• Tidak ada hasil yang ditemukan

Penerapan Corporate Social Responsibilty dalam Perkembangan Usaha Mikro, Kescil dan Menengah (UMKM) di Indonesia Chapter III V

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Penerapan Corporate Social Responsibilty dalam Perkembangan Usaha Mikro, Kescil dan Menengah (UMKM) di Indonesia Chapter III V"

Copied!
60
0
0

Teks penuh

(1)

Istilah CSR pertama kali muncul dalam tulisan Social Responsibility of the

Businessman tahun 1953. konsep yang digagas Howard Rothmann Browen ini menjawab keresahan dunia bisnis.139 Belakangan CSR segera diadopsi, karena bisa jadi penawar kesan buruk perusahaan yang terlanjur dalam pikiran masyarakat dan lebih dari itu pengusaha di cap sebagai pemburu uang yang tidak peduli pada dampak kemiskinan dan kerusakan lingkungan.140

Dalam Pasal 1 Butir 3 UUPT disebutkan bahwa CSR adalah komitmen perseroan untuk berperan serta dalam pembangunan ekonomi yang berkelanjutan guna meningkatkan kualitas kehidupan dan lingkungan yang bermanfaat, baik bagi perseroan sendiri, komunitas setempat, maupun masyarakat pada umumnya.141

Pada awalnya konsep CSR muncul sebagai akibat dari adanya ketidakpercayaan masyarakat terhadap korporasi. Masyarakat menganggap korporasi sebagai pihak yang selalu mengeruk keuntungan tanpa mempedulikan kondisi masyarakat maupun lingkungan sekitarnya.142 Kekuatan modal yang dimilki oleh korporasi, terutama korporasi dengan skala internasional, telah menjelma sebagai sebuah kekuatan tersendiri yang sering kali ditangani oleh

      

139Chairil N. Siregar, “Analisis Sosiologis Terhadap Implementasi Corporate Social

Responsibility Pada Masyarakat Indonesia Jurnal Sosioteknologi” Edisi 12 Tahun 6, Desember 2007

140Ibid.

141Indonesia (Perseroan Terbatas),op.cit. Pasal 1 Angka 3

142Gunawan Widjaja & Yeremia Ardi Pratama,Risiko Hukum & Bisnis Perusahaan Tanpa

(2)

kepentingan politik suatu negara atau kelompok tertentu, yang pada ujungnya hampir dapat dipastikan akan merugikan masyarakat.143

Walaupun telah menjadi isu global, sampai saat ini belum ada suatu defenisi tunggal dari CSR yang di terima secara global. Secara etimologis

Corporate Social Resposibility dapat diartikan sabagai Tanggung Jawab Sosial Perusahaan atau Korporasi.144

Ada dua jenis skandal tentang korporasi melawan masyarakat yang cukup menggemparkan dan pada akhirnya semakin meperkuat ketidakpercayaan masyarakat pada korporasi diantaranya adalah yang terungkap dalam kasus

Holocaust dan Agent Orange.145 1. Holocaust

Holocaust berasal dari bahasa yunani: holocauston yang berarti “persembahan pengorbanan yang terbakar sepenuhnya” adalah genosida sistematis yang dilakukan Jerman Nazi terhadap berbagai kelompok etnis,keagamaan, bangsa, dan sekuler pada masa Perang Dunia II.146

Bangsa Yahudi di Eropa merupakan korban-korban utama dalam

Holocaust, yang disebut kaum Nazi sebagai “penyelesaian Terakhir Terhadap Masalah Yahudi”.147 Jumlah korban Yahudi umumnya dikatakan mencapai enam juta jiwa.Genosida ini yang diciptakan Adolf Hitler dilaksanakan, antara lain,

      

143Ibid.

144Gunawan Widjaja & Yerimia Ardi Pratama, Op.cit,hlm.7

145Ibid, hlm.12

(3)

dengan tembakan-tembakan, penyiksaan, dan gas racun, dikampung Yahudi dan kampung Konsentrasi. 148

Korporasi-korporasi yang terlibat meliputi bank-bank besar di Swiss (seperti Credit Suisse, Union Bank Switzerland(UBS)danSwiss Bank Corporation), bank-bank di Perancis dan perusahaan-perusahaan asuransi Eropa seperti Assicuranzioni Generalidan Allianz.149

2. Agent Orange

Agen Oranye “Super Oranye” adalah julukan yang diberikan untuk

herbirsida dan defolian yang digunakan oleh Militer Amerika Serikat dalam peperangan herbisida (herbicidal warfare)selama perang Vietnam.150 Dalam peperangan herbisida tersebut, sejumlah herbisida termasuk Agen Oranye digunakan dengan maksud untuk menghacurkan produksi bahan pangan dan pepohonan yang dijadikan sebagai tempat bersembunyinya musuh.151

Sejak tahun 1980-an, sejumlah tuntutan hukum telah diajukan terhadap perusahaan-perusahaan yang memproduksi Agen Oranye, diantaranya adalah Dow

Chemical, Mosanto dan Diamond Shamrockn (menghasilkan hanya 5 % ). Para veteran AS memperoleh ganti rugi sebesar AS$180 juta pada tahun 1984, dan para veteran yang paling besar terkena akibatnya menerima ganti rugi satu kali sebesar AS $1.200.152

       148Ibid.

149Ibid. 150Ibid, hlm.15

(4)

Di tempat-tempat lain, para veteran Australia, Kanada dan Selandia Baru memperoleh ganti rugi dalam penyelesaian di luar pengadilan pada tahun yang sama. Pada tahun 1999, para veteran Korea Selatan mengajukan tunttutan hukum di Korea; pada Januari 2006, Pengadilan Banding Korea memerintahkan Mosanto dan Dow membayar ganti rugi sebesar AS$62 juta.153

Barbara Fryzel dalam bukunya “Building Stakeholder Relations and CSR: A Sensemaking Perspective” mengatakan: bahwa menigkatnya kedudkan dan pengarush korporasi berbarengan juga semakin tingginya ekspektasi sosial bahwa aktivitas bisnis harus disesuakan dengan kebutuhan untuk mempertahankan lingkungan sekitar yang semakin jelek.154 Kesejateraan dan kebahagiaan masyarakat jugalah yang pada akhirnya juga menentukan daya beli konsumen. 155 Pelaksanaan CSR menjadi salah satu cara untuk meningkatkan potensi perusahaan dan menghentikan operasional bisnis yang merusak lingkungan sekitar. Secara umum CSR sangat perlu dikembangkan mengingat hal-hal beberapa hal. Pertama, ketentuan-ketentuan operasional perusahaan yang masih melekat dalam fenomena globalisasi ekonomi yang mendorong perusahaan saling ketergantungan dengan perusahaan lain. Akibatnya perusahaan berdampak negatif terhadap sekitar dan pertumbuhan kehidupan masyarakat. Seiring perkembangan zaman peraturan soal bisnis semakin berkembang sehingga mendorong perusahaan memahami bahwa bisnis mampu mendorong perusahaan menjadi lebih baik dan mendapatkan simpati dari publik. Kedua, perusahaan-perusahaan yang tergolong       

153Ibid, hlm.17

154Barbara Fryzel, Building Stakeholder Relations and CSR: A Sensemaking Perspective,

(5)

kuat, cenderung urung meningkatkan transparansi dan akibatnya menimbulkan persepsi negatif dari sektor bisnis dan akhirnya mengakibatkan penurunan kualitas perusahaan tersebut. Oleh karena itu perusahaan membangun strategi yang kompetitif dan berusaha mengembalikan simpati lingkungan sekitar terhadap perusahaan tersebut melalui program CSR.156 CSR menjadi suatu bentuk legitimasi jika perusahaan dapat membuktikan segala tindakan perusahaan tersebut dilaksanakan dengan benar-benar dan sesuai dengan harapan stakeholders dan memahami apa yang menjadi kebutuhan stakeholders. Pentingnya legitimasi tersebut mampu membangun hubungan yang efektif antara stakeholder dengan perusahaan. CSR sebagai alat komunikasi yang baik, mampu meningkatkan integrasi ekonomi untuk mencapai tujuan ekonomi dan sosial yang sesungguhnya.157

Berdasarkan pemaparan diatas dapat dilihat bahwa CSR merupakan reaksi dan tantangan terhadap paham yang dikembangkan ajaran Neo Kapitalisme (Neo

Capitalism) yang bersikap dan berpendirian, bahwa satu-satunya tanggung jawab perusahaan, hanya mencari keuntungan yang sebesar-besarnya untuk dibagikan kepada para pemegang saham.158 Tanggung jawab perusahaan hanya sebatas memenuhi kepentingan para pemegang saham. Adapun Tanggung Jawab Sosial termasuk tanggung jawab untuk mesejahterakan rakyat dan perlindungan

       156Ibid.

157Ibid.

