• Tidak ada hasil yang ditemukan

HUBUNGAN DETERMINAN PERILAKU DENGAN PEMBERIAN ASI EKSKLUSIF

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "HUBUNGAN DETERMINAN PERILAKU DENGAN PEMBERIAN ASI EKSKLUSIF"

Copied!
16
0
0

Teks penuh

(1)

1319

HUBUNGAN DETERMINAN PERILAKU DENGAN PEMBERIAN ASI EKSKLUSIF

Iin Kristanti* Nidya Tri Rosanty**

ABSTRAK

ASI eksklusif adalah pemberian ASI saja tanpa tambahan makanan dan minuman lainnya kepada bayi sejak lahir sampai berusia 6 bulan. Pemberian ASI secara eksklusif dipengaruhi oleh berbagai faktor yang meliputi faktor pendidikan, pekerjaan, pengetahuan, keterpaparan terhadap informasi, dukungan keluarga dan dukungan petugas kesehatan. Cakupan pemberian ASI eksklusif di Kelurahan Wilayah Kerja UPT Puskesmas Pegambiran sebesar 54,7%

dan belum memenuhi dari target 75%. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan antara determinan perilaku dengan pemberian ASI eksklusif di Kelurahan Pegambiran Wilayah Kerja UPT Puskesmas Pegambiran Kota Cirebon Tahun 2018. Rancangan penelitian ini adalah deskriptif analitik dengan pendekatan cross sectional. Populasi dalam penelitian ini berjumlah 154 bayi yang berumur 7-11 bulan, dengan jumlah sampel sebanyak 65 orang diambil secara propotional random sampling. Pengambilan data penelitian dengan menggunakan kuesioner dengan teknik wawancara.

Uji analisis untuk melihat hubungan variabel bebas dan variabel terikat dengan uji Chi Square. Hasil uji statistik didapatkan bahwa pendidikan ibu (p value = 0,785), pekerjaan ibu (p value = 1.000), pegetahuan ibu (p value = 0,977), tidak ada hubungan dengan pemberian ASI eksklusif di Kelurahan Pegambiran Wilayah Kerja UPT Puskesmas Pegambiran Kota Cirebon Tahun 2018. Keterpaparan terhadap informasi (p value = 0,014), dukungan keluarga (p value

= 0,018) dan dukungan petugas kesehatan (pvalue= 0,006) ada hubungan dengan pemberian ASI eksklusif di Kelurahan Pegambiran Wilayah Kerja UPT Puskesmas Pegambiran Kota Cirebon Tahun 2018.

Kata Kunci : ASI eksklusif, determinan perilaku

ABSTRACT

Exclusive breastfeeding is the only granting exclusive breast milk alone without additional food and other drinks to infants from birth to 6 months old. Breastfeeding exclusively influenced by a variety of factors which include the factor of education, work, knowledge, exposure to information, family support and support for health workers. Scope of exclusive breastfeeding in Kelurahan Pegambiran UPT Clinic work area amounted to 54.7% and has not met the target of 75%. The purpose of this research is to know the relationship between the determinants of behavior with exclusive breastfeeding in Kelurahan Pegambiran UPT Clinic work area Pegambiran the city of Cirebon in the Year 2018. This research method using descriptive analytic study design with cross sectional approach. The population in this research totalled 154 7-11 months old baby with samples as many as 65 people were selected based on the method of propotional random sampling. Research data retrieval by using a questionnaire with interview techniques. Test analysis to look at the relationship of free variables and bound variables with the Chi Square test. Based on the results of the study, pointed out that there is no relationship between the mother's education (p value = 0.785), the work of the mother (p value = 1,000), mothers knowledge (p value = 0.977), exposure to information (p value = 0.014), family support (p value = 0.018) and support health workers (p value = 0.006) with exclusive breastfeeding in Kelurahan Pegambiran UPT Clinic work area Pegambiran the city of Cirebon in the year 2018.

Keywords : Exclusive breastfeeding, determinant of behavior

* Program Studi S1 Kesehatan Masyarakat STIKes Cirebon

** Program Studi S1 Kesehatan Masyarakat STIKes Cirebon

(2)

1320 PENDAHULUAN

Dalam rangka menurunkan angka kesakitan dan kematian anak, UNICEF (United Nation Childrens Fund) dan WHO (World Health Organization) merekomendasikan sebaiknya anak hanya disusui air susu ibu (ASI) selama paling sedikit enam bulan, dan pemberian ASI dilanjutkan sampai anak berumur dua tahun. Menurut UNICEF, 10 juta kematian anak balita di dunia dan 30.000 kematian bayi di Indonesia setiap tahun bisa dicegah melalui pemberian ASI ekslusif tanpa memberikan makanan dan minuman tambahan pada bayi.1

Menurut Peraturan Pemerintah Republik Indonesia (PPRI) No.33 th 2012 pasal 6 terkait pemberian Air Susu Ibu (ASI) Eksklusif berbunyi “ Setiap ibu yang melahirkan harus memberikan ASI eksklusif kepada bayi yang dilahirkannya.2 SK. Menkes No. 450/MENKES/SK/IV/2004 juga menetapkan rekomendasi pemberian ASI ekslusif selama 6 bulan dan dianjurkan untuk dilanjutkan sampai anak berusia 2 tahun atau lebih dengan pemberian makanan tambahan yang sesuai.3

Banyak keuntungan yang diperoleh dari ASI, tidak saja keuntungan dalam proses pertumbuhan dan perkembangan bayi, tetapi juga hubungan kasih sayang antara ibu dan bayi.

Keuntungan bagi ibu antara lain adalah menunda kehamilan kembali, kondisi rahim cepat pulih pasca melahirkan, mengurangi risiko kanker payudara, ibu tidak repot menyiapkan dan membersihkan peralatan untuk pemberian susu formula dan dapat menghemat pengaluaran rumah tangga untuk pembelian susu formula.5

Di Jawa Barat cakupan ASI eksklusif pada tahun 2015 baru mencapai 45% masih dibawah cakupan nasional 52,3% terlebih target nasional sebesar 80%, walaupun demikian masih ada beberapa kabupaten atau kota yang telah melampaui target nasional yaitu, Kabupaten Tasikmalaya, Kota Sukabumi dan Kota Bogor.6

Berdasarkan data profil kesehatan Kota Cirebon tahun 2016 untuk cakupan pemberian ASI Eksklusif pada bayi usia kurang dari (0-6 Bulan) sebesar 57,2%, naik sedikit dari tahun 2015 yaitu 56,1%. Bila dibandingkan target Kota Cirebon tahun 2016 yang seharusnya mencapai 45%, capaian yang ada sudah diatas target yaitu 57,2%, namun bila dibandingkan target akhir tahun 2019 sebesar 60% maka masih kurang. Hal tersebut menunjukan bahwa sudah ada peningkatan perilaku ASI Eksklusif, namun masih banyak ibu yang belum memberikan ASI Eksklusif untuk bayinya.7

Rendahnya angka bayi yang disusui dapat dipengaruhi oleh 3 faktor determinan perilaku antara lain, 1) faktor predisposisi (predisposing), 2) faktor pemungkin (enabling), 3) faktor penguat (reinforcing). Ketiga faktor tersebut sangat mempengaruhi perilaku masyarakat tentang kesehatan yang ditentukan oleh pendidikan, pekerjaan dan pengetahuan. Disamping itu keterpaparan terhadap informasi dan perilaku para petugas kesehatan terhadap kesehatan juga akan mendukung dan memperkuat terbentuknya perilaku.8

Pekan Asi Sedunia (World Breaseeding Week) 2017 secara umum bertujuan mengadvokasi seluruh elemen masyarakat untuk menjalin kemitraan dan mendukung keberlangsungan pemberian ASI agar dapat menghasilkan generasi yang berkwalitas. Untuk mencapai keberhasilan menyusui memerlukan dukungan pemerintah, dunia usaha dan semua lapisan masyarakat secara terus menerus dan berkelanjutan.4

Berdasarkan rekapitulasi pemantauan ASI eksklusif pada bayi 6 bulan di Kelurahan Pegambiran tahun 2017 diperoleh data bayi yang mendapatkan ASI eksklusif sebesar 43,0%.9 Sedangkan menurut laporan bulanan tahun 2018 cakupan ASI eksklusif pada bulan April bayi yang mendapatkan ASI eksklusif yaitu 60,0% dari 180 sasaran, untuk bulan Mei bayi yang mendapatkan ASI eksklusif yaitu 52,6% dari 175 sasaran sedangkan pada bulan Juni 2018 sebesar 54,7% dari 197 sasaran. Di Kecamatan Lemah Wungkuk Kelurahan Pegambiran masih jauh dari rata-rata dimana diketahui target yang diharapkan 75% bayi 0-6 bulan mendapat ASI Eksklusif sehingga terdapat kesenjangan 20,3%. 10 Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui hubungan determinan perilaku dengan pemberian ASI eksklusif di Kelurahan Pegambiran Wilayah Kerja UPT Puskesmas Pegambiran Kota Cirebon Tahun 2018.

