• Tidak ada hasil yang ditemukan

Paradigma Sosiologi dan Pendekatan dalam

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Paradigma Sosiologi dan Pendekatan dalam"

Copied!
17
0
0

Teks penuh

(1)

1 BAB II. Paradigma Sosiologi dan Pendekatan dalam Antropologi Ekologi

Pokok Bahasan

a. Paradigma Sosiologi dan Posisi Antropologi Ekologi

Ilmu pengetahuan orang mencoba untuk melihat dan menjelaskan suatu fenomena sosial menggunakan alur dan logika berfikir berdasarkan suatu teori tertentu. Oleh karena setiap teori mempunyai asumsi dan pemahaman tertentu terhadap realitas sosial, maka masing-masing akan memberikan penjelasan dan pemahaman yang dapat berbeda terhadap fenomena sosial yang menjadi objek studinya, termasuk fenomena yang disebut masalah sosial. Asumsi, alur dan logika berfikir yang berbeda tersebut yang menyebabkan dalam studi masalah sosial kemudian dikenal ada beberapa perspektif yang bersumber dari teori tertentu (Soetomo, 2008).

Dengan memahami berbagai perspektif tersebut, seseorang dapat mengetahui mengapa suatu realitas masalah sosial tertentu, sebut saja masalah kemiskinan sebagai contohnya dapat dijelaskan dengan cara berbeda, termasuk dalam melakukan identifikasi masalah, diagnosa dan treatment. Dalam penerapannya, sangat dimungkinkan seseorang secara konsisten menggunakan alur berfikir berdasarkan perspektif tertentu yang menjadi favoritnya untuk memahami dan menjelaskan masalah sosial. Walaupun demikian, tidak tertutup kemungkinan seseorang bersikap lentur terhadap berbagai perspektif tersebut.

(2)

2 Perspektif merupakan gambaran umum dari suatu subjek ilmu pengetahuan yang memberikan arah apa yang harus dikaji, pertanyaan apa yang harus digunakan, aturan-aturan yang bagaimana yang harus diikuti untuk menginterpretasikan jawaban -jawaban yang telah diperoleh (Zamroni, 1992)‏. Sedangkan paradigma merupakan seperangkat proposisi yang menerangkan bagaimana dunia dan kehidupan secara umum dipersepsikan. Pengertian paradigma seringkali disetarakan dengan perspektif atau sudut pandang. Paradigma juga dimaknai sebagai ideologi dan praktek suatu komunitas ilmuwan yang menganut suatu pandangan yang sama atau realitas, memiliki seperangkat kriteria yang sama untuk menilai aktivitas penelitian, dan menggunakan metode serupa (Salim, 2006)‏

Paradigma juga dimaknai sebagai ideologi dan praktek suatu komunitas ilmuwan yang menganut suatu pandangan yang sama atau realitas, memiliki seperangkat kriteria yang sama untuk menilai aktivitas penelitian, dan menggunakan metode serupa (Salim, 2006)‏ Lebih lanjut, Salim (2006) menjelaskan bahwa sejak abad pencerahan terdapat empat paradigma ilmu pengetahuan yang dikembangkan oleh para ilmuan yaitu : positivisme, post-positivisme, teori kritis dan konstruktivisme (interpretif). Perbedaan dari keempat perspektif atau paradigma tersebut dapat dilihat dari cara pandang masing-masing terhadap realitas dan cara yang ditempuh untuk mengembangkan sebuah ilmu pengetahuan terutama dari aspek ontologis, epistemologis dan metodologis.

(3)

3 Yang terakhir yaitu paradigma definisi sosial berasumsi bahwa sosiologi adalah ilmu yang berusaha untuk menafsirkan dan memahami (interpretasi) tindakan sosial dan antar hubungan sosial untuk sampai kepada penjelasan kausal. Tindakan sosial merupakan tindakan individu yang memiliki makna bagi dirinya dan diarahkan kepada orang lain, sedangkan tindakan individu yang diarahkan ke benda mati tidak masuk dalam kategori tindakan social. Tindakan individu ke benda mati bisa berubah menjadi tindakan sosial jika mendatangkan efek atau ekibat ke manusia lain, misalnya mengeruk tanah sehingga terjadi erosi, merusak hutan sehingga mendatangkan bencana banjir yang merugikan orang lain.