158M.Yahya Harahap,SH,Hukum Perseroan Terbatas , (Jakarta: Sinar Grafika, 2009)

(6)

lingkungan, bukan tanggung jawab perusahaan tetapi merupakan tanggung jawab Pemerintah.159

Ajaran Neo Kapitalisme atau Neo Liberalisme tesebut telah menimbulkan perkembangan perusahaan yang tidak manusiawi (inhuman) dan tidak adil (unjust) mengeruk keuntungan tanpa mempedulikan kesengseraan masyarakat dan kerusakan lingkungan sekitarnya.160

Ajaran inilah yang ditentang oleh aliran moralis. Bukan hanya pemegang saham yang menjadi pemangku kepentingan (stakeholder) perusahaan. Masyarakat sekitar perusahaan juga adalah pemangku kepentingan. Oleh karena itu, selain harus menaati segala peraturan perundang-undangan, perusahaan juga harus ikut bertanggung jawab terhadap masyarakat dan lingkungan sekitarnya. Dengan demikian Perseroan tidak hanya memperhatikan kepentingan pemegang saham, pegawai dan buruh yang bekerja padanya akan tetapi harus memperhatikan masyarakat dan lingkungan sekitarnya.161

Sejalan dengan hal tersebut di atas, Yusuf Wibisono mengatakan bahwa dunia usaha semakin menyadari bahwa perusahaan tidak lagi dihadapkan pada tanggung jawab yang terpijak pada single bottom line, yaitu nilai perusahaan (corporate value) yang direfleksikan dalam kondisi keuangannya saja namun juga harus memeperhatikan aspek soaial dan lingkungannya. 162

B. Konsep-Konsep Umum Corporate Social Responsibility       

159Ibid.

160Ibid, hlm.299. 161Ibid.

162Yusuf Wibisono, Membedah Konsep & Aplikasi CSR, (Gresik: Fascho

(7)

Semenjak keruntuhan rezim diktatori Orde Baru, masyarakat semakin berani untuk beraspirasi dan mengekspresikan tuntutannya terhadap perkembangan dunia bisnis Indonesia.163 Masyarakat telah semakin kritis dan mampu melakukan kontrol sosial terhadap dunia usaha. Hal ini menuntut para pelaku bisnis untuk menjalankan usahanya dengan semakin bertanggungjawab.164 Pelaku bisnis tidak hanya dituntut untuk memperoleh keuntungan dari lapangan usahanya, melainkan mereka juga diminta untuk memberikan kontribusi positif terhadap lingkungan sosialnya.165

Pengaturan CSR dalam UUPT masih menyisakan kontroversi. Beberapa asosiasi perusahaan, termasuk Kamar Dagang Indonesia (“KADIN”) berupaya untuk memahkamah-konstitusikan klausul ini. 166 Kegelisahan terhadap pengaturan CSR pada dasarnya berawal dari sebuah paradoks yang inheren dalam setiap upaya legalisasi CSR dalam sebuah produk undang-undang korporasi.167

CSR pada mulanya merupakan sebuah tanggungjawab yang bersifat sukarela (voluntarily action). Sebagai contoh, Komisi Eropa mendefiniskannya sebagai ‘suatu konsep di mana perusahaan-perusahaan mengintegrasikan kepedulian sosial dan lingkungan dalam pelaksanaan bisnis mereka dan dalam interaksi mereka dengan para pemegang saham dengan dasar sukarela.168

      

163 Mas Achmad Daniri, Standarisasi Tanggung Jawab Sosial Perusahaan.Jurnali.28

Januari 2008

164Ibid. 165Ibid.

166Asyafrani, Artikel Hukum Perdata/Bisnis,“Paradoks Regulasi Corporate Social

Responsibility” Dikirim/Ditulis Pada 19 November 2007. 167Ibid.

(8)

Bagi banyak perusahaan, malaksanakan CSR dengan baik tidak lagi dilihat sebagai biaya ekstra atau beban manajemen.169 Bahkan, CSR dilihat tidak hanya untuk menciptakan citra bisnis yang baik dari suatu perusahaan tetapi juga mampu menerapkan etika bisnis serta memberikan kontribusi pada kemakmuran jangka panjang dari perusahaan tersebut.170

Keberadaan CSR bertujuan untuk memperkuat keberlanjutan perusahaan itu sendiri dengan jalan membangun kerjasama antara stakeholder yang difasilitasi perusahaan tersebut dengan menyusun program-program pengembangan masyarakat sekitarnya, kemapuan perusahaan untuk dapat beradaptasi dengan lingkungannya, komunitas dan stakeholder yang terkait, baik lokal, nasional, maupun global. Pada akhirnya pengembangan CSR ke depan seyogianya mengacu pada konsep pembangunan yang berkelanjutan.171

Prinsip keberlanjutan mengedepankan pertumbuhan, khususnya bagi masyarakat miskin dalam mengelola lingkungannya dan kemampuan dalam mengelola pembangunan, salah satu strategi adalah berkemampuan untuk mengintegrasikan dimensi ekonomi, ekologi, dan sosial yang menghargai kemajemukan ekologi dan sosial budaya. Kemudian dalam proses pengembangannya tiga stakeholder inti diharapkan mendukung penuh, di antaranya adalah perusahaan, pemerintah dan masyarakat.172

CSR sering disalah artikan sebagai kegiatan donasi perusahan atas sekedar ketaatan perusahaan pada hukum dan aturan yang berlaku (misalnya pada aturan

      

169Apriatni, EP, “loc.cit. 170Ibid.

171Achmad Daniri , “Standarisasi Tanggung Jawab Sosial Perusahaan”, hlm.3.

(9)

mengenai standar upah minimum,tidak memperkerjakan tenaga kerja dibawah umur dan lain-lain).173 Padahal, kegiatan donasi dan ketatan perusahaan pada hukum tidak dapat dikatakan sebagai CSR. Kegiatan donasi dan ketaatan perusahaan sebagai CSR. Kegiatan donasi dan ketaatan perusahan pada hukum hanya syarat minimum agar perusahaan dapat beroperasi dan diterma oleh masyarakat.174

1. Corporate Social Responsibility dan Kegiatan Philanthropy Perusahaan

Philanthropy adalah,

the act donating money, goods, times or effort to support a charitable

cause, usually oven an extended period of time and in regald to a defined

objective”

(“tindakan menyumbangkan uang, barang kali atau upaya untuk mendukung penyebab amal, biasanya berjangka waktu dan untuk tujuan yang ditetapkan”)

Dari defenisi tersebut di atas jelas dapat dilihat bahwa tujuan kegiatan

philanthropy adalah kegiatan yang bersifat amal (charity). Sebuah kegiatan amal tidak memerlukan komitmen berkelanjutan dari perusahaan. Tanggung jawab perusahaan terhadap sebuah kegiatan philanthropy berakhir bersamaan dengan berakhirnya kegiatan amal dilakukan perusahaan tersebut.175

Lebih dari sekedar philanthropy atau sumbangan perusahaan, CSR adalah suatu komitmen bersama dari seluruh stakeholders perusahaan untuk

bersama-      

173Gunawan Widjaja & Yerimia Ardi Pratama, op.cit,hlm.28 174Ibid.

(10)

sama bertanggungjawab terhadap masalah-masalah sosial.176 Jadi, CSR bukan merupakan sumbangan dari salah satu atau lebih stakeholders perusahaan (misalnya berupa penyisihan keuntungan dari pemegang saham untuk kegiatan sosial), tetapi menjadi tanggungan seluruh stakeholders. Dalam melakukan CSR, tidak ada stakeholders yang lebih dirugikan. Setiap stakeholders berkomitmen dan bertanggung jawab pelaksanaan CSR ini. 177

Jika dalam melakukan kegiatan philanthropy, setelah jumlah uang disumbangkan atau suatu kegiatan sosial dilakukan perusahaan tidak memiliki tanggung jawab lagi, maka dalam melakukan CSR dan komitmen dan bertanggung jawab perusahaan ini dibuktikan dengan adanya keterlibatan langsung dan kontiniuitas perusahaan dalam setiap kegiatan CSR yang dilakukannya.178 Justru keterlibatan langsung dan kontiniuitas kegiatan inilah yang menjadi ciri dari CSR.

2. Corporate Social Responsibility dan Ketaatan Perusahaan Pada

Hukum

CSR juga berbeda dengan sikap perusahaan untuk taat pada hukum atau aturan yang berlaku misalnya aturan tentang ketenagakerjaan, perlindungan HAM, pelestarian lingkungan hidup dan lain-lain.179 Taat pada hukum adalah hal yang sangat penting bagi perusahaan. Tetapi, hanya sekedar memenuhi standar tenaga kerja, melindungi hak-hak asasi karyawan, mengikuti standar prosedur

      

176Ibid.

177Ibid.

(11)

pengelolaan lingkungan yang baik dan setumpuk peraturan lainnya bukan hal yang menjadi perhatian utama dari CSR.180

CSR adalah sebuah komitmen berasal dari seluruh stakeholders perusahaan yang dinyatakan baik dalam code of conduct, code of ethics, corporate

policy maupun statement of principles perusahaan serta diwujudkan dalam setiap tindakan yang diambil oleh perusahaan tersebut, dan harus diataati oleh setiap

stakeholders tersebut.181 Jadi, dalam pelaksanaan CSR, sebenarnya perusahaan menaati aturan yang dibuat sendiri (self-regulation) berdasarkan setiap

stakeholders, berbeda dengan sekedar taat pada peraturan yang dibuat oleh pemerintah.182

CSR adalah strategi bisnis, dan oleh karena itu komitmen yang dinyatakan dalam code of conduct, code of ethics, corporate policy maupun statement of

principles perusahaan ini diwujudkan dalam setiap tindakan yang dilakukan atau tidak dilakukan perusahaan, termasuk didalamnya komitmen untuk menaati setiap aturan pemerintah.183

3. Corporate Social Responsibility pada Perusahaan Multinasional

Bagi negara-negara berkembang yang menerima investasi langsung (direct

investment) perusahaan-perusahaan besar tersebut, investasi akan disambut dengan sangat baik karena semakin akan mendatangkan pemasukan negara,

       180Ibid.

