• Tidak ada hasil yang ditemukan

ASUHAN KEPERAWATAN PADA NY. M DENGAN NYERI AKUT PADA DIAGNOSA MEDIS HIPERTENSI DI DESA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "ASUHAN KEPERAWATAN PADA NY. M DENGAN NYERI AKUT PADA DIAGNOSA MEDIS HIPERTENSI DI DESA "

Copied!
98
0
0

Teks penuh

(1)

ASUHAN KEPERAWATAN PADA NY. M DENGAN NYERI AKUT PADA DIAGNOSA MEDIS HIPERTENSI DI DESA

SIDOGIRI KRATON KABUPATEN PASURUAN

Oleh :

SAFRIN ZUHROIDAH NIM. 1801129

PROGRAM DIII KEPERAWATAN

POLITEKNIK KESEHATAN KERTA CENDEKIA SIDOARJO

2021

(2)

ii

ASUHAN KEPERAWATAN PADA NY. M DENGAN NYERI AKUT PADA DIAGNOSA MEDIS HIPERTENSI DI DESA

SIDOGIRI KRATON KABUPATEN PASURUAN

Sebagai Persyaratan untuk Memperoleh Gelar Ahli Madya Keperawatan (Amd.Kep) di Politeknik Kesehatan Kerta Cendekia Sidoarjo

Oleh :

SAFRIN ZUHROIDAH NIM. 1801129

PROGRAM DIII KEPERAWATAN

POLITEKNIK KESEHATAN KERTA CENDEKIA SIDOARJO

2021

(3)

iii Yang bertanda tangan dibawah ini :

Nama : Safrin Zuhroidah

NIM : 1801129

Tempat, Tanggal Lahir : Pasuruan, 13 Februari 2000

Institusi : Politeknik Kesehatan Kerta Cendekia Sidoarjo Menyatakan bahwa Karya Tulis Ilmiah yang berjudul: “ASUHAN KEPERAWATAN PADA NY. M DENGAN NYERI AKUT PADA DIAGNOSA MEDIS HIPERTENSI DI DESA SIDOGIRI KRATON KABUPATEN PASURUAN” adalah bukan Karya Tulis Ilmiah orang lain baik sebagian atau keseluruhan, kecuali dalam bentuk kutipan yang telah disebutkan sumbernya.

Demikian surat pernyataan ini saya buat dengan sebenar-benarnya, tanpa ad`anya tekanan dan paksaan dari pihak mana pun serta bersedia mendapat sanksi akademik jika ternyata di kemudian hari pernyataan ini tidak benar.

Pasuruan, 27 Mei 2021 Yang Menyatakan,

Safrin Zuhroidah.

NIM. 1801129 Mengetahui,

Pembimbing 1 Pembimbing 2

Ns. Kusuma Wijaya Ridi Putra, S.Kep.,MNS Ns. Nurul Huda, S.Kep.,S.Psi.,M.Si NIDN. 0731108603 NIDN. 342097001

(4)

iv Nama : Safrin Zuhroidah

Judul : ASUHAN KEPERAWATAN PADA NY. M DENGAN NYERI AKUT PADA DIAGNOSA MEDIS HIPERTENSI DI DESA SIDOGIRI KRATON KABUPATEN PASURUAN

Telah disetujui untuk diujikan dihadapan Dewan Penguji Karya Tulis Ilmiah pada tanggal : 27 Mei 2021

Oleh :

Pembimbing 1 Pembimbing 2

Ns. Kusuma Wijaya Ridi Putra, S.Kep.,MNS Ns. Nurul Huda, S.Kep.,S.Psi.,M.Si NIDN. 0731108603 NIDN. 342097001

Mengetahui, Direktur

Politeknik Kesehatan Kerta Cendekia Sidoarjo

Agus Sulistyowati, S.Kep., M.Kes NIDN. 0703087801

(5)

v

Telah di uji dan di setujui oleh Tim Penguji pada sidang Karya Tulis Ilmiah di Program DIII Keperawatan di Politeknik Kesehatan Kerta Cendekia Sidoarjo.

Tanggal : 27 Mei 2021

TIM PENGUJI

Tanda Tangan

Ketua : Ns. Agus Sulistyowati, S. Kep., M.Kes ……….

Anggota : 1. Ns. Nurul Huda, S.Kep, S.Psi., M.Si ……….

2. Ns. Kusuma Wijaya Ridi Putra, S.Kep.,MNS ……….

Mengetahui, Direktur

Akademi Keperawatan Kerta Cendekia Sidoarjo

Agus Sulistyowati, S.Kep., M.Kes NIDN. 0703087801222

(6)

vi

Terkadang kita sering tertukar untuk menentukan sebuah batas.

Menggunakan batas maksimal nikmat untuk bersyukur, dan menggunakan batas minimal musibah untuk bersabar.

Kita baru bersyukur ketika mendapatkan nikmat yang sangat besar, tetapi mengeluh ketika mendapa-t musibah yang begitu

kecil.

Padahal selayaknya, kita harus selalu bersyukur atas nikmat sekecil apapun, dan berusaha selalu bersabar untuk musibah

sekbesar apapun.

(7)

vii

Syukur Alhamdulillah senantiasa saya panjatkan kehadirat Allah SWT, yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya sehingga Laporan Tugas Akhir ini dapat terselesaiakan.

Isi pikiran yang tersampikan dalam karya ini saya persembahkan untuk :

1. Kedua orang tua saya, terima kasih kalian selalu memberikan saya kekuatan dalam menjalani studi ini dan selalu mendoakan saya dalam segala hal urusan Dunia dan Akhirat saya.

2. Kepada Mas Ali terimakasih telah membantu dan mensupport agar saya selalu berusaha untuk tidak menyerah menyelesaikan tugas kuliah maupun tugas akhir ini.

3. Terima kasih kepada bapak ibu dosen yang selalu membimbing saya dalam penyelesaian tugas akhir dan masukan serta saran yang dapat membangun untuk penyelesaian tugas akhir saya

4. Terima kasih kepada teman saya dan sahabat saya ( Elisah, Pipit, Salasa, Firliana, Rikha, Tiya,Yenny, Evi) kalian yang selalu memberikan semangat serta dukungan dan semoga dilancarkan semua yang kalian inginkan, Aamiin.

5.

Teman seperjuangan seangkatan saya terimakasih kalian telah melalui hal yang sama dan kita bersama – sama menjalani studi, penyelesaian tugas akhir sehingga berada di titik ini semoga ilmu yang kita dapatkan selama kita menjalani studi ini menjadi ilmu yang barokah dan di ridhoi Allah SWT.

(8)

viii

Syukur Alhamdulillah kami panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat, taufik serta hidayah-Nya, sehingga dapat menyelesaikan Karya Tulis Ilmiah dengan judul “ASUHAN KEPERAWATAN PADA NY. M DENGAN NYERI AKUT PADA DIAGNOSA MEDIS HIPERTENSI DI DESA SIDOGIRI KRATON KABUPATEN PASURUAN” ingin dengan tepat waktu sebagai sebagai persyaratan akademik dalam menyelesaikan Program DIII Keperawatan di Politeknik Kesehatan Kerta Cendekia Sidoarjo.

Penulisan Karya Tulis Ilmiah ini tidak terlepas dari bantuan dan bimbingan dari berbagai pihak, untuk itu saya mengucapkan banyak terima kasih kepada :

1. Tuhan Yang Maha Esa yang senantiasa memberikan rahmat-Nya sehingga Karya Tulis Ilmiah ini selesai dengan baik

2. Ayah, Ibu, dan saudara tercinta yang telah memberi semangat dan motivasi dalam penyelesaian Karya Tulis Ilmiah

3. Ibu Agus Sulistyowati,S.Kep., M.Kes selaku Direktur Program DIII Keperawatan Politeknik Kesehatan Kerta Cendekia Sidoarjo

4. Bapak Ns. Nurul Huda,S.Kep,S.Psi.,M.Si selaku Dosen Pembimbing Akademik yang telah membimbing dan memberikan motivasi selama pelaksanaan studi

5. Ibu Ns. Ida Zuhroidah,S.Kep.,M.Kes selaku Dosen Pembimbing Akademik yang telah membimbing dan memberikan motivasi selama pelaksanaan studi

6. Bapak dan Ibu responden yang telah membantu saya dalam penyusunan Laporan Tugas Akhir ini

7. Teman-teman mahasiswa program studi DIII Keperawatan Politeknik Kesehatan Kerta Cendekia Sidoarjo dan seluruh pihak yang telah membantu kelancaran penelitian ini

8. Pihak-pihak yang turut berjasa dalam penyusunan Karya Tulis Ilmiah ini yang tidak bisa disebutkan satu persatu. Penulis sadar bahwa Karya Tulis Ilmiah ini belum mencapai kesempurnaan, sebagai bekal perbaikan,

(9)

ix Karya Tulis Ilmiah ini.

