyebabkan permasalahan anak di Jawa Barat yang semakin kompleks dan membutuhkan penanganan dan

(7)

Naskah Akademik Peraturan Daerah Provinsi Jawa Barat Tentang Perlindungan Anak

••• 4 •••

perlindungan secara terintegrasi. Karenanya pembaharuan dan pemutakhiran Peraturan Daerah Provinsi Jawa Barat No. 5 tahun 2006 tentang Perlindungan Anak akan menjadi langkah yang tepat untuk menjawab permasalahan-permasalahan tersebut di atas.

B. Identifikasi Masalah

Sejalan dengan apa yang telah diuraikan dalam Latar Belakang di atas, permasalahan yang akan dikaji dalam Naskah Akademik Perancangan Peraturan Daerah Provinsi Jawa Barat tentang Perlindungan Anak ini berhubungan dengan pembaruan dan pemutakhiran rumusan pengaturan penyelenggaraan perlindungan anak di Jawa Barat terkait adanya kondisi yang baru baik dari sisi normatif maupun kelembagaan. Dengan demikian permasalahan yang akan dibahas dalam Naskah Akademik ini adalah:

1. Perkembangan dan perubahan pengaturan Perlindungan Anak melalui perundangan nasional yang berpengaruh pada Peraturan Daerah;

2. Data empiris kondisi anak di Provinsi Jawa Barat yang berpengaruh terhadap pengaturan perlindungan anak di Jawa Barat;

3. Analisis pembaruan dan pemutakhiran Peraturan Daerah yang lama dan penyusunan Skema Rancangan Peraturan Daerah tentang Perlindungan Anak yang baru.

C. Tujuan Dan Kegunaan

Sesuai dengan ruang lingkup identifikasi masalah yang dikemukakan di atas, tujuan penyusunan Naskah Akademik ini dirumuskan sebagai berikut:

1. Mengkaji perkembangan dan perubahan dari pengaturan Perlindungan Anak melalui perundangan nasional yang berpengaruh pada Peraturan Daerah;

(8)

Naskah Akademik Peraturan Daerah Provinsi Jawa Barat Tentang Perlindungan Anak

••• 5 •••

2. Meneliti data empiris kondisi anak di Provinsi Jawa Barat yang berpengaruh terhadap pengaturan perlindungan anak di Jawa Barat;

3. Menganalisa pembaruan dan pemutakhiran Peraturan Daerah yang lama dan menyusun Skema Rancangan Peraturan Daerah tentang Perlindungan Anak yang baru.

Kegunaan dari pembuatan Naskah Akademik Rancangan Peraturan Daerah ini adalah:

1. Diharapkan Naskah Akademik ini dapat menjadi referensi yang berguna bagi penyusunan Rancangan Peraturan Daerah untuk merumuskan pengaturan dan penyelenggaran perlindungan anak di Daerah pada umumnya dan di Provinsi Jawa Barat khususnya;

2. Diharapkan agar hasil dari penelitian ini dapat menjadi standar dan pedoman dalam penyelenggaraan perlindungan anak di daerah melalui pengaturan Peraturan Daerah.

D. Metode Penelitian

Penelitian yang akan menghasilkan Naskah Akademik Peraturan Daerah Provinsi Jawa Barat tentang Perlindungan Anak ini dilakukan melalui kajian normatif atas seluruh perturan perUndang-Undangan tentang anak baik secara horisontal maupun vertikal yang berlaku di Indonesia. Kajian normatif artinya melakukan kajian dengan mengunakan metode penelitian normatif sebagai alat dalam melakukan penelitian.

Metode penelitian hukum dapat dibagi menjadi: metode penelitian hukum normatif/dogmatis1; metode penelitian hukum historis, metode penelitin hukum

1 I Made Pasek Diantha berpendapat bahwa Metode Penelitian Normatif adalah meneliti hukum dari perspektif internal dengan obyek penelitiannya adalah norma hukum. Lihat I Made Pasek Diantha,

(9)

Naskah Akademik Peraturan Daerah Provinsi Jawa Barat Tentang Perlindungan Anak

••• 6 •••

sosiologis, dan metode penelitian hukum multi dan inter disipliner. Penelitian Naskah Akademik Peraturan Daerah Provinsi Jawa Barat tentang Perlindungan Anak ini akan menggunakan metode penelitian hukum normatif/dogmatis, yaitu metode yang menjadi alat untuk mengetahui atau mengenal apakah dan bagaimanakah hukum positif atas suatu masalah hukum, metode yang menjadi alat untuk menyusun dokumen-dokumen hukum, metode yang digunakan untuk menulis makalah, atau buku, metode yang dapat menjawab sekaligus menjelaskan serta menerangkan kepada orang lain apakah dan bagaimanakah hukumnya mengenai peristiwa atau masalah tertentu, metode yang digunakan untuk melakukan penelitian dasar (basic research) di bidang hukum, metode yang dapat digunakan untuk menyusun Undang- Undang, dan metode yang dapat digunakan untuk menyusun rencana-rencana pembangunan hukum2.

Metodologi Penelitian Hukum Normatif dalam Justifikasi Teori Hukum, Prenada Media Group, Jakarta, 2016, hlm. 12.

2 C.F.G. Sunaryati Hartono, Penelitian Hukum Di Indonesia Pada Akhir Abad Ke-20, Alumni, Bandung, hlm., 139-141

(10)

Naskah Akademik Peraturan Daerah Provinsi Jawa Barat Tentang Perlindungan Anak

••• 7 •••

BAB II

KAJIAN TEORITIS DAN PRAKTEK EMPIRIS

A. Kajian Teoritis

1. Konvensi Hak Anak

Anak adalah anugerah Tuhan Yang Maha Esa kepada setiap keluarga, lingkungan bahkan kepada Negara. Anak inilah yang kelak akan tumbuh berkembang menjadi pemimpin bangsa, pemimpin kelompok dan pemimpin dalam masyarakat serta pemimpin bagi dirinya sendiri untuk mengembangkan, mengelola dan membangun Negara Indonesia. Sebagai generasi penerus yang akan mewujudkan cita-cita bangsa, anak memiliki hak asasi manusia yang dimilikinya sejak lahir. Karena belum matangnya fisik dan mental seorang anak, maka anak membutuhkan orang dewasa, lingkungan, masyarakat dan pemerintah untuk menjaga hak asasi manusia yang telah dimilikinya. Anak membutuhkan lingkungan yang akan mengawalnya tumbuh berkembang menjadi sosok dewasa yang kelak dapat dipercaya mengemban kewajiban dan tanggung jawab membangun Negara ini dengan memenuhi hak asasi anak yang dimilikinya.

Karena pentingnya hak asasi anak tersebut, Negara-negara di dunia merasa perlu untuk menyepakati suatu standar terkait perlindungan hak asasi anak.

Gagasan mengenai hak anak bermula setelah berakhirnya Perang Duania I sebagai reaksi atas pendertaan yang ditimbulkan perang terutama kepada perempuan dan anak.3 Deklarasi Anak pertama dilakukan pada tahun 1924 dan deklarasi internasional tentang anak yang kedua dinyatakan pada tahun 1959 oleh Majelis Umum Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB). Tahun 1979 dicanangkan

3 Ima Susilowati dkk, Pengertian Konvensi Hak Anak, UNICEF.

(11)

Naskah Akademik Peraturan Daerah Provinsi Jawa Barat Tentang Perlindungan Anak

••• 8 •••

Tahun Anak Internasional yang kemudian menjadi awal dari perumusan Konvensi Hak Anak.4

Pada tahun 1989 Konvensi Hak Anak (KHA) diadopsi oleh Majelis Umum PBB dan pada tanggal 2 September 1990, KHA mulai diberlakukan sebagai hukum internasional.KHA atau United Nations Convention on the Rights of the Child adalah sebuah konvensi internasional yang berisikan hak-hak sipil, politik, ekonomi, social dan budaya anak. Konvensi ini mengikat secara yuridis maupun politis Negara-negara yang telah meratifikasinya.

Indonesia meratifikasi KHA dengan Keputusan Presiden No. 36/1990 tanggal 25 Agustus 1990 dan berlaku sejak 5 Oktober 1990. Sebagai Negara yang mengikatkan diri pada sebuah kesepakatan tentang standar hak asasi manusia, Indonesia terikat untuk melaksanakan apa yang telah diamanatkan dalam standar tersebut dan memiliki kewajiban untuk memenuhi hak asasi manusia anak dengan standar yang telah ditetapkan oleh KHA.negara Indonesia juga mempunyai tanggung jawab untuk mengimplementasikan kewajiban-kewajiban yang ada dalam KHA serta mandat kepemimpinan dalam melaksanakan peraturan dan mekanisme yang diperlukan iuntuk mewujudkan kewajiban tersebut.

