• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II LANDASAN TEORI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB II LANDASAN TEORI"

Copied!
30
0
0

Teks penuh

(1)

A. Analisis Laporan Keuangan 1. Pengertian laporan keuangan

Pengertian laporan keuangan menurut PSAK No. 1 merupakan bagian dari proses pelaporan keuangan. Laporan keuangan yang lengkap biasanya meliputi neraca, laporan laba rugi, laporan perubahan posisi keuangan (yang dapat disajikan dalam berbagai cara misalnya, sebagai laporan arus kas, atau laporan arus dana), catatan dan laporan lain serta materi penjelasan yang merupakan bagian integral dari laporan keuangan.

Laporan keuangan adalah catatan informasi keuangan suatu perusahaan pada suatu periode akuntansi dapat digunakan untuk menggambarkan kinerja perusahaan tersebut. Laporan keuangan adalah bagian dari proses pelaporan keuangan (wikipedia).

Dari definisi diatas dapat disimpulkan bahwa pelaporan keuangan sangat berkaitan erat dalam kinerja perusahaan yang akan mempengaruhi investor dalam menanamkan modalnya.

2. Tujuan laporan keuangan

Tujuan laporan keuangan menurut PSAK (2009 : 3) adalah menyediakan informasi yang menyangkut posisi keuangan, kinerja, serta

(2)

perubahan posisi keuangan suatu perusahaan yang bermanfaat bagi sejumlah besar pengguna dalam pengambilan keputusan ekonomi.

Laporan keuangan yang disusun untuk memenuhi kebutuhan bersama sebagian besar pengguna. Namun, demikian laporan keuangan tidak menyediakan semua informasi yang mungkin dibutuhkan pengguna dalam pengambilan keputusan ekonomi karena secara umum menggambarkan pengaruh keuangan dari kejadian masa lalu, dan tidak diwajibkan untuk menyediakan informasi non keuangan.

Laporan keuangan juga menunjukkan apa yang telah dilakukan manajemen (stewardship), atau pertanggung jawaban manajemen atas sumber daya yang telah dipercayakan kepadanya. Pengguna yang ingin menilai apa yang telah dilakukan manajemen atau pertanggungjawaban manajemen berbuat demikian agar mereka dapat membuat keputusan ekonomi.

Keputusan ini mungkin mencakup misalnya keputusan untuk menahan atau menjual investasi mereka dalam perusahaan atau keputusan membeli kembali atau mengganti manajemen.

3. Unsur–unsur laporan keuangan

Laporan keuangan menggambarkan dampak keuangan dari transaksi dan peristiwa lain yang diklasifikasikan dalam beberapa kelompok besar menurut karakteristik ekonominya. Kelompok besar ini merupakan unsur laporan keuangan. Unsur yang berkaitan secara langsung dengan pengukuran kinerja dalam laporan laba rugi adalah penghasilan dan beban.

Laporan perubahan posisi keuangan biasanya mencerminkan berbagai unsur

(3)

laporan laba rugi dan perubahan dalam berbagai unsur neraca : dengan demikian, kerangka dasar ini tidak mengidentifikasikan unsur laporan perubahan posisi keuangan secara khusus.

Penyajian berbagai unsur ini dalam neraca dan laporan laba rugi memerlukan proses sub-klasifikasi. Misalnya, aset dan kewajiban dapat diklasifikasikan menurut hakikat atau fungsinya dalam bisnis perusahaan dengan maksud untuk menyajikan informasi dengan cara paling berguna bagi pengguna untuk tujuan pengambilan keputusan ekonomi. Laporan keuangan yang sering disajikan adalah sebagai berikut :

a) Neraca

b) Laporan laba rugi c) Laporan arus kas

d) Laporan ekuitas pemilik atau pemegang saham 4. Analisis laporan keuangan

Menurut Leopold A. Bernestein, analisis laporan keuangan merupakan suatu proses yang penuh pertimbangan dalam rangka membantu mengevaluasi posisi keuangan dan hasil operasi perusahaan pada masa sekarang dan masa lalu, dengan tujuan untuk menentukan estimasi dan prediksi yang paling mungkin mengenai kondisi dan kinerja perusahaan pada masa mendatang (Dwi Prastowo dan Rifka Juliaty, 2007 : 52).

Analisis laporan keuangan mencakup pengaplikasian berbagai alat dan tehnik analisis pada laporan dan data keuangan dalam rangka untuk memperoleh ukuran-ukuran dan hubungan - hubungan yang berarti dan

(4)

berguna dalam proses pengambilan keputusan (Dwi Prastowo dan Rifka Juliaty, 2007 : 52).

Tujuan analisis laporan keuangan terdiri menurut Dwi Prastowo dan Rifky Juliaty (2007 : 53) antara lain :

1. Sebagai alat screening awal dalam memilih alternatif investasi atau merger.

2. Sebagai alat forecasting mengenai kondisi dan kinerja keuangan di masa datang.

3. Sebagai proses diagnosis terhadap masalah-masalah manajemen, operasi atau masalah lainnya.

4. Sebagai alat evaluasi terhadap manajemen.

Tehnik analisis laporan keuangan dikategorikan menjadi dua metode, yaitu (Dwi Prastowo : 54) :

1. Metode analisis horisontal, adalah metode analisis yang dilakukan dengan cara membandingkan laporan keuangan oleh beberapa periode sehingga dapat diketahui perkembangan dan kecenderungannya. Metode ini terdiri dari 4 analisis, antara lain :

a. Analisis komparatif (comparative financial statement analysis).

