• Tidak ada hasil yang ditemukan

Perbedaan Jumlah Bakteriuria Sebelum dan Sesudah Terapi Amoxicillin pada Ibu Hamil Trimester III di Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik Medan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Perbedaan Jumlah Bakteriuria Sebelum dan Sesudah Terapi Amoxicillin pada Ibu Hamil Trimester III di Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik Medan"

Copied!
32
0
0

Teks penuh

(1)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Bakteriuria

2.1.1 Definisi

Bakteriuria didefinisikan sebagai adanya koloni bakteri aktif dalam dalam

saluran kemih termasuk uretra distal. Bila bergejala, disebut bakteriuria

simtomatik, sedangkan bila tidak bergejala, disebut bakteriuria

asimtomatik. Infeksi saluran kemih (ISK) sering ditemukan pada

kehamilan. ISK dibagi menjadi ISK bagian bawah (ureteritis, sistitis akut)

dan ISK bagian atas (pielonefritis).2,13

Bakteriuria asimtomatik adalah diagnosis mikroba berdasarkan

hitungan kuantitatif isolasi bakteri dalam spesimen dikumpulkan urin porsi

tengah dari wanita hamil tanpa tanda-tanda atau gejala ISK. Jadi kultur

urin adalah teknik skrining standar emas untuk bakteriuria asimtomatik

selama kehamilan dengan hasil bakteriuria signifikan pada perhitungan

koloni urin ≥ 105 CFU/ ml urin pada midstream urin atau 102CFU/ ml urin pada suprapubic puncture urin. Bakteriuria asimtomatik ditemukan dalam

2 sampai 10% dari wanita hamil dan 40% cenderung berlanjut ke

pielonefritis akut, postpartum ISK, dengan komplikasi preeklamsia,

anemia, prematuritas, bayi berat lahir rendah dan kematian prenatal jika

(2)

2.1.2. Epidemiologi

Wanita hamil memiliki kecenderungan lebih tinggi mengalami ISK

dibandingkan wanita tidak hamil. Namun, insidensi ini bervariasi pada

berbagai penelitian. Nowicki et al. (2002) menunjukkan bahwa frekuensi

bakteriuria asimtomatik adalah 4-10%, sistitis 4%, dan pyelonefritis

1-2%, dan bahwa angka ini mirip atau identik pada wanita hamil dan tidak

hamil. Dalam penelitian lain, diperkirakan prevalensi bakteriuria

asimtomatik bervariasi antara 2-13%, dengan angka yang hampir sama

dengan wanita tidak hamil, tetapi terjadi peningkatan insidensi sistitis akut

(1-4%) dan pielonefritis (2%) pada wanita hamil.4

Dalam Royal College of Obstetricians and Gynaecologists (RCOG)

pada tahun 2008, perkiraan insiden ISK adalah 8%. Insiden bakteriuria

asimtomatik pada wanita hamil dalam studi di UK adalah 2-5%. Insiden

sistitis akut lebih sulit untuk ditentukan secara akurat, banyak wanita yang

diterapi dengan obat empiris dan kultur tidak dilakukan. Suatu studi lain

menunjukkan angka insiden ISK pada wanita hamil adalah 1,3% dalam

periode 6 tahun. Insiden pyelonefritis selama kehamilan adalah 2%, dan

semakin meningkat hingga mencapai 23% pada wanita yang mengalami

ISK berulang saat kehamilan.17

Banyak wanita memperoleh bakteriuria sebelum kehamilan.

Sebuah analisis retrospektif besar dengan pemodelan regresi logistik,

pada 8037 perempuan di Karolina Utara, menunjukkan bahwa dua

(3)

segera sebelum fase antenatal (OR = 2,5, 95% CI: 0,6-9,8 untuk kulit

putih, dan OR = 8,8, 95% CI: 3,8-20,3 untuk kulit hitam) dan riwayat ISK

pra-kehamilan (OR = 2,1, 95% CI: 1,4-3,2). ISK primer segera sebelum

fase antenatal bahkan ditemukan menjadi prediktor terkuat dari

pielonefritis setelah 20 minggu gestasi (OR = 5,3, 95% CI: 2,6-11,0).

Faktor risiko lain untuk ISK selama kehamilan adalah status yang lebih

sosial ekonomi rendah, aktivitas seksual pada kehamilan, usia yang lebih

tua, multiparitas, abnormalitas anatomi saluran kemih, penyakit

thalasemia dan diabetes.1,9,10

2.1.3. Etiologi

Pada keadaan lingkungan fisiologis yang normal, traktus

genitouriaria dalam keadaan steril. Mikroorganisme penyebab ISK

biasanya berasal dari flora gastrointestinal dari host (penjamu).18

Sebagai contoh, bakteriuria saat hamil dapat terjadi saat bakteri dari

sumber fekal masuk ke vesika urinaria dengan cara infeksi yang naik dari

anus karena wanita memiliki uretra yang pendek. Bakteri patogen yang

menyebabkan bakteriuria hampir sama pada keadaan hamil dan tidak

hamil. 19

Meskipun hampir setiap organisme dapat dikaitkan dengan ISK , organism

tertentu yang dapat mendominasi sebagai akibat dari virulensi tertentu

(4)

Organisme yang menyebabkan ISK selama kehamilan adalah

sama seperti yang ditemukan pada pasien tidak hamil. Escherichia coli

menyumbang 80 sampai 90 persen dari infeksi. Bakteri batang gram

negatif lain seperti Proteus mirabilis dan Klebsiella pneumoniae juga

umum ditemukan. Bakteri gram positif seperti Streptokokus grup B dan

Staphylococcus saprophyticus jarang ditemukan sebagai penyebab ISK.

