• Tidak ada hasil yang ditemukan

Optimalisasi Pendekatan Saintifik dalam. pdf

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Optimalisasi Pendekatan Saintifik dalam. pdf"

Copied!
7
0
0

Teks penuh

(1)

OPTIMALISASI PENDEKATAN SAINTIFIK DALAM PENGAJARAN

BAHASA DAN SASTRA INDONESIA SEBAGAI PERANGSANG

MOMENTUM REVOLUSI MENTAL

Wisnu Nugroho Aji

Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia FKIP Universitas Widya Dharma Klaten

Abstrak

Peran bahasa sebagai tonggak revolusi mental sangatlah mutlak. Salah satu wujud optimalisasi nyatanya adalah dilakukan melalui pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia mulai dari tingkat sekolah dasar hingga perguruan tinggi. Pembelajaran dan pengajaran bahasa dan sastra Indonesia dapat dioptimalisasi dengan menggunakan pendekatan yang sesuai dengan karakter bangsa, yaitu pendekatan saintifik. Pendekatan saintifik adalah pendekatan pembelajaran yang memunyai ciri penanda sebagai proses pembelajaran yang dapat dipadankan dengan suatu proses penemuan secara ilmiah. Pendekatan saintifik dilandasi dengan lima proses yaitu mengamati, menanya, eksperimen/mengumpulkan informasi, menalar/menganalisis, serta membuat jejaring/ mengkomunikasi. Dalam lima proses tersebut, setiap siswa dituntut agar mampu menerapkan sikap ilmiah seperti jujur, objektif, dan akuntabel selama proses pembelajaran.

Kata kunci : pendekatan pembejalaran, pendekatan saintifik, pengajaran bahasa, revolusi mental

Abstract

Language as a milestone in a mental revolution was absolute. One form of optimization in fact is done through learning Indonesian language and literature ranging from primary school to university. Learning and teaching Indonesian language and literature can be optimized by using an approach consistent with the character of the nation, the scientific approach. The scientific approach is a learning approach that memunyai characteristic marker as a learning process that can be paired with a process of scientific discovery. The scientific approach is based on the five processes: to observe, ask, experimental / collect information, reasoning / analyze, and create networking / communicate. In five of the process, each student is required to be able to apply a scientific attitude as an honest, objective, and accountable for the learning process.

Keywords: pembejalaran approach, scientific approach, language teaching, mental revolution

A. PENDAHULUAN

Kemauan politik untuk merevolusi mental bangsa sesungguhnya cukup gamblang disuratkan dalam Kurikulum 2013 dengan mengususng pendekatan saintifik di dalamnya. Dengan menempatkan bahasa (Indonesia) sebagai penghela pelajaran, revolusi mental sudah dicanangkan untuk berproses melalui pendidikan yang lebih baik. Dari mana mental akan terbentuk kalau tidak berawal dari bahasa? Fungsi bahasa yang paling dasar (tidak bisa digantikan oleh sarana komunikasi yang lain) adalah untuk mengembangkan akal budi.

(2)

Indonesia mulai dari tingkat sekolah dasar hingga perguruan tinggi. Bahasa Indonesia dalam pembelajaran baik di tingkat sekolah dasar hingga perguruan tinggi awalnya disajikan dalam paradigma struktural. Dengan paradigma ini, umumnya yang menjadi bahan dalam pembelajaran adalah masalah struktur atau kaidah bahasa.

Saat ini pembelajaran bahasa Indonesia bergeser ke arah paradigma komunikatif. Dengan rancangan atau pendekatan ini, siswa diharapkan mampu menggunakan bahasa Indonesia yang sesuai dengan konteks atau situasi. Jadi tekanannannya bahasa Indonesia yang baik atau bahasa yang sesuai dengan situasi. Peruahan ini tentu mengubah bentuk-bentuk pendekatan, model, strategi, dan teknik pembelajaran sesuai dengan paradigma yang digunakan untuk melakukan motivasi. Perubahan inilah yang menjadikan prolema yang selama ini disoroti pelbagai pihak terhadap bahasa Indonesia sebagai mata pelajaran di lembaga pendidikan pelagai jenjang.