181Ibid, .hlm.22

(12)

investasi tersebut juga akan dapat membantu negara berkembang tersebut mengatasi masalah penggangguran di negaranya.184

Masalahnya, upaya ekspansi perusahaan dengan maksud menghemat biaya operasinal ini tidak selamanya berjalan mulus. Masyarakat pada negara-negara maju dengan kesadaran akan tanggung jawab perusahaan yang semakin baik menuntut bukti nyata bahwa perusahaan tersebut melaksanakan CSR.185

4. Teori Triple Bottom Line

Dengan semakin berkembangnya konsep CSR ini, maka banyak teori yang muncul yang diungkapkan berbagai pihak mengenai CSR ini. Salah satu yang terkenal adalah teori triple bottom line yang dikemukakan oleh John Elkington pada tahun 1997 melalui bukunya “Canibals with Forks, The Triple Bottom Line

of Twentieth Century Business”. Elkington mengembangkan konsep triple bottom line dalam istilah ecomic prosperity, environmental quality dan social justice.186

Dalam gagasan tersebut, perusahaan tidak lagi dihadapkan pada tanggung jawab yang bepijak pada single bottom line , yaitu aspek ekonomi yang di refleksikan dalam kondisi keuangannya saja, namun juga harus memperhatikan aspek sosial dan lingkungannya.Uraian yang diberikan di atas memberikan bahwa keuntungan ekonomis tidak pernah dapat dipisahkan dalam kerangka pelaksanaan CSR.187 Masing-masing perusahaan mempunyai karakter dan kondisi yang berbeda-beda, kondisi ini mempunyai karakter dan kondisi ini akan berdampak

       184Ibid, hlm 32

185Ibid.

(13)

pada implementasi CSR yang berbeda-beda pula. Nana Suharna mengelompokkan CSR menjadi 6 (enam) bidang, yaitu:188

a. Bidang Ekonomi

CSR dibidang ekonomi dapat dirumuskan sabagai kewajiban untuk berperan serta dalam meningkatkan taraf hidup masyarakat, bukan hanya internal, akan tetapi juga eksternal. Implikasinya seperti penciptaan lapangan kerja, produksi barang dan jasa yang bermanfaat bagi konsumen, tidak memperlebar jurang pemisah antara yang kaya dan yang miskin, secara internal memberikan imbalan yang adil, wajar, dan layak bagi para anggota organisasi.

b. Bidang Politik

Para manajer dan seluruh karyawan suatu organisasi adalah warga suatu masyarakat yang mempunyai hak dan kewajiban sebagaimana warga lainnya. Oleh karena itu,mereka mempunyai kewajiban di bidang politik seperti turut mejaga stabilitas politik di masyarakat dan menggunakan hak pilihnya dalam pemilihan umum yang diselenggarakan oleh pemerintah.

c. Bidang Sosial

Yang paling penting dalam bidang sosial adalah kebisaan menggunakan bahasa nasional dengan cara yang benar, seperti dalam proses berkomunikasi antar individu dan antar kelompok dalam perusahaan. Disini termasuk penggunaan bahasa nasional dalam

      

188Busyra Azheri, Corporate Social Responsibility, (Jakarta: PT. Raja Grafindo

(14)

pemberian nama atau identitas perusahaan dan dalam melakukan berbagai kegiatan promosi produk ang dihasilkan.

d. Bidang Legal

Logika dan rasa tanggung jawab sebagai warga negara menyatakan bahwa ketaatan pada berbagai ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku sesungguhya bukan hanya merupakan salah satu tanggung jawab sosial seseorang, akan tetapi merupakan keharusan mutlak.

e. Bidang Etika

Sudah umum dan diakui dan diterima sebagai kenyataan bahwa dalam kehidupan bersama, terdapat norma moral dan etika yang mengikat semua anggota masyarakat, termasuk kalangan dunia usaha. Pada dasarnya dapat dikatakan bahwa norma moral dan etika dianggap baik apabila diterima oleh masyarakat.

f. Diskresi (kebebasan mengambil keputusan)

(15)

memperkuat komitmen manajemen untuk memikul tanggung jawab sosialnya.

CSR yang kini marak diimplementasikan banyak perusahaan, mengalami evolusi dan metamorfosis dalam retang waktu yang cukup panjang.189 Menurut Gloutie,kegiatan CSR meliputi memuat tema seperti:190

1. Kemasyarakatan

Perusahaan dapat melaksanakan program CSR ke masyarakatberupa aktivitas di bidang pendidikan dan kesehatan. Dalam bidang pendidikan, yang dapatdiberikan oleh perusahaan berupa pemberian beasiswa kepada siswa-siswa berprestasi ataupun siswa yang tidak mampu, ataupun sumbangan untuk penyediaan sarana dan prasana sekolah. Di bidang kesehatan, perusahaan biasanya memberikan bantuan penyediaan sarana dan prasarana kesehatan seperti puskesmas, program khitanan masal, imunisasi untuk masyarakat umum danprogram lainnya.

2. Ketenagakerjaan

Tema yang dapat diambil dalam program CSR inimerupakan semua aktivitas perusahaan yang ditujukan pada orang-orang dalam perusahaan sendiri. Aktivitas tersebut meliputi rekruitmen, program pelatihan, gaji dan tunjangan, mutasi dan promosi, dan lainnya. Karyawan merupakan sumber daya penting dalam pencapaian tujuan perusahaan, oleh karena itu perusahaan berkewajiban untuk memperhatikan dan meningkatkan kualitas maupunkesejahteraan karyawan.

      

189 Yusuf Wibisono, op.cit.hlm.3

190Rony Irawan,“Corporate Social Responsibility Tinjauan Menurut Peraturan Perpajakan

(16)

3. Produk dan konsumen

Program CSR ini melibatkan aspek kualitatif suatu produk atau jasa, antara lain kegunaan, durability, pelayanan, kepuasan pelanggan, kejujuran dalam iklan, kejelasan ataukelengkapan isi pada kemasan, dan lainnya. Perusahaan seharusnya memberikan kualitas produk dan jasa yang baik kepada masyarakat. Perusahaan tidak semata-mata mencari laba tetapi ada tanggung jawab etis kepada masyarakat atas produk dan jasa yang diberikan. Masyarakat menuntut perusahaan jujur dalam iklan atas produk dan jasa yang ditawarkan dan memberikan pelayanan yang baik kepada masyarakat.

4. Lingkungan Hidup

Perusahaan dalam menerapkan CSR dengan tema yang berkaitan dengan lingkunganhidup. Tema ini meliputi aspek lingkungan dari proses produksi, yang meliputi pengendalian polusi dalam menjalankan operasi bisnis, pencegahan dan perbaikan kerusakan lingkunganakibat pemrosesan sumber daya alam dan konversi sumber daya alam.

Program CSR yang berkelanjutan diharapkan dapat membantu menciptakan kehidupan dimasyarakat yang lebih sejahtera dan mandiri. Setiap kegiatan tersebut akan melibatkan semangat sinergi dari semua pihak secara terus menerus membangun dan menciptakan kesejahteraan dan pada akhirnya akan tercipta kemandirian dari masyarakat yang terlibat dalam program tersebut, sesuai dengan kemampuannya.191

      

(17)

Keberlanjutan dalam bidang ekonomi, lingkungan dan sosial dapat dilakukan oleh korporasi yang mempunyai kebudayaan perusahaan sebagai bentuk tanggung jawab sosial perusahaan (CSR).192 CSR dapat dipahami sebagai komitmen usaha untuk bertindak secara etis, beroperasi secara legal dan berkontribusi untuk peningkatan ekonomi bersamaan dengan peningkatan kualitas hidup dari karyawan dan keluarganya, komunitas lokal dan komunitas secara lebih luas.193Kondisi ini dapat diatasi dengan program yang bersipat holistik sehingga dapat membangun tingkat kepercayaan dalam diri masyarakat, untuk itu didukung oleh program CSR yang berkelanjutan (sustainable).194

C. Kerangka Hukum Kewajiban Corporate Social Responsility

Berkaitan dengan pelaksanaan CSR, perusahaan bisa dikelompokkan ke dalam beberapa kategori. Pengkategorian dapat memotivasi perusahaan dalam mengembangkan program CSR. Dapat pula dijadikan cermin dan guideline untuk menentukan model CSR yang tepat.195

Dalam aspek hukum, perusahaan tidak hanya bertanggungjawab secara ekonomis dan sosial,karena perusahaan harus taat atau tunduk kepada peraturan yang ditetapkan pemerintah. Seperti keluarnya UUPT disahkan pada tanggal 20 Juli 2007 yang mengharuskan perseroan untuk melaksanakan CSR. Jika peraturan

      

192Bambang Rudito & Melia Famiola, Etika Bisnis dan Tanggung Jawab Sosial

Perusahaan di Indonesia, (Bandung:Rekayasa Sains,2008), hlm.207.

193Ibid.

194Hendrik Budi Untung, loc.cit.

