• Tidak ada hasil yang ditemukan

PEMBELAJARAN BERBASIS ICT di SD N TEGOWA (1)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "PEMBELAJARAN BERBASIS ICT di SD N TEGOWA (1)"

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

PEMBELAJARAN BERBASIS ICT

di SD N TEGOWANO

Yusia Sri Prajoko 942015026

MAGISTER MANAJEMEN PENDIDIKAN

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS KRISTEN SATYA WACANA

SALATIGA

(2)

BAB 1

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Pendidikan mempunyai peranan yang sangat strategis dalam pembangunan suatu bangsa. Berbagai kajian di banyak negara menunjukkan kuatnya hubungan antara pendidikan dengan tingkat perkembangan bangsa tersebut yang ditunjukkan oleh berbagai indikator ekonomi dan sosial budaya. Pendidikan yang mampu memfasilitasi perubahan adalah pendidikan yang merata, bermutu, dan relevan dengan kebutuhan masyarakat. Menyadari peran strategis pendidikan tersebut, pemerintah Indonesia senantiasa mendukung ide yang menempatkan sektor pendidikan sebagai prioritas dalam pembangunan nasional. Bahkan dalam masa krisis ekonomi sekalipun, pendidikan tetap mendapatkan perhatian meskipun fokusnya dibatasi pada upaya penanggulangan dampak krisis ekonomi terhadap pendidikan.

Salah satu komponen penting dari sistem pendidikan tersebut adalah kurikulum, karena kurikulum merupakan komponen pendidikan yang dijadikan acuan oleh setiap satuan pendidikan. Kurikulum adalah sebuah rancangan pembelajaran, yang disusun dengan mempertimbangkan berbagai hal mengenai proses pembelajaran serta perkembangan individu. Sejalan dengan itu menurut PP Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan, kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu.

Pendidikan dewasa ini harus mampu menyesuaikan dinamika yang berkembang dalam masyarakat, terutama tuntutan dan kebutuhan masyarakat. Kurikulum harus bisa menjawab kebutuhan masyarakat luas dalam menghadapi persoalan kehidupan yang dihadapi. Sudah sepatutnya kalau kurikulum itu terus diperbaharui seiring dengan realitas, perubahan dan tantangan dunia pendidikan dalam membekali peserta didik menjadi manusia yang siap hidup dalam berbagai keadaan.

(3)

Paradikma pendidikan saat ini telah bergeser dari pendidikan yang berpusat pada guru menjadi pendidikan yang berpusat pada peserta didik, dan guru hanyalah sebagai fasilitator untuk memenuhi kebutuhan peserta didik di bidang ilmu pengetahuan. Pendidikan untuk memenuhi kebutuhan saat ini tidak bisa memungkiri perkembangan zaman sekarang, yang lebih menuju ke arah teknologi informasi dan komunikasi (TIK) atau yang lebih mentereng disebut ICT untuk menghadapi persaingan globalisasi yang terjadi.

Disadari atau tidak, perangkat - perangkat TIK seperti komputer, handphone, dan internet, pada awalnya diciptakan tidak bermaksud untuk memperbaiki mutu pendidikan. Namun dalam kenyataannya banyak pakar yang memanfaatkan perkembangan ICT untuk meningkatkan dan memperbaiki mutu pendidikan. Terlebih lagi sekarang pendidikan telah mengalami perubahan paradigma berpikir dari pembelajaran yang berpusat kepada guru menjadi pembelajaran yang berpusat pada peserta didik untuk mencari sumber - sumber lain. Dalam mencari sumber lain, peserta didik bisa menggunakan buku-buku yang relevan atau juga bisa menggunakan internet. Secara tidak langsung hal ini mendekatkan proses pembelajaran dengan ICT. Keadaan seperti ini sudah tidak mengherankan jika penggunaan ICT memiliki keunggulan, karena informasi yang didapat sangat luas, cepat, tepat, dan juga memberi kemudahan dalam proses belajar mengajar dalam mencari sumber dan informasi yang dibutuhkan.

Media komunikasi dalam pendidikan merupakan segala bentuk alat dan sumber belajar yang digunakan untuk membantu memperlancar proses belajar mengajar. Dengan kata lain sekolah harus memenuhi kebutuhan sarana dan prasarana akan media komunikasi ini yang berperan sebagai sumber belajar meliputi buku - buku, majalah, manusia, perpustakaan, labolatorium, seperti internet dan lain - lain. Tanpa media pendidikan, efektifitas belajar maupun mutu pendidikan sulit untuk mencapai tujuan pendidikan.

Dari uraian di atas maka peulis mengambil judul makalah “Pembelajaran berbasis ICT di SDN Tegowanoh”.

