KEMAMPUAN BERBICARA DENGAN MENGGUNAKAN M

11 

Teks penuh

(1)

KEMAMPUAN BERBICARA DENGAN MENGGUNAKAN

MEDIA BONEKA TANGAN DI TAMAN KANAK-KANAK (TK) KARTIKA 1-7 CENGKEH PADANG

OLEH Mahyurianti NIM 17330017

Mahasiswa Program Magister Universitas Negeri Padang ABSTRAK

(2)

PENDAHULUAN Latar Belakang

Pendidikan anak usia dini (PAUD) adalah suatu upaya pembinaan yang ditujukan kepada anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun, yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani, agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut (UU Nomor 20 Tahun 2003). Pendidikan anak usia dini bertujuan untuk mengembangkan semua aspek perkembangan yang dimiliki anak untuk memunculkan potensi secara optimal. Aspek perkembangan tersebut meliputi aspek nilai agama dan moral,aspek sosial emosional, aspek kognitif, aspek bahasa, dan aspek fisik motorik.

Menurut Dadan Suryana (2013:54) sebetulnya proses pendidikan anak usia dini sudah berlangsung saat di dalam kandung, lalu sesudah lahir, sampai SD kelas awal (I, II, dan III). Dengan demikian pendidikan anak usia dini berakhir kir-kira pada usia 8 tahun. Sementara itu, UNESCO mebagi perjenjang sekolah kedalam tujuh klasifikasi, jenjang terendah disebut pendidikan anak usia dini. Jenjang terendah ini disebut level 0, sedangkan pendidikan prasekolah

sebagai pendidikan bagi anak usia 3-5 tahun

Kemampuan berbahasa di ungkapkan dalam hal berbicara. Berbicara merupakan kemampuan yang didapat secara alamiah, tetapi berbicara secara formal memerlukan proses latihan dan pengarahan yang insentif. Pada usia taman kanak-kanak harusnya anak sudah dapat berbicara dengan baik dan lancar, anak sudah dapat mengulang atau menirukan kembali beberapa kata bahkan dapat mengucapkan beberapa kalimat. Namun pada kenyataannya sebagian besar anak usia TK belum memiliki kemampuan berbicara yang baik.

(3)

penulis membutuhkan media yang dapat membuat anak bisa berbicara apalagi mau bercerita. Maka penulis menggunakan media boneka tangan untuk memancing siswa berbicara.

Menurut Dadan Suryana (2013:55) dalam rangka mengoptimalkan perkembangan anak melalui pendidikan anak usia dini, program pendidikan harus disesuaikan dengan karekteristik anak yang mempunyai pengalaman dan pengetahuan yang berbeda. Progam pendidikan harus memberikan rangsangan dorongan, dan dukungan kepada anak. Program untuk anak harus memperhatikan seluruh aspek perkembangan anak serta disesuaikan dengn kebutuhan, minat, dan kemampuan anak

Anak masih kesulitan dalam menyampaikan pendapat dan pikiran mereka dengan bahasa lisan. Kemampuan berbicara yang baik akan membantu anak dalam kehidupan sehari–hari, selain membantu dalam berkomunikasi dengan orang lain juga melatih keberanian anak. Maka dari itu penulis meneliti tentang “Kemampuan Berbicara Dengan Menggunakan Media Boneka Tangan Di Taman Kanak-Kanak (TK) Kartika 1-7 Padang

Rumusan Masalah

Rumusan permasalahan penelitian ini adalah kemampuan berbicara dengan

menggunakan media boneka tangan di taman Kanak-Kanak (TK) Kartika 1-7 Padang.

Tujuan Penulisan

Mendeskripsikan kemampuan kemampuan berbicara dengan menggunakan media boneka tangan di taman Kanak-Kanak (TK) Kartika 1-7 Padang.