195Edi Suharto, “Corporate Social Responsibility: What is and Benefits for Corporate

(18)

ini dilanggar maka perusahan akan menanggung risiko untuk diberhentikan operasinya.196

Dilihat dari aspek investasi, sebenarnya para investor juga memiliki kencederungan menanamkan modalnya pada perusahaan yang memiliki kepedulian terhadap masalah sosial, atau kepada perusahaan yang mempunyai standar tinggi dalam masalah sosial dan lingkungan hidup.197 Para investor juga memperhatikan masalah kepedulian sosial ke dalam proses pengambilan keputusan investasi, karena itu perusahaan-perusahaan yang memiliki kepedulian sosial dapat menggunakan informasi tanggung jawab sosial sebagai salah satu keunggulan kompetitif perusahaan.198 Manajemen perusahaan saat ini tidak hanya dituntut terbatas atas pengelolaan dana yang diberikan, namun juga meliputi dampak yang ditimbulkan oleh perusahaan terhadap lingkungan alam dan sosial. Tanggung jawab sosial dapat digambarkan sebagai ketersediaan informasi keuangan dan non-keuangan berkaitan dengan interaksi organisasi dengan lingkungan fisik dan lingkungan sosialnya.199 Perusahaan dapat melaporkan dapat melaporkan informasi tersebut dalam laporan tahunan atau dalam laporan yang terpisah.200

Dari aspek perpajakan, ternyata pelaksanaan program CSR ini memerlukan kajian lebih mendalam dalam penerapannya, karena program CSR       

196Ronny Irawan,loc.cit.

197Zuhroh, D., dan I.P.P.H Sukmawati, “Analisis Pengaruh Luas Pengungkapan Sosial

dalam Laporan Tahunan Perusahaan terhadap Reaksi Investor” Simposium Nasional Akuntansi VI, 2003.

198Martono Anggusti, Tanggung Jawab Sosial Perusahaan , (Medan: Books Terrace &

Library, 2010), hlm.41

199Sembiring, E., Karakteristik Perusahaan dan Pengungkapan Tanggung Jawab Sosial:

Studi Empiris pada Perusahaan yang Tercatat di Indonesia, (Jakarta: Bursa Efek, Jurnal Maksi,

Vol.6, No.1, 2006), hlm.60-68

(19)

yang diterapkan oleh perusahaan bisa dalam berbagai bentuk program. Bentuk program yang dipilih oleh perusahaan menimbulkan masalah sendiri di aspek perrpajakannya, baik aspek Pajak Penghasilan maupun Pajak Pertambahan Nilai.201

Pada dasarnya CSR adalah operasi bisnis yang memiliki komitmen tidak hanya untuk meningkatkan keuntugan perusahaan secara finansial semata, tetapi juga untuk pembangunan social-ekonomi di kawasan perusahaan secara holistik, melembaga, dan berkelanjutam. Dalam dunia bisnis istilah CSR telah dimulai digunakan sejak tahun 1976-an dan kemudian semakin populer setelah terbitnya buku Jhon Elkington.202 Tujuan dari pelaksanaan CSR itu sendiri adalah

subtainability bagi perusahaan, melaksanakan CSR bukan berarti mengurangi kesejahteraan seluruh stakeholders oleh karena itu maka aspek ekonomi juga harus menjadi pertimbangan bagi perusahaan yang melaksanakan CSR.203 Jauh sebelum UUPT mewajibkan CSR, perusahaan-perusahaan di Indonesia sudah melaksanakan CSR. Hanya saja pelaksanaannya lebih merupakan tuntutan dalam menjalankan bisnis dari pada kewajiban hukum yang dipaksakan. Subbab ini akan menjelaskan berbagai aktivitas perusahaan terkait CSR yang dilakukan untuk kepentingan stakeholders perusahaan.204

Stakeholders dapat meliputi : owner’s, supplier, konsumen, manajer, tenaga kerja, pemerintah, pesaing dan masyawarakat umum. Dalam setiap pembahasan tentang aktivitas bisnis, tidak lepas dari pembahsan peran lingkungan

       201Ibid.

202Martono Anggusti, loc.cit.

203Gunawan Widjaja & Yerimia Ardi Pratama,loc,cit.

(20)

bisnis bagi perusahaan. Stakeholders dapat menyediakan berbagai sumber daya yang penting bagi perusahaan. Selanjutnya perusahaan dalam akitivitas bisnisnya dengan melibatkan stakeholder akan menciptakan modal lingkungan, modal itelektual, modal sosial, dan modal finansial, yang keseluruhannya akan berguna bagi pertumbuhan jangka panjang yang berkelanjutan, baik bagi perusahaan, maupun bagi lingkungan bisnis.205

Jenis dan prioritas stakeholders relatif berbeda antara satu perusahaan dan lainnya, bergantung pada core bisnis perusahaan yang bersangkutan. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh organisasi non profit global yaitu Business for

Social Responsibility, ada beberapa manfaat yang diproleh perusahaan dengan mengimplementasikan CSR, antara lain:206

1. Peningkatan penjualan dan pangsa pasar (Increased sales and market

share);

2. Memperkuat posisi nama atau merek dagang (strenghened brand

positioning);

3. Menigkatkan citra perusahaan (Enhanced corporate image and clout); 4. Menigkatkan kemampuan untuk menarik, memotivasi dan

mempertahankan pegawai (Increased ability to attract, motivate and retain

employees);

5. Menurunkan biaya operasi (decreasing operating cost);

      

205Apriatni, “Tanggung Jawab Sosial Perusahaan dalam Mewujudkan Keadilan dalam

Bisnis”, loc.cit.

(21)

6. Menigkatkan daya tarik bagi investor dan analisi keuangan (Increased

appeal to investors and financial analysts)

Karenanya pengembangan CSR kedepan seyogianya mengacu pada konsep pembangunan yang berkelanjutan. Prinsip keberlanjutan mengedepankan pertumbuhan, khususnya bagi masyarakat miskin dalam mengelola lingkungannya dan kemampuan institusinya dalam mengelola pembangunan, serta strateginya adalah kemampuan untuk mengintegrasikan dimensi ekonomi, ekologi, dan sosial yang menghargai kemajemukan ekologi dan sosial budaya. Kemudian dalam proses pengembangannya tiga stakeholder inti diharapkan mendukung penuh, di antaranya adalah; perusahaan, pemerintah dan masyarakat.207

Secara garis besar, ada dua bentuk pendekatan terhadap CSR, yaitu pendekatan tradisional (traditional approach) dan pendekatan baru (new

approach). Dalam pendekatan tradisional, CSR oleh perusahaan-perusahaan hanya dipandang oleh sebagai kewajiban semata (fulfiling an obligation), sedangkan dalam pendekatan baru, CSR tidak hanya dipandang sebagai kewajiban yang harus dipenuhi, tetapi juga tetapi juga dapat turut membantu mencapai sasaran-sasaran bisnis perusahaan.208

CSR juga berdimensi hak asasi manusia. Abdul Hakim Garuda Nusantara menjelaskan bahwa salah satu yang harus dilakukan dalam program CSR yang berperspektif hak asasi manusia adalah membangun hubungan yang harmonis antara atasan dan bawahan. Dalam pelaksanaan kerja, harus terjadi hubungan

       207Ibid, hlm.x

208Edi Suharto, PhD (“ Corporate Sociial Responsibiliity Whatt Iis And Beneffiitts Fforr

(22)

simbiosis mutualisme, yakni timbal balik yang sama-sama menguntungkan. 209Para pengusaha seharusnya memiliki kepekaan yang besar mereka mampu membaca psikologi para pegawainya. Untuk itu, para pemimpin perusahaan harus memiliki sifat dan karakter kepemimpinan.

Penerapan CSR khususnya di Indonesia akan lebih tepat jika pertama kalinya perusahaan-perusahaan memperhatikan kesejahteraan buruh sebagai bentuk komitmen perusahaan.210 Bagaimana pun buruh bagian dari masyarakat yang paling dekat yang berhak merasakan manfaat yang sebesar-besarnya atas keadaan perusahaan baru kemudian menjangkau masyarakat luas dengan program-program strategisdan mendasar dan jika langkah penting yang pertama tersebut tidak dilakukan, dikhawatirkan semangat CSR di Indonesia hanya akan menjadi basa-basi atau akal-akalan perusahaan untuk meraih simpati publik. 211

Sebagai sebuah konsep yang baru dimasukkan ke dalam UUPT, pemerintah diharapkan tidak salah menafsirkan konsep CSR ini. Kontroversi yang terjadi dikalangan pengusaha sejak diwajibkannya pelaksanaan CSR bagi sebuah PT adalah ketidakpahaman sejumlah kalangan pengusaha dalam mengartikan CSR dan adanya katakutan bahwa pemerintah juga salah tafsir sehingga pada akhirnya peusahaan akan dirugikan melalui kewaiban pelaksanaan CSR ini.212

Salah satu hal terutama dikhawatirkan adalah bahwa CSR ini menjadi

philanthopy wajib dengan bagian presentase yang dikaitkan dengan pengeluaran (spending) dengan tanpa memperhatikan keuntungan (profit) dan atau

      

209Martono Angusti, , op.cit,hlm.41. 210Ibid,hlm.47.

211Ibid.

(23)

kesanggupan perseroan, khususnya tekait dengan likuiditas dana yang tersedia. Jika ini yang terjadi maka CSR akan menjadi bencana besar bagi dunia usaha dan masyarakat konsumen. CSR yang demikian tidak hanya merugikan kepentingan pengusaha tapi juga stakeholders perusahaan, khususnya masyarakat banyak sebagai konsumen. Ini benar-benar bertolak belakang dengan konsep CSR yang sesungguhnya.

Dengan diaturnya CSR di dalam peraturan perundang-undangan, maka CSR kini menjadi tanggung jawab yang bersifat legal dan wajib. Namun, dengan asumsi bahwa kalangan bisnis akhirnya bisa menyepakati makna sosial yang terkandung di dalamnya, gagasan CSR mengalami distorsi yang serius, yaitu sebagai berikut:213

1. Sebagai sebuah tanggung jawab sosial, dengan adanya pengaturan CSR, maka mengabaikan sejumlah prasyarat yang memungkinkan terwujudnya makna dasar CSR tersebut, yaitu sebagai pilihan sadar, adanya kebebasan, dan kemauan bertindak. Dengan mewajibkan CSR, maka memberikan batasan kepada ruang-ruang pilihan yang ada, berikut kesempatan masyarakat mengukur derajat pemaknaannya dalam praktik.