Analisis ini dilakukan dengan cara menelaah neraca, laporan laba rugi atau laporan arus kas yang berurutan dari satu periode ke periode berikutnya.

b. Analisis trend, adalah suatu metode atau tehnik analisa untuk mengetahui tendensi daripada keadaan keuangannya, apakah

(5)

menunjukkan tendensi tetap, naik atau bahkan turun. Sebuah alat yang berguna untuk perbandingan tren jangka panjang adalah tren angka indeks.

c. Analisis arus kas (cash flow analysis), adalah suatu analisa untuk sebab-sebab berubahnya jumlah uang kas atau untuk mengetahui sumber – sumber serta penggunaan uang kas selama periode tertentu.

d. Analisis perubahan laba kotor (gross profit analysis), adalah suatu analisa untuk mengetahui sebab-sebab perubahan laba kotor suatu perusahaan dari periode ke periode yang lain atau perubahan laba kotor suatu periode dengan laba yang dibudgetkan untuk periode tersebut.

2. Metode analisis vertikal, adalah metode analisis yang dilakukan dengan cara menganalisis laporan keuangan pada periode tertentu. Metode ini terdiri dari 3 analisis, antara lain :

a. Analisis common – size b. Analisis impas (break – event)

c. Analisis rasio, analisa rasio adalah suatu cara untuk menganalisis laporan keuangan yang mengungkapkan hubungan matematik antara satu pos dengan pos lainnya.

Berikut ini akan dibahas lebih lanjut mengenai analisis rasio, karena penelitian ini akan menggunakan analisis rasio dalam menganalisis laporan

(6)

keuangannya, guna memprediksi kondisi keuangan perusahaan yang tidak sehat.

B. Pengukuran Kinerja Keuangan Perusahaan 1. Pengertian kinerja

Kinerja perusahaan adalah kondisi perusahaan secara menyeluruh yang diukur dengan dengan kriteria tertentu sesuai dengan maksud, tujuan dan penggunaannya. Secara umum kinerja dapat didefinisikan sebagai prestasi yang dapat dicapai oleh suatu perusahaan selama jangka waktu tertentu, prestasi yang dimaksud adalah efektivitas operasi perusahaan baik dilihat dari segi ekonomi (laporan keuangan) maupun manajemennya.

Kinerja organisasi menurut Robbins dan Coulter diterjemahkan oleh Hermaya dan Harry (2005:244) adalah “akumulasi hasil akhir atas semua proses dan kegiatan kerja organisasi”.

Menurut Daft dalam buku Management (2007:21) kinerja adalah kemampuan organisasi untuk meraih tujuan-tujuannya melalui pemakaian sumber daya secara efisien dan efektif. Arti kinerja menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI:1994) adalah sesuatu yang dicapai, prestasi yang diperlihatkan/kemampuan kerja sehingga pengertian kinerja perusahaan adalah suatu prestasi yang diperlihatkan oleh perusahaan.

Menurut Davis (2007:136) adapun faktor-faktor yang dapat mempengaruhi kinerja suatu organisasi adalah keuangan dan kepemimpinan.

Diantaranya sebagai salah satu faktor yang dianggap signifikan

(7)

mempengaruhi sebuah kinerja adalah faktor dari manusianya sebagai pelaksana suatu aktivitas perusahaan.

Jadi secara umum, penelitian penilaian kinerja disimpulkan sebagai suatu usaha formal dilaksanakan manajemen, untuk mengevaluasi hasil-hasil dari aktivitas yang telah dilaksanakan. Dalam hal ini, ukurannya adalah bagaimana kemampuan suatu organisasi, bagian organisasi dan karyawan dalam mencapai efektivitas operasional berdasarkan kriteria yang telah ditetapkan.

2. Pengertian pengukuran kinerja

Menurut Achmad (2007:9) pengukuran adalah alat yang sangat penting dalam proses manajemen dan penyempurnaan kinerja, oleh karena itu harus diberikan perhatian yang besar.

Robbins dan Coulter (2007:9) menyatakan bahwa ukuran kinerja organisasi yang paling sering digunakan meliputi produktivitas organisasi, keefektifan organisasi dan pemeringkatan industri. Produktivitas organisasi adalah keluaran berupa barang atau jasa keseluruhan angka diproduksi oleh organisasi dibagi oleh masukan yang diperlukan untuk menghasilkan keluaran itu. Keefektifan organisasi adalah ukuran seberapa memadainya sasaran organisasi dan seberapa baik organisasi itu mencapai sasaran tersebut.

Pemeringkatan industri adalah daftar yang diciptakan oleh berbagai penerbitan dan organisasi bisnis yang memeringkat organisasi berdasarkan ukuran kinerja yang berbeda-beda.

3. Manfaat pengukuran kinerja

(8)

Menurut Robbins dan Coulter (2007:226) mengukur dan mengendalikan kinerja organisasi itu penting karena akan menghasilkan manajemen aset yang lebih baik, meningkatkan kemampuan penyediaan nilai pelanggan dan memperbaiki ukuran pengetahuan organisasi. Selain itu, pengukuran kinerja organisasi mempunyai dampak pada reputasi organisasi.

Menurut Agnes (2007:93) manfaat kinerja dapat ditentukan secara periodik efektivitas operasional suatu organisasi, bagian organisasi dan karyawannya berdasarkan sasaran, standar dan kriteria yang telah ditetapkan sebelumnya adalah suatu usaha untuk mengetahui kinerja perusahaan. Kinerja keuangan perusahaan merupakan suatu kemampuan yang dimiliki perusahaan dalam mengelola dana yang dimilikinya seefektif dan seefisien mungkin dilihat dari dimensi-dimensi kinerja keuangan perusahaan diatas yaitu aktivitas dan profitabilitas.

Dalam hal mengetahui kinerja keuangan perusahaan secara umum sangat bermanfaat untuk :

1. Mengelola organisasi secara efektif dan efesien melalui pemotivasian karyawan secara maksimum.

2. Membantu didalam hal pengambilan suatu keputusan yang bersangkutan dengan melibatkan karyawannya.

3. Mengidentifikasian kebutuhan pelatihan dan pengembangan karyawan untuk menyediakan kriteria seleksi dan evaluasi program pelatihan karyawan.