KAJIAN TEORITIS

Karakteristik Bahasa Anak Usia 5-6 Tahun

Menurut Jamaris dalam Susanto (2011: 78), karakteristik perkembangan bahasa anak usia 5-6 tahun sudah mampu mengucapkan lebih dari 2.500 kosakata, lingkup kosakata yang dapat diucapkan anak menyangkut warna, ukuran, bentuk, rasa, bau, keindahan, kecepatan, suhu, perbedaan, perbandingan, jarak, dan permukaan (kasar-halus), anak usia 5-6 tahun sudah dapat berpartisipasi dalam suatu percakapan. Anak sudah dapat mendengarkan orang lain berbicara dan menanggapi pembicaraan tersebut. Percakapan yang dilakukan oleh anak 5-6 tahun telah menyangkut berbagai komentarnya terhadap apa yang dilakukan oleh dirinya sendiri dan orang lain, serta apa yang dilihatnya.

(4)

mengucapkan kata dengan jelas dan lancar, dapat menyusun kalimat yang terdiri dari enam sampai delapan kata, dapat menjelaskan arti kata-kata yang sederhana, dapat menggunakan kata hubung, kata depan dan kata sandang. Pada masa akhir usia taman kanak-kanak umumnya anak sudah mampu berkata-kata sederhana dan berbahasa sederhana, cara bicara mereka telah lancar, dapat dimengerti dan cukup mengikuti tata bahasa walaupun masih melakukan kesalahan berbahasa.

Hasil penelitian Loban, Hunt, dan Cazda yang dikutip oleh Ellies (Muh. Nur Mustakim, 2005: 129) mengemukakan tentang karakteristik berbicara anak usia 5 dan 6 tahun sebagai berikut: suka berbicara dan umumnya berbicara kepada seseorang, tertarik menggunakan kata-kata baru dan luas, banyak bertanya, tata bahasa akurat dan beralasan, menggunakan bahasa yang sesuai, dapat mendefinisikan dengan bahasa yang sederhana, menggunakan bahasa dengan agresi, mengajukan pertanyaan-pertanyaan, sangat aktif berbicara.

Faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Bahasa Anak

Menurut Hurlock (1999: 183) faktor yang mempengaruhi perkembangan bahasa anak adalah mengemukakan kondisi yang dapat menimbulkan perbedaan dalam bahasa

yaitu kesehatan, kecerdasan, keadaan sosial ekonomi, jenis kelamin, keinginan berkomunikasi, dorongan, ukuran keluarga, urutan kelahiran, metode pelatihan anak, kelahiran kembar, hubungan dengan teman sebaya, kepribadian.

Kemampuan Berbicara Anak 5-6 Tahun

Kemampuan Berbicara adalah kemampuan menyampaikan maksud (ide,pikiran, gagasan, atau isi hati) seseorang kepada orang lain dengan menggunakan bahasa lisan sehingga maksud tersebut dapat dipahami oleh orang lain dengan mudah. Menurut Suhartono (2005: 20), kemampuan berbicara adalah kemampuan mengucapkan bunyi-bunyi artikulasi atau kata-kata untuk mengekspresikan, menyatakan serta menyampaikan pikiran, gagasan, dan perasaan. Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI, 2005: 165), kemampuan berbicara adalah “beromong, bercakap, berbahasa, mengutarakan isi pikiran, melisankan sesuatu yang dimaksudkan”. Bicara merupakan bentuk komunikasi yang paling efektif, penggunaannya paling luas dan paling penting.

(5)

yang sudah disebutkan dapat disimpulkan bahwa berbicara merupakan suatu proses untuk mengekspresikan, menyatakan, serta menyampaikan ide, pikiran, gagasan, atau isi hati kepada orang lain dengan menggunakan bahasa lisan yang dapat dipahami oleh orang lain.

Kemampuan anak dalam berbicara berdasarkan perkembangan usia, karena semakin bertambahnya usia maka perbendaharaan kata pada anak juga makin bertambah. Permen Diknas No. 58 Tahun 2009 menerangkan tingkat pencapaian perkembangan bicara anak usia 5-6 tahun. Hasil observasi bahwa kemampuan anak dalam menyatakan pendapat secara sederhana dengan menggunakan bahasa sudah dapat dikategorikan “berkembang sesuai harapan”.

Anak usia dini, khususnya usia 5-6 tahun kemampuan bicara secara mengagumkan. Owens dalam Rita Kurnia (2009: 37) mengemukakan bahwa anak usia tersebut memperkaya kemampuan berbicaranya melalui pengulangan. Mereka sering mengulangi kosa kata yang baru dan unik sekalipun belum memahami artinya. Dalam mengembangkan kemampuan berbicara tersebut, anak menggunakan fast wrapping yaitu suatu proses dimana anak menyerap arti kata baru setelah mendengarnya

sekali atau dua kali dalam dialog. Pada masa dini inilah anak mulai mengkombinasikan suku kata menjadi kata, dan kata menjadi kalimat.