2. Dengan adanya kewajiban tersebut, maka CSR bermakna parsial sebatas upaya pencegahan dan penanggulangan dampak sosial dan lingkungan dari kehadiran sebuah perusahaan. Dengan demikian, bentuk program CSR hanya terkait langsung dengan jenis usaha yang       

213Penerapan Prinsip Tanggungjawab Sosial dan Lingkungan Perusahaan,

(24)

dijalankan perusahaan. Padahal praktek yang berlangsung selama ini, ada atau tidaknya kegiatan terkait dampak sosial dan lingkungan, perusahaan melaksanakan program langsung, seperti lingkungan hidup dan tak langsung, seperti rumah sakit, sekolah, dan beasiswa. Kewajiban tadi berpotensi menghilangkan aneka program tak langsung tersebut.

3. Tanggung jawab lingkungan sesungguhnya adalah tanggung jawab setiap subyek hukum, termasuk perusahaan. Jika terjadi kerusakan lingkungan akibat aktivitas usahanya, hal itu jelas masuk ke wilayah urusan hukum. Setiap dampak pencemaran dan kehancuran ekologis dikenakan tuntutan hukum, dan setiap perusahaan bertanggung jawab. Dengan menempatkan kewajiban proteksi dan rehabilitasi lingkungan dalam domain tanggung jawab sosial, hal ini cenderung mereduksi makna keselamatan lingkungan sebagai kewajiban legal menjadi sekedar pilihan tanggung jawab sosial. Atau bahkan lebih jauh lahi, justru bisa terjadi penggandaan tanggung jawab suatu perusahaan, yakni secara sosial (menurut UU PT) dan secara hukum (menurut UU Lingkungan Hidup).

(25)

Tidak melaksanakan CSR dapat berakibat terjadinya hal-hal yang tidak di inginkan terjadi dalam kegiatan usaha diantaranya:214

1. Boikot konsumen

2. Serangan terhadap aset tetap seperti tanah perkebunan dan bangunan 3. Kegagalan untuk menrik karyawan yang berkualitas dan kehilangan

dukungan dari karyawan

4. Pengeluaran ekstra untuk memperbaiki kesalahan dimasa lalu 5. Pengalihan perhatian manajemen dan aktivitas inti perusahaan 6. Pembatasan operasi perusahaan, seperti adanya peraturan baru 7. Halangan untuk menaikkan keuangan dan asuransi

8. Kesulitan dengan siklus hidup perusahaan (konsumen akhir dan pemasok). Berdasarkan pembahasan yang telah diuraikan pada bab ini, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa CSR telah menjadi kewajiban hukum yang diatur berdasarkan ketentuan UU PT. CSR tidak seharusnya dibatasi pada suatu perbuatan filantropis belaka. Penerapan CSR perlu mengacu pada prinsip pembangunan yang berkelanjutan yang mengedepankan pertumbuhan, khususnya bagi masyarakat miskin dalam mengelola lingkungannya dan kemampuan institusinya dalam mengelola pembangunan.

 

      

(26)

Mendorong Pembangunan Ekonomi yang Berkelanjutan di Indonesia

Salah satu tujuan penting perencanaan di negara terbelakang adalah untuk meningkatkan laju pembangunan ekonomi.215Menurut Gadgil dalam bukunya yang berjudul Planning and Economic Policy in India mengatakan bahwa:

“ bagi pembangunan ekonomi perencanaan mengandung arti pengarahan atau pengaturan eksternal kegiatan ekonomi oleh badan perencana, yang dalam banyak hal, disamakan dengan pemerintah negara.”216

Itu berarti peningkatan laju pembentukan modal dengan cara meningkatkan tingkat pendapatan, tabungan dan investasi.217 Akan tetapi peningkatan laju pembentukan modal pada perekonomian terbelakang dihadapkan pada sejumlah kesulitan, termasuk rakyat yang di cengkam oleh masalah kemiskinan.218

Permasalahan yang dihadapi oleh bangsa dan negara ini semakin kompleks. Anggaran yang kecil serta konsentrasi pemerintah yang tersedot kebeberapa persoalan, menyebabkan pemerintah tidak mampu mengatasinya sendirian.219 Karenanya kemitraan dan kerja sama antara pemerintah dengan berbagai elemen bangsa khususnya dunia usaha melalui program CSR perlu digalakkan. Sekecil apapun bentuk kedermawanan perusahaan akan sangat berarti

      

215Jhingan, Ekonomi Pembangunan dan Perencanaan, (Jakarta : PT. Raja Grafindo

Persada,2008), hlm.519.

216Gadgil, Planning and Economic Policy, (India:Maharasthra,1901) 217Jhingan,loc.cit.

218Ibid.

(27)

dalam membantu pemerintah dan masyarakat, terlebih bila dilakukan secara berkesinambungan dan di kelolah dengan baik.220

Sejak masa Orde Baru Indonesia menempatkan pembangunan ekonomi sebagai indikator keberhasilan pemangunan.221 Karena itu, perhatian terhadap masalah lingkungan dan masalah sosial masih lebih banyak wacana ketimbang realita. Sumber daya alam yang sangat luar biasa nilainya, sesungguhnya mempunyai peranan penting dalam menunjang pembangunan nasional, karena sumber daya alam merupakan modal utama pendorong pertumbuhan ekonomi.222

CSR adalah komitmen perusahaan atau dunia bisnis untuk berkonrtibusi dalam pengembangan ekonomi yang berkelanjutan yang memperhatikan tanggung jawab sosial perusahaan dan menetikberatkan pada keseimbangan antara perhatian terhadap aspek ekonomis, sosial, dan lingkungan.223Dengan adanya kebijakan meregulasi CSR sebagaimana di amanatkan oleh UUPT pasal 74 apabila pelaksanaan CSR ini terus dikembangkan maka CSR dapat mendorong serta meningkatkan laju pembangunan ekonomi yang berkelanjutan termasuk mengatasi rakyat yang tercengkam oleh kemiskinan. 224

Konsep CSR telah dikenal sejak awal tahun 1970, yang secara umum diartikan sebagai kumpulan kebijakan dan praktik yang berhubungan dengan

stakeholder, nilai-nilai, pemenuhan ketentuan hukum, penghargaan masyarakat, lingkungan, serta komitmen dunia usaha untuk berkontribusi dalam pembangunan

       220Ibid.

221Ibid. 222Ibid.

(28)

secara berkelanjutan CSR tidak hanya merupakan kegiatan kreatif perusahaan dan tidak terbatas hanya pada pemenuhan aturan hukum semata.225

M.R Mathews, dalam bukunya yang berjudul Social and Environmental

Accounting mengungkapkan CSR sebagai social disclosure, corporate social reporting, dan/atau social accounting.226Ketiga ungkapan ini lebih mengarah pada proses pengomunikasian dampak sosial dan lingkungan dari kegiatan ekonomi dan organisasi perusahaan terhadap kelompok yang berkepentingan dan terhadap masyarakat secara keseluruhan.227 Perluasan tersebut dibuat dengan asumsi bahwa perusahaan mempunyai tanggung jawab yang lebih luas dibanding hanya mencari laba untuk shareholders. Perluasan pemahaman ini dipengaruhi tiga hal pokok yaitu:228

a. Bahwa sebagai suatu artificial person, perusahaan atau korporasi tidaklah berdiri sendiri dan terisolasi, namun demikian perusahaan tidak dapat menyatakan bahwa mereka tidak memiliki tanggung jawab terhadap keadaan ekonomi, sosial, dan lingkungan.

b. Bahwa keberadaan dan keberlangsungan suatu perusahaan atau korporasi sangatlah ditentukan oleh seluruh stakeholders-nya dan bukan hanya shareholder-nya.

c. Bahwa perusahaan yang melaksanakan CSR berarti juga melaksanakan tugas dan kegiatan sehari-harinya, sebagai wadah

      

225Chairil N. Siregar,

226Busyra Azheri, op.cit.hlm.30

227Ibid.

(29)

untuk memperoleh keuntungan melalui usaha yang dijalankan dan/atau dikelolah oleh yang bersangkutan.

Walaupun sampai saat ini, secara konseptual, pemahaman mengenai CSR, baik itu dalam defenisi, konsep, ruang lingkup maupun bentuk pelaksanaan masih cukup beragam dan terus berkembang dari waktu ke waktu dan mungkin juga akan berlangsung sangat panjang, karena CSR adalah sebuah konsep yang terus berkembang.229

Sebagai sebuah strategi bisnis, pelaksanaan CSR betujuan agar perusahaan dapat melakukan kegiatan bisnisnya dengan baik meminalisir risiko yang muncul dari komunitas sekitar maupun dari lingkungan tempat mereka melakukan kegiatan bisnisnya.230

B. Pengaturan Kewajiban Pelaksanaan Corporate Social Responsibility di Indonesia

Pasal 74 ayat (1) UUPT secara imperatif menetapkan tanggung tanggung jawab sosial dan lingkungan sebagai kewajiban hukum PT yang dikuatkan dengan sanksi sesuai ketentuan peraturan perundang-perundangan terhadap pelanggaran yang dilakukan oleh PT.231 Pasal 74 UUPT mengatur sebagai berikut:232

(1) Perseroan yang menjalanka kegiatan usahanya dibidang dan/atau berkaitan dengan sumber daya alam wajib melaksanakan Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan.