Begitu juga dengan enterococcus, Gardnerella vaginalis dan Ureaplasma

ureolyticum jarang ditemukan sebagai penyebab ISK.13

Selama masa gestasi, kebanyakan ISK disebabkan oleh

organisme yang tunggal. Namun demikian , organisme yang diisolasi dari

wanita hamil dengan ISK yang berkomplikasi lebih bervariasi dan

umumnya lebih tahan terhadap pengobatan dari yang ditemukan pada

infeksi tanpa komplikasi. Bakteri anaerob dan mikroorganisme lain telah

diidentifikasi pada urin dengan persentase besar pada wanita hamil,

namun alur terjadinya ISK akibat organisme yang berefek pada perinatal

masih belum diketahui. Terdapat bukti bahwa beberapa strain bakteri

dapat mereplikasi di dalam sel, hal ini menjelaskan bahwa terdapat

kesulitan dalam mengobati ISK dalam beberapa kasus, strain ini kadang

terlindungi dari kerja farmakologi obat anti infeksi. Saat ini, tidak

ditemukan bukti yang menunjukkan keuntungan melakukan pemeriksaan

urin pada organisme yang jarang menginfeksi.21

Girishbabu dkk. (2010) melakukan penelitian untuk menentukan

(5)

mengisolasi, mengidentifikasi, dan menetapkan pola kerentanan

antimikroba patogen pada 1.000 wanita hamil dengan bakteriuria

asimtomatik. Isolat diidentifikasi dengan metode konvensional. Sebanyak

100 (10%) positif untuk bakteriuria signifikan. Jumlah kasus tertinggi positif

kultur ditemukan pada pada kelompok usia 26-35 tahun (60%) dan

trimester 3 (40%) dari kehamilan. Mayoritas bakteri yang terisolasi adalah

Escherichia coli 30 (30%), diikuti oleh Klebsiella pneumoniae 30 (30%),

Proteus mirabilis 15 (15%), Citrobacter koseri 8 (8%), Pseudomonas

aeruginosa 7 (7%), Staphylococcus aureus 4 (4%), Staphylococcus

saprophyticus 3 (3%) dan Enterococcus faecalis 3 (3%). Antibiotik yang

sensitif ditemukan imipenem (100%), piperacillin-tazobactum (100%),

amikasin (85%), nitrofurantoin (68%), ceftazidime (62%), sefotaksim

(62%), kotrimoksazol (50%) amoxicillin-asam klavulanat (50%),

norfloksasin (49%), ciprofloxacin (48%), eritromisin (41%), dan ampisilin

(11%).22

Tabel 2.1. Bakteri penyebab infeksi saluran kemih hasil penelitian

Girishbabu et al. (2011)

Bakteri Kultur positif Persentase

Escherichia coli 30 30

Klebsiella pneumoniae 30 30

Proteus mirabilis 15 15

(6)

Pseudomonas aeruginosa 7 7

Staphylococcus aureus 4 4

Staphylococcus saprophytics 3 3

Enterococcus faecalis 3 3

Total 100%

Jain et al. (2013) melakukan studi kohort prospektif dilakukan di

rumah sakit pendidikan perawatan tersier dari India utara pada wanita

hamil sampai 20 minggu (n = 371) dan antara 32-34 minggu usia

kehamilan (n = 274) yang tidak memiliki keluhan urinari. Urin porsi tengah

mereka dikirim untuk kultur dan sensitivitas. Kriteria positif bila hasil kultur

≥105 cfu/ mL urin. Bakteriuria simtomatik ditemukan di 17% wanita dengan usia kehamilan <20 minggu dan 16% pada usia kehamilan 32-34 minggu.

Mayoritas bakteri yang terisolasi adalah Escherichia coli pada 41 sampel

(37,6%) diikuti dengan Enterococcus spp. di 23 (21,1%). Bakteri lain

diisolasi adalah Staphylococcus aureus, Klebsiella spp., Proteus spp.,

Koagulase negatif Staphylococcus, Pseudomonas spp. dan Acinetobacter.

Antibiotik yang paling sering digunakan sebagai terapi adalah cephalaxin

di 34,8 persen (38/109) dan nitrofurantoin di 28,4 persen (31/109) pasien.

Antibiotik lain seperti cefuroxime, amoxicilin, amikasin juga diresepkan.

Secara keseluruhan, satu wanita dalam kelompok awal terdeteksi

(7)

2.1.4. Patofisiologi

Infeksi Saluran Kemih (ISK) merupakan penyebab medis tersering dari

komplikasi dalam kehamilan. ISK bagian atas yang tidak ditangani membawa risiko

morbiditas dan jarang, menyebabkan mortalitas pada wanita hamil. Kehamilan

menyebabkan banyak perubahan hormonal dan mekanikal dalam tubuh. Awal minggu

keenam, dengan insiden puncak selama minggu ke-22 hingga ke-24, 90% wanita hamil

terjadi dilatasi uretral meningkatkan risiko stasis urin dan refluks vesikouretral. Lebih lagi,

glikosuria dan aminosiduria selama kehamilan menyebabkan tumbuhnya bakteri akibat

dari stasis urin. Perubahan ini dengan uretra yang pendek dan sulitnya menjaga

hygienitas akibat semakin membesarnya kehamilan semakin meningkatkan frekuensi ISK

pada wanita hamil. Bakteriuria yang tidak diobati dalam kehamilan baik itu simtomatik

maupun asimtomatik berhubungan dengan peningkatan 50% pada risiko berat badan

lahir bayi rendah dan secara signifikan meningkatkan risiko kelahiran prematur,

preeklamsia, hipertensi, anemia dan endometritis postpartum.10,14,15,16

Selama bertahun-tahun, kehamilan dipandang sebagai suatu

periode yang secara natural sebagai predisposisi untuk semua bentuk

ISK. Hal ini dijelaskan oleh fakta bahwa anatomi genitourinaria dan

perubahan fisiologis diinduksi oleh gestasi sebagai predisposisi wanita

dengan bakteriuria asimtomatik untuk berkembang menjadi ISK

simtomatik, yang memicu terjadinya peningkatan jumlah ISK selama

periode kehidupan ini. Saat ini, diketahui bahwa kehamilan tidak hanya

meningkatkan risiko ISK melainkan sepanjang kehamilan, ISK sering

bertahan, karena infeksi atau pajanan berulang.18

Selama masa kehamilan uretra menjadi tempat kolonisasi bakteri

(8)

