• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN"

Copied!
15
0
0

Teks penuh

(1)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. HASIL PENELITIAN

1. Karakteristik Subjek Penelitian

Subjek penelitian adalah 24 ibu hamil yang melahirkan di RS. Dr. Moewardi Surakarta yang terbagi dalam 2 kelompok yaitu 12 orang persalinan preterm dengan Ketuban Pecah Dini (KPD) dan 12 orang persalinan preterm tanpa Ketuban Pecah Dini (KPD) yang semuanya memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi.

Tabel 2. Karakteristik Subjek Penelitian

Variabel KPD Tanpa KPD

Rerata SD Rerata SD p

Umur Ibu (tahun) 27.25 6.18 26.75 7.27 0.85

Umur kehamilan (minggu) 33.83 2.12 33.25 1.86 0.48

Haemoglobin (gr/dl) 10.62 0.54 11.10 1.30 0.25

Angka Leukosit (103/µl) 16.35 1.94 11.07 1.10 0.00 *)

*) Nilai signifikan : p<0.05

Tabel 3. Karakteristik Subjek Penelitian

Variabel KPD Tanpa KPD p

n % n %

Pekerjaan Bekerja IRT

6 6

50 50

3 9

25 75

0.20 Pendidikan

SD SMP SMA PT

3 9 0 0

25 75 0 0

0 9 2 1

0 75 16.7

8.3

0.11

Paritas

Primigravida Multigravida

9 3

75 25

6 6

50 50

0.20

Dari data penelitian di atas didapatkan bahwa umur ibu pada kelompok persalinan preterm dengan KPD rerata adalah 27.25 tahun dan kelompok persalinan

(2)

commit to user

preterm tanpa KPD rerata adalah 26.75 tahun. Umur kehamilan pada kelompok persalinan preterm dengan KPD rerata adalah 33.83 minggu dan kelompok persalinan preterm tanpa KPD rerata adalah 33.25 minggu. Kadar Haemoglobin pada kelompok persalinan preterm dengan KPD rerata adalah 10.62 (gr/dl) dan kelompok persalinan preterm tanpa KPD rerata adalah 11.10 gr/dl.

Dari hasil uji beda rata-rata kelompok persalinan preterm dengan KPD dan kelompok persalinan preterm tanpa KPD didapatkan hasil bahwa tidak ada perbedaan yang bermakna untuk umur ibu, umur kehamilan, dan kadar haemoglobin (nilai p > 0,05).

Angka leukosit pada kelompok persalinan preterm dengan KPD rerata adalah 16.35 103/µl dan kelompok persalinan preterm tanpa KPD rerata adalah 11.07 103/µl, didapatkan perbedaan secara statistik (p<0.05).

Dari data di atas didapatkan bahwa kelompok persalinan preterm dengan KPD terbanyak adalah paritas primigravida sebanyak 9 kasus (75%), pendidikan SMP yaitu 9 kasus (75%). Pada kelompok persalinan preterm tanpa KPD kasus terbanyak dengan pendidikan SMP yaitu 9 kasus (75%), dan pekerjaan IRT( ibu rumah tangga) yaitu 9 kasus (75%).

Dari data penelitian diatas baik pada kelompok persalinan preterm dengan KPD maupun kelompok persalinan preterm tanpa KPD didapatkan hasil bahwa tidak ada perbedaan yang bermakna untuk variabel pekerjaan, pendidikan dan paritas (nilai p > 0,05).

(3)

commit to user

2. Ekspresi MMP 9 Di Kulit Ketuban Pada Kelompok Persalinan Preterm dengan KPD dan Kelompok Persalinan Preterm Tanpa KPD

Pemeriksaan ekspresi MMP 9 dilakukan dengan pengamatan di kulit ketuban menggunakan alat mikroskop dengan pembesaran 400 x tampak seperti gambar 7 dan gambar 8 di bawah ini.