Penulis berharap Karya Tulis Ilmiah ini bermanfaat bagi pembaca dan bagi keperawatan

Pasuruan, 27 Mei 2021 Penulis,

Safrin Zuhroidah NIM. 1801129

(10)

x

Sampul Depan ... i

Lembar Judul ... ii

Lembar Pernyataan... iii

Lembar Persetujuan ... iv

Halaman Pengesahan ... v

Halaman Motto... vi

Halaman Persembahan ... vii

Kata Pengantar ... viii

Daftar Isi... x

Daftar Tabel ... xii

Daftar Gambar ... xiii

Daftar Lampiran ... xiv

BAB 1 PENDAHULUAN ... 1

1.1 Latar Belakang ... 1

1.2 Rumusan Masalah ... 3

1.3 Tujuan Penelitian ... 3

1.3.1 Tujuan Umum ... 3

1.3.2 Tujuan Khusus ... 3

1.4 Manfaat Penelitian ... 4

1.5 Metode Penulisan ... 5

1.5.1 Metode ... 5

1.5.2 Teknik Pengumpulan Data ... 5

1.5.3 Sumber Data ... 5

1.5.4 Studi Kepustakaan ... 6

1.6 Sistematika Penulisan ... 6

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA ... 8

2.1 Konsep Penyakit Hipertensi ... 8

2.1.1 Definisi Hipertensi ... 8

2.1.2 Anatomi Jantung ... 9

2.1.3 Etiologi Hipertensi ... 10

2.1.4 Klasifikasi Hipertensi ... 10

2.1.5 Manifestasi Klinis Hipertensi ... 12

2.1.6 Patofisiologi Hipertensi ... 13

2.1.7 Komplikasi Hipertensi ... 14

2.1.8 Pemeriksaan Penunjang Hipertensi ... 15

2.1.9 Penatalaksanaan Hipertensi ... 16

2.2 Konsep Dasar Lansia ... 17

2.2.1 Definisi Lansia ... 17

2.2.2 Kelompok Lansia ... 19

2.2.3 Klasifikasi Lansia ... 19

2.2.4 Karakteristik Lansia ... 19

2.3 Asuhan Keperawatan ... 20

2.3.1 Pengkajian ... 20

(11)

xi

2.3.2 Diagnosa Keperawatan ... 24

2.3.3 Intervensi Keperawatan ... 28

2.3.4 Implementasi ... 39

2.3.5 Evaluasi ... 39

2.4 Kerangka Masalah... 40

BAB 3 TINJAUAN KASUS ... 41

3.1 Pengkajian ... 41

3.1.1 Data Umum ... 41

3.1.2 Riwayat dan Tahap Perkembangan Keluarga ... 43

3.1.3 Data Lingkungan ... 44

3.1.4 Struktur Keluarga ... 45

3.1.5 Fungsi Keluarga ... 47

3.1.6 Stres dan Koping Keluarga ... 48

3.1.7 Pemeriksaan Fisik ... 49

3.2 Analisa Data ... 51

3.3 Diagnosa Keperawatan ... 52

3.4 Prioritas Masalah ... 52

3.5 Intervensi Keperawatan ... 54

3.6 Implementasi Keperawatan ... 56

3.7 Evaluasi Keperawatan ... 60

BAB 4 PEMBAHASAN ... 66

4.1 Pengkajian ... 66

4.2 Diagnosa Keperawatan... 67

4.3 Intervensi Keperawatan ... 68

4.4 Implementasi Keperawatan ... 70

4.5 Evaluasi Keperawatan ... 70

BAB 5 PENUTUP ... 74

5.1 Kesimpulan ... 74

5.2 Saran ... 76

DAFTAR PUSTAKA ... 77

LAMPIRAN 1 ... 79

LAMPIRAN 2 ... 82

LAMPIRAN 3 ... 83

LAMPIRAN 4 ... 84

LAMPIRAN 5 ... 85

(12)

xii

No. Tabel Judul Tabel Halaman

Tabel 2.1.Klasifikasi Tekanan Darah Sistolik dan Diastolik ... 11

Tabel 2.3 Intervensi Keperawatan ... 29

Tabel 3.1 Komposisi Keluarga ... 41

Tabel 3.2 Pemeriksaan Fisik Ny. M ... 51

Tabel 3.3 Analisa Data ... 53

Tabel 3.4 Daftar Diagnosa Keperawatan ... 54

Tabel 3.5 Intervensi Keperawatan ... 56

Tabel 3.6 Implementasi Keperawatan ... 59

Tabel 3.7 Evaluasi Keperawatan ... 64

(13)

xiii

No. Gambar Judul Gambar Halaman

Gambar 2.1. Anatomi Jantung normal 9

Gambar 3.1 Genogram Keluarga Ny. M 42

Gambar 3.2 Denah Rumah Keluarga Ny. M 45

(14)

xiv

No. Lampiran Judul Lampiran Halaman

Lampiran 1. Satuan Acara Penyuluhan ... 79

Lampiran 2. Lembar Permohonan Izin Penelitian ... 82

Lampiran 3. Lembar Informed Consent ... 83

Lampiran 4 Lembar Konsultasi Bimbingan (Pembimbing 1) ... 84

Lampiran 5 Lembar Konsultasi Bimbingan (Pembimbing 2) ... 85

(15)

1 BAB 1 PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Hipertensi adalah tekanan darah persisten dimana tekanan sistoliknya di atas 140 mmHg dan tekanan diastoliknya di atas 90 mmHg. Hipertensi merupakan masalah global yang menjadi penyebab utama gagal jantung, stroke, dan gagal ginjal (Brunner dan Suddarth, 2014). Penyakit hipertensi biasanya disebabkan karena tekanan sistolik dan diastoliknya diatas batas normal dan gaya hidup yang tidak sehat. Seorang yang menderita hipertensi biasanya menimbulkan masalah keperawatan nyeri akut, dan apabila masalah tersebut tidak di tangani dengan baik bisa menimbulkan penyakit stroke, gagal ginjal dan jantung.

Berdasarkan Data World Health Organization (WHO) 2015 mengatakan bahwa prefalensi hipertensi di dunia mencapai sekitar 1,13 miliyar individu, artinya 1 dari 3 orang di dunia terdiagnosis hipertensi. Jumlah penderita hipertensi di perkirakan akan terus meningkat mencapai 1,5 miliyar individu pada tahun 2025 dengan mencapai kematian 9,4 juta induvidu. Menurut Data Riset Kesehatan Dasar (2018), pravalensi kejadian hipertensi adalah 34,1%

hasil tersebut merupakan kejadian hipertensi berdasarkan hasil pengukuran tekanan darah pada masyarakat Indonesia berusia 18 tahun keatas (Kementrian Kesehatan RI, 2018). Dan diprovinsi Jawa Timur sebesar 37,4%. Data di RSUD Bangil Pasuruan mencatat jumlah pasien dengan

(16)

2

Hipertensi mulai bulan januari 2017 sampai dengan bulan desember 2017 mencapai 789 pasien yang mengalami hipertensi.

Data tersebut akan semakin bertambah jika tidak adanya identifikasi faktor risiko terjadinya hipertensi tersebut sehingga tidak ada tindakan preventif untuk mencegah terjadinya angka prevalensi hipertensi yang cukup tinggi (Suharto, 2020). Orang lanjut usia pada pada umumnya mempunyai potensi terjadinya tekanan darah tinggi. Selain itu, kondisi ini juga terjadi karena dinding arteri lansia telah menebal dan kaku karena arteriosclerosis sehingga darah dipaksa untuk melalui pembuluh yang sempit daripada biasanya dan menyebabkan naiknya tekanan. Penyakit tekanan darah tinggi atau hipertensi tersebut kini semakin sering dijumpai pada orang lanjut usia, sejalan dengan itu lansia penderita hipertensi sering mengurangi aktivitas fisiknya karena penurunan fungsi degenerative (Aktifitas et al., 2017). Peneltian yang dilakukan oleh Kartikasari, A.N bahwa terdapat hubungan antara perilaku merokok dengan kejadian hipertensi di mana nilai Pvalue 0,010; OR=9,537 dan CI 95% 1,728-52,63.

