• Tidak ada hasil yang ditemukan

Penyelesaian Kredit Macet Yang Objek Jaminannya Hak Atas Tanah Berstatus Hak Guna Usaha (Studi Pada Bank Rakyat Indonesia Cabang Medan Putri Hijau)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Penyelesaian Kredit Macet Yang Objek Jaminannya Hak Atas Tanah Berstatus Hak Guna Usaha (Studi Pada Bank Rakyat Indonesia Cabang Medan Putri Hijau)"

Copied!
18
0
0

Teks penuh

(1)

14

A. Pengertian dan Unsur-Unsur Kredit

1. Pengertian Kredit

Menurut HMA Savelberg dalam Mariam Darus Badrulzaman, menyatakan

bahwa kredit mempunyai arti : 7

a. Sebagai dasar dari setiap perikatan dan seseorang berhak menuntut sesuatu

dari orang lain ;

b. Sebagai jaminan dan seseorang menyerahkan sesuatu pada orang lain dengan

tujuan untuk memperoleh kembali apa yang diserahkan.

Kata kredit berasal dari bahasa Romawi “credere” yang artinya

“percaya”.Dalam bahasa Belanda istilahnya “vertrouwen”, dalam bahasa Inggris

believe”atau “trust” atau “confidence”, yang kesemuanya berarti percaya,8

Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998 tentang Perbankan Pasal 1 angka

11 menyebutkan pengertian kredit yaitu penyediaan uang atau tagihan yang dapat

di persamakan dengan itu, berdasarkan persetujuan atau kesepakatan pinjam

meminjam antara bank dengan pihak lain yang mewajibkan pihak peminjam jika

dihubungkan maka terkandung pengertian bahwa bank selaku pemberi kredit

percaya untuk meminjamkan sejumlah uang kepada nasabah karena debitur dapat

dipercaya kemampuannya untuk membayar lunas pinjamannya setelah jangka

waktu tertentu.

7

Mariam Darus Badrulzaman, Perjanjian Kredit Bank, PT. Citra Aditya Bakti, Bandung, 1991, hal. 21.

8

(2)

untuk melunasi utangnya setelah jangka waktu tertentu dengan pemberian bunga,

imbalan atau pembagian hasil tertentu.9

Hasibuan, mengemukakan pengertian kredit sebagai penyediaan uang atau

tagihan yang harus dibayar kembali bersama bunganya oleh peminjam sesuai

dengan perjanjian yang telah disepakati.

10

Selanjutnya Latumerissa, menyatakan kredit adalah Penyerahan sesuatu

yang mempunyai nilai ekonomis pada saat sekarang ini atas dasar kepercayaan,

sebagai pengganti sesuatu yang mempunyai nilai ekonomis yang sepadan dihari

kemudian.11

a. Transaksi bagi hasil dalam bentuk mudharabah dan musyarakah;

Pengertian yang serupa diatur pada Pasal 1 angka 25 Undang-Undang

Nomor 21 Tahun 2008 tentang Perbankan Syariah Pembiayaan adalah penyediaan

dana atau tagihan yang dipersamakan dengan itu berupa:

b. Transaksi sewa-menyewa dalam bentuk ijarah atau sewa beli dalam bentuk

ijarah muntahiya bittamlik;

c. Transaksi jual beli dalam bentuk piutang murabahah, salam, dan istishna';

d. Transaksi pinjam meminjam dalam bentuk piutang qardh; dan

e. Transaksi sewa-menyewa jasa dalam bentuk ijarah untuk transaksi multijasa

berdasarkan persetujuan atau kesepakatan antara Bank Syariah dan/atau UUS

dan pihak lain yang mewajibkan pihak yang dibiayai dan/atau diberi fasilitas

9

Undang-Undang tentang Perbankan Pasal 1 angka (11) Nomor 10 Tahun 1998

10

Melayu SP. Hasibuan. Dasar-dasar Perbankan. Bumi Aksara, Jakarta, 2007, hal 87

11

(3)

dana untuk mengembalikan dana tersebut setelah jangka waktu tertentu

dengan imbalan ujrah, tanpa imbalan, atau bagi hasil.

Dengan demikian, kredit/pembiayaan berdasarkan prinsip syariah

merupakan perjanjian pinjam-meminjam (uang) yang dilakukan antara bank

dengan pihak lain dalam hal ini nasabah peminjam dana. Perjanjian mana dibuat

atas dasar kepercayaan bahwa peminjam dalam tenggang waktu tertentu akan

melunasi atau mengembalikan uang atau tagihan tersebut kepada bank disertai

bunga, imbalan atau pembagian hasil keuntungan.