2. Undang-Undang Perlindungan Anak

Salah satu bentuk implementasi yang dilakukan pemerintah Indonesia dalam mewujudkan kewajibannya terhadap ratifikasi KHA adalah dengan disahkannya Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak (UUPA). Undang- Undang tersebut menjadi acuan terhadap peraturan-peraturan lainnya mengenai hak anak di Indonesia yang dikeluarkan setelah UUPA diberlakukan. UUPA diberlakukan dengan pertimbangan antara lain karena

4 Id.

(12)

Naskah Akademik Peraturan Daerah Provinsi Jawa Barat Tentang Perlindungan Anak

••• 9 •••

dibutuhkan adanya dukungan kelembagaan dan peraturan perundangan untuk menjamin pelaksanaan perlindungan terhadap anak. Selain itu, karena pelbagai peraturan perundangan terkait anak yang telah diberlakukan sebelumnya ternyata hanya mengatur hal-hal tertentu saja dan tidak secara komprehensif mengatur keseluruhan hak anak.

Selain itu Undang-Undang Perlindungan Anak juga diperlukan untuk menegaskan adanya kewajiban bagi Negara, pemerintah, masyarakat, keluarga, orangtua dan anak mengingat kewajiban memberikan perlindungan anak walaupun sudah disadari merupakan kewajiban bersama, namun perlu diberikan landasan hukum secara khusus disamping yang sudah dicantumkan dalam pasal- pasal UUD 1945 atau dalam berbagai Peraturan PerUndang-Undangan yang lain, agar lebih dapat menjamin pelaksanaannya secara komprehensif dan tepat penanganannya serta sasarannya. Selain dari uraian di atas, diperlukan pula adanya keseimbangan antara perlindungan hak anak dan pemberian ekwajiban bagi anak dalam kapasitas mendidik anak. Oleh karena itu, disamping dilindungi hak-haknya, agar tidak menjadi salah asuh, salah arah, maka perlu pula ditunjukkan kewajiban yang harus dilaksanakan oleh anak.

Dalam Undang-Undang Perlindungan Anak diuraikan kewajiban dan tanggung jawab Negara dan Pemerintah yaitu:

a. Menghormati dan menjamin hak-hak asasi setiap anak tanpa membedakan suku, agama, ras, golongan, jenis kelamin, etnik, budaya dan bahasa, status hukum anak, urutan kelahiran, dan kondisi fisik dan/mentalnya;

b. Memberikan dukungan sarana dan prasarana dalam penyelenggaraan perlindungan anak;

c. Menjamin perlindungan, pemeliharaan, dan kesejahteraan anak dengan memperhatikan hak dan kewajiban orangtua atau wali atau orang lain yang secara hukum bertanggung jawab terhadap anak;

(13)

Naskah Akademik Peraturan Daerah Provinsi Jawa Barat Tentang Perlindungan Anak

••• 10 •••

d. Menjamin anak untuk mempergunakan haknya dalam menyampaikan pendapat sesuai dengan usia dan tingkat kecerdasan anak.

Dalam kerangka memenuhi kewajiban yang dicantumkan dalam Undang- Undang Perlindungan Anak tersebut, Negara memberikan jaminan hak-hak asasi anak yang penyelenggaraannya didasarkan pada peraturan yang lebih spesifik dan dilakukan oleh pemerintah di daerah dalam bentuk Peraturan Daerah terkait perlindungan anak.

3. Milenium Development Goals

Pemenuhan hak dan perlindungan anak di Indonesia mempunyai hubungan yang signifikan dengan pencapaian Milenium Developmet Goals (MDGs) Indonesia. MDGs atau Milenium Developmet Goals, adalah suatu kesepakatan dan kemitraan global untuk memperbaiki kesejahteraan rakyat, yang mempunyai tujuan dan batas waktu serta target tertentu. Dari 9 tujuan (butir) MDG yang dicanangkan, 7 (tujuh) di antaranya terkait dengan hak anak, yaitu memberantas kemiskinan dan kelaparan ekstrem, mewujdukan pendidikan dasar untuk semua, mendorong kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan, menurunkan angka kematian anak, meningkatkan kesehatan ibu, memerangi HIV dan AIDS, malaria serta penyakit lainnya serta memastikan kelestarian lingkungan.

UNICEF Indonesia menyatakan MDG memberikan sebuah kerangka bagi para pembuat kebijakan untuk memastikan bahwa hak-hak dasar anak dapat terpenuhi.5 Akan tetapi untuk menghasilkan dampak yang diharapkan ini, keadilan harus dipahami oleh seluruh penduduk. Kecenderungan data global menyatakan bahwa meskipun telah ada kemajuan umum, tetapi sebagian besar

5 https://www.unicef.org/indonesia/id/A1_-_B_Ringkasan_Kajian_MDG.pdf, 20/11/2018, 09:31

(14)

Naskah Akademik Peraturan Daerah Provinsi Jawa Barat Tentang Perlindungan Anak

••• 11 •••

penduduk masih tertinggal, sehingga mengakibatkan meluasnya kesenjangan social-ekonomi, dan semakin banyaknya orang yang kurang beruntung. Jika situasi ini tidak dapat diperbaiki, pencapaian MDG tidak dapat berkesinambungan. Oleh karena itu, masalah keadilan menjadi sangat penting bagi pencapaian MDG secara berkesinambungan.6

Untuk dapat mencapai apa yang telah dicanangkan dan menjadi tujuan dalam MDG, pemenuhan hak anak di segala bidang secara komprehensif harus menjadi kewajiban bagi setiap pemerintah daerah. Penyusunan peraturan daerah yang menjadi payung bagi penyelenggaraan perlindungan anak, senantiasa harus disesuaikan dengan tujuan dari MDG secara umum dan secara khusus bagi pemenuhan hak anak di daerah.

B. Kajian Prinsip Dalam Penyusunan Norma

Terdapat empat prinsip umum yang terkandung dalam KHA yang dapat menjadi acuan bagi setiap penyelenggaraan perlindungan dan pemenuhan hak anak.

Empat prinsip tersebut adalah:

1. Non diskriminasi, artinya semua hak yang diakui dan terkandung dalam KHA dan karenanya perlu diikuti dalam setiap penyelenggaraan perlindungan dan pemenuhan hak anak harus diberlakukan kepada setiap anak tanpa pembedaan apapun. Prinsip ini tertuang dalam Pasal 2 (ayat 1) dan (ayat 2) KHA selengkapnya berbunyi: “Negara-negara Peserta akan menghormati dan menjamin hak-hak yang ditetapkan dalam konvensi ini bagi setiap anak yang berada dalam wilayah hukum mereka tanpa diskriminasi dalam bentuk apapun, tanpa memandang ras, warna kulit, jenis kelamin, bahasa, agama, pandangan politik atau pandangan-pandangan lain, asal-usul kebangsaan, etnik atau social,

6 Id.

(15)

Naskah Akademik Peraturan Daerah Provinsi Jawa Barat Tentang Perlindungan Anak

••• 12 •••

status kepemilikan, cacata atau tidak, kelahiran atau status lainnya baik dari si anak sendiri atau dari orangtua atau walinya yang sah”.

“Negara-negara Peserta akan mengambil semua langkah yang perlu untuk menjamin agar anak dilindungi dari semua bentuk diskriminasi atau hukuman yang didasarkan pada status, kegiatan, pendapat ayang dikemukakan atau keyakinan dari orangtua anak, walinya yang sah, atau anggota keluarganya”.

Pasal 1 ayat 2 KHA memberikan kewajiban kepada semua penyelenggaraan perlindungan dan pemenuhan hak anak untuk selalu menggunakan prinsip non diskriminasi tersebut dalam setiap bentuk penyelenggaraan perlindungan dan pemenuhan hak anak.

2. Yang terbaik bagi anak (the best interest of the child), yaitu bahwa “dalam semua tindakan yang menyangkut anak yang dilakukan oleh lembaga-lembaga kesejahteraan sosial pemerintah maupun sasta, lembaga peradilan, lembaga pemerintah atau badan legislatif, maka kepentingan yang terbaik bagi anak harus menjadi pertimbangan utama”. Rumusan tentang yang terbaik bagi anak tersebut ada di dalam Pasal 3 (ayat 1) KHA yang memberikan dasar bagi setiap penyelenggaraan pembangunan sejak perencanaan, pelaksanaan, pembiayaan dan evaluasi untuk selalu memperhatikan keterkaitan pembangunan dan kegiatan tersebut dengan kepentingan yang terbaik untuk anak.