Berdasarkan karakteristik dan prinsip dari ketiga paradigma tersebut, maka studi tentang antropologi ekologi lebih tepat jika menggunakan pendekataan kualitatif dengan fokus kajian pada kebudayaan masyarakat suku-suku di berbagai wilayah secara detail dan mendalam. Dalam perkembangannya, antropologi ekologi berupaya menggambarkan dan memahami hubungan antara budaya dan kebudayaan suatu masyarakat dengan berbagai aspek lain seperti ekonomi, politik, kesehatan, sumberdaya alam (hutan, air, tambang), geografi, arkeologi, dll. Antropologi secara umum berusaha melihat hal-hal yang spesifik dan unik di lapangan (mikro) terkait dengan budaya masyarakat untuk memperoleh pengetahuan atau pemahaman secara makro (induktif).

(4)

4 b. Pendekatan dalam Studi Antropologi Ekologi

Awal mula dari berbagai studi antropologi ekologi di masa kini sebenamya telah ditanam sejak tahun 1930-an oleh Julian H. Steward, ketika dia menerbitkan eseinya yang beijudul "The Economic and Social Basis of Primitive Bands'* di tahun 1936. Menurut Harris, dalam esei inilah pertama kali Steward membuat pernyataan yang utuh mengenai "bagaimana interaksi antara kebudayaan dan lingkungan dapat dianalisis dalam kerangka sebab-akibat (in causal terms), tanpa harus terpeleset ke dalam partikularisme" (1968 : 666). Posisi teoritis dan metodologis ini pada dasarnya tidak banyak berubah ketika Steward menjelaskan dengan lebih eksplisit soal hubungan antara lingkungan dan kebudayaan ini dalam bukunya Theory of Culture Change (1955). Dalam buku ini Steward menguraikan, mendefinisikan serta mengembangkan apa yang dia sebut sebagai "ekologi budaya" (cultural ecology). Perspektif ini, kata dia "differs from the relativistic and neo-evolutionis conceptions of culture history, in that it introduces the local environment as the extra cultural factor in the fruitless assumption

that culture comes from culture" (1955 : 36). Namun, lingkungan lokal itu sendiri bagi

Steward bukanlah faktor yang sangat menentukan (Ahimsa Putra, 1994).

Lebih lanjut Ahimsa Putra (1994) menjelaskan bahwa menurut perspektif ekologi budaya unsur-unsur pokok adalah "pola-pola perilaku" (behavior patterns), yakni kerja (work) dan teknologi yang dipakai dalam proses pengolahan atau pemanfaatan

lingkungan. Dengan demikian studi ekologi budaya pertama-tama adalah mengenai "the process of work, its organization, its cycles and rhythms and its situational modalities "

(Murphy, 1970 : 155). Titik perhatiannya adalah pada analisis struktur sosial dan kebudayaan. Perhatian baru diarahkan pada lingkungan bilamana lingkungan mempengaruhi atau menetukan pola-pola tingkah-laku atau organisasi kerja.

(5)

5 lain yang mungkin diwujudkan. Steward yakin bahwa tujuan ini dapat dicapai dengan mempelajari relasi antara kebudayaan dan lingkungannya dalam kurun waktu tertentu.

Ada tiga langkah dasar yang perlu diikuti dalam studi ekologi budaya ini, yakni (1) melakukan analisis atas hubungan antara lingkungan dan teknologi pemanfaatan dan produksi; (2) melakukan analisis atas "pola-pola perilaku dalam eksploitasi suatu kawasan tertentu yang menggunakan teknologi tertentu" dan (3) melakukan analisis atas "tingkat pengaruh dari pola-pola perilaku dalam pemanfaatan lingkungan terhadap aspek-aspek lain dari kebudayaan" (Steward, 1955 : 40 - 41). Selanjutnya Steward juga mengatakan bahwa beberapa sektor kebudayaan lebih erat kaitannya dengan pemanfaatan lingkungan daripada sektor-sektor yang lain. Perhatian utama, menurut dia, perlu diarahkan pada sektor-sektor yang penting ini, yang dia sebut sebagai "inti budaya" (cultural core). Dari sudut pandangan lingkungan hal ini berarti bahwa metodenya menuntut dilakukannya pemfokusan pada aspek-aspek lingkungan yang penting bagi adaptasi tertentu (Vayda and Rappaport, 1968 : 485), dan bukan pada keseluruhan lingkungan.