Berdasarkan pengertian tersebut diatas perbedaannya pada bentuk kontra

prestasi yang diberikan oleh debitur kepada pihak bank selaku kreditur atas

pemberian kredit atau pembiayaan yang dimaksud. Pada bank prinsip

konvensional kontra prestasi yang diberikan debitur adalah berupa bunga

sedangkan pada bank dengan prinsip syariah kontra prestasinya berupa imbalan

atau bagi hasil sesuai dengan kesepakatan bersama.

2. Unsur-unsur kredit

Adapun unsur-unsur kredit yang terkandung dalam pemberian suatu

fasilitas kredit adalah sebagai berikut :12

a. Kepercayaan

Suatu keyakinan pemberian suatu kredit (bank) bahwa kredit yang diberikan baik berupa uang atau jasa yang akan benar - benar diterima kembali dimasa mendatang. Kepercayaan ini diberikan oleh bank kepada calon debitur karena sebelum dana tersebut dikucurkan, sudah dilakukan penelitian dan penyelidikan bagaimana situasi dan kondisi calon debitur sehingga dapat dinilai apakah calon debitur tersebut dipastikan memiliki kemauan dan kemampuan membayar kredit yang disalurkan, sehingga pada saat dana telah

12

(4)

dikucurkan tidak terjadi masalah yang berpengaruh baik bagi bank maupun debitur.

b. Kesepakatan

Disamping unsur kepercayaan didalam kredit juga mengandung unsur kesepakatan, ini dituangkan dalam suatu perjanjian dimana masing-masing pihak menandatangi hak dan kewajibannya, kesepakatan kredit ini dituangkan dalam akad kredit yang ditandatangani oleh kedua belah pihak, yaitu bank dan nasabah disaksikan oleh notaris.

c. Jangka waktu

Setiap kredit yang diberikan pasti memiliki jangka waktu tertentu. Jangka waktu ini mencakup masa pengembalian kredit yang telah disepakati. Hampir dapat dipastikan bahwa tidak ada kredit yang tidak memiliki jangka waktu. d. Risiko

Adanya suatu tenggang waktu pengembalian akan menyebabkan suatu risiko tidak tertagihnya/macet pemberian kredit. Semakin panjang suatu kredit semakin besar risikonya demikian pula sebaliknya. Risiko ini menjadi tanggungan bank, baik risiko yang disengaja oleh nasabah yang lalai maupun oleh risiko yang tidak disengaja.

e. Balas Jasa

Merupakan keuntungan atas pemberian kredit atau jasa tersebut yang dikenal dengan nama bunga bank konvensional. Balas jasa dalam bentuk bunga, biaya provisi, dan komisi serta biaya administrasi, kredit ini merupakan keuntungan utama suatu bank. Sedangkan bagi bank berdasarkan prinsip syariah balas jasanya dalam bentuk bagi hasil.

Untuk menentukan berkualitas atau tidaknya suatu kredit perlu diberikan

ukuran-ukuran tertentu. Bank Indonesia menggolongkan kualitas kredit menurut

ketentuan yang berlaku.

B. Jenis-jenis dan Tujuan Kredit

1. Jenis-jenis kredit

Beragam jenis kegiatan usaha mengakibatkan beragam pula kebutuhan

akan kebutuhan jenis kreditnya. Dalam praktiknya kredit yang ada di masyarakat

terdiri dari beberapa jenis, begitu pula dengan pemberian fasilitas kredit oleh bank

kepada masyarakat. Pemberian fasilitas kredit oleh bank dikelompokkan ke dalam

(5)

ditunjukan untuk mencapai sasaran atau tujuan tertentu mengingat setiap jenis

usaha memiliki berbagai karakteristik tertentu. Secara umum jenis-jenis kredit,

antara lain:

a. Kredit investasi

Kredit investasi merupakan kredit jangka panjang yang biasanya

digunakan untuk keperluan perluasan usaha atau membangun proyek/pabrik baru

atau untuk keperluan rehabilitasi. Masa pemakaiannya untuk suatu periode yang

relatif lebih lama dan dibutuhkan modal yang relatif besar pula.13

Menurut Hasibuan, kredit investasi ialah kredit yang dipergunakan untuk

investasi produktif, tetapi baru akan menghasilkan jika dipergunakan.

14

Menurut Firdaus dan Ariyanti, kredit investasi yaitu kredit yang digunakan

untuk membiayai pembelian barang-barang modal tetap dan tahan lama.

15

b. Kredit modal kerja

Kredit modal kerja merupakan kredit yang digunakan untuk keperluan

meningkatkan produksi dalam operasionalnya.16

Menurut Firdaus dan Ariyanti, kredit modal kerja yaitu kredit yang

ditunjukan untuk membiayai keperluan modal lancar yang biasanya habis dalam

satu atau beberapa kali proses produksi atau siklus usaha.

17

13

Kasmir, (2) Dasar-Dasar Perbankan. PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2005, hal 109.