(2) Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan kewajiban perseroan yang dianggarkan dan diperhitungkan sebagai biaya perseroan yang pelaksanaanya dilakukakan dengan memperhatikan kepatutan dan kewajaran.

(3) Perseroam yang tidak melaksankan kewajiban sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dikenai sanksi sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

      

229Gunawan Widjaja & Yeremia Ardi Pratama,op.cit.hlm.82 230Ibid.hlm.88

(30)

(4) Ketentuan lebih lanjut mengenai Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan diatur dengan Peraturan Pemerintah.

Rumusan pasal 74 UUPT tersebut dapat dijabarkan sebagai berikut : 1. Pasal 74 ayat (1)

Dalam penjelasan pasal 74 ayat (1) disebutkan bahwa :

yang dimaksud dengan “Perseroan yang menjalankan kegiatan usahanya dibidang sumber daya alam” adalah perseroan yang kegiataan usahanya mengelolah dan memanfatkan sumber daya alam’.233

dan

“ yang dimaksud dengan” Perseroan yang mejalankan usahanya yang berkaitan dengan sumber daya alam” adalah perseroan yang tidak mengelolah dan tidak memanfaatkan sumber daya alam tetapi kegitan usahanya berdampak pada fungsi kemampuan sumber daya alam.234

Dalam penjelasan tersebut jelas disebutkan bahwa kewajiban pelaksanaan CSR bagi perusahaan yang menjalankan kegiatan usahanya dibidang dan/atau beraitan dengan sumber daya alam ini tidak hanya melihat pada bisnis inti (core

business) dari perusahaan tersebut.235 Dengan demikian jelaslah bahwa konsep CSR yang semula hanya merupakan kewajiban moral, dengan berlakunya pasal 74 ayat (1) UUPT menjadi kewajiban yang dapat dipertanggungjawabkan dalam hukum, tetapi khusus hanya bagi perseroan yang menjalankan kegiatan usahanya dibidang dan/atau berkaitan dengan sumber daya alam. Bagi perseroan lainnya, CSR hanya merupakan kewajiban moral saja. 236

      

233Indonesia (UUPT), op.cit. Penjelasan pasal 74. 234Ibid.

(31)

2. Pasal 74 ayat (2)

Dalam ayat ini disebutkan bahwa pelaksanaan CSR diperhitungkan sebagai salah satu komponen biaya perusahaan. Biaya yang dikeluarkan untuk melaksanakan CSR ini seharusnya pada akhir tahun buku diperhitungkan sebagai salah satu pengeluaran perusahaan. Seperti telah disinggung sebelumnya, agar dapat dijadikan sebagai biaya pengurang penghasilan kena pajak,maka rencana kegiatan CSR yang akan dilaksanakan dan anggarkan yang dibutuhkan wajib untuk dimuat atau dimasukkan ke dalam rencana kerja tahunan.237

Selain itu dengan meperhatikan ketetuan pajak yang berlaku biaya CSR haruslah merupakan biaya yang dikeluarkan perseroan untu mendapatkan, menagih dan memelihara penghasilan. Dengan demikian CSR bukanlah

philanthropy.238

Hal ini tidak berarti keuntungan perusahaan setelah pajak dipotong lagi untuk kewajiban pelaksanaan CSR. Jadi, biaya pelaksanaan CSR seharusnya tidak menjadi “pajak” tambahan bagi perseroan. Keuntungan bersih perusahaan setelah dipotong untuk dana cadangan perusahaan adalah hak sepenuhnya dari para pemegang saham.239 Jadi tidak dapat digunakan untuk biaya pelaksanaan CSR.

3. Pasal 74 ayat (3)

Penjelasan ayat (3) menyatakan bahwa :

       237Ibid.

(32)

“yang dimaksud dengan “dikenai sanksi sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan” adalah dikenai segala bentuk sanksi yang diatur dalam peraturan perundang-undangan yag terkait.”240

Penjelasan secara jelas menyatakan bahwa sanksi yang dikenakan bagi Perseroan yang melanggarkan ketentuan mengenai tanggung jawab sosial lingkungan ini adalah sanksi yang diatur dalam ketentuan perundang-perundangan yang terkait. Ini artinya sanksi yang dikenakan bukan sanksi karena perusahaan tidak melakukan CSR menurut UUPT, melainkan sanksi yang karena perusahaan yang mengabaikan CSR sehingga perusahaan tersebut melanggar aturan-aturan terkait dibidang sosial dan lingkungan yang berlaku.241

Berbagai macam peraturan perundang-undangan terkait dengan pelaksanaan tanggung jawab sosial dan lingkungan dapat disebutkan disini, seperti Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2007 Tentang Penanaman Modal, Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009 Tentang Pertambangan Mineral dan Batu Baru, Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2001 Tentang Minyak dan Gas Bumi, Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 Tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup, Undnag-Undang Nomor 19 Tahun 2003 Tentang Badan Usaha Milik Negara, Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 47 Tahun 2012 Tentang Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan Perseroan Terbatas, Peraturan Menteri Negara Badan Usaha Milik Negara No. PER-05/MBU/2007 Tahun 2007 Tentang Program Kemitraan Badan Usaha Milik Negara Dengan Usaha Kecil Dan Program Bina Lingkungan sebagaimana terakhir diubah

      

(33)

dengan Peraturan Menteri Badan Usaha Milik Negara No. PER-08/MBU/2013 Tahun 2013 Tentang Perubahan Keempat Atas Peraturan Menteri Negara Badan Usaha Milik Negara No. PER-05/MBU/2007 Tentang Program Kemitraan Badan Usaha Milik Negara Dengan Usaha Kecil Dan Program Bina Lingkungan (“Permen BUMN 5/2007”)242

Berbagai aturan itulah yang menghidupkan pelaksanaan tanggung jawab sosial dan lingkungan. UUPT hanya sekedar mengingatkan kembali akan kewajiban-kewajiban tersebut dengan memasukkan dan menganggarkannya kedalam rencan kerja tahunan dan laporan tahunan.

4. Pasal 74 ayat (4)

Ketentuan yang disebutkan dalam ayat (1), (2), dan (3) pasal 74 UUPT adalah peraturan yang mengayomi pelaksanaan CSR di Indonesia. Dengan demikian sesuai dengan amanat yang diberikan oleh UUPT tersebut, Pemerintah perlu membuat aturan pelaksanaannya dalam bentuk Peraturan Pemerintah. Dalam membuat Peraturan Pemerintah ini pemerintah diharapkan tidak salah menafsirkan CSR sehingga aturan yang dibuat nantinya justru memberatkan perusahaan dan akan menghilangkan makna dari CSR itu sendiri. Dengan dimasukkannya CSR dalam UUPT, CSR yang pada awalnya muncul karena kesadaran perusahaaan dan lebih merupakan moral liability, menjadi legal

liability, walaupun sanksi yang diterima oleh perusahaan adalah dari UU terkait

      

(34)

Berbagai macam peraturan perundang-undangan terkait dengan pengaturan berkenaan dengan pengelolaan sumber daya alam ditemukan pula ketentuan yang dapat diidentikan sebagai kewajiban pelaksanaan CSR antara lain :

1. Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2007 Tentang Penanam Modal

(“UUPM”)

UUPM menekankan CSR sebagai upaya perusahaan untuk menciptakan harmonisasi dengan lingkungan dimana ia melakukan aktivitasnya.243Pasal 15 huruf b UUPM yang menyatakan bahwa setiap penanam modal berkewajiban: “melaksanakan tanggung jawab sosial perusahaan”.244

Penjelasan Pasal 15 huruf b UUPM menegaskan bahwa tanggung jawab sosial perusahaan adalah tanggung jawab yang melekat pada setiap perusahaan penanaman modal untuk menciptakan hubungan yang serasi, seimbang dan sesuai dengan lingkungan, nilai, norma dan budaya masyarakat setempat.245 Jika tidak melaksanakn CSR sesuai amanat UU PM maka dapat dikenai sanksi mulai dari peringatan tertulis, pembatasan kegiatan usaha, pembekuan kegiatan usaha dan/atau fasilitas penanaman modal, atau pencabutan kegiatan usaha dan/atau fasilitas penanaman modal.246

2. Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Barubara (“UU Minerba”)

      

243Busyra Azheri, op.cit, hlm.23.

244Indonesia (Penanaman Modal), Undang-Undang Penanaman Modal , Uu No. 25 tahun

2007, LN Nomor 67 Tahun 2007 , TLN Nomor 4724. Pasal 15 huruf b.