Positif lemah Positif sedang Positif sedang Positif lemah Positif kuat Negatif Positif kuat Negatif

Gambar 7. Ekspresi MMP 9 pada persalinan Gambar 8. Ekspresi MMP 9 pada persalinan preterm dengan KPD preterm tanpa KPD

Analisis variabel ekspresi MMP 9 dengan menggunakan uji distribusi normal (Kolmogorov-Smirnov) pada kelompok persalinan preterm dengan KPD dan kelompok persalinan preterm tanpa KPD terdistribusi secara normal dengan nilai p=0.59 (p>0.05) untuk kelompok persalinan preterm dengan KPD dan p=0.98 (p>0.05) untuk kelompok persalinan preterm tanpa KPD (Lampiran 4).

Ekspresi MMP 9 pada kulit ketuban pada persalinan preterm dengan KPD ditunjukkan dengan warna coklat kemerahan pada inti meluas ke sitoplasma,untuk positif kuat, positif sedang: coklat tua, positif lemah: coklat muda, dan negatif: kebiruan dengan perbesaran 400x, menggunakan microskop olympus seri cx21, dengan menggunakan reagen antibody MMP-9

Ekspresi MMP 9 pada kulit ketuban pada persalinan preterm tanpa KPD ditunjukkan dengan warna coklat kemerahan pada inti meluas ke sitoplasma,untuk positif kuat, positif sedang:

coklat tua, positif lemah: coklat muda, dan negatif: kebiruan dengan perbesaran 400x, menggunakan microskop olympus seri cx21, dengan menggunakan reagen antibody MMP-9

(4)

commit to user

Tabel 4.Distribusi Rerata Ekspresi MMP 9 Di Kulit Ketuban Pada Kelompok Persalinan preterm dengan KPD dan Kelompok Persalinan preterm tanpa KPD

Kelompok Besar Sampel (N)

Distribusi Rerata Ekspresi MMP 9 (%/lap.pandang)

P

Tanpa KPD KPD

12 12

5.5 + 2.3 8.6 + 3.1

0.01*)

*) Nilai signifikan p < 0.05

Hasil distribusi rerata ekspresi MMP 9 pada kulit ketuban seperti tertera pada Tabel 4. Distribusi rerata ekspresi MMP 9 pada kulit ketuban Kelompok persalinan preterm dengan KPD tampak lebih tinggi (8.6 + 3.1%/lap.pandang), dibandingkan dengan Kelompok persalinan preterm tanpa KPD (5.5 + 2.3%/lap.pandang).

Hasil interpretasi grafik menunjukkan bahwa ekspresi MMP 9 kelompok persalinan preterm dengan KPD mempunyai puncak lebih tinggi dibandingkan dengan kelompok persalinan preterm tanpa KPD (Gambar 9)

Gambar 9. Distribusi Rerata ekspresi MMP 9 di kulit ketuban

Analisis uji t dengan menggunakan α=0.05 terbukti bahwa ekspresi MMP 9 antara kelompok persalinan preterm dengan KPD dan kelompok persalinan preterm tanpa KPD terdapat perbedaan yang signifikan dimana nilai p = 0.01 (p<0.05).

Tanpa KPD KPD

(5)