14

Melayu SP. Hasibuan, Op.Cit, hal 89.

15

Firdaus Rachmat dan Maya Ariyanti, Manajemen Perkreditan Bank Umum : Teori, Masalah, Kebijakan dan Aplikasinya Lengkap dengan Analisis Kredit. Alfabeta, Bandung, 2004, hal 10.

16

Kasmir, (2) Loc.Cit.

17

(6)

c. Kredit produktif

Kredit produktif merupakan kredit yang digunakan untuk peningkatan

usaha atau produksi atau investasi. Kredit ini diberikan untuk menghasilkan

barang atau jasa. 18

d. Kredit konsumtif

Kredit konsumtif merupakan kredit yang digunakan untuk dikonsumsi

secara pribadi. Dalam kredit ini tidak ada pertambahan barang dan jasa yang

dihasilkan, karena memang untuk digunakan atau dipakai oleh seseorang atau

badan usaha. 19

Menurut Firdaus dan Ariyanti, menyatakan bahwa kredit konsumtif yaitu

kredit yang digunakan untuk membiayai pembelian barang-barang atau jasa-jasa

yang dapat memberi kepuasan langsung terhadap kebutuhan manusia.20

e. Kredit perdagangan

Kredit perdagangan merupakan kredit yang digunakan untuk perdagangan,

biasanya untuk membeli barang dagangan yang pembayarannya diharapkan dari

hasil penjualan barang dagang tersebut. Kredit ini diberikan kepada supplier atau

agen-agen perdagangan yang akan membeli barang dalam jumlah besar.21

f. Kredit jangka waktu

1) Kredit jangka pendek

18

Kasmir (2), Op.Cit., hal 110.

19

Ibid., hal 104.

20

Firdaus Rachmat dan Maya Ariyanti., Loc.Cit.

21

(7)

Kredit jangka pendek merupakan kredit yang memiliki jangka waktu

kurang dari 1 (satu) tahun atau paling lama 1 (satu) tahun dan biasanya digunakan

untuk keperluan modal kerja.22

2) Kredit jangka menengah

Menurut Kasmir, kredit dilihat dari segi jangka waktu. Kredit jangka

menengah merupakan kredit yang jangka waktunya berkisar antara 1 tahun

sampai dengan tiga tahun dan biasanya kredit ini dilakukan untuk melakukan

investasi.23

Menurut Hasibuan, kredit berdasarkan jangka waktu. Kredit jangka

menengah yaitu kredit yang jangka waktunya antara satu sampai tiga tahun.

24

3) Kredit jangka panjang

Kasmir, menyatakan kredit dilihat dari segi jangka waktu. Kredit jangka

panjang merupakan kredit yang masa pengembaliannya paling panjang. Kredit

jangka panjang waktu pengembaliannya diatas 3 (tiga) tahun atau 5 (lima) tahun.

Biasanya kredit ini untuk investasi jangka panjang. 25 Menurut Hasibuan, kredit

berdasarkan jangka waktu. Kredit jangka panjang yaitu kredit yang jangka

waktunya lebih dari tiga tahun.26

Menurut Firdaus dan Ariyanti, kredit menurut jangka waktunya. Kredit

jangka panjang yaitu kredit yang berjangka waktu lebih dari 3 (tiga) tahun. Kredit

macam ini biasanya cocok untuk kredit investasi.

27

22

Ibid.

23

Ibid.

24

Melayu SP. Hasibuan, Loc.Cit.

25

Kasmir (2), Loc.Cit.

26

Melayu SP. Hasibuan, Loc.Cit.

27

(8)

g. Kredit jaminan

1) Kredit dengan jaminan

Kredit dengan jaminan merupakan kredit yang diberikan dengan suatu

jaminan. Jaminan tersebut dapat berbentuk barang berwujud atau tidak berwujud

atau jaminan orang. Artinya setiap kredit yang dikeluarkan akan dilindungi

minimal senilai jaminan atau untuk kredit tertentu jaminan harus melebihi jumlah

kredit yang diajukan si calon debitur. 28

2) Kredit tanpa jaminan

Menurut Firdaus dan Ariyanti, menyebut kredit tidak memakai jaminan

(unsecured loan) yaitu kredit yang diberikan benar-benar atas dasar kepercayaan

saja, sehingga tidak ada “pengamanan” sama sekali. Kredit ini biasanya terjadi di

antara sesama pengusaha (untuk tujuan produktif), atau diantara teman, keluarga,

family (biasanya untuk tujuan konsumtif).29

2. Tujuan kredit

Tujuan dalam pemberian kredit dalam kehidupan perekonomian dan

perdagangan, antara lain sebagai berikut:30

a. Meningkatkan daya guna uang.