dapat mempredisposisikan kolonisasi uretra termasuk penggunaan

beberapa metode kontrasepsi sebelum kehamilan, seperti spermisida dan

diafragma. Walaupun dijumpai bukti bahwa infeksi vesika urinaria diawali

kolonisasi uretra, cara naiknya bakteri tersebut sehingga terjadi infeksi

belum sepenuhnya dipahami. Setelah mencapai vesika urinaria,

organisme tersebut secara cepat bermultiplikasi dan dapat naik ke ureter

lalu ke ginjal. Kolonisasi bakteri difasilitasi pertama kali di pelvis renalis

dan ureter mulai untuk dilatasi (kehamilan delapan minggu), dan vesika

urinaria dipindahkan ke superior dan anterior di dalam rongga

intra-abdomen. Mekanisme kompresi disebabkan oleh pembesaran uterus

yang secara prinsip menyebabkan dilatasi, namun relaksasi otot polos

diinduksi oleh progesteron juga dapat memainkan peran. Konsekuensi

utama dari perubahan ini adalah penurunan peristaltik ureter, diikuti ISK

dengan meningkatnya kapasitas vesika urinaria dan stasis urin. Hal ini

diketahui bahwa penurunan kapasitas renal untuk menkonsetrasikan urin

selama kehamilan menurunkan aktivitas anti bakterial dari cairan ini,

memicu ekskresi sejumlah kecil kalium dan sejumlah besar glukosa, asam

amino dan produk degradasi hormon. Perubahan biokimia ini mengubah

urin menjadi larutan alkali, sehingga memberikan lingkungan yang sesuai

untuk pertumbuhan bakteri.18,24,25

Selain itu, peningkatan estrogen yang disebabkan oleh

kehamilan, memberikan kontribusi pada adhesi tertentu strain E. coli

(9)

Faktor protektif dari seperti konsentrasi glukosa yang rendah pada

urin, stabilitas populasi lactobacillus vagina, pengaruh estrogen, aktivitas

protein Tamm-Horsfall. keberadaan mucus urinaria (glycosaminoglikan),

dan mekanisme pertahanan imunologi, membuat traktus urinaria normal

secara general resisten pada invasi dan efisen dalam mengeliminasi cepat

mikroorganisme yang mencapai vesika urnaria. 20

Subset spesifik koloni E. coli diidentifikasi dengan antigen O, K,

dan H yang terbukti meningkatkan kecenderungan untuk menyebabkan

ISK. Faktor virulensi penting dari bakteri adalah kemampuannya untuk

melekat pada sel epitel urinaria, menyebabkan kolonisasi pada traktus

urinaria, infeksi vesika urinaria, dan pyelonefritis. Uropathogenik E. coli

seperti faktor virulensi, yang diketahui adalah fimbria atau pilli. Protein

perlekatan ini diekspresikan pada permukaan dinding bakteri yang

mempromosikan ikatan ke epitelium vagina dan uretra, yang

meningkatkan kemampuan E. coli untuk menyebabkan ISK.20

Adesin termasuk diantaranya tipe 1 Fimbriae, tipeS, tipe P, dan

adhesins like Dr. Hal ini sudah dikenali beberapa decade lalu, dan hal ini

yang membedakan E. coli uropathogenik membentuk bentuk komensal

gastrointestinal. Fimbriae tipe 1 sangat sering dan kemungkinan termasuk

dalam kolonisasi traktus urinaria. Pola fimbriae P pada ISK bagian atas

sudah didokumentasikan. Dijumpai 20% E. coli fekal, 60% menyebabkan

sistitis, dan 80% E. coli diisolasi dari pyelonefritis. Perlekatan fimbriae P

(10)

respon inflammasi host. Faktor lain yang meningkatkan virulensi E. coli

termasuk produksi hemolisin, resistensi serum dan pengeluaran

aerobactin. Hemolisin memberikan keuntungan selektif pada E. coli

mungkin dengan melepaskan besi dari eritrosit dan dengan demikian,

meningkatkan patogenisitas dengan menghancurkan fagosit dan sel

epitel. Data model hewan dan manusia mencurigai bahwa E. coli dapat

bersembunyi pada bakteri yang besar pada tubuh host dan dapat

reaktivasi yang menyebabkan infeksi pada waktu yang akan datang,

terdapat penurunan lokal pada aktivitas normal dari faktor pertahanan

tubuh host. Sampel urin pancar tengah dari wanita dengan sistitis akut

yang tidak berkomplikasi juga menunjukkan bukti komunitas bakteri

intraseluler E. coli uropatogenik. Komunitas ini relatif dilindungi dari

mekanisme respon imun host dan terapi antibiotik. Dapat terjadi

reaktivasi, menyebabkan ISK berulang. 21,26

Ada beberapa kontroversi mengenai peran yang dimainkan oleh

perubahan fisiologis yang terjadi selama kehamilan yang bisa menjadi

faktor utama predisposisi ibu hamil untuk ISK. Beberapa penulis

menyatakan bahwa kompleksitas biologi dan molekuler epidemiologi ISK

menunjukkan bahwa obstruksi mekanik dapat hanya sebagian

menjelaskan risiko mengembangkan gestational ISK. Dikatakan bahwa

jika kehamilan sendiri predisposisi ISK, stasis urin dan obstruksi harus

mendukung infeksi gram negatif dan gram positif pada pemeriksaan kultur

(11)

uropathogenik virulensi strain E. coli, yang secara kontras jarang diisolasi

pada pasien tidak hamil dengan masalah obstruktif saluran kemih.21

2.1.5. Patogenesis

Perubahan fisiologis pada saluran kemih sepanjang kehamilan

meningkatkan risiko ISK. Sampai saat ini, ISK pada pasien hamil telah

dijelaskan oleh obstruksi aliran urin oleh uterus gravidarum. Stasis dan

obstruksi urin menciptakan kerentanan untuk infeksi gram negatif dan

gram positif. Pada kehamilan, terjadi perubahan fisiologik dan struktur

traktus urinarius, berupa pelebaran kalises, pelvis ginjal dan ureter di

sebelah atas tulang pelvis. Perubahan ini dimulai minggu keenam

kehamilan dan memuncak pada minggu ke 22-24 pada >90% wanita

hamil. Perubahan traktus urinarius pada wanita hamil ini menjadi normal

setelah 8 minggu kelahiran. Kapasitas ureter yang di luar kehamilan

sekitar 2-4 ml akan meningkat sampai 50 ml atau lebih selama kehamilan,

kapasitas kandung kemih juga meningkat sampai 2 kali lipat pada

kehamilan aterm. Pelebaran tersebut terjadi akibat berkurangnya tonus

otot polos traktus urinarius akibat kerja progesteron dan kompresi ureter

akibat pembesaran uterus, sehingga mekanisme pengosongan vesika

urinaria tidak sempurna dan terjadi stasis urin. Hal ini menyebabkan

mudahnya bakteri berkembang biak dengan cepat pada vesika

(12)