commit to user

3. Hubungan Antara Ekspresi MMP 9 Dengan Kejadian KPD Tabel 5. Sensitifitas dan Spesifitas MMP 9 pada KPD

No MMP9

1-

Specificity Specificity Sensitivity

1 0,3 1 0 1

2 1,75 0,917 0,083 1

3 2,25 0,917 0,083 0,917

4 2,8 0,833 0,167 0,917

5 3,4 0,75 0,25 0,917

6 4,05 0,75 0,25 0,833

7 4,95 0,667 0,333 0,833

8 5,5 0,583 0,417 0,833

9 5,75 0,5 0,5 0,833

10 5,95 0,417 0,583 0,833

11 6,15 0,33 0,67 0,833

12 6,5 0,25 0,75 0,833

13 7,4 0,25 0,75 0,75

14 8,1 0,167 0,833 0,75

15 8,3 0,083 0,917 0,75

16 8,55 0,083 0,917 0,667

17 8,95 0,083 0,917 0,583

18 9,3 0 1 0,583

19 9,45 0 1 0,5

20 9,85 0 1 0,33

21 10,55 0 1 0,25

22 11,3 0 1 0,16

23 12,15 0 1 0,083

24 13,6 0 1 0

Dalam tabel 5 dihitung sensitifitas dan spesifisitas ekspresi MMP 9 terdapat persilangan pada nilai 7,4 %/lapangan pandang (cut of point dari MMP-9) (Lampiran 6).

Tabel 6. Hubungan Antara Ekspresi MMP 9 Dengan Kejadian KPD

MMP 9 KPD Total,

n=24 Harga p OR CI 95%

Ya Tidak

Tinggi (> 7,4 %/lap.pdg) 9 3 12 0,01 9,00 1,41-57,10 Rendah (< 7,4 %/lap.pdg) 3 9 12

Pada table 6 didapatkan bahwa angka kejadian persalinan preterm dengan KPD dengan ekspresi MMP 9 > 7,4 %/lapangan pandang didapatkan 9 kasus (75%) dan yang tanpa KPD ada 3 kasus (25%). Sedangkan angka kejadian persalinan

(6)

commit to user

preterm dengan KPD dengan ekspresi MMP-9 < 7,4 %/lapangan pandang didapatkan 3 kasus (25%) dan yang tanpa KPD ada 9 kasus (75%). Dengan menggunakan uji Chi Square didapatkan hasil bahwa kenaikan ekspresi MMP 9 >

7,4 %/lapangan pandang akan meningkatkan angka kejadian KPD 9 kali dibandingkan dengan ekspresi MMP 9 tanpa KPD < 7,4 %/lapangan pandang.

Dengan nilai signifikan p=0,01 (p<0,00).

4. Ekspresi TNF-α Di Kulit Ketuban Pada Kelompok Persalinan Preterm dengan KPD dan Kelompok Persalinan Preterm Tanpa KPD

Pemeriksaan ekspresi TNF-α dilakukan dengan pengamatan di kulit ketuban menggunakan alat mikroskop dengan pembesaran 400 x tampak seperti gambar 10 dan gambar 11 di bawah ini.

Negatif Positif lemah Positif kuat Positif lemah Positif kuat Positif sedang Negatif Positif sedang

Gambar 10. Ekspresi TNF-α pada persalinan Gambar 11. Ekspresi TNF-α pada persalinan preterm dengan KPD preterm tanpa KPD

Ekspresi TNF-α pada kulit ketuban pada persalinan preterm dengan KPD ditunjukkan dengan warna coklat kemerahan pada inti meluas ke sitoplasma,untuk positif kuat, positif sedang:

coklat tua, positif lemah: coklat muda, dan negatif: kebiruan dengan perbesaran 400x, menggunakan microskop olympus seri cx21, dengan menggunakan reagen antibody TNF-α

Ekspresi TNF-α pada kulit ketuban pada persalinan preterm tanpa KPD ditunjukkan dengan warna coklat kemerahan pada inti meluas ke sitoplasma,untuk positif kuat, positif sedang: coklat tua, positif lemah: coklat muda, dan negatif: kebiruan dengan perbesaran 400x, menggunakan microskop olympus seri cx21, dengan menggunakan reagen antibody TNF-α

(7)

commit to user

Analisis variable ekspresi TNF-α dengan menggunakan uji distribusi normal (Kolmogorov-Smirnov) pada kelompok persalinan preterm dengan KPD dan kelompok persalinan preterm tanpa KPD terdistribusi secara normal dengan nilai p=0.93 (p>0.05) untuk kelompok persalinan preterm dengan KPD dan p=0.88 (p>0.05) untuk kelompok persalinan preterm tanpa KPD (Lampiran 4).