Rumusan Masalah

1. Apakah pembelajaran berbasis ICT telah dilaksanakan di SDN Tegowanoh telah dilaksnakan sesuai dengan teori yang ada?.

2. Apa saja faktor – faktor yang mempengaruhi terjadinya kesenjangan antara praksis dengan teori ?

(4)

BAB II

PEMBAHASAN

A. Pelaksanaan pembelajaran berbasis ICT di SDN Tegowanoh

Dalam melaksanakan proses pembelajaran diperlukan manajemen pembelajaran yang merupakan implikasi dari manajemen kurikulum. Manajemen pembelajaran harus direncanakan supaya dapat mencapai tujuan yang diharapkan. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam hal menajemen pembelajaran adalah jadwal kegiatan guru-siswa; strategi pembelajaran; pengelolaan bahan praktik; pengelolaan alat bantu; pembelajaran berkelompok; program remidi dan pengayaan; dan peningkatan kualitas pembelajaran.

Untuk mencapai tujuan yang diharapkan dalam proses pembelajaran yang efisien dan efektif serta mengubah model pembelajaran yang berfokus tehadap guru, melainkan berfokus terhadap peserta didik, maka pembelajaran berbasis ICT yang seharusnya diterapkan oleh SDN tegowanoh. Karena dengan menerapkan pemelajaran berbasis ICT maka peserta didik akan lebih aktif, kreatif, leluasa dan memberi kemudahan dalam melaksanakan tugas-tugas yang harus diseleseikan.

Pembelajaran berbasis ICT yang diterapkan oleh SDN Tegowanoh juga sangat membantu karena memudahkan guru dan peserta didik dalam proses PMB. Strategi ini juga memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk berpartisipasi aktif, kreatif, interaktif, dan lebih mandiri. Aktivitas belajar peserta didik juga lebih bervariasi, misalnya wawancara, pengamatan, bermain peran, berdiskusi, presentasi dan sebagainya sesuai dengan kompetensi yang akan dikembangkan.

Akan tetapi hanya beberapa guru saja yang telah melaksanakan pembelajaran berbasis ICT di SDN Tegowanoh, masih banyak guru yang melaksanakan proses pembelajaran yang bersifat konvensional dan enggan untuk merubah kebiasaan tersebut dengan berbagai macam alasan yang diberikan, seperti yang dinyatakan oleh salah satu guru kelas V

“dalam proses pembelajaran saya masih menggunakan pembelajaran yang bersifat konvensional dan tidak menggunakan pembelajaran berbasis ICT,karena saya merasa tidak mampu mengikuti perkembangan teknologi, lebih baik saya mengajar dengan apa yang saya bisa daripada saya mengajar dengan pembelajaran berbasis ICT, bisa-bisa yang terjadi siswa tidak bisa menerima pembelajaran karena saya sendiri tidak menguasai”

(5)

“saya merasa sudah tua, dan saya sulit untuk mengikuti perkembangan yang terjadi saat ini, lebih baik saya melakukan proses mengajar dengan yang saya bisa, yang penting siswa mampu menerima apa yang saya ajarkan”

Menurut dua pendapat guru itu maka penulis melakukan observasi pada saat pembelajaran berlangsung, dan yang terjadi memang hanya beberapa guru yang melakukan proses pembelajaran dengan ICT, guru yang menggunakan ICT dalam pembelajarannya pun bisa dikatakan sederhana, kebanyakan hanya menggunakan media power poin dan memutarkan video pembelajaran.

Dari aspek sarpras yang dimiliki oleh SDN Tegowanoh juga kurang memadai untuk melaksanakan pembelajaran berbasis ICT, karena SDN Tegowanoh hanya memimiliki tiga laptop dan dua LCD, dan juga tidak memiliki sambungan internet.

Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa pembelajaran berbasis ICT di SDN Tegowanoh kurang berjalan dengan baik.

B. Faktor – faktor yang mempengaruhi terjadinya kesenjangan antara praksis dengan teori

(6)

tidak menggunakan teknologi informasi dan komunikasi sehingga masih terdapat campur tangan pengelolaan pembelajaran secara manual. 4. Pada tingkatan paling tinggi, pembelajaran berbasis teknologi informasi dan komunikasi digambarkan sebagai proses pembelajaran yang telah menyatu dengan kemajuan teknologi informasi dan komunikasi. Pada kondisi ini, 19 peserta didik melaksanakan pembelajaran secara mandiri dan online yang tidak dibatasi oleh ruang dan waktu.