Lewat perspektif ini bisa dikemukakan pertanyaan tentang bagaimana variabel-variabel tertentu, baik budaya maupun lingkungan, berinteraksi; bagaimana kerja mereka diatur dan sampai di mana tingkat kestabilan sistem yang terbentuk. Namun, seperti dikemukakan oleh Vayda dan Rappaport, jawaban atas berbagai per-tanyaan ini memang tidak dapat dikatakan sebagai penjelasan tentang asal-usul gejala sosial-budaya tertentu. Untuk menjawab persoalan ini Steward perlu menoleh ke studi silang-budaya (cross- cultural).

(6)

6 jika dapat diperoleh bukti adanya korelasi yang signifikan serta ada hubungan sebab- akibat, hal itu juga belum berarti bahwa unsur-unsur kebudayaan tersebut merupakan unsur yang mutlak harus ada dalam proses adaptasi tersebut, sebagaimana diyakini oleh Steward (Vayda dan Rappaport, 1968 : 485 486).

Mengingat berbagai kekurangan dalam teori dan metode Steward tersebut, Vayda dan Rappaport kemudian mengusulkan sebuah pendekatan lain untuk menelaah hubungan manusia dengan lingkungannya, suatu pendekatan yang menurut keyakinan mereka akan membawa kita pada "suatu ilmu ekologi yang memiliki hukum-hukum dan prinsip-prinsip yang berlaku untuk manusia maupun untuk spesies yang lain" (1968 : 492). Bagi dua pakar antropologi ini, fakta bahwa fenomena manusia merupakan fenomena yang kompleks, bervariasi dan bersifat khas pada setiap populasi, tidaklah harus berarti bahwa prinsip- prinsip, konsep-konsep ataupun berbagai pendekatan yang digunakan oleh ilmuwan-ilmuwan lain tidak dapat atau tidak boleh dimanfaatkan oleh ahli antropologi.

Jika diperhatikan kenyataan bahwa baik perilaku manusia maupun hewan berfungsi sebagai proses adaptasi mahluk terhadap lingkungannya dan kedua-duanya tunduk pada semacam seleksi, maka terbuka kemungkinan bagi kita untuk mempelajari keduanya dengan menggunakan satu kerangka teori tertentu. Atas dasar keyakinan inilah Vayda dan Rappaport, seperti halnya Simpson (1962), kemudian mengajak kita untuk memandang kebudayaan manusia sebagaimana kita memandang perilaku hewan. Kebudayaan harus diperlakukan dan ditafsirkan in the same way as the behavior or part of the behavior of any other species, for instance, in its adaptive aspects and consequent

interaction with natural selection (1968 : 493). Dengan demikian perhatian perlu kita

(7)

7 Bilamana kita perhatikan berbagai studi antropologi ekologi di tahun 1960' an, yang dibangkitkan oleh ekologi budaya Julian Steward, kita dapat mengklasifikasikan berbagai studi ini paling tidak dalam empat aliran, yakni : pendekatan etnoekologi, pendekatan ekologi silang-budaya {cross-cultural ecological approach), pendekatan ekosistemik kultural, yang diwakili oleh buku Geertz Agricultural Involution (1963), dan pendekatan ekosistemi materialistik, seperti yang tampak dalam berbagai studi yang dilakukan oleh para ahli antropologi seperti Vayda (1961; 1967), Rappaport (1967; 1968; 1971), Harris (1966), Leeds (1965). Dua dari empat aliran ini; yaitu etnoekologi dan ekosistemik materialistik atau ekologi fungsional yang baru dari Vayda dan kawan- kawannya masih tetap populer hingga kini.