Tabel 7. Distribusi Rerata Ekspresi TNF-α Di Kulit Ketuban Pada Kelompok Persalinan preterm dengan KPD dan Kelompok Persalinan preterm tanpa KPD

Kelompok Besar Sampel (N)

Distribusi Rerata Ekspresi TNF-α (%/lap.pandang)

P

Tanpa KPD KPD

12 12

3.3 + 1.5 8.0 + 3.0

0.00*)

*) Nilai signifikan p < 0.05

Hasil distribusi rerata ekspresi TNF-α pada kulit ketuban seperti tertera pada Tabel 7. Distribusi rerata ekspresi TNF-α pada kulit ketuban kelompok persalinan preterm dengan KPD tampak lebih tinggi (8.0 + 3.0 %/lap.pandang), dibandingkan dengan kelompok persalinan preterm tanpa KPD (3.3 + 1.5%/lap.pandang).

Hasil interpretasi grafik menunjukkan bahwa ekspresi TNF-α kelompok persalinan preterm dengan KPD mempunyai puncak lebih tinggi dibandingkan dengan kelompok persalinan preterm tanpa KPD. (Gambar 12)

Gambar 12. Distribusi Rerata Ekspresi TNF-α di kulit ketuban

Tanpa KPD KPD

(8)

commit to user

Analisis uji t dengan menggunakan α = 0.05 terbukti bahwa ekspresi TNF-α pada kulit ketuban antara kelompok persalinan preterm dengan KPD dan kelompok p=0.00 (p< 0.05).

5. Hubungan Antara Ekspresi TNF-α Dengan Kejadian KPD Tabel 8. Sensitifitas dan Spesifitas TNF-α pada KPD

No TNF 1-Specificity Specificity Sensitivity

1 0,3 1 0 1

2 1,35 0,917 0,083 1

3 1,5 0,917 0,083 0,917

4 1,8 0,833 0,167 0,917

5 2,05 0,75 0,25 0,917

6 2,2 0,667 0,333 0,917

7 2,8 0,583 0,417 0,917

8 3,35 0,5 0,5 0,917

9 3,6 0,417 0,583 0,917

10 3,85 0,333 0,667 0,917

11 4,55 0,25 0,75 0,917

12 5,3 0,167 0,833 0,917

13 5,55 0,083 0,917 0,917

14 5,8 0 1 0,917

15 6,3 0 1 0,833

16 6,85 0 1 0,75

17 7,05 0 1 0,583

18 7,35 0 1 0,5

19 8,35 0 1 0,417

20 9,75 0 1 0,333

21 10,45 0 1 0,25

22 11,25 0 1 0,167

23 12,2 0 1 0,083

24 13,4 0 1 0

Dalam tabel 8 dihitung sensitifitas dan spesifisitas ekspresi TNF-α terdapat persilangan pada angka no. 13 dengan nilai 5.55 %/lapangan pandang (cut of point dari TNF-α) (Lampiran 8).

Tabel 9. Hubungan Antara Ekspresi TNF-α Dengan Kejadian KPD

TNF-α KPD Total,

n=24

Harga

p OR CI95%

Ya Tidak

Tinggi (> 5,55 %/lap.pdg) 11 1 12 0,00 121 6,69-2188,30 Rendah (< 5,55 %/lap.pdg) 1 11 12

(9)

commit to user

Pada table 9 didapatkan bahwa angka kejadian persalinan preterm dengan KPD dengan ekspresi TNF-α > 5,55 %/lapangan pandang didapatkan 11 kasus (91.7%) dan yang tanpa KPD ada 1 kasus (8.3%). Sedangkan angka kejadian persalinan preterm dengan KPD dengan ekspresi TNF-α < 5,55 %/lapangan pandang didapatkan 1 kasus 8.3%) dan yang tanpa KPD ada 11 kasus (91.7%).