Selain itu, uretra pada wanita relatif pendek, panjangnya antara 3-4

cm dan letaknya di ujung depan atas vagina di mana terdapat kolonisasi

bakteri dari traktus gastrointestinal. Tekanan oleh kepala janin juga

menghambat drainase darah dan limfe dari dasar vesika, sehingga daerah

tersebut mengalami edema dan rentan terhadap trauma. Alasan lain bisa

sebagai akibat dari praktek kebersihan kelamin yang buruk oleh wanita

hamil yang mungkin merasa sulit untuk membersihkan anus mereka

secara benar setelah buang air besar atau membersihkan genital mereka

setelah buang air.6

Pengaruh lain adalah perubahan sistem imunitas pada kehamilan.

Diketahui bahwa mekanisme humoral kekebalan meningkat pada

kehamilan, sedangkan respon seluler menurun. Perubahan ini terjadi

secara fisiologis dalam respon imunitas kehamilan. Ada dua pemain kunci

dari sistem kekebalan tubuh pada ibu hamil yang untuk melawan infeksi,

oksida nitrat (NO) dan TLR4. Peran kunci NO adalah untuk memberikan

sinyal relaksasi untuk uterus (untuk memungkinkan lingkungan yang

memadai untuk janin), dan menghancurkan atau membatasi patogen

invasif. NO bekerja pada kapasitas yang maksimum, dan memiliki

kapasitas adaptif yang terbatas untuk meningkatkan aktivitasnya di bawah

kondisi tertentu. Dengan demikian, jika terdapat infeksi ringan pada

saluran urogenital, NO dapat bekerja secara efisien untuk menghilangkan

patogen. Namun, dalam kasus proses infeksi dan inflamasi berat, NO

(13)

Pemain kunci kedua dalam proses infeksi TLR4. TLR4 adalah

bagian dari sistem pengenalan, juga disebut sistem 'sinyal bahaya', yang

merespon endotoksin (lipopolisakarda) dan memicu kaskade inflamasi

sitokin dan prostaglandin, yang berkontribusi terhadap pembersihan

infeksi. Sinyal TLR4 sinyal dicetuskan oleh infiltrasi monosit dan makrofag

unit fetoplasenta. Akan tetapi, pada ibu hamil, respon inflamasi yang

agresif dapat merugikan janin, dan dapat menyebabkan persalinan

prematur. Walaupun secara hipotetis, respon TLR4 yang agresif sangat

baik untuk melawan infeksi dan menyelesaikan infeksi, tetapi pada

kenyataannya hal ini tidak mungkin terjadi, karena pada kehamilan semi

allogenitas fetus harus dipertahankan agar tidak dikenali sebagai antigen

asing. Penelitian pada wanita hamil juga menunjukkan respon TLR4 pada

ibu hamil menurun. Ketika respon terhadap infeksi E. Coli pada daerah

urogenital, TLR4 menjadi kurang adaptif sehingga akan meningkatkan

risiko ISK.24

Hipotesis lain lagi adalah tropisme jaringan gestastional.

Berdasarkan penelitian sebelumnya, diduga bahwa reseptor jaringan

CD55, juga disebut DAF, adalah diupregulasi oleh progesteron, hormon

yang meningkatkan konsentrasi proporsional dengan usia kehamilan.

Progesteron meningkatkan ekspresi CD55 (regulator komplemen) pada

plasenta yang melindungi janin dari ibu. E. Coli, diketahui dapat mengenali

(14)

atau invasi jaringan, sebuah proses yang berbanding lurus dengan

densitas reseptor CD55. Namun, hal ini masih menjadi kontroversi.30

Pada E. coli sendiri, banyak patogenitas yang dapat menyebabkan

ISK. Adhesins adalah struktur permukaan bakteri yang memungkinkan

keterikatan pada membran host. Pada infeksi E coli, ini termasuk baik pili

(yaitu, fimbriae) dan luar-membran protein (misalnya, Dr hemaglutinin). P

fimbriae, yang melekat pada globoseries-jenis glikolipid ditemukan dalam

epitel usus dan kencing, yang berhubungan dengan pielonefritis dan

sistitis dan ditemukan di banyak strain E. Coli yang menyebabkan

urosepsis. Tipe 1 fimbriae mengikat mannose mengandung struktur yang

ditemukan di banyak jenis sel yang berbeda, termasuk Tamm-Horsfall

protein (protein utama yang ditemukan dalam urin manusia). Faktor yang

mungkin penting untuk virulensi E coli di saluran kemih termasuk

polisakarida kapsuler, hemolysins, faktor nekrosis sitotoksik (CNF) protein,

dan aerobactins. Beberapa Kauffman serogrup dari E coli mungkin lebih

cenderung menyebabkan ISK, termasuk O1, O2, O4, O6, O16, dan O18.30

2.1.6. Skrining

ACOG merekomendasikan bahwa kultur urin harus diperiksa pada

kunjungan antenatal pertama. Tepatnya, rekomendasi dari US Preventive

Services Task Force adalah untuk pemeriksaan kultur urin antara 12 dan

(15)

dilakukan trimester ketiga, karena urin dari pasien yang diobati mungkin

belum steril.31

Standar emas untuk mendeteksi bakteriuria adalah kultur urin,

tetapi tes ini mahal dan memakan waktu 24 hingga 48 jam untuk

mendapatkan hasil. Akurasi metode skrining cepat (misalnya, dipstick

leukosit esterase, dipstick nitrit, urinalisis, dan pewarnaan gram urin).