Dengan adanya kredit yang dipakai untuk keperluan usaha produktif berarti daya guna uang menjadi lebih meningkat, yaitu terbatas pada sebagai alat tukar dan pembayar saja.

b. Kredit dapat meningkatkan peredaran dan lalu lintas uang.

Dengan tersebarnya penerima kredit di beberapa daerah maka secara tidak langsung telah membantu dalam peredaran dan lalu lintas uang menjadi luas.

28

Kasmir (2), Op.Cit., hal 111.

29

Firdaus dan Ariyanti, Op.Cit., hal 18.

30

(9)

c. Kredit dapat pula meningkatkan daya guna barang.

Dengan menggunakan kredit untuk memproses bahan mentah menjadi bahan jadi maka manfaat dari bahan tersebut menjadi meningkat.

d. Kredit sebagai alat stabilitas ekonomi.

Salah satunya adalah untuk mengendalikan inflasi yaitu dengan mengurangi penyaluran kredit kepada masyarakat untuk membatasi uang yang beredar di masyarakat.

e. Kredit dapat meningkatkan kegairahan berusaha.

Bagi pengusaha yang kekurangan modal maka salah satu alternatifnya adalah dengan bantuan kredit. Dengan kredit diharapkan volume usaha akan meningkat.

f. Kredit dapat meningkatkan pemerataan pendapatan.

Dengan meningkatnya usaha produktif di suatu daerah yang didukung dengan kredit akan membawa peluang angkatan kerja baru. Sementara itu, bagi pengusaha tentunya akan meningkatkan keuntungan.

g. Kredit sebagai alat untuk meningkatkan hubungan internasional.

Negara satu dengan lainnya maupun lembaga keuangan internasional menggunakan instrument kredit dalam meningkatkan kerja sama ekonomi.

Kredit diberikan oleh suatu lembaga yang disebut Bank, ketentuan selaras

dengan bunyi Pasal 1 angka 2 Undang-Undang Nomor 10 tahun 1998 tentang

Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1992 tentang Perbankan,

menyatakan bahwa Bank adalah suatu badan usaha yang menghimpun dana dari

masyarakat dalam bentuk simpanan dan menyalurkannya kepada masyarakat

dalam bentuk kredit dan/atau bentuk-bentuk lainnya dalam rangka meningkatkan

taraf hidup rakyat banyak.

Jadi dijelaskan bahwa kredit dalam bentuk dana hanya diselenggarakan

oleh lembaga perbankan, adapun fungsi dan tujuan dari kredit itu sendiri adalah

untuk menunjang produktivitas perekonomian masyarakat disamping itu bagi

bank kredit diharapkan dapat memberikan pendapatan dari bunga pinjaman.31

31

(10)

C. Prinsip-Prinsip Pemberian Kredit

Proses pemberian kredit, bank harus memperhatikan prinsip-prinsip

pemberian kredit yang benar. Artinya sebelum fasilitas kredit diberikan maka

bank harus merasa yakin terlebih dahulu bahwa kredit yang diberikan benar-benar

akan kembali. Keyakinan tersebut diperoleh dari hasil penilaian kredit sebelum

kredit tersebut disalurkan. Penilaian kredit oleh bank dapat dilakukan dengan

berbagai cara untuk mendapatkan keyakinan nasabahnya, seperti melalui prosedur

yang benar dan sungguh-sungguh.

Menurut Kasmir ada beberapa prinsip-prinsip penilaian kredit yang sering

dilakukan yaitu dengan analisis 5C dan 7P. Penilaian dengan analisis 5C adalah

sebagai berikut:32

1. Character

Character merupakan sifat atau watak seseorang. Sifat atau watak dari orang-orang yang akan diberikan kredit benar-benar harus dipercaya. Untuk membaca watak atau sifat dari calon debitur dapat dilihat dari latar belakang si debitur, baik yang bersifat pribadi seperti cara hidup atau gaya hidup yang dianutnya, keadaan keluarga, hobi dan jiwa sosial.

2. Capacity

Capacity adalah analisis untuk mengetahui kemampuan nasabah dalam membayar kredit. Dari penilaian ini terlihat kemampuan nasabah dalam mengelola bisnis. Kemampuan ini dihubungkan dengan latar belakang pendidikan dan pengalamannya selama ini dalam mengelola usahanya, sehingga akan terlihat “kemampuannya” dalam mengembalikan kredit yang disalurkan. Capacity sering juga disebut dengan nama Capability.

3. Capital

Untuk melihat penggunaan modal apakah efektif atau tidak, dapat dilihat dari laporan keuangan (neraca dan laporan rugi laba) yang disajikan dengan melakukan pengukuran seperti dari segi likuiditas dan solvabilitasnya, rentabilitas dan ukuran lainnya. Analisis capital juga harus menganalisis sumber mana saja modal yang ada sekarang ini, termasuk persentase modal yang digunakan untuk membiayai proyek yang akan dijalankan, berapa modal sendiri dan berapa modal pinjaman.