(3)

1321 METODE PENELITIAN

Rancangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah cross sectional, yaitu mencari hubungan antara faktor risiko (independent) dengan faktor efek (dependent) dimana melakukan observasi atau pengukuran variabel sekali dan sekaligus pada waktu yang sama.5

Populasi pada penelitian ini subjek adalah semua ibu yang memiliki bayi usia 7-11 bulan di Kelurahan Pegambiran Wilayah Kerja UPT Puskesmas Pegambiran Kota Cirebon pada bulan Juni tahun 2018 yaitu sebanyak 154 bayi. Sampel dalam penelitian ini memakai rumus Solvin sehingga didapatkan yaitu sebanyak 65 sampel dari semua ibu yang memiliki bayi usia 7-11 bulan dengan teknik pengambilan sampel yang dilakukan secara proportional random sampling.6 instrumen yang dipakai dalam penelitian adalah kuesioner, data diambil dari data primer dan data sekunder UPT Puskesmas Pegambiran Kota Cirebon Tahun 2018. Pengambilan data penelitian dengan menggunakan kuesioner dengan teknik wawancara. Uji analisis untuk melihat hubungan variabel bebas dan variabel terikat dengan uji Chi Square

HASIL PENELITIAN

Hubungan Pendidikan Ibu dengan Perilaku Pemberian Air Susu Ibu (ASI) Eksklusif

Tabel 1. Hubungan Pendidikan Ibu dengan Perilaku Pemberian ASI Eksklusif

Pendidikan Perilaku Pemberian ASI Eksklusif Jumlah P Value Tidak Eksklusif Eksklusif

n % n % N %

Tinggi 31 83,8 6 16,2 37 100

0,785

Rendah 25 89,3 3 10,7 28 100

Jumlah 56 86,2 9 13,8 65 100

Berdasarkan tabel 1 didapatkan bahwa ibu yang berpendidikan tinggi dan memberikan ASI ekslusif ada 6 (16,2%), dan ibu yang berpendidikan rendah serta memberikan ASI ekslusif ada 3 (10,7%). Hasil uji chi square diperoleh nilai p value sebesar 0,785 dimana nilai p value>0,05 yang berarti Ha ditolak maka dapat disimpulkan tidak ada hubungan yang bermakna secara statistik antara pendidikan ibu dengan perilaku pemberian ASI eksklusif.

Hubungan Pekerjaan Ibu dengan Perilaku Pemberian Air Susu Ibu (ASI) Eksklusif

Tabel 2. Hubungan Pekerjaan Ibu dengan Perilaku Pemberian ASI Eksklusif

Pekerjaan Perilaku Pemberian ASI Eksklusif Jumlah P

Value Tidak Eksklusif Eksklusif

n % n % n %

Bekerja 8 88,9 1 11,1 9 100

1.000

Tidak Bekerja 48 85,7 8 14,3 56 100

Jumlah 56 86,2 9 13,8 65 100

Berdasarkan tabel 2 didapatkan bahwa ibu yang bekerja dan memberikan ASI ekslusif ada 1 (11,1%) dan ibu yang tidak bekerja serta memberikan ASI ekslusif ada 8 (14,3%). Hasil uji chi square diperoleh nilai p value sebesar 1.000 dimana nilai p value>0,05 berarti Ha di tolak yang berarti tidak ada hubungan bermakna secara statistik antara pekerjaan ibu dengan perilaku pemberian ASI eksklusif.

(4)

1322 Hubungan Pengetahuan Ibu dengan Perilaku Pemberian Air Susu Ibu (ASI) Eksklusif

Tabel 3. Hubungan Pengetahuan Ibu dengan Perilaku Pemberian ASI Eksklusif

Pengetahuan Perilaku Pemberian ASI Eksklusif Jumlah P Value Tidak Eksklusif Eksklusif

n % n % n %

Baik 21 84,0 4 16,0 25 100

0,977

Tidak Baik 35 87,5 5 12,5 40 100

Jumlah 56 86,2 9 13,8 65 100

Berdasarkan tabel 3 didapatkan bahwa ibu yang mempunyai pengetahuan tinggi serta memberikan ASI ekslusif ada 4 (16,0%) sedangkan ibu yang mempunyai pengetahuan rendah serta memberikan ASI ekslusif ada 5 (12,5%). Hasil uji chi square diperoleh nilai p value sebesar 0,977 dimana p value>005 yang berarti Ha ditolak maka dapat disimpulkan tidak ada hubungan bermakna secara statistik antara pengetahuan ibu dengan perilaku pemberian ASI eksklusif

Hubungan Keterpaparan Terhadap Informasi Ibu dengan Perilaku Pemberian Air Susu Ibu (ASI) Eksklusif

Tabel 4. Hubungan Keterpaparan Terhadap Informasi Ibu dengan Perilaku Pemberian ASI Eksklusif Keterpaparan

Terhadap Informasi

Perilaku Pemberian ASI Eksklusif Jumlah P Value Tidak Eksklusif Eksklusif

n % n % n %

Pernah 28 75,7 9 24,3 37 100

0,014

Tidak Pernah 28 100 0 0 28 100

Jumlah 56 86,2 9 13,8 65 100

Berdasarkan tabel 4 didapat bahwa ibu yang memberikan ASI Ekslusif semuanya pernah terpapar informasi yaitu sebanyak 9 responden (24,3%) sedangkan ibu yang tidak pernah terpapar informasi 0 (0%). Hasil uji chi square diperoleh nilai p value sebesar 0,014 dimana nilai p value<0,05 yang berarti Ho ditolak maka dapat disimpulkan ada hubungan bermakna secara statistik antara keterpaparan terhadap informasi ibu dengan perilaku pemberian ASI eksklusif

Hubungan Dukungan Keluarga kepada Ibu dengan perilaku pemberian ASI Eksklusif

Tabel 5. Hubungan Dukungan Keluarga kepada Ibu dengan Perilaku Pemberian ASI Eksklusif Dukungan

Keluarga

Perilaku Pemberian ASI Eksklusif Jumlah P Value Tidak Eksklusif Eksklusif

n % n % n %

Mendukung 29 76,3 9 23,7 38 100

0,018 Tidak

Mendukung

27 100 0 0 27 100

Jumlah 56 86,2 9 13,8 65 100

Berdasarkan tabel 5 didapat bahwa ibu yang memberikan ASI Ekslusif semuanya mendapat dukungan keluarga dalam pemberian ASI ekslusif yaitu sebanyak 9 responden (23,7%). Hasil uji chi square diperoleh nilai p value sebesar 0,018 dimana nilai p value<0,05 yang berarti Ho ditolak maka dapat disimpulkan ada hubungan bermakna secara statistik antara dukungan keluarga ibu dengan perilaku pemberian ASI eksklusif

(5)

1323 Hubungan Dukungan Petugas Kesehatan dengan perilaku pemberian ASI Eksklusif

Tabel 6. Hubungan Dukungan Petugas Kesehatan dengan Perilaku Pemberian ASI Eksklusif Dukungan

Petugas Kesehatan

Perilaku Pemberian ASI Eksklusif Jumlah P Value Tidak Eksklusif Eksklusif

n % n % n %

Mendukung 19 70,4 8 29,6 27 100

0,006 Tidak

Mendukung

37 97,4 1 2,6 38 100

Jumlah 56 86,2 9 13,8 65 100

Berdasarkan tabel 6 didapat bahwa ibu yang memberikan ASI Ekslusif sebanyak 8 responden (29,6%) mendapat dukungan petugas kesehatan. Hasil uji chi square didapatkan nilai p value sebesar 0,006 dimana nilai p value < 0,05 yang berarti Ho ditolak maka dapat disimpulkan ada hubungan bermakna secara statistik antara dukungan petugas kesehatan dengan perilaku pemberian ASI eksklusif

PEMBAHASAN

Hubungan pendidikan ibu dengan perilaku pemberian ASI Eksklusif

Berdasarkan hasil penelitian didapat bahwa p value> (0,05) yang berarti tidak ada hubungan yang bermakna antara pendidikan ibu dengan perilaku pembrian ASI eksklusif. Sehingga dapat disimpulkan bahwa ibu yang memiliki pendidikan tinggi maupun rendah tidak mempunyai hubungan yang bermakna pada pemberian ASI eksklusif pada bayinya.

Penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan Sariyanti tahun 2015 bahwa tidak adanya hubungan antara pendidikan dengan pemberian ASI eksklusif pada bayi, penelitian tersebut mengatakan bahwa, ibu yang memiliki tingkat pendidikan tinggi belum tentu mempunyai hubungan terhadap perilaku ibu untuk memberikan ASI eksklusif.11

Hubungan pekerjaan ibu dengan perilaku pemberian ASI Eksklusif

Berdasarkan hasil penelitian didapat bahwa p value >  (0,05) yang berarti tidak ada hubungan yang bermakna antara pekerjaan ibu dengan perilaku pemberian ASI eksklusif. Penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan Yuni Rifiyanti tahun 2013 penelitian tersebut mengatakan bahwa, tidak adanya hubungan antara pekerjaan dengan pemberian ASI eksklusif pada bayi. 12

Dalam penelitian ini menunjukan tidak ada hubungan yang bermakna secara statistik antara pekerjaan dengan pemberian ASI eksklusif, berbeda dengan anggapan bahwa ibu yang tidak bekerja akan mempunyai banyak waktu dan kesempatan yang lebih untuk memberikan ASI eksklusif kepada bayinya dibandingkan dengan ibu yang bekerja. Kemungkinan hal tersebut dikarenakan walaupun mempunyai waktu dan kesempatan yang cukup, tetapi faktor lainnya juga mempengaruhi, misalnya ASI tidak cukup atau ASI tidak keluar dan menganggap susu formula lebih praktis.13 Hubungan pengetahuan ibu dengan perilaku pemberian ASI Eksklusif

Berdasarkan hasil penelitian didapat bahwa p value> (0,05) yang berarti tidak ada hubungan yang bermakna antara pengetahuan ibu dengan pemberian ASI eksklusif. Sehingga dapat disimpulkan bahwa itu yang memiliki pengetahuan baik maupun pengetahuan tidak baik, tidak mempengaruhi pada pemberian ASI eksklusif pada bayi.

Penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan Ida tahun 2012, bahwa tidak adanya hubungan antara pengetahuan dengan pemberian ASI eksklusif pada bayi.14 Walaupun tidak ada hubungan yang bermakna secara statistik, namun sangat penting pemberian pengetahuan kepada ibu tentang ASI eksklusif karena pengetahuan merupakan hal yang penting untuk terbentuknya tindakan seseorang karena tindakan seseorang yang didasari oleh pengetahuan akan lebih bertahan atau langgeng daripada perilaku yang tanpa di dasari oleh pengetahuan. Kurangnya pengetahuan

(6)

1324 atau kurangnya kemampuan ibu dalam menyerap dan menerapkan informasi mengenai ASI eksklusif berpengaruh terhadap perilaku ibu dalam mempraktekkan pemberian ASI eksklusif.

Hubungan keterpaparan terhadap informasi dengan perilaku pemberian ASI Eksklusif`

Berdasarkan hasil penelitian didapat bahwa p value <  (0,05)yang berarti ada hubungan yang bermakna antara keterpaparan terhadap informasi ibu dengan perilaku pemberian ASI eksklusif. Sehingga dapat disimpulkan bahwa ibu yang pernah terpapar terhadap informasi dapat mempengaruhi ibu dalam pemberian ASI eksklusif pada bayi. Penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Arvi Diani tahun 2014 yang menyatakan bahwa terdapat hubungan antara keterpaparan terhadap informasi dengan pemberian ASI eksklusif.15

Keterpaparan terhadap informasi merupakan salah satu cara untuk meningkatkan pengetahuan sehingga dapat diharapkan dengan semakin terpaparnya ibu akan informasi mengenai pentingnya ASI eksklusuf maka akan memberikan pengaruh kepada ibu sehingga ibu mau memberikan ASI eksklusif kepada bayinya.

Hubungan dukungan keluarga ibu dengan perilaku pemberian ASI Ekslusif

Berdasarkan hasil penelitian didapat bahwa p value< (0,05) yang berarti ada hubungan yang bermakna antara dukungan keluarga ibu dengan perilaku pemberian ASI eksklusif. Sehingga dapat disimpulkan bahwa ibu yang mendapat dukungan keluarga dapat mempengaruhi ibu dalam pemberian ASI eksklusif pada bayinya. Penelitian ini sejalan dengan penelitian Irnawati pada tahun 2011 yang menemukan adanya hubungan antara dukungan keluarga dengan pemberian ASI eksklusif pada bayi.16

Dukungan keluarga pada ibu yang menyusui akan meningkatkan kepercayaan diri ibu, jiwa dan pikiran ibu akan menjadi tenteram yang akhirnya berpengaruh baik yang membuat ASI memancar dengan baik sehingga produksi ASI akan menjadi banyak, dan proses menyusui menjadi lancaryang akhirnya mendukung terhadap pemberian ASI eksklusif.

Hubungan dukungan petugas kesehatan dengan perilaku pemberian ASI Eksklusif

Berdasarkan penelitian didapat bahwa p value< (0,05) yang berarti ada hubungan yang bermakna antara dukungan petugas kesehatan ibu dengan perilaku pemberian ASI eksklusif.

Sehingga dapar disimpilkan bahwa ibu yang mendapat dukungan petugas kesehatan dapat mempengaruhi ibu dalam pemberian ASI eksklusif pada bayinya. Ibu percaya bahwa menyusui tidak hanya bermanfaat untk bayinya tetapi juga bermanfaat bagi dirinya dan keluarga yang akhirnya dukungan tenaga kesehatan dapat selalu mendukung terhadap pemberian ASI eksklusif.

SIMPULAN

1. Tidak ada hubungan yang bermakna secara statistik antara pendidikan ibu dengan pemberian ASI eksklusif dengan p value = 0,785.

2. Tidak ada hubungan yang bermakna secara statistik antara pekerjaan ibu dengan pemberian ASI eksklusif dengan p value = 1.000.

3. Tidak ada hubungan yang bermakna secara statistik antara pengetahuan ibu dengan pemberian ASI eksklusif dengan p value = 0,977.

4. Ada hubungan yang bermakna secara statistik antara keterpaparan terhadap informasi ibu dengan pemberian ASI eksklusif dengan p value = 0,014.

5. Ada hubungan yang bermakna secara statistik antara dukungan keluarga ibu dengan pemberian ASI eksklusif dengan p value = 0,018.

6. Ada hubungan yang bermakna secara statistik antara dukungan petugas kesehatan dengan pemberian ASI eksklusif dengan p value = 0,006.

(7)

1325 SARAN

1. Meningkatkan pengetahuan masyarakat mengenai pemberian ASI eksklusif dengan cara memperluas sasaran promosi kesehatan, tidak hanya kepada ibu hamil, ibu menyusu tetapi juga kepada anggota keluarga lainnya seperti suami, orang tua dan mertua.