Keutuhan akan inovasi model dan pendekatan pembelajaran bahasa Indonesia yang dapat digunakan untuk mengatasi problema pengajaran tersebut tampaknya sudah tidak dapat ditunda lagi. Adalah pendekatan saintifik sebagai tonggak kurikulum paling mutakhir yaitu kurikulum 2013. Mentalitas yang ingin dicapai kabinet kerja sebagai ide pembangunan moral sebenarnya memiliki ritme yang sama dengan ide pembelajaran pada Kurikulum 2013. Dalam Kurikulum 2013, pembelajaran ditekankan kepada pendekatan saintifik yang terlembaga kepada lima proses yaitu mengamati, menanya, eksperimen/mengumpulkan informasi, menalar/menganalisis, serta membuat jejaring/mengkomunikasi. Dalam lima proses tersebut, setiap siswa dituntut agar mampu menerapkan sikap ilmiah seperti jujur, objektif, dan akuntabel selama proses pembelajaran.

Oleh karena itu, dalam tulisan ini saya akan mengangkat optimalisi pendekatan saintifik dalam pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia, sebagai perangsang momentum revolusi mental di Indonesia.

B. HAKIKAT PENDEKATAN SAINTIFIK

Pendekatan saintifik lahir dengan mengadaptasi scientific learning. Istilah

scientific learning diindonesiakan menjadi pembelajaran saintifik, atau disebut juga pembelajaran ilmiah. Dalam pengertian ini, pendekatan saintifik memunyai ciri penanda sebagai proses pembelajaran yang dapat dipadankan dengan suatu proses penemuan secara ilmiah.

(3)

kesimpulan secara keseluruhan. Penalaran induktif juga menempatkan bukti-bukti spesifik ke dalam relasi idea yang lebih luas.

Pendekatan saintifik merujuk pada teknik-teknik investigasi atas suatu atau beberapa fenomena atau gejala, memperoleh pengetahuan baru, atau mengkoreksi dan memadukan pengetahuan sebelumnya. Untuk dapat disebut ilmiah, metode pencarian (method of inquiry) harus berbasis pada bukti-bukti dari objek yang didapat dari pengamatan, empiris, dan terukur dengan prinsip-prinsip pengamatan yang spesifik. Karena itu , metode ilmiah umumnya memuat serangkaian aktivitas pengumpulan data melalui pengamatan atau eksperimen, mengolah informasi atau data, menganalisis, kemudian memformulasikan, dan menguji hipotesis.

Pembelajaran berbasis pendekatan itu lebih efektif hasilnya dibanding dengan pembelajaran konvensional. Sebagaimana disampaikan oleh Andayani (2014): ―Hasil penelitian membuktikan bahwa pada pembelajaran konvensional, retensi informasi dari guru sebesar 10 % setelah 15 menit dan perolehan pemahaman kontekstual sebesar 25% . Pada pembelajaran berbasis pendekatan ilmiah, retensi informasi dari guru sebesar lebih dari 90% setelah dua hari dan perolehan pemahaman kontekstual sebesar 50-70%.‖

Pendekatan saintifik ini dinilai lebih efektif karena mengajak peserta didik untuk berpikir secara ilmiah. Pembelajaran ditekankan kepada pendekatan saintifik yang terlembaga kepada lima proses yaitu mengamati, menanya, eksperimen/mengumpulkan informasi, menalar/menganalisis, serta membuat jejaring/mengkomunikasi. Dalam lima proses tersebut, setiap siswa dituntut agar mampu menerapkan sikap ilmiah seperti jujur, objektif, dan akuntabel selama proses pembelajaran

C. PENDEKATAN SAINTIFIK DALAM PEMBELAJARAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA

1. Pengajaran Keterampilan Menyimak dengan Pendekatan Saintifik

Guru pada dasarnya wajib untuk memahami skenario pembelajaran keterampilan menyimak dengan menggunakan pendekatan saintifik seperti yang diamanatkan dalam kurikulum 2013. Dalam pembelajaran saintifik guru mendorong dan menginspirasi siswa berpikir kritis, analisis, dan tepat dalam mengidentifikasi, memahami, memecahkan masalah, dan mengaplikasikan substansi atau materi pembelajaran. Guru mendorong dan menginspirasi siswa mampu berpikir hipotetik dalam melihat perbedaan, kesamaan, dan tautan satu dengan yang lainnya dari substansi menyimak.

(4)

pertanyaan siswa lainnya kemudian mengolah dan merevisi hasil temuannya, (f) pada langkah mencoba, berdasarkan hasil penyempurnaan dan olahan tersebut kemudian siswa dengan berkelompok mentanformasikan menjadi sebuah dongeng rakyat yang komperhensif, (g) pada langkah membentuk jejaring, setiap kelompok siswa mempresentasikan hasil tulisan tersebut dihadapan kelompok lainnya. (h) guru memberikan simpulan, penguatan, refleksi, dan tindak lanjut.