32

(11)

4. Condition

Menilai kredit hendaknya juga dinilai kondisi ekonomi, sosial dan politik yang ada sekarang dan prediksi untuk di masa yang akan datang. Penilaian kondisi atau prospek bidang usaha yang dibiayai hendaknya benar-benar memiliki prospek yang baik, sehingga kemungkinan kredit tersebut bermasalah relatif kecil.

5. Collateral

Merupakan jaminan yang diberikan calon nasabah baik yang bersifat fisik maupun non fisik. Jaminan hendaknya melebihi jumlah kredit yang diberikan. Jaminan juga harus diteliti keabsahan dan kesempurnaannya, sehingga jika terjadi suatu masalah, maka jaminan yang dititipkan akan dapat dipergunakan secepat mungkin.

Penilaian kredit dengan menggunakan 7P menurut Kasmir adalah sebagai

berikut:33

1. Personality

Menilai debitur dari segi kepribadiannya atau tingkah lakunya sehari-hari maupun kepribadiannya masa lalu. Penilaian personality juga mencakup sikap, emosi, tingkah laku dan tindakan nasabah dalam menghadapi suatu masalah dan menyelesaikannya.

2. Party

Mengklasifikasikan nasabah ke dalam klasifiasi tertentu atau golongan-golongan tertentu, berdasarkan modal, loyalitas, serta karakternya. Nasabah yang digolongkan ke dalam golongan tertentu akan mendapatkan fasilitas yang berbeda dari bank.

3. Purpose

Tujuan debitur dalam mengambil kredit, termasuk jenis kredit yang diinginkan nasabah. Tujuan pengambilan kredit dapat bermacam-macam sesuai kebutuhan. Sebagai contoh apakah untuk modal kerja, investasi, konsumtif, produktif dan lain-lain.

4. Prospect

Menilai usaha nasabah di masa yang akan datang menguntungkan atau tidak atau dengan kata lain mempunyai prospek atau sebaliknya. Hal ini penting mengingat jika suatu fasilitas kredit yang dibiayai tanpa mempunyai prospek, bukan hanya bank yang rugi akan tetapi juga nasabah.

5. Payment

Merupakan ukuran bagaimana cara nasabah mengembalikan kredit yang telah diambil atau dari sumber mana saja dana untuk pengembalian kredit. Semakin banyak sumber penghasilan debitur maka akan semakin baik. Sehingga jika salah satu usahanya merugi akan dapat ditutupi oleh usaha lainnya.

33

(12)

6. Profitability

Untuk menganalisis bagaimana kemampuan nasabah dalam mencari laba. Profitability diukur dari periode ke periode, apakah akan tetap sama atau akan semakin meningkat, apalagi dengan tambahan kredit yang akan diperolehnya. 7. Protection

Tujuannya adalah bagaimana menjaga agar kredit yang diberikan mendapat jaminan perlindungan, sehingga kredit yang diberikan benar-benar aman. Perlindungan yang diberikan oleh debitur dapat berupa jaminan barang atau orang atau jaminan asuransi, serta penilaian kredit dengan prinsip 3R yaitu: a. Returns

Penilaian atas hasil yang akan dicapai perusahaan calon debitur setelah memperoleh kredit. Apabila hasil yang diperoleh cukup untuk membayar pinjamannya dan sekaligus membantu perkembangan usaha calon debitur bersangkutan maka kredit diberikan. Akan tetapi, jika sebaliknya maka kredit jangan diberikan.

b. Repayment

Memperhitungkan kemampuan, jadwal, dan jangka waktu pembayaran kredit oleh calon debitur, tetapi perusahaannya tetap berjalan.

c. Risk Bearing Ability

Memperhitungkan besarnya kemampuan perusahaan calon debitur untuk menghadapi risiko, apakah perusahaan calon debitur risikonya besar atau kecil. Kemampuan perusahaan menghadapi risiko ditentukan oleh besarnya modal dan strukturnya, jenis bidang usaha, dan manajemen perusahaan bersangkutan. Jika risk bearing ability perusahaan besar maka kredit tidak diberikan, tetapi apabila risk bearing ability perusahaan kecil maka kredit akan diberikan.