(9)

4. Menyediakan umpan balik bagi karyawan mengenai bagaimana atasan nya menilai kinerja mereka dengan menyediakan suatu dasar distribusi penghargaan.

4. Alat ukur kinerja keuangan perusahaan

Alat ukur kinerja keuangan yang baru dikembangkan oleh Kaplan dan Northon adalah balance scorecard, sebelum ditemukan balance scorecard beberapa alat ukur kinerja keuangan dipakai oleh perusahaan untuk

mengukur kinerja keuangan. Beberapa jenis alat ukur yang biasa dipakai oleh perusahaan yaitu :

a. Laporan keuangan

b. Analisis rasio keuangan yang terdiri dari rasio solvabilitas, rasio likuiditas dan rasio aktivitas.

C. Potensi Kebangkrutan 1. Pengertian kebangkrutan

Kata-kata yang sering dijumpai dalam literatur berkaitan dengan arti kebangkrutan adalah failure, insolvensy dan bankrupcy. Meskipun kata- kata sering disamaartikan, namun sebenarnya ketiga kata tersebut memiliki arti yang berbeda.

Menurut (Weston dan Brigham, 2006), kegagalan ekonomi (economic failure) diartikan pendapatan perusahaan tidak mampu menutup biaya sendiri. Sedangkan Insolvensy terjadi jika perusahaan tidak mampu memenuhi kewajiban jangka pendeknya pada saat jatuh tempo, atau dapat dikatakan aktiva perusahaan kurang likuid. Setiap perusahaan dengan modal

(10)

kerja bersih (aktiva lancar dikurangi hutang lancar) negatif sudah bisa dikatagorikan bangkrut.

Menurut kamus lengkap ekonomi bangkrupcy (keadaan bangkrut atau pailit) adalah keadaan dimana seseorang atau badan usaha tidak mampu lagi memenuhi kewajiban-kewajibannya untuk membayar hutang-hutangnya untuk itu semua aset perusahaan dijual dan hasil penjualan ini dibagikan secara proporsional kepada pihak-pihak yang meminjamkan hutang.

Blum (dalam Munawir, 2008:288) mengartikan kegagalan keuangan sebagai ketidakmampuan perusahaan untuk membayar kewajiban keuangannya pada saat jatuh tempo yang menyebabkan perusahaan mengalami kebangkrutan, atau menyebabkan perjanjian khusus dengan para kreditor untuk mengurangi atau menghapus utangnya.

Berdasarkan Undang-undang No.4 tahun 1998 (dalam Munawir 2008:200) “mengartikan kebangkrutan sebagai suatu situasi yang dinyatakan pailit oleh keputusan pengadilan”.

Menurut Farid (2008:232) kebangkrutan adalah likuidasi yang sangat parah sehingga perusahaan tidak mampu menjalankan operasi dengan baik. Sedangkan financial distress adalah kesulitan keuangan atau likuiditas yang mungkin mengawali kebangkrutan. Pernyataan kebangkrutan merupakan masalah hukum yang timbul karena kreditur atau pihak tertentu mengajukan gugatan kebangkrutan. Ada beberapa kemungkinan yang terjadi :

(11)

Tabel 2.1

Kemungkinan Posisi Perusahaan

Keterangan Tidak Kesulitan Keuangan Kesulitan keuangan

Tidak Bangkrut A B

Bangkrut C D

Sumber : Farid (2008:232)

Kondisi B adalah perusahaan yang mengalami kesulitan keuangan tetapi tidak menyatakan atau dinyatakan bangkrut karena manajemen berhasil mengatasi kesulitan keuangan dengan tindakan yang drastis, misalnya dengan menjual sebagian besar asetnya. Kondisi C terjadi apabila perusahaan sesungguhnya tidak mengalami kesulitan keuangan, namun menyatakan bangkrut karena keinginannya, misalnya untuk menurunkan gaji karyawan atau untuk memperbaiki usaha dengan usaha-usaha baru. Kondisi A dan D adalah kondisi yang lazim ada dalam dunia usaha.

Kebangkrutan menurut Weston dan Brigham (2006:474) adalah sebagai berikut :

kebangkrutan adalah suatu kegagalan yang terjadi pada perusahaan yang dapat didefinisikan dalam beberapa cara dan beberapa kegagalan tidak harus menyebabkan keruntuhan atau pembubaran perusahaan.

a. Kegagalan Ekonomi (Economic Failure)

Kegagalan dalam arti ekonomis biasanya berarti bahwa pendapatan perusahaan tidak menutup biayanya sendiri. Kegagalan dapat juga berarti

(12)

bahwa tingkat pendapatan atas biaya historis dari investasinya lebih kecil daripada biaya modal perusahaan. Bahkan kegagalan dapat juga diartikan bahwa pendapatan nyata perusahaan telah turun dibawah pendapatan yang diharapkan. Tidak ada kesatuan pendapat mengenai definisi kegagalan dalam arti ekonomis.

b. Kegagalan Keuangan (Financial Failure)

Walaupun kegagalan keuangan adalah istilah yang tidak seberapa meragukan dari kegagalan ekonomis, namun demikian kegagalan keuangan mempunyai dua segi yang diakui secara umum. Perusahaan dianggap gagal jika perusahaan tidak dapat memenuhi kewajiban pada waktunya harus dipenuhi, walaupun totalnya harta melebihi totalnya hutang. Ini didefinisikan sebagai ketidakmampuan membayar secara teknik (technical insolvency atau insolvensi teknis). Perusahaan itu gagal atau bangkut, jika hutang total melebihi penilaian wajar dari harta totalnya (yaitu jika nilai bersih dari perusahaan yang sebenarnya itu negatif).