Dengan pendekatan saintifik tersebut tujuan pembelajaran tercapai, siswa aktif, dan peran guru sebagai fasilitator dapat berjalan secara maksimal. Semua perencanaan tersebut harus sudah dituangkan ke dalam RPP yang sudah disiapkan oleh guru.

2. Pengajaran Keterampilan Berbicara dengan Pendekatan Saintifik

Guru pada dasarnya wajib untuk memahami skenario pembelajaran keterampilan berbicara dengan menggunakan pendekatan saintifik seperti yang diamanatkan dalam kurikulum 2013. Dalam pembelajaran saintifik guru mendorong dan menginspirasi siswa berpikir kritis, analisis, dan tepat dalam mengidentifikasi, memahami, memecahkan masalah, dan mengaplikasikan substansi atau materi pembelajaran. Guru mendorong dan menginspirasi siswa mampu berpikir hipotetik dalam melihat perbedaan, kesamaan, dan tautan satu dengan yang lainnya dari substansi menyimak.

Sebagai contoh perencanaan pengajaran menyimak dengan pendekatan saintifik adalah sebagai berikut: (a) guru menjelaskan tujuan pembelajaran kepada siswa; (b) pada langkah mengamati, guru menyiapkan media pembelajaran (visual/audiovisual) dengan mengambil topik mengenai hal yang bersifat asing di mata siswa, sehingga akan merangsang minat siswa untuk bertanya, (c) pada langkah menanya, siswa yang telah dihadapkan pada hal yang asing akan timbul banyak pertanyaan yang kemudian disampaikan kepada guru, (d) pada langkah menalar, siswa yang sudah mendapatkan jawaban memuaskan dan dapat dipertanggung jawabkan oleh guru, kemudian mengolah atau mengasosiasiakan menjadi sebuah kepaduan, (e) pada langkah mencoba, dari apa yang telah didapatkan melalui media yang telah ditayangkan guru maupun hasil olahan kegiatan menanya, siswa secara bergiliran menceritakan kembali di depan kelas. (f) pada langkah membuat jejaring, siswa menkritisi untuk mengomentari dan menanggapi temannya. (g) guru memberikan simpulan, penguatan, refleksi, dan tindak lanjut.

Dengan pendekatan saintifik tersebut tujuan pembelajaran tercapai, siswa aktif, dan peran guru sebagai fasilitator dapat berjalan secara maksimal. Semua perencanaan tersebut harus sudah dituangkan ke dalam RPP yang sudah disiapkan.

3. Pengajaran Keterampilan Membaca dengan Pendekatan Saintifik

(5)

Sebagai contoh perencanaan pengajaran membaca dengan pendekatan saintifik adalah sebagai berikut: (a) guru menjelaskan tujuan pembelajaran kepada siswa; (b) guru menyiapkan media pembelajaran (topik-topik) yang akan digunakan sebagai bahan berlatih keterampilan membaca para siswa, (c) pada langkah mengamati, kemudian masing-masing kelompok diberikan topik untuk dibaca dan diidentifikasi hal-hal pokok yang terdapat di dalam materi bacaan tersebut, (d) pada langkah menanya, siswa diminta untuk membuat sebuah forum diskusi kecil di setiap kelompok,hal ini bertujuan untuk, memantapkan dan menyamakan perspektif siswa terhadap topik yang telah dibaca, (e) pada langkah menalar, siswa yang sudah mendapatkan jawaban melalui kegiatan diskusi, kemudian dikumpulkan (f) pada langkah mencoba, dari jawaban yang telah terkumpul kemudian diolah atau disosiasiakan menjadi sebuah kepaduan, (g) pada langkah membuat jejaring, siswa secara berkelompok mempresentasikan hasil pekerjaannya di depan kelas, sementara siswa lain menkritisi untuk mengomentari dan menanggapi temannya. (h) guru memberikan simpulan, penguatan, refleksi, dan tindak lanjut.

Dengan pendekatan saintifik tersebut tujuan pembelajaran tercapai, siswa aktif, dan peran guru sebagai fasilitator dapat berjalan secara maksimal. Semua perencanaan tersebut harus sudah dituangkan ke dalam RPP yang sudah disiapkan.