D. Bentuk-Bentuk Perjanjian Kredit

Perjanjian kredit adalah perjanjian pokok yang bersifat riil. Sebagaimana

perjanjian pokok lainnya, maka perjanjian jaminan adalah accessoir-nya. Ada atau

berakhirnya perjanjian jaminan bergantung pada perjanjian pokok. Arti riil ialah

bahwa perjanjian kredit ditentukan oleh penyerahan uang oleh bank kepada

nasabah kreditur.34

Kredit yang diberikan oleh bank sebagai kreditur kepada nasabahnya

sebagai debitur selalu dilakukan dengan membuat suatu perjanjian. Mengenai

34

(13)

bentuk perjanjian ini tidak ada bentuk yang pasti karena tidak ada peraturan yang

mengaturnya, tetapi yang jelas perjanjian kredit selalu dibuat dalam bentuk tertulis

dan mengacu pada Pasal 1320 KUHPerdata tentang syarat-syarat sahnya

perjanjian. Mengenai bentuk perjanjian kredit di dalam undang-undang tidak

diatur secara jelas termasuk pula dalam Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1992

sebagaimana yang telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998

tentang Perubahan Undang-Undang Perbankan tidak mengenal istilah perjanjian

kredit. Istilah perjanjian kredit ditemukan dalam Intruksi Presidium Kabinet

Nomor 15/EK/10 tanggal 3 Oktober 1966 namun, intruksi ini sudah dinyatakan

tidak berlaku lagi dengan dikeluarkannya Intruksi Presiden Republik Indonesia

Nomor 2 Tahun 1979 tentang Pencabutan Intruksi Presidium Kabinet Nomor

15/EK/10.35

Perjanjian kredit merupakan suatu perjanjian yang diadakan antara Bank

dengan calon debitur untuk mendapatkan kredit dari bank.36

Dilihat dari bentuknya, perjanjan kredit perbankan pada umumnya

menggunakan bentuk perjanjian baku (standard contract) yang telah disediakan Perjanjian kredit

merupakan perjanjian yang sangat penting dalam rangka penyaluran kredit dari

bank sebagai kreditur kepada para debiturnya. Perjanjian kredit merupakan

perjanjian pokok yang keberadaannya tidak tergantung pada perjanjian-perjanjian

lainnya, jadi perjanjian kredit merupakan perjanjian utama apalagi kalau dikaitkan

dengan keberadaan perjanjian pemberian jaminan.

35

Sutarno, Aspek-Aspek Hukum Perkreditan Pada Bank, Alfabeta, Bandung, 2003, hal 97

36

Djuhaendah Hasan, Lembaga Jaminan Kebendaan Bagi Tanah dan Benda Lain Yang Melekat Pada Tanah Dalam Konsepsi Penerapan Azas Pemisahan Horisontal, PT. Citra Aditya

(14)

oleh pihak bank sebagai kreditur sedangkan debitur hanya mempelajari dan

memahaminya dengan baik. Perjanjian yang demikian itu biasanya disebut

perjanjian baku (standard contract), dimana dalam perjanjian tersebut pihak

debitur hanya dalam posisi menerima atau menolak tanpa ada kemungkinan untuk

melakukan negosiasi atau tawar menawar. Apabila debitur menerima semua

ketentuan dan persyaratan yang ditentukan oleh bank, maka ia berkewajiban untuk

menandatangani perjanjian kredit tersebut, tetapi apabila debitur menolak ia tidak

perlu untuk menandatangani perjanjian kredit tersebut.

Perjanjian kredit ini perlu memperoleh perhatian yang sangat khusus baik

oleh bank sebagai kreditur maupun oleh nasabah sebagai debitur, karena

perjanjian kredit mempunyai fungsi yang sangat penting dalam pemberian,

pengelolaan, dan penatalaksanaan kredit tersebut. Berkaitan dengan itu, perjanjian

kredit mempunyai fungsi-fungsi sebagai berikut:37

1. Perjanjian kredit berfungsi sebagai perjanjian pokok.

2. Perjanjian kredit berfungsi sebagai alat bukti mengenai batasan-batasan hak di antara kreditur dan debitur.

3. Perjanjian kredit berfungsi sebagai alat untuk melakukan monitoring kredit Menurut hukum, perjanjian kredit dapat dibuat secara lisan atau tertulis yang penting memenuhi syarat-syarat Pasal 1320 KUHPerdata. Namun dari sudut pembuktian perjanjian secara lisan sulit untuk dijadikan sebagai alat bukti, karena hakekat pembuatan perjanjian adalah sebagai alat bukti bagi para pihak yang membuatnya. Dalam dunia modern yang komplek ini perjanjian lisan tentu sudah dapat disarankan untuk tidak digunakan meskipun secara teori diperbolehkan karena lisan sulit dijadikan sebagai alat pembuktian bila terjadi masalah di kemudian hari. Untuk itu setiap transaksi apapun harus dibuat tertulis yang digunakan sebagai alat bukti. Bila menyimpan tabungan atau deposito di bank maka akan memperoleh buku tabungan atau bilyet deposito sebagai alat bukti.