Selanjutnya, apabila dipakai perkataan gagal/failure), maka ini akan dikatakan insolvensi teknis maupun kebangkrutan. Kebangkrutan memang sulit untuk didefinisikan dengan pasti, buktinya adalah munculnya pendapat yang berbeda-beda tentang arti kebangkrutan. Meskipun demikian, umumnya perusahaan dianggap bangkrut jika hutang perusahaan lebih besar dari aktiva perusahaan dan jika perusahaan tidak mampu memenuhi kewajiban-kewajibanya kepada kreditur saat jatuh tempo. Sehingga disimpulkan bahwa kebangkrutan sebagai kesulitan

(13)

likuiditas yang sangat parah sehingga perusahaan tidak dapat menjalankan operasi dengan baik yang berakibat bangkrut.

2. Manfaat informasi kebangkrutan

Prediksi tentang perusahaan yang mengalami kesulitan keuangan (financial distress), yang kemudian mengalami kebangkrutan, merupakan bahan diskusi dan studi yang menarik. Peneliti di Amerika dan negara maju lainnya telah banyak melakukan studi tentang prediksi kebangkrutan akibat kesulitan keuangan. Namun di Indonesia masih jarang dilakukan, karena sulitnya mencari data keuangan perusahaan yang kesulitan keuangan atau bangkrut. Perusahaan yang go public selama ini sangat jarang yang dinyatakan bangkrut berdasarkan undang-undang perseroan.

Analisis kesulitan keuangan sangat membantu pembuat keputusan untuk menentukan sikap terhadap perusahaan yang mengalami kesulitan keuangan. Salah satu bentuk analisis untuk memprediksi kebangkrutan perusahaan adalah analisis model Altman (Z-Score). Pihak-pihak yang berkepentingan mengetahui model ini menurut Hanafi dan Halim (2009:261) adalah :

a. Kreditur/pemberi pinjaman. Informasi kebangkrutan ini bermanfaat untuk mengambil keputusan siapa saja yang akan diberi pinjaman, dan kemudian bermanfaat untuk kebijakan memonitor pinjaman yang ada.

b. Investor. Investor saham dan obligasi yang dikeluarkan oleh suatu perusahaan tentunya akan sangat berkepentingan melihat adanya

(14)

kemungkinan bangkrut atau tidaknya suatu perusahaan yang menjual surat berharga tersebut.

c. Akuntan. Akuntan mempunyai kepentingan terhadap informasi kelangsungan usaha karena akuntan akan menilai kemampuan going concern suatu perusahaan.

d. Manajemen. Kebangkrutan berarti munculnya biaya-biaya yang berkaitan dengan kebangkrutan dan biaya ini cukup besar. Suatu penelitian menunjukkan biaya kebangkrutan bisa mencapai 11%- 17% dari nilai perusahaan. Contoh biaya kebangkrutan yang langsung adalah biaya akuntan dan penasihat hukum. Sedangkan contoh biaya kebangkrutan yang tidak langsung adalah hilangnya kesempatan dan keuntungan karena beberapa hal seperti pembatasan yang mungkin diberlakukan oleh pengadilan. Apabila perusahaan bisa mendeteksi potensi kebangkrutan seawal mungkin, maka penghematan bisa dilakukan, misalnya dengan melakukan merger restrukturisasi keuangan sehingga biaya kebangkrutan bisa dihindari.

e. Pemerintah. pemerintah mempunyai kewajiban melindungi buruh, industri dan masyarakat. Hasil penemuan yang akan menemukan kesulitan keuangan dan petunjuk kebangkrutan akan sangat membantu untuk pengambilan sikap dan untuk mengeluarkan aturan penting yang melindungi masyarakat dari kerugian besar dan yang sangat mungkin akan mengganggu stabilitas ekonomi dan politik negara.

(15)

f. Auditor. auditor dalam melakukan audit harus ada petunjuk bahwa perusahaan bisa going concern atau tidak. Apabila ada petunjuk bahwa perusahaan tidak bisa melakukan operasinya, auditor harus memberikan pendapat tentang tidak adanya petunjuk going concern tersebut. Dengan adanya model yang memprediksi kebangkrutan, auditor bisa melakukan audit dan bisa memberikan pendapat terhadap laporan keuangan perusahaan dengan lebih baik.

3. Penyebab kebangkrutan

Penyebab kebangkrutan dipengaruhi oleh faktor internal maupun faktor eksternal perusahaan. Tetapi untuk menentukan secara pasti faktor apa saja yang menyebabkan kebangkrutan perusahaan bukanlah suatu pekerjaan yang mudah, sebab seringkali kebangkrutan terjadi akibat kombinasi dari beberapa faktor yang terakumulasi sehingga mempercepat proses terjadinya kebangkrutan.

Dalam Umroh (2007:22) menyebutkan faktor-faktor yang dapat menyebabkan kebangkrutan antara lain :

a. Faktor Internal

Penyebab kebangkrutan biasanya merupakan akibat keputusan yang tidak tepat di masa lalu atau mungkin karena pihak manajemen perusahaan gagal mengambil tindakan yang tepat pada saat dibutuhkan. Faktor internal itu dapat berupa :

1) Kredit yang diberikan pada pelanggan terlalu besar karena persyaratan kredit terlalu longgar.

(16)

2) Ketidakmampuan manajemen

Seringkali suatu bisnis gagal karena kurang cakapnya manajer, kualifikasi personalia pihak manajemen yang kurang bagus dan kurangnya kemampuan, pengalaman, keterampilan serta kurang inisiatif dapat menyebabkan tidak tercapainya tujuan perusahaan.

Tanda-tanda manajemen yang kurang bagus, antara lain :

a) Hasil penjualan yang tidak memadai. Hal ini timbul sebagai akibat dari rendahnya mutu barang yang dijual, kurang optimalnya pelayanan kepada konsumen, kegunaan promosi yang kurang terarah, daerah pemasaran kurang menguntungkan, dan organisasi bagian penjualan tidak kompeten dibidangnya. Dalam kondisi demikian perusahaan tidak akan mampu menghasilkan laba yang cukup untuk tetap bertahan dalam bidang usahanya.

b) Penentuan harga yang kurang tepat, misalnya harga terlalu rendah dibandingkan dengan biaya pokok produksi.