Aliday dan Hasan dalam Rita Kurnia (2009: 38) mengemukakan, anak usia 5-6 tahun rata-rata dapat menggunakan 900-1000 kosa kata yang berbeda. Mereka menggunakan 4-5 kata dalam satu kalimat yang dapat berbentuk kalimat pernyataan, negatif, tanya, dan perintah. Anak usia 5 tahun sudah mulai menggunakan kalimat yang beralasan seperti “saya menangis karena sakit”. Pada usia 6 tahun pembicaraan mereka mulai berkembang dimana kosa kata yang digunakan lebih banyak dan rumit. Hakikat Kemampuan Berbicara

(6)

Berikutnya, Tarigan (2008:15), berbicara adalah kemampuan mengucapkan bunyi-bunyi artikulasi atau kata-kata untuk mengekspresikan, menyatakan serta menyampaikan pikiran, gagasan dan perasaan. Berbicara tidak sekedar mengucapkan bunyi-bunyi atau kata-kata. Berbicara adalah suatu alat mengkomunikasikan gagasan yang disusun serta dikembangkan sesuai kebutuhan pendengar atau menyimak Mulgrave (dalam Abdulrahman dan Ratna 2003:96).

Berbicara adalah sarana untuk mengkomunikasikan gagasan-gagasan yang disusun serta dikembangkan sesuai dengan kebutuhan-kebutuhan pendengar atau penyimak. Berbicara merupakan instrument (alat) yang mengungkapkan kepada penyimak hampir-hampir secara langsung apakah si pembicara memahami atau tidak, baik bahan pembicaraannya maupun pendengarnya (Slamet, 2009:33).

Kemampuan berbicara adalah kemampuan yang berkembang dalam kehidupan anak yang didahului oleh kemampuan menyimak. Berbicara dan menyimak merupakan kegiatan komunikasi dua arah yang langsung serta merupakan komunikasi tatap muka atau face to face communication (Brooks dalam Henry Guntur Tarigan, 2008:4). Berbicara adalah kemampuan mengungkapkan bunyi-bunyi artikulasi

atau kata-kata untuk mengekspresikan, menyatakan atau menyampaikan pikiran, gagasan, dan perasaan (Henry Guntur Tarigan, 2008:16). Yeti Mulyani, dkk (2011: 6.3-6.5) menyatakan bahwa hakikat berbicara adalah sebagai berikut: (1) Berbicara metupakan ekpresi diri, (2) Berbicara merupakan kemampuan mental motorik, (3) Berbicara terjadi dalam konteks ruang dan waktu.

Tujuan berbicara menurut Menurut Tarigan (1983:15) tujuan berbicara adalah (1) untuk berkomunikasi, (2) untuk menyampaikan pikiran secara efektif. sedangkan menurut Djago, dkk dalam Hastuti (2012:25) tujuan berbicara dapat digolongkan menjadi lima golongan yaitu (a) menghibur, (b) menginformasikan, (c) menstimulasi, (d) Meyakinkan, dan e) menggerakkan. Menurut Sulvia Menurut Sulvia dalam Nurbiana Dheini, dkk (20083.6-3.9) hambatan yang terjadi dalam kompon kebahasaan, meliputi(I) lafal dan intonasi, (2) pilihan kata, (3) struktur bahasa, dan (4) gaya bahasa.

(7)

(diksi). Sedangkan faktor nonkebahasaan antara lain: 1) sikap yang wajar, tenang, dan tidak kaku, 2) pandangan harus diserahkan pada lawan bicara, 3) gerak-gerik dan mimik yang tepat, 4) kenyaringan suara, 5) kelancaran, 6) relevansi atau penalaran, dan 7) penguasaan topik. Untuk lebih jelasnya dapat diuraikan sebagai berikut.