Penelitian tersebut menunjukkan lansia yang berperilaku merokok 9 kali lebih beresiko daripada yang tidak merokok. Tembakau memiliki efek yang sangat besar dalam meningkatakan tekanan darah, hal ini karena adanya kandungan zat kimia dalam tembakau seperti nikotin dapat meningkatkan tekanan darah pada seseorang hanya dengan sekali hisap. Pola aktivitas atau olahraga dalam kehidupan sehari-hari turut berperan untuk menjaga kesehatan tubuh. Orang yang jarang berolahraga akan mengalami risiko terkena hipertensi sebesar 4,7 kali dibandingkan orang yang sering melakukan olahraga. Hal ini berhubungan dengan

(17)

kelenturan pembuluh darah dan berkaitan dengan kerja otot jantung (Morawa, 2020)

Mengatasi nyeri kepala pada hipertensi dapat dilakukan untuk pasien merasa aman dan nyaman, yaitu dengan terapi non farmakologi dan terapi farmakologi. Memberikan terapi nonfarmakologis, seperti mengatur diet, teknik distraksi dan relaksasi dan perlu adanya kontrol lingkungan yang memperberat rasa nyeri seperti suhu ruangan, pencahayaan, dan kebisingan serta istirahat dan tidur yang cukup atau berkualitas. Beberapa terapi farmakologi antara lain obat analgesik seperti amlodipine. Upaya yang dilakukan secara komprehensif dengan menggunakan pendekatan proses keperawatan antara lain dengan memberikan pendidikan kesehatan untuk meningkatkan status kesehatan klien dengan cara memberikan penyuluhan-penyuluhan mengenai penyakit hipertensi.

1.2 Rumusan Masalah

Untuk mengetahui lebih lanjut dari perawatan penyakit ini maka penulis akan melakukan kajian lebih lanjut dengan melakukan asuhan keperawatan hipertensi dengan membuat rumusan masalah sebagai berikut “Bagaimanakah Asuhan Keperawatan pada Ny. M dengan nyeri akut pada diagnosa medis hipertensi di Desa Sidogiri Kraton Kabupaten Pasuruan?”

1.3 Tujuan Penelitian 1.3.1 Tujuan Umum

Mahasiswa mampu mengidentifikasi asuhan keperawatan pada Ny. M dengan nyeri akut pada diagnosa medis hipertensi di Desa Sidogiri Kraton Kabupaten Pasuruan.

1.3.2 Tujuan Khusus

(18)

1.3.1 Melakukan pengkajian pada Ny. M dengan nyeri akut pada diagnosa medis hipertensi di Desa Sidogiri Kraton Kabupaten Pasuruan.

1.3.2 Merumuskan diagnosa keperawatan pada Ny. M dengan nyeri akut pada diagnosa medis hipertensi di Desa Sidogiri Kraton Kabupaten Pasuruan.

1.3.3 Merencanakan asuhan keperawatan pada Ny. M dengan nyeri akut pada diagnosa medis hipertensi di Desa Sidogiri Kraton Kabupaten Pasuruan.

1.3.4 Melaksanakan tindakan asuhan keperawatan pada Ny. M dengan nyeri akut pada diagnosa medis hipertensi di Desa Sidogiri Kraton Kabupaten Pasuruan.

1.3.5 Mengevaluasi asuhan keperawatan pada Ny. M dengan nyeri akut pada diagnosa medis hipertensi di Desa Sidogiri Kraton Kabupaten Pasuruan.

1.4 Manfaat Penelitian

Terkait dengan tujuan, maka tugas akhir ini diharapkan dapat memberi manfaat:

1.4.1 Akademis

Hasil studi kasus ini merupakan sumbangan bagi ilmu pengetahuan khususnya dalam hal asuhan keperawatan pada pasien hipertensi.

1.4.2 Secara praktis, tugas akhir ini akan bermanfaat bagi.

1.4.3 Bagi pelayanan keperawatan di rumah sakit

Hasil studi kasus ini, dapat menjadi masukan bagi pelayanan di Desa Sidogiri Kraton Kabupaten Pasuruan agar dapat melakukan asuhan keperawatan pada pasien hipertensi dengan baik

1.4.4 Bagi peneliti,

Hasil penelitian ini dapat menjadi salah satu rujukan bagi peneliti

(19)

berikutnya, yang akan melakukan studi kasus pada asuhan keperawatan pada pasien dengan diagnosa hipertensi.

1.4.5 Bagi profesi kesehatan

Sebagai tambahan ilmu bagi profesi keperawatan dan memberikan pemahaman yang lebih baik tentang asuhan keperawatan pada pasien dengan hipertensi.

1.5 Metode Penulisan 1.5.1 Metode

Metode deskriptif yaitu metode yang sifatnya mengungkapkan peristiwa atau gejala yang terjadi pada waktu sekarang yang meliputi studi kepustakaan yang mempelajari, mengumpulkan, membahas data dengan studi pendekatan proses keperawatan dengan langkah-langkah pengkajian, diagnosis, perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi.

1.5.2 Teknik Pengumpulan Data 1.5.2.1 Wawancara

Data diambil/diperoleh melalui percakapan baik dengan klien, keluarga maupun tim kesehatan lain.

1.5.2.2 Observasi

Data yang diambil melalui pengamatan kepada klien 1.5.2.3 Pemeriksaan

Meliputi pemeriksaan fisik dan laboraturium yang dapat menunjang menegakkan diagnose dan penanganan selanjutnya.

1.5.3 Sumber Data 1.5.3.1 Data primer

(20)

Data primer adalah data yang diperoleh dari klien 1.5.3.2 Data sekunder

Data sekunder adalah data yang diperoleh dari keluarga atau orang terdekat klien, catatan medik perawat, hasil-hasil pemeriksaan dan tim kesehatan lain

1.5.4 Studi Kepustakaan

Studi kepustakaan yaitu mempelajari buku sumber yang berhubungan dengan judul studi kasus dan masalah yang dibahas.

1.6 Sistematika Penulisan

Supaya lebih jelas dan lebih mudah dalam mempelajari dan memahami studi kasus ini, secara keseluruhan di bagi menjadi tiga bagian, yaitu :

1.6.1 Bagian awal

Memuat halaman judul, persetujuan pembimbing, pengesahan, motto dan persembahan, kata pengantar, daftar isi.

1.6.2 Bagian inti

Terdiri dari lima bab, yang masing-masing bab terdiri dari sub bab berikut ini :

Bab I : pendahuluan, berisi latar belakang masalah, tujuan, manfaat penelitian, sistematika penulisan studi kasus.

Bab II : Tinjauan pustaka, berisi tentang konsep penyakit dari sudut pandang medis dan asuhan keperawatan klien dengan diagnosa hipertensi serta kerangka masalah.

Bab III : Tinjauan kasus berisi tentang diskripsi data hasil pengkajian, diagnose, perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi.

(21)

Bab IV : Pembahasan berisi tentang perbandingan antara teori dengan kenyataan yang ada di lapangan.

Bab V : Penutup, berisi tentang simpulan dan saran.

1.6.3 Bagian akhir, teridiri dari daftar pustaka dan lampiran.

(22)

8 BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

Dalam bab 2 ini akan diuraikan secara teoritis mengenai konsep dan asuhan keperawatan komplikasi hipertensi. Konsep ini akan diuraikan definisi, etiologi, dan cara penanganan secara medis. Asuhan keperawatan akan diuraikan masalah-masalah yang muncul pada komplikasi hipertensi dengan melakukan asuhan keperawatan terdiri dari pengkajian, diagnosa, perencanaan, pelaksaaan, evaluasi.

2.1 Konsep Penyakit Hipertensi 2.1.1 Definisi

Tekanan darah merupakan kekuatan atau tekanan sirkulasi darah yang diberikan terhadap dinding pembuluh darah utama tubuh yakni arteri. Hipertensi adalah kondisi ketika tekanan sirkulasi darah terlalu tinggi (Priajaya & Sirait, 2019). Hipertensi atau tekanan darah tinggi adalah kondisi meningkatnya tekanan darah sistolik di atas 140 mmHg dan tekanan darah diastolik di atas 90 mmHg dalam dua kali pengukuran yang dilakukan pada selang waktu lima menit dalam keadaan cukup istirahat/tenang. Peningkatan tekanan darah yang tidak terdeteksi sedini mungkin dan berlangsung dalam jangka waktu lama serta tidak memperoleh pengobatan yang optimal dapat menimbulkan kerusakan pada ginjal (gagal ginjal), jantung (penyakit jantung koroner) dan otak (stroke) (Kemenkes 2017).

(23)

2.1.2 Anatomi Jantung

Jantung (bahasa Latin: cor) adalah sebuah rongga, rongga organ berotot yang memompa darah lewat pembuluh darah oleh kontraksi berirama yang berulang. Darah menyuplai okisgen dan nutrisi pada tubuh, juga membantu menghilangkan sisa-sisa metabolisme. Istilah kardiak berarti berhubungan dengan jantung, dari kata Yunani cardia untuk jantung. Jantung adalah salah satu organ manusia yang berperan dalam sistem peredaran darah, terletak di rongga dada agak sebelah kiri.