(35)

Pasal 108 ayat (1) UU Minerba menyatakan bahwa “pemegang Izin Usaha Pertambangan (“IUP”) dan Izin Usaha Pertambangan Khusus (“IUPK”) wajib menyusun program pengembangan dan pemberdayaan masyarakat, penyusunan program tersebut dikonsultasikan kepada Pemerintah, pemerintah daerah, dan masyarakat.247 Pasal 106 Peraturan Pemerintah Nomor 23 Tahun 2010 tentang Pelaksanaan Kegiatan Usaha Pertambangan Mineral dan Batubara (PP 23/2010) kemudian menegaskan Pemegang IUP dan IUPK wajib menyusun program pengembangan dan pemberdayaan masyarakat di sekitar WIUP dan WIUPK.248

Program tersebut harus dikonsultasikan dengan pemerintah, pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten/kota, dan masyarakat setempat. Masyarakat setempat dalam hal ini dapat mengajukan usulan program kegiatan pengembangan dan pemberdayaan masyarakat kepada bupati/walikota setempat untuk diteruskan kepada pemegang IUP atau IUPK. Pengembangan dan pemberdayaan diprioritaskan untuk masyarakat di sekitar WIUP dan WIUPK yang terkena dampak langsung akibat aktifitas pertambangan. Prioritas masyarakat tersebut merupakan masyarakat yang berada dekat kegiatan operasional penambangan dengan tidak melihat batas administrasi wilayah kecamatan/kabupaten.249

3. Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2001 tentang Minyak dan Gas Bumi

Dalam Pasal 11 ayat (3) disebutkan ketentuan-ketentuan pokok yang harus dimuat dalam Kontrak Kerjasama salah satunya mengenai “pengembangan masyarakat sekitarnya dan jaminan hak-hak masyarakat ada dan pengelolahan

      

247Indonesia (Pertambangan Mineral dan Batu Bara), Undang-Undang Pertambangan

Mineral dan Batu Bara , Uu No. 04 tahun 2009, LN Nomor 4 Tahun 2009 , TLN Nomor 4959. Pasal 108 ayat (1).

248Indonesia (Pelaksanaan Kegiatan Usaha Pertambangan Mineral dan Batu Bara),

Peraturan Pemerintah Nomor 23 Tahun 2010 tentang Pelaksanaan Kegiatan Usaha Pertambangan Mineral dan Batubara, LN Nomor 29 Tahun2010, TLN Nomor 5111,Pasal 106

249

(36)

lingkungan hidup.250 Selain ketidaksamaan istilah yang digunakan, karena digunakan istilah pengembangan masyarakat dan bukan “tanggung jawab sosial dan lingkungan Perseroan”, dalam UU Migas juga tidak terdapat ketentuan mengenai sanksi apabila kewajiban pengembangan masyarakat dilanggar.

Perusahaan-perusahaan ekstraktif yang beroperasi di Indonesia diwajibkan untuk melakukan program CSR bagi masyarakat lokal, sebagaimana diatur dalam UU Migas yang mengatur realisasi pengembangan masyarakat. Pada hakikatnya persoalan efektivitas hukum mempunyai hubungan yang sangat erat dengan persoalan penerapan, pelaksanaan hukum dalam masyarakat demi tercapainya tujuan hukum.251

4. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 Tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (“UUPPLH”)

Selain itu ketentuan-ketentuan CSR UUPLH yang merupakan ketentuan yuridis yang mengatur lebih khusus tentang CSR dalam pelestarian lingkungan hidup dan diatur dalam beberapa pasal. Pasal 1 Angka (5) UUPPLH menyatakan pelestarian fungsi lingkungan hidup adalah rangkaian upaya untuk memelihara kelangsungan daya dukung dan daya tampung lingkungan hidup.252 Selanjutnya Pasal 14 Angka (1) UUPPLH menyatakan untuk menjamin pelestarian fungsi lingkungan hidup, setiap usaha dan/atau kegiatan dilarang melanggar baku mutu dan kriteria baku kerusakan lingkungan hidup.253 Sedangkan Pasal 15 Angka (1) UUPPLH menyatakan setiap rencana usaha dan/atau kegiatan yang kemungkinan dapat menimbulkan dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup, wajib       

250Indonesia (Minyak dan Gas Bumi), Undang-Undang Minyak dan Gas Bumi, Uu No. 22

tahun 2001, LN Nomor 136 Tahun 2001 , TLN Nomor 4152. Pasal 11 ayat (3).

251“Analisis Hukum Terhadap Kewajiban Penerapan Corporate Social Responsibility

Pada Perusahaan Di Bidang Sumber Daya Alam”, diakses pada tanggal 04 Februari 2017, pukul: 10:11.

252Indonesia (UUPPLH), Undang-Undang Perlindungan Pengelolahan Lingkungan

Hidup, Uu No. 32 tahun 2009, LN Nomor 140 Tahun 2009 , TLN Nomor 5059. Pasal 1 angka 5.

(37)

memiliki analisis mengenai dampak lingkungan hidup.254 Pasal 16 Angka (1) UUPPLH menyatakan Setiap penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan wajib melakukan pengelolaan limbah hasil usaha dan/atau kegiatan.255 Serta Pasal 17 Angka (1) UUPPLH menyatakan setiap penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan wajib melakukan pengelolaan bahan berbahaya dan beracun.256

5. Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2003 Tentang Badan Usaha Milik Negara (“ UU BUMN”)

Selain ketentuan tentang CSR perusahaan (khususnya Perseroan) dalam UUPT, ada pula konsep yang kurang lebih sama dengan CSR tetapi khusus hanya diwajibkan untuk Badan Usaha Milik Negara (BUMN) baik berupa Persero, termasuk di dalamnya Persero Terbuka, maupun Perum, yaitu Program Kemitraan dan Bina Lingkungan (PKBL).257Pasal 88 ayat (1) UU BUMN mengatakan BUMN dapat menyisihkan sebagian laba bersihnya untuk keperluan pembinaan usaha kecil/koperasi serta pembinaan masyarakat sekitar BUMN.258 Terlihat bahwa secara umum UU BUMN memang telah mengadopsi beberapa ketentuan dan prinsip pengelolaan perusahaan yang baik. Namun, perlu kita cermati bahwa ketentuan diatas hanyalah bersifat umum dan perlu penafsiran serta pengimplementasian lebih lanjut agar dapat berfungsi dengan baik di tingkat lapangan. Hal ini juga penting untuk menjaga penyalahgunaan BUMN dan untuk mengukur kinerja direksi BUMN itu sendiri.

      

254Ibid, Pasal 15 angka 1. 255Ibid, Pasal 16 angka 1.

256Ibid, Pasal 17 angka 1.

257Elly Erawaty, Persoalan Hukum Seputar Tanggung Jawab Sosial Dan Lingkungan Perseroan

Dalam Perundang-Undangan Ekonomi Indonesia, Lihat,

http://ditjenpp.kemenkumham.go.id/hukum-pedata/847-persoalan-hukum seputar-tanggung-jawab-sosial-dan-lingkungan-perseroan-dalam-perundang-undangan-ekonomi-indonesia.html) diakses pada tanggal 25 januari 2017, pukul 14:23 Wib.

258Indonesia (BUMN), Undang-Undang Badan Usaha Milik Negara , Uu No. 19 tahun

(38)

6. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 47 Tahun 2012 Tentang Tanggung Jawab Sosial Dan Lingkungan Perseroan Terbatas (“PP TJSL”)

PP TJSL merupakan peraturan pelakasana dari Pasal 4 UUPT. Dalam pasal 2 disebutkan

“Setiap Perseroan selaku subjek hukum mempunyai tanggung jawab sosial dan lingkungan”.

Hal ini berarti bahwa setiap perseroan yang telah berbadan hukum yang sah oleh undang undang mempunyai tanggung jawab socsal dan lingkungan.259Namun dalam hal ini bukan merupakan kewajiban dari perseroan kecuali yang diatur dalam pasal 3.

Pasal 3 menyatakan:

“Tanggung jawab sosial dan lingkungan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 menjadi kewajiban bagi Perseroan yang menjalankan kegiatan usahanya di bidang dan/atau berkaitan dengan sumber daya alam berdasarkan Undang-Undang”. 260

Dari kedua pasal diatas tampak adanya perbedaan tanggung jawab social dan lingkungan, dimana dibedakan tanggung jawab social yang bersifat filantropi dan tanggung jawab yang bersifat mandatory.

Dalam Pasal 4 PPTJSL dikatakan bahwa CSR dilaksanakan oleh Direksi berdasarkan rencana kerja tahunan perseroan setelah mendapat persetujuan Dewan Komisaris atau Rapat Umum Pemegang Saham (“RUPS”) sesuai dengan

      

259Indonesia (Tanggung Jawab Sosial Dan Lingkungan Perseroan Terbatas), Peraturan

Pemerintah Republik Indonesia Nomor 47 Tahun 2012 Tentang Tanggung Jawab Sosial Dan Lingkungan Perseroan Terbatas, Pasal 2

(39)

anggaran dasar perseroan. Rencana kerja tahunan perseroan tersebut memuat rencana kegiatan dan anggaran yang dibutuhkan untuk pelaksanaan CSR.261

Dalam pasal 4 ayat 2 terlihat bahwa tanggung jawab sosial dan lingkungan yang dilakukan dapat ditujukan ke Internal stakeholders perusahaan maupun eksternal stakeholder perusahaan. Pasal 6 PP TJSL menyatakan bahwa pelaksanaan CSR tersebut dimuat dalam laporan tahunan perseroan dan dipertanggungjawabkan kepada RUPS. 262

Selanjutnya juga diatur mengenai penganggaran biaya tanggung jawab social dan lingkungan yang dilakukan Direksi berdasarkan rencana kerja tahunan Perseroan setelah mendapat persetujuan Dewan Komisaris atau RUPS sesuai dengan anggaran dasar Perseroan yang memuat rencana kegiatan dan anggaran yang dibutuhkan untuk pelaksanaan tanggung jawab sosial dan lingkungan. Secara keseluruhan PP ini belumlah secara rinci menjelaskan pelaksanaan tanggung jawab social dan lingkungan oleh perseroan, berapa batas kewajaran dan bentuk dari pelaksanaannya.263

7. Peraturan Menteri Negara Badan Usaha Milik Negara No. PER-05/MBU/2007 Tahun 2007 Tentang Program Kemitraan Badan Usaha Milik Negara Dengan Usaha Kecil Dan Program Bina Lingkungan sebagaimana terakhir diubah dengan Peraturan Menteri Badan Usaha Milik Negara No. PER-08/MBU/2013 Tahun 2013 Tentang Perubahan Keempat Atas Peraturan Menteri Negara Badan Usaha Milik Negara No. PER-05/MBU/2007 Tentang Program Kemitraan Badan Usaha Milik Negara Dengan Usaha Kecil Dan Program Bina Lingkungan (“Permen BUMN 5/2007”)

      

261Ibid, Pasal 4.. 262Ibid, Pasal 6.