2. Masyarakat hendaknya turut serta dalam kegiatan promosi kesehatan tentang pentingnya ASI eksklusif yang diberikan oleh petugas kesehatan sehingga dapat diharapkan dengan semakin terpaparnya informasi mengenai pentingnya ASI eksklusif maka akan memberikan pengaruh kepada ibu sehingga ibu mau memberikan ASI eksklusif kepada bayinya.

3. Meningkatkan keterampilan petugas kesehatan dalam melakukan penyuluhan dan promosi kesehatan kepada ibu-ibu menyusui dengan mengembangkan KIE (Komunikasi Informasi dan Edukasi) melalui metode dan media yang sesuai sasaran, agar ibu memiliki kesadaran terhadap pemberian ASI eksklusif sehingga timbul motivasi dalam diri ibu untuk memberikan hanya ASI saja sampai bayi berusia 6 bulan.

4. Memberikan sertifikat ASI bagi bayi yang lulus ASI Eksklusif yang berkolaborasi dengan petugas gizi.

DAFTAR PUSTAKA

1. Infodation, Situasi dan analisis ASI Eksklusif. Pusat data dan informasi Kementrian Kesehatan RI. [diakses tanggal 30 Mei 2018]. Tersedia dari http://.depkes.go.id/

2. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia nomor 33 tahun 2012 tentang pemberian Air Susu Ibu (ASI) Eksklusif

3. Depkes RI. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 450/Menkes/SK/IV/2004 tentang Pemberian Air Susu Ibu (ASI) Eksklusif pada bayi di indonesia. Jakarta: Depkes RI;2004

4. Kementrian Kesehatan Republik Indonesia. Pedoman penyelenggaraan Pekan ASI Sedunia (PAS). Jakarta;2017

5. Pemerintah Kota Cirebon, Profil kesehatan Kota Cirebon 2015. Cirebon : Dinas kesehatan, sub bag. Program dan keuangan;2015

6. Profil kesehatan provinsi jawa barat tahun 2015.[diakses tanggal 31 Mei 2018]. Tersedia dari:http://www.depkes.go.id

7. Dinas kesehatan kota cirebon, Profil kesehatan Kota Cirebon tahun 2016. Cirebon:Dinas kesehatan, sub bag. Program dan Keuangan;2016

8. Soekidjo Notoatmojo. Promosi kesehatan dan ilmu perilaku. Jakarta: Rineka Cipta;2008

9. Rekapitulasi hasil pemantauan ASI Eksklusif pada bayi 6 bulan di Kelurahan Pegambiran tahun 2017

10. Profil UPT Puskesmas Pegambiran Kota Cirebon Tahun 2017

11. Sariyanti. Faktor-faktor yang berhubungan dalam pemberian ASI ekslusif di Wilayah Kerja Puskesmas Godean Sleman Yogyakarta. Skripsi. Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Yogyakarta:2015

12. Yuni Rifiyanti. Faktor-faktor yang berhubungan dengan perilaku ibu dalam pemberian ASI eksklusif di Kelurahan Kesenden Wilayah Kerja UPTD Puskesmas Kejaksan Kota Cirebon Tahun 2013

13. Pomarinda, Simbolon. Pengaruh dukungan keluarga terhadap pemberian ASI eksklusif di Wilayah Kerja Puskesmas Gurilla Pematangsiantar. Tesis. Medan: Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatra Utara.

14. Ida. Faktor-faktor yang berhubungan dengan pemberian ASI ekslusif 6 bulan di Wilayah Kerja Puskesmas Kemiri Muka Kota Depok. Tesis Fakultas Kesehatan Masyarakat; 2012

15. Arvi Dwiani. Faktor-faktor yang berhubungan dengan Pemberian ASI eksklusif di Puskesmas Dempo Palembang dan Puskesmas Simpang Timbangan Oga n llir Jurnal, 2014; Vol.5,No.1 16. Irnawati. Faktor-faktor yang berhubungan dengan pemberian ASI eksklusif di Kelurahan

Kecapi Kota Cirebon Tahun 2011. Skripsi STIKes Cirebon. Cirebon;2011

(8)

1326

FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN TERJADINYA STRES KERJA PADA PEKERJA WANITA

Muslimin*I Gede Eka**

ABSTRAK

Semakin banyak terbukanya peluang kerja yang saat ini terjadi, tidak menutup kemungkinan masuknya wanita ke dalam dunia kerja. Dari meningkatkanya wanita yang terlibat dalam dunia kerja sebagai salah satu prestasi bagi wanita tersebut, ternyata wanita bekerja dikabarkan memiliki ancaman cukup serius untuk terkena stres kerja. Stres kerja memiliki beberapa dampak negatif, diantaranya dapat menyebabkan gangguan kesehatan dan menurunkan produktivitas kerja. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan stres kerja pada pekerja wanita di PT. Shoetown Majalengka Provinsi Jawa Barat Tahun 2019. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain penelitian cross sectional. Populasi penelitian ini adalah wanita bekerja yang bekerja di PT Shoetown Majalengka periode bulan Juni 2019 sebanyak 1785 orang dengan sampel berjumlah 95 responden. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder dari perusahaan terkait dan data primer yang diperoleh melalui wawancara kepada responden. Pengumpulan data penelitian menggunakan kuisioner dan dianalisa menggunakan uji chi square. Dari hasil penelitian didapatkan bahwa ada hubungan yang bermakna antara beban kerja dengan kejadian stres kerja (p value 0,040), ada hubungan yang bermakna antara kejenuhan kerja dengan kejadian stres kerja (p value 0,035), ada hubungan yang bermakna antara lingkungan kerja dengan kejadian stres kerja (p value 0,046).

Kata kunci :Stres, Beban, Kejenuhan, Lingkungan, Pekerja

ABSTRACT

The more open job opportunities that currently occur, do not rule out the entry of women into the world of work. From increasing the number of women involved in the workforce as an achievement for these women, it turns out that working women are reported to have a serious enough threat to be exposed to work stress. Job stress has several negative impacts, including can cause health problems and reduce work productivity. This study aims to determine the factors associated with work stress on female workers at PT. Shoetown Majalengka, West Java Province in 2019. This research is a quantitative study with cross sectional research design. The population of this study was working women who worked at PT Shoetown Majalengka for the period of June 2019 with 1785 people with a sample of 95 respondents. The data used in this study are secondary data from related companies and primary data obtained through interviews with respondents. Research data collection using questionnaires and analyzed using chi square test.From the results of the study found that there is a significant relationship between workload and work stress events (p value 0.040), there is a significant relationship between work burnout and work stress events (p value 0.035), there is a significant relationship between work environment and work stress events (p value 0.046)

Keywords : Stress, Workload, Saturation, Environment, Workers

* Program Studi S1 Kesehatan Masyarakat STIKes Cirebon

** Program Studi S1 Kesehatan Masyarakat STIKes Cirebon

(9)

1327 PENDAHULUAN

Stres kerja merupakan masalah kesehatan yang umum terjadi dan sering dikeluhkan oleh pekerja di berbagai Negara. Di Amerika, stres kerja merupakan masalah yang umum terjadi dan merugikan bagi pekerja. Menurut data WHO tahun 2014, di banyak Negara sekitar 8% penyakit yang ditimbulkan akibat pekerjaan adalah depresi. Dalam sebuah survei yang dilakukan oleh Princeton Survey Research Associates, diketahui bahwa tiga dari empat orang di Amerika mengatakan bahwa pekerja pada saat ini memiliki tingkat stres kerja yang lebih tinggi dibandingkan dengan generasi beberapa tahun sebelumnya. Sementara hasil penelitian Labour Force Survey tahun 2014, menemukan bahwa terdapat 440.000 kasus stress akibat kerjadi Inggris dengan angka kejadian sebanyak1.380 kasus per100.000 pekerja yang mengalami stress akibat kerja. Sementara Komisi Kesehatan Mental Kanada (Mental Health Commission of Canada) tahun 2016, mencatat bahwa setidaknya terdapat 1 dari 5 orang Kanada yang mengalami masalah kesehatan psikologis pada tahun tertentu serta terdapat 47% pekerja Kanada menganggap bahwa pekerjaan mereka merupakan bagian yang paling menyebabkan stres dalam kehidupan sehari-hari.?