3. Hak hidup, kelangsungan hidup dan perkembangan (the right to life, survival and deveploment), artinya “Negara-negara Peserta mengakui bahwa setiap anak memiliki hak yang melekat atas kehidupan” seperti dirumuskan dalam Pasal 6 (ayat 1) KHA. Serta “Negara-negara Peserta akan menjamin sampai batas maksimal kelangsungan hidup dan perkembangan anak”, seperti dirumuskan dalam Pasal 6 (ayat 2) KHA. Prinsip ketiga ini juga merupakan prinsip yang mendasari setiap penyusunan dan perumusan norma yang dilakukan oleh Negara (pemerintah) terkait dengan penyelenggaraan perlindungan dan pemenuhan hak

(16)

Naskah Akademik Peraturan Daerah Provinsi Jawa Barat Tentang Perlindungan Anak

••• 13 •••

anak. Jaminan atas hak hidup dan kelangsungan hidup dan perkembangan anak harus menjadi salah satu tumpuan bagi penyelenggaraan perlindungan dan pemenuhan hak anak dengan perwujudannya yang dapat menyangkut pelbagai bidang seperti kesehatan, kesejahteraan dan pendidikan.

4. Penghargaan terhadap pendapat anak (respect for the views of the child) yang berarti bahwa segala sesuatu yang dirumuskan dan direncanakan untuk dilakukan terkait dengan dan berpengaruh pada kehidupan anak, harus memperhatikan pendapat anak, termasuk dan tidak terkecuali pada setiap pengambilan keputusan. Prinsip ini tertuang dalam Pasal 12 (ayat 1) KHA yaitu:

“Negara-negara Peserta akan menjami agar anak-anak yang mempunyai pandangan sendiri akan memperoleh hak untuk menyatakan pandangan- pandangannya secara bebas dalam semua hal yang mempengaruhi anak, dan pandangan tersebut akan dihargai sesuai dengan tingkat usia dan kematangan anak”.

Keempat prinsip tersebut di atas, harus senantiasa menjadi acuan dan dasar dalam setiap penyusunan norma yang dilakukan oleh pemerintah (pusat maupun daerah) sehingga dapat mewujudkan komitmen Negara sebagai konsekuensi dari pengikatannya kepada Konvensi tersebut.

C. Kajian Empiris

Provinsi Jawa Barat sejak tanggal 9 Januari 2009 telah memiliki Dinas Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana (DP3AKB) Provinsi Jawa Barat yang didirikan berdasarkan:

1. Peraturan Daerah Provinsi Jawa Barat No. 22 Tahun 2008 tentang Organisasi dan Tata Kerja Inspektorat, Bappeda, Lembaga Teknis Daerah dan Satuan Polisi Pamong Praja Provinsi Jawa Barat.

(17)

Naskah Akademik Peraturan Daerah Provinsi Jawa Barat Tentang Perlindungan Anak

••• 14 •••

2. Peraturan Daerah Provinsi Jawa Barat No. 15 Tahun 2011 tentang Perubahan Peraturan Daerah Provinsi Jawa Barat No. 22 Tahun 2008

3. Peraturan Daerah Provinsi Jawa Barat No. 3 Tahun 2014 tentang Perubahan Kedua atas Peraturan Daerah Provinsi Jawa Barat No. 22 Tahun 2008

4. Peraturan Daerah Provinsi Jawa Barat No. 6 Tahun 2016 tentang Pembentukan dan Susunan Perangkat Daerah Provinsi Jawa Barat.

Latar Belakang terbentuknya DP3AKB Provinsi Jawa Barat karena berbagai persoalan yang terkait dengan perempuan (termasuk anak), antara lain:

Masih rendahnya akses perempuan dalam pendidikan yang ditandai dengan masih rendahnya rata-rata lama sekolah perempuan dibandingkan dengan laki- laki,

rendahnya akses perempuan dalam bidang ekonomi,

derajat kesehatan perempuan yang masih rendah yang ditandai dengan masih tingginya angka kematian ibu melahirkan,

rendahnya akses perempuan dalam politik dan hukum, serta perlakuan diskriminatif terhadap perempuan.

Seperti diketahui pemenuhan hak anak sangat bergantung pada pemenuhan hak orangtua dan terkait erat dengan persoalan yang dihadapi perempuan di Jawa Barat. Sehingga apa yang menjadi persoalan dan kemudian program dari DP3AKB Provinsi jawa Barat menjadi relevan dengan persoalan anak di Jawa Barat. Lembaga DP3AKB ini adalah lembaga yang bertanggung-jawab untuk mengkordinasi pemenuhan hak anak di Provinsi Jawa Barat. Selain itu telah dilakukan penelitian terhadap kondisi empiris anak di Provinsi Jawa Barat yang menunjukkan adanya kebutuhan yang sangat tinggi untuk dilakukannya penanganan atas penyelenggaraan pemenuhan perlindungan anak secara terpadu.

(18)

Naskah Akademik Peraturan Daerah Provinsi Jawa Barat Tentang Perlindungan Anak

••• 15 •••

Terkait permasalahan anak di Jawa Barat, berikut data empiris yang dapat membantu mengarahkan proses penyusunan Rancangan Peraturan Daerah Provinsi Jawa Barat tentang Perlindungan Anak. Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia pada tahun 2015 telah mengeluarkan Indeks Komposit Kesejahteraan Anak yang menguraikan Status Pencapaian Kesejahteraan Anak (IKKA 2015), dimana Jawa Barat status pencapaiannya berada dalam kategori menengah.7 Berdasarkan klasifikasi Indeks Pembangunan Manusia (IPM), status pencapaian dinyatakan sangat tinggi bila IKKA melebihi angka 90,00, tinggi bila berada di antara angka 80,00 dan 90,00, menengah bila berada di antara 66,67 dan 80,00, rendah bila berada di antara angka 50,00 dan 66,67 dan sangat rendah bila berada di bawah angka 50,00.

Untuk Indeks Pembangunan Manusia tahun 2015 terdapat beberapa indikator yang diukur yaitu: angka harapan hidup, harapan lama sekolah, rata-rata lama sekolah, pengeluaran perkapita dan IPM. Untuk angka harapan hidup, Provinsi Jawa Barat berada di angka 70,57 tahun untuk laki-laki dan 74,39 tahun untuk perempuan.

Harapan Lama Sekolah untuk Provinsi Jawa Barat untuk laki-laki di 12,80 tahun dan 12,50 tahun untuk perempuan. Rata-rata lama sekolah untuk anak laki-laki adalah 8,37 tahun dan anak perempuan 7,52 tahun. Pengeluaran perkapita untuk laki-laki adalah 14,210 ribu, sedangkan perempuan 7,478 ribu. Berdasarkan parameter tersebut didapat IPM untuk laki-laki di Jawa Barat sebesar 74,11 dan perempuan 66,37.8

Selain dari IPM yang dikeluarkan oleh Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia tersebut, Deputi Bidang Perlindungan Anak mengeluarkan data Indeks Komposit Kesejahteraan Anak (IKKA)

7 Data Terpilah Statistik Gender dan Anak Provinsi jawa Barat Tahun 2017, Kerjasama Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana Provinsi Jawa Barat dengan Biro Pusat Statistis Provinsi Jawa Barat, 2017.

8 Id.

(19)

Naskah Akademik Peraturan Daerah Provinsi Jawa Barat Tentang Perlindungan Anak

••• 16 •••

tahun 2015 menurut Hak Anak.9 IKKA ini akan mengukur pencapaian pemenuhan hak-hak anak Indonesia, kualitas hidup anak Indonesia dan tingkat kesejahteraan anak Indonesia. Secara umum anak di Indonesia berada di tingkatan menengah yaitu dengan angka 70,37. IKKA merupakan informasi strategis untuk memetakan kualitas hidup anak Indonesia, meningkatkan kualitas hidup anak Indonesia dengan cara memenuhi hak-hak mereka, mengetahui hak-hak mana yang banyak belum dipenuhi dan menentukan kebijakan yang berpihak pada anak. Parameter yang diukur adalah Kelangsungan Hidup, Perlindungan, Tumbuh Kembang, Partisipasi, dan Identitas.