Hakikat Media Boneka Tangan Menurut Scramm dalam Dwijiastuti (2007:3), media adalah teknologi pembawa pesan yang dapat dimanfaatkan untuk keperluan pembelajaran. nilai-nilai media pembelajaran antara lain : (1) Mengkonkretkan konsep-konsep yang abstrak, (2) Menghadirkan objek yang berbahaya atau suit didapat ke dalam lingkungan belajar, (3) Menampilkan objek yang terlalu besar. Guru dapat menyampaikan gambaran mengenai candi, pesawat dan lain-lain, (4) Memperlihatkan gerakkan yang terlalu lambat atau terlalu cepat. Media yang digunakan dalam penelitian ini adalah media boneka tangan.

Boneka adalah tiruan dalam bentuk manusia bahkan sekarang dalam bentuk binatang. Boneka tangan adalah tiruan bentuk baik bentuk manusia, binatang atau bentuk lainnya yang yang ukurannya disesuaikan dengan ukuran tangan dengan berbagai corak dan motif. Manfaat Boneka

Tangan antara lain: (a) tidak banyak memakan tempat dalam pelaksanaannya, (b) tidak menuntut ketrampilan yang rumit bagi yang akan, (c) memainkannya, (d) dapat mengembangkan imajinasi anak, mempertinggi keaktifan anak dan suasana gembira, (e) Mengembangkan aspek bahasa.

Tahapan bermain boneka tangan antara lain; (1) guru menyiapkan boneka tangan sesuai dengan karakter yang dikehendaki, (2) guru menggunakan boneka tangan, kemudia menerangkan cara menggunakan boneka tangan dan contoh cara menggerakkannya sambil berbicara, (3) kemudia guru memotivasi anak supaya mau mau mencoba memakai boneka tangan, anak yang paling berani di ajak memotivasi teman-teman yang lain, (4) guru memilih dua atau tiga anak untuk maju. Anak yang dipilih dapat anak yang paling berani, baru setelah itu dipilih anak yang pemalu, (5) guru mengarahkan saja, jika perlu guru turut serta agar ceritanya dapat terarah, (6) pada tahap awak berrmain boneka tangan, anak didampingi dahulu oleh guru agar ceritanya dapat lebih terarah dan berjalan lancar. Selanjutnya anak bermain boneka tangan secara spontan tanpa didampingi guru.

(8)

Jenis penelitian ini adalah penelitian kuantitatif. Dikatakan kuantitatif karena data yang akan dikumpulkan berupa angka-angka dan dianalisis dengan rumus statistik. Menurut Arikunto (2002:10) dikatakan penelitian kuantitatif karena banyak menggunakan angka, mulai dari pengumpulan data, penafsiran terhadap data tersebut, serta penampilan dari hasilnya.

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif. Metode deskriptif bertujuan untuk menggambarkan karakter suatu variabel, kelompok atau gejala sosial yang terjadi di masyarakat. Penelitian deskriptif tidak bertujuan untuk menjelaskan hubungan antara variabel satu dengan variabel yang lain, sehingga tipe permasalahan deskriptif hanya menyatakan satu variabel atau satu konsep yang akan diteliti (Martono, 2011:37). Metode deskriptif digunakan untuk mengungkapkan gambaran atau tulisan secara sitematis, faktual, dan akurat mengenai fakta objek yang akan di teliti. Serta menganalisis data sehingga dapat diketahui gambaran tentang kemampuan berbicara dengan menggunakan media boneka tangan di taman Kanak-Kanak (TK) Kartika 1-7 Padang. Sampel merupakan sebagian atau wakil populasi yang diteliti. Populasi penelitian ini adalah

Kanak-Kanak (TK) Kartika 1-7 Padang yang berjumlah 16 anak.

(9)

Data yang telah terkumpul dianalisis dengan langkah-langkah sebagai berikut. Pertama, menentukan skor yang dilihat dari penggunaan kemampuan berbicara dengan menggunakan media boneka tangan di taman Kanak-Kanak (TK) Kartika 1-7 Padang dengan menggunakan format rubric penilaian. Kedua, mengubah skor kemampuan berbicara dengan menggunakan media boneka tangan di taman Kanak-Kanak (TK) Kartika 1-7 Padang menjadi nilai. Ketiga, mencari rata-rata kemampuan berbicara dengan menggunakan media boneka tangan di taman Kanak-Kanak (TK) Kartika 1-7 Padang berdasarkan rata-rata hitung (M). Keempat, kemampuan berbicara dengan menggunakan media boneka tangan di taman Kanak-Kanak (TK) Kartika 1-7 Padang berdasarkan skala 10. Kelima, menguraikan hasil analisis data dengan cara mendeskripsikan kemampuan berbicara dengan menggunakan media boneka tangan di taman Kanak-Kanak (TK) Kartika 1-7 Padang. Keenam, menuliskan histogram hasil penelitian. Ketujuh, meyimpulkan hasil penelitian.