Dengan menggunakan uji Chi Square didapatkan hasil bahwa kenaikan ekspresi TNF-α > 5,55 %/lapangan pandang akan meningkatkan angka kejadian KPD 121 kali dibandingkan dengan ekspresi TNF-α tanpa KPD < 5,55 %/lapangan pandang.

Dengan nilai signifikan p=0,00 (p<0,00).

(10)

commit to user B. PEMBAHASAN

Persalinan preterm disebabkan oleh berbagai faktor, dimana salah satunya adalah karena adanya reaksi peradangan. Adanya peradangan akan mempengaruhi sel epitel amnion dan sel korion untuk menstimulasi agregasi monosit / makrofag. Hal ini akan mempengaruhi aktivasi reseptor-reseptor TNF-α.

Akan tetapi konsentrasi TNF bioaktif bergantung pada ketersediaan reseptor- reseptor TNF yaitu TNFR 1 dan TNFR 2, dan afinitas TNF untuk pengikatan dengan reseptor-reseptor tersebut dan juga jalur-jalur pensinyalan mereka dapat memunculkan kinerja TNF-α yang berbeda-beda.

TNFR 1 paling banyak terlibat dalam aktivasi MMP-9. Pensinyalan TNF melalui TNFR 1 yang terkait dengan reseptor TNF akan memicu ekspresi MMP, yang dapat menyebabkan kerusakan jaringan dan dapat mendegradasi kolagen IV yang menyebabkan ruptur selaput ketuban sehingga terjadi Ketuban Pecah Dini.

Jika TNF mengikatkan diri pada TNFR 2 dapat mengaktifkan Nf-kB sehingga dapat menghasilkan peningkatan produksi prostaglandin dimana keadaan ini juga memicu proses peradangan kembali dan memberikan efek aktivasi MMP yaitu menyebabkan peningkatan MMP-9, salah satunya di selaput ketuban. Dengan adanya keadaan ini maka menyebabkan degradasi Matrix Extracellular sehingga terjadi kerusakan pada struktur dari membran ketuban.

Ketuban pecah dini merupakan salah satu faktor inisiasi persalinan, sehingga dalam beberapa saat akan timbul tanda-tanda persalinan (his dan dilatasi servix) yang akhirnya dapat menyebabkan timbulnya persalinan.

Hasil penelitian ini membuktikan bahwa antara persalinan preterm KPD dengan preterm tanpa KPD berbeda signifikan pada MMP-9 dan TNFα.

Matrix Metalloproteinase 9 (MMP 9), yang merupakan MMP utama yang terlibat dalam persalinan normal, memainkan peranan penting dalam persalinan patologis.

Matrix Metalloproteinase 9 merupakan MMP yang paling aktif di amnion, ditemukan meningkat secara signifikan di selaput ketuban setelah onset kontraksi.

Matriks metaloproteinase, yang juga dikenal sebagai matriksin, memainkan peranan vital dalam memecah dan merombak matriks ekstraseluler (ECM) sehingga akhirnya menimbulkan persalinan preterm maupun Ketuban Pecah Dini preterm.

(11)

commit to user

Tumor Necrosis Factor (TNF), cachexin atau cachectin dan sebelumnya dikenal sebagai Tumor Necrosis Factor-a merupakan sitokin inflamasi pleiotropic. TNF terutama diproduksi di monosit dan atau makrofag. Sekresi berlebihan dari Th1 sitokin seperti TNF atau IL-1 seperti yang terjadi pada infeksi ketuban diketahui menyebabkan efek merugikan pada intra-uterin jaringan seperti aborsi dan persalinan preterm. Ketiadaan dari sitokin pro-inflamasi infeksi, seperti IL-1P dan TNF diperkirakan memainkan peran penting dalam persalinan preterm serta persalinan aterm dengan mengubah status rahim dari diam ke keadaan aktif (Haider, 2009).

Pada kasus persalinan preterm, TNF-α dan sitokin pro inflamasi yang lain berperan dalam menstimulasi aktivitas dari uterus dan proses pematangan servik dengan jalan memproduksi prostaglandin, kortisol, dan mendegradasi matrik ekstraselular dari selaput ketuban melalui jalur MMP 2 dan MMP 9 (Calleja, 2012).