Hak kelangsungan hidup akan mengukur hak untuk melestarikan dan mempertahankan hidup dan hak memperoleh standar kesehatan tertinggi dan perawatan yang sebaik-baiknya. Hak Perlindungan meliputi hak untuk memperoleh perlindungan. Hak Tumbuh Kembang adalah hak untuk memperoleh pendidikan dan hak mencapai standar hidup yang layak bagi perkembangan fisik, mental, spiritual, moral dan sosial. Hak Partisipasi adalah hak untuk menyatakan pendapat dalam segala hal yang mempengaruhi anak sedangkan Hak Identitas adalah hak untuk memperoleh nama dan akta lahir.

Berdasarkan parameter tersebut, IKKA tahun 2015 untuk Provinsi Jawa Barat secara umum ada di angka 70,93 (tingkatan menengah).10 Kelangsungan hidup anak berada di angka 79,60, perlindungan berada di angka 77,10, tumbuh kembang berada di angka 67,42, partisipasi berada di angka 50,73 dan identitas berada di angka 79,79.

Masih rendahnya angka IPM dan IKKA tersebut memperlihatkan masih diperlukannya pemenuhan hak bagi anak di Provinsi Jawa Barat dengan disusunnya standar untuk adanya perlindungan anak berupa peraturan daerah.

9 Indeks Komposit Kesejahteraan Anak, Deputi Bidang Perlindungan Anak, Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak.

10 Id

(20)

Naskah Akademik Peraturan Daerah Provinsi Jawa Barat Tentang Perlindungan Anak

••• 17 •••

Selain dari data IKKA dan IPM tersebut di atas, Unicef telah pula mengeluarkan data terkait prevalensi perkawinan anak perempuan yang tinggi, salah satunya di Provinsi jawa Barat.11 Secara nasional Provinsi Jawa Barat berada di peringkat 9 untuk rata-rata prevalensi perkawinan usia anak (perempuan 20 – 24 tahun yang pernah menikah sebelum usia 18 tahun). Di Provinsi Jawa Barat, 30,5 % perempuan usia 20 – 24 tahun pernah menikah sebelum usia 18 tahun. Selain itu, Provinsi Jawa Barat bersama dengan Jawa Timur, tercatat sebagai provinsi dengan jumlah tertinggi remaja perempuan (15 – 19 tahun) pernah kawin yaitu di 236,404 untuk Jawa Timur dan 220,501 untuk Jawa Barat. Meski data tersebut diambil di tahun 2012, namun data tersebut memiliki keterkaitan dengan Angka Kematian Ibu (AKI) Provinsi Jawa Barat yang tinggi, yaitu 823 kasus di tahun 2015 dan 780 di tahun 2016.12

Data lain terkait dengan kekerasan yang dialami anak dan perempuan dan anak di Provinsi Jawa Barat menunjukkan angka yang cukup tinggi, yaitu 296 kasus kekerasan terhadap anak hingga usia 17 tahun dan 422 kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak di bawah usia 18 tahun. Data tersebut tercatat hingga bulan Desember 2017.13

Selain itu, terdapat data empiris terkait anak yang berhadapan dengan hukum (ABH) dan anak yang berkebutuhan khusus (ABK) di Jawa Barat hingga tahun 2017 yang didapat dari Lembaga Pembinaan Khusus Anak (LPKA) Bandung untuk ABH dan dari Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat untuk ABK. Hingga tahun 2017 tercatat 146 orang ABH yang dibina di LPKA di seluruh Jawa Barat dan 22.661 orang ABK yang tersebar di 27 (duapuluh tujuh) kabupaten dan kota di seluruh Jawa Barat.

11 Kemajuan Yang Terunda: Analisis Data Perkawinan Usia Anak di Indonesia, Berdasarkan Hasil Susenas 2008-2012 dan Sensus Penduduk 2010, Badan Pusat Statistik dan UNICEF, 2015.

12 Dinas Kesehatan Jawa Barat 2017

13 Supra No. 9

(21)

Naskah Akademik Peraturan Daerah Provinsi Jawa Barat Tentang Perlindungan Anak

••• 18 •••

Berdasarkan pada data-data yang telah dipaparkan di atas, maka kajian untuk adanya penyusunan peraturan daerah terkait perlindungan anak di Provinsi Jawa Barat yang dapat menjadi standar dan rujukan bagi perlindungan anak sesuai dengan kondisi dan situasi anak di Jawa Barat sangat dibutuhkan. Diharapkan kajian tersebut dapat merangkum kebutuhan Provinsi Jawa Barat untuk memenuhi hak anak dengan memberikan perlindungan hak anak yang diperlukan disesuaikan dengan kondisi dan situasi anak di Provinsi Jawa Barat.

(22)

Naskah Akademik Peraturan Daerah Provinsi Jawa Barat Tentang Perlindungan Anak

••• 19 •••

BAB III

EVALUASI DAN ANALISIS PERATURAN PERUNDANGAN TERKAIT

Pemerintah Indonesia pertama kali mengeluarkan peraturan terkait dengan hak anak pada tahun 1979 melalui Undang-Undang No. 4 tahun 1979 tentang Kesejahteraan Anak. Peraturan ini hanya secara sempit mengatur hal-hal yang terkait dengan hak anak di bidang kesejahteraan. Dalam peraturan tersebut batas usia anak masih mengikuti batas usia yang ditetapkan dalam Kitab Undang-Undang Hukum Peraturan Daerahta yaitu 21 tahun. Undang-Undang ini mengacu pada Undang- Undang sebelumnya yaitu Undang-Undang No. 6 tahun 1974 tentang Ketentuan- ketentuan Pokok tentang Kejahteraan Sosial yang mengatur secara umum hal-hal terkait dengan kesejahteraan sosial masyarakat.

Perhatian pemerintah terhadap kepentingan anak baru terlihat kembali ketika pada tahun 1990 Pemerintah Indonesia meratifikasi instrumen internasional Konvensi Hak Anak (KHA) yang kemudian diberlakukan melalui Keputusan Presiden Nomor 36 tahun 1990. KHA menjadi standar bagi pemerintah dalam melakukan pemenuhan hak anak khususnya bidang sipil, politik, ekonomi, sosial dan budaya secara terintegrasi. Undang-Undang No. 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak menegaskan tentang hak-hak anak wajiba dipenuhi negara dan menegaskan sanksi untuk pelanggarannya. Undang-Undang ini memberikan dasar bagi penanganan pelbagai masalah anak. Undang - Undang ini juga menjadi Undang-Undang pertama yang mengatur tentang pemenuhan dan perlindungan hak anak di Indonesia.

Pemenuhan dan perlindungan hak anak di Indonesia menjadi penting adaya sejak Undang-Undang Perlindungan Anak dicanangkan. Untuk pelaksanaan Undang- Undang tersebut, KPP (Kementerian Pemberdayaan Perempuan) yang telah diberi amanat oleh Presiden mengambil peran dalam koordinasi dan advokasi pelaksanaannya di tingkat nasional dan daerah sesuai dengan tugas dan fungsinya.

(23)

Naskah Akademik Peraturan Daerah Provinsi Jawa Barat Tentang Perlindungan Anak

••• 20 •••

Adanya tanggung-jawab untuk penanganan anak di tingkat pemerintah daerah, telah meningkatkan kesadaran akan hak-hak anak, meningkatkan identifikasi masalah- masalah perlindungan anak dan keterlibatan pihak-pihak yang sebelumnya tidak terlibat.

Setelah 12 (duabelas) tahun berlaku, Undang-Undang Perlindungan Anak kemudian mengalami perubahan di beberapa pasal yang penting. Perubahan dilakukan melalui Undang-Undang No. 35 tahun 2014 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak. Hal-hal yang mengalami perubahan dalam Undang-Undang No. 35 tahun 2014 antara lain terkait masalah anak penyandang disabilitas, anak yang memiliki keunggulan, pengertian kekerasan, terkait kewajiban dan tanggung-jawab Negara, pemerintah dan pemerintah daerah, terkait pendanaan serta terkait penambahan kaidah larangan dan penambahan kaidah sanksi. Selain Undang-Undang No. 35 tahun 2014, pemerintah juga mengeluarkan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 1 tahun 2016 tentang Perubahan Kedua atas Undang- Undang Nomor 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak. Perubahan kedua atas Undang-Undang Nomor 23 tahun 2002 ini lebih banyak terkait pengaturan kaidah sanksi, khususnya pada tindakan kekerasan seksual terhadap anak.