4. Pengajaran Keterampilan Menulis dengan Pendekatan Saintifik

Pengajaran keterampilan menulis perlu dirancang dengan menggunakan pendekatan saintifik. Dalam pembelajaran saintifik guru mendorong dan menginspirasi siswa berpikir kritis, analisis, dan tepat dalam mengidentifikasi, memahami, memecahkan masalah, dan mengaplikasikan substansi atau materi pembelajaran. Guru mendorong dan menginspirasi siswa mampu berpikir hipotetik dalam melihat perbedaan, kesamaan, dan tautan satu dengan yang lainnya dari substansi menyimak. Dengan perencanaan yang sistematis maka akan diperoleh hasil pembelajaran aktif yang optimal dan inspiratif.

Sebagai contoh perencanaan pengajaran membaca dengan pendekatan saintifik adalah sebagai berikut: (a) guru menjelaskan tujuan pembelajaran kepada siswa; (b) guru menampilkan contoh teks (anekdot/berita/eksplanasi sesuai dengan KD) kepada siswa. (c) pada langkah mengamati, siswa mengidentifikasi struktur dan ciri teks yang telah divisualisaikan oleh guru, (c) pada langkah menanya, guru beserta siswa lainnya bertanya jawab tentang struktur dan ciri teks yang telah ditayangkan, (d) pada langkah menalar, siswa mengumpulkan dan menyimpulkan hasil tanya jawab, kemudian mengerti mengenai struktur dan ciri teks yang dimaksud, (e) pada kegiatan mencoba, siswa menuliskan sebuah teks dengan berpedoman pada struktur dan ciri yang sudah ditemukannya, (f) pada langkah membuat jejaring, siswa mempresentasikan hasil tulisannya di depan kelas, sementara siswa lain menkritisi untuk mengomentari dan menanggapi temannya. (g) guru memberikan simpulan, penguatan, refleksi,

(6)

5. Pengajaran Keterampilan Bersastra dengan Pendekatan Saintifik

Pengajaran keterampilan bersastra pada prinsipnya tidak jauh berbeda dengan penerapan pembelajaran empat keterampilan berbahasa lainnya. Yang menjadi pembeda adalah materi atau topik bahasan dalam pembelajaran bersastra tersebut. Pembelajaran bersastra perlu dilatih secara terus menerus dan dirancang dengan pendekatan saintifik sehingga tercapai tujuan pembelajaran yang inovatif agar siswa mampu mengapresiasi sastra secara efektif dan efisien.

Pengajaran bersastra perlu dimulai dengan gambaran atau penjelasan mengenai ruang lingkup bersastra itu sendiri sehingga siswa tahu arah dan tujuan pembelajaran tersebut.

Sebagai contoh perencanaan pengajaran bersasrtra dengan pendekatan saintifik dapat diaplikasikan sebagai berikut: (a) guru menjelaskan tujuan pembelajaran keterampilan bersastra kepada siswa; (b) guru mempersiapkan media pembelajaran (topik-topik) yang akan digunakan dalam keterampilan bersastra bagi para siswa, (c) pada langkah mengamati, para siswa diminta untuk berpasangan membentuk kelompok 4-5 siswa kemudia diberi nama kelompok, kemudian masing-masing kelompok diberikan topik untuk dibaca, disimak/ditulis (disesuaiakan dengan KD), (d) pada langkah menanya, siswa diminta untuk mengidentifikasi dan memaparkan hasil identifikasinya di dalam forum kelompoknya, (e) pada langkah menalar, masing-masing kelompok mengasumsikan kemudian mengolah jawaban dari masing-masing anggotanya, (f) pada langkah mencoba, setiap kelompok diminta untuk menulis/membaca (sesuai KD), (g) pada langkah membuat jejaring, siswa mempresentasikan hasil tulisannya di depan kelas, sementara siswa lain menkritisi untuk mengomentari dan menanggapi temannya. (h) guru memberikan simpulan, penguatan, refleksi,

Dengan pendekatan saintifik tersebut tujuan pembelajaran tercapai, siswa aktif, dan peran guru sebagai fasilitator dapat berjalan secara maksimal. Semua perencanaan tersebut harus sudah dituangkan ke dalam RPP yang sudah disiapkan.

D. PENDEKATAN SAINTIFIK DAN REVOLUSI MENTAL

Revolusi mental menjadi hal yang sangat genting di negara kita. Ketika mental dimaknai begitu luas maka revolusi mental harus mampu membongkar budaya budaya yang selama ini sudah tertanam kuat dan kini sudah sebagian memudar bahkan hilang.Salah satu upanya nyatanya adalah melalui pengajaran bahasa (Indonesia), sebagai embrio pembentuk mental bangsa.