Peneliti menunjukkan bahwa biaya lebih efektif untuk menyaring

bakteriuria dengan dipstick esterase untuk leukosit, tetapi hanya satu

setengah dari pasien dengan bakteriuria yang diidentifikasi dibandingkan

dengan skrining oleh kultur urin. Peningkatan jumlah negatif palsu dan

nilai prediktif yang relatif rendah dari tes positif membuat metode cepat

kurang bermanfaat.13

2.1.7. Diagnosis

Peningkatan insiden ISK simtomatis selama kehamilan dan

hubungannya dengan komplikasi maternal dan perinatal, skrining

bakteriuria asimtomatik selama kehamilan diminta dua sampel urin yang

dikumpulkan dalam waktu berbeda. Tes dengan sampel tunggal dapat

menyebabkan hasil false-positive sebanyak 40% kasus. Pengukuran ini

dapat memulai terapi awal dan menurunkan tingkat progresi infeksi

simtomatik dan konsekuensi kejadian yang potensial merugikan.

Tes laboratorium untuk mendiagnosis ISK berdasarkan perubahan

(16)

yang penting untuk mendiagnosis cepat dan harga murah adalah tes nitrit

dan tes leukosit esterase. Tes nitrit berdasarkan kemampuan bakteri

menurunkan nitrat urin menjadi nitrit. Tes ini memiliki sensitivitas 50% dan

spesifisitas 97, dan dapat menghasilkan false positive saat digunakan

pada urin terkontaminasi oleh bakteri vagina normal atau konsentrasi urin

yang tinggi. Tes leukosit esterase memiliki sensitivitas rendah dan

spesifisitas 25% dan dapat menyebabkan hasil false positive. Kedua tes

ini memiliki sensitivitas rendah dan tidak cocok untuk tes skiring untuk

menegakkan diagnosis. Kecuali bila dikombinasikan dengan tes lain yang

lebih baik.27

Urinalisa mikroskopik merupakan pemeriksaan satu tetes yang

disentrifugasi dan urin segar yang tidak berwarna, dengan objek glass

kering (400 kali magnifikasi). Observasi banyak bakteri per lapangan

pandang berhubungan dengan kultur urin paling sedikit 108 koloni/L urin. Namun hal ini juga masih tergolong memiliki sensitivitas yang rendah.

Analisis mikroskopik urin dengan pewarnaan gram saat ini banyak dipakai

dan menunjukkan bukti yang lebih baik dengan hasil tes cepat dan dapat

dijadikan tes skrining ISK. Namun pemeriksaan yang lebih sensitif dan

paling spesifik serta akurat adalah kultur urin, yang dapat dijadikan gold

standart penegakan diagnosis ISK.31

Sampel urin standar adalah urin pancar tengah yang dikumpulkan

oleh mid-stream metode "clean catch" standar dari semua wanita hamil.

(17)

rekomendasi yang dikembangkan oleh IDSA (Infectious Diseases Society

of America), bakteriuria signifikan pada wanita asimtomatik didefinisikan

sebagai adanya bakteri ≥105 CFU per ml dalam dua urin tengah atau urin supra pubik atau kateter steril ≥ 102 CFU/ml.32

Pengulangan kultur urin di setiap trimester meningkatkan tingkat

deteksi bakteriuria. Mc Isaac dkk. pada 1.050 perempuan yang diperiksa

kultur urin berturut turut pada usia kehamilan sebelum 20 minggu, minggu

28 dan minggu ke 36 menunjukkan ada sebanyak 49 kasus ASB

terdeteksi (prevalensi 4,7%). Peneliti menunjukkan bahwa bila diagnosis

hanya didasarkan pada kultur urin tunggal sebelum 20 minggu akan

menyebabkan lebih dari setengah kasus bakteriuria tidak terdiagnosis,

karena 40,8% dari diagnosis ditemukan setelah kultur pertama vs 63,3%

setelah kedua vs 87,8% setelah kultur ketiga. Dalam sebuah penelitian di

Turki dengan sampel yang jauh lebih kecil, distribusi prevalensi ASB di

trimester pertama, kedua, dan ketiga adalah 0,9%, 1,83%, dan 5,6%,

masing-masing. Itu menunjukkan bahwa banyak wanita tanpa bakteriuria

dalam pemeriksaan awal mereka pada trimester pertama dapat

mengalami selama trimester selanjutnya dalam kemudian. Para penulis

studi ini menyimpulkan bahwa akan lebih bijaksana untuk jika ibu hamil

dilakukan pemeriksaan bakteriuria ulangan pada trimester kedua dan

ketiga. Namun, diperlukan penelitian RCT besar secara prospektif untuk

(18)

2.1.7.1. Metode Pengambilan Spesimen Urin Pancar Tengah yang

Diambil Secara Bersih

Untuk pemeriksaan kultur urin dan tes celup urin, sampel urin harus

diambil dengan teknik pancar tengah yang diambil secara bersih untuk

menghindari kontaminasi. Khusus untuk pemeriksaan uji nitrit dengan tes

celup urin, sampel urin yang digunakan harus berasal dari urin pertama

pada pagi hari segera sesudah pasien bangun tidur. Kalau pemeriksaan

bukan pagi hari, ibu diminta untuk menahan buang air kecil minimal 2 jam

sebelum urin diambil untuk diperiksa. Ini penting diingat karena diperlukan

waktu yang cukup untuk berubahnya nitrat menjadi nitrit di dalam kandung

kemih. Tahapan pengambilan sampel urin pancar tengah yang diambil

secara bersih adalah sebagai berikut:34

- Cuci labia dan perineum dengan air dan sabun.

- Duduk atau jongkok di toilet dengan posisi kaki mengangkang,

buka labia dengan dua jari.

- Gunakan kapas, kasa, atau tisu yang sudah dibasahi dengan air

steril atau desinfeksi tingkat tinggi (DTT, air yang sudah dimasak

selama minimal 30 menit) untuk membersihkan daerah sekitar

orifisium uretra dan bagian dalam labia. Kasa/ kapas/ tisu

diusapkan satu kali saja dari arah orifisium uretra ke arah vagina.