Stres kerja tidak terjadi begitu saja, faktor penyebab stres kerja di pekerjaan dikelompokkan menjadi faktor-faktor intrinsik dalam pekerjaan, peran individu dalam organisasi, pengembangan karir, hubungan dalam pekerjaan, dan struktur dan iklim organisasi. Kemudian penyebab stres kerja dikelompokkan berdasarkan empat area atau lingkungan yakni lingkungan kerja, rumah, sosial, dan individu.5

Faktor stres kerja bersumber pada pekerjaan, karakteristik indvidu, dan luar organisasi.6 Faktor penyebab stres kerja dikelompokkan menjadi tiga sumber yaitu faktor yang bersumber dari lingkungan, organisasi, dan individu dimana pengelompokan besar ini serupa dengan pengelompokan penyebab stres kerja oleh National Safety Council namun tidak sama dalam penggolongan faktor-faktor yang lebih rincinya.7

Lebih rinci faktor penyebab stres kerja menurut National Safety Council tersebut yakni berupa kurangnya otonomi, beban kerja, relokasi pekerjaan, kurangnya pelatihan, perkembangan karir, hubungan yang buruk dengan atasan, perkembangan teknologi, bertambahnya tanggung jawab tanpa pertambahan gaji, dan pekerja yang dikorbankan (faktor organisasional), pertentangan antara karir dan tanggung jawab keluarga, ketidakpastian ekonomi, kurangnya penghargaan kerja, kejenuhan kerja, perawatan anak, dan konflik dengan rekan kerja (faktor individu), buruknya kondisi lingkungan kerja, pelecehan seksual, kekerasan di tempat kerja, kemacetan saat berangkat dan pulang kerja, dan diskriminasi ras (factor lingkungan).8

Terkait faktor-faktor stres kerja tersebut, terdapat beberapa penelitian yang telah dilakukan sebelumnya, diantaranya yakni Saragih dalam penelitiannya mengenai kurangnya otonomi kerja terhadap 70 responden, menyebutkan bahwa dari 47,1% responden yang tidak memiliki otonomi dalam melaksanakan tugasnya, terdapat 54,5% mengalami stres kerja.9 Selanjutnya dalam hasil penelitian terhadap hubungan pekerja dengan atasan, Nugrahani menyebutkan bahwa dari buruknya hubungan responden dengan atasan atau supervisor terdapat 58,8% responden mengalami stres kerja sedang.10 Kemudian Airmayanti, dalam hasil penelitiannya terhadap 108 sampel disebutkan bahwa dari 19 responden yang menyatakan beban kerja berat terdapat 73,3% mengalami stres kerja berat dan dari beban kerja sedang sebesar 57 responden terdapat 59,6% mengalami stres ringan.11

Semakin banyak terbukanya peluang kerja yang saat ini terjadi, tidak menutup kemungkinan masuknya kaum wanita ke dalam dunia kerja. Dari hasil Susenas BPS tahun 2010 disebutkan bahwa keikutsertaan wanita dalam dunia kerja adalah sebesar 51,76 % dan pria sebesar 48,24% dari penduduk usia produktif (15-64 tahun).12

Wanita pekerja secara biologis berbeda dengan pekerja pria, terutama dalam hal fungsi reproduksi, seperti haid, hamil, melahirkan, dan menyusui. Kondisi seperti ini menyebabkan wanita tidak dapat melakukan pekerjaannya secara maksimal, terutama untuk pekerjaan yang membutuhkan aktivitas fisik berlebih. Pekerja wanita memiliki kecenderungan lebih mudah mengalami stres dibandingkan pria.13

Wanita yang bekerja memiliki banyak tuntutan berupa tumpukan pekerjaan yang seolah tak ada habisnya, terkadang adanya suasana kerjasama yang kurang menyenangkan dari rekan kerja,

(10)

1328 tingginya tuntutan atasan dan berbagai kondisi lainnya sudah menjadi makanan sehari-hari.

Berbagai tuntutan kerja di atas tidak bisa dihindari oleh wanita yang memutuskan tetap bekerja.

Para wanita yang bekerja mengalami stres lebih tinggi dibandingkan dengan pria, dimana salah satu faktor tersebut karena wanita yang bekerja menghadapi konflik peran sebagai wanita karir sekaligus ibu rumah tangga. Kemudian pekerja wanita mengalami level stres yang lebih tinggi dibandingkan pria yang bekerja, dimana wanita yang bekerja lebih sering mengalami beberapa gejala stres seperti sakit kepala, kegelisahan, depresi, gangguan tidur, dan gangguan makan dibandingkan dengan pria yang bekerja.14

Hasil studi pendahuluan pada tanggal 5 September 2019 di PT. Shoetown Majalengka Provinsi Jawa Barat terhadap 15 responden pekerja wanita dengan hasil 26,7% responden mengalami stres berat dan 73,3% mengalami stres ringan, serta terdapat beberapa faktor yang diduga berhubungan dengan stres kerja yakni faktor organisasional seperti beban kerja, bila target produksi tidak tercapai mau tidak mau pekerja harus mengambil lembur tambahan.Faktor individual seperti kejenuhan kerja, tidak adanya rotasi pekerjaan rentan menimbulkan stres kerja karena pekerja mengalami kejenuhan dalam pekerjaannya.Faktor lingkungan seperti kondisi lingkungan kerja, tidak adanya pendingin ruangan (Air Conditioner) mengakibatkan suhu ruangan berubah- ubah sehingga dapat memicu terjadinya stres kerja.

METODE PENELITIAN

Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain cross sectional. Variabel adalah perilaku atau karakteristik yang memberikan nilai beda terhadap sesuatu.15 Dalam penelitian ini yang menjadi variabel independen adalah faktor- faktor yang berhubungan dengan stres kerja (Beban Kerja, Kejenuhan Kerja dan Buruknya Kondisi Lingkungan Kerja), dan yang menjadi variabel dependen adalah stres kerja. Populasi dalam penelitian ini adalah wanita bekerja yang bekerja di PT Shoetown Majalengka periode bulan September 2019 sebanyak 1785 orang. Sampel adalah sebagian dari populasi yang nilai atau karakteristiknya diukur dan kemudian dipakai oleh peneliti untuk menduga karakteristik dari populasi.16 Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan accidental sampling, yaitu semua pekerja wanita yang bekerja di PT. Shoetown Majalengka yang kebetulan bertemu dengan peneliti dijadikan sebagai responden. Pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan metode wawancara. Instrumen penelitian menggunakan kuesioner. Jenis dan sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah berupa data primer dan data sekunder. Analisis bivariat ini menggunakan uji statistik chi square dengan tingkat kemaknaan 0,05.

HASIL PENELITIAN

Beban kerja kejenuhan kerja, dan lingkungan kerja wanita

Tabel 1. Distribusi data responden berdasarkan faktor beban kerja, kejenuhan kerja, dan lingkungan kerja

Kategori F (95) Persentase (%)

Beban Kerja

Ringan 26 27,3

Berat 69 72,7

Kejenuhan Kerja

Tidak Jenuh 10 10,5

Jenuh 85 89,5

Lingkungan Kerja

Tidak Terganggu 21 22,1

Terganggu 74 77,9

Pada tabel 1 menunjukkan bahwa dari 95 responden sebagian besar menyatakan beban kerja berat sebanyak 69 responden (72,7%), sebagian besar menyatakan jenuh sebanyak 85 responden

(11)

1329 (89,5%), dan sebagian besar responden menyatakan merasa terganggu sebanyak 74 responden (77,9%).

Kejadian stres kerja

Tabel 2. Distribusi Data Responden Berdasarkan Kejadian Stres Kerja

Tingkat Stres n Persentase (%)

Stres Ringan 85 89,4

Stres Berat 10 10,6

Total 95 100

Pada tabel 2 menunjukkan bahwa dari 95 responden sebagian besar menyatakan stres ringan sebanyak 85 responden atau 89,4%, yang menyatakan stres berat sebanyak 10 responden atau 10,6%.