37

(15)

Untuk pemberian kredit perlu dibuat perjanjian kredit sebagai alat bukti

dasar hukum perjanjian kredit secara tertulis dapat mengacu pada Pasal 1 angka

11 Undang-Undang Perbankan. Dalam Pasal ini terdapat kata-kata: penyediaan

uang atau tagihan berdasarkan persetujuan atau kesepakatan pinjam meminjam

antara bank dengan pihak lain. Kalimat tersebut menunjukkan bahwa pemberian

kredit harus dibuat perjanjian. Meskipun dalam Pasal itu tidak ada penekanan

perjanjian kredit harus dibuat secara tertulis, namun dalam organisasi bisnis

modern dan mapan maka untuk kepentingan administrasi yang rapi, teratur dan

demi kepentingan pembuktian sehingga pembuktian tertulis dari suatu perbuatan

hukum menjadi suatu keharusan, maka kesepakatan perjanjian kredit harus

tertulis.

Dasar hukum lain yang mengharuskan perjanjian kredit harus tertulis

adalah instruksi Presidium Kabinet No. 15/EK/IN/10/1966 tanggal 10 Oktober

1966. Dalam instruksi tersebut ditegaskan “dilarang melakukan pemberian kredit

tanpa adanya perjanjian kredit yang jelas antara bank dengan debitur atau antara

bank sentral dan bank-bank lainnya”. Surat Bank Indonesia yang ditujukan kepada

segenap Bank Devisa No. 03/1093/UPK/KPD tanggal 29 Desember 1970,

khususnya angka 4 yang menjelaskan bahwa pemberian kredit harus dibuat surat

perjanjian kredit. Dengan keputusan-keputusan tersebut maka pemberian kredit

oleh bank kepada debiturnya menjadi pasti bahwa:

1. Perjanjian diberi nama perjanjian kredit.

(16)

Perjanjian kredit merupakan ikatan atau bukti tertulis antara bank dengan

debitur sehingga harus disusun dan dibuat sedemikian rupa agar setiap orang

mudah untuk mengetahui bahwa perjanjian yang dibuat itu merupakan perjanjian

kredit. Perjanjian kredit termasuk salah satu jenis/bentuk akta yang dibuat sebagai

alat bukti. Dikatakan salah satu bentuk akta karena masih banyak

perjanjian-perjanjian lain yang merupakan akta misalnya perjanjian-perjanjian jual beli, perjanjian-perjanjian sewa

menyewa dan lain-lain. Dalam praktek bank ada 2 (dua) bentuk perjanjian kredit

yaitu: 38

1. Perjanjian kredit yang dibuat di bawah tangan, dinamakan akta dibawah tangan artinya perjanjian yang disiapkan dan dibuat sendiri oleh bank kemudian ditawarkan kepada debitur untuk disepakati. Untuk mempermudah dan mempercepat kerja bank, biasanya bank sudah mempersiapkan formulir perjanjian dalam bentuk standar (standaardform) yang isi, syarat-syarat dan ketentuannya disiapkan terlebih dahulu secara lengkap. Bentuk perjanjian kredit yang dibuat sendiri oleh bank termasuk jenis akta dibawah tangan. Dalam rangka penandatanganan perjanjian kredit yang isinya sudah disiapkan oleh bank kemudian disodorkan kepada setiap calon-calon untuk diketahui dan dipahami mengenai syarat-syarat dan ketentuan-ketentuan dalam formulir perjanjian kredit tidak pernah memperbincangkan atau dirundingkan atau dinegosiasikan dengan debitur. Calon debitur mau atau tidak mau dengan terpaksa atau suka rela harus menerima semua persyaratan yang tercantum dalam formulir perjanjian kredit. Seandainya calon debitur melakukan protes atau tidak setuju terhadap Pasal-Pasal yang tercantum dalam formulir perjanjian kredit, maka kreditur tidak akan menerima protes tersebut karena isi perjanjian memang sudah disiapkan dalam bentuk cetakan oleh lembaga bank itu sehingga bagi petugas bank pun tidak bisa menanggapi usulan calon debitur. Calon debitur menyetujui atau menyepakati isi perjanjian kredit karena calon debitur dalam posisi yang sangat membutuhkan kredit (posisi lemah) sehingga apapun persyaratan yang tercantum dalam formulir perjanjian kredit calon debitur dapat menyetujui. Perjanjian kredit yang sudah disiapkan oleh bank dalam bentuk standard (standard form), contohnya perjanjian kredit retail BRI, perjanjian kredit pemilikan rumah Bank Tabungan Negara (KPR-BTN) dan lain sebagainya.

2. Perjanjian kredit yang dibuat oleh dan dihadapan Notaris yang dinamakan Akta Otentik atau Akta Notariil. Yang menyiapkan dan membuat

38

(17)

perjanjian ini adalah Notaris namun dalam praktek semua syarat dan ketentuan perjanjian disiapkan oleh bank kemudian diberikan kepada Notaris untuk dirumuskan dalam Akta Notaris. Memang dalam membuat perjanjian hanyalah merumuskan apa yang diinginkan para pihak dalam bentuk Akta Notariil atau Akta Otentik.