Bila diperlukan, harus digunakan kasa/ kapas/ tisu yang baru

(19)

- Keluarkan sedikit kemih tanpa ditampung, lalu tahan sesaat

sebelum melanjutkan berkemih ke dalam wadah urin yang

diletakkan sedekat mungkin dengan muara uretra tanpa menyentuh

daerah genitalia (Gambar 2.1b & 2.1c). Pastikan wadah urin

minimal terisi separuhnya.

- Setelah wadah urin terisi, sisihkan wadah tersebut dan selesaikan

berkemih.

Gambar 2.1 Metode Pengambilan Spesimen Urin Pancar Tengah yang

Diambil Secara Bersih

2.1.7.2.Pemeriksaan Bakteriologis

Pemeriksaan mikroskopis langsung dilakukan terhadap sediaan

hapus yang dibuat dari sampel urin yang tidak disentrifugasi, dipulas

dengan pewarnaan Gram dan dihitung jumlah kuman yang tampak per

lapangan pandangan besar (LPB) serta dicatat ada atau tidaknya leukosit.

Pewarnaan Gram adalah metode pemeriksaan penyaring yang cepat dan

(20)

Bilamana pada pemeriksaan mikroskopik urin dari subyek wanita

didapatkan banyak sel epitel skuamosa dengan flora normal vagina maka

sampel urin tersebut menggambarkan adanya kontaminasi.12

Biakan kuman cara konvensional untuk hitung koloni dilakukan

secara kuantitatif. Untuk biakan ini, 0,00l ml urin yang tidak di sentrifugasi

diambil dengan memakai sengkelit baku (1/1000) atau dengan cara

pengenceran urin terlebih dahulu dengan buffered water dan kemudian

ditanamkan pada lempeng agar darah dan MacConkey. Urin pada

lempeng agar tersebut disebar merata dengan spatel gelas dan lempeng

agar itu kemudian diinkubasikan pada suhu 370C selama 18-20 jam. Koloni-koloni yang tumbuh dihitung dan dicatat. Identifikasi koloni-koloni

kuman dilakukan menurut metode baku yang berlaku.12

Interpretasi hitung koloni bakteri jika pada lempeng agar darah

didapatkan jumlah koloni bakteri <10, kemungkinan besar ini karena suatu

kontaminasi dan identifikasi bakteri tidak dilakukan. Dalam hal ini sediaan

pulasan Gram urin harus memberikan hasil kuman Gram negatif. Jika

terdapat bakteri pada sediaan Gram maka lempeng agar diinkubasi

kembali untuk semalam karena mungkin bakteri tumbuh lambat. Jumlah

koloni pada lempeng agar di antara 10-100 juga tidak dianggap suatu

bakteriuria, melainkan mungkin karena pengambilan dan penanganan

sampel yang tidak betul. Hitung koloni kuman yang menghasilkan jumlah

kuman pada lempeng agar > 100 dianggap bermakna sebagai bakteriuria

(21)

Biakan kuman dapat juga dilakukan dengan cara Filter Paper

Dilution sistem dari Novel. Caranya dengan menggunakan 3 lapis filter

yang dibawahnya adalah agar untuk pembiakan kuman. Cara ini dapat

untuk mendeteksi kuman Gram positif dan Gram negatif dengan hasil

yang memuaskan. Untuk kuman Gram negatif hasilnya dibandingkan

dengan kultur konvensional, ternyata sensitivitasnya 98,2 % dan

spesifisitasnya 87,4%. Sedangkan untuk kuman Gram positif,

sensitivitasnya 91,2% dan spesifisitasnya 99,2%.12

Pemeriksaan leukosit pada urin dilakukan menggunakan sepuluh

ml sampel urin yang telah dikocok merata dan disentrifugasi dengan

kecepatan 1500-2000 rpm selama 5 menit. Cairan yang terdapat di atas

tabung pemusing dibuang, ditinggalkan endapannya. Satu tetes dari

endapan diletakkan di atas kaca objek, kemudian ditutup dengan kaca

penutup. Pertama kali dilihat di bawah mikroskop dengan lapangan

pandang kecil (LPK), kemudian dengan lapangan pandang besar (LPB).

Penilaian dilakukan dengan melihat beberapa kali dalam beberapa LPB.

Laporan didasarkan pada sedikitnya 3 LPB yang dianggap dapat mewakili

sediaan. Piuria terjadi bila dijumpai lebih dari 5 leukosit/LPB.12

Teknik pemeriksaan baru dengan teknik penyaring cepat yaitu

Uricult dipslide paddle (Orion Diagnostica, Helsinki, Finland), Cult- Dip

Plus (Merck, Gemany), Uristat test (Shields Diagnostics Ltd, Scotland) dan

Bioluminescence assay. Walaupun dengan cepat dapat mendiagnosis

(22)

penyaring yang baik. Tes lain yaitu Uriscreen (Diatech Diagnostics Ltd,

Kiryat Weizmann, Ness Ziona, Israel), dengan tes skrining cepat enzimatik

ini dalam beberapa menit hasilnya dapat dibaca. Hasilnya dibandingkan

dengan biakan positif. Ternyata Uriscreen mempunyai sensitivitas 100%

dan spesifisitas 81%, Cara ini baik untuk screening sampel dalam jumlah

yang besar.12

2.1.8. Komplikasi

Komplikasi maternal dan neonatal ISK selama kehamilan dapat

sangat buruk. Komplikasi ibu dan janin dapat berupa infeksi saluran kemih

(ISK), pielonefritis, preeklamsia, anemia, berat badan lahir rendah (BBLR),

retardasi pertumbuhan intrauterin (IUGR), persalinan prematur, ketuban

pecah dini prematur (PPROM) dan endometritis paska partum. Penelitian

pada 25.746 wanita hamil dan menemukan bahwa kehadiran ISK

dikaitkan dengan persalinan prematur (onset persalinan sebelum 37

minggu kehamilan), gangguan hipertensi dari kehamilan (seperti

pregnancy-induced hypertension dan preeklampsia), anemia (tingkat

hematokrit kurang dari 30 persen) dan amnionitis. Meskipun hal ini tidak

membuktikan hubungan sebab dan akibat, percobaan acak telah

menunjukkan bahwa pengobatan antibiotik menurunkan insiden kelahiran

prematur dan BBLR.35 Tabel 2.2.Komplikasi ISK35

(23)

odds confidence

Persalinan prematur (kurang dari 37 minggu usia

kehamilan pada saat melahirkan)