PENUTUP SIMPULAN

Media adalah teknologi pembawa pesan yang dapat dimanfaatkan untuk keperluan pembelajaran. Boneka adalah tiruan

dalam bentuk manusia bahkan sekarang dalam bentuk binatang. Boneka tangan adalah tiruan bentuk baik bentuk manusia, binatang atau bentuk lainnya yang yang ukurannya disesuaikan dengan ukuran tangan dengan berbagai corak dan motif. Manfaat Boneka Tangan antara lain: (a) tidak banyak memakan tempat dalam pelaksanaannya, (b) tidak menuntut ketrampilan yang rumit bagi yang akan, (c) memainkannya, (d) dapat mengembangkan imajinasi anak, mempertinggi keaktifan anak dan suasana gembira, (e) Mengembangkan aspek bahasa.

Saran

Saran yang dapat peneliti berikan setelah melakukan penelitian ini adalah 1. Diharapkan dengan adanya

rancangan penelitian ini, pendidik atau guru dapat mengunakan media atau alat seperti boneka tangan dalam pembelajaran.

2. Dengan adanya penggunaan media tangan bagi anak diharpakan pembejaran sambil bermain yang di terapkan di taman kanak-kanak bisa diterapkan dengan maksimal.

KEPUSTAKAAN Arief, Emawati dan Yarni Munaf.

(10)

keterampilan Berbicara. (Buku Ajar). Padang: FBSS UNP.

Abdurrahman dan Elya Ratna. 2003. “Evaluasi Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia”. Buku Ajar. Padang: Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia FBSS UNP. Arikunto, Suharsimi. 2002. Prosedur penelitian. Jakarta: Rineka Cipta.

Dadan Suryana. 2013. Profesionalisme Guru Pendidikan Anak Usia Dini Berbasis Peraturan Menteri N0. 58 Tahun 2009. Pedagogi. Jurnal Ilmiah Ilmu Pendidikan Volume XIII No.2 November 2013.

Dadan Suryana. 2017. Pengetahuan Tentang Strategi Pembelajaran, Sikap, Dan Motivasi Guru. Universitas Negeri Padang, Kampus UNP Jl.Prof Hamka Air Tawar Padang. Jurnal Ilmiah Ilmu Pendidikan Volume 6.

Dadan Suryana. 2014. Jurnal Cendekia Jilid I No. 2, Januari. Volume XI No.5 November 2014.

Dwijiastuti. (2007). Media dan Media APE dan Sumber Belajar TK. Surakarta: UNS Press.

Henry Guntur Tangiran. (2008). Berbicara Sebagai Keterampilan Berbahasa. Bandung: Angkasa.

Martono, Nanang. 2011. “Metode Penelitian Kuantitatif”. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.

Nurbiana Dhien, dkk. (2008). Metode Pengembangan bahasa. Jakarta: Universitas Terbuka. Solchan T.W.,dkk. (2008). Pendidkan

bahasa Indonesia di SD. Jakarta: Universitas Terbuka. Pengertian Kemampuan. Diperoleh 9

Desember 2017 dari

http://ian43.wordpress.com/201 0/12/23/

pengertian-kemampuan/.

Pengembangan Kemampuan Bahasa. Diperoleh 9 Desember 2017 dari

http://paudngesti.wordpress .com/2009/06/30/pengembanga n-kemampuan bahasa-anak Pengertian Boneka Tangan. Diperoleh

9 Desember 2017 dari

http://nirmala.wordpress.com/2 010/ 11/29/makalah-pengertian-bonekatangan/.

Pendekatan Pengalaman Berbahasa. Diperoleh 9 Desember 2017 dari

(11)

lt/files/ARTIKEL- BERBICARA-PEDEKATAN-

PENGALAMAN-BERBAHASA.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...