Kegiatan pengajaran bahasa Indonesia di sekolah tidak cukup dipandang hanya untuk berkomunikasi lisan dan tulisan. Sesuai dengan fungsi dasarnya, bahasa Indonesia mestinya dipelajari untuk mengenali jati diri atau akal budi orang Indonesia. Orang yang tidak patuh berbahasa Indonesia jelas-jelas menodai jati diri atau akal budi sendiri. Hasil pembelajaran bahasa Indonesia saat ini belum mencapai derajat penghormatan atas jati diri atau akal budi.

(7)

kepentingannya sangat sederhana: tidak membawa beban (secara fisik dan psikis) yang melebihi jangkauan kemampuannya. Satu pelajaran bahasa Indonesia mampu menghela pelajaran (ilmu) pengetahuan sosial dan alam.

E. PENUTUP

Peran bahasa sebagai tonggak revolusi mental sangatlah mutlak. Salah satu wujud optimalisasi nyatanya adalah dilakukan melalui pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia mulai dari tingkat sekolah dasar hingga perguruan tinggi. Pembelajaran dan pengajaran bahasa dan sastra Indonesia dapat dioptimalisasi dengan menggunakan pendekatan yang sesuai dengan karakter bangsa, yaitu pendekatan saintifik. Pendekatan saintifik yang terlembaga kepada lima proses yaitu mengamati, menanya, eksperimen/mengumpulkan informasi, menalar/menganalisis, serta membuat jejaring/mengkomunikasi. Dalam lima proses tersebut, setiap siswa dituntut agar mampu menerapkan sikap ilmiah seperti jujur, objektif, dan akuntabel selama proses pembelajaran.

Upaya pengembangan dan pengajaran bahasa dan sastra Indonesia secara berkesinambungan akan memberikan inspirasi bagi masyarakat Indonesia untuk bangga kepada bahasa Indonesia sebagai wujud revolusi mental. Pendekatan saintifik sebagai perangsang momentun revolusi mental di Indonesia Melalui sistematika dan prosedur pendekatan saintifik dalam pembelajaran dan pengajaran bahasa dan sastra Indonesia di tinggkat dasar sampai perguruan tinggi, mampu membentuk karakter dan mental bangsa yang tangguh, yang mampu untuk berpikir dan berperilaku ilmiah. Membentuk karakter bangsa yang mampu untuk berpikir dan berperilaku berdasarkan fakta dan bukti empirik, tidak tergiring oleh opini publik yang tidak dapat dipertanggungjawabkan. Dengan demikian akan terbentuk insan-insan cendikia yang memiliki karakter dan mental yang kuat serta santun dalam berbahasa.

DAFTAR PUSTAKA

Andayani.2014. Pendekatan Saintifik dan Metodologi Pembelajaran Bahasa Indonesia. Surakarta :Yuma Pustaka.

Brown & Wragg.1977.Micro-Teaching a Programme of Teaching Skills. New York: Methuen & Co

Kemendikbud. 2013. Kurikulum 2013. Jakarta: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Patton, Michael Quinn. 1998. Qualitative Research & Evaluation Methods. London: Sage

Publisher.

Referensi

Dokumen terkait

Kendala yang di alami oleh guru dalam menerapkan pendekatan saintifik antara lain: (1) kendala pertama, guru merasa kesulitan pada saat membuat perencanaan karena

Abstrak: Penelitian ini untuk menjelaskan bagaimana guru menerapkan pendekatantan saintifik pengajaran bahasa inggris dan merdeka belajar menurut ki hajar Dewantara

Pendekatan saintifik dilakukan melalui mengamati, menanya, mencoba, menganalisis dan mengomunikasikan pada peserta didik. Peran guru dalam pendekatan saintifik sebagai fasilitator

Bapak Nyoman Sudarsana, S.Pd dari SMA Negeri 3 Singaraja dalam mengimplementasikan pendekatan saintifik yaitu mengamati guru meminta peserta didik untuk membaca teks

Upaya yang dilakukan guru untuk mengatasi hambatan dalam perencanaan pembelajaran yaitu mendiskusikan alternatif kegiatan pembelajaran menggunakan Pendekatan

Hasil penelitian ini menunjukkan: (1) pemahaman guru Geografi terhadap pendekatan saintifik baik, (2) perencanaan pembelajaran Geografi yang dibuat oleh guru

1) Pola pikir guru perempuan dalam menerapkan pendekatan saintifik pada proses pembelajaran matematika. Guru perempuan tidak selalu menerapkan pendekatan saintifik,

Saran Berdasarkan hasil pada penelitian ini, saran yang dapat diberikan Bagi guru, sebagai masukan untuk memperoleh gambaran mengenai penerapan pendekatan saintifik sebagai alternatif