Gambar 1. Jantung normal.

Jantung mempunyai empat ruang yaitu atrium kanan, atrium kiri, ventrikel kanan, dan ventrikel kiri. Atrium adalah ruangan sebelah atas jantung dan berdinding tipis, sedangkan ventrikel adalah ruangan sebelah bawah jantung.

dan mempunyai dinding lebih tebal karena harus memompa darah ke seluruh tubuh.

(24)

Atrium kanan berfungsi sebagai penampung darah rendah oksigen dari seluruh tubuh. Atrium kiri berfungsi menerima darah yang kaya oksigen dari paru-paru dan mengalirkan darah tersebut ke paru-paru. Ventrikel kanan berfungsi menerima darah dari atrium kanan dan memompakannya ke paru-paru.ventrikel kiri berfungsi untuk memompakan darah yang kaya oksigen keseluruh tubuh.

Jantung juga terdiri dari tiga lapisan yaitu lapisan terluar yang merupakan selaput pembungkus disebut epikardium, lapisan tengah merupakan lapisan inti dari jantung terdiri dari otot-otot jantung disebut miokardium dan lapisan terluar yang terdiri jaringan endotel disebut endocardium.

2.1.3 Etiologi Hipertensi

Berdasarkan penyebab hipertensi dibagi menjadi 2 golongan :

2.1.3.1 Hipertensi esensial atau primer

Penyebab pasti dari hipertensi esensial belum dapat diketahui,sementara penyebab sekunder dari hipertensi esensial jugatidak ditemukan. Pada hipertensi esensial tidak ditemukan penyakit renivaskuler, gagal ginjal maupun penyakit lainnya, genetik serta ras menjadi bagian dari penyebab timbulnya hipertensi esensial termasuk stress, intake alkohol moderat, merokok, lingkungan dan gaya hidup (Triyanto, 2014).

2.1.3.2 Hipertensi sekunder

Hipertensi sekunder penyebabnya dapat diketahui seperti kelainan pembuluh darah ginjal, gangguan kelenjar tiroid (hipertiroid), hiperal dosteronisme, penyakit parenkimal (Buss dan Labus, 2013).

2.1.4 Klasifikasi Hipertensi

(25)

Klasifikasi hipertensi berdasarkan tekanan darah sistolik dan tekanan darah diastolik dibagi menjadi empat klasifikasi, klasifikasi tersebut dapat dilihat pada tabel 2.1.4.1

Tabel 2.1 Klasifikasi Tekanan Darah Sistolik dan Diastolik

Klasifikasi Tekanan Darah pada Orang Dewasa Sebagai Patokan dan Diagnosis Hipertensi (mmHg)

Kategori Tekanan darah Sistolik Diastolik

Normal < 120 mmHg <80 mmHg

Prehipertensi 120-129 mmHg <80 mmHg

Hipertensi stadium I 130-139 mmHg 80-89 mmHg

Hipertensi stadium II ≥140 mmHg ≥90 mmHg

(Sumber : Smeltzer, et al, 2012)

Hipertensi juga dapat diklasifikasikan berdasarkan tekanan darah pada orang dewasa menurut Triyanto (2014), adapun klasifikasi tersebut dapat dilihat pada tabel 2.1.4.2

Tabel 2.2 Klasifikasi berdasarkan tekanan darah pada orang dewasa

Klasifikasi Tekanan Darah pada Orang Dewasa Sebagai Patokan dan Diagnosis Hipertensi (mmHg)

Kategori Tekanan darah Sistolik Diastolik

Normal < 130 mmHg <90 mmHg

Normal Tinggi 130-139 mmHg 85-89 mmHg

Stadium 1 (ringan) 140-159 mmHg 90-99 mmHg

Stadium 2 (sedang) 160-179 mmHg 100-109 mmHg

Stadium 3 (berat) 180-209 mmHg 110-119 mmHg

Stadium 4 (maligna) >210 mmHg >120 mmHg

Sumber :(Triyanto, 2014)

(26)

2.1.5 Manifestasi Klinis Hipertensi

Manisfestasi klinik menurutArdiansyah (2012) muncul setelah penderita mengalami hipertensi selama bertahun-tahun, gejalanya antara lain:

2.1.5.1 Terjadi kerusakan susunan saraf pusat yang menyebabkan ayunan langkah tidak mantap.

2.1.5.2 Nyeri kepala oksipital yang terjadi saat bangun dipagi hari karena peningkatan tekanan intrakranial yang disertai mual dan muntah.

2.1.5.3 Epistaksis karena kelainan vaskuler akibat hipertensi yang diderita.

2.1.5.4 Sakit kepala, pusing dan keletihan disebabkan oleh penurunan perfusi darah akibat vasokonstriksi pembuluh darah.

2.1.5.5 Penglihatan kabur akibat kerusakan pada retina sebagai dampak hipertensi.

2.1.5.6 Nokturia (peningkatan urinasi pada malam hari) akibat dari peningkatan aliran darah ke ginjal dan peningkatan filtrasi oleh glomerulus.

Hipertensi sering ditemukan tanpa gejala (asimptomatik), namun tanda- tanda klinis seperti tekanan darah yang menunjukkan kenaikan pada dua kali pengukuran tekanan darah secara berturutan dan bruits (bising pembuluh darah yang terdengar di daerah aorta abdominalis atau arteri karotis, arteri renalis dan femoralis disebabkan oleh stenosis atau aneurisma) dapat terjadi.

Jika terjadi hipertensi sekunder, tanda maupun gejalanya dapat berhubungan dengan keadaan yang menyebabkannya. Salah satu contoh penyebab adalah sindrom cushing yang menyebabkan obesitas batang tubuh dan striae berwarna kebiruan, sedangkan pasien feokromositoma mengalami sakit

(27)

kepala, mual, muntah,palpitasi, pucat dan perspirasi yang sangat banyak (Kowalak, Weish, &Mayer, 2011).

2.1.6 Patofisiologi Hipertensi

Mekanisme yang mengontrol kontriksi dan relaksasi pembuluh darah terletak dipusat vasomotor medulla otak. Rangsangan pusat vasomotor yang dihantarkan dalam bentuk impuls bergerak menuju ganglia simpatis melalui saraf simpatis. Saraf simpatis bergerak melanjutkan ke neuron preganglion untuk melepaskan asetilkolin sehingga merangsang saraf pascaganglion bergerak ke pembuluh darah untuk melepaskan norepineprin yang mengakibatkan kontriksi pembuluh darah. Mekanisme hormonal sama halnya dengan mekanisme saraf yang juga ikut bekerja mengatur tekanan pembuluh darah(Smeltzer &Bare, 2008).

Mekanisme ini antara lain :

2.1.6.1 Mekanisme vasokonstriktor norepineprin-epineprin

Perangsangan susunan saraf simpatis selain menyebabkan eksitasi pembuluh darah juga menyebabkan pelepasan norepineprin dan epineprin oleh medulla adrenal ke dalam darah. Hormon norepineprin dan epineprin yang berada di dalam sirkulasi darahakan merangsang pembuluh darah untuk vasokonstriksi. Faktor seperti kecemasan dan ketakutan dapat mempengaruhi respon pembuluh darah terhadap rangsang vasokonstriktor (Saferi &Mariza, 2013).

2.1.6.2 Mekanisme vasokonstriktor renin-angiotensin

Renin yang dilepaskan oleh ginjal akan memecah plasma menjadi substrat renin untuk melepaskan angiotensin I, kemudian dirubah menjadi angiotensin II yang merupakan vasokonstriktor kuat. Peningkatan tekanan

(28)

darah dapat terjadi selama hormon ini masih menetap didalam darah (Guyton, 2012).

Perubahan struktural dan fungsional pada sistem pembuluh darah perifer memiliki pengaruh pada perubahan tekanan darah yang terjadi pada lanjut usia (Smeltzer & Bare, 2008). Perubahan struktural danfungsional meliputi aterosklerosis, hilangnya elastisitas jaringan ikat dan penurunan kemampuan relaksasi otot polos pembuluh darah akan menurunkan kemampuan distensi dan daya regang pembuluh darah, sehingga menurunkan kemampuan aorta dan arteri besar dalam mengakomodasi volume darah yang dipompa oleh jantung (volume sekuncup), mengakibatkan penurunan curah jantung dan peningkatan tahanan perifer (Saferi & Mariza, 2013).

2.1.7 Komplikasi Hipertensi

Komplikasi pada penderita hipertensi menurut Corwin (2009) menyerang organ-organ vital antar lain :

2.1.7.1 Jantung

Hipertensi kronis akan menyebabkan infark miokard, infarkmiokard menyebabkan kebutuhan oksigen pada miokardium tidak terpenuhi kemudian menyebabkan iskemia jantung serta terjadilah infark

2.1.7.2 Ginjal

Tekanan tinggi kapiler glomerulus ginjal akan mengakibatkan kerusakan progresif sehingga gagal ginjal. Kerusakan pada glomerulus menyebabkan aliran darah ke unit fungsional juga ikut terganggu sehingga tekanan osmotik menurun kemudian hilangnya kemampuan pemekatan urin yang menimbulkan nokturia.