Dengan demikian berarti keuntungan yang diperoleh sangat sedikit bahkan perusahaan mengalami kerugian.

a) Over investment dalam aktiva tetap dan persediaan.

Kedua jenis ini investasi ini mempunyai sifat sulit untuk dijadikan uang kas secara cepat tidak seperti surat berharga.

(17)

b) Struktur modal yang tidak seimbang, artinya jumlah hutang yang dimiliki perusahaan relatif tinggi.

Akibatnya sebagian besar bagian dari keuntungan akan terserap untuk pembayaran bunga hutang.

c) Perusahaan tidak memiliki perlindungan asuransi yang memadai, sehingga jika perusahaan mengalami kerugian karena kebakaran misalnya, maka perusahaan terpaksa harus menutup usahanya.

3) Kekurangan Modal

Jika perusahaan mengalami kerugian operasi dan juga mengalami kekurangan modal maka kemungkinan besar perusahaan tidak akan mampu lagi untuk membiayai operasi dan membayar kewajibannya tepat pada tanggal jatuh tempo.

4) Penyalahgunaan wewenang dan timbulnya kecurangan- kecurangan.

b. Faktor Eksternal

Faktor-faktor eksternal yang menyebabkan kebangkrutan perusahaan biasanya berupa kejadian mendadak dan kadang-kadang berada diluar jangkauan manajemen, misalnya kecelakaan dan bencana alam yang sewaktu-waktu bisa menimpa perusahaan merupakan contoh peristiwa yang pernah atau bahkan sering menyebabkan perusahaan menutup atau menghentikan usahanya.

4. Indikator dalam memprediksi kebangkrutan

(18)

Ada beberapa indikator yang bisa menjadi prediksi kebangkrutan.

Menurut Hanafi dan Halim (2009:264), salah satu sumbernya adalah aliran kas untuk saat ini atau untuk masa datang. Sumber lain adalah analisa strategi perusahaan. Analisis ini memfokuskan pada persaingan yang dihadapi oleh perusahaan, struktur biaya relatif terhadap persaingan, kualitas manajemen, kemampuan manajemen mengendalikan biaya dan lainnya. Analisis semacam ini bisa dijadikan sebagai pendukung analisis aliran kas, karena kondisi perusahaan semacam ini akan mempengaruhi aliran kas perusahaan. Analisis break event sebagai contoh, akan melihat seberapa jauh penjualan bisa turun

agar perusahaan masih bisa memperoleh keuntungan.

Sumber lain adalah laporan keuangan perusahaan. Laporan keuangan ini bisa digunakan untuk memprediksi kesulitan keuangan. Sumber lainnya adalah informasi eksternal. Pada pasar keuangan yang sudah maju, lembaga penilai (rating) sudah berkembang dan informasi mereka dapat dipakai untuk memprediksi kemungkinan adanya kesulitan keuangan.

5. Indikator dalam kegagalan bisnis

Tanda-tanda yang dapat dilihat terhadap sebuah perusahaan yang mengalami kesulitan dalam bisnisnya dan mungkin kesulitan keuangan antara lain adalah sebagai berikut (Lesmana, 2006:183) :

a. Penjualan atau pendapatan mengalami penurunan secara signifikan.

b. Penurunan laba dan atau arus kas dari operasi.

c. Harga pasar saham turun secara signifikan.

d. Penurunan total aktiva.

(19)

e. Kemungkinan gagal yang besar dalam industri (nature dari industri), atau industri dengan resiko tinggi.

f. Young company, perusahaan berusia muda pada umumnya mengalami kesulitan ditahun–tahun awal operasinya sehingga kalau tidak didukung sumber permodalaan yang kuat akan dapat mengalami kesulitan keuangan yang serius atau berakhir dengan kebangkrutan.

6. Tahap-tahap kegagalan keuangan dan kebangkrutan

Dalam Mufida (2007:41), menurut Hernanto (2007:496), kesulitan – kesulitan keuangan yang menuju ke arah kebangkrutan dapat dianalisa dan di identifikasikan dalam empat tahap, antara lain :

a. Periode inkubasi

Dalam periode ini biasanya ditandai oleh adanya satu atau lebih keadaan operasi dan financial perusahaan yang tidak menguntungkan, yang kemungkinannya tidak disadari oleh pihak kreditur dan lain-lain pihak ekstern, bahkan oleh pihak manajemen itu sendiri.

b. Tahap kesulitan likuidasi atau cash shortage.

Pada tahap ini biasanya diawali oleh ketidakmampuan perusahaan untuk membayar hutang-hutang jangka pendek yang telah jatuh tempo, meskipun aktiva fisiknya melebihi kewajibannya dan perusahaan masih mampu menghasilkan keuntungan. Dikarenakan dalam tahap ini aktiva perusahaan tidak liquid.

c. Tahap financial atau commercial insolvensy.

(20)

Pada tahap ini ditandai oleh keadaan dimana perusahaan tidak mampu mendapatkan dana dari sumber – sumber reguler untuk membayar hutang-hutangnya yang jatuh tempo dan bahkan sudah menunggak.

d. Tahap total insolvensy.

Tahap ini kebangkrutan dalam artis sebenarnya telah menimpa perusahaan. Gejala yang paling menonjol adalah jumlah hutang yang lebih besar dari nilai aktiva perusahaan.