Aliran etnoekologi dicetuskan oleh ahli antropologi dengan latar belakang linguistik

yang kuat. Tujuan dan metode dari pendekatan ini banyak berasal dari etnosains (Ethnoscience)0, dan pertama kali diperkenalkan oleh Conklin (1954) serta didukung oleh Frake, yang dalam sebuah simposium yang betjudul "Ecology and Anthropology" pada pertemuan AAAS di tahun 1960, membawakan paper berjudul "Cultural Ecology and Ethnography" (1962). Tujuan etnosains, seperti kita ketahui, adalah melukiskan lingkungan sebagaimana dilihat oleh masyarakat yang diteliti. Asumsi dasarnya adalah bahwa lingkungan atau "lingkungan efektif' (effective environment) bersifat kultural sebab lingkungan "obyektif' yang sama dapat, dan pada umumnya "dilihat" atau "dip ah ami" (perceived) secara berlainan oleh masyarakat yang berbeda latar-belakang kebudayaanya. "Lingkungan budaya" (cultural environment), "ethnoenviron- menf\ atau "cognized environment" ini, dikodefikasi dalam bahasa.

(8)

8 aturan-aturan perilaku terhadap lingkungan yang dianggap tepat oleh masyarakat yang kita teliti (Franke, 1962).

Dengan pendekatan etnoekologi ini diharapkan kita akan mampu menebak perilaku orang dalam berbagai aktivitas yang berkaitan dengan lingkungan. Relevansi informasi semacam ini bagi studi mengenai lingkungan terletak dalam pendapat bahwa pandangan orang {people's cognition) mengenai lingkungan merupakan bagian dari mekanisme yang menghasilkan perilaku fisik yang nyata, lewat man a orang secara langsung menciptakan perubahan dalam lingkungan fisik mereka (Vayda and Rappaport, 1968 : 491). Sayangnya dalam praktek kebanyakan ahli antropologi hanya sampai pada tingkat pendeskripsian hirarki atau taksonomi ber-bagai istilah lokal dan tidak berusaha mengaitkan istilah- istilah ini dengan pola-pola perilaku.

Kecenderungan ini juga telah membawa banyak ahli antropologi pada apa yang Vayda dan Rappaport sebut "ethnosystematics" dan bukannya etnoekologi, dan memperkecil arti pendekatan ini bagi studi antropologi ekologi. Selain itu etnoekologi juga tidak memiliki prosedur-prosedur yang dapat diterapkan secara universal pada etnosistematik untuk mendapatkan etnoekologi ataupun relasi-relasi yang nyata dalam suatu sistem ekologi (Vayda and Rappaport, 1968 : 491).

Kelemahan lain dari pendekatan ini adalab ketidakmampuannya untuk memberikan berbagai informasi pada peneliti mengenai proses-proses ekologi dan relasi-relasi dalam lingkungan yang secara tidak disadari mempengaruhi manusianya. Dengan kata lain, pendekatan ini tidak memungkinkan seorang peneliti mengetahui "fungsi tersembunyi" (latent function) suatu gejala budaya, yang mungkin penting bagi pemahaman kita mengenai relasi-relasi manusia dengan lingkunganya.

(9)

9 pertanian orang Kofyar yang dianggapnya unik dan sangat terintegrasi. Dia juga menganalisis saling hubungan antara sistem pertanian mereka dan latar-belakang sosial-budaya petaninya. Netting menyebut pendekatannya bersifat 'ekologi sosial-budaya", sebab unit yang dipelajarinya adalah "a culturally defined population of human beings" dan perhatiannya lebih diarahkan pada aspek budaya proses adaptasi orang Kofyar daripada terhadap aspek fisiknya. Walaupun Netting mengakui akan pentingnya aspek biologi dalam adaptasi manusia, dia beranggapan bahwa melakukan penalaran lewat analogi dari ilmu biologi merupakan suatu langkah yang berbahaya dalam ilmu sosial.