Selain peraturan perundangan yang telah diuraikan di atas yang menjadi landasan utama bagi pemerintah untuk memenuhi hak anak, beberapa peraturan perundangan di bawah ini memiliki kaitan erat dengan kewajiban dan tanggung- jawab pemerintah dalam memenuhi hak-hak anak. Peraturan-peraturan tesebut adalah sebagai berikut:

1. Undang-Undang Dasar 1945 Pasal 28 B ayat 2

Pasal tersebut menyatakan bahwa setiap anak berhak atas kelangsungan hidup, tumbuh dan berkembang serta berhak atas perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi;

(24)

Naskah Akademik Peraturan Daerah Provinsi Jawa Barat Tentang Perlindungan Anak

••• 21 •••

2. Undang-Undang No. 39 tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia

Pasal 52 ayat (2) menyatakan bahwa hak anak adalah hak asasi manusia dan untuk kepentingannya hak anak itu diakui dan dilindungi oleh hukum bahkan sejak dalam kandungan.

3. Undang-Undang Nomor 1 tahun 2000 tentang Konvensi ILO No. 182 tentang Pelarangan dan Tindakan Segera Penghapusan Bentuk-bentuk Pekerjaan Terburuk untuk Anak;

4. Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan

Pasal 68 dalam Undang-Undang tersebut menyatakan pengusaha dilarang mempekerjakan anak. Selanjutnya Pasal 69 ayat (1) menyatakan dikecualikan bagi anak berumur antara 13 (tiga belas) tahun s/d 15 (lima belas) tahun untuk melakukan pekerjaan ringan sepanjang tidak mengganggu perkembangan dan kesehatan fisik, mental, dan sosial.

Pasal 74 ayat (1) menyatakan siapapun dilarang mempekerjakan dan melibatkan anak pada pekerjaan-pekerjaan terburuk dan ayat (2) menyatakan, pekerjaan-pekerjaan terburuk yang diamaksud pada ayat (1) meliputi:

a) Segala pekerjaan dalam bentuk perbudakan atau sejenisnya;

b) Segala pekerjaan yang memanfaatkan, menyediakan, atau menawarkan anak untuk pelacuran, produksi pornografi, pertunjukan porno, atau perjudian;

c) Segala pekerjaan yang memanfaatkan, menyediakan atau melibatkan anak untuk produksi dan Peraturan Daerahgangan minuman keras, narkotika, psikotropika, dan zat adiktif lainnya; dan/atau

d) Semua pekerjaan yang membahayakan kesehatan, keselamatan, atau moral anak.

5. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 5 menyatakan:

(25)

Naskah Akademik Peraturan Daerah Provinsi Jawa Barat Tentang Perlindungan Anak

••• 22 •••

1) Setiap warga negara mempunyai hak yang sama untuk memperoleh pendidikan yang bermutu.

2) Warga negara yang memiliki kelainan fisik, emosional, mental, intelektual, dan/ atau sosial berhak memperoleh pendidikan khusus.

Pasal 11 menyatakan:

1) Pemerintah dan Pemerintah Daerah wajib memberikan layanan dan kemudahan, serta menjamin terselenggaranya pendidikan yang bermutu bagi setiap warga negara tanpa diskriminasi.

2) Pemerintah dan Pemerintah Daerah wajib menjamin tersedianya dana guna terselenggaranya pendidikan bagi setiap warga negara yang berusia tujuh sampai dengan lima belas tahun.

Pasal 34 menyatakan:

a) Setiap warga negara yang berusia 6 (enam) tahun dapat mengikuti program wajib belajar.

b) Pemerintah dan Pemerintah Daerah menjamin terselenggaranya wajib belajar minimal pada jenjang pendidikan dasar tanpa memungut biaya.

c) Wajib belajar mmerupakan tanggung jawab negara yang yang diselenggarakan oleh lembaga pendidikan Pemerintah, Pemrintah Daerah, dan masyarakat.

6. Undang-Undang No. 23 tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan dalam Rumah Tangga;

7. Undang-Undang No. 21 tahun 2007 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Peraturan Daerahgangan Orang

Pasal 5 menyatakan bahwa setiap orang yang melakukan pengangkatan anak dengan menjanjikan sesuatu atau memberikan sesuatu dengan maksud untuk

(26)

Naskah Akademik Peraturan Daerah Provinsi Jawa Barat Tentang Perlindungan Anak

••• 23 •••

dieksploitasi dipidana dengan pidana penjara peling singkat 3 (tiga) tahun dan paling lama 15 (lima belas) tahun dan pidana denda paling sedikit Rp.

120.000.000,- (seratus dua puluh juta rupiah) dan paling banyak Rp.

600.000.000,- (enam ratus juta rupiah).

Pasal 6 menyatakan, setiap orang yang melakukan pengiriman anak ke dalam atau ke luar negeri dengan cara apapun yang mengakibatkan anak tersebut tereksploitasi dipidana dengan pidana penjara paling singkat 3 (tiga) tahun dan paling lama 15 (lima belas) tahun dan pidana denda paling sedikit Rp.

120.000.000,- (seratus dua puluh juta rupiah) dan paling banyak Rp.

600.000.000,- (enam ratus juta rupiah).

8. Undang-Undang nomor 35 Tahun 2009 Tentang Narkotika

Pasal 55 menyatakan Orang tua atau wali dari Pecandu Narkotika yang belum cukup umur wajib melaporkan kepada pusat kesehatan masyarakat, rumah sakit, dan atau lembaga rehabilitasi medis dan rehabilitasi sosial yang ditunjuk oleh Pemerintah untuk mendapatkan pengobatan dan/atau perawatan melalui rehabilitasi medis dan rehabilitasi sosial.

9. Undang-Undang No. 9 tahun 2012 tentang Pengesahan Optional Protocol dari Convention on the Rights of the Child (CRC) tentang Keterlibatan Anak dalam Konflik Bersenjata;

10. Undang-Undang No. 10 tahun 2012 tentang Pengesahan Optional Protocol dari Convention on the Rights of the Child (CRC) tentang Penjualan Anak, Prostitusi Anak dan Pornografi Anak;

11. Undang-Undang No. 11 tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak UU SPPA ini merupakan pengganti dari Undang-Undang Nomor 3 Tahun 1997 tentang Pengadilan Anak yang bertujuan agar dapat terwujud peradilan yang benar-benar menjamin perlindungan kepentingan terbaik terhadap anak yang berhadapan dengan hukum. Undang-Undang Pengadilan Anak lama dinilai

(27)

Naskah Akademik Peraturan Daerah Provinsi Jawa Barat Tentang Perlindungan Anak

••• 24 •••

sudah tidak sesuai lagi dengan kebutuhan hukum dalam masyarakat dan belum secara komprehensif memberikan perlindungan khusus kepada anak yang berhadapan dengan hukum.

Substansi yang diatur dalam UU SPPA antara lain mengenai penempatan anak yang menjalani proses peradilan dapat ditempatkan di Lembaga Pembinaan Khusus Anak (LPKA). Substansi yang paling mendasar dalam Undang-Undang ini adalah pengaturan secara tegas mengenai Keadilan Restoratif dan Diversi yang dimaksudkan untuk menghindari dan menjauhkan anak dari proses peradilan sehingga dapat menghindari stigmatisasi terhadap anak yang berhadapan dengan hukum dan diharapkan anak dapat kembali ke dalam lingkungan sosial secara wajar.

12. Peraturan Pemerintah Nomor 2 Tahun 1988 Tentang Usaha Kesejahteraan Anak bagi yang Mempunyai Masalah.

13. Peraturan Pemerintah Nomor 47 Tahun 2008 Tentang Wajib Belajar.

14. Keputusan Presiden Nomor 59 Tahun 2002 Tentang Rencana Aksi Nasional Penghapusan Bentuk-Bentuk Pekerjaan Terburuk Untuk Anak.

15. Keputusan Presiden Nomor 87 Tahun 2002 Tentang Rencana Aksi Nasional Penghapusan Eksploitasi Seksual Komersial Anak.

16. Keputusan Presiden Nomor 88 Tahhun 2002 Tentang Rencana Aksi Nasional Penghapusan Peraturan Daerahgangan Perempuan dan Anak (Trafiking).

17. Keputusan Presiden Nomor 77 Tahun 2004 Tentang Komisi Perlindungan Anak.

(28)

Naskah Akademik Peraturan Daerah Provinsi Jawa Barat Tentang Perlindungan Anak

••• 25 •••

BAB IV

LANDASAN FILOSOFIS, YURIDIS DAN SOSIOLOGIS

A. Landasan Filosofis

Landasan filosofis merupakan pertimbangan atau alasan yang menggambarkan bahwa peraturan yang dibentuk mempertimbangkan pandangan hidup, kesadaran, dan cita hukum yang meliputi suasana kebatinan serta falsafah bangsa Indonesia yang bersumber dari Pancasila dan Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, selanjutnya UUD 1945.