(29)

2.1.7.3 Otak

Tekanan tinggi di otak disebabkan oleh embolus yang terlepas dari pembuluh darah di otak, sehingga terjadi stroke.Stroke dapat terjadi apabila terdapat penebalan pada arteri yang memperdarahi otak, hal ini menyebabkan aliran darah yang diperdarahi otak berkurang.

2.1.8 Pemeriksaan Penunjang Hipertensi

Pemeriksaan penunjang pada klien hipertensi adalah sebagai berikut : 2.1.8.1 Hematokrit

Pada penderita hipertensi kadar hematokrit dalam darah meningkat seiring dengan meningkatnya kadar natrium dalam darah. Pemeriksaan hematokrit diperlukan juga untuk mengikuti perkembangan pengobatan hipertensi.

2.1.8.2 Kalium serum

Peningkatan kadar kalsium serum dapat meningkatkan hipertensi.

2.1.8.3 Kreatinin serum

Hasil yang didapatkan dari pemeriksaan kreatinin adalah kadar kreatinin dalam darah meningkat sehingga berdampak pada fungsi ginjal.

2.1.8.4 Urinalisa

Darah, protein, glukosa mengisyaratkan disfungsi ginjal dan / adanya diabetes.

2.1.8.5 Elektrokardiogram

Peambesaran ventrikel kiri dan gambaran kardiomegali dapat dideteksi dengan pemeriksaan ini. Dapat juga menggambarkan apakah hipertensi telah lama berlangsung. (Tom Smith, 1991)

(30)

2.1.9 Penatalaksanaan Hipertensi

Penatalaksanaan ataupun penanganan pada klien dengan hipertensi secara garis besar dibagi menjadi 2 jenis penatalaksanaan yaitu : 2.1.9.1 Penatalaksanaan farmakologis (Isserbacher, 1999)

a) Diuretik seperti : tiazid, furosemia, spironokiktan, triamteren, anillorid.

b) Obat antiadrinergik seperti klonidin, guonabenz, guanfasin, trimetafan, reserpin, guantidin, fentolamin prapanol, timololol dan lain-lain.

c) Vasodilator seperti hidralazin, minaksidil, dianoksid, nitropusid. Pada hipertensi penggunaan dosis dibatasi sampai 300mg/hari.

d) Inhibitor enzim pengubah angiotisin, seperti : kaptoril, Benezebril, ramipril, enalapril, dan lain-lain.

e) Antagonis saluran kalsium seperti : nifedemin, diltiazom, verapamil, dan lain-lain.

2.1.9.2 Penatalaksanaan non-farmalogis a) Perubahan gaya hidup.

Gaya hidup yang baik dan sehat merupakan upaya untuk menghindari terjangkitnya hipertensi ataupun timbulya komplikasi. Pada hipertensi ringan dan sedang, seperti menghentikan merokok, olah raga secara teratur dan dinamik (yang tidak memerlukan tenaga terlalu banyak), misalnya berenang, jogging, jalan kaki cepat, naik sepeda. Hipertensi

(31)

berat seperti berhenti merokok, minum alkohol, menurunkan asupan garam perhari. (Purwati, 1998)

b) Diet

Hipertensi ringan ( diit rendah garam 1) Mengkonsumsi garam

½ sendok makan perhari, konsumsi kecap, MSG ½ sendok makan perhari.

Hipertensi sedang (diit rendah garam II) Mengkosumsi garam¼ sendok makan perhari, Konsumsi kecap, MSG

¼sendok makan perhari

Hipertensi barat (diit rendah garam III) tidak boleh menkonsumsi garam, kecap MSG. (Isselbacher,1999)

c) Upaya menghilangkan atau menghindari stress dapat dalakukan seperti : meditasi, yoga, hipnotis yang dapat mengontrol sistem saraf otonom dan menurunkan hipertensi.

(Soeparman,1999)

d) Berat badan yang berlebihan atau obesitas merupakan faktor resiko terjadinya hipertensi, sehingga upaya peurunan BB pada obesitas sangat penting. (Purwati, 1998) Disamping itu upaya menurunkan BB juga dapat meningkatkan efektivitas pengobatan farmakologis. (Soeparman, 1999)

2.2 Konsep Dasar Lansia 2.2.1 Definisi Lansia

Lansia (lanjut usia) adalah seseorang yang telah memasuki tahapan akhir dari fase kehidupan. Kelompok yang dikategorikan lansia ini akan mengalami

(32)

suatu proses yang disebut Aging Process atau proses penuaaan. (Wahyudi, 2008).

Menua adalah suatu keadaan yang terjadi di dalam kehidupan manusia. Proses menua merupakan proses sepanjang hidup, tidak hanya dimulai dari suatu waktu tertentu, tetapi dimulai sejak permulaan kehidupan. Menjadi tua merupakan proses alamiah yang berarti seseorang telah melalui tiga tahap kehidupan yaitu anak, dewasa dan tua (Nugroho, 2006 dalam Kholifah, 2016).

Lansia merupakan tahap akhir dari proses penuaan. Proses menjadi tua akan dialami oleh setiap orang. Masa tua merupakan masa hidup manusia yang terakhir, dimana pada masa ini seseorang akan mengalami kemunduran fisik, mental dan social secara bertahap sehingga tidak dapat melakukan tugasnya sehari-hari (tahap penurunan). Penuaan merupakan perubahan kumulatif pada makhluk hidup, termasuk tubuh, jaringan dan sel, yang mengalami penurunan kapasitas fungsional. Pada manusia, penuaan dihubungkan dengan perubahan degeneratif pada kulit, tulang, jantung, pembuluh darah, paru-paru, saraf dan jaringan tubuh lainnya. Dengan kemampuan regeneratif yang terbatas, mereka lebih rentan terkena berbagai penyakit, sindroma dan kesakitan dibandingkan dengan orang dewasa lain (Kholifah, 2016).

Pada lansia akan mengalami proses hilangnya kemampuan jaringan untuk memperbaiki diri secara perlahan sehingga tidak dapat mempertahankan tubuh dari infeksi dan tidak mampu memperbaiki jaringan yang rusak (Constantinides, 1994 dalam Sunaryo, et.al, 2106)

2.2.2 Kelompok Lansia

Penggolongan lansia menurut Depkes dikutip dari Aziz (1994) (dalam Linda, 2011) menjadi tiga kelompok yakni:

(33)

2.2.2.1 Kelompok lansia dini (55-64 tahun), merupakan kelompok baru memasuki lansia.

2.2.2.2 Kelompok lansia (65 tahun ke atas)

2.2.2.3 Kelompok lansia resiko tinggi, yaitu lansia yang berusia lebih dari 70 tahun.

2.2.3 Klasifikasi Lansia

Menurut WHO (2013), klasifikasi lansia adalah sebagai berikut : 2.2.3.1 Usia pertengahan (middle age), yaitu kelompok usia 45-54 tahun.

2.2.3.2 Lansia (elderly), yaitu kelompok usia 55-65 tahun.

2.2.3.3 Lansia muda (young old), yaitu kelompok usia 66-74 tahun.

2.2.3.4 Lansia tua (old), yaitu kelompok usia 75-90 tahun.

2.2.3.5 Lansia sangat tua (very old), yaitu kelompok usia lebih dari 90 tahun 2.2.3 Karakteristik Lansia

2.2.4 Karakteristik lansia menurut Ratnawati (2017); Darmojo & Martono (2006) yaitu :

2.2.4.1 Usia

Menurut UU No. 13 tahun 1998 tentang kesejahteraan lanjut usia, lansia adalah seseorang yang telah mencapai usia diatas 60 tahun (Ratnawati, 2017).

2.2.4.2 Jenis Kelamin Data Kemenkes RI (2015), lansia didominasi oleh jenis kelamin

perempuan. Artinya, ini menunjukkan bahwa harapan hidup yang paling tinggi adalah perempuan (Ratnawati, 2017)

2.2.4.3 Status pernikahan

(34)

Berdasarkan Badan Pusat Statistik RI SUPAS 2015, penduduk lansia ditilik dari status perkawinannya sebagian besar berstatus kawin (60 %) dan cerai mati (37 %). Adapun perinciannya yaitu lansia perempuan yang berstatus cerai mati sekitar 56,04 % dari keseluruhan yang cerai mati, dan lansia laki-laki yang berstatus kawin ada 82,84 %. Hal ini disebabkan usia harapan hidup perempuan lebih tinggi dibandingkan dengan usia harapan hidup laki-laki, sehingga presentase lansia perempuan yang berstatus cerai mati lebih banyak dan lansia laki-laki yang bercerai umumnya kawin lagi (Ratnawati, 2017).