7. Langkah-langkah antisipasi kemungkinan kegagalan bisnis

Manajemen harus menilai tanda bahaya mengenai adanya kemungkinan kegagalan bisnis dan melakukan tindakan –tindakan antisipasi untuk menghindarinya. Langkah – langkah yang mungkin diambil oleh manajemen sesuai Siegel (1991) dalam lesmana (2003:185), adalah sebagai berikut :

a. Antisipasi trend mendatar di pasar. Menghindari industri yang penuh dengan kegagalan. Menghindari pasar yang menurun dimana sangat kompetitif.

b. Asuransi yang memadai

c. Berhati-hati dalam perubahan labour intensive ke capital intensive dalam ekonomi yang suram

d. Diversifikasi operasi, dapat dengan melakukan diversifikasi vertikal

dan horisontal

e. Identifikasi dan menghentikan divisi atau lini produk yang tidak menguntungkan

(21)

f. Melakukan asset management dengan baik, seperti manajemen kas, persediaan dan piutang dagang untuk mendapkan hasil yang baik sekaligus megendalikan resiko.

g. Melakukan pendekatan Hedging (membatasi) untuk menyesuaikan jatuh tempo antara aktiva dan kewajiban.

h. Melakukan pengeluaran untuk pertumbuhan mendatang seperti biaya penelitian dan pengembangan, biaya pelatihan dan pendidikan karyawan, dan biaya iklan.

i. Melakukan perbaikan dalam biaya dan pengendalian produksi seperti melakukan analisis varians dalam operasi atau departemen.

j. Melakukan perjanjian dengan bank dalam penyediaan kredit dengan menghindari hutang yang berlebihan, mempertahankan pembayaran hutang dan memperpanjang jatuh tempo pembayaran hutang.

k. Memperbaiki strategi dan kebijakan pemasaran.

l. Menghindari manajemen yang buruk seperti ketergantungan yang sangat terhadap beberapa orang kunci, kurangnya komunikasi dan eksekutif yang haus kekuasaan.

m. Menghindari operasi luar negeri di negara –negara yang beresiko tinggi.

n. Mengurangi biaya karyawan dengan melakukan tindakan yang bijaksana seperti menawarkan insentif bagi pensiun dini.

o. Mengurangi ekspansi modal selama penurunan ekonomi.

p. Menjaga agar tidak ketinggalan dalam perubahan teknologi.

(22)

q. Menurunkan harga pasar pada barang yang sudah dijual dan meningkatkan harga pada barang yang tingkat permintaannya tinggi.

D. Z-Score

1. Pengertian Z-Score

Z-Score merupakan salah satu alat analisa yang memberikan

gambaran kondisi keuangan dan kesehatan perusahaan, mampu memberikan tanda peringatan dini kepada perusahaan yang dinilainya lebih jauh lagi.

Z-score adalah alat pengukur kesehatan keuangan suatu perusahaan

menggunakan beberapa analisa laporan keuangan sekaligus berupa rasio likuiditas (yang membandingkan modal kerja per total aset), profitabilitas (yang membandingkan antara laba ditahan per total aset), leverage (EBIT/TA), solvabilitas (yang membandingkan antara ekuitas nilai pasar/total kewajiban) dan aktivitas (penjualan/total aset) sebagai alat analisa linear untuk menghindari abiguitas dan kesalahan klarifikasi yang biasa terjadi dalam kajian keuangan tradisional.

Z-score dikembangkan oleh Dr. Edward L. Altman. Pada

penelitian terakhirnya dia menggolongkan Z-score atas dasar jenis bidang bidang usaha. Penelitiannya atas 85 perusahaan pabrikasi menghasilkan metode Z-score model A, kemudian untuk perusahaan jasa dan umum dikembangkan Z-score model B. Berikut ini pengertian dari beberapa model Z-score yang dikembangkan oleh Dr. Edward L. Altman (data dari : www.

For-a-better-business-com) dan Max L. Heine :

1) Original Z-score (untuk perusahaan pabrik pabrikasi)

(23)

Apabila nilai Z-score yang dihasilkan adalah 3 atau diatas point tersebut maka perusahan tersebut tidak termasuk dalam katagori

“Bangkrut”, sementara jika nilai Z-score yang dihasilkan adalah 1,2 atau dibawahnya maka perusahaan tersebut bisa digolongkan dalam katagori bangkrut. Daerah antara nilai 1,2 dan 3,0 merupakan grey area. Kemungkinan kebangkrutan perusahaan dalam grey area

tersebut sebesar 95% dalam setahun dan sebesar 70% dalam jangka waktu 2 tahun.

2) Z-score Model A (untuk perusahaan private pabrikasi)

Model Z-score ini tepat untuk diterapkan dalam perusahaan private pabrikasi. Model A ini tidak bisa diterapkan untuk perusahaan jenis lain. Apabila nilai Z-score yang dihasilkan adalah 2,9 atau diatasnya maka perusahaan tersebut termasuk dalam katagori fit. Daerah nilai antara 1,2 dan 2,90 merupakan grey area. Sementara jika nilainya adalah 1,2 atau dibawahnya maka perusahaan tersebut dapat diindikasikan kuat mengalami kebangkrutan. Kemungkinan kebangkrutan perusahaaan dalam grey area adalah sekitar 95% dalam setahun dan 70% dalam dua tahun.

3) Z-score model B (untuk perusahaan private Non-pabrikasi)

Model ini dikembangkan oleh Altman untuk menilai atau mengindikasikan kebangkrutan suatu perusahaan private non-pabrikasi dalam satu atau dua tahun. Model ini tidak dapat diterapkan untuk perusahaan pabrikasi. Apabila nilai Z-score yang dihasilkan adalah 2,9

(24)

atau diatasnya maka perusahaan tersebut termasuk dalam katagori fit.

Daerah nilai diantara 1,2 dan 2,9 merupakan grey area. Sementara jika nilainya adalah 1,2 atau dibawahnya maka perusahaaan tersebut dapat diindikasikan kuat mengalami kebangkrutan. Kemungkinan kebangkrutan perusahaan dalam grey area adalah sekitar 95% dalam stahun dan 70% dalam dua tahun.