1.6 1,4-1,8

Hipertensi / preeklamsia 1.4 1,2-1,7

Anemia (hematokrit tingkat kurang dari 30%) 1.6 1,3-2,0

Amnionitis (korioamnionitis, amnionitis) 1.4 1,1-1,9

Jain et al (2013) menunjukkan bahwa bahkan setelah pengobatan,

wanita dengan ISK yang terlambat terdeteksi menunjukkan 3,27 kali

peningkatan kemungkinan mengalami persalinan prematur serta 3,63 kali

peningkatan kemungkinan PPROM dibandingkan dengan kontrol.

Menariknya, tidak ada perbedaan yang dapat ditemukan antara komplikasi

ISK yang terdeteksi awal dan mendapat pengobatan bila dibandingkan

dengan kontrol. Smaill et al. (2007) menunjukkan penurunan kejadian

pielonefritis (RR 0,23; 95% CI 0,13-0,41) dan berat lahir rendah (RR 0,66;

95% CI 0,49-0,89), setelah pengobatan antibiotik pada wanita dengan

(24)

95% CI 0,10-1,36) bahkan setelah pengobatan. Mereka menyimpulkan

bahwa pengurangan berat lahir rendah adalah konsisten dengan

teori-teori saat ini tentang peran infeksi pada hasil kehamilan.23

2.2. Bakteriuria Asimtomatik

2.2.1. Definisi

Bakteriuria signifikan mungkin dapat menjadi asimtomatik.

Bakteriuria asimtomatik memiliki prevalensi 10 persen selama kehamilan.

Bakteriuria didefinisikan sebagai menemukan lebih dari 105 koloni unit bakteri per mL urin. Penelitian terbaru dari wanita dengan disuria akut

telah menunjukkan adanya bakteriuria signifikan dengan jumlah koloni

yang lebih rendah. Namun, ini belum diteliti pada wanita hamil, dan ≥ 105 CFU per mL tetap menjadi standar umum yang diterima.8

2.2.2. Terapi

Pada wanita asimtomatik, pemberian antibiotika masih

kontroversial, diberikan atau tidak. American College of Obstetricians and

Gynecologists, meringkas data yang tersedia tentang hubungan antara

paparan antenatal terhadap antimikroba dan menyimpulkan bahwa: 1)

Ketika memilih antibiotik untuk infeksi selama trimester pertama kehamilan

(yang adalah selama organogenesis), penyedia layanan kesehatan harus

mempertimbangkan dan mendiskusikan dengan pasien manfaat serta

(25)

maternal; 2) Peresepan sulfonamid atau nitrofurantoin pada trimester

pertama masih dianggap tepat bila tidak ada antibiotik alternatif lain yang

cocok tersedia; 3) Wanita hamil tidak boleh menolak perawatan yang tepat

untuk infeksi karena infeksi yang tidak diobati umumnya dapat

menyebabkan komplikasi yang serius bagi ibu dan janin.37

Hampir semua antimikroba melewati plasenta dan beberapa dari

mereka mungkin memberi efek teratogenik. Antibiotik umum yang diterima

dalam mengobati ISK selama kehamilan adalah penisilin dan sefalosporin,

terutama dengan pengikat protein rendah (seperti cephalexin, kategori

B).38

Tabel 2.3. Rekomendasi antibiotik oleh FDA

Pada trimester kedua dan ketiga, trimetoprim sulfametoksazol dan

nitrofurantoin ditemukan ditoleransi dengan baik dan dengan beberapa

klinisi bahkan menganggap hal ini sebagai first line therapy, kecuali pada

(26)

kejadian ikterus neonatal dan kern ikterus. Kekhawatiran yang sama

ditemukan pada antimikroba lain dengan ikatan protein yang sangat tinggi

(misalnya ceftriaxone), karena mereka dapat menggantikan tempat

bilirubin dari protein plasma. Perlu juga ingat bahwa trimetoprim (FDA

kategori C) adalah antagonis asam folat; dengan demikian, suplementasi

zat ini dan pemantauan konsentrasi serum diwajibkan selama

pengobatan. Nitrofurantoin dapat secara teoritis dikaitkan dengan risiko

anemia hemolitik janin atau neonatus jika ibu memiliki kekurangan

glukosa-6-fosfat dehidrogenase, dan meskipun komplikasi ini di kehamilan

belum pernah dilaporkan. Hal ini menunjukkan obat harus digunakan

dengan hati-hati, terutama di daerah-daerah prevalensi penyakit.39

Penggunaan fluorokuinolon (FDA kategori C) pada dasarnya

kontraindikasi selama kehamilan, karena dapat menyebabkan gangguan

perkembangan tulang rawan janin dalam studi eksperimental hewan

meskipun tidak dalam studi manusia. Gentamisin dan aminoglikosida

lainnya berada pada FDA kategori D, karena efek nefrotoksisitas dan

neurotoksisitas (kerusakan saraf kedelapan) pada janin. Tetrasiklin

mengakibatkan perubahan warna gigi jika diberikan setelah 5 bulan

kehamilan. Makrolida berada pada kategori kehamilan C oleh FDA.38

Baru-baru ini, semakin banyak penulis menyarankan bahwa pilihan

obat yang logis pada trimester kedua dan ketiga adalah nitrofurantoin.