Dalam usahanya untuk mempertajam pendekatan Steward, Netting memusatkan studinya pada satu suku-bangsa dalam suatu wilayah yang kecil dengan lingkungan alam yang relatif stabil, dan berbagai sarana produksi dari suku ini ditelaah dengan teliti. Untuk menunjukkan hubungan fungsional antar variabel digunakan berbagai metode antara lain analisis dan deskripsi sinkronis, per- bandingan silang-budaya, dan analisis sejarah. Sayangnya, dua metode yang terakhir tidak dilakukan dengan ketat, sehingga kita tidak menemukan jejak- jejak penajaman kerangka teori yang telah dikembangkan oleh Steward. Berkenaan dengan perbandingan silang-budaya, hanya data dari suku Ibo saja yang dipakai (1968; 1969). Dalam hal ini, studi yang dilakukan oleh Goldschmidt dan kawan-kawannya (1965) tampak lebih berbobot.

(10)

10 semua bagian dalam sistem sosial harus merupakan suatu keseluruhan yang terintegrasi, sehingga perubahan-perubahan di satu bagian memerlukan penyesuaian-penyesuaian pada unsur-unsur yang lain" (1965: 402).

Goldschmidt selanjutnya menambahkan bahwa teori fungsional memberikan prioritas pada aspek-aspek sosial-budaya tertentu di atas aspek-aspek yang lain, hal mana berarti bahwa beberapa unsur memiliki pengaruh-pengaruh yang langsung dan terus-menerus terhadap keseluruhan struktur masyarakat atau kebudayaan, sedang unsur-unsur yang lain bersifat pinggiran {peripheral); "aktivitas-aktivitas dalam bidang tertentu lebih dekat pada faktor-faktor eksternal tertentu seperti lingkungan, atau pada faktor-faktor internal tertentu seperti misalnya perubahan-perubahan teknis, dan karenanya lebih peka dan rapuh terhadap tekanan-tekanannya" (p. 402). Jejak-jejak konsepsi "inti budaya" tampak jelas di sini, dan usaha untuk menggabungkan teori fungsional dan evolusi juga mengingatkan kita pada evolusi multilinear dan ekologi budaya Julian Steward.

Kerangka teoritis dan strategis penelitian yang diadopsi dalam penelitian ini tampak masih berada dalam tradisi ekologi budaya Julian Steward. Perbedaannya adalah bahwa proyek ini juga menelaah ciri-ciri sikap dan kepribadian dari masyarakat yang diteliti. Hasil studi yang dilakukan oleh Edgerton dalam proyek ini menunjukkan bahwa penyesuaian-penyesuaian ekonomi yang berlainan antar penggembala dan petani, yang dipengaruhi oleh situasi lingkungan yang berbeda, memang telah menghasilkan nilai-nilai, sikap dan ciri-ciri kepribadian yang berbeda pula (1965: 447).

Aliran ketiga dalam antropologi ekologi adalah pendekatan ekosistem. Kerangka teori ekosistem ini mendapatkan modelnya dari ilmu biologi dan ekologi umum. Versi kultural dalam pendekatan ini diwakili oleh studi Clifford Geertz mengenai sistem pertanian dan perubahan ekologi di Indonesia (1963). Geertz meminjam konsep ekosistem dari ahli-ahli ekologi tumbuh-tumbuhan dan binatang, yang menggunakan istilah ekosistem untuk menunjuk setiap sistem yang berfungsi dan berinteraksi, yang terdiri dari satu atau lebih organisme dan lingkungan efektifnya.

(11)

11 Namun demikian, agar tidak terjebak dalam rangkaian relasi yang tak terhingga, Geertz mendefinisikan ekosistem sebagai suatu sistem di mana variabel-variabel budaya, biologis dan fisik yang sudah dipilih memang betul-betul saling berkaitan. Prosedur ini mirip dengan pembedaan antara "inti budaya" dengan lingkungan yang relevan dalam ekologi budaya Julian Steward. Akan tetapi meskipun Geertz bersandar pada model ekologi, di mana si ahli antropologi menerapkan konsep-konsep ekologi pada masyarakat tersebut secara langsung dan menyeluruh dan masyarakat manusia hanya dilihat sebagai suatu gejala biotis sejajar dengan gejala biotis lainnya (1963: 5). Di sinilah terletak perbedaan pokok antara analisis ekosistemik dari Clifford Geertz dengan pendekatan ekosistem dari Vayda dan beberapa ahli antropologi lain yang oleh Orlove disebut "Aliran Columbia- Michigan" (1980).