Terdapat beberapa perbedaan kekuatan pembuktian mengenai perjanjian

kredit yang dibuat oleh bank sendiri dinamakan akta dibawah tangan dan

perjanjian kredit yang dibuat oleh dan dihadapan Notaris dinamakan akta otentik

atau akta notaril.

Dalam kepustakaan hukum dikenal 2 (dua) macam akta yaitu: 39

a. Akta yang dibuat oleh atau akta yang dibuat dihadapan pegawai umum, yang ditunjuk oleh undang-undang.

1. Akta Otentik

Pasal 1868 KUHPerdata akta otentik adalah akta yang di dalam bentuk yang ditentukan oleh undang-undang yang dibuat oleh atau dihadapan pegawai yang berkuasa (pegawai umum) untuk itu, ditempatkan dimana akta dibuatnya. Dari pengertian tersebut dapat disimpulkan bahwa disebut Akta Otentik apabila memenuhi syarat-syarat sebagai berikut:

b. Bentuk akta ditentukan undang-undang dan cara membuatnya akta harus menurut ketentuan yang ditetapkan oleh undang-undang.

c. Di tempat dimana pejabat berwenang membuat akta tersebut. 2. Akta di bawah Tangan

Akta-akta lain yang dibuat bukan Akta Otentik dinamakan akta dibawah tangan. Menurut Pasal 1874 KUHPerdata yang dimaksud akta dibawah tangan adalah surat atau tulisan yag dibuat oleh para pihak tidak melalui perantaraan pejabat yang berwenang (pejabat umum) untuk dijadikan alat bukti. Jadi semata-mata dibuat antara para pihak yang berkepentingan. Dengan demikian semua perjanjian yang dibuat antara para pihak sendiri disebut akta dibawah tangan. Jadi akta dibawah tangan dapat dibuat oleh siapa saja, bentuknya bebas, terserah bagi para pihak yang membuat dan tempat membuatnya dimana saja diperbolehkan. Kemudian, yang terpenting bagi akta dibawah tangan itu terletak pada tanda tangan para pihak, hal ini sesuai ketentuan Pasal 1876 KUHPerdata yang menyebutkan: Barang siapa yang terhadapnya dimajukan suatu tulisan (akta) dibawah tangan, diwajibkan secara tegas mengakui atau memungkiri tanda tangannya. Kalau tanda tangan sudah diakui maka akta dibawah tangan berlaku sebagai bukti sempurna seperti Akta Otentik bagi para pihak yang membuatnya.

39

(18)

Sebaliknya jika tanda tangan itu dipungkiri oleh pihak yang telah

membubuhkan tanda tangan maka pihak yang mengajukan akta dibawah tangan

itu harus berusaha mencari alat bukti lain yang membenarkan bahwa tanda tangan

tadi dibubuhkan oleh pihak yang memungkiri. Selama tanda tangan terhadap akta

dibawah tangan masih dipersengketakan kebenarannya, maka tidak mempunyai

banyak manfaat yang diperoleh bagi pihak yang mengajukan akta dibawah

tangan.40

40

Sutarno, Op.Cit., hal 102.

Referensi

Dokumen terkait

Kredit berfungsi sebagai dasar dari perjanjian kredit antara kreditur dan debitur. Kredit dalam arti luas didasarkan atas komponen-komponen.. kepercayaan yang

Berkenaan dalam rangka penandatangan perjanjian kredit, formulir perjanjian kredit yang isinya sudah disiapkan bank kemudian disodorkan kepada setiap calon debitur untuk

dengan debitur untuk melakukan penjualan obyek jaminan hak tanggungan, kesepa-katan antara kreditur dengan debitur ini adalah kesepakat yang disepakati setelah

Yang menjadi pihak dalam Kredit Pemilikan Rumah Bank Sumut Cabang Kabanjahe adalah debitur dan Kreditur yaitu Bank Sumut,calon debitur harus memenuhi syarat, yaitu Warga

10 Dengan demikian meskipun perjanjian kredit dengan jaminan Hak Tanggungan yang telah dilakukan oleh bank selaku kreditur kepada debitur pemegang Hak Tanggungan

Penjaminan fidusia berupa piutang terdapat kemungkinan- kemungkinan dimana piutang yang di berikan debitur kepada kreditur tersebut fiktif karena debitur memang beriktikad

Penjaminan fidusia berupa piutang terdapat kemungkinan- kemungkinan dimana piutang yang di berikan debitur kepada kreditur tersebut fiktif karena debitur memang beriktikad

10 Dengan demikian meskipun perjanjian kredit dengan jaminan Hak Tanggungan yang telah dilakukan oleh bank selaku kreditur kepada debitur pemegang Hak Tanggungan