Seperti yang ditunjukkan oleh studi terbaru, nitrofurantoin aktif terhadap

(27)

yang memproduksi beta laktamase. Penelitian Kashanian et al. mengenai

resistensi obat antara kultur bakteri dari spesimen urin di sebuah rumah

sakit di New York pada tahun 2003-2007 pada 10.417 kultur di mana

pertumbuhan E. coli dicapai, 95,6% sensitif terhadap nitrofurantoin,

dengan tingkat resistensi rata-rata 2,3%, yang secara signifikan lebih

rendah dari ciprofloxacin, levofloxacin, dan trimetoprim sulfametoksazol

(masing-masing 24,2% , 24% dan 29%). Dosis tunggal 3g fosfomycin juga

memiliki tingkat resistensi yang rendah pada infeksi E. coli dan tampaknya

efektif pada wanita yang tidak hamil, tetapi ada pengalaman terbatas

dalam menggunakan rejimen ini di kehamilan. Suatu studi RCT yang

membandingkan 14 hari nitrofurantoin atau sulfametoksazol melaporkan

hasil yang sama untuk pengobatan 2 kelompok. Sebuah tinjauan

sistematis Cochrane baru-baru ini menyimpulkan bahwa tidak ada bukti

yang cukup untuk merekomendasikan durasi terapi antimikroba untuk ibu

hamil dosis tunggal baik pada rejimen 3hari, 4 hari, maupun 7 hari.

Dengan demikian, durasi optimal terapi antimikroba untuk bakteriuria pada

wanita hamil belum ditentukan.40

Temuan menarik datang dari penelitian oracle yang menilai hasil

jangka panjang untuk 3190 anak-anak yang lahir dari ibu yang menerima

antibiotik vs plasebo selama persalinan prematur dengan risiko persalinan

preterm. Peneliti menemukan bahwa paparan eritromisin atau

amoxicillin-klavulanat meningkatkan jumlah anak-anak dengan berbagai gangguan

(28)

(masing-masing OR = 1,42, 95% CI: 0.68- 2.98, dan OR = 1,22, 95% CI :

0,57-2,62). Risiko terbesar ditemukan ketika kedua antibiotik diberikan

bersama-sama dibandingkan dengan plasebo ganda (OR = 2,91, 95% CI:

1,50-5,65). Penyebab disfungsi neurologis ini tidak jelas, tetapi bisa

menjadi akibat dari infeksi perinatal subklinis serta efek langsung dari

antibiotik pada otak janin atau aliran darah otak atau antibiotik mungkin

menganggu kolonisasi mikroba anak yang baru lahir, dengan konsekuensi

jangka panjang. Ada beberapa jalur antibiotik mengubah toleransi

kekebalan tubuh dengan mengubah flora usus janin, sehingga

memberikan kontribusi untuk peningkatan substansial dalam kejadian

alergi, penyakit autoimun, autisme, ADHD dan kondisi kronis lainnya.

Kesimpulan yang utama dari semua studi yang menarik adalah bahwa kita

harus sangat berhati-hati dalam meresepkan antibiotik untuk wanita hamil

tanpa adanya bukti.41

Tabel 2.4 Penelitian mengenai terapi antimikroba bakteriuria pada

(29)

2.2.3. Follow up

Semua wanita hamil dengan bakteriuria harus menjalani skrining

periodik setelah terapi karena sebanyak sepertiga dari mereka mengalami

infeksi berulang. Kultur tindak lanjut harus diperoleh 1-2 minggu setelah

pengobatan dan kemudian diulang sebulan sekali. Dalam kasus

bakteriuria persisten atau rekuren, terapi antibiotik menggunakan agen

yang sama (misalnya 7 hari dari sebelumnya 3 hari perlakuan) atau obat

lini pertama lain dianjurkan. Pengobatan diberikan sampai jumlah bakteri

turun ke tingkat non signifikan. Jika bakteriuria berlanjut meskipun

program terapi ulang telah diberikan, serta pada wanita dengan faktor

risiko tambahan (misalnya imunosupresi, diabetes, anemia sel sabit,

urinari neurogenik) atau infeksi berulang/ ISK persisten sebelum hamil),

harus dipertimbangkan profilaksis antimikroba.34

(30)

Sekitar 15% ibu hamil akan mengalami ISK berulang sehingga

dibutuhkan pengobatan ulang dan upaya pencegahan. Beberapa negara

sudah mengeluarkan panduan untuk pencegahan ISK berulang dengan

antimikroba, baik secara terus menerus maupun paska senggama.41

Pemberian antibiotik profilaksis secara terus-menerus hanya

dianjurkan pada wanita yang sebelum hamil memiliki riwayat ISK

berulang, atau ibu hamil dengan satu episode ISK yang disertai dengan

salah satu faktor risiko berikut ini: riwayat ISK sebelumnya, diabetes,

sedang menggunakan obat steroid, dalam kondisi penurunan imunitas

tubuh, penyakit ginjal polikistik, nefropati refluks, kelainan saluran kemih

kongenital, gangguan kandung kemih neuropatik, atau adanya batu pada

saluran kemih. Antibiotik profilaksis paska senggama diberikan pada ibu

hamil dengan riwayat ISK terkait hubungan seksual. Pada kondisi ini, ibu

hamil hanya minum antibiotik setelah melakukan berhubungan seksual,

sehingga efek samping antibiotik profilaksis yang dapat digunakan secara

terus menerus sepanjang kehamilan adalah sefaleksin per oral satu kali

sehari 250 mg atau amoksisilin per oral satu kali sehari 250 mg. Antibiotik

yang sama dapat digunakan sebagai profilaksis paska senggama dengan

dosis yang sama sebagai dosis tunggal.34,42

(31)
(32)

Karakteristik 

Confounding 

2.5. Hipotesis Penilitian

Berdasarkan literatur tersebut maka didapatkan hipotesis pada penelitian

ini adalah:

Terdapat perbedaan jumlah bakteriuria sebelum dan sesudah terapi

amoxicillin pada ibu hamil trimester III di Rumah Sakit Umum Pusat Haji

Adam Malik Medan.

BAB 3

Ibu hamil

 Umur

 Paritas

Trimester III

 Penyakit infeksi

 Diabetes

 Hipertensi

Amoxicillin 5 hari

Bakteriuria Sebelum

Gambar

Gambar 2.1 Metode Pengambilan Spesimen Urin Pancar Tengah yang
Tabel 2.3. Rekomendasi antibiotik oleh FDA

Referensi

Dokumen terkait