Aliran keempat dalam antropologi ekologi, yaitu versi yang materialistik dari analisis ekosistemik, adalah antropologi ekologi neo-fiingsional (neo-func- tional ecology). Untuk memahami perkembangan dan berbagai perdebatan dalam aliran ini kita perlu kembali ke sebuah simposium yang berjudul "Role of Animals in Human Ecological Adjustments" yang diselenggarakan dalam pertemuan tahunan AAAS yang ke 128 di

Denver, Colorado, dalam bulan December 1961. Simposium ini, menurut pencetus idenya, Anthony Leeds dan Andrew P. Vayda, merupakan tindak lanjut dari penelitian mereka tentang peranan babi dalam ekonomi orang Melanesia.

(12)

12 seperti ditunjukkan oleh paper-paper yang diterbitkan, dapat membawa para ahli ke perumusan hipotesa-hipotesa baru serta memperlihatkan manfaat analisis fungsional untuk menelaah "the operation of maintaining environmental variables at values conducive to the survival and expansion of human population" (Leeds and Vayda, 1965

: iii - iv).

Kerangka teori yang digunakan di sini adalah seperti yang dianjurkan oleh Simpson (1962), yaitu penekanan yang lebih besar pada perilaku fisik yang nyata, lewat mana manusia secara langsung mempengaruhi dan mengubah lingkungannya. Dilihat dari perspektif ini kebudayaan manusia menjadi tidak lebih dari sekedar perilaku atau bagian dari perilaku suatu spesies primat tertentu. Kemampuan beberapa ahli untuk menggunakan pendekatan ini dalam analisis mereka membuat penyunting buku tersebut, terutama Vayda, merasa optimis dan berkata the prospects are promising for further development of a science of ecology with laws and principles that apply to man

as they do to other species (1965 : iv).

(13)

13 antropologi, ternyata bukan sesuatu yang luar biasa atau patut dikagumi, kalau bukan sesuatu yang sepele.

Periode tahun 1970-an juga merupakan periode di mana ide mengenai antropologi ekologi baru dilontarkan. Mengingat Vayda adalah pelopor pendekatan ini, tidak ada salahnya untuk mengetahui sekelumit riwayat perkembangan karir dan berbagai karya Vayda setelah penelitiannya di Papua Nugini. Seperti bisa kita lihat pada berbagai tulisaunya di tahun 1960-an, pada masa itu Vayda lebih memperhatikan masalah bagaimana mekanisme-mekanisme budaya memberikan sumbangan pada terciptanya keseimbangan-keseimbangan antara populasi manusia dengan sumber-sumber daya mereka. Kerangka teori yang sesuai dengan minat ini tentu saja pendekatan fungsional atau sistemik, dimana asumsi equilibrium menjadi landasan bagi semua strategi penelitian dan perumusan masalah. Kemudian di tahun 1970-an, Vayda mulai lebih tertarik pada masalah ketimpangan dalam hubungan manusia dengan lingkungannya. Berbagai aktivitasnya sebagai pendiri dan penyunting jumal Human Ecology membawanya pada kontak yang lebih sering dengan para ahli dari berbagai disiplin dan dengan karya yang luas mengenai hubungan manusia dengan lingkungannya, baik dalam masyarakat modern maupun dalam kelompok-kelompok sosial yang lebih kecil, yang masih agak terisolir. Hal ini juga turut membelokkan minat dan isi karya-karyanya di kemudian hari. Didorong oleh keinginan untuk melakukan penelitian mengenai hubungan yang timpang dalam situasi dan suasana yang baru serta kesadaran bahwa program-program ekologi yang bersifat interdisipliner seperti yang ditawarkan oleh Cook College akan memberikan lebih banyak kesempatan untuk melakukan penelitian semacam itu daripada yang ada di universitas Columbia, Vayda kemudian pindah ke Cook College di Universitas Rutgers, New Jersey, pada tahun 1972.