Hubungan Beban Kerja Dengan Stres Kerja

Tabel 3. Hubungan beban kerja dengan stres kerja

No Beban Kerja Stres Kerja Jumlah P Value

Ringan Berat

N % n % N %

1 Ringan 26 100 0 0 26 100 0,040

2 Berat 59 85,5 10 14,5 69 100

Jumlah 85 89,5 10 10,5 95 100

Pada tabel 3 menunjukan bahwa responden yang memiliki penilaian beban kerja ringan sebanyak 26 orang semua terdistribusi pada kategori stres ringan. Sedangkan responden yang memiliki penilaian beban kerja berat sebanyak 69 orang terdistribusi lebih tinggi pada kategori stres ringan sebanyak 59 orang dan stres berat sebanyak 10 orang. Perbedaan proporsi ini menunjukkan perbedaan yang bermakna yang terlihat dari hasil uji chi square, yakni p value =0,040 (<0,05) yang berarti hipotesis nol ditolak atau ada hubungan antara beban kerja terhadap kejadian stress kerja.

Hubungan Kejenuhan Kerja Dengan Stres Kerja

Tabel 4. Hubungan kejenuhan kerja dengan stres kerja

No Kejenuhan Kerja Stres Kerja Jumlah P Value

Ringan Berat

N % n % N %

1 Tidak 27 100 0 0 27 100 0,035

2 Ya 58 85,3 10 14,7 68 100

Jumlah 85 89,5 10 10,5 95 100

Pada tabel 4 menunjukan bahwa responden yang memiliki penilaian tidak merasa jenuh sebanyak 27 orang semua terdistribusi pada kategori stres ringan. Sedangkan responden yang memiliki penilaian merasa jenuh sebanyak 68 orang terdistribusi lebih tinggi pada kategori stres ringan sebanyak 58 orang dan stres berat sebanyak 10 orang. Perbedaan proporsi ini menunjukkan perbedaan yang bermakna yang terlihat dari hasil uji chi square, yakni p value =0,035 (<0,05) yang berarti hipotesi nol ditolak atau ada hubungan antara kejenuhan kerja terhadap kejadian stres kerja.

(12)

1330 Hubungan Lingkungan Kerja Dengan Stres Kerja

Tabel 5. Hubungan lingkungan kerja dengan stres kerja No Lingkungan

Kerja

Stres Kerja Jumlah P Value

Ringan Berat

n % n % N %

1 Tidak Mengganggu

25 100 0 0 25 100

0,046

2 Mengganggu 60 85,7 10 14,3 70 100

Jumlah 85 89,5 10 10,5 95 100

Pada tabel 5 menunjukan bahwa responden yang memiliki penilaian lingkungan kerja tidak mengganggu sebanyak 25 orang semua terdistribusi pada kategori stres ringan. Sedangkan responden yang memiliki penilaian lingkungan kerja mengganggu sebanyak 70 orang terdistribusi lebih tinggi pada kategori stres ringan sebanyak 60 orang dan stres berat sebanyak 10 orang.

Perbedaan proporsi ini menunjukkan perbedaan yang bermakna yang terlihat dari hasil uji chi square, yakni p value=0,046 (<0,05) yang berarti hipotesis nol ditolak atau ada hubungan antara lingkungan kerja terhadap kejadian stres kerja

PEMBAHASAN

Gambaran beban kerja, kejenuhan, dan lingkungan kerja pada pekerja wanita

Timbulnya beban kerja berlebih adalah sebagai akibat dari tugas-tugas yang diberikan kepada tenaga kerja dan dirasakan oleh tenaga kerja sebagai beban kerja yang terlalu banyak untuk diselesaikan dalam waktu tertentu.5 Salah satu faktor penyebab stres kerja pada pekerja wanita di PT Shoetown Majalengka Tahun 2019 adalah beban kerja yang berlebih. Pekerjaan yang dilakukan secara terus menerus dalam jangka waktu cukup lama dapat membebani kerja tubuh. Pemberian jeda dalam rentang pekerjaan penting dilakukan untuk mengurangi beban kerja yang terlalu berlebih.Kurangnya perhatian terhadap hal tersebut mulai menimbulkan masalah stres kerja walaupun masih berupa stres ringan tapi bila tidak segera ditangani dapat menimbulkan masalah yg lebih serius.

Kejenuhan dalam bekerja merupakan manifestasi dari stres kerja yang menyebabkan produktivitas kerja menurun, adanya ketidakpuasan kerja, kurang motivasi, hilangnya gairah kerja (burnout), angka absen yang meningkat.19 Kejenuhan kerja cukup berpotensi untuk menyebabkan stres kerja.Pekerjaan yang monoton, tidak adanya rotasi pekerjaan menjadi alasan kenapa kejenuhan kerja itu terjadi dan memicu kepada stres kerja.Walaupun sebagian besar masih dalam tahap stres ringan tapi bila tidak segera ditangani dapat menimbulkan masalah yg lebih serius kedepannya bagi perusahaan.

Kondisi fisik lingkungan yang dapat mempengaruhi timbulnya stres kerja, diantaranya dapat berupa suhu yang telalu panas, terlalu dingin, terlalu sesak, kurang cahaya, lingkungan kerja kotor atau kebersihannya kurang, dan lain sebagainya. Ruangan yang terlalu panas (dapat berarti juga sirkulasi) menyebabkan ketidaknyamanan seseorang dalam menjalankan pekerjaannya, begitu juga ruangan yang terlalu dingin.20 Buruknya kondisi lingkungan dalam hasil penelitian ini diantaranya meliputi:

Kebersihan lingkungan kerja. Lingkungan kerja yang bersih dapat membuat perasaan menjadi tenang dan damai sehingga dapat dengan optimal dalam bekerja. Sebaliknya jika kondisi lingkungan buruk atau kotor akan menambah ketegangan dan mengganggu kinerja.21 Dalam hal ini sebagian responden merasa bahwa kondisi kebersihan lingkungan kerjanya kurang sehingga memicu timbulnya stres kerja.

Pencahayaan dan sirkulasi udara. Pencahayaan dan sirkulasi udara yang cukup dan sesuai dibutuhkan pekerja untuk dapat melakukan pekerjaan dengan optimal. Dalam melaksanakan tugas sering kali karyawan membutuhkan penerangan yang cukup terutama bila pekerjaan yang dilakukan menuntut ketelitian, serta sirkulasi udara yang cukup dapat memberikan kesegaran fisik namun

(13)

1331 sebaliknya, pertukaran udara yang kurang akan menimbulkan kelelahan pada karyawan.21 Dalam hal ini sebagian responden merasa bahwa pencahayaan dan sirkulasi udara di tempat kerja kurang sehingga menimbulkan ketidaknyamanan dalam bekerja.

Kebisingan dapat mengganggu konsentrasi. Dengan adanya kebisingan maka akan mengganggu konsentrasi karyawan, sehingga akan menimbulkan kesalahan atau kerusakan.21 Dalam penelitian ini sebagian responden merasa terganggu dengan kebisingan yang ada di tempat kerja maupun di sekitarnya, sehingga menimbulkan kelelahan dan mengganggu konsentrasi kerja yang pada akhirnya berpotensi mengalami stres kerja.

Gambaran stres pada pekerja wanita

Seseorang baik pria maupun wanita perlu bekerja untuk dapat memenuhi kebutuhan dan memperoleh apa yang diinginkannya. Dalam bekerja tidak menutup kemungkinan akan terjadi ketegangan pada diri pekerja di tempat kerja maupun di luar tempat kerja. Stres kerja dalam penelitian ini diukur dengan menggunakan beberapa pertanyaan yang mengindikasikan pada stres kerja meliputi perubahan fisiologis, psikologis, dan perilaku.

Selain faktor penyebab stres kerja dari dunia kerja, juga terdapat penyebab stres dari luar pekerjaan seperti metabolisme biologis dari wanita itu sendiri diantaranya wanita mengalami dysminorrhae. Dysminorrhae merupakan salah satu faktor penyebab stres kerja lebih tinggi dari pria bekerja karena wanita bekerja merasa tanggung jawab pekerjaannya terganggu akibat gangguan menstruasi tersebut. Sedangkan dalam hasil penelitian ini sebagian besar responden tidak mengalami gangguan menstruasi baik dysminorrhae, terlambat datang bulan, maupun gangguan menstruasi lainnya.4

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa sebagian besar responden mengalami stres kerja ringan yakni sebesar 89,5% dan mengalami stres berat 10,5%. Hal tersebut kemungkinan dapat disebabkan oleh berkurangnya permasalahan yang dialami wanita bekerja dalam dunia kerja dan lingkungan luar kerja.