Landasan filosofis yang pertama yang menjadi dasar bagi Naskah Akademik Peraturan Daerah Provinsi Jawa Barat adalah Pancasila, khususnya sila kedua, kemanusiaan yang adil dan beradab, dimana anak merupakan salah satu elemen penting bangsa yang akan melanjutkan keberadaan bangsa Indonesia sehingga anak memperoleh jaminan akan keadilan dan keadabaan diberbagai segi kehidupan bangsa, seperti misalnya keadilan dan keadabab akan perlakuan yang bebeda antara anak dan orang dewasa, keadilan dan keadabab akan pendidikan, keadilan dan keadaban, serta keadilan dan keadaban dari kemungkina perlakuan diskriminatif.

Landasan filosofis yang kedua adalah sila kelima dari Pancasila, khususnya keadilan sosial bari seluruh rakyat Indonesia. Landasan filosofis ini menekankan pada bagaimana dasar tumbuh dan perkembangan anak dijamin oleh negara, sehingga diharapkan anak dapat berkembang secara positif di lingkungan terkecil keluarga dan kemudian dapat berkembang secara positif pula di lingkungan masyarakat.

Dua landasan filosofis yang merujuk pada Pancasila tersebut di atas bukan berarti menaifkan dan meniadakan sila-sila Pancasila lainnya, yaitu sila pertama, Ketuhanan Yang Maha Esa. Sila ketiga, persatuan Indonesia, dan sila keempat, kerakyatan yang dimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan atau

(29)

Naskah Akademik Peraturan Daerah Provinsi Jawa Barat Tentang Perlindungan Anak

••• 26 •••

perwakilan. Hal ini misalnya dalam konteks sila pertama Pancasila, anak juga dijamin untuk memeluk agama yang diyakininya. Kemudian dalam konteks sila ketiga Pancasila, anak merupakan elemen yang mempunyai peran penting dalam keutuhan sebuah bangsa, dan dalam konteks sila keempat, nampak bahwa anak sebenarnya menjadi salah satu elemen bangsa dan negara dimana bangsa dan negara dalam mengambil keputusan tentang anak didasarkan dari dan pada perUndang-Undangan yang mengatur tentang anak, tidak hanya dalam skala nasional tetapi juga dalam skala internasional.

Landasan filosofis ketiga yang secara substansi berkorelasi erat dengan keberadaan naskah akademik pemerintah provinsi Jawa Barat adalah tentang Pemerintah Daerah yang diatur dalam Pasal 18, UUD 1945. Pasal 18, UUD 1945 memberi kewenangan kepada Pemerintah Daerah (Pemerintah Provinsi, Pemerintah Kabupaten/Kota) untuk menjalankan otonomi daerah, dalam hal ini otonomi dalam hal kebijakan tentang anak.

Landasan filosofis keempat, berkorelasi erat dengan Hak Asasi Manusia yang diatur dalam Pasal 28A sampai dengan Pasal 28 J, Bab XA, UUD 1945. Hak untuk hidup, hak atas perlindungan dari dikriminasi dan kekerasan, hak untuk memperoleh pemenuhan dasar, hak memajukan dirinya dan secara kolektif memajukan bangsa dan negara, hak atas pengakuan, dan hak atas keadilan merupakan sebagian dari hal- hal prinsip yang diatur dalam Pasal 28 J, Bab XA, UUD 1945, tidak hanya untuk masyarakat Indonesia pada umumnya tetapi juga khususnya untuk anak.

Landasan filosofis kelima, diatur dalam Pasal 31, Bab XIII, UUD 1945, tentang Pendidikan dan Kebudayaan, dimana sebagai warga negara, anak berhak memperoleh pendidikan yang layak dan negara menjamin pembiayaan dan pengembangan anak sesuai dengan nilai-nilai budaya yang hidup di dalam masyarakat.

(30)

Naskah Akademik Peraturan Daerah Provinsi Jawa Barat Tentang Perlindungan Anak

••• 27 •••

Landasan filosofis keenam, diatur dalam Pasal 34, Bab XIV, UUD 1945 tentang Perekonomian Nasional dan Kesejahteraan Sosial, dimana secara tegas dinyatakan bahwa anak-anak terlantar dipelihara oleh negara, dan negara mengembangkan sistem jaminan sosial, fasilitas pelayanan kesehatan dan fasilitas umum.

Pengembangan sistem jaminan sosial, fasilitas pelayanan kesehatan dan fasilitas umum di sini tentu juga ditujukan untuk anak.

B. Landasan Yuridis

Landasan yuridis merupakan pertimbangan atau alasan yang menggambarkan bahwa peraturan yang dibentuk untuk mengatasi permasalahan hukum atau mengisi kekosongan hukum dengan mempertimbangkan aturan yang telah ada, yang akan diubah, atau yang akan dicabut guna menjamin kepastian hukum dan rasa keadilan masyarakat. Landasan yuridis menyangkut persoalan hukum yang berkaitan dengan substansi atau materi yang diatur sehingga perlu dibentuk Peraturan PerUndang-Undangan yang baru. Beberapa persoalan hukum itu, antara lain, peraturan yang sudah ketinggalan, peraturan yang tidak harmonis atau tumpang tindih, jenis peraturan yang lebih rendah dari Undang-Undang sehingga daya berlakunya lemah, peraturannya sudah ada tetapi tidak memadai, atau peraturannya memang sama sekali belum ada.

Dari uraian yang dimaksud dengan substansi landasan yuridis di atas, maka uraian selanjutnya adalah akan dipaparkan dasar dan landasan Yuridis dari naskah akademik pemerintah Provinsi Jawa Barat yang berkorelasi erat dengan kebutuhan, permasalahan akibat dari keberlakuan Peraturan Daerah Provinsi Jawa Barat Nomor 5 Tahun 2006 tentang Perlindungan Anak, selanjutnya Peraturan Daerah Provinsi Jabar Nomor 5/2006.

(31)

Naskah Akademik Peraturan Daerah Provinsi Jawa Barat Tentang Perlindungan Anak

••• 28 •••

Landasan yuridis pertama, bahwa yang menjadi dasar atau landasan dari keberlakuan Peraturan Daerah Provinsi Jabar Nomor 5/2006 adalah Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak, dimana Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 telah mengalami perubahan pada tahun 2014 menjadi Undang- Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002. Hal ini berarti Peraturan Daerah Provinsi Jabar Nomor 5/2006 seharusnya juga mengalami perubahan karena rujukan atau dasar hukum dari keberlakukan Peraturan Daerah Provinsi Jabar Nomor 5/2006 telah mengalami perubahan.

Dalam Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014, perubahan terdapat dalam hal:

Pasal 1, di antaranya pengaturan tentang anak penyandang disabilitas14, anak yang memiliki keunggulan15, kekerasan16, Pemerintah Daerah17, perubahan terhadap substansi Pasal 6 dan penjelasan Pasal 6, Undang-Undang Nomor 23 Tahun 200218, perubahan terhadap substansi Pasal 9, Pasal 12, Pasal 14, Pasal 20, Pasal 21, Pasal 22, Pasal 23, Pasal 24, Pasal 25, Pasal 26, Pasal 27, Pasal 28, Pasal 33, Pasal 38A, Pasal 39, Pasal 41, Pasal 41A, Pasal 43, Pasal 44, Pasal 45,Pasal 45A, Pasal 45B, Pasal 46, Pasal 47, Pasal 48, Pasal 49, Pasal 51, Pasal 53, Pasal 54, Pasal 55, Pasal 56, Pasal 58, Pasal 59, Pasal 59A, Pasal 60, Pasal 64, Pasal 65, Pasal 66, Pasal 67, Pasal 67A, Pasal 67B, Pasal 67C, Pasal 68, Pasal 69A, Pasal 69B, Pasal 70, Pasal 71, Pasal 71A, Pasal 71B, Pasal 71C, Pasal 71D, Pasal 71E, Pasal 72, Pasal 73, Pasal 73A, Pasal 74, Pasal 75, Pasal 76, Pasal 76A, Pasal 76B, Pasal 76C, Pasal 76D, Pasal 76E, Pasal 76F, Pasal 76G, Pasal 76H, Pasal 76I, Pasal 76J, Pasal 77, Pasal 77A, Pasal 77B, Pasal 80, Pasal 81, Pasal 82, Pasal 83, Pasal 86A, Pasal 87, Pasal 88, Pasal 89, dan Pasal 91A Undang-Undang

14 Lihat Pasal 1, butir 7, Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014.

15 Lihat Pasal 1, butir 8, Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014.

16 Lihat Pasal 1, butir 15a, Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014.

17 Lihat Pasal 1, butir 18, Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014.

18 Lihat Pasal 6, Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014.

(32)

Naskah Akademik Peraturan Daerah Provinsi Jawa Barat Tentang Perlindungan Anak

••• 29 •••

Nomor 23 Tahun 200219. Hal ini berarti karena terdapat perubahan yang sifatnya mendasar yang menjadi rujukan dari keberlakuan Peraturan Daerah Provinsi Jabar Nomor 5/2006, yaitu Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002, maka Peraturan Daerah Provinsi Jabar Nomor 5/2006 secara yuridis harus juga mengalami perubahan.