2.3 Asuhan Keperawatan 2.3.1 Pengkajian

Pengkajian merupakan tahap awal dari proses keperawatan. Pada tahap ini semua data dikumpulkan secara sistematis guna menentukan kesehatan klien.

Adapun pengkajian pada pasien hipertensi menurut Doengoes, et al (2001) adalah:

2.3.1 Pengumpulan data.

a. Identitas klien

Meliputi nama, umur (kebanyakan terjadi pada usia tua), jenis kelamin, pendidikan, alamat, pekerjaan, agama, suku bangsa.

b. Keluhan utama

Sering menjadi alasan klien untuk meminta pertolongan kesehatan adalah pusing, sakit kepala dan penurunan tingkat kesadaran

c. Riwayat kesehatan

1) Riwayat kesehatan dahulu

Apakah klien pernah mengalami sakit yang sangat berat.

(35)

2) Riwayat kesehatan sekarang

Beberapa hal yang harus di ungkapkan pada setiap gejala yaitu sakit kepala, kelelahan, pundak terasa berat.

3.) Riwayat kesehatan keluarga

Apakah keluarga pernah mengalami penyakit yang sama.

d. Aktivitas istirahat

1) Gejala : Kelelahan umum, kelemahan, letih, nafas pendek, gaya hidup monoton.

2) Tanda : Frekuensi jantung meningkat Perubahan irama jantung Takipnea

e. Sirkulasi

1) Gejala : Riwayat hipertensi, aterosklerosis, penyakit jantung coroner/katup dan penyakit serebro vaskuler. Episode palpitasi, perspirasi.

2) Tanda : Kenaikan TD (pengukuran serial dari kenaikan tekanan darah diperlukan untuk menegakkan diagnosis).

Hipotensi postural (mungkin berhubungan dengan regimen obat).

Frekuensi/irama: Takikardia, berbagai disritmia.

f. Integritas ego

1) Gejala : Riwayat perubahan kepribadian, ansietas, depresi, euphoria atau marah kronik (dapat mengindikasikan kerusakan serebral). Faktor-faktor stress multiple (hubungan, keuangan, yang berkaitan dengan pekerjaan).

2) Tanda : Letupan suasana hati, gelisah, penyempitan kontiniu

(36)

perhatian, tangisan yang meledak. Gerak tagan empati, otot muka tegang (khususnya sekitar mata), gerakan fisik cepat, pernapasan menghela, peningkatan pola bicara.

g. Eliminasi

1) Gejala : Gangguan ginjal sakit ini atau yang lalu (seperti infeksi/obstruksi atau riwayat penyakit ginjal masa yang lalu).

h. Makanan/Cairan

1) Gejala : Makanan yang disukai yang dapat mencakup makanan tinggi garam, tinggi lemak, tinggi kolestrol, kandungan tinggi kalori. Mual, muntah, perubahan berat badan akhir akhir ini (meningkatkan/menurun) Riwayat pengguna diuretik.

2) Tanda : Berat badan normal atau obesitas, adanya edema (mungkin umum atau tertentu), kongesti vena, DVJ, glikosuria (hampir 10% hipertensi adalah diabetik).

i. Neurosensori

1) Gejala : Keluhan pening/pusing, berdenyut, sakit kepala suboksipital (terjadi saat bangun dan menghilang secara spontan setelah beberapa jam), episode kebas atau kelemahan pada satu sisi tubuh, gangguan penglihatan (diplopia, penglihatan kabur), episode epistaksis.

2) Tanda :

Status mental: perubahan keterjagaan, orientasi, pola isi bicara, afek, proses fikir atau memori (ingatan). Respon motorik:

Penurunan kekuatan genggaman tangan dan/atau reflek tendon

(37)

dalam.

j. Nyeri/Ketidak nyamanan

1) Gejala : Angina (penyakit arteri coroner, keterlibatan jantung), nyeri hilang timbul pada tungkai/klaudikasi (indikasi arteriosclerosis pada arteri ekstremitas bawah), sakit kepala oksipital berat seperti yang pernah terjadi sebelumnya, nyeri abdomen/massa (feokromositoma).

k. Pernapasan

1) Gejala : Dispenea yang berkaitan dengan aktivitas/kerja, takipnea, ortopnea, dyspnea nocturnal paroksimal, batuk dengan/tanpa pembentukan sputum, riwayat merokok.

2) Tanda : Distres respirasi/penggunaan otot aksesori pernapasan, bunyi nafas tambahan (krakles/mengi), sianosis.

l. Keamanan

1) Gejala : Gangguan koordinas/cara berjalan.

2) Tanda : Episode parastesia unilateral transien, hipotensi postural.

m. Pembelajaran/Penyuluhan 1) Gejala :

Faktor resiko keluarga : hipertensi, aterosporosis, penyakit jantung, diabetes mellitus, penyakit serebrovaskuler/ginjal.

Faktor-faktor resiko etnik, penggunaan pil KB atau hormon lain, penggunaan obat/alkohol.

(38)

2.3.2 Analisa Data

Analisis data merupakan kemampuan kognitif dalam pengembangan daya berfikir dan penalaran yang di pengaruhi oleh latar belakang ilmu dan pengetahuan, pengalaman, dan pengertian keperawatan. Analisa data adalah kemampuan dalam mengembangkan kemampuan berfikir rasional sesuai dengan latar belakang ilmu pengetahuan. Dalam melakukan analisis data, di perlukan kemampuan mengaitkan data dan menghubungkan data tersebut dengan konsep, teori dan prinsip yang relevan untuk membuat kesimpulan dalam menentukan masalah kesehatan dan keperawatan klien.

2.3.2 Diagnosa Keperawatan

Diagnosis keperawatan adalah penilaian klinis tentang respons manusia terhadap gangguan kesehatan/proses kehidupan, atau kerentanan respons dari seorangindividu, keluarga, kelompok, atau komunitas (Hardman, 2015).

Diagnosis keperawatan berfungsi untuk mengidentifikasi, memfokuskan dan memecahkan masalah keperawatan klien secara spesifik.

2.3.2.1 Nyeri akut berhubungan dengan agen pencedera fisiologis.

Definisi : Pengalaman sensorik atau emosional yang berkaitan dengan kerusakan jaringan aktual atau fungsional, dengan onset mendadak atau lambat dan berintensitas ringan hingga berat dan konstan, yang berlangsung kurang dari 3 bulan.

Gejala dan tanda mayor : Subjektif :

1. Mengeluh nyeri

(39)

Objektif :

1. Tampak meringis 2. Bersikap protektif 3. Gelisah

4. Frekuensi nadi meningkat 5. Sulit tidur

Gejala dan tanda minor Subjektif :

(tidak tersedia) Objektif :

1. Tekanan darah meningkat 2. Pola nafas berubah 3. Nafsu makan berubah 4. Proses berfikir terganggu 5. Menarik diri

6. Berfokus pada diri sendiri 7. Diaphoresis

2. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan

Definisi : Ketidakcukupan energi untuk melakukan aktivitas sehari-hari.

Gejala dan tanda mayor Subjektif :

1. Mengeluh lelah Objektif :

1. Frekuensi jantung meningkat > 20% dari kondisi istirahat

(40)

Gejala dan tanda minor Subjektif :

1. Dyspnea saat/setelah aktivitas

2. Merasa tidak nyaman setelah aktivitas 3. Merasa lelah

Objektif :

1. Tekanan darah berubah > 20% dari kondisi istirahat

2. Gambaran ECG menunjukkan aritmia saat/setelah aktivitas 3. Gambaran ECG menunjukkan iskemia

4. Sianosis

3. Gangguan pola tidur b.d kurangnya kontrol tidur.

Definisi :

Gangguan kualitas dan kuantitas waktu tidur akibat faktor eksternal.

Gejala dan tanda mayor : Subjektif :

1. Mengeluh sulit tidur 2. Mengeluh sering terjaga 3. Mengeluh tidak puas tidur 4. Mengeluh pola tidur berubah 5. Mengeluh istirahat tidak cukup Objektif :

(tidak tersedia)

Gejala dan tanda minor Subjektif :

(41)

1. Mengeluh kemampuan beraktivitas menurun Objektif :

(tidak tersedia)

4. Resiko penurunan curah jantung berhubungan dengan perubahan afterload.

Gejala dan tanda mayor (tidak tersedia)

Gejala dan tanda minor (tidak tersedia)

.