Penelitian lainnya mengenai stres kerja juga diperoleh presentase stres kerja ringan yang lebih besar, diantaranya yakni hasil penelitian dari Airmayanti yang menyatakan bahwa sebesar 55,6% atau sebagian besar karyawan yang mengalami stres kerja ringan lebih banyak dibandingkan karyawan yang mengalami stres kerja berat.11

Meskipun sebagian besar responden dalam penelitian ini mengalami stres kerja ringan, namun jika hal tersebut tidak ditangani secara dini maka akan dapat berkembang secara kronik dan menjadi lebih serius. Akibatnya pekerja mengalami penyimpangan perilaku dan fungsi yang normal yang pada akhirnya dapat mengganggu kinerjanya18

Pencegahan stres ringan agar tidak menjadi lebih serius ini dapat dilakukan sendiri oleh pekerja maupun dari perusahaan tempat kerjanya. Perusahaan dapat melakukan beberapa upaya pencegahan stres kerja diantaranya:

1) Adanya peraturan tentang identifikasi bahaya kerja termasuk identifikasi terhadap bahaya psikososial kerja. Stres merupakan kondisi ketidakseimbangan psikososial yang dapat diketahui dari beberapa gejala yang tampak. Dengan adanya identifikasi bahaya tersebut diharapkan stres dapat ditanggulangi secara dini.

2) Memberi kesempatan kepada pekerja untuk mengembangkan keterampilannya termasuk keleluasaan dalam memberikan pendapat tentang organisasi tempat kerja. Dengan adanya keleluasaan tersebut perusahaan dapat mengetahui hal-hal yang dapat menyebabkan pekerja merasa menjadi stres akan kondisi kerja, sehingga perusahaan dapat melakukan upaya pencegahan dan penanggulangan segera.

Hubungan Beban Kerja dengan Kejadian Stres Kerja

Hasil uji statistik diperoleh p value =0,040 (<0,05) yang berarti hipotesis nol ditolak atau ada hubungan antara Beban Kerja terhadap kejadian stress kerja di PT. Shoetown Majalengka, Kabupaten Majalengka Tahun 2019. Hasil penelitian ini sejalan dengan Nugrahani yang juga menyebutkan bahwa terdapat hubungan antara beban kerja dengan tingkat stres kerja, dimana

(14)

1332 semakin pekerja merasa beban kerjanya berlebih maka tingkat stres yang dialami semakin berat, dan sebaliknya.10 Penelitian dengan hasil serupa juga diungkapkan oleh Airmayanti yakni ada hubungan antara beban kerja dengan stres kerja atau dapat dikatakan bahwa beban kerja merupakan faktor pencetus stres kerja.11

Timbulnya beban kerja berlebih atau terlalu sedikit adalah sebagai akibat dari tugas-tugas yang diberikan kepada tenaga kerja dan dirasakan oleh tenaga kerja sebagai beban kerja yang terlalu banyak atau sedikit untuk diselesaikan dalam waktu tertentu. Beban kerja berlebih atau terlalu sedikit timbul jika orang merasa tidak mampu untuk melakukan suatu tugas, atau suatu tugas tidak menggunakan keterampilan dan/atau potensi dari tenaga kerja. Banyaknya tugas akan menjadi sumber stres apabila tidak sebanding dengan kemampuan baik fisik maupun keahlian dan waktu yang tersedia bagi pekerja tersebut.5

Hasil penelitian ini menggambarkan bahwa faktor beban kerja memiliki pengaruh terhadap kejadian stres kerja. Hal ini dikarenakan beban kerja yang tinggi memaksa tubuh pekerja untuk bekerja lebih berat dan mengganggu kondisi kesehatan kemudian menimbulkan stres kerja.

Hubungan Kejenuhan Kerja dengan Kejadian Stres Kerja

Hasil penelitian menemukan bahwa dari 95 responden merasa tidak jenuh sebanyak 27 responden atau 28,4%, yang menyatakan jenuh sebanyak 68 responden atau 71,6% yang terdistribusi 85 orang stress ringan dan 10 orang mengalami stres berat.

Hasil uji statistik diperolehp value=0,035 (<0,05) yang berarti hipotesis nol ditolak atau ada hubungan antara kejenuhan kerja terhadap kejadian stres kerja. Hal ini sejalan dengan penelitian Nugrahani yang menyebutkan rasa jenuh umumnya timbul karena kondisi kerja yang monoton sepanjang waktu dan apabila tidak ada perubahan ataupun tidak ada stimulus yang baru akan membuat pekerja menjadi stres. Dalam hal ini, pekerjaan rutin yang berulang-ulang secara umum dialami sebagai suatu hal yang membosankan dan monoton sehingga pekerja merasa jenuh, dan hal ini dapat menimbulkan stres.10

Kejenuhan dalam bekerja salah satunya timbul karena pekerja merasa bosan dengan pekerjaan yang selalu sama atau berulang setiap tahunnya. Kejenuhan kerja tersebut dapat ditandai dengan pembolosan, keterlambatan, perubahan kerja yang banyak, perdebatan, dan kekerasan fisik.19

Gejala khusus dari kejenuhan kerja ini berupa kebosanan, depresi, pesimisme, kurang konsentrasi, kualitas kerja buruk, ketidakpuasan, absen, dan kesakitan atau sakit. Kejenuhan kerja cukup berpotensi untuk menyebabkan keletihan kerja sehingga pekerja merasa bahwa dirinya hanya memiliki sedikit kontrol terhadap faktor-faktor di tempat kerja atau bahkan tidak memiliki kontrol sama sekali. Dari gambaran inilah mengapa kejenuhan kerja dapat menjadi faktor pencetus stres kerja.8

Kebosanan dalam bekerja merupakan perwujudan dari stres kerja yang menyebabkan produktivitas kerja menurun, adanya ketidakpuasan terhadap pekerjaan, kurangnya motivasi. Hasil penelitian ini menggambarkan bahwa faktor kejenuhan kerja memiliki pengaruh terhadap kejadian stres kerja. Asumsi peneliti hal ini dikarenakan tingginya kejenuhan kerja yang dirasakan memicu tingkat stress yang lebih tinggi sehingga mempengaruhi terhadap kinerja pekerja.

Hubungan Buruknya Lingkungan Kerja dengan Kejadian Stres Kerja

Hasil penelitian menemukan bahwa dari 95 responden yang tidak merasa terganggu sebanyak 25 responden atau 26,3%, yang menyatakan terganggu sebanyak 70 responden atau 73,7% yang terdistribusi 85 orang stres ringan dan 10 orang mengalami stres berat. Hasil uji statistik diperolehp value=0,046 (<0,05) yang berarti hipotesis nol ditolak atau ada hubungan antara lingkungan kerja terhadap kejadian stres kerja

Hasil ini sesuai dengan teori faktor stres kerja oleh National Safety Council. Hasil penelitian ini juga sejalan dengan Nugrahani yang menyatakan bahwa terdapat hubungan antara buruknya lingkungan kerja dengan stres kerja pada pekerja.10

(15)

1333 Kondisi lingkungan fisik dapat berupa suhu yang telalu panas, terlalu dingin, terlalu sesak, kurang cahaya, lingkungan kerja kotor atau kebersihannya kurang, dan lain sebagainya. Ruangan yang terlalu panas (dapat berarti juga sirkulasi) menyebabkan ketidaknyamanan seseorang dalam menjalankan pekerjaannya, begitu juga ruangan yang terlalu dingin. Di samping itu, kebisingan juga memberikan pengaruh yang cukup besar terhadap munculnya stres kerja karena beberapa orang lebih sensitif pada kebisingan dibanding yang lain.20

Hasil penelitian ini menggambarkan bahwa faktor lingkungan kerja memiliki pengaruh terhadap kejadian stres kerja. Hal ini dikarenakan suhu ruangan yang tidak stabil, sirkulasi udara yang kurang baik, kebersihan yang kurang terjaga, dan kebisingan di tempat kerja memicu tingkat stres yang lebih tinggi sehingga mempengaruhi terhadap kesehatan pekerja.