Penelitian ini merupakan merupakan penelitian cross sectional untuk mengetahui ekspresi MMP-9 dan TNF-α di selaput ketuban pada persalinan preterm dengan KPD yang dibandingkan dengan persalinan preterm tanpa KPD dengan menggunakan metode imunohistokimia. Subyek penelitian ini merupakan pasien dengan persalinan preterm dengan KPD dan persalinan preterm tanpa KPD yang melahirkan di bagian Obstetri dan Ginekologi RS Dr Moewardi Surakarta dari bulan November sampai bulan Desember 2014, yang sesuai dengan kriteria inklusi dan eksklusi.

Pada penelitian ini didapatkan hasil distribusi rerata Ekspresi MMP 9 pada kulit ketuban tampak lebih tinggi pada kelompok persalinan preterm dengan KPD (8.6±3.1%/lap.pandang) dibandingkan dengan kelompok persalinan preterm tanpa KPD (5.5±2.3%/lap.pandang). Dan ekspresi TNF-α pada kulit ketuban didapatkan hasil distribusi rerata pada kelompok persalinan preterm dengan KPD (8.0±3.0 %/lap.pandang) tampak lebih tinggi dibandingkan dengan kelompok persalinan preterm tanpa KPD (3.3 + 1.5%/lap.pandang).

Penelitian yang hampir sama pernah dilakukan oleh Deepali (2012).

Pada penelitian yang dilakukan oleh Deepali, menilai kadar MMP-1 dan MMP-9 pada kasus preterm dibandingkan antara partus spontan dengan seksio sesarea.

Penelitian ini dilakukan untuk menguji MMPs plasenta dan hubungannya dengan

(12)

commit to user

kadar DHA plasenta pada wanita yang melahirkan prematur. Kadar MMP-1 dan MMP-9 pada 74 wanita yang melahirkan premature (52 persalinan pervaginam spontan dan 22 sectio caesar) dan 75 wanita yang melahirkan aterm (59 persalinan pervaginam spontan dan 16 sectio caesar) diperiksa dengan enzyme linked Immunoasorbent Assay (ELISA) dan hubungannya dengan DHA plasenta.

Didapatkan kadar MMP-1 lebih tinggi (p <0,05) pada wanita melahirkan premature (baik persalinan pervaginam maupun section caesar) dibandingkan dengan yang melahirkan aterm. Dan kadar MMP-9 kelahiran premature lebih tinggi (p <0,05) pada wanita dengan persalinan pervaginam (p <0,05) dibandingkan pada wanita yang melahirkan secara section caesar.

Pada penelitian yang dilakukan oleh Sabri dkk (2010) didapatkan hasil kadar TNF-α pada persalinan preterm sebesar 91,287 pg/ml, sedangkan kadar TNF- α kontrol dimana didalamnya termasuk hamil aterm dengan infeksi sebesar 57,485pg/ml. hamil aterm tanpa infeksi sebesar 42,239 pg/ml dan wanita normal sebesar 27,883 pg/ml. Dari hasil tersebut setelah dilakukan uji statistik terdapat peningkatan yang spesifik kadar TNF-α persalinan preterm bila dibandingkan dengan grup kontrol yang lain (p < 0,05).

Penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Yonemoto dkk (2006) pada MMP 9 di amnion dan korion janin selama kehamilan dan persalinan aterm dan preterm. Amnion dan Korion diambil dari 25 pasien dan diekstraksi 2% pada konsentrasi tinggi. Dimana didapatkan Aktivitas MMP-9 meningkat signifikan pada persalinan aterm dibandingkan dengan persalinan preterm.