Landasan yuridis berikutnya, selain karena telah terjadi perubahan atas Undang-Undang tentang anak, hal lain yang menjadi bahan pertimbangan akibat perubahan dari Undang-Undang dari Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 yang mengalami perubahan dengan diundangkannya Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 adalah terjadi kekosongan hukum dalam Peraturan Daerah Provinsi Jabar Nomor 5/2006, dimana Peraturan Daerah Provinsi Jabar Nomor 5/2006 tidak mengatur hal-hal tentang anak disabilitas, anak yang memiliki keunggulan, kekerasan terhadap anak, anak korban perceraian, eksploitasi anak, anak korban bencana, anak terpapar narkoba, pencegahan atas kemungkinan diskriminasi terdapat anak, tanggung jawab negara, pemerintah pusat dan pemerintah daerah atas perlindungan anak, kewajiban orang tua dan keluarga, pengangkatan anak, aborsi, kemungkinan lahir sakit dan cacat, transplantasi organ anak, anak terlantar, anak rentan atas HIV/AIDS, anak rentan terhadap narkoba, anak rentan terhadap terorisme dan jaringan terorisme, anak korban kekerasan, anak korban kejahatan seksual, anak korban trafficking, anak korban eksploitasi ekonomi, anak korban penelantaran, anak korban stigma tertentu, penanganan anak yang menjadi korban, anak korban konflik bersenjata, anak korban pornografi, dan perlindungan anak atas pornografi20.

19 Lihat Pasal 21, Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014

20 Lihat Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014.

(33)

Naskah Akademik Peraturan Daerah Provinsi Jawa Barat Tentang Perlindungan Anak

••• 30 •••

C. Landasan Sosiologis

Landasan sosiologis merupakan pertimbangan atau alasan yang menggambarkan bahwa peraturan yang dibentuk untuk memenuhi kebutuhan masyarakat dalam berbagai aspek. Landasan sosiologis sesungguhnya menyangkut fakta empiris mengenai perkembangan masalah dan kebutuhan masyarakat dan negara.

Landasan sosiologi juga seharusnya dapat memberi gambaran atas apa yang terjadi atau menjadi persoalan khas tentang anak yang ada di 18 (delapan belas) kabupaten dan 9 (sembilan) kota yang terdapat di Provinsi Jawa Barat, sehingga diharapkan peraturan daerah provinsi yang dirancang dapat menjadi norma atas dasar kebutuhan masyarakat. Seperti misalnya kekhasan yang terjadi di Kabupaten Indramayu, yang umumnya masyarakat mengetahui bahwa pada saat musim panen, maka akan terjadi banyak perkawinan antara laki-laki dengan perempuan (anak), dan pada saat musim tanam, maka kan terjadi banyak perceraian. Demikian halnya dengan wilayah Cisarua, Kabupaten Bogor yang memiliki kekhasan kawin kontrak pada saat musim haji. Hal-hal seperti inilah yang perlu dilakukan kajian mendalam sebelum peraturan daerah Pemerintah Provinsi Jawa Barat dirancang.

Kota Bandung misalnya, sebagai Ibu Kota Provinsi Jawa Barat memiliki persoalan yang berkaitan dengan anak-anak di antaranya tentang anak jalanan21, anak terpapar gadget, anak yang menjadi alat untuk mengemis, pergaulan bebas anak, seks bebas anak, dan anak korban narkotika psikotropika.22 Demikian halnya dengan Kabupaten Indramayu, dimana masih terjadi musim menikah pada bagi anak- anak perempuan bilamana musim panen tiba dan akan terjadi perceraian bilamana

21 Berdasarkan informasi yang disampaikan Dinas Sosial Kota Bandung, perkiraan jumlah anak jalanan di Kota Bandung adalah berkisar 2000 orang, https://bandung.merdeka.com/halo-bandung/jumlah-anak- jalanan-di-bandung-sudah-berkurang-160813u.html - 22 Oktober 2018 – 10:08 WIB

22 http://www.pikiran-rakyat.com/bandung-raya/2016/08/08/pemerintah-harus-total-benahi-masalah- anak-jalanan-376849 - 22 Oktober 2018 – 10:06 WIB

(34)

Naskah Akademik Peraturan Daerah Provinsi Jawa Barat Tentang Perlindungan Anak

••• 31 •••

musim bercocok tanam tiba. Kemudian di Kabupaten Kabupaten Ciamis, berdasarkan data Dinas Sosial tahun 2017, masalah yang berkorelasi erat dengan anak adalah masalah kemiskinan, anak balita terlantar, anak terlantar, anak berhadapan dengan hukum dan disabilitas.23

Wilayah lain yang memiliki kekhasan persoalan anak adalah Kabupaten Bekasi. Di wiilayah Kabupaten Bekasi, berdasarkan data KPAI Kabupaten Bekasi pada triwulan pertama 2018, jumlah kekerasan pada anak sudah mencapai 26 kasus, dengan rata-rata 8-9 kasus pada setiap bulannya,24 dan hal ini berarti setiap pekannya terjadi 2 kasus kekerasan terhadap anak.25

Di sisi yang lain, bilamana sebelumnya dipaparkan persoalan-persoalan yang berkaitan dengan anak, yang terdapat di beberapa Kota/Kabupaten di Provinsi Jawa Barat, khusus untuk Kabupaten Kuningan justru menjadi Kabupaten yang dapat meraih penghargaan Kabupaten Layak Anak (KLA) sebanyak tiga kali karena telah memenuhi beberapa prinsip anak, antara lain non diskriminasi, kepentingan hak anak, dan mendengar pandangan anak dan hak kelangsungan hidup26. Walaupun Kabupaten Kuningan telah memperoleh predikat KLA, namun masih ada persoalan anak yang belum terselesaikan, yaitu kekerasan terhadap anak27. Lebih lanjut, dalam kerangka Rancangan Peraturan Daerah tentang Anak Provinsi Jawa Barat, khusus Kabupaten Kuningan seharusnya yang dapat didorong untuk meningkatkan potensi anak, atau memecah aktivitas dari pencegahan dan menyelesaikan persoalan-

23 https://wartapriangan.com/2017/03/30/tangani-masalah-pmks-dinsos-ciamis-berikan-penyuluhan-dan- pembinaan/ - 22 Oktober 2018 – 09:59 WIB

24 http://www.beritasatu.com/megalopolis/491546-kasus-kekerasan-anak-di-kabupaten-bekasi-cukup- tinggi.html - 23 Oktober 2018 – 21:35 WIB

25 https://metro.sindonews.com/read/1304951/170/setiap-pekan-terjadi-dua-kasus-kekerasan-anak-di- bekasi-1526041826 - 23 Oktober 2018 - 21:37 WIB

26 https://www.kuningankab.go.id/berita/kuningan-tiga-kali-meraih-penghargaan-kabupaten-layak-anak, 23 Oktober 2018 – 21:46 WIB

27 https://www.bingkaiwarta.com/read/kekerasan-terhadap-perempuan-dan-anak-di-kabupaten- kuningan-dalam-kurun-waktu-tahun-2015-2016-mencapai-61-kasus - 23 Oktober 2018 – 22:01

(35)

Naskah Akademik Peraturan Daerah Provinsi Jawa Barat Tentang Perlindungan Anak

••• 32 •••

persoalan tentang anak menjadi meningkatkan potensi anak-anak di Kabupaten Kuningan. Di kabupaten Karawang, persoalan anak meliputi 4 (empat) hal, yaitu:

asusila anak28; anak putus sekolah29; kekerasan terhadap anak30; dan peningkatan anak jalanan31. Data tahun 2017, rata-rata lama sekolah di Karawang 7,4 tahun atau hanya setingkat SMP, jadi masih banyak warga yang belum menuntaskan wajib belajar sembilan tahun32, sedangkan data tahun 2017 terdapat 160 kasus asusila anak, 30 diantaranya hubungan sesama jenis33.