(14)

14 sebelumnya (1961; 1968) yang difokuskan pada fungsi peperangan sebagai mekanisme penye- imbang dalam hubungan antara manusia dengan lingkungannya, artikel ini (1974) pertama-tama berusaha merumuskan generalisasi-generalisasi mengenai perang itu sendiri serta dinamika dalam sistem-sistem sosial dan ekologi. Untuk mencapai tujuan ini peperangan dipandang hanya sebagai salah satu dari se- jumlah proses adaptasi manusia terhadap kekacauan (perturbations) yang terjadi dalam lingkungannya.

Di tengah-tengah makin gencarnya kritik analisis neo-fungsional dan munculnya kritik terhadap ekologi biologi atau ekologi umum, dari mana antropologi ekologi meminjam landasan-landasan teorinya, serta di tengah munculnya per- kembangan-perkembangan barn dalam berbagai disiplin lain yang dekat dengan antropologi ekologi, diperkenalkanlah antropologi ekologi yang baru oleh Vayda dan McCay. Dua ahli antropologi ekologi ini melihat adanya empat kelemahan dalam pendekatan neo-fungsional, yakni: (1) penekanan yang berlebihan pada faktor eneiji; (2) ketidak-mampuannya menjelaskan gejala-gejala kultural; (3) keasyikannya dengan keseimbangan-keseimbangan yang statis {static equilibria), dan (4) ketidak-jelasannya mengenai unit analisis yang tepat.

(15)

15 Berkenaan dengan unit analisis, beberapa ahli ekologi menolak pandangan bahwa ekosistem merupakan suatu sistem yang mengatur dan menentukan dirinya sendiri dengan tujuan-tujuan seperti meningkatkan efisiensi enerji atau produktivitas, efisiensi daur-ulang bahan gizi, biomas dsb. Oleh karena ekosistem hanyalah suatu unit analisis, dan bukan merupakan suatu jasad biologis yang betul-betul ada (biological entity), para ahli biologi kemudian mulai me- mandang seleksi alam sebagai proses yang bekerja pada individu-individu yang hidup, dan bukan pada suatu ekosistem (Vayda dan McCay, 1975 : 1299).

Melihat berbagai kritik dalam biologi dan ekologi, kemiripannya dengan berbagai kecaman terhadap penjelasan neo-fungsional dalam antropologi ekologi, serta perkembangan baru dalam berbagai disiplin yang terkait, seperti geografi dan ilmu kedokteran, Vayda dan McCay kemudian mengusulkan sebuah perspektif baru bagi antropologi ekologi, yang lebih memusatkan perhatian pada masalah-masalah lingkungan dan berbagai tanggapan atau respons yang diwujudkan untuk menghadapi masalah-masalah tersebut.

Hasil Pembelajaran

Mampu memahami dan menjelaskan :

(1) Paradigma definisi sosial dan posisi antropologi ekologi

(2) Pendekatan dalam antropologi ekologi dan contoh penerapan pendekatan tersebut dalam membaca kasus di kehutanan

Aktifitas

(1) Membaca bahan ajar sebelum kuliah,

(2) Membaca bahan bacaan/pustaka yang relevan (3) Diskusi dan menjawab kuis

Kuis dan latihan

(1)Jelaskan pentingnya paradigma dalam melakukan analisis sosial kehutanan ! (2)Terangkan beberapa pendekatan dalam antropologi ekologi dan berikan contoh

(16)

16 DAFTAR PUSTAKA

Ahimsa Putra H.S. 1994. Antropologi Ekologi; Beberapa Teori dan Perkembangannya. Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta

Awang S.A. 2002. Etnoekologi ; Manusia di Hutan Rakyat. Sinergi Press. Yogyakarta Djuwadi. 1976. Beberapa Aspek Produksi Gula Kelapa, FKT UGM, Yogyakarta

Djuwadi & Fanani. 1985. Produksi Tanaman Perladangan sebagai Upaya Peningkatan Pendapatan Petani Peladang di Propinsi Jambi. FKT UGM. Yogyakarta

Djuwadi. 2004. Hutan Kemasyarakatan. FKT UGM. Yogyakarta

Dove. M.R. 1985. Sistem perladangan di Indonesia; Studi Kasus di Kalimantan Barat. Penerbitan FKT UGM. Yogyakarta

Field, John. 2010. Modal Sosial. Kreasi Wacana. Yogyakarta.