(42)

2.4.3 Intervensi Keperawatan

Tabel 2.3 Intervensi Keperawatan pada Pasien Hipertensi menurut TIM POKJA DPP PPNI (2017)

NO DX KEPERAWATAN TUJUAN RENCANA TIDAKAN KEPERAWATAN TTD

1 Nyeri akut berhubungan dengan agen pencedera fisiologis

Setelah dilakukan perawatan 2x24 jam di harapkan nyeri berkurang

Luaran Utama 1. Tingkat Nyeri

a. Ekspresi wajah dari grimace menjadi tidak grimmace

b. Pola istirahat dari yang terganggu menjadi tidak terganggu

c. Skala nyeri dari skala 4 diturunkan menjadi 2

Luaran tambahan 1. Kontrol Gejala

a. Kemampuan memonitor munculnya gejala secara mandiri dari yang tidak bisa menjadi bisa

b. Kemampuan memonitor lama bertahannya gejala dari yang tidak tau menjadi tau 2. Kontrol Nyeri

a. Mengenali kapan nyeri yang terjadi dari tidak pernah tau menjadi tau

b. Menggunakan analgesik yang di rekomendasikan dari yang tidak pernah menggunakan menjadi menggunakan c. Mengenali apa yang terkait dengan gejala

nyeri dari yang tidak pernah mengenali menjadi tau

3. Tingkat Ansietas

Intervensi Utama 1. Manajemen Nyeri

Tindakan

Observasi :

a. Identifikasi lokasi, karakterisik, durasi, frekuensi, kualitas, intensitas nyeri

b. Identifikasi skala nyeri

c. Identifikasi respons nyeri non verbal d. Identifikasi faktor yang memperberat dan

memperingan nyeri

e. Identifikasi pengetahuan dan keyakinan tentang nyeri

f. Identifikasi Pengaruh nyeri pada kualitas hidup

g. Monitor keberhasilan terapi komplementer h. Monitor efek samping penggunaan analgetik Teraupetik

a. Berikan teknik nonfarmakologis untuk mengurangi rasa nyeri (mis. TENS, hipnosis, akupresur, terapi musik, biofeedback, terapi pijat, aroma terapi, teknik imajinasi terbimbing, kompres hangat/dingin, terapi bermain)

b. Kontrol lingkungan yang memperberat rasa nyeri (mis. Suhu ruangan, pencahayaan, kebisingan )

(43)

a. Keluhan pusing dari yang sering mengeluh pusing menjadi tidak

b. Tekanan darah yang tinggi menjadi normal

c. Fasilitasi Istirahat dan tidur

d. Pertimbangkan jenis dan sumber nyeri dalam pemilihan strategi meredakan nyeri

Edukasi

a. Jelaskan penyebab, periode, dan pemicu nyeri

b. Jelaskan strategi meredakan nyeri c. Anjurkan memonitor nyeri secara mandiri d. Anjurkan menggunakan analgetik secara

tepat

e. Ajarkan teknik nonfarmakologis untuk mengurangi rasa nyeri

Kolaborasi

Kolaborasi pemberian analgetik, jika perlu Intervensi Pendukung

1. Edukasi manajemen nyeri Tindakan Observasi

a. Identifikasi kesiapan dan kemampuan menerima informasi

Teraupetik

a. Sediakan materi dan media pendidikan kesehatan

b. Jadwalkan pendidikan kesehatan sesuai kesepakatan

c. Berikan kesempatan untuk bertanya Edukasi

a. Jelaskan penyebab, periode, dan strategi meredakan nyeri

b. Anjurkan memonitor nyeri secara mandiri c. Anjurkan menggunakan analgetik secara tepat d. Ajarkan tekniknonfarmakologis untuk

mengurangi rasa nyeri Terapi Relaksasi 1. Pemberian obat oral

(44)

Tindakan Observasi

a. Identifikasi kemungkinan alergi, interaksi, dan kontra indikasi obat (mis. Gangguan menelan, nausea/muntah, inflamasi usus, peristaltik menurun, kesadaran menurun, program usaha)

b. Verifikasi order obat sesuai dengan indikasi c. Periksa tanggal kadaluwarsa obat

d. Monitor efek teraupetik obat

e. Monitor efek lokal, efek sistemik dan efek samping obat

f. Monitor risiko aspirasi, jika perlu Teraupetik

a. Lakukan prinsip enam benar( pasien, obat, dosis, waktu, rute, dokumentasi)

b. Berikan obat sebelum makan dan setelah maka, sesuai kebutuhan

c. Campurkan obat dengan sirup, jika perlu d. Taruh obat sublingual di bawah lidah pasien Edukasi

a. Jelaskan jenis obat, alasan pemberian, tindakan yang diharapkan, dan efek samping sebelum pemberian

b. Anjurkan tidak menelan obat sublingual c. Anjurkan tidak makan/minum hingga seluruh

obat sublingual larut

d. Ajarkan pasien dan keluarga tentang cara pemberian obat secara mandiri

2 Intoleransi aktifitas b.d

kelemahan Setelah dilakukan perawatan 2x24 jam di harapkan nyeri berkurang

Luaran utama 1. Toleransi aktivitas

a. Dari yang sulit melakukan aktivitas sehari- hari menjadi bias melakukan aktivitas seperti

Intervensi utama 1. Manajemen energi

Tindakan Observasi

a. Identifikasi gangguan fungsi tubuh yang mengakibatkan kelelahan

b. Monitor kelelahan fisik dan emosional

(45)

biasa

Luaran tambahan 1. Ambulasi

a. Dapat menopang berat badannya dan dapat berjalan dengan langkah yang efektif

2. Curah Jantung

a. Tekanan darah dari yang 180/100 menjadi 140/90

3. Konservasi Energi

a. Dapat melakukan aktivitas fisik yang di rekomendasikan

b. Mekanika tubuh yang menurun menjadi meningkat

4. Tingkat Keletihan

a. Kemampuan melakukan aktivitas rutin dari yang jarang menjadi sering (mis, senam lansia)

c. Memonitor pola dan jam tidur

d. Monitor lokasi dan ketidaknyamanan selama melakukan aktivitas

Teraupetik

a. Sediakan lingkungan yang nyaman dan rendah stimulus (mis. Cahaya, suara, kunjungan )

b. Lakukan latihan rentang gerak pasif dan aktif

c. Berikan aktivitas distraksi yang menenangkan

d. Fasilitasi duduk di sisi tempat tidur, jika tidak dapat berpindah atau berjalan

Edukasi

a. Anjurkan tirah baring

b. Ajurkan melakukan aktivitas secara bertahap

c. Anjurkan menghubungi perawat jika tanda dan gejala kelelahan tidak berkurang d. Ajarkan strategi koping untuk mengurangi

kelelahan Kolaborasi

a. Kolaborasi dengan ahli gizi tentang cara meningkatkan asupan makanan

Intervensi Pendukung 1. Dukungan Tidur Tindakan Observasi

a. Identifikasi pola aktivitas dan tidur

b. Identifikasi faktor pengganggu tidur (fisik dan psikologis)

c. Identifikasi makanan dan minuman yang mengganggu tidur (mis. Kopi, the, alkohol, makanan mendekati waktu tidur siang, jika

(46)

perlu

d. Identifikasi obat tidur yang di konsumsi Teraupetik

a. Modifikasi lingkungan (mis. Pencahayaan, kebisingan,suhu, matras, dan tempat tidur) b. Batasi waktu tidur siang, jika perlu c. Batasi menghilangkan stress sebelum tidur d. Tetapkan jadwal tidur rutin

e. Lakukan prosedur untuk meningkatkan kenyamanan (mis. Pijat, pengaturan posisi, terapi akupresur)

f. Sesuaikan jadwal pemberian obat dan tindakan untuk menunjang siklus tidur terjaga

Edukasi

a. Jelaskan pentingnya tidur cukup selama sakit

b. Anjurkan menepati kebiasaan waktu tidur c. Anjurkan menghindari makanan atau

minuman yang mengganggu tidur

d. Anjurkan penggunaan obat tidur yang tidak mengandung suppressor terhadap tidur REM

e. Ajarkan faktor-faktor yang berkontribusi terhadap gangguan pola tidur(mis.