Di Kabupaten Bogor, berdasarkan data tahun 2016, persoalan anak yang utama adalah berkaitan dengan kekerasan terhadap anak. Jumlah kasus kekerasan terhadap anak mencapa 139 kasus, dan kekhasan dari kekerasan terhadap anak adalah kekerasan dilakukan oleh orang terdekat anak34

Hal lain, yang dapat disampaikan dan berkorelasi erat dengan landasan sosiologis dalam konteks naskah akademik penyusunan draf Peraturan Daerah tentang Anak Provinsi Jawa Barat adalah pendapat dan masukan yang disampaikan pihak-pihak terkait dalam Focus Group Discussion (FGD) pada tanggal 28 Agustus 2018 dan 16 Oktober 2018. Berikut ini adalah beberapa masukan dan pendapat yang diperoleh dari perkembangan masyarakat dan menjadi kebutuhan untuk diatur dalam peraturan daerah Pemerinta Daerah Provinsi Jawa Barat adalah:

1. Anak Unggul;

28 https://nasional.tempo.co/read/901888/dinas-sosial-kasus-asusila-anak-di-karawang-makin-aneh - 30 Oktober 2018 – 23:55.

29 https://nasional.tempo.co/read/833684/ribuan-anak-di-karawang-putus-sekolah - 30 Oktober 2018 – 23:01

30 http://www.beritasatu.com/hukum/316242-kekerasan-terhadap-anak-masih-marak-di-karawang.html - 30 Oktober 2018 – 22:30

31 http://www.pikiran-rakyat.com/jawa-barat/2013/10/29/256691/anak-jalanan-di-karawang-meningkat - 30 Oktober 2018 – 23:22

32 Supra no 28.

33 Supra no 29.

34 https://regional.kompas.com/read/2017/03/07/17565191/kabupaten.bogor.masuk.zona.merah.kasus.

kekerasan.anak - 30 Oktober 2018 – 00:03

(36)

Naskah Akademik Peraturan Daerah Provinsi Jawa Barat Tentang Perlindungan Anak

••• 33 •••

2. Anak Disabilitas;

3. Fasilitas Umum Ramah Anak;

4. Perlindungan anak sebagai sebuah sistem meliputi pencegahan, identifikasi dini, perlindungan tentang anak yang rentan (misal: keluarga dan lingkungan narkoba, pornografi, eksploitasi sosial, pengemis, pengamen);

5. Payung hukum bagi pemerintah desa/kelurahan untuk menerbitkan regulasi tentang anak;

6. Anak dan LGBT;

7. Rumah bagi anak yang baru saja keluar dari tahanan dan mendapat penolakan dari keluarga dan lingkungannya;

8. Koordinasi antar dinas;

9. Puskesmas ramah anak;

10. Pemenuhan gizi anak;

11. Pelatihan kerja bagi anak sebagai pengganti pidana denda;

12. Anak/Bayi yang dibuang oleh orang tuanya;

(37)

Naskah Akademik Peraturan Daerah Provinsi Jawa Barat Tentang Perlindungan Anak

••• 34 •••

BAB V

JANGKAUAN, ARAH PERATURAN DAN RUANG LINGKUP MATERI MUATAN PERATURAN DAERAH

A. Jangkauan Peraturan Daerah Provinsi Jawa Barat Tentang Perlindungan Anak

Jangkauan Peraturan Daerah (Peraturan Daerah) ini adalah dalam ruang lingkup wilayah kewenangan Pemerintahan Daerah Provinsi Jawa Barat, kewenangan yang digunakan adalah kewenangan wajib (oligatory) dan kewenangan mengatur (regulatory) yang terdapat dalam kewenangan pasal 13 Undang-Undang No. 32 tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah yaitu kewenangan yang merupakan kewenangan wajib. Materi muatan dari Peraturan Daerah merupakan kewenangan yang diatur oleh pasal 14, Undang-Undang No. 12 tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan PerUndang-Undangan yang mengatur tentang muatan Peraturan Daerah yaitu berkaitan dengan pelaksanan otonomi dan tugas pembantuan. Materi Perlindungan Anak secara spesifik telah diatur oleh UU nomor 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak, yang kemudian diubah melalui Undang-Undang No. 35 tahun 2014 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak dan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 1 tahun 2016 tentang Perubahan Kedua atas Undang-Undang Nomor 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak. Muatan peraturan Peraturan Daerah menjangkau kepada Aturan Otonomi mengenai Perlindungan Anak termasuk dalam jangkauan lingkup kebijakan dan perencanaan. Peraturan Daerah Provinsi Jawa Barat merupakan peraturan yang menjangkau kebijakan dan pengaturan di lintas kota dan kabupaten di seluruh wilayah Jawa Barat, termasuk adat dan norma yang berlaku dalam masyarakat. Jangkauan kelembagaan tersebut diupayakan meningkatkan peran lembaga lembaga masyarakat dan adat yang ada.

(38)

Naskah Akademik Peraturan Daerah Provinsi Jawa Barat Tentang Perlindungan Anak

••• 35 •••

Perubahan-perubahan yang dituangkan dalam Undang-Undang Perlindungan Anak merupakan ketentuan dasar yang harus didukung oleh Peraturan Daerah (Peraturan Daerah) sebagai instrumen pertama yang mengatur implementasi kewenangan daerah. Adanya Peraturan Daerah Perlindungan Anak menjadi sangat penting dalam mewujudkan tujuan otonomi daerah yang berkesinambungan dengan tujuan nasional dalam konteks perlindungan anak terutama karena Indonesia termasuk salah satu negara yang meratifikasi Konvensi Hak Anak. Karena hal itulah, pada tahun 2006, Jawa Barat telah memberlakukan Peraturan Daerah Provinsi Jawa Barat No. 5 tahun 2006 tentang Perlindungan Anak yang mengatur tentang upaya perlindungan anak. Munculnya Peraturan Daerah tersebut merupakan langkah awal Jawa Barat untuk meneguhkan komitmen dalam rangka mengedepankan upaya perlindungan anak. Peraturan Daerah (Peraturan Daerah) yang mengatur tentang Perlindungan Anak merupakan panduan yang sangat dibutuhkan untuk menjaga agar program kabupaten/kota layak anak dapat terus diimplementasikan secara berkesinambungan karena Peraturan Daerah menjadi koridor yang menjaga arah kebijakan daerah agar tidak bergeser dari rencana pembangunan nasional yang diturunkan dari Undang-Undang. Adanya Peraturan Daerah menjadi jaminan agar kelangsungan upaya perlindungan anak dapat terus berjalan tanpa terkena dampak pergantian kepala daerah.

Seiring dengan waktu, telah terjadi adanya perubahan baik yang bersifat internal di lembaga pemerintahan maupun eksternal di tingkat masyarakat dimana hal tersebut menuntut adanya penyesuaian aturan yang tertuang dalam Peraturan Daerah. Perubahan-perubahan administratif maupun struktural mengenai tatalaksana peraturan kelembagaan di level pemerintahan dan terus berubahnya perilaku sosial kemasyarakatan sebagai dampak dari dinamika sosial membuat pembaharuan dan pemutakhiran Peraturan Daerah Provinsi Jawa Barat No. 5 tahun 2006 tentang Perlindungan Anak akan menjadi langkah yang tepat untuk menjawab

Referensi

Garis besar

Dokumen terkait

PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP ANAK AKIBAT PEMBATALAN PERKAWINAN CAMPURAN DIHUBUNGKAN DENGAN UNDANG- UNDANG NOMOR 1 TAHUN 1974 TENTANG PERKAWINAN DAN UNDANG-UNDANG

Rancangan Undang-Undang tentang Sistem Peradilan Pidana Anak menjadi solusi terbaru dalam menjamin perlindungan anak pelaku tindak pidana di Indonesia dengan memuat banyak

Parameter tentang anak dan belum efektifnya undang-undang ini menjerat para pelaku kekerasan seksual terhadap anak-anak juga menjadi kendala dalam memberikan

Setelah diundangkannya Undang-Undang Perlindungan Anak, maka istilah tersebut berubah menjadi anak yang berkonflik dengan hokum (ABH), dan saat ini Undang-Undang Nomor 11

Apakah landasan yuridis status hak anak dalam menentukan kewarganegaraannya dalam perkawinan beda Negara berdasarkan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2006 tentang

Lahirnya pasal 81 (2) Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 35 Tahun 2014 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak memberikan

Dalam pasal 21 dan 23 Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak juga dimuat kewajiban pemerintah

Undang-Undang Nomor 35 tahun 2014 tentang Perubahan atas Undang- Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2014 Tentang Perubahan Atas Undang-