Menurut teori yang telah dijelaskan di atas maka sangat terlihat kesenjangannya dengan yang telah dlaksankan oleh SDN Tegowanoh, dan kendala yang dihadapi oleh SDN Tegowanoh sehingga bisa terjadi kesenjangan tersebut adalah seperti berikut :

1. Guru kurang mengikuti dan menguasai perkembangan teknologi yang terjadi 2. Guru banyak yang enggan belajar teknologi

3. Kurangnya sarana dan prasarana yang bisa mendukung pembelajaran berbasis ICT 4. Tidak ada pelatihan penggunaan teknologi utuk mendukung tercapainya kualitas

pendidikan

5. Kepala sekolah kurang mengkondisikan guru untuk menerapkan pembelajaran berbasis ICT.

C. Solusi untuk mengatasi kesenjangan yang terjadi

1. Kepala sekolah.

Kepala sekolah seharusnya menuntut guru untuk melaksanakan proses pembelajaran berbasis ICT, dan mengadakan pelatihan untuk semua guru untuk mengikuti perkembangan teknologi dan penggunaan teknologi untuk menciptakan pendidikan yang berkualitas.

2. Guru

Guru harus mau dan merasa membutuhkan pelatihan untuk menguasai teknologi yang bisa digunakan dalam pencapaian kualitas pendidikan yang diinginkan, karena dengan penggunaan teknologi dalam proses pembelajaran itu sangat membantu

3. Sarpras pendukung

(7)

4. Peserta didik

Peserta didik harus dibina agar dapat menjalankan program ICT dengan benar. Dengan begitu siswa akan lebih mudah dalam menerima materi dan tugas yang diberikan guru.

BAB III PENUTUP

A. Kesimpulan

Pembelajaran berbasis teknologi informasi dan komunikasi pada dasarnya merupakan pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi untuk menunjang proses pembelajaran agar dapat mencapai tujuan yang telah dirumuskan

Dalam proses pembelajaran SDN Tegowanoh kurang memanfaatkan perkembangan teknologi yang bisa membantu tercapainya tujuan yang telah dirumuskan oleh sekolahan dan menciptakan kualitas pendidikan yang diharapkan. Banyak guru yang belum melaksanakan pembelajaran berbasis ICT dengan alasan tidak mampu dan enggan untuk menguasai teknologi.

B. Saran

1. Sebaiknya diadakan pelatihan tentang penggunaan dan pemanfaatan teknologi untuk mendukung proses pembelajaran

2. Guru harus mengikuti perkembangan zaman dan tuntutan dari perkembangan IPTEK secara global ini sehingga akan tercipta guru yang professional

(8)

DAFTAR PUSTAKA

Koswara, E. 2005. Konsep Pendidikan Tinggi Berbasis E-learning : Peluang dan Tantangan. Prosiding Konferensi Nasional Teknologi Informasi dan Komunikasi Indonesia ITB, 3-4 Mei 2005

Natakusumah, E.K. (2002); Multimedia sebagai sarana pembelajaran; Lokakayra Multimedia sebagai sarana pembelajaran metode learning based; DUE-Like TPB ITB, 13 Nopember 2002.

Siahaan, S. 2004. E-learning (Pembelajaran Elektronik) Sebagai Salah Satu Alternatif Pembelajaran http://www.depdiknas.go.id/Jurnal/42/ sudirman.htm (22 juni 2016) Tim. (2011). Panduan Implementasi Pembelajaran Berbasis TIK di SMA. Jakarta:

Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan.

Referensi

Dokumen terkait

2016 © Rinda Cahyana – Program Studi Teknik Informatika Sekolah Tinggi Teknologi Garut. Literasi Informasi dan Teknologi Informasi

Hasil analisis data yang diperoleh baik di lapangan maupun analisis laboratorium, baik dari sampel air maupun sampel tanah, menunjukkan bahwa keasaman air di sepanjang Sungai

Variabel yang diamati dalam penelitian berdasarkan tujuan penelitian yang ingin dicapai yakni mengetahui jiwa kewirausahaan pelaku usaha, menganalisis pengaruh

Sedangkan untuk bab 2, bab 3 dan 4 memuat kalimat yang memiliki ketepatan struktur kalimat dengan kategori skor cukup memenuhi untuk bab 2 dan bab 3, serta kategori memenuhi untuk bab

menekankan pentingnya pewarisan budaya dan pemberian pengetahuan dan keterampilan pada peserta didik agar dapat menjadi anggota masyarakat yang

What is the correlation between students’ competence in writing narrative texts in Bahasa Indonesia and their competence in writing narrative texts in English2. Does the

The objectives of the research are to prove whether: (1) Contextual Teaching and Learning is more effective than Audio-Lingual Method in teaching speaking at the second

Selain itu dalam upaya penguatan keberadaan Kecamatan Cintapuri Darussalam dan dalam rangka menindaklanjuti ketentuan dalam Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014