Penelitian sebelumnya oleh Tosun dkk (2010) mengenai perbedaan kadar serum interleukin-6, interleukin-8, dan Tumor Necrosis Factor – α ibu dan tali pusat pada kehamilan normal dan kehamilan dengan preeclampsia. Secara signifikan peningkatan kadar IL-6, IL-8, dan TNF-alpha serum ibu dan tali pusat ditemukan pada kelompok pasien preeclampsia dibandingkan dengan kelompok kontrol.

Sorokin dkk (2010) melakukan penelitian yang bertujuan untuk menentukan apakah konsentrasi serum ibu dari IL-6, CRP, dan MMP-9 pada wanita hamil yang berisiko untuk kelahiran preterm, dan memiliki membran utuh, berhubungan dengan peningkatan risiko untuk kelahiran preterm <32 minggu dan / atau morbiditas neonatal. Seperti telah diketahui bahwa peningkatan konsentrasi

(13)

commit to user

interleukin-6 (IL-6), protein C-reaktif (CRP), dan matriks metalloproteinase-9 (MMP-9) dalam kompartemen janin dan neonatal telah dikaitkan dengan peningkatan risiko kelahiran prematur (PTB) dan / atau morbiditas neonatal. Sampel serum ibu yang dikumpulkan dari 475 pasien yang terdaftar dalam uji coba terkontrol secara acak multicenter tunggal dibandingkan kortikosteroid mingguan bagi perempuan pada peningkatan risiko untuk kelahiran prematur diuji. Serum dikumpulkan pada pengacakan (usia kehamilan 24-32 minggu). Konsentrasi serum ibu dari IL-6, CRP, dan MMP-9 selanjutya ditentukan dengan menggunakan immunoassay enzim-linked. Analisis regresi logistik multivariat dilakukan untuk mengeksplorasi hubungan antara konsentrasi serum ibu dari IL-6, CRP, dan MMP-9 dan PTB <32 minggu. Dari hasil penelitian didapatkan konsentrasi serum ibu dari IL-6 dan CRP, tetapi tidak MMP-9, di atas persentil ke-90 pada saat pengacakan dikaitkan dengan PTB <32 minggu.

Terdapat penelitian terdahulu yang dilakukan oleh Sabarudin (2011) yang bertujuan untuk mencari perbedaan ekspresi MMP-9, indeks apoptosis (IA) sel serviks, serta polimorfisme gen MMP-9 (C-1562T) pada kehamilan 21–36 minggu tanpa dan disertai KPD.Penelitian ini merupakan penelitian kasus kontrol yang dilakukan di RS Dr. Hasan Sadikin dan RS jejaring Bandung (Mei−November 2009).Tidak ditemukan hubungan bermakna antara ekspresi MMP-9 dan IA sel serviks pada kedua kelompok penelitian.

MMP-9 meningkat secara signifikan ketika amnion diberi paparan TNF-alfa atau IL-1beta, sedangkan kadar sekresinya di korion tidak mengalami perubahan (Weiss, 2007). Masing-masing dari sitokin inflamasi (IL-1, IL-6, dan TNF-α) telah ditemukan dalam konsentrasi yang lebih tinggi di dalam cairan ketuban wanita dengan ketuban pecah dini (KPD). Tetapi diantara sitokin-sitokin yang terlihat mempengaruhi keluarga MMP pada kehamilan, TNF-α merupakan sitokin yang memiliki karakterisasi paling jelas. Anggota dari keluarga sitokin proinflamasi ini telah terbukti dapat memicu ekspresi MMP di berbagai jaringan sehingga menyebabkan pelepasan MMP-9 aktif dari selaput ketuban dan juga memicu apoptosis di selaput ketuban dan aktivasi MMP-9 yang pada akhirnya mengakibatkan KPD (Fortunato, 2002).

(14)

commit to user

Disamping hal tersebut diatas, telah diketahui bahwa semua sitokin dapat juga meningkatkan produksi prostaglandin di selaput ketuban dan desidua.