263Latezia Tobing, Aturan-Aturan Hukum Corporate Social Responsibility, Lihat,

(40)

Persero Terbuka Dapat Melaksanakan Program Kemitraan BUMN Dengan Usaha Kecil Dan Program Bina Lingkungandengan Berpedoman Pada Permen BUMN 5/2007 Yang Ditetapkan Berdasarkan Keputusan RUPS. Pasal 1 Angka 6 Permen BUMN Program Kemitraan BUMN Dengan Usaha Kecil Adalah Program Untuk Meningkatkan Kemampuan Usaha Kecil Agar Menjadi Tangguh Dan Mandiri Melalui Pemanfaatan Dana BUMN.264 Sedangkan Pasal 1 Angka 7 Permen BUMN Program Bina Lingkungan Adalah Program Pemberdayaan Kondisi Sosial Masyarakat Oleh BUMN Melalui Pemanfaatan Dana BUMN.265

Dari sistematika pengaturan CSR terlihat bahwa pengaturannya bersifat sporadis, tidak dilakukan secara sistematik. Hal ini terlihat dari ketidakkonsistenan pada penggunanan istilah atau terminologi tanggung jawab sosial perusahaan.266 Pasal 15 huruf b UUPM menggunakan istilah tanggung jawab sosial perusahaan sebagai salah satu kewajiban penanam modal atau investor. Sedangkan Pasal 74 UUPT menggunakan istilah tanggung jawab sosial perusahaan dan lingkungan yang hanya diwajibkan pada perseroan yang bergerak dibidang dan/atau berhubungan dengan sumber daya alam. Sedangkan Pasal 39, 78, 79, 108 dan 109 UU Minerba tidak menggunakan istilah tanggung jawab sosial perusahaan, tetapi menekankan pada kegiatan yang secara subtansial merupakan bagian kegiatan CSR, seperti kata pemberdayaan masyarakat, pengembangan masyarakat (community development) sekitar dan lain sebagainya.

      

(41)

Begitu pula dalam Permenneg BUMN Nomor Per-05/MBU/2007 menggunakan istilah PKBL.267

C. Dampak Penerapan Corporate Social Responsibility di Indonesia Terhadap Pelaku Usaha Mikro, Kecil dan Menengah

Dalam perspektif dunia, diakui bahwa UMKM mempunyai suatu peran yang sangat vital dalam pembangunan dan pertumbuhan ekonomi, tidak hanya di negara-negara berkembang, seperti Indonesia, tetapi juga di negara-negara maju, seperti Jepang, Amerika Serikat, dan negara-negara di Eropa.268 Di Indonesia juga diakui bahwa UMKM sangat penting, terutama sebagi sumber pertumbuhan kesempatan kerja atau pendapatan. Fakta menunjukka bahwa memang kesempatan kerja yang diciptakan oleh kelompok usaha tersebut jauh lebih banyak dibandingkan tenaga kerja yang bisa diserap oleh usaha besar.269 Oleh karena itu UMKM sangat diharapkan untuk bisa terus berperan secara optimal dalam upaya menanggulangi pengangguran yang jumlahnya cenderung meningkat terus setiap tahunnya. Dengan banyak menyerap tenaga kerja berarti UMKM juga mempunyai peran strategis dalam upaya pemerintah selama ini mengurangi kemiskinan dalam negeri.270

Selain itu, melihat kenyataan bahwa sebagian besar dari jumlah UMKM di indonesia terdapat di pedesaan, kelompok usaha sangat diharapkan sebagai motor utama penggerak pertumbuhan ekonomi pedesaan, yang berarti juga mengurangi kesenjangan pembangunan antara perkotaan dan pedesaan.271

      

267Busyra Azheri, op.cit, hlm 339. 268Tulus T.H. Tambunan, op.cit.hlm.v. 269Ibid.

270Ibid.

(42)

Belum kokohnya fundamental perekonomian Indonesia saat ini, mendorong pemerintah untuk terus memberdayakan UMKM . Sektor ini mampu menyerap tenaga kerja cukup besar dan memberi peluang bagi UMKM untuk berkembang dan bersaing dengan perusahaan yang lebih cenderung menggunakan modal besar (capital intensive).272

Suyanto, menyatakan pemberdayaan UMKM di tengah arus globalisasi dan tingginya persaingan membuat UMKM harus mampu mengadapai tantangan global, seperti meningkatkan inovasi produk dan jasa, pengembangan sumber daya manusia dan teknologi, serta perluasan area pemasaran.273 Hal ini perlu dilakukan untuk menambah nilai jual UMKM itu sendiri, utamanya agar dapat bersaing dengan produk-produk asing yang kian membanjiri sentra industri dan manufaktur di Indonesia, mengingat UMKM adalah sektor ekonomi yang mampu menyerap tenaga kerja terbesar di Indonesia.274

Peran paling mendasar dari perdagangan adalah sebagai perantara yang memenuhi kebutuhan masyarakat. Kebutuhan ini termasuk produk dan jasa yang dihasilkan perusahaan.275 Hal yang sama pentingnya bagi masyarakat adalah penciptaan lapangan pekerjaan, baik secara langsung maupun tidak langsung. Hal ini berhubungan dengan kesejahteraan yang diciptakan oleh perusahaan serta berdampak terhadap perekonomian di Indonesia.276

      

272Sudaryanto , Ragimun dan Rahma Rina Wijayanti, Strategi Pemberdayaan “UMKM

Menghadapi Pasar Bebas Asean”, diakses pada tanggal 26 Januari 2016, pukul:13:50 Wib.

273Suyanto, M ,” Aplikasi IT untuk UKM Menghadapi Persaingan Global”,

(Yogyakarta,2005). 274Ibid.

275Tom Cannon, Corporate Responsibility (Tanggung Jawab Sosial Perusahaan),

(Jakarta; PT. Gramedia,1995), hlm.35

(43)

Untuk mengatasi kesenjangan kemiskinan di Indonesia maupun pengganguran di Indonesia harapannya UMKM tetap berkembang dan dikelola dengan baik. Lalu apakah dengan adanya program kegiatan CSR yang diwajibkan oleh perundang-undangan terhadap perusahaan akan berdampak terhadap UMKM terlebih terhadap perekonomian di Indonesia?

Dewasa ini CSR sendiri mengalami perkembangan yang cukup pesat. Salah satu pendorongnya adalah perubahan paradigma dunia usaha untuk tidak semata-mata mencari keuntungan, tetapi harus pula bersikap etis dan berperan dalam penciptaan investasi sosial.

Ada tiga alasan penting mengapa kalangan dunia usaha mesti merespon dan mengembangkan isu CSR sejalan dengan operasi usahanya.277

1. Perusahaan adalah bagian masyarakat dan oleh karenanya wajar bila perusahaan memperhatikan kepentingan masyarakat. Perusahaan mesti menyadari bahwa mereka beroperasi dalam suatu tatanan lingkungan masyarakat. Kegiatan sosial ini berfungsi sebagai kompensasi atau upaya timbal balik atas penguasaan sumber daya alam dan sumber daya ekonomi oleh perusahaan yang kadang bersifat ekspansif dan eksploratif.

2. Kalangan bisnis dan masyarakat sebaiknya memiliki hubungan yang bersifat simbiosa mutualisme. Untuk mendapatkan dukungan dari masyarakat.

      

Referensi

Dokumen terkait

Keputusan Bapak Abdul Khodir untuk membuat grup tersendiri m Grup Kenthongan Dalan Laras adalah salah satu grup kesenian kenthongan yang ada di desa Kaesugihan,

Penelitian ini merupakan penelitian Kuantitatif dengan pendekatan Assosiatif dalam bentuk hubungan Kausal (sebab akibat), yaitu penelitian yang bertujuan untuk mengetahui

Berdasarkan uraian diatas maka tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendiskripsikan Strategi Komunikasi Pemasaran Melalui Website Perusahaan Pada Malang Strudel

produk plastik dan sistem penjualan (Multi Level marketing) yang diterapkan. perusahaan Tentunya hal ini menjadi daya tarik bagi penulis

Perbincangan ini mengaplikasikan ilmu pragmatik berdasarkan Prinsip Makna dalam Interaksi (Thomas, 1995). Teknik analisis dokumen digunakan untuk meneliti ujaran yang

Gambar 1 dan Gambar 2 menunjukkan bahwa gambaran histopatologis otak terutama di daerah hipokampus dari marmut yang dikastrasi mengalami degenerasi dan kematian

Berdasarkan surat edaran Bawaslu Republik Indonesia Nomor 0075/K.Bawaslu/HM.00/III/2020 tentang Pelayanan Informasi Pada Bawaslu Provinsi dan Bawaslu Kabupaten/Kota

Terjadi interaksi antara varietas dan konsentrasi larutan hara, konsentrasi larutan hara yang baik untuk varietas Tosakan adalah 6 ml/L, hal tersebut ditunjukkan oleh