Hasbullah, J., 2006. Sosial Kapital: Menuju Keunggulan Budaya Manusia Indonesia.

MR-United Press. Jakarta.

Leibo J., 2003. Kearifan Lokal Yang Terabaikan Sebuah Perspektif Sosiologi Pedesaan.

Kurnia Kalam Semesta, Yogyakarta

Kartasasmita, G. 1996. Pembangunan Hutan Rakyat, Cides. Jakarta.

Keraf S. 2002. Etika Lingkungan. Kompas. Jakarta.

Koentjaraningrat. 2009. Pengantar Ilmu Antropologi. Rineka Cipta. Jakarta

Lobja E. 2003. Menyelamatkan Hutan dan Hak Adat Masyarakat Kei. Debut Press. Yogyakarta

Mubyarto. 1998. Pemberdayaan Ekonomi Rakyat; Laporan Kaji Tindak Program IDT. Aditya Media. Yogyakarta

Nugraha A. & Murtijo. 2005. Antropologi Ekologi. Wana Aksara. Banten

Nur A. 2010. Peranan Kearifan Lokal dalam Mendukung Kelestarian Hutan Rakyat. FKT UGM. Yogyakarta

Pretty J. & Ward H., 2001, Social Capital and The Environment, World Development, Volume 29, No. 2, UK

(17)

17 Raharjo. 1999. Pengantar Sosiologi Pedesaan dan Pertanian. Gadjah Mada University

Press. Yogyakarta

Ritzer G., dan Goodman D.J., 2004, Teori Sosiologi Modern, Prenada Media, Jakarta. Salim P., 2001. Teori dan Paradigma: Penelitian Sosial. Tiara Wacana. Yogyakarta Soekanto S. 2010. Sosiologi ; Suatu Pengantar. Rajawali Pers. 2010. Jakarta

Soemarwoto O., 2007, Analisis Mengenai Dampak Lingkungan, Gadjah Mada University Press, Yogyakarta

Soetomo. 2008. Masalah Sosial dan Upaya Pemecahannya. Pustaka Pelajar. Yogyakarta

Supriono, Agus., Flassy, Dance J., Rais, Slasi. 2011. Modal Sosial : Definisi, Dimensi, dan

Tipologi. Artikel

Wibisono H. 2013. Etnobotani Tanaman Herbal pada Areal Hutan Rakyat oleh Masyarakat Dusun Gedong. Girimulyo. Kulon Progo. FKT UGM Yogyakarta

Widiyanto E. 2012. Relasi antara Modal Sosial dengan Implementasi PHBM di Desa Jono. Kab. Bojonegoro. FKT UGM. Yogyakarta

Referensi

Dokumen terkait

Ikan kutuk merupakan salah satu jenis ikan yang banyak digunakan oleh masyarakat untuk penyembuhan luka terutama luka pasca operasi, luka bakar dan setelah

Pada karya ilmiah ini untuk dapat mengetahui batas sudut kemiringan hasil pemindaian dokumen tersebut adalah: menyiapkan dan memindai dokumen cetak yang berisi

Syahrul, Andi Kurniawan | JSM STMIK Mikroskil 12 Pada penelitian ini dirancang dan direalisasikan suatu alat bantu untuk mendeteksi keberadaan/posisi benda atau

Dari hasil yang diperoleh dalam Perancangan Pump Installation Maintenance Trainer maka langkah-langkah Perancangan dan Pembuatan Pump Installation Maintenance Trainer

Dalam proses tersebut tergambar bahwa langkah awal yang harus dilakukan oleh pendidik adalah bagaimana menarik perhatian peserta didik dengan memberikan gambaran

2013.Pelaksanaan Terapi Wicara dan Terapi Sensori Integration Pada Anak Terlambat Bicara, (Nadwa, Jurnal Pendidikan Islam, Vol.7,

Pada tabel rekapitulasi tersebut akan disajikan rekapan dari hasil penelitian yang menggambarkan ada atau tidak perbedaan hasil belajar matematika antara model

yang mana dana diperuntukkan kepada penerima Asnaf yang layak untuk menjalankan perniagaan atau mengembangkan perniagaan yang sedia ada (Marzuki et al., 2019; Hasaan