SIMPULAN

1. Berdasarkan faktor beban kerja dari 95 responden yang menyatakan merasa beban kerja terasa berat sebanyak 69 responden.

2. Berdasarkan faktor kejenuhan kerja dari 95 responden yang menyatakan jenuh sebanyak 68 responden.

3. Berdasarkan faktor lingkungan kerja dari 95 responden yang menyatakan terganggu sebanyak 70 responden.

4. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian responden mengalami stres kerja ringan yakni sebesar 89,5% dan mengalami stres kerja berat 10,5%.

5. Ada hubungan antara beban kerja dengan stres kerja pada pekerja wanita di PT. Shoetown (p value 0,040).

6. Ada hubungan antara kejenuhan kerja dengan stres kerja pada pekerja wanita di PT. Shoetown (p value 0,035).

7. Ada hubungan antara buruknya kondisi lingkungan kerja dengan stres kerja pada pekerja wanita di PT. Shoetown (p value 0,046).

SARAN

1. Bagi STIKes Cirebon

Diharapkan dalam metode pembelajaran di institusi pendidikan dapat lebih memperdalam pembahasan tentang faktor-faktor penyebab terjadinya stres kerjasehingga lulusannya dapat memberikan pelayanan kesehatan yang berkualitas dan maksimal.

2. Bagi Peneliti Lain

Diharapkan peneliti selanjutnya selain dapat menganalisis lebih lanjut, peneliti selanjutnya juga diharapkan dapat menambahkan variabel lainnya dan tidak hanya terbatas pada variabel-variabel dalam penelitian ini saja.

3. Bagi Responden

Diharapkan pekerja memahami apa yang menjadi faktor-faktor penyebab stres kerja dan berupaya meningkatkan pengetahuan dan keterampilan berikaitan dengan pekerjaannya.

4. Bagi Perusahaan

Diharapkan perusahaan melakukan upaya perbaikan untuk mengatasi faktor-faktor penyebab stres kerja yang terjadisehingga pekerja dapat lebih optimal dalam bekerja.

DAFTAR PUSTAKA

1. S Alma. Pekerjaan adalah penyebab utama stres. Artikel Majalah Kesehatan [Online] 2013. [diakses tanggal 2 September 2019]. Tersedia dari http://majalahkesehatan.com/pekerjaan-adalahpenyebab- utama-stres/.

2. Vierdelina N. Gambaran stres kerja dan faktor-faktor yang berhubungan pada pengemudi Bus Patas 9B Jurusan Bekasi Barat-Cililitan/Kampung Rambutan Jakarta: FKM. Universitas Indonesia;2008.

3. Leka S., et al. Work organization & stres, Protecting Worker‟s Helath Series No. 3 Zwitzerland: World HealthOrganization.;2003.

4. Rini, J. F. 2002. Wanita bekerja. Jakarta [diakses tanggal 2 September 2019]. Tersedia dari http://www.e- psikologi.com/epsi/search.asp

(16)

1334 5. Munandar, A. S. Psikologi industri dan organisasi. Jakarta: UI-Press;2008.

6. Greenberg, J. S. Comprehensive stres management (eighth ed.). New York: McGraw-Hill Companies Inc. 2002.

7. Robbins, P. S. Organizational behaviour concepts, controversies, application. New Jersey: Prentice-Hall International, Inc. 1998.

8. National Safety Council. Stres management, Yulianti, Devi (Editor). Manajemen stres. Jakarta: EGC.

2004.

9. Saragih, Harlen. Pengaruh karakteristik organisasi dan individu terhadap stres kerja Perawat di ruang rawat inap Rumah Sakit Umum Daerah Porsea. [Tesis]. Kota tempat terbit: S2 Sekolah Pascasarjana Universitas Sumatera Utara;2008.

10. Nugrahani, Salafi. Faktor-faktor yang berhubungan dengan stres kerja pada pekerja bagian operasional PT Gunze Indonesia Tahun 2008. [Skripsi]. Depok: S1 Fakultas Kesehatan Masyarakat. Universitas Indonesia; 2008.

11. Airmayanti, Diah. Faktor-faktor yang mempengaruhi stres kerja pada pekerja bagian produksi PT ISM Bogasari Flour Mills Tbk Tanjung Priok Jakarta Utara Tahun 2009. [Skripsi]. Jakarta: S1 Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan. UIN Syarif Hidayatullah Jakarta;2010.

12. Badan Pusat Statistik. Profil wanita indonesia 2011. Jakarta: Kementerian Pemberdayaan Wanita dan Perlindungan Anak RI;2011.

13. Setiawan Z.Y. Stres kerja dan kecenderungan gejala gangguan mental emosional pada Pekerja Redaksi Harian PT. PMM Jakarta. [Tesis]. Jakarta: Universitas Indonesia; 2006.

14. Schultz, Duane dan Ellen, S. Schultz. Psychology & work today (Ninth Ed.). Canada: Pearson prentice hall. 2006.

15. Nursalam. Konsep dan penerapan metodologi penelitian ilmu keperawatan, pedoman skripsi, tesis dan instrumen penelitian keperawatan. Jakarta : Salemba Medika;2003.

16. Sabri, Luknis dan Hastono, S. P. Statistik kesehatan. Jakarta: PT Rajagrafindo Persada;2006.

17. Notoatmodjo. Metodologi penelitian kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta;2005.

18. Inayani, Yani. Analisis perbedaan faktor demografi dalam strategi penanggulangan stres kerja: studi kasus Dinas Kesehatan Kota Bogor. [Tesis].Bogor: S2 Sekolah PascaInstitut Pertanian Bogor;2011.

19. Rahmawati, Anida. Hubungan antara karakteristik pekerjaan dan sikap terhadap lingkungan kerja dengan kebosanan kerja. [Skripsi]. Surakarta: S1 Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Surakarta;2007.

20. Irawan R. A. Analisis pengaruh stres kerja dan gaya kepemimpinan terhadap kinerja karyawan pada P.D BPR Jepara Artha. [Skripsi].Semarang:S1 Fakultas Ekonomi Universitas Diponegoro; 2010.

21. Aribowo, R. N. Pengaruh kepemimpinan, motivasi, dan lingkungan kerja fisik terhadap kinerja karyawan (Studi pada CV Karya Mina Putra Rembang Devisi Kayu). [Skripsi]. Semarang: SI Fakultas Ekonomi Universitas Diponegoro:2011.

Referensi

Dokumen terkait

Pengunjung dari kalangan pesantren, majelis dzikir, dan rombongan-rombongan pengajian yang datang harus berjalan kaki sekitar 500 meter dari pintu masuk Dusun

seirama, agar momentum demokratisasi utamanya yang terkait dengan hubungan sipil militer dapat segera tertata dengan baik sesuai dengan norma demokrasi yang berlaku, dengan

Pengujian dilakukan untuk mengetahui bagaimana respon sistem pengendalian posisi stamping rod berbasis pneumatic dapat bekerja dengan baik sesuai dengan setpoint

Marta : Ya..sudah pasti susah ya, karena otomatis khususnya buat saya yang bahasa inggrisnya ndak bagus gitu otomatis pada saat orang komplain kan tidak bisa kita ajak mencari

13 Berdasarkan hal tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa terdapat dua metode edukasi kesehatan yang cocok untuk digunakan, namun perbedaan tingkat pengetahuan

Berdasarkan hasil penelitian sebelumnya, besarnya masukan energi pada proses pengolahan di setiap tahapan proses mulai dari pelayuan pucuk teh, penggilingan dan

Filipi 2:5-11, &#34;Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus, yang walaupun dalam rupa Allah,

Penelitian yang dilakukan oleh para peneliti di atas melihat tingkat kesuksesan perusahaan obyek penelitiannya dari kinerja industri atau kinerja perusahaan dengan melihat