Nilai Z-Score yang tersebut diatas dapat berubah sewaktu-waktu bila terjadi perubahan kondisi makro ekonomi, oleh karena itu sangatlah penting bagi perusahaan untuk melakukan kajian yang lebih mendalam terhadap posisi keuangan perusahaan itu yang kemudian diperbandingkan dengan industri sejenis, karena besar kemungkinan untuk sebuah perusahaan dengan margin rendah nilai Z-scorenya akan lebih rendah dari indikator yang diberikan angka diatas tadi. Oleh sebab itu memperbandingkan dan mengkaji posisi keuangan suatu perusahaan dengan industri sejenis dalam wilayah yang sama untuk periode tertentu dapat menjadi indikator yang lebih baik. Harus diingat bahwa Z-score tersebut merupakan yang akurat dari data didapat, misalnya jika data yang dikaji didalamnya merupakan data keuangan yang dipalsukan, maka akurasinya akan rendah (data dari : www.member tripod.com ).

2. Alasan menggunakan Z-Score sebagai alat Analisa

Laporan keuangan dalam suatu perusahaan atau entitas bisnis yang menyajikan data historis keuangan serta posisi perusahaan memang merupakan data yang informatif bagi semua pihak yang berkepentingan

(25)

terhadapnya. Namun untuk mengetahui potensinya terhadap kebangkrutan dibutuhkan tidak hanya laporan keuangan tetapi kajian mendalam terhadapnya.

Tujuan dari perhitungan Z-Score adalah untuk mengingatkan akan masalah keuangan yang mungkin membutuhkan perhatian serius dan menyediakan untuk bertindak. Bila Z-Score perusahaan lebih rendah dari yang dikehendaki manajemen, maka harus diamati laporan keuangannya untuk mencari penyebab mengapa terjadi begitu.

Pengamatan dimulai dengan menghitung Z-Score dari periode - periode sebelumnya dan dibandingkan dengan skor sekarang. Bila kecenderungannya turun, cobalah pahami apakah yang telah berubah sehingga menghasilkan rasio-rasio yang menyebabkan skor perusahaan jatuh.

Memantau kecenderungan Z-Score juga akan membantu mengevaluasi kekuatan perubahan (turnaround) perusahaan. Cara lain menganalisis Z-Score adalah membandingkan hasil suatu perusahaan dengan perusahaan lain atau dengan rata-rata industri dan temukan apakah ada penyimpangan.

Untuk itu digunakan beberapa analisa rasio terhadap laporan keuangan yang benar-benar dapat menunjukkan bahwa entitas bisnis tersebut sehat dan tidak berada dalam posisi bangkrut atau mendekati kebangkrutan.

Rasio keuangan sudah banyak digunakan untuk mengkaji posisi keuangan, namun yang kemudian muncul adalah ambiguitas karena setiap ahli keuangan

(26)

dapat mengatakan bahwa analisa rasio keuangan yang mereka gunakanlah yang paling tepat.

Rasio keuangan yang umum digunakan hingga sekarang adalah rasio profitabilitas, solvabilitas dan solvency. Namun ketiganya adalah tidak dapat menunjukkan tingkat signifikasi yang jelas dan ahli keuangan bisa mengatakan bahwa salah satu dari ketiga rasio tersebut yang paling akurat (Altman, Edward. July 2000, PREDICTING FINANCIAL OF COMPANIES : REVISITING THE Z-SCORE AND ZETA* MODELS. Journal of finance, September 1968, Journal of Banking & Finance, I, 1977. Altman, Edward I, September 2002, CORPORATE DISTRESS PREDICTION MODELS IN A TURBULENT ECONOMIC AND BASEL II ENVIRONMENT, Paper).

Oleh karena itu sekitar tahun 1967 dikembangkan suatu model pengkajian yang mengkombinasikan beberapa rasio keuangan sebagai alat analisa dan kemudian dikaji dengan beberapa diskriminan dalam metode statistika. Hal tersebut dilakukan untuk mengetahui dan membedakan variable mana yang paling efektif untuk memprediksi dan mengindikasikan financial distress. Penelitian ini dilakukan di tahun 1967 dengan melakukan

sampling terhadap 66 perusahaan bisnis di Amerika yang kemudian digolongkan dalam perusahaan yang bangkrut dan yang tidak bangkrut.

Hasil kajian tersebut adalah metode Z-Score dan ZETA. Kajian terus direvisi dan diuji berkali-kali sejak pertama kali dikembangkan. Dalam edisi revisi Juli 2000, Z-Score diaplikasikan kepada 120 entitas bisnis.

(27)

Bahkan dalam paper : CORPORATE DISTRESS PREDICTION MODELS IN TURBULENT ECONOMIC AND BASEL II ENVIRONMENT, Altman menggunakan metode Z-score yang dipakainya sejak 1967.

Z-score dipilih sebagai alat dan metode kajian disini karena Z- score dan ZETA menyajikan analisa dengan lebih cepat, dimana suatu

perusahaan dibandingkan dengan kompetisi yang ada, dan merupakan alat yang baik untuk menganalisa naik turunnya stabilitas keuangan suatu perusahaan dalam beberapa tahun.

3. Unsur-unsur dalam Z-score

Data yang dibutuhkan dalam Z-score adalah : 1. Data laporan keuangan yang terdiri atas :

a. Informasi pendapatan sebelum pajak b. Total asset

c. Net sales

d. Market value of ekuitas e. Total kewajiban f. Modal kerja g. Laba ditahan

Neraca dalam laporan keuangan yang disiapkan akan menunjukkan permasalahan potensial yang ada dalam perusahaan.