Berbagai faktor dapat terlibat dalam pengeluaran TNF-α dan aktivasi MMP-9 seperti halnya stress psikis yang mengakibatkan pelepasan Corticotropin Releasing Hormone (CRH), infeksi dan reaksi inflamasi yang secara langsung merangsang pengeluaran mediator-mediator inflamasi seperti halnya TNF-α.

Konsentrasi TNF bioaktif, ketersediaan reseptor-reseptor TNF (TNFR1 dan TNFR2), dan afinitas TNF untuk pengikatan dengan reseptor-reseptor tersebut dan juga jalur-jalur pensinyalan mereka dapat memunculkan kinerja TNF-α yang berbeda-beda. TNFR1 paling banyak terlibat dalam aktivasi MMP-9 (Thomakos,2010). Kompleks TNF-TNFR1 pada awalnya mengikatkan diri pada death domain yang terkait dengan reseptor TNF (TNF receptor-associated death domain [TRADD]), yang membentuk dua jalur (pathways): (1) rekrutmen death domain yang terkait Fas (Fas-associated death domain [FADD]) yang menyebabkan aktivasi kaspase dan apoptosis, dan (2) rekrutmen faktor-2 yang terkait dengan reseptor TNF (TRAF2) dan protein yang berinteraksi dengan reseptor (RIP), dimana keduanya menghasilkan aktivasi faktor nuklir-κB (Nf-κB) yang memacu inflamasi (induksi MMP-9, sitokin-sitokin inflamasi, siklooksigenase).

Gabungan even-even ini akan cenderung mengarah pada KPD (Gambar 6) (Fortunato, 2002).

(15)

commit to user Keterbatasan Penelitian

1. Penelitian ini bersifat observasional analitik untuk mengetahui ekspresi MMP 9 dan TNF-α pada persalinan preterm dengan KPD dan persalinan preterm tanpa KPD dengan tidak mencari hubungan karakteristik sampel sehingga tidak diketahui korelasi antara hasil pemeriksaan dengan karakteristik subjek penelitian.

2. Tidak meneliti adanya hubungan atau korelasi antara peningkatan MMP 9 dengan TNF-α dengan kejadian persalinan preterm.

3. Tidak membedakan berapa lama kejadian ketuban pecah dini telah berlangsung sehingga tidak bisa dibedakan ekspresi MMP 9 dan TNF-α pada kejadian KPD antara yang masih awal dan yang sudah berlangsung lama

4. Pemeriksaan Imunohistokimia dilakukan oleh bagian Patologi Anatomi, sehingga penghitungan skor histologi tergantung dari kemampuan dan pengalaman bagian Patologi anatomi.

Referensi

Dokumen terkait

Bersamaan dengan adanya globalisasi dunia, batas antar negara semakin memudar. Karena secara tidak langsung dengan adanya globalisasi, perlahan-lahan dunia “terpaksa”

Throughput selalu dikaitkan dengan bandwidth dan nilainya diperoleh dari rasio jumlah data yang dikirim dengan waktu pengiriman data seperti pada persamaan 2.2.. Bandwidth

berbasis pilar profetik yakni dimaknai sebagai pendidikan yang mendasarkan diri dari proses penguatan terhadap peserta didik agar memiliki karakter hidup yang berdimensi

Menganalisis permasalahan yang dihadapi oleh User Operasional Bank XYZ dan merincikan keinginan dari mereka untuk kehadiran sebuah sistem layanan yang memberikan

Interaksi antara perbandingan perbandingan konsentrat cabai, tomat serta pepaya dan konsentrasi xanthan gum memberikan pengaruh yang berbeda sangat nyata terhadap total

Terkait penelitian ini diharapkan dapat menemukan konsep dan model koordinasi yang dapat menjadi bahan masukan bagi pemerintah Kecamatan Kiaracondong kota Bandung

Metode apa yang digunakan dalam mencatat investasi pada Anak Perusahaan dalam laporan keuangan

Rasio menggambarkan suatu hubungan atau perimbangan (mathematical relationship) antara suatu jumlah tertentu dengan jumlah yang lain, dan dengan menggunakan alat