Psikologis, gaya hidup, sering berubah shift bekerja)

a. Ajarkan relaksasi otot autogenik atau cara nonfarmakologi lainnya

Terapi Relaksasi

1. Pemberian Obat Oral Tindakan Observasi

a. Identifikasi kemungkinan alergi, interaksi, dan kontra indikasi obat (mis. Gangguan

(47)

menelan, nausea/muntah, inflamasi usus, peristaltik menurun, kesadaran menurun, program usaha)

b. Verifikasi order obat sesuai dengan indikasi c. Periksa tanggal kadaluwarsa obat

d. Monitor efek teraupetik obat

e. Monitor efek lokal, efek sistemik dan efek samping obat

f. Monitor risiko aspirasi, jika perlu Teraupetik

a. Lakukan prinsip enam benar( pasien, obat, dosis, waktu, rute, dokumentasi)

b. Berikan obat sebelum makan dan setelah maka, sesuai kebutuhan

c. Campurkan obat dengan sirup, jika perlu d. Taruh obat sublingual di bawah lidah pasien Edukasi

a. Jelaskan jenis obat, alasan pemberian, tindakan yang diharapkan, dan efek samping sebelum pemberian

b. Anjurkan tidak menelan obat sublingual c. Anjurkan tidak makan/minum hingga

seluruh obat sublingual larut

d. Ajarkan pasien dan keluarga tentang cara pemberian obat secara mandiri

3 Gangguan pola tidur b.d kurangnya kontrol tidur

Luaran Utama 1. Pola Tidur

a. Keluhan dari yang sulit tidur menjadi tidur dengan teratur

b. Keluhan dari yang tidak puas saat tidur menjadi puas

c. Keluhan pola tidur yang berubah-ubah menjadi pola tidur yang teratur

Luaran Tambahan

Intervensi Utama 1. Dukungan Tidur

Tindakan Observasi

a. Identifikasi pola aktivitas dan tidur

b. Identifikasi faktor pengganggu tidur (fisik dan psikologis)

c. Identifikasi makanan dan minuman yang mengganggu tidur (mis. Kopi, the, alkohol, makanan mendekati waktu tidur siang, jika

(48)

1. Status Kenyamanan

a. Kesejahteraan fisik dari yang menurun menjadi normal

b. Dari yang tidak ada dukungan sosial dari keluarga menjadi ada

c. Keluhan sulit tidur menjadi tidur dengan teratur

2. Tingkat Depresi

a. Dari yang merasa tidak berharga menjadi berharga

b. Kemampuan beraktivitas sehari-hari meningkat

3. Tingkat Keletihan

a. Dari yang sering merasa sakit kepala menjadi berkurang

b. Mampu melakukan aktivitas rutin

perlu

d. Identifikasi obat tidur yang di konsumsi Teraupetik

a. Modifikasi lingkungan (mis. Pencahayaan, kebisingan,suhu, matras, dan tempat tidur) b. Batasi waktu tidur siang, jika perlu c. Batasi menghilangkan stress sebelum tidur d. Tetapkan jadwal tidur rutin

e. Lakukan prosedur untuk meningkatkan kenyamanan (mis. Pijat, pengaturan posisi, terapi akupresur)

f. Sesuaikan jadwal pemberian obat dan tindakan untuk menunjang siklus tidur terjaga

Edukasi

a. Jelaskan pentingnya tidur cukup selama sakit

b. Anjurkan menepati kebiasaan waktu tidur c. Anjurkan menghindari makanan atau

minuman yang mengganggu tidur

d. Anjurkan penggunaan obat tidur yang tidak mengandung suppressor terhadap tidur REM

e. Ajarkan faktor-faktor yang berkontribusi terhadap gangguan pola tidur(mis.

Psikologis, gaya hidup, sering berubah shift bekerja)

f. Ajarkan relaksasi otot autogenik atau cara nonfarmakologi lainnya

Intervensi Pendukung 1. Manajemen Energi

TindakanObservasi

(49)

a. Identifikasi gangguan fungsi tubuh yang mengakibatkan kelelahan

b. Monitor kelelahan fisik dan emosional c. Memonitor pola dan jam tidur

d. Monitor lokasi dan ketidaknyamanan selama melakukan aktivitas

Teraupetik

a. Sediakan lingkungan yang nyaman dan rendah stimulus (mis. Cahaya, suara, kunjungan )

b. Lakukan latihan rentang gerak pasif dan aktif

c. Berikan aktivitas distraksi yang menenangkan

d. Fasilitasi duduk di sisi tempat tidur, jika tidak dapat berpindah atau berjalan

Edukasi

a. Anjurkan tirah baring

b. Ajurkan melakukan aktivitas secara bertahap

c. Anjurkan menghubungi perawat jika tanda dan gejala kelelahan tidak berkurang d. Ajarkan strategi koping untuk

mengurangi kelelahan Kolaborasi

Kolaborasi dengan ahli gizi tentang cara meningkatkan asupan makanan.

4 Resiko penurunan curah jantung b.d perubahan afterload

Luaran Utama 1. Curah Jantung

a. Tekanan darah dari yang 180/100mmHg menjadi 140/90mmHg

Luaran Tambahan 1. Perfusi Miokard

a. Dari yang sering timbul nyeri dada menjadi

Intervensi Utama 1. Perawatan Jantung

Tindakan Observasi

a. Identifikasi tanda dan gejala primer penurunan curah jantung (meliputi dispnea, kelelahan, edema, ortopnea, paroxysmal, nocturnal dyspnea, peningkatan CVP)

(50)

jarang timbul

b. Dari yang sering merasakan mual dan muntah menjadi berkurang

c. Tekanan darah dari yang 180/100mmHg menjadi 140/90mmHg

f. Perfusi Perifer

a. Denyut nadi perifer dari yang tidak normal menjadi normal 60-100x/menit

g. Status Cairan

a. Intake cairan dari yang tidak normal menjadi normal

b. Frekuensi nadi menjadi normal

c. Tekanan darah dari yang 180/100mmHg menjadi 140/90mmHg

b. Identifikasi tanda atau gejala sekunder penurunan curah jantug (meliputi peningkatan berat badan, hepatomegali, distensi vena jugularis, palpitasi, ronkhi basah, oliguria, batuk, kulit pucat)

c. Monitor tekanan darah (termasuk tekanan darah ortostatik, jika perlu)

d. Monitor intake dan output cairan

e. Monitor berat badan setiap hari pada waktu yang sama

f. Monitor saturasi oksigen

g. Monitor keluhan nyeri dada (mis.

Intensitas, lokasi, radiasi, durasi, presivitasi yang mengurangi nyeri)

h. Monitor ekg 12 sadapan

i. Monitor aritmia (kelainan irama dan frekuensi)

j. Monitor nilai laboratorium jantung (mis.

Elektrolit, enzim jantung, BNP, NT pro- BNP)

k. Monitor fungsi alat pacu jantung Teraupetik

a. Posisikan pasien semi-Fowler atau Fowler dengan kaki ke bawah atau posisi nyaman

b. Berikan diet jantung yang sesuai c. Gunakan stocking elastic

d. Fasilitasi pasien dan keluarga untuk modifikasi gaya hidup sehat

e. Berikan terapi relaksasi untuk mengurangi stress, jika perlu

f. Berikan dukungan emosional dan spiritual

g. Berikan oksigen untuk mempertahankan

Gambar

Gambar 1. Jantung normal.
Tabel 2.2 Klasifikasi berdasarkan tekanan darah pada orang dewasa
Tabel 2.1 Klasifikasi Tekanan Darah Sistolik dan Diastolik
Tabel 3.1 Komposisi Keluarga  N
+7

Referensi

Dokumen terkait

Kriteria hasil pada diagnosa nyeri akut berhubungan dengan agen cidera fisik (luka post sectio caesarea ) antara lain tujuan yang dibuat penulis adalah setelah dilakukan

Sedangkan Pada data implementasi yang terdapat dalam tinjauan kasus yaitu pada tahap implementasi dengan diagnosa Perilaku kesehatan cenderung beresiko berhubungan dengan

Pada hari ketiga implementasi untuk diagnosa keperawatan gangguan rasa aman &amp; nyaman ( nyeri akut ) berhubungan dengan proses inflamasi, tindakan keperawatan yang telah

5 melaksankan tindakan sesuai dengan intervensi yang telah dilakukan pada rencana keperawatan selama 3 hari 6 Evaluasi keperawatan pada Tn.I dengan masalah nyeri akut dan manajemen

4.2 Diagnosa Keperawatan 4.2.1 Berdasarkan tinjauan pustaka diagnose yang ditemukan adalah: 4.2.1.1 Defisit pengetahuan berhubungan dengan kurang informasi tentang proses penyakit dan

Berdasarkan pengamatan peneliti antara tinjauan kasus dan tinjauan pustaka tidak terdapat kesenjangan karena rencana tindakan keperawatan dengan diagnose nyeri akut berhubungan dengan

Pada tinjauan kasus hanya ditemukan dua diagnosa keperawatan yaitu nyeri akut berhubungan dengan trauma jaringan, post operative fracture, dikarenakan klien mengalami nyeri akibat

Pada tinjauan kasus hanya ditemukan empat diagnosa keperawatan yaitu nyeri akut berhubungan dengan iskemia jaringan miokard, ketidakefektifan pola nafas berhubungan dengan keletihan