2. Rasio yang dipakai dalam penghitungan Z-score mencakup di dalamnya :

(28)

a. Likuiditas b. Solvabilitas c. Profitabilitas d. Leverage e. Aktivitas

Tidak semua rasio-rasio penyusun kelima rasio utama tadi disajikan, karena menurut Dr. Edward L. Altman dalam revisi Zeta Score menyatakan bahwa hanya beberapa rasio saja yang digunakan. Hal ini didasari oleh penelitian lapangan dimana kebanyakan perusahaan yang ditelitinya menyajikan semua rasio pendukung. Rasio-rasio tersebut kemudian akan dikalkulasikan dengan faktor pengukur determinan dan hasilnya akan ditambahkan. Hasil akhir dari Z-score akan muncul angka- angka. Analisa tersebut akan ditunjukkan dan dipraktekkan secara langsung dalam Bab IV.

Diharapkan dapat dilakukan tindakan-tindakan untuk mengantisipasi kondisi yang mengarah pada kebangkrutan. Mereka meneliti 24 perusahaan yang kesulitan keuangan dan 37 perusahaan yang tidak mengalami kesulitan keuangan. Dalam penelitiannya Almlia dan Kristijiadi melibatkan model Altman Z-score tetapi mereka mencoba membuat formula baru dan rasio-rasio

keuangan dengan menggunakan regresi logit sehingga menghasilkan 12 perusahaan regresi yang digunakan untuk memprediksi financial distress.

E. Hubungan Z-Score Dengan Kinerja Perusahaan

(29)

Z-Score merupakan analisa terhadap kinerja suatu perusahaan yang

bersifat aktif, artinya bahwa kegunaannya tidak hanya digunakan sebagai alat observasi tetapi lebih kepada alat analisa yang bergerak dan memberikan inisiatif perintah kepada penggunanya. Inisiatif perintah yang dimaksud adalah dengan hasil analisa Z-Score, perusahaan dapat membuat dan melakukan keputusan-keputusan strategis terhadapnya.

Hubungan antara Z-Score dengan aktifitas-aktifitas perusahaan sangat erat, dimana kinerja keuangan perusahaan tersebut dapat tercermin dari hasil analisa terhadap laporan keuangan perusahaan yang bersangkutan dan aktivitas-aktivitas perusahaan tersebut.

F. Hasil Penelitian Terdahulu

(Adnan dan Taufik, 2001) melakukan analisis ketepatan prediksi metode Altman terhadap terjadinya likuidasi pada lembaga perbankan (kasus likuidasi perbankan di Indonesia). Hasil analisis yang telah menganalisis laporan keuangan 25 sampel perusahaan yang terlikuidasi dan 25 sampel bank yang tidak terlikuidasi terlihat adanya perbedaan yang cukup signifikan.

Perbedaan itu dapat terlihat rasio-rasio keuangan maupun nilai Altman Z- Score. Berdasarkan hasil penelitian Adnan dan Taufik menyimpulkan bahwa : 1. Metode Altman yang dikenal dengan beberapa rasio dalam Z-Scorenya dan sering digunakan untuk memprediksi kebangkrutan pada perusahaan, terbukti dapat diimplementasikan dalam memprediksi kemungkinan terjadinya likuidasi pada lembaga perbankan.

(30)

2. Hasil analisis juga memperlihatkan bahwa rata-rata rasio setiap bank, baik yang terlikuidasi maupun yang tidak, dapat dipakai untuk memprediksi kemungkinan terjadinya likuidasi pada setiap kelompok bank tersebut.

Penelitian dengan Altman Z-Score tidak hanya dilakukan perbankan, tetapi juga dilakukan di perusahaan manufaktur yang dilakukan oleh (Yanuar Imas Kasmaya, 2011). Bentuk penelitiannya adalah dengan menggunakan rasio-rasio keuangan yang berkaitan dengan manfaat laporan keuangan dengan tujuan untuk memprediksi kinerja perusahaan seperti kebangkrutan dan financial distress. Financial distress terjadi sebelum kebangkrutan. Model financial distress dikembangkan karena dengan mengetahui kondisi financial distress perusahaan sejak dini perusahaan diharapkan dapat melakukan tindakan-tindakan untuk mengantisipasi kondisi yang mengarah kebangkrutan. Mereka meneliti 30 perusahaan dan hasilnya 14 perusahaan dalam kondisi tidak mengalami kesulitan keuangan dan 16 perusahaan mengalami kesulitan keuangan.

Referensi

Dokumen terkait

Dari kedua pengertian di atas dapat diketahui bahwa pengertian dari laporan keuangan merupakan suatu proses dalam rangka membantu mengevaluasi posisi keuangan dan hasil

Kepentingan dari para pemegang saham terhadap laporan keuangan perusahaan yaitu untuk melihat kondisi dan posisi keuangan perusahaan saat itu, untuk melihat perkembangan

Hanafi dan Abdul Halim, dalam buku Analisis Laporan Keuangan (2002:63), Laporan Keuangan adalah laporan yang diharapkan bisa memberi informasi mengenai perusahaan,

Suatu proses yang penuh pertimbangan dalam rangka membantu mengevaluasi keuangan dan hasil operasi perusahaan pada masa sekarang dan masa lalu dengan tujuan utama

Dari berbagai pengertian di atas dapat diketahui bahwa pengertian dari analisis laporan keuangan merupakan suatu proses dalam rangka membantu mengevaluasi posisi

Laporan Perubahan Modal Laporan perubahan ekuitas adalah laporan keuangan yang secara sistematika menyajikan informasi mengenai perubahan ekuitas perusahaan akibat operasi perusahaan

Menurut Prastowo 2015:50 pengertian analisis laporan keuangan adalah sebagai berikut: “Analisis laporan keuangan merupakan suatu proses yang penuh pertimbangan dalam rangka membantu

analiss laporan keuangan merupakan suatu proses yang penuh pertimbangan dalam rangka mengevaluasi posisi keuangan dan hasil operasi perusahaan pada masa sekarang dan pada masa lalu,